1

Terganggunya Sistem Homeostasis karena Perubahan Suhu
Mariella Valerie Bolang
102013433 / BP15
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No.6, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
E-mail: mariella.2013fk433@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Homeostasis adalah esensial bagi kelangsungan hidup setiap sel, dan setiap sel, melalui
aktivitas khususnya masing-masing ikut berperan sebagai bagian dari suatu sistem tubuh
mempertahankan lingkungan internal yang dipakai bersama oleh semua sel. Lingkungan
internal harus dijaga relatif stabil. Homeostasis bukan suatu keadaan kaku tetap tetapi stabil
dinamik di mana perubahan-perubahan yang terjadi diminimalkan oleh respons-respons
fisiologis kompensatorik. Setiap faktor yang diatur ditandai oleh perubahan terus-menerus
dan steady state mengisyaratkan bahwa perubahan-perubahan ini tidak menyimpang jauh dari
tingkat konstan.
Kata kunci: homeostasis, lingkungan internal, steady state
Abstract
Homeostasis is essential for the survival of every cell, and every cell, through a particular
activity each had a role as part of the body maintains a system of internal environment that is
shared by all cells. The internal environment must be maintained relatively stable.
Homeostasis is not a rigid state remains stable but dynamic in which the changes occur is
minimized by compensatory physiological responses. Each factor is set characterized by
2

continuous change and steady state suggests that these changes do not stray far from a
constant level.
Key words: homeostasis, internal factor, steady state























3

Pendahuluan
Makhluk hidup terdiri dari berjuta-juta sel yang terorganisasi menjadi jaringan, organ, dan
sistem. Kondisi-kondisi dalam tubuh berubah secara konstan saat kita menguraikan makanan
dan mensintesis molekul-molekul sebagai respons terhadap situasi-situasi tertentu. Akan
tetapi, agar setiap sel dapat berfungsi secara benar maka cairan yang mengelilingi sel (cairan
ekstraseluler) dan cairan dalam sel (cairan intraseluler) harus tetap sama. Semua bagian tubuh
bekerja sama untuk menjaga cairan ekstraseluler dan cairan intraseluler dalam kondisi yang
paling baik atau optimum untuk sel. Usaha untuk mempertahankan lingkungan internal tubuh
inilah yang disebut homeostasis. Tinjauan pustaka ini bertujuan agar kita lebih memahami
sistem pertahanan dalam tubuh terhadap perbedaan suhu lingkungan yang memungkinkan
untuk mempengaruhi kesehatan.


















4

Homeostasis
Istilah homeostasis digunakan oleh ahli fisiologi untuk menjelaskan pemeliharaan aneka
kondisi yang hampir selalu konstan di lingkungan dalam. Pada dasarnya, semua organ dan
jaringan tubuh melaksanakan aneka fungsi untuk membantu mempertahankan kondisi yang
konstan ini.
1
Sel-sel tubuh dapat hidup dan berfungsi hanya jika cairan ekstrasel
memungkinkan kelangsungan hidup mereka; karena itu, komposisi kimiawi dan keadaan fisik
lingkungan internal ini harus dipertahankan dalam batas-batas yang ketat. Karena sel-sel
menyerap nutrien dan O
2
dari lingkungan internal maka bahan-bahan esensial ini harus terus-
menerus dikeluarkan dari lingkungan internal agar tidak mencapai kadar toksik. Aspek-aspek
lain lingkungan internal yang penting untuk mempertahankan kehidupan, misalnya, suhu,
juga harus dijaga relatif konstan. Pemeliharaan lingkungan internal yang relatif stabil disebut
homeostasis (homeo artinya “yang sama”; stasis artinya “berdiri atau diam”). Fungsi-fungsi
yang dilakukan oleh masing-masing sistem tubuh memberi kontribusi bagi homeostasis
sehingga lingkungan di dalam tubuh dapat dipertahankan untuk kelangsungan hidup dan
fungsi semua sel. Sel-sel, sebaiknya, membentuk sistem tubuh. Ini adalah tema sentral
fisiologi: Homeostasis adalah esensial bagi kelangsungan hidup setiap sel, dan setiap sel,
melalui aktivitas khususnya masing-masing, ikut berperan sebagai bagian dari suatu sistem
tubuh mempertahankan lingkungan internal yang dipakai bersama oleh semua sel. Kenyataan
bahwa lingkungan internal harus dijaga relatif stabil tidak berarti bahwa komposisi, suhu, dan
karakteristik lainnya sama sekali tidak berubah. Baik faktor eksternal maupun internal secara
terus-menerus “mengancam” untuk mengganggu homeostasis. Jika suatu faktor mulai
menggerakkan lingkungan internal menjauhi kondisi optimal maka sistem-sistem tubuh akan
memulai reaksi tandingan yang sesuai untuk memperkecil perubahan tersebut. Karena itu,
homeostasis bukan suatu keadaaan kaku tetap tetapi stabil dinamik di mana perubahan-
perubahan yang terjadi diminimalkan oleh respons-respons fisiologis kompensatorik. Kata
5

