Filsafat Ilmu - Pertemuan

I. Zaman Yunani Kuno
Sebagaimana pengetahuan, hakikat maupun sejarah perkembangan ilmu itu
sendiri merupakan sebuah problem di dalam filsafat. Pada Zaman Yunani
Kuno, ilmu dipandang sebagai bagian dari filsafat; pada saat lain, terpisah
dari filsafat. Ilmu, dulu dipandang sebagai disiplin tunggal (bersifat monistik),
dan sekarang dipandang sebagai seperangkat disiplin-disiplin yang dinamis
dan terlepas-lepas berdasarkan spesialisasi ilmu atau keahlian. Dahulu, ilmu
dipandang sebagai hal yang berurusan dengan kenyataan (fakta) fisik,
sekarang ilmu dianggap bergumul dengan fenomena-fenomena (gejalagajala fisik dan non fisik). Karenanya, ilmu kemudian dikategorikan ke dalam
tipe-tipe deduktif dan induktif.
Pada zaman Yunani Kuno, filsafat (yang dipahami sebagai ilmu). Filsafat dan
ilmu bersifat saling menjalin dan orang tidak memisahkan keduanya sebagai
hal yang berbeda. Filsafat dan ilmu berusaha meneliti dan mencari unsurunsur dasariah alam semesta. Usaha tersebut, sekarang disebut usaha
keilmuan (usaha ilmiah).
Thales (640-546 s. M) merupakan pemikir pertama, yang dalam sejarah
filsafat disebut the Father of Philosophy (Bapak Filsafat). Banyak sarjana
kemudian mengakui Thales sebagai ilmuwan yang pertama di dunia. Bangsa
Yunani menggolongkan Thales sebagai salah seorang dari Seven Wise Men of
Greece (Tujuh Orang Arif Yunani). Thales memperkembangkan filsafat alam
(kosmologi) yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur
komposisi alam semesta. Thales, dalam penyelidikan keilmuannya,
menyimpulkan bahwa penyebab utama (causa prima) dari semua dari alam
itu adalah “air” sebagai materi dasar dari kosmis. Sebagai ilmuwan, Thales
mengembangkan fisika, astronomi, dan matematika, dengan antara lain,
mengemukakan beberapa pendapat keilmuannya, antara lain: bahwa bulan
bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya
gerhana matahari, dan membuktikan dalil-dalil geometri. Prestasi Thales
dalam sejarah keilmuan, ditunjukkannya dalam hal pembuktian dalilnya
bahwa kedua sudut alas dari satu segitiga sama kaki adalah sama besarnya.
Thales, melalui itu, menunjukkan bahwa ia adalah ahli matematika dunia
yang pertama dari Yunani. Para ahli dewasa ini, justru itu, menyebut Thales
sebagai the Father of Deductive Reasoning (bapak penelaran deduktif).
Pythagoras (572-497 S.M) adalah ilmuwan Yunani Kuno yang muncul
ilmuwan matematika. Ia mengajarkan bahwa bilangan merupakan intisari
dari semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat benda. Dalil Pythagoras
itu demikian: “Number rules the universe” (bilangan memerintahkan jagat

raya ini). Ia berpendapat bahwa matematika merupakan salah satu sarana
atau alat bagi pemahaman filsafati.
Plato (428-348 s.M) adalah Filsuf besar Yunani dan ilmuwan spekulatif, yang
menegaskan bahwa filsafat atau ilmu merupakan pencarian yang bersifat
perekaan (spekulatif) tentang seluruh kebenaran. Plato, dalam hal ini,
memandang ilmu sebagai hal yang berhubungan dengan opini atau ajaran
(doxa). Ia mengajarkan bahwa geometri merupakan ilmu rasional
berdasarkan akal murni, yang berusaha membuktikan pernyataanpernyataan (proposisi-proposisi) abstrak mengenai ide-ide yang abstrak
misalnya; segitiga sempurna, lingkaran sempurna, dan sebagainya.
Aristoteles (382-322 s.M) lebih memahami ilmu sebagai pengetahuan
demonstratif, tentang sebab-sebab utama segala hal (causa prima). Ilmu,
dalam hal ini, bersifat; teoretis (ilmu tertinggi), praktis (ilmu terapan), dan
produktif (ilmu yang bermanfaat), semuanya dalam kesatauan utuh (tidak
bersifat ilmu majemuk). Aristoteles mempelajari berbagai ilmu, antara lain;
biologi, psikologi, dan politik. Ia juga mengembangkan ilmu tentang
penalaran (logika), yang dalam hal ini disebutnya dengan nama Analytika,
yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pada premis yang benar, dan
Dialektika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pikir pada hal-hal yang
bersifat tidak pasti (hipotesis). Semua tulisan Aristoteles tentang ilmu
tentang penalaran (Logika) itu ditulis dalam 6 (enam) naskah yang masingmasingnya berjudul; Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior
Analytics, Topics, Sophistical Refitations.
Jelasnya, perkembangan sejarah ilmu pada abad Yunani Kuno telah
berkembang dalam empat bidang keilmuan, yaitu; Filsafat (kosmologi), ilmu
biologi, matematika, dan logika dengan ciri perkembangannya masingmasing.
II. Zaman Abad Pertengahan.
Selama abad pertengahan, ilmu atau scientia dipahami sebagai jenis
pengetahuan yang dipunyai Allah tentang manusia. Ilmu, karenanya, dilihat
semata-mata dalam perspektif ilmu teologi, artinya, ilmu memiliki
kedudukan dan peranan sebagai pelayan teologi. Trivium, yaitu Gramatika,
Retorika, dan Dialektika, dan Quardrivium, yaitu Aritmatika, Geomerti,
Astronomi, dan Musik, di pihak lain, memuat sejumlah studi yang dianggap
sebagai ilmu-ilmu dalam arti yang kurang ketat. Averroes, menganggap
being (yang –ada) sebagai istilah yang seragam- sama persis (univok) untuk
memandang ilmu sebagai pengatahuan abadi gai yang berurusan dengan
ke-apa-an semua hal.
c. Zaman Abad Modern

dikemusian hari. tetapi buku itu tidak dapat dibaca dan dimengerti bila orang tidak lebih dahulu belajar memahami bahasa dan membaca huruf-huruf yang dipakai untuk menyususnnya. Menurut Francis Bacon. “Filsafat ditulis dalam sebuah buku besar. Galileo-Galilei menjalankan sepenuhnya metode yang digariskan oleh Roger Bacon. Galileo-Galilei. yang lebih dikenal sebagai ilmu alam. Ilmuwan dunia dari Inggris ini berhasil merumuskan sebuah teori tantang “gaya berat” dan “kaidah-kaidah mekanika” yang semuanya tertulis melalui karyanya yang berjudul. Ilmu. Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (azas-azas matematika dari filsafat alam). ia mengajarkan sebuah ucapannya yang sangat terkenal. Roger Bacon. yang dikembangkan sebelumnya pada abad pertengahan. serta menunjukkan kegunaan ilmu itu sendiri. maupun matematika. Paham keilmuan tersebut. dan partikular (saling terpisah). bercabang-cabang. yaitu ilmu yang berasal dari fakta seperti nyata dalam ilmu-ilmu empiris -eksperimental. Francis Bacon menunjukkan bahwa metode induktif merupakan jalan satu-satunya menunju kebenaran ilmu. ilmu berkembang dari filasafat alam. membagi ilmu-ilmu ke dalam dua tipe. yang menandaskan peranan metode induktif di dalam ilmu. akhirnya berkembang dengan sifatnya yang eksperimental. Misalnya. dan karena itu. ternyata Philosophia Naturalis memisahkan diri dari filsafat dan para ahli menyebutnya dengan nama Fisika. Perkembangan pada kemudian hari. Roger Bacon. . dalam hal ini berusaha mengembangkan ilmu dengan melibatkan kegiatan-kegiatan pengamatan (observasi). Menurut Galileo (ilmuwan besar dunia dari Itali). sementara sejarah berasal dari kemapuan ingatan. ia berusaha membongkar rahasia alam dengan menggunakan matematika. Roger Bacon. yaitu matematika”. prosedur metodik (induktif). Muncul tokoh-tokoh pembaharu seperti. inti keilmuan adalah pada pencarian pola data matematis.Ilmu mengalami perkembangan revolusioner pada abad modern. Sebagai ilmuwan matematika. Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaannya di tangan Ishak Newton. diterbitkan tahun 1687. melalui pengukuran kecepatan cahaya sampai penimbangan obor udara. yang dianggap lebih tinggi dari ilmu-ilmu spekulatif (misalnya teologi). kemudian lebih diperkuat lagi oleh Francis Bacon. sejak awal zaman modern telah mengembangkan dasar-dasar keilmuannya yang bersifat ilmu eksperimental. Rene Descartes. Bahkan. Thomas Hobbes. dan Ishak Newton yang memperkenalkan matematika dan metode eksperimental untuk mempelajari alam. ilmu alam berawal dari kemampuan akal. Francis Bacon. Menurut Newton. sejarah keilmuan abad modern telah menampilkan spesialisasi sebagai ciri keilmuan modern itu sendiri. ilmu bersifat majemuk karena mencerminkan aneka fakultas (kemampuan) manusiawi. serta otonom. yaitu. dan ilmu yang berasal dari akal seperti nyata dalam ilmuilmu spekulatif.

