You are on page 1of 93

Membangun Public Relations Dalam Praktik

Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

MEMBANGUN PUBLIC RELATIONS DALAM PRAKTIK PEMERINTAHAN DAERAH
DI ERA OTONOMI EAERAH
Ahmad Tarmizi Yusa
Universitas Islam Riau Pekanbaru
Abstract
The Autonomous Essential of area ideally will create government which is close to people. This
in line with demand on democracy . Where process of policy of area as political life really need
of people support. Exactly that’s not possible, a policy will be supported and corrected by public
if they did not get adequate knowledge about policy information. The implication of transparent
policy process and access to public require to be civilized. All process of policy start from preparing policy agenda until to accommodating policy modification require to access with public go
to local government which governance. This process is mirror that the good relation will be happened between public with local government. Optimal effort for understanding of public to information of policy is an important duty of public relations in order to look after public participation
in this era. Public participation in policy process will create good democracy. On the contrary
if happened a lot of misunderstanding, wrong interpret and bad congeniality, it means good will
between local government with public in that area will not be happened. To overcome this matter
require to improve implication of public relations in order to create good cooperation (mutually),
good understanding. Gradually, public’s belief will return and they give effect and participation
to local government. Because of that the effort to develop or increase the communications favourable between local government and local public are an important duty which must be realized
through the function of public relations.
Keyword: Government Communication, public relations and governance.
A.Pendahuluan

Pada hakekatnya proses kebijakan negara mencerminkan entitas kehidupan politik
dalam sebuah Negara. Setiap tahap kebijakan
itu perlu dikomunikasikan kepada publik sebagai stakeholder Negara. Publik bukan saja
berperan sebagai kekuatan yang dapat menggalang keikutsertaan politik, dan disisi lain ia
juga kekuatan yang dapat menjatuhkan kekuasaan. Sesungguhnya kekuasaan pemerintahan
itu adalah pinjaman temporer yang dititipkan
publik kepada pemerintah artinya pemerintah
itu sebagai badan mendapat mandate otoritas
dari mereka.

Justru itulah, pemerintah yang berjaya
adalah pemerintah yang mendapat dukungan
publik dalam setiap proses kebijakan. Ketidak
berpihakan publik yang bersumber dari kesalah
fahaman kepada pemerintah menandakan ada
informasi dan hak-hak politik politik yang tidak
dikomunikasikan kepada mereka dalam proses
kebijakan. Justru itulah perlu diperhitungkan

dan dipersiapkan strategi yang tepat bagaimana
implikasi public relations dapat menjadi stimulant membangun partisipasi rakyat. Fungsi utama public relations dalam pemerintahan adalah
membantu menjabarkan dan mencapai tujuan
program pemerintahan, meningkatkan sikap
responsive pemerintah, serta memberi publik
informasi yang cukup untuk dapat melakukan
pengaturan diri sendiri. Tujuan PIO adalah untuk meningkatkan kerjasama dan kepercayaan
antar warga Negara dengan pemerintah. Hal ini
kemudia memerlukan aksesibilitas, akuntabilitas, konsistensi dan integritas pemerintah. (Lattimore, Baskin, Heiman dan Toth, 2010:363)
B. Public Relations dan Pemerintah Daerah
dalam Pendekatan Teori
1. Konsep dan Definsi Pemerintah Daerah

Pemerintahan Daerah disusun, diisi dan
diawasi menurut prinsip yang lebih demokratis dengan meletakkan tanggungjawab politik
lebih besar kepada rakyat daerah seperti pemil1

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
ihan dan pertanggungjawaban Kepala Daerah
kepada DPRD setempat (Gafar, 2000:79). Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sedikit
banyak telah memfasilitasi keinginan-keinginan perubahan ke arah efisiensi dan efektivitas
pengelolaan sumber daya daerah, peningkatan
kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan
masyarakat serta mendorong demokrasi proses
pembangunan daerah. Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
mencoba meletakkan kembali dasar-dasar politik otonomi yang lebih wajar sesuai kehendak
konstitusi. Secara administrasi, undang-undang
ini tetap menghendaki titik berat penyelenggaraan pemerintahan ada pada daerah. Semua
kepentingan masyarakat pada dasarnya diatur
dan diurus Pemerintah Daerah.

Pembasisan Demokrasi dari orde ke orde
selalu menjadi masalah. Maka inilah saatnya
pada masa otonomi daerah dengan desentralisasi,
demokrasi dapat diasaskan. Demokrasi dari bawah
satu kemestian ( Masmuni Mahatma, 12-17: 2006
dalam Djadijono). Untuk mewujudkan Indonesia
yang demokratis perlu digalakkan pembangunan
yang partisipatif bagi masyarakat sipil sehingga
terjadi proses pembangunan yang buttom up dan
menumbuhkan masyarakat tanggap (reponsive
community) yang mendorong semangat sukarela
(Spirit of Voluntarism) yang sejalan dengan makna
gotong royong, memperkuat kualitas desentralisasi dan autonomi daerah. (Undang-undang RI nomor 17 Tahun 2007) Essensi otonomi daerah akan
mencerminkan (1) terbinanya hubungan antara
pemda dengan masyarakat setempat, menyangkut
dengan partisipasi masyarakat setempat, refresentasi dan pertanggungjawaban publik, (2) pemberdayaan masyarakat setempat. (Djadijono dan
Made, 2006)

Dalam proses kebijakan pemerintahan daerah garis besar fungsi kebijakan berkaitan dengan
fungsi sebagaimana berikut ini :

2

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Gambar 2.6 : Hanif Nurhcholis,2005 Perencanaan Kebijakan Pemerintahan
Daerah dalam Muhlis Madani,2011. Dimensi Interaksi Aktor Dalam Proses
Perumusan Kebijakan Publik. Graha Ilmu. Yogyakarta.

1. Definisi dan Konsep Public Relations.

Proses pemerintahan yang demokrasi di
era otonomi daerah, perlu berimplikasi public relations. Targetnya agar terjalin kemitraan yang
harmonis antara publik dengan pemerintah. Peran
public relations lebih diarahkan kepada kefungsian yang proaktif, sebagai fasilitator yang dinamis mewacana persoalan-persoalan publik dan
ikut andil sebagai advisor dalam proses pengambilan keputusan di daerah. Apabila public relations
bisa berfungsi optimal maka posisi masyarakat
sipil yang berkontribusi positif dalam proses kebijakan daerah akan wujud. Pengakuan akan hak
dan posisi publik sebagai stakeholder yang kuat
dan menentukan dalam proses kehidupan kenegaraan di daerah merupakan pencerahan terhadap
wujudnya model good governance dalam praktek
pemerintahan daerah. Cutlip ( dalam Lattimore,
Baskin, Heiman dan Toth, 2010:362-363 berpendapat bahwa administrator pemerintah percaya
dengan fungsi utama dari public informasi, yaitu
untuk meningkatkan dan memperbaiki kebijakan
dari administrasi pemerintahan yang sedang berjalan.

Secara etimologis, public relations terdiri
dari dua buah kata, yaitu public dan relations.
Dalam bahasa Indonesia, kata pertama berarti publik, dan kata kedua berarti hubungan-hubungan.
Jadi, public relations berarti hubungan-hubungan
dengan publik. Menurut Webster (1956), istilah
relations pada hakikatnya dimaksudkan adalah
kegiatan membentuk suatu pertalian relasi atau
menjalin hubungan satu sama lain. Lebih teknis
lagi menurut Echlos (dalam Suhandang, 2004:
34). kegiatan dimaksud merupakan komunikasi

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
dalam menciptakan hubungan yang harmonis diantara dua pihak, dimana satu dengan yang lainnya sama-sama memperoleh keuntungan sehingga terikat dalam suatu hubungan kefamilian yang
akrab. Komunikasi yang baik adalah komunikasi
yang favourable, membangun understanding yang
dalam, memperkecil konflik dan membangun
masyarakat yang harmonis sebagai masyarakat
madani . komunikasi public berfungsi menumbuhkan semangat kebersamaan (solidaritas),
mempengaruhi orang lain, memberi informasi,
mendidik dan menghibur (Cangara, 1998: 56)

Menurut kamus IPR (Institute of Public
Relations) (1987), “Praktek humas atau PR adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara
terencana dan berkesinambungan dalam rangka
menciptakan dan memelihara niat baik dan saling
pengertian antara suatu organisasi dengan segenap
khalayaknya” kemudian (Jefkins, 1995 : 8). Kebutuhan akan praktek public relatons ini diwujudkan
dalam pelaksanaan fungsi humas. Fungsi humas
menurut Bertrand R. Canfield adalah: (1) Mengabdi
kepada kepentingan umum (it should serve the public’s interest) (2) Memelihara komunikasi yang baik
(maintain good communication) (3) Menitik beratkan moral dan tingkah laku yang baik (and stress
good morals and manners) (dalam Effendy, 1977:74)
2. Peran dan Fungsi Public Relations

Konsep tentang peran public relations menurut Dozier dan Broom dalam (Ruslan, 2001:21-23)
dibagi dalam empat kategori:
a) Expert Prescriber

Sebagai praktisi ahli publik relations yang
berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi
dapat membantu untuk mencari solusi dalam enyelesaian masalah hubungan dengan publiknya.
b) Communication Fasilitator
Dalam hal ini, praktisi publik relationss bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar
apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya
dari organisasi bersangkutan sekaligus harus mampu
menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi kepada pihak publiknya.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
c) Problem Solving Process Facilitator
Peranan praktisi publik relationss dalam hal proses
pemecahan persoalan publik relations ini, merupakan bagian tim manajemen untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat (advisor)
hingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan)
dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah
dihadapi secara rasional dan profesional.
d) Communication Technician
Peranan communication technician ini hanya menyediakan layanan teknis komunikasi dan sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masingmasing bagian atau tingkatan.
3. Tujuan Public Affairs Pemerintahan

Pengalaman praktek public relations di
Negara-negara maju memberikan ruang peranan
dan fungsi yang besar kepada aparatur public
relations. Spesialis PR pemerintah biasanya disebut pejabat public affairs di AS dan pejabat informasi atau penerangan atau pejabat hubungan
masyarakat (humas) di negara lain PR adalah
penghubung penting antara rakyat dan pemerintah. Diversitas keahlian teknis, tujuan organisasional dan aktivitas publik dari fungsi public
affairs pemerintah adalah lebih besar ketimbang
praktik PR tradisional dan/atau khusus. Puncak
perbedaannya adalah pada peran advokasi publik
yang dimainkan oleh komunikator pemerintah untuk pembuat keputusan pemerintah.

Praktisi public affairs ini harus menguasai seni dan keahlian berkomunikasi yang baik
dan harus memahami secara menyeluruh kultur,
kebijakan, praktik, dan konstituen organisasi.
Meskipun mungkin pernbuat kata-kata,” praktisi public affairs percaya bahwa tanggung jawab
mereka yang luas dan praktik mereka yang berada
di bawah ketentuan undang-undang telah membuat mereka berhak menyandang nama jabatan
tersendiri. (Scott M. Cutlip, Allen H. center, Glen
M Bab dan George D. Lennon : 2001)

Proses pemerintah menyentuh setiap aspek masyarakat, dan hampir semua bagian pemerintah menyandang peran sebagai orang-orang
public affairs (humas) Tujuan dari humas pemerintah, terlepas dari level dan tipe pemerintahan,
setidaknya mengandung tujuh tujuan yang sama;
3

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
(1) Memberi informasi konstituen tentang aktivitas agen pemerintah. (2) Memastikan kerja sama
aktif dalam program pemerintah, menyangkut
voting, kampanye kepatuhan kepada program aturan (3) Mendorong warga mendukung kebijakan
dan program yang sudah ditetapkan program pengawasan keamanan lingkungan, kampanye penyadaran akan kesehatan personal. bantuan untuk
upaya pertolongan bencana.(4) Melayani sebagai
advokat publik untuk administrator pemerintah,
menyampaikan opini publik kepada pembuat
keputusan, mengelola isu publik di dalam organisasi, meningkatkan aksesibilitas publik ke pejabat
administrasi.(5) Mengelola informasi internal menyiapkan newsletter organisasi, pengumuman
elektror &. dan isi dari situs Internet organisasi
untuk karyawan (6) Memfasilitasi hubungan media - menjaga hubungan dengan pers lokal; bertugas setara saluran untuk semua pertanyaan media;
memberi tahu pers tentang organisasi, praktiknva
dan kebijakannya.(7) Membangun komunitas
dan bangsa - menggunakan kampanye kesehatan publik, memberikan dukungan kepada program pemerintah dan mempromosikan berbagai
program sosial dan pembangunan. Fungsi utama
public relations dalam pemerintahan adalah membantu menjabarkan dan mencapai tujuan program
pemerintahan, meningkatkan sikap responsive
pemerintah, serta memberi publik informasi yang
cukup untuk dapat melakukan pengaturan diri
sendiri. Tujuan PIO adalah untuk meningkatkan
kerjasama dan kepercayaan antar warga Negara
dengan pemerintah. Hal ini kemudia memerlukan
aksesibilitas, akuntabilitas, konsistensi dan integritas pemerintah. (Lattimore, Baskin, Heiman dan
Toth, 2010:363)

Lebih menjurus lagi Cutlipp mengklasifikasikan bahwa sasaran spesifik humas akan
bervariasi dari satu agen ke agen lainnya, tetapi
justifikasi dari untuk humas pemerintah semuanya didasarkan pada dua premis utama: (1) bahwa
pemerintahan yang, demokratis harus melaporkan
aktivitasnya kepada warga, dan (2) bahwa administrasi pemerintahan yang efektif membutuhkan
partisipasi dan dukungan warga. Bahkan pengkritik “propaganda pemerintah” yang paling keras
sekalipun menyatakan bahwa justifikasi pertama
itu adalah valid, sebab saat pemerintah menjadi
4

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
makin kompleks dan melebar ke mana-mana,
tantangan untuk mempertahankan keterlibatan
warga dan memastikan responsivitas pemerintah
kepada kebutuhan masyarakat menjadi makin sulit. Pejabat terpilih sering kali mengklaim bahwa
terpilihnya mereka adalah karena kemampuan
mereka untuk memenuhi kebutuhan konstituen.
Akan tetapi, karena besarnya dan kompleksnya
tugas mereka, sebagian besar tanggung jawab
jatuh ke pundak spesialis humas pemerintah. Cutlipp (2000)

Dalam kondisi kekomplekan peran dan
masalah pemerintah maka peran humas sebagai advokasi beralasan di progreskan. Karena pemerintah
sebagai institusi publik, dicirikan oleh keruwetan birokratik yang sering kontradiksi fungsi layanannya.
Kecuali untuk kampanye, pejabat terpilih biasanya
sembunyi di balik mesin administrasi mereka, jarang
berinteraksi dengan dan memahami isu sehari-¬hari
dari konstituen mereka. Dalam kondisi ini pejabat
humas menjembatani keinginan aksesibilitas pejabat
ini dengan rakyat dan pada gilirannya merepresentasikan nilai, opini, daan kepentingan warga kepada
pejabat itu. Pejabat humas memberikan “halaman”
depan untuk administrasi publik melalui poling,
wawancara, dlan memelihara hubungan komunitas.
Posisinya sebagai advokat memediasi kedua kepentingan ini menimbulkan interested public terhadap
sosok penguasa. Dalam konteks ini biasa di wacana
nilai-nilai simbiosis antara kedua pihak.
A. Praktek Public Relations Pemerintah Daerah
di Indonesia

Andil masyarakat sangat diperlukan dalam
proses kebijakan pemerinyah demi mewujudkan
tata pemerintahan daerah yang governance, ditandai
dengan terbina tata hubungan baik semua stakeholder yang menyatu (terintegrasi) ketika menjalankan
misi pemerintahan. Dalam kontek govenance politik (political governance) rakyat sebagai kekuatan
politik yang sangat menentukan kehidupan politik
di daerah, posisi dan peran mereka mesti mewarnai
perjalan demokrasi di daerah.

Harapan otonomi memang besar menggelora hati sanubari masyarakat di daerah. Nilainilai ini pasca orde baru bagaikan sebuah Negara lebih dari cengkraman penjajahan. Mengapa
tidak, dalam tatanan kepentingan elit praktek oto-

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
nomi ditandai dengan semakin mencairnya hungan rakyat lokal dengan pemerintah. Wajar bila
sekilas otonomi bagaikan pil mujarab mengobat
segala bentuk penyakit di daerah. Padahal dipandang pada hakekat kondisional memang perlu
apabila kita dihadapkan dengan tantangan globalisasi. John Gaventa (2004) menyatakan, tantangan utama abad 21 adalah membangun hubungan yang baru antara rakyat kebanyakan dengan
lembaga-lembaga kebanyakan dengan lembagalembaga khususnya lembaga-lembaga kepemerintahan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Dalam keseharian praktek pemerintahan di Indonesia, elite di lembaga pemerintah
merupakan poros yang memproduksi informasi,
dengan menitikberatkan kepada pesan “tidak
bisa tidak” harus diterima, meskipun merugikan
masyarakat. Memang , dalam berbagi retorika
di hadapan publik, aparat lazim mengunggulkan demokratisasi dan kesetaraan dalam interaksi dan komunikasi. Melalui komunikasi yang
bersifat memaksa dan dikemas dalam bingkai
formalistik, maka hubungan antara birokrasi
pemerintahan dengan masyarakat lebih banyak
diwarnai oleh perbedaan kepentingan yang berdampak pada tidak adanya pembentukan makna
bersama yang disepakati dua belah pihak. (Harry
Susanto,2010: 1-24)

Sebuah proses kebijakan memerlukan
dukungan public. Karena itulah praktek penyampaian informasi yang efektif, jelas tidak menimbulkan keraguan dan dipertikaikan perlu menjadi
perhatian dalam memproses kebijakan pemerintah.
Persoalan memberikan pemahaman dalam bentuk pengetahuan pada public bertujuan agar tidak
timbul mispersepsi dan kekurangan percayaan
terhadap pemerintah di daerah. Perlu dibina dan
dibudayakan relasi yang baik antara pemerintah
dengan masyarakat sebagai stakeholder melalui
proses komunikasi kebijakan yang terbuka dan jelas. Tidak lagi menampilkan kebiasaan-kebiasaan
yang lama dipraktekkan oleh Orde masa lalu,
yakni kebijakan publik model “elite’ yang intinya
membuat publik miskin akan informasi dan selalu
menina bobo kan mereka dengan janji-janji manis
serta manipulative. (Dye : 1979).

Sungguh tidak etis kiranya rakyat sebagai
kekuatan yang besar di daerah (people power)

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
diabaikan keberadaan dalam proses kebijakan
pemerintah daerah. Apalagi pada saat ini banyak
metoda yang boleh digunakan untuk menyebar
luaskan informasi. Kemudian banyak pula wadah
dan tatacara yang bisa dilakukan dalam melakukan diskusi public pada proses kebijakan. Salah
satu cara yang bisa dibuat dengan melakukan
uji public pada proses penetapan kebijakan daerah dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah
terhadap para stakeholder yang ada diperguruan
tinggi. Proses menampung informasi sebagai input politik ini juga dapat dilakukan melalui pameran terbuka dengan menyiapkan berbagai sarana
menghimpun informasi public. Paradigma proses
kebijakan yang dipraktekkan bagaimana public
dekat dan bermitra dengan pemerintahan daerah.
Dimana public dapat menyampaikan kehendak,
harapan dan isu hati mereka dengan pemerintah.
Mungkin seorang leader sebagai administrator
tidak sempat berkomunikasi langsung dengan
publik sebagaimana dilakukan Jokowi dalam keseharian tugasnya. Namun demikian pemimpin sebagai pengambil keputusan final di daerah perlu
melakukan re check terhadap informasi yang sudah ada, baik samar maupun teperinci. Sikap ini
lebih mengunjuk rasionalitas dengan berupaya
memimalisir kesalahan dan benar-benar melahirkan kebijakan pro rakyat. Oleh Karena itulah
dalam proses kebijakan ada filosofi yang bersifat
komunikatif dan akurative. “problem kita bukannya melakukan apa yang benar. Problem kita adalah mengetahui apa yang benar. (C.Wood dalam
Dun, 2001: 50)

Justru itu informasi untuk publik tidak
perlu di tutup-tutupi. Sebagaimana dinyatakan
oleh Medison bahwa a popular government without popular information or a means of acquiring
it, is but prologue to a farce or tragedy, or perhaps both. (James Madison dlm Cutlip, 1994:
462) Implementasi desentralisasi secara politik
adalah untuk memperkuat demokrasi lokal. Ini
sesuai dengan ciri-ciri pemerintah yang terdesentralisir dengan baik sehingga mampu menjadi agen transformasi sosial dan ekonomi yang
berguna bagi masyarekat setempat ( Arnold dan
Aziz, 2004).

Komunikasi dalam hal ini akan mencerminkan eksistensi kebijakan dalam tata hubun5

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
gan antara organisasi dan implikasi institusi-institusi yang berkompeten. Van horn dan
Vanmeter dalam (James Lester, 2000 : 463).
Dalam menilai respon publik terhadap proses
kebijakan pelayanan publik di bidang periizinan, pada karekter organisasi pelayanan yang
kompleks maka akuisisi informasi dilakukan
oleh organisasi pemerintah (Nurmandi, 2010 :
17). Public relations sebagai salah satu model
alternative menciptakan good governance ketika
pemerintah ingin menampilkan praktek pemerintah yang transparent, akuntel dan partisipatif.
(Ahmad Tarmizi, 2010). Komunikasi kebijakan
Publik Pemda targetnya adalah untuk meningkat kepercayaan publik lokal terhadap institusi
pemerintahan di daerah. Diharapkan dalam sistem politik daerah terdapat tata hubungan yang
mutualistis antara para stakeholder lokal. Dengan itu berbagai kekuatan politik yang ada dapat
bersama-sama mewujudkan good governance
yang di cita-citakan itu melalui proses politik
lokal yang sehat dan dinamis dalam wacana
demokrasi yang sehat.
B. Menampilkan Kebijakan Pemda yang Governance

Pada hakekatnya konsep governance
menggambarkan adanya perubahan makna pemerintahan yang merujuk kepada 1. suatu proses baru
dalam pemerintahan (a new process governing)
2. perubahan kondisi dalam tata aturan (a change
condition of ordered role) dan 3. metode baru
tentang peran serta masyarakat (new method by
which society is governed) ( Rhodes, 1996:653)
dalam teori governed salah satu pendekatannya
di sebut socio cybernetics approach (Rhodes,
1996) ) intinya dengan pesatnya perkembangan
masyarakat dan kian kompleksnya isu yang harus
diputuskan, beragamnya institusi pemerintah dan
kekuatan masyarakat madani (civil society) yang
berpatisipasi dalam proses pembuatan kebijakan
(policy making) maka hasil akhir (outcome) yang
memuaskan dari kebijakan tidak mungkin dicapai jika hanya mengandalkan sector Pemerintah.
Kebijakan publik yang efektif dari sudut pandang
teori governance adalah produk sinergi interaksional dari beragam aktor atau institusi yang terlibat dalam proses tersebut. Pendekatan governance
6

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
lebih mengedepan proses kebersamaan dan tindakan bersama (collection action). Keinginan dan
kebiasan Pemerintah untuk memonopoli proses
kebijakan dan memaksakan berlakunya kebijakan
tersebut akan ditinggalkan dan di arahkan kea rah
proses kebijakan yang lebih inklusif, demokratis dan partisipatif dan saling memberi pengaruh
(mutual inclusive) demi tercapainya kepentingan
bersama.

Governance mesti mewujudkan demokrasi. Demokrasi dimana publik terutama masyarakat
dewasa terlibat dalam keputusan politik di daerah sebagai inti daerah konsep demokrasi (Robert Dahl; 2001) Demokrasi adalah komunikasi:
orang berbicara satu sama lain tentang masalah
bersama mereka, membentuk suatu nasib bersama. Sebelum rakyat dapat memerintah sendiri,
harus harus bebas menyatakan pendapat mereka.
Patrick Wilson dalam serial televisi : The struggle
fo Democracy. (United State Information Agency
Oktober 1991) warga suatu demokrasi hidup dengan keyakinan bahwa melalui pertukaran gagasan dan pendapat yang terbuka, kebenaran pada
akhirnya akan menang atas kepalsuan nilai-nilai
orang lain akan lebih difahami, bidang-bidang
mufakat akan dirinci lebih jelas menuju jalan ke
arah kemajuan.

Dalam proses kebijakan mereka ikut merespon proses kebijakan dalam berbagai forum
yang disediakan untuk mereka. Mulai dari menyediakan forum argumentasi public (public argument) sampai kepada forum debat public (public
debate) dan forum uji public (public practical).
Pada tahap argumen kebijakan (policy argument),
analis bukan hanya menghasilkan berbagai informasi tetapi juga memindahkan informasi ini sebagai bagian yang bernalar menyenai kebijakan
public (public policy). Pada tahap argument kebijakan akan menggambarkan alasan mengapa antara golongan satu dengan golongan yang lain ada
tidak sepakat mengenai arah tindakan yang akan
dapat ditempuh oleh pemerintah, merupakan alat
utama dalam debat mengenai isu kebijakan publik
(Dunn, 2001 : 44.45)

Analisis kebijakan pemerintah pada dasarkan proses kognitif, sementara pembuatan kebijakan merupakan proses politik. (Raymound dalam
Dunn, 2001 : 53) Menurut Lester (Jam Lester :

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
2000) tahap-tahap kebijakan sendiri berintikan
enam tahap mempunyai banyak tahap, diantaranya mengsetkan agenda kebijakan, merumuskan
kebijakan, menetapkan kebijakan, melaksanakan
kebijakan, menilai kembali kebijakan dan menyesuaikan kembali kebijakan. Dunn mengutip
pendapat C. Wood bahwa dalam menganlisis kebijakan publik semua proses yang dilalui itu memerlukan dukungan informasi dengan maksud
untuk mendalami apakah sesuatu itu berupa fakta
(fact), mana nilai yang benar (true value) dan tindak apa yang harus dilakukan (what‘ action) menimbulkan adanya kebutuhan lima tipe informasi
untuk menghasilkan berbagai informasi seperti
problem atau masalah kebijakan, alternative kebijakan, tindakan kebijakan, hasil kebijakan dan
pencapaian kebijakan sebagaimana disajikan
dalam gambar berikut ini. (Dunn, 2001 : 44)
SISTEM INFORMASI KEBIJAKSANAAN

Sumber : Robert C. Wood dalam William N. Dunn. (ed) Muhadjir Darwin
2001: 59 Analisis Kebijaksanaan Publik. Hanindita: Yogyakarta.

Van Horn dan Van Meter memberikan prioritas penting terhadap aspek komunikasi dalam
implementasi kebijakan. Struktur yang terlibat
dalam impelementasi kebijanan memerlukan aplikasi komunikasi baik secara dari atas kebawah
dan sebaliknya maupun komikasi secara mendatar
dalam (Atory Hussain, 2008) Peran pemerintah
sebagai public relations officcer dan public affairs
agent dalam proses pemerintah belum sepenuhnya merespon berbagai tuntutan publik sebagai
feed back sistem. Padahal dalam proses komunikasi pemerintahan, perlu menjernihkan proses
komunikasi yang tidak jernih. Reaksi yang datang dari masyarakat yang menimbulkan keraguan
mendalam semestinya menjadi agenda persoalan
yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
(Tarmizi Yusa, 2008) disamping peran pemerintah
daerah itu sebagai advokasi.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
A. Teori dan Praktek Kebijakan Pemda yang Governance

Andil masyarakat sangat diperlukan untuk
mewujudkan tata pemerintahan daerah yang governance, ditandai dengan terbina tata hubungan
baik semua stakeholder yang menyatu (terintegrasi)
menjalankan misi pemerintahan. Dalam kontek govenance politik (political governance) rakyat sebagai
kekuatan politik yang sangat menentukan kehidupan
politik di daerah, posisi dan peran mereka mesti mewarnai perjalan demokrasi di daerah.

Besar sekali harapan publik sebelumnya
bahwa praktek otonomi diprediksi akan semakin
mencairnya hungan rakyat lokal dengan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan
yang mereka hadapi sebelum ini. Otonomi daerah dianggap bagaikan pil yang mujarab mengobat berbagai penyaki. Utama sekali dalam menghadapi tantangan globalisasi perlunya penyatuan
sikap dan visi antara para stakeholder yang berperan bagi pembangunan negara. Diantara point
penting rencana pembangunan jangka menengah
negara antaranya membangun demokrasi dan
keadilan untuk semua warga Negara (reformasi hukum, tata pemerintahan, mengembangkan transparansi dan akuntabilitas). Oleh John
Gaventa (2004) diakatakan tantangan utama abad
21 adalah membangun hubungan yang baru antara rakyat kebanyakan dengan lembaga-lembaga
kebanyakan dengan lembaga-lembaga khususnya
lembaga-lembaga kepemerintahan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Dalam proses kebijakan mereka ikut merespon proses kebijakan dalam berbagai forum
yang disediakan untuk mereka. Mulai dari menyediakan forum argumentasi public (public argument) sampai kepada forum debat publik (public
debate) dan forum uji public (public practical).
Pada tahap argumen kebijakan (policy argument),
analis bukan hanya menghasilkan berbagai informasi tetapi juga memindahkan informasi ini sebagai bagian yang bernalar menyenai kebijakan
public (public policy). Pada tahap argument kebijakan akan menggambarkan alasan mengapa antara golongan satu dengan golongan yang lain ada
tidak sepakat mengenai arah tindakan yang akan
dapat ditempuh oleh pemerintah, merupakan alat
utama dalam debat mengenai isu kebijakan publik
(Dunn, 2001 : 44.45)
7

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah

Sebuah proses kebijakan memerlukan
dukungan public. Karena itulah praktek penyampaian informasi yang efektif, jelas tidak menimbulkan keraguan dan dipertikaikan perlu menjadi
perhatian dalam memproses kebijakan pemerintah.
Persoalan memberikan pemahaman dalam bentuk pengetahuan pada public bertujuan agar tidak
timbul mispersepsi dan kekurangan percayaan
terhadap pemerintah di daerah. Perlu dibina dan
dibudayakan relasi yang baik antara pemerintah
dengan masyarakat sebagai stakeholder melalui
proses komunikasi kebijakan yang terbuka dan jelas. Tidak lagi menampilkan kebiasaan-kebiasaan
yang lama dipraktekkan oleh Orde masa lalu,
yakni kebijakan publik model “elite’ yang intinya
membuat publik miskin akan informasi dan selalu
menina bobo kan mereka dengan janji-janji manis
serta manipulative. (Dye : 1979)

Mungkin seorang leader sebagai administrator tidak sempat berkomunikasi langsung dengan public sebagaimana dilakukan Jokowi dalam
keseharian. Namun demikian pemimpin sebagai
pengambilan keputusan final di daerah perlu melakukan re check terhadap informasi yang sudah
ada, baik samar maupun teperinci. Sikap ini lebih
mengunjuk rasionalitas dengan berupaya memimalisir kesalahan dan benar-benar melahirkan
kebijakan pro rakyat. Oleh Karena itulah dalam
proses kebijakan ada filosofi yang bersifat komunikatif dan akurative. “problem kita bukannya
melakukan apa yang benar. Problem kita adalah
mengetahui apa yang benar. (C.Wood dalam Dun,
2001: 50)

Dalam praktek kebijakan pemerintah yang
menjunjung nilai-nilai kerakyatan biasa sampai
ke tahap setelah kebijakan dilaksanakan, perlu
kembali dilakukan evaluasi apakah kebijakan itu
sesuai dengan kebutuhan public atau sebaliknya
justru semakin menyengasarkan mereka. Maka
tahap melakukan penilaian yang disebut policy
evaluation itu bukan tidak mungkin kebijakankebijakan masa lalu itu diubah dan disempurnaan
demik kepentingan public sehingga terciptakan
penyesuaian kebijakan (policy modification) .
Justru karena itulah semua proses kebiajakan public di daerah memerlukan relasi melalui komunikasi yang favourble antara public daerah dengan
pemerintah daerah. Jangan sampai justru lebih
8

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
sering terjadi konflik dan gesekan-gesekan yang
bernuansa kurangnya kepercayaan public terhadap pemerintah. Hal ini jelas menunjukkan praktek public relations yang tidak baik antara kedua
belah pihak. Karena perjalan kehidupan politiknya ditandai dengan disharmoni dan menurunnya
tingkat kepercayaan public suatu daerah terhadap
pemerintahnya sendiri. Satu hal yang amat menarik lagi, pada era otonomi daerah ini terkesan
masih banyaknya persoalan-persoalan yang timbul di daerah di konsultasikan kepada pemerintah
pusat, sehingga masih timbul kuatnya ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah
pusat. Sikap dan tindakan ini jelas bertentangan
dengan wujudnya nilai-nilai otonomi yang semestinya memangkas proses pengambilan keputusan dalam sistem pemerintahan. Nampak daerah belum menampilkan kedewasaan politik
yang semestinya semakin menguat pada tatanan
demokrasi lokal.
B. Pengalaman Kebijakan Governance Pemerintahan Daerah
Pemerintah daerah semakin ditantang untuk
mengunjuk kerja yang mengakses terhadap publik di daerah. Mulai dari memproses kebijakan
sampai kepada bagaimana mengefektifkan kebijakan yang telah dibuat. Definisi pemerintah daerah menurut Doer, merujuk kepada sub divisi politik, diantaranya menciptakan kenikmatan kepada
daerah dan melaksanakan tugas-tugas/kewajiban,
dan bertanggungjawab, dalam kerangka kerja yg
mengacu kepada konstitusi daerah dan undangundang yang ditetapkan oleh legislative (John
E. Doer :1998 ). Proses manejemen yang mempraktekkan semua hal untuk kebaikan organisasi
dari seluruh masalah rumah tangga yang kompleks dalam sistem pemerintahan. (Visnho dan
Vidia, 2007) “Pemerintah daerah“ unit atau institusi pemerintahan yg berkuasa diperingkat bawah
dalam sesuatu tempat atau daerah kecil dengan
kuasa yang tertentu dan melaksanakan tugas untuk kebajikan dan kesentosaan masyarakat dikawasan tersebut.” (Abdullah Ayub, 1978); (Atory,
1991). (AhmadTarmizi, 2010). Otonomi dijawantahi dengan operasional konsep desentralisasi.
Baik desentralisasi politik maupun desentralisasi
administrasi. Dalam konteks desentralisasi politik

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
menurut Manning dan Parison “Political decentralization aims to give citizens and their elected
representative more power in local public decision making. In often associated with pluralistic
politics and representative government, it can also
support democratization by giving citizens or their
representative more influence in formulating and
implementing policies (Nick Manning and Neil
Parison, 2004 :101), selanjutnya di jelaskan oleh
Manning dan Parison bahwa Advocates of political decentralization assume that decision made
greater participation will be better informed and
more relevant to diverse interest in society than
those made by only national political authorities. (
Nick Manning and Neil Parison, 2004 :101),

Konsep governance eksekutif atau pemerintah lebih memfokuskan kepada pendekatan governance administrasi yang menampilan tata kelola
pemerintah yang efektif, sebagai agent transformasi
dan pemberdayaan publik. Proses ini dalam tinjauan
administrasi pembangunan, kemampuan pemerintah
menggerakkan dan memberdayaan aktor-aktor pembangungan tidak bisa lepas dukungan masyarakat
dalam bentuk partisipasi publik. Pengalaman pembangunan di Bolivia menurut Gaventa, berpola dari
cara memberdayakan kekuatan organisasi-organisasi di tengah-tengah masyarakat dengan memberikan
pengetahuan dan pemberdayaan organisasi sebagai
agent penting penggerak pembangunan. Lebih jauh
sampai kepada upaya memberikan kesempatan
publik lokal mengawasi proses kebijakan pemerintah. Sehingga dengan kecerdasan berorganisasi
masyarakat dapat menjadi mitra efektif bagi pemerintah dalam proses pembangunan. Gaventa memformulakan model tangga partisipasi masyarakat untuk
mengesan sejauhmana pemerintah daerah membangun partisipasi.

Kemitraan atau kolaborasi pada dasarnya
merupakan hubungan dinamis antara beberapa aktor atau institusi, yang berbasis pada nilai, tujuan,
pemahaman dan manfaat bersama dengan kerangka
pembagian kerja yang jelas dan saling menghormati
(Jennifer Brinkerhoff, 2002). Berbagai organisasi
yang tergabung dalam kolaborasi berupaya bersama, menekankan pentingnya prinsip mutualistik
yang saling memberi dan menerima, dengan hubungan yang seimbang, saling memiliki, saling menghormati, partisipasi yang setara dalam pengambilan

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
keputusan serta saling menjaga transparansi dan
akuntabilitas secara kolektif (Jennifer Brinkerhoff,
dalam Sutoro Eko dkk, 2009)

Sumber : Jhon Gavaca & Camilo Valderrama, (2001). Partisipasi, kewargaan, dan pemerintah daerah. Jakarta, Economic Foundations, The Brithis
Council.

Pengalaman kita selama ini, praktek kehumasan pemerintah kita biasanya lebih menampilkan praktek humas yang tidak peka menyikapi
keluhan dan reaksi publik dari proses kebijakan
yang dinilai tidak merakyat (not publicly). Peran
humas pemerintahan lebih menampilkan diri sebagai agen promosi dan menyampaikan pesan
yang indah-indah saja sebagai corong pembenar
perbuatan pemerintah. Humas belum menjadi wacana menghimpun input publik dan yang semestinya tanggap dengan berbagai persoalan publik.
Ppraktek humas pemerintah daerah lebih banyak
pasif, ketimbang tampil menjadi agent menyampaikan saran, informasi publik, menghimpun persoalan publik untuk di rekomendasikan kepada
pimpinan daerah.

Negara yang konsens dengan pembangunan demokrasi ditandai dengan pencerdasan
politik publik, akan melahirkan pemerintah
yang akuntabel. Sebaliknya Negara yang menghindari pembangunan demokrasi sebagaimana
mestinya cendrung bersikap tidak terbuka dan
tidak memberi ruang yang cukup kepada public
untuk mengemukakan pendapat, melalukan koreksi dalam proses kebijakan yang dibuat. Maka
kehidupan politiknya bernilai rendah. Karena
kehidupan politik itu bukan saja mempertanyakan bagaimana proses kebijakan yang baik itu
dibuat, akan tetapi bagaimana hasil kebijakan
yang dilaksanakan memberikan manfaat (outcome) positif terhadap rakyatnya. Justru karena
9

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
itu posisi rakyat yang aktif sebagai mitra pemerintah yakni stakeholder yang diperhitungkan
akan mencerminkan adanya relasi yang baik (relationship) dengan semangat mutually melahirkan pemerintah yang konsens membangun public
relations. Semuanya ini dapat dilakukan apabila
wujud komunikasi dua arah yang favourable
antara publik dengan pemerintah dalam proses
kebijakan. Edward mengambil perhatian penting arti komunikasi dalam proses kebijakan agar
melihat yang terlibat dalam membuat kebijakan
tahu persis informasi kebijakan yang akan dibuat
agar tidak menimbulkan masalah, disamping itu
juga berguna untuk memperbaiki kembali kebijakan. Oleh karena itu perintah-perintah yang tidak
ditransmisikan, yang distorsi dalam transmisi,
atau tidak pasti dan tidak konsisten akan mendatangkan rintangan-rintangan serius dalam pelaksanaan kebijakan. (Edwards dalam Nogi, 2003)

Maka dari itu, upaya lebih memberdayakan peran humas dengan spirit public relations perlu
dibangun pada era ini. Apabila tidak diperhitungkan
maka paradigma otonomi daerah untuk meningkat
iklim demokrasi lokal menuju good governance
akan menimbulkan gambaran simbol saja. Konsep
pemerintahan daerah menyangkut praktek kebijakan
eksekutif, legislative dan yudikatif maka pada semua
supra struktur ini perlu dibina pendekatan public relations. Alasannya sederhana, pertama rakyat berhak
utuk tahu terhadap proses kebijakan yang berkaitan
dengan sistem kehidupan mereka, kemudian kedua,
dengan semakin meningkatnya pendidikan rakyat
maka pendidikan politik dengan mengasah pisau
anilitis kritis terhadap proses politik (sikap preskriptif) mereka semakin tinggi, ketiga, tuntutan ukuran
kemajuan sebuah Negara mencerminkan kemajuan
pembangunan politik. Apabila pembangunan politik daerah tidak berkembang, maka cendrung porsi
rakyat untuk cerdas politik cendrung sedikit dan
lemah. Untuk itulah peran humas pemerintahahan
juga bisa tampil sebagai menjadi agent fasilitasi dan
memediasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat dan memberikan input berguna kepapad
para administrastor di daerah dalam pengambilan
keputusan politik.
Dalam praktek sistem politik dan pemerintah local,
selain itu kerap wujud persoalan governance economic. Berdasarkan pengalaman hubungan pemer10

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
intahan dengan publik di daerah Riau, kebanyakan
ketidakharmonisan hubungn itu timbul dari sukarnya mewujudnya praktek governance ekonomi.
Ini terjadi apabila pemerintah daerah tidak mampu
mewujudkan norma-norma keadialan dalam mengalokasikan sumber alam daerah. Dimana pemerintah
cendrung lebih berpihak kepada para pemilik modal
besar ketimbang masyarakatnya sendiri. Kasuskasus ini memuncak setelah berlakunya kekuasaan
otonomi daerah. Akibatnya Riau dinyatakan propinsi yang paling tinggi tingkat konflik lahan/hutannya
di Sumatra bahkan di Indonesia.











