1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam darah terdapat zat gula yang berguna untuk dibakar menjadi kalori atau
energi. Sebagian gula yang ada dalam darah adalah hasil penyerapan dari usus dan
sebagian lagi hasil pemecahan simpanan energi dalam jaringan. Kadar gula dalam
darah tidak boleh lebih tinggi ataupun lebih rendah. Pada keadaan normal gula darah
diatur sedemikian rupa oleh insulin yang diproduksi oleh sel beta pankreas, sehingga
kadarnya di dalam darah selalu dalam batas normal. Tingginya kadar gula darah yang
disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kelainan kerja insulin atau kombinasi
keduanya lebih dikenal dengan Diabetes Melitus (DM) (Suyono, Waspadji,
Soegondo, et all, 2009).
DM merupakan penyakit kronik yang banyak diderita oleh jutaan orang di dunia
yang diakibatkan oleh perubahan gaya hidup. Ada empat klasifikasi utama DM, yaitu
Diabetes Melitus tergantung insulin (DM Tipe I), Diabetes Melitus tidak tergantung
insulin ( DM Tipe II), Diabetes Melitus yang berhubungan dengan keadaan atau
sindrom, dan Diabetes Melitus Gestasional (GDM). (Suyono, Waspadji, Soegondo,
et all, 2009).
Insiden DM di dunia terus meningkat tiap tahun dan sudah menjadi masalah yang
memerlukan perhatian yang lebih, baik di negara maju maupun di negara
berkembang seperti di Indonesia. (Suyono dalam Soegondo, 2009). Data Badan
Kesehatan Dunia

(WHO)

tahun 2013 menerangkan bahwa angka pasien DM

berjumlah 382 juta orang, dan diperkirakan angka ini akan terus mengalami
peningkatan menjadi 592 juta orang pada tahun 2035. Survei International Diabetes

2

Federation (IDF) tahun 2013 terhadap pasien DM di dunia menerangkan bahwa
Indonesia berada pada peringkat ke-7 dengan pasien DM terbanyak setelah China,
India, Amerika, Brasil, Rusia dan Meksiko dengan rentang batas usia terbanyak 2972 tahun Menurut data WHO, tahun 2004 angka kesakitan dan kematian yang
disebabkan oleh DM berada pada peringkat ke 12 yang diprediksi akan mengalami
peningkatan menjadi peringkat ke 7 di dunia pada tahun 2030 ( International
Diabetes Federation, 2013; Global Burden of Disease, 2004).
Berdasarkan penelitian Litbang Depkes 2013 bahwa prevalensi nasional DM di
Indonesia mengalami rata-rata peningkatan yakni, dari 1,1% menjadi 2,1% dalam
rentang waktu 6 tahun. Pravalensi tersebut meningkat 2-3 kali dibandingkan dengan
negara maju sehingga DM merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius
(www.balitbang.depkes.go.id).
Adapun kasus DM yang paling banyak terjadi adalah DM Tipe I dan DM Tipe
II. Di Indonesia terdapat kurang lebih 5-10% penderita mengalami DM Tipe I
sedangkan DM Tipe II meliputi lebih 90% dari semua populasi Diabetes yang ada.
DM Tipe II pada mulanya dapat diatasi dengan diet dan latihan namun harus
dilengkapi dengan terapi diet dan pemberian obat hipoglikemik oral apabila kadar
glukosa darah tidak tercukupi (Smeltzer & Bare, 2001).
Pada tahun 1998, PERKENNI melakukan Konsensus Nasional menetapkan 5
pilar utama pengelolaan DM yaitu edukasi, perencanaan makan (diit), latihan
jasmani, obat hipoglikemik, dan pemantauan glukosa darah secara mandiri (home
monitoring) yang harus menjadi bagian dari hidup pasien DM. Apabila DM tidak
dikelola dengan baik maka akan dapat mengakibatkan terjadinya berbagai penyulit
menahun, seperti penyakit serebro-vaskular, penyakit jantung koroner, penyakit
pembuluh darah tungkai, dan penyulit pada mata, ginjal dan saraf. Komplikasi

3

akutnya berupa koma hipoglikemia dan hiperglikemia ketoasidosis atapun non
ketoasidosis. Komplikasi akut ini masih menjadi masalah utama karena angka
kematiannya masih tinggi. Di Amerika Serikat, DM merupakan penyebab utama
kebutaan yang baru diantara penduduk berusia 25 hingga 74 tahun dan juga menjadi
penyebab utama amputasi di luar trauma kecelakaan. Dunia mencatat bahwa DM
berada dalam urutan ke dua belas menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit
dan hal ini sebagian besar disebabkan oleh penyakit arteri koroner yang tinggi pada
para pasien DM (Slamet Suyono, Sarwono Waspadji, Sidartawan Soegondo, et all,
2009).
Pasien DM yang mengalami penyakit dan infeksi akibat komplikasi memiliki
kadar glukosa darah yang tidak stabil. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi
penderita DM untuk mengendalikan kadar gula darah karena salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi pengendalian gula darah adalah penyakit dan infeksi.
Keadaan sakit dan infeksi dapat memberikan respon berupa stres fisik ( atau
emosional). Apabila stres ini menetap maka akan terjadi peningkatan kadar hormon
yaitu, glukagon, epinefrin, norepinefrin, kortisol dan hormon pertumbuhan. Hormon
hormon ini akan meningkatkan, yaitu glukagon, epinefrin, growth hormone dan
glukokortikoroid yang akan menimbulkan respon tubuh berupa pengaktivasi sistem
syaraf simpatis dan peningkatan kortisol. Kortisol akan meningkatkan konversi asam
amino, laktat, dan piruvat di hati menjadi glukosa, akibatnya stres akan
meningkatkan kadar glukosa darah (Smeltzer & Bare, 2001).
Stres seharusnya dapat dikendalikan dengan baik agar kadar gula darah dalam
tubuh berada dalam batas normal. Stres merupakan gangguan tubuh dan pikiran yang
disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan. Besar atau kecilnya masalah
yang terjadi adalah relatif dan tergantung bagaimana sudut pandang masing-masing

4

orang untuk memahami dan menghadapinya (Suliswati,et,all, 2005). Banyak orang
yang tidak menyadari bahwa menghindari stres dengan melakukan hal yang salah
akan dapat mengakibatkan kesehatan menjadi buruk, misalnya pasien yang tidak
mengikuti program diit dengan benar (Rasmun, 2004).
Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo I tahun
2010 bahwa sebagian besar pasien DM memiliki tingkat stres dalam kategori berat
yaitu sebanyak 25 responden (52%), selanjutnya sedang sebanyak 20 responden
(42%), dan ringan sebanyak 3 responden (6%). (Septian, Okti , 2010) kemudian pada
tahun 2012 Stres emosional pada pasien DM di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
Panembahan Senopati, Bantul sebagian besar dalam kategori stres sedang sebesar
69,1% (Amir Rusdi, 2012).
Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi merupakan rumah sakit provinsi yang
menjadi arah tujuan rujukan dari beberapa rumah sakit daerah kabupaten yang ada di
wilayah provinsi Jambi tentunya dapat memberi

gambaran

tentang beberapa

masalah kesehatan terutama DM. Berdasarkan rekam medis, data hasil rekapitulasi
jumlah kunjungan pasien DM rawat inap di RS Raden Mattaher Jambi pada jangka
waktu 3 tahun mengalami peningkatan, yakni sejumlah 148 pasien tahun 2011,
158 pasien tahun 2012 dan 210 pasien pada tahun 2013. Angka kejadian DM yang
tersebut meningkat menjadi masalah yang perlu diatasi baik secara fisik maupun
psikologis karena kadar glukosa darah dapat dikendalikan tidak hanya melalui
latihan fisik,pemberian obat, namun secara psikologis dan emosional penderita juga
harus mampu melatih diri.
Berdasarkan masalah diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti “ Gambaran
Stres Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher
Jambi Tahun 2014”.

5

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan masalah
dalam penelitian adalah bagaimana Gambaran Stres Pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2014.

C. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Stres Pada
Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2014.

D. Manfaat
1. Pelayanan Keperawatan
Diharapkan dapat menjadi masukan untuk bahan pertimbangan dalam
perencanan, dapat dijadikan sebagai acuan dalam membuat rancangan
Standar Prosedur Operasional (SPO) terkait pengembangan dan peningkatan
kualitas layanan asuhan keperawatan terutama pada pasien yang mengalami
DM secara komprehensif meliputi, fisik, psikososial, dan spritual.
2. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai awal pengembangan pengetahuan tentang penatalaksanaan
perawatan DM dan diharapkan dalam memberikan Askep yang komprehensif
dan terintegrasi dengan masalah psikologis pasien dan dapat dijadikan
informasi bagi perawat guna menunjang keterampilan dan pengetahuan.