Metode akal budi dapat diterapkan dalam problem apa pun. Tahapan perkembangan ilmu tersebut disebut hukum perkembangan. “Positivisme” dalam keilmuan. Rene Descartes. Ilmu memiliki keterkaitan bathiniah dengan kepastian dan sungguh-sungguh disejajarkan dengan paham abad pertengahan tentang premis-premis ketuhanan dalam ilmu. Dunia keilmuan modern mengalami perkembangan dengan munculnya cabang-cabang keilmuan modern. Perkembangan pengetahuan dan ilmu . yang kemudian di susul lagi oleg sosiologi. Kenyataan tersebut makin menunjukkan ciri perkembangan keilmuan modern yang bersifat majemuk dan partikular (terpisah-pisah). Perkembangan ilmu pun cenderung dilepaskan secara total dari keseluruhan realitas kemanusiaan yang merupakan sumber utama pengetahuan dan ilmu itu sendiri. Pemisahan tersebut pertama-tama dilakukan oleh biologi. Hal mana. pada awal abad kesembilan belas (abad XIX). makin memantapkan iklim pertentang (konfik dan kontroversi) di dalam alam keilmuan modern. dan politik. Bahkan. Setalah memasuki usia dewasa. Menurut Descartes. di sisi lain. matematika yang kian berkembang menunju tahap positif dalam ilmu kemasyarakatan yang utuh dan sempurna (Sosiologi). terletak pada pernyataan bahwa penjelasan ilmiah (eksplanasi) merupakan unsur dominan dalam setiap bidang pengalaman manusia. misalnya.Jelasnya. Artinya. telah dikembangkan secara lebih progresif oleh Ishak Newton dalam sebuah perspektif keilmuan yang berciri positivistik. perkembangan tersebut disebabkan pula oleh adanya arus komunikasi antarilmuawan yang senantiasa meningkat. mereka melihat proses perkembangan pemikiran atau pengetahuan dan ilmu dalam tahap yang saling terpisahkan dan tidak secara utuh (holistik) serta menyeluruh (komprehensif). Tahapan perkembangan ilmu dimaksud sesuai urutan pemunculannya di dunia. Comte mengkonstatasi adanya kecenderungan keilmuan yang makin mengarah dari spektrum keabstrakan. pandangan keilmuan abad modern yang berciri empiriseksperimental dengan pendekatan induktifnya yang ketat. dan kemudian psikologi. sebagaimana yang terjadi dengan Fisika. antropologi. cabang-cabang ilmu tersebut memisahkan diri dari filsafat. ilmu ekonomi. menunjukkan sebuah kecenderungan lain di dalam paham keilmuannya. ilmu tidak memiliki basis lain kecuali akal budi. Ciri perkembangan dunia keilmuan modern tersebut ditentukan oleh tokoh-tokoh berikut. Auguste Comte. lebih menonjol pada tahun 1700-an. Perkembangan mana terjadi karena berkat penerapan metode empiris yang makin cermat serta pemakaian alat-alat keilmuan yang lebih lengkap. Hukum tiga tahap tersebut mengingatkan pada pandangan Hegel dan Marx dengan ajaran dialektikanya yang memandang perkembangan sebagai sesuatu gerak linear dan "tertutup".

berusaha mengkategorikan ilmu dalam enam kategori kegunaan yang sifatnya praktis. telah berhasil membangun suatu paham keilmuan baru yang memadukan “Rasionalisme” a l a Descartes dengan “Empirisme” Francis Bacon. yaitu bahwa ilmu harus selalu dikaitkan dengan pendiriannya dalam menyelesaikan masalah-masalah praktis. Terlihat jelas bahwa. setelah mencapai puncak vitalitasnya yang disebut sebagai hakikat ilmu tertinggi yang berciri positivis itu. Hal itu dilakukan atas dasar sejarah perkembangan ilmu yang dipahaminya. yaitu realitas fisik materialnya untuk menjadi obyek atau dasar ontologis dalam mengembangkan ilmunya. eksperimentasi. Akhirnya. Ia dalam hal ini. Struktur-struktur sosial menjadi kaku. Comte. "Positivisme" secara pasti. Comte sendiri akan kecewa bila menyaksikan bahwa apa yang diramalkannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. telah mengabaikan realitas sosio-historis manusia yang utuh dan dinamis itu di dalam alam pengetahuannya. Auguste Comte. Semuanya. Permasalahan ini disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang secara nonkumulatif. Tahap tertinggi sains atau ilmu positif yang diramalkannya sebagai pengetahuan positif sehingga ilmu positif (sains) akan memberikan jaminan kepastian dan kejelasan akhir terhadap hakikat ilmu. mengembangkan metode keilmuannya yang khas dengan memadukan dalamnya unsur observasi. Hal ini sejalan dengan maksud pokok Auguste Comte. ternyata peradaban manusia cenderung kehilangan tenaga budayanya dan kemudian runtuh karena kehilangan kreativitas dan fleksibilitasnya. Comte untuk itu. Tentunya. Akibatnya. justru semakin membuka permasalahan-permasalahan baru yang sifatnya problematis tiada hentinya.hanya berusaha untuk memenggal-menggal dan mengambil sebagian saja dari realitas itu. Ontologi materialistik ini telah melahirkan pandangan keilmuan yang pincang tentang realitas serta mencetakkan orientasi kehidupan yang sangat materialistik dalam kehidupan manusia modern. sejalan dengan hukum perkembangan dimaksud. dan metode sejarah. yaitu: . tersusunlah enam jenis ilmu pengetahuan dasar dengan menempatkan fisika sosial atau sosiologi dengan statistikanya sebagai ilmu yang paling tinggi. seolah-olah kehilangan keseimbangan serta daya temunya. untuk itu. Ia menggambarkan bagaimana ilmu dan pengetahuan itu berkembang atas dasar gejala-gejala yang dihadapi baik pada tingkat yang sederhana sampai yang paling kompleks. kehidupan semakin diwarnai oleh disintegrasi antarelemen kemanusiaan yang serba dinamis dan berubah. menciptakan penggolongan pengetahuan dan ilmu. makna keilmuan selalu bersifat "pragmatis” dan menjadi suatu pilihan sebagai alat (instrumen).

Fisika sosial berfungsi untuk menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan yang lebih kompleks. Kelima. ilmu tertinggi dalam ilmu positif yaitu ilmu fisika sosial (sosiologi). ilmu alam (fisika). Umumnya. Hal ini disebabkan ilmu pasti memiliki sifat yang tetap. kedudukan. Semua itu berhubungan dengan cara-cara menerangkan bagaimana bentuk. Menurut Comte. Menurutnya. karenanya. Hubunganhubungan tersebut berada dalam keadaan yang memungkinkan molekulnya tidak berobah sebagai suatu himpunan.Pertama. ilmu hayat (fisiologi atau biologi). ilmu kimia (chemistry) yang berfungsi untuk membuktikan adanya keterkaitan yang luas di antara ilmu-ilmu seperi dalam ilmu hayat (biologi) dan bahkan dengan sosiologi. Keempat. pada tingkat ini. Comte dengan begitu yakin menyatakan bahwa hanya ilmu pastilah yang merupakan satu-satunya ilmu yang mempunyai kedudukan obyektif. fisika sosial atau sosiologi merupakan suatu bidang yang meliputi segi-segi yang statis maupun dinamis mengenai masyarakat. Comte juga berusaha dengan hukum ilmu fisika ini untuk meramalkan secara tepat semua gejala yang dapat ditunjukkan oleh suatu benda yang dalam keadaan tertentu. Comte menempatkan ilmu pasti (matematika) sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan. Ketiga. Selanjutnya. Justru itulah. karena sifat keteramalannya atas realitas obyeknya yang bersifat tetap dan tidak berubah atau bergonta-ganti. ilmu telah berhadapan secara langsung dengan gejala-gejala kehidupan sebagai unsur yang lebih kompleks. Kedua. terbatas pada akal. dan pasti melalui apa yang dilakukan dalam penyajian "kalkulus"-nya. dan lebih khusus dalam ikatan dengan suatu kelompok manusia. Jelasnya. orang akan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang sebenarnya. lebih konkret. Hubungan ini tentu lebih luas dari ilmu alam. bumi. atau planet-planet lain yang semuanya berhubungan dengan observasi langsung si subyek. Menurutnya. Kegunaan paktis ilmu alam atau fisika ini. bulan. ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun hukumhukum ilmu pasti tersebut di atas dalam hubungan dengan gejala bendabenda langit. perkembangan ilmu pada tahap ini disertai dengan adanya perobahan. melalui metode-metode ilmu pasti. ilmu-ilmu fisika atau ilmu alam menunjukkan hubungan-hubungan yang mengatur sifat umum benda yang dikaitkan dengan masa. ukuran. Metode yang digunakan dalam bidang ini adalah observasi dan ekperimentasi. belum mencapai tahap yang tetap sebagai ilmu positif. yaitu ilmu pengetahuan dalam tingkatnya yang "tepat dan sederhana" namun obyektif (terukur secara pasti). Comte menunjukkan bahwa metode yang terbaik untuk ini adalah observasi. serta gerak benda-benda langit seperti bintang. Keenam. melalui observasi dan eksperimen. setiap . Alasannya.

dan bahkan realitas sosiologis itu sendiri di dalam teorinya. tanpa mampu menjangkau segi-segi subyektivitas manusia dalam seluruh lingkup pengalaman. Sosiologi. telah mereduksikan bukan hanya ilmu. Positivisme awal yang menekankan pada segi-segi rasional-ilmiah. serta cara berpikir. baik dengan tradisi ontologi maupun ilmu-ilmu alam. tetapi justru epistemologi itu sendiri ke dalam tuntutan-tuntutan “Positivisme”-nya yang memiliki egoime sektoral di dalam ilmu-ilmu. akhirnya. Comte justru telah menyingkirkan realitas sosio-historis. Nampaknya. mengikuti pola pembagian ilmu dimaksud dengan menunjukkan adanya dua golongan ilmu. Pandangan Positivisme Comte yang begitu kuat terhadap masalah-masalah sosial. u ntuk itu. baik pada tataran epistemologi maupun ontologi. epistemologi positivisme ini hampir tidak mampu lagi untuk menjangkau segi-segi historisitas manusia. Reduksi dimaksud tidak hanya dalam ide atau pemikiran. Auguste Comte. akhirnya. membentuk pandangan epistemologi yang bercorak pragmatis. solah-olah terdapat semacam jaminan bahwa "hanya ilmu positif (sains)-lah yang pasti dan benar satu-satunya". tetapi menembus sampai ke dalam inti kehidupan manusia dan alam secara total. tepat. bermanfaat. kedudukan. Ilmu positif telah dibuat menjadi pemegang kedaulatan mutlak atas kepastian dan kebenaran. ilmu-ilmu alam sebagai nomotetik dan ilmu-ilmu kebudayaan sebagai idiografik. yaitu: nyata. Comte lupa bahwa sebenarnya sosiologi yang dicita-citakannya tidak memiliki hubungan dengan apa-apa. di kemudian hari. Paham positivisme keilmuan hanya mau dan mampu melihat manusia sebagai realitas bendawi. yaitu. gagasan. Akibatnya. harus berusaha memahami hal-hal yang terjadi di dalam pergaulan antarmanusia . utuh. dan menyeluruh. karenanya. Berdasarkan penggolongan di atas. mempunyai peranan yang sangat besar dalam perkembangan keilmuan modern. Comte lupa bahwa Sosiologi adalah bidang ilmu-ilmu historis-hermeneutis yang menyelidiki bidang intersubyektif yang berubah-ubah. Windelband. Comte lupa bahwa segisegi sosio-historis manusia inilah yang mengantarkannya untuk melahirkan pandangan. mendukung pandangan bahwa ada dua tipe dasariah ilmu dengan suatu perbedaan jenis yang nyata di antara keduanya. Kultur keilmuan positif yang dikembangkan Auguste Comte. dan aspirasi-aspirasi baru yang dinamis. direduksikan pada ilmu positif yang dianggap mampu menerangkan kenyataan secara lengkap dan sempurna. pasti. atau penyikapannya yang luas. Comte hendak menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengatahuan tidak akan menuju ke alam teori murni tetapi pragmatis dalam arti positif. Windelband. dan teramati.pengetahuan selalu meminta kesaksian dan pembuktian yang jelas dan langsung. Semua itu bersifat terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru di dalam pengetahuan dan kehidupan yang terus bergerak maju dengan berbagai kemungkinan yang serba baru dan berubah-ubah.

