BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun wanita
dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Akan
tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering terkena dari
pada pria dengan angka populasi umum kurang lebih 5-15%. Untuk
menyatakan adanya ISK

harus ditemukan adanya bakteri dalam urin.

Infeksi Saluran Kemih Infeksi adalah istilah umum yang dipakai untuk
menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi
ISK dimasyarakat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40-60 tahun
mempunyai angka prevalensi 3,2%. Sedangkan pada usia sama atau 65
tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISk sebesar 20%. ( Muttaqin,
2008 )
Infeksi
perkemihan

saluran
yang

kemih

merupakan

menyebabkan

terjadinya

suatu

gangguan

infeksi

karena

system
bakteri

bernama Escherichia coli (E. coli) yang sering ditemukan dalam tinja
manusia dan dapat hidup di kolon. Selain karena infeksi bakteri, penyebab
lain yang dapat mempengaruhi terjadinya ISK ini karena sering menahan
untuk melakukan kencing, kurang minum, metabolisme tubuh yang
menurun sehingga bakteri mudah menyerang tubuh yang metabolismenya
turun. Dalam hal makanan pun ada yang dapat menyebabkan terjadinya
penyakit infeksi saluran kemih ini yaitu dengan mengkonsumsi kopi serta
1

2

susu secara berlebihan yang menjadi penyebabnya karena air seni yang
melewati saluran kemih mengandung asam urat yang membuat terjadinya
batu ginjal di saluran kemih, dan satu lagi yaitu karena terlalu berlebihan
mengkonsumsi vitamin C dengan dosis yang tinggi. ( Suharyanto, 2009 )
Berdasarkan data WHO (World Health Organization), 2012,
jumlah penderita infeksi saluran kemih di dunia mencapai 8,3 juta orang,
angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 9,7 juta orang pada
tahun 2007. Di dunia, penyakit infeksi saluran kemih termasuk 6 besar
penyebab kematian, diperkirakan 10,000 orang meninggal setiap tahunnya
karena infeksi saluran kemih. Tingginya angka ini banyak disebabkan oleh
kurangnya kebersihan diri. ( WHO, 2012)
Tabel 1.1. Data kasus Infeksi Saluran Kemih di RSUP NTB.2010- 2012.
Jumlah kasus
Laki-laki
(orang)
1.
2010
110
43
2.
2011
96
49
3.
2012
102
50
Jumlah
308
142
(Sumber : Rekam Medik RSUP NTB, 2014)
No.

Tahun

Perempuan
67
37
52
156

Faktor-faktor yang berpengaruh pada ISK akut yang terjadi pada
wanita dapat ditemukan. Mikroorganisme yang paling sering di temukan
adalah jenis bakteri aerob. Selain bakteri aerob, ISK dapat di sebabkan oleh
virus dan jamur. Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan
keseimbangan antar

mikroorganisme infeksi sebagai agent dan epitel

saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh
karena

pertahanan

tubuh

dari host yang

menurun

atau

karena

3

virulensi agent meningkat,

kemampuan host untuk

menahan,

mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain adalah : pertahanan lokal dari host, peranan dari sistem
kekebalan tubuh yang terdiri atas kekebalan humoral maupun imunitas
seluler.
Adapun cara untuk mencegah atau menghindari infeksi saluran
kemih antara lain, di anjurkan untuk sering minum air dan bak sesuai
kebutuhan, untuk membilas mikro organisme yang naik ke uretra, untuk
wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari
kontaminasi lubang uretra oleh bakteri feses dan terapi antibiotic untuk
membunuh bakteri gram positif dan gram negatif. ( Margareth, 2008 )
Dengan demikian, disinilah peran perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan langsung secara mandiri dan sebagai pendidik untuk
memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi
saluran kemih, sehingga penderita dapat menerapkan pola hidup yang sehat
dan untuk menghindari atau mencegah yang menyebabkan penderita harus
mengalami perawatan yang lama dapat dihindari, karena banyak masyarakat
yang kurang mengenal dengan baik dan benar tentang penyakit infeksi
saluran kemih.
Berdasarkan kenyataan di atas, penulis tertarik menyusun proposal
karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan
Sistem Perkemihan Pada Kasus infeksi saluran kemih, di Rumah Sakit
Umum Provinsi Nusa Tanggara Barat.

4

1.2

Rumusan Masalah
Bila penderita ISK tidak di obati dan di berikan perawatan dengan
baik, maka dapat menimbulkan komplikasi dan sering kali memerlukan
pertolongan darurat dan perawatan di rumah sakit yang lama. Tingginya
angka prevalensi penyakit ISK dan belum optimal perawatan dalam
menerapkan peran fungsinya secara profesional baik dalam memberikan
informasi atau penyuluhan secara berkesinambungan mengakibatkan angka
kematian dan kesakitan pada kasus ISK terus meningkat. ( Suharyanto,
2009)
Berdasarkan upaya tersebut maka penulis dapat merumuskan
masalah” Bagaimana cara melaksanakan asuhan keperawatan yang baik dan
benar dengan gangguan sistem perkemihan pada kasus infeksi saluran kemih
di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB”?

1.3

Tujuan Penulisan
1.3.1

Tujuan Umum
Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada
gangguan sistem perkemihan dengan kasus infeksi saluran kemih
melalui pendekatan dan penerapan proses keperawatan secara benar
tepat dan sesuai standar keperawatan secara profesional.

1.3.2

Tujuan Khusus
Di harapkan penulis mampu:
1. Melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada kasus infeksi
saluran kemih dengan penerapan proses keperawatan secara benar
dan tepat sesuai standar keperawatan professional.

5

2. Mengidentifikasi data diagnosa keperawatan pada asuhan
keperawatan dengan gangguan sistem perkemihan pada kasus
infeksi saluran kemih dengan penerapan proses keperawatan
secara benar dan tepat sesuai standar keperawatan professional.
3. Menyusun dan menetapkan rencanaasuhan keperawatan pada
kasus infeksi saluran kemih dengan penerapan proses keperawatan
secara benar dan tepat sesuai standar keperawatan professional.
4. Melakukan tindakan asuhan keperawatan pada kasus infeksi
saluran kemih dengan penerapan proses keperawatan secara benar
dan tepat sesuai standar keperawatan professional.
5. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada kasus infeksi
saluran kemih dengan penerapan proses keperawatan secara benar
dan tepat sesuai standar keperawatan professional.
6. Melakukan pendokumentasi asuhan keperawatan pada kasus
infeksi saluran kemih dengan penerapan proses keperawatan
secara benar dan tepat sesuai standar keperawatan professional.
1.4

Manfaaat Penulisan
1.4.1 Institusi pendidikan
Merupakan bahan evaluasi pendidikan untuk meningkatkan
mutu pendidikan asuhan keperawatan pada gangguan sistem
perkemihan dengan kasus infeksi saluran kemih. Sebagai bahan
acuan di bidang pengetahuan dan pengembangan riset.

6

1.4.2 Rumah sakit
Sebagai acuan bagi rumah sakit dalam menentukan kebijakan
pada masa yang akan datang dan memberi masukan dalam
meningkatkan

mutu

pelayanan

dan

pengawasan

kesehatan

khususnya bagi penderita infeksi saluran kemih.
1.4.3 Perawat
Untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan
asuhan keperawatan pada pasien dan sebagai bahan pengembangan
pengetahuan yang berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi
kekambuhan pada kasus infeksi saluran kemih
1.4.4 Penulis
Dapat

menambah pengalaman dan

pengetahuan untuk

mengaplikasikan ilmu yang di peroleh selama di pendidikan,
khususnya dalam penanganan asuhan keperawatan pada gangguan
sistem perkemihan dengan kasus infeksi saluran kemih.
1.5

Metode Pengumpulan Data
1.5.1

Wawancara
Mengumpulkan data dengan cara melakukan anamnesa
langsung kepada klien (auto anamnesa) dan wawancara dengan
keluarga atau orang lain yang mengetahui informasi tentang klien
allo anamnesa. ( Nursalam, 2008 )

1.5.2

Observasi
Observasi ini di lakukan dengan pemeriksaan fisik dan
pengamatan langsung pada keadaan umum klien, pemeriksaan fisik

7

di lakukan melalui panca indera yaitu inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi.( Nursalam, 2008 )
1.5.3

Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi dilakukan dengan pancaindera dengan cara
mempelajari status klien, dokumen perawatan medik dan dokumen
yang sah. ( Nursalam, 2008 )

1.5.4

Studi Kepustakaan
Dalam kepustakaan ini penulis menggunakan literatur atau
sumber buku yang ada kaitannya dengan permasalahan yang telah
dibahas. (Nursalam, 2008)

1.6

Sistematika Penulisan
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini terdiri dari :
PENDAHULUAN
1.6.1

BAB 1 : Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode
pengumpulan data, dan sistimatika penulisan.
TINJAUAN PUSTAKA

1.6.2

BAB 2 : Tinjauan Pustaka
Bab ini merupakan penguraian dan pembahasan yang secara
garis besar berisi :
1. Konsep Dasar Penyakit
Menguraikan dan membahas tentang pengertian infeksi
saluran kemih, anatomi dan fisiologi, klasifikasi,

8

etiologi,

patofisiologi,

tanda

dan

gejala,

dan

pemeriksaan penunjang.
2. Konsep Asuhan Keperawatan
Yaitu membahas dan menguraikan tentang kasus yang
di jadikan sebagai latihan atau ilustrasi yang terdiri dari:
a.

Pengkajian

b. Diagnosa keperawatan
c. Rencana asuhan keperawatan
d. Tindakan asuhan keperawatan
e. Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

9

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Penyakit infeksi saluran kemih
2.1.1. Definisi
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah berkembang biaknya
microorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal
tidak mengandung bakteri, virus/ microorganisme lain, tempat yang
sering mengalami ISK adalah kandung kemih (sititis), uretra
(uretritis), dan ginjal (fielonefritis), ( Suharyanto, 2009 ).
Infeksi saluran kemih sama dengan sistitis adalah inflamasi
akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh bakteri yang
disebabkan oleh penyebaran infeksi dari bakteri (M. Clevo Rendy,
Margareth, 2012)
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembang
biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan
normal air kemih tidak mengandung bakteri,virus atau mikro
organisme lain. Infeksi saluran kemih dapat terjadi di pria maupun di
wanita dari semua umur,dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita
lebih sering menderita infeksi dari pada pria.(Sudoyo 2009)
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa infeksi
saluran kemih berkembang biaknya Mikroorganisme dalam saluran

10

kemih yang menyebabkan bakteri yang masuk dalam saluran kemih
berkembang biak dapat menimbulkan terjadinya pyelonefritis, gagal
ginjal.
2.1.2. Anatomi dan Fisiologi
1. Anatomi

Gambar 2.1. Anatomi Sistem Perkemihan (Scanlon, 2007)
Sistem perkemihan terdiri dari :
a. Ureter
Ureter

merupakan

saluran

retroperitoneum

yang

menghubungkan ginjal dengn kndung kemih. Pada awalnya,
ureter berjalan melalui fasia gerota dan kemudian menyilang
muskulus psoas dan pembuluh darah iliaka komunis. Ureter

11

berjlan sepanjang sisi posterior pelvis, di bawah vas deferen, dan
memasuki basis vesika pada trigonum. Pasokan darah ureter
berasal dari pembuluh darah renalis, gonad, aorta, iliaka komunis,
dan iliaka enterna. Susunan saraf otonom pada dinding ureter
memberikan aktivitas peristaltik, di mana kontraksi berirama
berasal dari pemacu proksimal yang mengendalikan transport
halus dan efisien bagi urine dan pelvis renalis ke kandung kemih.
( Suharyanto, 2009 )
b. Uretra
Uretra adalah sebuah saluran yang berjalan dari leher
kandung kemih ke lubang luar, di lapisi oleh membran mukosa
yang bersambung dengan membran yang melapisi kandung
kemih. Meatus urinarius terdiri atas serabut otot melingkar,
membentuk sfingter uretra. Panjang uretra pada wanita sekitar
2,5-3,5 cm sedangkan pada pria 17-22,5 cm. ( Suharyanto, 2009 )
c. Kandung kemih
Kandung kemih (vesika urinaria- VU) berfungsi sbagai
penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir atau kendi.
Kandung kemih terletak di dalam panggul besar, di depan isi
lainnya, dan di belakang simpisis pubis. Pada banyi letaknya lebih
tinggi. Bagian bawah adalah basis sedangkan bagian atas adalah
fundus penegaknya mengarah ke depan bawah dan ada di
belakang simpisis. Dinding kandung kemih terdiri atas lapisan
serus sebelah luar, lapisan berotot, lapisan sub mukosa, dan

12

lapisan mukosa dari epithelium transisional. Tiga saluran
bersambung dengan kndung kemih. Dua ureter bermuara secara
oblik sebelah basis, letak oblik menghindar urine mengalir
kembali kedalam ureter. Uretra keluar dari kandung kemih
sebelah depan. Daerah segitiga antara lubang ureter dan uretra di
sebut segitiga kandung kemih (trigonum vesica urinarius). Pada
wanita, kandung kemih terletak di antara simpisis pubis, utrus,
dan vagina. Dari uterus, kandung kemih di pisahkan oleh lipatan
peritoneum ruang utero- vesikal atau ruang douglas. ( Suharyanto,
2009 )
d. Bladder training
Bladder training adalah latihan kandung kemih yang
bertujuan untuk mengembangkan tonus otot dan spingter kandung
kemih agar berfungsi optimal. Bladder training adalah latihan
kandung kemih setelah kateter terpasang dalam waktu lama.
Bladder training biasanya di gunakan untuk stress inkontinensia,
desakan inkontinensia, atau kombinasi keduanya yang di sebut
inkontinensia campuran.
e. Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, berwarna
merah tua, terletak di kedua sisikolumna vertebralis. Ginjal
terlindungi dengan baik dari trauma langsung karna di sebelah
posterior di lindungi oleh tulang kosta dan otot- otot yang meliputi
kosta, sedangkan di bagian anterior di lindungi oleh bantalan usus
yang tebal. Ginjal kanan sedikit lebih rendah di bandingkan

13

dengan ginjal kiri karna tertekan ke bawah oleh hati. Pada orang
dewasa ginjal panjangnya 12- 13 cm, tebalnya 6 cm dan beratnya
120-150 gram,
Ginjal melakukan fungsi vital sebagai pengaturan volume dan
komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan
mengekskresikan solute dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal
di lakukan dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus di
ikuti dengan reabsobsi sejumlah solute dan air dalam jumlah yang
tepat di sepanjang tubulus ginjal, kelebihan solute dan air akan di
ekskresikan ke luar tubuh sbagai air kemih sebagai system
pengumpul.

