You are on page 1of 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Horticultural Therapy
2.1.1 Definisi Horticultural Therapy
Horticultural Therapy diakui sebagai istilah yang luas dan umum
mengacu pada "tanaman dan aktivitas untuk membantu orang dengan
masalah kesehatan yang dimiliki" (Relf, 1980). Menurut American
Horticulture Therapy Association (2007) Pengertian Horticultural Therapy adalah
keterlibatan klien dalam kegiatan berkebun yang difasilitasi oleh seorang
terapis untuk mencapai tujuan pengobatan yang spesifik. Sedangkan
Menurut Canadian Association Horticultural Therapy (2010) didefinisikan
sebagai penggunaan tanaman, kebun, dan pemandangan alam untuk
meningkatkan kognitif, fisik, kesejahteraan sosial, emosional, dan spiritual.
Horticultural Therapy dilakukan secara profesional modalitas
pengobatan yang berpusat pada klien dengan memanfaatkan kegiatan
berkebun untuk memenuhi tujuan terapeutik atau rehabilitatif spesifik.
Fokusnya adalah untuk memaksimalkan fungsi sosial, kognitif, fisik dan
psikologis untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan (Haller
& Kramer, 2006).
2.1.2 Dasar Teori Horticultural Therapy
a. Sejarah Horticultural Therapy
Penggunaan hortikultura sesunguhnya sudah digunakan 2000
Sebelum Masehi di Mesopotamia berada di lembah sungai yang subur
dalam bidang pertanian. di sungai Tigris dan Euphrate merupakan awal
inspirasi untuk perancangan kebun pertama kali dikarenakan daerah
yang sangat kering (Jellicoes & Jellicoes, 1995). Sekitar 500 sebelum
masehi, Orang Iran mulai membuat kebun yang menggabungkan semua
panca indera secara bersamaan dalam keindahan, aroma, musik (dari
suara air) dan suhu yang sejuk di kebun. Pada tahun 1100an, St.Bernard
mendeskripsikan manfaat dari kebun rumah sakit di sebuah biara di
Clairvaux, Prancis yang mengacu pada manfaat untuk terapeutik, seperti
tanaman hijau, kicauan burung, dan aroma wangi (Gerlach-Spriggs,
Kaufman & Warner, 1998).
Pada tahun 1812 Dr Benjamin Rush, seorang profesor dari
Institute of Clinical Practice Medicine dan di University of Pennsylvania dan
dikenal karena perannya dalam pengembangan psikiatri modern,
menerbitkan bukunya “Medical Inquiries” dan “Observations Upon Diseases
of the Mind”. Di dalamnya ia menyatakan bahwa "menggali di taman"
adalah salah satu kegiatan yang membedakan pasien laki-laki yang
sembuh dari mania mereka dari pada orang-orang yang tidak menggali
(Rush, 1812)., Memasuki tahun 1813 di Philadelphia. Pada tahun 1879,
seseorang membangun rumah kaca pertama untuk meningkatkan tradisi
kegiatan berkebun untuk kegiatan berkebun (Friends Hospital, 2005).
b. Teori Kaplan
Teori dari Horticultural Therapy-Kaplan Rachel Kaplin,
merupakan pakar psikologis lingkungan, mendapatkan hasil dari sebuah
eksperimen yang bertujuan untuk menjelaskan mengapa manusia
melakukan aktifitas berkebun dan apa manfaat yang didapat. Di dalam
proses penataan eksperimennya, dia berhipotesa bahwa :
Ada dasar-dasar intuisi yang di ekspetasikan, paling tidak ada
dua manfaat berbeda dari pengalaman berkebun. Satu pokok dalam hal
anekdot dari nilai berkebun dan nilai pengalaman dari alam yang
menjadikan daya tarik tersendiri. Manusia mendeskripsikan diri sebagai
manusia yang tertarik pada hal yang tumbuh, tertarik pada binatang liar,
dan sebagainya. Perasaan tersebut membangkitkan memori dari
deskripsi yang tidak disengaja. Sementara perhatian yang disengaja
membutuhkan upaya dan sulit untuk menopang, perhatian yang tidak
disengaja justru dilakukan tanpa keterpaksaan. Jika alam umumnya dan
perkebunan tertentu dapat mendorong perhatian ketidaksengajaan, hal
ini memiliki manfaat-manfaat yang jelas dan nyata. Manfaat yang
pertama yaitu dapat mengistirahatkan dari tenaga dan sebaliknya kecuaIi
jika membutuhkan perhatian. Kedua, sejak perhatian yang didefinisikan
mengeluarkan pemikiran yang berlawanan, istirahat disediakan dari
kekhawatiran dan perawatan apapun pada hari itu sebaliknya mungkin
menonjol pada pikiran seseorang. Ketertarikan dari manfaat yang
dihepotesakan adalah perbedaan yang paling jelas dari hal yang lebih
biasa namun tetap masih mempunyai manfaat yang kuat dari panenan
makanan seseorang sendiri, dan dari partisipasi dalam proses
pertahanan dasar hidup tanaman (Kaplan, 1973).
c. Teori Relf
Teori dari Terapi Hortikultural Reif Diane Relf (1980, 1981)
mengembangkan karya dari Kaplan dan mencoba untuk mensintesiskan
mekanisme dari teori hortikultural dengan membaginya kedalam 3
kategori:
a) Interaksi, yang berkaitan dengan bagaimana orang berinteraksi dalam
pengaturan hortikultura,
b) Aksi, yang berkaitan dengan orang-orang yang aktif bekerja dengan
tanaman, dan
c) Reaksi, yang berkaitan dengan tanggapan masyarakat terhadap
keterlibatan pasif dengan tanaman (Relf, 1981).