6

3. Bagi Peneliti lain
a. Dapat dijadikan sebagai acuan dan pertimbangan untuk melakukan
penelitian selanjutnya.
b. Sebagai dasar untuk pendidikan lanjut tentang fakta-fakta yang
mempengaruhi stres pada pasien DM dan treatment yang dapat dilakukan
pada pasien DM.

E. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Provinsi
Jambi. Sasaran penelitian ini adalah Pasien Rawat Inap DM di RSUD Raden
Mattaher Provinsi Jambi Tahun 2014. Penelitian ini merupakan penelitian yang
bersifat Deskriptif yang menggunakan desain survey yang bertujuan untuk
mengetahui gambaran stres pada pasien DM yang menjalani manajemen terapi
DM di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi tahun 2014.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan
kuesioner Diabetes Distres Scale (DDS). Penelitian ini dilakukan pada 12 Juni11 Juli 2014. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat.

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Melitus
1. Definisi
Diabetes Melitus

merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai

dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. DM Tipe II
dikarakteristikan oleh adanya masalah utama yang berhubungan dengan resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin (Smeltzer & Bare, 2001).

2. Etiologi
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada DM Tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu ada
beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan kadar glukosa darah dan terjadinya
DM Tipe II, diantarnya: (Smeltzer & Bare, 2001)
a. Usia
Umur sangat erat kaitanya dengan kenaikan kadar glukosa darah,
sehingga semakin meningkat usia maka prevelensi diabetes dan gangguan
toleransi glukosa semakin tinggi. DM Tipe II biasanya terjadi setelah usia 30
tahun dan semakin sering terjadi setelah usia 40 tahun serta akan terus
meningkat pada usia lanjut. Sekitar 6% individu berusia 45-64 tahun dan 11%
individu berusia di atas 65 tahun. Usia lanjut yang mengalami gangguan
toleransi glukosa mencapai 50-92% (Medicastore, 2007; Rochman dalam
Sudoyo, 2006).

8

Proses

menua

yang

berlangsung

setelah

umur

30

tahun

mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia. Perubahan
dimulai dari tingkat sel berlanjut ke tingkat jaringan dan akhirnya pada
tingkat organ yang mempengaruhi fungsi homeostatis. Komponen tubuh
yang mengalami perubahan adalah sel β pankreas pengahasil insulin, sel-sel
jaringan target yang menghasilkan glukosa, sistem syaraf, dan hormon lain
yang mempengaruhi kadar glukosa darah. WHO menyebutkan bahwa setelah
usia 30 tahun, maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg/dl/tahun pada saat
puasa dan naik 5,6-13 mg/dl/tahun pada 2 jam setelah makan (Rochman
dalam Sudoyo, 2006).
b. Penyakit Penyerta
Separuh dari keseluruhan pasien DM yang berusia 50 tahun ke atas
dirawat di rumah sakit setiap tahunnya, dan komplikasi DM menyebabkan
peningkatan angka rawat inap bagi pasien DM Tipe II. (Smeltzer & Bare,
2001) Pasien DM mempunyai resiko untuk terjadinya jantung koroner dan
penyakit pembuluh darah otak 2 kali lebih besar, 5 kali lebih mudah
menderita ulkus/gangren, 7 kali lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal,
dan 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat kerusakan retina dari
pada pasien non DM. Kalau sudah terjadi penyulit, usaha untuk
menyembuhkan melalui pengontrolan kadar glukosa darah dan pengobatan
penyakit tersebut ke arah normal sangat sulit, kerusakan yang sudah terjadi
umumnya akan menetap (Waspadji, 2009).

9

c. Lama menderita DM
DM merupakan penyakit metabolik yang tidak dapat disembuhkan,
oleh karena itu kontrol terhadap kadar glukosa darah sangat diperlukan untuk
mencegah komplikasi baik akut maupun kronis. Lamanya pasien menderita
DM dikaitkan dengan komplikasi kronik yang menyertainya. Hal ini
didasarkan pada hipotesis metabolik, yaitu terjadinya komplikasi kronik DM
adalah sebagai akibat kelainan metabolik yang ditemui pada pasien DM.
Semakin lama pasien menderita DM dengan kondisi hiperglikemia, maka
semakin tinggi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi kronik (Waspadji,
2009).
Gejala klinis dapat ringan sampai berat dan tidak jarang ditemukan
Ketoasidosis Diabetik (KAD). Beberapa anak dengan gejala klasik seperti
penurunan berat bada, sedangkan yang lain dapat tanpa gejala dan ditemukan
glikosuria atau hiperglikemia pada saat skrining kesehatan (Jose RL Batu
Bara, 2010).

3. Tanda dan Gejala
Manifestasi klinik DM berhubungan dengan defisiensi relatif insulin. Akibat
defisiensi insulin ini pasien tidak dapat mempertahankan kadar glukosa darah
normal. Apabila hiperglikemia melebihi ambang ginjal (±180 mg/dl), maka timbul
tanda dam gejala glukosuria yang akan menyebabkan diuresis osmotik. Akibat
diuresis osmotik akan meningkatkan pengeluaran urin (poliuri), timbul rasa haus
yang menyebabkan banyak minum (polidipsi). Pasien juga banyak makan (polifagia)
akibat katabolisme yang dicetuskan oleh defisiensi insulin dan pemecahan protein
serta lemak karena glukosa hilang bersama urin, maka pasien mengalami

10

keseimbangan kalori negatif, akibatnya berat badan menurun. Pasien juga mengalami
gejala lain seperti kelemahan, keletihan, tiba-tiba terjadi perubahan pandangan, kebas
pada tangan atau kaki, kulit kering, luka yang sulit sembuh, dan sering muncul
infeksi (Price & Wilson, 2006; Smeltzer & Bare, 2008; Soegondo, 2009).

4. Patofisiologi
Pada DM Tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin,
yaitu: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat
dengan reseptor khususnya pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin
dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa
di dalam sel. Resistensi insulin pada DM Tipe Ii disertai dengan penurunan reaksi
intrasel. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam
darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita
toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang
berlebihan, dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau
sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi
peningkatanan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan
terjadi DM Tipe II (Smeltzer & Bare, 2001).

5. Diagnosis
Adanya kadar glukosa darah meningkat secara abnormal merupakan kriteria
yang melandasi penegakan diagnosis DM. Kadar gula darah plasma pada waktu
puasa yang besarnya di atas 140 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu yang di atas

11

200 mg/dl pada satu kali pemeriksaan atau lebih merupakan kriteria diagnostik
penyakit diabetes. Jika kadar gula darah puasanya normal atau mendekati normal,
penegakan diagnosis garus berdasarkan tes toleransi glukosa (Smeltzer & Bare,
2001).
Tes toleransi glukosa oral merupakan pemeriksaan yang lebih sensitif
daripada tes toleransi glukosa intravena yang hanya digunakan dalam situasi tertentu
(misalnya, untuk pasien yang pernah meninapi operasi lambung). Tes toleransi
glukosa oral dilakukan dengan pemberian larutan karbohidrat sederhana.
Pasien mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat (150-300 g) selama 3 hari
sebelum tes dilakukan. Sesudah berpuasa pada malam hari, keesokan harinya sampel
darah diambil. Kemudian karbohidrat sebanyak 75 g yang biasanya dalam bentuk
minuman diberikan kepada pasien. Pasien diberitahukan untuk duduk diam selama
tes dilaksanakan dan menghindari latihan, rokok, kopi serta makanan lain kecuali air
putih (Smeltzer & Bare, 2001).

