You are on page 1of 6

1

Crop Agro Vol. 4 No.2 – Juli 2011
PERKECAMBAHAN BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

(SEED GERMINATION ON PHYSIC NUT (Jatropha curcas

L.))
Bambang B. Santoso
J urusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram
bbs_jatropha@yahoo.com

ABSTRAK

Awal dari pertumbuhan dan perkembangan bibit tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah
proses perkecambahan yang harus berlangsung dengan baik agar diperoleh bibit tanaman yang berkualitas
baik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui proses perkecambahan dan pengaruh posisi benih saat tanam
terhadap viabilitas benih. Percobaan dirancang menurut Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan.
Hasil studi menunjukkan bahwa perkecambahan pada biji jarak pagar merupakan tipe epigeal yang
melibatkan fase imbibisi, fase munculnya radikel, fase bintang, fase pancing dan fase mekarnya daun biji
(kotiledon). Pengaturan posisi benih saat penanaman tidak berpengaruh nyata terhadap persentase atau daya
berkecambah biji, namun berpengaruh nyata terhadap kecepatan berkecambah dan vigoritas semai. Posisi
biji telungkup, posisi biji dengan mikropil di bawah maupun posisi miring merupakan posisi yang baik bagi
terjadinya perkecambahan dengan kecepatan berkecambah dan semai vigor yang tinggi.

Kata kunci: perkecambahan, posisi benih, epigeal, vigor benih

ABSTRACT

Seed germination is the early phases of physic nut (J atropha curcas L.) seedling growth and
development, and should be complete in good condition. In this study, research was conducted to know the
germination processes and the effect of seed position at time of sowing to seed viability. The experiment was
designed on Completely Random Design with threes replication.The result showed that type of seed
germination of physic nut seeds is ephygeal type and consist with 5 phases were imbibition, early growth of
radicle, star phase, bend (curved) phase, and phase of seed leaf (cotyledone) flush. Seed position at time of
seed sowing no affected to percentage of germination, however affected to germination rate and seedling
vigourity. Face-down position, seed with microphile/caruncle at below and side position were better position
for seed germination with high rate of germination and seedling vigourity.

Key words: ephygeal, germination, seed position,seed vigourity


PENDAHULUAN

Penyiapan bibit merupakan tahapan penting
bagi pengembangan tanaman hutan dan perkebunan,
demikian pula halnya pertumbuhan dan
perkembangan bibit di tingkat nurseri sangat
ditentukan oleh keberhasilan biji atau benih
membentuk semai yang diawali dengan
perkecambahan benih. Secara agronomis,
perkecambahan suatu biji (benih) diartikan sebagai
semai yang telah atau mulai muncul di permukaan
media tanam, sehingga secara teknis agronomis
perkecambahan adalah permulaan munculnya
pertumbuhan aktif yang menghasilkan pecah kulit
biji dan kemudian munculnya semai di permukaan
tanah.
Bibit yang baik dan seragam sangat
tergantung pada kecepatan berkecambah dan
persentase berkecambah benih (Sadjad, 1989), yang
dipengaruhi pula oleh kondisi fisiologis benih, umur
benih dalam simpanan, dan kesehatan
pathogenisnya (Sadjad, 1993). Perry (1979) juga
menyatakan bahwa kekuatan tumbuh benih
dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan pada saat
proses pembentukan biji dan penyimpanan hingga
kondisi saat perkecambahan.
Seperti biji-biji tanaman lainnya, biji
tanaman jarak pagar melewati beberapa tahapan
dalam proses perkecambahannya. Oleh Mohr dan
Schopfer, (1995) tahapan tersebut seperti pada jarak
kaliki/kepyar (R. cummunis L.) meliputi imbibisi,
aktivasi, dan pertumbuhan. Proses imbibisi yang
2
Crop Agro Vol. 4 No.2 – Juli 2011
merupakan proses penyerapan air oleh biji
merupakan awal proses dimulainya perkecambahan
(Taiz dan Zeiger, 2002) dan efektifitasnya di lapang
pertanaman ditentukan oleh posisi mikrofil
(caruncle) maupun permeabilitas kulit biji
(Hartmann et al., 1997). Oleh karena itu, maka
pemahaman terhadap tahapan perkecambahan biji
jarak pagar sangat diperlukan dalam kaitannya
untuk mempersiapkan pembibitan tanaman
bersangkutan yang kini sebagai primadona sumber
alternatif bahan bakar nabati (BBN) yang sedang
dikembangkan.
Memperhatikan adanya pengaruh posisi
benih saat pembibitan, maka pengaturan posisi
benih saat tanam sangat penting untuk dipelajari
pada pembibitan tanaman jarak pagar agar supaya
proses perkecambahan yang merupakan awal dari
pertumbuhan dan perkembangan bibit dapat
berlangsung dengan baik. Artikel ini menjelaskan
serangkaian tahapan morfologi atau proses
perubahan bentuk dari biji hingga semai yang
terjadi selama perkecambahan biji jarak pagar
(Jatropha curcas L.) di pesemaian. Rangkaian
proses perkecambahan yang dipaparkan merupakan
hasil studi proses perkecambahan biji tanaman jarak
pagar pada media tanam tanah sehingga
menggambarkan kondisi nyata bagi pertumbuhan
semai di lapang agronomi. Pengaturan posisi benih
berpengaruh pada kecepatan berkecambah dan
vigoritas kecambah biji jarak pagar.