Suatu daerah yang kaya belum pasti dapat melahirkan keputusan yang adil dan mampu
mengangkat harkat dan martabat masyarakat
apabila di dalam proses kebijakan persoalan
kepentingan para elit lebih mengemuka ketimbang kepentingan bersama. Kebiasaan membuat
keputusan sepihak dan tidak menghargai posisi
dan hak masyarakat lapisan bawah cendrung menutup ruang bagi komunikasi terbuka dan tidak
menampilkan proses kebijakan yang elegant. Persoalan yang kerap menimpa masyarakat dengan
sumberdaya alam berlimpah ini adalah ketidak
adilan dan ekploitasi dalam penguasaan sumbersumber alam oleh kapitalis terhadap rakyat kecil
di perdesan. Phenomena itu jelas tidak mencerminan pemerintah yang governance, di tinjau
dari aspek governance ekonomi. Ekonomi governance (economic governance) itu menjawab
keefektifan pengambilan keputusan sumbersumber ekonomi negara utk kesejahtraan rakyat
sehingga terfasilitasi prinsip equity, poverty dan
quality of life . Ketidak berpihakan pemerintah
terhadap nasib public, memperlihatkan lemahnya peran suprastruktur politik di daerah, sehingga mereka terpaksa mengadu nasib mereka ke

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
struktur lebih tinggi di ibukota negara. Tidak berfungsinya peran public relation Negara sehingga
keluhan public tidak menimbulkan respon sistem politik. Feed sistem politiknya seakan distorsi. Proses komunikasi dua arah tidak terjelma
pada era ini, karena peran kehumasan itu tidak
lagi menjadi wacana advokasi dan memecahkan
masalah public (public affairs)

Pengalaman di daerah ini, kebanyakan
pemicu konflik itu adalah akibat keputusan
masa lalu yang terlalu memberikan peluang
besar kepada para kapitalis semu/bayangan.
Namun disesali sehingga otonomi daerah persoalan-persoalan itu tidak mampu di tuntaskan. Dari investigasi yang dilakukan di laoangan didapati informasi langsung dan ditambah
dengan analisis data sekunder yang diperoleh.
Dari kelompok masyarakat Gema Bunut persatuan Masyarakat Petalangan Kecamatan
Bandar Petalangan Pelalawan dipimpin oleh
Bapak Abdul Rahman . Ternyata sampai hari
ini mereka masih berjuang hilir mudik menggunakan sisa-sisa tenaganya, apabila kampong
halamanan mereka masyarakat adat 10 Desa seluas 7.116 Ha didiami oleh 2.498 Kepala Keluarga mereka berhadap dengan PT Syarikat Putra
yang mengambil tanah mereka semenjak tahun
1999. Surat Keputusan Pemerintah Pusat Melalui Menteri Agraria yang diterbitkan tanggal
12 Oktober 1999 melalui SK Nomor 94/HGU/
BPN/99. Melepaskan sejumlah tanah hutan seluas, 9.330 dan kawasan bukan hutan seluas 3.
1445 ha seluruhnya berjumlah 12. 474,10 ha.
Perjuangan masyarakat setempat karena lahan
kehidupan dan tanah ulayat mereka seluas 7.116
hektar ini dalah milik mereka. Pesoalannya
sampai hari tidak meskipun telah wujud sistem
otonomi daerah, yang semestinya lebih dekat
dan mendengar keluhan masyarakat local justru
semakin praktek otonomi daerah itu di implementasi keluhan dan harapan mereka tidak di
dengar. Padahal justru pada era inilah pembasisan hak-hak public local semakin diperkuat.
Karena pemerintah daerah lebih memiliki kewenang untuk menyikap persioalan- persoalan
public yang di akomodir melaluiproses kebijakan yang komunikatif dan dekat dengan rakyat
local. Keraguan-demi keraguan yang muncul

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
dihati sanubari rakyat menimbulkan aneka
persepsi terhadap akuntabilitas pemerintah daerah. Miskomunikasi dan mis understanding terhadap mereka akan mencerminkan lemahnya
fungsi dan peran public relations pemerintah
daerah. Padahal mereka telah mengorbankan
berbagai energy dan sumber yang menguras
proses kehidupan mereka sehari-hari. Mereka
semakin tersudut dan berada pada posisi yang
sangat lemah. Intinya penguatan demokrasi
sebagaimana di amanahkan dalam governance
politik itu tidak wujud dalam tata kehidupan
mereka sehari-hari.

Kita sebagai rakyat senantiasa menunggu
tampilnya pemerintah melalui pemimpin yang
responsive. Jangan sampai lemahnya pera public relations memediasi persoalan Negara kepada
public dan persoalan public kepada Negara tanpa
kita sadari telah menjatuhkan imej dan kepercayaan rakyat terhadap Pemerintah. Beberapa
pengalaman terjadi berulang-ulang kali, tidak
menampilkan peran public relation yang tangkas,
dimana tampilan pemerintah tidak responsive,
tidak sensitive terhadap peristiwa-peristiwa penting dan massal yang dialami oleh rakyat, anehnya media asing sudah duluan memberitakannya.
Terkesan Pemerintah lamban dan terjadi proses
pembiaran terhadap nasib rakyat. Misalnya kasus
lingkungan, pengelolaan sumber alam, perampasan hak masyarakat oleh kapitalis dan kasus
kecelakaan massal oleh pembangunan yang tidak
bertanggungjawab. Kesannya Pemerintah belum
memiliki public accountability. Dengan terbinanya peran public relations yang efektif dalam
pemerintahan maka komunikasi antara public dan
Negara semakin jelas, cair dan persoalan public
semakin hari semakin menunjukkan titik penyelesaiannya.

Keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan governance ekonomi akan terlihat apakah
pemerintah mampu berlaku adil dalam penguasaan
sumber-sumber ekonomi seperti sumber daya alam
yang sejugyanya sebagai sumber kesejahtraan rakyat. Betapa banyak terjadinya konflik antara rakyat
dengan pengusaha hutan justru posisi rakyat selalu
lemah. Praktek ini jelas tidak menunjukkan normanorma keadilan dan bertentangan dengan konsep
governance ekonomi itu.
11

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah

Sebuah pengalaman menarik dalam implementasi desentralisasi dilakukan di di Tanzania patut
kita contoh dimana penekannnya terletah pada beberapa konsentrasi penting yang sangat baik bila kita
adopsi. Sebagai berikut :
a. People Participations, democracy, and self government
b. mobilizing local resources (man power, fund,
etc) to assist, complement national effect
c. facilitation communication among levels (between national and local)
d. reduction of red tape/ bureaucracy
e. community participation in self – generated project
f. maintain/promote law and order
g. enchancement of socio economic well being of
people and
h. provision of service to the people in the most efficient manner. ( Andre Jones & Hans Knikkink,
1990 :50)


Peran humas sebagai public affair dapat
ditampilkan dalam memfungsikan peran advokasi, memediasi kepentingan publik lokal. Dengan
sedemikian luasnya dan kompleksnya peranan
pemerintah daerah selain bertanggungjawab sebagai agent public affair juga berposisi sebagai
agent perantara yang memfasilitasi kepentingan
publik. Mehamami dengan dekat peroalan dan realita sosio ekonomi yang dialami oleh masyarakat
lokal serta mampu menyuarakan kepentingan
masyarakat dilapisan bawah, keatas, dan kesamping melalui tatahubungan baik yang serasi.

Pemerintah selain menjadi agent inovatif,
kondisional, juga dapat tampil sebagai penggerakan (motor) sosio ekonomi publik di daerahnya.
Salah satu jalannya dengan Membangun peran
publik partisipasi. Dalam kebijakan publik filosofi
tidak keputusan kebijakan yang permanen dan final, namun selalu berkembang sesuai dengan dinamika publik. Justru karena itulah proses akhir
kebijakan ada upaya untuk menyesuaikan kembali tindakan kebijakan sebelumnya (policy modification).

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

kita alami pada era otonomi daerah ini akan berlangsung lama dan akan terulang lagi. Justru itu
pemerintah daerah perlu membangun komitment
bahwa otonomi “daerah” adalah sebuah operasional organisasi manajemen pemerintahan yang
berdimensi sistem. Dimana semua stakeholder
yang memiliki andil dalam proses pemerintahan
perlu mendapat pengakuan hak yang sama. Rasa
sangat rugi apalagi peluang memproses kebijakan yang luas pada era otonomi daerah ini tidak
aplikasikan dengan baik, dengan spirit mengedepankan kepentingan publik lokal. Dengan aneka
kebijakan yang di produk diharapkan mampu
menciptakan masyarakat berkembang, maju dan
kompetitif perlu di persiapkan

Pemda garda bangsa garis depan yang berhadapan langsung dengan sistem kehidupan publiknya. Kelalaian Pemerintah dalam mengakomodir
isu-isu penting akan berakibat fatal terhadap masa
depan bangsa. Misalnya ke alpaan menyelesaikan konflik antar daerah yang telah menjatuhkan
wibawa pemda dimata rakyatnya sendiri. Padahal
substansi otda menciptakan temerintah yang tanggap dan tangkas dalam pengambilan keputusan.
Ketika ini, isu-isu yang sangat menarik berkenaan
dengan kepentingan daerah dan harmonisasi komunikasi akhir-akhir ini di daerah banyak bersumber
pada keadilan pemanfaatan sumber daya alam daerah sehingga memberikan dampak sosio ekonomi,
hukum dan lingkungan yang ditimbulkan dari kebijakan struktural yang melibatkan Pemerintah daerah. Semestinya dalam membangun komunikasi
politik, demi untuk membangun kepercayaan publik
dan partisipasi masyarakat di daerah, maka ha-hal
merusak citra pemerintah mesti diminimalisir.

Praktek public relations yang mengakui
hak azasi secara mendalam dapat dijadikan sebagai wacana meningkatkan harkat martabat
manusia dalam koridor ikatan kehidupan politik yang demokrasi. Pendekatan komunikasi
pemerintahan yang elegant dapat menggunakan wacana ini. Ke efektifan itu akan wujud
melalui proses feedback sistem politik yang
responsive. Apabila harmonisasi hubungan sudah tercipta antara komunitas masyarakat sipil
B. Kesimpulan.
dengan pemerintah. Pelabagi persoalan public

Kita tidak dapat memprediksi apakah local yang menghimpit tata kehidupan mereka
iklim organisasi yang terdesentralisasi seperti yan dapat kiranya menjadi agenda penting untuk
12

Membangun Public Relations Dalam Praktik
Pemerintahan Daerah di Era Otonomi Eaerah
di wadahi dan di fasilitas melalui optimalisasi fungsi dan peran public relation. Usaha ini
perlu agar imej dan kepercayaan public yang
luntur itu boleh diwarnai kembali dalam proses
kehidupan yang lebih elegant.

Pada saat pemerintah daerah dapat merancang struktur organisasi dan tugas institusi dengan
lebih kontektual dan fungsional, maka upaya untuk
lebih memberikan peran pada fungsi dan tugas terhadap public relations perlu menjadi perhatian penting. Upaya membangun komunikasi pemerintahan
yang favourabale, good will, good understanding ke
depan akan dapat dijadikan sebagai wacana menuju
good governance yang di cita-cita itu.
Daftar Pustaka
Abdurrachman Oemi. 1982. Dasar-dasar Public Relations. Bandung. Allumni.
Adisasmita, Rahardjo 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaaan, Yogyakarta : Graha
Ilmu.
Ahmad Atory Hussain. 2008. Pembentukan Polisi
Awam Kearah Pemahaman Ke Arah Yang
Lebih Sistimatis dan Analitis, Utusan Publications. Kuala Lumpur.
Cangara Hafied dan Handab Adnan. 1996. Prinsipprinsi Hubungan Masyarakat. Usaha Nasional. Surabaya
Cutlip M. Scott ., Center Allen H, Glen M Bab dan
George D. Lennon . 2009. Effective Public
Relations (terj) Ari Wibowo. Kencana Prenada Media Group.
Dahl, A. Robert. 2001 . Perihal Demokrasi, (terj) A.
Rahman Zainuddin, Jakarta; Yayasan Obor
Indonesia
Djadijono. M - I Made Leo Wiratma - T.A. Legowo, 2006,
“ Membangun Indonesia dari Daerah, CSIS
Doer E.John. 1998. Dictionary of Public Administration. Golden Books Centre . Kuala Lumpur.
Dye R.Thomas. 1979 Understanding Public Policy,
New Jersey : Prentice Hall Inc Englewood
Cliffs
Dwiyanto Agus. 2011, Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Gafar, Afan, 2000. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
Gregory Anne, 2005. “ Public Relations In Practice,
the Institute Public Relations (IPR), Kogan
Page London,
Lattimore Dan. Baskin Otis. Heiman T. Suzette; Toth
L Elizabeth. 2010. Public Relations Professi
dan Praktik. Salemba Humanika, Mc Graw
Hill. Jakarta.
James Lester, 2000. Public Policy. : An Evolutionary Approach, Thompson Learning Belmont, USA
Nick Manning and Neil Parison, 2004 ., International Public Administration Reform, Implication for Russian Federation. The World
Bank. Washington DC.
Nogi Hessel S. Tangkilisan. 2003. Implementasi Kebijakan Publik Transformasi pemikiran George
Edward. Yogyakarta. Lukman Offset.
Rusady Ruslan. 2010. Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi. Raja Grafindo. Jakarta.
Uchyana Onong Effendy. Human Relation dan Public Relations dalam Management. Mandar
Maju. Bandung.
Undang-undang RI nomor 17 Tahun 2007 Rencana
Pembangunan Nasional Jangka Panjang :
Jakarta : Sinar Grafika
Jurnal
Achmad Nurmandi, Proses Manejemen Pengetahuan Bagi Inovasi Pelayanan Perizinan di
Kota Yogyakarta. Jurnal Studi Pemerintahan
“Journal Government and Politics. FISIP
Universitas Muahamad Diah Yogyakarta.
Volumen/ 1 Agustus 2010.
Ahmad Tarmizi Yusa, Reformasi Administrasi Publik Melalui Public Relations. Jurnal IlmuIlmu Sosial Volume 1 Oktober 2008. Fisip
Universitas Islam Riau Pekanbaru.
Eko Harry Susanto, Kelambanan Reformasi Birokrasi Birokrasi dan Pola Komunikasi Lembaga Pemerintahan. Jurnal Aspikom Nomor 1 Juli 2010
Makalah.
Ahmad Tarmizi Yusa. Judul makalah “ Demokrasi
Dan Governance Melalui Pemilu Transparan dan Jujur ( Prospek Otonomi Meranti
Negeri Potensi). . Seminar Komunikasi
Politik Menjelang Pemilukada “ Narasumber Diskusi Pemilu Laboratoriume Komunikasi Unri, “ 25 Juni 2009
13

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

KOMUNIKASI POLITIK GOLKAR DAN KESANNYA TERHADAP TANGGAPAN
MASYARAKAT
NELAYAN: KAJIAN KES DI KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU
Muhammad Iqbal
Master Program of Political Communications Universiti Kabangsaan Malaysia,
PhD Program of Management Policy Universiti Utara Malaysia
Abstract
Abstract : This study examined the role played by mass media and socio economic or social environment
in Golkar’s political communication among the fishermen at Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau,
Indonesia. Pre-existing socio economic factors were also looked at ini order to gauge their influence on the
fishermen’s participation in politics. Data were gathered through survey research using questionnaires. A
total of 300 fishermen were selected as and research samples.data were analysed descriptively and inferentially, hypotheses were tested using chi – square test. The results of the study showed that ( i ) the pattern
of exposure in print media correlates with and had an effect on political information ( ii ) the pattern of
exposure in electronic media was relatively low in its relationship with socio economy of respondents ( iii )
the choice of column type was relatively low in relation to socio economy ( iv ) the choice of program type
was relatively low in relation to socio economy ( v ) the political involvement during elections and in general
current politics were correlated to age. In conclusion, the mass media had an effect on the political information and socio economics of fishermen. Similarly, political involvement during elections and in general
current politics correlates the age of each individual.
Keyword : Golkar’s, Political Communication, Socio Economics, Media Massa

Dalam masyarakat moden hari ini, komunikasi digunakan dengan meluas sekali dalam
usaha pembujukan politik di kalangan pemimpin
politik. Media massa merupakan alat dan saluran
yang terpenting dan berkesan untuk menyalur
serta menyebarkan ideologi dan pengaruh politik demi untuk mendapatkan sokongan daripada
orang ramai. Di samping itu, media juga merupakan saluran yang berkesan untuk mempengaruhi
perkembangan politik. Menurut Nimmo (1981)
aktiviti komunikasi boleh dianggap bersifat politik jika nilai peristiwa-peristiwa (sebenar dan
potensi) mengawal tingkahlaku manusia dalam
keadaan-keadaan konflik (Dan Nimmo 1981:27).
Kepentingan komunikasi politik ini dapat dilihat
melalui proses sosialisasi, penyerahan politik dan
latihan politik dalam masyarakat.

Komunikasi politik mengutamakan tiga
aspek iaitu : 1) pemindahan atu penyaluran maklumat. 2) wujudnya maklumat politik. 3) pemindahan atau penyaluran maklumat itu berlaku dari
satu bahagian sistem politik ke bahagian lain dan
antara sistem politik dan sistem sosial yang saling
berkaitan (Rush & Althoff 1971 : 160).
14

Menyalurkan maklumat politik berlaku
antara individu dengan individu yang lain dan
antara kumpulan-kumpulan individu. Proses komunikasi politik juga bergerak secara mendatar
dalam sesebuah masyarakat tertentu. Komunikasi
atau penyaluran maklumat (selain nilai dan sikap)
akan menentukan aktiviti politik individu.

Bagi negara-negara yang maju sistem komunikasinya, maka bentuk penyaluran maklumat
politiknya lebih kepada jaringan komunikasi yang
formal menggunakan teknologi yang tinggi. Keupayaan ini kurang dimiliki oleh sebahagian negara
sedang membangun atau negara mundur.

Dalam proses komunikasi, semua unsur
yang terlibat memainkan peranan yang penting.
Di samping itu pemilihan saluran juga penting
bagi sesuatu sumber dalam menjayakan sesuatu
proses komunikasi yang berkesan. Fungsi komunikasi juga dapat dilihat dalam proses pembangunan dan sosialisasi politik.

Komunikasi adalah digunakan dengan
meluas sekali dalam usaha-usaha pembujukan dan
mempengaruhi tingkah laku politik orang ramai.
Walau bagaimanapun, dalam sistem komunikasi

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
moden hari ini, peranan media massa hanya sebahagian daripada saluran utama maklumat politik.
Saluran-saluran komunikasi yang lain sama ada
secara formal atau tidak formal adalah sebahagian
lagi sistem komunikasi maklumat politik. Menurut Pye (1966) komunikasi politik bukanlah disebarkan melalui media massa sahaja, tetapi juga
melibatkan hubungan komunikasi bersemuka di
antara komunikator-komunikator yang berbeza.

Terdapat suatu perkaitan rapat di antara
proses politik dengan proses komunikasi (Pye
1966:153). Komunikasi politik dapat dikategorikan kepada dua iaitu : i. Fungsi komunikasi politik yang berada pada suprastruktur politik disebut
‘the governmental political sphere’. ii. Fungsi yang
berada pada struktur masyarakat (infrasturktur).
Dalam pembentukan “suprastruktur” dan “infrastruktur” dalam satu masyarakat maka terjadi
suatu proses sosialisasi politik kenegaraan (Maswadi Rauf & Mappan Nasrun 1993:11-12). Isi komunikasi yang dilaksanakan oleh pemerintah (suprastruktur politik) mencakup
- Seluruh kebijakan yang menyangkut kepentingan umum.
- Upaya meningkatkan ketaatsetiaan dan integrasi nasional.
- Motivasi dalam pembentukan sikap daya maju
dan integrasi mental dalam segala bidang kehidupan yang menuju kepada kemajuan dan
modenisasi.
- Menerapkan peraturan dan perundangan untuk menjaga ketertiban dan kehormatan dalam
hidup bernegara.
-
Mendorong
terwujudnya
penglibatan
masyarakat dalam mencapai tujuan nasional.

Setiap sistem politik akan membentuk
strategi komunikasinya tersendiri. Ini karena khalayak sasaran media adalah berlainan dan kemampuan serta keupayaan sumber itu adalah berbeza.
Maklumat politik yang disebarkan kepada orang
ramai dapat membentuk orientasi seseorang terhadap penglibatan dan penyertan politik atau
membentuk sosialisasi politik dalam masyarakat
itu.

Masyarakat berpolitik di dunia ini mempengaruhi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor
komunikasi dalam aspek politik. Menurut Mas-

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

wadi (1982), para sarjana politik cukup besar perhatiannya terhadap komunikasi politik, namun
kajian tentang komunikasi politik di kalangan
ahli akademik sains politik di Amerika Syarikat,
barang kali juga negara-negara lain, masih kecil
(Maswadi Rauf 1982:20).

Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan kepada Pancasila dan Undang-Undang
Dasar (UUD) semenjak 1945. Untuk itu tujuan
negara pembentukan Republik Indonesia adalah
mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Maka pemerintah melaksanakan pembangunan dalam pelbagai bidang, terutama ekonomi,
agama, pendidikan, dan politik. Indonesia mengamalkan sistem demokrasi Pancasila, yang bererti
demokrasi yang tidak liberal tetapi juga tidak autorier. Demokrasi Pancasila ialah demokrasi yang
mengambil prinsip-prinsip demokrasi yang baik
dan benar dari demokrasi liberal dan demokrasi
totaliter, yang mencerminkan kepribadian bangsa
Indonesia (Suryadi 1993:77).

Selari dengan itu pembangunan nasional
yang berlangsung di Indonesia sudah memasuki
fasa keenam daripada Pembangunan Lima Tahun
(Pelita). Jika dikategorikan kepada Pembangunan
Jangka Panjang (PJP) maka negara Indonesia baru
sahaja memasuki pembangunan tahap kedua yang
disebut Pembangunan Jangka Panjang Tahap II
(PJPT II). Secara amnya peningkatan matlamat
pembangunan ditujukan kepada pembangunan
ekonomi, politik, budaya, agama serta pendidikan. Pada prinsipnya media massa tersebar keseluruh pelosok tanah air, guna mendukung persatuan dan kesatuan bangsa.

Golongan Karya (Golkar) adalah organisasi sosio politik terbesar dan paling berpengaruh
di Indonesia, merujuk kepada sistem politik Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II Kepulauan Riau, kesemua kerusi diwakili oleh wakilwakil dari Golongan Karya (Golkar). Malah undi
majoriti yang diperolehi oleh calon-calon Golkar
dalam pilihannya 1987 dan 1992 adalah semakin
bertambah daripada pilihannya sebelumnya.

Golongan Karya (Golkar) selain dapat
mengekalkan kesemua kerusi yang dipertandingkan dan dimenanginya pada tahun 1972, telah berjaya menambah undi majoriti yang diperolehinya
di kesemua kerusi. Golkar muncul sebagai majoriti
15

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
tunggal dalam lima kali pilihanraya umum sejak
tahun 1972. Walaupun kebelakangan ini jumlah
kerusi yang dimenangi semakin merosot, kekuatan Golongan Karya (Golkar) memang tidak dapat dinafikan lagi terutama di kawasan luar bandar
(Berita Harian, 23 Oktober 1993 ).

Bentuk penyaluran maklumat komunikasi
politik Golongan Karya (Golkar) di Kabupaten
Daerah Tingkat II Kepulauan Riau ialah Komunikasi melalui media massa dan secara bersemuka
seperti :
1. Ceramah
2. Interaksi sosial
3. Risalah
4. Ucapan di rapat-rapat umum (kompas, 11 Februari 1980).

Proses komunikasi Golkar menggambarkan bahawa parti tersebut mempunyai saluran
dari peringkat pusat hingga cawangan sebagai
kawalan yang berkesan dalam pengka deran ahliahli Golkar. Di samping itu pentadbiran Golkar
mempunyai dukungan yang merangkumi luas
seluruh lapisan masyarakat melalui dua saluran
khusus iaitu media cetak padan elektronik. Proses
komunikasi Golkar boleh dilihat oada rajah 1.1 :

Dalam suprastruktur politik Indonesia terdapat tiga kelompok iaitu yang berada pada lembaga legislatif, eksekutif dan kehakiman. Ahlinya
terdiri dari pada : i. elit politik, ii. Elit militer, iii,
teknokrat, iv. Kumpulan profesional. Unsur-unsur
di dalam masyarakat atau infrastruktur terbentuk
menjadi pelbagai pertubuhan atau kelompok yang
terdiri daripada :
1. Partai politik
2. Kelompok yang mempunyai kepentingan
3. Media komunikasi politik
4. Kelompok pendesak
5. Kelompok mahasiwa (Harmoko 1993:10)

Di Indonesia infrastruktur yang memainkan peranan penting dalam sistem politik adalah
parti politik yang berkuasa. Jadi sebagai pelaksanaan pemerintah sehari-hari dilakukan oleh parti
politik Golkar. Sistem politik di Indonesia memberikan suatu pengertian bahawa komunikasi
politik berlangsung dalam ruang lingkup struktur
tersebut (Sumarno 1989 : 43). Selanjutnya Rusadi
(1983) memperjelaskan sistem tersebut sebagai
16

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

jentera yang berperanan dalam struktur politik
dalam hubungannya satu sama lain yang menunjukkan suatu proses yang dinamis.

Orang ramai harus bergantung kepada
sistem yang ada untuk memperoleh secara komprehensif sebarang maklumat tentang politik,
dan hanya melalui suatu sistem komunikasi yang
teratur dapat pemimpin-pemimpin negara menyalurkan dasar-dasar negara kepada rakyat serta
melaksanakan pentadbiran negara. Ringkasnya
komunikasi adalah asas dalam proses politik.
Pemimpin politik di Indonesia pada khususnya
mengekalkan dan memelihara kelangsungan sistem yang ada, sehingga nilai yang terdapat dalam
sistem tersebut dapat diberikan kepada generasi
baru dari pelaku politik dari satu dekad ke dekad
yang lain.

Semasa kempen pilahanraya penyebaran
maklumat melalui media massa sama ada dari
parti atau calon yang bertanding adalah untuk
mendapatkan kerusi di parlimen. Bentuk kempen
yang dijalankan itu juga melibatkan berbagai bentuk strategi komunikasi digunakan oleh parti atau
calon yang bertanding sama ada untuk kerusi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I mahupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat
II. Sesebuah parti secara berkesan tidak akan berjaya dalam perjuangan mereka, terutama jikalau
ianya bukan sebuah parti politik yang populer.

Di Indonesia Golkar memainkan peranan
yang sangat penting dalam mendukung polisipolisi pemerintah. Jadi tuntutan dan dukungan
rakyat tidak memberi makna yang bererti, hanya
parti pemerintah (Golkar) yang menjalankan
polisi-polisi yang telah ada.

Kabupaten Bintan Kepulauan Riau dengan ibu negerinya Tanjung Pinang, sejak tahun
1970 telah menerima siaran televisyen dan radio
dari luar iaitu negara tetangga seperti Malaysia
dan Singapura. Dengan mempergunakan antenna
5 hingga 10 miter mereka boleh menonton televisyen siaran TV1, TV2, serta TV3 Malaysia dan
siaran televisyen Singapura TV5, TV8, dan TV 12,
sedangkan radio Malaysia dan Singapore boleh
mendengar siaran dari kedua negara tersebut.

Dengan kemajuan teknologi canggih telekomunikasi di Kabupaten Daerah Tingkat II
Kepulauan Riau khususnya Pulau Batam telah

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
dibutuhkan Stesen Bumi Besar (SBB) Sekupang
yang membolehkan Kepulauan Riau lebih mudah
menerima siaran RTM dan TCS.

Persoalannya ialah bagaimana pendedahan media massa masyarakat nelayan kepada berita politik boleh meningkatkan penyertaan mereka dalam komunikasi politik Golkar.

Secara amnya tujuan kajian ini ialah melihat bagaimana masyarakat Nelayan di Kecamatan
Bintan Timur Kabupaten Bintan Kepulauan Riau
menggunakan media massa untuk mendapatkan
berita-berita politik Golkar dan menyertai untuk
mendapatkan berita-berita politik Golkar dan
menyertai kegiatan politik negara. Secara khusus
tujuan kajian ini adalah:
• Meninjau sejauhmana pendedahan media
massa di kalangan masyarakat nelayan berupaya menyalurkan maklumat politik Golkar.
• Meninjau sejaumana profil demografi nelayan
para nelayan mempengaruhi penyertaan politik di dalam aktiviti-aktiviti politik semasa
pilihan raya dan sesudah pilihanraya.

Secara terperinci persoalan kajian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :
a. Bagaimanakah masyarakat nelayan menggunakan media massa ?
b. Adakah pendedahan kepada media massa
meningkatkan pengetahuan mereka tentang
parti Golkar ?
c. Adakah pendedehan kepada media boleh menaikkan kadar penyertaan politik masyarakat
nelayan didalam aktiviti-aktiviti politik Golkar ?
d. Adakah faktor-faktor pendidikan, pendapatan dan umur menentukan pendedahan kepada media dan penglibatan dalam politik
Golkar ?

Titik pertemuan antara aktiviti politik dan
aktiviti Komunikasi mewujudkan elemen-elemen
tertentu yang membentuk komunikasi politik.
Elemen-elemen tersebut boleh dilihat dari model
komunikasi yang dikemukakan oleh Rush dan
Althoff (1971) pada gambar 1 sebagai berikut:

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Gambar 1 : Model Aktiviti Komunikasi dan Politik


Dari gambar tersebut, elemen-elemen komunikasi politik dapat diperturunkan seperti di
bawah ini :
1. Sumber maklumat
2. Maklumat (mesej)
3. Saluran yang menyampaikan maklumat kepada khayalak (channel)
4.
Proses maklumbalas kepada sumber
asal.


Unsur-unsur komunikasi politik mungkin
berbeza dari satu keadaan kesatu keadaan yang
lain. Maklumat mungkin berpunca dari (kesatuan sekerja yang merupakan sebahagian struktur
ekonomi dan sosial (Rush & Althoff 1971:161).
Malah rakyat biasa seperti masyarakat luar bandar
juga terlibat sebagian sumber maklumat walaupun tidak terlibat dalam keputusan pilihanraya.
Bagaimanapun peranan golongan ini tidaklah
berterusan seperti mana individu yang merupakan elit dalam struktur politik.

Teori kegunaan kepuasan pertama kali
digunakan oleh Elihu Katz (1959), apabila beliau menolak dakwaan Barelson (1954) bahawa
bidang komunikasi nampaknya telah mati. Katz
me-nunjukkan bahawa kebanyakan kajian komunikasi hingga masa itu telah diarahkan untuk kajian kesan-kesan kempen terhadap penonton.

Pendekatan teori ini memberikan erti bahawa komunikasi massa berguna (utility). Perilaku media mencerminkan kepentingan dan pemilihan (Selectivity) bahawa khalayak sebenarnya
degil (stubborn) karena penggunaan media hanyalah dianggap sebagai salah satu cara untuk me17

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
menuhi keperluan psikologi. Oleh itu kesan media
dianggap sebagai situasi ketika keperluan itu terpenuhi (Blumler, 1979).

Konsep dasar dari teori kegunaan dan
kepuasaan oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch
(1974:20) ialah sumber sosial dan psikologi sebagai keperluan, yang melahirkan harapan-harapan
dari media massa atau sumber-sumber yang lain,
yang mendorong kepada pola pendedahan media yang berbeza (atau keterlibatan dalam aktiviti
yang lain), dan menghasilkan pemuasan keperluan dan akibat-akibat lain, yang mungkin tidak
diduga.

Model teori Kegunaan dan kepuasan ini
boleh dilihat dalam bentuk model seperti dalam
rajah 2.2. Model ini bermula dengan persekitaran
sosial yang mempengaruhi keperluan-keperluan
individu. Persekitaran ini meliputi :

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

antara lain umur, jantina, tingkat pendidikan dan
tingkat pendapatan. Sedangkan faktor sebab yang
bersifat langsung disebut dengan sikap yang wujud dalam individu dan kepercayaan antara lain
maklumat politik, sikap terhadap pembabitan
dalam bidang politik, pemilihan parti dan penilaian terhadap parti (Goel 1975:21-24).

McQuail, Blumler dan Brown (1972)
menyatakan bahawa keperluan untuk pelepasan
(escapism) mencirikan bahawa individu itu mempunyai penyesuaian pribadi yang lemah dan harga
diri yang rendah.

Menurut Katzs et.al (1973:164-181), keperluan khalayak boleh dikategoikan sebagai :
1.Keperluan Kognitif
Keperluan ini melibatkan untuk mem-perkukuhkan maklumat, pengetahuan dan pemahaman
alam sekeliling. Ia berasakan kepada keinginan
untuk memahami dan menguasai persekitaran
serta memuaskan atau untuk perasaan ingin tahu.
2.Keperluan afektif
Keperluan yang berkaitan dengan estatik, keseronokan dan pengalaman emosi. Keseronokan dan
hiburan merupakan motivasi dan boleh dipenuhi
melalui media.
3.Keperluan integratif persendirian
Integratif persendirian adalah yang berkaitan dengan pengukuhan kredibiliti, keyakinan, stabiliti
dan statu individu. Ianya berpunca dari keinginan
individu untuk mencapai self-esteem
4.Keperluan integratif sosial.
Keperluan yang berkaitan dengan pengukuhan
perhubungan dengan keluarga, kawan dan dunia
sekeliling. Ini berasaskan kepada keinginan seseorang itu untuk berafliasi dengan kawan-kawan.

Rajah 2 : Model Kegunaan dan Kepuasan Media 5.Keperluan pelepasan (escapism)
(Ran 1981: 229)
Keperluan yang berkaitan untuk menghilangkan
atau mengurangkan tekanan dan keinginan untuk

Ciri-ciri demografi seperti umur, bangsa, mengelak dari masalah-masalah yang dihadapi
jantina, afliasi kumpulan dan ciri-ciri personaliti. atau untuk melupakan sesuatu yang tidak meny
Teori kegunaan dan kepuasaan boleh di- eronokan.
gunakan dalam kajian penyertaan politik seperti
di India. Faktor jarak berhubung kait sosio ekono-
Di dalam media massa terdapat beberapa
mi atau persekitaran sosial yang mempengaruhi pembolehubah penggunaan media atau kombina18

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
si pembolehubah tersebut yang boleh membawa
kepada pemuasan media. Pembolehubah yang dimaksudkan adalah seperti berikut :
1. Isi kandungan media seprti berita, drama,
soap opera, cerita-cerita jenayah dan berbagai-bagai lagi.
2. Jenis media seperti surat khabar, radio, televisyen dan pawagam (katz, Gurevitch &
Haas 1973:164-181).

Keperluan-keperluan khalayak ini boleh
dipenuhi oleh fungsi media. Lasswell (1948) telah memberi tiga kategori media. Pertama, media
memberikan maklumat mengenai alam sekeliling kita atau dikenali sebagai pengawas. Kedua
perhubungan antara bahagian-bahagian dalam
masyarakat sebagai reaksi terhadap persekitaran.
Ketiga, ialah kelangsungan warisan dari satu jenerasi kejenerasi lainnya. Wright (1975) pula telah
menambahkan satu fungsi lagi iaitu hiburan.

Fungsi-fungsi media ini boleh memenuhi keperluan khalayak. Sedangkan keperluan
kognitif boleh dicapai atau dipenuhi oleh fungsi
pengawasan. Keperluan afektif dan pelepasan dapat dipenuhi oleh diversion dan fungsi hiburan.
Keperluan integratif personal pula dipenuhi oleh
fungsi identiti diri, dan keperluan integratif sosial
dipenuhi oleh fungsi perhubungan sosial.
Rajah 2.3 Model Kegunaan Dan Kepuasan Yang
diubahsuai Untuk Kepentingan Kajian











Untuk mempermudah model rajah 2.2,
kajian ini juga mempunyai model yang telah diubahsuai oleh pengkaji (lihat rajah 2.3). model ini
bermula daripada ciri-ciri sosio demografi iaitu
umur, pendidikan, pendapatan dan jantina yang
akan mempengaruhi minat seseorang. Minat menyebabkan mereka mendedahkan diri terhadap
media dengan harapan ia mendatangkan kegu-

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

naan. Apabila kegunaan tercapai, mereka akan
memperolehi kepuasaan dalam berbagai bentuk
media yang digunakan. Keadaan ini mempunyai
hubungan dengan penyertaan politik dan akan
membentuk kesadaran politik suatu bangsa.

Dalam tahap pengendalian, model kegunaan dan kepuasan telah menimbulkan berbagai
huraian. Dibawah kegunaan dan kepuasan, teori
besar, bermacam-macam teori berlindung dan
bertentangan satu sama lain (Blumler 1979:203).

Pembolehubah bebas meliputi pembolehubah yang terdiri dari data demografi seperti
jantina, umur dan faktor-faktor psikologi khalayak, serta pemboleh ubah persekitaran seperti
organisasi, sistem sosial dan struktur sosial.

Penggunaan media terdiri dari jumlah
waktu yang digunakan dalam berbagai media,
jenis isi media yang dipergunakan dan berbagai
hubungan antara individu yang mempergunakan
media dengan isi media yang dipergunakan atau
medi secara keseluruhan (Rosengren 1974:277).

Walaupun terdapat perbezaan dari segi
pendekatan tentang cara untuk mengukur keperluan-keperluan khalayak dan fungsi-fungsi media,
namun dalam kajian kegunaan dan kepuasan ini
terdapat beberapa andaian yang dipersetujui bersama, iaitu:
1. Penggunaan media adalah berdasarkan matlamat. Media massa digunakan untuk memenuhi keperluan tertentu. Keperluan ini
wujud dari persekitaran sosial.
2. Penerima atau khalayak memilih jenis media dan isi kandungan media untuk memenuhi keperluan mereka. Dengan itu khalayak
yang memulakan proses komunikasi, serta
merekalah yang boleh melentur media berdasarkan kepada keperluan masing-masing
dari membiarkan media untuk keperluan
mereka.
3. Terdapat sumber lain boleh memenuhi keperluan khalayak dan media massa terpaksa
bersaing dengan sumber-sumber tersebut.
4. Khalayak menyadari keperluan mereka dan
boleh melaporkan apabila ditanya. Khalayak
juga menyedari atas alasan apa mereka menggunakan media massa.


Sesuatu majalah misalnya bukanlah ia
19

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
dikeluarkan untuk semua orang (boleh memuaskan semua pihak), tetapi ditujukan kepada kumpulan pembaca tertentu yang mempunyai ciri-ciri
yang sama di dalam satu jumlah populasi yang
terdiri dari golongan yang sama, pekerjaan yang
sama, minat yang sama, dan juga mempunyai citrasa yang sama.

Kajian yang dijalankan oleh Schramm dn
White (1971), mendapati umur, pendidikan, jantina dan status sosio ekonomi adalah faktor-faktor
yang menentukan apakah jenis-jenis isi kandungan akhbar atau majalah yang hendak dibaca,
rancangan-rancangan radio dan televisyen yang
hendak didengar atau ditonto, dan bilakah masanya untuk berbuat demikian (dalam Harmoko
1993:126).

Secara amnya orang-orang muda lebih
gemar menggunakan suratkhabar untuk tujuan
hiburan, manakala pembaca dari golongan tua
menggunakan surat khabar untuk mendapatkan
maklumat-maklumat dan pandangan-pandangan
politik. Sedangkan orang dewasa pula lebih kepada membaca berita jika dibandingkan dengan
orang muda. Semakin tinggi kedudukan taraf
pendidikan seseorang itu, ia akan lebih cendrung
atau gemar menggunakan suratkhabar untuk tujuan mendapatkan maklumat, sebaliknya mereka
yang kurang taraf pendidikannya akan menggunakan suratkhabar adalah lebih kepada tujuan untuk mendapatkan hiburan.

Elliott (1974) pula, pendekatan ini adalah
satu pendekatan yang atheoritical dimana mereka yang mempeloporinya menganggap bahawa
setiap apa yang boleh diukur itu wujud dan jika ia
berhubungan ianya adalah signifikan. Oleh yang
demikian, pendekatan ini seolah-olah dianggap
sebagai kaedah pengumpulan data semata-mata
dan boleh dikatakan sebagai satu sistem perakaunan (Blumer & Katz 1974:15 ; Weiss 1976:33,
dalam Swanson 1977 : 214-221).

Pengkaji-pengkaji yang beranggapan pendekatan ini sebagai satu lapangan yang luas yang
membolehkan pelbagai gejala-gejala komunikasi
diterima selain dari menjadi model khusus perhubungan antara khalayak dengan komunikasi
massa. Tegasnya pendekatan ini adalah langkah
penyelidikan yang boleh menempatkan pelbagaipelbagai hipotesis mengenai gejala-gejala komuni20

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

kasi yang khusus dan sebagai bidang ujian kepada
proposisi-prposisi mengenai orientasi khalayak
yang lahirdari berbagai bidang ilmu seperti sosiologi dan psikologi (Blumer & Katz 1974:15)

Pandangan ini bertentangan dengan perspektif struktural/budaya yang menghuraikan bahawa di mana individu dianggap sebagai sebahagian daripada sistem yang kolektif dan bukannya
sistem yang bebas.

Apabila kita perhatikan pentingnya input
bagi suatu sistem, maka sistem tersebut harus
melaksanakan aktiviti-aktiviti komunikasi, sehingga maklumat tetap mengalir dan dapat menjadi input bagi sistem tersebut. Selanjutnya David
Eazton (dalam Arbit Sanit 1980:37) menjelaskan faktor input sistem politik, dibezakan antara
dua jenis yang sangat utama iaitu tuntutan dan
dukungan. Pertama, input ialah yang mendorong
sistem politik untuk lebih dinamik. Kedua, input
melengkapi sistem politik dengan usulan-usulan
dalam bentuk maklumat yang mendorong sistem
politik untuk berproses dan kedua input tersebut
merupakan tenaga penggerak bagi kelangsungan
hidup sistem politik.

Tanpa dukungan, tuntutan tidak akan
boleh dipenuhi atau konflik mengenai tujuan tidak
akan terselesaikan. Bila tuntutan memerlukan
respon atau tanggapan, anggota-anggota sistem
yang memperjuangkannya membuat keputusan
yang mengikat. Dan mereka ingin mempengaruhi
proses yang mampu memperolehi dukungan dari
pihak-pihak lain dalam sistem tersebut (Mas’oed
1984:10).

Tingginya tingkat penyertaan politik merujuk kepada tingkat kesadaran dan tingkat pemahaman masyarakat pada masalah politik cukup
tinggi, sehingga secara sukarela masyarakat ingin
melibatkan dalam aktiviti-aktiviti politik (Budiarjo 1982:1).

Selanjutnya penyertaan politik meliputi
berbagai jenis aktiviti yang dilakukan seseorang
individu dalam bidang politik. Melalui penyertaan
politk, seseorang itu boleh membukti dan menunjukkan minat, harapan dan kehendaknya terhadap politik (Verba 1972:9).

Penyertaan politik dapat ditinjau dari beberapa aspek lain, misalnya, penyertaan politik
dari segi bentuk, jenis dan dari segi kadar peny-

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

ertaan politik. Bentuk penyertaan politik dapat
proses politik.
dilihat daripada jenis aktiviti politik itu sendiri. 2. Spectator. Mereka yang melibatkan diri secara
Ada berbagai cara seseorang individu mengambil
minimal sahaja dalam sebahagian atau kesbahagian dalam politik, sama ada bercorak organemua lima aktiviti pertama seperti yang terdaisasi atau individu. Sedangkan kadar penyertaan
pat dalam hirarki penyertan politik. Misalnya
politik pula merujuk kepada kekerapan.
memperolehi maklumat politik, memilih dan

Kekerapan penyertaan politik pula merumembincangkan hal-hal politik.
juk kepada banyak sedikitnya penyertaan individu 3. Transitional. Golongan ini berada diantara
dalam politik. Aktiviti politik merupakn sebahagiSpectator dan Gladiators, mereka ini pada
an daripada kehidupan manusia. Maka kadar pemasa depan mungkin spectator atau gladiators
nyertaan politik banyak dipengaruhi oleh pelbabergantung kepada keadaan akan datang.
gai faktor sosial yang terdapat dalam masyarakat. 4. Gladiator. Mereka melibatkan diri dalam seMisalnya, dalam masyarakat terasing, politik pada
mua aktiviti menghadiri rapat umum, sangat
umumnya cenderung untuk mempunyai hubunaktif dalam parti politik menjadi calon, atau
gan rapat dengan aktiviti-aktiviti sosial lain. Nememegang jabatan dalam parti politik.
gara lain khususnya negara sedang membangun,
wujud institusi yang bercorak moden dan juga Rajah 2.4 : Model Penyertaan Politik
tradisional, sedangkan kadar penyertaan politik
mungkin dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan
komunikasi.