1. Interaksi
Pada contoh pertama, interaksi, ada bukti bahwa kegiatan
hortikultura memudahkan berkomunikasi dengan penurunan tensi
dan kegelisahan yang pada kelanjutannya “meningkatkan rasa ingin
menerima dari pasien untuk didekati oleh orang lain” (Stamn dan
Barber, 1978). Reif mengutip dua studi lainnya yang di bukukan
untuk tanaman dan kegiatan yang berhubungan menanam
dideskripsikan sebagai pengaturan yang ideal untuk atmosfir
berkomunikasi: “Ketenangan dan kedamaian” berhubungan dengan
berkebun (Kaplan, 1978). Suatu kejadian, seorang pasien dapat
didekati, ada 3 macam interaksi yang dapat memudahkan
pengobatan: terapis-klien, klien-klien, klien-non klien. Di bidang
terapis-klien, Relf mengutip karya Stamn dan Barber bahwa dengan
pasien memperlihatkan gangguan emosional yang hebat, dan
ketakukan yang berlangsung lama pada manuasia. Dia melaporkan
bahwa :

2. Aksi: Bekerja dengan Tanaman
Bekerja dengan Tanaman mekanisme kedua dari Reif
tentang terapi hortikultura, Tindakan, berhubungan dengan
“…fungsi dan pengalaman spesifik yang dapat diaktifkan dan
direhabilitasi dengan peningkatan langsung dengan tanaman” (Relf,
1081). Walaupun Reif mengidentifikasi 7 fungsi dan pengalaman
spesifik sebagai penolong dalam rehabilitasi, hanya 4 dari 7 yang
didukung oleh studi lainnya: 1) Integrasi dari faktor biologis dan
psikologis, 2) Pertanggung jawaban, 3) konsentrasi yang kuat, 4)
menfaat fisik yang murni dari aktifitas dengan menanam.
1. Intergrasi dari faktor biologis dan psikologis
Di dalam contoh ini, Reif disangkutkan dengan
hubungan dari cacat fisik yang baru diperoleh kepada sisa dari
kepribadian individu seseorang. Cacat biologis sering datang
untuk mendominasi kepribadian korban, dan tidak di
integrasikan secara nyata. Bardach, dikutip dalam pernyataanya
“sebuah aktifitas fisik yang secara stimulus berurusan dengan
aspek kecacatan itu sendiri, kecacatan emosioanal yang berarti,
dan kemungkinan yang konsekuensi dari kecacatan tersebut
menakutkan dapat membantu perkembangan intergrasi dari
pikiran dan tubuh” (Bardach, 1975).
2. Pertanggung jawaban
Disini yang ditekankan adalah pada perasaan tanggung
jawab dan ketergantungan dari tanaman untuk merawat. Relf
mengutip sebuah studi yang mana sebuah kelompok dari
penduduk lanjut usia di sebuah rumah sakit swasta diberikan
tanggung jawab penuh untuk merawat tanaman mereka atau
memiliki kepedulian untuk merawat tanaman. “Kelompok yang
bertanam menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesiapan,
partisipasi aktif dan rasa umum dari kesejahteraan” (Langer and
Rodin, 1976).
3. Konsentrasi
Merujuk pada studi Kaplan pada manfaat-manfaat
psikologis dari berkebun (Kaplan, 1973).
4. Fisik
Dalam contoh ini, pergerakan fisik dilibatkan dalam
memanipulasi tanaman, dikutip oleh Reif sebagai sebuah latihan
pergerakan otot yang paling baik. Referensi dibuat pada
pengalaman-pengalaman Hiott (1978) dengan pemindahan
ketrampilan tunadaksa dari penanaman di pot hingga memberi
air.
3. Reaksi:
Pada rangkaian mekanisme Relf yang ketiga, dia fokus pada
hipotesis “manusia mempunyai kebutuhan psikologis dasar untuk
menanam tanaman di lingkungan sekitar” (Iltis, 1974). Teori ini
didukung oleh beberapa studi observasi pada pasien, staf, atau
karyawan yang merespon pengenalan tanaman kedalam lingkungan
terdekat. Tanggapan ini dijelaskan sebagai sebuah promosi
perkembangan evolusioner oleh sebuah manfaat kelangsungan
hidup dalam sejarah awal manusia: gagasan bahwa manusia
memiliki pandangan khusus untuk tanaman karena perkembangan
evolusi dari sistem perceptual. Dalam pembahasan co-evolusi dari
penglihatan warna dan warna buah, dia menteorikan bahwa
meningkatkan penglihatan warna ditingkatkan identifikasi dari
warna-warni buah sebagai sumber yang menambah penyebaran
bibit dari jenis-jenis warna-warni makanan lainnya. Ia melanjutkan
dengan berteori bahwa sebagai penglihatan warna meningkat, dan
sebagai perkembangan buah, ada perkembangan di otak memiliki
perasaan menyenangkan pada penglihatan pada warna yang
cemerlang. Rangsangan inilah yang membuat daya tarik tersendiri.
Secara berangsur-angsur, dalam evolusi perasaan aestetik
dikembangkan (Relf, 1981).
Ringkasnya, penjelasan Relf dalam mekanisme Interaksi,
Aksi, dan Reaksi yang mengkarakteristikan terapi hortikultura
ditarik bersamaan dengan ringkasan penelitian dan teori yang
relevan secara menyeluruh dengan jelas. Individu yang memiliki
gangguan mental pada otak mewakili populasi tersebut.
2.1.3 Tujuan Horticultural Therapy
Menurut (NJAES, 2006) Horticultural Therapy memiliki beberapa
tujuan diantaranya :
a. Tujuan kognitif dapat meliputi :
1. Mengembangkan dan mempelajari kembali kemampuan seperti
peruntunan atau petunjuk berikutnya.
2. Mengembangkan atau mempelajari kembali kemampuan
pemecahan masalah.
3. Menambah konsentrasi dengan tetap pada tugas untuk kurun waktu
tertentu.
