You are on page 1of 3

Aku berjalan riang memeluk buku dengan cover warna hitam bergambar sebuah planet.

Bergumam dan tersenyum lebar “Ya, aku akan maju dengan ini. Mimpiku akan terwujud! Aku
akan serius, tak peduli sesulit apa pelajaran ini. Aku akan ikut olimpiade astronomi! Ya, aku
akan ikut olimpiade astronomi, terkenal, dan maju ke depan saat upacara. Yes!”
MATEMATIKA TAK PERNAH LULUS
Sudah hampir dua semester aku hidup di penjara suci ini alias boarding school. Bukan
sebuah pesantren, hanya SMA negeri milik provinsi dengan sistem asrama 24 jam. Tak mudah
beradaptasi, apalagi dengan pelajarannya. Kurikulumnya internasional. Dulu saat SMP tak
belajar saja aku bisa dapat nilai bagus. Sekarang? Dapat nilai enam saja harus begadang
semalaman, sudah begadang pun belum tentu lulus. Nilai matematika dan fisika-ku tak pernah
lulus dari awal masuk hingga hampir pembagian rapot ini, tak pernah mencapai angka 76.
Biologi dan kimia hanya lulus sekali dua kali. Aku peringkat ke-17 dari 20 siswa. Jika saja kalian
tau, rasanya seperti ingin enyah atau mati saja.
OLIMPIADE ASTRONOMI
Setidaknya aku hebat untuk yang satu ini. Aku dikabarkan lulus seleksi untuk maju di
tingkat kabupaten. Ada sekitar dua bulan untuk belajar. Sayangnya aku tak pernah menyentuh
buku bergambar planet itu. Aku sudah terlanjur malas. Malam sebelum olimpiade, aku baru
belajar dan sangat menyesal. Aku mencintai ini, tapi mengapa mengabaikannya selama ini? Aku
berharap besok lancar dan lolos ke tingkat provinsi. Meski aku tahu, mana ada hasil sehebat itu
diperoleh dengan satu malam saja?
Olimpiade berlangsung. Dan saat pengumuman juara satu sampai tiga dibacakan, aduh,
aku tak mampu membuktikan apa-apa. Aku tak lolos. Sepulang ke asrama, aku menangis,
memandang bintang, sadar bahwa aku mencintainya, berharap andai saja masih ada kesempatan.
Tak bisa. Hari ini sudah habis. Hari kemarin juga bahkan enggan kembali.
----
Nah, karena sekarang sudah akhir semester dan artinya ada penjurusan. IPA atau IPS?
Bahasa sajalah! Mudah, gak pakai fisika matematika! Huh! Sayangnya tak ada. Masa iya aku
harus ke IPA? Nilai IPA-ku saja tak ada yang delapan puluh. IPS? Pusing menghafal!
Tapi orang tuaku ingin anaknya ini masuk kedokteran. Bagaimana? Biologi, fisika,
kimia, matematika-ku saja jeblok, apalagi masuk kedokteran?
Aku benar-benar berada di titik nol. Aku benar-benar tak tahu harus pilih apa. Aku
merasa tak pantas di IPA, tapi di IPS aku juga tak mampu. Akhirnya aku melakukan shalat
istikharah untuk pertama kalinya—
Seminggu kemudian diberitahukan bahwa ternyata aku peringkat keempat. Yang berarti
aku lolos ke tingkat provinsi. Senang sekali! Tapi olimpiadenya dua minggu lagi, belajar
sebanyak itu dalam dua minggu? Huh, aku bisa apa? Aku belajar, seperti balapan. Kami
diizinkan tak sekolah dan tak ikut UAS beberapa hari untuk belajar olimpiade. Itu artinya aku
harus menyusul LIMA BELAS pelajaran UAS. Tak apalah, demi astronomi.
Olimpiade dan UAS selesai. Masalah penjurusan ini masih membingungkan. Di angket
penjurusan aku menulis „IPA karena ingin masuk kedokteran‟. Alasan yang memperkuat „Karena
ikut olimpiade astronomi‟. Haha, alasan macam apa itu? Karena aku merasa lolos olimpiade ke
tingkat provinsi adalah jawaban istikaharahku. Kan astronomi juga IPA bukan? Hehe.
Terakhir, saat pembagian rapot. Ajaib peringkatku bertambah angkanya. Dari 17 menjadi
18. Ya, di semester kedua ini aku peringkat 18 dari 20 siswa. Bunda memaklumi, kan aku ikut
olimpiade, ya wajarlah. Namanya juga ikut lima belas UAS susulan. Hehe.
TAHUN KEDUA
YANG BENAR SAJA?
Hari ini hari pertama semester tiga di kelas XI. Ya seperti biasa kami mengikuti upacara,
tenang meski sebenarnya hati sangat bergemuruh menunggu hasil penjurusan. Selesai upacara
guru BK datang dan jegerrrrr “Hasil penjurusan kalian udah ditempel. Nanti tinggal diliat ya. Oh
ya, ada kelas CIBI bagi yang rapotnya bagus” Ya tuhan, yang benar saja? Secepat itu? Serentak
barisan menjadi kacau, kami berlari ke gedung A. Kacau, benar-benar kacau. Sepatu tak tertata,
ada yang terpeleset bahkan. Dimana? Dimana kertas itu? Ah! Itu dia! Terlihat menyeramkan.
Ada empat kertas ditempel. IPA 1, IPA 2, IPA 3, dan IPS. Aku langsung melihat kelas IPS,
mencari dari atas sampai bawah. Mana? Kok tak ada namaku? Aku mencari di IPA 3. Kok tak
ada juga? IPA 2. Ya Allah, jangan-jangan mereka lupa memasukkan namaku? Apa harus kucari
di IPA 1? Yang benar saja? Itu kelas CIBI. Orang-orangnya peringkat satu sampai empat semua.
Akhirnya kucari namaku di kelas IPA 1. Tak ada? Kok tak ada? Aaaaaa! Itu namaku ada di
paling bawah daftar. Namaku ada di IPA 1! YANG BENAR SAJA?