6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan standar DM mencakup pengaturan makanan, latihan jasmani,
obat hipoglikemia, edukasi/penyuluhan, dan pemantauan kadar glukosa darah secara
mandiri (home monitoring). Penatalaksanaan non farmakologis merupakan langkah
pertama dalam pengelolaan DM. Apabila dengan penatalaksanaan non farmakologis
ini sasaran pengendalian glukosan darah belum tercapai, dapat dilanjutkan dengan
terapi farmakologis atau penggunaan obat. Pengelolaan DM sesuai lima pilar utama
pengelolaan DM dijabarkan sebagai berikut: (Smeltzer & Bare, 2001)

12

a. Edukasi
Melakukan kegiatan pendidikan kesehatan menjadi kewajiban bagi
seluruh tenaga medis untuk membuka mata dan pengetahuan masyarakat
mengenai semua hal yang berkaitan dengan kesehatan. Begitupun dengan
DM, pasiennya atau diabetes harus mengetahui dan mengerti apa yang
dimaksud dengan DM, apa yang menyebabkan penyakit tersebut, kemudian
komplikasi seperti apa yang terjadi jika pasiennya bersikap acuh tak acuh
dalam pengobatan. Pendidikan kesehatan bisa dilakukan lewat media apapun,
secar langsung face to face dengan melakukan seminar atau penyuluhan,
membagikan buletin khusus kesehatan (Basuki, 2009).
b. Perencanaan Makan
Tujuan perencanaan makan pada pasien DM adalah untuk
mengendalikan glukosa, lipid, dan hipertensi. Penurunan berat badan dan diit
hipokalori pada pasien gemuk akan memperbaiki kadar hiperglikemia jangka
pendek dan berpotensi meningkatkan kontrol metabolik jangka panjang.
Penurunan berat badan ringan dan sedang (5-10 kg) dapat meningkatkan
kontrol diabetes. Penuruna berat badan dapat dicapai dengan penurunan
asupan energi dan peningkatan pengeluaran energi (Sukardji, 2009).
Kebutuhan energi pasien diabete tergantung pada umur, jenis kelamin,
berat

badan,

tinggi

badan,

kegiatan

fisik,

keadaan

penyakit

dan

pengobatannya. Energi yang dibutuhkan dinyatakan dalam satuan kalori.
Komposisi makanan yang dianjurkan adalah 10-20% protein, 20-25% lemak,
dan 45-65% karbohidrat (Sukardji, 2009).

13

c. Latihan Jasmani
Masalah utama pada pasien DM adalah kekurangan respon reseptor
insulin terhdap insulin, sehingga insulin tidak dapat membawa masuk glukosa
ke dalam sel-sel tubuh kecuali otak. Dengan latihan jasmani secara teratur,
kontraksi otot meningkat yang menyebabkan permeabilitas membran sel
terhadap glukosa juga meningkat. Akibatnya resistensi berkurang dan
sensitivitas meningkat yang pada akhirnya akan menurunkan kadar glukosa
darah (Ilyas, 2009).
Kegiatan fisik dan latihan jasmani sangat berguna bagi pasien diabetes
karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan,
meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses
penuaan. Latihan jasmani merupakan salah satu pilar penatalaksanaan
diabetes, sehingga latihan jasmani perlu dibudidayakan. Latihan jasmani yang
dianjurkan untuk pasien diabetes adalah jenis aerobik seperti inap kaki, lari,
naik tangga, sepeda statis, joging, berenang senam aerobik dan menari.
Pasien diabetes dianjurkan melakukan latihan jasmani secara teratur 3-4 kali
seminggu selama 30 menit (Sukardji & Ilyas, 2009).
d. Pemantauan Glukosa Darah
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri,
pasien DM kini dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar
glukosa darah secara optimal. Cara ini memungkinkan untuk deteksi dan
pencegahan

hipoglikemia

serta

hiperglikemia,

dan

berperan

dalam

menentukan kadar glukosa darah normal yang memungkinkan akan
mengurangi komplikasi jangka panjang (Smeltzer & Bare, 2001).

14

e. Obat Hipoglikemik
Pemberian obat dilakukan untuk mengatasi kekurangan produksi
insulin serta menurunkan resistensi insulin. Obat-obatan disini dibagi menjadi
dua, obat oral dan injeksi sesuai Tipe DM yang di derita. DM Tipe I tidak
bisa menghasilkan insulin tetapi untuk pengobatan awal DM Tipe I masih
bisa diberikan obat oral tentunya dengan dosis tinggi (Waspadji, 2009).
Kemudian untuk DM Tipe II. Pertama, obat yang digunakan untuk
membantu produksi insulin yang kurang adalah obat yang dapat merangsang
pankreas untuk meningkatkan produksi insulin. Dan yang kedua, obat yang
digunakan untuk memperbaiki hambatan terhadap kerja insulin atau resistensi
insulin (Waspadji, 2009).

7. Komplikasi
Komplikasi jangka panjang timbul pada semua bentuk diabetes. Adapun macammacam jenis komplikasi, antara lain:
a. Komplikasi Akut
Ada tiga komplikasi akut pada diabetes yang penting dan
berhubungan dengan gangguan keseimbangan kadar glukosa darah jangka
pendek. Ketiga komplikasi itu,yaitu:
1) Hipoglikemia (Reaksi Insulin)
Merupakaan keadaan dimana kadar glukosa darah turun di bawah
50 hingga 60 mg/dl (2,7 hingga 3,3 mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi
akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi
makanan yang terlalu sedikir atau karena aktivitas yang berat.
Hipoglikemi dapat terjadi setiap saat pada siang dan malam hari. Gejala

15

hipoglikemi dapat dikelompokan menjadi tiga. Hipoglikemi ringan
ditandai dengan perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan
rasa

lapar.

Pada

Hipoglikemi

sedang

terjadi

ketidakmampuan

berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat,
patirasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak
terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional,
penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Pada Hipoglikemi Berat
geinapya dapat mencangkup perilaku yang mengalami disorientasi,
serangan kejang, sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan
kesadaran (Smeltzer & Bare, 2001).
2) Ketoasidosis Diabetik (KAD)
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau
tidak cukupnya jumlah insulin. Keadaan ini mengakibatkan gangguan
pada metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Ada tiga gambaran
klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis,yaitu dehidrasi, kehilangan
elektrolit dan asidosis. Tanda dan gejala ketoasidosis diabetik yang
mengelami hiperglikemia dapat menimbulkan polidipsi, poliuria,
penglihatan kabur, kelemahan dan sakit kepala. Ketosis dan asidosis yang
merupakan ciri khas diabetes ketoasidosis menimbulkan gejala
gastrointestinal seperti anoreksia, mual,muntah nyeri (Smeltzer & Bare,
2001).
3) Hiperglikemik Hiperosmoler Nonketotik (HHNK)
Sindrom

Hiperglikemia

hiperosmoler

nonketosis

(HHNK)

merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan
hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Kelainan dasar

16

biokimia pada sindrom ini berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan
hiperglikemia persisten menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi
kehilangan cairan dan elektrolit.untuk mempertahankan keseimbangan
osmotik, cairan akan berpindah dari ruang intrasel ke sel dalam ruang
ekstrasel. Dengan adanya glukosuria dan dehidrasi, akan dijumpai
keadaan hipernatremia dan peningkatan osmolaritas. Gambaran klinis
sindrom HHNK terdiri atas gejala hipotensi,dehidrasi berat (membran
mukosa kering,turgor kulit jelek) takikardia, dan tanda-tanda neurologis
yang bervariasi

(perubahan

sensori,

kejang-kejang,

hemiparesis)

(Smeltzer & Bare, 2001).

b. Komplikasi Jangka Panjang
Komplikasi jangka panjang diabetes dapat menyerang semua sistem
organ dalam tubuh. Kategori komplikasi kronis diabetes dapat dibagi menjadi
tiga macam, yaitu:
1) Komplikasi Makrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering
terjadi pada diabetes. Berbagai Tipe penyakit makrovaskuler dapat terjadi,
tergantung pada lokasi lesi aterosklerotik (Smeltzer & Bare, 2001).
a) Penyakit Arteri Koroner
Perubahan arterosklerotik dalam pembuluh darah arteri
koroner menyebabkan peningkatan insiden infark miokard pada
pasien diabetes lebih sering. Salah satu ciri pada penyakit arteri
koroner yang diderita oleh pasien-pasien diabetes adalah tidak

17

terdapatnya gejala iskemik yang khas dimana keluhan sakit dada atau
gejala khas lainnya tidak dialaminya(Smeltzer & Bare, 2001).
b) Penyakit Serebrovaskuler
Perubahan arterosklerotik dalam pembuluh darah serebral
atau pembentukan embolus di tempat lain dalam sistem pembuluh
darah yang kemudian terbawa aliran darah sehingga terjepit dalam
pembuluh darah serebral dapat menimbulkan serangan iskemia
sepintas dan stroke. Gejala penyakit serebrovaskuler ini berupa
keluhan pusing atau vertigo, gangguan penglihatan, bicara pelo dan
kelemahan(Smeltzer & Bare, 2001).
c) Penyakit Vaskuler Perifer
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar dan
ekstremitask bawah merupakan penyebab meningkatnya insiden
penyakit oklusif arteri perifer pada pasien-pasien diabetes. Tanda dan
gejala penyakit vaskuler perifer dapat mencangkup berkurangnya
denyut nadi perifer dan klaudikasio intermiten (nyeri pada pantat atau
betis ketika berinap) (Smeltzer & Bare, 2001).