Gambar 2.2 Anatomi Ginjal (Scanlon,2007)

14

b. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan dua daerah yang
berbeda yaitu korteks dan medulla.
1) Korteks : bagian luar dari ginjal
2) Medulla: bagian dalam dari ginjal
3) Pyramid : medulla yang terbagi-bagi menjadi baji segitiga
4) Kolumna bertini: bagian korteks yang mengelilingi pyramid
5) Papilaris berlini: papilla dari tiap pyramid yang terbentuk

dari persatuan bagian terminal dari banyak duktus
pengumpul
6) Pelvis : reservoir utama system pengumpul ginjal
7) Kaliks minor : bagian ujung pelvis berbentuk seperti cawan

yang mengalami penyempitan karena adanya duktus
papilaris yang masuk ke bagian pelvis ginjal.
8) Kaliks mayor : kumpulan dari beberapa kaliks minor

Bagian korteks merupakan bagian luar yang
berhubungan langsung dengan kapsul, sedang medulla
merupakan bagian dalam yang berada dibawah korteks.
Medulla ginjal terbagi menjadi beberapa massa jaringan
berbentuk kerucut yang disebut piramida ginjal, terdapat 12
sampai 18 piramida tiap ginjal. Kolumna dari bertin
merupakan

tonjolan

korteks

kedalam

medulla

dan

memisahkan medulla. Ujung atau akhir piramida disebut
papilla yang menyalurkan urine yang terbentuk kedalam “
collectim system” dan berhubungan dengan kaliks minor.

15

Beberapa kaliks minor bergabung membentuk kaliks
mayor, dimana kaliks mayor akan bergabung lagi
membentuk pelvis renal yang terletak diatas ureter.
Aliran darah ke ginjal berasal dari arteri renal,
merupakan arteri tunggal (end artery) cabang dari aorta
abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena
renalis yang bermuara ke dalam vena cava inferior. Saluran
getah bening (limfe) dari ginjal mengalir ke kelenjar limfe
di hilus renalis selanjutnya ke kelenjar limfe paraaorta.
Persyaratan dari ginjal dilaksanakan oleh system otonom,
yaitu simpatis dan parasimpatis. Bila diperiksa secara
hitologik maka ginjal terdiri dari satuan unit fungsional
yang disebut nefron, masing-masing ginjal terdapat 1 juta
sampai 1,25 juta nefron, semua berfungsi sama dan
independen. Tiap nefron terbentuk dari dua komponen
utama : Glomerulus dan kapsula Bowman‟s tempat air dan
larutan difiltrasi dari darah dan, tubulus yang mereabsorpsi
material penting dari filtrate dan memungkinkan bahanbahan sampah dan material yang tidak dibutuhkan untuk
tetap dalam “filtrate” (material hasil filtrasi glomerulus) dan
mengalir ke pelvis renalis sebagai urine. Glomerulus terdiri
atas sekumpulan kapiler-kapiler yang mendapat suplai
nutrisi dari arteriole afferent dan diperdarahi oleh arteriole
afferent. Glomerulus dikelilingi oleh kapsula bowman‟s

16

arteriole afferent mensuplai darah ke kapiler peritubuler.
Cairan filtrate dari kapiler masuk ke kapsula kemudian
mengalir kedalam system tubular, yang terdiri atas empat
bagian:
1) Tubulus proksimus
2) Ansa henle
3) Tubulus distalis
4) Tubulus kolegentes

Berdasarkan letak nefron pada massa ginjal, ada dua tipe
nefron:
a) Nefron kortikal
b) Nefron jukstamedular

Nefron yang meiliki glomerulus dan terletak diluar korteks
disebut nefron kortikal, nefron tersebut mempunyai ansa
henle pendek yang menembus kedalam medulla dengan
jarak dekat. Nefron jukstamedular kira-kira 20% sampai
30% mempunyai glomerulus dan terletak di korteks renal
sebelah dalam dekat medulla, nefron ini mempunyai ansa
henle yang dan masuk sangat dalam ke medulla, pada
beberapa tempat semua berjalan ke ujung papilla renal.
Struktur vaskuler yang menyuplai nefron jukstamedular
juga berbeda dengan yang menyuplai nefron kortikal. Pada
nefron kortikal, seluruh system tubulus dikelilingi oleh

17

jaringan kapiler peritubular yang luas, sedangkan pada
nefron jukstamedular, arteriol afferent panjang akan meluas
dari glomerulus turun ke bawah menuju medulla bagian
luar dan kemudian membagi diri menjadi kapiler-kapiler
peritubular khusus yang disebut vasa rekta, meluas ke
bawah menuju medulla dan terletak berdampingan dengan
ansa henle. Seperti ansa henle, vasa rekta kembali menuju
korteks dan mengalirkan isinya kedalam vena kortikal,
jaringan kapiler khusus dalam medulla ini memegang
peranan penting pembentukan urine pekat.
2. Fisiologi
Ginjal melakukan fungsi yamg paling penting
dengan menyaring plasma dan memindahkan zat dari fitrat
dengan kecepatan yang berfariasi bergantung pada kebutuhan
tubuh. Akhirnya ginjal membuang zat yang tidak di inginkan
dengan filtasi darah dan menyekresi ke dalam urin. Sementara
zat yang di butuhkan masuk kembali dalam darah. Untuk
mempertahankan homeostasis ekskresi air dan elektrolit sesuai
dengan asupan, bila mlebihi ekskresi jumlah zat dalam tubuh
akan mengikatnya.

Jika asupan dari ekskresi, jumlah zat

dalam tubuh akan berkurang.
Kapasitas ginjal untuk mengubah ekskresi naturium
sebagai respon terhadap perubahan asuhan naturium sangat
besar, menunjukan bahwa pada manusia normal naturium

18

dapat di tingkatkan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan air dan
kebanyakan elektrolit lainnya, seperti klorida, kalium,
kalsium, hydrogen, magnesium dan fosfat fungsi system
homeo stasis urinaria :
a. Mengatur folume dan tekanan darah dengan mengatur
banyaknya air yang hilang dalam urin, melepaskan
eritropoietin dan melepaskan rennin
b. Mengatur kosentrasi plasma dengan mengontrol jumlah
naturium, kalium, klorida, dan ion lain yang hilang dalam
urin dan mengontrol kadar ion kalsium.
c. Membantu menstabilkan pH darah, dengn mengontrol
kehilangan ion hydrogen dan ion bikarbonat dalam urin.
d. Menyimpan nutrien dengn mencegah pengeluaran dalam
urin, mengeluarkan produk sampah nitrogen seperti urea
dan asam urat.
e. Membantu dalam mendeteksi racun.
Zat yang di butuhkan tubuh akan beredar kembali ke
dalam tubuh melalui pembuluh kapiler darah ginjal darah
masuk ke dalam pembuluh darah beredar ke seluruh tubuh.
Ginjal

berperan

dalam

homeostasis

(

Pemeliharaan konsentrasi) secaara lebih ekstensif di
bandingkan dengan organ – organ lain. Ginjal mengatur
komposisi elektrolit, volume, dan pH lingkungan internal
dan meng eleminasi semua zat sisa metabolism tubuh,

19

kecuali Co2 yang di keluarkan oleh system pernafasan.
Ginjal melaksanakan fungsi pernafasan ini dengan
mengiliminasi zat – zat tidaak di butuhkan oleh tubuh
melalui urin, misalnya zat sisa metabolisme dan kelebihan
garam atau air.
Sementara menahan zat yang bermanfaat bagi tubuh.
Organ ini juga mampu mempertahankan konstituen –
konstituen plasma yang konsentrasinya di jaga dalam
rentang sempit

agar

tidak mengganggu

kehidupan

walaupun pemasukan dan pengeluaran kontituen tersebut
dari jalan lain sangat bervariasi. Sebagai gambaran
seberapa besar tugas ginjal , kira- kira seperempat dari
seluruh darah di pompa ke dalam sirkulasi sistemik ke
ginjal, kira- kira seper empat dari seluruh daarah di
pompakan ke dalam sirkulasi sistemik ke ginjal, untuk di
sesuaikan

atau

di

murnikan

perempatnya yang di gunakan

dengan

hanya

tiga

untuk pemasok seluruh

jaringan lain.
Menurut Syaifuddin, 2011 Cara spesifik yang di lakukan
ginjal untuk membantu homeostatis meliputi:
a. Fungsi regulasi
1) Ginjal mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian
besar elektrolit CES termasuk elektrolit- elektrolit
yang penting untuk ekstibilitas muskulus.

20

2) Ginjal berperan memperthankan pH yang sesuai
dengan meng eliminasi kebersihan H+ (Asam) atau
HCO3 (Basa) dalam urin
3) Ginjal membantu mempertahankan volume plasma
yang sesuai, yang penting untuk pengaturan jangka
panjang tekanan darah arteri dengan mengontrol
keseimbangan garam dalam tubuh. volume CES
termasuk volume plasma, adalah cerminan dari
beban garam total dalam CES, karna Na+ dan anion
penyertanya CI- menentukan lebih dari 90%
aktivitas osmotic (menahan air) CES
4) Ginjal mempertahankan keseimbangan air dalam
tubuh,

yang

penting

untuk

mempertahankan

keseimbangan air dalam tubuh, yang penting untuk
memeperthankan

osmolaritas

(konsentrasi

zat

terlarut) CES yang sesuai. Peran ini penting untuk
mempertahankan stabilitas volume sel darah
mencegah sel membengkak atau menciut akibat
masuk dan keluarnya air secara osmosis berturutturut.
b. Fungsi ekskresi
1) Ginjal meng ekskresi produk – produk akhir
metabolism dalam urin. Zat- zat sisa ini bersifat
tosik bagi tubuh apabila tertimbun.

21

2) Ginjal juga meng ekskresi banyak senyawa asing
yang masuk ke dalam tubuh.
c. Fungsi hormonal
1) Ginjal menyekresi eritropoitin, hormone yang
merangsang fungsi sel darah merah oleh sum- sum
tulang. Fungsi ini berperan dalam homeostatis
dengan membantu mempertahankan kandungan O2
dalam darah terkait ke hemoglobin di dalam sel
darah merah.
2) Ginjal menyekresi renin, hormone yang mengawali
jalur

renin-

angiotensin

mengatur reabsorbsi Na+
penting dalam

-

aldosteron

untuk

oleh tubulus, yang

pemeliharaan

jangka

panjang

volume plasma dan tekanan darah arteri.
3) Fungsi metabolisme. Ginjal membantu mengubah
vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Vitamin D
penting penyerapan Ca++ dari daluran pencernaan.
Kalsium

sebaiknya

memiliki

banyak

fungsi

homeostatik.
2.1.3. Etiologi
Menurut (Liamidar, 2002) Etiologi infeksi saluran kemih meliputi:
1) Jenis jenis mikro organism yang menyebabkan ISK,antara lain :
a. Escherichia Coli:90% penyebab ISK uncomplicated (simple)

22

b. Pseudomonas ,proteus, klebsiella :penyebab ISK complicated
c. Entrobacter,staphylococcus epidemidis,entrococci, dan lainlain
2) Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut,antara lain:
a. Sisa urin dalam kndung kemih yang meningkat akibat
pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
b. Mobilitas menurun
c. Nutrisi yang sering kurang baik
d. Sistem imunitas menurun ,baik seluler maupun humoral
e. Adanya hambatan dalam aliran urin
2.1.4. Patofisiologi
Menurut ( Syaifuddin, 2011 ) patofisiologi infeksi saluran kemih
sebagai brikut :
1) Infeksi saluran kemih atas ( Pielonefritis)
Pielonefritis adalah radang saluran kemih disertai paling
sedikit 2 kelainan dalam kaliks ginjal. Pielonefritis merupakan
penjalaran dari infeksi di tempat lain ( sepsis/bakteriemia)
a. Penjalaran Limfogen
Terutama dari tractus Gastroinstestinalis (ada hubungan
langsung antara KGB kolon dan ginjal).
b. Penjalaran Ascending
Yaitu melalui Lumen Tractus Uranius (dengan adanya
refluks/radang mikroskopik sepanjang ureter).