Satu ciri umum dalam penyertaan politik
lahan bersifat kumulatif dimana kita dapat bentuk satu hirarki tentang penglibatan dalam politik. Sifat kumulatif ini wujud karena orang-orang
melibatkan diri dalam aktiviti atau penyertaan
pada peringkat yang lebih tinggi, biasanya juga
melibatkan diri dalam aktiviti-aktiviti politik pada
peringkat rendah. Aktiviti-aktiviti yang mempunyai kadar yang tinggi terdapat dibawah hirrki serta
Aktiviti-aktiviti yang mempunyai kadar yang ren- Sumber : Harmoko 1993:632
dah sekali terletak di puncak hirarki itu, aktiviti
tersebut dapat di lihat pada model hirarki yang Rajah 2.5 : Penyertaan Politik dalam Komunikasi
dikemukakan oleh Harmoko (1993) (dipetik dari- Politik
pada Milbrath 1965:8).


Model hirarki dapat dilihat pada rajah 2.4.

dari rajah itu, terdapat empat belas jenis aktiviti

dalam hirarki tersebut. Aktiviti-aktiviti politik

yang terdapat dibawah merupakan Aktiviti-ak
tiviti yang biasa sekali dilakukan oleh masyarakat.

Makin naik keatas, makin kurang orang-orang

yang terlibat, sehingga ke puncak hirarki dimana

aktiviti hanya disertai oleh segolongan kecil.


Milbrath (1965:20-22) membahagiakan

yang terlibat dalam politik kepada empat golon
gan iaitu :

1. Apathetics. Golongan ini biasanya tidak terli
bat dalam mana-mana aktiviti politik, mereka

hanya Melibatkan secara pasif sahaja dalam

21

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Mas’oed (1985:45) mengatakan bahawa
bentuk-bentuk penyertaan politik konvensyenal
adalah bentuk yang normal dalam demokrasi
modern, sebaliknya non konvensyenal merupakan
aktiviti politik yang dilakukan secara kekerasan
atau revolusi, lihat rajah 2.5

Bentuk dan kekerapan penyertaan politik
dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai stabilitas politik, integrasi politik, dan kepuasan atau
ketidakpuasan warga negara.

Wainer (1971:164) mendefinisikan penyertaan politik iaitu setiap tindakan sukarela, yang
berhasil ataupun gagal, yang teroganisasi mahupun tidak, menggunakan cara yang sah ataupun
tidak untuk mempengaruhi pilihan-pilihan polisi
pemerintah, penyelenggaraan pemerintahan atau
pemilihan para pemimpin politik dan pemerintah
pada tingkat nasional mahupun daerah atau lokal.

Penyertaan politik masyarakat bergerak
ke arah yang lebih luas dalam proses politik sehingga pengaruh kaum intelektual dan komunikasi media massa moden sering mengemukakan
idea-idea seperti nasionalisme kepada masyarakat
umum untuk membangkitkan tuntutan akan penyertaan masyarakat yang luas dalam pembuatan
keputusanan politik.

Nelson membezakan penyertaan politik
dengan jenis prilaku iaitu :
a. Kegiatan pemilihan mencakup suara, kempen,
mencari dukungan bagi seorang calon, atau
setiap tindakan yang bertujan mempengaruhi
hasil proses pemilihan.
b. Mesyuarat mencakup upaya-upaya perorangan
atau kelompok untuk menghubungi pegawaipegawai pemerintah dan pimpinan politik dengan maksud mempengaruhi keputusan-keputusan mereka.
c. Kegiatan organisasi menyangkut penyertaan
sebagai anggota dalam suatu organisasi yang
tujuan utama adalah mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah.
d. Tindakan kekerasan berupaya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah
dengan jalan menimbulkan kerugian fisikal terhadap orang-orang atau harta benda (Nelson
1992:18)

22

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

nentuan agenda sebelum Mc Combs dan Shaw
(1968). Kemampuan media massa memberi kesadaran di kalangan individu sebagai fungsi komunikasi masa menentukan agenda. Di sinilah
terletaknya kesan komunikasi yang paling utama,
kemampuan mentalnya memberi arahan dan
menyusun hiduo masyarakat. Jadi media massa
mungkin tidak berjaya memberitahu apa yang
difikirkan, tetapi berjaya dalam memberitahu
perkara yang perlu difikirkan (Cohen 1963:13).

Penentuan agenda ditakrifkan sebagai
penghasilan isu atau berita yang menjadi keutamaan sama ada pada institusi (media atau parti
politik) atau pada publik. Karena itu model penentuan agenda mengandaikan adanya hubungan
positif antara penilaian yang diberikan khalayak
pada persoalan itu. Jadi apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh
khalayak (Becker 1982:530)

Kajian yang dilakukan oleh Mc Comb dan
Shaw (1968) sewaktu pilihanraya Presiden Amerika Syarikat, media tidak begitu signifiken dalam
mempengaruhi caramana publik memikirkan
sesuatu. Untuk itu mesej yang disampaikan kepada khalayak ramai berperanan dalam membentuk sesuatu agenda di bidang politik, ekonomi dan
sosial. Perubahan-perubahan dalam sistem yang
menyampaikan mesej boleh memberikan kesan
mendalam terhadap semua khalayak sasarannya.

Selanjutnya media dianggap mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi pemikiran
khalayak dengan menentukan agenda terhadap
apa yang dibincangkan dan difikirkan. Di antara
agenda yang dapat ditentukan oleh media ialah :
a. Menentukan apa yang akan difikirkan oleh
khalayak
b. Menentukan fakta yang boleh dipercayai oleh
khalayak
c. Menentukan apakah penyelesaian terhadap
sesuatu masalah
d. Menentukan tumpuan perhatian terhadap
sesuatu isu.
e. Menentukan apakah yang patut diketahui
oleh khalayak (Samsuddin 1991:56).

Kajian penentuan agenda kerap digunakan untuk mengkaji kesan media dalam pilihanCohen (1963) mmperkenalkan teori pe- raya di Amerika Syarikat. Mereka menonjolkan

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
isu tiap-tiap parti politik serta kelemahan parti
lawan melalui iklan-iklan politik, ceramah dari
rumah ke rumah, risalah dan lain-lainnya. Walaupun tidak banyak kajian yang menguji teori
penentuan agenda dalam kempen politik di Malaysia dan Indonesia, namun dapat diperhatikan
bahawa pimpinan-pimpinan politik berperanan
dalam menentukan polisi media sehingga mereka
mempunyai kekuasaan dalam membendung media massa secara keseluruhan.

Dalam kajian komunikasi politik khususnya Golkar di Kabupaten Bintan Tmur Propinsi Kepulauan Riau mempunyai pengaruh
antara agenda publik dengan agenda media tetapi
kecenderungan agenda publik lebih dominan, ini
berarti bahawa agenda publik lebih berpengaruh.
Walau bagaimanapun, media massa bukanlah
faktor mutlak menentukan agenda tetapi ada
pembolehubah lain yang perlu diambikira seperti
sosio ekonomi, pendapat publik, jenis media dan
sebagainya.

Dalam kajian ini, beberapa hipotesis telah
dibina untuk memandu pengkajian ini :
Hipotesis 1
Terdapat hubungan antara pendedahan media cetak dengan pencarian maklumat politik

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Terdapat hubungan antara pendidikan dengan pemilihan jenis rancangan
Hipotesis 8
Terdapat hubungan antara pendapatan dengan
pemilihan jenis rancangan
Hipotesis 9
Terdapat hubungan antara jantina dengan pemilihan jenis rancangan
Hipotesis 10
Terdapat hubungan diantara umur dengan penyertaan politik semasa pilihanraya
Hipotesis 11
Terdapat hubungan diantara umur dengan penyertaan politik semasa

Politik
Konsep politik mengandungi pengertian yang
agak luas. Ia dapat ditakrifkan sebagai usaha-uaha
penyelesaian untuk hidup bersama dalam suatu
masyarakat yang saling bergantung. Perlakuanperlakuan yang berbentuk politik adalah setiap
bentuk hubungan manusia yang jelas melibatkan
kuasa, undang-undang dan pihak berkuasa (Dahl
Hipotesis 2
1963:6). Dalam konteks kajian ini, politik adalah
Terdapat hubungan di antara umur dengan pende- bertemakan keadaan politik tempatan Indonesia
dahan media elektronik
dan lebih merupakan hal-hal pentadbiran negara
dan soial berkaitan dengan pemerintah dan parti
Hipotesis 3
politik.
Terdapat hubungan diantara pendidikan dengan
pendedahan media elektronik
Komunikasi Politik
Komunikasi politik biasanya berupa kata-kata terHipotesis 4
tulis atau lisan, atau simbol yang meneruskan erti
Terdapat hubungan antara pendapatan dengan atau pesan (Jack C. Plano 1985:164). Komunikasi
pendedahan media elektronik
politik merupakan maklumat yang berhubungkait
dari satu bahagian sistem politik kepada sistem
Hipotesis 5
sosial dan merupakan unsur dinamis dari suatu
Terdapat hubungan antara jantina dengan pende- sistem politik (Michael Rush 1977:243). Sistem
dahan media elektronik
politik merupakan subsistem daripada sistem sosial. Komunikasi politik adalah merujuk kepada
Hipotesis 6
aktiviti-aktiviti yang dijalankan oleh setengahTerdapat hubungan antara umur dengan pemili- setengah institusi yang tertentu yang ditubuhkan
han jenis rancangan
untuk menyebarkan maklumat, idea atau sikap
mengenai hal-hal pemerintah atau pentadbiran
Hipotesis 7
negara (Sills 1968:91). Institusi-institusi ini ada23

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
lah seperti media masa, agensi-agensi informasi
kerajaan dan pertubuhan politik. Dalam kajian
ini, perhatian adalah ditumpukan kepada usahausaha komunikasi Golkar Sahaja. Pada amnya,
penyaluran apa jua bentuk mesej yang berkenan
dengan sistem politik adalah dianggap komunikasi politik.
Kesan
Kesan merupakan suatu akibat iaitu yang timbul
dari hasil atau akibat dari suatu kejadian, juga kesan dapat dikatakan sebagai sesuatu peraaan atau
fikirkan yang timbul dari menyaksikan, mendengar dan membaca (Iskandar 1970:540).
Selanjutnya Klapper (1960:81-89), kesan dari komunikasi adalah banyak dan perbagai-bagai, yang
berlaku secara langsung atau tidak langsung. Di
sini ia telah mengaitkn kesan dengan kecenderungan yang timbul hasil proses komunikasi. Dalam
kajian ini, kesan merujuk pada hasil yang dicapai
seseorng membaca ataupun menonton media cetak maupun media elektronik.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

radio, televisyen, majalah dan akhbar.

Jadi yang dimaksudkan dalam kajian ini
adalah pendedahan kepada maklumat poliyik
hasil daripada membaca akhbar, majalah dan
mendengar radio ataupun menonton televisyen.
Media Massa
Media massa salah satu bentuk komunikasi yang
berpotensi dalam menyampaikan mesej kepada
masyarakat paumum. Media massa merangkumi
akhbar, majalah filem, radio dan televisyen.

Dalam kajian ini, pengkaji hanya memberikan tumpuan kepada media massa iaitu pertama media cetak berupa majalah nasional dan tempatan, kedua media elektronik berupa televisyen
(TVRI) dan radio (RRI).
Media Cetak
Merujuk kepada segala bentuk perantaraan atau
saluran komunikasi yang melibatkan bahan-bahan percetakan termasuk akhbar, dan majalah.

Media Elektronik
Ia merujuk kepada bentuk saluran komunikasi
Penyertaan Politik
yang melibatkan bantuan alat-alat elektronik.
Rush dan Althoff (1971:14) mendefinasikan peny- Saluran komunikasi yang digolongkan dalam
ertaan politik sebagai penglibatan individu pada media elektronik termasuklah Radio Republik
beberapa peringkat dalam satu sistem politik yang Indonesia (RRI), Televisyen Republik Indonesia
diertikan sebagai pola perhubungan manusia (TVRI). Media elektronik berserta dengan meyang tetap dan yang melibatkan kewibawaan dan dia cetak lebih dikenal dengan media massa kaperintah.
rena keupayaannya menemui khalayak yang besar

Selanjutnya penyertaan politik meliputi dalam jangkamasa yang singkat.
berbagai jenis aktiviti yang dilakukan seseorang
individu dalam bidang politik. Melalui penyer- Jenis rancangan
taan politik, seseorang itu boleh membukti dan Dalam kajian ini pengkaji menetapkan rancangan
menunjukkan minat, harapan dan kehendaknya adalah perogram Televisyen Republik Indonesia
terhadap politik (Verba1972:9). Dalam konteks (TVRI), dan juga jenis ruangan akhbar nasional
kajian ini penyertaan politik adalah aktiviti poli- dan tempatan. Rancangan yang di maksudkan
tik sesama pilihanraya dan politik semasa seperti tersebut warta berita daerah, warta berita daerah,
menyumbangkan masa dalam kempen politik, warta berita luar negeri. Sedangkan jenis ruangan
menyadari politik, menjadi calon parti politik, yang dimaksud adalah tajuk berita, berita dalam
memegang jawatan dalam parti dan sebagainya.
negeri, berita luar negeri.
Pendedahan
Pendedahan bermaksud ataupun peluag seseorang pengundi itu berhadapan dengan berbagaibagai jenis media masa atau bentuk penyebaran
maklumat yang digunakan oleh Golkar, misalnya
24

Maklumat Politik
Maklumat politik yang digunakan dalam kajian
ini merujuk kepada dasar negara yang berpunca
iaitu program pemerintah Indonesia yang dilaksanakan dipelbagai desa nelayan seperti instruksi

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Presiden Desa Tertinggal (IDT). Bantuan Desa
Kempen secara bersemuka itu didapati
(BANDES), Koran masuk Desa(KMD), Perkhid- tidak mendatangkan kesan yang signifikan dalam
matan Keluarga Berencana (KB).
mempengaruhi keputusan mengundi di dalam
pilihanraya British sungguhpun beribu-ribu
Profil demografi, yang terdiri :
orang penyokong parti telah keluar berkempen
a.Tingkat Pendidikan
untuk parti mereka. Ini menunjukkan bahawa
Dalam kajian ini pengkaji menetapkan bahawa masyarakat di Britain lebih menumpukan perhatingkat pendidikan ialah persekolahan yang dapat tian kepada media massa, khususnya radio dan
ditamatkan atau pelajaran terakhir yang mampu televisyen untuk maklumat-maklumat politik.
dicapai oleh seseorang, baik secara forml mahu-
Chaffee dan Mcleod (1973) mendapati bapun secara tidak formal.
hawa orang ramai tidak mengikuti suatu corak
maklumat yang boleh dikatakan tetap. Mereka
b.Tingkat Pendapatan
mendapati golongan orang yang lebih aktif dalam
Dalam konteks kajian ini ia bermaksud tingkat politik akan mencari maklumat tambahan yang
pendapatan yang diperolehi kepala keluarga se- pro-parti atau pro-calon yang mereka sokong itu.
cara kolektif bersama suami dan isteri.
Bagi orang yang menganggapkan diri mereka sebagai lebih berminat dalam politik mereka akan

Kajian-kajian masa lalu yang berkaitan berusaha lebih lagi, iaitu dengan mencari maklumeliputi kajian yang telah dikendalikan di Malay- mat-maklumat yang walaupun bertentangan densia dan/atau di luar negeri. Becker (1982) melihat gan parti yang mereka sokong itu dan juga makluhubungan pembolehubah demografi sedangkan mat-maklumat yang neutral).
Mendelsohn & O’keefe (1976) mengkaji tentang
Menurut Smith (1985), seseorang penkemampuan media untuk memuaskan keperluan gundi yang tidak berpihak kepada mana-mana
politik individu.
parti lebih merujuk kepada komunikasi politik.

McAllister (1985) telah menjalankan sua- Ini adalah karena mereka ingin mencari pantu kajian bandingan antara tiga cara berkempen duan dan meneliti persekitaran terlebih dahulu
semasa pilihanraya British pada tahun 1979 dan sebelum menentukan siapa untuk dipilih (Smith
1983. Hasil kajian beliau menunjukan bahawa ke- 1985:884).
san-kesan berkempen secara pengiklanan dalam
Russonello dan Wolf (1979:360) dalam kamedia ceak dan lawatan dari rumah ke rumah jian mereka mendapati bahawa liputan berita-berkesannya kecil sahaja. Sebaliknya cara penyiaran ita mengenai kempen pilihanraya telah meningkat
melalui media elektronik adalah lebih berkesan dan tertumpu kepada isu-isu berkempen, ciri-ciri
dan dapat menarik pertambahan undi untuk parti pribadi dan kebolehan calon yang bertanding itu.
Liberal sebanyak 1.5% pada tahun 1979 dan parti
Lazarsfeld (1968:123) dan rakan-rakan
bersekutu sebanyak 3.3% pada tahun 1983 (McAl- juga mendapati bahawa pendedahan kepada kolister 1985:499).
munikasi politik semasa kempen pilihanraya ada
Cara lawatan dari ruamh ke rumah se- lah ditumpu kepada sesuatu golongan masyarakat
bagimana yang dipanggil oleh McAllister adalah sahaja. Mereka yang terdedah kepada satu bentuk
melibatkan hubungan bersemuka atau interpeso- komunikasi juga akan terdedah kepada strategi konal antara calon dengan orang ramai seperti cer- munikasi yang lain (Lazarsfeld dan Rakan-Rakan
amah politik dan kempen dari rumah ke rumah. 1968:123). Mereka ini adalah golongan yang lebih
Pengiklanan politik termasuk iklan-iklan yang di akrif dan terdedah kepada kempen pilahanraya.
terbitkan dalam akhbar-akhbar harian serta ma- Golongan ini juga adalah yang telah membuat
jalah-majalah dan poster-poster. Penyiaran politik keputusan siapa untuk dipilih dalam pilihanraya.
melalui radio dan televisyen itu bukanlah suatu Jadi pendedahan komunikasi politik menurut Labentuk pengiklan karena parti-parti politik yang zarsfeld, et.al tidak begitu meluas, malah tertumpu
bertanding dalam pilihanraya diberikan masa si- kepada segolongan masyarakat yang sama sahaja.
aran terhad.
media massa adalah tidak begitu menonjol dalam
25

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
membawa maklumat politik kepada orang ramai.

Semasa pilihanraya presiden Amerika
Syarikat 1976 Robert (1979) meneliti bahawa lebih ramai orang yang merujuk kepada alat sebaran
am untuk maklumat-maklumat mengenai calon
dan parti yang bertanding itu, serta juga isu-isu
berkempen. Bagi mereka yang belum tentu siapa
untuk dipilih, mereka akan merujuk kepada sebaran am untuk maklumat lanjut. Jadi media massa yang orang ramai rujuk itu dari suatu segi dapat mempengaruhi dan dari segi yang lain dapat
membantu mereka membuat keputusan pengundian. Satu lagi kebiasaan yang diperhatikan oleh
Robert ialah orang-orang yang tidak aktif atau
berminat dalam hal-hal politik tidak akn terdedah kepada usaha-usaha komunikasi secara terus
(Robert 1979:795). Mereka ini tidak akan menghadiri ceramah politik, membaca risalah politik
dan sebagainya. Mereka lebih merujuk kepada alat
sebaran am sahaja. Calon-calon yang bertanding juga lebih kerap menggunakan media massa
sebagai saluran komunikasi yang utama untuk
berkempen dan berhubungan dengan orang ramai. Media massa juga merupakan sumber maklumat politik yang pendek dan ringkas dan dapat
menolong mereka membuat keputusan (Robert
1979:802).

Ahmad Atory (1985) semasa kempen pilihanraya umum pada tahun 1986 menumpukan
perhatian kepada cara-cara berkempen DAP di
Pulau Pinang.beliau mengkaji lebih spesifik isuisu dan cara-cara yang digunakan DAP. Hasil daripada cara berkempen parti itu adalah lebih berkesan seperti cara kempen rumah ke rumah.

Sungguhpun dikatakan media masa tidak
begitu berkean, namun peranan beberapa penulis
artikel atau berita di dalam media cetak didapati
telah mendedahkan unsur-unsur yang berkaitan
dengan dasar pemerintah yang walaupun ada
yang baik, juga terdapat yang buruk. Ini secara
tidak langsung memberi sokongan moral dan
populariti kepada parti pembangkang.

Ahmad Atory juga mendapati siri ceramah
dan risalah DAP lebih berat kepada penyokongpemyokong parti sahaja dan ianya tidak begitu
berkesan dalam mempengaruhi orang yang bukan
penyokong parti. Masa berkempen yang pendek
itu juga tidak memberikan orang ramai peluang
26

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

untuk membuat pertimbangan atau penilaian terhadap isu-isu berkempen yang dibangkitkan. Ini
menyebabkan orang ramai yang terdedah kepada
strategi komunikasi DAP menerima bulat-bulat
sahaja apa yang dibangkitkan itu.

Siti Hajar Man (1986), telah mengkaji pendedahan maklumat politik dikalangan
masyarakat di Bukit Raya Kedah. Beliau menumpukan kajian beliau kepada alat-alat sebaran am
dan saluran bersemuka. Dari hasil kajian beliau
mendapati sebilangan masyarakat di situ tidak
menggunakan dengan jelas maklumat-maklumat
yang disampaikan melalui alat sebaran am itu. Sebaliknya mereka lebih memakai komunikasi bersemua seperti perbincangan dengan Jiran, kawan,
pemimpin agama, pemimpin politik tempatan. Ini
merujuk bahawa komunikasi interpersonal lebih
berjaya membawa mesej kepada orang ramai berbanding dengan media selebaran am (Siti Hajar
Mat 1986:43-46).

Menurut Milbrath dan Goel (1977) penyertaan politik mengambil kira pendekatan yang
sama dan menggambarkan dengan jelas kebergantungan penyertaan politik yang berhubungan
antara kegiatan atau aktiviti-aktiviti politik dengan faktor-faktor. Faktor-faktor tersebut adalah
socio-ekonomi yang mempengaruhi aktiviti-aktiviti dalam penglibatan politik. Didapati bahawa
pengundi yang berpendapatan tinggi di Chicago
(USA) akan melibatkan diri dalam penyertaan
politik, sedangkan masyarakat yang berpendapatan rendah sama sekali tidak melakukan diri
dalam aktiviti politik.

Kajian Verba dan Nie (1972) mendapati
status sosio ekonomi, khususnya pendidikan,
lebih berperan dalam melibatkan diri dalam kempen-kempen politik. Dengan tingkat pendidikan
yang tinggi masyarakat cenderung untuk ikut serta dalam kegiatan politik semasa.

Goel (1975) menggariskan dua daripada
pembolehubah penyertaan politik dalam suatu
kajian: (1) Sosio ekonomi atau pembolehubah
demografi iaitu tempat kediaman, pendidikan,
pekerjaan, pendapatan, umur, status perkawinan,
jantina, agama, kasta, pendedahan media massa,
pergerakan geografi, sedangkan (2) pembolehubah sikap atau psikologi iaitu maklumat politik,
sikap terhadap pembabitan dalam bidang politik,

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
pemilihan parti, penilaian terhadap parti, perasaan untuk bersaing secara tidak menindas.

Hasil kajian menunjukan bahawa faktor
jarak ditentukan oleh sosio ekonomi yang berhubungkait dengan faktor sebab yang langsung
iaitu sikap yang wujud dalam individu dan kepercayaan sehingga ia membentuk penyertaan politik
suatu bangsa.

Kajian ini menyelidik tanggapan
masyarakat nelayan di Kabupaten Bintan Propinsi
Kepulauan Riau terhadap maklumat politik parti
Golkar didalam media masa. Untuk mendapatkan
data yang boleh dipercayai dan sah, pemilihan
teknik-teknik yang berpatutan sangat penting.
Bab inimembincangkan kaedah yang digunakan
untuk menjalankan kajian ini.
Kajian ini dijalankan di Kecamatan Bintan dengan Ibu Negeri Kijang Kabupaten Bintan Kepulauan Riau Kecamatan Bintan Timur merupakan
sebuah Kecamatan yang terkena projek SIJORI
(Singapore, Johor, Riau) dan ia merupakan salah
satu Kecamatan yang ada dikawasan Kabupaten
Bintan Kepulauan Riau, dengan punca pendapatan penduduk adalah nelayan. Kecamatan Bintan
Timur merupakan salah satu Kecamatan terluas
di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau, mempunyai keluasan daerah 394.8 km dengan jumlah penduduk 41,042 orang. Kecamatan Bintan Timur
mempunyai sebanyak 8 kemukiman dengan jumlah desa 46 buah.

Di bahagian selatan Bintan Timur yang
terdiri kawasan berbukit, kehidupan masyarakat
tertumpu di sektor pertanian. Berbagai tanaman,
baik itu tanaman keras seperti kelapa, durian, getah, buah-buahan dapat diperoleh dari kawasan
ini.

Punca pendapatan penduduk di Kabupaten ini juga tertumpu di sektor pertanian bagi
mereka yang bertempat tinggal di bahagian Selatan. Sedangkan bagi mereka yang mendiami bahagian utara, mata pencarian penduduknya tertumpu di sektor nelayan. Secara umumnya, kaum
yang mendiami kecamatan ini sangat homogen
iaitu terdiri daripada kaum Melayu sahaja dan sebahagian kecil sekali terdiri dari kaum Bugis, Buton, Jawa, Bawean, Batak, Minang dan Cina.

Ibu Negeri Kecamatan Bintan ialah Kijang.
Pekerjaan utama penduduk Kijang adalah sebagai

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

ahli perniagaan dan pekerja diberbagai syarikat
dan agensi kerajaan.

Kecamatan Bintan ini udah tergolong
kurang maju. Berbagai suratkhabar dari Tanjung
Pinang tidak diperolehi di Kecamatan ini tetapi
hambir sebahagian penduduk di desa ini memiliki
radio dan televisyen.

Kabupaten Bintan Kepulauan Riau terletak
4-51 Lintang Utara dan 109 Bujur Barat dengan
keluasan daerah 6,381.92 Km2 serta berbatasan
sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Selat Sumatera/Selat Melaka, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Kepulauan Riau, sebelah Barat dengan Kotamadya Batam.

Kabupaten Bintan Kepulauan Riau terletak rata-rata 308 meter diatas permukaan laut
dengan jumlah penduduk menurut hasil banci
1993 berjumlah 702,639 orang yang tersebar di 18
Kecamatan.

Penduduk Kabupaten Bintan Kepulauan
Riau kehidupan masyarakatnya telah bercampur bersama-sama suku-suku pendatang lainnya seperti suku Jawa, Batak, Minang, Bugis, dan
lain-lain. Demikian juga bahasa yang digunakan
mereka berbeza antara satu dengan lain. Walaupun bagaimanapun, hampir semua kaum ini memahami bahasa Melayu, karena bahasa Melayu
merupakan bahasa pengantar sesama mereka di
samping bahasa Indonesia yang juga selalu digunakan.

Secara geografis, Kabupaten Bintan Kepulauan Riau bahagian dari Propinsi Daerah Tingkat I Riau. Sesuai dengan kedudukannya Kabupaten Bintan Kepulauan Riau juga mengandung
kekayaan alam, iaitu hutan yang luas dengan
menghasilkan berbagai jenis kayu. Hasil hutan ini
seperti rotan, kayu bakau dan lain-laian, biasa diolah di kijang-kijang tempatan sebelum di export
keluar negeri. Daerah pantai yang masih banyak
menghasilkan kayu bakau, dan kayu bakau ini
seterusnya diolah untuk dijadikan arang telah dijadikan sebagai salah satu bahan untuk dieksport
ke Singapura dan Malaysia. Hasil pertanian yang
utama yang lain ialah sayur-mayur, buah-buahan
dan lain-lain.

Pekerjaan utama penduduk Kepulauan
Riau antara lain ialah sebagai nelayan, petani dan
peniaga terutama bagi mereka yang tinggal di desa27

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
desa. Bagi mereka yang tinggal di bandar di samping berniaga, mereka juga melibatkan diri dalam
sektor pertanian tetapi kebanyakan mereka bekerja di pejabat-pejabat kerajaan dan swasta serta
di kijang-kijang yang terdapat disekitar Kecamatan Bintan Timur, Kecamatan Kundur, Kecamatan
Daik, Kecamatan Dabo Singkep dan lain-lainya.

Dalam penyelidikan ini, pengkaji melalui
beberapa tahap untuk memilih sampel. Pertamanya ialah sampel bagi setiap perkampungan nelayan,
yang merupakan ‘universe’ bagi penyelidikan ini.
Pengkaji memilih sampel bagi setiap perkampungan nelayan ini dengan menggunakan kaedah persampelan bertujuan. Responden juga mendaftar
sebagai pengundi dan pernah mengundi.

Tatacara yang biasa dalam persampelan
rawak ialah memberikan setiap perkampungan
nelayan satu nombor atau setiap unit persampelan
dalam rangka persampelan, pengkaji mencabut
nombor tersebut secara rawak tanpa berdasarkan kepada pola-pola tertentu. Bagi persampelan
berkelompok, 18 perkampungan nelayan dijadikan
sebagai populasi. Undi dikelompokkan berjumlah
10 perkampungan nelayan. Dalam persampelan
tersebut 30 kepala keluarga setiap perkampungan
nelayan dipilih sebagai sampel. Ini disusuli dengan menentukan beberapa jalan pelantar maupun
lorong yang dipilih untuk kajian. Beberapa jumlah
rumah yang terdapat di setiap pelantar mahupun
lorong dikenalpasti dalam kawasan berkenaan. Ini
untuk mempermudah pengkaji dalam pemilihan
responden.

Syarat utama dalam pemilihan sampel ini,
Pertama, responden yang dijadikan sampel mestilah penduduk asli Kecamatan Bintan Timur.
Kedua, responden yang akan menjadi sampel memiliki atau pernah terdedah kepada media massa,
ikut mengundi dalam pilihanraya serta mencapai
berumur 18 tahun ke atas. Seramai 300 responden
dipilih untuk ditemubual. Jika tidak terdapat seorangpun responden sebagai ketua rumah maka
pengkaji membuat gantian di rumah yang lain
pula atau kembali lagi ke rumah semula.

Menurut Arabi dan Safar (1993), dalam
kajian komunikasi politik, pengkaji akan tertarik
dengan berbagai-bagai peroalan. Maka pengkaji
dapat menetapkan kajian ke atas beberapa komponen, seperti berikut :
28

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

1. Sumber : Ahli politik sebagai sumber berita.
Soalan yang dapat dikaji adalah berkenan kesahihan penerimanya dan ideologinya.
2. Saluran dan utusan : Perkara yang diminati
ialah utusan ahli politik dan juga imej yang
ditonjolkan dalam media massa.
3. Khalayak : Yang menjadi tumpuan adalah
bagaimana khalayak mencari dan menerima
maklumat politik, dengan tujuan membuat
keputusan semasa mengundi.

Kajian terhadap khalayak biasanya menggunakan kaedah tinjauan (survey) sedangkan kajian terhadap utusan lebih menggunakan kaedah
analisis isi kandungan. Jadi kajian tentang liputan
berita menggunakan kaedah analisis isi kandungan sementara kajian-kajian tentang tanggapan
atau pandangan orang ramai terhadap pemimpin
atau pemilihan bahan maklumat politik dilakukan
melalui kaedah tinjauan (survey).

Perkara penting dalam kaedah tinjauan
ini adalah memastikan keseragaman (standardization) dalam segala proses pelaksanaan tinjauan
yang bermula dari pembentukan soalselidik sehingga sampai kepada penemubual menjalankan
temubualnya. Untuk mencapai keseragaman ini
penemubual perlu diberi latihan dan praujian ke
atas soalselidik (Blalock & Blalock 1982-100),

Untuk kajian ini, pengkaji menggunakan
soalselidik yang dibacakan kepada responden.
Penginterbiu mencatat segala jawaban yang diberikan oleh responden mengikut ruang yang
disediakan dalam soalselidik.

Soalselidik yang ada pada umumnya terdiri daripada bentuk soalan tertutup, dimulakan
dengan meminta responden memberikan jawaban
tentang profil demografi. Tujuh pembolehubah
utama dalam kajian ini iaitu pendedahan media
massa, maklumat politik, pemilihan jenis ruangan,
pemilihan rancangan, sosio ekonomi, penyertaan
politik semasa pilihanraya serta penyertaan politik semasa. Pembolehubah tersebut diukur melalui
soalan yang ditadbirkan melalui soalselidik.

Responden juga ditanyakan tentang penyertaan dalam komunikasi politik Golkar melalui
saluran pendedahan media massa. Bagi mengawas
pembolehubah ini satu soalan tentang kegemaran
membaca ruangan suratkhabar ditanyakan bagi

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
mengetahui sejauhmana kekerapan responden
menyertai kegiatan politik untuk mendapatkan
dukungan bagi parti Golkar.

Beberapa soalan bagi mencungkil minat
responden dibentuk berdasarkan kepada kecenderungan responden untuk memperoleh sesuatu
maklumat yang bersesuaian dan boleh memuaskan
dirinya. Bagi memastikan keberkesanan komunikasi politik Golkar dan responden ditanyakan
pengetahuan am seperti ahli-ahli politik peringkat
daerah mahupun cawangan dan sebagainya.

Pengkaji juga merencnakan setiap soalselidik mengambil masa antara 10 hingga 15 mini sahaja. Dengan masa yang singkat ini pengkaji mencoba untuk mengelakan. Parasa bosan responden
atau sebarang gangguan kepada urusan atau masa
mereka. Untuk memperolehi data sah, pengkaji
menetapkan beberapa kategori dalam soalselidik.

Dalam pengujian hopotesis yang mana
pengkaji membicangkan secara terperinci tentang
hubungan media (cetak mahupun media elektronik) dengan penyertaan politik. Hubungan ini
tidak boleh dipisahkan dalam komunikasi politik
Golkar di Indonesia. Dalam analisis ini juga pengkaji menguji hipotesis dengan mempergunakan
kaedah Khi Kuasa Dua.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

mikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan pembedahan media cetak dengan
maklumat politik adalah diterima (sila rujuk lampiran1).

Kesimpulan yang diperoleh dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan yang berarti pembedahan media cetak dengan maklumat politik.
Khalayak yang terdedah kepada media cetak khususnya akhbar nasional mempunyai tahap maklumat politik dikategorikan rendah.
Hipotesis 2 :
Terdapat hubungan diantara umur dengan pembedahan media elektronik.

Jadual 4. 31 :
Penjadualan silang diantara umur dengan pembedahan media elektronik.

PEMBAHASAN
Hipotesis 1 :

Ujian khi kuasa dua ialah 66.4 pada darTerdapat hubungan antara pendedahan media jah kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. didacetk dengan pencarian maklumat politik.
pati hubungan ini adalah signifikan kerana nilai
x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terda pat hubungan diantara umur dengan pendedahan
media elektronik adalah diterima (sila rujuk lam piran 2).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipote
sis ini ialah, terdapat hubungan bererti di antara
umur dengan pendedahan media elektronik khu susnya RRI. Khalayak yang terdedah kepada me dia elektronik golongan dewasa sahaja.
Jadual 4.30: Penjadualan silang pendedahan media cetak
dengan pencarian maklumat politik.

Hipotesis 3 :
Terdapat hubungan diantara pendidikan dengan

Ujian khi kuasa dua ialah 20.74 pada darpendedahan media elektronik.
jah kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah signifikan karena nilai
x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. Oleh yang de29

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

pendapatan dengan pendedahan media elektronik
adalah diterima (sila rujuk lampiran 4).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, hubungan tingkat pendapatan ketiga-tiga kategori responden ini tidaklah menunjukkan
banyak hubungan. Khalayak yang terdedah kepada media elektronik yang berpendapatan purata
relatif rendah iaitu kurang dari Rp150,000 rupiah
sebulan.
Jadual 4.32: Penjadualan silang diantara pendidikan dengan
pembedahan media elektronik.

Hipotesis 5 :
Terdapat hubungan antara jantina dengan pende
Ujian khi kuasa dua ialah 34.69 pada dar- dahan media elektronik.
jah kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. Didapati hubungan ini adalah signifiken kerana nilai
x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. Oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan di antara pendidikan dengan pendedahan media elektronik adalah diterima (sila rujuk
lampiran 3).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis ini ialah, terdapat hubungan bererti di antara
pendidikan dengan pendedahan media elektronik Jadual 4.34: Penjadualan silang jantina dengan pendedahan
media elektronik.
tingkat pendidikan tidak tamat Sekolah Dasar
(SD) adalah agak rendah dari semua kategori.

Ujian khi kuasa dua ialah 18.5 pada darjah
kebebasan (df=2) di aras keertian 0.05. Didapati
Hipotesis 4 :
hubungan ini adalah signifiken kerana nilai x2
Terdapat hubungan antara pendapatan dengan
melebihi nilai kritikal iaitu 5.99. oleh yang demikipendedahan media elektronik.
an hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan
jantina dengan pendedahan media elektronik diterima (sila rujuk lampiran 5).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah terdapat hubungan yang bererti antara
jantina dengan pendedahan media elektronik.
Perempuan lebih berminat mendengar siaran RRI
dari lelaki dengan pola penumpuan masa purata 2
hingga 4 jam seminggu.
Jadual 4.33:Penjadualan silang pendapatan dengan pendedahan media elektronik.

Ujian khi kuasa dua 36.68 pada darjah
kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. Didapati
hubungan ini adalah signifiken kerana nilai x2
melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan
30

Hipotesis 6 :
Terdapat hubungan antara dengan pemilihan jenis
ruangan.

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Jadual 4.35: Penjadualan silang umur dengan pemilihan
jenis ruangan.

Ujian khi kuasa dua ialah 54.9 pada darjah kebebasan (df=8) di aras keertian 0.05. Didapati hubungan ini adalah signifiken kerana nilai
x2 melebihi nilai kritikal iaitu 15.51. Oleh yang
demikian hipotesis yang menyatakan terdapat
hubungan umur dengan jenis pemilihan ruangan
adalah diterima (sila rujuk lampiran 6).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan yang bererti antara
umur dengan jenis pemilihan ruangan khususnya akhbar nasional. Khalayak yang hanya sahaja
terdedah pada jenis pemilihan ruangan hiburan
dengan kelompok umur dewasa. Malah jika
diperhatikan jumlah responden bagi kelompok
usia muda antara 20 hingga 30 tahun adalah agak
rendah dalam semua kategori.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

hubungan ini signifiken kerana nilai x2 melebihi
nilai kritikal iaitu 9.94. oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan
pendidikan dengan pemilihan jenis rancangan
adalah diterima (sila rujuk lampiran 7).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan yang bererti antara
pendidikan dengan pemilihan jenis rancangan
khususnya TVRI. Khalayak yang berminat pada
rancangan lagu hiburan dalam negeri relatif tinggi
dengan tingkat pendidikan responden purata tamat Sekolah Dasar (SD).
Hipotesis 8 :
Terdapat hubungan antara pendidikan dengan pemilihan jenis rancangan.

Jadual 4.37: Penjadualan silang pendapatan dengan pemilihan jenis ruangan.

Hipotesis 7 :

Ujian khi kuasa dua ialah 58.33 pada darTerdapat hubungan antara pendidikan dengan pe- jah kebebasan (df=8) di aras keertian 0.05. Didamilihan jenis rancangan.
pati hubungan ini adalah signifikenkarena nilai x2
melebihi nilai kritikal iaitu 15.51. Oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan pendapatan dengan pemilihan jenis
rancangan diterima (sila rujuk lampiran 8).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah terdapat hubungan yang bererti antara
pendapatan dengan pemilihan jenis ruangan khususnya akhbar tempatan. Khalayak berminat pada
jenis ruangan hiburan dengan tingkat pendapatan
purata kurang dari Rp 150,000 sebulan.
Jadual 4.36: Penjadualan silang pendidikan dengan pemilihan jenis rancangan.

Hipotesis 9 :
Terdapat hubungan antara jantina dengan pemiliUjian khi kuasa dua ialah 90.1 pada darjah ke- han jenis rancangan.
bebasan (df=4) di aras keertian 0.05. Didapati
31

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 13.18 pada darjah kebebasan (df=4) di aras
keertian 0.05. Didapati kecil hubungan ini adalah
tidak signifiken kerana nilai x2 lebih besar nilai
kritikal iaitu 9.94. oleh yang demikian hipotesis
daripada nilai kritikal iaitu 9.49. oleh yang demikian hipotesis terdapat hubungan umur dengan
item membuang undi adalah diterima (sila rujuk
lampiran 10).
Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
Jadual 4.38: Penjadualan silang jantina dengan pemilihan
jenis rancangan.
ini ialah, terdapat hubungan yang bererti antara
umur dengan item membuang undi. Malah jika

Ujian khi kuasa dua ialah 1.36 pada darjah diperhatikan khalayak membuang undi adalah
kebebasan (df=2) di aras keertian 0.05. Tidak di- bagi kelompok umur usia muda, dewasa dan tua
dapati hubungan ini yang signifiken kerana nilai adalah agak tinggi dalam semua kategori.
x2 lebih kecil nilai kritikal 5.99. Oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan
jantina dengan pemilihan jenis rancangan ditolak
(sila rujuk lampiran 9).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis ini ialah tidak terdapat hubungan yang bererti
antara jantina dengan pemilihan jenis rancangan
khususnya TVRI. Khalayak baik lelaki mahupun
perempuan tertumpu pada jenis rancangan lagu
hiburan dalam negeri.
Hipotesis 10 :
Terdapat hubungan di antara umur dengan penyertaan politik semasa pilihan raya.

Ujian hipotesis ini hanya melihat hubungan umur dengan penyertaan politik semasa pilihan raya dan penyertaan politik semasa, yang
berdasarkan item-item pembolehubah berkenaan.
Pengujian hipotesis ini secara keseluruhan pula
menggunakan ujian khi kuasa dua dengan aras
signifiken 0.05.

Jadual 4.39: Penjadualan silang hubungan umur dengan
item mengundi.

32

Jadual 4.40: Penjadualan silang umur dengan item
berkempen.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 4.0096 pada darjah kebebasan (df=4) di aras
keertian 0.05. Didapati hubungan ini adalah tidak
signifiken kerana nilai x2 lebih kecil nilai kritikal iaitu 9.94. oleh yang demikian hipotesis yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan umur dengan item pergi berkempen PPP dan PDI adalah
tolak (sila rujuk lampiran 11).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis ini ialah, tidak terdapat hubungan yang bererti
umur dengan item pergi berkempen. Malah jika
diperhatikan jumlah responden berkempen parti
PPP dan PDI bagi kelompok umur usia muda,
dewasa dan tua adalah agak tinggi dalam semua
kategori.

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan umur dengan item
pelekat kereta. Malah jika diperhatikan jumlah
responden memakai pelekat adalah agak tinggi
dalam semua kategori.

Jadual 4.41: Penjadualan silang umur dengan item menampal poster

Sungguh begitu, ujian khi kuasa dua ialah
39.87 pada darjah kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah signifiken
kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94.
oleh yang demikian hipotesis terdapat hubungan
umur dengan item menampal poster Golkar diterima. (sila rujuk lampiran 12).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan yang bererti umur
dengan menampal poster. Malah jika diperhatikan
jumlah responden menampal poster parti Golkar
bagi kelompok umur usia muda, dewasa dan tua
adalah agak tinggi dalam semua kategori.

