You are on page 1of 49

ASPEK HUKUM MALPRAKTEK

PELAYANAN KESEHATAN
(TINJAUAN KASUS KRIMINAL)
Oleh

DIR I/ KAM & TRANNAS
BARESKRIM POLRI



JAKARTA, 4 JULI 2010
PENDAHULUAN
Profesi kedokteran dan tenaga medis lainnya
dianggap sbg profesi yg mulia (officium nobel)
dan terhormat dimata masyarakat.
Seorang dokter sebelum melakukan praktek
kedokterannya atau melakukan pelayanan
medis telah melalui pendidikan dan pelatihan
yg cukup panjang.
Dari profesi ini banyak masy menggantungkan
harapan hidupnya dari kesembuhan dan
penderitaan sakitnya.

LANJUTAN...
Sekarang ini tuntutan professional thd profesi
dokter makin tinggi.
Berita yg menyudutkan serta tudingan bhw
dokter telah melakukan kesalahan di bidang
medis bermunculan.
Di negara-negara maju yg lebih dulu mengenal
istilah makpraktik medis ini ternyata tuntutan thd
dokter yg melakukan ketidaklayakan dlm
praktek juga tdk surut.
Biasanya yg menjadi sasaran terbesar adalah..

 dokter spesialis bedah (ortopedi, plastic
dan syaraf),

 dokter spesialis anestesi ,

 dokter spesialis kebidanan dan penyakit
kandungan.

1. UU NO. 1 TH 1946 TTG KUHP,
2. UU NO. 8 TH 1981 TTG KUHAP,
3. UU NO 2 TH 2002 TTG KEPOLISIAN
NEGARA RI,
4. UU N0 29 TH 2004 TTG PRAKTEK
KEDOKTERAN,
5. UU NO. 36 TH 2009 TTG KESEHATAN,
6. UU NO. 23 TH 2002 TTG PERLINDUNGAN
ANAK.


Istilah malpraktek adalah istilah yg kurang tepat,
karena merupakan suatu praduga bersalah thd profesi
kedokteran. Praduga bersalah ini dapat disalah-
gunakan oleh pihak-pihak tertentu utk kepentingan
sesaat yg akan merusak semua tatanan dan sistem
pelayanan kesehatan.

Celakanya, malpraktek medik yg merupakan suatu
kesalahan dokter dlm berbuat sesuatu atau tdk
berbuat sesuatu dibandingkan dgn standard profesi,
tidak eksplisit dijumpai dlm UU No 29 Tahun 2004.

Karenanya hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi
Konsil Kedokteran Indonesia/KKI (dalam hal
legislasinya). Disusul oleh Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia/MKDKI yang akan
menentukan apakah telah terjadi suatu kesalahan
dokter, walaupun tanpa bakunya suatu perumusan
perbuatan indisipliner tsb.

Selayaknya masalah ketidakpuasan masy thd
pelayanan kesehatan oleh dokter atau rumah
sakit yg pada umumnya merupakan masalah
miskomunikasi antara pasien – dokter, diganti
dgn istilah “sengketa medik”.

Alasannya karena pada saat ini masih banyak
dokter yg berpraktek utk kepentingan
kemanusiaan dlm bentuk pertolongan
kegawatan, kedaruratan, sejak dari prevensi,
perlindungan khusus, diagnosis dini yg cepat,
terapi hingga rehabilitasi maupun pertolongan
kemanusiaan lainnya.

Kebijakan penyidik.

Pelontaran isu malpraktek scr terus menerus akhir-akhir
ini patut diduga dilakukan scr sistematik utk menekan
kelompok dokter dan rumah sakit.

Modusnya adalah setiap kejadian buruk pasien adalah
identik dgn malpraktek.

Lalu disertai ”dua hook” berurutan yakni tuntutan pidana
akibat kelalaian yg menyebabkan orang lain luka atau
mati, plus ancaman gugatan perdata imaterial yg
besarnya sangat tdk masuk akal ribuan kali dari
honorarium dokter.

Tuntutan pidana yg begitu mudahnya utk diterapkan
kepada dokter praktek, seolah menghilangkan doktrin
hukum klasik, bhw hanya culpa lata (kelalaian berat) yg
dapat ditimpakan kepada dokter.