23

Pielonefritis dapat timbul dalam bentuk akut maupun kronis.
Dimana pielonefritis akut disebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi
bakteri terjadi karena bakteri menjalar ke saluran kemih dari aliran
darah. Walaupun pielonefritis akut secara temporer dapat
mempengaruhi fungsi renal, jarang sekali menjadi suatu
kegagalan ginjal.
Pielonefritis kronis juga berasal dari infeksi bakteri, namun
juga factor-faktor lain seperti refluks, urin, dan obstruksi saluran
kemih turut berperan fielonefritis kronis merusak jaringan ginjal
untuk selamanya (irreversible) akibat inflamasi yang berulang kali
dan timbulnya jaringan parut. Proses perkembangan kegagalan
ginjal kronis dan infeksi ginjal yang berulang-ulang berlangsung
beberapa tahun atau setelah infeksi yang gawat. Diduga bahwa
fielonefritis menjadi diagnose yang sungguh-sungguh dari satu per
tiga orang yang menderita kegagalan ginjal kronis.
2) Infeksi saluran kemih bawah (sistitis, uretritis)
Kebanyakan saluran infeksi kemih bawah iyalah oleh
organisme geram negative seperti E. Colli, Psedomonas,
Klebsiela, Proteus yang berasal dari saluran intestinum orang itu
sendiri dan turun melalui urethra ke kandung kencing. Pada waktu
mikturisi, air kemih bias mengalir kembali ke ureter (vesicouretral
refluks) dan membawa bakteri dari kantong kemih keatas ke
ureter dank epelvis renalis. Kapan saja terjadi urin statis seperti
maka bakteri mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk

24

bertumbuh dan menjadi media yang lebih alkalis sehingga
menyuburkan pertumbuhannya.
Infleksi saluran kemih dapat terjadi jika resistansi dari
orang itu terganggu. Factor-faktor utama dalam pencegahan
infleksi saluran kemih adalah integritas jaringan dan suflai darah.
Letak dari permukaan lapisan jaringan mukosa memungkinkan
bakteri masuk menyerang jaringan dan menyebabkan infeksi.
Pada kandung kemih suflai darah ke jaringan bias kompromi bila
tekanan didalam kandung kemih meningkat sangat tinggi

25

2.1.5. Pathway
Klainan
kongenital

Obstruksi &
gangguan

Mikroorganisme
kateterisasi

Kelainan
anatomi

Reflek pengaliran
tidak lancar

ISK bawah kurang
personal hygiene

Ureter sempit

Urine statis di
vesika urinaria

Uretra

Fungsi katub
uretrovesikule
r

Kurangnya
pengetahuan

Peny. Kronis,
DM, Peny. Ginjal

Infeksi (ginjal)

Penimbunan
cairan & kuman

obstruksi
Aliran balik
Jaringan parut
Perkembangan
kuman meningkat

Reflek
renointestin

ISK
Respon
peradangan
Rasa sakit & panas
pada simpisis, Dysuria
Nyeri akut

Distensi, nyeri
pinggang

Mual

Terjadi peradanagn
pada mukosa
Kandung kemih tidak
kuat menampung urine

Cemas

Muntah

Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh

Urgency
Gangguan pola
Eliminasi Urine
Gambar 2.3 Pathway Infeksi saluran kemih, ( Suharyanto, 2009 )

26

2.1.6. Tanda dan Gejala
Menurut ( Mansjoer, 2000) Tanda dan gejala infeksi saluran kemih
meliputi :
Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
1. Mukosa memerah dan oedema
2. Terdapat cairan eksudrat yang purulen
3. Ada ulserasi pada uretra
4. Adanya rasa gatal yang menggelitik
5. Adanya nanah awal miksi
6. Nyeri pada saat miksi
Nyeri di klasifikasikan menjadi beberapa macam :
a. Menurut sifat
1) Seperti di iris benda tajam
2) Seperti di tusuk pisau
3) Seperti terbakar
4) Seperti di remas - remas
b. Menurut berat ringannya
1) Nyeri ringan
2) Nyeri sedang
3) Nyeri berat
c. Menurut waktu
1) Nyeri akut
2) Nyeri kronis

27

d. Skala nyeri Menurut Mc. Gill
1) 0 : Tidak nyeri
2) 1 : Nyeri ringan
3) 2 : Tidak sedang
4) 3 : Nyeri menekan/ distress
5) 4 : Sangat nyeri
6) 5 : Nyeri yang menyiksa
Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :
1) Disuria ( Nyeri waktu berkemih)
2) Peningkatan frekuensi berkemih
3) Perasaan ingin berkemih
4) Adanya sel – sel darah putih dalam urin
5) Nyeri punggung bawah atau suprapubik
6) Demam yang di sertai adanya darah dalam urin pada kasus
yang parah.
Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala :
1) Demam
2) Menggigil
3) Nyeri pinggang
4) Disuria

28

2.1.7. Faktor Resiko Infeksi Saluran Kemih
Menurut ( Mansjoer, 2000) Faktor resiko infeksi saluran kemih
sebagai brikut :
1. Wanita cenderung mudah terserang di bandingkan dengan lakilaki. Factor- factor postulasi dari tingkat infeksi yang tinggi terdiri
dari uretra dekat kepala rektum dan kurang proteksi sekresi prostat
di bandingkan dengan pria.
2. Abnormalitas structural dan fungsional
Mekanisme yang berhubungan statis urin yang merupakan media
untuk kultur bakteri, refluks urin yang infeksi lebih tinggi pada
saluran kemih dan peningkatan tekanan hidrostaltik. Contoh :
striker, anomali ketidak sempurnaan hubungan uretero vecisalis
3. Obstruksi
Contoh : tumor, hipertrofi prostat
4. Gangguan intervasi kandung kemih
Contoh : Malformasi sum- sum tulang belakang congenital,
multiplesklerosis.
5. Penyakit Kronis
Contoh : Gout, DM, Hipertensi, penyakit stickle cell.
6. Instrumentasi
Contoh : Prosedur kateterisasi
7. Penggunaan fenasetin secara terus menerus dan tidak pada
tempatnya.

29

2.1.8. Komplikasi
Menurut ( Suharyanto, 2009) Komplikasi yang dapat terjadi pada
infeksi saluran kemih meliputi :
1. Pyelonefritis
Infeksi yang naik dari ureter ke ginjal, tubulus reflux
urethrovesikal dan jaringan intestinal yang terjadi pada satu atau
ke dua ginjal.
2. Gagal ginjal
Terjadi dalam waktu yang lama dan bila infeksi sering berulang
atau tidak di obati dengan tuntas sehingga menyebabkan
kerusakan ginjal baik secara akut dan kronik.
3. Pembentukan Abses ginjal atau perirenal
Peradangan ginjal akibat infeksi. Di tandai denganpembentukan
sejumlah bercak kecil ber nanah atau abses yang lebih besar yang
di sebabkan oleh infeksi yang menjalar ke jaringan ginjal melalui
aliran darah.
4. Kolik renal
Nyeri hebat yang biasanya di daerah antara iga dan panggul, yang
menjalar sepanjang abdomen dan dapat berakhir pada area genital
dan paha bagian dalam.
2.1.9. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik menurut (Suharyanto, 2009 ) meliputi :
1. Labolatorium

30

a. Analisa urin : terdapat leukosit, eritrosit, crystal, puss,bakteri
dan Ph meningkat
b. Urin kutur
Untuk menentukan kuman atau penyebab infeksi saluran kemih
misalnya streptococcus, E coli
c. Darah : Terdpat peningkatan leukosit ureum,dan kreatinin
Blass Nier Ophage- intra venous Pyologram ( BNO-IVP)
1) Menunjukan konfirmasi yang cepat tentang penyebab
nyeri Abdominal, panggul
2) Menunjukan abnormalitas anatomi saluran perkemihan
a) Cystocopi: mengetahui kerusakan dari serabut- serabut
otot pada kandung kemih
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Pemeriksaan ultra sound
Untuk mendeteksi abnormalitas. Organ- organ dalam system
urinarius : abnormalitas adanya akumulasi cairan, massa,
malformasi, perubahan ukuran organ ataupun adanya
obstruksi.
b. Pemeriksaan dengan sinar-X
1) Kidney, Ureter, dan Bladder (KUB)
Untuk melihat ukuran, bentuk serta posisi ginjal dan
meng identifikasi ke lainan seperti : tumor atau
pergeseran ginjal akibat abnormalitas jaringan sekitarnya.

31

2) Computed Tomography ( CT) dan Magnetic Resonance
Imanging (MRI)
Merupakan teknik inovatif yang memberikan gambaran
penampang ginjal serta saluran kemih ukuran, serta
bentuk ginjal : hidronefrosis, kista, tumor
3) Urografi Intravena ( Intravenous Pyelogram atau IVP)
Memungkinkan visualisasi ginjal, ureter dan kandung
kemih.
2.10 Penatalaksanaan
Menurut (Rendi dan Margareth, 2012 ) Penatalaksanaan pada infeksi
saluran kemih meliputi :
1. Penatalaksanaan Medis
a. Pengobatan nonfarmakologi
1) Penyuluhan
Penyuluhan

ditujukan

untuk

peningkatan

pengetahuan klien tentang penyakit infeksi saluran kemih
sehingga klien secara sadar menghindari faktor-faktor
pencetus,

menggunakan

obat

secara

benar,

dan

berkonsultasi pada tim kesehatan.
2) Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus
infeksi saluran kemih yaitu menjaga kebersihan diri
diajarkan

cara

menghindari

dan

mengurangi

faktor

pencetus, termasuk pada wanita, Membersihkan perineum

32

dari depan ke belakang ,Pakaian dalam dari bahan katum
Menghindari kopi, alcohol
3) Pengobatan farmakologi
Antibiotik: Untuk menghilangkan bakteri
a) Anti biotik jangka pendek dalam waktu 1-2 minggu
b) Anti biotik jangka panjang (baik dengan obat yang sama
atau dig anti) dalam jangka waktu 3- 4 minggu.
c) Pengobtan profilaktik dengan dosis rendah 1x sehari
sebelum tidur dalam waktu 3- 6 bulan atau lebih ini
merupakan pengobatan lanjut bila ada komplikasi lebih
lanjut.
d) Analgetik dan Anti spasmodic
Untuk mengurangi rasa nyeri yang di rasakan oleh
penderita
e) Obat golongan venozopyridine : Pydium. Untuk
meredakan gejala iritasi pada saluran kemih.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Observasi keadaan pasien, meliputi :
1) Tekanan darah
2) Suhu tubuh
3) Nadi
4) Tingkat kesadaran bila ada penurunan kesadaran segera
lapor kepada dokter.

33

Tujuan

observasi

keadaan

ini

adalah

untuk

mengetahui perubahan yang terjadi pada pasien, sehingga
dapat segera dilaporkan kepeda dokter untuk segera di
tanggulangi.
b. Mengawasi pemberian cairan melalui infus
Cairan harus cukup diberikan, karena biasanya
terjadi kehilangan banyak cairan akibat retensi urin dan
lain-lain, dan anjurkan pasien untuk minum secukupnya.
c. Selama pasien merasakan nyeri yang sangat sakit harus
istirahat di tempat tidur dan kebutuhan pasien sehari-hari
dibantu oleh perawat sesuai dengan kemampuannya, seperti
: makan, minum, defekasi dan kebersihan umum pasien.
d. Mengatur posisi tidur semi fowler.
e. Istirahat yang cukup agar nyeri bisa berkurang atau
terkontrol
f. Pada waktu serangan timbul, berikan makanan yang lunak
dan diberikan minum air hangat.
g. Ruangan cukup penerangan ventilasi dan fasilitas memadai
sehingga suasana nyaman

dan pertukaran udara dalam

ruangan lancar.
h. Menjaga kebersihan klien tempat tidur dan sekitar ruangan
sehingga pasien merasa segar dan nyaman.

34

4.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien infeksi saluran
kemih hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan
proses keperawatan. Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik
untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah dan membuat
rencana keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah
tersebut. Masalah-masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien
keluarga juga orang terdekat atau masyarakat. Proses keperawatan
mendokumentasikan kontribusi perawat dalam mengurangi atau mengatasi
masalah-masalah kesehatan. (Hidayat, 2007 )
Proses keperawatan terdiri dari enam tahapan, yaitu: pengkajian
diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.
( Hidayat, 2007)
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien ( Hidayat,)
Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu yang meliputi
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan
membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan
penderita, mengidentifikasikan, kekuatan dan kebutuhan penderita

35

yang dapat diperoleh melalui anamneses, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Identitas penderita
Meliputi nama, umur, jenis kelamin (ISK banyak
ditemukan pada wanita dibandingkan dengan laki-laki), pada
usia 25 - 55 tahun, status, agama/ kepercayaan, pendidikan,
pekerjaan, suku/bangsa, alamat.
b. Keluhan utama
Keluhan utama klien adalah nyeri saat berkemih, nyeri
pada suprapubis tanda vital dapat meningkat disertai nyeri,
suhu dan nadi meningkat mungkin karna infeksi serta tekanan
darah dapat turun apabila nyeri sampai mengakibatkan shok.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Pada klien infeksi saluran kemih keluhannya adalah
nyeri, dapat pula terjadi nyeri kolik/kolikrenal yang menjalar ke
testis pada pria dan kandung kemih pada wanita. Klien juga
dapat mengalami gangguan saluran gastrointestinal dan
perubahan dalam eliminasi urin.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Keadaan atau penyakit-penyakit yang pernah diderita
oleh

penderita,

antara

lain

batu

saluran

kemih,

hiperparatiroidisme, penyakit inflamasi khusus, gout, keadaankeadaan yang mengakibatkan, imobilisasi lama dan dehidrasi
(Carpenito 2005).

36

e.

Riwayat kesehatan keluarga
Beberapa penyakit atau kelainan yang sifatnya herediter
dapat menjadi penyebab terjadinya infeksi saluran kemih
antara lain riwayat keluarga dengan renal tubular asidosis
(RTA) sistimuria, sanxinuria dan dehidroxinadeninoria.
Menurut Hidayat ( 2012 ), konsep Bio-Psiko-sosialspiritual Virginia Handerson terdiri dari 14 komponen dan di
modifikasi dengan konsep teori infeksi saluran kemih menurut
Somantri (2012) antara lain :
1) Respirasi
Pada kasus infeksi saluran kemih biasanya tidak
dijumpai

kelainan

pada

system

respirasi

maupun

pemenuhan kebutuhan oksigen.
2) Nutrisi
Mual/muntah, nyeri tekan abdomen diet tinggi
protein, kalsium oksalat, dan fosfat, ketidak cukupan
pemasukan cairan, adanya distensi abdomen, penurunan/
tidak adanya bising usus, dan muntah.
3) Eliminasi
Pada

klien

infeksi

saluran

kemih,

dapat

mengalami rasa nyeri pada saat berkemih, kesulitan untuk
memulai miksi, nyeri pada abdomen bagian bawah, sering
berkemih dan adanya demam.

37

4) Aktivitas bekerja
Gangguan pada aktivitas bekerja dikarenakan
nyeri pada perut bagian bawah.
5) Istirshat tidur
Gangguan pola istirahat tidur karna rasa nyeri
dan tidak nyaman disekitar perut bagian bawah.
6) Berpakaian
Tidak ada masalah dalam aktivitas memakai
pakaian.
7) Suhu tubuh
Pada keadaan lanjut terdapat peningkatan suhu
tubuh harus dicurigai adanya infeksi.
8) Personal hygiene
Gangguan

kebersihan

diri

karna

ketidak

mampuan menahan miksi.
9) Integritas ego
Kecemasan,

gelisah,

kurang

istirahat,

peningkatan ketegangan/ peka rangsangan.
10) Keamanan dan mencegah kecelakaan
Nyeri berat dan nyeri kolik, perilaku distraksi,
nyeri tekan pada area sistitis pada saat dipalpasi.

