Definisi

Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah yang
memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga bisa menyebabkan
kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang
tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta
penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Selain penyakit tersebut
dapat pula menyebabkan gagal ginjal, diabetes mellitus dan lain-lain.
Hipertesi adalah tekanan sistolik 140 mmHg atau tekanan diastolik 90 mmHg.
Sedangkan Prehipertensi adalah tekanan sistolik 120-139 mmHg atau diastolic 80-89
mmHg.3
Etiologi
Penyebab hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu esensial dan sekunder. Sebanyak 90 %
hipertensi esensial dan hanya 10 % yang penyebabnya diketahui seperti penyakit ginjal,
kelainan pembuluh darah, dan kelainan hormonal.
Hipertensi primer didefinisikan jika penyebab hipertensi tidak dapat diidentifikasi.
Ketika tidak ada penyebab yang dapat di identifikasi, sebagian besar merupakan interaksi
yang kompleks antara genetic dan interaksi lingkungan. Biasanya hipertensi esensial terjadi
pada usia antara 25-55 tahun dan jarang pada usia di bawah 20 tahun.
Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh sleep apnea, obat-obatan, gangguan ginjal,
coarctation aorta,pheochromocytoma, penyakit tiroid dan paratiroid.
Penyakit ginjal
Penyakit ginjal adalah penyebab terbanyak pada hipertensi sekunder. Hipertensi dapat
timbul dari penyakit diabetes nefropati ataupun inflamasi glomerulus, penyakit intertisial
tubulus, dan polikista ginjal. Kebanyakan kasus berhubungan dengan peningkatan volume
intravascular atau peningkatan system renin-angiotensin-alodesteron.
Renal vascular hypertension
Arteri stenosis ginjal dapat muncul pada 1-2 % pasien hipertensi. Penyebabnya pada
orang muda adalah fibromuscular hyperplasia. Penyakit pembuluh darah ginjal yang lain
adalah karena aterosklerosis stenosis dari arteri renal proksimal. Mekanisme hipertensinya
berhubungan dengan peningkatan renin berlebih karena pengurangan dari aliran darah ke
ginjal. Hipertensi pembuluh darah ginjal harus dicurigai jika terdapat keadaan seperti berikut:
(1) terdapat pada usia sebelum 20 tahun atau sesudah usia 50 tahun. (2) bruit pada epigastrik
atau artery renal. (3) jika terdapat penyakit atrerosklerosis dari arteri perifer, 15-25 % pasien
dengan aterosklerosis tungkai bawah yang simtomatik terdapat artery stenosis ginjal. (5)
terjadi penurunan fungsi ginjal setelah pemberian penghambat ACE.
Hiperaldosteron primer
Penyakit ini timbul karena sekresi yang berlebihan dari aldosteron oeh korteks
adrenal. Pada pasien hipertensi dengan hipokalemia, krn pengeluaran kalium yang berlebih
melalui urin (biasanya > 40 mEq/L).
Sindrom Cushing
Pada penderita sindroma Cushing, hipertensi timbul sekitar 75-85 %. Patogenesis
tentang terjadinya hipertensi pada sindroma Cushing masih tidak jelas. Mungkin
dihubungkan dengan retensi garam dan air dari efek mineralocorticoid karena glukokortikoid
berlebih.
1

