You are on page 1of 39

UNIVERSITAS INDONESIA

RESUME
KASUS IV POSTPARTUM
KD 7 – Kelas C
Focus Group II

Dessy Anggraeni Saputri 1206218770
Dian Rahmawati 1206218846
Gina Zaipa 1206218820
Lathifany Ratna Wulan 1206218833
Lia Rahayu Setyaningsih 1206218764
Miptahul Janah 1206218700
Vina Novia Sari 1206218663



FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014


I. ADAPTASI FISIOLOGIS PADA PERIODE POST PARTUM
Periode postpartum atau puerperium merupakan masa setelah bayi dilahirkan. Periode
postpartum dapat berlangsung selama empat hingga enam minggu (Cunningham, et al.,
2010). Pada periode ini terjadi perubahan fisiologis pada tubuh ibu yang prosesnya
berkebalikan dengan kehamilan (Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Perubahan
fisiologis yang terjadi pada masa postpartum akan mengembalikan sistem tubuh ibu kembali
ke kondisi sebelum hamil atau pra kehamilan (Ricci, 2007).
A. Adaptasi Sistem Reproduksi
 Uterus
Setelah melahirkan, uterus akan kembali ke ukuran sebelum hamil melalui proses
involusi. Pada proses involusi terjadi kontraksi serat otot yang mengurangi
peregangan uterus selama hamil, katabolisme yang mengurangi pembesaran sel
miometrial, regenerasi epitelium uterin dari lapisan bawah desidua setelah lapisan
atasnya terkelupas dan menetes selama lokia (Murray et al, 2006 dalam Ricci, 2007).
- Berat uterus
Involusi uterus menyebabkan perubahan berat uterus yaitu 1000 gram (segera
setelah melahirkan), 500 gram (satu minggu setelah melahirkan), 60 gram (akhir
minggu keenam setelah melahirkan).
- Tinggi Fundus
Tinggi fundus akan mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus pada 12 jam
pertama setelah melahirkan. Setelah itu, fundus akan turun kira-kira 1 sampai 2
cm setiap 24 jam dan berada di pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis
pada hari keenam postpartum. Pada hari ke-9, uterus tidak lagi dapat dipalpasi
karena telah turun ke pelvis sejati.
- Kontraksi Uterus
Intensitas kontraksi uterus akan meningkat secara bermaknsa segera setelah bayi
lahir yang merupakan respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat
besar. Selama 1 sampai 2 jam pertama pospartum intensitas kontraksi bisa
berkurang dan menjadi tidak teratur. Pada masa ini, kontraksi uterus penting untuk
dipertahankan sehingga ibu dapat diberikan suntikan oksitosin maupun dianjurkan
untuk menyusui bayinya agar merangsang pelepasan oksitosin.
- Afterpains
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap
kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa
menimbulkan nyeri yang akan bertahan selama masa awal postpartum.
- Lokia
Lokia merupakan rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir yang awalnya
berwarna merah dan kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat.
Selama dua jam pertama setelah melahirkan, jumlah cairan yang keluar dari uterus
tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah
waktu tersebut, aliran lokia yang keluar harus semakin berkurang. Lokia dapat
keluar selama tiga hingga enam minggu setelah melahirkan.
Terdapat tiga tahap lokia yaitu lokia rubra, lokia serosa, dan lokia alba. Lokia
rubra mengalir pada tiga hingga empat hari pertama setelah melahirkan dan
mengandung darah, debris desidua, dan debris trofoblastik. Lokia serosa
merupakan tahap kedua lokia yang mengandung leukosit, jaringan desidua, sel
darah merah, dan cairan serosa. Lokia serosa berwarna pink hingga coklat dan
keluar pada hari ketiga hingga ke-10 postpartum. Tahap akhir lokia adalah lokia
alba yang berwarna putih krem atau coklat muda yang mengandung leukosit,
jaringan desidua, sel epitel, mukus, serum, dan bakteri. Lokia alba ini dikeluarkan
pada minggu kedua hingga keenam setelah melahirkan.
 Serviks
Setelah melahirkan, serviks akan menjadi lunak. Serviks memendek, konsistensinya
lebih padat, dan kembali ke bentuk semula dalam 18 jam setelah melahirkan. Serviks
setinggi segmen bawah uterus edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari.
Ektoserviks tampak memar dan terdapat sedikit laserasi. Muara serviks yang
berdilatasi 10 cm akan menutup secara bertahap. Muara serviks eksterna tidak
berbentuk lingkaran, tetapi terlihat memanjang seperti celah dan sering disebut mulut
ikan.
 Vagina
Enam sampai 8 minggu setelah melahirkan, vagina akan kembali ke ukuran semula.
Mukosa vagina akan menipis dan rugae menghilang. Rugae akan muncul kembali
pada minggu keempat dan akan memipih secara permanen. Mukosa akan tetap atrofik
pada wanita menyusui dan kembali menebal seiring pemulihan fungsi ovarium.
Jumlah pelumas vagina akan menurun dan timbul kekeringan lokal, sehingga akan
timbul rasa tidak nyaman saat koitus (dispareunia) yang akan berlangsung hingga
fungsi ovarium kembali normal
 Perineum
Pada hari pertama hingga kedua setelah melahirkan, perineum akan edematosa dan
memar. Jika saat melahirkan episootomi atau laserasi terjadi, maka akan
membutuhkan waktu empat hingga enam bulan agar sembuh sempurna. Laserasi
perineal dan hemoroid mungkin muncul dan menyebabkan ibu postpartum merasakan
tidak nyaman saat defekasi.

B. Adaptasi pada Payudara
Setelah melahirkan, payudara mulai mengeluarkan kolostrum yang pengeluarannya
akan bertahan selama kurang lebih 5 hari (Cunningham, et al., 2010). Pada hari ketiga setelah
melahirkan, air susu ibu akan keluar akibat dari proklaktin yang menstimulus sel glandular
payudara untuk mengeluarkan susu. Hisapan bayi pada payudara akan menstimulus
pelepasan prolaktin dan oksitosin yang akan meningkatkan produksi susu (Ricci, 2007). Jika
tidak ada stimulus (hisapan), pembengkakan payudara dan pengeluaran susu akan mereda
dalam dua hingga tiga hari postpartum. Pada dua hari pertama periode postpartum, payudara
akan lembut dan lunak. Ibu juga akan merasakan sensasi geli pada kedua payudaranya.
Pembengkakan payudara dapat terjadi pada hari kedua hingga keempat setelah melahirkan
dan akan menyebabkan payudara keras dan lunak saat disentuh, terasa penuh, dan sangat
tidak nyaman hingga air susu siap dikeluarkan.
C. Adapatsi Sistem Endokrin
Setelah melahirkan, kadar hormon pada ibu pospartum mengalami banyak perubahan.
Setelah plasenta dilahirkan, terjadi penurunan kadar hormon estrogen, progesteron, human
placental lactogen (hPL), dan hCG.
 Hormon estrogen
Penurunan hormon estrogen menyebabkan pembengkakan payudara dan diuresis.
Hormon estrogen akan berada pada titik terendah setelah satu minggu setelah
melahirkan. Kadar tersebut akan meningkat setelah dua minggu pasca melahirkan
(pada ibu tidak menyusui) dan akan tetap rendah hingga frekuensi menyusui menurun
(pada ibu yang menyusui).
 Hormon progesteron
Hormon progesteron tidak dapat terdeteksi pada tiga hari setelah melahirkan dan akan
kembali meningkat pada masa menstruasi yang pertama.
 hPL
Kadar hPL tidak dapat terdeteksi dalam 24 jam setelah melahirkan.
 Hcg
Kadar hCG tidak terdeteksi pada akhir minggu pertama setelah melahirkan.
 Prolaktin
Kadar prolaktin akan menurun dalam dua minggu setelah melahirkan (pada ibu tidak
menyusui) dan menetap hingga enam minggu setelah melahirkan (pada ibu yang
menyusui). Kadar prolaktin yang tetap dapat menekan ovulasi, karena ovarium tidak
berespon pada FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Bobak, Lowdermilk, Jensen, &
Perry, 2004). Kadar prolaktin dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali
menyusui, dan makanan tambahan yang diberikan.
Selain itu, terdapat perbedaan masa ovulasi pada ibu menyusui dan tidak
menyusui. Pada ibu menyusui, ovulasi terjadi 190 hari setelah melahirkan dan 70
hingga 75 hari pada ibu yang tidak menyusui (Bowes, 1991 dalam Bobak et al, 2004).

