Case : Kolitis Ulseratif 4

Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah penyakit inflamasi yang
melibatkan saluran cerna dengan penyebab pastinya sampai saat ini belum
diketahui jelas. Secara garis besar IBD terdiri dari 3 jenis, yaitu kolitis ulseratif,
penyakit Crohn, dan bila sulit membedakan kedua hal tersebut, maka dimasukkan
dalam kategori indeterminate colitis. Kolitis ulseratif ditandai dengan adanya
eksaserbasi secara intermitten dan remisinya gejala klinik.
1
Etiologi pasti dari colitis ulsertif masih belum diketahui, tetapi penyakit ini
multifaktorial dan polygenic. Faktor-faktor penyebabnya termasuk faktor
lingkungan, disfungsi imun, dan predisposisi genetik. Ada beberapa sugesti
bahwa anak dengan berat badan lahir di bawah rata-rata yang lahir dari ibu
dengan kolitis ulseratif memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya
perkembangan penyakit tersebut.
1
Histocompability Human Leukocyte Antigen (HLA-B27) merupakan
antigen yang sering teridentifikasi pada pasien-pasien dengan kolitis ulseratif,
meskipun penemuan ini tidak berhubungan dengan kondisi pasien, dan adanya
HLA-B27 tidak menunjukkan peningkatan resiko untuk kolitis ulseratif. Kolitis
ulseratif bisa dipengaruhi oleh makanan, meskipun makanan hanya sebagai faktor
sekunder. Antigen makanan atau bakterial dapat berefek pada mukosa usus yang
telah rusak, sehingga meningkatkan permeabilitasnya.
1
Case : Kolitis Ulseratif 5
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
Insiden penyakit kolitis ulseratif di Amerika Serikat kira-kira 15 per
100.000 penduduk secara respektif dan tetap konstan. Prevalensi penyakit ini
diperkirakan sebanyak 200 per 100.000 penduduk. Sementara itu, puncak kejadian
penyakit tersebut adalah antara usia 15 dan 35 tahun. Penyakit ini telah dilaporkan
terjadi pada setiap dekade kehidupan. Kolitis ulseratif terjadi tiga kali lebih sering
daripada penyakit Crohn. Kolitis ulseratif terjadi lebih ering pada orang kulit
putih daripada orang African American atau Hispanic. Kolitis ulseratif juga lebih
sering terjadi pada wanita daripada laki-laki.
1
















Case : Kolitis Ulseratif 6
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah penyakit inflamasi yang
melibatkan saluran cerna dengan penyebab pastinya sampai saat ini belum
diketahui jelas. Secara garis besar IBD terdiri dari 3 jenis, yaitu kolitis ulseratif,
penyakit Crohn, dan bila sulit membedakan kedua hal tersebut, maka dimasukkan
dalam kategori indeterminate colitis. Hal ini untuk secara praktis membedakannya
dengan penyakit inflamasi usus lainnya seperti infeksi, iskemia, dan radiasi.
1

Kolitis ulseratif merupakan salah satu dari dua tipe Inflammatory Bowel
Disease (IBD), selain penyakit Crohn. Tidak seperti penyakit Crohn, yang dapat
mengenai semua bagian dari traktus gastrointestinal, kolitis ulseratif seringnya
mengenai usus besar, dan dapat terlihat dengan colonoscopy.
1
Kolitis Ulseratif adalah gangguan peradangan yang hanya terdapat di usus
besar (colon). Perluasan penyakit dapat dibagi menjadi penyakit distal dan
ekstensif. Penyakit distal adalah kolitis di rektum (proktitis) atau rektum dan
kolon sigmoid (proktosigmoiditis). Penyakit yang lebih ekstensif meliputi kolitis
sisi kiri (sampai ke fleksura splenikus), kolitis ekstensif (sampai ke fleksura
hepatik), dan pankolitis (mengenai seluruh kolon).
1

2.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, sekitar 1 miliar orang terkena kolitis ulseratif.
Insidennya 10,4-12 kasus per 100.000 orang per tahunnya. Rata-rata
Case : Kolitis Ulseratif 7
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
prevalensinya antara 35-100 kasus per 100.000 orang. Sementara itu, puncak
kejadian penyakit tersebut adalah antara usia 15 dan 35 tahun, penyakit ini telah
dilaporkan terjadi pada setiap dekade kehidupan. Kolitis ulseratif terjadi tiga kali
lebih sering daripada penyakit Crohn. Kolitis ulseratif terjadi lebih ering pada
orang kulit putih daripada orang African American atau Hispanic. Kolitis ulseratif
juga lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki.
1