Michael Curtis (1981:147-152) menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya pandangan Auguste Comte ini telah memacu Progresivisme dan Pragmatisme. Sebaliknya. Ilmu bergerak secara linear mencari kegunaan praktis bagi suatu kemajuan. karenanya. "Positivisme" hampir tidak mampu menghayati manusia dalam hakikatnya yang "monopluralis" (Notonagoro 1987:94-98). akhirnya. Ciri kemajuan demikian itulah yang diterapkan sebagai sebuah kebutuhan primer dalam epistemologi. Perhatian Sosiologi bukan pada fakta mati melainkan pendapat orang atas interaksi mereka. sebagai kekuatan kritis-spekulatif dalam alam keilmuan. tidak ada pertautan dialektis antara filsafat dan ilmu atau teori dan praksis. . dengan mengartikan perkembangan sebagai "kemajuan". Ciri kegunaan praktis tersebut kemudian dirasionalisasikan pada tataran abstraksi sehingga mendapat legitimasi yang mutlak secara ideologis. Hal yang mau dicapai dalam setiap interaksi adalah pemahaman timbal-balik. Akibatnya. Pengetahuan. Comte telah mempertebal rasa optimisme. Penekanannya yang natural-deterministik dalam memahami proses perkembangan pengatahuan dalam masyarakat tersebut telah mengakibatkan kecenderungan sektoral yang kuat. Kerangka pemahaman dan sikap ilmiah tersebut. Artinya. menjadi sesuatu yang lebih bersifat instrumental dan teknologis. Comte telah memperkokoh mitos-mitos keilmuan modern. meskipun mempunyai aktualitas dan potensialitas sendiri-sendiri. tidak dapat dihindari terjadinya krisis kemanusiaan dan krisis kosmologis sebagai hasil nyata dari kuatnya pengaruh pemikiran tersebut. tetapi melulu hanya kegunaan praktis. Praktisnya. orang memandang manusia maupun masyarakat alam sebagai hal yang harus berkembang menurut proses-proses alami yang sifatnya linear dan mekanistik. Akibatnya. bahkan diabaikan sebagai hal yang kosong dan sia-sia karena tidak memiliki kegunaan praktis. Positivisme Auguste Comte telah melahirkan pula sikap monistik dan deterministik atas realitas fisik material. Akibatnya. telah mendegradasikan manusia dari realitas keberadaanya yang monopluralis itu. dan sekaligus menjadi alat represif. Unsur-unsur tersebut. namun tetap menggambarkan realitas kemanusiaan secara utuh. apa yang diartikannya dengan kemajuan hanyalah sesuatu yang teknis sosiologis. aspek-aspek fundamental lain ditinggalkan. Akibatnya. Akibatnya. Ternyata. Paradigma utamanya bersifat industrialis dan teknologis yang memaksakan suatu model keseragaman (uniformitas).dalam masyarakat. tidak mungkin direduksikan pada unsur-unsur atau taraf tertentu. Munculnya positivisme sebagai penentu kemajuan pengetahuan positif sekaligus telah menggusur hakikat filsafat. Unsur-unsur atau taraf kehidupan tersebut. malah lebih dari itu. yaitu kesatuan dan keutuhan dari unsur-unsur atau tarafnya yang majemuk tetapi sekaligus manunggal. Kemajuan pengetahuan atau masyarakat dipahami semata-mata sebagai kemajuan fisik material.

Perubahan ini tidak hanya terbatas pada sektor agama. Paham Positivisme ini bukan saja menampilkan dirinya sebagai sebuah ajaran. Krisis sosio-historis atau krisis dialektika dalam epistemologi yang memuncak pada zaman “Positivisme” ini justru muncul begitu tajamnya pada Von Feuerbach. Akhirnya. Intinya adalah. Von Feuerbach menegaskan bahwa sesungguhnya segala konsepsi mengenai Tuhan tidak lain adalah produk imajinasi manusia sendiri. Positivisme Logis atau Neo Positivisme yang disebut Positivisme kontemporer ini berusaha membangun suatu bentuk pengetahuan ilmiah murni dan sejati dengan suatu sistem bahasa yang universal. “Positivisme Kontemporer" ternyata lebih tragis dalam mengembangkan dirinya. pengetahuan. Paradigma tersebut. akan tetapi sampai kepada Tuhan itu sendiri. Melalui ini. Watak Positivisme. “Empirisme” sudah mengajarkan bahwa yang pasti dan yang benar itu tidak lain adalah hasil pengamatan inderawi (sensibel). Analisanya secara langsung menyentuh pada hakikat Tuhan.keseragaman ditempatkan sebagai "diktator kemanusiaan" yang tinggi atas semua situasi kemanusiaan dan kelompok masyarakat. "Positivisme Logis" menganggap ilmu atau pengetahuan mengenai fakta obyektif sebagai ilmua atau pengetahuan yang sah. yang dicirikan dengan mesin atau industri. terus bergerak maju secara linear dengan semangat penaklukannya tanpa mempedulikan aspek kemajemukannya yang bersifat spesifik. Aliran "Positivisme kontemporer” ini dengan demikian menempatkan dirinya pada puncak pembersihan pengetahuan dari kepentingan manusiawi dan awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh pengetahuan demi pengetahuan. Von Feuerbach menandai gejala perubahan mandasar dari alam lama ke alam modern sekular. tetapi lebih daripada itu sebagai sebuah sikap ilmiah dan bahkan sikap hidup. Ia memandang bahwa Idealisme Kant maupun Hegel tidak lain adalah puncak Rasionalisme yang masih dikungkung oleh teologi. Von Feuerbach sampai pada kesimpulan yang sungguh drastis bahwa sumber penghambat segala kemajuan ilmu. pada keinginannya yang kuat untuk membersihkan diri dari kepentingan-kepentingan praktis manusia yang berubah-ubah. aliran “Positivisme" ini berusaha mengakhiri riwayat ontologi atau metafisika. Kenyataan ini semakin ditandai oleh kemanunggalan antara “Sekularisme” dengan “Ateisme”. Menindaklanjuti pandangannya itu. maupun bidang lainnya adalah kepercayaan kepada Tuhan. ternyata telah mempersenjatai pengetahuan sebagai sebuah "mesin perang" bagi kepentingan penguasaan yang bersifat represif total. tidak memberi kemajuan dan kepastian apa pun terhadap manusia. karennya. Feuerbach (1804-1872) sangat anti terhadap teologi. ia menganjurkan agar kepercayaan kepada Tuhan itu ditinggalkan saja. .

dan keyakinan) tidak bernilai karena tidak dapat diverifikasikan. Pengetahuan demikian. ternyata “Positivisme” tidak sanggup melepaskan diri secara sungguh dari ontologi malah telah membentuk suatu ontologi baru yaitu teori murni yang bebas dari kepentingan manusiawi. Mereka dengan begitu ambisi berusaha mengusahakan suatu sistem tunggal dalam suatu sistem konseptual. ucapan-ucapan estetis. Teori sosial. bersifat netral dan bebas nilai. Sosiologi atau ilmu-ilmu historis-hermeneutis pun. obyek pengamatan ilmuilmu sosial disejajarkan dengan dunia alamiah. serta berusaha mengambil sikap sebagai teoretis murni. Akibatnya. Sosiologi atau ilmu-ilmu sosial tersebut tidak lagi berusaha memahami hal-hal yang terjadi di dalam pergaulan antarmanusia di dalam masyarakat. Setiap gejala subyektivitas manusia. pengetahuan hanya dipahami sebagai urusan permainan bahasa belaka. Sama seperti Comte. Kelompok tersebut dikenal dengan "Positivisme Logis" atau "Empirisme Logis”. harus digunakan untuk keperluan apa saja sehingga harus dibersihkan dari unsur etis dan tidak terikat pada dimensi politis manusia. yaitu tuntutan-tuntutan tentang fakta obyektif. kepentingan maupun kehendak manusiawi. segala hal lain (misalnya. Kedua. Akibatnya. yang menyediakan pengetahuan yang bersifat "instrumental murni". ilmu-ilmu sosial harus bersifat teknis. membangun suatu kesatuan keilmuan merupakan tugas sejarah filsafat. bahasa bagi ilmu pengetahuan terpadu itu adalah bahasa positivistis. Ketiga. tetapi terpaku pada fakta bendawi dan rumusan teori murni yang mati. atau pemahaman timbal-balik. Pandangan demikian. Menurut Positivisme Logis. tugas filsafat adalah menganalisis kata-kata atau pernyataan-pernyataan dan untuk membuktikan arti atau maknanya. "Positivisme kontemporer" ini lebih ditonjolkan dalam pemikiran Lingkungan Wina. Sikap positivistis yang dianut oleh Ilmu-ilmu sosial mengandung tiga pengandaian yang saling berkaitan: Pertama. seperti ilmu-ilmu alam. Menurut mereka. Akibatnya. tuntutan-tuntutan moral. di luar ucapan-ucapan positivistis. telah mengklaim diri sebagai ilmu positivis dan memantapkan posisinya sebagai "ilmu ilmiah". Sejarah filsafat mencatat bahwa. bahwa prosedur-prosedur metodis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu sosial. yaitu suatu bahasa bagi semua ilmu. Mereka menolak perbedaan antara ilmuilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial dan berpendirian bahwa. misalnya. hasil-hasil penyelidikan itu dapat dirumuskan dalam bentuk "hukum-hukum" seperti dalam ilmu-ilmu alam. akhirnya. aliran tersebut juga bercita-cita untuk menghasilkan suatu sistem pengetahuan yang terpadu yang disebut pengetahuan sejati umat manusia. serta tingkah-laku sosial para subyek tidak mengganggu obyek pengamatannya yang sesungguhnya. patut ditanggapi secara kritis .Meskipun demikian. Prinsipnya. Sosiologi tidak lagi memperhatikan pendapat-pendapat orang atas interaksi mereka. atau juga "Neo Positivisme".

