You are on page 1of 15

Apoteker XXVIII - ISTN

Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu
mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.Pelayanan
kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri-sendiri atau
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat.
Selain itu juga apotek sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktek
profesi apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasiaan.Sesuai definisi
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek pasal 1 ayat (a), Apotek adalah suatu
tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan
farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah
lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesa
sebagai Apoteker. Adapun Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan yang membantu
Apoteker. Asisten Apoteker menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
679/MENKES/SK/V/2003 Pasal 1, tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten
Apoteker menyebutkan bahwa Asisten Apoteker adalah Tenaga Kesehatan yang
berijasah Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik
Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan Jurusan Analis Farmasi dan
Makanan Politeknik Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Di Apotek, Asisten Apoteker merupakan salah satu tenaga kefarmasian yang
bekerja di bawah pengawasan seorang Apoteker yang memiliki SIA (Surat Izin
Apotek). Apoteker Pengelola Apotek (APA) merupakan orang yang bertanggung
jawab di Apotek dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.Pelayanan kefarmasian
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 2

yang dilakukan oleh Apoteker dan Asisten Apoteker di apotek haruslah sesuai dengan
standar profesi yang dimilikinya.Karena Apoteker dan Asisten Apoteker dituntut oleh
masyarakat pengguna obat (pasien) untuk bersikap secara professional.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana tata cara dalam mendapatkan perizinan apotek sesuai dengan
peraturan yang ditetapkan?
2. Persyaratanapayang harus dipenuhiuntuk mendapat izin apotek?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui tata cara perizinan apotek sesuai dengan peraturan perundang-
undangan
2. Mengetahui persyaratan dalam perizinan apotek




















Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 3

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI)
No. 1332/MENKES/SK/X/2002, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat
tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran obat kepada
masyarakat.

2.2 Tugas dan Fungsi Apotek
Tugas dan Fungsi Apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun
1980 pasal 12 tentang apotek adalah sebagai berikut:
a. Tempat pengabdian profesi seorang apotek.er telah rnengucapkan sumpah jabatan;
b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk pencampuran
dan penyerahan obat atau bahan obat;
c. Sarana penyalur perbekalan farrmasi yang harus menyebarkan obat yang
diper1ukan masyarakat secar a meluas dan merata.

Fungsi apoteker sebagai pengelola apotek (APA) adalah :
1. Pemodal, apoteker menghendaki adanya laba dan modal yang dikeluarkan cepat
kembali.
2. Pengelola, apoteker bertanggung jawab terhadap kelangsungan berjalannya
apotek.
3. Penanggung jawab teknis farmasi, Apoteker mengawasi pelayanan resep dan
mutu obat yang dijualnya, memberikan pelayanan informasi obat, serta membuat
laporan mengenai obat-obat khusus.

Tugas apoteker sebagai APA adalah sebagai pemberi informasi, oleh karena
itu seorang apoteker haruslah bertindak sebagai orang yang paling pintar di
apotek.Apotekerlah yang memberikan penjelasan, jawaban kepada pasien maupun
para petugas apotek, terutama asisten apoteker.Selain itu berhubungan dengan adanya
tanggung jawab terhadap mutu obat di apotek, maka apoteker harus sumber-sumber
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 4

pembelian dan para pembeli obat sebagai lalu lintas obat. Tugas lain apoteker adalah
mematuhi peraturan perundang-undangan farmasi, serta membuat laporan bulanan
narkotika, obat KB, alat suntik, dll.

2.3 Prosedur Persyaratan Apotek
Menurut KepMenKes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa
persyaratan-persyaratan apotek adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan izin Apotik, Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama
dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan
tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang
merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
2. Sarana Apotik dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan
komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.
3. Apotik dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan
farmasi.

Sebuah apotek yang akan didirikan harus memenuhi sejumlah persyaratan, yaitu:
I. BANGUNAN
1. Alamat Apotik
2. Luas bangunan Apotik Seluruhnya
3. Bangunan terdiri dari :
a. Ruang Tunggu
b. Ruang Peracikan dan Penyerahan obat
c. Ruang Administrasi dan kamar Kerja Apoteker
d. Ruang tempat pencucian alat
e. WC
4. Keadaan bangunan :
a. Dinding
b. Langit-langit
c. Atap
d. Lantai
5. Kelengkapan bangunan calon apotik :
a. SumberAir
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 5