yaitu faktor risiko yang reversible dan irreversibel. dan riwayat keluarga yang memiliki hipertensi. Kurang Aktivitas Orang yang kurang aktivitas cenderung memiliki denyut jantung yang lebih banyak. Sedangkan faktor risiko yang bersifat reversible adalah prehipertensi. Insiden sekitar 1-8 per 1000 kelahiran. konsumsi makanan yang mengandung natrium tinggi. Semakin tinggi denyut jantung. Coarctation of the aorta Coarctation of the aorta merupakan penyakit jantung congenital tersering yang menyebabkan hipertensi. Faktor Risiko Faktor risiko hipertensi dapat dibagi menjadi dua. Tekanan sistolik meningkat sesuai dengan usia. 2 . ras Afrika-Amerika. berat badan berlebih. Berat Badan Berlebih Semakin tinggi berat badan.05 %. sedangkan tekanan diastolik tidak berubah mulai dekade ke-5. Usia Tekanan darah meningkat seiring dengan berjalanya usia.Pheochromocytoma Tumor yang mensekresikan katekolamin yang berada di medulla adrenal dan menyebabkan hipertensi sekitar 0. Klasifikasi Tabel 1 Klasifikasi Hipertensi Pada tabel 1 merupakan klasifikasi hipertensi pada usia 18 tahun atau lebih. Faktor risiko yang reversibel adalah usia. Ras Afrika-Amerika Hipertensi lebih sering terdapat pada ras AFrika-Amerika dibandingkan dengan orang kulit putih. semakin berat jantung harus bekerja pada setiap kontraksi dan lebih kuat tekanan pada arteri. dan pada kedua ras tersebut biasanya lebih banyak pada golongan sosioekonomi rendah. dan sindroma metabolik. kurang aktivitas. merokok. Hipertensi sistolik isolasi merpakan jenis hipertensi yang paling ditemukan pada orang tua. semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan utrisi jaringan. Volume darah meningkat di dalam pembuluh darah dan terjadi peningkatan tekanan dinding arteri. Penggunaan klasifikasi ini ini didasarkan dengan pengukuran tekanan darah dua atau lebih.

Tetapi tubuh dapat mengkompensasi agar 3 . gula puasa darah terganggu (normal < 126 md/dl). Jika kurang mengkonsumsi natrium. trigliserida plasma 150 mg/dl. Patofisiologi Tekanan dibutuhkan untuk mengalirkan darah dalam pembuluh darah yang dilakukan oleh aktivitas memompa jantung (Cardiac Output) dan tonus dari arteri (peripheral resisten). Banyak sekali faktor yang mempengaruhi cardiac output dan resistensi perifer. peningkatan tekanan darah 130/85 mmHg. Gambar 1 Patofisiologi Hipertensi Cardiac output berhubungan dengan hipertensi. Sindroma Metabolik Sindroma metabolik didefinsikan sebagai jika tiga dari criteria terpenuhi: lingkar perut membesar (pria: > 100 cm.Konsumsi Tinggi Natrium Konsumsi makanan yang mengandung banyak natrium dapat menyebabkan tertahannya air di dalam pembuluh darah. Merokok Zat-zat kimia pada rokok dapat menyebaban kerusakan pada dinding arteri yang menyebabkan penyempitan arteri sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Hipertensi terjadi karena kelainan dari salah faktor tersebut. Kalium membantu menyeimbangkan banyaknya natrium di dalam sel. wanita: 90 cm). yaitu baik melalui peningkatan cairan (preload) atau peningkatan kontraktilitas dari efek stimulasi saraf simpatis. atau kolesterol HDL <40 mg/dL . maka akan banyak terakumulasi natrium di dalam darah. sehingga meningkatkan tekanan darah. peningkatan cardiac output secara logis timbul dari dua jalur. Di hipotesiskan bahwa resistensi insulin mungkin merupakan patofisiologi teradinya sindroma metabolik. <50 mg/dL pada wanita. Faktor-faktor ini menentukan besarnya tekanan darah.

da nocturia karena hypokalemia. polyuria. bingung. 4 .cardiac output tidak meningkat yaiutu dengan cara meningkatkan resistensi perifer. Gambar 2 Patofisiologi Natrium dan Kalium pada Hipertensi Manisfestasi Klinis Gejala yang paling sering muncul adalah nyeri kepala. Hipertensi kronik sering menyebabkan pembesaran jatung kiri. Pada aldosteronism primer. mual dan muntah. gangguan penglihatan. Keterlibatan cerebral karena stroke yang disebabkan oleh trombosis atau hemoragik dari mikroaneurisma. Selain itu konsumsi natrium berlebih dapat menyebabkan hipertensi karena peningkatan volume cairan dalam pembuluh darah dan preload. Hypertensi yang meningkat dengan cepat dapat menimbulkan gejala seperti somnolen. sehingga meningkatkan cardiac output. pasien merasakan lemas otot. yang dapat menimbulkan gejala sesak napas yang berhubungan dengan aktivitas dan paroxysmal nocturnal dyspnea.

