You are on page 1of 76

KAMERA DIGITAL

Kamera digital adalah alat untuk membuat gambar dari obyek untuk
selanjutnya dibiaskan melalui lensa pada sensor CCD dan akhir-akhir ini
pada sensor BSI-CMOS (Back Side Illuminated) sensor yang lebih irit daya
untuk kamera yang lebih canggih yang hasilnya kemudian direkam dalam
format digital ke dalam media simpan digital.
Kemudahan dari kamera digital adalah hasil gambar yang dengan cepat
diketahui hasilnya secara instan dan kemudahan memindahkan hasil
(transfer). Beberapa kamera digital, terutama DSLR dan high-end cameras
dilengkapi fasilitas RAW yang dapat ditindaklanjuti di komputer
mengunakan perangkat lunak tertentu untuk hasil terbaik, tetapi pada saat
ini fasilitas Auto Mode telah menghasilkan gambar yang baik dalam format
JPEG.

KOMPONEN KAMERA DIGITAL
Sensor kamera

Sensor kamera adalah sensor
penangkap gambar yang dikenal juga
sebagai CCD (Charged Coupled
Device) dan CMOS (Complementary
Metal Oxide Semiconductor) dan yang
terbaru BSI-CMOS (Back Side
Illumination CMOS) yang terdiri dari
jutaan piksel (MP-mega pixel) lebih.
Pada tahun 2013, hampir semua
kamera telah menggunakan BSI-CMOS
yang lebih irit daya , tetapi dapat menghasilkan gambar yang lebih baik.
Sensor ini berbentuk chip yang terletak tepat di belakang lensa. Semakin
banyak pixel yang ditangkap, semakin memungkinkan pencetakan gambar
besar dengan detail gambar yang cukup (dibatasi kapasitas kertas cetak
foto yang biasanya 300dpi (dot per inch), sedangkan menggunakan printer
dapat dihasilkan dpi yang lebih tinggi). Untuk menghasilkan foto seukuran
postcard dengan 300dpi cukup menggunakan kamera 3MP. Kualitas foto
sama sekali tidak ditentukan oleh besarnya MP, tetapi oleh kualitas sensor,
prosesor kamera dan yang terakhir baru lensa, berbeda dengan kamera
film dimana kualitas lensa lebih menentukan. Untuk mengetahui kualitas
sensor kamera dapat dilihat
pada https://en.wikipedia.org/wiki/DxO_Labs atau langsung pada
sumbernya http://www.dxomark.com/Cameras/Ratings
[1]


Layar LCD
Layar LCD (LCD display) adalah layar pada belakang kamera digital yang
bermanfaat untuk melihat setting kamera dan seperti apa bidikan yang
akan ditangkap oleh sensor kamera.
Layar LCD juga bisa membantu untuk melihat hasil foto secara instan
setelah gambar diambil, sehingga fotografer dapat memutuskan untuk
melakukan pengambilan gambar lagi atau tidak.
Beberapa kamera tidak memiliki Jendela Intip (Viewfinder) dan hanya
mengandalkan Layar LCD untuk membidik yang disebut Live View.
Bagaimanapun membidik dengan Viewfinder lebih stabil dari guncangan.
Beberapa kamera lainnya memiliki keduanya, Jendela Intip dan Layar LCD
dimana yang paling canggih adalah Layar OLED yang tetap tajam di
bawah sinar matahari. Untuk menghemat energi/baterai pada kamera yang
canggih terdapat eye sensor pada Jendela Intip yang akan menghidupkan
Jendela Intip Elektronik dan mematikan Layar LCD, jika mata mendekat ke
Jendela Intip, sebaliknya akan terjadi jika mata menjauh dari Jendela Intip.

Media penyimpanan[
Tidak semua kamera memiliki memory internal, sehingga harus
menggunakan media penyimpanan luar. Media ini dapat berupa compact
flash, memory stick, dan sebagainya. Pada umumnya media penyimpanan
memiliki kapasitas penyimpanan gambar dalam jumlah besar sesuai
dengan kapasitas memori yang dimiliki. Sekarang ini yang banyak dipakai
adalah secure digital card.

Jenis kamera digital
Pada dasarnya kamera digital dapat dikategorikan dalam 3 jenis:
 Kamera saku digital (digital pocket camera)
 Kamera prosumer (digital bridge camera), termasuk Kamera Lepas
lensa non-DSLR (Mirrorless Interchangeable Lens Camera - MILC)
 Kamera digital SLR (Digital Single Lens Reflect (SLR) Camera)

Kamera saku digital
Kamera prosumer
Kamera prosumer terdiri dari dua jenis, yaitu Kamera prosumer berbentuk
Kamera digital SLR (DSLR-like) yang juga disebut Bridge Camera dengan
lensa tetap yang tak dapat dilepas, sedangkan MILC walaupun lensanya
dapat dilepas, tetapi tidak memiliki Cermin Reflex dan tentunya juga tidak
memiliki Optical Viewfinder dan sebagai gantinya dipakai Electronical
Viewfinder atau layar LCD saja. Disebut Bridge Camera, karena pada
awalnya sebagai jembatan antara Kamera saku digital dengan Kamera
digital SLR, memiliki mode PSAM (Program, Speed, Aperture/Diafragma
dan Manual), seperti halnya Kamera digital DSLR. Tetapi sekarang ini
mode PASM kadang-kadang juga dimiliki oleh Kamera saku digital. Saat
ini, Features dan Harga antar jenis kamera saling tumpang tindih, sehingga
bisa saja Kamera saku digital harganya lebih mahal daripada Kamera
digital SLR. Salah satu keunggulan yang dimiliki Bridge Camera adalah
kemampuan zoomnya yang saat ini sudah melampaui 50x bahkan 60x dan
untuk itu diperlukan sistem stabilisasi yang mumpuni, sehingga ada Bridge
Camera yang dilengkapi dengan 5-axis Image Stabilization (Pitch, Yaw,
Roll, Vertical Shift and Horizontal Shift),
[2]
sehingga lebih unggul dari pada
Sistem Stabilisasi yang dimiliki oleh Kamera digital SLR. Image
Stabilization yang unggul juga berguna untuk pengambilan gambar video
sambil berjalan dan tentunya juga dapat mengambil foto dengan
Kecepatan yang lebih lambat. Salah satu kelemahan Bridge Camera
adalah untuk indoor photography dimana pencahayaannya terbatas,
karena dengan sensornya yang kecil, maka ISO dimana noisenya masih
dapat diterima hanya mencapai 200. Built-in Flashnya tidak dapat
diandalkan dan sebaiknya memakai External Flash, tetapi hanya beberapa
Bridge Camera yang memiliki slot untuk External Flash (hotshoe).
Kamera digital SLR
Klasifikasi
Kamera digital dapat dibagi menjadi beberapa grup:

Kamera video[sunting | sunting sumber]
 Kamera video profesional seperti yang digunakan dalam pembuatan
acara televisi dan film. Biasanya alat ini memiliki beberapa sensor
gambar (satu untuk setiap warna) untuk
meningkatkan resolusi dan gamut warna.
 Camcorder digunakan para amatir. Ini merupakan gabungan antara
kamera dan VCR untuk menciptakan unit produksi yang sudah
terintegrasi. Mereka biasanya termasuk mikrofon dan LCD kecil.

Kamera diam[sunting | sunting sumber]
Kamera diam digital (bahasa Inggris: digital still camera)adalah kamera
yang digunakan untuk menangkap gambar diam. Biasanya golongan ini
dibagi lagi menjadi tiga kelompok:
 Kamera digital kompak atau kamera saku: Ini merupakan kamera digital
yang paling umum, dan paling mudah digunakan, karena fungsinya
yang serba otomatis, dengan bentuk yang kecil dan mudah dibawa.
Rata-rata kamera jenis ini, pada zaman sekarang, juga sudah
dilengkapi fitur-fitur seperti kamera SLR atau prosumer, dan sudah bisa
digunakan untuk zoom (jarak jauh) maupun makro (jarak dekat).
 Kamera digital prosumer: Merupakan kamera digital kelas menengah
dengan fungsi yang hampir menyerupai SLR, biasanya bentuknya
sudah mirip SLR, namun dengan berat lebih ringan dan lebih kecil.
Kamera jenis ini, lensanya tidak bisa diganti-ganti sesuai dengan
kebutuhan, namun sudah dilengkapi dengan lensa tetap seperti fungsi
zoom yang lebih jauh dibanding kamera saku (sampai di atas 10x), foto
makro, dll.
 SLR digital biasanya memiliki sensor sembilan kali lebih besar dari
kamera digital standar
[rujukan?]
, dan ditujukan untuk para fotografer
profesional dan pehobi serius. Lensa kamera SLR dapat diganti-ganti
sesuai keperluan. Biasanya, produsen sudah menawarkan lensa
standar (lensa kit), namun berbagai jenis lensa juga dijual secara
terpisah, sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial. Kamera jenis
SLR masih terbagi dari dua jenis, yakni SLR untuk sekedar hobi, atau
SLR untuk pemakaian profesional murni yang tentunya kualitas hasil di
atas kamera SLR hobi, tentunya tingkat harganya juga berbeda. Untuk
kelas kamera SLR sendiri, menurut tingkat kualitas dan harganya juga
sangat beragam. Termurah, berkisar 5-6 juta, kemudian puluhan juta,
bahkan sampai ratusan juta rupiah seperti kamera merkHasselblad.\

Webcam
 Webcam adalah kamera digital yang dikoneksikan ke komputer,
digunakan untuk telekonferensi video atau tujuan lain. Webcam dapat
menangkap gambar video gerak-penuh, dan beberapa model termasuk
mikrofon dan kemampuan zoom.
Konektivitas[sunting | sunting sumber]
Kebanyakan digital kamera dihubungkan ke komputer melalui USB,
meskipun ada beberapa yang menggunakan firewire.
Integrasi[sunting | sunting sumber]
Beberapa alat, seperti telepon genggam, tablet dan PDA memiliki kamera
digital yang terpasang.
Lihat pula[sunting | sunting sumber]
 Fotografi digital
 Daftar merek kamera digital
 Media memori digital kamera
 Bioskop rumah
 Telepon genggam
 Telepon kamera
 Pencetak warna (komputer)
 Bluetooth
 MIPC (Mobile Imaging and Printing Consortium).
Referensi[sunting | sunting sumber]
1. ^ "Camera Sensor Ratings by DxOMark". Diakses December 19,
2013.
2. ^ "Fujifilm S1 vs. Fujifilm HS50EXR". Diakses April 25, 2014.

Mengenal Jenis Kamera Digital: Saku Superzoom dan SLR

Jauh sebelum anda mempelajari fotografi, hal paling penting adalah anda
harus memiliki kamera – apapun jenisnya. Bagi anda yang sedang mencari
– cari informasi sebelum memutuskan membeli sebuah kamera digital,
artikel ini akan menjelaskan mengenai jenis kamera yang tersedia di
pasaran dan apa saja perbedaannya.
Kamera Saku (Pocket)
Kamera saku merupakan jenis kamera mayoritas (hampir 90%) yang ada
ditangan konsumen. Sesuai namanya, kamera ini berukuran kecil dan
memang benar-benar bisa masuk ke saku di baju anda.

Kamera saku biasanya bisa menghasilkan foto yang bagus, kadang-
kadangluar biasa. Kamera saku juga mampu merekam video, fitur
tambahan yang sangat berguna dan disukai konsumen. Namun mohon
perhatikan kata-kata yang dicetak tebal
diatas. Biasanya bagus dan kadang-kadang luar biasamerupakan alasan
kenapa penggemar fotografi sejati (dan fotografer pro) memandang
kamera saku sebelah mata – sebatas sebagai batu loncatan atau sebagai
back up.
Ada beberapa faktor yang membuat kamera saku terbatas:
 Shutter lag, didefinisikan sebagai waktu jeda antara saat anda
memencet tombol shutter dan kamera mulai merekam. Merupakan
alasan terbesar kenapa kamera saku sangat terbatas. Jeda waktu ini
mungkin hanya setengah detik, namun dalam setengah detik inilah
akan ada kejadian penting-keren-lucu-spektakuler yang justru tidak
terekam menjadi foto.
 Payah dalam kondisi minim cahaya, kamera saku memiliki sensor
(chip kecil peka cahaya berbentuk segi empat yang menggantikan
fungsi film) yang sangat kecil. Secara umum, makin kecil sensor
sebuah kamera makin jelek kualitas foto-nya. Sensor yang kecil
berarti hanya sedikit cahaya yang terekam, kualitas warna yang pas-
pasan dan lemah ketika berhadapan dengan kondisi remang-remang.
Apa saja konsekuensinya? pertama adalah foto cenderung mudah
blur (tidak tajam) dan kedua foto cenderung memiliki banyak noise
(bintik-bintik diseluruh area foto).
 Zoom terbatas, memiliki kamera saku berarti anda sudah terikat
hidup mati dengan lensa bawaan dari sononya. Kita tidak bisa
mengganti lensa sesuai kebutuhan. Kamera saku dari pabriknya diset
untuk memiliki lensa yang bisa digunakan untuk kebutuhan umum
dan bisa melakukan perbesaran 3 sampai 4 kali. Namun jangan
berharap anda bisa menggunakannya untuk memotret wajah anak
anda yang sedang bermain drama di sekolah atau memotret wajah
Krisdayanti yang sedang menanyi dalam sebuah konsernya.
Kalau banyak jeleknya, kenapa kamera saku laris manis di pasaran? tidak
adakah kelebihannya? ada, berikut ini:
 Small is beautiful, dengan ukuran yang kecil kita mudah
membawanya kemanapun kita pergi sehingga makin
banyak hal yang bisa kita abadikan
 Harga terjangkau, kamera saku adalah jenis kamera
yang paling bersahabat dengan dompet sehingga
anda akan disayang istri/ suami karena pandai
berhemat
 Lebih banyak orang tidak ingin tampak seperti war-
tawan foto. Semakin besar kamera tentengan anda,
makin tampang anda mirip wartawan foto. Dan
yakinlah orang terkenal macam David Beckham, Ariel
Peterpan, SBY atau Obama tidak pernah tampak
seperti wartawan foto (bercanda … ).
Kamera Super-Zoom
Kamera super zoom memiliki ukuran fisik lebih besar dibanding kamera
saku, dan sesuai namanya memiliki kemampuan zoom optik sampai sejauh
15 kali atau bahkan sampai 20 kali.