38

11) Komunikasi
Tidak ada gangguan pada pola komunikasi.
12) Ibadah
Mengkaji hubungan klien sebagai hamba dengan
tuhannya, biasanya ada perasaan kurang khusu‟ karna
rasa nyeri.
13) Rekreasi
Respon sensitive karna nyeri, gelisah, kurang bisa
istirahat.
14) Belajar
Di saat sakit adakah ke inginan untuk belajar belajar.
f. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada infeksi saluran kemih antara
lain Perlu di kaji tentang kesadaran klien, kecemasan,
kegelisahan kelemahan suara bicara, denyut nadi,suhu
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi yaitu :
1) Keadaan umum : Sedang
2) Kesadaran : Composmetis
3) Vital sign : 120 – 130 mengalami
4) Nadi : 80 – 90 mengalami

39

a)

Kepala dan Rambut
Inspeksi

: biasanya Pada infeksi saluran kemih
kepala

tampak

simetris,

warna

rambut hitam, tekstur lurus atau
bergelombang.
Palpasi

: biasanya tidak ada nyeri tekan pada
daerah kepala

b)

Wajah
Inspeksi

: biasanya bentuk wajah simetris,
ekspresi wajah tegang karna masih
merasa nyeri

Palpasi
c)

: tidak adanya nyeri tekan

Mata
Inspeksi

: biasanya bentuk mata simetris,
konjungtiva anemis, lensa jernih,
pupil isokor, sklera anikterik.

d)

Hidung
Inspeksi

: biasanya tidak menggunakan alat
bantu nafas

Palpasi
e)

: tidak terdapat nyeri tekan

Telinga
Inspeksi

: biasanya telinga simetris, tidak
terdapat serumen, pendengaran
baik

40

f)

Mulut dan gigi
Inspeksi

: biasanya bibir kering, lidah kotor
tidak ada peradangan pada tonsil
dan mukosa mulut kering, tidak
terdapat karies pada gigi.

g)

Leher
Inspeksi : biasanya pada infeksi salura kemih tidak
terdapat pembesaran kelenjar tiroid,
bendungan vena jugularis, dan struma
Palpasi : biasanya tidak terdapat pembesaran
kelenjar tiroid dan bendungan vena
jugularis.

h)

Dada
Inspeksi : biasanya pada infeksi saluran kemih
bentuk dada simetris, tidak

terdapat

tarikan dinding dada, bernapas dengan
normal tanpa alat bantu.
Palpasi

: biasanya tulang iga lengkap

Perkusi

: biasanya suara vesikuler

Auskultasi : biasanya vesikuler
i)

Abdomen
Inspeksi

: biasanya tidak ada lesi

41

Palpasi

: biasnya nyeri pada daerah perut bagian
bawah

Perkusi

: bunyi timpani pada abdomen

Auskultasi : bising usus normal 12 kali/menit
j)

Ekstrimitas
Inspeksi

: biasanya ekstrimitas atas simetris
ekstrimitas bawah simetris, tidak
terdapat edema

k)

Palpasi

: tidak edema

Perkusi

: tidak ada edema

Integumen
Inspeksi

: biasanya terlihat kering

Palpasi

: biasanya turgor kulit kering.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaiian klinis tentang respon
individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/
masalah kesehatan. Aktual atau potensial dan kemungkinan dan
membutuhkan tindakan keperawatan untuk memecahkan masalah
tersebut. (Hidayat, 2007)
1. Analisa

data

adalah

kemampuan

mengaitkan

data

dan

menghubungkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip
yang relevan untuk membuat kesimpulan dan menentukan masalah

42

kesehatan dan perawatan klien. Berdasarkan data-data yang telah
terkumpul maka dapat di analisa dan mencari kemungkinan
penyebab timbulnya masalah dan merumuskan diagnosa yang ada
pada pasien baik aktual maupun potensial. (Hidayat, 2007)

Tabel 2.2 Analisa Data Infeksi Saluran Kemih
No
Symptom
Etiologi
1
DS:
Respon
1. Klien biasanya
peradangan
mengeluh nyeri
dan
panas
Rasa sakit &
seperti terbakar
panas pada
pada
saat
simpisis
berkemih
Dysuria
2. Klien biasanya
mengeluh nyeri
di
daerah
kemaluan
DO:
1. Klien
tampak
tidak tenang

Problem
Nyeri Akut

2. Tampak
meringis

3. Kesadaran
compass
metis

2

DS:
1. pada
saat
berkemih
air
kencingnya
keluar sedikitsedikit

Terjadi
peradanagn pada
mukosa
Kandung kemih
tidak kuat
menampung urine

Gangguan
pola eliminasi
urin

43

No

Symptom
2. Pada
saat
berkemih
air
kencingnya
langsung keluar
tapi
terputusputus

Etiologi

Problem

Urgency

DO:
1. Klien
lemah

tampak

2. Klien
tampak
kesulitan
saat
berkemih
3

DS:
1. Nafsu
makan
klien berkurang

Reflek
renointestin
Mual

2. Klien
mengatakan
merasa mual

perubahan
nutrisi kurang
dari
kebutuhan
tubuh

Muntah

DO:
1. BB berkurang
2. Makanan yang
di sediakan di
rumah
sakit
hanya dapat di
habiskan 1/2 dari
porsi yang di
sediakan
3. Biasanya
mukosa mulut
kering
4

DS:

Kurangnya
1. Biasanya klien pengetahuan
merasa cemas
dengan
kondisinya

DO:
1. Biasanya klien

Cemas

44

No

Symptom
tampak gelisah

Etiologi

Problem

2. Biasanya klien
tampak
tidak
tenang berada
di rumah sakit

5

DS:

Kurangan
ilmu Kurang
1. Biasanyaklien
pengetahuan
pengetahuan
mengatakan
tentang
tidak tau tentang penyakiynya
penyakitnya
saat ini.

DO:
1. Biasanya klien
tmpak bingung
2. Biasanya klien
tmpak
tidak
mengerti
tentang penyakit
yang
di
deritanya saat
ini.
3. Biasanya klien
menanyakan
tentang
penyakitnya
saat ini
Diagnosa keperawatan menurut (Donges, 2000)
2. Rumusan diagnose keperawatan
a. Rumusan diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan
dengan infasi bakteri pada mukosa kandungan kemih (sistitis)
mengakibatka nyeri panggul atau nyeri supra pubik.
b. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia

45

c. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan trauma
mekanik dari infeksi mengakibatkan disuria dan urgensi
d. Cemas berhubungn dengan kurangnya pengetahuan
e. Kurangnya pengetahuan di tandai dengan kurangnya informasi
2.2.3

Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan
aktivitas

keperawatan

perlu

di

tetapkan

untuk

mengurangi,

menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan penderita. Tahap ini
di sebut perencanaan keperawatan yang meliputi penentuan prioritas,
diagnosa keperawatan, menetapkan saran dan tujuan, menetapkan kriteria
evaluasi dan merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan. (Hidayat,
2007)
Tabel 2.3 Rencana keperawatan untuk pasien infeksi saluran kemih
Diagnosa
No keperawa
tan
1
Nyeri
akut bd
infasi
bakteri
pada
mukosa
kandung
kemih

Tujuan dan
kriteria hasil
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama…..x24
jam diharapkan
nyeri
dapat
teratasi dengan
keriteria hasil:

Rencana
keperawatan

Rasional

1. Kaji
Tingkat, 1. Penting
untuk
frekuensi, episode
menentukan
nyeri pada area
intervensi yang cocok
panggul, apakah
dan meng evaluasi ke
bersifat unilateral
efektivan dari terapi
atu bilateral.
yang di lakukan
2. Ajarkan
teknik 2. Untuk menghilangkan
relaksasi,
ketegangan
dan
perubahan posisi
meningkatkan
relaksasi otot

1. Pasien
mengatakan
bahwa nyeri
berkurang
saat istirahat

3. Berikan kompres 3. Akan meningkatkan
hangat
pada
sirkulasi pada otot
daerah yang nyeri
dan
mengurangi
ketegangan

2. aktivitas
atau

4. Pantau tanda vital 4. Karena
respon
otonomi pada nyeri

46

No

Diagnosa
keperawa
tan

Tujuan dan
kriteria hasil
berkemih,
klien
tidak
meringis
3. Penurunan
kebutuhan
terhadap
analgetik

Rencana
keperawatan

Rasional
akut yaitu tekanan
darah meningkat, nadi
meningkat

5. Kolaborasi
5. Untuk menurunkan
Beri
analgetik
atau mengontrol rasa
dan
evaluasi
nyeri
eveknya selama
30 menitn, 1 ½
a.
jam dan tiga jam
untuk
menentukan
responyeri
(aspirin,
oxycodone,
meperidine)
6. Perawat
atau 6. Mencegah timbulnya
pemeliharaan
nyeri
a. Lakukan
rendaman
duduk
atau
kompres
hangat
pada perut
3x sehari
b. Istirahatk
an pasien
selama
perawata

2

Perubaha
n Nutrisi
kurrang
dari
kebutuha
n tubuh

Kebutuhan
nutrisi
klien
terpenuhi
dengan kriteria
hasil:
1. Nafsu makan
baik
2. Berat badan
stabil

1. Kaji adanya mual 1. Salah satu penyebab
dan muntah
intake dan output
tidak
seimbang
adalah mual muntah
2. Berikan makanan 2. Membantu mencegah
sedikit tapi sering
distensi gastr dan
ketidak
nyamanan
serta meningkatkan
pemasukan
3. Berikan makanan 3. Meningkatkan nafsu

47

No

Diagnosa
keperawa
tan

Tujuan dan
kriteria hasil
3. Makan
3x
sehari dengan
porsi yang di
sediakan di
rumah sakit
dapat
di
habiskan

Rencana
keperawatan
dalam
hangat

keadaan

Rasional
makan klien

4. Jaga oral hygiene, 4. Agar mulut bersih
lakukan
membantu
nafsu
perawatan mulut
makan agar baik
setelah munta
5. Timbang
berat 5. Untuk
mengawasi
badan setelah 2
penurunan
BB
hari
ketidak
efektifan
program diet

3

Ganggua
n
pola
eliminasi
urin
berhubun
gan
dengan
trauma
mekanik

Pola eliminasi
kembali normal
frekuensi
dan
urgensi dengan
kriteria hasil:
1. Klien tidak
mengalami
disuria
2. Frekuensi
dan urgensi
eliminasi
normal

1) Kaji rasa panas, 1. Menandakan adanya
frekuensi,
infeksi
yang
urgensi,
bau
mengakibatkan iritasi
busuk urin, urin
kandungan kemih
bercampur darah,
nanah dan lender
2) Amati,
nilai, 2. Menentukan
laporan
ulangi
penanganan jika hasil
pemeriksaan urin:
lab.>
dari
batas
peningkatan
normal
RBC,WBC. Urin
kultur bakteri >_
100.000/ml
3) Kolaboratif
3. Pengobatan
infeksi
pemberian
anti
akan mengalami gejal
biotic
atau
dengan menghambat
sulfonamide
sintesis bakteri
(amoksilin,
sulfisoxazole)
4) Perawatan atau 4. Urgensi di sebabkan
pemeliharaan
oleh
inkontinensia
tempat
pasien
dan rasa malu
dekat kamar kecil
atau kamar mandi
5) Pendidikan pada 5. Untuk
mengetahui
pasien
atau
efktif
dan
tidak
keluarga
efektifnya pengobatan

48

No

Diagnosa
keperawa
tan

Tujuan dan
kriteria hasil

Rencana
keperawatan
a. Laporan
perubahan
gejala

Rasional
dan
mengetahui
kambuhnya infeksi

6. Mendapatkan bahan
b. Tampung urin
kultur urin untuk
untuk
pemeriksaan adanya
pemeriksaan
bakteri
c. Bagi
pasien 7. Mencegah
wanita,
kontaminasi
dari
anjurkan untuk
genital
membersihkan
area genitalia 8. Mencegah stasis urin
dan
rectal
termedia
setelah
pertumbuhan bakteri:
berkemih,
kontaminasi
dan
defikasi, dan
iritasi genital
intercourse:
dari depan ke
belakang
d. Kosongkan
kndung kemih
setiap 4 jam,
gunakan
tampol
atau
popok dan
ganti setiap 34 jam, gunakan
pakaian dalam
yang terbuiat
dari
katum,
hindari celana
ketat.
4

Cemas
berhubun
gan
dengan
kurang
pengetah
uan
tentang

Tujuan klien 1. Berikan
mendemostrasi
kesempatan
kan
ansietas
kepada klien dan
berkurang
orang
terdekat
criteria hasil:
untuk
mengekspresikan
1. Mengungka
perasaan
dan
pkan
harapannya.

1. Memberikan dukungn
emosional dan dorongn
pada klien untuk berbagi
memungkinkan
klien
untuk meng klarifikasi
rasa
takutnya
dan
member
kesempatan
pada perawat untuk

49

No

Diagnosa
keperawa
tan
kondisi

Tujuan dan
kriteria hasil

Rencana
keperawatan

pemahama
n tentang
kondisi,
pemeriksaa 2. Perbaiki
konsep
n dignostik
yang
salah
dan
Berikan informasi
rencana
tentang
terapeutik
2. Keluhan
1) Sifat penyakit
berkurang
2) Tujuan tindakan
tentang
yang
di
cemas atau
programkan
gugup
3. Ekspresi
wajah
rileks

Rasional
memberikan
umpan
positif dan penenang
2.Faktor
penunjang
ansietas yang dapat di
ubah termasuk ketidak
lengkapan dan ketidak
akurat informasi.yang
akurat dan kesalahan
konsep dapat membantu
menghilangkan
rasa
takut dan mengurangi
ansietas.