D. Adaptasi Sistem Urinaria
Perubahan sistem urinaria juga terjadi pada periode postpartum. Penurunan kadar
steroid setelah melahirkan menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang nantinya dapat
kembali normal setelah satu bulan (Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Selain itu
terjadi perubahan pada komponen urin yang meliputi glikosuria negatif, laktosuria positif,
nilai BUN (Blood urea nitrogen) meningkat, proteiunuria ringan, dan asetonuria (Bobak,
Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004).
Diuresis mulai terjadi dalam 12 jam setelah melahirkan dan berlanjut hingga minggu
pertama postpartum yang merupakan mekanisme pembuangan kelebihan cairan (Ricci,
2007). Diuresis terjadi akibat penurunan kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena
pada tungkai bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan (Bobak,
Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Selain itu dapat terjadi akibat pemberian cairan IV
dalam jumlah besar saat persalinan, penurunan efek antidiuretik oksitosin, dan penurunan
kadar hormon aldosteron (Littleton & Engebretson, 2005 dalam Ricci, 2007).
Ibu postpartum beresiko mengalami distensi kandung kemih yang nantinya dapat
mengakibatkan perdarahan berlebih karena menghambat kontraksi uterus. Hal tersebut terjadi
akibat peningkatan diuresis yang tidak disertai peningkatan keinginan berkemih. Penurunan
keinginan berkemih dapat disebabkan oleh trauma akibat kelahiran, peningkatan kapasitas
kandung kemih, efek konduksi anestesi, nyeri pada panggul, laserasi vagina, dan episiotomi
(Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004).
E. Adaptasi Sistem Pencernaan
Pada periode postpartum perubahan pada sistem pencernaan juga terjadi. Tonus dan
dan motilitas otot saluran cerna menurun yang terjadi beberapa hari setelah melahirkan dan
dapat menyebabkan konstipasi. Buang air besar tertunda secara spontan selama dua hingga
tiga hari setelah melahirkan. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan tonus otot usus,
pemberian analgesik, operasi, penurunan tekanan intraabdomen, diet rendah serat, dan asupan
cairan yang kurang (Ricci, 2007). Ketakutan ibu akan nyeri saat defekasi akibat episiotomi,
laserasi, atau hemoroid juga berkontribusi pada kondisi menunda buang air besar (Bobak,
Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Selain itu, ibu yang melahirkan akan cenderung merasa
sangat lapar dan haus segera setelah melahirkan yang terjadi akibat pengeluaran energi
selama proses melahirkan.
F. Adaptasi Sistem Kardiovaskuler
Pada periode postpartum terjadi perubahan dramatis pada sistem kardiovaskuler. Pada
minggu ketiga dan keempat masa postpartum, volume darah menurun dan mencapai volume
darah saat pra kehamilan (Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Perubahan volume
darah ini terjadi akibat kehilangan darah saat melahirkan (500 ml pada kelahiran pervaginam
dan 1000 ml pada kelahiran sesaria) dan diuresis yang terjadi selama awal periode
postpartum (Ricci, 2007).
Curah jantung pada 24 jam hingga 48 jam setelah melahirkan akan meningkat dan
menurun hingga mencapai curah jantung pra kehamilan dalam 10 hari (Robson & colleagues,
1987 dalam Cunningham et al, 2010). Namun dapat juga kembali ke keadaan normal dalam 3
bulan setelah melahirkan (Ricci, 2007). Peningkatan curah jantung di awal periode
postpartum disebabkan oleh kembalinya darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplasenta
kembali ke sirkulasi umum (Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Peningkatan curah
jantung juga dapat menyebabkan bradikardi (50-70 denyut per menit) pada dua minggu
pertama periode postpartum (Ricci, 2007).
Nilai tekanan darah pada periode postpartum tidak jauh berbeda dari tekanan darah
yang diukur saat proses melahirkan (Ricci, 2007). Peningkatan kecil pada tekanan darah
sistolik dan diastolik dapat terjadi selama empat hari setelah melahirkan (Bowes, 1991 dalam
Bobak et al, 2004). Peningkatan tekanan darah yang signifikan dapat mengindikasikan
terjadinya preeklamsi, sedangkan penurunan yang signifikan menandakan terjadinya
hipotensi ortostatik atau perdarahan uterin (Ricci, 2007).
Perubahan komponen darah yang meliputi hematokrit, sel darah putih, dan faktor
koagulasi juga terjadi pada periode postpartum. Hematokrit akan meningkat pada hari ketiga
hingga hari ketujuh setelah melahirkan akibat penurunan volume plasma dan peningkatan sel
darah merah (Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry, 2004). Leukositosis (sel darah putih
bernilai 20.000-25.000/mm
3
) terjadi pada hari ke 10 hingga ke 12 setelah melahirkan. Faktor-
faktor pembekuan darah juga meningkat selama dua hingga tiga minggu setelah melahirkan
sehingga menyebabkan terjadinya hiperkoagulasi yang meningkatkan risiko ibu mengalami
tromboembolisme pada ekstremitas bawah dan paru-paru (Ricci, 2007).
G. Adaptasi Sistem Pernapasan
Pada periode postpartum, pernapasan kembali normal (16-24 per menit). Keluhan
ketidaknyamanan seperti sesak napas dan nyeri iga tidak lagi dirasakan karena diafragma
kembali ke posisi semula setelah bayi lahir. Volum tidal, volume menit, kapasitas vital,
kapasitas fungsi residual kembali pada tingkat pra kehamilan dalam satu hingga tiga minggu
setelah melahirkan (Ricci, 2007).
H. Adaptasi Sistem Neurologi
Pada periode postpartum terjadi perubahan sistem neurologis. Perubahan tersebut
meliputi hilangnya rasa tidak nyaman neurologis akibat kehamilan, sindrom carpal tunnel,
rasa baal dan kesemutan. Sedangkan nyeri kepala masih dapat dirasakan ibu postpartum pada
selama hitungan hari hingga minggu yang dapat terjadi akibat hipertensi akibat kehamilan
(PIH), stres, kebocoran cairan serebrospinal ke dalam ruang ekstradural selama jarum
epidural diletakkan di tulang punggung untuk anastesi (Bobak, Lowdermilk, Jensen, & Perry,
2004).
I. Adaptasi Sistem Muskuloskeletal
Penurunan hormon relaksin, estrogen, dan progesteron menyebabkan seluruh sendi
kembali ke keadaan pra kehamilan dalam enam hingga delapan minggu setelah melahirkan,
kecuali pada kaki. Sehingga ibu postpartum membutuhkan ukuran sepatu yang lebih besar
dari sebelumnya. Selain itu, peregangan pada otot abdomen selama kehamilan akan
menyebabkan hilangnya tonus otot dan pemisahan pada otot rektus abdominia (diastasis
recti) dan akibatnya otot abdomen menjadi lembut dan lembek (Ricci, 2007).
J. Adaptasi Sistem Integumen
Penurunan hormon estrogen dan progesteron menyebabkan memudarnya linea nigra,
melasma, pigmentasi pada areola. Peregangan kulit pada payudara, abdomen, paha, panggul
juga memudar namun tidak hilang seluruhnya. Kelainan pembuluh darah yang meliputi
spider angioma, eritema palmar, dan epulis akan berkurang. Rambut ibu postpartum akan
cenderung rontok pada tiga bulan pertama setelah melahirkan dan akan tumbuh normal lagi
dalam enam hingga 12 bulan setelah melahirkan (Ricci, 2007). Ibu postpartum juga akan
cenderung berkeringat biasanya pada malam hari pada minggu pertama setelah melahirkan
yang terjadi sebagai mekanisme membuang kelebihan cairan.
II. PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI BARU LAHIR
 Laktasi
Laktasi terjadi di bawah pengaruh beberapa kelenjar endokrin terutama hormone
hipofisis prolaktin da oksitosin. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh hisapan bayi dan emosi
ibu. Laktasi dipengaruhi oleh setidaknya 4 faktor yaitu struktur anatomi kelenjar mamae dan
perkembangan alveoli, duktus, dan puting; inisiasi dan sekresi susu; ejeksi susu atau propulsi
susu dari alveoli ke puting; dan pengeluaran susu dari payudara secara regular dan efisien
(Bobak, Lowermilk, Jensen, 1995, 2005). Payudara terdiri dari 18 segmen berisi lemak dan
jaringan penyambung serta sangat banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe,
dan saraf. Ukuran peyudara berkaitan dengan banyaknya jumlah lemak dan tidak ada
hubungannya dengan kapasitas fungsional. Perkembangan payudara pada saat hamil adalah
peningkatan duktus dan alveoli yang dipengaruhi oleh banyak hormone. Pada akhir
kehamilan terjadi perkembangan maksimum sistem lobuloalveolar dan diduga akibat kerja
prolaktin. Kolostrum terdapat di payudara sejak bulan keempat kehamilan.