2) Komplikasi Mikrovaskuler
a) Retinopati Diabetik
Kelainan patologis mata yang disebut retinopati diabetik
disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah kecil
pada retina mata. Sebagian tanda gejala yang terjadi berupa
penglihatan yang kabur, diplopia, dan glukoma (Smeltzer & Bare,
2001).

18

b) Nefropati
Pasien diabetes memiliki resiko sebesar 20% hingga 40%
untuk menderita penyakit renal. Khusunya bila kadar glukosa darah
meninggi, maka mekanisme filtrasi ginjal aka mengalami stres yang
menyebabkan kebocoran protein darah ke dalam urin. Akibatnya,
tekanan dalam pembuluh darah ginjal meningkat. Kenaikan tekanan
tersebut diperkirakan berperan sebagai stimulus untuk terjadinya
nefropati. Manifestasi klinik yang muncul ditandai dengan pasien
mengalami penurunan ketajaman visus, ulserasi kaki, diare noktural.
3) Neuropati Diabetes
Neuropati dalam diabetes mengacu kepada sekelompok penyakit
yang

menyerang

semua

sistem

saraf,

termasuk

saraf

perifer

(sensorimotor), otonom dan spinal. Kelaianan tersebut tampak beragam
dan secara klinis bergantung pada lokasi sistem saraf yang kena. Gejala
permulaannya adalah parestesia (rasa tertusuk-tusuk, kesemutan atau
peningkatan kepekaan) dan rasa terbakar (khusunya pada malam hari).
Dengan bertambah lanjutnya neuropati, kaki terasa baal (patirasa).

19

B. Stres
1. Pengertian Stres
Stres merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami ketegangan karena
adanya kondisi – kondisi yang mempengaruhi dirinya. Stres juga merupakan respon
yang datang dari diri seseorang terhadap tantangan fisik maupun mental yang datang
dari dalam ataupun dari luar dirinya. Oleh karena itu, selama kehidupan berlangsung
tidak mungkin manusia terhindar dari stres (Nasrudin, 2010).
Individu menggunakan istilah stres dalam berbagai cara. Stres juga dapat
merupakan bentuk penghargaan atau persepsi dari stresor. Penghargaan (apraisal)
adalah bagaimana individu menginterprestasikan dampak dari stresor pada diri
mereka, apa yang terjadi, dan apa yang mereka dapat lakukan pada hal tersebut.
(Lazarus, 2007). Akhirnya stres merupakan istilah umum yang menghubungkan
kebutuhan lingkungan dan persepsi individu terhadap kebutuhan tersebut sebagai
tantangan, ancaman, atau pengrusakan. (Varcarolis. Carson, dan Shoemaker, 2006).
Stres pada kontek ini ditunjukan pada konsekuensi dari stresor, begitu juga dengan
penghargaan seseorang terhadap stresor.
Hans Selye pada tahun 1950 berpendapat bahwa stres merupakan respon
tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stres apabila seseorang mengalami
beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapt mengatasi tugas yang
dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas
tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres. Sebaliknya apabila
seseorang yang dengan beban tugas yang berat tetapi mampu mengatasi beban
tersebut dengan tubuh berespon dengan baik, maka orang itu tidak mengalami stres
(Aziz Alimul, 2007).

20

Stres biasanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif padahal tidak.
Seseorang yang mengalami stres karena sebuah jabatan disebut sebagai eustres.
Terjadinya stres dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stresor. Bentuk
stresor ini dapat dari lingkungan, kondisi dirinya serta pikiran. Dalam pengertian
stres itu sendiri juga dapat dikatakan sebagai respon artinya dapat merespon apa yang
terjadi, juga disebut sebagai transaksi yakni hubungan antara stresor dianggap positif
karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan (Aziz Alimul, 2007).

2. Macam-macam Stres
Ditinjau dari penyebabnya, maka stres dibagi menjadi tujuh macam, di antaranya:
(Aziz Alimul, 2007)
1. Stres Fisik
Stres yang disebabkan karena keadaan fisik seperti karena temperatur yang
tinggi atau yang sangat rendah, suara bising, sinar matahari atau kerena arus
listrik.
2. Stres Kimiawi
Stres ini disebabkan karena zat kimia seperti adanya obat-obatan, zat beracun
basa, faktor hormon atau gas dan prinsipnya karena pengaruh senyawa kimia.
3. Stres Mikrobiologi
Stres ini disebabkan karena kuman seperti virus, bakteri atau parasit.
4. Stres Fisiologik
Stres yang disebabkan karena gangguan fungsi organ tubuh diantaranya dari
struktur tubuh, fungsi jaringan, organ dan lain-lain.

21

5. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan
Stres yang disebabkan karena proses pertumbuhan dan perkembangan, seperti
pada pubertas, perkawinan dan proses lanjut usia.
6. Stres psikis atau emosional
Stres

yang

disebabkan

karena

gangguan

situasi

psikologis

atau

ketidakmampuan kondisi psikologis untuk menyesuaikan diri seperti
hubungan interpersonal, sosial budaya atau faktor keagamaan

3. Etiologi
Terdapat banyak sumber stres yang secara luas dapat diklasifikasikan sebagai
sumber stresor internal atau eksternal, atau stresor perkembangan atau situasional.
1) Stresor Internal
Sumber stres dalam diri sendiri pada umumnya dikarenakan konflik yang
terjadi antara keinginan dan kenyataan berbeda, dalam hal ini adalah berbagai
permasalahan yang terjadi yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak mampu
diatasi, maka dapat menimbulkan stres. Misalnya, demam, kondisi seperti
kehamilan, menopouse atau suatu keadaan emosi seperti,rasa bersalah dan
perasaan depresi (Kozier, Erb, et.all, 2010; Potter, 2005).
2) Stresor Eksternal
Stres ini bersumber dari luar diri seseorang misalnya perubahan dalam
peran keluarga atau sosial, tekanan dari pasangan, dan kematian anggota
keluarga. Pemasalahan ini akan selalu menimbulkan suatu keadaan yang
dinamakan stres (Kozier, Erb, et.all, 2010).

22

3) Stresor Situasional
Sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau masyarakat pada
umumnya, seperti lingkungan pekerjaan, adanya permasalahan terorisme disuatu
negara sehingga banyak terjadi ancaman dan peperangan, sehingga dapat
mengakibatkan stres pada masyarakat secara umum disebut sebagai stres pekerja
karena lingkungan fisik, dikarenakan kurangnya hubungan interpersonal serta
kurangnya adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak dapat berkembang
(Kozier, Erb, et.all, 2010; Aziz, 2007).

4. Tanda dan Gejala Berdasarkan Tahapan Stres
Stres yang dialami seseorang dapat melalui beberapa tahapan, menurut Van
Amberg tahun 1979. Tahapan stres dapat terbagi menjadi enam tahap di anataranya:
(Aziz, 2007)
a. Tahap Pertama
Merupakan tahap yang ringan dari stres yang ditandai dengan adanya
semangat bekerja besar, penglihatannya tajam tidak seperti pada umumnya,
merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti biasanya, kemudian
merasa senang akan pekerjaan akan tetapi kemampuan yang dimilikinya
semakin berkurang.
b. Tahap Kedua
Pada stres tahap kedua ini seseorang memiliki ciri sebagai berikut adanya
perasaan letih sewaktu bangun pagi yang semestinya segar, terasa lelah sesudah
makan siang, cepat lelah menjelang sore, sering mengeluh lambung atau perut
tidak nyaman, denyut jantung berdebar-debar lebih dari biasanya, otot-otot
punggung dan tekuk semakin tegang dan tidak bisa santai.

23

c. Tahap Ketiga
Pada tahap ketiga ini apabila seseorang mengalami gangguan seperti
pada lambung dan usus seperti adanya keluhan gastritis, buang air besar tidak
teratur, ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan pola
tidur seperti sukar mulai untuk tidur, terbangun tengah malam dan sukar kembali
tidur, lemah, terasa seperti tidak memiliki tenaga.
d. Tahap Keempat
Tahap ini seseorang akan mengalami gejala seperti segala pekerjaan yang
menyenangkan terasa membosankan semula tanggap terhadap situasi menjadi
kehilangan kemampuan untuk merespon secara adekuat, tidak mampu
melaksanakan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan pola tidur, sering menolak
ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengigat dan konsentrasi menurun
karen adanya perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak diketahui
penyebabnya.
e. Tahap kelima
Stres tahap ini ditandai dengan adanya kelelahan fisik secara mendalam,
tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ringan dan sederhana, gangguan
pada sistem pencernaan semakin berat dan perasaan ketakutan dan kecemasan
semakin meningkat.
f. Tahap Keenam
Tahap ini merupakan tahap puncak dan seseorang mengalami panik dan
perasaan takut mati dengan ditemukan gejala seperti detak jantung semakin
keras, susah bernafas, terasa gemetar seluruh tubuh dan berkeringat,
kemungkinan terjadi kolaps atau pingsan.