Jadual 4.44: Penjadualan silang hubungan umur dengan
item perbincangan.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua ialah
99.79 pada darjah kebebasan (df=4) di aras keertian
0.05. didapati hubungan ini adalah signifiken kerana
nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. oleh yang
demikian hipotesis yang menyatakan hubungan diantara umur dengan item perbincangan parti Golkar
adalah diterima (sila rujuk lampiran 15).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan umur dengan item
perbincangan parti Golkar. Malah jika diperhatikan jumlah responden yang melibatkan diri dalam
perbincangan bagi kelompok umur usia muda dan
dewasa adalah tinggi dari kedua kategori.
Hipotesis 11 :
Terdapat hubungan di antara umur dengan penyertaan politik semasa

Jadual 4.43: Penjadualan silang hubungan umur dengan
item pelekat.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 43.43. pada darjah kebebasan (df=4) di aras
keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah signifikan kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu
9.49. oleh yang demikian hipotesis menyatakan
bahwa terdapat hubungan umur dengan item
pelekat kereta PPP dan PDI adalah diterima (sila
Jadual 4.45: Penjadualan silang hubungan diantara umur
rujuk lampiran 14).
dengan item memegang jawatan.
33

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 87.96. pada darjah kebebasan (df=4) di aras
0.05. Didapati hubungan ini adalah signifiken kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. oleh
yang demikian bahwa hipotesis yang menyatakan
hubungan di antara umur dengan penyertaan
politik semasa pada item memegang jawatan Golkar (sila rujuk lampiran 16).

Kesimpulan yang diperolehi dair hipotesis ini ialah, terdapat hubungan umur dengan
item memegang jawatan parti Golkar. Malah jika
diperhatikan jumlah responden memgang jawatan dengan kelompok usia muda, dewasa dan tua
adalah tinggi dalam semua kategori.

Jadual 4.46: Penjadualan silang diantara umur dengan item
aktif dalam organisasi.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 2.79 pada darjah kebebasan (df=4) di aras
keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah tidak
signifiken kerana nilai x2 lebih kecil daripada nilai
kritikal iaitu 9.94. oleh yang demikian hipotesis
yang menyatakan terdapat hubungan diantara
umur dengan penyertaan politik pada item aktif
dalam organisasi adalah ditolak (sila rujuk lampiran 17).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, tidak terdapat hubungan umur dengan
item aktif dalam organisasi. Malah jika diperhatikan jumlah responden melibatkan diri dalam
organisasi politik bagi kelompok umur usia tua
adalah agak rendah dalam semua kategori

34

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Jadual 4.47: Penjadualan silang hubungan di antara umur
dengan item anggota Golkar.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 73.36 pada darjah kebebasan (df=4) di aras
0.05. didapati hubungan ini adalah signifiken kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. Jadi
hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan
diantara umur dengan penyertaan politik semasa
pada item sebagai anggota Golkar diterima (sila
rujuk lampiran 18).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, tidak terdapat hubungan umur dengan
item Golkar. Malah jika diperhatikan jumlah responden sebagai anggota Golkar kelompok umur
usia muda, dewasa tua adalah tinggi dalam semua
kategori.

Jadual 4.48: Penjadualan silang diantara umur dengan item
terlihat dalam kegiatan mesyuarat

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 87.45. pada darjah kebebasan (df=4) di aras
keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah signifiken kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal ialah
9.49. oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan diantara umur
dengan penyertaan politik semasa pada item terlibat dalam mesyuarat diterima (sila rujuk lampiran
19).

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan umur dengan item
terlibat dalam mesyuarat. Malah jika diperhatikan
jumlah responden kelompok umur usia muda,
dewasa dan tua adalah agak tinggi dalam semua
kategori.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua ialah
56.61 pada darjah kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. melebihi nilai kritikal iaitu 9.94. oleh
yang demikian hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan di antara umur dengan penyertaan
politik Golkar adalah diterima (sila rujuk lampiran 21).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan umur dengan item
perdebatan politik Golkar. Malah jika diperhatikan jumlah responden dalam perdebatan politik
adalah agak tinggi kelompok usia muda, dewasa
dan tua dalam semua kategori.

Jadual 4.49: Penjadualan silang di antara umur dengan item
menyumbangkan masa

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua ialah
96.74. pada darjah kebebasan (df=4) di aras keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah signifiken
kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu 9.94.
oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan
terdapat hubungan di antara umur dengan penyertaan politik semasa pada item menyumbangkan
masa untuk Golkar adalah diterima (sila rujuk
lampiran 20).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis
ini ialah, terdapat hubungan umur dengan item
menyumbangkan masa untuk Golkar. Malah jika
diperhatikan jumlah responden melibatkan diri
kegiatan politik Golkar bagi kelompok usia muda,
dewasa dan tua adalah agak tinggi dalam semua
kategori.

Jadual 4.51: Penjadualan silang hubungan diantara umur
dengan item minat dalam politik.

Sungguhpun begitu, ujian khi kuasa dua
ialah 163.3. pada darjah kebebasan (df=4) di aras
keertian 0.05. didapati hubungan ini adalah signifiken kerana nilai x2 melebihi nilai kritikal iaitu
9.94. oleh yang demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan di antara umur
dengan penyertaan politik semasa pada item berminat dalam politik Golkar adalah diterima (sila
rujuk lampiran 22).

Kesimpulan yang diperolehi dari hipotesis ini ialah, terdapat hubungan umur dengan
item berminat dalam politik Golkar. Malah jika
diperhatikan jumlah responden berminat politik
Golkar adalah bagi kelompok umur usia muda,
dewasa, dan tua tinggi dalam semua kategori.

SIMPULAN

Pendedahan masyarakat nelayan di Kecamatan Bintan Timur terhadap komunikasi
Jadual 4.50: Penjadualan silang hubungan di antara umur politik Golkar melalui saluran media massa
dengan item perdebatan politik.
tidak seimbang. Ini karena hampir sebahagian
35

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
masyarakat nelayan di Kecamatan Bintan Timur
memiliki radio dan televisyen, sedangkan taburan
penggunaan media cetak iaitu akhbar dan majalah pendistribusian tidak merata. Ertinya pendistribusian hanya pada peringkat kabupaten,
sedangkan Kecamatan dan desa hanya sahaja akhbar tempatan dengan biaya yang relatif murah.
Kekerapan dalam penggunaan media cetak relatif
rendah. Jika dibandingkan keterlibatan dalam aktiviti-aktiviti politik

Dari segi aspek kegunaan media di kalangan responden, media yang kurang digunakan
ialah TVRI, serta akhbar tempatan, sedangkan
yang dikategorikan kadang-kadang penggunaannya iaitu RRI, majalah serta akhbar nasional. Biasanya pembacaan akhbar dan majalah ini dikaitkan dengan tingkat pendidikan karena mereka
boleh membaca adalah yang mempunyai pelajaran atau sekurang-kurangnya kenal huruf. Oleh
sebab itulah perkembangan media cetak dalam
sesebuah negara itu bergantung pada akhbar kenal huruf di kalangan penduduknya.

Satu lagi pembolehubah yang sering dikaitkan dengan pembacaan akhbar mahupun
mendengar siaran RRI dan menonton TVRI adalah pendapatan serta umur responden. Tetapi
pendapatan tidaklah sekuat tingkatan pelajaran
karena akhbar boleh dibaca tanpa dibeli sama
ada meminjam daripada kawan-kawan, biasanya
ditempat-tempat kerja, di kedai kopi atau di kedai
makan. Begitu juga halnya TVRI dan RRI boleh
didengar atau ditonton dimerata-rata tempat.

Seterusnya dari segi politik sesebuah negara adalah penglibatan politik dalam pentadbiran
negara perlu diambilkira serta dihubungkaitkan
dengan sosio ekonomi terutama sekali umur yang
mempengaruhi aktiviti-aktiviti masa kini.

Dari analisis 11 hipotesis ke atas kenyataan
kepuasaan yang berkaitan sosio ekonomi, kajian
mendapati bahawa pola penggunaan pendedahan
media massa serta maklumat politik yang berbeza
dari segi intensitas atau masa. Akhbar tempatan
masa yang digunakan relatif rendah. Sedangkan
maklumat politik yang merujuk kepada rancangan pemerintah kecenderungan responden relatif
kecil sekali.

Dari segi umur pula dengan pendedahan
media elektronik, pola umur iaitu 31-50 tahun
36

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

digolongkan dewasa, sedangkan intensitas relatif
rendah adalah kurang daripada 2 jam seminggu
mendengar RRI. Pendidikan merupakan pola
yang terpenting dalam keberkesanan media massa
dalam mengantar mesej pada penerima. Dari segi
pendidkan dengan media elektronik tergambar
bahawa pendidikan kecenderungan tinggi tidak
tamat sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
sedangkan Radio Republik Indonesia (RRI) masa
yang digunakan relatif rendah.

Dari segi pendapatan pula terhadap media
elektronik kecenderungan menitik beratkan pada
yang berpendapatan sederhana purata responden
dari hasil tangkapan ikan kurang dari Rp 150,000
rupiah sebulan. Sedangkan media elektronik
dalam penggunaan masa mendengar RRI relatif
rendah purata responden mendengarnya kurang
daripada 2 jam seminggu.

Selain Pendidikan diambilkira juga jantina
dengan pendedahan media elektronik, secara keseluruhan bahawa terdapat perbezaan yang menjolok. Intensitas lelaki penggunaan mendengar
RRI dikategorikan relatif kurang daripada 2 jam
dalam seminggu, sedangkan perempuan masa
yang digunakan cukup tinggi iaitu 2 hingga 4 jam
seminggu.

Dari aspek umur pula dengan pemilihan
jenis ruangan tidak menyolok dari segi umur, responden yang membaca akhbar nasional mereka
yang tergolong tua berumur iaitu 51 tahun ke atas
mereka berminat dengan rancangan hiburan.

Perbezaan pendidikan dan pemilihan jenis
rancangan, kecenderungan responden taraf pendidikan hanya setakat tidak menamatkan Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), sedangkan pemilihan jenis rancangan yang ditonton responden
melalui saluran Televisyen Republik Indonesia
(TVRI) adalah lagu hiburan dalam negeri.

Dari segi akhbar tempatan kecenderungan terlihat perbezaan pendapatan dikategorikan
relatif sederhana kurang daripada Rp 150,000 rupiah, tetapi dari segi pemilihan jenis yang diminati responden adalah pada ruangan hiburan dalam
negeri.

Kecenderungan jantina dengan pemilihan
jenis rancangan tidak menonjol, menonton TVRI
perempuan dan lelaki sama berminat dengan rancangan lagu hiburan dalam negeri.

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.

Kippax dan Murray (1980) mendapati
pembolehubah demografi sesuai untuk meramalkan penggunaan media, tetapi hasil kajian ini
menunjukkan bahawa pembolehubah umur, tingkat pendidikan serta tingkat pendapat memperngaruhi penggunaan media massa.

Sehubungan dengan perkara di atas, keadaan ini berlaku disebabkan tingkat pendidikan responden rendah serta begitu pula dengan tingkat
pendapatan responden. Oleh itu, hasil kajian ini
menunjukkan keaktifan responden dalam memenuhi minat melewati batas umur, tingkat pendidikan dan juga tingkat pendapatan. Begitu juga
dengan jantina mempengaruhi penggunaan masa
dalam media massa. Kajian ini disokong pakar
komunikasi massa di Riau Kepulauan Hidayatullah serta Ubai Dillah (1991) bahawa media masa
akan dipengaruhi oleh faktor-faktor demografi
serta partisipasi politik, yang mana mereka menemukan bahawa keberkesanan tingkat pendapatan
dan pendidikan merupakan faktor utama dalam
media massa begitu pula dengan penyertaan politik suatu suku.

Penglibatan responden dalam aktiviti politik semasa pilihanraya, kecenderungan kekerapan lebih tinggi adalah membuang undi, dengan
kelompok umur dewasa iaitu diantara 31-50 tahun kemuadian disusuli kelompok usia muda 20
hingga 30 tahun. Dari segi turut berkempen untuk
membujuk pengundi untuk memilih Parti Persatuan Pembangunan (PPP) dan Parti Demokrasi Indonesia (PDI) dikategorikan kerap dengan
kelompok umur dewasa iaitu 31 hingga 50 tahun
kemudian disusuli kelompok usia muda dan tua
masing-masing umur diantara 20 hingga 30 tahun
dan kelompok umur yang berusia 50 tahun keatas.

Menampal poster Golkar kelompok umur
usia dewasa 31 hingga 51 tahun kerap membabitkan diri dalam aktiviti-aktiviti tersebut, kemudian
disusuli usia muda iaitu yang beumur 20 hingg
30 tahun. Sedangkan hadir dalam kempen politik
dan ceramah Golkar responden melibatkan diri
yang dikategorikan kerap iaitu kelompok umur
usia dewasa yang berusia 31 hingga 50 tahun serta
disusuli kelompok umur usia muda iaitu berumur
20 hingga 30 tahun.

Begitu pula halnya memakai lencana, baju
ataupun pelekat kereta parti tertentu PPP dan

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

PDI, mereka kerap melibatkan diri iaitu kelompok
usia dewasa yang berumur 31 hingga 50 tahun.
Kemudian disusuli responden usia muda yang
berumur 20 hingga 30 tahun. Untuk memulakan
perbincangan politik Golkar boleh dikatakan kerap melibatkan diri yang berumur dewasa di antara
31 hingga 50 tahun, begitu juga dengan usia muda
yang berumur 20 hingga 30 tahun.

Dari segi pola aktiviti dalam penglibatan
politik semasa kekerapan relatif tinggi. Untuk
itu dalam penglibatan memegang jawatan parti
Golkar dikategorikan kerap iaitu usia muda yang
berumur 20 hingga 30 tahun. Kemudian dari segi
aktif dalam organisasi yang berbentuk politik seperti Ampi, KNPI, Karang Taruna dan Soksi kerap
bagi kelompok umur dewasa 31 hingga 50 tahun.
Padabegitu pula dengan usia muda yang berumur
20 hingga 30 tahun.

Sedangkan sebagai anggota Golkar kekerapan relatif tinggi yang berusia dewasa iaitu purata
31 hingga 50 tahun, kemudian disusuli usia muda
yang berumur 20 hingga 30 tahun. Begitu pula
dalam keterlibatan mesyuarat umum kekerapan
relatif tinggi iaitu yang berumur 31 hingga 50 tahun tergolong dewasa. Selanjutnya berumur 20
hingga 30 tahun tergolong muda.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmad Atory Hussain. 1985. Pembentukan Dasar
Awam Malaysia : Hubungan Dengan Politik,
UMNO Dan Birolrasi, Utusan Publication,
Kuala Lumpur

Arbi Sanit. 1980. Perwakilan Politik di Indonesia. Jakarta : CV. Rajawali
Barelson, N. 1954. What missing the newspaper
means. Schram. W and Robert.D.F (Pnyt).
The Process and effect of mass commucation.

Urbana : University of Illinois
Becker, L.B.1982. The mass media and citizen assessment or issue importance:A Reflection
on agenda setting research. D.C. Whitness.
E Wartelaa (Pynt.). Mass communication review Yearbook. Beverly Hills : Sage Publication.
Berita harian, 23 hb, Oktober 1993.
Blalock, A. B. & Blalock. Jr. H. M. 1992. Introduction to social research. Englewood chilffs :
Prentice Hall.
37

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
Bloc, J. A. & Champion, D. J. 1976. Method and
issues in social research. New York : Jhon
Wiley & Sons.
Blumler, J. G. 1979. The role of theory in uses of
mass communication : current perspective
on gratification research. Beverly Hill : sage
publication
Cantor, M. C. & Cantor Joel. M. 1986. Audience
composition and television content : the
mass Audience revisited. Dalam Media audience amd social structure. Beverly Hill : Sage
Publication
Cohen, B. C. 1963. The press, the public, and foreign policy. Princeton University Press.
Chaffee, S.H. & J. M. Mcleod. 1973 Individual Vs
Social predictors of information seeking.
Journalism Quaterlt. 50 (2). 237-45
Dahl, R. A. 1963. Modern political Analysis. Prentice Hale : Inc. Engelwood Cliffs
Dann, Nimmo. 1981. Handbook of political communication. Bevely Hill : sage
Elliot, P. 1974. Use and gratificatioan research : a
critique and a sociological alternative. Dalam
Blumler, J.G. & Katz, E. (Pnyt). The uses of
mass communication : Current Perspective
of gratifications research. Beverly Hills : sage
Publication
Gerbner, G. Gross. & L. Signorielli. N. Morga. M.
19790 Violence profile No. 16. Trend in network television drama and viewer conception of social reality 1976-1978. Aneenburg
School of communication of pennylvanian.
Greenberg, B. S. 1974. Gratification of television
viewing & their correlates for British children. J. G. Blumler & E. Kat (Pnyt). The uses
of mass communication : Current perspective and gratification research. Beverly Hill :
Sage publications.
Harmoko. 1993. Peranan pers dalam mengembangkan komunikasi politik. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Harmoko. 1992. Riau dalam komunikasi politik
Golkar.Jakarta : PT Gramedia.
Hawkins, R. & Pingree, S. 1993. Television’s influence on Social reality dalam E. Wartella & C.
Whitney. Mass on Yearbook. Baverly Hill :
Sage Publications.
Hidayatullah & Ubaidillah. 1991. Faktor yang
38

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

mempengaruhi Komunikasi Politik Golkar
di Propinsi Riau. Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik : Universitas Riau.
Jack, C. Plano. 1985. Komunikasi Politik Golkar
sebagai aspek Sosio Ekonomi. Jakarta : PT.
Gramedia.
Katz, E. Blumler, J. G & Gurevitch M. 1974. Utilization of mass communication by individual.
Blumer & E. Katz (Pnyt). The uses of mass
communication : Current perspecative on
gratifcation research, Beverly Hills : Sage
publishing
Katz, E. J. G. Blumler. & M. Gurevith. 1973/1974.
Uses and gratification research. Public opinion. 37 (4) : 509-521.
Kippax, S. & Murray. J. P. 1980. Using the mass
media : Need gratification and perseived utility. Communication research 7 (3) : 335-360.
Klapper, J. Joseph. 1960. The effect of mass communication New York : The Fress Press.
Kompas, 11hb, Februari 1981.
Lasswell, H. D. 1974. The Structure function of
communication. Illinois : University of Illinois Press.
Lasswell, H. D. 1948. The structure & function of
communication in society. Bryson. L (Pnyt).
The communication of ideas. New York.
Harper & Brothers.
Lazarfeld, P. F. Berelson.B. &Gaudet, H. 1968. iThe
people choice : How the voter makes up his
mind in a presidential campaign (Edisi 3).
New York : Colombia University Press.
Madan Lal Goel. 1975. Political Participation in
developing nation : India. New York : Asia
publishing.
Mariam Budiarjo. 1988. Dasar-dasar Ilmu Politik.
Jakarta : PT Gramedia
Mariam Budiarjo. 1982. Partisipasi dan Partai
politik. Jakarta : CV. Rajawali
Maswadi Rauf & Mappan Nasrun. 1993. Indonesia dan komunikasi. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Umum.
Maswadi Rauf 1982. Political participation and
political communication in Bali. Disertai
(Phd). Jakarta : Universitas Indonesia.
Maswadi Rauf. 1993. Komunikasi Politik : Masalah
sebuah bidang kajian dalam ilmu politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Umum.

Komunikasi Politik Partai Golkar dan Kesannya terhadap Tanggapan Masyarakat
Nelayan: Kajian Kes di Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau.
McAllister. 1985. Campaign activities and elector
outcomes in Britain 1979 an 1983. The Public
opinion Quartely 49 (4). 489-501.
McQuail, D. Blumler, J. G. & Brown, J. R. 1972.
The television audience : A revised perspective. McQuail. D. (Pnyt). Sociology of mass
Communication. Harmondsworth. Penguin.
Mendelsohn, J. C. & Lowentein, R. L. O’Keefe.
1979. Media massages and men. New York :
Longman.
Milbrath, L.W.1965. Political Participation. How
and why do people get involed in politics chicago. Rand Mcnally.
Milbrath, L. W & M. Lal Goel. 1977. Political Participation. Chicago : Rand McNally.
Mochtar Mas’oed. 1984. The Indonesian economy
and political structure during the early new
order 1965-1971. Phd. Ohio State University.
Mochtar Mas’oed & Mac Andrew Collin. 1985.
Perbandingan sistem Politik. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press.
M. Amien Rais. 1986. Demokrasi dan proses politik. Jakarta:LP3ES.
Nelson, J & Huntington. S.P. 1992. No easy choice
: political participation in developing countries. Harvard University : center for internasional affair of Harvard.
Pye, L. W. 1966. Aspects of political development.
Boston : Little Brown & Company.
Riau dalam Angka. 1991. Pekanbaru, Bappeda
Propinsi Riau.
Robert, C. L. 1979. Media use and difficulty of
decision in the 1976 Presidential campaign.
Journalism Quartely 56 (4). 794-802.
Rosengren, K. E. 1974. Uses and gratification : A
paradigm outlined. J. G. Blumler dan E. katz.
(Pnyt). The uses of mass communication research. Beverly Hills : Sage publications.
Rusadi Kantaprawira. 1983. Sistem Politik di Indonesia. Bandung : Sinar Baru.
Rush, M & Althoff. 1971. Introduction to Political
Sociology. London : Thomas Nelson.
Rush, M. 1977. Pengantar Sosiology Politik. Jakarta: Rajawali.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Russonello, J. M. & Wolf, F. 1979. Newpaper coverage of the 1976 and 1968 presidential campaign. Journalism Quartely 56 (2). 360-432.
Samsuddin A. Rahim. 1991. Asas komunikasi.
UKM. Bangi.
Smith, K. A. 1985. Political communication and
Voter valatility in alocal election. Journalism
Quarteyt. 62 (4). 883-887.
Sumarno, A. p. 1983. Dimensi-dimensi Komunikasi Politik. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Suryadi. 1993. Komunikasi Politik Indonesia sebagai demokrasi Pancasila. Jakarta : PT. Gramedia.
Syed Arabi Idid & Safar Hasim. 1993. Pilihan raya
umum : Satu perspektif komunikasi politik.
Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
Syed Arabi Idid. 1978. Proses Komunikasi : satu tinjauan selayang pandang. Dewan Masyarakat.
Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka.
Sill, D. L. 1968 (Pnyt). Internasional Encyclopedia
of the social science. New York : The Macmillan Company & the press.
TAP/MPR/No. IV/78 Tentang Pola Umum pembangunan lima tahun (Pelita) ketiga. Jakarta.
TAP/MPR/No. II/1993. Tnetang Garis-garis Besar
Haluan Negara. Jakarta.
Tan, A. S. 1981. Mass communication theories and
Research. Colombus : Grid Publishing
T. Iskandar. 1970. Kamus Dewan. Kuala Lumpur :
Dewan dan Pustaka.
Verba, Nie & Kim. 1972. The model of democratic
partisipation a cross national comparison.
Sage Publication.
Verba, Nie. 1972. Participation in America. New
York : Harper & Row
Undang-Undang Pokok Pers Nasional Republik
Indonesia Nombor 21 Tahun 1978.
Undang-Undang Dasar 1945
Wainer, M. 1971. Political Participation : Crisis of the
political process. New Jersey : Princeton University Press.
Wright, C. R. 1975. Mass Communication : A sociological perspective. (Ed) ke-2. New York :
Random House.

39

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

THE ROLE OF TRANSFORMASIONAL LEADERSHIP STYLE SUPERVISOR AND JOB PERFORMANCE EMPLOYEE ON JOB SATISFACTION IN THE DEPARTMENT INTEGRATED SERVICE
RIAU, INDONESIA
Tessa Shasrini
Master Program University Putra Malaysia
Abstract
This research is meant to identify the level of leadership style and job performance employee on job
satisfaction in the department of integrated satisfaction service Riau, Indonesia. This research was accomplished in three objectives: (1) Identify the level of performance and job satisfaction, (2) Identify
the leadership style (3), review the relationship between leadership style and job satisfaction (4), To
study the relationship between leadership style and performance on the job satisfaction. 113 respondence had been identified using survey method. The sampling method is used with questionnaires in
order to gain data from samples.
The researcher had used questionnaires from “Multifactor Leadership Questionnaire” (MLQ). This
instrument was introduced by Bass & Avolio (1990), and instruments as the previous findings in the
renovation of Abd. Wahab Saad (1992), and The role-Based Performance Scale Lawler (1992).
The data of this study was analyzed and process by using software of Statistical Package for Social
Science (SPSS) version 17 for Windows. The results of the study showed that the level of job satisfaction and job performance are moderate level. The correlation test showed no significant differences on
job performance and job satisfaction among male respondents and female respondents. For the T test
showed that there was no difference between the sexes significant of job satisfaction and job performance of officers. Based on the findings of this study, several recommendations are forward to enhance
the job satisfaction level for worker in Department Integrated Service.
Keywords: Transformasional leadership, job satisfaction, job performance
Introduction

Human resource plays a huge role in an
organization. Successfulness of an organization
comes from the behavior of its employees because those employees create the structure of the
organization and utilize the technologies. In fact,
it is stated that organization’s successfulness is
related with leadership and motivation given to
the employees to achieve the organization’s goals.
Transformational leadership behaviour represents
the most active and effective form of leadership,
a form in which leaders are closely engaged with
followers, motivating them to perform beyond
their transactional agreement (Rubin et al, 2005).

According to Mahmudi (2007), public
service is stated as activities regarding services
implemented by the public service operator as in
an effort to meet common needs and the implementation of legislation. In general, the study is
conducted to determine the leadership style of the
40

supervisor and employee’s job satisfaction toward
the job performance of at the Integrated Service
Department in Riau.

According to Ainon and Abdullah (2002),
the main function of a leader is to develop mission and vision of the organization he leads and
also to create strategies to achieve them. The main
challenge faced by leader is how to influence the
followers to support the vision, mission and strategies created. Thus, a good leader is the one who
always try to fulfill the organization’s mission and
vision. Leader will be facing a few challenges to
create strategy and to achieve it.

This study is focusing on leadership style
towards the employees’ job satisfaction and performance at the headquarters in Riau Province,
Indonesia. The study is done on government servants in one of the headquarters in Riau Province,
thus, the result cannot be generalized to others.
Leader is one of the important element in maintaining the organization and plays a huge role
in determining the direction of the organization.

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia
Leadership is one’s ability to influence a group to
achieve goal (Robbins, 2006). Leadership is a process to influence others as Agus Dharma (2000)
defined that leadership is process to influence one
person or a group’s activities in order to achieve
goal in certain situation.
Literature Review
Transformational leadership

Transformational leadership will cause
changes in attitude and value of the employees
(Bass, 1985; Burns, 1978). Among the changes
are the employees help each other, the culture of
volunteerism is formed in work, the interest of
group is preferable rather than individual’s interest, the employees possess high commitment in
work and also high morale. The transformational
leadership style draws on assorted capabilities
and approaches to leadership, creating distinct advantages for the organization. A leader using this
approach possesses integrity, sets a good example
and clearly communicates his goals to his followers. Transformational leadership is a strong method of leadership as it pushes the company from
the bottom up.

Bass (1985) defined transformational
leadership as the ability to recognize the need for
change, to create the vision for such change, and
to execute the change in an effective manner. As
a result of such leadership, followers trust their
leaders; perform behaviours to achieve organizational goals; and are motivated to perform at higher levels. Hillriegel and Slocum (2009) stated that
transformational leadership involves anticipating
future trends, inspiring followers to understand
and embrace a new vision of possibilities, developing others to be leaders or better leaders, and
building the organization or group into a community of challenged and rewarded learners

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Jung, 1999; Mardanov, Heischmidt, and Henson,
2008). Accordingly, the leadership style of the immediate superior has a direct impact on an employee’s satisfaction or dissatisfaction (Hater and
Bass, 1988; Mancheno-Smoak, Endres, Potak,
and Athanasaw, 2009).

In Bass’s (1985) conceptualization, transactional leadership results in followers meeting
expectations, upon which their end of the bargain
is fulfilled and they are rewarded accordingly. To
motivate followers to move beyond expectations,
transformational leadership is required (Bass,
1998). This suggests that without the foundation
of transactional leadership, transformational effects may not be possible.

Ubben and Hughes (2004) proposed that
a transformational leader operates in four main
characteristics. The characteristics are educated,
critical, ethical and transformative.

(1) Educated, transformational leader
is knowledgeable and can help group members to learn. (2)Ethical, transformational leader
will always evaluate himself with the concept
of self-reflection. This leader is also someone
who applies the value of democratic and also
good moral relationship among members (3)
Transformative,Leader tends to be transformative
since he always tries to seek ways and to build a
community. (4) Critical A transformational leader
is someone who can help his group members to
study and observe current situation and also question its relevance to everyone.
Although the concept of servant leadership has
developed a wide following since it’s inception,
reliable means to measure it have been developed
only recently (e.q Ehrhart, 2004; Sendjaya et al,
2008).

Characteristic of a Leader
Characteristic of Transformational Leader

Thomas Carlyle (1840’s) introduced The

Researchers have suggested that employ- Great Man Theory of Leadership. Thomas Carlyle
ees’ dedication and commitment as well as or- in Sabardi (1997) stated that to identify potential
ganizational success are positively influenced by leaders, they need to posses these characteristic:
transformational leadership (Tracey and Hinkin, 1. Physical characteristic: Strong, healthy, attrac1994). A few researchers have concluded that emtive and vital.
ployees’ direct supervisors have the greatest influ1. Personality: Ambitious, honest, serene,
ence on their job satisfaction (Avolio, Bass, and
wise, fair, intelligent, hardworking and re41

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

sponsible.
2. Social characteristic: Sympathy, indulgent, Transformational Leadership Style

The concept of transformational leaderconsiderate and reliable.
ship was introduced by James MacGregor Burns

Meanwhile Keith Davis (1996) high- in 1978. According to Burns, transformational
lighted four key attributes that make a successful leadership can be seen when leaders and followleader in the organization, namely: Intelligence; ers make each other to advance to a higher level of
social maturity and breath; Inner motivation and moral and motivation. According to Bass (1985),
achievement drives; and human relations attitude. transformational leadership can be defined based
on the impact that it has on followers. Transformational leaders, Bass suggested, garner trust, respect and admiration from their followers.
Leadership Style
The transformational leader (Burns, 1978)

Leadership style is the manner and ap-
proach of providing direction, implementing motivates his team to be effective and efficient.
plans, and motivating people. Leadership is the Communication is the base for goal achievement
process of influencing a group toward the achieve- focusing the group on the final desired outcome
ment of goals (Robbins, 2006). Pace dan Faules or goal attainment. Transformational leadership
(2000) stated leadership style as communicative is created to be successful in reaching the goals
behaviors used to help others to achieve the de- of the organization, increasing the commitment to
the organization and strengthen the process dursired results.

The Path-Goal Theory of Leadership was ing these objectives of the organizations (Yukl,
developed to describe the way that leaders en- 1994).
courage and support the followers in achieving
the goals they have been set by making the path Bass (1985) suggested that there were four difthat they should take clear and easy. House and ferent components of transformational leadership.
Mitchell (1974) describe four styles of leadership: i. Intellectual Stimulation: Transformational
leaders not only challenge the status quo; they
1. Supportive leadership: Considering the needs
also encourage creativity among followers.
of the follower, showing concern for their
The leader encourages followers to explore
welfare and creating a friendly working ennew ways of doing things and new opportunivironment. This includes increasing the folties to learn.
lower’s self-esteem and making the job more
ii. Individualized Consideration: Transformainteresting.
tional leadership also involves offering sup2. Directive leadership: Telling followers what
port and encouragement to individual followneeds to be done and giving appropriate
ers. In order to foster supportive relationships,
guidance along the way. This includes giving
transformational leaders keep lines of comthem schedules of specific work to be done at
munication open so that followers feel free to
specific times.
share ideas and so that leaders can offer direct
3. Participative leadership. This approach is
recognition of each follower’s unique contribest when the followers are expert and their
butions.
advice is both needed and they expect to be
iii. Inspirational Motivation: Transformational
able to give it.
leaders have a clear vision that they are able to
4. Achievement-oriented leadership. This aparticulate to followers. These leaders are also
proach is best when the task is complex.
able to help followers experience the same
Achievement-oriented leadership defined
passion and motivation to fulfil these goals.
a series of challenging goals for the performance of the subordinates by giving them the iv. Idealized Influence: The transformational
leader serves as a role model for followers.
confidence that they can perform well the job
Because followers trust and respect the leadto achieve goals (Thoha, 1992).
42

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

er, they emulate this individual and internalize mation and corrective actions.
his or her ideals.
Factors Influencing Job Performance

Hillriegel and Slocum (2009)
stated that transformational leadership involves anticipating future trends, inspiring followers to understand and embrace
a new vision of possibilities, developing
others to be leaders or better leaders, and
building the organization or group into a
community of challenged and rewarded
learners.
Job Performance

There are various definitions of
job performance given by scholars. Gibson et al (1997), performance is about
work of individuals or groups specified by the
standard. Kusnadi (2002) defined performance as
every movement, act, performance, events or consciously directed action to achieve the goals. Job
performance is defined as a result of the agreement made by officers (Handoko, 1991). It can be
concluded that job performance can be evaluated
in term of ability given to them.

According to Furtwengler (2002), performance is seen from speed, quality, service and
value. It means the speed of work processes that
has reliable quality, good service and has the value of a matter that can be seen from whether the
performance is reached or not. Job performance is
a combination of several important factors, such
as skills that is the ability to perform a task, an
effort that is desire, willingness and enthusiasm
in work and opportunity that is authorized in the
performance of duties.

The goal of performance evaluation is to:
i. Job performance improvement
ii. Compensation adjustments
iii. Information in promotional satisfaction
iv. Results of the training and development of
human resources
v. Results of career development

Employee’s performance is influenced by several factors, among others: consists of motivation, ability, knowledge, skills, education, experience, training, interests, attitudes, personality and
physical conditions of physiological needs, social
needs and egoistic needs (Sutermeister, 1999).
Based on the theories above, it can be concluded
that performance needs evaluation indicators that
are influenced by various factors, whether internal
factors or external factors with the various aspects
that can be measured by referring to certain standard consisting of quantitative and qualitative aspects that are useful for getting positive feedback
for the improvement of the organization specifically the human resources management.

Demographic characteristics such as age,
education and work experience may also influence job performance. Increased age would be
followed by the lack of ability to perform a particular job especially the job that involves physical ability. Education and work experience will
strengthen its ability to overcome the problems
in the current work because of past experiences
make it easier to identify problems quickly and
cost can be saved (see Figure 1).

Job Satisfaction

Performance evaluation covers the formal
Job satisfaction is defined as being any
evaluation of a work performance (Gibson et.al, number of psychological, physiological, and en1997). As a technique of operation, an effective vironmental circumstances which leads a person
performance appraisal requires standards, infor- to express satisfaction with their job (Hoppock,
43

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia
1935). Smith et. al.(1969) defined job satisfaction
as the feeling an individual has about his or her
job. Lofquist and Davis (1991), defined job satisfaction as an individual’s positive affective reaction of the target environment, as a result of the
individual’s appraisal of the extent to which his or
her needs are fulfilled by the environment.
There are three conceptual frameworks seem to
be more prominent in the literature to explain job
satisfaction. The first is content theory, which suggests that job satisfaction occurs when one’s need
for growth and self-actualization are met by the
individual’s job. The second conceptual framework is often referred to as process theory, which
attempts to explain job satisfaction by looking at
how well the job meets one’s expectations and
values. The third conceptual group includes situational theories, which proposes that job satisfaction is a product of how well an individual’s
personal characteristics interact or mesh with the
organizational characteristics.

According to Blum (1956) in As’ad
(2002), job satisfaction is a general attitude that
is resulted from some specific attitude towards
employment factors, adaptation and individual
relationships outside of work. Cognitive evaluation (Deci, 1975), expectancy (Lawler and Porter,
1967; Naylor, Pritchard and Ilgen, 1980; Vroom,
1964) and need hierarchy (Maslow, 1954, 1968)
theories provide the theoretical framework for
examining the relationship between satisfaction
with one’s job and performance.

Cognitive evaluation (Deci, 1975), expectancy (Lawler and Porter, 1967; Naylor, Pritchard
and Ilgen, 1980; Vroom, 1964) and need hierarchy (Maslow, 1954, 1968) theories provide the
theoretical framework for examining the relationship between satisfaction with one’s job and performance.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Based on Figure 2, it shows that job satisfaction
and job performance are directly related or have
a positive relationship. It means that job performance will be increasing if job satisfaction is increasing.
Factors of Job Satisfaction

The result of Hawthorne studies was that
the emotions of employees can influence their
working behaviors. Social relationships and psychological factors are the main causes of job satisfaction and productivity in employees (Robbins,
2002). Organization will be influenced by those
elements structurally, psychologically or culturally (Marilyn, 1990). Among the elements are the
government, shareholders, customers, the public,
suppliers, competitors and trade unions.
Leadership Theories
Path-goal Model by House (1971)

Path-goal model is rooted in motivation
theories of goal setting and expectancy. The authors, House and Mitchell use this leadership
model to explain how a leader’s behaviour influences the performance and satisfaction of the
subordinates. House and Mitchell’s proposition is
that a leader should choose a leadership style that
considers the characteristics of followers and the
demand of the task.
Fiedler’s Contingency Theory (1967)

This theory is used to find out if a person’s
leadership style is task-oriented or relationshiporiented and if the situation (leader–follower relationship, task structure and level of authority)
matches the leader’s style to maximize performance. Fiedler developed this leadership theory,
which shows that situational variable interacts
with a leader’s personality and behaviour. Fiedler
believed that leadership style is a reflection of the
underlining need-structure that prompts behaviour
Research Framework

Research framework is designed based on
past literature regarding concepts, theories, results
and hypotheses. It describes the relationship between the dimensions of transformational leader-

44

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia
ship style, job satisfaction and job performance.
Job performance refers to efficiency, effectiveness
and quality of services provided by officers at the
Integrated Service Department, Riau.
RESEARCH METHODOLOGY
Research Design

The purpose of this research design is to

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

answer which will be distributed to the respondents as an effort to obtain information regarding
the research objectives through respondents (Najib, 2005; Ahmad Mahdzan, 1992; Rohana Yusof,
2003).

Researcher uses a set of questionnaire
that had been adapted and modify so that it will
suit with the situation in this study. Researcher
has taken the research instruments
made by previous scholars. Instrument used to collect the raw data was
a questionnaire. The questionnaire
is divided into 5 parts which is Part
A: Demographic, Part B: Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ)
introduced by Bass & Avollo (1990),
Part C is taken from previous research
findings that had been modified from
Abd. Wahab Saad (1992), Part D: The
Role-Based Performance Scale Lawler (1992)
and Part E: Suggestion.

determine the relationship between job performance and job satisfaction toward the transformational leadership style at the Integrated Service
Department, Riau Province. Its function is to en- Data Collection
able this research to be reproduced by another re-
This study use a questionnaire that has
searcher.
been designed based on the research objectives
and the information needed from the respondents.
Population and Sampling
After getting the approval to conduct the study,

Researcher managed to get all the official researcher went to the department to distribute the
and overall information regarding staff list. The questionnaire to 113 respondents which had been
staff list contains all the information on perma- chosen as sample. A set of questionnaire in Malay
nent staff and also contract staff. In this study, Language to gather demographic traits and inforstaff is divided into two groups: permanent staff mation regarding tested variables is given to the
and contract staff. Total number of the staff is:
respondent. Respondents are asked to fill in the
1. Permanent staff: 68 people
questionnaires guided by the researcher and they
2. Contract staff : 45 people
are given 2 weeks to complete the questionnaires.

Since there is less number of the staff in
the department, hence sampling is not made because the sampling can be represented by the population. This process took quite a time because a
few problems occurred such as the officers did
not come to the office because they need to attend
course somewhere outside the district.
Research Instruments

In the study, data is collected through
questionnaire. Questionnaire is an organized set of
questions and a space provided to write down the

Measurement of Transformational Leadership
Style

The level of leadership style is divided
into three levels which are high, moderate and
low. The Likert Scale is shown below:
1 = Strongly Disagree
2 = Disagree
3 = Neither agree nor disagree
4 = Agree
5 = Strongly Agree

45

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

Data Analysis

The data collected will be processed by using the Statistical Package for the Social Science
(SPSS) Version 17.00. The data analysis involves
the use of descriptive and inferential statistics.
The level of significance is set at 0.05 (p<0.05)
which is generally accepted in making statistics
decision by many scholars (Sekaren, 1992).

According to Sekaran (2003), the value
of Cronbach’s Alpha that is less than 0.6 is considered as poor, more than 0.6 is acceptable and
0.9 and above is considered as excellent. Therefore, Pilot study was carried out to get feedback on
whether or not the instruments are likely to work
as expected in a “real world” situation. The results
of the reliability of each instruments from pilot test
and actual study are shown as below in Table 2.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

male. This unbalanced composition happens due
to the fact that the Integrated Service Department
has more female workers than male workers.
Age

Based on the data obtained, it shows that
most of the respondents are 30 years old and below (57.5%), followed by 37 respondents that are
31-40 years old (32.7%) and 11 of them are 41
years old and above (9.7%).
Marital Status

The data s how that most of the respondents, 62 respondents (54.9%) are married. Meanwhile, the other 51 respondents (45.1%) are still
single.

Questionnaire Validity Test

Researcher has asked a few people who are
expert in translation to translate the questionnaire
from Malay language to Indonesian language.
This is important so that the original meaning of
the questionnaire is not different after it had been
translated to Indonesian language.
Length of Service

The result show that 64 of the respondents
(56.6%) have worked at the Integrated Service
Department for less than 5 years, followed by 27
respondents (23.9%) have worked there for 6-10
years and 22 respondents (19.5%) have worked
there for more than 11 years.
FINDINGS
Demographic Traits
Gender

Total number of respondents is 113. In
term of gender, it shows that 40 of them (35.4%)
are male; meanwhile 73 of them (64.6%) are fe46

Classification of Post

Researcher has divided the post into two
main categories which are permanent and contract
post. The result shows that 68 out of 113 respondents (60.2%) are permanent officers. Meanwhile the
other 45 respondents (39.8%) are contract officers..

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia
Transformational Leadership Style

Table 6 shows the result of transformational leadership style. 67 of the respondents (59.3%)
show a high level of leadership style followed by
43 respondents (38.1%) show a moderate level
and 3 respondents (2.7%) show a low level of this
leadership style.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

if look on the power of each variable, the highest
dominance effect is on Transformational Leadership
scale (t-5908). It shows that Transformational Leadership Style is the only predictor to Job Performance

There are 17 items used to measure the
level of supervisor’s leadership. Item about “Talk
optimistically about the future” record the highest mean (4.19) where no respondent (0.0%) answered Strongly Disagree, 7 respondents (6.2%)
answered Disagree, 7 respondents (6.2%) answered Neither Agree nor Disagree, 56 respondents (49.6%) answered Agree and 43 respondents
(38.1%) answered Strongly Agree. Meanwhile
“Dispute the traditional methods in doing work”
has the lowest mean value which is 3.49.


Job Performance

Table shows the respondents’ level of job
performance. Most of them have a high level of job
performance is which 59 respondents or 52.2% and
followed by 54 respondents (47.8%) have a moderate level of job performance. None of them have a
low level of job performance.

By using the correlation test, the result
shows that there is a significant positive relationship
between job satisfaction and job performance at the
Integrated Service Department, Ri au.