Juga hukum pidana – suatu yg selayaknya ultimum
remedium (upaya pamungkas terakhir) – oleh banyak
penyidik akhir-akhir ini begitu mudahnya diterapkan sbg
”hukum penyaring” di awal.

Penyidik POLRI, yg pada kesempatan lalu berkoordinasi
dgn organisasi profesi atau instansi kesehatan, atau scr
yuridis sesuai KUHAP ”menunggu” setelah kiprahnya
PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) dlm menyelidiki
dugaan tindak pidana kesehatan/kedokteran, kini
”nampak begitu proaktif” menyidik dokter.

Bagi kalangan kedokteran, saat ini penyidik POLRI dikesankan sbg
begitu responsif thd keluhan malpraktek yg dilaporkan masyarakat,
namun di sisi lain kurang menaruh kepercayaan kepada profesi
dokter sbg profesi mulia.

Praktek demikian ini dikawatirkan akan menumbuh-suburkan iklim
kriminalisasi dokter sbg ”penjahat”, bak gayung bersambut – dgn
”peradilan pers” – khususnya kelompok infotainment - yg juga
masih menggebu menjadikan isu malpraktek sbg berita utama.

Polisi, penegak hukum, juga pelindung kemanusiaan. Wajib
meningkatkan profesionalisme POLRI, memahami professional
crime dlm bidang kesehatan, sosiologi profesi kedokteran sbg aspek
legal pelbagai hukum kedokteran dan kesehatan. Pembekalan
terhadap penyidik yg menangani ”perkara pidana kesehatan/
kedokteran” langsung, tanpa melalui PPNS, sbgmn fenomena saat
ini,
 Di sisi lain, gugatan imaterial tanpa batas, dgn sistem contingency fee
(menetapkan prosentase hasil gugatan yg diperoleh bagi lawyer tsb) yg
diterapkan sbg imbalan jasa lawyer, akan menyuburkan masyarakat yg
gemar menggugat.

 Kisah krisis malpraktek di negara bagian AS, banyak terjadi pada yg tak
menerapkan batas maksmum besarnya ganti rugi. Beberapa dokter stop
praktek karena premi asuransinya sudah tak terbayarkan lagi. Bersama
pidana, keduanya jelas merusak jutaan hubungan pasien – dokter, di
luar yang tengah sengketa medik tadi, yg masih berlangsung baik saat
ini.

 Masyarakat sendiri sudah kurang percaya thd kelembagaan MKEK sbg
wahana utk mencari keadilan, karena selain disangka tdk independen,
kenyataannya lebih bersifat melakukan penjatuhan sanksi etis bagi
dokter yg ”kurang menjerakan” dan tak mengubah penderitaan pasien.

 Apakah sebentar lagi akan ada RS plus dokter asing ”kelas kakap”
masuk ke negara kita secara ”melenggang mudah” karena kita semua
sudah ”lemah” akibat krisis malpraktek plus munculnya barisan litigious
society? Benar tidaknya, hal ini merupakan tantangan bagi profesi
kedokteran bersama organisasi profesinya.

M. Yusuf Hanafiah , malpraktek medis adalah kelalaian
seorang dokter utk mempergunakan tingkat keterampilan
dan ilmu pengetahuan yg lazim dipergunakan dlm
mengobati pasien atau orang yg terluka menurut ukuran di
lingkungan yg sama.

Pengertian yg dikemukakan oleh World Medical
Association, menunjukkan bhw malpraktik medik dapat
terjadi karena tindakan yg disengaja (intentional)
seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian
(negligence) ataupun suatu kekurangmahiran/
ketidakkompeten yg tdk beralasan.

DEFINISI MALPRAKTEK
Penegakan hkm yg proporsional thd tindakan
dokter yg diduga melakukan tindakan malpraktik
medik selain memberi perlindungan hkm bagi
masy sbg konsumen dan biasanya mempunyai
kedudukan lemah, dilain pihak juga bagi dokter
yg tersangkut dgn persoalan hukum jika
memang telah melalui proses peradilan dan
terbukti tdk melakukan perbuatan malpraktik
akan dapat mengembalikan nama baiknya yg
dianggap telah tercemar, karena hubungan
dokter dan pasien bukanlah hubungan yg
sifatnya kerja biasa atau atasan bawahan tapi
sifatnya kepercayaan.