24

5. Respon Fisiologis
a. Respon Stimulasi oleh Otak
Respon fisiologis terhadap stresor merupakan mekanisme protektif
dan adaptif untuk memelihara keseimbangan homeostasis dalam tubuh.
Dalam respon stres, impuls aferen akan ditangkap oleh organ pengindra
(mata,

telinga,

hidung,kulit)

dan

pengindra

internal

(baroreseptor,

kemoreseptor) ke pusat saraf di otak. Stres mungkin diterima oleh berbagai
pusat saraf yang berbeda mulai dari korteks sampai ke batang otak, yang
pada gilirannya akan menyampaikan informasi tersebut ke hipotalamus.
Respons terhadap persepsi stres tersebut terintegrasikan di dalam
hipotalamus, yang akan mengkoordinasikan penyesuaian yang diperlukan
untuk mengemablikan ke keadaan keseimbangan homeostasis. Derajat dan
durasi respon sangat bervariasi, stres mayor akan membangkitkan baik
respon simpatis maupun pituitari adrenal (Smeltzer & Bare, 2001).
b. Respon Neuroendokrin
Jalur neural dan neuroendokrin di bawah kontrol hipotalamus akan
diaktifkan dalam respon stres. Pertama, akan terjadi sekresi sistem saraf
simpatis kemudian diikuti oleh sekresi simpatis-adrenal-meduler, dan
akhirnyam bila stres masih tetap ada, sistem hipotalamus-pituitari akan
diaktifkan (Smeltzer & Bare, 2001).
Respon sistem saraf simpatis bersifat cepat dan singkat kerjanya.
Norepinefrin dikeluarkan pada ujung saraf yang berhubungan langsung
dengan ujung organ yang dituju mengakibatkan peningkatan fungsi organ
vital yang dituju mengakibatkan peningkatan fungsi organ vital dan keadaan
perangsangan tubuh secara umum. Frekuensi jantung meningkat. Terjadi

25

vasokontriksi perifer, mengakibatkan kenaikan tekanan darah. Darah juga
akan dialirkan keluar dari organ abdomen. Tujuan aktivitas tersebut adalah
untuk memperoleh perfusi yang lebih baik pada organ vital (otak,jantung,
otot skelet). Glukosa darah meningkat dan menyediakan sumber energi siap
pakai yang lebih banyak. Pupil akan berdilatasi, dan aktivitas mental akan
meningkatkan rasa kesiagaan menjadi lebih besar. Kontriksi pembuluh
darah pada kulit akan membatasi perdarahan bila terjadi trauma. Secara
subjektif kita akan merasa kaki dingin, kulit dan tangan lembab, menggigil,
berdebar-debar dan kejang pada perut. Secara khas, kita akan merasa
tegang, dengan otot leher, punggung atas, dan bahu menegang, pernapasan
dangkal dan cepat, dengan diafragma yang menegang (Smeltzer & Bare,
2001).
Selain efek langsungnya terhadap organ mayor akhir, sistem saraf
langsungnya terhadap organ mayor akhir, sistem saraf simpatis (SNS) juga
menstimulasi medula kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon
epinefrindan norepinefrin ke aliran darah. Aksi hormon tersebut mirip
dengan yang ada pada sistem saraf simpatis dan mempunyai efek
memperlambat dan memperlama aksinya. Epinefrin dan norepinefrin juga
menstimulasi sistem saraf dan menghasilkan efek metabolik yang akan
meningkatkan kadar glukosa darah dan meningkatkan laju metabolisme.
Efek tersebut disebut reaksi “fight or fight” (Smeltzer & Bare, 2001).
Fase dengan kerja terlama pada respon fisiologis, yang biasanya
terjadi pada stres yang menetap, melibatkan jalur hipotalamus piyuitari.
Hipotalamus mensekresikan corticotropin-releasing factor, yang akan
menstimulasi pituitari anterior untuk memproduksi adrenocorticotropic

26

hormone (ACTH). Kemudian ACTH akan menstimulasi pituitari anterior
untuk memproduksi glukokortikoid, terutama kortisol. Kortisol akan
menstimulasi katabolisme protein, melepaskan asam amino, menstimulasi
ambilan asam amino oleh hepar dan konversinya menjadi glukosa
(glukogenesis) dan menginhibisi ambilan glukosa (aksi anti-insulin) oleh
berbagai sel tubuh selain otak dan jantung. Efek metabolisme yang
diinduksi kortisol ini akan menyediakan sumber energi yang siap pakai
selama keadaan stres. Terdapat berbagai implikasi penting terhadap efek ini,
orang yang menderita diabetes bila mengalami stres, seperti akibat infeksi,
akan membutuhkan insulin lebih banyak dari biasanya. Setiap pasien yang
mengalami

stres

(penyakit,

pembedahan,

stres

psikologis

yang

berkepanjangan) akan mengkatabolisme protein tubuh dan sehingga
memerlukan tambahan. Anak yang mengalami stres berat akan mengalami
retardasi pertumbuhan (Smeltzer & Bare, 2001).

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres pada Pasien Diabetes Melitus
Stres fisiologik seperti infeksi dan pembedahan turut menimbulkan hiperglikemia
dan dapat memicu diabetes ketoasidosis. Stres emosional dapat memberi dampak
yang negatif terhadap pengendalian diabetes. Peningkatan hormon “stres” akan
meningkatkan kadar glukosa darah, khusunya bila asupan makanan dan pemberian
insulin yang tidak diubah. Di samping itu, pada saat terjadi stres emosional, pasien
diabetes dapat mengubah pola makan, latihan, dan penggunaan obat yang biasanya
dipatuhi. Keadaan in turut menimbulkan hiperglikemia (misalnya, pada pasien
dengan insulin atau obat hipoglikemia oral yang berhenti makan sebagai reaksi
terhadap stres emosional yang dialaminya).

27

Pasien diabetes harus menyadari kemungkinan kemunduran pengendalian
diabetes yang menyertai stres emosional. Bagi mereka diperlukan motivasi agar
sedapat mungkin mematuhi rencana terapi diabetes pada saat-saat stres. Di samping
itu, strategi pembelajaran untuk memperkecil pengaruh stres dan mengatasinya
ketika hal ini terjadi merupakan aspek yang penting dalam pendidikan diabetes
(Smeltzer & Bare, 2001).

28

C. Kerangka Teori
Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, kerangka teori stres kesehatan yang di
pergunakan adalah sebagai berikut:
Skema 2.1 Kerangka Teori
Diabetes Melitus (DM)

Ambilan Glukosa oleh
Sel
Kadar Glukosa Darah

Komplikasi Akut


Hipoglikemia
Ketoasidosis
Diabetik
(KAD)
Hiperglikemik
Hiperosmoler
Nonketotik
(HHNK)

Komplikasi Kronis


Makrovakuler

Mikrovaskuler


Penyakit Arteri
Koroner
Penyakit
Serebrovaskuler
Penyakit
Vaskuler Perifer


Retinopati
Nefropati

Stres

Sumber : (Smeltzer; 2001)

Neuropati



Sensori
Motorik
Otonom

29

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori pada BAB II, maka kerangka konsep
penelitian ini disesuaikan dengan pendapat Smeltzer, Kozier dan Aziz, yaitu stres
dapat meningkatkan kadar gula darah pada pasien DM yang bersumber dari
stresor internal,stresor eksternal, dan stresor fungsional. Maka kerangka konsep
penelitian ini yaitu, stres pada pasien DM.
Secara skematis kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut:
Skema 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Stres pada Pasien DM

B. Variabel dan Definisi Operasional
Berdasarkan variabel pada kerangka konsep penelitian, maka penulis
memberikan batasan-batasan dalam definisi operasional sebagai berikut:

30

Tabel 3.1 Variabel, Definisi Operasional dan Cara Ukur
Variabel

Definisi Operasional

Stres

pada Stres

Pasien DM

merupakan

dimana

Cara/Alat/Skala
suatu

responden

keadaan Cara : Wawancara
mengalami Alat : Kuesioner DDS

ketegangan karena adanya kondisi – Skala : Nominal
kondisi yang mempengaruhi dirinya Hasil :
dalam menjalani terapi DM, yang

1. Tidak

dinilai berdasarkan Diabetes Distres
Scale (DDS).