2.3 Etiologi
Etiologi pasti dari kolitis ulseratif masih belum diketahui, tetapi penyakit
ini multifaktorial dan polygenic. Faktor-faktor penyebabnya termasuk faktor
lingkungan, disfungsi imun, dan predisposisi genetik. Ada beberapa sugesti
bahwa anak dengan berat badan lahir di bawah rata-rata yang lahir dari ibu
dengan kolitis ulseratif memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya
perkembangan penyakit tersebut.
2
Histocompability Human Leukocyte Antigen (HLA-B27) merupakan
antigen yang sering teridentifikasi pada pasien-pasien dengan kolitis ulseratif,
meskipun penemuan ini tidak berhubungan dengan kondisi pasien, dan adanya
HLA-B27 tidak menunjukkan peningkatan resiko untuk kolitis ulseratif. Kolitis
ulseratif bisa dipengaruhi oleh makanan, meskipun makanan hanya sebagai faktor
sekunder. Antigen makanan atau bakterial dapat berefek pada mukosa usus yang
telah rusak, sehingga meningkatkan permeabilitasnya.
2
Sementara penyebab kolitis ulseratif tetap tidak diketahui, gambaran
tertentu dari penyakit ini telah menunjukkan beberapa kemungkinan penting. Hal
ini meliputi faktor familial atau genetik, infeksi, imunologik dan psikologik.
2
Case : Kolitis Ulseratif 8
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
1. Faktor familial atau genetik
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih daripada orang
kulit hitam dan orang Cina. Hal ini menunjukkan bahwa ada predisposisi
genetik terhadap perkembangan penyakit ini.
2. Faktor infeksi
Sifat radang kronik penyakit ini telah mendukug suatu pencarian terus-
menerus untuk kemungkinan penyebab infeksi. Di samping banyak usaha
menemukan agen bakteri, jamur, atau virus, belum ada yang sedemikian
diisolasi. Laporan awal isolate varian dindng sel Pseudomonas atau agen
yang ditularkan yang menghasilkan efek sitopatik pada kultur jaringan
masih dikonfirmasi.
3. Faktor imunologik
Teori bahwa mekanisme imun dapat terlihat didasarkan pada konsep
bahwa manifestasi ekstraintestinal yang dapat menyertai kelann ini
(misalnya arthritis, perikolangitis) dapat mewakili fenomena autoimun dan
bahwa zat terapeutik tersebut, seperti glukokortikoid atau azatioprin, dapat
menunjukkan efek mereka melalui mekanisme imunosupresif.
Pada 60-70% pasien dengan kolitis uleratif, ditemukan adanya p-ANCA
(perinuclear Anti-Neurotrophilic Cytoplasmic Antibodies). Alaupun p-
ANCA tidk terlibat dalam patogeneis penyakit kolitis ulseratif, namun ia
dikaitkan dengan alel HLA-DR2, dimana pasien dengan p-ANCA negatif
lebih enderung menjadi HLA-DR4 positif.


Case : Kolitis Ulseratif 9
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
4. Faktor psikologik
Gambaran psikologis pasien penykit radang usus juga telah ditekankan.
Tidak lazim bahwa penyakit ini pda mula terjadinya, atau berkembang,
sehubungan dengan adanya stress psikologis mayor misalnya kehilangan
seorang anggota keluarganya. Telah dikatakan bahwa pasien penyakit
radang usus memiliki kepribadian yang khas yang membuat mereka
menjadi rentan terhadap stress emosi yang sebaliknya dapat merangsang
atau mengeksaserbasi gejalanya.
5. Faktor lingkungan
Ada hubungan terbalik antara operasi apendiktomi dan penyakit kolitis
ulseratif berdasarkan analisis bahwa isiden penyakit kolitis ulseratif
menurun secara signifikan pada pasien yang menjalani operasi
apendiktomi pada dekade ke-3.
Beberapa penelitian sekarang menunjukkan penurunan resiko penyakit
kolitis ulseratif diantara perokok dibandingkan dengan yang bukan
perokok. Analisis meta menunjukkan resiko penyakit kolitis ulseratif pada
perokok sebanyak 40% dibandingkan dengan yang bukan perokok.