Ternyata. Martin Heidegger mengkritik problem teknologi dalam pengetahuan dengan menunjukkan bahwa: “Teknik dapat menamatkan metafisika" dan sekaligus menunjukkan sebuah ontologinya yang khas. banyak terkait dengan perkembangan teknologi. akhirnya. dikuasai. Baginya. Pengaruh Positivisme dalam keilmuan modern secara luas dan mendasar membentuk berbagai aliran pemikiran dan keilmuan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kultur modern. Teknik dalam hal ini dipandang sebagai sarana yang digunakan manusia. hubungan antarmanusia bersifat hubungan "AkuEngkau". justru dalam teknologi justru ditemui hal yang sunguh berlainan. Selanjutnya. setelah perkembangan modern maka pertumbuhan teknologi makin mengungkapkan aspek epistemologis secara lebih eksplisit. Problem teknologi dalam epistemologi modern ternyata merupakan proses radikal terhadap rezim “Positivisme”. orang dapat berbicara mengenai teknologi sebagai bagian dari pertumbuhan epistemologi. tetapi juga di bidang biologi dan bahkan psikologi. dan rekayasa atas diri sesama manusia (Bertens 1983:155-164). Martin Buber menunjukkan bahwa dalam situasi demikian. Tuntutan pembauran ini didasarkan pada kebutuhan akan peningkatan alat ukur untuk mencapai kepastian yang makin sempurna dalam rangka pengetahuan ilmiah. perkembangan ilmu dan teknologi berjalan secara terpisah. Jelasnya. Teknologi ternyata sangat mewarnai problem keilmuan modern dan secara khusus perkembangan sistem pengetahuan modern. Melalui ini. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa teknologi makin terkait dengan proses industrialisasi tetapi juga makin terpadu dengan perkembangan ilmu. namun setelah perkembangan Positivisme maka terjadi pembauran di antara keduanya. perkembangan teknologi selalu mempunyai pendasaran epistemologis yang sifatnya implisit di dalamnya. manusia dipandang sebagai benda atau materi yang siap ditangani. Secara implisit. manusia. Umumnya. masyarakat. dan dimanipulasi. dan etik. moral. adalah obyek materi atau sekedar sebagai bahan mentah bagi suatu penanganan teknologis. dirubah menjadi "Aku-Itu" yang ditandai dengan nafsu eksploitasi. Menurut pendapat umum. . bila dalam Abad Pertengahan manusia dipandang dan diakui derajatnya sebagai "makhluk" maka sebaliknya dalam teknologi. tetapi telah menyamakannya dengan pengetahuan itu sendiri. Eksperimen tidak saja di bidang ilmu-ilmu alam. teknik biasanya mempunyai fungsi instrumental. Akibatnya. terjadilah perpaduan antara perkembangan ilmu dengan teknologi. manipulasi.sebagai sebuah usaha saintisme yang tidak memahami hakikat ilmu sebagai suatu bentuk pengetahuan. Profesi keilmuwan. dimiliki. “Positivisme” telah membawa pula pengaruh teknologi yang terasa penting dalam epistemologi. yaitu benda atau obyek”.

sosiologi dan antropologi untuk menelaah perilaku manusia. Ciri empiris itulah yang membentuk ciri umum dunia keilmuan modern. manusia akan kehilangan kepekaan dalam mendengarkan perubahan-perubahan dan berbagai fonomena misteri yang kiranya akan datang. sebagai filsuf dan pemikir abad Post modern (abad kontemporer) tampil bersama para filsuf kritis dalam komunitas “Teori Kritis”. Khusus. dalam teknologi. Akibatnya. malah tidak dapat dikuasai. Terlihat. bahwa ilmuilmu sosial dan psikologi. dengan menerapkan metode empiris.Kenyataan ini disebabkan karena apa yang dirancang manusia sebagai sarana untuk menguasai dunia. ia adalah obyek yang dikuasai. dunia keilmuan modern cenderung menganggap. IV. logika formal. manusia ditempatkan dalam keadaan itu. sekarang telah berbalik menguasai dirinya sendiri. seperti. Akibatnya. sehingga manusia secara riil dikuasai oleh teknik. manusia terasa tidak mampu lagi untuk memandang hal-hal lain yang merupakan misteri-misteri kehidupan yang bersifat hakiki. namun. dan positivistik. sementara ilmu-ilmu modern berciri empiris. Filsafat. . Kini. eksperimental. manusia terseret ke dalam dunia mekanisme yang kaku dan ketat. Bahayanya adalah. manusia tetap membutuhkan teknologi sebagai sarana (bukan tujuan) pengembangan hidup. Prinsipnya. Antropologi ragawi. lahirnnya ilmu-ilmu baru yang tampaknya bebas. Anehnya. Akibatnya. Salah satu ciri perkembangan keilmuan modern yang begitu berkembang pada abad XX (abad kedua puluh). Linguistik (ilmu bahasa). Harus diakui. bahwa manusia akan kehilangan hakikat kemanusiawiannya yang memiliki keterarahan pada kepenuhan eksistensinya. bahwa desakan pemisahan ilmu-ilmu modern dari filsafat karena perbedaan ciri-cirinya yang sangat menyolok. serta ilmu anatoni sosial (Social anatomy Science). yang isinya terbatas pada data-data yang dapat dibuktikan dengan fakta pengamatan serta generalisasi dan aplikasi. induktif. Ilmu perilaku (Behaviour science) yang menggabungkan berbagai ilmu seperti. Jurgen Habermas. yaitu. pada dirinya bersifat (berciri) spekulatif. teori tanda. menjadi sukar dikuasai sendiri. dalam hal ini. manusia tidak lagi memiliki kebebasan dan kekhasan diri sebagai "ego" atau "subyek". Melalui itu. Zaman Abad Post Modern (Pembaharuan atas klaim-klaim keilmuan modern). teknologi itu sendiri harus terbuka pada pembaharuan dan pemurnian secara terus-menerus atas prinsip kemanusiaan. apa yang diciptakan manusia untuk menguasai dunia. dan Ethology (ilmu tentang pola perilaku organisme). untuk diakui keabsahannya secara ilmiah maka harus pula menggunakan metode-metode empiris eksperiental. teknologi dapat berperan dalam tugas kemanusian yang sifatnya utuh.

dan pengharapan di dalam diri manusia. Ilmu Sosial Positif (Habermas 1972:72-90. orang harus mengabdi pada prestasi intelektualitas yang luhur tanpa harus dipengaruhi oleh kekuatan atau keyakinan lain di luarnya yang tidak memiliki jaminan yang pasti. . persahabatan sejati. etika. sejarah besar imu sosial menunjukkan adanya tiga momen pemikiran yang sekaligus menggambarkan tiga periode kritis di dalam sejarah ilmu sosial itu sendiri. Ambisi ilmu sosial positivis ini adalah menyusun sebuah tatanan masyarakat baru yang disebutnya sebagai masyarakat positif. Menurut Habermas. Selanjutnya. sebab dapat menghambat “progres”. tanpa bersikap kritis terhadapnya. dan tuntutan-tuntutan sosialnya yang luas dan komplementer. Manusia atau masyarakat positif harus memutuskan hubungannya dengan masa lalunya. Kenyataan tersebut telah mempengaruhi periode-periode pengembangan ilmu sosial di kemudian hari. para analisis sejarah menyebut penganut aliran ini dengan “Positivist social science” (PSS). keilmuan modern telah terjebak dan kebekuan dan kemandekan klaim-klaim “Posistivisme” sempit. hilanglah makna nilai. dan unsur-unsur subyektifitas seperti rasa cinta. Umumnya. Ilmu Sosial Positif . Positivist social science (PSS) ini lebih merupakan sebuah perlawanan radikal terhadap pemikiran ilmu sosial sebelumnya yang bersifat spekulatif dan metafisik (perenial). Momen pemikiran pertama inilah yang meletakkan dasar-dasar “Ideologi Positivisme” baik pada tataran substansial maupun cara kerja atau metodenya pada alam pengembangan ilmu-ilmu sosial. Akibatnya. Menurut penganut aliran ini. Humanitas yang ingin diperjuangkan bukanlah humanitas yang utuh tetapi humanitas yang terpengal-penggal. yang cenderung membatasi ilmu pada gejala alam. Tipe masyarakat positif idaman adalah masyarakat modern-maju yang mengembangkan diri secara ketat di bawah dominasi ilmu dan industri sebagai spirit sosialnya. bdk. dan mencetakan pada sebuah watak positivis yang khas. (1). Horkheimer dan Adorno 1969: 18-80). Menurutnya. menyeret manusia atau masyarakat positif untuk jatuh ke dalam bahaya “Materialisme” dan “Hedonisme”. Ketiga momen kritis dalam sejarah ilmu sosial itu digambarkan dalam skema pemikiran berikut. Unsur-unsur itu harus ditinggalkan di dalam masyarakat positif karena tidak memiliki obyektivitas dan bahkan tidak bermakna. tanpa berusaha melihat dimensi sosiologi keilmuan itu sendiri. manusia positif seakan hidup di bawah arus determinasi dan penguasaan total ilmu dan teknologi atas nama kemajuan. dinamika kejiwaannya.Habermas ingin membaharui pandangan keilmuan modern dalam sebuah pendekatan kritis. akhirnya.