Kenapa kamera ini ada? Karena banyak sekali kejadian penting terjadi
dalam kejauhan; di panggung, di mimbar, di pernikahan, di lapangan
olahraga.
Kamera super zoom disamping memiliki kelebihan dalam kemampuannya
melihat dari kejauhan, juga memiliki satu lagi kelebihan utama dibanding
kamera saku: lubang intip kecil yang pas untuk mata anda (eyepiece
viewfinder). Lubang intip ini sangat berguna jika anda memotret ditangah
teriknya siang hari (kamera saku hanya memiliki layar LCD dibelakang
yang sama sekali tidak berguna jika anda berada di area terang
benderang). Satu lagi, kamera super zoom juga biasanya memiliki layar
LCD yang bisa ditekuk – tekuk sehingga membantu anda memotret dari
sudut yang tidak biasa.
Kekurangannya? secara teknis kamera ini masih memiliki sensor yang
relatif kecil sehingga kemampuannya dalam kondisi minim cahaya masih
terbatas. Untuk memotret outdoor masih sangat oke hasilnya, namun
begitu anda bawa masuk ke ruangan anda akan mulai kepayahan
mendapatkan foto yang tajam dan bagus.
Secara ukuran, kamera super zoom juga lumayan tanggung. Tidak akan
pernah muat di kantong sehingga kita harus membawanya di pundak.
Kamera SLR
Anda selama ini mungkin cukup puas dengan kualitas foto dari kamera
saku mungil. Lalu mulai gemar mengamati foto di majalah-majalah yang
tampak wah..foto yang super tajam, warnanya serba indah, potret wajah
dengan latar belakang yang kabur, air terjun dengan yang telihat sangat
lembut seperti kapas atau foto burung yang sedang melesat…foto – foto
berkualitas seperti ini rata – rata dihasilkan dari kamera SLR.

Jadi apakah SLR itu? SLR adalah kependekan dari single lens
reflex, sebuah istilah yang memang lumayan kompleks dijelaskan. Tapi
pada prinsipnya adalah jenis kamera dimana kita mengintip obyek foto
melalui lensa (jargon fotografinya: through the lens). Kamera besar
berwarna hitam ini dipastikan tidak akan muat disaku anda dan harganya
lumayan mahal.
Namun dari segi kualitas, kamera inilah penghasil foto-foto keren dimajalah
atau iklam raksasa di jalan. Begitu dihidupkan anda bisa langsung
memotret, tidak ada lagi shutter lag, mampu merekam 3 foto dalam 1 detik,
memberi kepuasan kontrol manual untuk hampir semua parameter
pemotretan, dan bisa dipakai memotret ribuan foto tanpa kehabisan batere.
Kamera inilah yang membuat banyak orang tergila-gila dengan dunia
fotografi, memiliki bunyi khas saat kita memencet shutter (karena kamera
saku dan super zoom biasanya diiringi bunyi palsu), dan terasa kokoh dan
tangguh saat dipegang.
Anda bisa mengubah lensa sesuai kebutuhan, dari lensa macro dimana
anda bisa memotret mata serangga sampai lensa super tele sehingga
anda bisa memotret jerawat di wajah teman anda dari jarak 10 meter.
Namun sebelum anda mulai kepincut dengan kamera SLR dan mulai
memipikannya atau bahkan membelinya, kami sarankan anda
membaca hal-hal yang patut dipertimbangkan sebelum membeli kamera
digital SLR.
Untuk berlangganan artikel melalui email, klik disini. Facebooker? Jangan
lupa kunjungi dan sukai facebook page Belajar Fotografi. Twitterer? ikuti
update melalui twitter dengan menjadi follower Belajar Fotografi, @belfot.

Panduan lengkap memilih kamera digital
by ENCHE TJIN on JANUARI 17, 2014
Berkat teknologi digital dalam fotografi yang memungkinkan desain kamera
dalam berbagai bentuk dan ukuran, kita memiliki banyak jenis kamera
digital untuk dipilih. 10 tahun yang lalu, pilihan kamera digital cuma dua,
yaitu kamera compact/pocket atau kamera DSLR. Tapi sekarang ada
sekitar tujuh kategori kamera digital yaitu: kamera ponsel, kamera pocket,
kamera compact canggih, kamera mirrorless, kamera DSLR (terbagi lagi
dari pemula sampai profesional).
Sebelum memilih jenis kamera digital, sebaiknya memahami bagaimana
menentukan kriteria kualitas kamera yakni:
 Kualitas gambar: Ditentukan dari besarnya image sensor (sensor gambar)
dan generasi prosesor gambar
 Kinerja: Kecepatan operasi, kecepatan foto berturut-turut dan melakukan
fungsi-fungsi kamera yang otomatis
 Ekosistem: Seberapa lengkap aksesoris seperti lensa dan flash, kualitas
layanan purna jual
 Ergonomi dan Antarmuka: Seberapa nyaman saat dipegang dan
digunakan. Kualitas susunan tombol dan isi menu
Ulasan lengkap tentang kriteria kamera yang bagus bisa dibaca di artikel
ini.
JENIS KAMERA DIGITAL
Banyaknya pilihan jenis kamera digital membuat calon pembeli membuat
keputusan untuk membeli. Setiap kamera fungsinya sama, yaitu membuat
gambar/foto, tapi tidak ada yang ideal untuk semua hal. Ibaratnya seperti
pisau untuk memasak. Ada pisau besar, ada yang kecil, dan ada yang
khusus untuk makanan tertentu. Kamera digital juga sama. Berikut
pendapat saya tentang berbagai jenis kamera digital yang ada:
Ponsel : Unggul karena selalu dibawa bersama, berukuran kecil dan
mudah dibagikan dengan teman atau diunggah ke web. Namun kualitas
gambar biasanya kurang tajam dan lensannya tidak bisa zoom, jadi
cocoknya sebagai sketsa, dokumentasi, dan bukan untuk dicetak besar.
Pandangan kedepan: Makin laris dan berkembang seiring dengan dengan
tuntutan konsumen akan kamera di ponsel yang makin tinggi.
Kamera compact/saku : Dulu sangat laris sebelum ponsel dapat berfungsi
sebagai kamera, tapi sejak kualitas gambar dari ponsel semakin baik,
kamera compact semakin menurun penjualannya dan ditinggalkan
pembeli. Beberapa perusahaan juga sudah mengabaikan untuk
memperbaharui jenis kamera ini. Pandangan ke depan: Tidak diminati lagi
karena sudah ada ponsel.
Kamera compact canggih (advanced compact) : Memiliki sensor gambar
yang relatif lebih besar dari kamera ponsel atau compact biasa.
Kemampuan untuk menangkap gambar yang jernih di kondisi gelap lebih
bagus dan kinerjanya juga lebih cepat. Cocok untuk street photography,
candid, indoor. Pandangan ke depan: Masih diminati oleh penghobi
fotografi yang menginginkan kamera yang lebih banyak fiturnya daripada
ponsel.
Kamera prosumer atau superzoom : Kekuatan utama jenis kamera ini
adalah zoom lensanya yang bisa 20-50X atau bahkan lebih. Bentuknya
seperti kamera DSLR dan ukurannya biasanya lebih kecil dan ringan.
Harganya lebih terjangkau. Kinerja/kecepatan biasanya standar. Lensanya
tidak bisa ditukar, dan sensor gambarnya umumnya relatif kecil, sedikit
lebih besar dari kamera saku. Pandangan ke depan: Segmen pasar
terbatas ke penggemar fotografi yang ingin zoom panjang dan kamera
yang lebih ringkas dari DSLR.
Mirrorless : Jenis kamera yang paling banyak dibahas beberapa tahun
terakhir ini. Keunggulannya ukurannya relatif kecil dibandingkan dengan
kamera DSLR, tapi kualitas gambarnya hampir sama, bahkan ada yang
melebihi kamera DSLR. Juga bisa ganti lensa. Kelemahannya, kapasitas
baterai, kelengkapan lensa, aksesoris dan kinerja autofokusnya belum
sebaik kamera DSLR. Cocok untuk jalan-jalan tapi tidak ingin membawa
kamera yang berat. Pandangan ke depan: Potensi berkembang lebih besar
ada, jika harga makin bersaing dengan kamera DSLR dan kelengkapan
lensa semakin komplit.

Canon 100D, salah satu kamera DSLR pemula yang populer satu dekade
belakangan ini.
Kamera DSLR pemula : Jenis kamera yang paling laris untuk penghobi
fotografi pemula, harganya cukup terjangkau, koleksi lensa dan
aksesorisnya lengkap dan banyak variasinya. Keunikkan kamera DSLR
adalah adanya prisma yang memungkinkan kita melihat langsung melalui
jendela bidik seperti layaknya kita melihat dengan mata kepala sendiri.
Kedepannya, jenis kamera ini mungkin akan menurun tergantikan oleh
sistem kamera yang lebih ringkas seperti mirrorless. Bagi yang masih setia
kemungkinan akan upgrade ke kamera DSLR menengah-pro.
Kamera DSLR menengah-canggih : Kamera DSLR menengah canggih ini
biasanya disukai oleh penghobi fotografi serius dan kalangan semi
profesional. Keunggulan kamera DSLR kategori ini adalah kinerja
autofokus, operasi kamera dan tombol-tombolnya tersedia sehingga
fotografer dapat dengan cepat mengganti setting dan memotret.
Pandangan kedepan: Bertahan dan masih diminati dalam beberapa tahun
kedepan karena ekosistem dan kepemilikan lensa.
Kamera DSLR PRO : Kamera andalan profesional yang bekerja di
berbagai bidang baik di lingkungan yang ekstrim. Fotografer profesional
biasanya menginginkan kinerja kamera yang cepat dan kualitas fisik
kamera yang tangguh dan tidak begitu memperdulikan ukuran dan berat
kamera. Pandangan kedepan: Bertahan karena masih dibutuhkan
kalangan profesional, meskipun perkembangannya teknologinya akan
lambat (per 3-4 tahun).
Menentukan membeli kamera DSLR langsung yang PRO atau yang
pemula terlebih dahulu sering memancing perdebatan, saya pernah
membahasnya di artikel ini.
TUJUAN
Sebelum membeli jenis kamera tertentu, ada baiknya merenungkan tujuan
untuk membeli kamera digital:

Kualitas kamera ponsel seperti iPhone 5s semakin baik dua tahun
belakangan ini.
Jika tujuannya mencari kamera digital yang dibawa setiap hari, untuk
mendokumentasi kegiatan sehari-hari. Untuk tujuan ini, kamera
smartphone yang bagus bisa dilirik. Saat saya menulis artikel ini (2014
awal) camera smartphone yang terbaik yaitu Nokia Lumia 1020, yang
memiliki sensor gambar 1/1.5″ (lebih besar dari sebagian besar kamera
digital saku), dan resolusi 41 Megapixel. Nokia 1020 mengunakan sistem
operasi Windows yang tidak seramai Android / Iphone. Penggemar sistem
operasi Android akan menyukai Sony Experia Z1, yang tahan air, cepat,
dan cukup detail dalam menangkap gambar terutama disiang hari.
Resolusi fotonya 20 MP dan sensor gambarnya 1/2.5 inci. Untuk
penggemar Apple, tentunya Apple iPhone 5s merupakan kamera yang
terbaik. Kinerjanya sangat cepat dan banyaknya aplikasi dan fungsi
menjadikan iPhone kamera yang sangat populer.
Jika mencari kamera digital saku, saran saya adalah mencari kamera
digital yang bisa ringan dan bisa dikantongi sehingga tidak perlu membawa
tas ekstra. Sensor gambar kamera juga penting karena jika memiliki
kamera digital yang ukuran sensor gambarnya kecil, tidak akan punya
banyak keuntungan dibandingkan saat mengunakan ponsel canggih.
Kamera digital saku yang paling berkualitas saat ini adalah: Sony RX100 II
(sensor gambar 1 inci, lensa zoom), Ricoh GR (sensor gambar APS-C
setara kamera DSLR, ergonomi dan antarmuka sangat baik). Baca juga
kriteria kamera digital pocket yang gak bisa ganti lensa di akhir tulisan ini.
Oke, kalau yang ingin kamera digital yang kualitas lebih tinggi dan
fleksibilitas ganti-ganti lensa, tapi tidak ingin yang terlalu memberatkan,
sistem kamera mirrorless. Sistem kamera dari Sony, Olympus, Panasonic
G, Samsung NX, Nikon 1, dan Fuji X sudah cukup lengkap lensa-lensanya
dan kualitasnya juga tidak kalah dari sistem kamera DSLR. Kamera sistem
mirrorless biasanya memiliki layar sentuh dan untuk melihat dan memotret,
biasanya kita mengunakan layar LCD seperti kamera saku/ponsel. Layar
LCD jauh lebih besar daripada jendela bidik, maka itu, bagi yang matanya
sudah kurang awas, sistem mirrorless akan lebih nyaman digunakan
daripada kamera DSLR.
Bagi penggemar fotografi yang baru ingin belajar fotografi dan mendalami
fotografi bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan, tapi juga untuk fotografi
yang lebih bervariasi dan mendalam seperti fotografi landscape, still life,
produk, portrait, arsitektur, fotojurnalisme, dan lain-lain, saya mengusulkan
sistem kamera DSLR pemula – menengah.
Bagi yang memiliki aspirasi untuk menjadi fotografer profesional atau
serius dalam membuat karya foto yang terbaik di segala medan, saran
saya beli kamera DSLR canggih – pro. Kamera DSLR pro memang
harganya tinggi, tapi kualitas, kinerja dan daya tahannya kuat dan lama.

