1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pendidikan sebagai proses belajar bertujuan untuk mengembangkan
seluruh potensi yang ada pada diri siswa secara optimal, baik kognitif, afektif,
maupun psikomotorik. Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia telah
lama dilakukan, salah satunya adalah dengan mengadakan perombakan dan
pembaharuan kurikulum yang berkesinambungan , mulai dari kurikulum 1968
sampai kurikulum 2004. Namun, pada kenyataannya, mutu pendidikan di
Indonesia masih rendah.
Indikasi rendahnya pendidikan di Indonesia sangat dirasakan pada
pembelajaran eksakta, salah satunya adalah mata pelajaran kimia sebagai bagian
dari mata pelajaran IPA (Suyanti, 2008). Kimia sebagai salah satu ilmu
Pengetahuan

Alam

yang

mendorong

perkembangan

teknologi

modern,

mempunyai peranan penting dalam memajukan daya pikir manusia. Untuk
menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan
Kimia. Oleh karena itu, mata pelajaran kimia sudah mulai diberikan dari jenjang
sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, mata pelajaran ini
diberikan kepada siswa/siswa jurusan ilmu alam.
Kimia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting ternyata dianggap
susah dipelajari oleh sebagian besar siswa/siswi. Hal ini diperkuat oleh pengakuan
beberapa siswa yang mengatakan bahwa pelajaran kimia adalah pelajaran yang
sulit. Mereka mengatakan bahwa jika sedang belajar kimia guru yang
menerangkan di depan kelas tidak diperhatikan oleh mereka. Mereka lebih baik
bercerita dengan teman semejanya. Hal itu mereka lakukan karena mereka tidak
mengerti yang diterangkan oleh gurunya.
Berangkat dari masalah tersebut calon peneliti beranggapan bahwa metode
mengajar yang dilakukan oleh guru belum tepat. Guru masih menggunakan
metode dengan pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered).

2

Dalam hal ini, metode yang digunakan hendaknya bukanlah metode
dengan pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered) tetapi berpusat
pada siswa (student centered). Karena jika pengetahuan hanya dipindahkan
dengan cara guru yang dengan gagahnya menjelaskan materi demi materi, yang
jadi tambah pintar malah guru tersebut. Siswa harus mengambil peran aktif dalam
memilih, mengelola informasi, mengkonstruk hipotesisnya, memutuskan dan
kemudian

merefleksikan

pengalamannya

untuk

menentukan

bagaimana

pengetahuan itu dapat mereka transfer ke berbagai situasi yang lain (Amir, 2009).
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua hal yang amat penting adalah
metode mengajar dengan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan.
Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media
pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus
diperhatikan dalam memilih media (Arsyad, 2002).
Beberapa jenis model pembelajaran yang berpusat pada siswa diantaranya:
pembelajaran kolaborasi, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis
masalah, dan model pembelajaran bermain peran (Harsono, 2002). Berkaca pada
jati diri bangsa yang memiliki jiwa gotong royong dalam kehidupan
bermasyarakat, model pembelajaran yang tepat untuk digunakan adalah
pembelajaran kooperatif. Selain itu, ada beberapa alasan penting mengapa sistem
pembelajaran kooperatif perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Seiring
dengan proses globalisasi, juga transformasi sosial, ekonomi, dan demografis
yang mengharuskan sekolah dan perguruan tinggi untuk lebih menyiapkan anak
didik dengan keterampilan-keterampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam
dunia yang berubah dan berkembang pesat (Lie, 2002).
Model pembelajaran kooperatif beranjak dari dasar pemikiran "getting
better together", yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang
lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, dan
mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial
yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Pada saat itu juga siswa yang
belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar tutor
sebaya (peer group) dan belajar secara bekerjasama (cooperative).