Di dlm setiap profesi termasuk profesi
tenaga kesehatan berlaku norma etika
dan norma hukum. Oleh sebab itu
apabila timbul dugaan adanya
kesalahan praktek sudah seharusnyalah
diukur atau dilihat dari sudut pandang
kedua norma tsb. Kesalahan dari sudut
pandang etika disebut ethical
malpractice dan dari sudut pandang
hukum disebut yuridical malpractice
yuridical malpractice pasti merupakan
ethical malpractice (Lord Chief Justice,
1893).

Utk malpraktik hukum atau yuridical
malpractice dibagi dlm 3 (tiga) kategori
sesuai bidang hukum yg dilanggar, yakni :
-Criminal malpractice,
-Civil malpractice dan,
- Administrative malpractice.


Criminal malpractice

Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dlm kategori criminal
malpractice manakala perbuatan tsb memenuhi rumusan delik
pidana yakni :

a. Perbuatan tsb(positive act maupun negative act) mrpkan
perbuatan tercela.

b. Dilakukan dgn sikap batin yg salah (mens rea) yg berupa
kesengajaan (intensional), kecerobohan (reklessness) atau
kealpaan (negligence).

c. Criminal malpractice yg bersifat sengaja (intensional) misalnya
melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia
jabatan (pasal 322 KUHP), membuat surat keterangan palsu
(pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis
pasal 299 KUHP).


Criminal malpractice yg bersifat ceroboh (recklessness) misalnya

melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed
consent.

Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya
kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya
pasien,

ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi.

Kesalahan dokter karena tdk memiliki Surat
Izin Praktek (Pasal 36 UU No.29 th 2004 ttg
Praktik Kedokteran) atau tdk memiliki Surat
Tanda Registrasi (pasal 29 ayat (1) lebih
bersifat pelanggaran administrasi.
Tetapi pelanggaran administrasi ini berpe-
luang menjadi tindak pidana karena dlm
pasal lain dari UU 29/2004 itu menyebutkan
sanksi pidana (dlm pasal 75 jo 76).
Perbuatan pelanggaran dlm wilayah
administrasi ini baru berpeluang menjadi
malpraktik jika mengakibatkan kerugian
fisik atau kehilangan nyawa pasien.


Menurut Gunadi, J dapat dibedakan antara resiko
pasien dengan kelalaian dokter (negligence) yg dapat
dimintakan pertanggungjawaban pada dokter, resiko yg
ditanggung pasien ada tiga macam yaitu :
1. Kecelakaan
2. Resiko tindakan medik (risk of treatment)
3. Kesalahan penilaian (error of judgement)


Masih menurut Gunadi, J masalah hukum sekitar 80%
berkisar pada penilaian atau penafsiran. Resiko dalam
tindakan medik selalu ada dan jika dokter atau penyedia
layanan kesehatan telah melakukan tindakan sesuai
dengan standar profesi medik dalam arti bekerja dengan
teliti, hati-hati, penuh keseriusan dan juga ada informed
consent (persetujuan) dari pasien maka resiko tersebut
menjadi tanggungjawab pasien. Dalam undang-undang
hukum perdata disana disebutkan dalam hal tuntutan
melanggar hukum harus terpenuhi syarat sebagai
berikut :
1. Adanya perbuatan (berbuat atau tidak berbuat)
2. Perbuatan itu melanggara hukum
3. Ada kerugian yang ditanggung pasien
4. Ada hubungan kausal antara kerugian dan kesalahan
5. Adanya unsur kesalahan atau kelalaian

Aspek kepastian hukum dan perlindungan
hukum

-Bagi masyarakat pengguna jasa

-Bagi dokter dan dokter gigi dituntut akuntabilitas
profesi


Kepastian bagi masy pengguna jasa bhw :

-Dokter yg berpraktek harus berkompetensi standar, terregistrasi dan
berwenang.

-Dokter yang berpraktek bekerja sesuai etik, standar profesi dan SOP,

-Hak pasien dan kewajiban dokter ditegakkan dgn hukum pidana.