2.4 Klasifikasi
Klasifikasi kolitis ulseratif adalah :
3
a. Kolitis ulseratif dini aktif
Pada pemeriksaan endoskopik tampak mukosa rektum hiperemis,
edema, erosif dan ulserasi kecil. Gambaran histopatologi biopsi,
menunjukkan kelainan kombinasi antara erosi dan ulserasi. Kuantits eleme
Case : Kolitis Ulseratif 10
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
kelenjar mukosa berkurang atau menghilang dan vaskularisasi pada lamina
propria bertambah. Pada kripta tampak mikroabses yang terdiri dari
kumpulan sel radang neutrofil dan limfosit. Mikroabses kemudian pecah
dan proses radang meluas pada submukosa.
b. Kolitis ulseratif kronik aktif
Pada tahap ini, terdapat lesi kombinasi radang aktif dan proses
penyembuhan dengan regenerasi mukosa. Mikroabses pada kripta
jumlahnya berkurang atau menghilang, pada lamina propria jaringan
limfoid mengalami hiperplasia. Kelenjar mukosa mengalami hiperplasia
muncul dalam bentuk pseudopolip.
c. Kolitis ulseratif tenang
Pada stadium tenang, mukosa lebih tipis. Walaupun ada proses
regenerasi kelenjar, menonjol, akan tetapi vaskularisasi sudah berkurang.
Bila kolitis ulseratif sudah berlangsung lama dapat dijumpai displasia atau
prakanker. Itulah alasannya kolitis ulseratif dianggap sebagai resiko tinggi
untuk karsinoma kolon dan rektum.

2.5 Manifestasi Klinis
2.5.1 Gejala Klinis
Gejala utama kolitis ulseratif adalah diare berdarah dan nyeri abdomen,
seringkali dengan dengan demam dan penurunan bert badan pada kasus berat.
Pada penyakit ringan, bisa terdapat satu atau dua feses yang setengah berbentuk
yang mengandung sedikit darah dan tanpa manifestasi sistemik.
1,2
Case : Kolitis Ulseratif 11
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
Derajat klinik colitis ulseratif dapat dibagi atas berat, sedang, dan ringan,
berdasarkan frekuensi diare, ada atau tidaknya demam, derjat beratnya anemia
yang terjadi dan aju endapdarah (klasifikasi Truelove). Perjalanan penyakit kolitis
ulseratif dapat dimulai dengan serangan pertama yang berat ataupun dimulai
ringan yang bertambah berat secara gradual setiap minggu. Berat ringannya
serangan pertama sesuai dengan panjangnya kolon yang terlibat. Pada kolitis
ulseratif, terdapat reaksi radang yang secara primer mengenai mukosa kolon.
Secara makroskopik, kolon tampak berulserasi, hiperemik, dan biasanya
hemoragik. Gambaran mencolok dari radang aalah bahwa sifatnya seragam dan
kontinu dengan tidak adanya daerah tersisa mukosa yang normal.
1,2
Perjalanan klinis kolitis ulseratif bervariasi. Mayoritas pasien akan
menderita relaps dalam waktu 1 tahun dari serangan pertama, mencerminkan sifat
rekuren dari penyakit. Namun demikian, bisa terdapat periode remisi yang
berkepanjangan hanya dengan gejala minimal. Pada umumnya, beratnya gejala
mencerminkan luasnya keterlibatan kolon dan intensitas radang.
1,2
Tabel 1. Truelove and Witts classification of severity of ulcerative colitis