Menurut penganutnya. dengan metode hermeneutik atau penafsiran atas ide dan tindakantindakan sosial. tanpa cinta kasih atau pengampunan. Ciri pemikiran ini dipelopori oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan Max Weber (1864-1920). Interpretative sosial science mengartikan teori sosialnya sebagai interpretasi tingkah laku sosial. Ambisi ilmu sosial positivis telah mengubah aspirasi dan otonomi. Muncullah kecenderungan anarkhis yang kuat dalam diri manusia positivis sehingga orang merasa bebas berbuat atau bertindak sendiri dan mencari jalan sendiri (laissez faire. Sosiologi Kritis. manusia “membendakan” dirinya secara total serta menempatkan diri sebagai bawahan bagi sebuah sistem kekuasaan ilmu atau teknologi yang anonim. Pendeknya. orang akan memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai ciri dan keanekaragaman masyarakat. Ilmu Hermeneutika Sosial (Habermas 1972:140-186). melalui cara yang demikian.Hakikat pluralitas manusia yang kaya digantikan dengan monisme yang kering serta tekanan yang begitu kuat terhadap “the human affairs”. laissez aller). kejahatan. kekerasan. Bagi para penganut ISS. Hukum evolusi yang kemudian diperkuat dengan semboyan struggle for life dan survival of the fittest telah memaksakan orang untuk berjuang habis-habisan demi hidup atau demi kekuasaan. Cara itu dilakukan dengan mempelajari perilaku sosial yang bermakna untuk menunjukkan segi-segi subyektif kegiatan antarpribadi dalam kompleksitas hubungan sosial yang menyusun sebuah masyarakat. Tindakan-tindakan sosial atau ide tindakan sosial itulah yang menjadi dasar untuk mengkonstruksikan teori sosialnya. Dilthey maupun Weber mengembangkan ciri pemikiran ini sehubungan dengan kecemasannya yang begitu besar terhadap ciri pemikiran positivisme sosial sebelumnya. (3). di dalam orde masyarakat positivis ini. dan penganiayaan terhadap “humanitas”. Arus pemikiran ini lebih merupakan sebuah kritik pembaharuan atas isi pemikiran dan suasana . (2). orde “Positivisme” telah begitu kuat mendeterminasi dan membelenggu manusia sebagai “benda sosial” yang tidak otonom. Caranya adalah. Kritik Interpretative social science (ISS) atas ilmu-ilmu sosial positivis dilakukan dengan menunjukkan sebuah pendekatan baru yang bersifat kritis atas pemikiran “Positivisme” sosial dan kehidupan sosial itu sendiri. peperangan. kita semakin terus menyaksikan adanya keganasan. teror. serta cinta kemanusiaan menjadi sebuah anarkhisme dan perbudakan atau kediktatoran yang menindas. serta tindakan pelaku invidividu yang aktual. Aliran pemikiran ini dikenal dengan Interpretative social science (ISS). Periode pemikiran ini lebih dikenal dengan “Interpretative social science (ISS)” (CSS). Dewasa ini pun. Akhirnya. Menurut penganut Interpretative social science (ISS). tindakan-tindakan sosial itu tercermin di dalam sejarah.

karena teori-teori tersebut telah memanipulasi masyarakat dengan penelitiannya yang sengaja mengambil dan memanipulasi suara terbanyak untuk membenarkan maksud-maksud politiknya dalam rangka mendiskriminasikan kelompok masyarakat minoritas. Habermas menaruh kritik yang cukup tajam terhadap pemikiran Marx dan mengusulkan adanya rekonstruksi atas materialisme historisnya. Konsekuensinya. memandang bahwa kedua momen pemikiran sebelumnya itu telah mencetakkan sebuah “tragedi agung” di dalam pemikiranya yang dilegitimasi di dalam sebuah rasio yang pincang dan cacat. Horkheimer (1969:ix) secara tegas menyebut teori sosial sebelumnya itu sebagai “Social discrimination”. serta memahami konsekuensinya untuk kehidupan pribadi dan sosial. Habermas memadukan di dalam dirinya dua perhatian pokok yaitu minat pada realitas sosial maupun pada bidang kefilsafatan untuk membahas pertautan antara pengetahuan dengan fenomena- . Konsekuensinya. adalah terciptanya komunikasi yang emansipatoris. teori sosial hendaknya mempunyai corak pendekatan dan wilayah yang sama sekali lain dari ilmu-ilmu alam. dalam hal ini. Akhirnya. Habermas berusaha memecahkan persoalan-persoalan sosial dewasa ini dengan mengaitkan pemikirannya pada persoalan pemikiran dalam dua periode sejarah sebelumnya. Sasaran utama Habermas.intelektual teori sosial sebelumnya yang dipandangnya sebagai anti demokratik dan non humanis. Habermas dengan Interpretative social science (ISS). Justru itulah. Habermas mengusulkan struktur “refleksi-komunikasi” atau rasio-komunikasi sebagai jalan untuk mewujudkan masyarakat emansipasi yang dituju. namun berusaha untuk mencari inspirasi padanya serta mengkritik dan mengembangkannya di dalam sosilogi kritis. Pandangan inilah yang menyebabkan Habermas menolak pendekatan ilmu sosial positivis (PSS) maupun rasionalitas berdimensi tunggal di dalam ilmu-ilmu sosial interpretasi (ISS). dan Freud (Habermas 1972: 43-47. Sebagai tokoh utama dalam garis pemikiran ini. Ada tiga tokoh pemikir yang menginspirasi dan menggerakkan pemikiran Habermas. Habermas tidak bermaksud membuang pemikiran-pemikiran sebelum. Habermas sepaham dengan Karl Marx mengenai evolusi “Kapitalisme” dan kontradiksi yang terdapat di dalam perkembangan tersebut. Meskipun demikian. 52-54). Kenyataan yang sama dijumpai juga pada Hermeneutika sosial Max Weber yang cenderung melanggengkan dominasi kapitalisme melalui teori bebas nilai-nya. Alasannya. Karyanya “Theory and Practice” (1974) menunjukkan fakta kekeliruan Marx dan sekaligus menunjukkan kritik pembaharuannya atas empat orde perkembangan sosial yang dirancang Marx dalam mewujudkan citra masyarakat Komunis yang diidealkannya. yaitu Marx. ia harus membangun sebuah proyek pemikiran yang khas dalam rangka merealisasikan maksudnya tersebut. Weber.

Habermas. sebagai sebuah proyek pemikiran yang tetap terbuka. hal terpokok dalam model interaksi ialah selalu ada kepentingan yang melekat tetapi bukan kepentingan penguasaan melainkan kepentingan untuk saling pengertian dan komunikasi. merupakan syarat fundamental untuk memungkinkan dialog bebas-penguasaan sehingga warga masyarakat dapat mengambil bagian dengan hak yang sama dengan cara saling mengakui satu sama lain. menggantikan kedudukan kaum proletar dengan ilmuwan yang melibatkan diri di dalam proses ilmiah. Melalui pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Universitas Frankfurt Habermas berusaha mengembalikan ilmu pada posisinya sebagai salah satu (bukan satu-satunya) bentuk pengetahuan yang mungkin mengenai kenyataan.fenomena sosial. Tegasnya. Jelas terlihat bahwa Habermas berusaha membangun sebuah optimisme yang tinggi atas ilmu dan teknologi. Perubahan ke arah kebebasan dalam teknologi itu. Habermas menunjukan bahwa situasi keilmuwan tersebut membutuhkan suatu pandangan kritis dari ilmu-ilmu sosial. karenanya. Melalui itu. Habermas berusaha merancang suatu konsep tentang ilmu yang terarah kepada praksis dengan diberikan tempat penting bagi “logika dialektis bertegangan” atau “logika komunikasi intersubyektif” sebagai latar belakang hermeneutika. Pandangan kritis tersebut berfungsi untuk meneropong kepentingan-kepentingan penguasaan yang tanpa disadari telah menjerumuskan teori-teori positivis itu ke dalam bahaya. diusahakan agar ditaklukkan adanya kemungkinan-kemungkinan teknologis pada humanitas atas nama kebenaran ilmu atau kemajuan apa pun. Melalui dialog yang langsung dalam suasana saling pengertaian dan pengakuan atas kebebasan itu. Baginya. ilmu dan teknologi merupakan daya kreatif yang sungguh penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Ilmu . dalam hal ini. potensi teknologis harus diatur sedemikian rupa sehingga manusia dapat dibebaskan dari segala paksaan untuk menaklukkan seluruh kehidupannya kepada produksi sosial (industri sosial) yang sistematis. Menurutnya. Praktisnya. Hal ini diakibatkan oleh keinginannya untuk mengembangkan sebuah “sosiologi kritis” yang disebutnya sebagai kritik ideologis. Ilmu-ilmu sosial kemanusiaan tidak boleh mengacu pada ilmu-ilmu alam. Inti komunikasinya pada dialog yang berlangsung dalam suasana yang penuh saling pengertian dan saling pengakuan antarsubyek yang terlibat di dalamnya. bahkan rasio itu sendiri dengan visi perbaikannya secara radikal. Model keilmuan itu berdasarkan “logika interaksi” atau “logika hermeneutis” (Bertens 1983:219). sama sekali lain dari ilmu-ilmu alam dimaksud. Komunikasi dialogis yang bebas penguasaan ini dianggap oleh Habermas sebagai ruang lingkup sehingga orang harus mencari persepakatan hipotetis tentang tujuan-tujuan yang dapat diakui semua orang dalam mewujudkan humanitas itu. Harus dikatakan bahwa ilmu-ilmu manusia mempunyai nilai yang khas dan.

Sebagaimana teori. Pertama.dan teknologi lah yang merupakan faktor yang jelas dalam menentukan keadaan dan perkembangan masyarakat. 312). membedakan tiga jenis ilmu dengan pamrihnya (interest) masing-masing. Habermas dalam hal ini menghubungkan praksis dengan kritis-emansipatoris karena ia mau mengembangkan dan menyusun secara baru struktur-struktur masyarakat dengan meniadakan di dalamnya segala unsur yang bersifat represif. Habermas. Proses tersebut itulah yang memotivasikan tindakan instrumental untuk memenuhi suatu kebutuhan akan “sukses” yang mengarah pada pemecahan masalah kehidupan. Kenyataan tersebut diakibatkan oleh prosesproses kognitif yang merupakan proses kehidupan. Paham keilmuan Habermas selalu berusaha memahami kepentingan manusia secara dialektis bertegangan antara aspek empiris (sosial aktual) dan transendental. karena kepentingan konstitutif bagi pengetahuan itu bersifat empiris-transendental maka tidak terpisahkan dari konteks kehidupan manusia. ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis dengan kepentingan penguasaan teknis. pemutlakkan aspek empiris dalam pengetahuan akan menyesatkan karena bersifat deterministis. sikap teoretis keilmuan selalu diresapi dan dijuruskan oleh kepentingan-kepentingan manusiawi. karena bila tidak demikian maka praksis tidak dapat bersifat kritis sebab tidak dapat dijelaskan sesuatu daripadanya. Subyek yang menjlankan praksis itu adalah umat manusia yang sedang menuju ke masa depan yang baru. untuk itu. Ilmu dan teknologi merupakan spesies-spesies pengatahuan yang mesti ditempatkan pada sebuah ajang pertautan dialektis yang luas dan mendasar. entah empiris atau transendental. Habermas menunjukkan bahwa ilmu pun harus dipertautkan dengan praksis. Sehubungan dengan itu. Meskipun demikian. Baginya. Habermas dengan ini menolak adanya reduksi ilmu atau pengetahuan pada satu kutub. pengetahuan itu sekaligus melampaui realitas konstitutif tersebut (Habermas 1972:179. Kedua jenis kepentingan tersebut mengarah pada“kepentingan kognitif” atau “kepentingan konstitutif pengetahuan”. baik yang bersifat empiris (sosial aktual) maupun kognitif transendental. Habermas memandang pula bahwa rasio instrumental yang menghasilkan ilmu-ilmu teknis melalui tindakan instrumental merupakan realisasi suatu kepentingan kemanusiaan. Tegasnya. Habermas menunjukkan bahwa. emansipasi atau pembebasan manusia di dasarkan pada suatu kepentingan. Pertautan tersebut mengarah pada konteks kemanusiaan yang utuh dan menyejarah serta emansipatif. Habermas dengan ini bermaksud menunjukkan bahwa. Ia menunjukkan bahwa ilmu-ilmu alam tersebut menyelidiki dan mendeskripsikan gejala-gejala alam secara empiris . Tugas tersebut itulah yang harus dimengerti oleh para ilmuwan itu sendiri.