-Mutu layanan dan kendali biaya.

Kepastian bhw :

-KKI, Dinkes, Org Profesi mengawasi pelaksanaan praktik;

-Sanksi MKDKI: Skorsing, pencabutan SIP, Re-Edukasi;

-4 (empat) jalur penyelesaian : Etik, Disiplin Profesi, Hukum Pidana
dan Hukum Perdata

Kepastian dan Perlindungan Hukum bagi Dokter :

-hak dokter dan kewajiban pasien;
-Hak bekerja sesuai dgn standsar profesi dan etik
(otonomi profesi)
-Hak Atas perlindungan hukum sepanjang sesuai
standar profesi dan SOP.

Belum ada kepastian hukum

-Pemerataan layanan dokter;
Pengertian malpraktek, kelalaian medis, kecelakaan,
resiko dan kompilasi;
Pembuktian malpraktek;
Hubungan RS dgn dr., kaitannya dgn tanggung jawab
hukum;
Batas maksimum tuntutan ganti rugi;
No fault compesation.

Kelemahan UU Praktek Kedokteran

-Aturan disiplin kedokteran = materi muatan HAM karena
masuk pasal-pasal yg menjadi objek Komnas HAM;

-uncertainties peradilan DR/DRG tidak ne bis in idem
(pasal 66 ay 1 dan ay 3.

-Tdk ada pasal Mal praktek , penyidik masih meng-
gunakan pola pasal 359-360 KUHP .

-tdk ada batasan gugatan imaterial – defensiv medicine.

-Masih sisa kriminalisasi pelanggaran administratif
(tanpa papan nama- pidana denda) pasal 79 .

- rahasia kedokteran – boleh dibuka di penyidik (pasal
48 ayat 2) padahal seharusnya di PN.



Menilai adakah Malpraktek

-berdasarkan prosedur atau bagaimana tindakan medis
dilaksanakan

-adakah error of planning atau adakah error of execution
Menggunakan acuan etika dan standar

-bukan berdasarkan hasilnya.


Kegagalan/hasil buruk

Dapat sbg akibat dari :

-Lebih disebabkan oleh perjalanan penyakit; termasuk
komplikasi;

-Lebih disebabkan oleh resiko manajemen medis
(adverse events) thd resiko yg acceptable (telah
diinformasikan dan disetujui- tingkat probabilitas dan
keparahan rendah, hanya satu-satunya cara dan resiko
yg unforseeable.

-Culpa : kelalaian Medik (foreseable and avoidable risks,
Dolus : Kesengajaan

.
Pasal 2 ayat (3), pasal 3 ayat (1), dan pasal 7 ayat (2),
peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia
nomor : 585/Men.Kes/Per/IX/1989, ttg Persetujuan
Tindakan Medis, menyebutkan istilah resiko secara
eksplisit dan tersirat, antara lain :

a. Pasal 2 ayat (3) : persetujuan sbgmn dimaksud
ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat
informasi yg adekuat ttg perlunya tindakan medic
yg bersangkutan serta resiko yg dapat
ditimbulkannya.
b. Pasal 3 ayat (1) : Setiap tindakan medic yg
mengandung resiko tinggi harus dgn persetujuan
tertulis yg ditandatangani oleh yg hendak
memberikan persetujuan.
c. Pasal 7 ayat (2) : Perluasan operasi yg tdk dapat
diduga sebelumnya dapat dilakukan utk
menyelamatkan jiwa pasien.

PERUNDANG-UNDANGAN
KUHP

PSL 359 KUHP

Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya)
menyebabkan orang lain mati, diancam dgn pidana
penjara paling lama lima tahun atau pidana
kurungan paling lama satu tahun. (kesalahan si
korban andaikata ada, tdk menghapus kesalahan
terdakwa).

PSL 360 KUHP

(1) Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya)
menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat,
diancam dgn pidana penjara paling lama 5 th atau
pidana kurungan paling lama 1 th.