dinamik mengacu kepada kenyataan bahwa setiap faktor yang diatur secara homeostasis
ditandai oleh perubahan yang terus-menerus, sedangkan stabil (mantap, steady state)
mengisyaratkan bahwa perubahan-perubahan ini tidak menyimpamg jauh dari tingkat
konstan, atau tetap.
2
Mekanisme Kompensasi
Setiap mekanisme kompensasi adalah respons segera sesaat terhadap situasi yang menggeser
suatu faktor dalam lingkungan internal menjauhi tingkat yang diinginkan, sementara sebagian
lainnya adalah adaptasi jangka panjang yang berlangsung sebagai respons terhadap pajanan
berulang atau berkepanjangan ke situasi-situasi yang mengganggu homeostasis. Adaptasi
jangka panjang menyebabkan tubuh lebih efisien dalam menanggapi tantangan yang berulang
atau terus-menerus. Reaksi tubuh terhadap olah raga mencakup respons kompensasi jangka
pendek dan adaptasi jangka panjang berbagai sistem tubuh.
2
Macam-macam Homeostasis
Homeostasis sendiri terdiri atas 2 macam yaitu, homeostasis fisiologis dan psikologis. Dalam
tubuh manusia, homeostasis fisiologis dapat dikendalikan oleh sistem endokrin dan sistem
saraf otonom. Proses homeostasis fisiologis ini terjadi melalui 4 cara yaitu sebagai berikut:

 Pengaturan diri (self regulation)
Secara otomatis, cara ini terjadi pada orang yang sehat, seperti pengaturan fungsi organ
tubuh.
 Kompensasi
Tubuh akan bereaksi terhadap ketidaknormalan dalam tubuh. Sebagai contoh yang dapat
disampaikan seperti peningkatan keringat untuk mengatur suhu tubuh, serta penyempitan
pembuluh darah perifer dan terserangnya pembuluh darah bagian dalam untuk
6

meningkatkan kegiatan yang dapat menghasilkan panas sehingga suhu dalam tubuh tetap
dapat stabil apabila lingkungan berubah menjadi dingin secara tiba-tiba.
 Umpan balik negatif (negative feedback)
Cara ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal. Dalam keadaan abnormal, tubuh
akan secara otomatis melakukan mekanisme umpan balik negatif untuk menyeimbangkan
penyimpangan yang terjadi. Contoh, apabila tekanan darah meningkat maka akan
meningkatkan baroceptor. Kemudian akan menurunkan rangsangan pada simpatik yang
meningkatkan parasimpatik, menurunkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi,
sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah dan akhirnya menurunkan tekanan darah sampai
pada keadaan normal melalui feedback mekanisme.
 Umpan balik positif (positive feedback)
Cara ini digunakan untuk mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis. Sebagai contoh yang
dapat diutarakan yaitu terjadinya proses peningkatan denyut jantung untuk membawa
darah dan oksigen yang cukup ke sel tubuh apabila seseorang mengalami hipoksia.
Kondisi mekanisme tubuh tersebut terkait dengan kondisi dalam keadaan sakit.
3