Subyek dalam hal ini berusaha memahami ekspresi-ekspresi kehidupan seperti bahasa tindakan dan bahasa sehari-hari. Pengalaman-pengalaman tersebut lebih “dialami dari dalam”. Konsekuensinya. yang berupa pengalaman harian. Tahap inilah yang akan dicapai dalam ilmu-ilmu historishermeneutis. sehingga subyek berpartisispasi dengan obyeknya. Hubungan dengan alam melalui kerja adalah hubungan penguasaan atau hubungan subyek-obyek yang bersifat satu arah. Jalan yang ditempuh untuk membangun jenis pengetahuan ini adalah bukan melalui eksperimen melainkan interpretasi atas konfigurasi pemahaman makna dalam teks. pengujian hipotesis harus digantikan dengan penafsiran teks. hermeneutika berfungsi untuk menghindari bahaya kemacetan komunikasi intersubyektif. Hasil yang diperoleh dari ilmu-ilmu hitorishermeneutis ini adalah kemampuan komunikasi. diperlukan komunikasi atau konsensus antarilmuwan untuk mencapai kebenarankebenaran ilmiah yang tidak hanya dalam bentuk logika penelitian tetapi melampauinya. hubungan antara subyek-obyek digantikan dengan subyek-subyek (intersubyektif). saling pengertian. Akhirnya. untuk menemukan pengertian dan pemahaman secara luas dan mendalam akan persoalan yang menjadi bidang hidup atau konteks hidupnya. Kedua. Apa yang menjadi bahan studi ilmuilmu ini adalah pengalaman-pengalaman pra-ilmiah. Pendeknya. Tujuannya. Berbeda dengan ilmu-ilmu alam di atas. Tegasnya. ilmu-ilmu historis-hermeneutis yang menurut Habermas mempunyai kepentingan kognitif-hermeneutis. letak kepentingan teknis ilmu-ilmu empirisanalitis dimaksudkan sebagai pelaksanaan rasio-instrumental untuk kepentingan-kepentingan hidup alami. golongan ilmu kedua ini berusaha mengobyektivikasi pengalaman secara utuh tanpa reduksi atau pembatasan. melainkan memahami manusia sebagai manusia yang memiliki sesama dan hubunganhubungan sosial aktual dan dinamis. sedang kepentingan manusia yang terkandung di dalam ilmu adalah ramalan dan pengawasan (prediction and control) alam. Ilmu-ilmu historis-hermeneutis ini tidak sekedar menyelidiki sesuatu atau menghasilkan sesuatu. Jelasnya. serta kemacetan komunikasi . dan saling memahami. Pengetahuan teknis tersebut menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia untuk mengelola dunia atau alamnya. Teori-teori ilmiah disusun agar daripadanya dapat diturunkan jenis pengetahuan terapan yang bersifat teknis.dan menyajikan hasil penyelidikan tersebut untuk kepentingan-kepentingan manusia. ditunjukkan aspek pekerjaan (labor) dalam sosialitas manusia. Penegasan Sosio-epistemologi terhadap sifat historis manusia memperlihatkan adanya daya misteri atau daya perkembangan obyek manusia yang diselidiki. Melalui ilmu-ilmu alam yang demikian.

Orang yang berada dalam kungkungan dogmatisme tidak akan mampu menghimpunkan kekuatannya untuk melakukan “refleksi-diri”. “refleksi diri”. Refleksi diri membebaskan subyek dari jerat ketergantungan pada kekuatan-kekuatan yang sudah . Jelas terlihat bahwa. Jelasnya. akhirnya. Kepentingan manusiawi ini mengarahkan subyek pengetahuan pada kesadaran tentang dimensi sosial di dalam pengetahuannya itu sendiri. Ketika pernyataanpernyataan teoretis yang dihasilkan. bila dibandingkan dengan kedua kepentingan yang lain. Habermas bermaksud menjelaskan bahwa “refleksi diri” menjadi kegiatan kognitif atau kegiatan ilmu dan teknologi. Pemikiran kedua kelompok ilmu sebelumnya menunjukkan bahwa. kepentingan emansipatoris membimbing refleksi diri untuk menghancurkan dogmatisme dan ideologi dalam berbagai perwujudannya. Baginya. ilmu-ilmu kritis berusaha membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Tuntutan kedua bentuk pengetahuan tersebut adalah untuk mencapai taraf teoretis murni yang didasari oleh usaha rasio sendiri untuk membebaskan diri dari kondisi-kondisi empiris yang berubah-ubah. ilmu-ilmu kritis yang mempunyai kepentingan emansipatoris. atau kebudayaan. Melalui langkah pengintegrasian psikoanalisis ke dalam Teori Kritis-nya. kepentingan tersebut hendaknya selalu mengarahkan tindakan pemahaman ke dalam tingkah-laku praksis dalam bentuk tindakan-tindakan komunikatif. kepentingan emansipatoris bersifat derivatif dan mendasari semua jenis ilmu. kedua kepentingan itu membeku menjadi ideologi. Akibatnya. yaitu. Marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu atau ideologi. Ia mengemukakan bentuk pengetahuan yang ketiga yang mau tidak mau mengaitkan pengetahuan atau teori dengan kepentingan praktis secara langsung. memperlihatkan bahwa jika direfleksikan kedua bentuk pengetahuan ilmiah yang dibimbing oleh kepentingan teknis dan praktis maka akan disadari bahwa keduanya dihasilkan oleh rasio yang bertujuan membebaskan diri dari kendala-kendala alami dan kendala-kendala interaksi sosial. kelompok. bahkan ia membuat dirinya sendiri sebagai benda. Artinya. dogmatisme adalah kesadaran yang tidak direfleksikan atau kesadaran yang tidak disadari. Melalui hermeneutik dapat dipertautkan antara tradisi-tradisi yang berbedabeda dari para individu. Melalui bantuan psikoanalisa dan kritik ideologi. pemahaman hermeneutis ini pun dibimbing atau diarahkan oleh suatu kepentingan manusiawi juga. Kepentingan itu adalah kepentingan konstitutif bagi pengetahuan yang menentukan syarat-syarat obyektivitas bagi pengetahuan. tidak ada keterkaitan langsung antara tindakan mengetahui dan penggunaan pengetahuan yang dihasilkannya. kepentingan teknis atau praktis diasalkan dari kepentingan emansipatoris. Ketiga.di dalam sejarah hidup individu maupun tradisi sosial tempat ia hidup. Skema pemikiran Sosio-epistemologi Habermas.

ego menjadi transparan terhadap dirinya sendiri dan terhadap asal-usul kesadarannya sendiri. Fichte menjelaskan bahwa semua bentuk pengetahuan secara hakiki mengandaikan kebutuhan akan kebebasan.dihipotesiskan dan berlaku umum. Habermas. Bagi Habermas. merupakan tindakan emansipatoris. pengetahuan atau ilmu dan kepentingan adalah satu”. Tindakan rasio itulah yang disebut sebagai “refleksi-diri”. pemahaman sekaligus pembebasan dari belenggu dogmatis (Habermas 1972:208). Kegiatan tersebut di dorong oleh kepentingan yang melekat di dalam rasio manusia itu sendiri. Akhirnya. Habermas bermaksud menjelaskan bahwa kepentingan teknis dan kepentingan praktis kegiatan-kegiatan kognitif itu berakar pada kepentingan rasio itu sendiri. bahwa di dalam refleksi diri maka kesadaran dan tindakan emansipatoris benar-benar menyatu. dalam hal ini. kerja dan komunikasi. Kebebasan itulah yang seterusnya memungkinkan manusia mencapai otonomi dan tanggung jawab.314) secara tegas mengatakan bahwa sebenarnya: “Dalam kekuatan refleksi-diri. . Praksis sosial dalam pandangan Habermas dapat diwujudkan di dalam dua hal yaitu. Kenyataan tersebut. semua bentuk pengetahuan didorong oleh kepentingan emansiptoris dan tanggung jawab secara luas dan mendasar. di dalam kegiatan refleksi sebagai suatu kegiatan kognitif. Habermas (1972: 209. Skema Sosio-epistemologi tersebut memperlihatkan adanya tindakan rasio yang menyebabkan ego membebaskan diri dari dogmatisme atau kesadaran palsu. Melalui refleksi diri. orang sebagai ego tidak hanya memiliki kesadaran baru tentang dirinya sendiri. melainkan kesadaran baru itu juga terus mengubah hidup eksistensialnya sendiri. mendahului refleksi-diri sebagaimana kepentingan itu merealisasikan dirinya di dalam kekuatan emansipasi yang dihasilkan melalui refleksi-diri”. Inti kedua hal tersebut adalah pada pembebasan manusia secara total dan kedewasaan dalam bertanggungjawab. Penegasannya ini menunjukkan bahwa. Artinya. Bentuk pengetahuan ini erat kaitannya dengan proses pembentukan diri manusia sebagai individu maupun lewat kebersamaannya dalam suatu komunitas. melalui skema pemikiran Sosioepistemologi ini terlihat suatu pertautan dialektis antara refleksi diri dan tindakan emansipatif atau praksis. Akhirnya. pengetahuan maupun bagi praksis. proses tersebut dikondisikan oleh suatu kepentingan emansipatoris. bagi Habermas. yaitu kepentingan emansipatoris. yakni kepentingan emansipatoris. menjelaskan bahwa refleksi-diri adalah intuisi sekaligus emansipasi. “Refleksi-diri” adalah kegiatan kognitif yang memuat kekuatan emansipatoris. Singkatnya. kepentingan emansipatoris yang membimbing rafleksi-diri ini bersifat konstitutif baik bagi ilmu. Alasannya. tindakan emansipatoris. Rasio itu sendiri secara langsung menjadi praksis di dalam refleksi diri sebagai kegiatan kognitif manusia. Artinya.