METODE PENELITIAN

Studi perkecambahan biji tanaman jarak
pagar melalui pengaturan posisi tanam benih ini
dilaksanakan pada Desember 2006-J anuari 2007
dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap.
Posisi benih yang dimaksud adalah posisi mikropil
(caruncle) di bawah, posisi mikropil di atas, posisi
telentang, posisi telungkup, dan posisi miring.
Seluruh perlakuan dibuat dalam tiga ulangan dan
setiap ulangan terdiri atas 100 biji.
Bahan tanaman (biji) yang diuji diperoleh
dari pertanaman jarak pagar asal Lombok Barat,
yaitu dengan memanen buah yang telah matang
yaitu buah telah berwarna kuning. Buah kemudian
dikeringanginkan selama satu hari dan kemudian
dikupas untuk diambil bijinya. Biji-biji
dikeringanginkan selama dua hari dan kemudian
dimasukkan dalam kantong plastik dan disimpan
pada kondisi suhu kamar. Kemudian biji atau benih
tersebut yang digunakan dalam penelitian ini.
Media tanam yang digunakan tanah lapis olah
berupa bedengan perukuran 1 m x 1 m dengan
ketinggian 20 cm.
Benih yang akan diuji terlebih dahulu
direndam dalam air selama enam jam. Benih
kemudian ditanam atau dibenamkan sedalam 3 cm
sesuai dengan posisi yang diujicobakan. Tempat
atau bedengan pesemaian dibuat beratap paranet
warna hitam dengan intensitas naungan 35-40%..
Parameter yang mencerminkan daya
tumbuh benih selama percobaan diamati. Selain
daripada itu, pengamatan terhadap morfologi biji
yang sedang mengalami perkecambahan juga
diamati. Proses perkecambahan kemudian
didiskripsikan dan data viabilitas benih dianalisis
menurut Anova dan uji lanjut Honestly Significant
Difference pada taraf nyata 5% dengan
menggunakan program Statistis Minitab-14.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Biji jarak pagar merupakan biji berkeping
dua (dikotil) dan tersusun atas kulit (shell) dan isi
biji (cernel) yang di dalamnya terdapat embrio.
Kulit menempati sekitar 28.82% dari biji, dan isi
biji sekitar 71.19% (Gambar 1). Isi biji terdiri atas
embrio, kotiledon atau daun biji, dan endosperma
(Gambar 2).