4. Mengingat kembali nama-nama tanaman.
5. Diskriminasi ukuran dan spasial
6. Kemampuan untuk membandingkan dan membedakan
b. Tujuan sosial dapat meliputi :
1. Kerja tim
2. Berbagi
3. Menunjukkan kerjasama dengan berbagi peralatan dan membantu
membersihkannya
4. Berkomunikasi dengan sukarelawan dan kawan
5. Toleransi dan saling menghargai
c. Terapi fisik :
1. Menggerakkan objek kecil seperti menyemai bibit.
2. Meningkatkan jangkauan gerak seperti menyirami tumbuhan.
3. Menyentuh bunga dan tanaman yang bertekstur lainnya.
4. Memilih bunga yang digunakan untuk proyek.
5. Menggunakan peralatan kebun.
6. Meningkatkan kontak mata.
7. Meningkatkan kemampuan berbicara.
8. Meningkatkan kemapuan motorik.
9. Meningkatkan koordinasi mata-tangan.
10. Menyediakan latihan yang cukup.
11. Paparan udara segar di kebun atau rumah kaca.
d. Tujuan keterampilan hortikultura dapat mencakup:
1. Mengidentifikasi tanaman berdasarkan nama.
2. Menyiapkan campuran pot.
3. Mendemonstrasikan teknik penyiraman yang benar.
4. Memperbanyak tanaman dengan cara stek daun.
5. Menciptakan tatanan bunga.
6. Mengeksplorasi hobi baru.
7. Menjadi sadar akan kemampuan karir.
2.1.4 Manfaat Horticultural Therapy
Horticultural Therapy (HT) memberikan manfaat kognitif, sosial,
emosional, dan fisik. Pada tingkat kognitif, tugas hortikultura
meningkatkan memori dan perhatian secara mendetail. Kegiatan seperti
tanam biji merupakan pengembangkan keterampilan seperti sekuensing
atau mengikuti arah. Penanaman kebun dan pengaturan bunga dengan
memotong daun memungkinkan bagi seseorang untuk menyalurkan kreatif
dan artistik. Tanggung jawab untuk merawat tanaman membawa
pertumbuhan sosial. Menurut Hefley (1972), Horticultural Therapy
memiliki manfaat sebagai berikut:
a. Manfaat Intelektual
1. Pencapaian ketrampilan baru.
2. Peningkatan kosa kata dan kemampuan berkomunikasi.
3. Perangsangan rasa ingin tahu.
4. Peningkatan keinginan untuk observasi.
5. Pelatihan kejuruan dan pra-kejuruan.
6. Stimulasi persepsi sensorik.
b. Manfaat Sosial
1. Interaksi dalam kelompok.
2. Interaksi luar kelompok.
c. Perkembangan Emosional
1. Peningkatan kepercayaan diri dan harga diri.
2. Kesempatan untuk mengurangi rangsangan agresif dengan cara
yang dapat diterima masyarakat.
3. Kegiatan yang mempromosikan minat dan keantusiasan untuk
masa depan.
4. Kesempatan untuk kepuasan dari rangsangan kreatif.
d. Manfaat Fisik
1. Pengembangan dan peningkatan keterampilan motorik dasar
2. Peningkatan aktivitas di luar ruangan

2.1.5 Jenis-jenis Program Horticultural Therapy
Menurut American Horticulture Therapy Association (AHTA,
2007), jenis-jenis program Horticultural Therapy diantaranya :
a. Horticultural Therapy
Hortikultura terapi adalah keterlibatan klien dalam kegiatan
hortikultura difasilitasi oleh seorang terapis terlatih untuk mencapai
tujuan pengobatan yang spesifik dan terdokumentasi. AHTA percaya
bahwa terapi hortikultura adalah proses aktif yang terjadi dalam
konteks rencana pengobatan yang baik di mana proses itu sendiri
dianggap sebagai aktivitas terapeutik dari pada produk akhir. Program
terapi hortikultura dapat ditemukan dalam berbagai macam kesehatan,
pengaturan rehabilitatif, dan perumahan.
b. Theraupetic Horticulture
Hortikultura Terapi adalah suatu proses yang menggunakan
tanaman dan tumbuhan-kegiatan yang berhubungan melalui dimana
peserta berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui
keterlibatan aktif atau pasif. Dalam program terapi hortikultura, tujuan
tidak klinis didefinisikan dan didokumentasikan tetapi pemimpin akan
memiliki pelatihan dalam penggunaan hortikultura sebagai media
untuk kesejahteraan manusia. Program jenis ini dapat ditemukan dalam
berbagai macam kesehatan, pengaturan rehabilitatif, dan perumahan.
c. Social Horticulture
Hortikultura sosial, kadang-kadang disebut sebagai hortikultura
masyarakat, adalah liburan atau kegiatan rekreasi yang terkait dengan
tanaman dan berkebun. Tidak ada tujuan pengobatan didefinisikan,
terapis tidak hadir, dan fokusnya adalah pada interaksi sosial dan
kegiatan hortikultura. Sebuah komunitas club garden atau taman khas
adalah contoh yang baik dari pengaturan hortikultura sosial.
d. Vocational Horticulture
Sebuah program hortikultura kejuruan, yang seringkali
merupakan komponen utama dari program terapi hortikultura,
berfokus pada penyediaan pelatihan yang memungkinkan individu
untuk bekerja di industri hortikultura profesional, baik secara
independen atau semi-independen. Orang-orang ini mungkin atau
tidak mungkin memiliki beberapa jenis kecacatan. Program Kejuruan
hortikultura dapat ditemukan di sekolah-sekolah, fasilitas perumahan,
atau fasilitas rehabilitasi, antara lain.
2.1.6 Jenis-jenis Kebun
Menurut American Horticulture Therapy Association (AHTA, 2007),
kebun untuk Horticultural Therapy terbagi menjadi beberapa jenis,
diantaranya :
a. Kebun Penyembuhan
Kebun penyembuhan merupakan lingkungan yang didominasi
tanaman termasuk tanaman hijau, bunga, air, dan aspek alam lainnya.
Aspek-aspek tersebut umumnya berhubungan dengan rumah sakit dan
layanan kesehatan lainnya, di rancang sebagai kebun penyembuhan
oleh fasilitas, dapat diakses oleh semua orang, dan dirancang untuk
memiliki efek manfaat untuk sebagian besar pengguna. Sebuah kebun
penyembuhan dirancang sebagai sebuah tempat istirahat untuk klien,
pengunjung, dan staf dan digunakan sesuai keinginan mereka. Kebun
penyembuhan dapat dibagi lagi menjadi kebun jenis tertentu termasuk
kebun terapeutik, kebun terapi hortikultural, dan kebun restoratif.