primordialis. Masyarakat rasional. Masyarakat rasional itulah yang merupakan realisasi sejati dari citacita pencerahan. sejarah manusia adalah sejarah yang menuju kepada masyarakat yang semakin rasional. Menurutnya. pemikiranpemikiran mengenai rasionalisasi di atas bersifat timpang karena cenderung dilepaskan dari konteksnya yang sesungguhnya. Masyarakat rasional tersebut menentukan diri melalui komunikasi argumentasi dan pembebasan diri secara total dan radikal diri dari kekuasaan atau kenikmatan rasio teknologis. Habermas menolak postulat Ilmu bebas nilai (Habermas 1972:302-304). Misalnya. yaitu interaksi atau komunikasi. Kenyataan seperti itulah yang dinyatakan di dalam orientasi pemikiran yang secara sistematis berusaha membentuk “kesadaran palsu” individual yang anarkhis. 1990:1670). ideologis dan birokratis. Menurutnya. Habermas berusaha mengatasi kebuntuan pemahaman para pendahulunya mengenai konsep rasionaliasasi yang bersifat timpang. Pengabaian dimaksud. mengarah pada pengingkatan stabilitas sistem kekuasaan dan memperkuat struktur-struktur kekuasaan yang represif (bdk.(4). letak watak “ideologis” dan “teknokratis” rasionalisasi justru pada pengabaian aspek interaksi atau aspek praksis-nya. telah menjerumuskan rasio pada sebuah kesadaran yang hanya bersifat teknokratis. Jadi. menghendaki perbedaan.. Ciri rasionalitas itu lah yang semakin mematangkan eksistensi mereka sebagai masyarakat rasional modern. Habermas menunjukkan bahwa kebekuan dan kebuntuan konsep rasionalisasi tersebut harus diatasi dengan menunjukkan pada potensi komunikasi dari rasio itu sendiri. namun akhirnya. dan anti-sistem. Max Weber (penganut Teori Tradisional) yang memahami Rasionalisasi secara empiris sehingga telah menempatkan rasio sebagai proses tindakan-tindakan bertujuan yang berlaku normatif (umum). . Menurutnya. Struktur rasionalitas masyarakat yang terinstitusionalisasi lewat kebudayaan yang merupakan proses-proses belajar masyarakat pada tingkat yang lebih tinggi. Bagi Habermas. Proses tersebut akan semakin terbuka untuk meneropong bahaya perbudakan irrasionalitas yang bersembunyi di balik pluralisme dan toleransi dangkal yang sama besarnya dan jauh lebih tajam. evolusi sosial dan proses belajar masyarakat memiliki fungsi perintis dalam pengembangan kehidupan masyarakat rasional. postulat demikian pada dasarnya berakar dalam pendekatan positivistik untuk menentukan obyektivitas keilmuannya yang bersifat murni. Johnsos. bukan bersifat pesimistik. Kecenderungan yang sama terdapat pula dalam pemikiran Herbert Marcuse (penganut Teori Kritis) yang hanya membatasi pandangan kritisnya atas rasionalisasi teknologis. akhirnya. sebab selalu berusaha mengatasi dan melampaui realitasnya dengan mengangkatnya pada taraf kehidupan yang lebih memadai melalui komunikasi rasional intersubyektif yang mengarah pada praksis. Komunikasi Rasional (Habermas 1992:314-326).

Sementara disebut “kalimat protokol” karena isinya merupakan laporan tentang suatu pengamatan sederhana (Magnis Suseno 1992:197). melalui kesepakatan itu. Hal tersebut dilakukan dengan apa yang disebut “kalimat protokol” atau “kalimat basis”. melainkan dalam suatu prapengertian normatif yang mengarah pada kriteria “sukses dalam bertindak”. keabsahan empiris kalimatkalimat basis harus mengacu sepenuhnya pada kriteria yang diterima bersama antarkelompok pekerja yang berhubungan secara intersubyektif. Jelasnya. termasuk ilmu-ilmu sosial harus bersifat netral dalam arti harus bebas nilai. Pendeknya. Kesepakatan itu bukanlah suatu kebetulan yang terjadi di ruang kosong yang tidak rasional. kepastian yang sesungguhnya mengenai hal tersebut harus diperoleh melalui konsensus. Akibatnya. yang berarti bahwa ilmu. Tuntutan penolakan yang sama berlaku juga terhadap Empirisme Logis atau Positivisme Logis yang menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan tentang realitas. Menurut Habermas. tetapi pengertian hanya mungkin tentang fakta sebab fakta adalah obyek pengertian yang pasti. Justru itu. Melalui . tuntutan-tuntutan keilmuan bertolak dari sesuatu yang tampak kontradiktif. fakta bukanlah obyek keputusan melainkan obyek pengamatan. Disebut kalimat basis karena menurut anggapan kaum Positivis Logis kalimat basis merupakan batu bangunan paling dasariah bagi suatu teori ilmiah. ilmu pengetahuan selalu harus mengenai fakta. Menurut Habermas kriteria konsensus yang sama berlaku pula pada keabsahan hipotetis-hipotesis maupun hukum-hukum. yaitu kalimat yang memuat pernyataan tentang suatu pengamatan empiris sederhana. Kenyataan tersebut oleh Habermas disebut sebagai “lingkaran”. termasuk pernyataan-pernyataan ilmu fisika harus dapat dikontrol atau dibuktikan (diverifikasikan) dengan pengamatan-pengamatan empiris yang sifatnya atomistis. Kesepakatan atas kriteria tersebut selalu terintegrasi dalam proses pekerjaan manusia yang dilembagakan oleh masyarakat dalam mempertahankan kehidupan mereka yang terancam. Bagi Positivisme Logis. Habermas menjelaskan bahwa pernyataan-pernyataan teoretis ilmu-ilmu alam (positivis) tidak dikontrol dengan pengamatan. Akibatnya. Meskipun demikian. keabsahan kalimat-kalimat basis dapat dijelaskan secara rasional melalui pendekatan hermeneutis. dan teori ilmu empiris secara menyeluruh.“Positivisme” hanya mau membatasi pengetahuan atau ilmu pada fakta. melainkan melalui pernyataan-pernyataan tentang pengamatan. kedua penyataan tersebut tidak dapat dilepaskan dari suatu “duduk perkara”. ilmu hanya mungkin dalam bidang pengertian. ilmu pengetahuan harus membebaskan diri dari keputusan-keputusan penilaian dan membatasi diri pada pengamatan dan sistematisasinya. yaitu apa yang diungkapkan atau dinyatakan dalam suatu pernyataan. Akhirnya.

dan bentuk kesadaran manusiawi. Ketiganya terkait pada praksis kehidupan sosial manusia. Kritik ideologi dan kritik ilmu. pengetahuan. Pengetahuan merupakan aktivitas. proses penelitian pun dijalankan di bawah norma-norma “kepentingan fundamental” akan pemeliharaan kehidupan melalui kepentingan teknis. terlihat bahwa ilmu-ilmu alam yang teoretis murni pun sejak awal titik tolaknya sudah ditentukan secara normatif oleh nilai-nilai tertentu. akhirnya. Habermas menyikapi postulat kebebasan nilai sebagai ilusi yang berbahaya. pengetahuan dan ilmu dapat menjadi ideologi bila keduanya membeku menjadi kesadaran palsu atau delusi yang merintangi praksis sosial manusia untuk merealisasikan kebenaran. ilmu. Ilmu (Wissenschaft) merupakan salah satu bentuk pengetahuan yang direfleksikan secara metodis. dan ideologi merupakan tiga hal yang saling bertautan. Akhirnya. Keputusan-keputusan normatif yang secara keliru dianggap irrasional pun dapat saja dijelaskan secara rasional. Praktisnya. yang disebutnya sebagai “Kritik ideologi” dan “Kritik ilmu”. karena analisis tersebut harus memperhatikan hubungan dengan aneka kepentingan yang mendasarinya. Setiap ramalan ilmiah dalam bentuk rekomendasi teknisnya harus membutuhkan interpretasi agar cocok untuk diterapkan di dalam situasi konkritnya. Habermas melakukan eksplorasi kritis atas tuntutan-tuntutan ideologi dan ilmu. kemampuan. Jelasnya. Kenyataan tersebut disebabkan oleh adanya realitas kemasyarakatan yang sama sekali tidak dapat ditangkap dalam kerangka peristilahan. Akhirnya. (5). dan kebebasan.hermeneutika atau penafsiran kritis atas kelimat-kalimat tersebut maka. dalam hal ini. Kritik atas kedua tuntutan tersebut dilakukan melalui kritik pengetahuan (Habermas 1972:308-317). tidak bersifat bebas nilai tetapi justru bertaut nilai. Ilmu yang dikatakan bebas nilai pun sebenarnya ditentukan secara normatif oleh suatu kepentingan teknis. Menurut Habermas. melainkan harus dimengerti sebagai totalitas unsur-unsur yang saling bertautan. Kritik atas postulat bebas nilai hendak membongkar selubung-selubung ideologis yang berada di balik tuntutan-tuntutan keilmuan yang kekuasaannya menghalang-halangi emansipasi. postulat bebas nilai harus ditolak. proses. terdapat kesan yang kuat bahwa tuntutan pengetahuan bebas nilai memiliki tendensi ideologis. Melalui refleksi demikian itulah diperlihatkan bahwa ilmu-ilmu tidak dapat dipersatukan dalam sebuah metodologi karena masing-masing . Kritik “Soio-epistemologi” atas sifat ideologis ilmu atau pengetahuan bertujuan untuk mengembalikan refleksi atas ilmu pada refleksi atas pengetahuan. Jelasnya. Analisis sosial. Penentuan tersebut berlangung baik secara metodis maupun secara motivasional. dapat dilihat adanya kesinambungan yang begitu mendalam dengan kehidupan manusia. kebahagiaan. Alasannya.