Stres,

jika

total skor < 18
2. Stres Ringan, jika
total skor 18-50
3. Stres Sedang, jika
total skor 51-84
4. Stres

Berat,

jika

total skor 85-102
Ji

C. Desain Penelitian
Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain
Survey.

Suatu

penelitian

yang

bertujuan

untuk

menggambarkan

atau

mendeskripsikan fenomena yang terjadi mengenai Gambaran Stres pada Pasien
DM Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi tahun 2014,
dan semua objek penelitian dilakukan pada waktu yang sama.

31

D. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher
Provinsi Jambi pada 12 Juni – 11 Juli 2014.

E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi menurut Arikunto (2010) adalah keseluruhan subjek
penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah suluruh pasien DM Tipe II di
Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi tahun 2014. Adapun
jumlah populasi untuk di rawat inap sebanyak 210 pasien pada tahun 2013.
2. Sampel
Menurut Arikunto (2010) Sampel adalah sebagian atau wakil populasi
yang diteliti. Cara pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik
accidental sampling. Sampel pada penelitian ini adalah pasien DM di Rawat
Inap RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi tahun 2014. Untuk menentukan
besarnya sampel dalam penelitian ini, digunakan rumus Lameshow. Jumlah
sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

n=

Z21-ɑ/2 P2N
D2 (N-1)+Z21-ɑ/2 P2

32

Ket:
n

= Jumlah sampel yang dibutuhkan

Z21- ɑ/2

= Nilai z pada derajat kepercayaan 1- ɑ/2 deviasi normal 95%

(1,96)
P

= Proporsi tidak diketahui maka p yang dipilih adalah 50% =
0,5 , sehingga P (1-P) adalah 0,5

D

= Presisi absolute yang diinginkan sebesar 15% (0.15)

N

= Jumlah populasi 210 orang

Perhitungan:

n=

n=

(1,96)2 (0,5)(0,5)(210)
(0,15)2 (799-1)+1,96 2.(0,5)2

35,61

Jadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 orang

Kriteria Inklusi responden yaitu;
a. Pasien DM yang dirawat di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Provinsi
Jambi dan telah mengetahui manajemen perawatan DM
b. Bersedia menjadi responden
c. Dapat diajak berkomunikasi dan kooperatif

Kriteria Ekslusi
a. Pasien DM yang mengalami gangguan kejiwaan berat seperti skizoprenia.
b. Pasien Lansia yang berusia lebih dari 65 tahun.

33

F. Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer
Yaitu pengumpulan data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya.
Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu data tentang
stres pada pasien yang menjalani manajemen terapi DM.
b. Data Sekunder
Yaitu pengumpulan data penunjang atau pelengkap yang diambil dari
RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi.

G. Pengelolahan dan Teknik Analisa Data
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah melalui tahapan,
sebagai berikut:
1. Editing
a. Memeriksa kelengkapan data yaitu memeriksa kelengkapan semua
pertanyaan yang diajukan.
b. Memeriksa kesinambungan data yaitu memeriksa apakah ada
keterngan data yang bertentangan antara satu dengan lainnya.
c. Memeriksa apakah semua pertanyaan sama.
2. Coding
Memberikan kode pada setiap data yang ada, maksudnya adalah
memberikan kode berupa angka atau hurufnya.

34

3. Scoring
Scoring dilakukan dengan menetapkan skor (nilai) pada setiap
pertanyaan kuesioner dan pada saat pengkategorian setiap variabel stres.
Pernyataan stres terdiri dari 17 item pertanyaan. Penilaian
terhadap stres menggunakan skala Likert. Untuk mengukur stres
digunakan skala 6 tingkat yang terdiri dari:
a. Nilai 1-2

: tidak ada masalah

b. Nilai 3-4

: masalah sedang

c. Nilai 5-6

: masalah berat

Interprestasi stres yang dialami responden berdasarkan jumlah skor
jawaban. Jika total skor jawaban benar 85-102 dikategorikan stres berat,
51-84 dikategorikan stres sedang, 18-50 dikategorikan stres ringan dan
<18 dikategorikan tidak stres.
4. Enty Data
Data yang telah diperiksa dan diberi kode dimasukkan ke dalam
program komputer untuk dianalisa.
5. Cleaning
Dilakukan untuk memastikan bahwa keseluruhan data sudah
dientry dan tidak terdapat kesalahan dalam memasukkan data sehingga
siap untuk di analisis.

35

H. Analisa Data
Analisa data dilakukan secara Univariat, yaitu menyederhanakan atau
memudahkan intervensi data ke dalam bentuk penyajian. Penelitian ini bertujuan
untuk melihat gambaran distribusi stres.
Dengan menggunakan rumus:

P=

F
N

X 100%

Keterangan:
P = Presentase
F = Frekuensi nilai jawaban
N = Jumlah pernyataan

36

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan mengenai hasil penelitian “Gambaran Stress pada
Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2014”, yang telah dilaksanakan pada 12 Juni -11 Juli 2014. Adapun hasil
dari penelitian ini disajikan dalam bentuk presentase, sehingga kita memperoleh
data dari apa yang telah diteliti. Persentase hasil penelitian diperoleh dengan
menggunakan pengisian kuesioner oleh responden. Dalam hal ini responden
diberi penjelasan terlebih dahulu, tentang bagaimana pengisian kuesioner.
Analisa dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Analisis
Univariat dimana hasil penelitian akan dilihat dalam bentuk distribusi frekuensi.

A. Hasil Analisis Univariat
1. Gambaran Umur Responden
Dari 36 responden pasien DM Tipe II yang dirawat di Rawat Inap
RSUD Raden Mattaher Jambi didapat usia responden yang terendah adalah 40
tahun dan tertinggi 62 tahun. Gambaran mengenai distribusi frekuensi
responden berdasarkan umur dikategorikan menjadi 3 kelompok, yakni usia
22-49 tahun untuk dewasa awal, 50-59 tahun untuk dewasa akhir, dan lebih
dari 60 tahun dikategorikan sebagai lansia yang dapat dilihat pada Tabel 4.1
berikut ini:

37

Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Umur di RSUD Raden Mattaher
Jambi Tahun 2014
(n=36)
Umur (Th)
N
%
Dewasa Awal
14
38,9
Dewasa Akhir
14
38,9
Lansia
8
22,2
Total
36
100
Berdasarkan tabel 4.1 distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher dapat disimpulkan bahwa sebagian
besar responden berumur dewasa awal sebanyak 14 responden (38,9%) dan
dewasa akhir sebanyak 14 responden (38,9%)
2. Gambaran Status Pendidikan Responden
Gambaran hasil penelitian tentang jumlah responden berdasarkan
status pendidikan pada tabel 4.2 berikut ini
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Status Pendidikan di RSUD Raden
Mattaher Jambi Tahun 2014
(n=36)
Status Pendidikan
N
%
SD

12

33,3

SMP

11

30,6

SMA

13

36,1

Total

36

100

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa distribusi frekuensi berdasarkan status
pendidikan di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi, sebagian besar
responden berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 13
responden (36,1%).

38

3. Gambaran Tingkat Stress
Gambaran mengenai stres pasien Diabetes Melitus (DM) Tipe II di
Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi diperoleh melalui pengisian
kuesioner, yang memiliki skoring disetiap masing-masing jawaban.
Hasil penelitian berdasarkan gambaran stress pada pasien DM Tipe II
di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi ada 4 kategori yaitu, stres berat
sekali bila skor 85-102, stres sedang bila skor 51-84, stres ringan bila skor 1850 dan tidak stres bila skor < 18. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
4.3 berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Stres Pasien Diabetes Melitus
(DM) Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2014
(n=36)
Tingkat Stres
N
%
Stres Ringan

8

22,2

Stres Sedang

14

38,9

Stres Berat

14

38,9

Total

36

100

Berdasarkan data distribusi jawaban dari 36 responden yang telah
diteliti berdasarkan tingkatan stres pasien Diabetes Melitus (DM) Tipe II di
Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi, didapat bahwa sebagian besar
pasien mengalami stres berat sebanyak 14 responden (38,9%) dan stres
sedang sebanyak 14 responden (38,9%).