3

Menurut Lie (2002) salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Two
Stay Two Stray (TSTS) yang dikembangkan oleh Kagan (1992). Model ini, dalam
kegiatannya memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan
informasi dengan kelompok lain. Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay
Two Stray yang selajutnya disebut model pembelajaran TSTS ini juga memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bertukar pikiran dan membangun keterampilan
sosial seperti mengajukan pertanyaan dan memberi kesempatan kepada siswa
untuk belajar melalui mengajar, sehingga interaksi siswa akan berkembang selama
proses pembelajaran. Alur proses belajar tidak harus selalu berasal dari guru
menuju siswa, tetapi siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang
lainnya. Bahkan banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh teman
sebaya akan lebih mudah dimengerti dan lebih efektif daripada pengajaran oleh
guru (Lie, 2002).
Beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa untuk tugas
skripsinya menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Two Stay Two
Stray memberi dampak yang positif terhadap hasil belajar kimia. Diantaranya
penelitian yang dilakukan oleh Vera Agustina (2011) dari Universitas Negeri
Medan, menyatakan bahwa model pembelajaran TSTS meningkatkan hasil belajar
siswa kelas X pada pokok bahasan hidrokarbon dari nilai rata-rata 26,61 menjadi
77, 49.

Penelitian yang dilakukan Leony Sanga Lamsari Purba menyatakan

bahwa model TSTS meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI pada pokok
bahasan koloid dari rata-rata 37,80 meningkat menjadi 81,95. Penelitian yang
dilakukan oleh Darmawan (2011) dari Universitas Pendidikan Indonesia
menyatakan bahwa model TSTS meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI pada
pokok bahasan kesetimbangan kimia dari rata-rata 34,73 menjadi 75,78.
Merujuk pada pentingnya dikembangkan interaksi siswa selama proses
pembelajaran

dan

keberhasilan

model

kooperatif

dalam

memfasilitasi

pengembangan interaksi siswa, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran TwoStay Two Stray (TSTS)
Dengan Media Berbasis Komputer Terhadap Hasil Belajar Kimia SMA
Kelas X Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia”.

Apakah Aktivitas Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Diintegrasikan Dengan Media Berbasis Komputer Lebih Tinggi Dibandingkan Aktivitas Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Media Berbasis Komputer? . peneliti menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray yang diintegrasikan dengan media berbasis komputer.Batasan Masalah Agar penelitian ini dapat terlaksana dengan baik dan terarah. 4. 3. Siswa menganggap kimia sebagai salah satu mata pelajaran yang susah untuk dimengerti. 2. Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. siswa pasif dan kurang terlibat pada pembelajaran.3. 3. maka yang menjadi ruang lingkup masalah dalam penelitian ini antara lain: 1. Guru masih menggunakan metode ceramah di mana pembelajaran masih berpusat pada guru. 2. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Dengan Media Berbasis Komputer Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa? 2.2. 1. Kimia merupakan mata pelajaran yang berisi konsep-konsep yang sulit untuk dipahami.Rumusan masalah Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Ruang Lingkup Berdasarkan latar belakang di atas yang telah dikemukakan. maka penelitian ini dibatasi pada: 1. Penilaian yang dilihat yaitu peningkatan hasil belajar siswa.4 1. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMA kelas X pada pokok bahasan ikatan kimia. Dalam penelitian ini. 1.4.

Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dengan media berbasis komputer dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa khususnya pada pokok bahasan ikatan kimia.5. Untuk mengetahui apakah aktivitas belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray diintegrasikan dengan media berbasis komputer lebih tinggi dibandingkan aktivitas belajar siswa yang diajar menggunakan media berbasis komputer? . 1. hasil penelitian ini akan menambah wawasan. 2. 2. 3.5 1. Bagi sekolah. Bagi peneliti. kemampuan dan pengalaman dalam meningkatkan kompetensi sebagai calon guru.Tujuan penelitian 1.6. diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah dalam rangka meningkatkan hasil belajar kimia siswa di SMA Muhammadiyah 8 Kisaran. hasil penelitian akan memberikan masukan tentang penggunaan model pembelajaran Two Stay Two Stray dalam melakukan pembelajaran kimia khususnya pada pokok bahasan ikatan kimia. Manfaat penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi guru kimia. .

