1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan usaha di Indonesia sangatlah pesat. Banyak usaha – usaha
kreatif yang mulai tumbuh dan berkembang dan dalam jangka waktu beberapa
tahun saja usaha itu bisa menjadi usaha yang besar dan sangat menguntungkan.
Usaha – usaha kreatif tersebut kemudian menjamur secara cepat dan
memunculkan persaingan usaha yang sangat ketat, dan para pelaku usaha dituntut
untuk dapat bekerja dengan baik agar usaha yang didirikannya tersebut bisa going
concern.
Bila pengelolaan usaha yang didirikan berjalan dengan baik, maka bentuk
usaha apapun dapat tumbuh dan berkembang, salah satu bentuknya yaitu Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah atau disingkat UMKM. Ditengah industri raksasa
yang membutuhkan modal yang sangat besar, UMKM menjadi pilihan yang tepat
bagi mereka yang ingin memulai bisnis. Jika dibandingkan dengan industri –
industri yang besar, justru UMKM yang memberikan sumbangan besar dalam
perekonomian Indonesia. Bahkan UMKM mampu bertahan dalam krisis ekonomi
yang terjadi pada tahun 1997 ketika industri besar mengalami keterpurukan .
UMKM merupakan salah satu bagian penting untuk memajukan
perekonomian suatu negara maupun daerah dan merupakan sarana dalam
2



pemerataan kesempatan kerja yang merupakan salah satu klasifikasi bagi sebuah
perusahaan kecil yang sudah mempunyai kemampuan cukup signifikan baik dari
segi penjualan, dan juga asset yang dimiliki perusahaan tersebut. Optimalisasi
pemberdayaan UMKM dapat menciptakan beberapa nilai positif dalam
pembangunan perekonomian nasional seperti, penyerapan tenaga kerja,
peningkatan pendapatan rakyat, mengurangi pengangguran, pemerataan
pendapatan, dan pengentasan kemiskinan. Walaupun dalam perkembangannya,
UMKM masih memiliki banyak kekurangan. Salah satu diantaranya adalah
banyaknya UMKM yang belum memiliki sistem yang berjalan baik.
Bandung terkenal dengan ragam kulinernya. Banyak kuliner unik dan murah
yang bisa menjadi sasaran wisata kuliner. Mie merapi merupakan salah satu
contoh kuliner yang ada di Bandung. usaha ini menyuguhkan mie sebagai menu
utama. Berbeda dengan rasa mie ramen yang banyak bermunculan, mie merapi
sangat mengangkat cita rasa rempah Indonesia. Ciri khas dari mie merapi ini
adalah kuah yang rasanya „Indonesia Banget‟ dengan berbagai pilihan seperti
kuah merapi, kuah kare dan kuah kampung. Selain menu mie, disini juga
ditawarkan berbagai rasa minuman sebagai pelengkap menu utama, contohnya Ice
Taro Milk, Es Durian dan masih banyak lagi yang lainnya.
Seiring berjalannya waktu, bisnis kuliner seperti Mie Merapi ini semakin
banyak. Agar dapat mempertahankan usahanya, para pengelola atau manajemen
Mie Merapi harus dapat memberikan kinerja yang terbaik dalam segi apapun.
Manajemen harus dapat mengambil keputusan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Keputusan yang tepat didasarkan dari informasi yang akurat. Informasi yang
3



akurat bersumber dari data – data yang diolah dengan baik. Untuk itu diperlukan
sistem informasi yang mampu membantu manajemen untuk mengolah data
perusahaan sehingga menghasilkan keputusan yang tepat dan akurat.
Sistem Informasi Akuntansi merupakan salah satu bagian aktivitas penting
perusahaan, dimana seluruh kegiatan dalam perusahaan diolah menjadi informasi
dan dijadikan sebagai alat untuk menetapkan suatu keputusan yang dibutuhkan
perusahaan. Selain itu, sistem juga sangat diperlukan dalam hal pengendalian
perusahaan. Owner dari suatu perusahaan tidak bisa memegang perusahaannya
sendiri sehingga owner harus memperkerjakan orang lain atau dalam hal ini
disebut dengan karyawan. Oleh karena itu, untuk melaksanakan praktik yang
sehat dalam perusahaan, owner harus melakukan pengawasan dan pengendalian
yang mampu memastikan tidak terjadi kecurangan atau fraud dalam
perusahaannya.
Sistem Informasi Akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas merupakan
salah satu bagian dari Sistem Informasi Akuntansi yang diimplementasikan oleh
perusahaan. Sistem ini sangat penting mengingat bahwa kas merupakan kekayaan
perusahaan yang bersifat liquid. Jika sistem pengolahan datanya tidak berjalan
dengan baik maka dikhawatirkan informasi yang dibutuhkan perusahaan menjadi
tidak handal, selain itu juga fraud atau kecurangan dapat terjadi. Inilah yang
sering kali diabaikan oleh perusahaan – perusahaan, Kebanyakan perusahaan
hanya mencatat nominal yang diterima atau dikeluarkan tanpa mengetahui
darimana kas yang masuk dan yang dikeluarkan tersebut, sehingga pengendalian
terhadap kas dan informasi yang dihasilkan tanpa disadari menjadi tidak handal.
4



Berdasaran uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk menulis
Laporan Tugas Akhir yang diberi judul “RANCANGAN SISTEM
PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS PADA KEDAI MIE MERAPI”

1.2 Identifikasi Masalah
1. Bagaimana Sistem Informasi Akuntansi penerimaan kas yang dijalankan oleh
Mie Merapi
2. Bagaimana Sistem Informasi Akuntansi pengeluaran kas yang dijalankan oleh
Mie Merapi
3. Bagaimana rancangan Sistem Informasi Akuntansi penerimaan kas yang
sesuai untuk Mie Merapi
4. Bagaimana rancangan Sistem Informasi Akuntansi pengeluaran kas yang
sesuai untuk Mie Merapi



1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran bagaimana
sistem penerimaan dan pengeluaran kas yang dilaksanakan oleh Kedai Mie
Merapi dan memberikan rancangan sistem penerimaan dan pengeluaran kas yang
sesuai bagi Kedai Mie Merapi.
Adapun tujuan dari penelitan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Sistem Informasi Akuntansi penerimaan kas yang
dijalankan oleh Kedai Mie Merapi.
5



2. Untuk mengetahui Sistem Informasi Akuntansi pengeluaran kas yang
dijalankan oleh Kedai Mie Merapi.
3. Untuk merancang Sistem Informasi Akuntansi penerimaan kas yang lebih
baik bagi Kedai Mie Merapi.
4. Untuk merancang Sistem Informasi Akuntansi pengeluaran kas yang lebih
baik bagi Kedai Mie Merapi.

1.4 Kegunaan Penelitian
Penulis berharap agar penulisan tugas akhir ini dapat memberikan konstbusi
bagi berbagai pihak yang terkait , antara lain :

1.4.1 Kegunaan Teoritis
Secara teoritis, laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai penambah
wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan sistem informasi penerimaan
dan pengeluaran kas.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Secara praktis, laporan ini diharapkan dapat menjadi suatu masukan yang
dapat dikembangkan berkenaan dengan permasalahan yang dibahas untuk dapat
meningkatkan kinerja Mie Merapi dalam menjalankan kegiatan usaha terutama
dibagian sistem keuangan. Dan dapat dijadikan referensi atau acuan bagi penulis
selajutnya.

6



1.5 Metodologi Penulisan
Metodologi penulisan merupakan gambaran rancangan/metode yang akan
digunakan sebagai rencana, struktur dan strategi untuk penyelesaian penelitian.
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian deskriptif. Menurut Ahmad
Mansur dan Tina Trisnawati ( 2011 : 25 ) menjelaskan bahwa :
“Metodolgi deskriftif yaitu metodologi yang ditujukan kepada pemecahan
masalah yang berlaku pada saat sekarang. Suatu penelitian deskriptif berarti
memberi gambaran yang lebih jelas tentang situasi sosial.”

1.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Penulis memilih untuk menggunakan metode pengumpulan data dan
pengolahan data ini adalah berdasarkan metode atau teknik pengumpulan data
yang dijelaskan oleh Ahmad Mansyur & Tina Trisnawati (2011: 30), yaitu :
1. Data Primer
“Data primer adalah data yang diperoleh dari penelitian dilapangan, baik
wawancara maupun hasil pengukuran lainnya. Pengumpulan data primer ini
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi adalah kegiatan yang terencana, terarah secara sistematika
untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu proses dan/atau
7



dinamika kegiatan kerja didalam perusahaan, untuk mendapatkan
informasi dan gambaran jelas.
b. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
mengadakan tanya jawab langsung dengan pelaku usaha atau bagian
yang berhubungan langsung dengan masalah yang diteliti.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan memanfaatkan hasil pihak
lain. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan melakukan penelitian
kepustakaan (library research), yaitu teknik pengumpulan data dan informasi dari
berbagai sumber buku maupun dokumen untuk dapat memperoleh bahan, serta
landasan teori yang sesuai dengan topik penelitian, yaitu sistem penerimaan dan
pengeluaran kas.”



1.5.2 Teknik Pengolahan Data
Metode pengolahan data yang digunakan untuk pembahasan masalah ini
adalah data yang telah ada kemudian diolah dengan cara sebagai berikut :
1. Menyusun dan menata kembali data yang diperoleh.
2. Data yang telah terkumpul kemudian diklasifikasikan dan disusun
berdasarkan kebutuhan pengolahan data.
3. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan teori yang dipelajari dan
dengan sumber-sumber tertulis lainnya dan;
8



4. Data diolah dan dianalisis sehingga dapat kesimpulan serta informasi yang
diperlukan dalam Laporan Tugas Akhir ini.
Data yang telah diperoleh dari perusahaan kemudian disusun dan dianalisis
secara sistematis guna kelancaran proses pengolahan data dalam penyusunan
rancangan sistem penerimaan dan pengeluaran kas.