Temuan fisik pada kolitis ulseratif biasanya non spesifik, biasanya
terdapat distensi abdomen atau nyeri sepanjang perjalanan kolon. Pada kasus
Case : Kolitis Ulseratif 12
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
ringan, pemeriksaan fisik umum akan normal. Demam, takikardia dan hipotensi
postural biasanya berhubungan dengan penyakit yang lebih berat.
1,2
Manifestasi ekstraintestinal bisa dijumpai yaitu :
2
1. Sendi : peripheral arthritis, ankylosing spondylitis dan sacrolitis
(berhubungan dengan HLA-B27)
2. Kulit : erythema nodosum, aphtous ulcer, pyoderma gangrenosum
3. Mata : episkleritis, iritis, dan uveitis
4. Liver : fatty liver, pericholangitis (intrahepatic sclerosing cholangitis),
primary sclerosing cholangitis, cholangiocarcinoma, chronic hepatitis
5. Lain-lain : autoimmune hemolytic anemia, phlebitis, ulmonary embolus
(hypercoagulable state)
2.5.2 Gambaran Laboratorium
Temuan laboratorium seringkali nonspesifik dan mencerminkan derajat
dan beratnya perdarahan dan inflamasi. Bisa terdapat anemia yang mencerminkan
penyakit kronik serta defisiensi besi akibat kehilangan darah kronik. Leukositosis
dengan pergeseran ke kiri dan peningkatan laju endap darah seringkali terlihat pad
apasien demam yang sakit berat. Kelainan elektrolit, terutama hipokalemia,
mencerminkan derajat diare. Hipoalbuminemia umum terjadi dengan penyakit
yang ekstensif dan biasanya mewakili hilangnya protein lumen melalui mukosa
yang ulserasi. Peningkatan kadar alkali fosfatase dapat menunjukkan penyakit
hepatobiliaris yang berhubungan.
2
Pemeriksaan kultur feses (patogen usus dan bia diperlukan, Escherichia
coli (O157:H7), ova, parasit dan toksin Clostridium difficile negatif.
2
Case : Kolitis Ulseratif 13
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
Pemeriksaan antibodi p-ANCA dan ASCA (Antibody Saccharomyces
Cerevisae Mannan) berguna untuk membedakan penyakit koitis ulseratif dengan
penyakit Crohn.
2
2.5.3 Gambaran Radiologi
1. Foto Polos Abdomen
Pada foto polos abdomen umumnya perhatian kita cenderung
terfokus pada kolon. Tetapi kelainan lain yang sering menyertai penyakit
ini adalah batu ginjal, sakrolitis, spondilitis ankilosing dan nekrosis
avaskular kaput femur. Gambaran kolon sendiri terlihat memendek dan
struktur haustra menghilang. Sisa fess pada daerah inflamasi tidak ada,
sehingga apabila seluruh kolon terkena maka materi feses tidak akan
terlihat di dalam abdomen yang disebut dengan empty abdomen.
Kadangkala usus dapat mengalami dilatasi yang berat (toxic megacolon)
yang sering menyebabkan kematian apabila tidak dilakukan tindakan
emergensi. Apabila terjadi perforasi usus maka dengan foto polos dapat
dideteksi adanya pneumoperitoneum, terutama pada foto abdomen posisi
tegak atau left lateral decubitus (LLD) maupun pada foto toraks tegak.
1,2
Foto polos abdomen juga merupakan pemeriksaan awal untuk
melakukan pemeriksaan barium enema. Apabila pada pemeriksaan foto
polos abdomen ditemukan tanda-tanda perforasi maka pemeriksaan
barium enema merupkan kontraindikasi.
1,2
2. Barium Enema
Barium enema merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukakn
apabila ada kelainan pada kolon. Sebelum dilakukan pemeriksaan barium
Case : Kolitis Ulseratif 14
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
enema maka persiapan saluran cerna merupakan pendahuluan yang sangat
penting. Perisapan dilakukan selama 2 hari berturut-turut dengan
memakan makanan rendah serat atau rendah residu, tetapi minum air putih
yang banyak. Apabila diperlukan maka dapat diberikan laksatif peroral.
1,2
Pemeriksaan barium enema dapat dilakukan dengan teknik kontras
tunggal (single contrast) maupun dengan kontras ganda (double contrast)
yaitu barium sulfat dan udara. Teknik double contrast sangat baik untuk
menilai mukosa kolon dibandingkan dengan teknik single contrast,
walaupun prosedur pelaksanaan teknik double contrast cukup sulit.
Barium enema juga merupakan kelengkapan pemeriksaan endoskopi atas
dugaan pasien dengan kolitis ulseratif.
1,2
Gambaran foto barium enema pada kasus dengan kolitis ulseratif
adalah mukosa kolon yang granuler dan menghilangnya kontur haustra
serta kolon tampak menjadi kaku seperti tabung. Perubahan mukosa
terjadi secara difus dan simetris pada seluruh kolon. Lumen kolon menjadi
lebih sempit akibat spasme. Dapat ditemukan keterlibatan seluruh kolon.
Tetapi apabila ditemukan lesi yang segmental maka rectum dan kolon kiri
(decendens) selalu terlibat, karena awlnya kolitis ulseratif ini mulai terjadi
di rectum dan menyebar ke arah proksimal secara kontinu. Jadi rectum
selalu terlibat, walaupun rectum dapat mengalami inflamasi lebih ringan
dari bagian proksimalnya.
1,2
Pada keadaan dimana terjadi pan-ulseratif kolitis kronis maka
perubahan juga dapat terjadi di ileum terminal. Mukosa ileum terminal
menjadi granuler difus dan dilatasi, caecum berbentuk kerucut (cone-
Case : Kolitis Ulseratif 15
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
shaped caecum) dan katup ileocaecal terbuka sehingga terjadi refluks,
yang disebut backwash ileitis. Pada kasus kronis, terbentuk ulkus yang
khas yait collar-button ulcers. Pasien dengan kolitis ulseratif juga
menanggung resiko tinggi menjadi adenokarsinoma kolon.
1,2
3. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan USG sampai saat ini belum merupaka modalitas
pemeriksaan yang diminati untuk kasus-kasus IBD. Kecuali merupakan
pemeriksaan alternatif untuk evaluasi keadaan intralumen dan
ekstralumen.
1,2
Sebelum dilakukan pemeriksaan USG sebaiknya pasien
dipersiapkan saluran cernanya dengan menyarankan pasien untuk makan
makanan rendah residu dan banyak minum air putih. Persiapan dilakukan
selama 24 jam sebelum pemeriksaan. Sesaat sebelum pemeriksaan
sebaiknya kolon diisi dulu dengan air.
1,2
Pada pemeriksaan USG, kasus dengan kolitis ulseratif didapatkan
penebalan dinding usus yang simetris dengan kandungan lumen kolon
yang berkurang. Mukosa kolon yang terlibat tampak menebal dan
berstruktur hipoekhoik akibat dari edema. Usus menjadi kaku,
berkurangnya gerakan peristaltik dan hilangnya haustra kolon. Dapat
ditemukan target sign atau pseudo-kidney sign pada potongan transversal
atau cross-sectional. Dengan USG Doppler, pada kolitis ulseratif selain
dapat dievaluasi penebalan dinding usus dapat pula dilihat adanya
hypervascular pada dinding usus tersebut.
1,2