Regression test are used to identify the predictor of job satisfaction. The result showed that
there is significance regression between Transformational Leadership Style and Job Performance,
where the value is F = 24.56 with p < 0.05. Based on
this regression model, Transformational Leadership
contributes 30.9% to Job Performance. Meanwhile
47

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

SUMMARY, CONCLUSION, IMPLICATION
AND SUGGESTION

The rapid development of the national economy that is driven by a group of workers shows that
these workers have a significant influence on the job
quality and performance of an officer. This study is
conducted to determine the level and the relationship between transformational leadership style, job
satisfaction with job performance of the officer at the
Integrated Service Department.
48

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

the officers at the Integrated Service Department is
at the moderate level. This result supports the study
done by Thurayya dan Gnana (2007) where their
result showed that job satisfaction was at the moderate level. The result reflects that most of the officers do not have a high level of job satisfaction.
They do not satisfy with their current work and this
shows that they still have not achieved a high level
of job satisfaction. Therefore, efforts need to be done

There are six objectives: (1) determine the in improving their motivation such as send them to
transformational leadership style; (2) determine the training programs. Higher level of job satisfaction
level of job satisfaction; (3) determine the level of will decrease the work stress and then will lead to
job performance; (4) determine the relationship be- a positive work environment (Fairbrother & Warn,
tween transformational leadership style and job per- 2003)
formance; (5) determine the relationship between
job satisfaction and job performance; and (6) to de- Level of Job Performance
The result shows that officers at the Integrattermine the predictor of job performance at the Inte-
ed
Service
Department are at the high level of job
grated Service Department, Riau.

Questionnaire is the research instrument performance. A study by Azlina (2001) looked at the
used in the study where it was modified to suit with relationship between coach’s transformational leadthe condition of the research environment. The ques- ership behaviour and soccer player’s performance.
tionnaire is adapted from the previous instrument Regression analysis was done to identify the relamade by scholar. It consists of five parts which need tionship and it showed that there was a significance
to be answered by the respondent. The data obtained relationship between coach’s transformational leadis analysed by SPSS. Frequency, percentage, mean ership behaviour and soccer player’s performance.
and standard deviation are used to show the result
Relationship between Transformational Leadership Style and Job Performance
Conclusion and Discussion

Correlation test was carried out to determine
Transformational Leadership Style
the
relationship
between transformational leadership

The result of the Transformational Leadership Style at the Integrated Service Department is style and job performance. The result shows that
at the highest level (mean = 4.00). It means that re- high level of transformational leadership style does
spondents feel the leadership at the department has a not relate with improvement of job performance.
trait that is capable of bringing the staff to a brighter
future. This is an important factor and also suit with Relationship between Job Satisfaction and Job
the work environment at the department which they Performance
Based on the Pearson Correlation test, the
need a leader that can maintain the high work spirit
result
shows
that there is a positive and significance
among the officers.
The result is supported by previous study by Bass relationship between job satisfaction and job perfor(1985) who stated that transformational leader mance.
through inspiration and motivation is able to build
commitment among followers toward the organiza- Predictor of Job Performance
Based on the results obtained, there is a
tion’s objectives and goals in order to improve the
significant relationship for satisfaction due to the
teamwork spirit among them.
dominance of a leadership scale, meanwhile job performance does not give a significant impact on job
Level of Job Satisfaction

Overall, the level of job satisfaction among satisfaction. Employee’s negative perception on one
of the job satisfaction’s aspect does not have an im49

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

pact on overall job satisfaction.

organizations.

Implication

Most of the officers at the Integrated Service
Department have a moderate level of transformational leadership style, job satisfaction and job performance. Therefore, it can be concluded that their
overall level of job performance and job satisfaction are moderate only. According to Timpe (1992),
among factors that influence one’s work are: capability, ability, work difficulty, evaluation, attitude
and colleague’s behaviour. These were matched
with Path-goal Model developed by House (1971).

Motivation exists when a transformational
leader give extra attention to work quality and successfully motivate their officers. According to Bass
and Burns (1985, 1978), attitude and value of the
worker will change through transformational leadership such as prioritize the interest of the group and
possess high spirit among workers.

Suggestion for Future Research

Firstly, the sample is limited to officer at the
Integrated Service Department only. Therefore, future research could be done by expanding the sample
size. By expanding the sample size, we can see the
overall level of job satisfaction for each and every
department which is in the province of Riau.

Secondly, future research could be conducted by expanding the location of the research. This is
because this current research is focused to Integrated Service Department, Walikota Pekanbaru office
only.

Thirdly, this research used quantitative
method by using questionnaire only. Hence, it is suggested that qualitative method such as interviewing
workers to get more in-depth information could be
used in the research. Future researcher could also use
mixed method which it is a combination of quantitative and qualitative method so that researcher could
see the level of employee satisfaction in detail.

Suggestion

Based on the results, a few suggestions are
made for future researchers who want to study about REFERENCES
the same topic and also suggestions to improve job Abd, W. S. (1992). Persepsi pekerja terhadap kepuasatisfaction and performance among officers at the
saan kerja: perbandingan sektor awam dan
Integrated Service Department.
swasta. Thesis. Universiti Putra Malaysia.
Adair, J. (1999). Adair on Leaderhip. London:
Suggestions for the Organization and Administrators
Hawksmere Plc.

Overall, the level of job performance and job Ainon, M. & Abdullah, H. (2002). Bakat dan kemasatisfaction among workers are at moderate level. It
hiran memimpin. Bentong: Pts Publication
shows that they still have not reached the high level.
& Distributor Sdn. Bhd.
First suggestion for the administration is that the ad- Aminuddin, Y. (1999). The relationship between
ministrative officer could to provide training courses
transformational leadership behaviours
to increase the level of job satisfaction among workof athletic directors and leadership substiers. The training courses should be continuous until
tutes variables with the job satisfaction of
the workers could contribute knowledge and energy
coaches at NCAA division I & II instituto the organization they serve.
tions. Unpublished dissertation. University

Second suggestion for the Integrated Serof Connecticut, USA.
vice Department is to provide facilities for the Azlina binti Zid (2001). Hubungan antara tingkahlworkers such give allowances for the wife and
aku kepimpinan transformasional jurulatih
children, workplaces that support the perforpermainan bolak sepak dengan kepuamance of the officer in the organization. Supervisan prestasi individu pemain-pemain bola
sor should give full attention to the officers like
sepak sekolah-sekolah menengah di sekitar
strengthen the relationship between leaders and
daerah Alor Star. Unpublished dissertation.
officers and also colleagues by helping each other.
Universiti Putra Malaysia, Serdang.
High job performance would help to improve the Babbie, E. R. (1975). The practice of social research.
organization and more highly regarded by other
California: Wadsworth Publishing Co. Inc.
50

The Role of Transformasional Leadership Style Supervisor and Job Performance
Employee on Job Satisfaction in The Department Integrated Service Riau, Indonesia
Bass, B.M. (1985). Leadership and performance beyond expectation, New York: Free Press.
Bass, B.M. (1990). Handbook of leadership: A survey of theory and research. New York: Free
Press.
Bass, B.M. and Avolio, B.J. (1994). Improving organizational effectiveness through transformational leadership. California: Sage
Thousand Oaks.
Bass, B. M. (1998). Transformational leadership; Industrial, Military and Educational Impact,
New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.
Bass, B.M. and Steidmeier (1998). Ethnics, character, and authentic transformational leadership. School of Management. New York:
Binghamton University.
Blake, R. and Moutan, J. (1964). The Managerial
grid. Houston: Gulf Publishing.
Bennis, W. and Nanus, B. (1985). Leaders: The strategies for taking charge. New York: Harper
& Row.
Carless, S. A. (1995). Transformational leadership
and Australian Bank Managers. Unpublished doctoral dissertasion. University of
Melbourne, Melbourne.
Chermers, M. M. and Ayman, R. (Eds), Leadership
Theory and. Research: Perspectives and
Directions, Academic Press, San Diego,
CA: Academic Press.
Donald, G.K. (1997). The way of the leader. London: Nicholas Brealey Publishing.
Drucker, P.F. (1992). Managing for the future: The
1990s and beyond. USA: Penguin Books
Publishers Inc.
Eisenbach, R., Watson, K. & Pillai, R. (1999). Transformational leadership in the context of organizational change. Journal of Organizational Change Management, 12(2), 80-89.
Fiedler, F. (1967). A theory of leadership effectiveness. New York: McGraw – Hill.
Fleishman, E.A. (1953). The description of supervisory behavior. Personnel Psychology, 37,
1-6.
Hater, J.J. & Bass, B.M. (1988). Superior’s evaluations and subordinate’s perception of transformational and transactional leadership.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Journal of Applied Psychology, 73, 695702.
Jung, D. I., and Avolio, B. J., 1999, Effects of leadership style and followers’ ... in group and
individual task conditions. Academy of
Management journal, 42, 208-225.
Thomas W. Kent, John C. Crotts, Abdul Azziz,
(2001). Four factors of transformational
leadership behaviour. Leadership & Organization Development Journal, 22(5),
221 – 229.
Krishnan, V. R. (2004). Impact of transformational leadership on followers’ influence strategies. Leadership & Organization Development Journal.
25(1), 58-72.
Lim, B. C. & Ployhart, R. E. (2004). Transformational leadership: Relations to the five factor model and team performance in typical
and maximum contexts. Journal of Applied
Psychology. 89(4), 610-621.
Loy Liang Hui (2003). Hubungan kepimpinan transformasional pengetua dengan kepuasan
kerja guru. Unpublished dissertation. Universiti Putra Malaysia, Serdang.
Politis, J. D. (2002). Transformational and transactional leadership enabling (disabling)
knowledge acquisition of self-managed
teams: The consequences for performance.
Leadership & Organization Development
Journal, 23(4), 186-197.
Popper, M. & Zakkai, E. (1994). Transactional,
charismatic and transformational leadership: Conditions conductive to their predominance. Leadership & Organization
Development Journal, 15(6), 3-7.
Sibbald., B., Bojke, C., & Gravette. H. (2003). National Survey of Job Satisfaction and Retirement Intentions among General Practitioners in England. British Medical Journal,
326, 22.
Smith, P. C., Kendall, L.M., & Hulin, C. L. (1969).
The Measurement of Satisfaction in Work
and Retirement. Chicago: Rand McNally.
Tuner, N., Barling, J., Epitropaki, O., Butcher, V &
Milner, C. (2002). Transformational leadership and moral reasoning. Journal of Applied Psychology. 87, 304 -311.
51

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

KEGUNAAN DAN KEPUASAN MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER INFORMASI KESEHATAN
REPRODUKSI REMAJA
(KAJIAN KES DI KECAMATAN RUPAT UTARA, RIAU, INDONESIA)
Eko Hero M.Soc.Sc
Master Program Universiti Kabangsaan Malaysia
Abstract
The study explains about the using of mass media as information resources of teenager health reproduction at Rupat District, Bengkalis Regency, Riau Province – Indonesia. This Study aim do find out
the basis wichh delivered to the information resource on dimension of uses and gratification health
reproduction information. The data were collected by interviewing on one set questioner through quantitative method. They were interviewed randomly at 5 villages with different demography background.
It was focused on the uses and gratification theory, where could bedesribed that HIV/AIDS (53%)
and alcohol consumption (43%) rarelt accessed. Although, another data show us the most interested
information access is about HIV/AIDS (85%) than other health reproduction of informations. Then
respondents attention on newspaper is bigger than television and family expert. In the whole respondent give the positive fact on the use aspect of health reproduction information through applicative
dimension. Gratification aspect finding was self identity (78%) and self interaction (87%) on simple
category. It can be concluded the access of health reproduction information resource influences the use
concept through applicative dimension, and gratification is influenced by self identity and self interaction of health reproduction information.
Keywords : Health Reproduction Information, mass media, Uses and gratifications.
PENGENALAN

Berbincang mengenai kesehatan, kita akan
dihadapkan kepada beragam makna yang luas.
Pada tahun 1975, WHO menjelaskan kesehatan
sebagai suatu keadaan yang terbebas dari segala
jenis penyakit baik secara fisik, mental dan sosial.
Suprihatin (2000) pula menyatakan bahwa kesehatan ialah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan
sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial (pemeriksaan, pengobatan, perawatan termasuk kepada kehamilan,
beranak dan “ekonomis”. Lebih sederhana lagi
(Faluso and Odu, 2010) dipetik dari Akinade menyebutkan kesehatan sebagai proses mendapatkan
informasi dan pembentukan sikap, keyakinan tentang seks, identitas seksual, dan perilaku seksual.

Berbagai isu kesehatan kerap melanda
para remaja di berbagai negara. Diantaranya perilaku seks bebas, HIV/AIDS, penyakit menular
seks, aborsi dan lain sebagainya masa ini menjadi
masalah di negara-negara maju dan negara-negara
membangun (Alford and Hauser, 2009). Misalnya
angka aborsi dan HIV/AIDS, Wijsen and Lee
52

(Alford, 2008), menyatakan syphilis, grohrohea
dan clamdya (Van, 2006) pada tahun 2004 hingga
2005 United States menduduki tempat pertama
diikuti oleh France, Germany and Netherlands,
dan dialami oleh remaja berusia antara 15 – 19
tahun.

Menurunnya kesehatan remaja didukung
oleh banyak aspek, mulai dari “gempuran” media massa, kebutuhan hidup, kekerasan, lingkungan, dan faktor pengawasan dari orangtua. Di kawasan AsiaTenggara, misalnya Thailand didapati
bahwa perilaku seks bebas telah diamalkan oleh
para remaja, akan tetapi mereka tidak mengetahui
dampak yang akan ditimbulkan dari tingkah laku
seks bebas mereka (Sarwono, 1994). Di Malaysia pula data mengenai angka kesehatan remaja
mengalami turun naik. Data dari Royal Malaysian
Police (Lukman, 2009) menyebutkan berdasarkan
kepada perkiraan dasar ada sekitar 75.000 kanakkanak yang hidup di jalan, dengan 10.000 pengguna narkoba dan 5.000 anak kabur dari rumah
dilaporkan setiap tahun.

Di Indonesia pula, menurut kajian Syno-

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
vate menyatakan bahwa perilaku seks bebas oleh
remaja di Indonesia mengalami peningkatan khususnya dibandar-bandar besar Indonesia (Medan,
Jakarta, Bandung dan Surabaya). Remaja usia 14
hingga 24 tahun sebanyak 60 persen mengaku
telah melakukan hubungan seksual, 16 persen
mengaku telah melakukannya sejak usia 13 – 15
tahun, sedangkan 44 persen mengaku telah melakukan hubungan seks sejak usia 16 – 18 tahun.

Fenomena-fenomena yang berlaku diatas,
selalunya berlaku karena tidak adanya pembangunan jatidiri remaja secara berkesinambungan.
Sebab dalam usia remaja setiap orang mengalami
proses kematangan semua organ badan termasuk
fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang
ditandai dengan mampu berfikir secara abstrak
(Hurlock, 1990 ; Papalia and Olds, 2001). Belum
lagi (Piaget (Santrock, 2001) adanya kecenderungan remaja untuk termotivasi secara aktif untuk
memahami dunia karena perilaku adaptasi secara
biologis. Sehingga antara dorongan hasrat dan kemampuan kognitif dan afektif yang dimiliki akan
mengalami “pergaduhan” sehingga remaja akan
mencari pelarian.

Bagi mengatasi keadaan ini, perlu dilaksanakannya pendidikan seks bagi remaja baik
secara formal dan nonformal. Pendidikan seks
adalah perlakuan proses sadar dan tersistematis di
sekolah, keluarga dan masyarakat untuk menyampaikan proses biologis menurut agama dan sudah
ditetapkan oleh masyarakat (Arif Rahman Hakim,
2002). Ianya mencakup semua aspek tentang seksualitas termasuk informasi tentang keluarga berencana reproduksi ditambah lagi informasi tentang semua aspek seksualiti seseorang (George,
2004).

Pendidikan seks secara formal telah berlaku dibeberapa negara. Misalnya di Afrika pendidikan seks telah difokuskan untuk menahan laju
epidemic AIDS tumbuh, dengan cara menetapkan
program pendidikan AIDS melalui pogram kemitraan dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan
Lembaga Swadaya (NGO) internasional (Sorcar,
2010). Mengikut Merson (2006) pula menyatakan
bahwa Mesir telah mengajarkan tentang pengetahuan tentang sistem reproduksi kepada laki-laki
dan wanita tentang organ seksual, kontrasepsi,
penyakit menular seksual di sekolah-sekolah pub-

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

lik (ketika siswa berusia 12 – 14 tahun). Di kawasan Eropa, misalnya di Perancis (European Sex
Survey, 2006) pendidikan seks sudah menjadi bagian dari kurikulum sejak tahun 1973. Di Jerman
pula, menurut Meh Zu (2006) pendidikan seks
telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah sejak
tahun 1970. Sejak tahun 1992 pendidikan seks
sudah berada dibawah pengawasan tugas pemerintah. Meliputi proses tumbuh kembang remaja,
perubahan selama masa puber, emosi, proses biologi reproduksi, aktivitas seksual, kemitraan,
aborsi dan lain sebagainya.

Di kawasan Asia tidak banyak negara
yang memberikan pendidikan seks secara formal kecuali Jepang. Anastasia, Ulla and Hiroko,
(1993) menyebutkan bahwa di Jepang pendidikan seks telah diwajibkan pada usia 10 atau 11
tahun, terutama yang berhubungkait dengan tema
haid dan ejakulasi. Lain pula keadaan yang berlaku di Jepang berbeza dengan kawasan Asia lainnya seperti Indonesia, Malaysia, Mongolia, Korea Selatan, dan Thailand. Kerangka pendidikan
seks cenderung mengarah kepada pendidikan non
formal yang bersifat pelatihan. Sedangkan untuk
kawasan Pakistan, Bangladesh, Myanmar dan Nepal sama sekali tidak mempunyai bahkan menghindari pendidikan seks secara formal mahupun
non formal, yang dipetik dari Mehta, Groenen and
Roque (2002).

Bagi kawasan Asia Tenggara, negara-negara yang memiliki mayoritas masyarakat Islam,
untuk memberikan tunjuk ajar mengenai pendidikan seks bukanlah hal yang mudah. Sebab ketika
berbincang mengenai pendidikan seks ataupun
kesehatan reproduksi ramai orang akan menganggap sebagi pembicaraan yang lucah. Khususnya
Malaysia, Brunei dan Indonesia masih mengalami
pro kontra dalam hal program penerapan pendidikan seks di sekolah. Sebagai sesuatu hal yang sensitif dan taboo, “budaya timur juga mempunyai
pandangan bahwa masalah seks adalah sesuatu
yang tidak pantas untuk dibincangkan dihadapan
public, apalagi dihadapan kanak-kanak” (Harian Media Indonesia, 2009). Seperti halnya yang
di ungkapkan oleh Lok Yim Pheng (Setiausaha
Agung Kesatuan Perkhidmatan Perguruan Kebangsaan) bahwa guru-guru masih bersedia mengendalikan pendidikan seks karena tidak pernah
53

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
mendapatkan latihan yang professional.

Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, (2008), susahnya menekan angka
tersebut karena dipengaruhi oleh derasnya informasi yang diterima remaja dari pelbagai media
massa, sehingga memungkinkan remaja melakukan tindakan seks sebelum menikah dengan satu
atau berganti pasangan. Kurangnya informasi tentang seks juga memperkuat kemungkinan remaja
percaya serta salah paham dalam menyerap informasi dari media massa atau rekan sebaya. Ditambah lagi dengan paham kebebasan yang dianut
oleh media massa di Indonesia mempertegas pandangan Baran and Dennis (2003) bahwa media
massa adalah ladang bisnis. Sehingga kandungan
media, mengandungi sedikit sekali aspek social
responsibility. Walhasil, informasi yang disampaikan tidak diimbangi dengan pengetahuan khalayak terhadap fenomena-fenomena yang dikembangkan dalam kandungan rancangan tertentu.
PERNYATAAN MASALAH

Tidak adanya jalan penyelesaian mengenai persoalan yang terus menggelinding bagaikan
“bola salju” (snowball) ini, membuktikan bahwa
persoalan kesehatan reproduksi remaja sangatlah penting. Menurut Antono, Ford, dan Zahroh
(2006) ini berpunca dari adanya perubahan proses
dari nilai-nilai hidup kaum remaja. Perubahanperubahan nilai hidup yang dimaksud adalah
kecenderungan menurunnya atau bahkan tidak
mempedulikan keadaan kesehatan reproduksinya
sendiri.

Misalnya saja Kemudian Sugiri Syarief
(Okezone, 2010) Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan data bahwa sejak 2010 ini diketahui sebanyak
50 persen remaja perempuan di wilayah Jakarta,
Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sudah tidak perawan karena melakukan
hubungan seks pra nikah. Dan penyelidikan yang
dijalankan oleh Komisi Nasional Perlindungan
Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan JanuariJuni 2008 menyimpulkan empat hal : Pertama,
97% remaja SMP dan SMA pernah menonton
film lucah. Kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA
pernah berciuman, genital stimulation (meraba
alat kelamin) dan oral seks. Ketiga, 62,7% remaja
54

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

SMP tidak perawan. Dan yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Keadaan ini menunjukkan bahwa, persoalan kesehatan reproduksi sudah berada pada tahap
endemic (sangat serius). Ianya juga membuat pakar kesehatan reproduksi remaja Indonesia Hasmi (2001) berasumsi bahwa pemahaman remaja
mengenai kesehatan reproduksi terhad. Ertinya
peningkatan aktifiti seksual dikalangan kaum remaja tidak diimbangi dengan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

Selain media massa berjalan hanya sebagai ladang bisnes, kecelaruan juga timbul akibat
ketidakupayaan perancang mesej media untuk
memikir, menganalisis dan menentukan secara
kreatif keatas saluran yang tepat serta membentuk sebuah tayangan yang komperehensif (Arens,
1999). Hal itu tentunya bukan sahaja ditayangkan
dalam bentuk iklan sahaja.

Tetapi sudah tentu pihak media boleh
“membungkusnya” dalam tayangan kreatif yang
menurut Sciavo (2007) tayangan yang mengandungi unsur pemberitahuan, mempengaruhi, dan
memotivasi penonton secara individu, institusi,
dan publik tentang isu-isu kesehatan penting kepada profesional kesehatan, kumpulan khusus,
pembuat polisi dan memperkenalkan, mengadopsi, atau menyokong perilaku, praktik atau polisi
yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan.

Aspek-aspek tontonan seperti ini perlu
disegerakan atau diperbanyak lagi kuantitinya.
Sebab faktor media massa pada masa sekarang
telah memberikan pengaruh kuat dalam transformasi perilaku seksual remaja. Kekerapan remaja
mendapatkan informasi dari aktifiti mengakses
media massa seperti televisyen dan internet, telah
ikut menyokong peningkatan pengetahuan seksual negatif remaja. Hal ini selari dengan apa yang
dikatakan oleh Drucker (2001) bahwa televisyen
dan internet meninggalkan dampak terhadap budaya (nilai dan norma) (Bryant and Thompson,
2002) dalam membentuk konsepsi penonton tentang kenyataan sosial.

Disamping itu juga tidak terbukanya faktor bukan media massa terhadap remaja, dinilai
juga telah memberi pengaruh yang signifikan.
Remaja dengan berbagai faktor personal (peng-

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

etahuan, risiko hidup, kendali diri, aktifiti sosial),
faktor lingkungan (akses terhadap sumber informasi, sosial budaya, nilai dan norma), faktor perilaku (orientasi seksual, pengalaman seksual, peristiwa kesehatan dan lain sebagainya) (Antono,
Ford, dan Zahroh, 2006) sebenarnya memerlukan
kekerapan sokongan positif dari faktor-faktor bukan media ini. Hanya saja karena keadaan yang
cukup dilematis maka persoalan remaja ini menjadi sangat susah.

a. Mengenal pasti tingkatan pengetahuan remaja mengenai informasi kesehatan reproduksi.
b. Mengenal pasti kebutuhan, minat terhadap
informasi kesehatan reproduksi remaja.
c. Mengenal pasti sumber informasi (televisyen,
akhbar dan ahli keluarga) mana yang diberikan tumpuan paling besar bagi mendapatkan
informasi kesehatan reproduksi remaja
d. Mengenal pasti kegunaan informasi kesehatan reproduksi bagi remaja.
e. Mengenal pasti kepuasan mana yang diperTUJUAN KAJIAN
olehi remaja melalui pencarian informasi

Kajian tentang kegunaan dan kepuasan
kesehatan reproduksi.
dalam pola penggunaan media massa sebagai
sumber informasi pengetahuan kesehatan re- KERANGKA TEORI
produksi remaja merupakan suatu usaha preven-
Teori kegunaan dan kepuasan merupakan
tif berbagai pihak bagi masa depan remaja yang sebuah teori yang diadaptasi dari teori Fungsionlebih baik. Mengingat berbagai usaha selama ini alis, dan diperkenalkan oleh para sosiologis tertelah dijalankan oleh banyak pihak. Mulai dari masuk Jay Blumler dan Elihu Katz (1973). Kajian
kempen melalui media massa (iklan sosial, se- tentang kegunaan dan kepuasan ini mula-mula
lebaran, pamflet), kempen langsung (pelatihan, diperkenalkan apabila mereka menolak dakwaan
pembagian alat kontrasepsi, kempen ke sekolah- Berelson (Baran and Davis, 2003) bahwa bidang
sekolah) (BKKBN, 2008).
komunikasi telah mati. Sebab pada masa itu ban
Namun hingga saat ini, masih dinilai be- yak kajian hanya diarahkan kepada kesan-kesan
lum berhasil. Sebab bagi perbincangan kearah pemujukan kempen terhadap penonton sahaja.
pengetahuan reproduksi masih lagi dianggap ta- Namun berdasarkan pada kajian tentang “kesan
boo, dan tidak patut untuk disampaikan kepada ketiadaan akhbar” (Severin and Tankard, 2000)
kanak-kanak mereka. Selain itu, adanya anggapan menunjukkan bahwa bidang ini masih lagi berpoyang berkembang bahwa masalah reproduksi para tensi terutama dalam aspek psikologis dan sosial
belia akan memahami dengan sendirinya, mem- Katz, Blumer dan Gurevitch (Rakhmat, 2005).
buat kempen menjadi tidak berkesan.
Sama halnya dengan McQuail (2004) juga men
Walau bagaimanapun, kempen mesti ter- unjukkan bahwa penggunaan media dihala tujuus dijalankan dengan berbagai cara dan inovasi- kan bagi memenuhi kebutuhan informasi, meinovasi. Dan salah satunya, media massa sebagai neguhkan identiti peribadi, memenuhi integriti
akses penyampai informasi yang utama. Sebab dan interaksi sosial serta untuk menghibur diri.
Noelle-Neumann (1984) pernah menyatakan
Sebagai makhluk sosial, motif mahupun
bahwa media massa bersifat serba ada atau ubiq- karakteristik khalayak terbentuk dari lingkunuity. Media massa mampu mendominasi karena gan sosialnya. Lingkungan sosial ini diantaranya
keberadaannya ada dimana-mana sehingga mem- karakteristik demografi, kumpulan-kumpulan sobuat khalayak susah untuk menghindarinya.
sial serta karakteristik personal. Jadi, pada asasnya pendekatan kegunaan dan kepuasan diarahkan
OBJEKTIF KAJIAN
kepada konsep khalayak aktif karena mesej yang
Kajian ini secara amnya untuk melihat pengeta- disampaikan media massa tidak dipahami pemakhuan kesehatan reproduksi diperoleh remaja mel- naannya (Ruggiero, 2000). Namun menurut Croalui sumber-sumber informasi baik yang berasal teau dan Hoynes (2003), dalam konsep khalayak
dari media massa mahupun bukan media massa. aktif ini mempercayai bahwa manusia itu pada
Untuk menjawabnya, maka pengkaji akan meng- asasnya memiliki intelegensi dan bersifat otohuraikan objektif kajian ini kepada :
nom. Sehingga keadaan ini mampu mendorong
55

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
khalayak untuk memilih kandungan media yang
sealiran dalam pemenuhan serta minat khalayak
(Rosengren, 2003) itu sendiri.

Sebab itu, Blumler dan Katz, mencadangkan bahwa Teori
Kegunaan dan kepuasan pengguna media
memainkan peranan
yang aktif dalam memilih dan menggunakan media. Nyatanya
pengguna media turut
mengambil bahagian
dalam proses komunikasi secara aktif dan
menjadi sasaran media.
Blumler dan Katz menyatakan bahwa pengguna media mencari
bahan atau program
yang disiarkan yang
mampu memberikan
kepuasan kepada pengguna media. Hal ini bermakna Teori Kegunaan dan Pemuasan mengandaikan bahwa pendengar mempunyai hak untuk
memilih dalam memberikan kepuasan kepada kehendak mereka.

Kebutuhan khalayak meliputi ciri-ciri demografi seperti umur, bangsa, jantina, kumpulan
bermain dan ciri-ciri personaliti. Katz et al. (1973)
dalam kajiannya di Israel mendapati bahwa kebutuhan yang berkaitan dengan media berkait rapat
dengan umur dan taraf pendidikan seseorang. McQuail et al. (2000) menyatakan bahwa kebutuhan
untuk pelepasan atau escapism mencirikan bahwa
individu itu mempunyai penyesuaian peribadi
yang lemah (low personal adjustment) dan self
esteem yang rendah.

Beberapa kebutuhan di atas, sekurangnya
boleh memenuhi dan mempengaruhi kebutuhan
khalayak seperti kebutuhan kognitif dan afektif,
integriti personal, integriti sosial dan perhubungan sosial. Kebutuhan kognitif boleh dicapai atau
dipenuhi dengan fungsi pengawasan. Manakala
kebutuhan afektif dan pelepasan pula dapat dipenuhi oleh diversion dan fungsi hiburan. Sedangkan kebutuhan integriti personal pula dapat
dipenuhi oleh fungsi identiti diri, dan kebutuhan

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

integriti sosial dipenuhi oleh fungsi perhubungan
sosial (McQuail, 2004).
2.4 MODEL KAJIAN

Kajian ini berpandukan kepada model rajah 2.4 berikut, yang telah diubahsuai dari rajah 1
(model kegunaan dan kepuasan kerangka kajian
Katz) sebagai asas. Seperti yang tergambar pada
rajah 1 model kegunaan dan kepuasan media bermula dengan perlingkungan sosial yang mempengaruhi kebutuhan-kebutuhan individu.

Kebutuhan khalayak meliputi ciri-ciri demografi seperti umur, bangsa, jantina, kumpulan
bermain dan ciri-ciri personaliti. Katz et al. (1973)
dalam kajiannya di Israel mendapati bahwa kebutuhan yang berkaitan dengan media berkait rapat
dengan umur dan taraf pendidikan seseorang. McQuail et al. (1972) menyatakan bahwa kebutuhan
untuk pelepasan atau escapism mencirikan bahwa
individu itu mempunyai penyesuaian peribadi
yang lemah (low personal adjustment) dan self
esteem yang rendah.

Beberapa kebutuhan diatas, sekurangnya
boleh memenuhi dan mempengaruhi kebutuhan
khalayak seperti kebutuhan kognitif dan afektif,
integrity personal, Integriti social dan perhubungan sosial. Kebutuhan kognitif boleh dicapai atau
dipenuhi dengan fungsi pengawasan. Manakala
kebutuhan afektif dan pelepasan pula dapat dipenuhi oleh diversion dan fungsi hiburan. Sedan56

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
gkan kebutuhan integriti personal pula dapat
dipenuhi oleh fungi identiti diri, dan kebutuhan
integriti sosial dipenuhi oleh fungsi perhubungan
sosial.

Kebutuhan-kepeluan yang ada, akan didapatkan dengan menggunakan sarana media, yaitu
sumber bukan media massa dan sumber media
massa. Sumber bukan media massa berasal dari
perlingkungan khalayak dengan tidak melibatkan teknologi komunikasi dan informasi. Ianya
bersumber dari rakan-rakan, keluarga, hubungan
antarperibadi, informasi secara turun temurun,
hobi, seminar-seminar serta sumber-sumber lainnya yang diperoleh dengan berbagai cara.

Manakala sumber media massa pula terdapat beberapa pembolehubah penggunaan media
atau kombinasi penggunaan media yang boleh
membawa kepada kepuasan. Pembolehubah yang
dimaksud Katz et al. 1973 (dalam Rakhmat, 2000)
adalah isi kandungan media, jenis media, konteks
sosial. Ketiga pemboleh ubah tersebut memberikan kesan media dapat dioperasionalisasikan sebagai hasil penilaian kemampuan media dalam
memberikan kepuasan kepada khalayak (sejauhmana media massa mampu membantu khalayak
memecahkan masalah dalam diri/lingkungan sosial). Penilaian yang dilakukan keatas media yang
menjadi sasaran utama dalam perolehan informasi, untuk memastikan sejauhmana informasi tersebut diperoleh oleh khalayak media itu sendiri.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Berdasarkan pada model yang dibina oleh
Katz diatas, model ini kajian di bawah inilah nanti
yang akan menjadi ukuran pengkaji dalam mengenal pasti pola penggunaan media massa sebagai sumber informasi kesehatan reprodusi remaja.
Model kajian ini adalah sebagaimana yang disebut di rajah 2.4.2.

Berdasarkan pada model kegunaan dan
kepuasan yang ditunjukkan pada rajah 2 diatas,
bermula dengan ciri demografilah nantinya akan
mempengaruhi minat. Ciri demografi yang merupakan aspek-aspek penyokong dalam pelingkungan social akan menentukan sejauh minat
masyarakat akan dibangkitkan. Bersumber dari
minat maka akan menyebabkan khalayak berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan mencari sumber media massa yang menyediakan informasi kesehatan reproduksi bagi mendapatkan
kegunaan. Apabila kegunaan terpenuhi, mereka
akan mendapatkan kepuasan dalam berbagai bentuk.
HIPOTESIS
Dalam kajian ini pengkaji telah membentuk beberapa hipotesis untuk diuji, antara lain :
Hipotesis 1
Terdapat Hubungan Diantara Kebutuhan Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi Dengan Minat Terhadap Kesehatan Reproduksi
Hipotesis 2
Terdapat Hubungan
Diantara
Kebutuhan Terhadap Informasi
Kesehatan Reproduksi Dengan
Pencarian Informasi Kesehatan
Reproduksi
Hipotesis
2a : Hubungan
Antara
Minat
Terhadap Informasi Kesehatan
Reproduksi Dengan
Tumpuan
Kepada Sumber
informasi (TV)
57

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)

Hipotesis 2b : Hubungan Antara Minat Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi Dengan
Tumpuan Kepada Sumber informasi (Akhbar)
Hipotesis 2c : Hubungan Antara Minat Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi Dengan
Tumpuan Kepada Sumber informasi (Ahli Keluarga)
Hipotesis 3
Hipotesis 3a : Tumpuan Sumber informasi (TV)
Dengan Kegunaan Terhadap Informasi Kesehatan
Reproduksi
Hipotesis 3b : Hubungan Antara Tumpuan Sumber informasi (Akhbar) Dengan Kegunaan Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi
Hipotesis 3c : Hubungan Antara Tumpuan Sumber informasi (Ahli Keluarga) Dengan Kegunaan
Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi
Hipotesis 4
Hipotesis 4a : Hubungan Antara Dengan Kegunaan Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi
Dengan Kepuasan Terhadap Informasi Kesehatan
Reproduksi (Identiti Pribadi)
Hipotesis 4b : Hubungan Antara Dengan Kegunaan Terhadap Informasi Kesehatan Reproduksi
Dengan Kepuasan Terhadap Informasi Kesehatan
Reproduksi (Hubungan Pribadi)

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Dalam kajian ini, peyelidik menggunakan
soal selidik sebagai instrumen mengumpul data
kuantitatif. Instrumen ini akan dibahagi kepada
enam bahagian utama. Soalan-soalan yang tertera
akan diberikan pilihan soalan atau dikenal dengan nama soalan tertutup, agar responden mudah
dalam memberikan jawapan.
Walau bagaimanpun, terdapat satu soalan terbuka
dimana para responden dapat memberikan jawapan sendiri berbanding memilih jawapan yang

ditetapkan penyelidik sebagai pelengkap kepada
soalan tertutup dan juga mendapatkan data yang
lebih tepat. Namun bilangan soalan terbuka dibataskan untuk mengelakkan responden menjawab perkara yang tidak berkaitan karena ia akan
mengelirukan penyelidik emasa membuat análisis
data (Csaja & Blair, 1996).
Keseluruhan pengoperasian dan pengolahan data
yang diperolehi diselaraskan dengan kaedah kaKAEDAH KAJIAN
jian kuantitatif menggunakan pakej SPSS (Statis
Kajian ini akan mengkaji pola penggunaan tical Package for Social Science) melalui perisian
media massa sebagai sumber informasi kesehatan komputer. Skala pengukuran merupakan aspek
reproduksi pada remaja. Seterusnya sebagai pan- penting yang ditekankan dalam bahagian ini yang
duan dalan kajian ini pengkaji akan mengguna- mana proses pembahagian nomnor adalah isomokan kerangka teori kegunaan dan kepuasan. Be- prik untuk mewujudkan hubungan yang sepadan
rasaskan kepada kajian-kajian masa lalu, kajian di antara setiap angka dengan ciri-ciri yang henini juga akan menggunakan kaedah tinjauan atau dak diukur.
pemerhatian. Kaedah yang dijalankan ini berbentuk pengumpulan data yang dirancang bagi tujuan HASIL KAJIAN
menganalisis beberapa aspek yang saling ber- Berasaskan pada aras p>0.05 sesuatu
hubungan.
hipotesis itu akan diterima jika nila khi kuasa dua

Kawasan kajian ini berada di Kecamatan itu berada diaras penerimaan kurang dari p=0.05.
Rupat Utara berada di Kabupaen Bengkalis Pro- Jika nilai berada lebih besar dari aras p=0.05 maka
pinsi Riau. Kecamatan Rupat Utara beribu negeri hipotesis ditolak.
di Tanjung Medang dengan luas kawasan 628.50
m2. Kecamatan ini pula memiliki 5 (lima) buah Hipotesis 1: Terdapat perbezaan diantara ciri dedesa dengan batas wilayahnya. Dengan rincian mografi jantina dengan kebutuhan terhadap inforsampel kajian sebagai berikut :
masi kesehatan reproduksi remaja.
58

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)

Jadual 4.8.1 Jantina dengan Kebutuhan terhadap Informasi
Kesehatan Reproduksi

Jadual 4.8.1 menjelaskan mengenai perbezaan masing-masing jantina dengan kebutuhan
terhadap informasi kesehatan reproduksi. Hasil
kajian menunjukkan bahwa terdapat 87 orang lelaki yang menyatakan bahwa informasi kesehatan
reproduksi itu kurang perlu dan yang menyatakan
perlu seramai 38 orang. Sedangkan perempuan
pula, ada seramai 89 orang yang menyatakan bahwa informasi tersebut kurang perlu dan seramai
36 orang pula yang mengatakannya perlu.

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua yang
bernilai X2 = 7.7a menunjukkan bahwa tidak terdapat perbezaan diantara jantina dengan kebutuhan
terhadap informasi kesehatan reproduksi dikalangan remaja. Ini dikarenakan nilai singnifikan khi
kuasa duanya melebihi aras yang telah ditetapkan.
Maknanya hipotesis yang menyatakan perbezaan diantara ciri demografi jantina dan kebutuhan terhadap
informasi kesehatan reproduksi ditolak.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Jadual 4.8.2 menjelaskan mengenai hubungan diantara kebutuhan terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan minat terhadap informasi kesehatan
reproduksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat 45 orang yang menyatakan bahwa informasi kesehatan reproduksi itu perlu dan berminat, sedangkan
yang menyatakan perlu tapi tidak kurang berminat
seramai 29 orang responden. Seterusnya yang menyatakan kurang perlu dan berminat ada seramai 80
orang. Sedangkan yang menyatakan informasi kesehatan tersebut kurang perlu dan kuran berminat ada
seramai 91 orang. Serta ada 5 orang responden yang
menyatakan bahwa Informasi kesehatan reproduksi
kurang perlu dan tidak berminat.

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua
yang bernilai X2 = 6.259a menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan diantara kebutuhan
terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan
minat kebutuhan terhadap informasi kesehatan reproduksi. Ini dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa
duanya adalah 0.044 dan lebih kecil berbanding nilai
khi kuasa dua yang telah ditetapkan. Maknanya hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang
signifikan diantara kebutuhan terhadap informasi
kesehatan reproduksi dengan minat terhadap informasi kesehatan reproduksi diterima.
Hipotesis 3: Terdapat hubungan diantara minat
terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan
sumber informasi kesehatan reproduksi
Sub-hipotesis 3a: Terdapat hubungan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan
televisyen sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi.

Hipotesis 2: Terdapat hubungan diantara kebutuhan terhadap informasi kesehatan reproduksi
dengan minat terhadap informasi kesehatan reproduksi

Jadual 4.8.3 menjelaskan mengenai hubungan diantara minat terhadap informasi kesehatan
59

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
reproduksi dengan televisyen sebagai informasi kesehatan reproduksi. Berdasarkan pada jadual di atas,
frekuensi diantara yang berminat dengan kurang
berminat pada masa penontonan 10 – 16 jam per
minggu relatif seimbang.
Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua yang
bernilai X2 =8.281a menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan diantara minat terhadap
informasi kesehatan reproduksi dengan televisyen
sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi. Ini
dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa duanya adalah 0.218 dan lebih kecil berbanding nilai khi kuasa
dua yang telah ditetapkan. Maknanya hipotesis yang
menyatakan hubungan yang signifikan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan
televisyen sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi diterima.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

adap informasi kesehatan reproduksi dengan akhbar
sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi. Ini
dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa duanya adalah 0.595 dan lebih besar berbanding nilai khi kuasa
dua yang telah ditetapkan. Maknanya hipotesis yang
menyatakan hubungan yang signifikan diantara
minat kebutuhan terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan akhbar sebagai sumber informasi
kesehatan reproduksi ditolak.
Sub-hipotesis 3c
: Terdapat hubungan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi
dengan ahli keluarga sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi

Sub-hipotesis 3b: Terdapat hubungan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan akhbar sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi

Sama halnya dengan jadual diatas, Jadual
4.8.4 menjelaskan mengenai hubungan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan akhbar sebagai informasi kesehatan reproduksi.
Secara mayoritas, hasil kajian tidak menunjukkan
perbezaan yang terlalu kentara antara kekerapan responden dalam membaca akhbar dengan yang tidak
terhadap minatnya. Sebab secara totaliti 125 orang
responden yang menyatakan berminat dan yang
kurang berminata ada 120 orang dan yang tidak berminat ada 5 orang sahaja.

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua yang
bernilai X2 =2.784a menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan diantara minat terh60

Selari dengan jadual 4.8.5 di atas, Jadual
4.8.3 juga menjelaskan mengenai hubungan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi
dengan ahli keluarga sebagai informasi kesehatan
reproduksi. Terlihat hasil yang sangat jelas bahwa
pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi masih
taboo. Ini dinyatakan dengan data bahwa seramai
103 orang responden tidak pernah membincangkannya dengan ahli keluarga mereka. Padahal mereka
menyatakan minatnya terhadap informasi tersebut

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua yang
bernilai X2 =4.091a menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan diantara minat terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan ahli
keluarga sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi. Ini dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa
duanya adalah 0.394 dan lebih besar berbanding
nilai khi kuasa dua yang telah ditetapkan. Maknanya
hipotesis yang menyatakan hubungan yang signifikan diantara minat kebutuhan terhadap informasi
kesehatan reproduksi dengan ahli keluarga sebagai
sumber informasi kesehatan reproduksi ditolak.