1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kedai Mie Merapi jalan Pahlawan no 24
Bandung. Sementara waktu penelitian dilaksanklan dari bulan maret sampai
dengan bulan mei, dengan rencana jadwal penelitian sebagai berikut :
Tabel 1.1 Rencana Penelitian







1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Study Pendahuluan
2 Pengajuan Outline
3 Pengajuan Ijin Penelitian
4 Pengumpulan Data
5 Pengolahan Data
6 Analisis Data
7 Penyusunan LTA
8 Bimbingan LTA
9 Pengesahan LTA
Maret April Mei
Agenda Penelitian No
9



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ( UMKM )
2.1.1 Pengertian UMKM
“UMKM diatur berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah. Berikut kutipan dari isi UU 20/2008 :
1 Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah
atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil
atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan
tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.”
10



2.1.2 Asas, dan Kriteria UMKM
Menurut UU No 20/2008 yaitu :
“Pemberdayaan UMKM diselenggarakan sebagai kesatuan dan
pembangunan perekonomian nasional untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.
Dilandasi dengan asas kekeluargaan, upaya pemberdayaan UMKM merupakan
bagian dari perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, keseimbangan kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional untuk
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Asas Kebersamaan adalah asas yang mendorong peran seluruh UMKM dan
Dunia Usaha secara bersama-sama dalam kegiatannya untuk mewujudkan
kesejahteraan rakyat. Asas Efisiensi adalah asas yang mendasari pelaksanaan
pemberdayaan UMKM dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam
usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdayasaing. Asas
Berkelanjutan adalah asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya
proses pembangunan melalui pemberdayaan UMKM yang dilakukan secara
berkesinambungan sehingga terbentuk perekonomian yang tangguh dan mandiri.
Asas Berwawasan lingkungan adalah asas pemberdayaan UMKM yang dilakukan
dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan
lingkungan hidup. Asas kemandirian adalah usaha pemberdayaan UMKM yang
dilakukan dengan tetap menjaga dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan
kemandirian UMKM.
11



Kriteria usaha kecil dan menengah diatur dalam Undang-Undang UMKM
(Usaha Mikro Kecil dan Menengah) No. 20 Tahun 2008 pada pasal 6. Kriteria
Usaha Mikro adalah yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah).
Kriteria Usaha Kecil adalah yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.
000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha ; atau yang memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah).
Sedangkan Kriteria Usaha Menengah adalah yang memiliki kekayaan bersih
lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling
banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.
2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah sampai dengan paling banyak
Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).”



12



2.2 Sistem Informasi Akuntansi
2.2.1 Pengertian Sistem
Menurut Mulyadi dalam bukunya “Sistem Akuntansi” ( 2010 : 2 ) yaitu :
“Sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat berhubungan
satu dengan yang lainnya yang berfungsi bersama – sama untuk mencapai tujuan
tertentu. Sistem yang baik akan menghasilkan output yang sebanding dengan
input.”
Pengertian lain mengenai sistem yaitu sekumpulan sub – sub sistem yang
saling berhubungan secara harmonis untuk mencapai tujuan tertentu dan bekerja
sama dengan baik, maka dari itu untuk membangun sebuah sistem harus tahu
terlebih dahulu tujuannya apa.
Suatu sistem dibuat untuk mengani sesuatu yang berulang kali atau yang
secara rutin terjadi. Contoh sistem yang mudah sekali yaitu sistem yang ada di
tubuh kita, sistem pernafasan.
2.2.2 Pengertian Informasi
Pengertian informasi menurut Prasojo dan Riyanto (2011:3), yaitu :
“Pengertian informasi sering disamakan dengan pengertian data. “Data
adalah sesuatu yang belum diolah dan belum dapat digunakan sebagai dasar
yang kuat dalam pengambilan keputusan”.
Menurut Krismiaji ( 2010 : 15 ) dalam bukunya yang berjudul Sistem
Informasi Akuntansi menjelaskan bahwa “informasi adalah data yang telah
diorganisasi dan telah memiliki kegunaan dan mamfaat”.
13



Sedangkan menurut Susanto ( 2009 : 40 ) dalam bukunya yang berjudul
Sistem Informasi Manajemen yaitu :
“Informasi merupakan hasil dari pengolahan data, akan tetapi tidak semua
hasil dari pengolahan data tersebut bisa menjadi informasi, hasil pengolahan
data yang tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermamfaat bagi
seseorang bukanlah merupakan informasi bagi orang tersebut”.
Berdasarkan pendapat para ahli yang dikemukakan di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa informasi adalah data yang diolah menjadi sebuah bentuk yang
berarti bagi pengguna, yang bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan.

2.2.3 Pengertian Akuntansi
Akuntansi adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasikan,
mencatat dan mengkomunikasikan peristiwa – peristiwa ekonomi dari suatu
organisasi kepada para pengguna, baik pengguna eksternal maupun pengguna
internal. Pengguna eksternal meliputi pihak – pihak yang memiliki kepentingan
dengan organisasi tersebut contohnya pemerintah untuk kepentingan pembayaran
pajak, investor untuk memberikan keputusan apakah akan melakukan investasi
dengan organisasi dan pihak eksternal lainnya. Sementara pihak internal yaitu
untuk para manajer yang berguna untuk proses pengambilan keputusan.
Menurut Dwi Martani, dkk (2012 : 4) yaitu :
“Akuntansi memegang peran penting dalam entitas karena akuntansi adalah
bahasa bisnis (business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang
menjelaskan kinerja keuangan entitas dalam suatu periode tertentu dan
kondisi keuangan entitas pada tanggal tertentu. Informasi akuntansi tersebut
14



digunakan oleh para pemakai agar dapat membantu dalam membuat
prediksi kinerja di masa mendatang.”

Dari pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi
merupakan proses pencatatan, pengikhtisaran dan pengkomunikasian informasi
ekonomi yang berguna bagi pihak ekternal perusahaan maupun pihak internal
perusahaan.
2.2.4 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi
Dalam bukunya yang berjudul Sistem Informasi Akuntansi ( 2010 : 3 ),
Mulyadi mengemukakan :
“ Sistem Informasi Akuntansi adalah organisasi formulir, catatan dan
laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan
informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan
pengelolaan perusahaan.”
Menurur Bodnar dan Hopwood (2010:1) sistem Infomasi Akuntansi adalah :
“An accounting information system is a collection of resources, such as
people and equipment, design to transform financial and other data to
information” (Sistem Informasi Akuntansi adalah kumpulan dari sumber daya,
seperti manusia dan peralatan yang di desain untuk mengubah data keuangan
dan data lainnya menjadi informasi ).
Sedangkan menurt Romney dan Steinbart ( 2009 : 28 ) sistem informasi
akuntansi adalah :
15



“An accounting information system is a system that collect, records, stores and
processes data to produce information for decision makers” ( Sistem Informasi
akuntansi adalah sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan dan
memproses data sehingga menghasilkan informasi untuk pengambilan
keputusan ).
Berdasarakan definisi yang dikemukakan para ahli di atas maka penulis
mengambil kesimpulan bahwa sistem informasi akuntansi adalah serangkaian
sistem yang mengolah data – data yang dibutuhkan dan diubah menjadi sebuah
informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan perusahaan.
2.2.5 Unsur – Unsur Sistem Informasi Akuntansi
Fungsi utama dari Sistem Informasi Akuntansi adalah memberikan
dorongan teradap sistem tersebut agar informasi keuangan yang dihasilkan adalah
informasi yang akurat, dapat dipercaya dan tepat waktu. Unsur – unsur yang
terdapat dalam sistem informasi akutansi saling berkaitan satu sama lain sehingga
dapat dilakuakan pengolahan data yang dimulai dari transaksi sampai dengan
pelaporan yang menghasilkan informasi.
Menurut Mulyadi ( 2010 : 3 ) dalam bukunya Sistem Informasi Akuntansi
yaitu :
“Unsur suatu sistem akuntansi pokok adalah formulir, catatan yang terdiri
dari jurnal, buku besar, buku pembantu serta laporan. Adapun masing – masin
pengertian dari unsur – unsur tersebut adalah :


16



1. Formlir
Formulir merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya
transaksi. Formulir sering disebut dengan istilah dokumen, karena dengan
formulir ini peristiwa yang terjadi dalam organisasi direkam ( didokumentasikan )
di atas secarik kertas. Formulir juga sering disebut media, karena formulir
merupakan media untuk mencatat peristiwa yang terjadi dalam organisasi ke
dalam catatan. Contoh formulir adalah faktur penjualan, bukti kas keluar dan cek.
2. Jurnal
Jurnal merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk
mencatat, mengklasifikasikan dan meringkas data keuangan dan data lainnya.
Sumber informasi pencatatan jurnal adalah formulir. Dalam jurnal, data keuangan
untuk pertama kalinya diklasifikasikan menurut penggolongan yang sesuai dengan
informasi yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Contoh jurnal adalah
jurnal penerimaan kas, jurnal pembelian dan jurnal penjualan.
3. Buku Besar
Buku besar ( general ledger ) terdiri dari rekening – rekening yang
digunakan untuk meringkas data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalam
jurnal. Rekening – rekening dalam buku besar ini disediakan sesuai dengan unsur
– unsur informasi yang akan disajikan dalam laporan keuangan.