3. Pemeriksaan
3. Banyak
klien
diagnostic
memerlukan
termasuk:
dukungn
spiritual
a. Tujuan
untuk meningkatkan
b. Depskripsi
kemampuan kopong
singkat tentang
prosedur
c. Pemeriksaan
setelah
perawatan
d. Beri informasi
selama episode
nyeri
4. Pertahankan
4. Penelitian
instruksi
dan
menunjukan bahwa
penjelasan singkat
anggota
keluarga
dan sederhana.
yang terlibat dalam
perawatan
mengakibatkan
peningkatan
kerja
sama
klien
dan
penyelesaian positif
pada pengalamn
5. Berikan informasi 5. Strategi keperawatan
lebih detail bila
akan
berada
nyeri terkontrol.
tergantung
pada
tingkatan ansietas

50

No

5

Diagnosa
keperawa
tan
Kurang
pengetah
uan
bd
kurangny
a
informasi

Tujuan dan
kriteria hasil

Rencana
keperawatan

Rasional

Setelah
1. Kaji ulang proses 1. Memberikan dasar
dilakukan
penyakit,
pengetahuan di mana
tindakan
pengalaman
pasien
dapat
keperawatan
pasien
membuat
pilihan
selama….x24
informasi terapi
jam diharapkan
pengetahuan
2. Dorong
2. Membantu
pasien
klien bertambah
menyatakan rasa
mengalami perasaan
dengan keriteria
takut
atau
dapat
merupakan
hasil:
perasaan
dan
rehabilitas vital
perhatian
1.Menyatakan
pemahaman
3. Anjurkan
3. Dapat menyebabkan
proses
menghindari
iritasi prostat dengan
penyakit
makanan
masalah
kongesti,
atau
berbumbu, kopi
peningkatan
tibaprognosis
alcohol,pemasuka
tiba aliran urin dapat
n cairan cepat
menyebabkan
2.Mengidentifik
(terutama alcohol)
distensi
kandung
asi tanda dan
kemih
gejala proses
penyakit
4. Kaji ulang tanda 4. Intervensi
cepat
atau
gejala
dapat
mencegah
3.Melakukan
memerlukan
komplikasi
lebih
perubahan
evaluasi
medi,
serius
pola
hidup
contoh urin keruh
atau perilaku
dan berbau
yang perlu
5. Diskusikan
5. Menurunkan resiko
perlunya
terapi tak tepat,
pemberitahuan
contoh penggunaan
pada
perawat
kongenstan
kesehatan
lain
antikolinergik
dan
tentang diagnosa.
anti
depresen
meningkatkan
retensi urin

Intervensi keperawatan menurut (donges, 2000)

51

2.2.4

Implementasi Keperawatan
Implementasi / tindakan merupakan langkah keempat dalam tahap
proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan
(tindakan keperawatan) yang telah di rencanakan dalam rencana tindakan
keperawatan.
Jenis tindakan keperawatan yang tercantum dalam langkah atau
tahap pelaksanaan terdapat dua jenis tindakan yaitu tindakan keperawatan
mandiri atau dikenal dengan tindakan independent dan tindakan kolaborasi
atau dikenal dengan tindakan interdependent.
1. Tindakan mandiri adalah aktifitas keperawatan yang didasarkan pada
kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan petunjuk atau
perintah dari petugas kesehatan lain.
2. Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang di dasarkan hasil keputusan
bersama seperti dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya.
(Hidayat, 2007).

2.2.5

Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan langkah terakhir dari proses
keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari
rencana keperawatan tercapai atau tidak.
Ada 2 jenis evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat yaitu :
1. Evaluasi formatif
2. Menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan
intervensi dengan respon segera.

52

3. Evaluasi sumatif
Merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status
pasien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan
pada tahap perencanaan.
Di samping itu, evaluasi juga sebagai alat ukur suatu tujuan
yang mempunyai kriteria tertentu yang membuktikan apakah tujuan
itu tercapai, tercapai sebagian atau tidak tercapai. (Hidayat, 2007).
2.2.6

Dokumentasi keperawatan
Dokumentasi keperawatan adalah kegiatan pendokumentasian
keperawatan

mencakup

rencana

sistematis

kegiatan

kontrak

perawat/pasien dalam kurun waktu tertentu secara jelas, lengkap dan
obyektif. Ini bertujuan untuk kemudahan asuhan keperawatan dan jaminan
mutu, juga pencatatan dan dokumentasi pada anggota sesama tim
kesehatan untuk kepentingan pengelolaan klien serta kepada aparat
penegak hukum bila diperlukan untuk pembuktian. ( Hendra, 2003)

53

BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
3.1.1

Biodata
1. Identitas Klien
Nama

: Ny „S‟

Umur

:56 Tahun

Jenis kelamin

:Perempuan

Agama

:Islam

Suku

:Sasak

Pendidikan

:SD

Status Perkawinan

:Sudah menikah

Alamat

:Loang make, Jane prie

Tanggal Masuk RS

:21 juni 2014

Jam Masuk RS

:14.30 wita

Ruang Atau Kelas

:Kenanga

No. RM

:102704

Tanggal Pengkajian

:26 juni 2014

Jam Pengkajian

:08.40 wita

2. Identitas Penanggung Jawab
Nama

:Tn‟K‟

Umur

:33

Jenis Kelamin

:Laki-laki

Pendidikan

: Sarjana

Pekerjaan

:Dosen

Agama

:Islam

Suku

:Sasak

Alamat

:Loang make, Jane prie

Hubungan dengan Klien: Anak klien

54

3.1.2

Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Nyeri seperti terbakar
2. Riwayat Penyakit Saat ini
Klien datang ke RSUP NTB hari sabtu 21 juni 2014 jam
14.30 wita, klien rujukan PKM jane prie di antar oleh
keluarganya dengan keluhan nyeri saat berkemih sejak 5
hari yang lalu, klien mengatakan badannya terasa panas, di
pkm sudah di berikan terapi inj ketorolak kemudian pada
saat pengkajian klien mengeluh nyeri dan panas seperti
terbakar saat berkemih, nyeri di rasakan di daerah
kemaluan, klien mengatakan air kencingnya keluar sedikitsedikit setiap klien berkemihklien mengeluh tidak ada nafsu
makan, Pada saat di IGD RSUP NTB Klien langsung di
berikan RL 15 tpm, Cefotaxim inj 1 gr/12 jam, Ranitidin inj
1amp/12 jam, keadaan umum klien lemah, kesadaran
Composmetis dengan GCS (E4 V5 M6), TTV klien TD:
110/70 mmHg, N: 88x/menit, S: 37,90C, RR: 22x/menit,
setelah mendapat tindakan dan obat-obatan di IGD, klien di
pindahkan ke ruang kenanga kelas 1, kamar no: 227 untuk
mendapatkan perawatan selanjutnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan sebelumnya pernah menderita penyakit
yang sama pada tahun 2004 kemudian di rawat di RSUP
NTB selama 6 hari sampai sembuh sampai klien pulang
namun sakit yang di rasakannya saat ini lebih sakit dari
pada yang dulu klien rasakan.
4. Riwayat Penyakit keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang lain
yang pernah mengalami penyakit yang sama seperti yang di
alaminya saat ini.

55

3.1.3

Pemenuhan Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Virginia
Handerson)
1. Pernafasan
Sebelum sakit : Klien mengatakan tidak pernah kesulitan
dalam bernafas
Saat sakit

: Klien mengatakan Klien tidak ada
masalah

saat

bernafas,

frekuensi

20x/menit, irama vesikuler.
2. Kebutuhan nutrisi
Sebelum sakit : klien mengatakan biasanya makan 3 kali
sehari dengan komposisi 1 piring nasi
berserta sayur mayur, lauk pauk dan
kadang-kadang daging, BB: 55kg. klien
minum 6-7 gelas/hari, 1 gelas = 200cc
Saat sakit : klien mengatakan tidak ada nafsu makan, klien
mengatakan merasa mual tetapi hilang
timbul, klien hanya makan

1/
2

porsi dari

porsi yang di berikan rumah sakit
dengan

BB

:

53kg.

Minum

7-8

gelas/hari, klien dapat terapi cairan
infuse RL 15 tetes/menit
3. Kebutuhan Eliminasi
Sebelum sakit : klien mengatakan biasanya BAB 1-2
kali/hari

dengan

konsistensi

lembek,

warna kuning kecoklatan dan bau khas
feses, dan BAK 5-6 kali/hari dengan bau
khas dan warna kuning
Saat sakit : klien mengatakan selama di rumah sakit tidak
pernah BAB selama 2 hari dan BAK 7-8
kali/hari, tetapi air kencing keluar sedikitsedikit

dengan

bau

khas,

warna

56

kemerahan, hasil labolatorium, BJ:1010,
Ph: 6.5, Darah: +2, Bakteri:+ Bakteri E.
Colli, dan pada saat memulai berkemih air
kencing

langsung

keluar

tetapi

air

kencingnya terputus-putus, saat berkemih
klien mengatakan terasa panas seperti
terbakar, dan tampak tidak terpasang
kateter
4. Pola aktivitas
Sebelum sakit : Klien mengatakan klien dapat melakukan
aktivitasnya tanpa ada gangguan, seperti
bekerja di rumah
Saat sakit : klien mengatakan selama di rumah sakit klien
hanya berbaring di tempat tidur. Klien
tidak bisa melakukan aktivitasnya karna
kondisinya masih lemah klien di bantu
ber aktivitas oleh keluarga dan perawat.
5. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit : Klien mengatakan klien bisa tidur 7-8
jam/hari
mengalami

dan

klien

gangguan

tidak

pernah

istirahat

tidur.

Dengan pola tidur malam dari jam 22.0005.00 wita, klien tidur siang pukul 14.0015.30 wita.
Saat sakit : Klien mengatakan tidak mengalami gangguan
istirahat tidur, klien dapat tidur 7-8
jam/hari, dengan pola tidur dari jam
22.00-05.00 wita, dan siang klien dapat
tidur sekitar 1-2 jam.

57

6. Kebutuhan rasa aman dan nyaman nyeri
Sebelum sakit : klien mengatakan klien tidak pernah
mengeluh Sakit seperti sekarang ini,
terutama nyeri yang di rasakan pada saat
berkemih, dan klien selalu merasa aman
serta

nyaman

tinggal

bersama

keluarganya.
Saat sakit : klien mengatakan tidak nyaman dengan
keadaannya yang sekarang, terutama nyeri
dan rasa panas seperti terbakar yang di
rasakan

di

daerah

kemaluan

setiap

berkemih.
P: Nyeri pada saat berkemih
Q: Nyeri di rasakan seperti terbakar
R: Nyeri di rasakan di daerah kemaluan
S: Skala nyeri 4 (sakala 0-5)
T: Nyeri di rasakan hilang timbul
7. Pola personal hygiene
Sebelum sakit : klien mengatakan klien mandi 2 kali/hari
dengan

menggunakan

sabun

dan

menggosok gigi 2 kali/hari setiap mandi,
klien biasanya pakai sampo 1-2 kali
seminggu.
Saat sakit : klien mengatakan selama klien di rumah sakit
klien di mandikan dengan cara di lap
dengan air hangat oleh keluarga dan
perawat dengan waslap 1 kali sehari.
8. Mempertahankan temperature suhu tubuh
Sebelum sakit : Klien mengatakan bisa mempertahankan
temperature tubuhnya, apabila klien

58

kepanasan klien memakai kipas atau
memakai baju yang tipis
Saat sakit : Klien mengatakan merasa tubuhnya panas dan
klien di kompres menggunakan air
hangat pada area blakang leher.
9. Berkomunikasi dengan orang lain
Sebelum sakit : klien mengatakan hubungan komunikasi
klien dengan keluarga dan lingkungan
tempat tinggalnya baik
Saat sakit : klien mengatakan hubungan komunikasi klien
dengan keluarga dan orang sekitarnya di
rumah sakit baik.
10. Kebutuhan bekerja
Sebelum sakit : klien mengatakan klien bekerja sebagai ibu
rumah tangga mengerjakanapa yang bisa
di kerjakan di rumah.
Saat sakit : Klien mengatakan selama berada di rumah sakit
tidak dapat melakukan aktivitasnya karna
keadaan klien yang lemah dank lien masih
membutuhkan perawatan di rumah sakit
11. Kebutuhan rekreasi
Sebelum sakit : Klien mengatakan biasanya rekreasi ketika
merayakan

hari

besar

dengan

keluarganya dan pada hari senggang
klien selalu menyempatkan waktu untuk
berkumpul dengan anggota keluarga di
rumah
Saat sakit : klien mengataka semenjak berada di rumah
sakit klien hanya berbaring di tempat
tidur

59

12. Kebutuhan berpakaian
Sebelum sakit : klien mengatakan bisa berpakaian sendiri
tanpa bnatuan orang lain
Saat sakit : Klien mengatakan tidak bisa menggunakan
pakaian sendiri karna kondisi klien
masih lemah dan di bantu oleh keluarga
dan perawat.
13. Kebutuhan belajar
Sebelum sakit : klien mengatakan biasanya membaca
Koran

dan

menonton

TV

untuk

mendapatkan informasi
Saat sakit : klien mengatakan hanya berbaring di tempat
tidur
14. Kebutuhan spiritual
Sebelum sakit : klien mengatakan selalu melaksanakan
ibadah shalat 5 waktu di masjid atau di
rumah
Saat sakit : klien mengatakan selama sakit klien dapat
menjalankan sahalat 5 waktu dengan cara
tidur dan ber doa di tempat tidur.