Nikon D4s, kamera DSLR untuk profesional
FAKTOR PEMBATAS
Sampai saat ini, mungkin Anda sudah punya sedikit gambaran tentang
jenis kamera apa yang cocok untuk tujuan fotografi Anda. Selanjutnya, ada
faktor-faktor yang membatasi Anda untuk mendapatkan kamera digital
idaman.
Harga adalah salah satu faktor pembatas yang sangat kuat. Tak bisa
dipungkiri, untuk sebagian besar orang, dana terbatas, selain kamera,
dana perlu disiapkan untuk membeli lensa, lampu kilat dan aksesoris
lainnya.
Bagi beberapa orang, ukuran dan berat merupakan faktor yang lebih
penting. Kamera, lensa atau tripod yang terlalu berat akan mengganggu
mobilitas dan kenyamanan memotret. Di lain pihak, kamera yang kecil
dengan tombol yang kecil juga merepotkan kita saat ganti setting dan
mempertahankan supaya tetap steady saat memotret.
Sebagian besar orang yang membeli kamera digital hanya untuk memotret,
tapi sebagian lainnya juga ingin mencoba untuk merekam video. Tidak
semua kamera digital juga bagus untuk merekam video. Bagi yang
menyukai video beberapa jenis kamera lebih fleksibel dan kualitasnya lebih
bagus dari kamera lainnya. Misalnya Panasonic GH, Canon 70D, 5D mk III.
Jika sebagian besar foto yang ingin dibuat adalah fotografi aksi seperti
olahraga, satwa liar, liputan, maka kamera dengan kecepatan foto berturut-
turut merupakan hal yang sangat penting. Sayangnya kecepatan tinggi
biasanya didapatkan dengan harga yang cukup tinggi, kamera DSLR
canggih-pro biasanya tepat untuk kebutuhan ini.
Bila sebagian besar hal yang dipotret di kondisi lingkungan yang gelap,
seperti liputan wedding, konser musik, pertunjukan teater, olahraga di
malam hari atau di dalam ruangan, kamera yang bersensor gambar besar
seperti Kamera DSLR full frame akan mampu menghasilkan kualitas
gambar yang masih baik di ISO tinggi (diatas ISO 1600). Sebagai alternatif
atau untuk dikombinasikan, lensa berbukaan besar dan flash bisa
digunakan jika diizinkan.
WILD CARDS : Kamera dengan sensor gambar besar tapi tidak bisa ganti
lensa
Beberapa tahun terakhir, ada jenis kamera baru yang tidak umum.
Kamera-kamera ini mengandalkan sensor gambar yang ukurannya lebih
besar daripada kamera dikelasnya. Akibatnya, kualitas gambarnya relatif
lebih bagus daripada kamera-kamera sekelasnya.

wildcard Fujifilm, X100s
Fujifilm memulai tren ini dengan mengeluarkan Fujifilm X100, dan
kemudian diperbaharui menjadi Fujifilm X100s. Fisik kamera seperti
kamera film jaman dulu dengan desain rangefinder. Sensor gambarnya
berukuran APS-C dan sensor unik yang dikembangkan Fuji yaitu X-Trans
sensor. Performa sensor ini relatif baik dibandingkan dengan kamera
DSLR. Lensa yang terpasang tidak bisa diganti-ganti, tapi kualitasnya
sangat baik yaitu 23mm f/2 (ekuivalen dengan bidang pandang 35mm di
kamera bersensor full frame). Kesuksesan X100 dan X100s di kalangan
penghobi fotografi di Amerika dan Eropa membuat Fuji mengembangkan
beberapa varian dari kamera compact lain yaitu Fuji X20 yang lebih tepat
dimasukkan ke dalam kamera advanced compact yang bersaing dengan
Sony RX100.
Sony mengembangkan berbagai kamera yang tidak lazim karena memakai
sensor gambar yang besar. RX1 memiliki sensor sebesar kamera full frame
dengan lensa Zeiss 35mm f/1.4. RX10 adalah kamera prosumer dengan
sensor gambar terbesar dikelasnya yaitu 1 inci dan lensa zoom berbukaan
konstan 24-200mm f/2.8. Kamera RX10 ini cukup praktis untuk traveling
light. Sony RX100 II berukuran lebih kecil lagi dengan sensor gambar 1″
Kelebihan dari RX100 adalah ukurannya yang bisa dikantongi.
Ricoh GR, Nikon Coolpix A, Sigma DP: Kamera yang dari luar bentuknya
lebih menyerupai kamera saku biasa, tapi dalamnya tersimpan sensor
gambar berukuran APS-C atau setara kamera DSLR. Lensa yang
terpasang tidka bisa digantikan dan tidak bisa zoom. Kelebihan dari lensa
fix adalah bukaan lensa yang relatif besar f/2.8 atau lebih besar lagi dan
kualitas fotonya sangat tajam.
Baca juga kamera compact dan prosumer terbaik 2013
GANTI SISTEM
Tidak jarang kita terpikir untuk mengganti sistem/merek kamera. Tentunya
banyak alasannya, yang saya ulas disini. Yang penting sebelum ganti
sistem pikirkan dulu apakah ganti sistem ini karena “rumput tetangga selalu
lebih hijau” atau ada memang ada keunggulan yang jelas dari sistem
kamera lainnya yang tidak tersedia di sistem kamera ini. Sadarilah bahwa
mengganti sistem kamera berarti ada ongkos materil dan imaterilnya. Kita
harus belajar kembali dan membiasakan diri terhadap susunan tombol,
menu dan cara operasi kamera.
Artikel-artikel dibawah ini mungkin akan membantu Anda dalam mengambil
keputusan
 Alasan untuk pindah sistem
 Tiga alasan untuk upgrade kamera
 Upgrade kamera atau lensa?
FAKTOR LAINNYA
Konektivitas
Seiring jaringan sosial yang semakin maju, kebutuhan manusia untuk
selalu bisa terhubung dan berbagai di internet semakin meningkat. Untuk
sebagian orang, kamera harus memiliki fungsi wifi atau NFC untuk transfer
gambar dari kamera ke ponsel, tablet atau media lainnya. Ada yang
mementingkan fitur GPS dan geotagging untuk berbagi foto dan lokasi
dimana foto diambil.
Layanan purna jual
Bagaimana dengan pelayanan setelah pembelian? Jika ada yang rusak
apakah ada pusat servisnya? Apakah sparepartnya mudah dan cepat?
Semakin terkenal dan laris sebuah merek kamera, semakin mudah dan
cepat servisnya. Selain teknisi resmi, biasanya juga banyak teknisi tidak
resmi yang menjual jasa dan sparepartnya dalam harga yang lebih murah.
Built-in flash
Ada kamera yang memiliki built-in flash, ada yang tidak. Ironisnya,
beberapa kamera DSLR canggih tidak memiliki built-in flash sehingga
harus mengunakan lampu kilat eksternal. Selain untuk membantu
pencahayaan, built-in flash bisa juga difungsikan sebagai pembantu
autofokus (di kamera DSLR Canon) dan untuk mengirimkan sinyal wireless
trigger untuk flash yang terletak diluar kamera.
Weathersealing
Suka memotret di kondisi cuaca buruk atau lingkungan yang ekstrim?
Jangan lupa mencari kamera yang tahan air, debu dan temperatur dingin.
Selain kamera, pastikan lensanya juga weathersealed.
Scene modes & Creative effects
Untuk pemula atau fotografer casual yang menghendaki kepraktisan dalam
proses foto. Fitur-fitur seperti mode panorama, variasi creative filter and
effects, auto HDR (untuk mengurangi kontras pemandangan), dan mode
scenes yang bervariasi mungkin akan penting. Terutama bagi yang tidak
ingin belajar teknik fotografi dan olah digital. Sebagian besar kamera
compact, kamera mirrorless dan kamera DSLR tingkat dasar/pemula
memiliki fitur-fitur ini.
Memory card slot
Saat ini, sebagian besar kamera menerima memory card jenis SD (secure
digital) atau/dan CF (compact flash). Memory card berjenis SD card
berukuran lebih kecil, dan lebih pelan daripada CF card, namun lebih
murah dan makin banyak dipakai. Sebagian besar kamera DSLR Pro
memakai CF card yang lebih kokoh dan berkapasitas lebih besar. Di
beberapa kamera DSLR canggih, lubang memory card lebih dari satu,
tujuannya bisa sebagai back-up, atau sekedar untuk overflow, alias jika
memory card di lubang pertama sudah penuh, otomatis foto berikutnya
akan disimpan di memory card kedua.
Battery grip
Aksesoris ini berguna untuk menyimpan baterai tambahan dan juga
memudahkan untuk memegang kamera saat memotret dengan orientasi
vertikal. Kamera DSLR pemula biasanya tidak memiliki pilihan battery grip
original, biasanya hanya dibuat oleh pihak ketiga dengan kelemahan yaitu
harus mengunakan kabel khusus. Di sebagian besar kamera, battery grip
dapat berfungsi untuk menambah kecepatan foto berturut-turut, misalnya di
kamera Nikon D700 dan Nikon D300s.
FAKTOR yang perlu dipertimbangkan dalam membeli kamera compact
yang tidak bisa ganti lensa
Selain ukuran sensor gambar, hal-hal berikut ini penting untuk diperhatikan
sebelum membeli kamera yang tidak bisa berganti lensa:
Kualitas lensa dan sifat lensa sangat penting untuk diperhatikan karena
lensanya tidak bisa diganti seperti sistem kamera DSLR. Lensa yang
berkualitas tinggi biasanya memiliki bukaan yang besar, seperti f/1.4, f/1.8,
f/2 dan f/2.8. Lensa yang lebih kecil dari f/2.8 seperti f/3, f/3.5 dan
seterusnya dianggap kecil. Kinerja lensa untuk memotret subjek yang
dekat juga sebaiknya diperhatikan terutama jika Anda hobi memotret detail
atau subjek yang kecil. Seberapa dekat lensa bisa fokus? makin dekat
makin bagus.
Apakah kameranya enak dan mantap saat digenggam, apakah tombol-
tombolnya cukup besar dan cukup terjangkau oleh jari-jari tangan kita?
Dan yang penting juga apakah kameranya bisa dikantongi? Kalau bisa
dikantongi akan lebih praktis untuk dibawa kemana-mana.
Apakah kamera tersebut memiliki flash terpasang atau setidaknya hot shoe
untuk memasang flash eksternal? Sebagian besar dari kita mungkin tidak
membutuhkan flash saat memotret, tapi bagi yang suka memotret di dalam
ruangan mungkin sesekali akan membutuhkan flash.

Lumix LX7 ini memiliki lensa dengan bukaan sangat besar yaitu f/1.4-2.3.
Ideal buat motret di indoor yang gelap.
IKHTISAR
Apa yang penting dipertimbangkan sebelum membeli kamera digital yaitu
kualitas gambar (tergantung dari ukuran sensor gambar dan generasi
prosesor kamera), kinerja/kecepatan, ergonomi dan ekosistem
(kelengkapan lensa, aksesoris, komunitas). Lalu pertimbangkan jenis
kamera digital (saku, prosumer, mirrorless, DSLR). Pertimbangkanlah
faktor-faktor pembatas, seperti dana yang tersedia, kebutuhan akan
kecepatan, kualitas gambar di kondisi gelap, dan fitur-fitur khusus yang
diinginkan. Jika memilih kamera yang gak bisa ganti lensa seperti kamera
compact atau prosumer, perhatikan kualitas lensa, ergonomi dan
kelengkapannya. Selamat meneliti dan membeli kamera idaman yang
cocok dengan Anda.
Jika sudah memiliki kamera, dan ingin belajar fotografi,
ikuti workshop/seminar fotografi kami atau baca buku-buku fotografi yang
bisa didapatkan disini.
Similar Posts:
 Kamera digital kompak atau kamera Digital SLR
 Sony A7 dan A7R – Sistem kamera Mirrorless full frame pertama
 Memilih merek kamera digital SLR
 Sistem kamera mungil Nikon V1 & J1
 Panduan memilih kamera Fuji X