b. Penerangan
c. Alat pemadam kebsKaran
d. Ventilasi
e. Sanitasi
6. Papan Nama

II. PERLENGKAPAN
1. Alat pembuat pengolahan dan peracikan
a. Gelas ukur 10 ml, 100 ml, 250 ml
b. Labu Erlenmeyer 30 ml, 250 ml, 1 Itr
c. Gelas Piala 100 mi. 500 ml, 1 Itr
d. Panci pengukur 1L
e. Corong berbagai ukuran
f. Timbangan miligram dengan anak timbangan yang sudah ditera
g. Timbangan gram dengan anak timbangan yang Sudan ditera
h. Thermometer skala 100
i. Mortir garis tengah 5 s.d 10 cm dan 10 s.d 15 cm beserta alu
j. Spatel logam/tanduk plastic dan porselen
k. Cawan penguap porselen garis tengah 5 s.d 15 cm
l. Batang pengaduk
m. Penangas air
n. Kompor atau alat pemanas yang sesuai
o. Panci
p. Rak tempat pengering alat
2. Perlengkapan dan alat perbekalan farmasi
a. Botol
b. Lemari dan rak untuk menyimpan obat
c. Lemari pendingin
d. Lemari untuk penyimpanan racun, narkotika dan banan obat berbahaya
lainnya
3. Wadah pengemas dan pembungkus
a. Etiket
b. Wadah pengemas dan pemburigkus untuk penyerahan obat
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 6

4. Alat administrasi
a. Blanko pesanan obat
b. Blanko kartu stok obat
c. Blanko salinan resep
d. Blanko faktur dan blanko nota penjualan
e. Buku pembelian
f. Buku penerimaan
g. Buku pengiriman
h. Buku pembukuaan keuangan
i. Buku pencatatan narkotika
j. Buku pesanan obat narkotika
k. Form laporan obat narkotika
l. Buku pencatatan penyerahan racun
m. Alat-alat tulis dan kertas
5. Buku standard yang diwajibkan dan kumpulan peraturan perundang- undangan
yang berhubungan dengan Apotik.
6. Tempat penyimpanan khusus narkotika

III. PERSONALIA
1. Apoteker Pengelola Apotik
2. Apoteker Pendamping
3. pemilik sarana Apotik Alamat
4. Asisten Apoteker
5. Tenaga lain
a. Administrasi
b. Juru racik
c. Keamanan
d. Lain-lain

2.4 Prosedur Perizinan Apotek
Untuk mendapatkan izin apotek, APA atau apoteker pengelola apotek yang
bekerjasama dengan pemilik sarana harus siap dengan tempat, perlengkapan,
termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya. Surat izin apotek (SIA) adalah surat
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 7

yang diberikan Menteri Kesehatan RI kepada apoteker atau apoteker bekerjasama
dengan pemilik sarana untuk membuka apotek di suatu tempat tertentu.
Wewenang pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan
pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri Kesehatan dan tembusan
disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.
Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yaitu:
1. Permohonan izin Apotik diajukan Apoteker kepada Kepala Kantor
Wilayahdengan tembusan kepada Direktur Jenderal dengan menggunakan contoh
Formulir Model AP-1.
2. Dengan menggunakan Formulir Model AP-2, Kepala Kantor Wilayah selambat-
lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan, wajib menugaskan
Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan untuk melakukan
pemeriksaansetempat terhadap kesiapan apotik untuk melakukan kegiatan.
3. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan selambat-lambatnya 6 (enam) hari
kerja setelah penugasan dari Kepala Kantor Wilayah wajib melaporkan hasil
pemeriksaan kepada Kepala Kantor Wilayah dengan menggunakan contoh
Formulir Model AP-3.
4. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat tidak
dilaksanakan, apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan
kegiatan kepada Kepala Kantor Wilayah dengan tembusan kepada Direktur
Jenderal dan Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan, dengan menggunakan
contoh Formulir Model AP-4.
5. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil
pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (3) atau pernyataan dimaksud ayat (4),
Kepala Kantor Wilayah mengeluarkan Surat Izin Apotik dengan menggunakan
contoh Formulir Model AP-5.
6. Dalam hal hasil pemeriksaan Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan
dimaksud ayat (3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Kantor Wilayah dalam
waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan
menggunakan contoh Formulir Model AP-6.
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 8

7. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6), Apoteker
diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-
lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Penundaan.

Berikut flowchart tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek
Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002


2.5 Teknis Pelaksanaan Membuka Apotek
Dalam upaya membuka apotek yang baru berdiri, sering kali tertunda yang
disebabkan oleh hal – hal kecil baik yang terdapat dalam proses pemeriksaan
kelengkapan sarana pendukung operasional apotek ataupun kelengkapan berkas -
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 9