turut pula menentukan terhadap kondisi belajar.1. yaitu faktor jasmaniah. Misalnya ketika seorang guru menjelaskan suatu materi pelajaran. Di dalam membicarakan faktor intern ini. motif. maka belum tentu yang bersangkutan belajar. Kita hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak. Dalam proses belajar banyak faktor-faktor yang mempengaruhi selama melakukan proses belajar.6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. cacat tubuh dan faktor psikologis meliputi inteligensi. kematangan. 2010). akan tetapi karena ia sangat mengagumi cara guru berbicara atau mengagumi penampilan guru. sehingga ketika ia ditanya apa yang telah disampaikan guru.1 Kerangka Teoritis 2. Belajar bukan proses kematangan tetapi adalah hasil melalui kegiatan atau aktivitas belajar untuk memodifikasi perilaku manusia atau organisme (Tambunan. 2010). proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. atau faktor lingkungan dimana seseorang berada. perhatian. dan Simanjuntak. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto. Faktor ini merupakan faktor yang datangnya dari luar individu. ia tidak mengerti apa-apa (Sanjaya. bakat. Adapun faktor eksternal. diantaranya faktor intern dan faktor ekstern. walaupun sepertinya seorang siswa memperhatikan dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala. minat. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Mungkin mengangguk-anggukkan kepala itu bukan karena ia memperhatikan materi pelajaran dan paham apa yang dikatakan guru. Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan.1 Belajar Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. 2005). dibedakan menjadi tiga faktor. seperti faktor keluarga (cara orang tua . Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut. Artinya. faktor psikologis dan faktor kelelahan. dan kesiapan.

Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. relasi siswa dengan siswa.7 mendidik. kurikulum. suasana rumah. faktor lingkungan sekolah (metode mengajar. 4. keadaan gedung. relasi antaranggota keluarga. dan bentuk kehidupan masyarakat). teman bergaul. pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan). waktu sekolah. dan keadaan ekonomi keluarga. 2010) 2. pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap sikap. Perubahan terjadi secara sadar. relasi guru dengan siswa.1. 6. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah. dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat. disiplin sekolah. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. mass media.com/2011/03/pengertian-definisihasil-belajar. alat pelajaran. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk . Perubahan dalam belajar bersifat kontiniu dan fungsional. pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif (http://aadesanjaya. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. metode belajar. 2. Hasil Belajar Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan.html). dan tugas rumah).2. 5. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. standar pelajaran di atas ukuran. 3. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. (Slameto.blogspot. Orang yang telah belajar memiliki ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam sebagai berikut: 1. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dijelaskan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang.

dan sikap.1996) Siswa yang secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dicirikan dalam dua aktivitas yakni aktif dalam berpikir. 2. Dengan demikian. Tujuan dalam belajar adalah terjadinya perubahan dalam individu seutuhnya.1. 2005) Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. semua orang harus mempelajarinya karena merupakan . yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan.8 pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik. Kedua bentuk ini saling terkait. Pengalaman sebagai hasil perbuatan siswa. (Sanjaya. Belajar adalah suatu aktivitas psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan.3.4. keterampilan. 2003) Banyak orang yang memandang kimia sebagai bidang studi yang sulit. nilai. pemahaman. selanjutnya diolah dengan menggunakan kerangka berpikir dan pengetahuan yang dimilikinya untuk membangun pengetahuan sebelumnya. dan aktif dalam berbuat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran Psikologi Kognitif-Wholistik. Pengalaman baru ini yang melalui pengolahan dan evaluasi. proses siswa aktif merupakan proses yang tiada henti. 2. Dengan cara ini siswa dapat mengembangkan pemahaman bahkan mengubah pemahaman sebelumnya menjadi semakin baik. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar adalah suatu aktivitas yang sadar akan tujuan. Karakteristik Pembelajaran Kimia Kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari “instruction”. dapat melahirkan tindakan yang lain sebagai perwujudan keingintahuannya.1. (Sagala. (Winkel. Meskipun demikian. yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Perbuatan nyata siswa dalam pembelajaran merupakan hasil keterlibatan berpikir terhadap objek belajarnya.