Test tambahan termasuk pengukuran terhadap ekskresi albumin atau albumin/ kreatinin rasio. Retina merupakan jaringan yang arteri dan arteriolnya dapat diperiksa dengan seksama. Pembesaran jantung kiri dapat dideteksi dengan iktus kordis yang bergeser ke arah lateral. glukosa darah. kalium serum. dan profil lipid ( termasuk HDL kolesterol. auskultasi untuk mencari bruit pada arteri karotis. dan lebih baik dikukur pada posisi terlentang. 5 . Tabel 2 Pemeriksaan penunjang untuk skrening etiologi hipertensi Diagnosis Konfirmasi dari hipertensi berdasarkan pada pemeriksaan awal. LDL kolesterol. dan trigliserida.Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan bentuk tubuh. eksudat. dan berdiri untuk mengevaluasi hipotensi postural. Pemeriksaan pada pembuluh darah dapat dilakukan dengan funduskopi. duduk. kreatinin. Pemeriksaan pada jantung dapat ditemukan pengerasan dari bunyi jantung ke-2 karena penutuan dari katup aorta dan S4 gallop. termasuk berat dan tinggi badan. dan papiledema. Seiring dengan peningkatan derajat beratnya hipertensi dan penyakit aterosklerosis. pada pemeriksaan funduskopi dapat ditemukan peningkatan reflex cahaya arteriol. Dilakukan palpasi leher untuk mempalpasi dari pembesaran tiroid dan penilaian terhadap tanda hipotiroid atau hipertiroid. Pada pemeriksaan awal. tekanan darah diukur pada kedua lengan. urinalisis. dan pemeriksaan pada dua kali follow-up dengan setidaknya dua kali pengukuran pada setiap kali follow-up. hemoragik. dan hematokrit. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang rutin yang direkomendasikan sebelum memulai terappi termasuk elektrokardiogram 12 lead.

Gambar 3 Algoritma Diagnosis Hipertensi 6 .

tekanan darah harus 130/80 mmHg atau lebih rendah. penyebab yang sering terjadi pada renal insufficiency. Pengobatan pada hipertensi menurunkan insiden baik stroke iskemik ataupun stroke hemorgik. Pasien dengan hipertensif nefropati. sekitar 15-20 %. (2) risiko menengah . (3) risiko tinggi. khususnya pada usia > 65 tahun.Komplikasi Jantung Penyakit jantung merupakan penyebab yang tersering menyebabkan kematian pada pasien hipertensi. Prognosis WHO membuat tabel stratifikasi dan membuat tiga kategori risiko yang berhubungan dengan timbulnya kejadian penyakit kardiovaskular selama 10 tahun ke depan: (1) risiko rendah. dan gagal jantung. Penyakit jantung hipertensi merupakan hasil dari perubahan struktur dan fungsi yang menyebabkan pembesaran jantung kiri disfungsi diastolik. Otak Hipertensi merupakan faktor risiko yang penting terhadap infark dan hemoragik otak. Tabel 3 Faktor yang Mempengaruhi Prognosis Tabel 4 Prognosis 7 . Insiden dari stroke meningkat secara progresif seiring dengan peningkatan tekanan darah. khususnya ketika ada proteinuria. kurang dari 15 %. Ginjal Hipertensi kronik menyebabkan nefrosklerosis. lebih dari 20 %. Sekitar 85 % dari stroke karena infark dan sisanya karena hemoragik.