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
Hipotesis 4: Terdapat hubungan diantara sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi remaja.
Sub-hipotesis 4a: Terdapat hubungan diantara televisyen sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi.

Jadual 4.8.6 menjelaskan mengenai hubungan diantara televisyen sebagai sumber informasi
kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi. Berdasarkan kepada
hasil kajian sebahagian besar reponden menyatakan
bahwa kegunaan informasi kesehatan reproduksi
tidaklah beitu penting. Namun purata yang menyatakan demikian itu ialah mereka-mereka yang tidak
memiliki televisyen.

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua
yang bernilai X2 =0.057a menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan diantara televisyen sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi
dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi. Ini dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa
duanya adalah 0.812 dan lebih besar berbanding
nilai khi kuasa dua yang telah ditetapkan. Maknanya
hipotesis yang menyatakan hubungan yang signifikan diantara televisyen sebagai sumber informasi
kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi ditolak.
Sub-hipotesis 4b: Terdapat hubungan diantara akhbar
sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi
Jadual 4.8.7 menjelaskan mengenai hubungan diantara akhbar sebagai sumber informasi kesehatan
reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi
kesehatan reproduksi. Berdasarkan kepada hasil kajian sebahagian besar reponden menyatakan bahwa

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

kegunaan informasi kesehatan reproduksi kurang
berguna. Meskipun mereka membaca 1-2 kali dalam
satu minggu.

Meskipun demikian melihat dari hasil ujian
khi kuasa dua yang bernilai X2 =12.829a menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan diantara akhbar sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi
dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi. Ini dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa
duanya adalah 0.022 dan lebih kecil berbanding nilai
khi kuasa dua yang telah ditetapkan. Maknanya hipotesis yang menyatakan hubungan yang signifikan
diantara akhbar sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi
kesehatan reproduksi diterima.
Sub-hipotesis 4c: Terdapat hubungan diantara ahli
keluarga sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi

Jadual 4.8.8 menjelaskan mengenai hubungan diantara ahli keluarga sebagai sumber informasi
kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap
informasi kesehatan reproduksi. Hasil kajian menunjukkan sebahagian besar reponden menyatakan
61

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
bahwa kegunaan informasi kesehatan reproduksi
kurang berguna jika diperolehi dari ahli keluarga.
Namun purata yang menyatakan demikian itu ialah
mereka-mereka yang tidak pernah membincangkanya dengan ahli keluarga mereka.

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua
yang bernilai X2 =3.405a menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan diantara ahli keluarga sebagai
sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi. Ini
dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa duanya adalah 0.182 dan lebih besar berbanding nilai khi kuasa
dua yang telah ditetapkan. Maknanya hipotesis yang
menyatakan hubungan yang signifikan diantara ahli
keluarga sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi ditolak.
Hipotesis 5: Terdapat hubungan diantara kegunaan
terhadap dengan kepuasan terhadap informasi kesehatan reproduksi

Jadual 4.8.9 menjelaskan mengenai hubungan diantara kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan kepuasan terhadap informasi
kesehatan reproduksi. Berdasarkan kepada hasil kajian seramai 67 orang responden yang menyatakan
kurang berguna namun puas. Serta yang menyatakan
berguna dan puas ada seramai 25 orang. Sedangkan
yang responden yang menyarakan kuang berguna
dan kurang puas ada seramai 118 orang dan yang
menyatakan berguna tetapi kurang puas ada seramai
40 orang.

Sementara itu, hasil ujian khi kuasa dua yang
bernilai X2 =0.104a menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan diantara kegunaan
terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan
62

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

kepuasan terhadap informasi kesehatan reproduksi.
Ini dikarenakan nilai singnifikan khi kuasa duanya
adalah 0.747 dan lebih besar berbanding nilai khi
kuasa dua yang telah ditetapkan. Maknanya hipotesis yang menyatakan hubungan yang signifikan
diantara kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi dengan kepuasan terhadap informasi kesehatan reproduksi ditolak.
RUMUSAN

Berasakan kepada kajian yang dilakukan
bagi mengenalpasti pola penggunaan media massa
sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi remaja di Kecamatan Rupat Utara, di nilai masih rendah. Akan tetapi dari data yang ada juga diketahui
lebih dari setengah responden merupakan penonton
yang aktif. Sebab, meskipun tidak memiliki televisyen ataupun akhbar tetapi mereka melakukan
sebuah usaha mengkonsumpsinya ditempat lain.
Namun aspek-aspek yang mereka konsumpsi masih
belum terlalu mengarah kepada informasi kesehatan
reproduksi.
Keadaan ini telah digambarkan dalam analisis hipotesis diatas, terkait perbezaan dan hubungan diantara
aspek-aspek yang ada di dalam kajian ini. Ada hipotesis yang diterima atau memiliki nilai signifikan
(hubungan) dan ada juga yang ditolak atau tidak memiliki nilai signifikannya.
Dalam kajian ini, dapat disimpulkan bahwa :
a. H1 (ditolak), ertinya tidak ada perbezaan jantina
yang berhubung kait dengan kebutuhan terhadap
informasi kesehatan reproduksi remaja. Semua
remaja baik itu lelaki mahupun perempuan samasama memerlukan informasi kesehatan reproduksi.
b. H2 (diterima), ertinya terdapat hubungan diantara
kebutuhan dengan minat.
c. H3 (H3a, H3b, dan H3c) (di tolak), menunjukkan
bahwa minat terhadap informasi kesehatan reproduksi ternyata tidak ada hubungannya dengan
sumber informasi yang tersedia.
d. H4 (H4a dan H4c) (ditolak), ini menunjukkan
bahwa sumber informasi tidak ada hubungannya kegunaan sesebuah informasi kesehatan reproduksi.
Namun H4b (diterima), bahwa sumber informasi
melalui akhbar memiliki hubungan dengan kegunaan terhadap informasi kesehatan reproduksi.

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
Ini diduga karena sifat dari pada akhbar itu sendiri, yang boleh dikonsumpsi oleh khalayak secara
berulang kali meskipun informasi telah disampaikan sejak lama.
e. H5 (ditolak), menunjukkan bahwa tidak adanya
hubungan diantara kegunaan sebuah informasi
kesehatanj rerpoduksi dengan kepuasan yang didapat oleh responden.
BATASAN KAJIAN DAN CADANGAN KAJIAN MASA HADAPAN

Sesuai dengan bidang akademik pengkaji
yaitu Media dan Ilmu Komunikasi, maka kajian ini
hanya menyentuh kepada aspek pola penggunaan
media dikalangan remaja sahaja. Kajian yang hanya
dibatasi kepada 3 jenis sumber informasi (televisyen,
akhbar dan ahli keluarga) dan 5 jenis isu kesehatan
(Kekurangan darah merah, HIV/AIDS, merokok,
minuman keras dan memaborsi) ini telah berupaya
untuk melihat dan mengenalpasti sejauhmana remaja memaksimalkan fungsi media untuk memperoleh
informasi kesehatan reproduksi.

Meskipun dalam menjalankan kajian ini
pengkaji menggunakan unsur-unsur minat, kegunaan, kepuasan tetapi pada initnya adalah untuk
melihat pola penggunaan medianya sahaja. Ketertarikan pengkaji terhadap persoalan yang sangat
sederhana ini karena dipengaruhi oleh kondisi dan
keadaan sosial masyarakat berbeza dengan perlingkungan kajian-kajian yang telah ada. Setidaknya
upaya yang pengkaji lakukan ini dapat menjadi tolak ukur bagi aktifiti-aktifiti pembinaan masyarakat
dan lebih mengayakan teknik-teknik penyebaran
informasi ke daerah kategori pinggiran pedalaman
ataupun pedalaman.

Dalam kajian ini pengkaji melihat responden
baik dari segi pendidikan dan pekerjaan secara keseluruhan. Sehingga jawapan bagi melakukan uji
terhadap hipotesis pun dilakukan secara am. Oleh
karena itu, bagi kajian kedepad diharapkan agar kajian dilakukan jauh lebih spesisifik lagi dengan jenis
responden yang homogenik secara cirri demografi.
Ini akan memberikan pandangan yang lebih spesifik lagi tentang fenomena yang berlaku dikalangan
masyarakat luas.

Disamping itu, kajian ini hanya berfokus
kepada satu teori kegunaan dan kepuasan dengan
teknik analisa menggunakan spss. Untuk kajian

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

yang lain, kajian mengenai permasalahan kesehatan
reproduksi perlu menggunakan teori lain, misalnya
belajar sosial. Diharapkan dengan teori tersebut,
setelah kajian dijalankan bentuk nyata dari upaya
pembinaan remaja akan lebih terlihat. Selain itu pula,
kajian hendaknya dilakukan memang di wilayah
pedalaman. Karena penduduk wilayah pedalaman
ada yang telah melakukan urbanisasi, dan ketika
sesekali pulang ke kampong halaman maka perubahan sekecil mungkin yang dibawa akan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi masyarakat
tempatan. Selain itu juga, pengkaji kedepan diharapkan mampu membuat kajian yang akan mengubah
paradigm masyarakat tentang arti penting memiliki
pengetahuan dan informasi kesehatan reproduksi.
Sehingga pandangan, persoalan reproduksi akan
diketahui dengan sendirinya setelah menikah akan
bergeser.
5.5 PENUTUP

Kajian ini telah menunjukkan betapapun
media massa telah banyak menyampaikan informasi kesehatan reproduksi, namun tidak didukung
dengan memberikan pemahaman yang baik, maka
informasi yang ada akan disalah artikan oleh remaja.
Melalui kajian dengan menggunakan teori kegunaan dan kepuasan ini setidaknya dapat mengetahui
secara am berhubungkait dengan efektifiti penyiaran mengenai informasi kesehatan reproduksi yang
telah ada. Dengan berbagai factor yang ada dilingkungan responden, kajian ini mendapati pola penggunaan media sebagai sumber informasi kesehatan
reproduksi remaja di Kecamatan Rupat Utara – Riau
– Indonesia masih belum maksimal.
RUJUKAN
A. Javier,. Bargas-Avila, Lötscher, Jonas,.
Orsini, Sébastien,. Opwis, Klaus,. 2009. Intranet
satisfaction questionnaire: Development and validation of a questionnaire to measure user satisfaction
with the Intranet Computers in Human Behavior
(25) 1241–1250
AJ Flanagin. MJ Metzger. 2001. Internet
Use In The Contemporary Media Environment. Human Communication Research. 27 (1) ; 153-181
Ajuwon, A.J. (2002): HIV Risk Related Behaviour, Sexual Coercing and Implications for Prevention Strategies among Female Apprentice Tai63

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
lors in Ibadan, Nigeria, in AIDS and Behaviour., 6
(3) ; 229-35
Akinade and Sulaiman, 2005. Sexuality Education and Couple Guidance Lagos: Bats Olatunji
Publishers
Alford, S. 2008. Reproductive Health Outcomes & Contraceptive Use Among US Teens. Advocates for Youth. Washington
Alford, S. Debra Hauser. 2009. Adolescent
Sexual Health in Europe and The US ; Why The
Different ? Advocates for Youth. Washington
Al-Gahtani, S. S. & King, M. 1999. Attitudes,
satisfaction and usage: Factors contributing to each
in the acceptance of information technology. Behaviour & Information Technology, 18(4), 227–297.
AmFAR AIDS Research. 2006. HIV Prevention for Men Who Have Sex With Men. Issue Brief
No. 4
Antono. S., N. Ford., Zahroh.,S. 2006. Determinant of Youth Sexual Behaviour and It’s Implication To Reproductive And Sexual Health Policies
And Services In Central Java. Journal Of Health
Promotion ; 1 (2) ; 60-71
Arens, W.F. 1999. Contemporery Advertising. Ed. Ke-7. USA: McGraw Hill
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian, edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta
Arunachalam and Sivasubramanian, 2007.
Theoretical Framework To Measure The User Satisfaction In Internet Banking . Academic Open Internet Journal. Vol 20
Babalola, Stella,. Fatusi, Adesegun,. Anyanti,
Jennifer. 2009. Media Saturation, Communication
Exposure and HIV stigma in Nigeria, Social Science & Medicine journal. 68. p. 1513–1520
Babalola, Stella., B. Oleko Tambashe &
Claudia Vondrasek. 2005. Parental Factors and
Sexual Risk Taking among Young People in Côte
d’Ivoire. African Journal of Reproduction Health,
9(1). 45-65
Babie,E.R. 1975, The Practice of Social Research. California: Publishing Wadsworth
Bailey, J., & Pearson, S. 1983. Development
of a tool for measuring and analyzing computer user
satisfaction. Managment Science, 29(5), 530–545.
Baran, S.J., Dennis K. Davis. 2003. Mass
Communcation Theory ; Foundations, Ferment and
64

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Future. 3d ed. Balmont. Calif.: Thomson/Wardsworth
Bartsch, Anne,. Viehoff, Reinhold. 2010, The
Use of Media Entertainment and Emotional Gratification, journal of Procedia Social and Behavioral
Sciences 7 (5): 2247–2255
BKKBN Pusat Jakarta. 2008. Program Dan
Strategi KB Nasional. PT. Kencana Karya. Jakarta
Blumler JG, Katz E., 1974, The Uses Of
Mass Communications: Current Perspectives On
Gratifications Research. Beverly Hills, CA:Sage
Publications.
BP, Stoner,. WH, Whittington,. SO, Aral,.
JP, Hughes,. HH, Handsfield,. KK, Holmes. 2003.
Avoiding risky sex partners: Perception of partners’
risks v. partners’ self reported risks. Sexually Transmitted Infections. 70 (6):197–201.
Brieger, W.R. 2004. West African Youth Initiative: Outcome of Reproductive Health Education
Program. Journal of Adolescene. Vol. 29. 436-446
Bryant, J., & Thompson, S. 2002. Fundamentals of Media Effects, 1st ed. New York: McGrawHill Higher Education
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kencana Prenada Media Group.
Jakarta
Croteau And Hoynes. 2003. Media Society :
Industries, Images and Audiences (3 ed). Pine Forge
Press. Thousand Oakes
Darroch, Jacqueline E., Jenny Higgins, David J. Landry, Susheela Singh. 2003. Factors Associated with the Content of Sex Education in U.S.
Public Secondary Schools”, Perspectives on Sexual
and Reproductive Health 3 (5): 261-269
Drucker, P.F. 2001. The essential Drucker:
Selections From the Management works of Peter F.
Drucker. New York: Harper Business.
Dunn, M.E. and Marie, P. 1997. Trends in
Sexuality Education in United States and Canadian
Medical School: Journal of Psychology and Human
Sexuality 9 (4), 175-184
Dutton., WH. Kahin. B.,Callaghan., R.
Wyckoff., AW. 2005. Transforming enterprise. The
economic and social implications of information
technology. SNP Best-set Typesetter Ltd., Hongkong
Eighmey, J., & McCord, L. 1998. Adding
value in the information age: Uses and gratifications

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
of sites on the World Wide Web. Journal of Business
Research, 41(3), 187–194.
European. Sex Survey. 2006. Teens from
Germany, Iceland Ditch Virginity Early
Faluso, A.F., Odu B.K,. 2010. Effect of Sexuality Education on The Improvementof Health Status of Young People in The University of Ado-Eikiti
Nigeria. Procedia Social Behaviour Sciences. 5 (2)
: 1009-1016l
Garramore, Gina. M., 1984, Motivational
Modul ; Replication Across Media For Political
Campaign Conduct, Journalism Quartetly, 61 (3) :
537- 541
George Monbio. 2004. Joy of sex education.
The Guardian
Gerungan., WA. 1996. Psikologi Sosial.
Bandung. Ersco
Guhardja, S,. 1993. “Pengembangan sumber
daya keluarga: bahan pengajaran”, PT., Institut Pertanian Bogor. Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi,BPK Gunung Mulia
Hakim. A.R,. 2002. Meniti Remaja Muslim.
PT. Remaja Rosda Karya. Bandung
Hakim., AR. 2002. Pendidikan Seks Dalam
Perspektif Keislaman. PT. Bumi Aksara. Jakarta
Harian Media Indonesia. 2009
Harian Republika, 28 November 2002
Hasmi, E. 2001. Meeting Reproductive
Health Needs of Adolescent In Indonesia. Journal
of Adolescent Reproductive and Sexual Helath.
UNESCO
Hatmadji, R,. 1993. Adolescent Reproductive Health In Indonesia. Research Report of Joint
Coorperation. Jakarta ; Demographic Institute Faculty of Economic University of Indonesia, Teh Ford
Foundation. RAND Corporation. The World Organization. Yayasan Kusuma Buana
Health GAP Report. 2006. GAO Report on
PEPFAR Prevention Program : United States Abstinence/Being Faithfull-only Program Produce Stigma on Death
Hendershot, Christian S.; Stoner, Susan A.;
George, William H.; Norris, Jeanette. 2007. Alcohol Use, Expectancies, And Sexual Sensation Seeking As Correlates Of Hiv Risk Behavior In Heterosexual Young Adults. Psychology of Addictive
Behaviors, 21(3), 365-372.
Hernandez, Graciella Epinosa,. Lefkowitz,

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Eva S. 2009. Sexual Behaviour And Attitudes And
Ethnic Identity During College. Journal of Sex Research. 26 (8) : 125-133
Hindin, Michelle J,. Fatusi, Adesegun O.
2009. International Perspectives on Sexual and Reproductive Health Volume 35 (2) : 58 – 62
http://www.google.com/spring2001/uses.
htm
Huang, J.-H., Yang, C., Jin, B.-H., & Chiu,
H. 2004. Measuring satisfaction with business-toemployee systems. Computers in Human Behavior,
20 (6) : 17–35.
Inskip, Charles,. Butterworth, Richard,. MacFarlane, Andrew. 2008. A study of the information
needs of the users of a folk music library and the
implications for the design of a digital library system, Information Processing and Management . 4
(4) : 647–662
Jacqueline, E.D,. David J. Laundry., Susheela Singh. 2000. Changing Emphasis in Sexuality
Education in US. Public Secondary School.. Family
Planing Perspective. 3 (2) : 1988 – 1999
Jen-Her Wu, Shu-Ching Wang, Ho-Huang
Tsai. 2010. Falling In Love With Online Games :
The UsesAnd Gratification Perspective. Computer
in Human Behaviour . 2 (6) : 1862-1871
Johnson,. Thomas J. & K. Kaye,. Barbara.
2004. Wag The Blog: How Reliance Ontraditional
Media And The Internet Influence Credibility Perceptions Ofweblogs Among Blog Users. Journalism
& Mass Communication Quarterly, 8 (1) : 622-642.
Kaye, Barbara K., Jhonson, Thomas J. 2004.
A Web For All Reason : Uses And Gratfication
of Internet Component For Political Information.
Thelematics And Informatic. 21 (2) : 197-223
Khan et al. 2001. Cost-effectiveness of the
female condom in preventing HIV and STDs in
commercial sex workers in rural South Africa. Social Science & Medicine. 52 (1) ; 135-148
Khan, F. R., Abbasi, A. S., Mahsud, M. N.,
Zafar, H. A., & Kaltikhel, A. U. 1999. The press
and Sindhi–Mohajir ethnic relations in Hyderland: Do the newspapers cultivate ethnicity? In A.
Goonasekera,
Kippax., S. Murray., JP. 1980. Using The
Mass Media Need Gratification and Perceived Utility. The Communication Research. 7 (3) ; 335 – 359
Koniak-Grifin, Deborah., Huang, Rong,.
65

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
Lesser, Janna,. Gonzalez-Figueroa, Evelyn,. Sumiko Takayanagi, and Clumberland, William G.
2009. Young Parents Relationship Characteristic,
Shared Sexual Behaviours, Perception Of Partner
Risk And Dyadics Influences. Journal of Sex Research, 46 (5). 483-493
Koo, D. K. 2009. The Moderating Role Of
Locus Of Control On The Links Between Experiential Motives And Intention To Play Online Games.
Computers in Human Behavior, 25 (2) : 466–474
Lee., W. 2003. Sexual Ecounter, Pasific Text
Modern Sexualities. Cornell University Press. USA
Leite, Iúri C,. Gupta, Neeru. 2007 Assessing
Regional Differences In Contraceptive Discontinuation, Failure And Switching in Brazil Reproductive
Health, 4 (6) : 156 - 169
Leung, Louis. 2003. Impacts Of Net-Generation Attributes, Seductives Properties of The Internet
and Gratification-Obtained on Internet Use. Journal
of Telematics And Informatics. 20 (5) : 107-129
Leung., L & Wei., R. 2000. More Than Talk
On The Move ; Uses And Gratification Of The Cellular Phone. Journalisme And Mass Communication Quartley 77 (2) ; 308-320
Liang, T.P., Lai, H.J. & Ku, Y.C. 2007. Personalized Content Recommendation And User
Satisfaction: Theoretical Synthesis And Empirical
Findings. Journal of Management Information Systems. 2 (3) : 45-70.
Littlejohn, S. 2002. Theories of Human Communication (7th ed.). Albuquerque, NM: Wadsworth
Livaditi, J, Vassilopoulou, K, Christos Lougos and Chorianopoulos, K, 2002, Needs and Gratifications for Interactive TV Applications: Implications for Designers, Proceedings of the 36th Hawaii
International Conference on System Sciences (HICSS’03)
Lukman, Z.M. 2009. Miss Understanding on
Child Prostitution and Prostituted Children in Malaysia. Europian Journal of Social Science. Vol. 9
Lull, James. 1995. Media, Communication,
Culture: A Global Approach. Cambridge, England:
Polity Press (co-published in USA by Columbia
University Press.
Mardiani, A. 2007. Thesis : Hubungan Antara
Konformitas Teman Sebaya Dengan Kecenderungan Gaya Hidup Eksperimen Pada Siswa Kelas XI
SMA Lab School Jakarta. Univesitas Diponegoro.
66

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Semarang
Martin, J. M., & Schumacher, P. 2003. Loneliness and social uses of the Internet. Computers in
Human Behavior, 19(6), 659–671.
McKeen, J. D., Guimaraes, T., & Wetherbe,
J. C. 1994. The Relation Between User Partricipation And User Satisfaction: An Investigation Of
Four Contingency factors. MIS Quaterly, 18(4),
427–451.
McLeod, J.M. & Becker, L.B. (1974) Testing The Validity Of Gratification Measures Through
Political Effects Analysis. In: The Uses Of Mass
Communications: Current Perspectives On Gratifications Research, Blumler, J.G. & Katz, E. (eds.),
pp. 137-164. Beverly Hills, CA: Sage.
McQuail, D. 2004. McQuail’s Mass Communication Theory. London: Sage.
Mehta, S,. Riet Groenen and Fransisco
Roque. 2002. Adolescent in Changing Times : Issues and Perspective For Adolescent Reproduction
Health in The Escape Region. United Nations Social and Econimic for Asia and The Pasific. Bangkok. Thailand
Merson., M. H. 2006. The HIV–AIDS Pandemic at 25 — The Global Response. The New
England Journals Of Medicine. 3 (54) :2414-2417
Nicholas Garnham. 2000. Information Society’ As Theory Or Ideology: A Critical Perspective
In Technology, Education And Employment In The
Information Age. Journal of Information, Communication & Society . 3 (2). 139-152
Noelle-Neumann.E,. 1984. The Spiral Silence. A Theory of Public Opinion – Our Social
Skin. University Of Chicago Press.
Nwagwu, W,E,. 2007, The Internet As A
Source Of Reproductive Health Information Amongadolescent Girls In An Urban City In Nigeria,
BMC Public Health 2007. 7 : 354
Okezone. 6 desember 2010
Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth
D. (2001). Human Development (8th ed.). Boston:
McGraw-Hill
Pornsakulvanich, V., Haridakis, P., & Rubin,
A. M. 2008. The Influence Of Dispositions And Internet Motivation On Online Communication Satisfaction And Relationship Closeness. Computers in
Human Behavior, 24 (7) : 2292-2310.
Prijana Hadi, Ido. 2005. Populasi dan Tekh-

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
nik Sampling, PT. Elex Komputindo. Jakarta
Rakhmat, J. 2005. Psikologi Komunikasi
Edisi Revisi. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung
Rojas-Guyler L, Ellis N, Sanders S. 2005.
Acculturation, Health Protective Sexual Communication, And Hiv/Aids Risk Behavior Among Hispanic Women In A Large Midwestern City. Health
Education and Behavior ; 3 (2) : 767–779
Rojas-Guyler., L. Ellis., N. Sanders., S. 2005.
Communication, Health Protective Sexual Communication, And HIV/AIDS Risk Behaviour Among
Hispanic Women In Large Midwetern City. Journal
Health Education And Behaviour. 32 (96) : 767-779
Rosengren, Karl Erik. 2003. Communication
an Introduction, Sage Publications
Rosengren,. K.E. 1974. Uses and gratification: A Paradigm Outlined. In: The Uses of Mass
Communications: Current Perspectives on Gratifications Research, Blumler, J.G. & Katz, E. (eds.),
pp.269-286, Beverly Hills: Sage
Rubin, A.M. 1981. An Examination Of Television Viewing Motivations, The Communication
Research. 8 (1), 141-165
Rubin, A.M. 1994. Media Uses And Effects: A Uses And Gratifications Perspective. Di
dalam Haridakis, P.M. & Whitmore E.H. 2006.
Understanding Electronic Media Audiences: The
Pioneering Research of Alan M. Rubin. Review
and Criticism: Research Pioneer Tribute. Journal of
Broadcasting & Electronic Media. 50(4). 766-774.
Ruggiero, Thomas E. 2000. Uses And Gratifications Theory in The 21 St Century Mass Communication And Society 3 (1). 3-37
Samsudin A. Rahim & Latifah Pawanteh.
2000. Media penetration and cultural consequences
on adolescents in Malaysia. Jurnal Komunikasi. 16.
pp 51 – 70
Samsudin A. Rahim & Latifah Pawanteh.
2001. Penilaian Intervensi Sosial PROSTAR Terhadap Kesedaran AIDS Di Kalangan Remaja. Kementerian Kesehatan Malaysia. Percetakan Asni
Sdn. Bhd
Santrock, J. W. 2001. Adolescence (8th ed).
North America: McGraw-Hill.
Sarwono, Dr. Sarlito Wirawan,. 1994.
Psikologi Remaja, Raja Grafindo Persada
Schoivo R. 2007. Health Communication ;
From Theory to Practice. Jossey-Bass.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Severin, Werner J., and James W. Tankard.
2000. Communication Theories: Origins, Methods
and Uses in the Mass Media, 5th Ed. Boston: Longman.
Shaft, T., Sharfman, M., & Wu, W. (2004).
Reliability assessment of the attitude towards computers instrument (ATCI). Computers in Human
Behavior, 20(5), 661–689.
Silalahi, Gabriel Amin. 2002. Metodologi
Penelitian dan Studi Kasus. Citra Media. Sidoarjo
Sorcar, Piya. 2010. A New Approach to
Global HIV/AIDS Education. The Huffington Post
Stafford, F.T., Stafford, R.M. & Schkade,
L.L. 2004. Determining uses and gratifications for
the Internet. Decision Sciences, 3 (5). 259-288.
Suprihatin. 2000. Internet Dan Pengaruhnya
Bagi Masyarakat. Jurnal Media Informasi. Vol 13
(5) : 9-13
Temubual dengan Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Bengkalis, 14 Oktober 2010
Tjitarsa, I.B. 1995. Pengetahuan, Sikap dan
Prilaku Seksual Beresiko Terhadap AIDS pada Remaja dengan Kehamilan yang Tidak Dikehendaki,
Dalam Meninjau AIDS dan REMAJA. Jakarta.
Kerjasama Jaringan Epidemologi Nasional dengan
Ford Foundation
Turner, Richard,. Turner, Lyan H. 2008. Introducing Communication Theory : Analysis and
Aplication. 3Th Edition. Salemba Humanika
Van Eijk, A.M., Lindblade, K.A., Odhiambo,
F., Peterson, E., Sikuku, E., Ayisi, J.G., Ouma, P.,
Rosen D.H., and Slutsker, L. 2008, Reproductive
health issues in rural Western Kenya, The Effect Of
Training Health Care Workers To Provide “Focused
Antenatal Care”. Ouma et al. Reproductive Health
2010, 7 (1) : 1765 - 1779
Weibel, D., Wissmath, B., Habegger, S.,
Steiner, Y., & Groner, R. 2008. Playing online
games against computer- vs. human-controlled opponents: Effects on presence, flow, and enjoyment.
Computers in Human Behavior, 24(5), 2274–2291.
Weibull, L. 1985. Structural factors in gratifications research. In K. E. Rosengren, L. A. Wenner, & P. Palmgreen (Eds.), Media gratifications
research: Current perspectives. Sage: Beverly Hills,
CA, USA. : 123–147.
West, Richard, dan Turner, Lynn H. 2008.
Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi.
67

Kegunaan dan Kepuasan Media Massa sebagai Sumber Informasi Kesehatan
Reproduksi Remaja (Kajian Kes di Kecamatan Rupat Utara, Riau, Indonesia)
Jakarta: PT. Salemba Humanika
Wilson., TD. 2000. Human Information Behaviour. Special issue On information Science Ressearch. 3 (2) ; 49-55
Witte, Susan S. El-Bassel, Nabila; Gilbert,
Louisa; Wu, Elwin; Chang, Mingway. 2007. Predictors of Discordant Reports of Sexual and HIV/Sexually Transmitted Infection Risk Behaviors Among
Heterosexual Couples. Sexually Transmitted Diseases: 34 (5) : 302-308
Witte.,SS, El-Bassel N, Gilbert., L, Wu E,
Chang., M. 2007. Predictors of discordant reports of
sexual and HIV/sexually transmitted infection risk
behaviors among heterosexual couples. Sexually
Transmitted Diseases ; 34 (13) : 302–308.
Wolf, R. Cameron, Linda A. Tawfik and
Katherine C. Bond. 2000. “Peer Promotion Programs and Social Networks in Ghana: Methods for

68

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Monitoring and Evaluating AIDS Prevention and
Reproductive Health Programs among Adolescents
and Young Adults. Journal of Health Communications, 5 (8) : 61-80
Wu, J., & Liu, D. (2007). The effects of trust
and enjoyment on intention to play online games.
Journal of Electronic Commerce Research, 8(2),
128–140.
Yee, N. 2006. Motivations for play in online
games. CyberPsychology and Behavior, 9(6) : 772–
775
ZHOU, Jian-fang,. Mantell, Joanna E,. RU,
Xiao-mei. 2009. Reproductive and Sexual Health of
Chinese Migrants. Journal of Reproduction & Contraception. 20(3):169-182
Zillmann, D. and Bryant, J. 1994. Entertainment as media effect. In J. Bryant, & D. Zillman

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

STUDI KOMPARATIF AKTIVITAS HUMAS ANTARA PEMERINTAH PROVINSI RIAU
DENGAN PT.CHEVRON PACIFIC INDONESIA
Muhd Ar Imam Riauan
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri
Sultan Syarif Kasim Riau
Abstract
This study aims to determine how the activities related to the functions, roles, activities and target of
public relations in government and the company between the Riau provincial government and Chevron Pacific Indonesia Company. Public relations is an essential part of modern life both the life of an
organization as well as in public life. PR or public relations activities of government different from the
PR company. As a measuring for function, role, activity and target PR in this study, researchers used
the theory of functions of Public Relations by Cutlip Center and Canfield, PR Role Theory by Dozier
and Broom and Theory in Public Relations Activities and Targets by H.Fayol that relevant and represent dimensions to be compared to the research function, role, activities and objectives of Public Relations. This study concluded that functions, roles, and goals of public relations activities in PT.Chevron
Pacific Indonesia is closer to theory than PR activities in Riau province. PR Riau provincial government only have functions to collecting information, presentation of information, share information to
public, and publications, the government policies in supporting the activities of the government and
create a positive image of the government, while the PR PT.Chevron not only do activities related to
communications and publications, but also has a public relations role in formulating more and help
the company to carry out activities in the company.
Key Word: Public Relations, Government, Company, Function, Role, Activity and Target.
A. Pendahuluan

Kegiatan Humas/public relations merupakan bagian penting dari kehidupan modren baik
dalam kehidupan suatu organisasi maupun dalam
kehidupan masyarakat. Suatu organisasi yang
bergerak dalam bidang-bidang tertentu, apapun
bidang tersebut, tidak lepas dari berhubungan
dengan publik. Dengan Humas/public relations
organisasi akan menciptakan suatu hubungan
yang baik antara organisasi dengan publiknya,
baik publik internal maupun eksternal. Ketika
suatu organisasi mampu menciptakan hubungan
baik di organisasinya, maka komunikasi akan berjalan dengan baik dan akan mendukung kinerja
yang baik bagi organisasi tersebut.

Aktivitas public relations sehari-hari adalah menyelenggarakan komunikasi timbal balik
antara perusahaan atau lembaga dengan publiknya
yang bertujuan untuk menciptakan saling pengertian dan dukungan untuk tercapainya suatu tujuan
tertentu, kebijakan, kegiatan produksi barang atau
pelayanan jasa dan sebagainya, demi kemajuan
perusahaan atau citra positif perusahaan. (Rosady,

2005: 1)
Seorang public relations officer/praktisi Humas
harus mampu menciptakan saling pengertian dan
dukungan dari publiknya atas kegiatan organisasinya, dengan demikian seorang public relations
officers harus mengetahui bagaimana informasi
tentang kegiatan dan perusahaan dimana ia bertugas. Pengetahuan dan wawasan yang tinggi
tentang perusahaan dan public dimana tempat ia
bertugas akan berpengaruh kepada kinerjanya sebagai seorang public relations officer dalam melakukan tugasnya.
Kegiatan PR atau hubungan masyarakat pemerintah berbeda dengan Humas perusahaan. Pada
Humas pemerintahan tidak memilik sesuatu
yang diperjual-belikan, namun demikian humas
pemerintahan juga senantiasa menggunakan
teknik publisitas dalam mensosialisasikan kegiatan pemerintah. Humas pemerintah bertanggung
jawab dalam mensosialisasikan yang menyangkut
kepentingan masyarakat, agar masyarakat mengetahui dan merespon segala bentuk kegiatan serta
program yang dicanangkan pemerintah. Kemu69

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia
dian, seorang praktisi public relations/Humas di
pemerintahan tidak dapat ikut serta menentukan
kebijaksanaan pemerintah dan harus mengikuti
garis yang sudah ditentukan (Abdurrahman,2001
: 113).
Secara institusional, suatu perusahaan merupakan
suatu lembaga di mana terdapat kelompok orang
yang secara tertentu melakukan kegiatan-kegiatan
usaha. Menurut Kustadi (2004 : 163) kelompok
tersebut terdiri atas golongan-golongan :
1. Administrator, yaitu orang-orang yang menentukan dan mempertahankan tujuan perusahaannya, atau mereka yang menentukan
policy (kebijaksanaan) perusahaan
2. Manajer, yaitu mereka yang memimpin langsung kerja ke arah tercapainya cita-cita perusahaan secara konkrit
3. Tenaga staf, yaitu orang-orang yang membantu, baik administrator maupun manajer.
Pada umumnya mereka terdiri dari para ahli
dalam segala bidang yang terkait dengan usaha perusahaanya. Seperti ahli keuangan, ahli
teknik, ahli kimia, dan sebagainya.
4. Pegawai (karyawan) yaitu mereka yang melaksanakan pekerjaan lapangan sesuai dengan
bidang usaha diperlukan perusahaannya, baik
yang bersifat administratif, teknik, atau pun
pekerjaan kasar.
Suatu perusahaan merupakan lembaga administratif yang memerlukan adanya sarana atau unsurunsur manajemen yang meliputi :
1. Men atau tenaga kerja manusia
2. Money atau financial
3. Method atau cara kerja atau suatu system
kerja dalam usaha
4. Material atau bahan-bahan yang diperlukan
5. Machine atau alat-alat yang diperlukan
6. Market atau tempat untuk menyalurkan hasil
produksi kepada masyarakat
Sedangkan pemerintahan menurut Muchlis (2002
: 9) “Adalah bagian dari negara yang merupakan
alat atau sarana untuk mencapai tujuan negara.
Negara melalui pemerintah, mengalokasikan
nilai-nilai yang bersifat mengikat. Pemerintah
membentuk, mengembangkan, dan mengarahkan
nilai-nilai publik”.
70

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Pelayanan dalam suatu proses pemerintahan bermakna penyediaan kemudahan dan kemamfaatan
pada masyarakat dalam upaya mencapai hidup
yang sejahtera dan bermartabat. Pelayanan dapat
mneyangkut semua segi kehidupan masyarakat,
dan dengan demikian, dapat menyangkut semua
aspek hak dan kewajiban masyarakat. Pelayanan
terhadap hak-hak masyarakat berisi kegiatan untuk memudahkan masyarakat menikmati kehidupan yang layak.
Pemerintah harus mampu menjalin hubungan yang
saling pengertian antara negara dan masyarakat.
Dengan demikian pelaksanaan program-program
dari pemerintahan akan berlangsung dan berjalan lancar, karena kegiatan public relations telah
mampu menciptakan hubungan baik antara negara
dan masyarakat sehingga tercipta saling pengertian di antaranya.
Suatu kegiatan atau program yang dilakukan oleh
perusahaan maupun pemerintah, baik itu berupa
publikasi, peluncuran produk atau informasi kebijakan-kebijakan baru, serta perubahan-perubahan
yang berkaitan dengan perusahaan atau pemerintah tentunya juga akan menjadi salah satu tugas
dari seorang praktisi public relations. Bagaimana
seorang praktisi public relations dapat mengemas
kegiatan dan program tersebut sehingga menarik
minat masyarakat terhadap program dan produk
tersebut. Kemudian masyarakat harus menjadi
tahu dan terus menerus mengikuti dan mengetahui
program dan kegiatan yang kita adakan. Dalam
hal ini latar belakang suatu organisasi yang berbeda tentunya juga akan mempengaruhi bagaimana
fungsi public relations dalam untuk ikut dalam
perencanaan program tersebut.
Perbedaan pokok antara fungsi humas dan tugas humas di pemerintahan dan non-pemerintah
adalah tidak adanya unsur komersial, walaupun
humas pemerintah juga melakukan fungsi yang
sama dalam kegiatan publikasi, promosi, dan
periklanan. Humas pemerintah lebih menekankan
pada publik servis atau demi meningkatkan pelayanan umum.
Menurut Jhon D.Millett fungsi utama dari humas
pemerintahan adalah sebagai berikut : (Rosady,
2006 : 341-342)
1. Mengamati dan mempelajari tentang hasrat,
keinginan-keinginan dan aspirasi yang terda-

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia
pat dalam masyarakat.
2. Memberikan nasihat atau sumbang saran untuk menaggapi apa sebaiknya dilakukan oleh
pemerintah seperti yang dikehendaki oleh
publikya.
3. Mengusahakan terjadinya hubungan memuaskan yang diperoleh antara hubungan publik
dengan para aparat pemerintah.
4. Memberikan penerangan dan informasi tentang apa yang telah diupayakan oleh suatu instansi pemerintahan yang bersangkutan.
Menurut Dimnock dan Koening (Rosady, 2006 :
342) fungsi humas lembaga pemerintahan adalah
:
1. Upaya memberikan penerangan atau informasi kepada masyarakat tentang pelayanan
masyarakat, kebijaksanaan serta tujuan yang
akan dicapai oelh pemerintah dalam melaksanakan program kerja tersebut.
2. Mampu menanamkan keyakinan dan kepercayaan serta mengajak masyarakat dalam
partisipasinya atau ikut serta pelaksanaan
pembangunan di berbagai bidang, sosial, budaya, ekonomi, politik, serta menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
3. Kejujuran dalam pelayanan dan pengabdian
dari aparatur pemerintah yang bersangkutan
perlu dipertahankan dalam melaksanakan tugas serta kewajibannya msing-masing.
4. Sedangkan menurut Rosady (2006 : 343)
fungsi pokok Humas Pemerintah Indonesia
pada dasarnya adalah :
5. Mengamankan kebijaksanaan pemerintah
6. Memberikan pelayanan, dan menyebarluaskan pesan atau informasi mengenai kebijaksanaan hingga program kerja secara nasional
kepada masyarakat.
7. Menjadi komunikator dan sekaligus sebagai
mediator yang proaktif dalam menjembatani kepentingan instansi pemerintah di satu
pihak, dan menampung aspirasi, serta memperhatikan keinginan-keinginan publiknya di
pihak lain.
8. Berperan serta dalam menciptakan iklim
yang kondusif dan dinamis demi mengamankan stabilitas dan keamanan politik pembangunan nasional, baik jangka pendek maupun

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012
jangka panjang.

Sedangkan Humas perusahaan atau nonindustri Secara umum dapat diartikan sebagai
penyambung lidah bagi perusahaannya dalam hal
mengadakan hubungan timbal balik dengan pihak
luar dan dalam perusahaan. PR Perusahaan tidak
hanya bertugas sebagai saluran informasi dari perusahaan kepada publiknya, melainkan juga merupakan saluran informasi dari publiknya kepada
perusahaan. Demikian pula dengan fungsi PR
sebagai pusat informasi, tidak hanya bagi pihak
luar saja, melainkan juga merupakan sumber informasi bagi pihak dalam perusahaan, terutama
bagi pimpinan perusahaan.

Pada umumnya semua perusahaan dan industri mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan memberikan mamfaat bagi orang-orang yang
membutuhkannya.(Kustadi, 2004 : 161). Humas
dalam Industri dan perdagangan yang merupakan
non-pemerintahan melakukan fungsi manajemen
untuk menyumbang suksesnya operasi sebuah perusahaan atau organisasi dalam proporsi yang sebanding dengan peran yang diberikan kepadanya.
Menurut Sam & Melvin (1988 : 147), terdapat
dua tujuan utama dari humas industri /non-pemerintahan
a) Untuk menciptakan hubungan dengan tiga
bagian penting dari masyarakat yaitu pelanggan, pemegang saham, dan karyawannya.
Memelihara saling kerja sama dari ketiga
golingan tersebut merupakan kunci menuju
sukses.
b) Untuk mempromosikan pelayanan perusahaan serta produk-produknya di dalam dunia
yang penuh persaingan.

Pemerintahan Provinsi Riau yang merupakan lembaga tertinggi di Riau merupakan bagian
dari Negara di mana Kegiatan yang dilakukan
oleh lembaga tersebut lebih diatur oleh undangundang dan ketentuan-ketentuan normatif untuk
memberikan pelayanan terhadap masyarakat, humas tidak dapat bertindak lebih kreatif untuk melaksanakan program-program secara leluasa. Kegiatan Humas Pemprov Riau pada dasarnya adalah
menciptakan citra positif pemerintahan.

Sedangkan pada PT.Chevron Pacific In71

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia
donesia yang merupakan perusahaan berskala internasional yang ada di Riau memiliki kewenangan yang lebih sehingga pada suatu hal, ia dapat
langsung memberikan keputusan dan kebijkankebijakan setara dengan level kegiatan Humas
tersebut yang menyangkut dengan kepentingan
perusahaan. Humas lebih memiliki kesempatan
untuk bereksplorasi dengan keahlian yang dimiliki tanpa terkendala dengan aturan yang rumit.