(http://www. metode. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam kimia. 2. Kecakapan kimia yang ditumbuhkan pada siswa merupakan sumbangan mata pelajaran kimia kepada pencapaian kecakapan hidup yang ingin dicapai melalui kurikulum.9 sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Tidak seperti dalam ilmu-ilmu fisik. Hakikat Model Pembelajaran Apabila antara pendekatan. Guru dalam pembelajaran dikelasnya tidak mengkaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan unntuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan sendiri ide-ide kimia. teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah. Model dapat dipahami sebagai: (1) suatu tipe atau desain. Pembelajaran kimia cenderung bersifat abstrak. metode. dan teknik pembelajaran. sistematis. Berpikir kritis.5. Salah satu karakteristik kimia adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak karena kimia hanya dapat dikenal melalui penghayatan atau jalan pikiran yang logis.psb-psma. Mengkaitkan pengalaman kehidupan nyata siswa dangan ide-ide kimia dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna. model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan. Kemampuan itu dapat dikembangkan melalui belajar kimia. Jadi. (2) suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses .org/content/blog/pengertian- pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran) Model dan proses pembelajaran akan menjelaskan makna kegiatankegiatan yang dilakukan oleh pendidik selama pembelajaran berlangsung. model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. seperti biologi yang objeknya dapat dilihat langsung. strategi. kreatif.1. Dengan kata lain. dan bekerja sama yang efektif sangat diperlukan dalam kehidupan modern yang kompetitif ini. Belajar kimia siswa belum bermakna. logis.

dan (6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya (Komaruddin dalam Sagala. Atas dasar pengertian tersebut. (5) suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner. Model memberikan arah untuk persiapan dan implementasi kegiatan pembelajaran. memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik. Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong menumbuhkan dan tumbuhnya rasa meningkatkan senang motivasi siswa dalam terhadap pelajaran. yaitu : 1. (3) suatu sistem asumsiasumsi. Melalui pemilihan model pembelajaran yang tepat guru dapat memilih atau menyesuaikan jenis pendekatan dan media pembelajaran dengan karakteristik materi pelajaran yang disajikan. maka model pembelajaran dapat dipahami sebagai kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tetentu. dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran (Sagala. Model-model pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya dapat mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka miliki secara optimal. data-data dan inferensi-inferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu obyek atau peristiwa. mengerjakan tugas. Brady dalam Siregar (2010) mengemukakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai blueprint yang dapat digunakan untuk membimbing guru di dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran.10 visualisasi sesuatu yang tidak dapat langsung diamati. . selanjutnya ia mengemukakan 4 premis tentang model penbelajaran. suatu terjemahan realitas yang disederhanakan. (4) suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja. 2003). Model dirancang untuk mewakili realitas yang sesungguhnya. 2003). walaupun model itu sendiri bukanlah realitas dari dunia yang sebenarnya.

Sedangkan Sunal dan Hans (2000) mengemukakan cooperative leasning merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk member dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran. dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran (Siregar. disamping itu juga bisa melatih siswa untuk memiliki keterampilan baik. Meskipun terdapat sejumlah model pembelajaran yang berbeda namun pemisahan antara satu model dengan model yang lain tidak bersifat deskrit. Dengan meaksanakan model pembelajaran cooperative learning.1. Kecermatan guru di dalam menentukan model pembelajaran menjadi semakin penting karena pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks yang di dalamnya melibatkan berbagai unsur yang dinamis. Tidak ada satupun model pembelajaran yang memiliki kedudukan lebih tinggi dan lebih baik dari yang lain. 2010). 3. baik keterampilan berpikir (thingking skill) maupun keterampilan sosial (social skill). . 4.6. 2. seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat. Selanjutnya Stahl (1994) menyatakan cooperative learning dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong menolong dalan perilaku sosial. cooperative learning adalah salah satu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar. menerima saran dan masukan dari orang lain. Pengetahuan guru tentang berbagai model pembelajaran memiliki arti penting di dalam mewujudkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Jadi.11 2. Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Slavin (1992).