17



4. Buku Pembantu
Jika data keuangan yang digolongkan dalam buku besar diperlukan
rinciannya lebih lanjut, maka data dibentuk buku pembantu ( subsidiary ledger ).
Buku pembantu ini terdiri dari rekening – rekening pembantu yang merinci data
keuangan yang tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Buku besar
dan buku pembantu merupakan catatan akuntansi akhir ( books of final entry ),
yang berarti tidak ada catatan akuntansi lain lagi sesudah data akuntansi diringkas
dan digolongkan dalam rekening buku besar dan buku pembantu.
5. Laporan
Hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan yang dapat berupa
neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan laba yang ditahan, laporan harga
pokok produksi, laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok penjualan, daftar
umur piutang, daftar utang yang akan dibayar, daftar saldo persediaan yang
lambat penjualannya. Laporan berisi informasi yang merupakan keluaran sistem
akuntansi.”
2.2.6 Tujuan Sistem Informasi Akuntansi
“Menurut Mulyadi dalam bukunya Sistem Akuntansi ( 2010 : 19 ) tujuan
pengembangan sistem akuntansi adalah :
1. Untuk menyediakan informasi bagi pengelolaan kegiatan usaha baru.
Yaitu kebutuhan pengembangan sistem informas akuntansi terjadi jika
18



perusahaan baru yang berbeda dengan usaha yang telah dijalankan selama
ini.
2. Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah
ada. Yaitu sistem informasi akuntansi yang berlaku tidak dapat memenuhi
kebutuhan manajemen, baik dalam hal mutu, ketepatan penyajian maupun
struktur informasi yang terdapat dalam laporan.
3. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi dan pengecekan intern.
Yaitu untuk memperbaiki tingkat keandalan (reliability) informasi akuntansi
dan untuk menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggungjawaban dan
perlindungan kekayaan perusahaan.
4. Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan
akuntansi. Yaitu pengembanan sistem informasi seringkali ditunjukkan
untuk menghemat biaya informasi merupakan barang ekonomi untuk
memperolehnya diperlukan pengorbanan sumber ekonomi yang lain.”
2.2.7 Simbol – Simbol Sistem Informasi Akuntansi
Mulyadi mengemukakan ( 2011 : 60 ) :
“Sistem akuntansi dapat dijelaskan dengan menggunakan bagan aliran
dokumen. Gambar dibawah ini merupakan symbol – symbol standar yang
19



digunakan oleh analis sistem untuk membuat bagan aliran dokumen yang
menggambarkan sistem tertentu :
1. Dokumen

Gambar 2.1 Simbol dokumen
Simbol ini digunakan untuk menggambarkan semua jenis dokumen. Nama
dokumen dicantumkan ditengah symbol.
2. Dokumen dan tembusannya


Gambar 2.2 Simbol dokumen dan tembusannya
Simbol ini digunakan untuk menggambarkan dokumen asli dan
tembusannya. Nomor lembar dokumen dicantumkan disudut kanan atas.
3. Berbagai dokumen


Gambar 2.3 Simbol berbagai dokumen
1
2
Faktur
Surat Muat
2

SOP
2
Faktur
2
Penjualan
20



Simbol ini digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis dokumen yang
digabungkan bersama di dalam satu paket.
4. Catatan

Gambar 2.4 Simbol catatan
Simbol ini digunakan untuk menggambarkan catatan akuntansi yang
digunakan untuk mencatat data yang direkam sebelumya di dalam dokumen atau
formulir.
5. Penghubung pada halaman yang sama ( on-page connector )

Gambar 2.5 Simbol on-page connector
Dalam menggambarkan bagan alir, arus dokumen dibuat mengalir dari atas
ke bawah dan dari kiri ke kanan. Karena keterbatasan ruang halaman kertas untuk
menggambar, maka diperlukan symbol penghubung untuk memungkinkan aliran
dokumen berhenti di suatu lokasi pada halaman tertentu dan kembali berjalan di
lokasi lain pada halaman yang sama.



21





Gambar 2.6 Simbol on-page connector di akhir arus dokumen
Akhir arus dokumen yang mengarahkan pembaca ke symbol penghubung
halaman yang sama yang bernomor seperti yang tercantum dalam symbol
tersebut.


Gambar 2.7 Simbol on-page connector di awal arus dokumen
Awal arus dokumen yang berasal dari symbol penghubung halaman yang
sama, yang bernomor seperti yang tercantum di dalam symbol tersebut.
6. Penghubung dalam halaman yang berbeda ( off-page connector )


Gambar 2.8 Simbol off-page connector
1
1
22



Jika untuk menggambarkan bagan aliran suatu sistem akuntansi diperlukan
lebih dari satu halaman, symbol ini harus digunakan untuk menunjukkan kemana
dan bagaimana bagan alir terkait satu dengan yang lainnya.
7. Kegiatan manual

Gambar 2.9 Simbol kegiatan manual
Simbol ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan manual seperti
menerima order dari pembeli, mengisi formulir dan lain sebagainya.
8. Arsip Sementara

Gambar 2.10 Simbol arsip sementara
Simbol ini digunakan untuk menunjukkan tempat penyimpanan dokumen.
Arsip sementara adalah tempat penyimpanan dokumen yang dokumennya akan
diambil kembali dari arsip tersebut di masa yang akan dating untuk keperluan
pengolahan lebih lanjut terhadap dokumen tersebut.


23



9. Arsip Permanen

Gambar 2.11 Simbol arsip permanen
Simbol ini digunakan untuk menggambarkan arsip permanen yang
merupakan tempat penyimpanan dokumen yang tidak akan diproses lagi dalam
sistem akuntansi yang bersangkutan.
10. Online computer process

Gambar 2.12 Simbol online computer process
Simbol ini menggambarkan pengolahan data dengan computer secara
online. Nama program ditulis di dalam symbol.
11. Online storage


Gambar 2.13 Simbol Online Storage
24



Simbol ini menggambarkan arsip computer yang berbentuk online ( didalam
memory computer ).
12. Keputusan
Ya Ya
Tidak
Gambar 2.14 Simbol keputusan
Simbol ini menggambarkan keputusan yang harus dibuat dalam proses
pegolahan data.
13. Mulai atau berakhir

Gambar 2.15 Simbol mulai atau berakhir
Simbol ini digunakan untuk menggambarkan awal dan akhir suatu sistem
akuntansi.



25



14. Garis alir (flowline)



Gambar 2.16 Simbol flowline
Simbol ini menggambarkan arah proses pengolahan data. Anak panah tidak
digambarkan jika arus dokumen mengarah ke bawah dan ke kanan. Jika arus
dokumen mengalir dari atas atau ke kiri, anak panah perlu dicantumkan.”

2.3 Sistem Pengendalian Intern
2.3.1 Pengertian Sistem Pengendalian Intern
Dalam bukunya “Sistem Akuntansi” Mulyadi (( 2010 : 163 ) menjelaskan
bahwa :
“Sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan
ukuran – ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi,
mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efesiensi dan
mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Sedangkan menurut Krismiaji( 2010 : 218 ) :
“Pengendalian Intern (Internal Control) adalah merupakan rencana
organisasi dan metode yang digunakan untuk menjaga atau melindungi aktiva,
menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, memperbaiki efesiensi
dan mendorong ditaatinya kebijakan.”
26



Dari pendapat kedua para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa sistem
pengendalian internal adalah cara dan langkah yang dibuat untuk melindungi
kekayaan perusahaan, menghasilkan informasi yang handal dan segala kebijakan
yang dibuat oleh manajemen dapat dipatuhi oleh semua yang bersangkutan dalam
organisasi tersebut.
2.3.2 Tujuan Pengendalian Intern
Berdasarkan pengertian Sistem Pengendalian Intrern yang dikemukakan
oleh Mulyadi ( 2010 : 163 ) diatas bahwa :
“Tujuan dari sistem pengendalian intern tersebut adalah :
1. Menjaga kekayaan organisasi.
2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi.
3. Mendorong efesiensi.
4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Menurut tujuannya, sistem pengendalian intern tersebut dibagi dua yaitu
Pengendalian Intern Akuntansi dan Pengendalian Intern Administratif.
Pengendalian Intern akuntansi, yang merupakan bagian dari sistem pengendalian
intern, meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran – ukuran yang
dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan
keandalan data akuntansi.
Sedangkan Pengendalian Intern Administratif meliputi struktur organisasi,
metode dan ukuran – ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk mendorong
efesiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen”.

2.3.3 Unsur Pengendalian Intern
27



Dalam pencapaian suatu sistem pengendalian intern yang baik terdapat
beberapa unsur pokok yang harus ada dalam perusahaan agar perusahaan dapat
mencapai tujuannya. Menurut Mulyadi ( 2010 : 164 )
“Ada empat unsur utama sistem pengendalian intern, yaitu :
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional
secara tegas.
Struktur organisasi merupakan rerangka ( framework ) pembagian tanggung
jawab fungsional kepada unit – unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan
kegiatan – kegiatan pokok perusahaan. Pembagian tanggung jawab fungsional
harus berdasarkan prinsip – prinsip berikut ini :
a. Harus dipisahkan fungsi – fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi
akuntansi. Fungsi operasi adalah fungsi yang memilii wewenang untuk
melaksanakan suatu kegiata ( misalnya pembelian ). Setiap kegiatan
dalam perusahaan memerlukan otorisasi dari manajer fungsi yang
memiliki wewenang untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Fungsi
penyimpanan adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk meyimpan
aktiva perusahaan. Fungsi akuntansi adalah fungsi yang memiliki
wewenang untuk mencatat peristiwa keuangan perusahaan.
b. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk
melaksanakan semua tahap suatu akuntansi.
28



2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan
perlindugan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan
biaya.
Dalam suatu organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi
dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi
tersebut. Oleh karena itu, dalam organisasi dibuat sistem yang mengatur
pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi.
Selanjutnya prosedur pencatatan yang bai akan menghasilkan informasi yang
tepat dan dapat dipercaya mengenai kekayaan, utang, pendapatan dan biaya
suatu organisasi.
3. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi.
Pembagian tanggung jawab fungsional dalam sistem wewenang serta
prosedur pencatatan yang telah diterapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika
tidak diciptaka cara – cara untuk menjami praktek yang sehat dalam
pelaksanaanya. Adapun cara – cara yang umumnya diterapkan oleh perusahaan
dalam menciptakan praktek yang sehat adalah :
a. Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus
dipertanggung jawabkan oleh pihak yang berwenang. Formulir
merupakan alat untuk memberikan informasi otorisasi terlaksananya
transaksi, maka pengendalian pemakaiannya dengan menggunakan no
29



urut cetak, sehingga dapat menetapkan pertanggungjawaban
terlaksananya trasaksi.
b. Pemeriksaan mendadak. Dilaksanakan tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu kepada pihak yang akan diperiksa dan dengan jadwal yang
tidak teratur. Jika dalam suatu organisasi dilaksanakan pemeriksaan
mendadak teradap kegiatan – kegiatan pokoknya, hal ini akan
mendorong karyawan melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan
yang telah ditetapkan.
c. Setiap transaksi tdak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh
satu orang atau satu unit organisasi tanpa ada campur tangan dari orang
atau unit organisasi lain.
d. Perputaran jabatan. Jika perputaran jabatan dilakukan secara rutin,
maka akan menjaga indepedensi pejabat dalam melaksankan tugasnya
sehinga tidak terjadi persekongkolan.
e. Keharusan pengambilan cuti bagi karyawan yang berhak. Karyawan
sebagai kunci perusahaan diwajibkan mengambil cuti yang menjadi
haknya. Selama mejalani cuti, jabatan karyawan yang bersangkitan
digantikan untuk sementara oleh pejabat lain, sehingga bila terjadi
kecurangan dalam departemen yang bersangkutan diharapkan dapat
diungap oleh pejabat yang menggantikan.
30



f. Secara periodic diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan
catatannya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kekayaan organisasi dan
mengecek ketelitian serta keandalan catatan akuntansinya.
g. Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek
efektivitas unsur – unsur sistem pengendalian intern yang lain. Unit
organisasi ini disebut satuan pengawas intern atau staf pemeriksa
intern.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.
Dari ke empat unsur pokok pengendaian intern tersebut, unsr mutu
karyawan merupaka unsur sistem pengendalian intern yang paling penting.
Bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur
pencatatan serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktek yang
sehat semuanya tergantung kepada sumber daya manusia yang melaksanakannya.
Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur
pengendalian intern yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum dan
perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggung jawaban keuangan yang
dapat diandalkan, Karyawan yang jujur dan ahli dalam bidang yang menjadi
tanggungjawabnya akan dapat melaksanakan pekerjaannya secara efektif
meskipun hanya sedikit unsur penegndalian intern yang mendukungnya. Namun
karyawan yang kompeten saja tidak cukkup menjadi satu – satunya unsur sistem
pengendalian intern”.
31