Gambar 1. Biji jarak pagar secara umum terdiri dari
kernel (kiri) dan kulit biji (kanan)


Gambar 2. Bagian-bagian biji jarak pagar Jatropha
curcas L. E=endosperma, H=hipokotil,
C=kotiledon, R=radikel, T=testa,
Cr=caruncle (Gbr. kiri). Biji yang
mengalami imbibisi dan telah
berkecambah yang ditandai dengan
radikel tumbuh dan kulit biji pecak
(Gbr. tengah). Bagian dalam biji atau
kernel terdiri atas endosperma dan
kotiledon (Gbr. kanan)
3
Crop Agro Vol. 4 No.2 – Juli 2011
Perkecambahan Biji Jarak Pagar

Perkecambahan biji jarak pagar diawali
dengan imbibisi dan kemudian aktivasi, serta
pertumbuhan. Proses imbibisi yang merupakan
proses penyerapan air menentukan apakah benih
jarak pagar berhasil untuk berkecambah, yaitu
ditandai dengan kulit biji mulai retak atau pecah,
dan kemudian diikuti dengan tumbuh (munculnya)
radikula.
Hasil pengamatan pada proses
perkecambahan biji jarak pagar menunjukkan
bahwa biji jarak pagar dalam kondisi lingkungan
optimum cepat berkecambah, yaitu sekitar 3 – 4
setelah tanam. Pada saat itu, kulit biji dari arah
lubang mikrofil biji telah pecah dan nampak
panjang radikel sekitar 0,3 – 0,5 mm. Munculnya
kecambah di permukaan tanah media tanam
kemudian nampak pada hari ke 8 – 11 setelah tanam
biji, dan periode semai berakhir setelah fase daun
kotiledon mekar penuh yang dicapai sekitar 14 – 15
hari sejak tanam biji.
Fase-fase dalam proses perkecambahan biji
jarak pagar ditunjukkan pada Gambar 3.
Percambahan diawali dengan tumbuhnya radikula
melalui lubang mikropil biji (B). Radikula terus
tumbuh geotropisme menghasilkan satu buah akar
tunggang dengan empat buah akar lateral sehingga
fase ini kemudian diidentitaskan sebagai fase
bintang dari suatu perkecambahan biji jarak pagar
(C, D, dan E). Pada kondisi lingkungan yang
memungkinkan bagi kecambah terus tumbuh, maka
pertumbuhan selanjutnya adalah epikotil
memanjang ke arah permukaan media tumbuh.
Epikotil yang tumbuh mengalami pembengkokan
karena kotiledon masih tertahan di dalam tanah,
sehingga fase ini disebut sebagai fase pancing dan
berlangsung hingga kotiledon terangkat ke
permukaan media tumbuh (F dan G). Kotiledon
kemudian membuka (pecah) dan berkembang
menjadi daun kotiledon atau daun biji (H dan I).
J adi, periode perkecambahan (dari A hingga G)
membutuhkan waktu sekitar 15 hari dan
selanjutnya pertumbuhan semai diakhiri pada fase I
yaitu setelah 14-15 hari sejak tanam benih.
Selama perkecambahan biji jarak pagar,
semai muncul dikarenakan pemunculan epigeal
yaitu suatu struktur di bawah kotiledon sebagai
hasil pemanjangan epikotil atau radikula bagian
atas. Sehubungan dengan tahapan perkecambahan
seperti yang diuraikan di atas, maka biji jarak pagar
memiliki tipe perkecambahan epigeal, yaitu
kotiledon terangkat ke permukaan media tumbuh.
Gambar 3 menjelaskan tahapan proses
perkecambahan biji jarak pagar. Pada gambar
nampak bahwa, setelah dua hari imbibisi, kulit biji
telah mulai pecah. Pada hari ketiga radikula telah
mulai nampak tumbuh. Pada hari ke 5-7 antara akar
tunjang (akar pancar) dan akar samping telah dapat
dibedakan. Pertumbuhan selanjutnya adalah
pertumbuhan awal dari suatu fase pancing yang
terjadi sekitar hari ke 8-9. Kecambah mulai nampak
atau menembus permukaan media tumbuh, namun
masih berbentuk pancing, sehingga periode fase
pancing berlangsung dari hari ke delapan hingga
hari ke sebelas. Pada periode ini, kotiledon yang
merupakan daun biji secara perlahan berubah
warna, dari putih atau krem, kuning dan kemudian
mejadi hijau muda (Gambar 4), sedangkan
endosperma walaupun mengalami pembesaran,
tetapi bersama dengan itu juga mengalami penipisan
struktur. Pada hari ke 12-13 semai telah berdiri
tegak, dan kemudian daun kotiledon semai jarak
pagar akan mekar sempurna dan berwarna hijau
pada hari ke 14-15 setelah penanaman biji. Pada
saat itu endosperma sudah berupa struktur seperti
kulit tipis yang membungkus daun daun biji dan
kemudian mengering serta gugur (Gambar 4).