Jenis kebun ini cenderung tumpang tindih dan definisi ini harus
dianggap sebagai pedoman karena tidak ada dua kebun yang sama.
b. Kebun Terapeutik
Kebun Terapeutik di rancang untuk penggunaan sebagai
komponen dari sebuah program perawatan seperti terapi okupasi,
terapi fisik, atau program-program terapi hortikultural lainnya dan
dapat dianggap sebagai subkategori dari kebun penyembuhan. Sebuah
kebun dapat di deskripsikan sebagai terapi alam yang sudah di rancang
untuk memenuhi kebutuhan pengguna atau populasi tertentu. Kebun
ini dirancang untuk mengakomodasikan tujuan pengobatan klien dan
dapat memberikan kegiatan baik holtikultura maupun non-holtikultura.
Kebun ini harus dirancang sebagai bagian dari sebuah proses
kolaborasi multi-disiplin oleh tim professional.
c. Kebun Terapi Horticultural
Kebun Terapi Hortikultural adalah suatu jenis kebun
terapeutik, dirancang untuk mengakomodasikan tujuan perawatan
klien, namun kebun ini dirancang untuk mendorong kegiatan-kegiatan
hortikultural yang utama. Kebun terapi hortikultural ini juga dirancang
sedemikian rupa sehingga klien itu sendiri dapat mengurus tanamannya
di kebun.
d. Kebun Restorasi
Kebun restorasi atau meditasi dapat menjadi kebun umum atau
pribadi yang tidak perlu dihubungkan dengan pengaturan kesehatan.
Jenis kebun ini menggunakan nilai restoratif dari alam untuk
menghasilkan lingkungan yang kondusif untuk ketenangan mental,
pengurangan stress, pemulihan emosional, dan peningkatan energi
mental dan fisik. Rancangan dari kebun restoratif ini fokus pada
kebutuhan psikologis, fisik, dan sosial dari pengguna.
2.1.7 Prosedur Penatalaksanaan Horticultural Therapy
Program Terapi hortikultura dirancang untuk memenuhi kriteria
sebagai berikut: a) untuk memberikan latihan dari program terapi
hortikultura, b) untuk mewakili Kaplan dan Relf ini tentang mekanisme
terapi hortikultura, c) untuk memberikan latihan-latihan kegiatan ini
dengan cara yang diakui dan kompensasi individu, dan menyertai
penerapan terapy lain.
Seperti dalam disiplin ilmu lain, dalam terapi hortikultura. proses
pengobatan mengikuti tahapan-tahapan sebagaimana diuraikan pada Tabel
:
Tabel :
Tahap Tindakan
Assesment Pengumpulan informasi dan analisis
Goal Identification Prioritas masalah, kebutuhan, dan
tujuan
Action plan (intervention Plan) Penciptaan tujuan, tindakan, dan sarana
untuk pengukuran
Intervention Rencana ke dalam tindakan, kegiatan
terapi hortikultura
Documentation Rekaman tindakan (terjadi bersamaan
dengan fase intervensi)
Revision Hasil laporan selama terapi dan
membuat atau memodifikasi rencana
Termination Penghentian therapy, hasil pelaporan
(Kramer dan Haller, 2006)
2.2 Konsep Tekanan Darah
2.2.1 Pengertian Tekanan Darah
Menurut Smeltzer & Bare (2002), tekanan darah adalah tekanan
yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat
ventrikel berkontraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik
adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan
darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap
tekanan diastolik, dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60
sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80.
Menurut Hayens (2003), tekanan darah timbul ketika bersikulasi di
dalam pembuluh darah. Organ jantung dan pembuluh darah berperan
penting dalam proses ini dimana jantung sebagai pompa muskular yang
menyuplai tekanan untuk menggerakkan darah, dan pembuluh darah yang
memiliki dinding yang elastis dan ketahanan yang kuat. Sementara itu
Palmer (2007) menyatakan bahwa tekanan darah diukur dalam satuan
milimeter air raksa (mmHg).
2.2.2 Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah perlu diukur secara rutin baik secara langsung
maupun tidak langsung. Metode langsung, kateter arteri dimasukkan ke
dalam arteri, hasilnya sangat tepat, akan tetapi metode pengukuran ini
sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan lain
(Smeltzer & Bare, 2002). Menurut Nursecerdas (2009), bahaya yang dapat
ditimbulkan saat pemasangan kateter arteri yaitu nyeri inflamasi pada
lokasi penusukkan, bekuan darah karena tertekuknya kateter, perdarahan :
ekimosis bila jarum lepas dan tromboplebitis. Metode pengukuran tidak
langsung dapat dilakukan dengan menggunakan sphygmomanometer dan
stetoskop. Sphygmomanometer tersusun atas manset yang dapat
dikembangkan dan alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan
ringga dalam manset. Alat ini dikalibrasi sedemikian rupa sehingga tekanan
yang terbaca pada manometer sesuai dengan tekanan dalam milimeter air
raksa yang dihantarkan oleh arteri brakialis (Smeltzer & Bare, 2002).
Cara pengukuran tekanan darah dimulai dengan membalutkan
manset dengan kencang dan lembut pada lengan atas dan dikembangkan
dengan pompa. Tekanan dalam manset dinaikkan sampai denyut radial
atau brakial menghilang. Hilangnya denyut menunjukkan bahwa tekanan
sistolik darah telah dilampaui dan arteri brakhialis telah tertutup. Manset
dikembangkan lagi sebesar 20 sampai 30 mmHg diatas titik hilangnya
denyut radial. Kemudian manset dikempiskan perlahan, dan dilakukan
pembacaan secara auskultasi maupun palpasi. Dengan palpasi kita hanya
dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dengan lebih akurat. Untuk
menguskultasi tekanan darah, ujung stetoskop yang berbentuk corong atau
diafragma diletakkan pada arteri brakhialis, tepat di bawah lipatan siku
(rongga antekubital), yang merupakan titik dimana arteri brakialis muncul
diantara kedua kaput otot biseps. Manset dikempiskan dengan kecepatan 2
sampai 3 mmHg per detik dan mendengarkan awitan bunyi berdetak, yang
menunjukkan tekanan darah sistolik. Bunyi tersebut dikenal sebagai bunyi
Korotkoff yang terjadi bersamaan dengan detak jantung, dan akan terus
terdengar dari arteri brakhialis sampai tekanan dalam manset turun di
bawah tekanan diastolik dan pada titik tersebut, bunyi akan menghilang
(Smeltzer & Bare, 2002).