Gambar 1. Gambaran struktur kelenjar mamaria manusia secara rinci

 Proses laktasi
Menyusui dipengaruhi kerja hormone, refleks, dan perilaku yang dipelajari ibu dan
bayi baru lahir dan terdiri dari faktor-faktor berikut ini (Bobak, Lowermilk, Jensen, 1995,
2005):
1. Laktogenesis (permulaan produksi susu) dimulai pada tahap akhir kehamilan. Proses ini
terjadi akibat stimulasi sel-sel alveolar mamalia oleh laktogen plasenta, suatu substansi
yang menyerupai prolaktin. Produksi berlanjut secara otomatis setelah bayi lahir.
2. Produksi susu. Sekresi susu berlanjut terutama berkaitan dengan jumlah produksi
hormone prolaktin yang cukup di hipofisis anterior dan pengeluaran susu yang efisien.
Nutrisi maternal dan masukan cairan mempengaruhi jumlah dan kualitas susu.
3. Ejeksi susu. Pengeluaran susu tergantung pada refleks ejeksi susu (refleks let down).
Refleks tersebut secara primer merupakan respons terhadap isapan bayi. Isapan
menstimulasi kelenjar hipofisis posterior untuk menyekresikan oksitosin. Oleh karena itu,
sel-sel di sekitar alveoli berkontraksi dan mengeluarkan susu melalui duktus ke dalam
mulut bayi.
4. Kolostrum merupakan cairan kuning kental untuk memenuhi kebutuhan bayi baru lahir.
Kolostrum mengatur antibody vital dan nutrisi padat dalam volume kecil sesuai dengan
makanan awal bayi. Menyusui dini berhubungan dengan penurunan bilirubin darah.
Kadar protein tinggi pada kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif
kolostrum untuk mempermudah perjalanan mekonium. Kolostrum secara bertahap
berubah menjadi susu ibu antara hari ketiga dan kelima masa nifas.
Esterogen dan progesterone berjumlah banyak selama kehamilan. Kedua hormone
tersebut akan merangsang sistem duktus dan alveolus payudara sehingga terjadi
proliferasi dan diferensiasi glandula mammae dan produksi kolostrum mulai bulan ketiga
kehamilan (Benson dan Pernoll, 1994, 2009). Kolostrum terus disekresikan hingga
kehamilan cukup bulan. Namun keadaan esterogen yang tinggi selama kehamilan
menginhibisi pengikatan prolaktin (HPL) dalam jaringan payudara, akibatnya ASI tidak
dihasilkan. Setelah melahirkan kadar esterogen, progesteron, dan HCS (Human Chorionic
Somatomammotropin) menurun sehingga produksi kolustrum berkurang. Sebaliknya HPL
akan merangsang alveoli mammae untuk memproduksi ASI.
5. Susu ibu. Pada awal pemberian makan, susu mengandung lebih sedikit lemak dan
mengalir lebih cepat daripada susu pada akhir menyusui. Menjelang akhir menyusui, susu
lebih putih dan mengandung lebih banyak lemak. Kandungan lemak tinggi pada akhir
menyusui ini akan memberikan rasa puas pada bayi. Pemberian makanan yang cukup
lama setidaknya membuat satu payudara menjadi lebih lunak dan memberi cukup kalori
untuk meningkatkan berat badan, menjarangkan jarak antar menyusui, dan mengurangi
pembentukan gas dan kerewelan bayi karena kandungan lemak yang tinggi akan dicerna
lebih lama (Woolridge, Fisher, 1998 dalam Bobak, Lowermilk, Jensen, 1995, 2005)

Gambar 2. Refleks menyusui maternal. A, Produksi susu. B, Ejeksi susu

Bayi setidaknya memiliki tiga refleks yang diperlukan untuk proses menyusui yaitu
refleks rooting mengisap, dan menelan. Namun beberapa bayi memerlukan latihan untuk
mengoordinasi mengisap, menelan, dan bernapas.

 Perawatan periode prenatal
Calon orang tua diberikan konseling mengenai pemberian makan bayi sejak trimester
pertama kehamilan. Kelas harus memberikan penjelasan mengenai gambaran menyusui bayi
dan berfokus pada cara memanfaatkan refleks bayi. Beri dorongan semangat dan dukungan
emosi karena hal tersebut dapat berperan dalam keberhasilan laktasi.

 Perawatan periode pascanatal
Pemberian makan pada bayi baru lahir melibatkan emosi dalam perawatan bayi. Besar
dan pertumbuhan bayi seringkali dipakai sebagai ukuran keberhasilan dan bukti kemampuan
ibu merawat bayinya. (Bobak, Lowermilk, Jensen, 1995, 2005). Oleh karena itu orang tua
perlu diberi dukungan untuk mengembangkan rasa kepercayaan diri tentang kemampuan
mereka sendiri. Sehingga mendengar dan memberi pujian dengan sering merupakan
intervensi yang sangat efektif. Hari-hari pertama menjadi orangtua seringkali diisi rasa
ketegangan dan kekhawatiran tentang aktivitas perawatan bayi. Oleh karena itu orang tua
perlu diberi pengetahuan tentang cara pemberian makan bayi.
 Menyusui
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan pilihan utama untuk bayi. Pemberian ASI
atau menyusui memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut (Worthington-Roberts, 1993
dalam Bobak, Lowermilk, Jensen, 1995, 2005):
1. Bayi mendapat immunoglobulin untuk melindunginya dari banyak penyakit dan infeksi
karena ASI mengandung immunoglobulin A (IgA) kadar tinggi.
2. Bayi lebih jarang menderita infeksi telinga dan saluran pernapasan atas
3. Bayi lebih jarang mengalami diare dan penyakit saluran cerna lain
4. Risiko bayi mendapat diabetes juvenile menurun
5. Bayi memiliki lebih sedikit kemungkinan untuk menderita limfoma tipe tertentu
6. Jenis protein yang ditelan mengurangi kemungkinan timbulnya alergi
7. Bayi yang disusui memiliki lebih sedikit masalah dengan pemberian makanan yang
berlebihan akibat “harus menghabiskan susu di botol”
8. Insiden bayi mengalami obesitas dan hipertensi pada masa dewasa menurun
9. Tidak perlu mencuci botol, menyiapkan formula, dan menyimpannya di dalam lemari es
10. Organ-organ ibu akan lebih cepat kembali ke keadaan sebelum hamil
11. Menyusui meningkatkan kontak dekan ibu-anak

Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum memuali menyusui :
1. Diri Anda sendiri
 Ibu dapat mengambil posisi apapun yang menurutnya nyaman. Biarkan payudara
jatuh ke depan tanpa tegangan. Gunakan salah satu tangan untuk membantu
meletakkan puting ke dalam mulut bayi.
2. Teknik menyusui
 Gendong bayi sedemikian sehingga pipi bayi menyentuh payudara. Tekanan melawan
bibir bawah akan memulai refleks rooting. Bayi akan berputar kea rah puting. Bau
kolostrum juga membuat bayi berpaling kea rah puting. Letakkan bayi pada payudara
dengan menuntun puting dan jaringan aerola masuk ke mulut bayi di atas lidah. Tekan
payudara dengan ibu jari di atas aerola dan jari-jari lain di bawah aerola untuk
memungkinkan bayi menghisap efektif.
3. Respons bayi dan sensasi maternal yang diharapkan
 Bayi akan menghisap 3 sampai 5 kali sebelum menelan. Dalam 1 sampai 2 hari pola
ini akan berubah. 10 sampai 30 isapan diikuti 1 kali menelan. Bibir bayi menekan
aerola dan lidahnya mendorong putting sehingga ujungnya tidak retraksi. Tekanan
tersebut bersama dengan tekanan intraoral negative membuat ASI keluar.
 Bayi akan mengisap ASI dengan benar apabila tidak terdengar bunyi “klik”. Bunyi ini
menandakan bayi menghisap lidahnya sendiri. Ibu perlu mengkaji irama pola napas
isap-telan yang menandakan ASI mengalir. Rasakan juga tarikan jaringan aerola dan
putting ke dalam mulut.
4. Menyusui bayi
 Pastikan bayi dalam kondisi terjaga saat akan diberi ASI.
 Susui bayi dengan membawanya dekat ke payudara, bukan sebaliknya. Wajah, dada,
abdomen, dan lutut bayi, semuanya harus menghadap ke tubuh ibu. Sentuhkan bibir
bayi ke putting ibu dan perhatikan bagaimana bayi berputar kea rah putting dengan
mulut terbuka. minta ibu merasakan rahang bayi mengancing di belakang putting dan
putting berada jauh di dalam mulut bayi.
 Jika bayi butuh ruang untuk bernapas, angkat panggul bayi untuk memberikan celah
napas lebih besar.
 Ibu juga bisa memgang payudara selama menyusui
 Ibu dapat memberikan kedua payudara tiap kali menyusui. Karena kedua payudara
perlu dikosongkan untuk memberi tanda bahwa tubuh memproduksi susu lagi.
Mulailah menyusui dengan payudara yang lebih berat, karena berat tersebut
menunjukkan payudara memiliki lebih banyak susu.
 Melepas bayi dari payudara dengan cara letakkan sebuah jari tangan di sudut mulut
bayi dan biarkan jari itu di tempat sampai payudara terlepas seluruhnya
 Upayakan bayi bersendawa sebelum dipindahkan ke payudara lain. Bayi dapat di beri
rangsangan sendawa dengan mengatur posisi bayi.
 Setelah diberikan ASI posisikan bayi miring ke kanan karena dapt membuat udara di
dalam lambung naik ke atas tanpa membawa air susu.

Gambar 3. Proses mengisap. A, Bayi bernapas melalui hidung. Lidah dan palatum bertemu,
menutup esophagus. B, Lidah mendorong ke atas dan ke depan untuk menangkap puting. C,
gusi menekan aerola dan lidah bergerak ke belakang, menciptakan suatu tekanan negat ive
untuk menghidap.

Gambar 4. Menggendong. A, Ibu menyentuh bibir bawah bayi untuk menimbulkan refleks
rooting; bayi memberi respons dengan berputar kea rah payudara dan membuka mulut. B,
bayi mulai mangancing mulutnya. C, Bayi mangancingkan mulutnya dengan benar. D, ibu
menggunakan jari tangan untuk melepas isapan setelah selesai makan.

 Perawatan payudara
1. Bersihkan payudara dengan air setiap hari.
2. Jaga puting susu kering terkena udara setiap kali habis menyusui.
3. Keluarkan ASI dengan memijat lembut daerah sekitar puting
4. Jangan memakai krim, pelembab, atau salep karena akan menghambat sekresi minyak
bakteriostatik alami yang dilakukan oleh kelenjar Montgomeri. Selain itu beberapa bayi
tidak mau menyusui apabila tercium bau krim sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu
5. Pilih bra yang benar-benar pas, dengan tali bahu yang nyaman, dilengkapi dengan
penutup yang mudah dilpeas pada saat ingin mengeluarkan payudara saat menyusuui



 Diet dan cairan
Akan terjadi peningkatan kebutuhan energy, protein, mineral, dan vitamin maternal
selama laktasi. Peningkatan ini memulihkan kehilangan energy yang dialami ibu dalam
memproduksi susu, menyediakan cukup nutrient bagi bayi, dan melindungi cadangan ibu
sendiri. Meskipun ibu menyusui memerlukan cukup cairan, minum minuman seperti air
putih, sari buah, air teh yang tidak mengandung kafein serta susu sudah cukup untuk
menggantikan.

 Posisi dan teknik menyusui
Terdapat beberapa posisi (Gambar 5) untuk menyusi, sehingga ibu dapat memilih
posisi mana yang paling sesuai baginya. Bayi juga harus dalam posisi nyaman dalam
menyusu sehingga tidak harus memutar kepala atau meregangkan lehernya untuk dapat
menjangkau puting. Ketika bibir bayi menyentuh lembut putting, bayi akan merespons
dengan refleks rooting alami dan berpaling ke puting dan membuka mulutnya. Putting dan
sebagian aerola harus berada di dalam mulut bayi. Jika hidung bayi kelihatan tertutup oleh
payudara, ibu dapat mengangkat panggul bayi sehingga memberi banyak ruang untuk
bernapas. Menekan payudara biasanya akan membuat putting terlepas dari mulut bayi.


Gambar 5. Posisi umum untuk menyusui. A, Mengayun. B, Di atas pangkuan. C, Memegang
bola kaki. D, Berbaring miring.

D
C
B
A
Bantu bayi untuk bersendawa (apabila ibu sudah siap). Ada beberapa posisi (Gambar
6) untuk membuat bayi bersendawa yaitu dengan posisi tegak, di pangkuan, dan di bahu.
Setelah itu, ibu harus memeriksa apakah payudara sudah benar-benar lunak. Apabila masih
penuh, bayi harus diletakkan pada payudara yang sama. Apabila payudara tersebut dudah
lunak maka bayi diberikan pada payudara lainnya.

Gambar 6. Posisi untuk membuat bayi bersendawa. A, di bahu. B, Posisi tegak. C, di
pangkuan.
Pemberian ASI berikutnya ibu harus memberikan payudara yang terakhir kali
diberikan pada bayi. Cara unutk mengetahuinya adalah dengan mengangkat kedua payudara
dan timbang payudara mana yang lebih berat. Menyusui akan lebih efektif apabila bayi dalam
keadaan terjaga dan lapar. Apabila bayi harus dibangunkan sebelumnya, orangtua dapat
berbicara pada bayi, membasuh wajah bayi dengan handuk hangat, memijat, menepuk-nepuk,
dan membuka bungkus bayi. Bayi baru lahir harus diberikan makan setiap dua dampai tiga
jam dengan total 8 sampai 12 kali dalam 24 jam selama sekurangnya satu bulan.Kadang
timbul nyeri apabila posisi menyusui bayi tidak benar. ASI yang menetes keluar dan
membasahi puting akan mengurangi rasa nyeri. Memeras beberapa tetes susu untuk
membasahi puting akan mempermudah bayi menyusu dengan baik.

 Respons bayi
Bayi hanya makan sebanyak yang mereka butuhkan, tidak lebih. Menyusui tiap kali
bayi lapar mudah dilakukan karena ASI selalu siap diberikan. Semakin sering bayi menyusu,
lebih banyak ASI diproduksi. Oleh karena itu, jika bayi ingin meningkatkan suplai ASI
selama masa pertumbuhan yang cepat, ia harus menyusu lebih sering.
Feses bayi yang menyusu tidak padat. Beberpa bayi akan defekasi tiap kali diberi
makan. Saat diberi ASI, ketika bayi usianya meningkat, mungkin saja tidak defekasi selama
satu minggu. Namun pada bayi baru lahir harus buang air besar setidaknya satu kali sehari.
C B A
Perubahan dari mekonium hitam dan lengket menjadi feses lunak berwarna kuning
menandakan bayi mencerna ASI. Bayi yang hanya menyusu ASI tidak akan mengalami
konstipasi walaupun mereka mungkin perlu mengedan saat defekasi. Feses tidak memiliki
baud an tidak mengiritasi kulit.

 Mengeluarkan dan menyimpan ASI
Mengeluarkan ASI akan memberi kelegaan dan melunakkan payudara sehingga bayi
dapat mnyusu. Keadaan lain seperti ibu yang harus kembali bekerja membuat ibu dapat
memompa payudara saat tidak bersama bayinya. ASI dapat dikeluarkan dengan tangan
(manual) (Gambar 7) atau dengan pompa payudara.
Air susu yang dihasilkan dapat diberikan kepada bayi dengan memakai botol atau
disimpan atau dibekukan di dalam lemari es. Jika susu harus dibawa dalam perjalanan, maka
susu harus diusahakan tetap dingin. ASI dapat disimpan di lemari es selama 24 sampai 48
jam. Apabila tidak dipakai dalam 48 jam maka air susu ini harus dibekukan selama 6 bulan.
Untuk mencairkannya, tabung tempat penyimpanan harus ditempatkan di dalam air kran yang
hangat. Dan apabila sudah dicairkan, ASI harus segera dipakai. ASI tersebut tidak boleh
dibekukan ulang. Jangan pula mencairkan ASI dengan menggunakan microwave karena
dapat meimbulkan titik panas yang dapat menyebabkan mulut dan tenggorokan bayi terbakar
panas.