(2) Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya)
menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa shg
timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam
dgn pidana penjara paling lama 9 bln, atau pidana
kurungan paling lama 6 bln atau pidana denda paling
tinggi 4500 rupiah.
PERUNDANG-UNDANGAN
UU No. 36 th 2009 ttg Kesehatan

Bab I
Pasal 1

6. Tenaga kesehatan
adalah setiap orang yg mengabdikan diri dlm
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan
dan/atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yg utk jenis tertentu
memerlukan kewenangan utk melakukan upaya
pelayanan.
UU NO. 36 TH 2009 TTG KESEHATAN
PASAL 58

(1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi thd seseorang, tenaga
kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yg menimbulkan
kerugiaan akibat kesalahan atau kelalaian dlm pelayanan kesehatan yg
diterimanya.
(2) Tuntutan ganti rugi sbgmn dimaks pd ay 1 tdk berlaku bagi tenaga
kesehatan yg melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan
kecacatan seseorang dlm keadaan darurat.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sbgmn dimaksud pada
ay 1 diatur sesuai dgn ketentuan peraturan peruu-an.
Lanjutan.....

Bab XIX
Pasal 189
Penyidikan

 Ayat 1 selain penyidik polisi negara RI, kepada
pejabat pegawai negeri sipil tertentu di
lingkungan pemerintahan yg
menyelenggarakan urusan di bidang
kesehatan juga diberi wewenang khusus sbg
penyidik sebagaimana dimaksud dlm UU No.
8 th 1981 ttg KUHAP utk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang
kesehatan.

Pasal 190

(1)Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau
tenaga kesehatan yg melakukan praktik atau pekerjaan
pada fasilitas pelayanan kesehatan yg dgn sengaja tdk
memberikan pertolongan pertama thd pasien yg dlm
keadaan gawat darurat sbgmn dimaksud dlm psl 32 ay
2 atau pasal 85 ayat 2 dipidana dgn pidana penjara
paling lama 2 th dan denda paling byk 200 juta rupiah.

(1)Dlm hal perbuatan sbgmn dimaksud pd ay 1
mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian,
pimpinan fasilitas dipidana penjara paling lama 10 th
dan denda paling banyak 1 milyar.
UU NO. 24 TH 2004 TTG PRAKTIK KEDOKTERAN
PASAL 66 TTG PENGADUAN

(1) Setiap orang yg mengetahui/kepentingannya dirugikan atas tindakan
dokter atau dokter gigi dlm menjalankan praktik kedokteran dapat
mengadukan secara tertulis kepada Ketuna Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia.
(2) Pengaduan sekurang-kurangnya hrs memuat :
a. Identitas pengadu,
b. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu
dilakukan, dan
c. Alasan pengaduan.
(3) Pengaduan sbgmn dimaksud pd ayat 1 dan 2 tdk menghilangkan hak
setiap org utk melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada pihak yg
berwenang/ atau menggugat kerugiaan perdata ke pengadilan.
CONTOH-CONTOH
KASUS DUGAAN MALPRAKTEK
1. Kasus pasien (Djamiun) yg meninggal dunia
karena kelebihan dosis obat yg diberikan.

2. Kasus Nyonya Agian Isna Auli yg mengalami
kelumpuhan setelah menjalani operasi Caesar.

3. Kasus seperti alergi obat, misalnya Steven
Johnson Syndrome, yg seharusnya tdk dapat
dikategorikan malpraktik , oleh media langsung
divonis sbg kasus malpraktik.

4. Kasus alergi kulit setelah terima imunisasi.

5. Kasus bayi kembar yg mengalami buta dan
gangguan penglihatan.


6. Seorang dokter memberi cuti sakit berulang kali kepada
seorang tahanan padahal orang tsb mampu menghadiri
sidang pengadilan perkaranya. Dlm hal ini dokter terkena
pelanggaran KODEKI Bab-1 pasal 7 dan KUHP pasal
267.

7. Seorang penderita gadar di suatu RS dan ternyata
memerlukan pembedahan segera.Ternyata pembedahan
tertunda-tunda, sehingga penderita meninggal

8. Maulana adalah seorang anak berusia 18 tahun. Dulunya
adalah anak yg mengemaskan dan pernah menjadi juara
bayi sehat. Namun makin hari tubuhnya makin kurus. Dan
organ tubuhnya tidak bisa berfungsi secara normal. Tragedi
ini terjadi ketika Maulana mendapat imunisasi dari petugas
kesehatan. Diduga korban kuat Maulana adalah korban mal
praktek.