2.2.3 Mekanisme Pemeliharaan Tekanan Darah
Tekanan darah dikontrol oleh otak, sistem saraf otonom, ginjal,
beberapa kelenjar endokrin, arteri dan jantung. Otak adalah pusat
pengontrol tekanan darah di dalam tubuh. Serabut saraf adalah bagian
sistem saraf otonom yang membawa isyarat dari semua bagian tubuh
untuk menginformasikan kepada otak perihal tekanan darah, volume
darah, dan kebutuhan khusus semua organ. Semua informasi ini diproses
oleh otak dan keputusan dikirim melalui saraf menuju organ-organ tubuh
termasuk pembuluh darah, isyaratnya ditandai dengan mengempis atau
mengembangnya pembuluh darah. Saraf-saraf ini dapat berfungsi secara
otomatis (Hayens, 2003).
Ginjal adalah organ yang berfungsi mengatur fluida (campuran
cairan dan gas) di dalam tubuh. Ginjal juga memproduksi hormon yang
disebut renin. Renin dari ginjal merangsang pembentukan angiotensin
yang menyebabkan pembuluh darah kontriksi sehingga tekanan darah
meningkat. Sedangkan hormon dari beberapa organ juga dapat
mempengaruhi pembuluh darah seperti kelenjar adrenal pada ginjal yang
mensekresikan beberapa hormon seperti adrenalin dan aldosteron juga
ovari yang mensekresikan estrogen yang dapat meningkatkan tekanan
darah. Kelenjar tiroid atau hormontiroksin, yang juga berperan penting
dalam pengontrolan tekanan darah (Hayens, 2003).
Tekanan darah dikontrol oleh berbagai proses fisiologis yang
bekerja bersamaan. Serangkaian mekanisme inilah yang memastikan darah
mengalir di sirkulasi dan memungkinkan jaringan mendapatkan nutrisi agar
dapat berfungsi dengan baik. Jika salah satu mekanisme mengalami
gangguan, maka dapat terjadi tekanan darah tinggi.
Tubuh mempunyai mekanisme-mekanisme untuk merubah dan
memelihara tekanan darah dan aliran darah. Sensor yang merasakan
tekanan darah pada dinding-dinding dari arteri dan mengirim sinyal ke
jantung, arteriol, vena, dan ginjal yang menyebabkan terjadinya perubahan
yang menurunkan atau meningkatkan tekanan darah. Beberapa cara-cara
tekanan darah dapat disesuaikan dengan cara menyesuaikan jumlah darah
yang dipompa oleh jantung ke dalam arteri, jumlah darah yang terisi di
vena, tahanan arteriol dan volume darah.
2.3 Konsep Hipertensi
2.3.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi
persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan
diastolik di atas 90 mmHg (Smeltzer & Bare, 2001).Hipertensi merupakan
suatu keadaan tekanan darah seseorang berada pada tingkatan di atas
normal. Tekanan diartikan sebagai peningkatan secara abnormal dan terus
menerus pada tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor
yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan
darah secara normal (Hayens,2003).
Menurut Palmer (2007), Hipertensi dapat dikelompokkan dalam
dua kategori besar, yaitu hipertensi esensial (primer) dan hipertensi
sekunder. Hipertensi esensial (primer) merupakan tipe yang hampir sering
terjadi 95 persen dari kasus terjadinya hipertensi. Hipertensi esensial
dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak
(inaktivitas) dan pola makan. Sedangkan hipertensi sekunder berkisar 5
persen dari kasus hipertensi. Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi
medis lain (misalnya penyakit jantung) atau reaksi terhadap obat-obatan
tertentu.
2.3.2 Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi dari hipertensi menurut WHO dibedakan berdasarkan
kategori seperti terlihat pada tabel 2.1, 2.2, dan 2.3
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi menurut WHO
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
High Normal 130 – 139 85 – 89
Hipertensi Stage 1 (mild) 140 – 159 90 – 99
Hipertensi Stage 2 (moderate) 160 – 179 100 – 109
Hipertensi Stage 3 (severe) >180 >110
Sumber : Setiawan dkk (2007)
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi menurut Standart Joint National Committe
Classification of Blood Pressure (JNC-VII)

Klasifikasi
Tekanan Darah
Sistolik
(mmHg)
Tekanan Darah
Diastolik
(mmHg)
Normal < 120 < 80
Pre Hipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi Stadium 1 140 – 159 90 – 99
Hipertensi Stadium 2 >160 >100
Sumber : Muttaqin (2009)
2.3.4 Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Penyebabnya
a. Hipertensi Primer
Menurut Gray, Huon H, dkk (2003) menjelaskan bahwa
hipertensi primer adalah penyakit hipertensi yang tidak langsung
disebabkan oleh penyebab yang sudah diketahui. Bahasa sederhana atau
menurut istilah orang awam adalah hipertensi primer tidak
menunjukkan gejala apapun. Pada umumnya, penyakit hipertensi primer
baru diketahui pada waktu memeriksa kesehatan. (Bangun, 2002).
Hipertensi primer juga disebut hipertensi “esensial” atau “idiopatik”
dan merupakan 95% dari kasus-kasus hipertensi. Selama 75 tahun
terakhir telah banyak penelitian untuk mencari etiologinya.