Gambar 7. Mengeluarkan ASI secana manual. A, mulai dengan ibu jari di atas aerola dan jari-
jari lain di bawahnya. B, tekan ke arah dada. C, peras ASI dari sinus laktiferus dengan
menekan payudara sambil ibu jari dan jari-jari lain mengurut kea rah depan. D, putar tangan
seperempat putaran lingkaran payudara dan ulangi langkah-langkah dengan gerakan berirama
sampai ASI mulai mengalir keluar. Upayakan supaya jari-jari tidak menutupi aerola atau
putting susu.
 Kontaminan dalam ASI
Senyawa bukan nutrient memasuki ASI dari aliran darah ibu. Senyawa tersebut
meliputi polutan lingkungan, nikotin, metadon, mariyuana, kafein dan alcohol, Distribusi
suatu senyawa melewati membrane plasma dan susu dipengruhi oleh kelarutan dalam lemak,
derajat ionisasinya, kemampuan ikatan proteinya dan transport akti vs pasif.

 Pengaruh menstruasi
Ibu yang sedang menstrusi tetap dapat memberikan ASI karean kualitas dan uantitas
ASI tidak terpengaruh. Meskipun beberapa bayi tidak suka mennyusu pada hari pertama.

III. PENGKAJIAN PERIODE POSTPARTUM
Frekuensi pemeriksaan postpartum sesuai prosedur tetap (Bobak, 2004/1995) adalah
sebagai berikut :
- Satu jam pertama : tiap 15 menit
- Dua jam selanjutnya : tiap 30 menit
- 24 jam pertama : tiap 4 jam
- Setelah 24 jam : tiap 8 jam

Tabel Perubahan Postpartum : Hari Pertama Sampai Hari Ketiga (Bobak, 2004/1995)
Pengkajian Hari Pertama
(2 sampai 24 jam)
Hari Kedua
(25 sampai 48 jam)
Hari Ketiga
(49 sampai 72 jam)
1. Suhu





36,2
o
C
38
o
C




Dalam rentang
normal (24 jam post
partum suhu badan
akan naik sedikit
(37,5⁰C - 38⁰C)
sebagai akibat kerja
Dalam rentang
normal (Pada hari
ketiga suhu badan
akan naik lagi
karena ada
pembentukan ASI).





2. Nadi



3. Tekanan Darah











4. Tingkat Energi





5. Rahim


6. Lokia







Bradikardi : 50-70
denyut/menit.


Dalam rentang
normal (tekanan
darah akan rendah
setelah ibu
melahirkan karena
ada perdarahan.
Tekanan darah
tinggi pada
postpartum dapat
menandakan
terjadinya preklamsi
postpartum).
Euforia, senang,
sangat senang atau
letih, dapat
memperlihatkan
kebutuhan untuk
tidur.
Setinggi
umbilikus/sedikit
dibawahnya, padat.
Rubra, moderat,
sedikit bekuan, jika
tercium bau seperti
keras waktu
melahirkan,
kehilangan cairan
dan kelelahan).
(Saleha,2009)
Bradikardi bisa
menetap atau
kembali ke nilai
normal.
Dalam rentang
normal.










Sering lelah, gerakan
lambat.




1 cm atau lebih
dibawah umbilikus,
padat.
Rubra sampai
serosa, moderat
sampai sedikit, bau
(Saleha, 2009)




Bradikardi bisa
menetap atau
kembali ke nilai
normal.
Dalam rentang
normal.










Sangat ingin pulang,
tingkat energi
kembali ke normal.



2 cm atau lebih
dibawah umbilikus,
padat.
Rubra sampai
serosa, sedikit, bau
tetap sama.


7. Perineum



8. Tungkai



9. Payudara








10. Nafsu makan





11. Eliminasi
- Berkemih

- Defekasi


12. Rasa Tidak
Nyaman
cairan menstruasi
normal.
Edema, bersih,
sembuh, utuh, tepi
episiotomi menutup
dengan baik.
Edema pretibial atau
di telapak kaki
(pedal), tanda
Homan negatif.
Tetap lunak jika
dipalpasi, kolostrum
dapat dikeluarkan.






Sangat baik, dapat
minta tambah,
makaanan ringan.




Mencapai 3000 ml.

Biasanya tidak,
menggunakan
pelunak tinja.
Rasa sakit yang
menyeluruh, di
tetap seperti daging
atau tidak ada bau.
Edema berkurang,
bersih, menyembuh.


Edema berkurang,
tanda Homan
negatif.

Mulai terasa lebih
padat, kadang-
kadang terasa besar.






Biasanya tetap
sangat baik.





Banyak.

Biasanya tidak,
menggunakan
pelunak tinja.
Sakit otot, di daerah
perineum,


Edema sedikit atau
hilang, bersih,
menyembuh.

Edema minimal atau
tidak ada, tanda
Homan negatif.

Vaskularisasi
meningkat dan mulai
membengkak, terasa
padat dan lebih
hangat saat disentuh,
susu diharapkan
keluar dua sampai
empat hari bayi
lahir.
Bervariasi, nafsu
makan dapat
kembali normal atau
berkurang (terutama
jika klien
konstipasi).

Jumlah dalam 24
jam menurun.
Biasanya melakukan
defekasi.

Kemungkinan sakit
kepala, di daerah
daerah perineum,
hemoroid, nyeri
pasca melahirkan.
episiotomi,
hemoroid.
perineum : biasanya
berkurang, payudara,
puting.

IV. PENGKAJIAN KASUS (HARI PERTAMA)
Seorang perempuan, umur 24 tahun, melahirkan anak pertamanya 5 jam yang lalu. Ia
terlihat pucat, kelelahan, menahan nyeri, dan malas bicara dengan orang lain. Dari hasil
pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 76 x/menit,
pernapasan 20 x/menit, suhu 38˚C. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva
mata agak pucat, payudara belum memproduksi ASI, fundus uteri 1 jari di atas pusat dengan
posisi sedikit ke kanan, kontraksi (+), lochia merah gelap disertai gumpalan-gumpalan. Bayi
klien tidur pulas di box bayi disamping tempat tidur ibunya. Sejak melahirkan bayinya, klien
belum beranjak dari tempat tidurnya, ia belum buang air kecil dan belum menyentuh
bayinya. Ia mengeluh mulas dan nyeri di daerah perineumnya.

Anamnesis
Pengkajian Analisis Data
1. Data klien (nama klien, umur,
pendidikan, pekerjaan, suku, agama,
alamat, dll).
2. Keluhan utama (apa yang dirasakan
klien setelah melahirkan).
3. Riwayat obstetri
- Riwayat kehamilan (berapa kali
pemeriksaan ANC, hasil lab : USG,
darah, urine, dll).
- Riwayat persalinan (dahulu dan saat
ini)
4. Riwayat nifas pada persalinan yang lalu
5. Riwayat bayi baru lahir (apakah bayi
lahir dengan spontan, induksi atau
tindakan khusus, kondisi bayi saat lahir
menangis atau tidak menangis, apakah
Nama klien : Ny. X
Umur : 24 tahun

Mengeluh mulas dan nyeri di daerah
perineum.
-





Klien baru melahirkan anak pertama.

-


membutuhkan resusitasi, nilai APGAR
skor, jenis kelamin, BB, TB, dll).
6. Riwayat penyakit dahulu
7. Riwayat kesehatan keluarga
8. Riwayat psikososial-kultural
9. Konsep diri
10. Peran (pengetahuan ibu dan keluarga
tentang peran menjadi orang tua,
keterampilan melakukan perawatan diri
sendiri dan kemampuan melakukan
perawatan bayi)




-
-
-
-
-

Pemeriksaan Fisik
Pengkajian Hari Pertama Analisis Data
1. Keadaan umum klien dan bayinya.




2. Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi,
pernapasan dan suhu).


3. Tingkat energi.
4. Kepala :
- Wajah
- Rambut
- Mata
- Hidung
- Mulut
5. Rahim.

6. Kontraksi.
- Kelelahan, menahan nyeri,
- Sejak melahirkan, klien belum beranjak
dari tempat tidur dan belum menyentuh
bayinya.
- Bayi klien tidur pulas di box bayi
- TD : 120/80 mmHg
- Nadi 76 x/menit
- Pernapasan 20 x/menit
- Suhu 38˚C
Terlihat kelelahan.