Jenis Kamera Digital: Pocket, Superzoom, Mirrorles dan DSLR
Published By Admin On May 8th, 2013 03:20 AM | Tips Fotografi
Dewasa ini perkembangan kamera digital begitu pesat, sehingga
memunculkan banyak varian dengan berbagai keunggulan masing-masing
yang ditawarkan kepada calon konsumen. Ya,, semua jenis kamera yang
ada dipasaran saat ini pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan
konsumen yang berbeda-beda dimana tiap segmen tersebut merupakan
ceruk pasar yang coba digarap produsen kamera.
Namun bagi sebagian orang hal tersebut justru menjadi malapetaka
tersendiri, karena justru membuat bingung menentukan pilihan kamera
mana yang akan dibeli. Karena itulah sangat penting bagi kita untuk
mengetahui jenis kamera digital sebelum memutuskan untuk membeli
kamera sehingga kita dapat mengetahui jenis kamera yang sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan kita.
Secara umum, kamera digital yang ada di pasaran saat ini dapat
dikelompokkan menjadi 4 macam :
1. Kamera saku / Pocket Camera
2. Kamera Superzoom / Prosumer Camera
3. Kamera Mirrorless
4. Kamera DSLR
Kamera Saku / Pocket camera
Sesuai dengan namanya kamera jenis ini mempunyai ukuran yang kecil
dan dapat kita kantongi. Kamera ini dibuat untuk memenuhi hasrat
kebanyakan orang pada fotografi dengan pertimbangan utama ekonomis,
praktis dan mudah digunakan. Intinya tinggal pencet langsung jepret, kalau
perlu sambil tutup mata,,,heheee
Karena pertimbangan harga yang ekonomis dan praktis, tentu banyak hal
yang dikorbankan di kamera jenis ini dengan jenis lainnya:
 Setting kamera yang serba otomatis. Bagi yang ingin memotret
dengan eksplorasi lebih dalam tentu kamera jenis ini tidak cocok.
 Zoom yang terbatas. Kita harus menerima dengan lensa yang sudah
tertanam di body kamera dengan optical zoom yang terbatas,
biasanya antara 5x sampai 10x. Tidak ada opsi untuk dapat menganti
lensa yang sesuai dengan kebutuhan.
 Terdapat jeda saat fokus dan saat kita menekan tombol shutter,
sehingga apabila kita memotret untuk mengejar moment tertentu
seringkali terlewat.
 Kualitas foto yang minim, hal ini dapat dimaklumi karena sensor
kamera saku yang kecil maka cahaya yang terekam pun terbatas
sehingga detail dari warna obyek tidak tertangkap, bahkan dalam
kondisi minim cahaya hasil foto cenderung akan kabur dan
banyaknoise atau bintik-bintik.
Walaupun banyak keterbatasan, namun kamera jenis ini sangat digemari
banyak orang. Tentu saja alasannya karena harga yang sangat terjangkau,
praktis dan mudah dioperasikan, bahkan anak kecil pun bisa..
Kamera Superzoom / Prosumer camera
Sekilas kamera ini mempunyai bentuk yang mirip DSLR dengan ukuran
yang lebih kecil, tapi sejatinya kamera ini sama dengan Kamera Saku
/ Pocket. Keunggulan kamera ini dibanding kamera pocket adalah
kemampuan zoom pada lensanya yang jauh, apabila pada
kamera pocket biasanya optical zoomnya antara 5x sampai 10x maka pada
kamera jenis ini ada yang 20x sampai 30x. Kelebihan lainnya adalah
mempunyai lubang intip / view vinderyang biasanya terdapat pada kamera
DSLR dan tidak ada di kamera pocket, hal ini akan sangat berguna saat
kita memotret outdoor dengan situasi yang terang dimana biasanya dalam
kondisi terang gambar di LCD justru tidak kelihatan jelas karena silau, tentu
hal ini akan sangat menganggu saat kita membidik obyek.
Dipasar Indonesia kamera jenis ini dikuasai oleh merk Fujifilm, beberapa
seri yang cukup sukses diluncurkan diantaranya adalah FUJIFILM Finepix
S2980, FUJIFILM FinePix S4500, dan NIKON Coolpix L810.
Kamera Mirrorless
Kamera ini hampir sama dengan DSLR, perbedaanya terletak pada sistem
cermin prisma yang dihilangkan pada
kamera Mirrorless sehingga body kamera lebih ramping dan harganya pun
menjadi lebih murah dibanding kamera DSLR. Untuk lebih jelas bisa kita
lihat pada diagram disamping.
Bagi para penghobi fotografi yang menginginkan kamera setara DSLR tapi
dengan harga yang lebih murah dan lebih praktis maka kamera ini adalah
jawaban terhadap kebutuhan tersebut, terbukti para profesional pun
banyak yang memakai kamera jenis ini dan mereka mengakui kualitas
gambar yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan kamera DSLR.
Satu-satunya kendala perkembangan kamera Mirrorless adalah saat ini
belum tersedia banyak pilihan lensa dan aksessoris lainnya. Tentu bagi
para profesional hal ini menjadi kendala tersendiri ketika mereka akan
memotret dengan kondisi tertentu. Namun bagi penghobi fotografi
khususnya para pemula kamera ini dapat menjadi salah satu pilihan.
Beberapa merek dan seri kamera berikut adalah contoh dari kamera
mirrorles, diantaranya SONY NEX-F3K , NIKON V1, PANASONIC LUMIX
Kamera DSLR
Bagi penghobi fotografi yang ingin lebih mendalami fotografi, kamera ini
adalah jawabannya. Dengan kemampuan sensor kamera yang
menghasilkan kualitas foto tinggi, pilihan lensa dan aksessoris yang
beragam untuk berbagai kondisi dan kontrol penuh atas kinerja kamera
kepada sang fotografer maka kamera ini disebut kamera professional.
Pembahasan kamera DSLR lebih lengkap, silahkan baca juga Sekilas
Tentang Kamera DSLR dan Kamera DSLR untuk pemula.
Nah, bagi yang hanya sekedar ingin memotret untuk mengabadikan
moment-moment tertentu untuk arsip pribadi dengan pertimbangan harga
yang ekonomis dan praktis maka kamera pocket dan superzoom dapat
menjadi pilihan. Namun bila ingin lebih serius mendalami fotografi maka
pilihan jatuh pada kamera mirrorles dan DSLR.
Tags: DSLR, Kamera Digital, Kamera
Saku, Mirrorles, Pocket, Prosumer,Superzoom


Jenis-jenis Kamera
POSTED BY DEO NOIZE POSTED ON 12:24 AM WITH 1 COMMENT
Saat ini banyak sekali kita jumpai berbagai macam jenis dan model
kamera. Mulai dari yang sederhana sampai yang sangat canggih, dari yang
harganya murah sampai yang sangat mahal. Untuk mengetahui jenis-jenis
kamera ada beberapa kategori.

Berikut jenis-jenis kamera berdasarkan kategori yang wajib sobat ketahui.

1. Jenis kamera berdasarkan media penangkap sinar/cahaya

Kamera Film
Kamera ini menggunakan pita seluloid sebagai media penangkap cahaya.

Adapun jenis film dibagi lagi berdasarkan ukuran panjang diagonalnya:
a. Small format (35mm)
b. Medium format (100-120mm)
c. Large format

Dari ketiga format film di atas, yang paling populer adalah format 35mm
atau biasa disebut film 135.

Kamera Polaroid

Kamera jenis ini menggunakan lembaran polaroid sebagai media
penangkap cahaya dan langsung memberikan gambar positif
sehingga pemotret tidak perlu lagi melakukan proses cuci cetak film.

Kamera digital

Kamera jenis ini memakai image-sensor atau sensor gambar sebagai
media penangkap cahaya dan media penyimpanannya menggunakan
memory card.


2. Jenis kamera berdasarkan teknologi viewfinder

Pocket Camera/Kamera saku

Jenis kamera yang paling banyak digunakan orang. Kebanyakan
menggunakan setelan serba otomatis atau memiliki sedikit setelan manual.
Cahaya yang melewati lensa langsung membakar media penangkap
gambar. Kelemahan dari kamera ini adalah lensa tidak bisa diganti, selain
itu adalah gambar yang terlihat oleh mata melalui viewfinder/jendela bidik
akan berbeda dengan hasil foto yang didapat, karena ada perbedaan
antara pandangan pemotret dengan pandangan lensa. Perbedaan tersebut
disebut paralaks.

Kamera TLR (Twin Lens Reflex)

Disebut juga kamera refleks lensa ganda. Jendela bidik/viewfinder yang
diberikan lensa identik dengan lensa di bawahnya. Kesalahan paralaks
masih ditimbulkan sebab sudut dan posisi kedua lensa tidak sama.

Kamera SLR (Single Lens Reflex)

Untuk kamera digital biasa disebut Kamera DSLR (Digital Single Lens
Reflex). Kamera jenis ini sangat populer digunakan fotografer profesional,
amatir maupun yang sekedar menyalurkan hobi. Kesalahan paralaks tidak
terjadi pada kamera jenis ini karena memiliki cermin datar dengan singkap
45 derajat di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dari
jendela bidik sama dengan yang ditangkap oleh film. Kelebihan lain dari
kamera ini adalah lensa yang dapat diganti.

Demikian sobat fotografer, kalau punya ulasan yang lebih lengkap bisa
share melalui komentar...

Hoaaahmmmmm.......ngantuk....
Salam jepret..dan selamat malam....



Bagian-bagian Kamera dan Fungsinya



Kamera adalah sebuah alat yang mengarahkan bayangan yang difokuskan
oleh lensa/sistem optik lain keatas permukaan foto sensitif yang berada
dalam tempat tetutup/ film. Dilihat dari jenisnya, kamera ada 2 macam
yaitu:
1. Compact Camera,yaitu kamera yang pemakaiannya langsung
melihat obyek yang difoto tanpa melalui lensa pengatur.
2. Single Lens Reflex(SLR),yaitu kamera yang cara kerjanya dengan
bayangan benda yang dilihat lalu di pantulkan oleh cermin yang
terdapat didalam kamera, sehingga dengan jenis ini obyek tidak dapat
dilihat jika lensa dalam keadaan tetutup.
Kelebihan Dan Kelemahan “Compact Camera”

#Kelebihan:
 Gambar yang dihasilkan cukup terang meskipun cahayanya minim.
 Bentuk kecil, ringan dan kompatibel
 Otomatis penuh sehingga sesuai untuk pengambilan dimana saja.
 Kamera tidak memakai cermin didalam dan suaranya tidak berisik.
 Bisa dioperasikan dengan menggunakan flash (blitz).
#Kelemahan:
 Flash yang built in pada body kamera bisa menyebabkan foto yang
dihasilkan menjadi red eyes reduction.
 Karena obyek yang difoto di lihat melalui view vinder yang terpisah
dari lensa sehingga ada kemungkinan pengambilan gambar pada saat
lensa tertutup.
 Pengaruh pemakaian filter tidak tampak jika di lihat dari view vinder.
 Karena lensa menjadi satu dengan body kamera maka lensa tidak
dapat di ganti dengan jenis yang lain.
 Paralax Error, yaitu ketidaksesuaian gambar yang dihasilkan dengan
yang dilihat melalui view vinder.
 Tidak bisa untuk pengambilan gambar Close up.
Kelebihan dan Kelemahan Kamera SLR

#Kelebihan:
 Komposisi dapat lebih tepat.
 Pengaturan fokus dan jarak dapat lebih teliti karena cahaya diukur
melalui lensa.
 Karena banyaknya kepingan lensa yang dipakai, maka lebih mudah
pengaturan fokus dengan menggerkkan “focussing ring” kedepan dan
kebelakang.
 Lensa dapat dengan mudah di lepas dan di ganti dengan lensa yang
lain sesuai dengan kebutuhan.
#Kelemahan:
 Suara yang dikeluarkan pada saat di operasikan lebih berisik.
 Karena komponennya kompleks maka sering mengakibatkan
kegagalan dalam pengambilan gambar.
 Harga jauh lebih mahal.
 Sinkronisasi flash di batasi hanya pada skala shutter speed.
BAGIAN BODY KAMERA DAN FUNGSINYA
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa bagian kamera yang penting
adalah body kamera dan lensa. Pada body kamera jenis SLR dan TLR
tedapat beberapa komponen dan fungsinya sebagai berikut:
1.View Finder (jendela pengintai) fungsinya untuk melihat obyek yang akan
difoto.

2. Shutter speed (skala kecepatan), untuk mengatur kecepatan membuka
dan menutupnya rana.

3.Rana fungsinya membuka dan menutup untuk mengambil cahaya yang
dibutuhkan dai kamera ke obyek pada saat shutter release ditekan.
4.Diafragma fungsinya untuk mengontrol atau mengatur ruang tajam
pencahayaan.

5.Skala penunjuk ASA film, fungsinya untuk menunjukkan ASA film yang
dipakai.
6.Shutter Release (tombol penembak), fungsinya untuk menembak secara
manual.

7.Self Timer (penunda waktu), fungsinya untuk menangguhkan waktu
pengambilan obyek yang akan difoto.

8.Pengokang (tuas untuk memajukan film), fungsinya untuk menggeser film
yang telah dicahayai.

9.Tuas untuk menggulung film.
10.Lubang untuk memasukkan kabel sinkronisasi, untuk menggabungkan
kamera dengan flash.
11.Tombol pelepas rana.

12.Hot Shoe (sepatu panas), fungsinya untuk menempatkan flash.

13.Film Counter (penunjuk film yang telah dipakai).
14.Tempat baterai untuk kamera.
15.Tombol atau pengait penggulung film, fungsinya untuk menggulung film.

16.Tombol pelepas film.
17.Cermin, fungsinya untuk membuka dan menutup pada saat shutter
release ditekan.
18.Pengait film.
Pada jenis kamera kompak bagian-bagiannya tidak selengkap dan
sekomplek komponen-komponen pada kamera SLR dan RLT.
II. LENSA KAMERA
Kamera yang dipakai untuk keperluan lebih serius akan lebih baik
menggunakan jenis kamera SLR. Dengan sistem ini akan lebih mudah
untuk dapat mengganti lensa sesuai dengan yang diinginkan. dan
muncullah berbagai jenis lensa yang dikelompokkan menurut luas sudut
pengambilan gambar.
1. Lensa Sudut Lebar (Wide)
a. Ultra Wide (15,18,20mm)
Daya jangkau cukup dan ruang tajamnya cukup besar. Banyak digunakan
untuk foto pemandangan, jurnalistik, arsitektur. Kekurangannya bila belum
menguasai prospektif dan komposisi obyek akan tampak kecil sekali dalam
gambar.

b. Medium Wide (24,28,35mm)
Dipakai untuk interior juga arsitektur.
2. Lensa Datar
Lensa (50mm) kekuatan lensanya cukup tingi. Rancangan lensanya normal
memang dibuat seperti layaknya pandangan mata kita, maka banyak
digunakan untuk foto dokumentasi.

3. Lensa Tele
lensa dengan jangkauan jauh, agar benda di kejauhan tampak dekat.
-Medium Tele : 85,105,135,200mm
-Super Tele : 300,400,600,800,900,2000mm.

4. Lensa Vario (zoom)
Lensa yang mempunyai variasi panjang yang dapat diatur sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan kita.
-Wide-Wide : 17-18,20-35mm.
-Wide-Normal : 35-70,28-70,24-70mm.
-Wide-Medium tele : 28-85,28-200mm.
-Medium-Super tele : 80-200,600-1200mm.
-Wide-Super tele : 35-350mm.
5. Lensa Konventer
Sebuah lensa yang dapat meningkatkan kekuatan dan panjang lensa
menurut angka pelipatnya. Sebagai contoh, lensa konventer 2x 200mm
dapat menambah kekuatan lensa 200mm menjadi 400mm.
III. FLASH (LAMPU KILAT)
Yang dimaksud dengan lampu kilat adalah cahaya buatan yang dihasilkan
oleh suatu alat yang bertujuan untuk memberikan penyinaran saat cahaya
alami tidak mampu melakukannya atau sebagai pelengkap/pendukung
cahaya alami.
a. Flash bulb
Flash bulb terdiri dari lim kawat magnesium kawat besi dalam ruangan
berisi oksigen pekat. Lampu kilat jenis ini dinyalakan oleh suatu aliran atau
getaran singkat pada waktu bersamaan atau sesaat atau pengatur cahaya
dibuka. Pada sebuah flash bulb terdapat 4 bola lampu hanya dapat
digunakan dalam satu kali pemakaian.

b. Elektronik Flash
Yaitu lampu kilat dimana terdapat baterai sebagai kapasitor/kondensator
yang menyimpan tenaga listrik, kemudian mengeluarkannya untuk memicu
cahaya kilat. Dan pada lampu kilat elektronik terdapat sebuah sensor yang
mengukur cahaya dari lampu kilat sesuai dengan kadar pencahayaan yang
di butuhkan. Lampu jenis ini lebih efisien, karena dapat dipakai berulang-
ulang.

c. Multiple Flash
Yaitu suatu lampu kilat yang dapat menyala ratusan kali pada tiap detiknya.
Lampu kilat ini dapat digunakan untuk merekam pergerakan yang terjaddi
pada obyek bergerak dan menganalisa fenomena dengan kecepatan
tinggi.
d. Stroboscope
Adalah sebuah alat yang menghasilkan atau menggunakan pulsa-pulsa
cahaya yang cemerlang untuk obyek yang bergetar, berputar dan untuk
membuat obyek tersebut seperti tidak bergarak/bergerak sangat lambat.