Gambar 3. Urutan stadia perkecambahan biji jarak
pagar





Gambar 4. Selama proses perkecambahan kotiledon
atau daun biji mengalami perubahan
warna dari putih krem, kemudian
menguning dan akhirnya hijau (kiri),
sedangkan endosperma mengalami
penipisan struktur dan seolah melapisi
kotiledon yang sedang mengalami
pertumbuhan dan perkembangan, dan
akhirnya gugur (tengah dan kanan)
4
Crop Agro Vol. 4 No.2 – Juli 2011
Pengaruh Posisi Benih Saat Tanam Terhadap
Perkecambahan

Hasil percobaan kedua, menunjukkan
bahwa tidak ada pengaruh nyata posisi benih saat
penanaman terhadap daya kecambah benih. Namun
demikian, posisi benih berpengaruh nyata terhadap
kecepatan berkecambah benih dan persentase semai
vigor.

Tabel 1. Daya tumbuh benih (persen), kecepatan
berkecambah (hari), dan jumlah semai vigor
(persen) pada masing-masing posisi tanam
benih

Posisi Tanam
Benih
Daya
Tumbuh
(%)
Kecapatan
Berkecambah
(hari)
Semai
Vigor
Mikrofil di
bawah
92.67 7.6 a 91.1 b
Mikrofil di atas 87.00 10.5 b 71.4 a
Telentang 90.33 8.6 ab 69.3 a
Telungkup 90.67 6.7 a 97.9 b
Miring 91.33 6.9 a 89.7 b
HSD 5% - 2.73 10.55
Keterangan: Angka pada masing-masing kolom yang
diikuti huruf sama tidak berbeda nyata.