(Isjoni. Siswa bekerja sama dalam kelompok (empat orang). Setelah selesai. Sehingga siswa dilatih untuk berbagi dan tidak hanya mampu bekerja secara individu. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. d. Model pembelajaran Two Stay Two Stray Two Stay Two Stray dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) dan bisa digunakan bersama dengan teknik kepala bernomor.7.(Lie. kemampuan.1. b. 2010) 2.12 bekerjasama.2010) Kelompok . Metode ini pun memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertukar pikiran dan membangun keterampilan sosial seperti mengajukan pertanyaan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui mengajar. dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya masing-masing dan bertamu ke dua kelompok lainnya sesuai dengan alur pada Gambar 2. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok asalnya dan melaporkan temuan mereka dari kelompok yang dikunjunginya. Siswa bukan lagi sebagai objek pembalajaran. 2010). rasa setia kawan. Model pembalajaran ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan. Adapun tahap-tahap pada model pembelajaran TSTS adalah : a. mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. c. dan keterampilan secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis.1. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas untuk membagikan hasil diskusi dan informasi kelompok mereka kepada tamu mereka. namun bias juga berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Model pembelajaran TSTS memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. dan mengurangi timbulnya perilaku yang menyimpang dalam kehidupan kelas (Stahl dalam Isjoni.

Media pembelajaran adalah media yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran atau mengandung muatan untuk membelajarkan seseorang (Prawiradilaga.1. 2008). Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Gambar 2. . Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman. 2003).8.1 Alur Kunjungan Siswa Tamu pada Model Pembelajaran TSTS 2. media adalah komponen sumber belajar. 2000). Hubungan komunikasi akan berjalan lancer dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bentu yang disebut media komunikasi. Pengertian Media Kata media berasal dari bahasa latin dann merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Dengan kata lain.13 Dibawah ini merupakan gambar alur kunjungan siswa tamu pada model pembelajaran TSTS. atau sarana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Arsyad. Media diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima pesan.

4. Oleh sebab itu diperlukan media pembelajaran berbasis komputer. Para peneliti telah menemukan bahwa ada berbagai cara mahasiswa memproses informasi. komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Siswa yang belajar dengan media komputer mempunyai kemampuan mengingat materi pelajaran dalam waktu yang lebih lama dan dapat menggunakannya dalam bidang-bidang lain. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet. 3. 2007). sebagian lain lebih merasa senang atau lebih mudah bila ada suara. seringkali siswa berhasil mempelajari bahan ajar yang sama banyaknya dengan waktu yang lebih sedikit. dan sebagian lain akan mudah memahami jika menggunakan informasi tertulis.14 2. . Komputer dapat berperan sebagai media yang aktif untuk menumbuhkembangkan minat dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran. (Saruari. 2.1. Komputer dapat menjadikan siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran/terciptanya hubungan interaktif. Dengan menggunakan media komputer sebagai media pembelajaran. Sebagian mudah memproses informasi visual. beberapa keistimewaan itu antara lain: 1.9. Media Berbasis Komputer Konsep-konsep abstrak dalam bidang studi IPA khususnya kimia tidak bisa dipahami hanya dengan membaca buku dan menghapal rumus saja tetapi juga perlu penalaran tinggi. Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Komputer sebagai media dalam proses pembelajaran memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki media lain. Banyak ahli pendidikan yang berpendapat bahwa komputer sebagai media pembelajaran memiliki potensi yang sangat besar untuk membantu proses pendidikan.

Komputer membantu siswa memperoleh umpan balik secara leluasa dan bisa memacu motivasi siswa dengan peneguhan positif yang diberikan jika siswa memberiikan jawaban. waktu dan daya indera. c. Memberikan perangsang yang sama. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. 2007) 2. b. b. (sadiman. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).15 5. Menimbulkan persepsi yang sama.1. Komputer member fasilitas bagi siswa untuk mengulangi pelajaran apabila diperlukan. (Ulpah. 2. Masalah ini dapat diatasi dengan media pengajaran yaitu dengan kemampuannya dalam: a. Mempersamakan pengalaman. Mengatasi keterbatasan ruang. Menimbulkan kegairahan belajar. 4. dengan tujuan memperkuat proses belajar dan memperbaiki ingatan. c. Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya. 2003) . Dengan sikap yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Kegunaan Media Secara umum media pengajaran mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut: 1.10. 6. 3. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri apalagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa berbeda. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk: a. sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa.