berkas lampiran dalam mengajukan permohonan SIA. Untuk menghindari
kekurangan-kekurangan tersebut, maka sebaiknya APA melakukan 3 hal yaitu :
1. Menginventarisasi semua kebutuhan perlengkapan sarana apotek, lalu membeli
sesuai dengan kebutuhan persyaratan pada saat mengurus SIA. Dalam melakukan
inventarisasi dan menyiapkan perlengkapan sarana apotek antara lain meliputi :
a. Menata ruangan peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi dan ruang
kerja APA, toilet
b. Memenuhi seluruh perlengkapan yang menjadi persyaratan
c. Memberi tanda ( √ ) untuk sarana yang sudah siap (oke)
2. Menginventarisasi dan mengurus semua berkas – berkas lampiran yang
dibutuhkan dalam mengajukan permohonan SIA.
Menginventaris berkas lampiran permohonan SIA sesuai dengan Kepmenkes No.
1332/Menkes/SK/X/2002 berkas lampiran yang dibutuhkan dalam permohonan
SIA terdiri dari:
a. Fotokopi SIK/SP
b. Fotokopi KTP
c. Foto kopi denah bangunan apotek (dibuat sendiri)
d. Surat keterangan (sertifikat) status bangunan
e. Daftar rincian perlengkapan apotek
f. Daftar tenaga asisten apoteker, mencantumkan nama / alamat, tanggal lulus,
No. SIK
g. Surat pernyataan APA tentang : tidak bekerja di perusahaan farmasi lain atau
APA di apotek lain
h. Surat izin dari atasan langsung (untuk pegawai negeri dan TNI/POLRI)
i. Fotokopi akte perjanjian dengan PSA (bila kerjasama dengan PSA)
j. Surat pernyataan PSA tentang : tidak pernah melanggar peraturan perundang-
undangan di bidang obat (bila kerjasama dengan PSA)

Pengurusan berkas lampiran permohonan SIA yang dibutuhkan terdiri dari:
a. Surat penempatan apoteker dari Kadinkes Propinsi. Untuk apoteker yang
belum memiliki SIK dari Departemen Kesehatan, maka yang bersangkutan
harus mengurusnya ke Kadinkes Propinsi, melampirkan fotokopi ijazah,
sumpah apoteker, KTP dan yang lainnya sesuai dengan persyaratan yang telah
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 10

ditetapkan. Untuk apoteker yang telah memiliki SIK surat penempatan ini
tidak diperlukan lagi.
b. Akte sewa/kontrak rumah. Untuk apoteker yang menggunakan bangunan
pihak lain, maka surat perjanjian kontrak rumah harus dibuat di notaris,
Apoteker yang menggunakan bangunan sendiri, maka akte sewa/kontrak ini
tidak diperlukan (cukup dengan fotokopi sertifikat kepemilikan rumah)
c. NPWP (nomor pokok wajib pajak) apotek
Apoteker menyiapkan lampiran (surat keterangan domisili usaha, fotokopi
KTP APA dan berkas lainnya yang dibutuhkan), kemudian APA membawa
berkas lampiran tersebut ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk
memperoleh NPWP. Kepala kantor pelayanan pajak akan menerbitkan NPWP
tersebut, setelah dianggap memenuhi berkas persyaratan.
d. Surat keterangan domisili apotek dari kelurahan
Apoteker menyiapkan surat persetujuan dari tetangga (minimal dari 4
tetangga), kemudian meminta kesediannya untuk menandatangani surat
tersebut. Surat keterangan tersebut dibawa ke RT / RW untuk diketahui dan
memperoleh surat pengantar untuk mengurus surat keterangan domisili
perusahaan disertai dengan lampiran :
 Surat persetujuan dari tetangga
 Sertifikat tanah/rumah
 Fotokopi IMB
 Fotokopi PBB
 Fotokopi KTP APA
e. Surat izin UU Gangguan (UUG)
Langkah-langkah pembuatan surat izin UUG
 Apoteker menyiapkan dan membawa berkas lampiran untuk mengurus izin
UUG ke Kepala Dinas Trantib Propinsi atau Kabupaten/Kota
 Berkas yang disiapkan:
 Surat keterangan domisili perusahaan
 Surat keterangan persetujuan tetangga
 Fotokopi IMB
 Fotokopi sertifikat tanah/rumah
 Fotokopi PBB
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 11

 Fotokopi NPWP
 Fotokopi KTP APA
 Mengisi formulir permohonan UUG yang telah disediakan oleh Kadin
Trantib Propinsi atau Kabupaten/Kota
 Kepala Dinas Trantib Propinsi atau Kabupaten/Kota akan menerbitkan
surat UUG tersebut, setelah dianggap memenuhi berkas persyaratannya
(dalam waktu 2 minggu)
f. Peta lokasi apotek (dibuat sendiri)
g. Denah bangunan apotek
h. Surat pernyataan kesanggupan menjadi APA
i. Surat pernyataan APA tentang tidak bekerja diperusahaan lain atau sebagai
APA di apotek lain
j. Surat pernyataan kesanggupan bekerja menjadi AA
k. Akte perjanjian dengan PSA (bila kerjasama dengan PSA)
l. Surat pernyataan PSA tentang tidak pernah melanggar peraturan perundang
undangan dibidang obat.
3. Membuat dan mengajukan permohonan SIA
a. Membuat surat permohonan memperoleh SIA yang ditandatangani oleh APA
di atas materai (Rp 6000,-)
b. Melengkapi surat tersebut dengan berkas-berkas lampiran sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan oleh Kepmenkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002
atau adanya tambahan lampiran yang diminta oleh Kepala Dinas Kesehatan
(Kadinkes) Kabupaten/Kota
c. Menyerahkan langsung permohonan SIA kepada Kadinkes Kabupaten/Kota
dan meminta tanda terimanya
d. Apoteker pemohon, hendaknya aktif memantau perjalanan dokumen
permohonan SIA tahap demi tahap
e. Apoteker pemohon, hendaknya kooperatif dan memenuhi persyaratan
mengenai berkas lampiran yang dibutuhkan oleh petugas



Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 12

2.6 Pengalihan Tanggung Jawab Pengelolaan Apotek
Pengalihan tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotik (APA) dapat terjadi
apabila APA tidak bertindak sebagai Apoteker pada apotik tersebut atau Apoteker
meninggal dunia. Aturan-aturan tentang pengalihan tanggung jawab tersebut dapat
dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002
pasal 24 adalah sebagai berikut:
1. Apabila Apoteker Pengelola Apotik meninggal dunia, dalam jangka waktu dua
kali dua puluh empat jam, ahli waris Apoteker Pengelola Apotik wajib
melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota;
2. Apabila pada Apotik tersebut tidak terdapat Apoteker pendamping, pada
pelaporan dimaksud ayat (1) wajib disertai penyerahan resep, narkotika,
psikotropika, obat keras dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan
psikotropika;
3. Pada penyerahan dimaksud ayat (1) dan (2), dibuat Berita Acara Serah Terima
sebagaimana dimaksud Pasal 23 ayat (2) dengan Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat dengan menggunakan contoh formulir Model APT. 11,
dengan tembusan Kepala Balai POM setempat.

2.7 Pencabutan Izin Apotek
Setiap apotek harus berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.1332/Menkes/SK/X/2002 pasal 25, Kepala Dinas Kesehatan dapat mencabut surat
izin apotek apabila:
a. Apoteker yang sudah tidak memenuhi ketentuan atau persyaratan sebagai apoteker
pengelola apotek.
b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dalam menyediakan, menyimpan dan
menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan terjamin keabsahannya
serta tidak memenuhi kewajiban dalam memusnahkan perbekalan farmasi yang
tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan dan mengganti obat generik
yang ditulis dalam resep dengan obat paten.
c. Apoteker pengelola apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 tahun
secara terus-menerus.
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 13

d. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan mengenai
narkotika, obat keras, psikotropika serta ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.
e. Surat izin kerja apoteker pengelola apotek dicabut.
f. Pemilik sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan
dibidang obat.
g. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai apotek.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002
pasal 26 bahwa:
1. Pelaksanaan Pencabutan Izin Apotik sebagaimana dimaksud, dalam Pasal 25
huruf (g) dilakukan setelah dikeluarkan:
a. Peringatan tertulis kepada apoteker pengelola apotek sebanyak 3 kali berturut-
turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan.
b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan sejak
dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan di apotek.
2. Pembekuan Izin Apotik sebagaimana dimaksud daiam ayat (1) huru'f (b), dapat
dicairkan kembali apabiia Apotik telah membuktikan memenuhi seluruh
persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan ini dengan menggunakan
contoh Formulir Model APT-14.
3. Pencairan Izin Apotik dimaksud dalam ayat (2) dilakukan sotelah menerima
laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat.

Keputusan pencabutan surat izin apotek dilakukan oleh Kepala Dinas
Kesehatan/Kota disampaikan langsung kepada apoteker pengelola apotek dengan
tembusan kepada Menteri dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat serta
Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan setempat.
Apabila surat izin apotek dicabut, apoteker pengelola apotek atau apoteker
pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasinya. Pengamanan tersebut
dilakukan dengan tata cara sebgai berikut:
1. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu
dan obat lainnya dan seluruh resep yang tersisa di apotek.
Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 14

2. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup
dan terkunci. Apoteker pengelola apotek wajib melaporkan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota atau petugas yang diberi wewenang tentang
penghentian kegiatan disertai laporan inventaris.





























Apoteker XXVIII - ISTN


Tata Cara Perizinan Apotek (Kelompok 2) ------------------------------------------------------------------ 15

DAFTAR PUSTAKA


KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS
PERATURAN MENTERI KESEHATAN RL NOMOR.
922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA
PEMBERIAN IZIN APOTIK

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA
PEMBERIAN IZIN APOTIK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN
1980 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 26 TAHUN 1965 TENTANG APOTIK