IV. ACCESSORIES
Pada pemotretan yang baik ada kalanya di butuhkan beberapa perangkat
tambahan untuk lebih menyempurnakan hasil gambar yang diperoleh.
A.Filter
Filter merupakan lensa tambahan yang berfungsi sesuai dengan jenisnya
masing-masing diantaranya :
 Filter Monocrome, berfungsi untuk menguatkan suatu nada warna
pada obyek yang sesuai dengan filternya. Contoh, filter Monocrome
warna merah.
 Filter Ultraviolet, berfungsi untuk menghilangkan efek dari sinar ultra
violet.
 Filter Skylight, yaitu berfungsi merubah warna ultra violet menjadi
warna magenta.
 Filter Konversi, berfungsi untuk menghilangkan warna dari obyek
atau efek suatu pencahayaan menjadi warna asaknya.
 Filter Polarizing, berfungsi untuk menjernihkan pandangan
(menghilangkan pantulan cahaya, membirukan warna langit dan
menjernihkan air).
 Filter Gradual, berfungsi untuk membuat efek gradasi warna pada
obyek.
 Filter Diffuser, berfungsi untuk melembutkan pandangan.
 Filter Close Up, berfungsi untuk memotret obyek yang kecil.
B.Penyangga
a. Tripod, penyangga kamera yang memiliki tiga kaki.

b. Monopot, penyangga kamera yang memiliki satu kaki.
c. Ligt Stand, penyangga lampu-lampu yang umumnya dipakai di studio.

d. Handkett, penyangga tubuh yang menempel pada kamera.
C.Kabel Release
Kabel bertombol yang berfungsi sebagai perpanjangan dari tombol shutter.

D.Back Ground
Latar belakang yang digunakan dalam pengambilan gambar/obyek.
V. SLAVE UNIT
Sensor pemicu lampu-lampu kilat yang pulsa-pulsanya bekerja atas
rangsangan cahaya lampu kilat lain.

VI. LIGHT METER
Alat pengukur kekuatan cahaya didalam kamera secara elektronik

VII. REFLEKTOR
Alat yang befungsi sebagai pemantul cahaya.

VIII.FLASH METER
Fungsinya alat ini untuk mengukur kekuatan cahaya flash secara
eklektronik.
IX. SOFT BOX
Fungsinya untuk melembutkan cahaya.

X. SLIDE PROYEKTOR
Fungsinya untuk menampilkan film positif pada layar.
XI. HAND KAD
Fungsinya sebagai pemegang kamera dan menempatkan flash.
XII. FILM
Adalah suatu plastik yang dilapisi emulsi, emulksi tersebut tersusun atas
pelatin dan partikel garam yang peka cahaya
a. Menurut ukurannya
· Film Mikro :28×24 mm, 26×24 mm
· Film Standart :35×24 mm
· Film Format Sedang :4,5×6,7, 6×9 mm
· Film Format Besar :24×18, 12×9 mm
b. menurut kepekaan (ISO) mempunyai satuan ASA (America Standart
Association) dan DIN (Deutsch Industrie Norm)
· ISO Rendah :3-5(ASA)-15-18(DIN)
· ISO Sedang :64-200(ASA)-21-24(DIN)
· ISO Tinggi :400-800(ASA)-27-30(DIN) dst
c. menurut warna dasarnya
tiap jenis dan kategori film mengacu pada warna dasar yang menyusun
setiap warna pada film itu sendiri
 Film hitam putih (B/W), memiliki warna dasar hitam
 Film warna (colour, memiliki tiga warna dasar yaitu film negatif warna
kuning, magenta, cyan
 Film slide (film positif), warna dasarnya biru, merah, hijau
d. film khusus
 Film instan, yang bisa disebut polaroid
 Film infra merah, dipakai untuk pemotretan dalam ruang gelap
 Film X-Ray, dipakai untuk keperluan kedokteran ex. Rongen atau
pemeriksaan logam
Referensi : imajinasikita.wordpress.com


Bagian bagian Kamera




Anatomi Kamera DSLR
Posted on August 18, 2012 by aditkus

Selanjutnya saya ingin membedah sedikit fungsi-fungsi tombol yang ada di
kamera DSLR. Berhubung Saya memakai Canon 600D jadi yang saya
tampilkan adalah tombol yang ada di kamera DSLR tersebut, namun pada
prinsipnya merk apapun tombolnya akan kurang lebih sama saja. Berikut
penjelasannya:

Bagian-bagian Body Kamera DSLR

1. Lensa
Ini adalah salah satu kelebihan kamera DSLR adalah pada lensanya
dimana zoom dan focusnya bisa diatur secara manual atau otomatis. Nah
kita juga memilih jenis lensa sesuai dengan kebutuhan dan fotografi apa
yang digeluti.

2. Grip
Grip adalah bagian menonjol di bagian kanan anatomi kamera DSLR yang
fungsinya sebagai pegangan kamera supaya kita bisa memegang kamera
dengan kuat. Di dalam grip ini terdapatbaterai kamera.

3. Tombol lensa
Tombol ini fungsinya sebagai pengunci lensa dengan bodi kamera DSLR.




4. Stabilizer
Biasanya terdapat pada lensa-lensa yang ada auto fokusnya dan
dbawahnya ada tombol apakah focus lensa akan dijalan secara manual
atau auto.

5. Shutter
Tombol yang digunakan untuk mengeksekusi pengambilan gambar.

6. Tombol Flash
Digunakan untuk mengaktifkan flash pada kamera DSLR.

7. Dial
Tombol dial digunakan untuk mengatur kecepatan rana (shutter speed)

8. Tombol display
Untuk menampilkan gambar yang telah di ambil.

9. Thumb-wheel
Ini merupakan tombol modus pemotretan, disini kita bisa menggunakan
basic zone untuk belajar fotografi awal-awal dan creative zone untuk
fotografi yang sudah advance.

10. Built in Flash llight
Lampu flash internal, cukup untuk penerangan tapi hanya bisa menghadap
satu arah. Bagi yang baru belajar fotografi cukup menggunakan
menggunakan flash internal.

11. Anti red Eye
Penangkal mata terlihat merah saat menggunakan lampu flash.



12. View Finder
View finder merupakan istilah lain dari jendela bidik. Jadi apapun output
yang dilihat akan sama hasilnya jika dilihat dari view finder atau LCD. Di
view fider juga ada informasi-informasi seputar kecepatan apperture, titik
focus, metering, dan sebagainya. Nah dibagian view finder ini ada bagian
karet seperti bantalan yang disebut eye pieces, fungsinya untuk menahan
cahaya yang masuk view finder supaya objek benar-benar real.

13. Monitor LCD
Monitor LCD disini memiliki 3 fungsi. Fungsi pertama adalah untuk melihat
hasil gambar yang sudah di foto. Kedua adalah untuk menampilkan info-
info dan setingan pada kamera. Dan terakhir adalah untuk life view .
Feature life view ini fungsinya sama seperti view finder yaitu sebagai alat
melihat objek yang dibidik.

14. Tombol navigasi
FUngsi untuk mengendalikan fungsi kamera dan membantu melihat
gambar yang sudah diambil. Tiap-tiap kamera DSLR berbeda-beda dalam
menampilkan fitur ini. Ada yang berbentuk scroll , analog, dan tombol 4
arah biasa. Untuk kamera dslr canon tombol 4 arah merupakan short cut
white balance, jenis auto focus,picture style, dan drive mode.

15. Tombol AV
Tombol ini untuk mengatur bukaan diafragma atau aperture. Bukaan
diafragma tergantung jenis lensa yang dipakai.

16. Tombol Fn/Q
Merupakan salah satu tombol pengaturan menu, bisa digunakan untuk
setting white balance dan metering etc.

17. Tombol Zoom in zoom out
Fungsinya bukan meng zoom objek pada saat membidik tapi meng zomm
gambar yang sudah kita foto yang muncul di LCD.

18. Tombol life view
Digunakan untuk membidik objek lewat LCD.

19. Tombol Menu dan info
Menu untuk pengaturan kamera DSLR sedangkan info untuk mengetahui
info foto yang diambil.

20. Tombol preview
Untuk melihat hasil foto yang telah diambil

21. Tombol hapus
Tombol untuk menghapus foto dari memori.
BAGIAN DEPAN



1. Lensa

Kelebihan kamera DSLR dengan camdig terletak pada lensa. Zoom dan
fokus bias kita atur sedemikian rupa tergantung minat dan tehnik kita.
Dan kita juga bias mengubah jenis-jenis lensa kita sesuai dengan
kebutuhan. Misal: clasic lense, fishe eye lense, super wide angel lense
dan lain-lain. DSLR dan lensa memiliki perbedaan mount, jadi tidak bisa
sembarangan membeli lensa. Pastikan size mount kamera dan lensa
sama.

2. Grip

Merupakan bagian yang menonjol sebelah kanan pada kamera DSLR
yang berfungsi sebagai pegangan kamera supaya kuat dan lebih
mantap pada waktu jepret.

3. Shutter and dial

Tombol shutter berfungsi untuk mengambil bidikan dan dial berfungsi
untuk mengatur kecepatan diagfragma/aperature

4. Tombol lensa

Berfungsi sebagai pemisah antara body kamera dengan lensa

5. Built in flash light

Berfungsi untuk memberikan penerangan diwaktu cahaya kita kurang.


TAMPAK BELAKANG



6. Viewfinder

Merupakan istilah lain dari jendela bidik. Apapun yang kita lihat di
viewfinder hasilnya akan sama dengan hasil jepretan kita. Di viewfinder
terdapat karet yang berfungsi sebagai penahan cahaya dan bantalan
mata kita yang disebut eye piece. Terdapat pula titik fokus.

7. LCD

Terdapat 3 fungsi didalam LCD antara lain :

melihat hasil jepretan kita, melihat info-info dan settingan pada
kamera, dan terakhir sebagai live view yaitu sebagai jendela bidik sama
seperti viewfinder, terdapat pula titik-titik fokus.

8. Tombol navigasi

Berfungsi untuk mengendalikan setting camera dan melihat hasil foto
yang sudah kita ambil. Tiap kamera berbeda-beda. Ada yang berbentuk
analog dan ada yang berbentuk scrol.

9. Tombol play

Melihat tampilan hasil jepretan kita

10. Tombol menu

Berfungsi untuk Melakukan perubahan settingan kamera yang dapat kita
lihat di

LCD

11. Tombol zoom

Berfungsi untuk memperbesar dan memperkecil hasil jepretan kita.

12. Tombol AV

Berfungsi mengatur kompensasi pencahayaan (exposure
compensation)

13. Speaker

Mendengar suara yang sudah kita rekam divideo.

14. Tombol rekam

Berfungsi merekam video


TAMPAK ATAS



15. Tombol power

Menghidupkan dan mematikan kamera DSLR.v

16. Shut mode button

Berfungsi mengatur mode-mode pemotretan yang kita inginkan.











Fungsi Menu Manual DSLR

Pada mode manual kita akan menemukan menu-menu berikut :

17. Auto Program (Auto)

Pada mode ini kamera akan secara otomatis mengukur semua
kebutuhan anda termasuk ISO, aperture dan speed yang dibutuhkan.
Bahkan termasuk penggunaan flash. Menggunakan Mode Auto sangat
mudah dan menghemat waktu,kecuali anda ingin setting kamera yang
berbeda misalnya DOF tipis atau ingin setting kamera slow speed.

18. Manual (M)

Mode Manual memberikan keleluasaan pada fotografer untuk mengatur
Aperture dan Speed sekehendak hati. Yang harus diperhatikan dalam
menggunakan mode manual adalah rentang exposure yang terlihat di
view vinder kamera. Biasanya di mulai dengan angka -2, -1, 0, +1, +2.
Angka 0 berarti setting Aperture dan Speed menghasilkan exposure
yang tepat menurut kamera. sedangkan angka +1 berarti setting
Aperture dan Speed akan menghasilkan exposure +1. Mode ini banyak
dipakai di studio yang kondisi pencahayaannya terkontrol, Oleh
fotografer yang menggunakan Lensa manual (kebanyakan lensa manual
hanya bias digunakan dengan mode manual), oleh mereka yang baru
belajar fotografi agar lebih mengerti tentang exposure, Atau oleh mereka
yang sudah sangat paham dengan exposure dan menggunakan mode
manual seperti shortcut untuk memainkan nilai exposure

19. Program (P)

Menurut para Fotografer pada umumnya, Mode Program sudah
mengcover 95% kebutuhan pengguna kamera. Mode ini seperti mode
Auto juga sudah mengukur semua kebutuhan anda. Hanya saja flash
tidak otomatis pop-up seperti di mode auto. Dan mode ini juga tidak
sesuai untuk foto backlight seperti foto panggung.

20. Shutter speed

Shutter speed berfungsi untuk mengatur kecepatan kamera dalam
mengambil gambar. Pada gambar 1 terlihat angka 1/30 itu artinya
kecepatan mengambil gambarnya 1 per 30 detik (1/30 detik ). Jika
kecepatan mengambil gambar semakin cepat maka cahaya yg masuk
pada lensa semakin sedikit, dan hasil gambarnya akan menjadi semakin
gelap. Shutter speed cepat biasanya digunakan untuk mengambil
gambar objek yg bergerak (orang ber-olah raga). Contoh Shutter speed
cepat : 1/100 atau lebih. Jika semakin lambat shutter speednya maka,
cahaya yg masuk juga semakin banyak, dan hasil gambarnya juga akan
semakin cerah. Shutter speed lambat ( slow shutter speed ) biasanya
digunakan untuk mengambil gambar pada malam hari yg cahayanya
sedikit. Ada satu catatan jika ingin mengambil gambar Slow shutter
speed : kamera tidak boleh goyang (shake) karena pengambilan fotonya
lama maka kamera harus dalam keadaan tidak bergerak karena jika
goyang akan menghasilkan foto yg tidak di inginkan. Biasanya
mengambil foto teknik ini menggunakan tripod atau tempat yg tidak
mudah goyang, contoh : kursi, meja dan sebagainya. Contoh shutter
lambat : 2 detik ( 2″ ) atau lebih.

21. Diafragma.

Diafragma dari sebuah lensa adalah diameter bukan lensa dan biasanya
dikontrol oleh iris. Semakin besar diameter aperture, semakin banyak
cahaya yang masuk kedalam lensa. Sama dengan mata kita, bila kita
menyipitkan mata kita, otomatis keadaan sekitar akan menjadi gelap.
Pada saat kita melihat matahari yang sangat terang, kita pasti
menyipitkan mata kita, begitu juga dengan kamera.