2.4 Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Menurut Mulyadi ( 2010 : 455 ) mengemukakan :
“Penjualan tunai dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mewajibkan
pembeli membayar terlebih dahulu sebelum barang diserahkan oleh perusahaan
kepada pembeli. Setelah uang diterima oleh perusahaan, barang kemudian
diserahkan kepada pembeli dan transaksi penjualan tersebut kemudian dicatat oleh
perusahaan. Berdasarkan sistem pengendalian intern yang baik, sistem
penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan :
1. Penerimaan kas dalam bentuk penjualan tunai harus segera disetor ke bank
dalam jumlah penuh dengan cara melibatkan pihak lain selain kasir untuk
melakukan internal check.
2. Penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan melalui transaksi kartu
kredit, yang melibatkan bank penerbit kartu kredit dalam pencatatan
transaksi penerimaan kas.
Sedangkan prosedur penerimaan kas dari penjualan tunai dibagi menjadi
tiga, yaitu :
1. Penerimaan Kas dari over-the counter sale
Dalam penjualan tunai ini, pembeli dating ke perusahaan, melakukan
pemilihan barang atau produk yang akan dibeli, melakkan pembayaran ke kasir
dan kemudian menerima barang yang dibeli. Dalam Over-the Couter Sale ini,
32



perusahaan menerima uang tnai, cek pribadi (personal check), atau pembayaran
langsung dari pembeli dengan credit card, sebelum barang diserahkan kepada
pembeli.
2. Penerimaan Kas dari Cash-on Delivery Sale ( COD Sale)
COD Sale adalah transaksi penjualan yang melibatkan kantor pos,
perusahaan angkutan umum atau angkutan sendiri dalam penyerahan dan
penerimaan kas dari hasil penjualan. COD Sale merupakan sarana untuk
memperluas daerah pemasaran dan untuk memberikan jaminan penyerahan
barang bagi pembeli dan jaminan penerimaan kas bagi perusahaan penjual.
3. Penerimaan Kas dari Credit Card Sale
Sebenarnya credit card bukan merupakan suatu tipe penjualan, namun
merupakan salah satu cara pembayaran bagi pembeli dan sarana penagiahan bagi
penjual, yang memberikan kemudahan baik bagi penjual maupun pembeli, baik
dalam over-the counter sale maupun dalam penjualan yang pengiriman barangnya
dilaksanakan melalui jasa pos atau angkutan umum. Dalam over-the counter sale,
pembeli dating ke perusahaan, melakuka pemilihan barang dan produk yang akan
dibeli, melakukan pembayaran ke kasir dnegan menggunakan kartu kredit. Dalam
penjualan tunai yang melibatkan pos atau perusahaan angkutan umum, pembeli
tidak perlu datang ke perusahaan penjual. Pembeli memberikan persetujuan
tertulis penggunaan kartu kredit dalam pembayaran barang, sehingga
memungkinkan perusahaan penjual melakukan penagihan kepada bank atau
perusahaan penerbit kartu kredit”.
33



2.4.1 Fungsi yang Terkait
Mulyadi ( 2010 : 462 ) mengemukakan :
“Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai
menurut yaitu :
1. Fungsi Penjualan, dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai,
fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima order dari pembeli, mengisi
faktur penjualan tunai, dan menyerahkan faktur tersebut kepada pembeli
untuk kepentingan pembayaran harga barang ke fungsi kas.
2. Fungsi Kas, dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, fungsi ini
bertanggung jawab sebagai penerimaan kas kepada pembeli.
3. Fungsi Gudang, dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai,
fungsi ini bertanggung jawab untuk menyiapkan barang yang telah dipesan
oleh pembeli, serta menyerahkan barang yang dipesan oleh pembeli serta
menyerahkan barang tersebut ke fungsi pengiriman.
4. Fungsi Pengiriman, dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai,
fungsi ini bertanggung jawab untuk membungkus barang dan menyerahkan
barang yang telah dibayar harganya kepada pembeli.
5. Fungsi Akuntansi, dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai,
fungsi ini bertanggung jawab sebagai pencatat transaksi penjualan dan
penerimaan kas dan pembuat laporan penjualan.”
34



2.4.2 Dokumen yang Digunakan
Menurut Mulyadi dalam bukuya ”Sistem Akuntansi” ( 2010 : 462 )
“Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai
adalah :
1. Faktur Penjualan Tunai, dokumen ini digunakan untuk merekam berbagai
informasi yang diperlukan manajemen mengenai transaksi penjualan tunai.
2. Pita Register Kas (cash register tape), dokumen ini dihasilkan oleh fungsi
kas dengan cara mengoperasikan mesin register kas. Pita register kas ini
merupakan bukti penerimaan kas yang dikeluarkan oleh fungsi kas dan
pendukung faktur penjualan tunai yang dicatat dalam jurnal penjualan.
3. Credit Card Slip Sale, dokumen ini dicetak oleh credit card center bank
yang menerbitkan kartu kredit dan diserahkan kepada perusahaan yang
menjadi anggota kartu kredit.
4. Bill of Landing, dokumen ini merupakan bukti penyerahan barang dari
perusahaan penjualan barang kepada perusahaan angkutan umum. Dokumen
ini digunakan oleh fungsi pengiriman dalam penjualan COD yang
penyerahan baranngnya dilakukan oleh perusahaan angkutan umu,
5. Faktur Penjualan COD, dokumen ini digunakan untuk merekam penjualan
COD. Tembusan faktur penjualan COD diserahkan kepada pelanggan
melalui bagian angkutan perusahaan, kantor pos, atau perusahaan angkutan
35



umum dan dimintakan tanda tangan penerima barang dari pelanggan sebagai
bukti telah dikirimnya barang oleh pelanggan. Tembusan faktur penjualan
COD digunakan oleh perusahaan untuk menagih kas yang harus dibayar
oleh pelanggan pada saat penyerahan barang yang dipesan oleh pelanggan.
6. Bukti Setor Bank, dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti
penyetoran kas ke bank.
7. Rekap Harga Pokok Penjualan, dokumen ini digunakan oleh fungsi
akuntansi untuk meringkas harga pokok produk yang dijual selama satu
periode.”

2.4.3 Catatan Akuntansi yang Digunakan
Menurut Mulyadi ( 2010 : 468 ),
“Catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari
penjualan tunai, yaitu :
1. Jurnal Penjualan, digunakan oleh fungsi akuntansi untuk mencatat dan
meringkas data penjualan. Jika perusahaan menjual berbagai macam
produk dan manajemen memerlukan informasi penjualan setiap jenis
produk dan jangka waku tertentu, dalam jurnal penjualan disediakan
satu kolom untuk setiap jenis produk guna meringkas informasi
penjualan menurut jenis produk tersebut.
2. Jurnal Penerimaan Kas, digunakan oleh fungsi akuntansi untuk
mencatat penerimaan kas dari berbagai sumber, di antaranya dari
penjualan tunai.
36



3. Jurnal Umum, digunakan oleh fungsi akuntansi untuk mencatat harga
pokok produk yang dijual.
4. Kartu Persediaan, digunakan oleh fungsi akuntansi untuk mencatat
berkurangnya harga pokok produk yang dijual.
5. Kartu Gudang, catatan ini tidak termasuk sebagai catatan akuntansi
karena hanya berisi data kuantitas persediaan barang yang disimpa
digudang. Catatan ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk
mencatat muyasi dan persediaan barang yang disimpan dalam gudang.”
2.4.4 Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem
Dalam bukunya “Sistem Akuntansi”, Mulyadi ( 2010 : 469 ) menjelaskan :
“Jaringan prosedur yang membentuk sistem penerimaan kas dari penjualan
tunai yaitu :
1. Prosedur Order Penjualan, dalam prosedur ini fungsi penjualan
menerima order dari pembeli dan membuat faktur penjualan tunai untuk
memungkinkan pembeli melakukan pembayaran harga barang ke fungsi
kas dan untuk memungkinkan fungsi gudang dan fungsi pengiriman
menyiapka barang yang akan diserahkan ke pemasok.
2. Prosedur Penerimaan Kas, dalam prosedur ini fungsi kas menerima
pembayaran harga barang dari pembeli dan memberikan tanda
pembayaran kepada pembeli untuk memungkinkan pembeli tersebut
melakukan pengambilan barang yang dibelinya dari fungsi pengiriman.
37



3. Prosedur Penyerahan Barang, dalam prosedur ini fungsi pengiriman
menyerahkan barang kepada pembeli.
4. Prosedur Pencatatan Penjualan, dalam proseur ini fungsi akuntansi
melakukan pencatatan transaksi penjualan tunai dalam jurnal penjualan
dan jurnal penerimaan kas. Disamping itu, fungsi akuntansi juga
mencatat berkurangnya persediaan barang yang dijual dalam kartu
persediaan.
5. Prosedur Penyetoran Kas ke Bank, Sistem pengendalian intern
terhadap kas mengharuskan penyetoran dengan segera ke bank semua
kas yang diterima pada suatu hari. Dalam prosedur ini fungsi kas
menyetorkan kas yang diterima dari penjualan tunai ke bank dalam
jumlah penuh.
6. Prosedur Pencatatan Penerimaan Kas, dalam prosedur ini fungsi
akuntansi mencatat penerimaan kas ke dalam jurnal penerimaan kas
berdasarkan bukti setor bank yang diterima dari bank melalui fungsi kas.
7. Prosedur Pencatatan Harga Pokok Penjualan, dalam prosedur ini
fungsi akuntansi membuat rekapitulasi harga pokok penjualan
berdasarkan data yang dicatat dalam kartu persediaan. Berdasarkan
rekapitulasi harga pokok penjualan ini, fungsi akuntansi membuat bukti
memorial sebagai dokumen sumber untuk pencatatan harga pokok
penjualan ke dalam jurnal umum.
38