Keadaan menggigil yang terjadi pada laki-laki tersebut merupakan salah satu usaha fisiologis
tubuhnya untuk menghasilkan panas sehingga dapat menyebabkan berbagai respons fisiologis
yang terjadi dalam tubuhnya yaitu sebagai berikut:
Peningkatan konsumsi oksigen 2 sampai 5 kali kecepatan normal
Peningkatan kebutuhan metabolik sebesar 400% sampai 500%
Peningkatan kerja otot jantung, produksi karbondioksida, vasokonstriksi kutan, dan
akhirnya pembentukan asam laktat.
4

7

Sedangkan homeostasis psikologis berfokus pada keseimbangan emosional dan kesejahteraan
mental. Proses ini didapat dari pengalaman hidup dan interaksi dengan orang lain serta
dipengaruhi oleh norma dan kultur dalam masyarakat. Contohnya adalah mekanisme
pertahanan diri seperti menangis, tertawa, berteriak, memukul, meremas, mencerca, dan lain-
lain.
4
Faktor Eksternal dan Internal yang berhubungan dengan Homeostasis
Terdapat pula beberapa faktor yang mempengaruhi dalam kestabilan proses homeostasis
dalam tubuh. Faktor-faktornya dibedakan menjadi dua yaitu faktor lingkungan luar dan
lingkungan dalam.
Faktor lingkungan luar (eksternal) yaitu:
 Suhu
Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentan suhu yang sempit. Sel-sel akan
mengalami perlambatan aktifitas yang hebat apabila suhunya terlalu dingin dan yang
lebih buruk protein-protein struktural dan enzimatiknya akan terganggu apabila suhunya
terlalu panas.
 Iklim
Kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang iklim dipelajari dalam
meteorologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi.
Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis.
Secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan lintang
tinggi.
 Kondisi dan ruang
Kondisi dan ruang dimana laki-laki ini berjalan, sangat mempengaruhi suhu tubuh laki-
laki ini sehingga membuatnya mengigil, selain karena ia belum terbiasa dengan
8

lingkungan yang demikian. Kondisi yang ada disana adalah musim dingin dan ia sedang
berada diantara tempat terbuka / diluar ruangan sehingga suhunya sangat rendah dan ia
belum terbiasa karena ia selama ini selalu berada di kota tropis yang hanya memiliki dua
musim (panas dan hujan), sehingga tubuhnya belum dapat terbiasa dengan kondisinya
yang sekarang.
Sedangkan faktor dalam yaitu faktor dari dalam tubuh yang ikut serta menyeimbangkan
keadaan dalam tubuh. Faktor lingkungan dalam (internal) yaitu:
 Sistem Sirkulasi
Sistem transportasi yang membawa berbagai zat, misalnya zat gizi, O
2
, CO
2
, zat-zat sisa,
elektrolit, dan hormon dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya.
 Sistem Rangka
Memberi penunjang dan proteksi bagi jaringan lunak dan organ-organ tubuh. Sistem
ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium, suatu elektrolit yang
konsentrasinya dalam plasma harus dipertahankan dalam rentang yang sangat sempit.
Bersama dengan sistem otot, sistem rangka juga memungkinkan timbulnya gerakan
tubuh dan bagian-bagiannya.
 Sistem Otot
Menggerakkan tulang-tulang yang melekat padanya. Dari sudut pandang homeostasis
semata-mata, sistem ini memungkinkan individu menjauhi bahaya. Selain itu, panas
yang dihasilkan oleh kontraksi otot penting untuk mengatur suhu. Karena berada di
bawah kontrol kesadaran, individu mampu menggunakan otot rangka untuk
melakukan berbagai macam gerakan sesuai keinginan. Gerakan-gerakan tersebut,
berkisar dari keterampilan motorik halus yang diperlukan dan diarahkan untuk
mempertahankan homeostasis.
 Sistem Integument
9