22.
Aperture Priority (A)

Mode ini juga dikenal dengan singkatan Av (Aperture Value Priority)
pada sebagian kamera. Mode ini memberikan keleluasaan pada
fotografer untuk mengubah nilai Aperture dengan menggeser dial/ scroll.
Mode ini banyak diandalkan fotografer karena dapat dengan cepat
mengubah DOF sesuai keinginan fotografer. Bila ingin semua detail
terlihat tajam, tinggal mengubah aperture menjadi F 8 atau F 11. Bila
ingin bakcground subjek terlihat blur, tinggal mengubah aperture
menjadi F 2,8 atau F 1,8.

23. ISO speed.

ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya.
Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitive sensor terhada
cahaya, san semakin terang hasil fotonya. Semakin rendah ISO, maka
semakin gelap fotonya. Tetapi jika kita menggunakan ISO yg terlalu
tinggi akan menghasilkan noise (bintik-bintik) pada hasil foto kita.

24. Exposure

Exposure adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada
banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar)
dalam proses pengambilan foto. Untuk membantu fotografer mendapat
setting paling tepat untuk Exposure, digunakan lightmeter. Lightmeter,
yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas
cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat Exposure
normal.

25. White Balance.

White balance adalah aspek penting dalam dunia fotografi dan
berpengaruh pada hasil akhir foto. White balance berpengaruh terhadap
warna foto. Neon dan bohlam memiliki “temperatur warna” yang
berbeda. Cahaya yang kekuningan (bohlam) disebut hangat sementara
cahaya yang kebiruan (neon) disebut dingin. Tujuan setting white
balance adalah memerintahkan kamera agar mengenali temperatur
sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, merah
terlihat merah dan hijau terlihat hijau, atau dengan kata lain agar kamera
merekam warna obyek secara akurat dalam kondisi pencahaayan
apapun.
White Balance Preset:
 Auto – kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang
ditanam dari pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada
kebanyakan situasi, namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat
sunset/sunrise)
 Tungsten – disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok
digunakan saat anda memotret di ruangan dengan sumber cahaya
bohlam.
 Fluorescent – disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat
memotret di ruangan dengan pencahayaan lampu neon.
 Daylight – biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di
bawah sinar matahari
 Cloudy – disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca
mendung
 Flash – simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe)
gunakan preset ini.
 Shade – biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat
memotret dalam rumah (siang hari) atau anda berada di daerah
bayangan – bukan sinar matahri langsung.
Cara Setting White Balance Secara Manual :
Beberapa kamera, terutama SLR dan prosumer, menyediakan fasilitas
setting white balance manual. Setting manual adalah cara paling akurat jika
kita bingung dengan temperatur warna sumber cahaya kita. Ini biasanya
terjadi dalam pemotretan dengan sumber pencahayaan yang lebih
kompleks (lebih dari satu jenis temperatur warna). Kita bisa memanfaatkan
kertas putih untuk tujuan ini. Cara yang lebih mudah dan akurat adalah
dengan menggunakan aksesoris tambahan yang bernama expodisc atau
kenko, harganya berkisar dari Rp. 800 ribu s/d Rp. 1,5 Juta. Anda bisa
membeli- nya di toko-toko kamera besar.
1. Lensa Fokus.

dengan menggunakan lensa ini kamu dapat memfokuskan benda
(object) ataupun latar belakang (background). tentunya jika ingin
menggunakan fungsi lensa ini sesuka ati tentunya anda harus
mengubah mode di lensanya dari AF (auto fokus) menjadi MF (manual
fokus).

2. Scene

Mode scene merupakan kombinasi dari berbagai setting pada kamera
seperti setting ISO, Aperture, Speed, Color Balance, pengaturan RGB,
mode drive (single/ continous shoot), dll. Contoh scene mode adalah
Mode Landscape, Portrait, Macro, Sunset, Night, dll.










Macam-macam lensa pada DSLR
A. Lensa Standar, umumnya lensa ini berukuran 50mm. Lensa ini
digunakan untuk memperoleh hasil yang natural.


B. Lensa Tele, umumnya lensa ini berukuran 70 mm ke atas. Lensa ini
digunakan untuk mengambil jarak jauh. Prinsipnya adalah
memperbesar objek dari ukuran yang sebenarnya, sehingga terlihat
tampak lebih dekat dengan sudut yang dihasilkan lebih sempit.



C. Lensa Wide Angle, dikenal dengan istilah lensa sudut lebar, yaitu
jenis lensa yang digunakan untuk pengambilan gambar yang
memerlukan sudut pandang yang lebar. Cara kerja lensa ini
membuat objek menjadin lebih kecil dari sebenarnya, sehingga dapat
mengambil gambar lebih luas dan tampak seperti jauh. Biasanya
lensa ini berukuran pendek 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
Lensa ini adalah kebalikan dari lensa Zoom.


D. Lensa Zoom, adalah perpaduan dari lensa Standar, lensa Tele, dan
lensa Wide Angle. Lensa ini mempunyai ukuran yang bermacam-
macam, misalnya 80-200 mm, 80-300 mm, dan sebagainya. Dengan
jangkauan (Range) ukuran lensa tersebut, penggunaannya dapat
disesuaikan dengan kebutuhan sudut yang akan diambil, dengan
memutar / menyesuaikan ukuran lensa tersebut.



E. Lensa Makro, digunakan untuk mengambil objek yang berukuran
kecil, dengan pengambilan fokus hanya pada objek tersebut,
sehingga akan terlihat detailnya dengan latar belakang (Background)
objek akan tampak buram (Blur). Ukuran lensa ini bermacam-macam,
seperti 28-80 mm, 35-70 mm, dan sebagainya.


F. Lensa Fiesheye, lensa fisheye biasa disebut dengan lensa mata ikan,
sudut yang dihasilkan dari lensa ini menjadi sangat luas, atau sekitar
180 derajat bila diukur dari ujung ke ujung. Efek yang dihasilkan
adalah efek lengkung pada gambar. Ukuran dari lensa ini bermacam-
macam, yaitu 8-10 mm untuk gambar lingkaran dan 15 -16 mm untuk
gambar penuh (Full frame).



Sensor Kamera dan Resolusi

Perhatian:
Semua isi dokumen ini adalah hak milik Intellectual Property (IP) copyright dari Focus
Nusantara, dilarang meng-copy atau memindahkan kedalam bentuk, format atau media
apapun tanpa persetujuan tertulis (written consent) dari Focus Nusantara.

Dalam fotografi digital, sensor menjadi komponen utama yang menggantikan tugas film
sebagai bagian yang menangkap gambar. Sekeping sensor tersusun atas jutaan
rangkaian dioda peka cahaya berukuran sangat kecil yang dinamakan piksel.
Banyaknya jumlah piksel pada sensor menunjukkan resolusi yang menentukan
seberapa detail sebuah foto bisa dihasilkan. Semakin tinggi resolusi dari sebuah foto
maka akan semakin besar ukuran cetak maksimalnya.

Sensor merupakan rangkaian elektronik yang peka cahaya. Setiap piksel pada keping
sensor akan merubah intensitas cahaya yang mengenainya menjadi tegangan listrik,
dimana piksel yang mendapat cahaya terang akan menghasilkan sinyal listrik tinggi
sedangkan piksel yang kurang mendapat cahaya akan mengeluarkan sinyal yang
rendah. Tegangan dari sensor ini selanjutnya dirubah menjadi sinyal digital dan siap
diproses di tingkat selanjutnya di dalam kamera hingga menghasilkan sebuah gambar.


Ukuran sensor dan resolusi


Umumnya sensor kamera digital terbagi dalam dua kelompok ukuran, yakni ukuran
kecil dan ukuran besar. Sensor dengan ukuran kecil dijumpai di kamera ponsel dan
kamera saku hingga kamera prosumer. Sedangkan sensor dengan ukuran besar
dijumpai di kamera DSLR. Ukuran sensor ditentukan dari dimensi panjang dan lebar,
dan biasanya dijumpai dua macam standar apsek rasio dalam ukuran sensor, yaitu
format 4:3 dan format 3:2.


Sensor yang tergolong berukuran kecil diantaranya :
 - Sensor ukuran 1/2.5 inci (5.7 x 4.3 mm)
 - Sensor ukuran 1/1.8 inci (7.2 x 5.3 mm)
 - Sensor ukuran 2/3 inci (11 x 8.8 mm)

Sedangkan sensor dengan ukuran besar diantaranya :
 - Sensor Four Thirds (17 x 13 mm)
 - Sensor APS-C (22 x 15 mm)
 - Sensor APS-H (29 x 19 mm)
 - Sensor Full Frame (50 x 39 mm)

Resolusi sensor sendiri menunjukkan seberapa banyak piksel yang terdapat pada
sebuah sensor, dimana kamera modern saat ini umumnya memiliki resolusi sensor
yang tinggi yaitu antara 8 mega piksel hingga 24 mega piksel. Sebuah sensor dengan
resolusi 10 mega piksel misalnya, memiliki 12 juta piksel yang tersusun dari 4000 piksel
horizontal dan 3000 piksel vertikal.


Dalam menjaga persaingan, produsen kamera terus meningkatkan jumlah piksel meski
ukuran sensor yang dipakainya tetap sama. Memang pada dasarnya resolusi sensor
tidak dibatasi oleh ukuran fisik sensor, sehingga boleh-boleh saja produsen sensor
membuat sebuah sensor berukuran kecil namun memiliki resolusi yang tinggi. Demikian
juga sebaliknya, ada kalanya sebuah sensor besar memiliki resolusi yang tergolong
rendah. Namun dalam mendesain sensor berukuran kecil dengan jumlah piksel yang
banyak, proses miniaturisasi yang dilakukan akan menghadapi masalah utama yaitu
kecilnya ukuran piksel yang bertugas menangkap cahaya. Resiko ini menyebabkan
sensitivitas sensor kecil lebih rendah daripada sensor besar sehingga sensor kecil lebih
mudah mengalami noise di ISO tinggi. Maka itu resolusi sensor kecil kini mulai
mencapai titik jenuh di 12-14 MP sedangkan resolusi sensor besar bisa dibuat hingga
24 MP.



Pada prinsipnya, resolusi sensor sendiri tidak berhubungan secara langsung dengan
kualitas foto. Resolusi sensor lebih tepat digunakan untuk menentukan resolusi
maksimal foto yang dihasilkan nantinya. Sebuah foto digital bila dilihat secara detail
merupakan mosaik yang dibentuk dari jutaan piksel dimana semakin banyak pikselnya
maka semakin detail fotonya. Sebuah foto dengan dimensi 3000 piksel (sisi panjang)
dan 2000 piksel (sisi pendek) menandakan foto tersebut memiliki 6 juta piksel (3000 x
2000 piksel) atau disebut 6 mega piksel (6 MP).



Kembali ke urusan cetak mencetak foto, bila ingin mencetak foto dengan ukuran 4R
saja, maka dengan hanya memakai kamera resolusi 4 MP saja sebetulnya sudah
sangat mencukupi. Namun dengan memiliki kamera yang resolusinya lebih tinggi, kita
bisa melakukan pencetakan dengan ukuran yang lebih besar. Selain itu, foto dengan
resolusi tinggi memungkinkan kita melakukan cropping secara leluasa dengan tetap
menjaga hasil foto setelah cropping masih punya cukup detail.


Pedoman umum ukuran cetak maksimal dari foto digital kurang lebihnya adalah :
 6 MP : 12 x 18 inci
 10 MP : 16 x 24 inci
 16 MP : 20 x 30 inci
 24 MP : 24 x 36 inci

Adapun jenis file foto digital yang paling umum adalah berformat JPEG, sementara file
RAW adalah file asli dari sensor yang belum mengalami proses pengolahan gambar di
dalam kamera. Tidak semua kamera menyediakan format file RAW. File JPEG
merupakan file foto hasil proses di dalam kamera mulai dari pengaturan tone, white
balance, noise reduction hingga kompresi. Karena adanya kompresi itulah maka file
JPEG punya ukuran yang cukup kecil, meski harus dibayar dengan adanya sedikit
penurunan kualitas foto bila dibanding dengan file yang tidak dikompres. Pada kamera
modern, tersedia pilihan kualitas kompresi file JPEG, biasanya ada tiga tingkatan :
 best/fine : kompresi rendah, kualitas foto tinggi, tapi ukuran file agak besar
 normal : kompresi sedang, kualitas foto baik, ukuran file sedang
 basic : kompresi tinggi, kualitas foto kurang baik, tapi ukuran file kecil


Jenis sensor

Sensor pada kamera digital secara umum terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
 sensor CCD
 sensor CMOS

Sensor CCD (Charged Coupled Device) merupakan sensor tipe analog yang telah lama
digunakan sebagai sensor kamera digital dan kamera perekam video dan memiliki
kualitas hasil foto yang amat baik. Prinsip kerja sensor CCD amat sederhana, karena
sensor ini hanya merubah intensitas cahaya yang mengenainya menjadi nilai tegangan
yang kemudian diproses menjadi data digital oleh rangkaian Analog to Digital Converter
(ADC) pada kamera digital.


Sementara sensor CMOS (Complimentary Metal Oxide Semiconductor) merupakan
sensor berteknologi modern yang memiliki transistor di tiap pikselnya. Sensor CMOS
dibuat dengan konsep digital-chip sehingga keluaran dari sensor ini sudah dalam
bentuk data digital. Jadi kamera dengan sensor CMOS tidak lagi memerlukan rangkaian
ADC tersendiri, karena keluaran dari sensor CMOS bisa langsung masuk ke prosesor
kamera. Karena mekanisme kerja sensor CMOS lebih sederhana, sensor jenis ini
digunakan secara luas di kamera ponsel meski dengan kualitas hasil foto pas-pasan.
Seiring dengan kemajuan teknologi, sensor CMOS masa kini sudah mampu menyamai
kualitas dari sensor CCD dan telah dipakai di kamera kelas atas seperti DSLR kelas
pro. Salah satu keunggulan sensor CMOS adalah bisa dipakai memotret burst dengan
frame rate tinggi.