2.4.5 Unsur Pengendalian Intern
Menurut Mulyadi ( 2010 : 470 ) :
“Unsur pengendalian intern yang harus ada dalam sistem penerimaan kas
dari penjualan tunai adalah:
1. Organisasi
a. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kas.
b. Fungsi kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
c. Transaksi penjualan tunai harus dilaksanakan oleh fungsi penjualan,
fungsi kas, fungsi pengiriman dan fungsi akuntansi.
2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
a. Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan
menggunakan formulir faktur penjualan tunai.
b. Penerimaan kas diotorisasi oleh fungsi kas dengan cara membubuhkan
cap “lunas” pada faktur penjualan tunai dan penempelan pita register
kas pada faktur tersebut.
c. Penjualan dengan kartu kredit bank didahului dengan dengan
permintaan otorisasi dari bank penerbit kartu kredit.
d. Penyerahan barang diotorisasi oleh fungsi pengirima dengan cara
membubuhkan cap “sudah diserahkan” pada faktur penjualan tunai.
e. Pencatatan ke dalam buku jurnal diotorisasi oleh fungsi akuntansi
dengan cara memberikan tanda pada faktur penjualan tunai.
39



3. Praktik yang Sehat
a. Faktur penjualan tunai bernomor urut tercetak dan pemakaiannya
dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.
b. Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai disetor seluruhnya ke
bank pada hari yang sama dengan transaksi pejualan tunai atau hari kerja
berikutnya.
c. Penghitungan saldo kas yang ada di tangan fungsi kas secara periodic
dan secara mendadak oleh fungsi pemeriksa intern.”
2.5 Sistem Informasi Akuntansi Pengeluaran Kas dengan Uang Tunai
Melalui Sistem Dana Kas Kecil
Menurut Mulyadi (2010: 529), “penyelenggaraan dana kas kecil
memungkinkan pengeluaran kas dengan uang tunai diselenggarakan dengan dua
cara, yaitu sistem saldo berfluktuisasi dan imprest system.”
2.5.1 Fungsi yang Terkait
“Menurut Mulyadi ( 2010 : 534 ) “fungsi yang terkait dalam sistem
pengeluaran kas melalui sistem dana kas kecil, yaitu :
1. Fungsi Kas, fungsi ini bertanggung jawab dalam mengisi cek, memintakan
otorisasi atas cek, dan menyerahkan cek kepada pemegang dana kas kecil
40



pada saat pembentukan dana kas kecil dan pada saat pengisian kembali dana
kas kecil.
2. Fungsi Akuntansi, fungsi ini bertanggug jawab atas pencataan pengeluaran
kas kecil, pencatatan transaksi pembentukan dana kas kecil, pencatatan
pengisian kembali dana kas kecil, pencatatan pengeluaran dana kas kecil
dan pembuat bukti ks keluar.
3. Fungsi Pemegang Dana Kas Kecil, fungsi ini bertanggungjawab atas
penyimpanan dan pengeluaran dana kas kecil.
4. Fungsi Pemeriksa Intern, fungsi ini bertanggung jawab atas penghitungan
dana kas kecil secara periodic dan pencocokan hasil penghitunannya dengan
catatan kas.”

2.5.2 Dokumen yang Digunakan
Menurut Mulyadi ( 2010 : 530 ), “dokumen yang digunakan dalam sistem
pengeluaran kas melalui sistem dana kas kecil adalah :
1. Bukti Kas Keluar, berfungsi sebagai perintah pengeluaran kas dari fungsi
akuntansi kepada fungsi kas sebesar yang tercantum dalam dokumen
tersebut.
2. Permintaan Pengeluaran Kas Kecil, digunakan oleh pemakai dana kas
kecil untuk meminta uang ke pemegang dana kas kecil. Bagi pemegang
dana kas kecil dokumen ini berfungs sebagai bukti pengeluaran kas kecil.
41



3. Bukti Pengeluaran Kas Kecil, dibuat oleh pemakai dana kas kecil untuk
mempertanggungjawabkan pemakaian dana kas kecil dengan dilampiri bukti
– bukti pengeluaran kas kecil.
4. Permintaan Pengisian Kembali Kas Kecil, dibuat oleh pemegang dana
kas kecil.”
2.5.3 Catatan Akuntansi yang Digunakan
Menurut Mulyadi ( 2010 : 532 ), “catatan akuntansi yang digunakan dalam
sistem dana kas kecil yaitu :
1. Jurnal Pengeluaran Kas, digunakan untuk mencatat pengeluaran kas
dalam pembentukan dana kas kecil dan dalam pengisian kembali dana kas
kecil.
2. Register Cek, digunakan untuk mencatat cek perusahaan yang dikeluarkan
untuk pembentukan dan pengisian kembali dana kas kecil.
3. Jurnal Pengeluaran Dana Kas Kecil, berfungsi sebagai alat distribusi
pendebitan yang timbul sebagai akibat pengeluaran dana kas kecil.”


42



2.5.4 Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem
Dalam bukunya “Sistem Akuntansi”, Mulyadi ( 2010 : 529 ), menjelaskan
bahwa “baik dengan cara saldo berfluktuisasi ataupun dengan imprest system
pelaksanaan dana kas kecil dilaksanakan melalui tiga prosedur yaitu :
1. Prosedur pembentukan dana kas kecil, dimulai dengan adanya surat
keputusan dari direktur keuangan mengenai jumlah dana yang disisihkan ke
dalam dana kas kecil dan tujuan pembentukan dana tersebut.
2. Prosedur permintaan dan pertanggungjawaban pengeluaran dana kas
kecil, dimulai dengan adanya permintaan pengeluaran dana kas kecil oleh
pemakai yang ditujukan kepada pemegang dana kas kecil. Pemakai dana kas
kecil berkewajiban mempertanggungjawabkan pemakaian dana kas kecil
dengan membuat pertanggungjawabkan pengeluaran dana kas jecil dalam
formulir bukti pengeluaran kas kecil yang dilampiri dengan bukti – bukti
pendukungnya.
3. Prosedur pengisian kembali dana kas kecil, dalam imprest system
pengisian kembali dana kas kecil didasarkan atas jumlah uang tunai yang
telah dikeluarkan menurut bukti pengeluaran kas kecil, sedangkan dalam
sistem fluktuisasi didasarkan atas taksiran jumlah uang tunai yang
diperlukan oleh pemegang dana kas kecil.”
2.5.5 Unsur Pengendalian Intern
43



Menrut Mulyadi ( 2010 : 516 ) “unsur pengendalian intern yang harus ada
dalam sistem pengeluaran kas adalah:
1. Organisasi
a. Fungsi penyimpanan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
b. Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas tidak boleh dilaksanakan
sendiri oleh bagian kasa sejak awal sampai akhir, tanpa campur tangan
dari fungsi yang lain.
2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
a. Pengeluaran kas harus mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang.
b. Pembukaan dan penutupan rekenin bank harus mendapat persetujuan
dari pejabat yang berwenang.
c. Pencatatan dalam jurnal pengeluaran kas didasarkan pada bukti kas
keluar yang telah mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang dan
dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap.
3. Praktek yang Sehat
a. Saldo kas ditangan harus dilindungi dari kemungkinan pencurian atau
penggunaan yang tidak semestinya.
b. Dokumen dasar dan dokumen pendukung transaksi pengeluaran kas
harus dibutuhi cap “lunas” oleh bagian kassa setelah transaksi
pengeluaran dilakukan.
c. Kasir diasuransikan.
44



d. Kasir dilengkapi dengan alat – alat yang mencegah terjadinya pencurian
terhadap kas yang ada di tangan.”
















45



BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1 Profil Perusahaan
Penulis melakukan penelitian pada Mie Merapi yang berlokasi di jalan
Pahlawan no 24. Mie Merapi didirikan pada tahun 2011 yang menyuguhkan menu
mie sebagai menu utama. Agit Bambang, owner dari mie merapi yang sebelumnya
telah memiliki usaha sepatu, ingin merentangkan bisnisnya di bidang kuliner
karena meilihat bahwa kuliner merupakan salah satu tujuan pariwisata di
Bandung, selain itu dia juga mengamati dan melihat kebutuhan yang sangat
konstan akan makanan. Resep Mie Merapi ini dia dapatkan dari orang tuanya
dengan berbagai inovasi yang dia lakukan sendiri. Berbeda dengan kuliner mie
yang belakangan banyak menjamur di Bandung, Mie Merapi memiliki cita rasa
yang identik dengan rempah – rempah Indonesia, inilah yang menjadi ciri khas
dari Mie Merapi.
Nama mie merapi ini identik dengan gunung merapi dan lahar panas, namun
sebenarnya penamaan mie merapi ini memiliki kepanjangan yaitu Merah Putih
Indonesia. Menurut Oxal, supervisor dari mie merapi, segmentasi pasarnya yaitu
middle down, sehingga harga yang ditawarkan pun tidak begitu mahal dan cocok
untuk kalangan pelajar dan mahasiswa.
46



Ciri khas dari mie merapi yaitu kuah yang rasanya sangat identik dengan
rempah Indonesia, berbeda dengan mie ramen biasanya. Awalnya, mie merapi
hanya memiliki dua menu, namun pihak mie merapi terus berusaha
mengembangkan menunya dan menyesuaikan dengan permintaan para konsumen.
Awalnya mie merapi hanya memiliki tiga orang karyawan, setelah terus
berusaha untuk berkembang akhirnya sampai saat ini mie merapi telah
mempekerjakan 24 orang karyawan yang terbagi atas waiters, koki dan bagian
produksi. Tentu saja dalam perjalanannya, mie merapi memiliki kendala – kendala
yang harus dihadapi, yaitu :
1. Kendala Ekternal
a. Banyaknya menu ramen sehingga mie merapi selalu disamakan dengan
mie ramen.
b. Saingan – saingan yang jaraknya berdekatan.
c. Tantangan untuk memperkenalkan mie merapi kepada masyarakat.
2. Kendala Internal
a. Harga bahan baku yang naik turun.
b. Pembentukan budaya pada karyawan.
3.2 Visi dan Misi Perusahaan
3.2.1 Visi
Menjadi icon kuliner kota Bandung dan menjadi satu – satunya pilihan
utama konsumen dalam kuliner mie.
47