Berfungsi sebagai sawar protektif bagian luar yang mencegah cairan internal keluar dari
tubuh dan mikroorganisme asing masuk ke dalam tubuh. Sistem ini juga penting dalam
mengatur suhu tubuh. Jumlah panas yang dikeluarkan dari permukaan tubuh ke
lingkungan eksternal dapat disesuaikan dengan mengatur produksi keringat dan dengan
mengatur aliran darah hangat ke kulit.
 Konsentrasi molekul-molekul nutrien
Sel-sel memerlukan pasokan molekul nutrien secara terus-menerus untuk menghasilkan
energi. Energi, sebaliknya, diperlukan untuk menunjang berbagai aktivitas sel baik yang
bersifat khusus maupun yang mempertahankan kehidupan.
 Konsentrasi O
2
dan CO
2

Sel-sel memerlukan O
2
untuk melakukan reaksi kimia pembentuk energi. CO
2
yang
dibentuk selama reaksi-reaksi ini harus dikeluarkan sehingga tidak terbentuk asam yang
meningkatkan keasaman lingkungan internal.
 Konsentrasi zat sisa
Sebagian reaksi kimia menghasilkan produk-produk akhir yang menimbulkan efek toksik
pada sel tubuh jika dibiarkan berakumulasi.
 pH
Perubahan pada pH (jumlah relatif asam) berpengaruh buruk pada fungsi sel saraf dan
merusak aktivitas enzim semua sel.
 Konsentrasi garam, air, dan elektrolit lain
Karena konsentrasi relatif garam (NaCl) dan air di cairan ekstrasel mempengaruhi
seberapa banyak air yang masuk atau keluar sel, maka konsentrasi keduanya siatur secara
10

cermat untuk mempertahankan volume sel. Sel tidak berfungsi normal jika membengkak
atau menciut. Elektrolit-elektrolit lain berperan dalam berbagai fungsi vital lain. Sebagai
contoh, denyut jantung yang teratur bergantung pada konsentrasi kalium (K
+
) yang relatif
konstan di cairan ekstrasel.
 Volume dan tekanan
Komponen lingkungan internal yang beredar, yaitu plasma, harus dipertahankan pada
volume dan tekanan darah yang kuat untuk menjamin distribusi penghubung antara
lingkungan eksternal dan sel yang penting ini ke seluruh tubuh.
2
Adanya lengkung refleks (respons loop) yang dapat menjelaskan lebih terperinci disaat
adanya stimulus atau rangsangan yang diterima tubuh yang kemudian memberikan umpan
balik. Setiap rangsangan yang diberikan akan memberikan umpan balik yang berbeda bagi
tubuh namun urutan dan jalur yang digunakan tubuh untuk memberikan renspon tetap sama.
Dapat disimpulkan refleks adalah respon otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar
pada rute yang disebut lengkung refleks. Komponen-komponen lengkung refleks adalah
sebagai berikut:
Stimulus
Perbedaan temperatur antara Jakarta dengan New York mengharuskan tubuh
menyesuaikan pada suhu dingin yang ada sehingga tubuh tetap sehat dan tidak mengalmi
sakit.
Sensor / reseptor
Reseptor sensori yang paling banyak terdapat pada kulit. Kulit yang mempunyai lebih
banyak reseptor untuk dingin dan hangat dibanding dengan reseptor yang ada dibagian
tubuh lain seperti lidah, saluran pernafasan, maupun organ viseral lainnya. Apabila kulit
11

menjadi dingin melebihi suhu tubuh, maka ada tiga proses yang dilakukan untuk
meningkatkan suhu tubuh. Ketiga proses tersebut yaitu menggigil, untuk meningkatkan
produksi panas, berkeringat untuk menghalangi kehilangan panas, dan vasokonstriksi
untuk menurunkan kehilangan panas.
Jalur aferen
Jalur yang menghantarkan stimulus dari reseptor sensori menuju ke pusat integrasi yang
kemudian dapat menentukan bagaimana respon yang diberikan tubuh terhadap
rangsangan yang ada. Melintas di sepanjang sebuah neuron sensorik sampai ke otak atau
medulla spinalis.
Integrator / pusat integrasi
Selain reseptor suhu permukaan yang dimiliki oleh kulit, terdapat reseptor suhu lain yaitu
reseptor pada inti tubuh yang merespons terhadap suhu pada organ tubuh bagia dalam,
seperti visera abdominal, spinal cord, dan lain-lain. Termoreseptor di hipotalamus lebih
sensitif terhadap suhu inti (36,6ºC sampai 37,5ºC). Hipotalamus integrator sebagai pusat
pengaturan suhu inti berada di preoptik area hipotalamus. Bila sensitif reseptor panas di
hipotalamus dirangsang, efektor sistem mengirim sinyal yang memprakarsai pengeluaran
keringat dan vasodilatasi perifer. Hal tersebut dimaksudkan untuk menurunkan suhu,
seperti menurunkan produksi panas dan meningkatkan kehilangan panas.
Jalur eferen
Jalur penghubung antara pusat integrasi dengan efektor. Melintas di sepanjang akson
neuron motorik sampai ke efektor yang akan merespon impuls eferen sehingga
menghasilkan aksi yang khas.