Case : Kolitis Ulseratif 16
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
4. CT Scan dan MRI
Kelebihan CT Scan dan MRI, yaitu dapat mengevaluasi langsung
keadaan intralumen dan ekstralumen. Serta mengevaluasi sampai sejauh
mana komplikasi ekstralumen kolon yang telah terjadi. Sedangkan
kelebihn MRI terhadap CT Scan adalah mengevaluasi jaringan lunak
karena terdapat perbedaan intensitas (kontras) yang cukup tinggi antara
jaringan lunak satu dengan yang lainnya.
1,2
Gambaran CT Scan pada kolitis ulseratif, terlihat dinding usus
menebal secara simetris dan kalau terpotong secara cross-sectional maka
terlihat gambaran target sign. Komplikasi di luar usus dapat terdeteksi
dengan baik, seperti adanya abses atau fistula atau keadaan abnormalitas
yang melibatkan mesenterium. MRI dapat dengan jelas memperlihatkan
fistula dan sinus tract-nya.
1,2
2.5.4 Gambaran Endoskopi
Pada dasarnya kolitis ulseratif merupakan penyakit yang melibatkan
mukosa kolon secara difus dan kontinu, dimulai dari rectum dan menyebar atau
progresif ke proksimal. Data dari beberapa Rumah Sakit di Jakarta didapatkan
bahwa lokalisasi kolitis ulseratif adalah 80% pada rectum dan rectosigmoid, 12%
kolon sebeah kiri (left side colitis), dan 8% melibatkan seluruh kolon (pan-
kolitis).
1,2
Pada kolitis ulseratif, ditemukan hilangnya vaskularitas mukosa, eritema
difus, kerapuhan mukosa, dan seringkali eksudat yang terdiri atas mucus, darah
dan nanah. Kerapuhan mukosa dan keterlibatan yang seragam adalah
karakteristik. Sekali mukosa yang sakit ditemukan (biasanya di rectum), tidak ada
Case : Kolitis Ulseratif 17
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
daerah mukosa normal yang menyela sebelum batas proksimal penyakit dicapai.
Ulserasi landai, bisa kecil atau konfluen namun selalu terjadi pada segmen dengan
kolitis aktif. Pemeriksaan kolonoskopi penuh dari kolon pada kolitis ulseratif
tidak diindikasikan pada pasien yang sakit akut. Biopsi rectal bisa memastikan
radang mukosa. Pada penyakit yang lebih kronik, mukosa bisa menunjukkan
penampilan granuler dan bisa terdapat pseudopolip.
1,2
Berikut ini adalah perbedaan gambaran lesi endoskopik IBD pada kolitis
ulseratif dan penyakit Crohn.
1,2
Tabel 2. Gambaran lesi endoskopik IBD