dan penurunan risiko kardiovaskular. Estimasi ini dlakukan pada hipertensi derajat 1 dengan tekanan sistolik 140-159 mmHg dan atau tekanan diastolic 90-99 mmHg. Perubahan Gaya Hidup Gaya hidup yang sehat merupakan prevensi terhadap peningkatan tekanan darah dan termasuk dalam pengobatan hipertensi. (2) MCI. Tabel 5 Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah dan Pengobatan hipertensi 8 . Pada pasien dengan diabetes atau penyakit ginjal. mayoritas membutuhkan dua obat antihipertensi atau lebih. dan meningkatkan efek dari obat antihipertensi. dan gagal jantung. target tekanan darah adalah <130/80 mmHg. sekitar 20-25%. menurunkan tekanan sitolik lebih sulit dibandingkan dengan menurunkan tekanan diastole. Keuntungan dari obat antihipertensi ini berhubungan dengan penurunan dari (1) insiden stroke. Target tekanan darah adalah < 140/90 mmHg disertai dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular. sekitar > dari 50 %. Kegagalan melakukan modifikasi gaya hidup. atau kombinasi obat yang tidak sesuai menyebabkan kontrol tekanan darah tidak adekuat. Walaupun kontrol tekanan darah yang efektif dapat dicapai pada penderita hipertensi.7 Tujuan Terapi Tujuan dari terapi menggunakan obat antihipertensi adalah untuk mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas kardiovaskular dan ginjal.Pengobatan Umum Kontrol Tekanan Darah Pada mayoritas pasien. Perubahan gaya hidup dapat menurunkan atau menunda insiden dari hipertensi. skitar 35-40 %. dosis obat antihipertensi yang adekuat.

pasien harus melakukan follow-up dan pengaturan dosis obat setiap bulannya atau sesudah target tekanan darah tercapai. Bla tidak ada indikasi khusus pilihan obat juga tergantung pada derajat hipertensi. Gambar 4 Algoritma Penanggulangan Hipertensi Modifikasi Gaya Hidup Obat hipertensi inisial Tanpa indikasi khusus Dengan indikasi khusus Obat-obatan untuk indikasi khusus tersebut ditambah obat antihipertensi (diuretic. Dapat dipertimbangkan pemebrian ACEI. Biasanya diuretic dengan ACEI atau BB atau CCB Target tekanan darah terpenuhi Optimalkan dosis obat atau berikan tambahan obat antihipertensi lain. follow-up dapat 3-6 bulan sekali. CCB atau kombinasi Kombinasi dua obat. Sesudah target tekanan darah tercapai. CCB) Hipertensi tingkat I (sistolik 140-159 mmHg atau diastolick90-99 mHg) Hipertensi tingkat II (sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 100 mHg) Diuretik golongan tiazid. BB. Pemilihan berdasarkan ada/tidaknya indikasi khusus. BB.Obat-obat Antihipertensi Penanggulangan hipertensi dengan obat dilakukan bila dengan perubahan gaya hidup tekanan darah belum mencapai target (>140/90 mmHg) atau > 130/80 mmHg pada diabetes atau penyakit ginjal kronik. Perimbangkan untuk konsultasi dengan dokter spesialis 9 . Serum kalium dan kreatinin harus di monitor setidaknya satu sampai dua kali per tahun. ACEI. Sesudah pemakaian obat antihipertensi.