12

Efektor
Sinyal dari sensitif reseptor dingin di hipotalamus memprakarsai efektor untuk
vasokonstriksi, menggigil, serta melepaskan epineprin yang meningkatkan metabolisme
sel dan produksi panas. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produksi panas
dan menurunkan kehilangan panas
Respon
Respon yang didapatkan oleh tubuh setelah adanya stimulus atau rangsangan yang
dipaparkan pada tubuh. Dalam kasus ini adalah temperatur dingin di kota New York yang
membantu pengurangan jumlah keluarnya keringat.
Umpan balik (feedback)
Umpan balik yang didapat pemuda tersebut adalah umpan balik negatif karena suhu tubuh
pemuda tersebut kembali ke keadaan semula (dalam suhu inti).
5-7
Umpan balik yang diterjemahkan oleh saraf-saraf motorik manusia diklasifikasikan menjadi
dua macam. Umpan balik positif dan umpan balik negatif. Keduanya memiliki perbedaan
yang signifikan.
Umpan balik negatif (negative feedback)
Merupakan suatu sifat sistem pengatur jika beberapa faktor dalam tubuh menjadi
berlebihan atau terlalu kurang, yang terdiri atas serangkaian perubahan untuk
mengembalikan faktor tersebut kembali ke nilai rata-rata tertentu, sehingga
mempertahankan homeostasis.
2
Umpan balik positif (positive feedback)
Sifat sistem pengatur yang menimbulkan rangsangan pertama menyebabkan keadaan
yang sama dan lebih hebat. Umpan balik positif lebih dikenal sebagai “lingkaran setan”,
13

tetapi umpan balik positif yang ringan dapat diatasi oleh mekanisme pengaturan umpan
balik negatif yang dimiliki tubuh, dan lingkaran setan tidak akan timbul. Hal ini
disebabkan karna umpan balik positif tidak menghasilkan kestabilan, melainkan
ketidakstabilan, dan sering kali menyebabkan kematian.
2

Didalam kasus ini, laki-laki yang menggigil merupakan hasil dari refleks dan menghasilkan
umpan balik negatif dikarenakan pada saat sebelum dia berjalan kaki untuk melihat kota
berarti ia berada di dalam ruangan yang memiliki suatu penghangat sehingga dia berada
dalam keadaan suhu tubuh yang normal namun ketika ia berjalan keluar terjadi penurunan
suhu secara drastis sehingga ia menjadi kedinginan oleh sensor ini menghasilkan gerak
refleks dengan umpan balik negatif sehingga ia mengigil, mengigil sendiri dimaksudkan
untuk menjaga kita tetap dapat hidup dan sehat. Otak akan melakukan pendeteksian sampai
mana tubuh merasakan dingin, karena jika temperatur internal dalam organ turun hingga
kurang dari 37ºC, kita akan meninggal dalam keadaan hipotermina, selama proses deteksi
tersebut, otak mulai menstimulasi otot-otot untuk mengigil sedikit demi sedikit .
Pada suhu rendah, mengigil akan sangat bermanfaat untuk menjaga temperatur dalam tubuh
sehingga organ-organ dalam tubuh tetap dapat beraktivitas. Tentunya, mengigil ini akan
sangat banyak mengonsumsi energi dan faktanya kita hanya akan mengigil pada suhu dingin
yang tidak ekstrim.
2
Dalam tubuh manusia, terdapat titik set (set point) yang dijadikan patokan dalam tubuh disaat
tubuh menghadapi sesuatu, misalnya stimulus. Set point merupakan standar normal pada
sistem tubuh. Set point setiap orang dapat berbeda-beda, sesuai dengan genetik dan mampu
atau tidaknya seseorang beradaptasi terhadap keadaan yang mempengaruhi sistem tubuh.