Untuk mengetahui perbandingan antara
humas pemerintahan dan non pemerintahan tersebut, maka penulis melakukan studi komparatif
aktivitas humas di Pemerintah Provinsi Riau dan
PT.Chevron Pacific Indonesia”.
B.Pembahasan
Yang dimaksud dengan studi komparatif adalah studi perbandingan yang ingin mengetahui
bagaimana perbedaan dan persamaan dari objek
penelitian. Studi adalah penelitian ilmiah/kajian
atau telaahan (Depdiknas, 2001: 1093) sedangkan
Komparatif adalah berkenaan/berdasarkan perbandingan (Depdiknas, 2001 : 584). Dengan demikian Studi Komparatif adalah Penelitian ilmiah
atau kajian yang berdasarkan perbandingan untuk
mendapatkan bagaimana perbedaan dan persamaan antara objek penelitian yang diteliti.
Dalam penelitian perbandingan ini penulis menganalisis perbandingan dari aktivitas Humas yang
berkaitan dengan fungsi, peranan, kegiatan dan
sasaran Humas/public relations di Pemerintah
Provinsi Riau dan PT.Chevron Pacific Indonesia
berdasarkan dengan Teori Humas secara umum
yang penulis paparkan pada konsep teoritis penelitian ini.
1. Definisi Humas/Public Relations
Menurut The Institute of Public Relations di Inggris (Colin dan Thomas 1989 : 2) “Humas/public
relations merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja, direncanakan, dan dilakukan terusmenerus untuk mendapatkan dan menjalin saling
pengertian antara satu organisasi dan publiknya”.
Saling pengertian membutuhkan apresiasi akan
kekuatan dan kelemahan, kesempatan, tujuan, dan
persoalan-persoalan yang dihadapi suatu organisasi, dan juga memerlukan keterbukaan terhadap
kebutuhan-kebutuhan kelompok yang mempun72

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

yai kepentingan terhadap organisasi. Komunikasi
hubungan masyarakat adalah proses dua arah ,
tidak saja membutuhkan pendengaran dan pandangan mata tetapi juga mulut untuk berbicara.
Upaya yang dilakukan terus menerus dan dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
2. Fungsi Public Relations
Menurut Ralph Currier dan Allan C.Filley dalam
bukunya Principle of Manajemen (dalam Rosady,
2005 : 9) dikatakan bahwa istilah fungsi tersebut
menyatakan suatu tahap pekerjaan yang jelas dan
dapat dibedakan, bahkan terpisah dari tahapan
dengan pekerjaan lain. Oleh karena itu, Humas /
Public Relations dikatakan berfungsi dalam suatu
organisasi atau lembaga apabila public relations
tersebut telah menunjukkan suatu kegiatan yang
jelas dan dapat dibedakan dari kegiatan lainnya.
Dalam teori, banyak pendapat yang menyatakan
bagaimana fungsi manejemen Humas/Public relations akan tetapi peneliti mengambil salah satu
pendapat yaitu Menurut Cutlip, Center, dan Canfield (Rosady, 2006 : 19), fungsi public relations
adalah sebagai berikut :
a. Menunjang aktivitas utama manejemen dalam
mencapai tujuan bersama
b. Membina hubungan yang harmonis antara
badan/organisasi dengan publiknya yang
merupakan khalayak sasaran.
c. Mengidentifikasi segala sesuatu yang
berkaitan dengan opini, presepsi dan tanggapan masyarakat terhadap badan /organisasi
yang diwakilinya.
d. Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manejemen demi tujuan dan mamfaat bersama.
e. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi
serta pesan dari badan /organisasi ke publik
atau sebaliknya, demi tercapainya citra positif
dari kedua belah pihak.
3.Peranan Humas/Public Relations
Peranan Humas dalam suatu organisasi/instansi
menurut Dozier & Broom organisasi dibagi (Rosadi, 2005 : 20) :
a.Penasehat Ahli
Seorang praktisi pakar public relations yang ber-

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia
pengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantunya mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya.
Hubungan Praktisi pakar public relations dengan
manajemen organisasi seperti hubungan antara
dokter dengan pasiennya. Artinya pihak manajemen bertindak pasif untuk menerima atau mempercayai apa yang disarankan atau usulan dari pakar public relations tersebut dalam memecahkan
dan mengatasi persoalan public relations yang
tengah dihadapi oleh organisasi bersangkutan.
b.Fasilitator komunikasi
Dalam hal ini, praktisi public relations bertindak
sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh
publiknya. Di pihak lain, dia juga dituntut mampu
menjelaskan kembali keinginan, kebijakan, dan
harapan organisasi kepada pihak publiknya. Sehingga dengan komunikasi timbal balik tersebut
dapat tercipta saling pengertian, mempercayai,
menghargai, mendukung dan toleransi yang baik
dari kedua belah pihak

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

kan praktisi public relations sebagai journalist in
resident yang hanya menyediakan layanan teknis
komunikasi atau yang dikenal dengan methode of
communications in organizations. Sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masingmasing bagian atau tingkatan, yaitu secara teknis
komunikasi, baik arus maupun media komunikasi
yang dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan
bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingkat
atasan. Hal yang sama juga berlaku pada arus media komunikasi antara satu level, misalnya komunikasi antar karyawan satu departemen satu dengan lainnya.
4. Kegiatan dan Sasaran Humas
Menurut H.Fayol kegiatan dan sasaran PR adalah
sebagai berikut (Rosady, 2006 : 23) :
a.Membangun identitas dan citra perusahaan
1) Menciptakan identitas dan citra perusahaan
yang positif
2) Mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai pihak

b.Menghadapi krisis
Mengangani keluhan dan menghadapi krisis yang
terjadi dengan membentuk manajemen krisis dan
c.Fasilitator Proses Pemecahan Masalah
PR recovery of image yang bertugas memperbaiki
Peranan praktisi public relations dalam proses lost of image and damage.
pemecahan persoalan public relations ini meru1) Mempromosikan aspek kemasyarakatan
pakan bagian dari tim manajemen . Hal ini di2) Mempromosikan hal yang menyangkut
maksudkan untuk membantu pimpinan organisasi
kepentingan publik.
baik sebagai penasehat hingga mengambil tinda3) Mendukung kegiatan kampanye-kampanye
kan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi dalam
sosial
mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi, secara rasional dan profesional. Biasanya 5. Perbandingan Aktivitas Humas antara
dalam menghadapi suatu krisis yang terjadi, maka
PT.Chevron Pacific Indonesia (CPI) dendibentuk suatu tim posko yang dikoordinir prakgan Pemerintah Provinsi Riau (Pemprov.
tisi ahli public relations dengan melibatkan berbaRiau)
gai departemen dan keahlian dalam satu tim khu- Public relations/Humas merupakan salah satu basus untuk membantu organisasi, perusahaan dan gian terpenting dari sebuah instansi baik itu pemerproduk yang tengah menghadapi atau mengatasi intah maupun perusahaan. Di perusahaan khupersoalan krisis tertentu.
susnya di PT.Chevron, semua hal yang berkaitan
dengan kegiatan perusahaan diatur dalam key
d.Teknisi Komunikasi
job responsibility. Yaitu pembagian tugas-tugas
Berbeda dengan tiga peranan praktisi public re- masing-masing bagian di dalam perusahaan. Kelations profesional sebelumnya yang terkait erat mudian dalam pemerintahan, peraturan-peraturan
dengan fungsi dan peranan manajemen organ- diatur oleh UUD dan Peraturan-Peraturan yang di
isasi. Peranan teknisi komunikasi ini menjadi- keluarkan pemerintah.
73

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia
perbedaan antara humas/PR perusahaan dan
pemerintahan, PT.Chevron Pacific Indonesia dan
Pemprov.Riau terletak pada semua dimensi fungsi, peranan, dan sasaran public relations. Pada
PT.Chevorn Pacific Indonesia, Humas berperan
sebagai tenaga ahli, fasilitator komunikasi, fasilitator pemecahan masalah, dan teknisi komunikasi, sedangkan pada Humas Pemerintahan Provinsi
Riau hanya sebagai fasilitator komunikasi dan
teknisi komunikasi. Peranan pemerintah hanya
sebagai media komunikasi yang menjembatani
antara pemerintahan dengan publik.
Perbandingan aktivitas Humas yang berkaitan
dengan fungsi, peranan, dan kegiatan dan sasaran.
Adapun analisis data dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Humas
1) Pemerintah Provinsi Riau
Aktivitas Humas yang berkaitan dengan fungsi
Humas Pemprov.Riau adalah sebagai berikut:
a) Menunjang aktivitas utama manajemen
dalam mencapai tujuan bersama. Pada fungsi
ini, Humas Pemprov. Riau memiliki fungsi
untuk turut mensukseskan kegiatan pemerintah. Dalam hal ini fungsi Humas bertugas
menyampaikan informasi kepada masyarakat
dan kepada pemerintah tentang hal-hal yang
berkaitan dengan kegiatan tersebut. Humas
mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah, dalam hal tersebut
Biro Humas Pemprov.Riau melaksanakan
kegiatan yang berkaitan dengan pengumpulan
informasi, penyajian pesan, penerangan, dan
publikasi.
b) Membina hubungan yang harmonis antara
organisasi dengan publiknya yang merupakan khalayak sasaran. Humas Pemprov. Riau
melaksanakan fungsi-fungsi yang berkaitan
dengan pengumpulan informasi, penyajian
data, penerangan, dan publikasi. Sehingga
masyarakat melalui Biro Humas, dapat berhubungan dengan pemerintah.
c) Mengidentifikasi segala sesuatu yang
berkaitan dengan opini, presepsi dan tanggapan masyarakat terhadap organisasi yang
diwakilinya. Fungsi ini dilakukan Bagian
Pengumpulan Informasi yang berupa Pengumpulan data, mengumpulkan Segala infor74

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

masi yang berkaitan dengan opini, persepsi,
dan tanggapan masyarakat terhadap Pemprov.
Riau, kemudian informasi tersebut disajikan
dan disampaikan kepada instansi pemerintah
yang berkaitan dengan opini tersebut.
d) Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manajemen demi tujuan dan mamfaat bersama.
Fungsi Humas Pemprov.Riau yang berkaitan
dengan fungsi ini adalah melakukan pengumpulan informasi yang disajikan dalam bentuk
informasi, kemudian di berikan kepada Gubernur/Instansi Pemerintah yang terkait dengan informasi tersebut.
e) Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi
serta pesan dari organisasi ke publik atau sebaliknya, demi tercapainya citra positif dari
kedua belah pihak yang dilakukan dengan
memberikan penerangan dan publikasi kepada masyarakat untuk mensosialisasikan
program-program pemerintah Provinsi Riau,
serta mengumpulkan informasi-informasi
sehingga Humas menjembatani Pemerintah
dengan publiknya.

Humas pemerintahan secara keseluruhan hanya berfungsi sebagai pelaksana komunikasi untuk menciptakan saling pengertian antara
pemerintahan maupun dengan publik. Yaitu melaksanakan kegiatan pengumpulan informasi, penerangan, dan publikasi kepada publik baik internal maupun eksternal pemerintahan. Publik yang
dimaksud adalah masyarakat Riau sendiri sebagai
publik internal dan instansi-instansi serta jajaran
pemerintahan di Provinsi Riau sebagai Publik internal.
2)
PT.Chevron Pacific Indonesia
Fungsi Humas PT.Chevron Pacific Indonesia
Adalah :
a) Menunjang aktivitas utama manajemen
dalam mencapai tujuan bersama. Dalam hal
ini Humas PT.Chevron Pacific Indonesia
berfungsi membantu manajemen dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan perusahaan.
Humas PT. Chevron juga ikut merumuskan
anggaran dalam pelaksanaan kegiatan di pe-

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia

b)

c)

d)

e)

rusahaan.
Membina hubungan yang harmonis antara
organisasi dengan publiknya yang merupakan khalayak sasaran. Humas PT.Chevron
Menyediakan berbagai informasi kepada
khalayak, perihal kebijakan dan kegiatan
perusahaan selengkap mungkin demi menciptakan suatu pengetahuan yang maksimum dalam rangka menjangkau pengertian
khalayak. Disamping itu, CPI juga melakukan kegiatan-kegiatan sosial sebagai bentuk
kepedulian perusahaan kepada masyarakat.
Mengidentifikasi segala sesuatu yang
berkaitan dengan opini, presepsi dan tanggapan masyarakat terhadap organisasi yang
diwakilinya. Humas PT.Chevron memantau
pendapat umum mengenai segala sesuatu
yang berkenaan dengan citra, kegiatan, reputasi, maupun kepentingan-kepentingan perusahaan, dan menyampaikan setiap informasi
yang penting langsung kepada pihak manajemen atau pimpinan puncak untuk ditanggapi
atau ditindak lanjuti.
Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan
manajemen demi tujuan dan mamfaat bersama. Humas CPI memantau opini yang
berkembang pada masyarakat serta Memberi
nasihat atau masukan kepada pihak manajemen mengenai berbagai masalah komunikasi
yang penting, serta dengan berbagai teknik
untuk mengatasi dan memecahkannya.
Menciptakan komunikasi dua arah timbal
balik dilakukan oleh Humas PT.Chevron
dengan Menyediakan berbagai informasi
kepada khalayak, perihal kebijakan dan kegiatan perusahaan selengkap mungkin demi
menciptakan suatu pengetahuan yang maksimum dalam rangka menjangkau pengertian
khalayak.

Humas CPI terdapat fungsi membantu kegiatan manajemen. Dimana Humas selalu berada di
depan untuk mengetahui hal-hal yang berkiatan
dengan kegiatan yang akan di ambil. Kemudian
dalam hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan
pelaksanaan kegiatan dan kebijakan-kebijakan
dan penyampaian-penyampaian yang berkaitan

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

dengan proses kebijakan tersebut dalam hal ini
Humas CPI memberi nasihat kepada manajemen
tentang kebijakan-kebijakan yang perlu diambil.
Dan dalam hal tertentu, Humas dapat memutuskan suatu kebijakan sebatas pada level tertentu.
Kemudian Humas CPI juga merumuskan segala
sesuatu yang berkaitan dengan program-program
dan anggaran Humas sendiri dalam organisasinya.
Sedangkan di Pemprov Riau Biro humas hanya
menyampaikan, dan mengumpulkan informasiinformasi yang ada baik dari masyarakat maupun media untuk menciptakan citra positif bagi
pemerintah dan dalam mendukung kegiatan yang
dilaksanakan pemerintah, Humas sanya berfungsi
menjalankan kegiatan komunikasi yang berkaitan
dengan mengumpulkan informasi, menyajikan informasi, penerangan dan publikasi.
b. Peranan Humas
1) Pemerintah Provinsi Riau
Peranan Biro Humas dalam Pemerintahan Provinsi Riau adalah sebagai mediator antara pemerintahan dengan publik/masyarakat Riau khususnya.
Dimana Biro Humas bertanggung jawab untuk
dapat mensosialisasikan kebijakan-kebijakan
yang ditetapkan oleh pemerintah baik kebijakan
pemerintah daerah, maupun kebijakan pemerintah
pusat.
Dalam artian, Humas pemerintahan hanya berperan sebagai:
a) fasilitator komunikasi
b) teknisi komunikasi.
2) PT.Chevron Pacific Indonesia.
Peranan Humas PT.Chevron Pacific Indonesia
adalah:
a) Tenaga Ahli. Humas/public relations di CPI
berperan sebagai tenaga ahli dimana pada level tertentu dapat memutuskan kebijakan-kebijakan yang perlu diambil tanpa melibatkan
direktur perusahaan dengan catatan kebijakan
tersebut sesuai dengan standar operasional kinerja dari manager PR itu sendiri. Di lain sisi
padal level-level yang lebih tinggi, Maneger
PR memberikan nasihat-nasihat kepada perusahaan berkaitan dengan aspek-aspek yang di
dapatkan dilapangan.
b) Fasilitator komunikasi. PR di CPI berperan se75

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia
bagai fasilitator komunikasi yang menjembatani
antara publik dengan perusahaan. Dalam kasuskasus di lapangan, PR bertugas lebih awal dari
tim-tim lainnya untuk mengetahui bagaimana
situasi yang ada di lapangan. Isu-isu apa yang
dominan yang terdapat di lapangan, PR selangkah lebih di depan dibanding tima-tim lain, kemudian PR memberitahukan kepada perusahaan
tentang kondisi di lapangan tersebut.
c) Sebagai fasilitator pemecahan masalah. Dalam
setiap permasalahan humas bertindak sebagai
fasilitator dalam pemecahan masalah. Dalam
artian humas juga harus lebih dulu mengetahui
bagaimana permasalahan yang terjadi untuk
kemudian dicarikan solusinya. Apabila permasalahan tersebut menyangkut pada kepentingan perusahaan yang berada pada level
tinggi, maka PR menyampaikan kepada atasan
berkaitan dengan permasalahan.
d) Teknisi Komunikasi. PR juga berperan sebagai
teknisi komunikasi yaitu menjalankan fungsifungsi komunikasi mengumpulkan informasi-informasi dan memberikannya kepada perusahaan.
Peranan ini berada dalam tim PR di perusahaan.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

sebagai tenaga ahli yang menasehati pimpinan
tentang kebijakan yang harus diambilnya.
c. Kegiatan dan Sasaran
1) Pemerintah Provinsi Riau
Kegiatan dan sasaran Pemerintah Provinsi Riau
dalam menciptakan citra positif bagi Pemerintah Provinsi Riau di mata masyarakat. Dengan
demikian Humas Pemprov.Riau tidak melakukan kegiatan dan sasaran Humas yang berkaitan
dengan menghadapi krisis dan mensosialisasikan
aspek kemasyarakatan. Dalam kegiatan menciptakan hubungan dengan masyarakat tersebut,
Humas Pemerintah Provinsi Riau melakukan
fungsinya mengumpulkan informasi, kemudian
menyajikan informasi tersebut untuk kemudian
dipublikasikan kepada masyarakat.

2) PT.Chevron Pacific Indonesia
Kegiatan dan sasaran Humas PT.Chevron Pacific
Indonesia adalah :
a) Menciptakan citra positif
b) Menghadapi krisis
c) Mempromosikan aspek kemasyaratan
d) Memberikan nasihat kepada pimpinan
peranan Humas Pemprov.Riau, adalah sebagai perusahaan berkaitan dengan kebijakanfasilitator komunikasi dan teknisi komunikasi. kebijakan yang membutuhkan keterlibatan
Humas di pemerintahan hanya bertindak sebagai level yang lebih tinggi.
mediator antara pemerintahan dengan publiknya
baik itu masyarakat dari berbagai lapisan maupun
Berdasarkan data yang didapatkan di CPI
dari media. Humas di pemerintahan tidak mem- dan Pemprov.Riau, kegiatan dan sasaran Humas
punyai peranan dalam pengambilan keputusan Pemprov.Riau hanya menciptakan citra positif
dalam kebijakan-kebijakan pemerintahan.Humas pemerintahan. Sedangkan sasaran lain yang ada
Pemprov Riau hanya memberikan masukan se- berdasarkan teori dalam penelitian ini tidak ada.
batas informasi saja. Sedangkan Humas/PR ber-
Di CPI, Humas berfungsi sesuai dengan
peran dalam berbagai aspek baik sebagai tenaga apa yang ada pada teori, bahkan dalam kegiatan
ahli, fasilator komunikasi, fasilitator pemecahan dan sasaran Humas CPI terdapat salah satu kegiamasalah, dan teknisi komunikasi.
tan dan sasaran yang tidak ada pada teori ini, yaitu
Humas bertugas untuk menghadapi krisis yang menasehati dan memberi saran kepada manajemen.
terjadi di perusahaan dengan bekerja dengan Dalam CPI kegiatan dan sasaran Humas adalah
departemen-depertemen lain yang berhubungan menciptakan citra positif, Menghadapi krisis memdengan kasusu tersebut. Kemudian dalam bebera- promosikan aspek kemasyaratan, memberikan nasipa hal, PR perusahaan PT. Chevron pacific Indo- hat kepada pimpinan perusahaan berkaitan dengan
nesia dapat mengambil kebijakan dengan catatan kebijakan-kebijakan yang membutuhkan keterlisesuai dengan budget anggaran dan tidak men- batan level yang lebih tinggi. Perbandingan aktivitas
yalahi visi misi PT.Chevron Pacific Indonesia. Humas yang berkaitan dengan fungsi, peranan, kegDan untuk kebijakan-kebijakan yang melibatkan iatan dan sasaran Humas tersebut dapat dilihat pada
level yang lebih tinggi PR PT.Chevron bertindak tabel sebagai berikut:
76

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Tabel Perbandingan Aktivitas Humas yang Berkaitan dengan Fungsi, Peranan, Kegiatan dan
Sasaran Humas di Pemprov.Riau dan PT.Chevron

dari tabel di atas dapat dilihat bagaimana perbandingan Humas Pemerintah Provinsi Riau dengan
PT.Chevron Pacific Indonesia sebagai berikut :
1. Fungsi Pemprov.Riau adalah melakukan kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan pengumpulan informasi, penyajian informasi,
penerangan dan publikasi yang menjembatani
pemerintah dengan masyarakat serta menunjang kegiatan pemerintah dalam rangka
menciptakan citra positif bagi pemerintahan.
Sedangkan pada CPI, Humas tidak hanya berfungsi melakukan kegiatan komunikasi yang
menjembatani antara perusahaan dengan publik dalam rangka menciptakan citra positif perusahaan, akan tetapi juga melakukan fungsi
menasehati manajemen dan ikut aktif dan
membantu kegiatan-kegiatan manajemen.
2. Peranan Humas di pemerintah provinsi Riau
hanya sebagai fasilitator komunikasi dan
teknisi komunikasi, sedangkan PT.Chevron Pacific Indonesia, peranan Humas sebagai tenaga
ahli, fasilitator pemecahan masalah, fasilitator
pemecahan masalah dan teknisi komunikasi.
Humas Pemprov.Riau tidak berperan sebagai
staff ahli dan fasilitator pemecahan masalah. Di

PT.Chevron Humas bertindak sebagai tenaga
ahli yang memberikan masukan-masukan kepada manajemen atas kebijakan apa yang harus
diambil oleh perusahaan.
3. Kegiatan dan sasaran Humas di pemprov. Riau
hanya sebatas pada menciptakan citra positif
pemerintahan. Berbeda halnya dengan Humas
Pemerintahaan, selain menciptakan citra positif
perusahaan PT.Chevron juga mempunyai kegiatan dan sasaran yang berupa mempromosikan
aspek kemasyarakatan, menghadapi krisis, dan
menasehati manajemen.
C. Kesimpulan

Humas Pemprov Riau hanya berfungsi melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengumpulan informasi, penyajian informasi,
penerangan, dan publikasi, terhadap kebijakankebijakan pemerintah dalam menunjang kegiatan
pemerintah dan menciptakan citra positif pemerintah, sedangkan Humas PT.Chevron tidak hanya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi
dan publikasi, akan tetapi humas juga mempunyai
peran lebih dalam merumuskan dan membantu perusahaan dalam melakukan kegiatan di perusahaan.
77

Studi Komparatif Aktivitas Humas antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT Chevron Pacific Indonesia

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Pada peranan Humas Pemprov Riau hanya Ruslan, Rosady. 2005. Kiat dan Strategi Kamsebagai fasilitator komunikasi dan teknisi komupanye Public Relations. PT.Raja Grafindo
nikasi sedangkan di PT.Chevron Selain berperan
Persada : Jakarta
sebagai fasilitator komunikasi dan teknisi komu2006 Konsep dan Aplikasi Manejemen Pubnikasi, Humas juga berperan sebagaifasilitator
lic Relations Edisi Revisi.PT.Raja Grafindo
pemecahan masalah dan tenaga ahli.
Persada : Jakarta

Kemudian pada kegiatan dan sasaran Hu- Suhandang, Kustadi.2004.Public Relations Perumas di Pemprov Riau, Humas hanya menciptakan
sahaan Kajian Program Implementasi.Nucitra positif bagi pemerintahan sedangkan pada
ansa : Bandung.
CPI Humas tidak hanya menciptakan citra positif, Peraturan Gubernur Riau Nomor : 11 Tahun 2009
akan tetapi juga memiliki kegiatan dan sasaran
tentang Uraian Tugas Sekretariat Daerah
dalam menghadapi krisis, mempromosikan aspek
dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat
kemasyarakatan dan menasehati manajemen.
Daerah Provinsi Riau
Daftar Pustaka
Buku
Abdurrachman,Oemi.2001.Dasar-Dasar Public
Relations.PT.Citra Aditya : Bandung.
Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi
Riau.2007. Profil Daerah Provinsi Riau
2007.
Black,Sam dan Melvin L.Sharpe.1988.Ilmu
Hubungan Masyarakat Praktis terjArdaneshwari.PT Intermasa : Jakarta.
Coulson, Colin dan Thomas.1989.Ilmu Hubungan Masyarakat.Terj Muchlis Alimin.
PT.Intermasa : Jakarta.
Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Balai Pustaka : Jakarta.

78

Dokumen
Dokumen Biro Humas Pemprov.Riau
Dokumen Biro Umum Provinsi Riau
Dokumen PT.Chevron Pacific Indonesia
Hamdi, Muchlis.2002.Bunga Rampai Pemerintahan.Yarsif Watampone : Jakarta
Wawancara
Wawancara dengan Staff Biro Humas Provinsi
Riau
Wawancara dengan Staff Humas di PT.Chevron
Pacific Indonesia.
WS, Indrawan. 2001.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Penerbitan Lintas Media : Jombang.

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DIVISI MARKETING-VAS-COMMUNITY PT. INDOSAT Tbk CABANG PEKANBARU TAHUN 2011 DI PEKANBARU
Harry Setiawan
Universitas Muhammadiah Riau
Abstract
The new strategy was created to raise the necessary re-member and reload Indosat school community
and descent Pekanbaru in Pekanbaru Indosat brand image. That which the author examines in PT. Indosat Pekanbaru. The purpose of this study was to determine how the marketing communication strategy marketing-vas-community PT. Indosat Tbk Pekanbaru Branch in 2011 to improve and maintain
Indosat Community members who dropped in October and November 2011. Data collection techniques
used by the author is the observation indirectly, approach to the interview related to issues that were
reviewed by the authors, working practices, the study of literature and quoted directly from the company archives. Analysts use the data is to use a data source marketing division-vas-community Indosat
Pekanbaru down in October and November 2011 and the results of interviews and direct observation.
The results that in the preparation of marketing communications strategy Indosat Marketing Communication Strategies Below The Line (BTL) with Anti-Marketing approach and maximize the role
of the communicator on the theory of marketing communications AIDDA. Amalia E. Maulana., PhD
said that BTL is an approach to mass communication strategies targeted, measurable, and results can
be used as a reference for the preparation of the next strategy. The authors conclude that pendekan
BTL strategy by PT. Indosat Tbk Pekanbaru quite focused and results can be raised again and reload
members in December 2011.
Keyword : Below the line to Improve Brand Image Indosat Pekanbaru, with study AIDDA and Paradigms Laswell
Pendahuluan

Komunikasi merupakan suatu kebutuhan
untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri,
untuk kelangsungan hidup dan memupuk suatu
hubungan yang dinamis dengan orang lain. Apalagi sejak lahir dibekali dua sifat hakiki yang menunjukkan identitasnya selaku makhluk sosial. Pertama, selalu ingin tahu keadaan alam sekitarnya;
dan kedua, selalu ingin memberitahukan keadaan
dirinya, terutama pengalamannya yang baru dan
sangat berkesan pada dirinya (Soekanto;1969:94
).

Manusia adalah makhluk belajar. Belajar
artinya perubahan perilaku -kecuali instink- adalah hasil belajar (Jalaluddin;1996:21). Dari hasil
belajar itulah manusia memilih dan mengambil
informasi-informasi yang mereka butuhkan. Seperti, anak-anak akan lebih cenderung memilih
informasi tentang pendidikan dan hiburan. Anak
muda akan memilih informasi tentang tempattempat hang-out¬, trend berpakaian serta trend
musik yang sedang disenangi.

Proses penentuan informasi yang dibutuhkan mutlak ditentukan oleh individu tersebut dan
hal itu didasarkan pada kepribadian individu itu
sendiri. Sebagai contoh, penulis sering kali melihat fenomena gadget sebagai sumber informasi di
kalangan anak SMA di Pekanbaru. Gadget yang
digunakan pun beragam mulai dari Blackberry,
iPad, iPhone, Tablet PC, dsb. Penulis melihat
fungsi dari gadget tersebut kadang tidak maksimal atau malah terkesan mubazir. Pada fenomena
ini, secara ringkas penulis menyimpulkan bahwa
mereka memilih gadget yang digunakan berdasarkan kepentingan pribadinya yang beralaskan pengaruh sosial sekelilingnya.
Suprapti
mengatakan,
(Suprapti;
2010:113) Sebagian di antara para teoritisi berpendapat bahwa kepribadian dipengaruhi oleh
faktor keturunan dan pengalaman masa kanakkanak, sedangkan sebagian lainnya menyatakan
bahwa kepribadian ditentukan oleh pengaruh sosial dan lingkungan yang lebih luas serta adanya
kenyataaan bahwa kepribadian berkembang terus
79

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
menerus sepanjang waktu.

Saat ini, telepon genggam menjadi gadget
multifungsi karena melalui benda yang ukurannya tak lebih besar dari remote air conditioner
ini dapat memberikan hampir seluruh layanan
telekomunikasi. Penyedia jasa telepon genggam
di beberapa negara yang menyediakan layanan
generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa
videophone, sebagai alat pembayaran, maupun
untuk televisi online di telepon genggam (ponsel)
mereka. Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini telepon genggam juga dilengkapi dengan
berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar
audio (MP3 Player) dan video, kamera digital,
game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G).

Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang
sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel
tersebut, manusia bisa mengubah fungsi ponsel
tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis,
fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat
dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan
dalam waktu yang singkat.

Untuk menunjang fasilitas-fasilitas tersebut, pengguna harus menggunakan jasa layanan
telekomunikasi. Saat ini Indonesia mempunyai
dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM
(Global System for Mobile Telecommunications)
dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). Di Indonesia saat ini ada 5 perusahaan
penyedia jasa layanan telekomunikasi (provider)
GSM yaitu, Telkomsel, Indosat, XL, Axis, dan
Tri. Dan ada 4 perusahaan penyedia jasa layanan telekomunikasi (provider) CDMA yaitu,
Esia, Telkom Flexi, SmartFren, Ceria. Banyak
kampanye-kampanye promosi (promotion campaign) yang dilakukan masing-masing provider
untuk merebut perhatian pelanggan. Telkomsel
dengan TM-nya, Indosat dengan IM3 Seruu-nya,
Axis dengan Dashyat Muraahnya, XL dengan 3G
HotRod-nya serta masih banyak lagi kampanyekampaye yang digembar gemborkan.

Di tengah ketatnya persaingan antar provider lahirlah Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI). Asosiasi ini bertujuan mengatur
telekomunikasi seluruh Indonesia selain UndangUndang yang mengatur bisnis telekomunikasi
80

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

di Indonesia. Indosat dalam 2 tahun terakhir ini
mengalami penurunan terus menerus, terlihat dari
data yang penulis kutip dari Gelaran Penghargaan
Indonesia Cellular Award 2011 Edisi tahun ke 6
pada 15 Juni 2011 yang ditaja oleh tabloid Sinyal
dan Dyandra Promosindo dimana Best Provider
GSM diraih oleh XL, Best Data Coverange diraih
oleh Telkomsel. Kedua kompetitor Indosat ini
masih tergolong baru dan muda, sedangkan Indosat sudah berumur hampir 50 tahun yang akhirnya
tidak menyabet satupun penghargaan pada ICA
2011.

Untuk menaikan kembali brand image,
PT. Indosat Tbk merancang strategi komunikasi
pemasaran yang meliputi ATL dan BTL. ATL
bertujuan untuk menciptakan Brand Image dan
mempertajam Brand Awerness melalui media
massa konvensional seperti Televisi Nasional,
Radio Jaringan, Koran Nasional, Internet, dsb.
Sedangkan BTL (below the line) menjadi tanggung jawab masing- masing Area dan Sales Area.
BTL bertujuan mempertajam campaign yang
telah disusun HQ dan melaksanakannya di masing-masing kota. Wilayah Pekanbaru sendiri disebut Sales Area yang merupakan gabungan Area
SUMBAGUT (Sumatera Bagian Utara) yang terdiri dari 9 Sales Area di 4 Provinsi yaitu NAD,
Sumut, Sumbar, Riau, dan Kepri.

Below the Line menurut Amalia E. Maulana, Ph.D seorang pakar Komunikasi pemasaran
dan Pemilik Etnomark Consulting Sebenarnya
adalah istilah LINE (yang berarti garis) dalam
ATL dan BTL itu berawal dari kategorisasi dalam
neraca keuangan. Kategori pertama berlaku bagi
kegiatan pemasaran yang kena komisi biro iklan.
Ini dimasukkan dalam ‘cost of sales’ dan dikurangi sebelum ditentukan gross profit. Kategori kedua untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak
kena komisi. Biayanya dimasukkan dalam biaya
operasional dan dikurangi sebelum ditentukan
net profit. Kedua jenis budget tersebut dipisahkan
dengan sebuah garis (LINE). Yang mengandung
unsur komisi, ditulis di bagian atas neraca, disebut
sebagai Above the line (ATL). Sisanya, dijadikan
satu di bawah garis tadi, disebut kelompok Below
the line (BTL). Sudah banyak yang melupakan
definisi awal komunikasi ATL vs BTL tersebut.

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
Strategi Komunikasi

Istilah Komunikasi berasal dari kata Latin
communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya
sama makna (Onong;2004:9). Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal
atau non verbal. Segala perilaku dapat disebut
komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih
(Mulyana;2005:3). Begitu banyaknya definisi dari
komunikasi sehingga akhirnya kita hanya bisa
mengira-ngira makna yang sebenarnya karena
setiap individu memiliki konsep makna komunikasi sendiri didalam benaknya.

Bernard Berelson dan Gary A. Steiner: komunikasi merupakan transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan
menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar,
figure grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses
transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.

Dalam proses komunikasi proses transmisi informasi itulah yang menjadi peranan penting
dalam pemaknaan pesan sehingga dapat tercapai
kesamaan pemaknaan pesan. Penulis mengutip
kembali dari Carl A. Hovland yang mengungkapkan bahwa komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunkator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambing-lambang
verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.

Komunikator memegang peran kunci
dalam perangsangan pesan agar dapat mengubah
perilaku orang sehingga Harold Lasswell mengungkapkan bahwa cara yang baik untuk menggungkapkan makna komunikasi adalah dengan
menjawab pertanyaan sebagai berikut, Who Says
What In Which Channel To Whom With What
Effect?

Paradigma Lasswell tersebut jika dijabarkan terdapat unsur-unsur penting yang menjadi
jawaban dari pertanyaan tersebut, yaitu Komunikator, Pesan, Media, Komunikan, Efek. (Onong;2004:10).

Hal pertama yang perlu diperhatikan dari
paradigma Lasswell ini adalah Komunikator. Istilah komunikator ini biasa juga disebut pengirim
(sender), penyandi (encoder), pembicara (speaker) atau originator. Komunikator ini adalah pihak
yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Kedua adalah pesan, yaitu apa

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau non verbal yang mewakili perasaan,
nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Ketiga,
saluran atau media, yakni alat atau wahana yang
digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Keempat, komunikan, yang
juga bisa disebut penerima (receiver), sasaran
tujuan (destination), khalayak (audience), pendengar (listener) atau penafsir ( interpreter). Komunikan dinisi bermakna orang yang menerima
pesan dari narasumber. Dan Kelima, efek, yaitu
apa yang terjadi pada penerima dalam hal ini komunikan setelah menerima pesan tersebut (Mulyana;2003:63-64).

Dalam hal ini komunikasi tidak berlangsung dalam suatu ruangan hampa-sosial, melainkan dalam suatu konteks atau situasi tertentu. Situasi tersebut dapat diartikan bahwa aspek-aspek
yang mempengaruhi untuk dapat terjadinya rangkaian kegiatan komunikasi. Aspek-aspek tersebut
antara lain keadaan psikologis dari komunikator
dan komunikan, aspek sosial seperti norma yang
berlaku dalam suatu kelompok dan waktu terjadinya kegiatan komunikasi tersebut.

Menurut Ahmad S. Adnanputra, MA.,
M.S., pakar Humas dalam naskah workshop PR
Strategy 1990 (Ruslan, 1998:133) Strategi adalah bagian terpadu dari suatu rencana (plan), sedangkan rencana merupakan produk dari suatu
perencanaan (planning). Keberhasilan kegiatan
komunikasi secara efektif banyak ditentukan oleh
penentuan strategi komunikasi.

Di lain pihak jika tidak ada strategi komunikasi yang baik efek dari proses komunikasi
(terutama komunikasi media massa) bukan tidak
mungkin akan menimbulkan pengaruh negatif.
Sedangkan untuk menilai proses komunikasi dapat ditelaah dengan menggunakan model-model
komunikasi. Dalam proses kegiatan komunikasi
yang sedang berlangsung atau sudah selesai prosesnya maka untuk menilai keberhasilan proses
komunikasi tersebut terutama efek dari proses
komunikasi tersebut digunakan telaah model komunikasi.

Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen (communications
81

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
management) untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi
harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti
kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda
sewaktu-waktu tergantung dari situasi dan kondisi.

Merumuskan strategi komunikasi, berarti
memperhitungkan kondisi dan situasi (ruang dan
waktu) yang dihadapi dan yang akan mungkin
dihadapi di masa depan, guna mencapai efektivitas. Dengan strategi komunikasi ini, berarti dapat
ditempuh beberapa cara memakai komunikasi secara sadar untuk menciptakan perubahan pada diri
khalayak dengan mudah dan cepat.

Selanjutnya strategi komunikasi harus
juga meramalkan efek komunikasi yang diharapkan, yaitu dapat berupa: menyebarkan informasi,
melakukan persuasi, dan melaksanakan intruksi.
Dari efek yang diharapkan tersebut dapat ditetapkan bagaimana cara berkomunikasi (how to communicate), dapat dengan komunikasi tatap muka
(face to face communication), dipergunakan apabila kita mengharapkan efek perubahan tingkah
laku (behaviour change) dari komunikan karena
sifatnya lebih persuasif dan dengan komunikasi
bermedia (mediated communication), dipergunakan lebih banyak untuk komunikasi informatif
dengan menjangkau lebih banyak komunikan
tetapi sangat lemah dalam hal persuasif.

Dalam strategi komunikasi peranan komunikator sangatlah penting, itulah sebabnya
strategi komunikasi harus luwes supaya komunikator sebagai pelaksana dapat segera mengadakan
perubahan bila dalam pelaksanaan menemui hambatan.
Komunikasi Pemasaran

Pemasaran merupakan sistem keseluruhan
dari kegiatan usaya yang ditujukan untuk merencanakan, menetapkan harga, mendistribusikan barang dan jasa untuk dapat memuaskan konsumen.
Komunikasi adalah proses dimana pemikiran dan
pemahaman disampaikan antara individu, atau
antar organisasi dengan individu. Jadi komunikasi
pemasaran juga dapat dinyatakan sebagai kegiatan komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada konsumen dengan berbagai
82

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

media, dengan harapan agar komunikasi dapat
menghasilkan perubahan, yaitu perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan tindakan yang dikehendaki. Adapun jenis media yang
dapat digunakan adalah media massa baik cetak,
elektronik, online, dan lainnya.

Komunikasi pemasaran secara umum
mengacu pada pemberian informasi yang bersifat sistematis dan terarah. Bicara komunikasi pemasaran berarti kita berbicara tentang berbagai
unsur yang berperan sebagai variabel penentu
dalam kegiatan tersebut, antara lain :
• Pelanggan
• Pesaing
• Saluran distribusi
• Media yang digunakan


Komunikasi pemasaran juga dapat dinyatakan sebagai kegiatan komunikasi yang bertujuan
untuk menyampaikan pesan kepada konsumen
dengan menggunakan berbagai media, dengan
harapan agar komunikasi dapat menghasilkan tiga
tahap yaitu perubahan pengetahuan, perubahan
sikap, dan perubahan yang dikehendaki. Penyampaian pesan (message) tentunya sangat memerlukan media-media yang terencana sesuai dengan
strategi atau taktik yang ada, media tersebut dapat
berupa: poster, brosur, spanduk, banner, televisi,
radio, majalah, surat kabar dan lainnya.

Komunikasi pemasaran pada hakekatnya
juga merupakan salah satu bentuk komunikasi
yang memperkuat strategi pemasaran, guna meraih segmetasi yang lebih luas. Lebih jauh lagi agar
pelanggan diperkuat loyalitas terhadap produk,
yaitu barang dan jasa yang diproduksi perusahaan.
Strategi Komunikasi Pemasaran

Dalam penyusunan strategi komunikasi
dalam pemasaran, alangkah baiknya apabila komunikator dapat mengetahui dan memahami
perilaku konsumen yang hendak ditujunya. Ni
Wayan Sri Suprapti dalam bukunya yang berjudul
perilaku konsumen mengutip beberapa defenisi
yang dikemukakan oleh para ahli. Perilaku konsumen menggambarkan berbagai aktifitas yang
dilakukan orang-orang ketika memilih, membeli,
dan menggunakan barang dan jasa sehingga memuaskan kebutuhan dan keinginannya (Wilkie,

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
1990). Aktivitas tersebut melibatkan proses mental, emosi, dan fisik. Manfaat mengetahui perilaku
konsumen adalah pemasar dapat memprediksi
bagaimana reaksi konsumen terhadap isyarat komunikasi yang diberikan. Berdasarkan dari reaksi
itulah, pemasar dapat mempertajam strateginya
atau mungkin mengurangi intensitasnya karena
dirasa focus yang dituju sudah tercapai.

Sebagai contoh, pemasar ingin membuat
sebuah komunikasi visual produknya dengan
menggunakan media brosur. Dalam mendesain
sebuah brosur tidak ada standart baku pemilihan warna, jenis huruf (font), spasi, gambar, dsb.
Komposisi desain ditentukan oleh minat orang
yang mendesain (desaigner) dan pemilik produk.
Jika pemilik produknya tidak mengerti perilaku
konsumennya yang bergerak dan beraktifitas dengan intensitas yang tinggi maka bisa dipastikan
seluruh keunggulan produknya akan dicantumkan
ke dalam brosur tersebut. Dan hasilnya konsumen
tidak akan terlalu memperhatikan brosur tersebut
karena terlalu banyak tulisan dan akan menyebabkan kebingungan.