Menurut Mansjoer dan Arif (2001) menjelaskan bahwa
hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya disebut juga hipertensi idiopatik dengan kasus sekitar
95%. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan,
hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sintesis renin-angiotensin, defek
dalam ekskresi Na, peningkatan Na & Ca intraseluler, dan faktor-faktor
yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta
polisitermia.
b. Hipertensi Sekunder
Menurut Mansjoer dan Arif (2001) Hipertensi Sekunder
adalah hipertensi yang telah diketahui penyebabnya. Timbulnya
penyakit hipertensi sekunder sebagai akibat dari suatu penyakit, kondisi,
dan kebiasaan seseorang. Contoh kelainan yang menyebabkan
hipertensi sekunder adalah sebagai hasil dari salah satu atau kombinasi
hal-hal berikut :
1. Akibat stress yang parah
2. Penyakit atau gangguan ginjal
3. Kehamilan atau pemakaian pil pencegah hamil
4. Pemakaian obat terlarang seperti heroin, kokain, atau jenis narkoba
lainnya.
5. Cedera dikepala atau perdarahan diotak yang berat
6. Tumor diotak atau sebagai reaksi dari pembedahan.
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal dengan kasu sekitar
5%. Sehingga penyebab hipertensi ini adalah penggunaan estrogen,
penyakit ginjal, hipertensi vascular renal, hiperaldosteronisme primer,
dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi
yang berhubungan dengan kehamilan.
2.3.5 Klasifikasi Berdasarkan bentuk Hipertensi
a. Hipertensi Diastolik (diastolic hypertension)
Peningkatan tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan
tekanan sistolik. Biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa
muda.
b. Hipertensi Campuran (sistol dan diastol yang meninggi)
Peningkatan tekanan darah pada sistol dan diastol.
c. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension)
Peningkatan tekanan sistolik tanpa diakui peningkatan
tekanan diastolik (Ismudiati, 2003)
2.3.6 Faktor Risiko Hipertensi
Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi
serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat
dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis.
Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stress, obesitas, dan
nutrisi (Black, 1997).
a. Faktor yang tidak dapat dikontrol
1. Faktor Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
menyebabkan keluarga tersebut mempunyai resiko menderita
hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai resiko
menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi
mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi
daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi (Gray, Huon H, dkk, 2003)
2. Umur
Insiden Hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya
usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh
yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Satu dari
lima pria berusia diantara 35-40 tahun memiliki tekanan darah yang
tinggi. Angka prevalensi tersebut menjadi dua kali lipat pada usia
antara 45-54 tahun. Sebagian dari mereka yang berusia 55-64 tahun
mengidap penyakit ini. Pada usia 65-74 tahun prevalensinya menjadi
lebih tinggi lagi sekitar 60% menderita hipertensi. (Rohaendi:2008,
dalam ambyfirul, 2009).
3. Jenis Kelamin
Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada
wanita. Namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada
wanita akan meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun, insiden
pada wanita lebih tinggi (Tambayong, 2000, dalam Rohaendi, 2008).
Perbandingan antara pria dan wanita, ternyata wanita lebih banyak
menderita hipertensi. Dari laporan Sugiari (Jawa Tengah) didapatkan
angka prevalensi 6% dari pria dan 11% pada wanita. Laporan dari
Sumatra Barat menunjukan 15,6% pada pria dan 17,4% wanita. Di
daerah perkotaan Semarang didapatkan 7,5% pada pria dan 10,9%
pada wanita.Sedangkan didaerah perkotaan Jakarta didapatkan 14,6%
pada pria dan 13,7% pada wanita (Tjokronegoro, 2001, dalam
Rohaendi, 2008).
4. Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam
daripada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti
penyebabnya, namun dalam orang kulit hitam ditemukan kadar renin
yang lebih rendah dan sensifitas terhadap vasopresin lebih besar
(Gray, Huon H, dkk, 2003).
b. Faktor Yang dapat dikontrol
a. Stress
Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer
dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktifitas saraf
simpatik. Adapun stress dapat berhubungan dengan pekerjaan, kerja
sosial, ekonomi, dan karakteristik personal (Gray, Huon H, dkk,
2003)
b. Obesitas
Obesitas adalah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori
dengan kebutuhan kalori yang disimpan dalam bentuk lemak
(jaringan subkutan tirai usus, organ vital jantung, paru dan hati) yang
menyebabkan jaringan lemak inaktif sehingga beban kerja jantung
meningkat . obesitas juga didefinisikan sebagai kelebihan berat badan
sebesar 20% atau lebih dari berat badan ideal. Prevalensi obesitas
menunjukan peningkatan dengan pertambahan usia pada umumnya
berat badan laki-laki mencapai puncaknya pada usia 35 – 65 tahun
dan pada wanita antara 55 – 65 tahun. Selanjutnya berat badan akan
menurun baik pada laki – laki maupun perempuan. Semakin besar
massa tubuh, semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk
memasok oksigen dan nutrisi kepada jantung. Berarti volume darah
yang diedarkan melalui pembuluh darah meningkat menciptakan
kekuatan tahanan pada dinding arteri. Pada penyelidikan dibuktikan
bahwa curah jantung dan volume darah sirkulasi klien obesitas
dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang
mempunyai berat badan normal dengan tekanan darah yang setara.
Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan
aktivitas saraf simpatis meningkat dengan aktivitas renin plasma yang
rendah (Rohaendi, 2008, dalam Ambyfirul, 2009).
c. Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting dari hipertensi essensial,
asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan
dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan
meningkatkan tekanan darah. Asupan garam tinggi yang dapat
menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi adalah
lebih dari 14 gram perhari atau jika dikonversi kedalam takaran
sendok makan adalah lebih dari dua sendok makan (Gray, Huon H,
dkk, 2003)
d. Merokok
Merokok sangat besar peranannya meningkatkan tekanan
darah, hal ini disebabkan oleh nikotin yang terdapat didalam rokok
yang memicu hormon adrenalin yang menyebabkan tekanan darah
meningkat. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah didalam
paru dan diedarkan keseluruh aliran darah lainnya sehingga terjadi
penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan kerja jantung
semakin meningkat untuk memompa darah keseluruh tubuh melalui
pembuluh darah yang sempit. Dengan berhenti merokok tekanan
darah akan turun secara perlahan, disamping itu jika masih merokok
maka obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secara optimal dan
dengtan berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat (Santoso,
2001)
2.3.6 Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya
angiotensi II dari angiotensin I oleh angiotensin I Converting Enzyme
(ACE), ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan
darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati.