2.5.5 Gambaran Histopatologi
Yang termasuk kriteria histopatologi adalah perubahan arsitektur mukosa,
perubahan epite dan perubahan lamina propria. Perubahan arsitektur mukosa,
perubahan permukaan, berkurangnya densitas kripta, gambaran abnormal
arsitektur kripta (distorsi, bercabang, memendek). Pada kolon normal, permukaan
datar, kripta tegak, sejajar, bentuknya sama, jarak antar kripta sama, dan dasar
dekat muskularis mukosa. Sel-sel inflamasi, predominan terletak di bagian atas
lamina propria.
1,2
Case : Kolitis Ulseratif 18
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
Perubahan epitel seperti berkurangnya mucin dan metaplasia sel paneth
serta permukaan viliform juga diperhatikan. Perubhan lamina propria meliputi
penambahan dan perubahan distribusi sel radang. Granuloma dan sel-sel berinti
banyak biasanya ditemukan. Gambaran mikroskopik ini berhubungan dengan
stadium penyakit, apakah stadium akut, resolving atau kronik / menyembuh.
Gambaran khas untuk kolitis ulseratif adalah adanya abses kripti, distorsi kripti,
infiltrasi sel mononuclear dan polimorfonuclear di lamina propria.
1,2
Pembagian gambaran histologi penyakit kolitis ulseratif menjadi kriteria
mayor dan minor. Sekurang-kurangnya dua kriteria mayor harus dipenuhi untuk
diagnosis kolitis ulseratif.
1,2
Kriteria mayor kolitis ulseratif meliputi :
1,2
1. Infiltrasi sel radang yang difus pada mukosa
2. Basal plasmositosis
3. Netrofil pada seluruh ketebalan mukosa
4. Abses kripta
5. Kriptitis
6. Distorsi kripta
7. Permukaan viliformis
Kriteria minor kolitis ulseratif meliputi :
1,2
1. Jumlah sel goblet berkurang
2. Metaplasia sel Paneth
Tetapi pada kolitis ulseratif stadium dini, gambarannya tidak dapat
dibedakan dari kolitis infektif. Kolitis ulseratif mempunyai tiga stadium yang
Case : Kolitis Ulseratif 19
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
gambaran mikroskopiknya berbeda-beda. Perlu diingat bahwa pada seorang
penderita dapat ditemukan gambaran ketiga stadium dalam satu keadaan.
1,2

2.6 Perjalanan Klinis
Perjalanan klinis kolitis ulseratif bervariasi. Mayoritas pasien akan
menderita relaps dalam waktu 1 tahun dari serangan pertama, mencerminkan sifat
rekuren dari penyakit. Namun demikian, bisa terdapat periode remisi yang
berkepanjangan hanya dengan gejala minimal. Pada umumnya, beratnya gejala
mencerminkan luasnya keterlibatan kolon dan intensitas radang.
1,2,3

2.7 Diagnosis Banding
1. Divertikulitis
2. Penyakit Crohn
3. Polip Colon
4. Gastroenteritis bakterial
5. Gastroenteritis viral
6. Perdarahan gastrointestinal bagian bawah
7. Colitis infeksi
8. Irritable Bowel Syndrome
9. Tuberkulosis usus