3.1.4

Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Lemah
2. Kesadaran : Composmetis
3. GCS : E4 V5 M6
4. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
Suhu : 37,90C
Respirasi : 20x/menit

60

5. Pemeriksaan head to toe
a. Pemeriksaan kepala dan leher
1) Kepala
Inspeksi : Rambut panjang berwarna hitam dan
kusam, kulit kepala tidak kotor,tidak ada
ketombe, tidak ada lesi
Palpasi : Rambut tebal dan merata, tidak ada
benjolan, tidak ada nyeri tekan
2) Wajah
Inspeksi:

simetris,

tidak

ada

oedema

pada

periorbital
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada wajah
3) Mata
Inspeksi : bola mata simetris, konjungtiva anemis,
sclera agak keruh, tidak terdapat oedema
periorbital
4) Hidung
Inspeksi : simetris, tidak tampak adanya secret,
tidak ada lesi
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan pada hidung
5) Mulut
Inspeksi : mulut bersih, mukosa mulut kering, tidak
ada sariawan, tidak ada lesi
6) Leher
Inspeksi : tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid
dan tidak tampak pembesaran vena
jugularis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, dan tidak teraba
benjolan

61

b. Pemeriksaan dada
Inspeksi : dada tampak simetris, tidak terdapat tarikan
dinding dada pada saat bernafas
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada dada
Perkusi : terdengar suara pekak
Auskultasi : tidak terdengar suara ronchi maupun
wheezing, suara nafas Bronkovaskuler
dengan frekuensi 20x/menit
c. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi :tidak ada lesi, tidak ada bekas operasi
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada area simpisis pubis,
tidak

teraba

adanya

massa,terdapat

obstruksi sumbatan
Perkusi : tidak terdapat distensi
Auskultasi : terdengar peristaltic usus 12x/menit
d. Pemeriksaan genetalia
Inspeksi : Tidak terpasang kateter, tidak ada lesi, tidak
ada peradangan di area genetalia
e. Pemeriksaan ekstreminitas
Ekstreminitas atas : tidak ada oedema pada tangan kiri
dan

kanan,

tidak

ada

lesi,

terpasang infuse RL 15 tetes/menit
pada tangan kiri
Ekstreminitas bawah : tidak ada oedema pada kaki kiri
dan kaki kanan, tidak ada lesi
4

4

4

4

62

f. Pemeriksaan integument
1) Kulit
Inspeksi : warna kulit sao matang, kulit tampak
kriput, tidak ada oedema, tidak ada lesi
Palpasi : turgor kulit baik kembali dalam waktu 3
detik, tidak terdapat oedema
2) Kuku
Inspeksi : warna kuku merah muda, kuku pendek
dan bersih.
3.1.5

Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan urin
Tabel 2.1 Hasil Labolatorium
Tgl Pemeriksaan : 21 juni 2014
Nama pemeriksaan
a. kimia
Berat jenis
Ph
Darah
b. sedimen
bakteri
Leukosit
Eritrosit
Epitel
c.Pemeriksaan
kultur urin
Bakteri

Hasil

Nilai normal

1,010
6,5
+2

1,003-1,030
4,5-8
Negatif

+
5-10/lpb
3-5/lpb
3-5/lpb

Negative

E. Coli

Positif

2. Pemeriksaan darah
Tabel 3.2 Hasil Labolatorium
Tgl Pemeriksaan : 27 juni 2014
Jenis
Hasil
pemeriksaan
HGB
12.2
RBC

453

Nilai normal

Satuan

L:13.0-18.0

g/dl

P:11.5-16.5
L:4.5-5.5

63

HCT

39,1

MCV
MCH
RDW-SD
RDW-CV

86,3
28,1
38,6
12,6

P:4.0-5.0
L:40.0-50.0
P:37.0-45.0
82.0-92.0
27.0-31.0
35.0-45.0
11.5-14.5

WBC
PLT
RDW
MPV
P-LCR
PCT

4.8
224
11.4
10.3
23.2
0.23

4.0-11.0
150-400
9.0-13.0
72.-11.0
15.0-25.0
0.150-0.400

GDS
Kreatinin

125
0.8

<160
L:0.9-13
P:0.6-1.1
10-50
<40
<41

Ureum
SGOT
SGPT

32
21
24

10^6/ul

10^3/ul

%

FI
Pg
%

10^3/ul
Fl
Fl
%

Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl

3. Pemeriksaan USG
Hasil Pemeriksaan Tgl 27 juni 2014
Pada hasil pemeriksaan USG Tidak terdapat batu saluran
kemih.

3.1.6

Terapi yang di berikan
1. Infus RL 15 tetes/menit
2. Injeksi Cefotaxim 1 gr/24 jam
3. Injeksi Ranitidin 1 amp/12 jam
4. Injeksi Ketorolak 1 amp/12 jam
5. Obat oral Paracetamol 500 gram

64

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
3.2.1

Analisa Data
Nama

: Ny‟Hj‟S‟

No. RM: 102704

Umur

:67 tahun

Ruangan: Kenanga

Diagnosa Medis : Infeksi Saluran kemih
No

Symptom

1

Ds:

Etiologi
Infeksi saluran

a. Klien
nyeri

mengatakan
dan

panas

seperti terbakar pada
saat berkemih
b. Klien

kemih

Respon
peradangan

mengatakan

nyeri di rasakan di

Rasa sakit dan

daerah kemaluan

panas pada

P:

suprapubik,

nyeri

seperti

terbakar

Disuria

Q: nyeri di rasakan
seperti terbakar
R: nyeri di rasakan
di

daerah

kemaluan
S: skala nyeri 4
dari(0-5)
T: nyeri di rasakan
hilang timbu
Do:
a. K/U: lemah
b. klien

tampak

meringis
c. klien

tampak

tidak rileks

Problem
Nyeri Akut

65

No

Symptom

Etiologi

d. klien

Problem

tampak

tidak nyaman
e. kesadaran

:

composmetis
f. GCS: E4,V5,M6
g. TD:

110/70

mmHg
h. Nadi: 84x/meni
2

Ds:

Infeksi saluran
a. Klien

mengeluh

badannya

Hipertermi

kemih

terasa

panas

Hipotalamus

Do:
a.

K/U: lemah

b.

Tampak

Menekan
kulit

termoreguler

kemerahan
c.

Tampak

klien

gelisah
d.

Klien

tampak

tidaknyaman
e.
3

Suhu : 37,90C

Ds:
a.

Infeksi saluran
Klien

mengatakan

kemih

pada saat berkemih
air

kencingnya

keluar

sedikit-

Klien
saat

mengatakan
berkemih

kencingnya

pola eliminasi
urin

Respon
peradangan

sedikit
b.

Gangguan

Terjadi

air peradangan pada
mukosa

66

No

Symptom

Etiologi

Problem

langsung keluar tapi
terputus-putus

Kandung kemih

Do:

tidak kuat

a.

Klien tampak lemah

b.

Klien

tampak

kesulitan

urin

untuk

berkemih
c.

menampung

Urgensi

Klien tampak tidak
rileks

d.

Klien tampak tidak
nyaman

karna

berkemih

tidak

lancer
e.

BAK

7-8x/hari

dengan

warna

kemerahan
f.

Hasil

Lab:

Bj:1010,Ph:6.5,Dara
h:+2,
Bakteri:+,Bakteri E.
Coli
g.

BB sebelum sakit 55
kg

4

Ds:

ISK bawah
a. Klien
tidak

mengatakan
ada

nfsu

kurang personal

nutrisi kurang

hygiene

dari kebutuhan

makan
b. Klien

Perubahan

tubuh
mengatakan

merasa mual tetapi
hilang timbul

Infeksi uretra

67

No

Symptom

Etiologi

c. BB sebelum sakit

Problem

Distensi,nyeri

55kg

pinggang

Do:
a.

K/U : Lemah

Reflek

b.

BB saat sakit 53 kg

c.

Klien hanya dapat
menghabiskan
makanan

renointesin

Anoreksia

yang

di

sediakan oleh rumah
sakit

1/
2

porsi

porsi dari
yang

di

sediakan
d.

Terpasang infuse RL
15

tts/menit

di

tangan kiri
e.

Mukosa

mulut

kering

3.2.2

Rumusan Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan nyeri invasi bakteri pada
mukosa kandung kemih (sistitis) mengakibatkan nyeri
panggul atau nyeri supra pubik yang di tandai dengan klien
mengatakan nyeri dan panas seperti terbakar pada saat
berkemih, klien mengatakan nyeri di rasakan di daerah
kemaluan, keadaan umum lemah, klien tampak meringis
klien tampak tidak rileks, klien tampak tidak nyaman,
kesadaran composmetis, GCS (E4 V5 M6) TD: 110/70
mmHg,

Nadi:84x/menit,

Suhu:37,90C,

RR:20x/menit,

terpasang infus RL 15 tetes/menit,tidak terpasang kateter

68

2. Hipertermi berhubungan dengan masuknya bakteri ke
kandung kemih mengakibatkan peningkatan suhu tubuh
yang di tandai dengan klien mengatakan merasa panas
dengan badannya, klien tampak lemah, tampak gelisah,
tampak tidak nyaman, Suhu: 37,90C
3. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan trauma
mekanik dari infeksi mengakibatkan di suria dan urgensi
yang di tandai dengan klien mengatakan pada saat berkemih
air kencingnya keluar sedikit-sedikit klien mengatakan pada
saat berkemih air kencingnya keluar tapi terputus-putus,
klien tampak lemah, klien tampak kesulitas saat berkemih,
klien tampak tidak rileks, klien tampak tidaknyaman karna
berkemih tidak lancer, BAK 7-8x/hari warna urin
kemerahan, Hasil Lab:Bj:1,010, Ph:6.5, Darah:+2, Bakteri:+
E. Coli
4. Perubahan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan anoreksia di tandai dengan klien
mengatakan tidak ada nafsu makan, klien mengatakan
merasa mual tetapi hilang timbul, K/U: Lemah, BB sebelum
sakit 55kg, BB setelah sakit 53kg, klien hanya dapat
menghabiskan makanan yang di berikan di rumah sakit

1/
2

porsi dari yang di sediakan, terpasang infus RL 15
tetes/menit di tangan kanan, mukosa mulut kering

69

3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama klien

:Ny‟Hj‟S”

No. RM

: 102704

Ruangan

:kenanga

Diagnosa Medis :Infeksi Saluran Kemih
No. Tujuan dan kriteria Intervensi
Rasional
Dx Hasil
1
Setelah dilakukan
1) Kaji
Tingkat,
1) Penting
untuk
tindakan
frekuensi, episode
menentukan
keperawatan
nyeri pada area
intervensi yang
selama 3x24 jam
panggul, apakah
cocok dan meng
diharapkan nyeri
bersifat unilateral
evaluasi
ke
dapat
teratasi
atu bilateral.
efektivan
dari
dengan
keriteria
terapi yang di
hasil:
lakukan
1. Pasien
mengatakan
bahwa nyeri
berkurang
saat istirahat

2) Ajarkan
teknik
relaksasi,
perubahan posisi

2) Untuk
menghilangkan
ketegangan dan
meningkatkan
relaksasi otot

2. aktivitas
atau
berkemih,
klien tidak
meringis

3) Berikan kompres
hangat
pada
daerah yang nyeri

3) Akan
meningkatkan
sirkulasi
pada
otot
dan
mengurangi
ketegangan

4) Pantau tanda vital

4) Karena
respon
otonomi
pada
nyeri akut yaitu
tekanan
darah
meningkat, nadi
meningkat

5) Kolaborasi
Dalam pemberian
analgetik
dan
evaluasi
hasil
selama 30 menit,/
1 ½ jam dan tiga
jam
untuk
menentukan

5) Untuk
menurunkan atau
mengontrol rasa
nyeri

3. Penurunan
kebutuhan
terhadap
analgetik

70

No. Tujuan dan kriteria Intervensi
Rasional
Dx Hasil
responyeri
(ketorolak 1 ampl /
12 jam)

2

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan panas
klien dapat teratasi
dengan
kriteria
hasil:
1. Klien tidak
mengeluh
panas lagi
2. Tampak
suhu tubuh
kembali
normal

3

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan
pola
eliminasi urin dapat
kembali
normal
dengan
kriteria
hasil:

6) Perawat
atau
pemeliharaan
a. Lakukan
rendaman
duduk
atau
kompres
hangat
pada
perut 3x sehari
Istirahatkan
pasien selama
perawata
1) Observasi tandatanda vital

6) Mencegah
timbulnya nyeri

2) Anjurkan kompres
hangat

2) Membantu
menurunkan suhu
tubuh

3) Kaji
keluhan
utama klien

3) Untuk
mengetahui
perubahan pasien

4) Kolaborasi dalam
pemberian
obat
oral paracetamol
500 mg
1) Kaji rasa panas,
frekuensi, urgensi,
bau busuk urin,
urin
bercampur
darah, nanah dan
lender

4) Membantu proses
penyembuhan

2) Amati,
nilai,
laporan
ulangi
pemeriksaan urin:

2) Menentukan
penanganan jika
hasil lab.> dari

1) Untuk
mengetahui
keadaan pasien
dan
rencana
tindakan lanjut

1) Menandakan
adanya
infeksi
yang
mengakibatkan
iritasi kandungan
kemih

71

No. Tujuan dan kriteria Intervensi
Rasional
Dx Hasil
1. Klien tidak
peningkatan
batas normal
mengalami
RBC,WBC. Urin
disuria
kultur bakteri >_
2. Frekuensi
100.000/ml
dan urgensi
eliminasi
3) Perawatan
atau
3) Urgensi
di
normal
pemeliharaan
sebabkan
oleh
tempat
pasien
inkontinensia dan
dekat kamar kecil
rasa malu
atau kamar mandi
4) Pendidikan
pasien
keluarga

pada
atau

4) Menambah
pengetahuan pada
pasien

a. Laporan
perubahan
gejala

a. Untuk mengetahui
efktif dan tidak
efektifnya
pengobatan
dan
mengetahui
kambuhnya infeksi

b. Tampung urin
untuk
pemeriksaan

b. Mendapatkan
bahan kultur urin
untuk pemeriksaan
adanya bakteri

c. Bagi
pasien
wanita,
anjurkan untuk
membersihkan
area genitalia
dan
rectal
setelah
berkemih,
defikasi,
dan
intercourse:
dari depan ke
belakang

c. Mencegah
kontaminasi
genital

d. Kosongkan
kndung kemih
setiap 4 jam,

d. Mencegah stasis
urin
termedia
pertumbuhan

dari

72

No. Tujuan dan kriteria Intervensi
Dx Hasil

Rasional
gunakan tampol
atau popok dan
ganti setiap 3-4
jam, gunakan
pakaian dalam
yang terbuiat
dari
katum,
hindari celana
ketat.