Secara fisiologis, posisi benih saat
penanaman tidak berpengaruh nyata terhadap
viabilitas benih, dalam hal ini daya tumbuh biji atau
persen biji berkecambah. Namun, posisi benih
berpengaruh nyata terhadap kecepatan berkecambah
dan persen semai vigor (semai normal) (Tabel 1.).
Pada percobaan ini daya tumbuh benih
mencerminkan persentase benih yang berkecambah
dan kemudian berhasil tumbuh membentuk semai
pada media pesemaian atau pembibitan.
Perhitungan daya tumbuh dilakukan pada hari ke-15
pesemaian. Sehingga semai atau kecambah yang
tumbuh termasuk semai vigor (normal) maupun
semai tidak vigor (tidak normal). Fenomena ini
tidak sesuai dengan hasil penelitian pada karet,
bahwa pengaturan posisi benih saat di pesemaian
berpengaruh nyata terhadap persentase biji
berkecambah (Indraty dan Sutardi, 1985) maupun
pada biji tanaman nagasari (Messue ferrea)
(Budianto dan Santoso, 1999). Hal ini disebabkan
ukuran biji jarak pagar relatif lebih kecil daripada
biji karet dan terhadap biji nagasari, kulit biji jarak
pagar relatif lebih tipis yang lunak.
Pengaturan posisi benih berpengaruh nyata
terhadap kecepatan berkecambah, yang
mencerminkan kecepatan semai muncul di
permukaan media tanam. Perhitungan kecepatan
berkecambah dilakukan setelah semai nampak di
permukaan tanah sebagai media tumbuh, yaitu pada
stadia pancing (fase F – G). Kecepatan atau saat
muncul stadia pancing inilah yang dipengaruhi oleh
posisi benih saat penanaman. Semai yang paling
awal tumbuh ditunjukkan oleh benih berposisi
telungkup, posisi miring, dan posisi mikrofil di
bawah dengan nilai berturut-turut 6.7, 6.9, dan 7.6
hari. Semai yang lambat tumbuh terjadi pada benih
yang ditanam dengan posisi telentang, sedangkan
yang paling lambat tumbuh terjadi pada benih
berposisi mikrofil di atas, yaitu 10.5 hari (Tabel 1).
Hasil percobaan ini sejalan dengan
penelitian Budianto dan Santoso (1999) bahwa
posisi telungkup merupakan posisi yang baik bagi
perkecambahan maupun kecepatan berkecambah
biji Nagasari (Messua ferrea L.). Demikian juga
posisi telungkup pada jambu mente merupakan
posisi yang baik untuk menghasilkan bibit dalam
jumlah banyak dan berkualitas baik, yaitu tidak
terjadi pembengkokan pada pangkal batang-akar
(Lubis, 1996).
Seperti telah diketahui bahwa agar suatu
perkecambahan biji dapat terjadi diperlukan
kelembaban media tumbuh pada tingkat tertentu
yang dapat dimanfaatkan bagi biji tersebut untuk
dapat aktif bermetabolisme. Posisi tanam benih
mempengaruhi posisi lubang mikrofil biji maupun
bagian kulit ventral akan sangat menentukan jumlah
air (kelembaban) yang dapat diserap oleh biji,
karena melalui kedua bagian biji tersebut air mudah
meresap ke dalam benih.
Pada benih dengan posisi mikrofil di
bawah, posisi telungkup, dan posisi miring memiliki
kesempatan terjadinya penyerapkan air yang lebih
banyak dibandingkan benih berposisi telentang
maupun benih berposisi mikrofil di atas. Posisi
mikrofil dan bagian biji yang mudah dilalui molekul
air sangat menentukan jumlah air yang diserap biji
melalui proses imbibisi. Pada posisi telungkup
memberikan peluang penyerapan air oleh biji lebih
banyak dikarenakan posisi mikrofil dan bagian
tengah (belahan) kulit di bagian ventral biji jarak
pagar tepat pada arah atau posisi air dalam media
tersedia banyak dan mudah diserap.
Dalam penelitian ini diamati adanya
ketidaknormalan pertumbuhan dan perkembangan
semai. Persen semai vigor yang rendah terjadi pada
benih-benih dengan posisi telentang (6.9%) dan
mikrofil di atas (71.4%). Sedangkan semai vigor
yang tinggi diperoleh pada benih berposisi
telungkup (97.9%), benih dengan posisi mikrofil di
bawah (91.1%), dan benih berposisi miring (90.7%)
(Tabel 1).
5
Crop Agro Vol. 4 No.2 – Juli 2011
Vigorsitas benih dipengaruhi oleh posisi
benih saat penananam. Pengaruh ini terjadi akibat
adanya perbedaan posisi mikrofil biji pada masing-
masing posisi. Posisi mikrofil menentukan
kemudahan pertumbuhan radikel yang tumbuh
geotropisme maupun arah kotiledon berserta
endosperma terangkat ke atas (fototropisme). Pada
Gambar 5. nampak bahwa awal pertumbuhan
radikel (akar) yang geotropisme terjadi dengan baik
pada semua posisi benih (A, B, C, D, E), namun
pada perkembangan selanjutnya terjadi
pembengkokan epikotil yaitu struktur di bawah
daun biji atau kotiledon pada biji dengan posisi
telentang (A), posisi miring (C), dan posisi mikropil
di atas (E). Khususnya posisi E, mengalami
pembengkokan yang lebih berat karena dihalangi
oleh fisik biji itu sendiri terjadi.

















Gambar 5. Tahapan awal perkecambahan biji jarak
pagar pada berbagai posisi benih saat
penanaman: A. Benih berposisi
telungkup, B. Benih berposisi telentang,
C. Benih berposisi miring, D. Benih
berposisi mikrofil di bawah, dan E.
Benih berposisi mikrofil di atas