14

Set Point
Suhu tubuh yang diukur di mulut (per oral) secara tradisional sebesar 98,6
o
F (37
o
C) dianggap
normal. Namun, suatu studi baru-baru ini menunjukkan bahwa suhu tubuh bervariasi di
antara individu dan bervariasi sepanjang hari, berkisar dari 96,0
o
F (35,5
o
C) pada pagi hari
hingga 99,9
o
F (37,7
o
C) pada malam hari, dengan rata-rata keseluruhan 98,2
o
F (36,7
o
C)
Sedangkan aklimatisasi juga diperlukan dalam pertahanan tubuh terhadap temperatur dingin
Kota New York. Aklimatisasi merupakan salah satu bentuk adaptasi tubuh yang dilakukan
secara alami. Aklimatisasi merupakan proses adaptasi suhu alami yang terjadi di dalam tubuh
makhluk hidup, biasanya disebabkan oleh perubahan suhu atau iklim di tempat yang
dikunjungi atau tempat yang tidak biasa dijumpai setiap hari.
Manusia biasanya tinggal di lingkungan yang lebih dingin daripada suhu tubuh mereka, tetapi
mereka terus-menerus menghasilkan panas secara internal, yang membantu mempertahankan
suhu tubuh. Produksi panas akhirnya bergantung pada oksidasi bahan bakar metabolik yang
berasal dari makanan.

Perubahan suhu tubuh di kedua arah mengubah aktivitas sel-
peningkatan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimia sel, sedangkan penurunan suhu
memperlambat reaksi-reaksi tersebut. Karena fungsi sel sensitif terhadap fluktuasi suhu
internal maka manusia secara homeostasis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang
optimal agar metabolisme sel berlangsung stabil. Panas berlebihan berakibat lebih serius
daripada pendinginan. Bahkan peningkatan moderat suhu tubuh mulai menyebabkan
malfungsi saraf dan denaturasi protein ireversibel. Sebagian besar orang mengalami kejang
ketika suhu tubuh internal mencapai sekitar 106
o
F (41
o
C); 110
o
F (43,3
o
C), yang dianggap
sebagai batas atas yang memungkinkan kehidupan.
8

15

Kesimpulan
Menggigil yang dialami oleh laki-laki dalam kasus ini merupakan respon dari kondisi
lingkungan luar dengan temperatur rendah, sedangkan laki-laki tersebut sudah terbiasa di
wilayah tropis dengan temperatur yang lebih tinggi. Menggigil yang dialaminya merupakan
sebuah respon dari proses adaptasi tubuh yang berguna meningkatkan panas dalam tubuh,
sehingga tubuh kembali dalam rentang normal.


















16

Daftar Pustaka
1. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. 11
th
ed. Elsvier (Singapore):
Pte Ltd and EGC Medical Publisher; 2006.h.4,7-8.
2. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. 6
th
ed. Singapore: Pte Ltd and
EGC Medical Publisher; 2009.h.9-12,710.
3. Uliyah M, Hidayat AAA. Ketrampilan dasar praktik klinik. Ed 2. Jakarta:
Salemba Medika; 2008.p.2-3.
4. Carpenito LJ. Diagnosis: Aplikasi pada praktik klinis. Ed 9. Jakarta: EGC; 2009.
p.148.
5. Siagian M. Homeostasis: Keseimbangan yang halus dan dinamis. Jakarta:
Departemen Ilmu; 2004.
6. Faal FK UI. http//www.efkidp.homeostasismanusia.com. Diunduh tanggal 22
Agustus 2014.
7. Asmadi. Teknik prosedural: Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar pasien. Jakarta:
Salemba Medika; 2008.p.156-7.
8. Sloane E. Anatomi fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.p.164.