4

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan
Kebutuhan nutrisi
klien
terpenuhi
dengan
kriteria
hasil:

3. Makan 3x
sehari
dengan
porsi yang
di sediakan
di
rumah
sakit dapat
di habiskan

dan

5) Kolaborasi dalam
pemberian inj anti
biotik (cefotaxim
1 gr/24 jam)

5) Pengobatan
infeksi
akan
mengalami gejal
dengan
menghambat
sintesis bakteri

1) Kaji adanya mual
dan muntah

1) Salah
satu
penyebab intake
dan output tidak
seimbang adalah
mual muntah

2) Berikan makanan
sedikit tapi sering

2) Membantu
mencegah
distensi gastr dan
ketidak nyamanan
serta
meningkatkan
pemasukan

3) Berikan makanan
dalam
keadaan
hangat

3) Meningkatkan
nafsu
makan
klien

4) Jaga oral hygiene,
lakukan perawatan
mulut
setelah
munta

4) Agar mulut bersih
membantu nafsu
makan agar baik

5) Timbang
berat
badan setelah 2
hari

5) Untuk mengawasi
penurunan
BB
ketidak efektifan
program diet

1. Nafsu
makan baik
2. Berat badan
stabil

bakteri:
kontaminasi
iritasi genital

73

No. Tujuan dan kriteria Intervensi
Rasional
Dx Hasil
6) Kolaborasi dalam
pemberian obat inj
(Ranitidin
1
amp/12 jam)

3.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama klien

:Ny‟Hj‟S”

No. RM

: 102704

Ruangan

:kenanga

Diagnosa Medis :Infeksi Saluran Kemih
Tgl/jam
26-06-2014
11.30 wita

No
Dx
1.

Implementasi Keperawatan

Respon Hasil

1) Mengkaji
keadaan
umum dan keluhan
klien

1) Keadaan
umum
lemah,
kesadaran
composmetis, GCS
(E4 V5 M6) klien
mengeluh nyeri saat
berkemih

11.40 wita

2) Mengobservasi
dan
mencatat tanda-tanda
vital

2) TD: 110/70 mmHg
N: 84x/menit
S: 37,90C
RR: 20x/menit

11.50 wita

3) Mengkaji
tingkat
frekuensi, perhatikan
lokasi, intensitas dan
penyebaran
nyeri
dengan (PQRST)

3) P: Nyeri pada saat
berkemih
Q: Nyeri di rasakan
seperti terbakar
R: Nyeri di rasakan
di
daerah
kemaluan
S: skala nyeri 4 (dari
skala 0-5)
T: Nyeri di rasakan
hilang timbul

12.05 wita

4) Menganjurkan
penggunaan
tehnik
relaksasi (nafas dalam
atau perubahan posisi)

4) Klien
tampak
melakukan
Tarik
nafas dalam saat
nyeri muncul

74

pada saat nyeri timbul
5) Menganjurkan kepada
klien
untuk
memberikan kompres
hangat pada daerah
yang nyeri

12.10 wita

12.20 wita

26-06-2014
12.23 wita

2.

12.30 wita

12.35 wita

5) Klien mengatakan
akan
mengikuti
ajuran dari perawat

6) Kolaborasi
dalam
pemberian
obat
dengan tim dokter inj
(ketorolak 1 ampl/12
jam)
1) Mengkaji
keluhan
klien

6) Klien mengatakan
nyeri masih terasa,
terapi
ketorolak
1amp/12 jam

2) Mengobservasi tandatanda vital

2) TD: 110/70 mmHg
N: 84x/menit
S: 37,90C
RR: 20x/menit

3) Memberikan kompres
hangat
di
bagian
blakang leher dan
ketiak

3) Klien di kompres
dengan air hangat,
tampak
lebih
nyaman

4) Memberikan obat oral
Paracetamol 500 mg

4) Klien mengatakan
badannya
masih
panas

1) Mengkaji rasa panas,
frekuensi,
uregensi
bau
urin,
urin
bercampur
darah,
nanah dan lender

1) Klien mengatakan
nyeri panas saat
berkemih,
air
kencing keluarnya
sedikit, warna urin
agak kemerahan

2) Mengawasi
pemasukan
pengeluaran

2) Klien minum 7-8
gelas/cc hari tetapi
klien belum lancar
saat berkemih

1) Klien mengatakan
badannya
terasa
panas

12.40 wita

13.00 wita
26-06-2014
11.40 wita

11.45 wita

11.52 wita

3.

dan

3) Memotivasi
klien
untuk meningkatkan
pemasukan
cairan

3) Klien
mengatakansudah
minum yang banyak

75

(minum air putih yang
banyak)

7-8 gelas/hari

4) Mengkaji
keluhan
pada saat berkemih

4) Klien
mengeluh
nyeri dan panas saat
berkemih

5) memberikan
Pendidikan
tentang
penyakit yang sedang
di alami pada pasien

5) Klien mendengarkan
dan menyimak

6) Kolaborasi
dalam
pemberian
obat
(cefotaxim 1 gr/24
jam)
1) Mengkaji adanya mual
dan muntah

6) Klien mengatakan
masih tersendat saat
berkemih

13.30 wita

2) Menganjurkan klien
untuk makan sedikit
tapi sering

2) Klien
tampak
1/
menghabiskan
2
Porsi
yang
di
sediakan di rumah
sakit

13.34 wita

3) Menganjurkan
makanan
dalam
keadaan hangat

3) Keluarga
klien
tampak memberikan
klien makanan yang
hangat

13.40 wita

4) Menjaga oral hygiene,
melakukan perawatan
mulut kalau muntah

4) Tampak di bersihkan
pada
saat
klien
muntah dan klien
mengatakan merasa
nyaman

13.41 wita

5) Menimbang
berat
badan setelah dua hari

5) BB sebelum sakit
55kg, setelah sakit
53kg
6) Klien mengatakan
masih tidak ada
nafsu makan

12.00 wita

12.10 wita

26-06-2014
13. 20 wita

4.

6) Kolaborasi
dalam
pemberian
obat
(Ranitidin 1 ampl/12
jam)

1) Klien mengatakan
merasa mual tetapi
hilang timbul, klien
juga mengeluh tidak
ada nafsu makan

76

27-06-2014
14.00 wita

1) Mengkaji
keadaan
umum dan keluhan
klien

1) Keadaan
umum
lemah,
kesadaran
composmetis GCS
(E4 V5 M6) klien
mengatakan masih
terasa nyeri saat
berkemih

14.10 wita

2) Mengobservasi
dan
mencatat tanda-tanda
vital

2) TD: 110/80 mmHg
N: 80x/menit
S: 37,90C
RR: 20x/menit

14. 20 wita

3) Mengkaji
tingkat
frekuensi, perhatikan
lokasi, intensitas dan
penyebaran
nyeri
dengan (PQRST)

3) P: Nyeri pada saat
berkemih
Q: Nyeri di rasakan
seperti terbakar
R: Nyeri di rasakan
di
daerah
kemaluan
S: skala nyeri 3 (dari
0-5)
T: Nyeri di rasakan
hilang timbul

14.30 wita

4) Menganjurkan
penggunaan
tehnik
relaksasi (nafas dalam
atau perubahan posisi)
pada saat nyeri timbul

4) Klien mengatakan
tetap
melakukan
teknik
relaksasi
seperti
yang
di
ajarkan apabila nyeri
timbul

14.40 wita

5) Menciptakan
lingkungan
tenang dan
pengunjung

5) Klien di rawat di
ruang sruni kelas 1
no
277
dengan
pengunjung 2 orang

14.50 wita

1

nyang
batasi

6) Memberikan
obat
dengan tim dokter
15.
dalam pemberian inj
(ketorolak 1 ampl/ 12
jam)

6) Klien mengatakan
nyeri
mulai
berkurang

77

27-06-2014
14.25 wita

2

1) Mengkaji
klien

keluhan

1) Klien mengatakan
badannya
sudah
tidak terlalu panas
lagi

14. 45 wita

2) Meng observasi tandatanda vital

2) TD: 110/80 mmHg
N: 80x/menit
S: 37,90C
RR: 20x/menit

14.50 wita

3) Menganjurkan
kompres hangat

3) Klien di kompres
dengan air hangat,
tampak klien lebih
baik

4) Memberikan obat
Oral paracetamol 500
mg

4) Klien mengatakan
badannya
tidak
terlalu panas

1) Mengkaji rasa panas,
frekuensi,
uregensi
bau
urin,
urin
bercampur
darah,
nanah dan lender

1) Klien mengatakan
nyeri dan rasa panas
saat berkemih sudah
berkurang dan warna
urin sudah hamper
jernih

2) Mengawasi
pemasukan
pengeluaran

2) klien minum 7-8
gelas/cc hari dan
berkemih
sudah
mulai lancer

14.55 wita

15.00 wita
27-06-2014
16.10 wita

16.20 wita

3

dan

16.30 wita

3) Menganjurkan klien
untuk meningkatkan
pemasukan
cairan
(minum air putih yang
banyak)

3) klien
mengatakan
tetap minum air
yang banyak

16.45 wita

4) Mengkaji keluhan
pada saat berkemih

4) Klien mengatakan
nyeri dan rasa panas
saat berkemih sudah
berkurang
5) Klien mengatakan
pada saat kencing
tidak
tersendatsendat

5) Kolaborasi
dalam
pemberian obat inj
(cefotaxim 1 gr /24
jam)

78

27-06-2014
16.55 wita

1) Mengkaji kemampuan
klien untuk memenuhi
nutrisinya

1) Klien mengatakan
nafsu
makannya
sudah agak baik,
klien menghabiskan
1/
2 piringnasi berserta
lauk pauk yang di
berikan
oleh
keluarganya

17.20 wita

2) Menganjurkan klien
untuk makan sedikit
tapi sering

2) Klien mengatakan
akan
mengikuti
anjuran dari perawat

17.35 wita

3) Menganjurkan
makanan
dalam
keadaan hangat

3) Keluarga
klien
koperatif
dan
mengikuti anjuran
dari perawat

17.50 wita

4) Menimbang
berat
badan setelah dua hari

4) BB sebelum sakit
:55kg, BBsaat sakit:
54kg

17.55 wita

5) Kolaborasi
dalam
pemberian obat inj
(Ranitidin 1 ampl/12
jam)
1) Mengkaji
keadaan
umum dan keluhan
klien

5)

23.20 wita

2) Mengobservasi
dan
mencatat tanda-tanda
vital

2) TD: 120/80 mmHg
N: 80x/menit
S: 37,50C
RR: 20x/menit

23.30 wita

3) Mengkaji
tingkat
frekuensi, perhatikan
lokasi, intensitas dan
penyebaran
nyeri
dengan (PQRST)

3) Klien mengatakan
nyerinya
sudah
mulai menghilang,
klien tampak lebih
nyaman dan lebih
baik

23.40 wita

4) Menciptakan
lingkungan

4) Lingkungan di skitar
klien tampak tenang

28-06-2014
23.10 wita

4

1

nyang

Klien mengatakan
akan berusaha agar
tetap makan banyak

1) Keadaan
umum
baik,
klien
mengatakan sudah
tidak
merasakan
nyeri saat berkemih

79

tenang dan
pengunjung

batasi

dank lien
nyaman

tampak

23. 50
5) Memberikan
obat
dengan tim dokter
dalam pemberian inj (
Ketorolak 1 ampl/12
jam)
1) Meng observasi tandatanda vital

5) Klien mengatakan
nyeri terkontrol klien
mendapatkan terapi
ketorolak 1amp/ 12
jam)
1) TD: 120/80 mmHg
N: 80x/menit
S: 37,50C
RR: 20x/menit

2) Mengkaji
klien

keluhan

2) Klien mengatakan
lebih baik, badan
nya sudah tidak
terasa panas lagi

3) Kolaborasi
dalam
pemberian obat oral
Paracetamol 500 mg

3) Klien mengatakan
badannya
tidak
panas lagi

1) Mengkaji rasa panas,
frekuensi,
uregensi
bau
urin,
urin
bercampur
darah,
nanah dan lender

1) Klien mengatakan
sudah
tidak
merasakan
panas
lagi saat berkemih,
warna urin jernih

05.20 wita

2) Menganjurkan klien
untuk tetap minum air
putih yang banyak

2) Klien mengatakan
akan
mengikuti
anjuran dari perawat

05.30 wita

3) Menganjurkan klien
untuk tidak menahan
kencing

3) Klien mengatakan
akan
mengikuti
anjuran dari perawat
dan bertrimakasih

4) Kolaborasi
dalam
pemberian obat (
Cefotaxim 1 gr/24
jam)
1) Mengkaji adanya mual
dan muntah

4) Klien mengatakan
pada saat kencing
tidak tersendat lagi

2) Mengkaji kemampuan

2) Klien

28-06-2014
23.15 wita

2

23.25wita

28-06-2014
05.10 wita

28-06-2014
06.10 wita

06.25 wita

3

4

1) Klien mengatakan
tidak
mual
dan
muntah
mengatakan

80

klien untuk memenuhi
nutrisinya

nafsu
makannya
sudah baik, klien
menghabiskan
1
piring nasi lengkap
dengan lauk pauk
yang di berikan oleh
keluarga setiap kali
makan

06.40 wita

3) Menganjurkan kepada
keluarga klien untuk
tetap
memberikan
makanan yang masih
hangat dan makanan
yang di sukai

3) Keluarga
klien
koperatif
dan
mengatakan
akan
mengikuti anjuran
dari perawat

06.55 wita

4) Menimbang
badan

4) BB: 55kg

berat

81

3.5 EVALUASI KEPERAWATAN
Nama klien

:Ny‟Hj‟S”