3.2.2 Misi
1. Memamfaatkan media sosial untuk memperkenalkan mie merapi kepada
masyarakat.
2. Mempekerjakan karyawan yang dekat dengan lokasi Mie Merapi.
3. Mengikuti acara – acara kuliner yang diselenggarakan oleh berbagai pihak.
4. Memberikan opsi makanan yang variatif bagi konsumen

3.3 Struktur Organisasi
Gambar dibawah ini merupakan struktur organisasi dari Mie Merapi :











Gambar 3.1 Struktur Organisasi pada Mie Merapi ( Sumber : Hasil wawancara
penulis dengan Supervisor )
48



1. Direksi Utama : Agit Bambang
2. Supervisor : Iman Oxal Taufik & Yuyun
3. Marketing : Iman Oxal Taufik
4. Keuangan : Ambar
5. Produksi : Ida













49



BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan Kas yang Saat Ini Diterapkan
pada Mie Merapi
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Iman Oxal Taufik, supervisor
Mie Merapi, sistem informasi akuntansi penerimaan kas pada Mie Merapi
bersumber dari penjualan tunai. Aktivitas penerimaan kas pada mie merapi
menurut penulis kurang efektif karena sistem informasi akuntansi masih kurang
baik, salah satunya yaitu dalam hal dokumen dan catatan yang digunakan masih
kurang memadai.
Selain itu fungsi yang berperan dalam aktivitas penerimaan kas juga masih
kurang jelas karena ada beberapa fungsi yang double job. Berikut penulis uraikan
beberapa point penting mengenai sistem penerimaan kas yang diterapkan pada
mie merapi :
4.1.1 Fungsi yang Terkait
Dalam sistem informasi akuntansi penerimaan kas mie merapi, fungsi yang
terkait adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Penjualan
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima order dari pembeli,
memberikan pesanan kepada pembeli dan mengisi faktur penjualan. Faktur
tersebut ada 3 rangkap, berwarna putih, merah dan kuning. Fungsi penjualan harus
50



menyerahkan faktur berwarna putih ke bagian produksi ( dapur ) sebagai bukti
penggunaan bahan baku, faktur berwarna merah dan putih diberikan ke bagian
kasir.

2. Fungsi Kas ( Kasir )
Fungsi ini bertanggung jawab atas penerimaan kas dari konsumen
berdasarkan faktur penjualan. Fungsi ini memberikan faktur berwarna merah ke
konsumen sebagai bukti pembayaran konsumen. Sedangkan faktur yang berwarna
kuning dijadikan arsip yang setiap harinya direkap oleh fungsi ini.

3. Fungsi Produksi ( dapur )
Fungsi ini bertanggung jawab menyiapkan pesanan konsumen serta
menyerahkan pesanan tersebut ke fungsi penjualan. Fungsi ini menerima faktur
penjualan berwarna putih untuk dijadikan bukti penggunaan bahan baku.

4. Fungsi Akuntansi ( Keuangan )
Fungsi ini bertanggung jawab mencatat transaksi yang terjadi berdasarkan
hasil rekapan fungsi kas dan melaporkannya langsung kepada owner.

4.1.2 Dokumen yang Digunakan
Dokumen yang digunakan oleh mie merapi dalam kegiatan penerimaan kas,
yaitu faktur penjualan. Dokumen ini digunakan untuk mencatat pesanan pembeli
yang dilakukan oleh fungsi penjualan. Dokumen ini terdiri dari tiga rangkap yang
51



masing – masing berwarna putih, merah dan kuning. Faktur yang berwarna putih
diberikan ke fungsi produksi, merah diberikan ke konsumen dan kuning disimpan
untuk arsip yang nantinya digunakan untuk rekap harian. Berikut adalah gambar
faktur penjualan mie merapi :

Gambar 4.1 Faktur Penjualan Mie Merapi ( Sumber : Hasil observasi
penulis )
4.1.3 Catatan yang Digunakan
Catatan yang digunakan oleh mie merapi pada saat penerimaan kas
dilakukan secara manual pada selembar kertas. Catatan ini juga berfungsi sebagai
Table Waiter
Qty Price Total
Qty Price Total
Total
Food
Rasa Mendunia,
Asli Indonesia
Mie kuah rempah kebanggaan Bandung
Jl. Pahlawan No 24 - Bandung
Name
Food
Code
001607
52



catatan pada saat pengeluaran kas. Berikut adalah gambar format catatan yang
digunakan oleh mie merapi :












Gambar 4.2 Catatan yang digunakan mie merapi ( Sumber : Hasil penelitian
penulis )


Tanggal :
No
Total
Fix Pendapatan
Pengeluaran
No Item Price
Total
Form Pendapatan
Sales
53



4.1.4 Bagan Alir ( Flowchart ) Penerimaan Kas pada Mie Merapi
Berikut ini adalah flowchart atau bagan alir penerimaan kas pada mie
merapi :














Gambar 4.3 Flowchart Sistem Penerimaan Kas yang diterapkan mie merapi
Bagian Akuntansi Bagian Penjualan Bagian Produksi Bagian Kas
Diserahkan
ke Pembeli
Mulai
Meneri
ma
Pesanan
3
2
1
Faktur Penjualan
1
2
1
Faktur 1
Penjualan
Membu
at
Pesanan
Menye-
rahkan
Pesanan
3
3
Meneri-
ma
pesanan
Menyerahk
an pesanan
ke pembeli
2
3
2
Faktur Penjualan
Meneri-
ma uang
dari
pembeli
3
2
Faktur Penjualan
Melakukan
Rekap
Penjualan
Membuat
catatan
penjualan
From
Pendapatan
N
4
4
Memeri-
ksa
Form
Membu-
at
lapkeu
Laporan
Keuangan
T
Selesai
From
Pendapatan
54



4.2 Rancangan Sistem Penerimaan Kas bagi Mie Merapi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, penulis dapat
menganalisis sistem penerimaan kas pada Mie Merapi. Menurut penulis, secara
garis besar sistem penerimaan kas yang dilaksanakan oleh Mie Merapi sudah
cukup baik dilihat dari dokumen yang digunakan, dan fungsi yang terkait.
Namun menurut penulis, dalam sistem wewenang dan prosedur belum
berjalan dengan baik. Setiap dokumen dan catatan yang seharusnya diotorisasi
untuk meyakinkan bahwa dokumen dan catatan itu sah, tidak diotorisasi.
Dokumen faktur penjualan tunai seharusnya dibubuhi cap “lunas” dan ditanda
tangan oleh penerima kas untuk meyakinkan bahwa dokumen itu sah. Juga pada
catatan akuntansi, karena mie merapi merekap penerimaan kas pada setiap
harinya, maka seharusnya catatan yang digunakan ditanda tangan oleh pencatat
agar catatan tersebut bisa diandalkan..
Selain itu, dalam pembagian tugas, supervisor yang tugasnya mengawasi,
merangkap menjadi kasir. Jika hal ini terus dilakukan, maka dikhawatirkan akan
terjadi kecurangan. Oleh karena itu, penulis melakukan perancangan dengan cara
melakukan penyempurnaan sistem informasi akuntansi penerimaan kas yang
sesuai dengan apa yang telah penulis pelajari di perkuliahan, dengan maksud agar
dapat memberikan masukan pada mie merapi sehingga kinerjanya dapat berjalan
lebih baik lagi. Hasil rancangan penyempurnaan tersebut adalah sebagai berikut :



55



4.2.1 Fungsi yang Terkait
Fungsi yang terkait dalam aktivitas penerimaan kas mie merapi yang
seharusnya menurut penulis yaitu :
1. Fungsi Penjualan
Dalam aktivitas penerimaan kas mie merapi menurut penulis fungsi ini
sudah berjalan dengan baik. Dimana fungsi penjulan menerima order dari pembeli
dan mencatat order dalam faktur penjualan tunai sebanyak tiga rangkap. Rangkap
pertama diserahkan ke dapur, rangkap kedua dan ketiga diserahkan ke bagian kas
( kasir ).
2. Fungsi Produksi
Fungsi ini menerima order dari fungsi penjualan melalui faktur penjualan,
lalu menyerahkan order ke bagian penjualan.
3. Fungsi Kas ( Kasir )
Fungsi ini menerima dua rangkap faktur penjualan tunai, yaitu rangkap ke
dua dan rangkap ketiga. Fungsi kas seharusnya membubuhkan cap lunas pada
faktur penjualan tunai sebagai bukti bahwa fungsi kas telah menerima uang dari
pembeli.
4. Fungsi Akuntansi ( Keuangan )
Fungsi ini bertanggung jawab atas pencatat transaksi penjualan kas dan
penerimaaan kas dan membuat laporan untuk dilaporkan kepada owner.



56



4.2.2 Dokumen yang Digunakan
Menurut penulis, dokumen penerimaan kas yang digunakan oleh mie merapi
sudah sangat baik, dimana dalam faktur penjualan tunai, mie merapi telah
mencatumkan nomor urut tercetak. Lihat gambar 4.1.