Selanjutnya oleh hormon renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah
menjadi angiotensi I, Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I
diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki
peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama
(Rilantono, dkk, 1996).
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik
(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (Kelenjar pituiry)
dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin.
Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit sekali urin yang dieksresikan
ke luar tubu (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi
osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan
ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler.
Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan
meningkatnya tekanan darah (Rihantono, dkk, 1996).
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi yang memiliki peranan
penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler ,
aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (Garam) dengan cara
mereabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan
diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler
yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dari tekanan darah
(Rilantono, Lily I dkk, 1996).
2.3.7 Respon Penderita Hipertensi
Pada waktu tidur malam hari tekanan darah berada dalam kondisi
rendah, sebaliknya tekanan darah dipengaruhi oleh kegiatan harian.
Semakin aktif seseorang maka semakin naik tekanan darahnya. Semakin
tinggi tekanan darah seseorang maka semakin tinggi kekuatan yang
mendorong darah dan dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah
dan perdarahan pada otak dan janutng sehingga dapat mengakibatkan
stroke dan gagal jantung bahkan kematian (Hayens, 2003).
Menurut Lenny (2008), hipertensi seringkali tidak menimbulkan
gejala, sementara tekanan darah yang terus menerus tinggi dalam jangka
waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, hipertensi
perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara
berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check up kesehatan atau saat
periksa ke dokter. Seseorang baru akan merasakan dampak gawatnya
hipertensi ketika telah terjadi komplikasi. Jadi baru disadari ketika telah
menyebabkan gangguan organseperti gangguan fungsi jantung, koroner,
fungsi ginjal, gangguan kognitif atau stroke.
2.3.8 Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan
gejala, meskipun secara sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal
sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan, yang bisa
saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan
tekanan darah yang normal (Hayens, 2003).
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa
timbul gejala berikut: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas,
gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan
pada otak, mata, jantung dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat
mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi
pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang
memerlukan penanganan segera (Hayens, 2003).
2.3.9 Komplikasi
Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya
penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan
penyakit ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko
terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan
mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan
hidup sebesar 10 – 20 tahun.
Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya
tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ
vital. Sebab, kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan
atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal. Dengan pendekatan sistem
organ dapat diketahui komplikasi yang mungkin terjadi akibat hipertensi
sebagian pada tabel 2.4

Tabel 2.4 Komplikasi Hipertensi
No. Sistem organ Komplikasi
1. Jantung Infark Miokard
Angina Pectoris
Gagal Jantung kengesif
2. System saraf pusat Stroke
Ensefalopati hipertensi
3. Ginjal Gagal ginjal kronis
4. Mata Retinopati hipertensif
5. Pembuluh darah perifer Penyakit pembuluh darah perifer
Sumber : (Rilantono, dkk, 1996)
Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang
mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan
retina, gangguan penglihatan sampai kebutaan. Gagal jantung merupakan
kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan
koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi perdarahan yang disebabkan
oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibatkan kematian.
Kelainan yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan
iskemia otak sementara (TransientIschemia Attack/TIA). Gagal ginjal
sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses
akut seperti pada hipertensi maligna (Rilantono, dkk, 1996).
Pentingnya faktor risiko seperti umur, jenis kelamin, merokok,
diabetes, riwayat keluarga penyakit jantung prematur, hipertensi, dan
hiperlipidemia dalam mendiagnosis risiko penyakit kardiovaskular pada
pasien hipertensi (Irfan, 2007).
Bila seseorang dikatakan hipertensi kronik (atau „tekanan darah
tinggi”), itu berarti bahwa tekanan arteri rata-ratanya lebih tinggi daripada
batas atau yang dianggap normal. Tekanan arteri rata-rata yang lebih tinggi
dari 110 mmHg (Normal sekitar 90 mmHg) dianggap hipertensi. (Nilai
tekanan rata-rata itu terjadi bila tekanan darah diastolik lebih besar dari 90
mmHg dan tekanan sistolik lebih besar dari kira-kira 135 mmHg). Pada
hipertensi berat, tekanan arteri rata-rata dapat meningkat menjadi 150
hingga 170 mmHg, dengan tekanan diastoliknya setinggi 130 mmHg dan
tekanan sistoliknya kadang sampai setinggi 250 mmHg (Arthur dan Jhon,
2007).
2.3.10 Penatalaksanaan Hipertensi
Penatalaksanaan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita
hipertensi dapat dilakukan dengan dua jenis yaitu penatalaksanaan
farmakologis atau dan penatalaksanaan non farmakologis. Pengobatan
hipertensi juga dapat dilakukan dengan terapi herbal.
a. Penatalaksanaan Farmakologis
Menurut Hayens (2003), Penatalaksanaan farmakologis adalah
penatalaksanaan hipertensi dengan menggunakan obat-obatan kimiawi,
seperti jenis obat anti hipertensi. Ada berbagai macam obat jenis obat
anti hipertensi pada penatalaksanaan farmakologis, yaitu :
1. Diuretik
2. Penghambat adrenergik (B-bloker)
3. Vasodilator
4. Penghambat enzim konversi angiotensi (ACE)
5. Antagonis Kalsium
b. Penatalaksanaan non farmakologis
Menurut Dalimartha dkk (2008), upaya pengobatan hipertensi
dapat dilakukan dengan pengobatan non –farmakologis, termasuk
mengubah gaya hidup yang tidak sehat. Penderita hipertensi
membutuhkan perubahan gaya hidup yang sulit dilakukan dalam jangka
pendek. Faktor yang menentukan dan membantu kesembuhan pada
dasarnya adalah diri sendiri (Palmer, 2005).