Terlihat pucat.
-
Konjungtiva mata agak pucat.
-
Klien malas berbicara dengan orang lain.
Fundus uteri 1 jari di atas pusat dengan
posisi sedikit ke kanan.
Positif.
7. Lokia.

8. Perineum.
9. Tungkai.
10. Payudara.
11. Nafsu makan.
12. Eliminasi.
13. Rasa tidak nyaman.
Berwarna merah gelap disertai gumpalan-
gumpalan.
Adanya rasa nyeri.
-
Belum memproduksi ASI.
-
Belum buang air kecil.
Adanya rasa mulas dan nyeri didaerah
perineum.

Pemeriksaan Diagnostik
Beberapa uji laboratorium, bisa segera dilakukan pada periode postpartum. Nilai
hemoglobin dan hematokrit sering dibutuhkan pada hari pertama postpartum. Tujuan dari
pemeriksaan diagnostik tersebut adalah untuk mengkaji kehilangan darah pada saat
melahirkan.

V. ASUHAN KEPERAWATAN KASUS (HARI PERTAMA)

A. Diagnosis1 : Nyeri akut berhubungan dengan trauma pada perineum
Data Subjektif dan Data Objelktif Diagnosis Keperawatan
Data Objektif:
 Ia terlihat menahan nyeri
 TD: 120/80 mmHg
 Nadi 76x/menit
 Suhu 38˚C
Data Subjektif:
 Ia mengeluh mulas dan nyeri di daerah
perineumnya
 Sejak melahirkan bayinya, klien belum
Nyeri berhubungan dengan
trauma pada perineum
beranjak dari tempat tidurnya
Data tambahan yang dibutuhkan:
 Pengkajian nyeri menggunakan PQRST
a. Precipitate
b. Quality
c. Region
d. Severity
e. Time
Untuk memastikan lokasi dan luas penyebaran
nyeri, perawat bias melakuakan inspeksi dan
palpasi di daerah nyeri, memperhatikan kemerahan,
pembemkangkan, adanya cairan dan panas, dan
observasi posisi tubuh, gerakan, dan ekspresi
wajah.

Definisi: pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan
jaringan yang actual dan potensial.
Tujuan:
1. Mengeliminasi sensasi nyeri secara keseluruhan atau mneguranginya sampai pada
tingkat yang dapat diterima ibu, sehingga ia dapat merawat dirinya dan bayinya.
2. Ibu mengungkapkan bahwa nyeri di daerah perineumnya berkurang
3. Ibu dapat menyebutkan dan mendemonstrasikan penegertian yang bear tentang teknik
perawatan perineum secara mandiri


Intervensi Rasional
Mandiri:
Bina hubungan saling percaya dengan ibu dan
keluraga

Diharapkan ibu dan keluarga
kooperatif dalam setiap tindakan
yang akan dilakuakn.
Ajarkan pada ibu teknik relaksasi dengan nafas
dalam
Nafas dalam dapat membuat otot-
otot abdomen rileks, sehingga nyeri
berkurang
Menjelaskan dan mendemonstrasikan: prosedur
kompres panas atau dingin pada daerah perineum
Pengetahua meningkatkan
kemandirian dalam merawat tubuh.
Kompres dapat mengurangi nteri:
Panas meningkatkan sirkulasi,
dingin mengurangi edema.
Berikan posisi yang nyaman: duduk dan berbaring
miring di salah satu sisi melalui otot gluteus
Mengurangi tekanan pada daerah
tersebut
Ajarkan pada ibu cara membersihkan perineum:
mengusap dengan cara yang benar, mengganti dan
meletakkan pembalut dengan benar.
1. Bersihka perineum dengan sabun ringan dan
air hangat minimal sekali sehari.
2. Bersihkan dari simfisis pubus sampai daerah
anus
3. Gunakan pembalut dari bagian depa ke
belakang untuk melindungi permukaan dalam
pembalut dari kontamiasi
4. Bungkus pembalut yang kotor dan buang ke
dalam tempat sampah tertutup
5. Ingatkan ibu untuk mengganti pembalut
Mencegah kontaminasi dan infeksi
yang dapat menimbulkan nyeri
(membuat nyeri lebih parah)
setiap kali ibu buang air kecil atau defekasi
atau setidaknya empat kali sehari.
6. Cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti
pembalut.
7. Kaji jumlah dan tanda lokia pada saat
penggantian pembalut.
Berikan waktu ibu untuk berinteraksi dengan
bayinya
Distraksi nyeri dengan melakukan
interaksi dengan bayi dapat
mengurangi nyeri.
Pantau tanda-tanda vital ibu setiap 4 jam. Untuk mengetahuai kondisi dan
keadaan ibu
Kolaborasi:
Pemakaian analgesik

Menggunakan agen-agen
farmakologi untuk mengurangi atau
menghilangkan nyeri.

Evaluasi :
1. Ibu melaporkan bahwa nyeri hilang atau tingkat nyeri berkurang
2. Ibu mengatakan bahwa perineumnya terasa lebih nyaman
3. Ibu memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai
kenyamanan
4. Ibu melakukan perawatan perineum secara mandiri dengan menggunakan teknik yang
benar dan pada waktu yang tepat.



B. Diagnosis 2 : Gangguan Eliminasi Urin (Retensi Urin) berhubungan dengan
Nyeri Setelah Melahirkan dan Trauma Pada Jalan Lahir
Data Subjektif dan Data Objelktif Diagnosis Keperawatan
Data Objektif:
- Klien belum buang air kecil semenjak
melahirkan bayinya
- Fundus uteri klien berada pada 1 jari di atas
pusat dengan posisi sedikit ke kanan
Data Subjektif:
- klien mengeluh nyeri di daerah perineumnya
Data tambahan yang dibutuhkan:
- Klien tidak memperkirakan kapan akan
berkemih
- Klien merasa tidak nyaman ketika berkemih
Gangguan eliminasi urin (retensi
urin) berhubungan dengan nyeri
setelah melahirkan dan trauma pada
jalan lahir

Tujuan:
1. Klien dapat melakukan melakukan pengosongan kandung kemih dengan segera
2. Kien memiliki kesimbangan asupan dan haluaran 24 jam
3. Klien dapat melakukan eliminasi urin dengan normal

Intervensi Rasional
Kaji pola berkemih Untuk mengetahui bagaimana pola berkemih
sebelumnya
Mempalpasi kandung kemih di atas simfisis
pubis dan lakukan observasi untuk
mendeteksi adanya distensi
Retensi urin merupakan efek samping blok
epidural. Klien mungkin tidak memahami
pentingnya mengerluarkan urin dan tidak
dapat mengeluarkan urin secara spontan
Pantau asupan dan haluaran klien Untuk memastikan asupan dan keluaran klien
seimbang
Menganjurkan untuk sering berkemih.
Pasang kateter bila perlu
Meningkatkan kemungkinan trauma kandung
kemih, terutama saat melahirkan.
Mengakibatkan penurunan tonus kandung
kemih setelah melahirkan.
Membantu pasien dengan bladder training
setiap 3 jam jika dia tidak bisa buang air
kecil secara spontan dan bladder nya benar-
benar kosong
Distensi bladder yang melemah karena
melahirkan.
Agar bladder dapat berfungsi seperti semula.
Memberikan rangsangan seperti bunyi air
mengalir, merendam tangannya di dalam air
hangat, atau memercikkan air dari botol ke
perineum klien
Agar klien dapat teransang atau memicu
untuk berkemih

Evaluasi:
1. Klien dapat mengidentifikasi keinginan berkemih
2. Klien dapat melakukan pengosongan kandung kemih secara spontan dan sesegera
mungkin
3. Klien dapat mengosongkan kandung kemih secara tuntas
4. Fundus uteri klien berada pada posisi yang normal (tidak miring ke kiri atau ke kanan)