No. RM

: 102704

Ruangan

:kenanga

Diagnosa Medis :Infeksi Saluran Kemih
Tgl/jam
28-06-2014
08.00 wita

28-06-2014
08.00 wita

No.
Dx
1

2

Catatan Perkembangan (SOAP)
S: Klien mengatakan nyeri dan rasa panas seperti
terbakar saat berkemih sudah hilang
O:
- Keadaan umum baik
- Skala nyeri 1
- Klien tampak segar
- Klien tampak tidak meringis lagi
- Klien tampak lebih rileks dan nyaman
- Klien tampak senang
- WBC -2.4
PLT -224
RDW -11.4
MPV -103
P-LCR -23.2
PCT - 0.23
- TD: 120/80 mmHg, N: 80x/menit, S:
37,50C, R: 80x/menit
A: Masalah keperawatan nyeri akut teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
1) Anjurkan klien untuk tetap minum air
1500 ml/hari
2) Menganjurkan kepada klien untuk tetap
menjaga kebersihan organ intimnya
S: Klien mengatakan badannya sudah tidak terasa
panas lagi
O:
- Keadaan umum baik
- Suhu : 37,50C
- Klien tampak lebih segar
- Klien mengatakan badannya sudah tidak
panas
A: Masalah peningkatan suhu tubuh Hipertermi
teratasi
P: Intervensi di hentikan

Paraf

82

28-06-2014
08.00 wita

3

28-06-2014
08.00 wita

4

S: Klien mengatakan pola berkemihnya sudah
lancar, air kencingnya sudah keluar dengan
lancer, dan warna urin sudah jernih
O:
- Keadaan umum baik
- Klien tampak rileks
- Klien tampak senang
- Klien tampak lebih nyaman
A: Masalah keperawatan gangguan eliminasi urin
teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
1) Anjurkan
klien
untuk
tetap
mengkonsumsi air putih yang banyak dan
makanan yang sehat
2) Anjurkan untuk mengganti pakaian dalam
1x/hari
S: Klien mengatakan nafsu makannya sudah baik
dan tidak mual lagi, klien mengatakan makan
3x sehari dengan porsi satu piring lengkap
dengan lauk pauk
O:
- Klien tampak lebih segar
- Klien tampak bertenaga
- Mukosa mulut lembab
- Klien mendapat terapi infuse RL 15 tpm
A: Masalah resiko perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
1) Menganjurkan
klien
untuk
mempertahankan nafsu makan
2) Menganjurkan klien makan pada saat
hangat

83

BAB 4
PEMBAHASAN

Pembahasan dalam BAB ini akan di uraikan berdasarkan urutan
proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnose keperawatan,
rencana keperawatan rencana tindakan keperawatan, pelaksanaan tindakan
keperawatan dan evaluasi
4.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses keperawatan serta merupakan proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.
Pengkajian pada klien infeksi saluran kemih dalam konsep teori
adalah sebagai brikut:
1. Klien dengan penyakit infeksi saluran kemih biasanya ada riwayat
batu saluran kemih, hiperparatirodisme, penyakit inflamasi di usus
2. Klien dengan penyakit infeksi saluran kemih biasanya di temukan
adanya keluhan nyeri saat berekemih, nyeri pada suprapubis, tanda
vital dapat meningkat menyertai nyeri, suhu badan nadi meningkat
3. Klien dengan penyakit infeksi saluran kemih biasanya salah satu
anggota keluarga keluarganya ada yang menderita penyakit renal
tubular asidosis (RTA), dan sistinuria.
4. Klien denganpenyakit infeksi saluran kemih kebutuhan rasa aman
dan nyaman klien mengalami gangguan, yaitu rasa nyaman nyeri
yang di rasakan saat berkemih.
5. Kliendengan penyakit infeksi saluran kemih biasanya di lakukan
pemeriksaan labolatorium yang meliputi pemeriksaan urin, dan
pemeriksaan kultur urin.
Pada Ny‟S” data-data dalam pengkajian di temukan sbagai brikut :

84

1. Klien mengatakan klien datang ke RSUP NTB dengan rujukan dari
puskesmas Jane prie klien dalam keadaan lemah dan mengeluh
nyeri saat berkemih sejak 5 bulan yang lalu
2. Klien mengatakan ini yang ke dua kalinya menderita penyakit
infeksi saluran kemih
3. Pada pemeriksaan labolatorium di lakukan pemeriksaan urin,
meliputi pemeriksaan kimia dan sedimen, dan pemeriksaan kultur
urin
4.2 Diagnosa Keperawatan
Kesenjangan pada tahap perumusan diagnosa keperawatan pada
Ny‟S‟ adalah sbagai brikut :
Menurut teori Dongoes ada enam diagnosa keperawatan
pada klien infeksi saluran kemih, sedangkan dalam kasus yang di
temukan empat diagnose keperawatan. Hal ini di karenakan pada
saat penulis melakukan pengkajian, di temukan data-data yang
menunjang ke arah diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan
dengan nyeri invasi bakteri E. Coli
4.3 Rencana Keperawatan
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk
mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang di
identifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah
menentukan diagnose keperawatan dan menyimpulkan rencana
dokumentasi.
Pada konsep teori di sebutkan perencanaan sbagai brikut :
1. Pada konsep teori penentuan urutan diagnose keperawatan
aalah membuat prioritas urutan diagnose keperawatan. Prioritas
tertinggi di berikan untuk masalah kesehatan yang mengancam
kehidupan atau keselamatan klien. Masalah-masalah yang
sedang di alami di beri perhatian dulu dari pada masalah yang
bersifat potensial dan berdasarkan pola kebutuhan dasar
manusia menurut Hirarki maslow.

85

2. Pada konsep teori rencana keperawatan di susun berdasarkan
diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan
infeksi saluran kemih yaitu rencana di susun berdasarkan enam
diagnosa yang ada.
Sedangkan pada kasus Ny‟S‟ di dapatkan sebagai brikut :
1. Pada gambaran khusus dalam penentuan urutan diagnose
keperawatan

selain

menggunakan

pertimbangan-

pertimbangan seperti pada konsep teori, penulis juga
menggunakan pertimbangan berdasarkan kondisi patologis
suatu masalah kesehatan serta sumber daya yang di miliki
klien dan keluarga serta kemampuan rumah sakit.
2. Pada Ny‟S‟ rencana keperawatan di susun berdasarkan
empat diagnosa keperawatan yang muncul
Kesenjangan yang ada pada rencana keperawatan adalah
sbagai brikut :
1. Pada penentuan diagnose keperawatan pada kasus nyata
selain menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep
teori juga berdasarkan tersedianya sumber daya yang di
miliki klien, keluarga dan kemampuan RS. Hal ini di
maksudkan untuk mempermudah rencana keperawatan
dengan tidak mengurangi prinsip perawatan untuk
kesembuhan klien.
2. Pada konsep teori rencana di susun secara terperinci dan
berdasarkan empat diagnose keperawatan yang mungkin
muncul sedangkan pada kasus nyata perencanaan di
susun berdasarkan empat diagnose keperawatan yang
telah muncul pada klien Ny‟S”, hal ini di maksudkan
agar secara fokus mengatasi keluhan-keluhanklien pada
empat diagnosa yang telah muncul pada pasien.

86

4.4 Tindakan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan lanjutan dari rencana
keperawatan yang bertujuan untuk memahami kebutuhan akan
perawatan dan memecahkan masalah yang di hadapi klien dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan. Hal yang penting yang
harus di perhatikan pada pelaksanaan keperawatan ini adalah klien dan
keluarga sebagai sasaran tujuan keperawatan yang skaligus sbagai
subjek, oleh karena itu klien dan keluarga di beritahu sepenuhnya
dalam setiap tindakan keperawatan untuk mencapai hasil yang efektif
yaitu klien dapat sembuh serta klien dapat sembuh serta klien dapat
menyesuaikan diri semaksimal mungkin dengan kondisinya.
Dari semua rencana keperawatan yang ada sesuai dengan
diagnosa keperawatan yang di temukan pada klien, sebagian sudah
dapat di laksanakan dengan baik berkat bantuan dan kerjasama
keluarga serta bantuan dari perawat-perawat yang ada di ruangan serta
berdasarkan pada fasilitas yang ada di RSUP NTB.
4.5 Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan akhir proses keperawatan dan
merupakan tahap penilaian terhadap keberhasilan asuhan keperawatan
yang di lakukan dengan mencatat setiap reaksi, perubahan dan
perkembangan dalam bentuk SOAP.
Dalam keempat diagnosa keperawatan yang telah muncul pada
klien Ny‟S‟terdapat semua masalah teratasi.
Adapun diagnosa keperawatan yang sudah teratasi adalah sebagai
berikut :
1. Nyeri akut berhubungan dengan nyeri invasi bakteri pada mukosa
kandung kemih (sistitis)
S: Klien mengatakan nyeri dan rasa panas seperti terbakar saat
berkemih sudah hilang
O:
Keadaan umum baik
Klien tampak segar
Klien tampak tidak meringis lagi

87

Klien tampak lebih rileks dan nyaman
Klien tampak senang
TD: 120/80 mmHg, N: 80x/menit, S: 37,50C, R: 80x/menit
A: Masalah keperawatan nyeri akut teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Anjurkan klien untuk tetap minum air 1500 ml/hari
- Menganjurkan kepada klien untuk tetap menjaga kebersihan
organ intimnya
2. Hipertermi berhubungan dengan masuknya bakteri ke kandung
kemih mengakibatkan peningkatan suhu tubuh
S: Klien mengatakan badannya sudah tidak terasa panas lagi
O:
Keadaan umum baik
Suhu : 37,50C
Klien tampak lebih segar
Klien mengatakan badannya sudah tidak panas
A: Masalah peningkatan suhu tubuh Hipertermi teratasi
P: Intervensi di hentikan
3. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan trauma
mekanik dari infeksi mengakibatkan di suria dan urgensi
S: Klien mengatakan pola berkemihnya sudah lancar, air
kencingnya sudah keluar dengan lancer, dan warna urin sudah
jernih
O:
Keadaan umum baik
Klien tampak rileks
Klien tampak senang
Klien tampak lebih nyaman
A: Masalah keperawatan gangguan eliminasi urin teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Anjurkan klien untuk tetap mengkonsumsi air putih yang
banyak dan makanan yang sehat
- Anjurkan untuk mengganti pakaian dalam 1x/hari

88

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia
S: Klien mengatakan nafsu makannya sudah baik dan tidak mual
lagi, klien mengatakan makan 3x sehari dengan porsi satu piring
lengkap dengan lauk pauk
O:
Klien tampak lebih segar
Klien tampak bertenaga
Mukosa mulut lembab
Klien mendapat terapi infuse RL 15 tpm
A: Masalah resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
teratasi
P: Intervensi di lanjutkan
- Menganjurkan klien untuk mempertahankan nafsu makan
- Menganjurkan klien makan pada saat hangat

89

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari bab 1 sampai dengan bab 4 yang membahas tentang
asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis infeksi saluran
kemih, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sesuai dengan
tahap proses keperawatan sebagai brikut:
5.1.1

Pengkajian
Secara umum proses pengkajian sudah dapat di
laksanakan sebagaimana konsep teori. Hasil pengkajian di lihat
dari tanda-tanda yang di peroleh dari gambaran kasus nyata
hampir sama dengan konsep yang ada pada teori. Namun
demikian secara keseluruhan proses pengkajian masih di
temukan adanya beberapa perbedaan, hal ini di sebabkan
karena respond an mekanisme koping individu berbeda-beda.

5.1.2

Diagnosa keperawatan
Dalam

merumuskan

diagnose

keperawatan

berdasarkan analisa dan dari hasil pengkajian, penulis tidak
menemui hambatan, karena pemeriksaan yang di lakukan
sudah lengkap, dan diagnosa keperawatan yang di temukan
hampir sama dengan apa yang tertera pada landasan teori dan
permasalahan yang di hadapi sehingga perumusan diagnosa
keperawatan tidak menumui kesulitan. Dalam teori terdapat
enam diagnosa keperawatan, sedangkan pada Ny‟S” penulis
menemukan empat diagnosa keperawatan.
5.1.3

Perencanaan
Pada tahap ini penulis telah menyusun rencana sesuai
dengan konsep yang ada, namun ada beberapa hal yang belum
penulis rencanakan sebagai teori, hal ini di karenakan
keterbatasan waktu, fasilitas dan kemampuan yang di miliki
penulis. Dalam perencanaan tindakan keperawatan secara

90

umum sudah di rumuskan sesuai dengan landasan dari masingmasing diagnosa. Penulis berusaha menuliskan rencanarencana keperawatan berdasarkan literatur atau buku-buku
sesuai diagnosa tersebut yang sudah di sesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang ada pada klien.
5.1.4

Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan yang di lakukan
oleh penulis pada kasus Ny‟S‟ di sesuaikan dengan rencana
keperawatan yang telah di susun. Adapun hambatan yang
penulis rasakan dalam usaha untuk memberikan asuhan
keperawatan pada Ny‟S‟ adalah keterbatasan waktu dan
kemampuan penulis sehingga tidak dapat memonitor/ meng
observasi secara terus menerus tindakan keperawatan yang di
berikan dan respon hasil yang di tunjukan klien sebagai reaksi
terhdap tindakan keperawatan yang telah di berikan.

5.1.5

Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahap penilaian dan
rangkaian proses keperawatan yang telah di lakukan dengan
mencatat setiap respon atau hasil dan adanya perubahan klien
setelah di berikan tindakan keperawatan. Dalam evaluasi
penulis menemukan semua diagnose keperawatan sudah
teratasi

5.2 Saran
Dari kesimpulan yang di uraikan di atas, penulis dapat mengemukakan
beberapa saran sebagai berikut:
5.2.1

Profesi keperawatan
Dapaat di jadikan sebagai bahan untuk pendekatan dalam
memberikan motivasi pada penderita infeksi saluran kemih.

91

5.2.2

Institusi pendidikan
Dapat di jadikan sebagai bahan pembangunan pengetahuan
yang berkaitan dengan infeksi saluran kemih melalui kajiankajian penelitian

5.2.3

Instituti pelayanan kesehatan
Hasil penelitian dapat di jadikan masukan dan informasi bagi
rumah sakit khususnya Rumah Sakit Umum Provinsi NTB
dalam menentukan kebijakan pada masa yang akan datang.

5.2.4

Bagi tenaga kesehatan
Dapat memberikan masukan bagi tenaga kesehatan dalam
mempertahankan

kelangsungan

hidup

dan

mencegah

komplikasi lanjut pada kasus infeksi saluran kemih dengan
penanganan atau pemberian asuhan keperawatan yang baik dan
benar.