4.2.3 Catatan yang Digunakan
Catatan yang digunakan oleh mie merapi yaitu form pendapatan. Menurut
penulis catatan yang digunakan oleh mie merapi seharusnya terdapat kolom tanda
tangan pencatat agar catatan tersebut memiliki kejelasan siapa yang
bertanggungjawab. Berikut penulis melakukan rancangan penyempurnaan
terhadap catatan yang digunakan oleh mie merapi :









57




Gambar 4.3 Rancangan catatan yang digunakan untuk mie merapi
Tanggal :
No
Pengeluaran
No Item Price
Pencatat,
( )
Total
Form Pendapatan
Total
Fix Pendapatan
Sales
58



4.2.4 Rancangan Bagan Alir ( Flowchart ) Sistem Penerimaan Kas pada Mie
Merapi
Berikut ini adalah gambar rancangan flowchart sistem penerimaan kas
menurut penulis untuk mie merapi :













Gambar 4.4 Rancangan flowchart penerimaan kas untuk mie merapi
Bagian Penjualan Bagian Produksi Bagian Kas Bagian Akuntansi ( Keuangan )
Tidak
Diserahkan
ke Pembeli
Mulai
Meneri
ma
Pesanan
3
2
1
Faktur
1
2
1
Faktur 1
Penjualan
Membu
at
Pesanan
Menye-
rahkan
Pesanan
3
3
Meneri-
ma
pesanan
Menyerahk
an pesanan
ke pembeli
2
3
2
Faktur Penjualan
Meneri-
ma uang
dari
pembeli
3
2
Faktur Penjualan
Melakukan Rekap
Penjualan
Membuat
catatan
penjualan
Form Pendapatan
4
4
Menco-
cokan
data
Form
Pendapatan
Membu-
buhkan
cap
"lunas"
N
5
5
2
Faktur Penjualan
Cocok
Menye-
tor kas
ke bank
Bukti Setor
Membu-
at
lapkeu
Laporan
Keuangan
T
Selesai
T
T
Ya
Dikemba
-likan ke
bagian
kas
59



4.3 Sistem Informasi Akuntansi Pengeluaran Kas yang Saat Ini Diterapkan
pada Mie Merapi
Dalam hal pengeluaran kas, mie merapi melakukan dua macam pengeluaran
kas, yaitu pengeluaran kas untuk pembelian bahan baku dan pengeluaran kas yang
dilakukan untuk membeli kebutuhan perusahaan lainnya seperti gas lgp dan galon.
Pengeluaran kas untuk pembelian bahan baku dilaksanakan sebulan sekali
dengan menyisihkan beberapa persen keuntungan dan dilakukan oleh fungsi
produksi secara tunai. Sedangkan pengeluaran kas yang dilakukan untuk
pembelian kebutuhan perusahaan lainnya dilakukan oleh fungsi yang
membutuhkan kas dengan kas yang bersumber dari kas kecil.
Menurut penelitian penulis, sistem pengeluaran kas pada mie merapi belum
berjalan dengan baik, dilihat dari dokumen dan prosedur penyelenggaraan kas
kecil. Dokumen bukti kas keluar berada di fungsi produksi, jika dibandingkan
dengan teori yang penulis dapatkan selama perkuliahan, seharusnya bukti kas
keluar digunakan oleh fungsi akuntansi. Selain itu prosedur penyelenggaraan dana
kas kecil juga menurut penulis belum berjalan baik.Pembentukan dana kas kecil
yang dilakukan oleh mie merapi yaitu sebesar Rp. 200.000 per hari, namun pihak
mie merapi tidak menentukan berapa kas minimal yang ada di kas kecil sehingga
apabila terjadi kelebihan pengeluaran pihak mie merapi menggunakan kas
lainnya. Pihak mie merapi juga tidak menggunakan dokumen dalam
penyelenggaraan kas kecil. Jika hal ini terus dilakukan maka dikhawatirkan
60



terjadinya kebocoran kas dan kecurangan. Berikut penulis uraikan beberapa point
penting mengenai sistem penerimaan kas yang diterapkan pada mie merapi :
4.3.1 Fungsi yang Terkait
Pada mie merapi fungsi yang terkait saat proses pengeluaran kas untuk
bahan baku dan pengeluaran kas dengan kas kecil, yaitu :
1. Fungsi Produksi
Fungsi ini bertanggunngjawab atas pembelanjaan bahan baku yang
dilakukan sebulan sekali secara tunai.
2. Fungsi Kas
Fungsi ini bertanggung jawab memenuhi permintaan dana dari fungsi
produksi.

4.3.2 Dokumen yang digunakan
Dokumen yang digunakan oleh mie merapi pada saat pengeluaran kas yaitu
bukti kas keluar yang dipegang oleh fungsi produksi dan kwitansi pembelian yang
berasal dari penjual bahan baku.

4.3.3 Catatan yang Digunakan
Catatan yang digunakan oleh mie merapi pada saat pengeluaran oleh kas
kecil sama dengan catatan yang digunakan dalam penerimaan kas. Berikut ini
merupakan gambar catatan yang digunakan oleh mie merapi :

61



















Gambar 4.5 Catatan yang digunakan oleh mie merapi pada saat pengeluaran kas
oleh kas kecil.
4.3.4 Bagan Alir ( Flowchart ) Penerimaan Kas pada Mie Merapi
Berikut ini adalah flowchart pengeluaran kas pada mie merapi :
Tanggal :
No
Total
Fix Pendapatan
Pengeluaran
No Item Price
Total
Form Pendapatan
Sales
62




Gambar 4.6 Flowchart pengeluaran kas pada mie merapi


Bagian Produksi Bagian Kas
Mulai
Memint
a dana
kepada
bagian
1
1
Membe-
rikan kas
2
2
Melakuk
an
pembela
njaan
Kwitansi dari
penjual
Bukti kas keluar
T
Selesai
63



4.4 Rancangan Sistem Pengeluaran Kas bagi Mie Merapi
Penulis melakukan rancangan penyempurnaan sistem pengeluaran kas bagi
mie merapi dengan maksud memberikan masukan bagi mie merapi untuk
perusahaannya agar dapat berjalan lebih baik lagi. Sumber rancangan penulis
berdasarkan apa yang telah penulis pelajari dalam perkuliahan. Berikut uraian
rancangan sistem pengeluaran bagi mie merapi :
4.4.1 Fungsi yang Terkait
Fungsi yang terkait pada saat pengeluaran kas untuk pembelian bahan baku
yaitu :
1. Fungsi Produksi.
Fungsi ini bertanggungjawab untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku.
Fungsi ini mengajukan permintaan kas kepada fungsi akuntansi ( keuangan ),
setelah mendapat persetujuan, fungsi kas memberikan sejumlah dana yang
diperlukan oleh fungsi produksi.
2. Fungsi Kas
Fungsi kas memberikan sejumlah dana kepada fungsi produksi sesuai
dengan yang tercantum pada bukti kas keluar.
3. Fungsi Akuntansi
Fungsi akuntansi memberikan otorisasi kepada fungsi kas dalam
mengeluarkan dana sebesar yang tercantum dalam bukti kas keluar. Selain itu
64



fungsi akuntansi juga bertanggungjawab atas pencatatan yang terjadi ketika
pengeluaran kas dilakukan,
Selain pengeluaran kas untuk pembelian bahan baku, sebelumya penulis
juga sudah menjelaskan bahwa untuk pengeluaran yang nominalnya kecil mie
merapi menggunakan kas kecil. Penulis merancang sistem penyelenggaraan kas
kecil dengan cara imprest system, dimana saldo dana kas kecil tidak boleh
berubah dari yang telah ditetapkan, kecuali apabila saldo yang telah ditetapkan
tersebut dinaikan atau dikurangi. Selain itu bukti – bukti pengeluaran kas kecil
dikumpulkan dalam arsip sementara dan pengisian kembali dana kas kecil
dilakukan sejumlah yang tercantum pada kumpulan bukti pengeluaran kas kecil.
Berikut ini adalah fungsi yang terkait dalam penyelenggaraan dana kas kecil yang
penulis rancang untuk mie merapi:
1. Fungsi Kas
Penulis merancang fungsi kas dalam mie merapi sebagai pemegang dana kas
kecil. Fungsi ini bertanggungjawab atas penyimpanan dana kas kecil, pengeluaran
dana kas kecil berdasarkan otorisasi pihak terkait serta pembentukan kembali dana
kas kecil berdasarkan bukti pengeluaran kas kecil.
2. Fungsi Akuntansi
Penulis merancang fungsi akuntansi dalam mie merapi sebagai pencatat
pengeluaran dana kas kecil, pencatat transaksi pembentukan dan pengisian
kembali dana kas kecil dan pembuat bukti kas keluar.


65



4.4.2 Dokumen yang Digunakan
Berikut adalah dokumen yang digunakan pada saat pengeluaran kas untuk
pembelian bahan baku oleh bagian produksi secara tunai :


Gambar 4.7 Rancangan bukti kas keluar bagi mie merapi
Sementara itu dokumen yang digunakan dalam penyelenggaraan dana kas
kecil yaitu :
1. Bukti Kas Keluar
Dokumen ini berfungsi sebagai perintah pengeluaran kas kecil dari fungsi
akuntansi kepada fungsi kas sebesar yang tercantum pada dokumen tersebut.
No BKK : 26413
Jumlah
Disetujui
Rasa Mendunia,
Asli Indonesia
Mie kuah rempah kebanggaan Bandung
Jl. Pahlawan No 24 - Bandung
Bukti Kas Keluar
Tanggal Dikeluarkan Untuk
66



Dokumen ini diperlukan saat pengisian kembali dana kas kecil dan pembentukan
dana kas kecil. Gambar4.7 merupakan dokumen bukti kas keluar yang penulis
rancang untuk mie merapi.
2. Permintaan Pengeluaran Kas Kecil
Dokumen ini digunakan oleh pemakai dana kas kecil untuk meminta
sejumlah dana kepada fungsi kas sebagai pemegang kas kecil. Bagi fungsi kas,
dokumen ini digunakan sebagai buki telah dikeluarkannya dana kas kecil olehnya.
Berikut adalah rancangan dokumen permintaan pengeluaran kas kecil bagi mie
merapi :









Gambar 4.8 Rancangan Permintaan Pengeluaran Kas Kecil bagi mie merapi

No PPKK :
Tanggal :
Diserahkan kepada :
Uang sejumlah :
Untuk keperluan :
( )
Dibayar oleh
( )
Diterima Oleh
( )
Mie Merapi
Jalan Pahlawan no 24 Bandung
Permintaan Pengeluaran Kas Kecil
Rp
Disetujui oleh
67



3. Bukti Pengeluaran Dana Kas Kecil.
Dokumen ini dibuat oleh pemakai dana kas kecil untuk meminta uang
kepada fungsi kas selaku pemegang kas kecil. Dokumen ini dilampiri dengan
bukti – bukti pengeluaran kas kecil dan diserahkan oleh pemakai dana kas kecil
kepada fungsi kas. Berikut rancangan dokumen bukti pengeluaran kas kecil bagi
mie merapi :