Dikaitkan dgn penguatan Konsil Kedokteran
Indonesia (KKI) dan suasana pembentukan
MKDKI termasuk di propinsi-propinsi saat ini
terdapat beberapa usulan utk pola praktik
arogan dokter dan pembinaan perilaku
umumnya. Upaya mencegahnya ialah multi-
faktorial utk penajaman kajiannya meliputi faktor
KKI/MKDKI, RS, FK, dokter, IDI/organisasi
profesi dan jajarannya, pasien/masyarakat, pers
dan pembela hukum/pengacara.

(1) Faktor KKI/MKDKI

i.Membuat peraturan konsil utk menghasilkan dokter bermutu
dan berorientasi keselamatan pasien, memahami permasalahan
etikolegal praktik kedokteran dan senantiasa mematuhi etika profesi.
Peraturan konsil harus sesuai dgn tujuan hukum yakni : menegakkan
hukum substantif, menyelesaikan konflik, menyelenggarakan proses
dan hasil yg adil, bekerja efisien dan memperjelas legislasi ttg
malpraktek.

ii. Segera mendorong suatu legislasi pembatasan pagu besaran
gugatan imaterial.

iii. Mempopulerkan penyelesaian efektif spt pengertian uang
“tanda tali asih” atau “tanda simpati” kepada pasien/keluarganya
yg mengalam i kejadian buruk.

iv. Melaksanakan tugas koordinatifnya sesuai tujuan UU Praktik
kedokteran
(2) Faktor RS :

i. Memperkuat jaringan komunikasi dan aliansi strategis dgn RS
lain dgn atau tanpa melalui organisasi profesi, dinas
kesehatan, pihak lain utk memilih dokter “baik”.

ii. memperkuat “inhouse lawyer”nya atau menyerahkan urusan
ini ke RS yg berkualifikasi mampu membelanya scr etikolegal

iii. meneguhkan perlunya dana “manajemen risiko” atau
mempersyaratkan ketat semua dokter yg bekerja memiliki
asuransi profesi yg masih berlaku;

iv. memfasilitasi latihan pembuatan keputusan etis dan etikolegal
dokter khususnya pada pasien kasus kejadian buruk, kasus
dilema etik, kasus rawan gugat/tuntut hkm.

v. Guiding principles dalam administrative by laws bhw pemilik
tdk menuntut keuntungan segera, tdk mencampuri keputusan
etis rumah sakit dan sesedikit mungkin konflik kepentingan.

(3) Faktor organisasi profesi :

i. IDI memperkuat Badan Pembelaan Anggota (BPA)nya
agar lebih professional, dgn didukung dana “risk
management” RS tsb.

ii. IDI membuat jenjang karir fungsionarisnya agar mampu
mengawal perubahan sistem etikolegal yg tengah terjadi,
dgn menciptakan “sesepuh profesi” sbg role model
penerap self disciplining. Misalnya : dimulai dgn mantan
pengurus eksekutif duduk di BPA dulu, lalu di MKEK atau
majelis pimpinan lainnya.

iii. PERSI mewajibkan pimpinannya menerapkan
pelayanan berorientasi keselamatan pasien,
mengendalikan bisnis yg bermuatan moral hazard,
membentuk Komite Etika dan Hukum RS sejajar direksi,
dan bersama IDI berani menindak dokter “nakal” yg tak
sesuai dgn roh UU Praktik Kedokteran dlm konsep
nahi munkar.



iv. keduanya menggalang kampanye bhw gugatan
immaterial milyaran rupiah adalah menciptakan
ketidak-adilan baru karena tdk sesuai dgn budaya
gotong royong masyarakat adat kita dan akan
memperpuruk bangsa dlm kubangan krisis
malpraktik.
v. Mendorong terbentuknya medical protection
society (jangka panjang) sambil mewajibkan
anggota utk sadar beriuran termasuk membayar
premi asuransi profesi yg sesuai dgn psikologis
dokter (jangka pendek).
vi. Bersama FK menyelengarakan CPD (continuing
professional development).
vii. Fungsionarisnya tdk berniat apalagi melakukan
occupational crime.