C. Diagnosis 3 : Kelelahanan berhubungan dengan Proses Persalinan
Data objektif dan Subjektif Diagnosis Keperawatan
Data Objektif :
- klien terlihat pucat
- klien terlihat kelelahan
- klien terlihat menahan nyeri
- klien malas bicara dengan orang lain
- konjungtiva pucat
- klien belum beranjak dari tempat tidur
- kontraksi +
Data Subjektif :
- tidak dicantumkan
Data Penunjang yang dibutuhkan :
Kelelahanan berhubungan dengan
Proses Persalinan
- Konjungtiva sedikit pucat pasca partum
- Peningkatan metabolisme karbohidrat karena
adanya peningkatan kebutuhan energy saat
persalinan
- Mengantuk
- Lesu
- Mengatakan kurang energy yang tidak kunjung
reda
- Mengatakan tidak mampu mempertahankan
rutinitas yang biasanya
- Mengatakan tidak mampu memulihkan energy
sekalipun setelah tidur
- Gangguan konsentrasi
- Penurunan performa (NANDA, 2012)


Tujuan :
1. Dalam perawatan 2x24 jam klien menunjukkan kondisi fisik yang bugar, tidak lemas
lagi.
Intervensi Rasional
- Kaji respon klien terhadap aktivitas, misalnya
dengan cara mengukur tanda tanda vital klien

- Anjurkan ibu untuk istirahat (mengurangi
aktivitas) selama 1x24 jam – 2x24 jam agar
kondisi fisiknya memulih

- Memantau asupan gizi klien untuk sumber
energi yang memadai untuk pemulihan
kondisinya.
- Dorong pasien untuk mengidentifikasi tugas-
tugas yang dapat didelegasikan kepada orang
- Pengkajian bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana
kemampuan aktivitas ibu.

- Aktivitas yang minimal membantu
pemulihan keletihan pada klien

- Klien akan membutuhkan asupan
nutrisi untuk menyediakan sumber
energi.

- Mendelegasikan tugas dan
lain..

- Berikan edukasi tentang penyebab keletihan
pada persalinan dan aktivitas yang boleh
dilakukan
tanggung jawab kepada orang lain
dapat membantu menghemat
energi klien

- Edukasi bermanfaat untuk
menambah pengetahuan klien
mengenai pemulihan pada
keletihan.

Evaluasi :
1. Klien dapat melakukan aktivitas ringan sampai sedang seperti menyusui, mengganti
popok bayi, dsb

D. Diagnosa 4 : Risiko tinggi defisit cairan yang berhubungan dengan atoni uteri
Data Objektif dan Subjektif Diagnosa Keperawatan
Data Objektif
- Klien terlihat pucat, kelelahan
- Konjunctiva mata agak pucat
- Lochia merah gelap disertai gumpalan-
gumpalan
- Fundus uteri 1 jari di atas pusat dengan
posisi sedikit ke kanan (perpindahan posisi
terjadi karena kandung kemih penuh)
- Klien belum buang air kecil semenjak
melahirkan
Data Subjektif
- Tidak dicantumkan



Risiko tinggi defisit cairan yang
berhubungan dengan atoni uteri




Tujuan :
1. Fundus klien akan tetap keras
2. Lokia moderat tanpa ada bukti pendarahan
Intervensi Rasional
- Mengkaji tonus dan respon terhadap
pijatan yang dilakukan perlahan
- Mengeluarkan bekuan darah


- Mengkaji kandung kemih untuk melihat
apakah kandung kemih penuh dan
menganjurkan ibu berkemih.



- Mengkaji jumlah dan karakter lochia


- Mengkaji tanda-tanda vital

- Mengajari klien cara mengkaji dan
menijat fundus



- Pijatan merangsang kontraksi uterus

- Kandung kemih yang penuh dapat
menggeser rahim ke atas umbilikus dan
ke salah satu sisi abdomen.

- Perawat membantu ibu ke kamar kecil
atau berkemih di bedpan jika tidak
mampu berjalan. Selain itu, perawat
dapat membantu ibu mandi atau
melakukan sitz bath dan menganjurkan
ibu berkemih.

- Untuk memperkirakan kehilangan darah
pasca partum

- Sebagai tanda untuk melihat seberapa
besar jumlah darah yang hilang

- Pijatan lembut pada bagian fundus rahim
dapat menstimulasi tonus rahim yang
baik. Pijatan pada fundus dapat
menyebabkan perdarahan vagina
meningkat untuk sementara yang terlihat
sebagai bekuan darah yang keluar dari
rahim.


Evaluasi :
1. Fundus klien keras di garis tengah
2. Jumlah lokia rubra moderat
3. Tanda tanda vital normal dan stabil
4. Klien mampu mendemonstrasikan kemampuan mengkaji dan memasase uterus

VI. PENGKAJIAN KASUS (HARI KEDUA)
Pada hari kedua postpartum, perawat melakukan kunjungan ke rumah klien. Klien
mengeluh nyeri pada payudaranya terutama saat disentuh. Bayi klien tidak mau mengisap
ASI. Klien dan suaminya terlihat bingung karena bayinya tidak berhenti menangis. Dari hasil
pemeriksaan fisik terlihat payudara besar dan tegang, payudara teraba keras dan hangat,
serta mengeluarkan ASI saat pijat. Tinggi fundus uteri 3 jari di bawah pusat, lochia
berwarna merah. Klien mengatakan bahwa ia belum BAB sejak melahirkan bayinya.

Pemeriksaan Fisik Berkelanjutan
Pengkajian Hari Kedua Analisis Data
1. Keadaan umum klien dan bayinya.


2. Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi,
pernapasan dan suhu).
3. Tingkat energi.
4. Kepala :
- Wajah
- Rambut
- Mata
- Hidung
- Mulut
5. Rahim.
6. Kontraksi.
7. Lokia.
8. Perineum.
9. Tungkai.
- Bayi klien tidak mau mengisap ASI.
- Klien dan suaminya terlihat bingung
karena bayinya tidak berhenti menangis
-

-

-
-
-
-
-
Tinggi fundus uteri 3 jari di bawah pusat.
-
Berwarna merah.
-
-
10. Payudara.


11. Nafsu makan.
12. Eliminasi.

13. Rasa tidak nyaman.
- Payudara besar dan tegang
- Payudara teraba keras dan hangat
- Mengeluarkan ASI saat pijat
-
Belum buang air besar (BAB) sejak
melahirkan bayinya.
Adanya rasa nyeri di payudara terutama saat
disentuh.

VII. ASUHAN KEPERAWATAN KASUS (HARI KEDUA)

A. Diagnosis 1 : Ketidakefektifan pemberian ASI berhubngan dengan kurangnya
pengetahuan
Data Subjektif dan Data Objektif Diagnosis Keperawatan
Data Objektif:
- Payudara terlihat besar dan tegang
- Payudara teraba keras dan hangat
- Payudara mampu mengeluarkan ASI saat
dipijat
Data Subjektif:
- Klien dan suaminya bingung karena bayi nya
tidak berhenti menangis
Data tambahan yang dibutuhkan :
- Klien baru pertama kali melahirkan sehingga
belum mengerti cara pemberian ASI yang
efektif
- Klien belum berpengalaman menyusui
- Klien belum pernah mengikuti konseling
laktasi
Ketidakefektifan pemberian ASI b.d
kurangnya pengetahuan

Definisi: Ketidakpuasan atau kesulitan ibu, bayi atau anak dalam proses pemberian ASI.
Tujuan:
1. Ibu dan bayi akan mengalami keefektifan pemberian ASI yang ditunjukkan oleh
pengetahuan pemberian ASI, dan kemantapan pemberian ASI
2. Bayi akan menunjukkan kemantapan pemberian ASI yang dibuktikan oleh indikator
sebagai berikut:
o Kesejajaran dan latch on yang benar
o Mencengkeram dan mengompresi aerola dengan tepat
o Menghisap dan menempatkan lidah bayi dengan benar
o Suara menelan yang dapat didengar
o Minimal menyusu delapan kali sehari (sesuai permintaan)
o Kepuasan bayi setelah menyusu
o Kenaikan berat badan sesuai usia
Intervensi Rasional
Mandiri:
- Mengkaji pengetahuan dan pengalaman ibu dalam
pemberian ASI
- Mengkaji kemampuan bayi untuk latch on dan
menghisap secara efektif
- Mengkaji pada periode awal prenatal untuk adanya
faktor resiko ketidakefektifan pemberian ASI
(misalnya: status sosioekonomi yang rendah,
putting susu inversi)
- Mengkaji ketidaknyamanan (seperti putting lecet,
kongesti payudara)
- Mengkaji konseling laktasi dengan cara:
o Mengevaluasi pola menghisap/menelan bayi
o Menentukan keinginan dan motivasi ibu
menyusui
o Mengevaluasi pemahaman ibu tentang isyarat
menyusui