pengobatan hipertensi dimulai dengan BB dan ACEI dan kemudian dapat ditambahkan anti hipertensi lain bila diperlukan. BB dan ARB bersama dengan pemberian diuretik “loop”. Pada pasien pasca infark miokard. Pada pasien dengan sindroma koroner akut (angina pectoris tidak stabil atau infark miokard). Penyakit Arteri Perifer Kelas I Pemberian antihipertensi pada PAP ekstrimitas inferior dengan tujuan untuk mencapai target tekanan darah <140/90 mmHg atau target tekanan darah < 130/80 mmHg (untuk diabetes). Pada pasien asimptomatik dengan terbukti disfungsi ventrikel rekomendasinya adalah ACEI dan BB. 10 . BB merupakan agen hipertensi yang efektif dan tidak merupakan kontraindikasi untuk pasien hipertensi dengan PAP. BB. Kemungkinan tersebut harus diperhatikan saat memberikan antihipertensi. Antihipertensi dapat menurunkan perfusi tungkai dan berpotensi mengeksaserbasi klaudikasio ataupun iskemia tungkai kronis. Pada hipertensi dengan angina pectoris stabil obat pilihan pertama b-blocker dan sebagai alternative calcium channel blocker (CCB). Sehingga penatalaksaan hipertensi dan profil lipid yang agresif merupakan upaya terjadinya gagal jantung. Kelas IIb Penggunaan ACEI pada pasien asimptomatik PAP ekstrimitas bawah dapat dipertimbangkan untuk menurunkan kejadian kardiovaskular. Kelas IIa Penggunaan ACEI pada pasien simptomatik PAP ekstrimitas bawah beralasan untuk menurunkan kejadian kardiovaskular.Tabel 6 Pilihan obat pada Indikasi Khusus Diuretik B Blocker Indikasi Khusus Gagal Jantung + + Pasca MCI + Risiko tinggi PJK + + Diabetes Mellitus + + Penyakit ginjal kronik Cegah stoke + berulang ACEI + + + + + ARB + CCB + + + + Antialdosteron + + + Pengobatan pada Indikasi Khusus Penyakit jantung Iskemik Penyakit jantung iskemik merupakan kerusakan organ target yang paling sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi. dan antagonis aldosteron terbukti sangat mengutungkan tanpa melupakan penatalaksaan profil lipid yang intensif dan penggunaan aspirin. ACEI. Pada pasien simptomatik dengan disfungsi ventrikel atau penyakit jantung “end stage” direkomendasikan untuk menggunakan ACEI. Gagal Jantung Gagal Jantung dalam bentuk disfungsi ventrikel sistolik dan diastolic terutama disebabkan oleh hipertensi dan penyakit jantung iskemik.