4) Faktor Fakultas Kedokteran :

i. Membuat kurikulum baru berbasis
kompetensi.

ii. Melatih peserta didik trampil
membuat keputusan etik/etikolegal
bersamaan dgn keputusan medik
modul kaidah dasar Moral plus).

(5) Faktor dokter :

i. Mengikuti semua kaidah normative roh UU Praktik Kedokteran
dan KODEKI.
ii. Memahami etika sosial (kesejawatan plus), khususnya team work
ketika melayani pasien (medical assessment), diaudit utk
keselamatan pasien, serta menjauhkan diri dari dokter
bermasalah, kesalahan professional, apalagi kejahatan prof.
iii. Sadar utk tdk serakah, menggalang praktek berbasis associates
(satu kelompok) dan senantiasa altruis.
iv. Waspada dan mampu menangkal pasien risiko tinggi etikolegal.
v. Mampu menjelaskan musibah medik, jenis-jenis risiko medik dan
berani berargumentasi thd pasien/keluarganya.
vi. Sabar, dialogis, tidak quick yielding, tidak result oriented dan
mengobral janji kesembuhan.

(6) Faktor lawyer

i. Pemahaman hkm kedokteran dan kesehatan serta memegang
teguh etika profesi advokat.
ii. Pemahaman praktis iptekdok, khususnya sisi risiko medik dari
suatu system pelayanan kedokteran yg amat kompleks namun
penuh ketidak-pastian medik, agar dapat lebih ditoleransi
masy.
iii. Pemahaman cara kerja dokter agar masy mampu memahami
pertimbangan medik dan etis atas suatu kejadian buruk atau
risiko medik (the only way risk, acceptable risk).
iv. Pemahaman bhw tdk ada silence conspiracy di kalangan
dokter.
v. Pemahaman bhw hkm disiplin medik menempati tempat
khusus dlm penyelesaian sengketa medik.
vi. Mengembangkan win-win solution tanpa arogansi profesi
karena kliennya toh juga pasien dokter.

7) Faktor pasien/keluarganya :
i. Dapat lebih kritis rasional dlm menghayati
penderitaannya.
ii. Mengurangi sikap mendikte dokter sbg
alasan otonomi berlebihan.
iii. Tdk mudah marah dan mengembangkan
dialogis dlm hubungannya dgn
dokternya.
iv. Terbuka dan selalu mencari tahu secara
santun thd tarif dokter dan cara kerjanya.

(8) Faktor pers :
i. Mampu memilih wartawan “baik” dan
memiliki tanggungjawab pers sbg wujud
“jurnalisme mendidik dan menyantunkan
rakyat” serta mengembangkan “jurnalisme
resolutif”.
ii. Kejadian buruk pasien, walau memiliki
dimensi kemanusiaan kental, bukan obyek
eksploitatif.
iii. Pemahaman cara kerja dokter dan
iptekdok serta penggugahan dokter sbg
pahlawan kemanusiaan.


Kesimpulan :

 1. Upaya pemahaman etikolegal kasus-kasus kejadian buruk,
kekeliruan dokter (medical error) dan hubungan dokter-
pasien yg penuh kepercayaan akan menurunkan kejadian
malpraktek serta mempermudah penyelesaian sengketa
medik bila itu terjadi.
 2. Roh UU Praktik Kedokteran berupa penjatuhan sanksi
bagi professional criminal atau pelaku corporate liability
harus dilaksanakan secara konsisten namun adil.
 3. Adanya masa transisi menjelang berlaku efektifnya UU
tsb harus lebih menyadarkan dokter/RS dlm kearifan
menyikapi isu malpraktek agar sbg penyedia jasa
kesehatan, membangun kebersamaan dan kerjasama lintas
profesi kesehatan dgn para stake holders, mengokohkan
bentuk hukum disiplin profesi medik dgn tujuan mencegah
krisis malpraktik shg pada akkhirnya kesehatan pasien dan
masy terjaga dan kian meningkat karena terhindar dari
praktik defensive medicine yg mahal.


PENUTUP






TERIMA KASIH