2.8 Penatalaksanaan
Mengingat bahwa etiopatogenesis IBD belum jelas, maka pengobatannya
lebih ditekankan pada penghambatan kaskade proses inflamasi. Dengan dugaan
Case : Kolitis Ulseratif 20
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
adanya faktor atau agen proinflamasi yang dapat mencetuskan proses inflamasi
kronik pada kelompok rentan, maka diusahakan mengeliminasi hal tersebut
dengan cara pemberian antibiotik, lavase usus, pengikat produk bakteri,
mengistirahatkan kerja usus dan perubahan pola dietetik. Pada prinsipnya,
pengobatan IBD ditujukan pada serangan akut dan terapi pemeliharaan waktu fase
remisi. Obat baku pertama mengandung komponen 5-acetil salicytic acid (5-
ASA) dan obat kortikosteroid (baik sistemik maupun topikal). Bia gagal, maka
diberikan obat lini kedua yang pada umumnya bersifat imunosupresif (seperti 6-
merkaptopurin, azatriopin, siklosporin dan metotreksat), anti-TNF (infliximab).
Pada kasus tertentu atau terjadi komplikasi perforasi, perdarahan massif ileus
karena stenosis, megatoksik kolon, maka diperlukan intervensi surgikal.
1,2
Sulfasalazine merupakan derivat dari 5-acetil salicytic acid yang
mempunyai efek anti-inflamasi, berfungsi untuk mempertahankan remisi untuk
menginduksi remisi pada serangan ringan. Berguna untuk mengobati kolitis
ulseratif ringan-sedang. Bekerja secara lokalpada kolon untuk menurunkan respon
inflamasi dan secara sistemik menghambat sintesis prostaglandin.
1,2
Temuan klinis pada kolitis ulseratif yang berat berhubungan dengan
nekrosis luas pada mukosa kolon dan perforasi dengan sepsis. Antibiotik
intravena diberikan pada pasien yang diduga atau berpotensi terjadi sepsis.
1,2
Seringkali pasien dengan kolitis ulseratif juga diberikan antihistamin
karena histamin terdapat pada enterochromaffin like cell, sel mast dan nervus
intramural pada traktus gastrointestinal yang menstimulasi sekresi sam lambung,
beberapa cairan dan mucus mempengaruhi motilitas usus berpartisipasi dalam
alergi tipe cepat dan respon inflamasi, stimulasi pertumbuhan dan proses
Case : Kolitis Ulseratif 21
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
regenerasi serta meningkatkan pembentukan kolagen. Semu efek ini dimediasi
melalui reseptor H1, H2, H3, dan H4. Hiperplasia sel mast pada mukosa dan
submukosa merupakan karakteristik dari IBD kronik. Inflamasi kolitis ulseratif
utamanya mengenai mukosa dan meningkatkan pengeluaran mediator sel mast
intestinal.
1,2
Berdasarkan Crohn’s and Colitis Foundation of America, diet bukan
merupakan faktor utama dalam proses inflamasi. Namun beberapa makanan
spesifik, dapat mempengaruhi gejala dari kolitis ulseratif dan ikut berperan dalam
proses inflamasi. Penatalaksanaan diet pada kolitis ulseratif, serat yang insoluble
(tinggi serat) tidak baik untuk pasien, seperti kubs, brokoli, jagung manis, kulit
buah karena jenis serat ini melewati seluruh traktus digestivus tanpa dicerna, dan
dapat menempel pada dinding kolon ketika inflamasi, semakin mengiritasi kolon
dan memperparah kolitis. Serat yang soluble sangat baik untuk pasien karena akan
dicerna dalam kolon, menghasilkan feses yang lunak dan pergerakan usus yang
bagus, tidak menempel pada dinding usus dan tidak menyebabkan inflamasi.
Contoh serat yang soluble adalah buah-buahan dan sayur-sayuran yang sudah
dikupas, bubur, dan nasi putih.
1,2

2.9 Komplikasi
Dalam perjalanan penyakit ini, dapat terjadi komplikasi seperti perforasi
usus yang terlibat, terjadinya stenosis usus akibat proses fibrosis, megakolon
toksik (terutama pada kolitis ulseratif), perdarahan, dan degenerasi maligna.
Diperkirakan resiko terjadinya kanker pada IBD lebih kurang 13%.
1,2,3

Case : Kolitis Ulseratif 22
Pembimbing : dr. Hj. Berlian Hasibuan, Sp.A(K)
2.10 Prognosis
Pada dasarnya penyakit IBD merupakan penyakit yang bersifat remisi dan
eksaserbasi. Cukup banyak dilaporkan adanya remisi yang bersifat spontan dan
dalam jangka waktu yang lama. Prognosis banyak dipengaruhi oleh ada atau
tidaknya komplikasi atau tingkat respon terhadap pengobatan konservatif.
1,2,3
1. Remisi pada 10% eksserbasi intermitten sebanyak 75%; penyakit aktif
berlanjut sebanyak 10%
2. Mortalitas