Stroke Hemoragik Akut Bila tekanan darah sistolik > 230 mmHg atau tekanan darah sistolik > 140 mmHg: berikan nicardipin/ diltiazem/nimodipin drip dan dititrasi dosisnya sampai dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolic 90 mmHg.Namun sebagian besar pasien dapat mentoleransi terapi hipertensi tanpa memperburuk symptom PAP dan penanggulangan sesuai pedoman diperlukan untuk tujuan menurnkan risiko kejadian kardiovaskular. Aldosteronisme primer (baik adenoma maupun hyperplasia kelenjar adrenal) dapat ditanggulangi secara medical (dengan obat antialdosteron) ataupun intervensi. DIsamping hipertensi. Gangguan Fungsi Ginjal Hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal Pada keadaan ini penting diketahui derajat gangguan fungsi ginjal ( CCT. PAda CCT < 25 ml/menit diuretic golongan thiazid (kecuali metolazon) tidak efektif. Usia Lanjut Pengobatan dimulai jika: (1) tekanan sistolik ≥ 160 mmHg bila kondisi harapan hidup baik. Pemakaian golongan BB dan CCB relative aman. Obat-obat yang biasanya dipakai meliputi diuretic (HCT) 12. (2) bila ada proteinuria dipakai ACEI/ARB (sepanjang tak ada kontraindikasi). (2) bila disertai proteinuria ≥ 1 g/24 jam. (4) perlu diperhatikan untuk perubahan fungsi ginjal pada pemakaian ACEI/ARB (kreatinin tidak boleh naik > 20%) dan kadar kalium (hiperkalemia). Target tekanan sistolik < 140 mmHg dan target tekanan diastolic sekitar 85-90 mmHg. (2) Tekanan sistolik ≥ 140 bila disertai DM atau merokok atau disertai factor risiko lainya. (3) bila proteinuria > 1g/24 jam tekanan darah diusahakan lebih rendah (≤125/75 mmHg). Penyakit ginjal renovaskuler baik stenosis arteri renalis maupun aterosklerosis renal dapat ditanggulangi secara intervensi (stening/opererasi) ataupun medical (pemakaian ACEI dan ARB tidak dianjurkan bila diperlukan terapi obat). Hipertensi akibat gangguan ginjal/ adrenal Pada gagal ginjal terjadi penumpukan garam yang membutuhkan penurunan asupan garam/diuretic golongan furosemid/diaslisis. kreatinin) dan derajat proteinuri.5 mg. sehingga proteinuri perlu ditanggulangi secara maksimal dengan pemberian ACEI/ARB dan CCB golongan non hdihidropiridin. Pemakaian golongan ACEI/ ARB perlu memperhatikan penurunan fungsi ginjal dan kadar kalium. Diabetes Indikasi pengobatan jika tekanan darah sistolik ≥ 130 mmHg dan atau tekanan diastolik ≥ 80 mmHg. Sasaran target penurunan tekanan darah: (1) tekanan darah < 130/80 mmHg. derajat proteinuri ikut menentukan progresi gangguan fungsi ginjal. 11 . target ≤ 125/75 mmHg. Stroke Iskemik Akut Tidak direkomendasikan terapi hipertensi pada stroke iskemik akut. kecuali terdapat hipertensi berat dan menetap yaitu > 220 mmHg atau diastolik > 120 mmHg dengan tandatanda ensefalopati atau disertai kerusakan target organ lain. terbukti mencegah komplikasi terjadinya penyakit jantung kongestif. Pedoman pengobatan hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal: (1) tekanan darah diturunkan sampai <130/80 mmHg (untuk mencegah progresi gangguan fungsi ginjal). Keuntunganya murah dan dapat mencegah kehilangan kalsium tulang.

pada penderita hipertensi yang membutuh kan penanganan segera. Tatalaksana Hipertensi Emergensi  Penanggulangan hipertensi emergensi harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas pemantauan yang memadai  Pengobatan parenteral diberikan secara bolus atau infuse sesegera mungkin  Tekanan darah harus diturunkan dalam hitungan menit sampai jam dengan langkah sebagai berikut:  5 menit s/d 120 menit pertama tekanan darah rata-rata diturunkan 20-25%  2 s/d 6 jam kemudian tekanan darah diturunkan sampai 160/100 mmHg  6-24 jam berikutnya diturunkan sampai < 140/90 mmHg bila tidak ada gejala iskemia organ 12 . koma). Hipertensi urgensi Kenaikan tekanan darah mendadak yang tidak disertai kerusakan organ target disebut hipertensi urgensi.Krisis Hipertensi Definisi Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak (sistol ≥ 180 mmHg dan atau diastole ≥ 120 mmHg). Bidang mata Funduskopi berupa perdarahan retina. Pada keadaan ini diperlukan tindakan penurunan tekanan darah yang segera dalam kurun waktu menit/jam. gangguan kesadaran (somnolen. spoor. Manifestasi klinis Bidang neurologi Sakit kepala. hilang/kabur penglihatan. phaeochromocytoma.  Kehamilan  Penggunaan NAPZA  Penderita dengan rangsangan simpatis yang tinggi seperti luka berat. Penurunan tekanan darah pada keadaan ini harus dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48 jam. edema paru Bidang ginjal Azotemia. trauma kepala. penyakit olagen. oliguria Faktor Risiko  Penderita hipertensi yang tidak meminum obat atau minum obat anti hipertensi tidak teratur. Bidang kardiovaskular Nyeri dada. kejang. eksudat retina. penyakit vascular. proteinuria. edema papil.  Penderita hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal. Klasifikasi Hipertensi emergensi Kenaikan tekanan darah mendadak yang disertai kerusakan organ target yang progresif disebut hipertensi emergensi.