39

Tabel 4.4
Distribusi Tingkat Stres Responden Berdasarkan Sumber Masalah di Rawat
Inap RSUD Raden Mattaher Jambi
(n=36)
Skala Tingkat Stres
Karakteristik

1
(%)

2
(%)

3
(%)

4
(%)

5
(%)

6
(%)

Diabaetes menyita terlalu banyak energi
baik mental maupun fisik setiap harinya.
Merasa marah, takut dan merasa tertekan
ketika berpikir tentang hidup dengan
diabetes.
Merasa mengalami komplikasi jangka
panjang yang serius, dan tidak peduli
dengan apa yang dilakukan.
Merasa diabetes mengontrol hidup

0
0

0
0

1
2,8

9
25,4

7
19,4

19
52,8

0
0

0
0

1
2,8

5
13,9

9
25,0

21
58,3

0
0

0
0

1
2,8

5
13,9

9
25,0

21
58,3

1
2,8
0
0

0
0
0
0

0
0
0
0

3
8,3
2
5,6

11
30,6
13
36,1

21
58,3
21
58,3

10
27,8

9
25,0

0
0

2
5,6

12
33,3

3
8,6

11
30,6

10
27,8

0
0

1
2,8

12
33,3

2
5,6

11
30,6

11
30,6

1
2,8

2
5,6

11
30,6

0
0

10
27,8

9
25,0

2
5,6

3
8,3

12
33,3

0
0

2
5,6
12
33,3
0
0
1
2,8
4
11,1
8
22,2

1
2,8
5
13,9
0
0
0
0
1
2,8
22
61,1

1
2,8
0
0
2
5,6
4
11,1
0
0
4
11,1

4
11,1
2
5,6
6
16,7
3
8,3
6
16,7
2
5,6

9
25,0
15
41,7
8
22,2
10
27,8
10
27,8
0
0

19
52,8
2
5,6
20
55,6
18
50,0
15
41,7
0
0

8
22,2

22
61,1

4
11,1

2
5,6

0
0

0
0

8
22,2

22
61,1

4
11,1

2
5,6

0
0

0
0

Merasa kewalahan dengan peraturan
hidup dengan diabetes.
Merasa petugas kesehatan tidak cukup
memahami
tentang
diabetes
dan
perawatan diabetes
Merasa
petugas
kesehatan
tidak
mengarahkan dengan jelas bagaimana
cara mengelola diabetes
Merasa petugas tidak menganggap
masalah diabetes serius
Tidak mempunyai petugas kesehatan
yang dapat memeriksa diabetes dengan
teratur
Merasa tidak yakin akan mampu
mengelola diabetes dalam keseharian
Tidak mengukur gula darah dengan
teratur
Merasa
sering
gagal
melakukan
manajemen diabetes
Merasa tidak mengikuti perencanaan
makan yang baik
Merasa tidak termotivasi menjaga
manajemen diabetes
Merasa teman atau keluarga tidak
mendukung penuh upaya perawatan diri
Merasa teman dan keluarga tidak
menghargai bagaimana sulitnya dapat
hidup dengan diabetes
Merasa teman atau keluarga tidak
memberi dukungan emosional

40

Berdasarkan tabel 4.4 diatas, menjelaskan bahwa stresor pasien DM yang
tertinggi berasal dari internal atau dalam diri pasien sendiri yakni, sebanyak 21
responden (58,3%) memilih skala 6 dan 13 responden (36,1%) memilih skala 5
yang menyatakan bahwa mereka merasa kewalahan dengan peraturan manajemen
DM. Sumber stres tertinggi lainnya masih berasal dari internal juga yakni, 21
responden (58,3%) memilih skala 6 dan 11 responden (30,6%) memilih skala 5 yang
merasa diabetes mengontrol hidupnya, merasa mengalami komplikasi jangka panjang
yang serius, dan tidak peduli dengan apa yang dilakukannya dan merasa marah, takut
serta tertekan ketika berpikir tentang hidup dengan DM.
Nilai stres terendah berasal dari hubungan interpersonal yakni, 22 responden
(61,1%) pasien DM menilai skala 2 dan 8 responden (22,2%) menilai skala 1 yang
menyatakan bahwa mereka merasa teman atau keluarga yang tidak mendukung
penuh upaya perawatan dirinya, tidak menghargai sulitnya hidup dengan diabetes
dan tidak memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan.

41

BAB V
PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian
Penelitian mengenai “Gambaran Stres pada Pasien Diabetes Melitus
(DM) Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2014”, ini
memiliki keterbatasan dalam waktu dan tempat yang tersedia. Dalam
keterbatasan waktu yang ada, penelitian ini dilakukan penetapan dengan jumlah
36 responden dan ruang lingkup Rawat Inap nya hanya mencangkup 3 ruang
rawat saja yang terbatas pula jumlah pasiennya, dan peneliti hanya meneliti
gambaran stres pada pasien Diabetes Melitus (DM) Tipe II di Rawat Inap RSUD
Raden Mattaher Jambi Tahun 2014.
Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara
pengisian kuesioner sehingga kualitas yang diperoleh sangat tergantung dari
kerjasama responden dalam menjawab setiap pertanyaan yang sudah disediakan
dalam kuesioner sedangkan observasi yang dilakukan oleh peneliti juga sangat
tergantung dari objektivitas peneliti sendiri. Pada saat penelitian dibantu oleh 2
teman dari Poltekkes Jurusan Keperawatan.

B. Umur
Berdasarkan hasil penelitian dari karakteristik umur, dari 36 responden
yang diteliti di rawat inap RSUD Raden Mattaher Jambi rentang usia penderita
DM yang ditemukan berada pada usia 40-61 tahun, yaitu dengan pengkategorian
berdasarkan tingkat perkembangan maka jumlah tertinggi pada umur dewasa

42

awal sebanyak 14 responden (38,9%), dewasa akhir sebanyak 14 responden
(38,9%) dan lansia sebanyak 8 responden (22,2%).
Ditinjau dari umur responden, nampak bahwa sebagian besar responden
tergolong dalam kelompok usia produktif (40 – 50 tahun).

Seseorang yang

berada pada usia produktif memiliki tingkat produktivitas yang baik dalam
bentuk rasional maupun motorik.
Golberg dan Coon dalam Rochman (2006) menyatakan bahwa umur
sangat erat kaitannya dengan kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin
meningkat usia maka prevalensi diabetes dan gangguan toleransi glukosa
semakin tinggi. DM Tipe II biasanya terjasi setelah usia 30 tahun dan semakin
sering terjadi setelah usia 40 tahun serta akan terus meningkat pada usia lanjut.
Sekitar 6% indivisu berusia 45-64 tahun, dan 11% individu berusia 65 tahun.
Proses menua yang berlangsung setelah umur 30 tahun mengakibatkan
perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia. Perubahan dimulai dari tingkat sel
berlanjut ke tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang
mempengaruhi fungsi homeostasis. Komponen tubuh mengalami perubahan
adalah sel β pankreas penghasil insulin, sel-sel jaringan target yang menghasilkan
glukosa, sistem syaraf, dan hormon lain yang mempengaruhi kadar glukosa
darah. WHO menyebutkan bahwa setelah usia 30 tahun, maka kadar glukosa
darah akan naik 1-2mg/dl/tahun pada saat puasa dan baik 5,6-13 mg/dl/tahun
pada 2 jam setelah makan (Rochman dalam Sudoyo, 2006).

43

C. Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian status pendidikan di Rawat Inap RSUD
Raden Mattaher Jambi, menunjukkan bahwa sebagian besar responden
berpendidikan SMA sebanyak 13 responden (36,1%), SMP sebanyak 11
responden (30,6%), dan SD sebanyak 12 responden (33,3%).
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan
manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan
kebahagian. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya halhal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup
(Notoadmodjo, 2005).
Perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar didukung oleh
meningkatnya kualitas hidup dapat menyebabkan daya beli juga semakin tinggi
sehingga pola makan telah bergeser dari pola makan yang tradisional ke pola
makan kebarat-baratan yang banyak mengandung protein, lemak, garam, gula
dan sedikit mengandung serat. Kurangnya aktivitas gerak dan pola makan yang
tidak baik dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan kegemukan
yang merupakan faktor-faktor penunjang pasien terdiagnosis DM (Smeltzer,
2001).