Dari uraian di atas tampak kalau sensor apapun jenisnya, karena hanya mengubah
besaran cahaya menjadi besaran tegangan, sebenarnya hanya mengenali informasi
terang gelap saja (atau bisa disebut dengan grayscale). Untuk bisa menangkap informasi
warna dari obyek yang difoto, sensor kamera digital perlu dilengkapi dengan sebuah filter
warna dengan pola warna dasar RGB (merah, hijau dan biru) yang tersusun dengan pola
seperti pada gambar disamping. Kombinasi dari tiga warna dasar ini bisa menghasilkan
banyak warna berkat teknik interpolasi yang dilakukan di dalam kamera. (EM)



Memahami Resolusi Sensor Kamera
Published By Admin On June 20th, 2013 06:47 AM | Tips Fotografi
Belakangan ini banyak diluncurkan produk
kamera pocket dan smartphonedengan fitur kamera yang memiliki resolusi
fantastis. Mulai dari 14 Megapiksel, 24 Megapiksel bahkan ada
produsen smartphone yang meluncurkan produknya dengan fitur kamera
yang mempunyai resolusi 40 Megapiksel,,, Woouuuww, fantastis bukan ?
Nilai resolusi sensor kamera yang besar diklaim mampu menghasilkan
kualitas gambar yang bagus. Sehingga hal ini memunculkan pendapat
dimasyarakat awam bahwa kualitas gambar yang dihasilkan
kamera pocketdan smartphone akan sama bagusnya dengan kamera
DSLR, pada kamera DSLR entry level rata-rata memiliki resolusi sensor
kamera antara 10 – 14 Megapiksel. Pertanyaanya adalah benarkah bahwa
gambar yang dihasilkan kamera pocket dan smartphone lebih bagus
karena memiliki nilai resolusi sensor kamera yang lebih besar ?..
Jawabanya sudah pasti TIDAK, kenapa? Karena kamera DSLR lebih
mahal,,,,hahaahaaaa,,,,
Jawaban tersebut tidak salah, namun tentu kurang tepat. Dijaman kamera
digital sekarang ini fungsi film pada jaman kamera analog digantikan oleh
sensor kamera, nah kamera DSLR memiliki sensor yang lebih besar
dibanding kamera pocket dan smartphone sehingga walaupun resolusinya
kalah besar, gambar yang dihasilkan oleh kamera DSLR tetap lebih bagus
dibanding kamera pocket dan smartphone.
FUNGSI SENSOR KAMERA
Sensor kamera berfungsi untuk menangkap cahaya dari obyek, sehingga
semakin besar ukuran sensor kamera maka akan semakin banyak cahaya
yang dapat ditangkap oleh sensor tersebut dengan bidang yang lebih luas.
Jika semakin banyak cahaya yang dapat ditangkap dengan bidang yang
lebih luas maka obyek akan dapat terekam dengan lebih detail. Sebagai
persamaan, misalnya manusia dengan mata normal tetap tidak akan dapat
melihat apabila berada dilingkungan yang gelap (tidak ada cahaya) dan
tidak akan dapat melihat benda (obyek) disekitarnya dengan jelas apabila
cahaya disekitarnya remang-remang. Maka fungsi sensor kamera
ibaratnya mata pada manusia, dan prosesor kamera adalah otak pada
manusia.
Cahaya yang ditangkap oleh sensor kamera akan diteruskan ke prosesor
kamera yang kemudian akan mengolahnya menjadi sebuah gambar
duplikat dari obyek yang disimpan dalam format digital.

RESOLUSI SENSOR KAMERA
Sensor kamera tersusun dari jutaan dioda peka cahaya yang dirangkai
menjadi satu keping sensor. Rangkaian dioda tersebut dinamakan piksel
dan banyaknya jumlah piksel dalam sekeping sensor kamera disebut
resolusi sensor kamera. Apabila sebuah kamera memiliki resolusi 10
Megapiksel itu berarti sensor kamera tersebut memiliki kurang lebih 12 juta
piksel yang tersusun dari 4000 piksel horizontal dan 3000 piksel vertical.

Mekanisme kerja dari dioda peka cahaya yang membentuk piksel tersebut
adalah ketika terkena cahaya akan merubah intensitas cahaya yang
mengenainya menjadi sinyal listrik tinggi sedangkan piksel yang kurang
mendapat cahaya akan mengeluarkan sinyal listrik rendah. Perbedaan dari
tegangan piksel inilah yang kemudian oleh sensor kamera dirubah menjadi
sinyal digital yang selanjutnya diproses dalam prosesor kamera yang
kemudian menghasilkan sebuah gambar.

Jumlah piksel dalam sekeping sensor tidak mempengaruhi ukuran fisik dari
sensor tersebut. Produsen dapat meningkatkan jumlah piksel dalam
sekeping sensor dengan ukuran fisik sama, caranya dengan membuat
miniatur piksel yang lebih kecil. Sehingga dapat dijumpai sebuah kamera
dengan ukuran sensor yang besar, misalnya pada kamera
DSLR mempunyai jumlah resolusi yang sedikit, hal ini karena piksel dalam
sensor kamera tersebut juga besar. Begitu pula sebaliknya sensor dengan
ukuran fisik kecil seperti pada kamerapocket atau smartphone dapat
mempunyai piksel yang jumlahnya banyak, hal ini karena piksel disensor
tersebut dibuat kecil-kecil. Masalahnya adalah ukuran piksel yang kecil
akan mengurangi sensitifitas piksel terhadap cahaya, karena itulah gambar
yang dihasilkan pada sensor kecil seperti pada
kamerapocket atau smartphone mudah menimbulkan noise atau bintik-
bintik terutama pada ISO tinggi, walaupun mempunyai resolusi tinggi.
Sebaliknya gambar yang dihasilkan kamera DSLR lebih bagus karena
memiliki ukuran fisik sensor yang lebih besar dan tersusun dari piksel yang
besar pula, sehingga setiap piksel di sensor kamera DSLR tersebut
mempunyai sensitifitas yang lebih baik terhadap cahaya dibanding piksel
pada sensor kamera pocket atausmartphone yang berarti mampu
menghasilkan gambar yang lebih baik pula.

Manfaat yang diperoleh dari meningkatkan jumlah piksel atau resolusi
sensor kamera adalah gambar yang dihasilkan akan mempunyai kerapatan
titik-titik piksel yang lebih rapat sehingga ketika hasil gambar tersebut di
zoom atau dicetak besar gambar tersebut tidak akan pecah.
Tags: Belajar Fotografi Pemula, Belajar Kamera Dslr, Fotografi
Tips, Fotografi Untuk Pemula, Megapiksel, Piksel, Resolusi
Kamera, Sensor Kamera


Debu Pada Sensor Kamera DSLR Dan Cara Mendeteksinya
Coba amati foto-foto terbaru yang dihasilkan kamera DSLR anda? Apakah
dalam foto tersebut terlihat ada spot gelap yang konsisten dari satu foto ke
foto yang lain? Apakah tempat spot tersebut selalu sama? Kalau jawaban
dari dua pertanyaan ini YA, berarti sensor kamera anda dihinggapi debu.
Dalam artikel ini kita akan belajar mendeteksi keberadaan debu pada
sensor kamera DSLR anda.
Bagaimana Debu Masuk Sampai Sensor?
Debu pada sensor adalah hal yang lumrah kalau anda sudah lama memiliki
kamera. Bagaimana debu bisa sampai nyangkut di sensor kamera? Ada
beberapa cara debu bisa masuk ke sensor:
1. Mekanisme lensa yang berputar saat zooming dan focusing. Saat
berputar debu yang menempel di lensa bisa tersedot jatuh ke sensor
kamera.
2. Karena putaran pada poin diatas berarti dua elemen bergesekan,
bisa jadi muncul serpihan dan serpihan tersebut jatuh ke sensor.
3. Kalau kita memiliki lebih dari satu lensa, debu kemungkinan masuk
saat proses mengganti lensa. Untuk menghindarinya, baca cara
mengganti lensa dengan aman.
Debu atau dust ini sebenarnya tidak melulu mengotori sensor kamera
DSLR, ada beberapa elemen lain yang sebenarnya mungkin terkotori,
tetapi yang terburuk adalah sensor karena kalau sensor sudah kotor maka
kotoran ini akan selalu muncul dan terlihat secara visual pada setiap foto,
khususnya saat anda menggunakan bukaan aperture kecil, f/10 kebawah.
Debu pada lensa relatif mudah dibersihkan sementara debu pada lensa
butuh treatment lebih lanjut saat fitur dust cleaning dalam menu di kamera
tidak berhasil menghilangkannya.
Beberapa karakteristik foto dengan sensor yang terkotori oleh debu:
1. Ukuran dan penampakan partikel debu berubah seiring dengan
perubahan aperture. Kalau anda menggunakan bukaan besar,
kemungkinan debu tidak akan terlihat. Namun saat anda
menggunakan aperture kecil, debu langsung terlihat. Aperture kecil
misalnya f/10 kebawah: f/11 – f/22.
2. Partikel debu selalu terlihat di tempat yang sama
3. Untuk mengetahui adanya debu di sensor, kita harus mengamatinya
dari foto
Contoh debu pada sensor bisa terlihat dibawah ini:

Bagaimana Cara Mendeteksinya Sekarang Juga?
Coba ikuti 10 langkah berikut ini:
1. Set kamera di posisi Aperture Priority
2. Set metering mode di posisi Matrix/Evaluative Metering
3. Set ISO di posisi terkecil 100 atau 200
4. Matikan Auto ISO
5. Matikan Autofokus dan posisikan lensa di Manual Focus
6. Set Aperture di posisi terkecil, misal f/16 atau f/22
7. Keluarlah dari rumah dan coba foto langit, khususnya jika langit
sedang berwarna biru cerah. Kalau tidak memungkinkan, cari kertas
putih lalu zoom out sampai kertas memenuhi seluruh frame lalu ambil
foto.
8. Sekarang amati hasil foto di LCD kamera atau monitor komputer jika
anda sudah memindahkannya ke komputer, zoom sebesar-besarya
lalu scroll pelan-pelan
9. Jika anda tidak bisa melihat kotoran seperti pada contoh foto diatas
berarti aman
Oke, dari hasil foto sepertinya sensor saya kotor kena dust, gunakan fitur
lens cleaning bawaan kamera (cari di menu kamera anda), atau gunakan
blower. Kalau kotoran memang bandel, bawa ke service center.
Baca Juga:
 Pesan Error Pada kamera DSLR Nikon
 Cara Kerja Kamera DSLR
 Cara Mengganti Lensa DSLR Secara Aman & Cepat
 Tips Singkat: Cara Aman Menyimpan Penutup Lensa dan Body



Apa Sih Yang Perlu Diketahui Tentang Sensor Kamera?
Dunia Fotografi - Sensor bisa dikatakan adalah jantung atau pusat dari kamera kalian.
Sensor gambar memainkan peran yang sangat mendasar dalam fotografi digital, Jadi
mengetahui dan memahami bagaimana karakter kunci sensor akan sangat membantu
Sobat InFotografi saat berinteraksi dengan kamera digital. Apa saja sih yang harus kita
ketahui tentang Sensor gambar?


Photo: Sivi Steys

UKURAN SENSOR
Sensor gambar terdapat beberapa ukuran, salah satunya adalah full-frame yang memiliki
ukuran yang sama dengan frame film 35m. Pengetahuan tentang bagaimana pentingnya
ukuran sensor merupakan hal yang vital dalam fotografi, mengapa? simak yuk alasan-
alasan berikut:
1. Ukuran sensor gambar menentukan focal length lensa yang digunakan oleh
kamera.
2. Ukuran sensor yang lebih besar pada umumnya mampu menghasilkan
kualitas gambar yang lebih bagus, karena pixel lebih besar dan akan menghasilkan
sedikit noise.
3. Semakin besar ukuran sensor maka harga juga akan semakin mahal.
4. Kamera yang memiliki sensor lebih besar maka akan memiliki viewfinder
yang lebih besar pula.
5. Sensor berukuran besar memberikan Depth of Field yang lebih sempit jika
dibandingkan denggan sensor ukuran kecil.

Sensor-sensor full-frame bisa ditemukan pada kamera model semi-pro dan pro, dan
memiliki dimensi yang sama dengan frame film 35mm. Ukuran resolusi kamera full frame
tersebut bisa dikatakan sangat tinggi: Canon EOS-1Ds Mk III memiliki 21.1 juta pixels, Sony
Alpha 900 memiliki 24.6 megapixels, sementara Nikon D3x memiliki 24.5 juta pixels.


Yuk Sobat, Tengok Kaos Fotografi keren disini..
www.infotografistore.com



Sensor APS-H digunakan pada kamera EOS-1D dan sepertinya memang diperuntukkan
bagi fotografer sport dan wildlife yang membutuhkan sedikit fungsi extra dari sensor ukuran
kecil.APS-C merupakan ukuran sensor yang paling banyak digunakan, Sobat bisa
menemukan di banyak kamera DSLR, bahkan pada kamera CSC Sony dan
Samsung.Sensor Four-Third merupakan sensor terkecil dari semua sensor yang ada.
Berikut ini adalah ukuran-ukuran sensor:
 Full Frame: 36x24mm
 APS-H: 28.7x19.1mm
 APS-c: 23.6x15.5mm (Nikon, Pentax, Sony)
 APS-C: 22.3x14.9mm (Canon)
 Four-Thirds: 17.3x13mm
 Nikon CX-Format: 13.2x8.8mm
 PentaxQ: 6.17x4.55mm

KEPEKAAN CAHAYA
Pada era film, ISO (Internation Standard Organisation) mewakili tingkat kepekaan terhadap
film, Sistem ini juga digunalan pada sensor gambar. Semakin rendah tingkat ISO yang
digunakan, maka semakin rendah kesensitifan sensor terhadap cahaya, begitu juga
sebaliknya. Tetapi satu hal yang perlu diingat adalah ketika Sobat menaikkan ISO maka
potensi timbulnya noise akan semakin besar pula, dan mungkin noise ini tidak Sobat
inginkan. Jangkauan ISO bervariasi di setiap sensor tetapi pada umumnya ada pada range
ISO 100-6400.

Beberapa kamera high-end menawarkan iso terendah sampai ke angka 50, dan ISO
maksimal sampai ke 102,400, ISO tinggi tersebut mampu untuk mengambil gambar saat
malam hari. Kamera kebanyakan sekarang juga telah melengkapi fiturnya dengan Noise
Reduction.