Gambar 6. Vigoritas kecambah biji jarak pagar. A –
C : kecambah normal (vigor), D – F :
kecambah tidak normal (non-vigor), dan
G – H : semai non vigor
Pertumbuhan dan perkembangan
selanjutnya menentukan tingkat keabnormalan
pertumbuhan kecambah (semai). Adanya hambatan
pertumbuhan akar dan kotiledon akan menyebabkan
terjadinya pembengkokan pada epikotil yang
nantikan tumbuh dan berkembang menjadi batang
bagian bawah. Pembengkokan epikotil dan pangkal
batang-akar banyak terjadi pada benih dengan posisi
B, C, dan E sehingga banyak menyebabkan semai
tidak vigor (lihat Tabel 1. kolom semai vigor)
dikarena pada posisi tersebut terjadi hambatan yang
besar untuk semai kembali ke arah pertumbuhan
yang sebenarnya. Sedangkan pada benih berposisi
telungkup dan mikrofil di bawah tidak terjadi
hambatan pertumbuhan radikel ke arah geotropisme
dan epikotil beserta daun biji maupun hipokotil ke
arah fototropisme (Gambar 5. A dan D). Pada
Gambar 6. ditunjukkan vigoritas kecambah.
Kecambah yang normal nampak pertumbuhan dan
perkembangan hipokotil tidak mengalami
gangguan, sedangkan pada kecambah tidak normal
nampak adanya gangguan pertumbuhan dan
perkembangan pada epikotil, terutama
pembengkokan.

KESIMPULAN

Perkecambahan pada biji jarak pagar
(Jatropha curcas L.) merupakan perkecambahan
tipe epigeal yang pada kondisi baik memerlukan 8 –
11 hari untuk dapat muncul di permukaan media
tanam. Secara agronomis proses perkecambahan
hingga menghasilkan semai jarak pagar
memerlukan waktu 14 – 15 hari sejak tanam benih
dan melibatkan fase imbibisi, fase munculnya
radikel, fase bintang, fase pancing dan fase
mekarnya daun biji (kotiledon).
Posisi benih saat penanaman tidak
berpengaruh nyata terhadap persentase atau daya
berkecambah biji, namun berpengaruh nyata
terhadap kecepatan berkecambah dan vigoritas
semai. Posisi biji telungkup, posisi biji dengan
mikropil di bawah maupun posisi miring merupakan
posisi yang baik bagi terjadinya perkecambahan
dengan kecepatan berkecambah dan semai vigor
yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Budianto, A., B.B. Santoso. 1999. Pengaruh Posisi
Benih Terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Bibit Nagasari (Mesua
ferrea L.). J. Agroteksos Fakultas Pertanian
UNRAM. Vol.4, No.3.p:56-60.
D E F G H
A B C
A

B

C

D

E
6
Crop Agro Vol. 4 No.2 – Juli 2011
Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies, J r., R.L.
Geneve. 1997. Plant Propagation :
Principles and Practices. Printice Hall Inc.
Indraty, I.S., Sutardi. 1985. Pengaruh Letak Benih
Karet (Hevea braziliensis) pada
Perkecambahan terhadap Pertumbuhan
Bibit. Risalah Penelitian. No. 11, 1985.
Research Centre Getas, Salatiga.p:1-11.
Lubis, M.Y. 1996. Penelitian Teknologi Budidaya
Tanaman J ambu Mente : Kasus Pulau Muna
di Sulawesi Tengah. Prosiding Forum
Komunikasi Ilmiah Komoditas J ambu
Mente. Balai Penelitian Tanaman Rempah
dan Obat.p:86-95.
Mohr, H. and P. Schopfer, 1995. Plant Physiology.
Springer-Verlag. p:203-207.



Naning, Y., Yulianti, B., Rina K., Dharmawati, F.D.
2002. Informasi Teknis Tanaman Nagasari
(Mesua ferrea L.). Tekno Benih. Vol.7,
No.2, 2002. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. p:79-83.
Perry, D.A. 1979. Seed Vigour and Seedling
Establishment. Advance in Research and
Technology of Seeds, 2:62-85.
Sadjad, S. 1989. Konsepsi Steinbauer-Sadjad
Sebagai Landasan Pengembangan
Matematika Benih di Indonesia. Pidato
Ilmiah Pengukuhan Guru Besar. Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. PT
Gramedia Widiasarana Indonesia. J akarta.
Taiz, L. and E. Zeiger, 2002. Plant Physiology.
Third Edition. Sinauer Associates, Inc.,
Publishers. Sunderland, Massachusetts.
p:25.