Ilmu-ilmu empiris-analitis dan historishermeneutis harus dibedakan satu sama lain berdasarkan tiga ciri yang secara mendasar berbeda. Akibatnya. Pertama. Bagi . ilmu-ilmu historishermeneutis tidak dapat membatasi diri pada hipotesis-hipotesis yang ditentukan secara eksternal atau difalsifikasikan lepas dari komunikasi. bahkan tidak dapat direduksikan satu sama lain. manusia sebagai spesies memiliki kepentingan teknis untuk mengontrol lingkungan eksternalnya melalui perantaraan kerja. Kedua. namun tidak dapat sepenuhnya mengobyektivikasi obyeknya. manusia sebagai spesies memiliki kepentingan emansipatoris untuk membebaskan diri dari hambatan-hambatan ideologis. Selanjutnya. syarat-syarat yang memungkinkan bagi pengetahuan dan praksis terletak pada kepentingan-kepentingan yang mengarahkan pengetahuan tersebut. bahasa. Kedua. ilmu-ilmu historis-hermeneutis (ilmu sejarah. Pertama. Prinsipnya. ilmu-ilmu empiris-analitis (ilmu-ilmu alam) memiliki obyek yang dapat diobyektivikasikan sepenuhnya berdasarkan hubungan subyek-obyek. bukanlah norma moral yang boleh atau tidak boleh diikuti secara teologis. Jenis kepentingan dimaksud mewujudkan diri dalam pengetahuan analitis yang disistematisasikan secara metodis menjadi ilmu-ilmu sosial yang kritis atau kritik ideologi. ilmu-ilmu alam tersebut harus menentukan hipotesis-hipotesis dan hukum-hukum atas alam secara eksternal dan keduanya dapat difalsifikasikan. Melalui kritik Sosio-epistemologi yang bersifat transenden-pragmatis itu. Ketiga kepentingan kognitif tersebut menjadi dasar yang bersifat kuasi-transendental bagi model ilmu pengetahuan modern. etika atau ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan) meskipun pada taraf tertentu mengobyektifkan. Sebaliknya. manusia sebagai spesies memiliki kepentingan praktis untuk menjalin saling pemahaman timbal-balik melalui perantaraan bahasa. Kepentingan tersebut mewujudkan dirinya di dalam pengetahuan interpretatif yang disistematisasikan secara metodis menjadi ilmu-ilmu historis-hermeneutis. Kepentingan tersebut mewujudkan dirinya di dalam pengetahuan informatif yang secara metodis disistematisasikan menjadi ilmu-ilmu empiris analitis. Kecenderungan tersebut hanya dapat melahirkan sebuah sistem kesatuan ilmu yang bersifat ideologis.memiliki kemungkinan kondisi atau syarat yang berbeda-beda. Ketiga. Habermas menegaskan bahwa ketiga kepentingan itu tidak bersifat saling mengecualikan. ilmu-ilmu alam tersebut harus mengandaikan bahwa keteraturan alam hanyalah merupakan hukum yang mengatur obyek-obyek alamiah atas dasar keniscayaan sebab-akibat. Habermas telah menyegarkan kembali epistemologi transendental Immanuel Kant dan para penerusnya serta mengintegrasikannya ke dalam logika ilmu modern.

Kutub empiris berkaitan dengan kondisi-kondisi sosio-historis manusia yang konkret sebagai spesies yang bernaluri dan berkehendak. memungkiri adanya refleksi diri. dan kemudian merumuskannya dalam teori. Jelasnya. Habermas telah meletakkan sebuah dasar baru bagi dunia keilmuan yang disebut sebagai sosiologi kritis atau kritik ideologi. dan tindakan instrumental pada teknologi. Positivisme. melainkan memberi insight atau pencerahan demi proses pembentukan-diri masyarakat. Ilmu-ilmu kritis. di sinilah letak kekeliruan Positivisme yang telah menerapkan metodologi ilmuilmu empiris-analitis pada ilmu-ilmu historis-hermeneutis. Ilmu-ilmu kritis tidak hanya mendeskripsikan norma atau struktur sosial. proses. justru merupakan metodologi bagi tipe ilmu ketiga. Usaha tersebut dilakukan dengan cara membangun sintesis dialektis antara kategori antropologis dan epistemologi atas ilmu-ilmu kritis dimaksud. Sebagai ilmu emansiparoris. dalam hal ini. Selanjutnya. Konsep yang mampu menampung hubungan itu adalah “kepentingan rasio”. Positivisme sendiri merasa yakin bahwa ilmu-ilmu empiris-analitis identik dengan pengetahuan yang benar. sementara ilmu-ilmu historis-hermeneutis menghadapi sejarah yang tidak dapat diprediksi secara nomologi (hukum). dan hasil kedua tipe ilmu lainnya sebagai obyeknya. melainkan refleksi epistemologis atas metode. yaitu ilmu-ilmu kritis atau sosisologi kritis (kritik ideologi). munculnya kecenderungan yang begitu kuat untuk menjuruskan ilmu-ilmu historis-hermeneutis dengan kepentingan teknis untuk menguasai. Menurutnya. bahkan. penelitian sosial memuat baik keterlibatan maupun distansi atau pembatasan diri dalam komunikasi. merupakan kritik ideologis. hubungan dialektis kedua kategori tersebut bersifat kritis karena menghubungkan kehendak manusiawi dengan pengetahuan yang berada di antara kutub empiris dan transendental. kutub transendent berkaitan dengan pengetahuan yang normatif. ilmu-ilmu kritis berusaha memperlihatkan watak ideologis hasil-hasil kedua tipe ilmu lainnya bila keduanya dalam konteks kehidupan masyarakat telah menghambat praksis. termasuk dirinya sendiri.Habermas. Melalui itu. Prinsipnya. Reduksi semacam itu merupakan sebuah kecenderungan ideologis modern yang harus diatasi. Menurut Habermas. ilmu-ilmu empiris-analitis tidak menghadapi sejarah yang tidak terulangi. Ketiga. Dunia keilmuan . kedua hal itu berlangsung timbal-balik dalam kerangka komunikatif. Hal tersebut begitu kuat di dalam pemikiran Marx. sementara bidang kerja pada bidang tindakan instrumental. Akibatnya. akhirnya. peneliti harus memahami permainan bahasa. Refleksi diri yang dihindari dalam ilmu-ilmu empiris-analitis. Ilmu-ilmu kritis tersebut tidak memiliki obyek ketiga. Kepercayaannya ini tidak memungkinkan. telah mereduksikan bidang komunikasi pada bidang kerja.

Bahasa dalam dunia keilmuan membimbing dan mengarahkan kompetensi serta perilaku kognitif para subyek dalam ekspresi budaya dan tanggung jawab secara bertahap menuju kematangan dan kedewasaan hidup. nyata. mendorong transformasi dan emansipasi di dalam diri para subyek yang berkomunikasi. . Bahasa. dan bahkan telah menggantikan kritik transendental atas kesadaran itu sendiri. Pengenalan antarmanusia tersebut tidak diperoleh melalui paradigma kerja melainkan melalui komunikasi. Kepentingan rasio adalah membebaskan diri dari alam atau hambatan-hambatan sosial. Hal ini disebabkan karena di dalam kerjanya. yang tidak hanya diperoleh melalui tindakan instrumental. Proses itu lah yang menyingkirkan pertentangan dan distorsi yang bersifat sistematis melalui komunikasi (dialog-emansipatoris)yang menghasilkan insight dan pencerahan. Menurut Habermas. Melalui itu. manusia membawa serta tradisi dan penafsiran-penafsiran simbolisnya atas dunianya. Habermas berusaha mengintegrasikan pemikirannya dengan psikoanalisa yang bertautan dengan upaya penyembuhan alam ketidaksadaran dan pengenalan diri yang mewarnai seluruh proses komunikasi. Ringkasnya. melalui Habermas. Melalui bahasa. orang mengungkapkan potensi intelektualnya dan mengkomunikasikannya secara bebas. dalam hal ini menunjukkan bahwa. Demi kememadaian pandangannnya itu. manakala pikiran masyarakat membeku pada salah satu kutub. sifat ideologi tidak berkaitan dengan kerja melainkan dengan struktur interaksi simbolis yang telah menjadi kacau susunannya. orang dapat mengembangkan diri secara utuh di dalam kompetensi-kompetensi komunikasi yang merekonstruksikan prasyarat-prasyarat umum bagi komunikasi bebas penguasaan. kritik ilmu ini menjelaskan bahwa karena komunikasi terungkap lewat bahasa maka komunikasi yang terselubung sekali pun dapat dianalisis dengan sarana analisa bahasa atau kritik bahasa. Ditunjukkan pula bahwa perjuangan kelas dalam ajaran Marx bukanlah kekuasaan suatu kelas atas kelas lainnya. Habermas. bahkan. melainkan sintesis dalam hal saling pengenalan untuk mengatasi ideologi yang dilawankan dengan dialog. Kritik ilmu pada tataran ini berusaha menjernihkan kembali kepentingan emansipatoris melalui dorongan kepentingan itu sendiri.sekaligus bekerja pada dua tataran tersebut secara bertautan dialektis. justru dewasa ini bahasa telah menggantikan masalah tradisonal mengenai kesadaran. Seterusnya. terlihat bahwa struktur-struktur interaksi simbolis pun mengarah pada praksis. dan makin terstruktur di dalam situasi perbincangan. Ditunjukkan bahwa. Melalui bahasa. dapat ditunjukkan adanya sintesis dialektis dalam ilmu. kebekuan pemikiran dapat terjadi karena subyek tidak menyadari kepentingan sesungguhnya dari rasio.

. tanggapan. 1996. Subyek otonom dan berkompetensi rasio komunikatif inilah yang berperan dalam proses institusionalisasi budaya serta memandu proses-proses pembelajaran masyarakat pada tataran kehidupan harian yang sederhana menuju taraf perkembangan yang kompleks.S. terjadi pengungkapan. (belum diterbitkan). J. Proses dialogemansipatoris tersebut itulah yang semakin meningkat dan mengarah pada suatu kebenaran sebagai konsensus. Liberty. obyektivitas ilmu-ilmu historis-hermeneutis dan ilmu-ilmu empirisanalitis tidak dapat dilepaskan dari konsensus para ahli yang terlibat di dalam penelitian. 1995. Yogyakarta --------------Pikiran Sebagai Tenaga Budaya. dan bantahan secara kritis dalam percakan atau dialog yang makin terstruktur.Akhirnya. Sumber: Suriasumantri. The Liang Gie. E. Nyata lah. Yayasan Obor Indonesia. Yogyakarta. para subyek memiliki kasempatan yang sama untuk melibatkan diri dalam perbincangan dan mengemukakan transaksi argumentasi demi persetujuan atau penolakan. Ilmu dalam Perspektif. A. sehingga subyek makin mengalami kematangan. Hal itu terlebih lagi dalam Sosio-epistemologi sebagai bagian dari teori konsensus tentang kebenaran. Watloly. Melalui itu. Kebenaran ilmu mesti dicapai bukan lewat kekuasaan melainkan melalui konsensus-konsensus rasional yang dicapai para subyek yang berkompeten. Obyek yang tampaknya bersifat independen selalu dapat dijadikan petanyaan sebagai obyek pengetahuan yang kemudian diberi arti oleh para subyek. Keraf Gorys. penafsiran. 1992. Jakarta. Gramedia. . Argumentasi dan Narasi. Kanisius. Tanggung Jawab Pengetahuan.. 2001. Justru karena konsensus diandaikan sebagai dasar obyektivitas kebenaran maka jenis pengetahuan ini tidak kebal terhadap evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus. dan keterangan tanpa hambatan. Jakarta. Semua persyaratan itu adalah dalam rangka praksis sebagai usaha mempertautkan pengetahuan dengan kepentingan. Filsafat Ilmu.