RESOLUSI GAMBAR
Sebuah sensor gambar dibentuk dari jutaan pixel. Semakin banyak pixel yang dimiliki oleh
sensor maka semakin tinggi resolusinya. Jutaan pixel ini dituliskan sebagai megapixel, jadi
sensor 12 juta pixel akan dituliskan dengan 12 megapixel. Mungkin Sobat sering
mendengar bahwa semakin besar ukuran pixel maka semakin bagus pula kualitas gambar,
tapi itu adalah pendapat yang tidak sepenuhnya benar! Ukuran sensor juga memainkan
peran, seperti yang telah kami sebutkan di awal bahwa pixel yang lebih besar pada sensor
yang juga lebih besar pada umumnya akan memberikan kualitas yang bagus. image
processor, dan optik lensa juga memiliki peran tersendiri bagi kualitas gambar.

SENSOR DAN LENSA
Jika sobat pernah membaca atau mendengar tentang relasi antara senosr gambar dan
lensa mungkin akan terdengar sedikit membingungkan, tetapi Sobat akan terbiasa jika telah
mendapatkan beberapa pengalaman. Jika Sobat memiliki Dua lensa yang identik yang bisa
dipasang pada kamera dengan sensor full-frame dan APS-C, maka sobat akan melihat
hasil dengan perbesaran yang berbeda.

Setiap sensor memiliki crop factor, dimana harus dikalikan dengan focal length untuk
memberikan focal lenth yang efektif digunakan. Sebagai contoh: sensor APS-C memiliki
crop factor 1.5x (1.6x pada Canon), dan sensor four-third memiliki crop factor 2x, jadi jika
Sobat menggunakan lensa 50mm pada kamera bersensor Four-Thirds maka focal length
lensa efektif adalah 100mm. Foto yang dihasilkan adalah sama dengan hasil pada 100mm
pada kamera film 35mm atau sensor full-frame. Lensa 100-300mm yang digunakan pada
DSLR nikon yang bersensor APS-C memiliki focal length efektif 150-450mm. Berikut ini
adalah data lengkap crop factor pada setiap sensor:
 Full Frame: 1x
 APS-H: 1.3x
 APS-C: 1.5x (Nikon, Pentax, Sony)
 APS-C: 1.6x (Canon)
 Four-Thirds: 2x
 Nikon CX-Format: 2.7x
 Pentax Q: 5.5x



Lebih jauh tentang teknologi sensor di
kamera digital
by ERWIN MULYADI on MARET 6, 2014
Salah satu aspek yang dilihat saat menilai kualitas kamera digital adalah
sensornya. Kita tahu sensor pada kamera digital adalah rangkaian peka
cahaya, tempat gambar dibentuk dan dirubah menjadi sinyal data. Tidak
semua kamera digital punya ukuran sensor yang sama. Sesuai bentuknya,
kamera digital yang kecil umumnya pakai sensor yang juga kecil, sedangkan
kamera mirrorless dan DSLR memakai sensor yang lebih besar. Sensor
dengan luas penampang sama dengan ukuran film 35mm disebut sensor full
frame. Mengapa penting untuk mengenal ukuran sensor di kamera digital?
Karena ukuran sensor berkaitan dengan kemampuan menangkap cahaya
dan menentukan bagus tidaknya hasil foto yang diambil. Sekeping sensor
pada dasarnya merupakan sekumpulan piksel yang peka cahaya, saat ini
umumnya sekeping sensor punya 10 juta piksel bahkan lebih. Makin banyak
piksel, makin detil foto yang bisa direkam. Tapi saat bicara kualitas hasil
foto, kita perlu mencari lebih jauh info ukuran sensornya, bukan sekedar
berapa juta pikselnya saja.

Megapiksel, atau resolusi sensor, saat ini seperti jadi cara efektif untuk
marketing. Maka itu ponsel berkamera pun dibuat punya sensor yang
megapikselnya tinggi. Pun demikian dengan kamera saku sampai kamera
canggih, semua berlomba menjual ‘megapiksel’ ini. Bayangkan sensor kecil
yang dijejali piksel begitu banyak, seperti apa rapat dan sempitnya piksel-
piksel itu berhimpit? Dibawah ini adalah contoh ilustrasi ukuran sensor, dua
di sebelah kiri (yang berwarna merah) adalah mewakili sensor kecil,
umumnya ditemui di kamera saku. Sensor kecil memang murah dalam hal
biaya produksi, dan bisa membuat bentuk kamera jadi sangat kecil.

Di sisi lain, ukuran sensor yang lebih besar memang lebih mahal dan
kamera/lensanya jadi lebih besar. Tapi keuntungannya dengan luas
penampang yang lebih besar, tiap piksel punya ukuran yang lebih besar dan
mampu menangkap cahaya dengan lebih baik. Maka itu saat kondisi kurang
cahaya, dimana kamera tentu akan menaikkan ISO (kepekaan sensor), yang
terjadi adalah hasil foto dari kamera dengan sensor besar punya hasil foto
yang lebih baik. Sedangkan di ISO tinggi, kamera sensor kecil akan dipenuhi
bercak noise yang mengganggu. Noise ini oleh kamera modern dicoba untuk
dikurangi secara otomatis (lewat prosesor kamera) namun yang terjadi hasil
fotonya jadi tidak natural seperti lukisan cat air.
Sensor CMOS vs sensor CCD
Perbedaan utama desain CMOS dan CCD adalah pada sirkuit digitalnya.
Setiap piksel pada sensor CMOS sudah memakai sistem chip yang langsung
mengkonversi tegangan menjadi data, sementara piksel-piksel pada sensor
CCD hanya berupa photodioda yang mengeluarkan sinyal analog (sehingga
perlu rangkaian terpisah untuk merubah dari analog ke digital/ADC). Anda
mungkin penasaran mengapa banyak produsen yang kini beralih ke sensor
CMOS, padahal secara hasil foto sensor CCD juga sudah memenuhi standar.
Alasan utamanya menurut saya adalah soal kepraktisan, dimana sekeping
sensor CMOS sudah mampu memberi keluaran data digital siap olah
sehingga meniadakan biaya untuk membuat rangkaian ADC.

Selain itu sensor CMOS juga punya kemampuan untuk diajak bekerja cepat
yaitu sanggup mengambil banyak foto dalam waktu satu detik. Ini tentu
menguntungkan bagi produsen yang ingin menjual fitur high speed
burst. Faktor lain yang juga perlu dicatat adalah sensor CMOS lebih hemat
energi sehingga pemakaian baterai lebih awet. Maka itu tak heran kini
semakin banyak kamera digital (DSLR maupun kamera saku) yang akhirnya
beralih ke sensor CMOS. Adapun soal kemampuan sensor CMOS dalam ISO
tinggi pada dasarnya tak berbeda dengan sensor CCD dimana noise yang
ditimbulkan juga linier dengan kenaikan ISO. Kalau ada klaim sensor CMOS
lebih aman dari noise maka itu hanya kecerdikan produsen dalam
mengatur noise reduction.
Cara sensor ‘menangkap’ warna

Sensor gambar pada dasarnya merupakan perpaduan dari chip peka cahaya
(untuk mendapat informasi terang gelap) dan filter warna (untuk merekam
warna seakurat mungkin). Di era fotografi film, pada sebuah roll
film terdapat tiga lapis emulsi yang peka terhadap warna merah (Red), hijau
(Green) dan biru (Blue). Di era digital, sensor kamera memiliki bermacam
variasi desain teknologi filter warna tergantung produsennya dan harga
sensornya. Cara kerja filter warna cukup simpel, misal seberkas cahaya
polikromatik (multi warna) melalui filter merah, maka warna apapun selain
warna merah tidak bisa lolos melewati filter itu. Dengan begitu sensor hanya
akan menghasilkan warna merah saja. Untuk mewujudkan jutaan kombinasi
warna seperti keadaan aslinya, cukup memakai tiga warna filter yaitu RGB
(sama seperti film) dan pencampuran dari ketiga warna komplementer itu
bisa menghasilkan aneka warna yang sangat banyak. Hal yang sama kita
bisa jumpai juga di layar LCD seperti komputer atau ponsel yang tersusun
dari piksel RGB.

Bayer CFA
Sesuai nama penemunya yaitu Bryce Bayer, seorang ilmuwan dari Kodak
pertama kali memperkenalkan teknik ini di tahun 1970. Sensor dengan
desain Bayer Color Filter Array (CFA) termasuk sensor paling banyak dipakai
di kamera digital hingga saat ini. Keuntungan desain sensor Bayer adalah
desain mosaik filter warna yang simpel cukup satu lapis, namun sudah
mencakup tiga elemen warna dasar yaitu RGB (lihat ilustrasi di atas).
Kerugiannya adalah setiap satu piksel pada dasarnya hanya ‘melihat’ satu
warna, maka untuk bisa menampilkan warna yang sebenarnya perlu
dilakukan teknik color sampling dengan perhitungan rumit berupa interpolasi
(demosaicing). Perhatikan ilustrasi mosaik piksel di bawah ini, ternyata filter
warna hijau punya jumlah yang lebih banyak dibanding warna merah dan
biru. Hal ini dibuat mengikuti sifat mata manusia yang lebih peka terhadap
warna hijau.

Kekurangan sensor Bayer yang paling disayangkan adalah hasil foto yang
didapat dengan cara interpolasi tidak bisa menampilkan warna sebaik
aslinya. Selain itu kerap terjadi moire pada saat sensor menangkap pola
garis yang rapat seperti motif di kemeja atau pada bangunan. Cara
termudah mengurangi moire adalah dengan memasang filter low pass yang
bersifat anti aliasing, yang membuat ketajaman foto sedikit menurun.
Sensor X Trans
Sensor dengan nama X Trans dikembangkan secara ekslusif oleh Fujifilm,
dan digunakan pada beberapa kamera kelas atas Fuji seperti X-E2 dan X-T1.
Desain filter warna di sensor X Trans merupakan pengembangan dari desain
Bayer yang punya kesamaan bahwa setiap piksel hanya bisa melihat satu
warna. Bedanya, Fuji menata ulang susunan filter warna RGBnya. Bila pada
desain Bayer kita menemui dua piksel hijau, satu merah dan satu biru pada
grid 2×2, maka di sensor X Trans kita akan menemui pola grid 6×6 yang
berulang. Nama X trans sepertinya diambil dari susunan piksel hijau dalam
grid 6×6 yang membentuk huruf X seperti contoh di bawah ini.

Fuji mengklaim beberapa keunggulan desain X Trans seperti :
 tidak perlu filter low pass, karena desain pikselnya sudah aman dari moire
 terhindar dari false colour, karena setiap baris piksel punya semua elemen warna
RGB
 tata letak filter warna yang agak acak memberi kesan grain layaknya film
Sepintas kita bisa setuju kalau desain X Trans lebih baik daripada Bayer,
namun ada beberapa hal yang masih jadi kendala dari desain X Trans ini,
yaitu hampir tidak mungkin Fuji akan memberikan lisensi X Trans ke
produsen kamera lain (artinya hanya pemilik kamera Fuji tipe tertentu yang
bisa menikmati sensor ini). Kendala lain adalah sulitnya dukungan aplikasi
editing untuk bisa membaca file RAW dari sensor X Trans ini.
Sensor Foveon X3
Foveon sementara ini juga ekslusif
dikembangakan untuk kamera Sigma tipe tertentu. Dibanding sensor lain
yang cuma punya satu lapis filter warna, sensor Foveon punya tiga lapis
filter warna yaitu lapisan merah, hijau dan biru. Desain ini persis sama
dengan desain emulsi warna pada roll film foto. Hasil foto dari sensor Foveon
memberikan warna yang akurat dan cenderung vibrant, bahasa gampangnya
seindah warna aslinya. Hal yang wajar karena setiap photo detector di
sensor Foveon memang menerima informasi warna yang utuh dan tidak
diperlukan lagi proses ‘menebak’ warna seperti sensor Bayer atau X-Trans.
Yang jadi polemik dalam sensor Foveon adalah jumlah piksel aktual.
Misalnya ada tiga lapis filter warna yang masing-masing berjumlah 3,4 juta
piksel, maka Foveon menyebut sensornya adalah sensor 10,2 MP karena
didapat dari 3 lapis filter 3,4 MP. Ini agak rancu karena saat foto yang
dihasilkan dari sensor Foveon kita lihat ukuran pikselnya memang hanya
2268 x 1512 piksel atau setara dengan 3,4 MP.
Salah satu kelemahan dari sensor Foveon adalah noise yang sudah terasa
mengganggu walau di ISO menengah seperti ISO 800. Tapi seiring
peningkatan teknologi pengurang noise maka hal ini tidak akan jadi masalah
serius di masa mendatang.
Kesimpulan
Teknologi sensor gambar masih terus berkembang, dari yang paling mudah
dilihat seperti kenaikan resolusi (megapiksel) hingga teknologi lain yang bisa
membuat hasil foto meningkat siginifkan. Yang saya cermati adalah era
Bayer sudah terlampau usang, dengan teknik interpolasi yang banyak
keterbatasan, perlu segera digantikan dengan metoda lain. Sensor X Trans
buatan Fuji membawa angin segar dengan peningkatan kualitas foto
dibanding sensor Bayer khususnya dalam hal ketajaman dan kekayaan
warna, namun sayangnya tidak (belum?) bisa diadopsi di kamera lain.
Sensor Foveon pun demikian, walau secara teknik paling menyerupai emulsi
film (yang artinya bakal memberi hasil foto yang paling baik) justru dipakai
di kamera yang jarang dijumpai seperti kamera Sigma. Sensor kamera yang
paling ideal itu harus cukup banyak piksel (detail), punya dynamic
range lebih lebar dari sensor yang ada saat ini, punya filter warna yang lebih
baik dari Bayer CFA, dan efisien (harga, performa, kinerja ISO tinggi dsb).
Kira-kira kapan ya sensor ideal ini bisa terwujud?
Similar Posts:
 Nilai sensor Nokia Lumia 1020 vs Kamera Digital versi DxOMark
 Peranan filter di dunia digital fotografi
 Fungsi filter Polarizer
 Teknologi Auto fokus kini semakin canggih
 Kamera dan lensa baru 2013 dari CES
- See more at: http://www.infofotografi.com/blog/2014/03/lebih-jauh-tentang-
teknologi-sensor-di-kamera-digital/#sthash.h5Y01m7Z.dpuf