Gambar 4.9 Rancangan Bukti Pengeluaran Kas Kecil bagi mie merapi
4. Permintaan Pengisian Kembali Kas Kecil
Jumlah uang yang diminta sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam
bukti – bukti pengeluaran dana kas kecil. Berikut adalah rancangan dokumen
permintaan pengisian kembali kas kecil bagi mie merapi :


Jumlah yang diterima menurut PPKK : No BPKK :
NO PPKK :
Tanggal :
Mie Merapi
Jalan Pahlawan no 24 Bandung
( ) ( ) ( )
Bukti Pengeluaran Kas Kecil
Disetujui oleh Diperiksa oleh Diterima Oleh
Jumlah yang telah dikeluarkan :
Jumlah sisa lebih ( kurang ) :
Keterangan :
68















Gambar 4.10 Rancangan permintaan pengeluaran kas kecil bagi mie merapi
4.4.3 Catatan yang Digunakan
Menurut penulis catatan yang digunakan mie merapi dalam pengeluaran kas
harian sudah cukup baik. Lihat gambar 4.3.
Sementara itu rancangan catatan yang digunakan untuk pembelian bahan
baku yaitu :
No
Tanggal
Tanggal No BPKK
Jumlah PPKK
Jumlah BPKK
Jumlah Dana Kas Kecil
Tanggal
Mie Merapi
Jalan Pahlawan no 24 Bandung
Rekapitulasi Pengeluaran Kas Kecil
Jumlah
Permintaan Pengisian Kembali Kas Kecil
Keterangan Jumlah Rupiah
Diperiksa Dibuat
Dibukukan
Uang Tunai
Disetujui Dibayar
69












Gambar 4.11 Rancangan catatan pengeluaran kas untuk bahan baku bagi mie
merapi.
4.4.4 Rancangan Bagan Alir ( Flowchart ) bagi Mie Merapi
Berikut ini adalah gambar rancangan flowchart sistem pengeluaran kas
untuk pembelian bahan baku menurut penulis untuk mie merapi :




Pembelian Lain - lain Kas Diskon Pembelian
Tanggal Keterangan Ref
Debit Kredit
Mie Merapi
Jalan Pahlawan No 24 Bandung
Jurnal Pengeluaran Kas
70


















Gambar 4.12 Rancangan flowchart pengeluaran kas untuk pembelian bahan baku
bagi mie merapi
Bagian Produksi Bagian Akuntansi Bagian Kas
Mulai
Memint
a dana
1
1
Mengisi
BKK
3
Melaku-
kan
pembe-
lian
Faktur dari
penjual
Bukti Kas
Keluar
2
2
Bukti Kas
Keluar
Membe-
rikan Dana
sesuai BKK
4
4
4
Faktur dari
penjual
Bukti Kas
Keluar
T
Selesai
71



Sedangkan rancangan flowchart untuk pengeluaran kas dengan
menggunakan kas kecil yaitu :














Gambar 4.13 Rancangan flowchart pengeluaran kas dengan kas kecil untuk mie
merapi
Bagian yang memerlukan dana kas kecil Bagian Kas
Mulai
Mengisi
PPKK
1
Menye-
rahkan
Uang
2
PPKK 2
PPKK 1
1
PPKK 2
PPKK 1
PPKK 2
PPKK 1
2
PPKK 1
N
Mengum
ulkan
bukti
pendukug
Mengisi
BPKK
DP
BPKK
3
DP
BPKK
1
PPKK 1
Meme-
rikas
A
DP
BPKK
PPKK 2
PPKK 1
4
A
Diarsipkan sampai
saat pengisian
kembali
4
PPKK 2
N
Selesai
Bersama
dengan uang
tunai
PPKK : Permintaan Pengeluaran Kas Kecil
BPKK : Bukti Permintaan Pengeluaran Kas Kecil
DP : Dokumen Pendukung
72



4.5 Sistem Pengendalian Intern pada Mie Merapi
Sistem pengendalian intern dalam mie merapi adalah saling percaya antara
karyawan dengan owner. Selain itu pengawasan dilakukan bergantian oleh owner
dan supervisor. Berikut adalah uraian mengenai unsur sistem pengendalian intern
yang ada di mie merapi :
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara
tegas.
Menurut penulis, unsur ini belum berjalan secara efektif, karena adanya
double job, dimana supervisor merangkap menjadi marketing manajer. Selain itu
struktur organisasi menurut penulis susunannya masih kurang baik.
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan.
Pencatatan hanya dilakukan pada satu form pendapatan yang didasarkan
dari faktur penjualan yang direkap oleh kasir pada setiap harinya dan kemudian
dilaporkan kepada owner.
3. Praktik yang Sehat
Dalam faktur penjualan, mie merapi telah mencantumkan nomor urut
tercetak. Pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran kas dilakukan oleh beberapa
fungsi yang berbeda, namun menurut hasil pengamatan penulis, fungsi kas masih
dilaksanakan oleh supervisor.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya.
Mie merapi mempekerjakan karyawan yang berasal dari sekitar lokasi kedai,
contohnya koki yang melaksanakan fungsi produksi belum memiliki pengalaman.
73



Berikut penulis memberikan tambahan mengenai sistem pengendalian intern
yang seharusnya dijalankan oleh mie merapi :
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara
tegas.
Fungsi kas dan fungsi penjualan terpisah dan telah berjalan dengan baik,
begitu juga dengan fungsi akuntansi yang terpisah dari fungsi kas. Pada mie
merapi transaksi penjualan dilaksanakan oleh fungsi kas, fungsi produksi, fungsi
penjualan dan fungsi akuntansi.Tidak ada campur tangan supervisor dalam
aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas.
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan.
Fungsi kas membubuhkan cap lunas pada faktur penjualan tunai ketika
pembeli telah melaksanakan pembayaran kepada fungsi kas.
3. Praktik yang Sehat
Faktur penjualan mie merapi telah bernomor urut tercetak.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya.
Seharusnya mie merapi merekrut pegawai dengan kompetensi yang telah
ditetapkan sebelumnya oleh mie merapi agar pembeli merasa puas dengan
pelayanan yang diberikan oleh karyawan mie merapi.




74



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitiaan dan pembahasan yang penulis lakukan pada
Mie Merapi tentang sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas,
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan Kas yang dijalankan oleh Mie
Merapi
1. Mie merapi telah memiliki sistem dan prosedur dalam aktivias penerimaan
kas yang bersumber dari penjualan tunai. Namun dalam pelaksanaannya
masih belum bisa dijalankan dengan baik dan efesien. Hal ini dapat dilihat
dari fungsi yang terkait dalam aktivitas penerimaan kas yang masih belum
berperan sesuai dengan tanggungjawabnya.
2. Dokumen yang digunakan oleh mie merapi dalam pelaksanaan penerimaan
kas yaitu faktur penjualan tunai. Dokumen ini sudah sangat baik dan efisien
karena telah mencantumkan nomor urut tercetak serta rangkap 3, sehingga
tidak perlu ada penambahan dokumen yang diusulkan penulis.
3. Mie merapi menggunakan form pendapatan sebagai catatan yang digunakan
dalam aktivitas penerimaan kas. Catatan ini masih perlu penyempurnaan
karena tidak dibubuhkan keterangan siapa pencatat catatan tersebut sehingga
75



tidak ada bukti yang jelas siapa yang mencatat tersebut dan dikhawatirkan
akan terjadinya fraud.
4. Terdapat empat fungsi yang terkait dalam aktivitas penerimaan kas pada mie
merapi, yaitu fungsi penjualan, fungsi kas, fungsi akuntansi dan fungsi
produksi. Fungsi – fungsi tersebut sudah berjalan dengan baik, namun
terdapat fungsi yang seharusnya melakukan analisis pencocokan namun
hanya menerima laporan saja dari fungsi lainnya.
5.1.1 Sistem Informasi Akuntansi Pengeluaran Kas yang dijalankan oleh Mie
Merapi
1. Terdapat dua macam aktivitas pengeluaran kas yang dilaksanakan oleh mie
merapi yaitu pengeluaran kas untuk pembelian bahan baku secara tunai dan
pengeluaran kas yang dilakukan untuk pembelian kebutuhan dengan
nominal yang kecil. Menurut penulis pelaksanaan pengeluaran kas menurut
penulis masih kurang baik dan efesien. Dilihat dari fungsi yang seharusnya
mengotorisasi dokumen pada mie merapi tidak dilakukan otorisasi.
2. Fungsi yang terkait dalam aktivitas pengeluaran kas pada mie merapi adalah
fungsi produksi dan fungsi kas. Fungsi produksi yang mengotorisasi bukti
pengeluaran kas, hal ini mungkin saja akan terjadi kecurangan karena bukti
kas keluar seharusnya bukan di otorisasi oleh fungsi produksi.
3. Dokumen yang digunakan oleh mie merapi dalam aktivitas pengeluaran kas
mash belum baik dan efesien. Seperti yang sudah penulis jelaskan
sebelumnya, otorisasi bukti kas keluar ada di fungsi produksi.
76



4. Mie merapi menggunakan form pendapatan sebagai catatan untuk
pengeluara oleh kas kecil. Namun catatan untuk pembelian bahan baku
tidak ada. Mie merapi hanya mengandalkan nominal dalam bukti dokumen
pendukung seperti kwitansi dari penjual.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat diuraikan beberapa
permasalahan mengenai aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas pada mie
merapi. Berikut penulis memberikan saran untuk mie merapi agar aktivitas
penerimaan dan pengeluaran kas dapat berjalan lebih baik lagi :
1. Perlu adanya pemisahan tugas secara tegas antara fungsi – fungsi yang
berperan dalam aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas serta fungsi –
fungsi tersebut bertanggungjawab dan konsisten pada tugasnya.
2. Dokumen faktur penjualan tunai seharusnya dibubuhi cap “lunas”. Penulis
merancang dokumen bukti kas keluar untuk mie merapi. Dokumen tersebut
diotorisasi oleh bagian keuangan. Selain itu dalam hal pengeluaran
menggunakan kas kecil, penulis juga merancang dokumen permintaan
pengeluaran kas kecil, bukti pengeluaran kas kecil dan permintaan pengisian
kembali kas kecil.
3. Catatan yang digunakan mie merapi hendaknya terdapat tandatangan
pencatat agar catatan tersebut bisa dipertanggungjawabkan.
4. Supervisor tidak merangkap menjadi kasir karena tugas supervisor
mengawasi berlangsungnya kegiatan usaha mie merapi.