Pengetahuan yang cukup terkait
pemberian ASI dapat meningkatkan
keefektifan pemberian ASI.
Kemampuan bayi untuk latch on
mempengaruhi pemberian ASI
Ketidakefektifan pemberian ASI
dapat dicegah dengan mendeteksi
dini penyebab ketidakefektifan
pemberian ASI.
Rasa tidak nyaman dalam
pemberian ASI dalam
mempengaruhi proses pemberian
ASI
Konseling laktasi dapat mendukung
Intervensi Rasional
o Memantau keterampilan ibu dalam
menempelkan bayi ke putting
o Memantau integritas kulit puting
o Mengevaluasi pemahaman tentang sumbatan
kelenjar susu dan mastitis
o Memantau kemampuan untuk mengurangi
kongesti payudara dengan benar
- Membantu ibu dalam pemberian ASI: Intruksikan
ibu dalam teknik menyusui yang meningkatkan
keterampilan dalam menyusui bayinya
- memberikan konseling laktasi dengan menggunakan
bantuan interaktif untuk membantu
mempertahankan keberhasilan menyusui:
- menyediakan informasi tentang keuntungan dan
kerugian pemberian ASI
- Mendiskusikan metode alternatif pemberian makan
bayi
- Memperbaiki salah konsepsi, salah informasi, dan
ketidakakuratan tentang pemberian ASI
- Merekomendasikan perawatan payudara, jika perlu
- Mengintruksikan ibu tentang kebutuhan untuk
istirahat yang adekuat dan asupan cairan
Kolaborasi:
- Merujuk ibu ke sumber-sumber di komunitas yang
sesuai.
pemberian ASI efektif.













Pengetahuan yang cukup dapat
meningkatkan proses pemberian
ASI
Komunitas dapat memberikan
pengaruh banyak terkait
pengetahuan ibu.



Evaluasi:
1. Kemantapan pemberian ASI: Bayi: perlekatan bayi yang sesuai pada dan proses
menghisap dari payudara ibu untuk memperoleh nutrisi selama 3 minggu pertama
pemberian asi
2. Kemantapan pemberian ASI: Ibu: kemantapan ibu untuk membuat bayi melekat
dengan tepat dan menyusu dari payudara ibu untuk memperoleh nutrisi selama 3
minggu pertama pemberian ASI
3. Pemeliharaan pemberian ASI: Keberlangsungan pemberian ASI untuk menyediakan
nutrisi bagi bayi
4. Pengetahuan: pemberian ASI: tingkat pemahaman yang ditunjukkan mengenai laktasi
dan pemberian makan bayi melalui proses pemberian ASI.

B. Diagnosis 2 : Nyeri Akut berhubungandengan Pembengkakan Payudara
Data Objektif dan Subjektif Diagnosis Keperawatan
Data Objektif:
- Payudara ibu besar dan tegang.
- Payudara teraba keras dan hangat, serta
mengeluarkan ASI saat pijat
- Bayi klien tidak mau mengisap ASI.
Data Subjektif:
- Klien mengeluh nyeri pada payudaranya
terutama saat disentuh
Data tambahan yang dibutuhkan:
- Skala nyeri yang klien rasakan
Nyeri akut berhubungan dengan
pembengkakan payudara
(Bobak, Lowdermilk, Jensen, 1995,
2005)

Tujuan:
1. Klien dapat menyusui dengan efektif
2. Klien dapat mengurangi atau menghilangkan nyeri pada payudara

Intervensi Rasional
Menyusui sesering mungkin Pengisapan bayi akan merangsang pelepasan
oksitosin yang menimbulkan kontraksi serat
otot periasinar payudara sehingga
menyebabkan pengeluaran ASI ke sinus-
sinus pengumpul utama yang bertemu di
puting susu.
Menyusui setiap 2-3 jam sekali secara teratur
tanpa makanan tambahan
Pola menyusui yang teratur dapat mengatur
pengeluaran dan pengisian ASI yang baik
Gunakan kedua payudara saat menyusui Agar tidak terjadi penyisian payudara yang
berlebihan hanya pada satu sisi payudara.
Gunakan air hangat pada payudara, dengan
menempelkan kain atau handuk yang hangat
pada payudara
Air hangat dapat membantu melancarkan
ASI
Jika ada pembengkakan pada areola atau jika
payudara masih terasa penuh setelah
menyusui, lakukan pengeluaran ASI secara
manual
Pengeluaran ASI secara manual dapat
membantu mengurangi pembengkakan ASI
Gunakan bra yang kuat untuk menyangga
payudara, pastikan bahwa bra tidak menekan
payudara
Bra yang tidak menekan payudara tidak akan
menggesek puting susu yang sedang terasa
nyeri.
Lakukan kompres dingin pada payudara di
antara waktu menyusui untuk mengurangi
nyeri (sekitar 20 menit sekali)
Kompres dingin dapat meringankan
pembengkakan.
Minum parasetamol atau asetaminofen untuk mengurangi rasa nyeri yang berlebihan
Ajarkan posisi menyusui ibu dan bayi yang
benar
Posisi menyusui yang benar dapat membantu
bayi mendapatkan ASI sehingga dapat
mengurangi nyeri

Evaluasi:
1. Nyeri pada klien berkurang atau hilang
2. Klien tidak lagi mengeluh nyeri, ekspresi wajah tenang.
3. Klien dapat memberikan ASI



DAFTAR PUSTAKA
BabyCentre Medical Advisory Board. (2012) Breast pain. 14 Oktober 2014.
http://www.babycentre.co.uk/a8489/breast-pain
BabyMed. (2014). Breast engorgement after delivery postpartum. 14 Oktober 2014.
http://www.babymed.com/body-changes/breast-engorgement-after-delivery-
postpartum
Bahiyatun. (2009). Buku ajar asuhan kebidanan nifas normal. Jakarta: EGC.
Benson, R. C., Pernoll, M. L. (1994, 2009). Buku saku obstetrik & ginekologi (Ed. 9) (Susiani
Wijaya, Penerjemah). Jakarta: EGC.
Bobak, I. M., Lowermilk, D. L., Jensen, M. D. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas
Ed. 4. (Maria A. W. & Peter I. A.). Jakarta: EGC.
Bobak, Irene M. & Lowdermilk. (2004). Buku ajar keperawatan maternitas. Ed. 4. Alih
bahasa Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugerah; editor edisi bahasa Indonesia Renata
Komalasari. Jakarta: EGC.
Carpenito, L.J. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi pada Praktik Klinis. Edisi ke-9.
(Kusrini Semarwati K, penerj.). Jakarta: EGC
Cunningham, F., Leveno, K., Bloom, S., Hauth, J., Rouse, D., & Spong, C. (2010). Williams
obstetrics (23rd ed.). USA: McGraw-Hill Medical.
Doengoes, Marilynn E dkk. 2010. Nursing Care Plan guidelines for individualizing client
care across the life span. Philadelpia : F.A Davis Company
Hamilton, P.M. (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas Ed. 6 (Ni Luh Gede Yasmin
Asih, Penerjemah). Jakarta: EGC.
Herdman, T.H. NANDA International Nursing Diagnoses: Definition & Clasification, 2012-
2014. Oxford: Willey-Blackwell.
Judith M.Walkinson & Nancy R. Ahern. 2012. Buku saku diagnosis keperawatan: diagnosis
NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Diterjemahkan oleh: Esty Wahyuningsih
& Dwi Widiarti. Jakarta: Penerbit EGC.
NANDA International. (2012). Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.
(alih bahasa: Made Sumarwati dan Nike Budhi Subekti). Jakarta: EGC
Novita, Regina VT. (2011). Keperawatan Maternitas. Bogor: Ghalia Indonesia
Ricci, S. (2007). Essentials of maternity, newborn, and women's health nursing. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Wilkinson, J. M. & Ahern, N. R. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC Ed. 9 (Esty Wahyuningsih, Penerjemah).
Jakarta: EGC
Wilkinson, J.M., Ahern, N. R. (2009). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed. 9. Alih bahasa
Esty Wahyuningsih; editor edisi bahasa Indonesia Dwi Widiarti. Jakarta: EGC.
Wilkinson, J.M., Ahern, N.A.( 2011). Buku saku diagnosis keperawatan: diagnosis NANDA,
intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi ke-9. (Esty Wahyuningsih, alih bahasa).
Jakarta: EGC