Diltiazem (Herbesser) IV (10 mg dan 50 mg/ampul)  Diltiazem 10 mg IV diberikan dalam 1-3 menit kemudian diteruskan dengan infuse 50 mg/jam selama 20 menit.  Bila tekanan darah telah turun > 20% dari awal.  Clonidin tidak boleh dihentikan mendadak. Daftar Pustaka 13 . Nipride) IV7 Nitroprusside diberikan dalam cairan infuse dengan dosis 0.25-10. tetapi diturunkan perlahan-lahan oleh karena bahaya rebound fenomena. Nitroprusside (Nitropress. Nicardipin (Perdipin) IV (2 mg dan 10 mg/ampul)  Nicardipin diberikan 10-30 mcg/kgBB bolus  Bila tekanan darah tetap stabil diteruskan dengan 0.5-6 mcg/kgBB/menit sampai target tekanan darah tercapai. Labetolol (Normodyne) IV7 Labetolol diberikan 20-80 mg IV bolus setiap 10 menit atau dapat diberikan dalam cairan infuse dengan dosis 2 mg/menit.  Bila tekanan target darah tercapai pasien diobservasi selama 4 jam kemudian diganti dengan tablet clonidin oral sesuai kebutuhan. dimana tekanan darah naik secara cepat bila obat dihentikan.00 mcg/kg/menit.Obat-obatan yang digunakan pada Hipertensi Emergensi Clonidin (Catapres) IV (150 mcg/ampul)  Clonidin 900 mcg dimasukkan ke dalam cairan infuse glukosa 5% 500 cc dan diberikan dengan mikrodrip 12 tetes/menit. setiap 15 menit dapat dinaikkan 4 tetes sampai tekanan darah yang diharapkan tercapai. dosis diberikan 30 mg/jam sampai target tercapai  Diteruskan dengan dosis maintenance 5-10 mg/jam dengan observasi 4 jam kemudian diganti dengan tablet oral.

The Lancet.1. Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI). Braunwald. W. 2003 May 21. Jakarta: Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi). Current Medical Diagnosis and Treatment 2009. Nicolaos E. 2.N Engl J Med 2007. Jakarta: PT Gramedia. et al. Birkenhager. New York: McGrawHill: 2009 10.21:1983-1992 14 . 4. Amit K. Chobanian AV et al. 1629-1635. McPhee. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension. Gunawan. 6. Thomas M. Stephen J. 2001. Jiguang Wang. [PMID: 17033627] 7. Harrison’s principles of internal medicine 17th edition. Norman M. Kaplan. 1st edition. New York: McGrawHill:2008 9. USA: Lippincott Williams & Wilkins:2006 11. 10. Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook. Evaluation. Nat Rev Genet. Ghosh. Giuseppe Bianchi. Hypertension Diagnosis and Treatment. The genetic dissection of essential hypertension.289(19):2560–72. 2003 World Health Organization (WHO)/International Society of Hypertension (ISH) statement on management of hypertension. The World Health Report 2002: Risk to Health 2002. Horacio J. Hipertensi. 5. et al. Konsensus Pengobatan Hipertensi. Kasper. Soenarta Ann Arieska. Essential Hypertension. 2008 October 13. 2006 Nov. and Treatment of High Blood Pressure: the JNC 7 report. Canada: Mayo Foundation for Medical Education and Research:2008. Staessen A Jan. JAMA. 8.2003. Fauci. Geneva: World Health Organization. Detection. Cowley AW Jr. Habermann. World Health Organization. Philadelphia. 2005.356:1966-78 12. . J Hypertens 2003. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention. 5-7. Bloomington (MN): Institue for Clinical Systems Improvement (ICSI). 3.7(11):829–40. Kaplan's Clinical Hypertension 9th edition.H.