Menurut Palmer (2007), Enam langkah dalam perubahan gaya
hidup yang sehat bagi para penderita hipertensi yaitu :
1. Mengontrol Pola Makan
2. Tingkatkan konsumsi Potassium dan Magnesium
3. Makan-makanan jenis padi-padian
4. Aktivitas (Olahraga)
2.4 Konsep Lansia
2.4.1 Definisi Lanjut Usia
Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia
enam puluh tahun ke atas (UU No.13 tahun 1998).Menurut WHO lanjut
usia meliputi : 1) usia pertengahan (middle age),ialah kelompok antara 45
sampai 59 tahun,2) usia lanjut (elderly) usia antara 60 – 70 tahun, 3) lanjut
usia tua (old) usia antara 75 – 90 tahun, 4) usia sangat tua (very old) usia
diatas 90 tahun (Kusharyadi, 2010).
2.4.2 Proses Menua
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho,
2000).
Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan,
yaitu masa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari
oleh individu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-perubahan
pada struktur dan fisiologis dari berbagai sel, jaringan, organ dan sistem
yang ada pada tubuh manusia. Proses ini menjadikan kemunduran fisik
maupun psikis. Kemudian fisik ditandai dengan kulit mengendur, rambut
memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan
lambat dan kelainan berbagai fungsi organ vital. Sedangkan kemunduran
psikis terjadi peningkatan sensivitas emosional, menurunnya gairah,
bertambahnya minat terhadap diri, berkurangnya minat terhadap
penampilan, meningkatnya minat terhadap material, dan minat kegiatan
rekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subyek saja yang berbeda).
Namu hal di atas tidak harus menimbulkan penyakit, oleh karena itu, lansia
harus senantiasa berada dalam kondisi sehat, yang diartikan sebagai kondisi
:
1. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial.
2. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3. Mendapatkan dukungan secara social dari keluarga dan masyarakat.
Ada dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan secara
sekunder. Penuaan secara primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada
tingkat sel, sedangkan penuaan sekunder merupakan proses penuaan
akibat factor lingkungan fisik dan social, stress fisik/psikis, serta gaya
hidup dan diet dapat mempercepat proses menjadi tua. Secara umum,
perubahan psikologis proses penuaan adalah sebagaiberikut :
1. Perubahan mikro merupakan perubahan yang terjadi dalam sel seperti :
2. Perubahan makro, yaitu perubahan yang jelas dapat diamati atau
terlihat seperti :
a. Mengecilnya kelenjar mandibula.
b. Menipisnya discus intervertebrali.
c. Erosi pada permukaan sendi-sendi.
d. Terjadinya osteoporosis.
e. Otot-otot mengalami atrofi.
f. Sering dijumpai adanya emfisemapolmonum.
g. Presbiopi.
h. Adanya anteriosklerosis.
i. Menopause pada wanita.
j. Kulit tidak elastis lagi.
k. Rambut memutih.
2.4.3 Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia
a. Perubahan Fisik
Perubahan fisik yang terjadi pada seseorang lansia secara fisik
meliputi perubahan dari tingkat sel sampai keseluruh sistem organ
tubuh,diantaranya sistem respirasi, kardiovaskuler, persarafan,
muskuloskeletal, indera, (pendengaran, penglihatan, pengecap dan
pembau dan peraba) gastrointestinal, genitourinaria, vesika urinaria,
vagina, endokrin, integumen (Maryam, 2008).
1. Sistem Respirasi Pada Lansia
Menurut Nugroho (2008) pada lansia terjadi respirasi yang
meliputi, 1) adanya perubahan otot pernapasan yang berubah
menjadi kaku dan kehilangan kekuatan, 2) menurunya elastisitas
paru, melebar dan jumlahnya menurun,menyebabkan terganggunya
proses difusi, 5) penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan
reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret, 6) terjadi
penyempitan bronkus, 6)kemampuan batuk berkurang,sehingga
potensial terjadinya obstruksi.
2. Sistem kardiovaskular
Pada sistem kardiovaskuler lansia mengalami perubahan 1)
katup jantung menebal dan kaku, 2) kemampuan memompa darah
menurun,hal ini menyebabkan menurunya kontraksi dan volumenya,
3) elastisitas pembuluh darah menurun, 4) tekanan darah meningkat
akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (Maryam,
2008).
3. Sistem Persarafan
Perubahan pada sistem persarapan lansia meliputi 1) saraf
pancaindera mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat
dalam merespon, 2) berkurangnya atau hilangnya lapisan mielin
akson, sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik dan
reflek ( Maryam, 2008).
4. Sistem muskuloskeletal
Menurut Maryam (2008) terjadi perubahan pada cairan
tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk
(kifosis), persendian membesar dan kaku (atropi otot)tendon
mengerut, kram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis.
5. Sistem Panca indera
Menurut Nugroho (2008) sistem pancaindra lansia akan
mengalami gangguan dan kemunduran diantaranya pada sistem
pendengaran,penglihatan, pengecap, dan pembau, serta peraba.
b. Perubahan Mental/Psikologis
Menurut Maryam (2008) perubahan psikologis pada lansia
meliputi shortt term memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan
kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi
dan kecemasan.
Dalam psikologi perkembangan, lansia dan perubahan yang
dialaminya akibat proses penuaan digambarkan oleh hal – hal berikut :
1) keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus bergantung pada
orang lain, 2) status ekonominya sangat terancam,sehingga cukup
beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola
hidupnya, 3) menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan
status ekonomi dan kondisi fisik.
Menurut Nugroho (2008) terdapat faktor – faktor yang
mempengaruhi perubahan mental antara lain 1) perubahan fisik,
khususnya organ perasa, 2) kesehatan umum, 3) tingkat pendidikan, 4)
keturunan, 5) lingkungan, 6) gangguan saraf pancaindera, timbul
kebutaan dan ketulian, 7) gangguan konsep diri akibat kehilangan
jabatan, 8) rangkaian kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan
teman dan keluarga.