44

D. Gambaran Tingkat Stress
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 responden yang telah diteliti
tingkat stres pasien pada pasien DM Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden
Mattaher Jambi, didapat bahwa tingkat stres berat sebanyak 14 responden
(38,9%), stres sedang sebanyak 14 responden (38,9%), dan stres ringan sebanyak
8 responden (22,2%).
Stres merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap
tuntutan atau beban atasnya atau dapat dikatakan stres apabila seseorang
mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat
mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak
mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres.
Terjadinya stres dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stresor. Bentuk
stresor ini dapat dari lingkungan, kondisi dirinya serta pikiran (Rasmun, 2004).
Kondisi emosi secara umum berbeda antara responden yang sudah lama
didiagnostis DM dan subjek yang baru didiagnostis DM. Responden yang sudah
lama DM umumnya sudah merasa ikhlas dan pasrah dengan kondisi dirinya
sedangkan responden yang baru terdiagnostis DM akan merasa cemas dan
ketakutan dengan kondisinya. Tahap penerimaan dapat dikatakan akan sukses
terjadi apabila pasien mampu mengontrol gula darahnya dan melakukan
manajemen DM dengan baik.
Terdapat banyak sumber stres yang secara luas dapat diklasifikasikan
sebagai sumber stresor internal atau eksternal, atau stresor perkembangan atau
situasional. Stresor

yang berasal dari dalam diri sendiri pada umunya

dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan berbeda, dalam

45

hal ini terjadi berbagai permasalahan yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak
mampu diatasi, maka dapat menimbulkan stres (Aziz Alimul, 2007)
Berdasarkan hasil penelitian 21 responden (58,3%) mengatakan bahwa
sumber stresor yang paling berat berasal dari dalam diri mereka sendiri yakni,
mereka merasa DM mengontrol hidup mereka sedangkan sumber stres dari dalam
masyarakat atau dari lingkungan sendiri hasil penelitian menunjukkan bahwa 12
responden (33,3%) memilih skala 6 dengan kategori masalah berat untuk
mengambarkan bahwa mereka merasa petugas kesehatan tidak cukup memahami
tentang diabetes dan perawatan diabetes.
Sumber stres lain yang masih berasal dari luar namun bersumber dari
interpersonal atau hubungan dengan sesama. Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa 22 responden (61,1%) memberikan penilaian pada skala 2 pada rentang
tidak adanya masalah yang dapat disimpulkan bahwa mereka merasa teman dan
keluarga telah mendukung, menghargai dan memberikan dukungan emosisonal
yang mereka butuhkan dalam perawatan DM tersebut.
Dalam pelaksanaan manajemen DM, 20 responden (55,6%) memberikan
penilaian skala 6 dalam kategori masalah berat berpendapat bahwa mereka sering
gagal dalam melaksanakan manajemen DM khususnya dalam mengatur pola
makan.
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin
dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi
vaskuler serta neuropatik. Lima komponen dalam penatalaksanaan DM, yakni
diet,latihan,pemantauan,

terapi,

dan

pendidikan

kesehatan

merupakan

penanganan yang harus dijalani sepanjang perjalanan penyakit DM yang
menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup, keadaan fisik dan mental

46

emosional penderitanya. Kepatuhan jangka panjang terhadap perencanaan makan
merupakan salah satu aspek yang paling menimbulkan tantangan dalam
penatalaksanaan DM. Meskipun tim kesehatan telah mengarahkan penanganan
tersebut, namun pasien sendirilah yang harus bertangung jawab dalam
pelaksanaan terapi yang kompleks itu sendiri setiap harinya.
Pemahaman

responden

tentang

penyakitnya

yang

tidak

dapat

disembuhkan dengan sempurna juga merupakan salah satu penyebab munculnya
kekhawatiran penderita DM akan peran dan fungsinya dalam keluarga dan
masyarakat. Penyakit DM yang diderita menimbulkan berbagai perubahan atau
gangguan baik fisik maupun psikologis bagi penderita. Penderita DM harus
tergantung pada terapi pengelolaan DM. Hal tersebut dapat menimbulkan
permasalahan misalnya pasien merasa lemah karena harus membatasi diet.
Perubahan pasien dalam memandang dirinya secara negatif, misalnya pasien
merasa putus asa dan tidak dapat menerima keadaannya akan mempengaruhi
kosep diri pasien. Pasien merasa stress dan terganggu yang akhirnya dapat
memperberat keadaan sakitnya, Pinci (2008) juga menyebutkan bahwa rasa tidak
berdaya sering terjadi pada individu dengan penyakit kronis. Ketidakberdayaan
merupakan suatu persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan mempengaruhi
hasil. (Budi & Arini, 2011)
Penyakit DM termasuk penyakit kronis yang memerlukan perawatan
sepanjang hidupnya, sehingga diperlukan penanganan yang holistik, bila
penanganannya tidak tepat akan memiliki dampak yang luas, baik terhadap
pasien maupun keluarganya. Kepatuhan pasien Diabetes Mellitus terhadap
program pengobatan terutama pasien yang berada di rumah sangat penting,

47

karena dengan pengendalian kadar glukosa darah yang baik akan mencegah
timbulnya komplikasi.
Meskipun penatalaksanaan DM sangat kompleks, penderita yang mampu
melakukan perawatan dirinya dengan optimal akan dapat mengendalikan glukosa
darahnya, bertolak belakang dengan mereka yang tidak mampu mengendalikan
kadar glukosa darah dengan baik, berbagai masalah akan muncul seperti luka
gangren, penurunan penglihatan dan neuropati. Pengendalian Diabetes juga
sangatlah penting dilaksanakan sedini mungkin, untuk menghindari biaya
pengobatan yang sangat mahal dan gangguan fungsi pada keluarga. Keluarga
juga memiliki peranan yang penting dalam memberikan motivasi, support system
dan perawatan pada anggota keluarganya yang menderita DM.
Selain itu, perawatan pada pasien dengan diabetes mellitus dan
komplikasinya membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit,
sehingga dapat menimbulkan beban pada pasien dan keluarga. Oleh karena itu,
dengan adanya perubahan perilaku untuk melakukan perawatan mandiri, keluarga
dan pasien mempunyai kemampuan untuk mengelola kesehatannya sendiri
termasuk dalam mengontrol kadar glukosa darah dan melalui perawatan mandiri
juga, diharapkan angka harapan hidup dan produktifitas penderita DM tetap
tinggi. Oleh karena itu, pemahaman diabetes harus dilakukan secara menyeluruh,
baik faktor risikonya, diagnosanya, penanganannya maupun komplikasinya.
Salah satu usaha pencegahan adalah dengan pendidikan kesehatan yang
mendorong kemandirian pasien sehingga mampu mengelola kesehatannya secara
mandiri (Warsi et al,2004).
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan, memiliki peranan yang
strategis dalam memberikan kemampuan kepada keluarga dan pasien dalam

48

melakukan penanganan secara mandiri. Sejumlah penelitian eksperimental
memperlihatkan bahwa perawat mempunyai peran yang cukup berpengaruh
terhadap perilaku pasien Dengan memberikan pemahaman yang benar dan
memberdayakan keluarga dan pasien dalam berpartisipasi untuk dapat melakukan
perawatan diri secara mandiri (self-care), berbagai komplikasi yang mungkin
akan muncul dapat dikendalikan dan pasien memiliki derajat kesehatan yang
optimal.

49

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dari 36 responden yang telah diteliti
tingkat stres pasien pada pasien DM Tipe II di Rawat Inap RSUD Raden
Mattaher Jambi, didapat kesimpulan, yaitu responden yang mengalami Stres
berat sebanyak 14 responden (38,9%), stres sedang sebanyak 14 responden
(38,9%), dan stres ringan sebanyak 8 responden (22,2%) dengan sumber stres
atau stresor tertinggi berasal dari internal atau dalam diri pasien sendiri yakni,
sebanyak 21 responden (58,3%) memilih skala 6 dan 13 responden (36,1%)
memilih skala 5 yang menyatakan bahwa mereka merasa kewalahan dengan
peraturan manajemen DM sedangkan stesor lain berasal dari lingkungan
sebanyak 12 responden (33,3%) memilih skala 6 dengan kategori masalah
berat untuk mengambarakan bahwa petugas kesehatan tidak cukup memahami
tentang DM dan perawatannya.

B. Saran
1. Pelayanan Keperawatan
Agar mengupayakan peningkatan pemahaman dan pengetahuan
tentang DM dan manejemennya agar kualitas pelayanan keperawatan

dan

asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien efektif dan holistik,
khusunya dalam bentuk edukasi terstruktur untuk pasien DM, keluarga dan
masyarakat.

50

2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan agar dapat meningkatkankan kemampuan

mahasiswa

dalam memberikan edukasi tentang manajemen DM hingga stres pasien.
3. Bagi Peneliti
Diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian melalui penelitian
lebih lanjut dengan desain varibel yang berbeda dan dapat melakukan
penelitian mengenai manajemen stres yang efektif pada klien DM Tipe II yang
dapat memberikan efek positif yang dapat menurunkan kadar glukosa darah.