Strategi pemasaran terdiri dari unsur-unsur yang selalu berkembang sejalan dengan gerak
perusahaan dan perubahan lingkungan pemasaran. Bauran Pemasaran (Marketing mix) dalam
perkembangannya, untuk layanan jasa terdapat
enam variable atau kegiatan yang merupakan
sistem dari pemasaran, yaitu people, product,
Place,price, phisycal evidence dan positioning,
dan promotion. (wantono, 2011;153)

Jadi dalam menentukan strategi pemasaran perlu diperhatikan:
1.People (orang/segmentasi pasar)
People adalah orang yang akan menjadi segmentasi pasar oleh perusahaan yang akan melakukan
strategi komunikasi pemasarannya.
2.Product (Produk)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar untuk dimiliki, diperhatikan, digunakan atau konsumsi, sehingga dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan termasuk
didalamnya objek fisik, jasa, tempat organisasi
dan gagasan

Bagi perusahaan yang bergerak dibidang
jasa telekomunikasi harus memperhatikan keingi-

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

nan dan kebutuhan konsumen terhadap produk
yang ditawarkan yaitu berupa pelayanan dan
fasilitas. Untuk memasarkan produknya pihak
manajemen perusahaan dituntut selalu mengikuti
perkembangan yang terjadi dimasyarakat terutama dengan kebutuhan saat ini.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan
bahwa produk telekomunikasi secara luas adalah
mencakup semua pokok, sarana pelengkap dan
sarana penunjang komunikasi yang bertujuan untuk melayani, memenuhi kebutuhan serta keinginan dari konsumen.
3.Place (distribusi)

Tempat dalam industri komunikasi sama
pengertiannya dengan pendistribusian pada industri yang merupakan faktor perantara pasar intermediate marketing yang turut memikirkan dan
melayani kebutuhan konsumen. Tempat sangat
menentukan oleh dukungan sarana dan prasarana
yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen dan customer.
4.Price (Harga)

Disamping produk, maka variabel lain
yang ikut mempengaruhi kegiatan pemasaran suatu perusahaan adalah harga. Harga adalah merupakan salah satu variable yang meliputi perusahaan karena harga produk yang dipasarkan akan
menentukan pemilihan oleh konsumen yang akan
membelinya.

Harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari
pelayanan dan produk. Harga adalah nilai suatu
barang atau jasa yang ditukar dengan sejumlah
uang dimana berdasarkan nilai tersebut seseorang
atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau
jasa yang dimiliki kepada pihak lain.

Perusahaan tidak menetapkan harganya
dengan begitu saja, tetapi juga harus memperhatikan faktor-faktor intern dan ekstern. Penetapan
harga lebih banyak merupakan seni yang dimiliki
menejer yang bekerja dan berpengalaman dalam
bidang penjualan.

Penetapan harga jual sebagian besar tergantung pada bentuk-bentuk persaingan harga
yang berlaku dalam pasar, penetapan harga biasanya dilakukan dengan mangadakan perubahan
83

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
untuk menguji apakah konsumen menerima atau
tidak. Harga merupakan satu-satunya dari unsur
marketing mix yang menghasilkan penerimaan
penjualan. Sedangkan unsur-unsur lainnya hanya
merupakan unsur biaya.
5.Physical Evidence (Bukti Fisik) dan Positioning

Physical Evidence (Bukti Fisik) merupakan bukti adanya keberadaan suatu produk.
Dan bukti fisik ini harus didukung oleh positioning agar produk tersebut memiliki citra dimata
masyarakat/konsumennya.

Positioning yaitu menempatkan suatu
produk dan pelayanan ke dalam pikiran/kognitif
dari calon konsumen. Dalam hal ini yaitu dalam
kognitifnya masyarakat (konsumen).
6.Promotion (Promosi)

Promosi merupakan salah satu variabel
dari marketing mix yang penting dilaksanakan
oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.
Kegiatan promosi mencakup segala usaha yang
menuju kepada perluasan penjualan dengan cara
menarik perhatian calon konsumen sehingga menimbulkan keinginan memberikan produk yang
tepat akan sangat menunjang keberhasilan usaha
pemasaran secara keseluruhan. Menurut Philip
kotler yang dimaksud dengan promosi adalah Komunikasi yang mempunyai ciri dan sifat membujuk secara langsung terhadap pembelinya maupun
umum.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

2.Penjualan Perorangan (Personal selling)

Interaksi antar individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan,
memperbaiki, menguasai atau mempertahankan
hubungan pertukaran yang saling menguntungkan
dengan pihak lain.
3.Hubungan Masyarakat (Publisitas/Public Relations)

Bertujuan membangun hubungan baik
dengan publik perusahaan dengan menghasilkan
publisitas yang menyenangkan, menumbuhkembangkan suatu citra perusahaan yang baik, menangani, atau melenyapkan desas-desus, cerita
dan peristiwa yang tidak menyenangkan melalui
penyampaian informasi yang disebar luaskan kepada masyarakat melalui media tanpa dipungut
biaya atau pengawasan pihak sponsor, ini berarti
komersial.

4. Promosi penjualan (Sales Promotion)

Intensif jangka pendek untuk meningkatkan pembelian atau penjualan suatu produk atau
jasa dimana pembelian diharapkan dilakukan
sekarang juga, misalnya kupon berhadiah, obral,
kontes, pameran dan lainnya.

Promosi merupakan proses penyampaian informasi dari penjual kepada pembeli untuk mempengaruhi sikap-sikap dan tingkah laku.
Dalam kebijakan promosi juga bertujuan agar dapat menimbulkan image (pandangan) konsumen
terhadap penampilan perusahaan. Dengan mempertimbangkan apakah hanya diarahkan pada

Strategi komunikasi pemasaran yang di- kelompok sasaran yang ingin dituju atau hanya tugunakan untuk meningkatkan meningkatkan juan pertumbuhan pasar atau perkembangan pasar
member dan reload Indosat Community Pekan- yang telah ada. Disinilah diperlukan keahlian sebaru yaitu dengan kegiatan promosi dapat dibagi orang manajer untuk sasaran yang tepat, sehingga
dalam empat kegiatan atau strategi Bauran Pro- tujuan pemasaran yang diciptakan perusahaan perusahaan akan tercapai.
mosi (Promotin Mix) yaitu:

Kesemua kegiatan tersebut baik Marketing Mix dan Promotion Mix masih bernaung di
1.Periklanan (Advertising)

Merupakan suatu alat komunikasi untuk bawah strategi komunikasi pemasaran below
memberikan informasi, membujuk atau mem- the line. Menurut Amalia E. Maulana, Ph.D mepengaruhi, menciptakan kesan dan pemuasan ke- masarkan jasa lebih kompleks dibandingkan deninginan konsumen oleh pihak perusahaan dalam gan memasarkan produk. Jika dalam pemasaran
menawarkan produk yang dihasilkan kepasar. Ko- produk dikenal Marketing Mix 4P –Product, Price,
Place dan Promotion; maka dalam pemasaran jasa
munikasinya bersifat masal dan pribadi.
Marketing Mix ini dikembangkan dengan 3P lagi
yaitu People, Process dan Physical Environment.
84

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

hatian peneliti, tetapi belum ada kerangka teoritis
Metode Penelitian
untuk menjelaskannya (Rahmat, 2004 : 25).

Penulis memakai model AIDDA sebagai Untuk memperoleh data mengenai strategi komukerangka pemikiran dari permasalahan ini dan nikasi pemasaran teknik pengumpulan data yang
membedah model ini dengan menggunakan teori dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan
Harold Laswell yaitu dengan menjawab pertan- teknik:
yaan who say’s what in which channel to whom
with what effect.
a.Metode Wawancara

Penelitian ini menggunakan metode penel-
Wawancara secara umum adalah proses
itian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskrip- memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian
sikan apa yang terjadi pada penelitian ini. Peneli- dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka
tian ini bersifat deskriptif yang hanya berisikan antara pewawancara dengan informan atau orang
situasi atau peristiwa dan tidak menguji hipotesis diwawancarai. Tehknik wawancara yang digunaatau membuat prediksi. Penelitian deskriptif ini kan adalah adalah wawancara tidak berstruktur
bertujuan untuk menggambarkan tentang karak- karena wawancara tidak berstruktur sangat meteristik individu, fenomena atau kelompok tert- madai dalam penelitian kualitatif. Dalam penelientu.
tian ini yang diwawancarai adalah orang-orang

Dedi Mulyana (2008) melalui bukunya yang telah dipilih oleh berdasarkan pertimbangan
yang berjudul “metode penelitian komunikasi” peneliti yaitu khalayak yang mengenal dan mengmengemukakan bahwa penelitian kualitatif juga gunakan produk-produk PT. Indosat Tbk.
bersifat empiris yang berarti dapat diamati dengan pancaindera hanya saja pengamatan atas data b.Metode Observasi
bukanlah berdasarkan ukuran matematis yang
Metode Observasi adalah metode penterlebih dahulu ditetapkan peneliti dan harus da- gumpulan data yang digunakan untuk mengpat disepakati (direplikasi) oleh pengamat lain, himpun data penelitian melalui pengamatan dan
melainkan berdasarkan ungkapan subjek peneli- penginderaan. Metode ini dilakukan dengan cara
tian, sebagaimana yang dikehendaki dan dimak- melakukan pengamatan dan pencatatan secara
nai oleh subjek penelitian. Penelitian seperti ini sistematis terhadap gejala atau fenomena yang
disebut penelitian fenomenologis yang bertujuan diselidiki, dimana dalam penelitian ini pengamamemperoleh uraian lengkap yang merupakan es- tan yang dilakukan adalah mengenai bagaimana
ensi pengalaman sehingga penelitian kualitatif strategi pemasaran Divisi Marketing-VAS-Combertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan munity dalam memasarkan produknya dan memsedalam-dalamnya melalui pengumpulan data pertahankan anggota communitynya.
sedalam-dalamnya. Metode kualitatif digunakan
untuk :
c.Metode Dokumentasi
1. Mengumpulkan informasi aktual secara rin-
Metode dokumentasi adalah metode
ci yang melukiskan gejala yang ada.
yang digunakan untuk menelusuri data historis.
2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi
kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.
adalah pengambilan data yang diperoleh melalui
3. Membuat perbandingan atau evaluasi.
dokumen-dokumen (Usman, 2004:73). Tekhnik
4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain ini dilakukan untuk mencari data atau informasi
dalam menghadapi masalah yang sama dan riset melalui membaca jurnal ilmiah, buku referbelajar dari pengalaman mereka untuk me- ensi, dan bahan publikasi yang tersedia di perpusnetapkan keputusan di masa yang akan da- takaan. Kesemuanya itu kemudian dikembangkan
tang.
sesuai kebutuhan dan penyusunan penelitian dengan tidak membatasi jumlah maupun sumbernya.
Sering kali terjadi metode deskriptif digunakan
Penelitian kualitatif menghadapi persoakarena suatu peristiwa atau hal yang menarik per- lan penting mengenai pengujian keabsahan has85

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
il penelitian. Banyak hasil penelitian kualitatif
diragukan kebenarannya karena beberapa hal;
a. subjektivitas peneliti merupakan hal yang
dominan dalam penelitian kualitatif;
b. alat penelitian yang diandalkan adalah
wawancara dan observasi (apapun bentuknya) mengandung banyak kelemahan ketika
dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa
control (dalam observasi partisipasi);
c. sumber data kualitatif yang bersifat empiris
akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian
(Mulyana, 2008:11).

Oleh karena itu dalam teknik keabsahan
data, maka peneliti menggunakan Perpanjangan
Keikutsertaan, yaitu: Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam
waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan
keikutsertaan pada latar penelitian. Perpanjangan
keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan
penelitian sampai keseluruhan pengumpulan data
tercapai. Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan
memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan
data yang dikumpulkan.

Perpanjangan keikutsertaan juga menuntut penelitian agar terjun kelokasi dan dalam
waktu yang cukup panjang guna mendeteksi dan
memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data.

Perpanjangan keikutsertaan juga dimaksudkan untuk membangun kepercayaan pada subyek terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri
peneliti sendiri. Jadi bukan sekedar menerapkan
taktik yang menjamin untuk mengatasinya. Selain itu kepercayaan subjek dan kepercayaan diri
pada peneliti merupakan proses pengembangan
yang berlangsung setiap hari dan merupakan alat
untuk mencegah usaha coba-coba dari pihak subyek. Usaha membangun kepercayaan diri dan kepercayaan subjek memerlukan waktu yang cukup
lama.
Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen (communications
management) untuk mencapai suatu tujuan. Un86

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

tuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi
harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti
kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda
sewaktu-waktu tergantung dari situasi dan kondisi.

Merumuskan strategi komunikasi, berarti
memperhitungkan kondisi dan situasi (ruang dan
waktu) yang dihadapi dan yang akan mungkin
dihadapi di masa depan, guna mencapai efektivitas. Dengan strategi komunikasi ini, berarti dapat
ditempuh beberapa cara memakai komunikasi secara sadar untuk menciptakan perubahan pada diri
khalayak dengan mudah dan cepat.

Selanjutnya strategi komunikasi harus
juga meramalkan efek komunikasi yang diharapkan, yaitu dapat berupa: menyebarkan informasi,
melakukan persuasi, dan melaksanakan intruksi.
Dari efek yang diharapkan tersebut dapat ditetapkan bagaimana cara berkomunikasi (how to communicate), dapat dengan komunikasi tatap muka
(face to face communication), dipergunakan apabila kita mengharapkan efek perubahan tingkah
laku (behaviour change) dari komunikan karena
sifatnya lebih persuasif dan dengan komunikasi
bermedia (mediated communication), dipergunakan lebih banyak untuk komunikasi informatif
dengan menjangkau lebih banyak komunikan
tetapi sangat lemah dalam hal persuasif. Dalam
strategi komunikasi peranan komunikator sangatlah penting, itulah sebabnya strategi komunikasi
harus luwes supaya komunikator sebagai pelaksana dapat segera mengadakan perubahan bila
dalam pelaksanaan menemui hambatan.

Dalam setiap melakukan suatu rangkain
kegiatan selalu ada yang sering disebut sebagai
rangkaian proses kegiatan. Dalam berkomunikasi
juga terdapat proses komunikasi, sehingga pesan
yang disampaikan komunikan bisa sampai “dengan selamat” kepada komunikator. Maksud dari
sampai dengan selamat tersebut adalah pesan
yang disampaikan sampai seutuhnya kepada komunikan tanpa ada pengurangan ataupun penambahan, sehingga makna pesan yang disampaikan
tidak ditafsirkan berbeda dengan makna sebenarnya pesan tersebut.

Pemasaran merupakan sistem keseluruhan
dari kegiatan usaya yang ditujukan untuk meren-

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
canakan, menetapkan harga, mendistribusikan barang dan jasa untuk dapat memuaskan konsumen.
Komunikasi adalah proses dimana pemikiran dan
pemahaman disampaikan antara individu, atau
antar organisasi dengan individu. Jadi komunikasi
pemasaran juga dapat dinyatakan sebagai kegiatan komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada konsumen dengan berbagai
media, dengan harapan agar komunikasi dapat
menghasilkan perubahan, yaitu perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan tindakan yang dikehendaki. Adapun jenis media yang
dapat digunakan adalah media massa baik cetak,
elektronik, online, dan lainnya.

Komunikasi pemasaran secara umum
mengacu pada pemberian informasi yang bersifat sistematis dan terarah. Bicara komunikasi pemasaran berarti kita berbicara tentang berbagai
unsur yang berperan sebagai variabel penentu
dalam kegiatan tersebut, antara lain :
• Pelanggan
• Pesaing
• Saluran distribusi
• Media yang digunakan

Dalam penyusunan strategi komunikasi
dalam pemasaran, alangkah baiknya apabila komunikator dapat mengetahui dan memahami
perilaku konsumen yang hendak ditujunya. Ni
Wayan Sri Suprapti dalam bukunya yang berjudul
perilaku konsumen mengutip beberapa defenisi
yang dikemukakan oleh para ahli. Perilaku konsumen menggambarkan berbagai aktifitas yang
dilakukan orang-orang ketika memilih, membeli,
dan menggunakan barang dan jasa sehingga memuaskan kebutuhan dan keinginannya (Wilkie,
1990). Aktivitas tersebut melibatkan proses mental, emosi, dan fisik. Manfaat mengetahui perilaku
konsumen adalah pemasar dapat memprediksi
bagaimana reaksi konsumen terhadap isyarat komunikasi yang diberikan. Berdasarkan dari reaksi
itulah, pemasar dapat mempertajam strateginya
atau mungkin mengurangi intensitasnya karena
dirasa focus yang dituju sudah tercapai.

Sebagai contoh, pemasar ingin membuat
sebuah komunikasi visual produknya dengan
menggunakan media brosur. Dalam mendesain
sebuah brosur tidak ada standart baku pemili-

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

han warna, jenis huruf (font), spasi, gambar, dsb.
Komposisi desain ditentukan oleh minat orang
yang mendesain (desaigner) dan pemilik produk.
Jika pemilik produknya tidak mengerti perilaku
konsumennya yang bergerak dan beraktifitas dengan intensitas yang tinggi maka bisa dipastikan
seluruh keunggulan produknya akan dicantumkan
ke dalam brosur tersebut. Dan hasilnya konsumen
tidak akan terlalu memperhatikan brosur tersebut
karena terlalu banyak tulisan dan akan menyebabkan kebingungan.

Dalam menentukan strategi pemasaran
ini dapat dilakukan dengan membuat tiga macam
keputusan yaitu:
1. Konsumen yang mana dituju
2. Kepuasan apa yang diinginkan konsumen
3. Bauran Pemasaran apa yang digunakan untuk menarik

Ketiga macam keputusan diatas sangat
menentukan arah dan strategi pemasaran, strategi
tersebut merupakan rencana jangka panjang yang
digunakan sebagai pedoman kegiatan-kegiatan
perusahaan. Strategi pemasaran bukan hanya
merupakan sejumlah tindakan khusus, tetapi lebih
merupakan suatu kenyataan yang diarahkan untuk
menciptakan tujuan perusahaan. Strategi pemasaran terdiri dari unsur-unsur yang selalu berkembang sejalan dengan gerak perusahaan dan perubahan lingkungan pemasaran. Bauran Pemasaran
(Marketing mix) dalam perkembangannya, untuk
layanan jasa terdapat enam variable atau kegiatan
yang merupakan sistem dari pemasaran, yaitu people, product, Place,price, phisycal evidence dan
positioning, dan promotion. (wantono, 2011;153)

Jadi dalam menentukan strategi pemasaran perlu diperhatikan:
1.People (orang/segmentasi pasar)

People adalah orang yang akan menjadi
segmentasi pasar oleh perusahaan yang akan melakukan strategi komunikasi pemasarannya.
2.Product (Produk)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar untuk dimiliki, diperhatikan, digunakan atau konsumsi, sehingga dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan termasuk
didalamnya objek fisik, jasa, tempat organisasi
87

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
dan gagasan. Bagi perusahaan yang bergerak
dibidang jasa telekomunikasi harus memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen terhadap
produk yang ditawarkan yaitu berupa pelayanan
dan fasilitas. Untuk memasarkan produknya pihak
manajemen perusahaan dituntut selalu mengikuti
perkembangan yang terjadi dimasyarakat terutama dengan kebutuhan saat ini.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan
bahwa produk telekomunikasi secara luas adalah
mencakup semua pokok, sarana pelengkap dan
sarana penunjang komunikasi yang bertujuan untuk melayani, memenuhi kebutuhan serta keinginan dari konsumen.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

yang berlaku dalam pasar, penetapan harga biasanya dilakukan dengan mangadakan perubahan
untuk menguji apakah konsumen menerima atau
tidak. Harga merupakan satu-satunya dari unsur
marketing mix yang menghasilkan penerimaan
penjualan. Sedangkan unsur-unsur lainnya hanya
merupakan unsur biaya.

5.Physical Evidence (Bukti Fisik) dan Positioning

Physical Evidence (Bukti Fisik) merupakan bukti adanya keberadaan suatu produk.
Dan bukti fisik ini harus didukung oleh positioning agar produk tersebut memiliki citra dimata
masyarakat/konsumennya.

Positioning yaitu menempatkan suatu
3.Place (distribusi)
produk dan pelayanan ke dalam pikiran/kognitif

Tempat dalam industri komunikasi sama dari calon konsumen. Dalam hal ini yaitu dalam
pengertiannya dengan pendistribusian pada in- kognitifnya masyarakat (konsumen).
dustri yang merupakan faktor perantara pasar intermediate marketing yang turut memikirkan dan 6.Promotion (Promosi)
melayani kebutuhan konsumen. Tempat sangat
Promosi merupakan salah satu variabel
menentukan oleh dukungan sarana dan prasarana dari marketing mix yang penting dilaksanakan
yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen dan cus- oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.
tomer.
Kegiatan promosi mencakup segala usaha yang
menuju kepada perluasan penjualan dengan cara
4.Price (Harga)
menarik perhatian calon konsumen sehingga men
Disamping produk, maka variabel lain imbulkan keinginan memberikan produk yang
yang ikut mempengaruhi kegiatan pemasaran sua- tepat akan sangat menunjang keberhasilan usaha
tu perusahaan adalah harga. Harga adalah meru- pemasaran secara keseluruhan. Menurut Philip
pakan salah satu variable yang meliputi perusa- kotler yang dimaksud dengan promosi adalah Kohaan karena harga produk yang dipasarkan akan munikasi yang mempunyai ciri dan sifat membumenentukan pemilihan oleh konsumen yang akan juk secara langsung terhadap pembelinya maupun
membelinya.
umum.

Harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari
Berdasarkan diatas maka dapat disimpelayanan dan produk. Harga adalah nilai suatu pulkan bahwa produk promosi berguna untuk
barang atau jasa yang ditukar dengan sejumlah memberitahu, membujuk, merubah tingkah laku
uang dimana berdasarkan nilai tersebut seseorang serta menigkatkan calon konsumen agar membeli
atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau produk yang ditawarkan. Jadi dalam mencapai tujasa yang dimiliki kepada pihak lain.
juan dan sasaran yang ada pada kegiatan promosi,

Perusahaan tidak menetapkan harganya maka perusahaan berusaha sebaik mungkin untuk
dengan begitu saja, tetapi juga harus memperha- memilih kombinasi dari segala bentuk promosi
tikan faktor-faktor intern dan ekstern. Penetapan dalam pelaksanaan untuk mencapai volume penharga lebih banyak merupakan seni yang dimiliki jualan yang tinggi serta pencapaian angka penmenejer yang bekerja dan berpengalaman dalam jualan dan pembagian pasar (market share) yang
bidang penjualan.
tinggi.

Penetapan harga jual sebagian besar tergantung pada bentuk-bentuk persaingan harga
88

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011
Pembahasan

Indosat hadir di Indonesia sebagai salah
satu perusahaan penyedia jasa layanan telekomunikasi yang bergerak dibidang komunikasi voice
dan message, namun seiring perkembangan tekhnologi Indosat hadir dengan layanan internet, karena saat ini internet merupakan sebuah kebutuhan dan gaya hidup bagi hampir semua kalangan.
Persaingan antar perusahaan yang bergerak dibidang yang sama tidak dapat dielakkan. Persaingan
yang bersih hingga black campaigne yang saling
menjatuhkan antara satu merk dengan merk yang
lain sering dilakukan.

Karena Indosat merupakan usaha yang
bergerak di bidang jasa pada telekomunikasi,
maka jumlah pelanggan merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan perusahaan.
Dan untuk meningkatkan jumlah pelanggan maka
faktor pemasaran sangat berpengaruh.

Indosat Community merupakan wadah
komunikasi interaktif yang menghimpun pengguna kartu Indosat (IM3 dan Mentari) yang mempunyai beberapa jenis kesamaan misalnya sekolah,
organisasi, hobby, pekerjaan dll. Dengan bergabung di Indosat Community, pelanggan akan
mendapat kemudahan, dan keuntungan dalam
berkomunikasi sesama anggota komunitas. Selain
itu juga akan mendapatkan berbagai macam benefit istimewa. Komunitas yang di bentuk dibagi
kedalam beberapa kategori yaitu :
1. Indosat School Community (SD, SMP,
SMA, Universitas)
2. Indosat Non School Community ( Organisasi, Hobby, dll)
3. Indosat Worker Community (Pekerja)

Community yang dibentuk oleh Indosat
adalah sebagai wadah pengguna produk Indosat
yaitu IM3 dan Mentari dengan diberikannya keuntungan khusus bagi membernya yaitu diberlakukannya tarif khusus member Indosat Community dan special treatment. Perlakuan khusus
yang dimaksud adalah beberapa fitur khusus yang
hanya bisa dinikmati oleh member Indosat Community. Misalnya, Gratis iuaran keanggotaan,
Gratis ganti kartu hilang, dapat memiliki nomer
yang sama jika kartu hilang atau rusak, berkesempatan mengikuti acara yang diselenggarakan In-

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

dosat serta diskon khusus member di outlet merchand seluruh Indonesia. (www.indosat.com)

Bisnis telekomunikasi era sekarang sering
sekali melakukan percepatan pergerakan melalui
wadah komunitas pengguna produknya. Hal tersebut dilakukan karena melalui komunitas dapat ditarik data valid pengguna aktif dan loyal produk
tertentu. Komunitas ini tidak lepas dari perkembangan dunia digital yang sedang berkembang
yaitu sosial media. Indosat Pekanbaru membentuk wadah sosial media yang dapat diakses gratis
oleh seluruh member Indosat Community yaitu,
Facebook dan Twitter. Sarana sosial media ini
juga dijadikan sebagai saluran penyebaran informasi Indosat Pekanbaru. Penulis mengutip teori
Laswell yaitu, who, say’s what, in which channel,
to whom, and with what effect yang dimajukan
oleh Indosat melalui sosial media.

“sampai saat ini, twitter im3 pekanbaru
yang bisa di follow di @im3pekanbaru sudah
punya 1300an follower’s. Follower’s im3 pekanbaru bisa dari mana saja, sejauh yang saya tau,
yang bukan pengguna product Indosat pun ada
yang menjadi follower’s kita” (Donny, 20 Januari
2012).

Penulis mencoba menyelaraskan teori
Laswell tersebut dengan penelitian yang dilakukan di lapangan. Dalam Observasi tersebut penulis melihat bahwa pesan yang disampaikan diterima dengan baik dan ditanggapi pula dengan
baik oleh komunikan. Hal tersebut terlihat jelas
pada studi kasus tanggal 28 Desember 2011 dimana jaringan Indosat Crush sampai 8 jam. Donny,
yang merupakan “mimin” @im3pekanbaru menyebarkan pesan update kondisi jaringan dari jam
ke jam yang membuat pelanggan Indosat mengetahui kondisi jaringan dan update perbaikan yang
sedang diupayakan. Akhirnya kondisi pelanggan
yang terhimpun di @im3pekanbaru kondusif,
penulis melihat impact benar dari teori Laswell
tersebut. Indosat (who) meng-update perkembangan perbaikan jaringan (says what) menggunakan
twitter (in which channel) yang diarahkan ke pelanggan yang tergabung di twitter @im3pekanbaru (to whom) dengan harapan mengkondusifkan
kondisi pelanggannya dan menyebarkan info
positive perkembangan perbaikan jaringan (whit
what effect).
89

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011

Dalam mempertahankan dan meningkatkan member komunitas ada beberapa strategi
yang dimiliki oleh Indosat Pekanbaru. Strategi
yang telah tersedia dan dapat dijadikan tools untuk mempertahankan dan meningkatkan member Indosat Community adalah ATL (Above The
Line) dan BTL (Below The Line).

“ATL tidak bisa dijadikan main tools untuk masalah ini, karena masalah ini tidak terjadi
secara nasional dan tidak mengancam Image Indosat secara keseluruhan” (Hutagalung Dani. P.
Sales Area Manager PT. Indosat Pekanbaru – 10
Januari 2012)

Penulis melihat kesamaan pandangan
dengan narasumber diatas, karena ATL merupakan strategi komunikasi pemasaran yang dijadikan tools untuk membentuk brand image secara
nasional dan berkala. ATL yang lazim digunakan
adalah TVC, Filler, Print Ad. Untuk Print Ad penulis melihat materi yang disampaikan pun bersifat general yang disesuaikan dengan kultur Indonesia secara keseluruhan. ATL tidak bisa dijadikan
main source di daerah, karena efek umpan balik
tidak akan bisa terpenuhi karena pola komunikasi
yang terjalin adalah komunikasi 1 arah. Untuk
permasalahan pada Indosat Pekanbaru yang sedang diteliti, penulis mengamati bahwa BTL yang
dapat dijadikan tools yang tepat untuk segera
meningkatkan member di akhir tahun 2011.

Dalam model AIDDA proses komunikasi
yang terjadi yaitu dimulai dengan menumbuhkan
perhatian (attention). Apabila perhatian (attention)
komunikan telah terbangkitkan, kemudian dilanjutkan dengan upaya menumbuhkan minat (interest) yang merupakan derajat yang lebih tinggi dari
perhatian. Minat (interest) merupakan langkah
dari timbulnya hasrat (desire) untuk melakukan
suatu kegiatan yang diharapkan komunikator. Jika
hanya ada hasrat saja dalam diri komunikan, ini
belum berarti apa-apa bagi komunikator karena
harus diteruskan agar bisa mengambil keputusan
(decission). Keputusan (decission) yakni tindakan
untuk melakukan kegiatan (action) sebagaimana
yang diharapkan komunikator.

Dalam model ini diasumsikan bahwa pelanggan melalui tahapan-tahapan pengetahuan,
perasaan dan perilaku. Secara rinci ada tiga tujuan promosi sebagai berikut: menginformasikan,
90

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

mempengaruhi dan membujuk, meningkatkan
pembeli (customer). Pesan yang disampaikan
komunikator harus menarik perhatian (attention)
baik melalui tatap muka, iklan di media cetak
maupun melalui media elektronik, yang kemudian akan menimbulkan minat (interest), memicu
keinginan (desire), dilanjutkan dengan datangnya
keputusan (decission) dan mendorong orang untuk berbuat (action) sebagaimana model AIDDA.

Metode ini adalah metode komunikasi
pemasaran yang cocok untuk dijadikan kerangka
pemikiran penelitian. PT. Indosat Tbk Cabang Pekanbaru bisa dengan leluasa menerapkan teori ini
karena tidak bergantung dengan konsep komunikasi pemasaran dan bauran komunikasi pemasaran. Penulis mencoba merumuskan bahwa metode
yang dikekumakan oleh Onong Uchyana Efendi
ini menitikberatkan kepada keahlian komunikator menimbulkan daya tarik yang kuat. Daya tarik
tersebut tidak harus dari product yang dibawanya
tetapi juga pada body language, kemampuan persuasif, agresifitas, dan yang paling penting good
communication.

Jika Seorang komunikator mempunyai
kemampuan untuk melakukan perubahan sikap
melalui mekanisme daya tarik, dan pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta dengan
mereka dalam hubungannya dengan opini yang
disebarkan. Misalnya, komunikator dapat disenangi atau dikagumi sedemikian rupa, sehingga
komunikan akan menerima kepuasan dari usaha
menyamakan diri dengannya melalui kepercayaan
yang diberikan. Atau komunikator dapat dianggap mempunyai persamaan dengan komunikan,
sehingga komunikan bersedia untuk menerima
pesan yang dikomunikasikan komunikator. Sehingga Decission dan Action yang diharapkan komunikator dapat dipenuhi oleh komunikan.

Selain menggunakan analisa AIDDA dengan metode penilitian menggunakan paradigm
Laswell, penulis menemukan strategi lain yang
digunakan PT. Indosat Tbk SA Pekanbaru yaitu
Anti Marketing. Hutagalung Dani. P selaku Sales
Area Manager Indosat Pekanbaru mengatakan
strategi anti marketing ini dipilih karena keterbatasan ruang gerak BTL dan target peningkatan
kembali member dan reload Indosat Community
Pekanbaru.

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011

“anti marketing menurut saya merupakan cara
marketing product paling primitif yang bisa saya kerjakan sekarang. Dan konsep awalnya bergerak di aspek bawah sadar manusia, karena biasanya semakin
dilarang semakin dilakukan.” (Hutagalung Dani P. 10
Januari 2012)

Penulis melihat gambling besar yang dilakukan Indosat Pekanbaru untuk “menggenjot” member
Indosat Community di akhir tahun 2012. Campaigne
yang dilakukan adalah dengan menggunakan tema
“Jangan Pakai Indosat” yang di produksi di seluruh
promotion tools yang dimiliki Indosat Pekanbaru.
Salah satu tools yang bisa digunakan dan memiliki
jarak jelajah yang cukup bagus adalah flyer. Indosat
memproduksi flyer dan x-banner yang akan disebarkan di seluruh komunitas dan outlet pulsa di pekanbaru. Desain yang diproduksi pun dibuat semenarik
mungkin dan memiliki nilai eye cathing yang baik.

”kita mencoba menggunakan bahasa-bahasa
yang menarik dan sedikit hiperbola tapi tidak membohongi. Itu diperlukan dalam sebuah desain materi
promo agar menarik dan setelah dibaca tidak dibuang
begitu saja. Dan harapan kami agar yang membacanya dapat menjadi agent penyebaran info itu.” (Roby,
12 Januari 2012)

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

1.Attention (Perhatian)

Berusaha untuk menarik perhatian (attention) dari non-pelanggan atau pelanggan im3 dan
masyarakat melalui penyebaran informasi melalui
promotions tools seperti melakukan flyering ke sekolah dan kampus, pemasangan spanduk di berbagai
sekolah dan kampus agar masyarakat mengetahui keberadaan indosat community, talk show di radio anak
muda Pekanbaru, pemasangan iklan radio (Radio
Ad), dan memaksimalkan fungsi VAS (Value Added
Service) dengan melakukan SMS Broadcast ke seluruh member IC.
“radio anak muda dipilih karena IM3 pasarnya memang di anak muda, dan agar penyampaian informasi dan benefit community dapat tersalurkan” (Douist Maroula, 16 Januari
2012)

Dalam pencapaian target attention yang diharapkan, tim Marketing-Vas-Community menyusun
jadwal roadshow ke sekolah yang menjadi member
Indosat Community. Roadshow ini bertujuan untuk
mempertajam benefit Indosat dan Indosat Community
dengan cara penyebaran flyer dan melakukan interkasi langsung ke siswa. Kegiatan ini dinamai open table
dan dalam kegiatan ini fungsi komunikator sebagai
penyampai pesan sangat penting. Agar attention yang
diharapkan dapat tercapai, tim Community Indosat
melakukan beberapa gimmick selling yang antara lain
adalah beli pulsa gratis pulsa, beli pulsa dapat hadiah
menarik dan member get member.
“member get member adalah salah satu strategi
peningkatan member indosat community yang
cukup tepat karena setiap pelanggan dapat mengumpulkan dan memilih langsung teman-temannya untuk bergabung ke indosat community dan
menikmati benefitnya.” (Donny Supriadi, Staf
Community, 20 Jauari 2012”

Penulis membedah A sebagai (attention)
dalam model AIDDA ini dengan menggunakan Para
Penulis secara gamblang mengkategorikan digma Harold Laswell dimana Who adalah Indosat
strategi ini adalah underground flyer. Berikut bebera- Pekanbaru, say’s what berusaha meningkatkan atensi
dengan cara pendekatan persuasif komunikator yang
pa flyer yang diproduksi Indosat Pekanbaru :
ditujukan ke member Indosat Community sebagai to


Model AIDDA dalam strategi komunikasi pe- who, yang menggunakan promotion tools sebagai
masaran Indosat dapat dijelaskan dalam penjelasan media penyampai pesan sebagai in which channel,
dengan hasil yang ditargetkan adalah peningkatan
sebagai berikut:
91

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011

member Indosat Community pada bulan Desember
2011 sebagai whit what effect. Sejalan dengan Laswell penulis merumuskan keberhasilan model A ini
adalah apabila setelah terlaksana dapat meningkatkan minat calon member untuk bergabung di Indosat
Community Pekanbaru dan menambah jumlah member Indosat Community Pekanbaru.
2.Interest (Minat)

Tahap selanjutnya adalah kerjasama dengan
sekolah-sekolah yang sudah terjalin baik dimaksimalkan kembali dengan cara menggelar presentasi ke siswa.
Presentasi ini ditujukan langsung ke siswa potensial
yang belum menikmati benefit community. Serta kegiatan direct selling dengan gimmick beli pulsa dapat bonus pulsa dan yang lain tetap dilakukan.

“presentasi dilakukan sampai ke dalam kelas,
karena siswa memang lebih aktif di kelas pada saat
di sekolah” (Donny Supriadi, Staf Community, 20
Jauari 2012”

I sebagai Interest adalah proses selanjutnya
dari A sebagai Attention pada model AIDDA. Tingkat
minat yang baik yang menjadi effect pada paradigma
Laswell adalah timbulnya keingian / desire untuk bergabung menjadi member Indosat Community setelah
dilakukanya kerjasama dengan sekolah untuk melakukan program direct selling. Dimana Indosat sebagai who, melakukan kegiatan direct selling dengan
memberikan gimmick sells “beli pulsa gratis pulsa”
sebagai say’s what, melakukan kerjasama dengan sekolah-sekolah yang menjadi target sebagai in which
channel, serta menyasar langsung ke siswa-siswa potensial yang belum menikmati paket Indosat Community sebagai to who.

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

dosat maka dilakukan kegiatan member get member
dan nilai bantuan yang diberikan disesuaikan dengan
member baru yang dikumpulkan.” (Douist, 16 Januari 2012)

“Indosat juga melakukan kegiatan bagi-bagi
perdana IM3 di sekolah atau kampus yang ditukarkan
dengan member baru di komunitas tersebut” (Donny,
20 Januari 2012)

D sebagai disire adalah keinginan untuk
menggunakan produk indosat dan bergabung menjadi member Indosat Community. Indosat pekanbaru
sebagai who melakukan rangsangan positive untuk
meningkatkan member in wich channel dengan cara
memberikan kesempatan untuk bekerjasama dengan
Indosat dalam hal penyelenggaraan event (say’s what)
agar komunitas-komunitas Indosat serta yang belum
menjadi member Indosat Community berkeinginan
menggunakan produk Indosat dan menjadi member
Indosat Community serta menikmati fasilitas member
Indosat Community (with what effect).

Penulis menyelaraskan paradigma Laswell
dengan kondisi yang penulis amati di lapangan. Indosat melakukan kegiatan sponsorship yang membantu
komunitas dalam penyelenggaraan event komunitas
tersebut. Sesuai hasil wawancara dengan staf community Indosat Pekanbaru, Doni mengatakan bahwa
Indosat membagi-bagikan secara gratis produknya.

4.Decission (Keputusan)

Setelah tumbuh keinginan dilanjutkan dengan
pengambilan keputusan (decission) oleh calon anggota IC atau anggota IC apakah akan menggunakan
jasa dari Indosat atau tidak, kemudian setelah keputusan ditetapkan maka barulah ke tahap selanjutnya.
Laswell menentukan standart jelas dari model AIDDA
3.Desire (Hasrat/Keinginan)
pada D yang terakhir ini yaitu decision. With what effect

Pada strategi ini, Indosat memanfaatkan kebu- menjadi pintu terakhir pada analisa di bagian ini. Jika
tuhan penyelenggaraan event yang dibuat oleh komu- A-I-D sudah mengarah ke citra positive dalam arti calon
nitas ataupun non-komunitas. Indosat memang me- member Indosat tertarik untuk bergabung dan akhirnya
miliki budget khusus untuk sponsorship event yang memutuskan untuk bergabung di Indosat Community
diadakan oleh komunitas, tapi pada saat pengaloka- maka secara matematis effect yang dikemukakan Lassian anggaran tersebut Indosat melakukan rangsan- well bisa dikatakan berhasil yang tertuang dalam data
gan positif kepada penyelenggara kegiatan.
Indosat Community bulan Desember 2011.

“anggaran sponsorship memang ada, tapi kita
perlu membuat sebuah aturan yang win win solu- 5.Action (Kegiatan/Tindakan)
tions. Misalnya agar kegiatannya dapat disponsori In-
Para calon anggota IC bertindak (action) un92

Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran Divisi Marketing Vas-Community
PT Indosat Tbk Cabang Pekanbaru Tahun 2011

tuk menggunakan jasa Indosat sebagai operator ponsel
mereka. Model komunikasi ini diarahkan untuk menumbuhkan perhatian, menarik minat dan membangkitkan
keinginan sehingga memutuskan untuk bertindak.

Akhirnya, pada A sebagai Action pada model
AIDDA ini dapat menyimpulkan bahwa paradigma
Harold Laswell dengan mengemukakan pertanyaan
who, say’s what, to who, wich channel, with what effect tergambar jelas pada data Reload dan Member
Indosat Community Desember 2011 yang mengalami
kenaikan berarti strategi yang digunakan berhasil.
Penutup

Perancangan dan penerapan strategi komunikasi pemasaran Indosat Pekanbaru merupakan bukti
bahwa strategi komunikasi yang tepat sasaran akan
dapat merubah manusia dari no menjadi yes.

Strategi komunikasi pemasaran yang diterapkan PT. Indosat Tbk Sales Area Pekanbaru yaitu Below the Line dengan menggunakan pendekatan Anti
Marketing dinilai berhasil. Indikator keberhasilan
tersebut adalah peningkatan member dan reload Indosat Community pada bulan Desember tahun 2011
yang dianalisa sesuai paradigma Harold Laswell yaitu dengan menjawab pertanyaan who, say’s what, to
who, wich channel, with what effect.

Peran komunikator dalam teori komunikasi
pemasaran AIDDA menjadi salah satu penunjang keberhasilan divisi Marketing-Vas-Community Indosat
Community Pekanbaru dalam mempertahankan dan
meningkatkan member Indosat Community pada bulan Desember tahun 2011 karena, komunikator langsung melakukan aktifitas selling dan branding di domain calon pelanggan dan pelanggan.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi
di Masyarakat, Kencana Prenada
Media Group, Jakarta, 2006.
Effendy, Onong Uchana, Ilmu Komunikasi Teori dan
Praktek, Rosda, Bandung, 2007
Kasali, Rhenald Phd, Manajemen Periklanan Konsep
dan Aplikasinya di Indonesia, PT. Pustaka
Utama Grafiti, Jakarta, 1993.
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,

Medium
Volume 1, Nomor 1
Desember 2012

Rosda, Bandung, 2005.
_____________________, Metode Penelitian Komunikasi, Rosda, Bandung, 2008.
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi, Remaja
Rosda, Bandung, 2005.
Ruslan, Rosadi, Manajemen Public Relation dan
Media Komunikasi, edisi Revisi, Rajawali
Pers, Jakarta, 1998.
Santosa, Sigit, Creative Adverstising, Kompas Gramedia, Jakarta, 2009
Sendjaja, S. Djuarsa, Teori Komunikasi, Universitas
Terbuka, Jakrta, 1994.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Komunikasi Suatu
Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1969.
Suprapti, Ni Wayan Sri, Perilaku Konsumen Pemahaman Dasar dan Aplikasinya Dalam Strategi
Pemasaran, Udayana Univerity Press, Denpasar, 2010.
Sunarto SE. MM, Komunikasi Bisnis, Amus, Yogyakarta, 2003
Wantono, A. Adji., Maya C. Wantono, IMC That
Sells, Kompas Gramedia, Jakarta, 2011
Yasir. M.Si, Buku Ajar Teori Komunikasi, Pusbangdik, Pekanbaru, 2011
Sumber Lain :
Setiawan,Harry, Skripsi Strata I Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau,
2012.
Pembimbing 1 : Asrinda Amalia., S.IP., M.Si.
Pembimbing 2 : Harry Yogsunandar., S.IP
Setiawan, Harry, Tugas Akhir Diploma III Fakultas
Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran,
Jatinangor, 2007.
Pembimbing : Dr. Dadang Rahmat Hidayat., M.Si
Dyandra Promosindo dan Tabloid Sinyal Edisi 15
Juni 2011 (versi On-line)
Amalia E. Maulana, Ph.D (www.amaliamaulana.
com)
Data Reload dan Member Divisi Marketing – Vas –
Community Indosat Pekanbaru
Materi Promosi Indosat Pekanbaru (Brosur, Pamflet,
Poster,Stiker)
Iklan Indosat di Harian Metro Riau
www.indosat.com
93