Ikatan yang terjadi dikenal dengan ikatan kimia.11. Oleh karena itu atom-atom tersebut membentuk molekul dengan cara saling berikatan.16 2. kecuali helium dengan konfigurasi duplet (dua elektron pada kulit luar). Hal ini dapat dilihat pada tabel 2. Ikatan Kimia Pada umumnya materi terdapat di alam dalam bentuk molekul.1 Konfigurasi elektron gas mulia Periode Unsur Nomor Atom K L M N O 1 He 2 2 2 Ne 10 2 8 3 Ar 18 2 8 8 4 Kr 36 2 8 18 8 5 Xe 54 2 8 18 18 8 6 Rn 86 2 8 18 32 18 8 P . Molekul-molekul tersebut terbentuk karena atom-atom pembentuknya berada dalam keadaan tidak stabil jika berada dalam unsur bebasnya. Lewis dan W.1. Perkembangan tabel periodik dan konsep mengenai konfigurasi elektron telah memberikan suatu landasan untuk pembentukan molekul dan senyawa. dan glukosa (C6H12O6). G. Tabel 2. Gas mulia mempunyai konfigurasi penuh. Penjelasan yang diberikan oleh Gilbert Lewis yaitu bahwa atom bergabung untuk mencapai konfigurasi elektron yang lebih stabil. Ada pula yang terbentuk dari atom-atom yang berbeda. Kestabilan maksimum tercapai jika atom telah memiliki konfigurasi elektron yang sama dengan konfigurasi electron gas mulia. Kossel mengaitkan kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektronnya. yaitu konfigurasi octet (mempunyai 8 elektron pada kulit luar). karbon dioksida (CO2). seperti air (H2O). Beberapa molekul terbentuk dari atom-atom sejenis seperti gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2).N.1 yang menunjukkan konfigurasi elektron gas mulia yaitu He mempunyai dua elekron pada kulit terluar dan unsur lainnya dalam golongan VIIIA yang mempunyai 8 elektron pada kulit terluar.

 Contoh : 17Cl : 2 8 7 ev = 7 . atom-atom dapat: a. Contoh : 3Li : 2 1 dengan melepas 1e membentuk ion Li+ akan menyerupai He (kaidah duplet) 2He : 2 17Cl : 2 8 7 dengan menyerap 1e. b.Jadi ikatan ion terjadi antara atom yang melepaskan elektron (atom logam) dengan atom yang menerima elektron (atom non logam ). Perhatikan ikatan antara Natrium dengan Klorin membentuk senyawa NaCl. Struktur lewis menggambarkan lambang atom yang dikelilingi oleh sejumlah titik yang menunjukkan jumlah elektron valensi unsur tersebut.membentuk ion Cl.17 Untukmemenuhi konfigurasi oktet atau duplet ini. Menggunakan pasangan elektron secara bersama-sama oleh atom-atom yang berikatan.akan menyerupai Ar (kaidah oktet) 18Ar : 2 8 8 Jelas sekali bahwa susunan elektron yang stabil adalah delapan elektron dikulit terluar kecuali Helium yang meiliki dua elektron (duplet). struktur Lewis : Cl : Ikatan Ion Ikatan ion adalah ikatan yang terjadi akibat perpindahan elektron dari atom satu ke atom yang lain. Kecendrungan atom-atom untuk memiliki delapan elektron di kulit terluar disebut kaidah Oktet. 11Na 17Cl : 2 8 1 : 2 8 7 . Menerima/ melepas elektron. Untuk menggambarkan elektron valensi atom-atom yang bereaksi digunakan struktur Lewis.

H Macam – macam ikatan Kovalen : a.2 Struktur Lewis H20 Terlihat bahwa antara H dengan O terdapat 2 ikatan kovalen tunggal atau bisa juga dituliskan H .Ikatan kovalen terbentuk antara dua atom yang samasama ingin menangkap elektron (sesama atom bukan logam).terjadi tarik menarik.18 Agar memiliki 8 elektron pada kulit terluar atom Na melepas 1 elektron. Contoh: Pembentukan ikatan antar atom H dengan atom O membentuk H2O yang ditunjukkan pada gambar 2. Ikatan kovalen tunggal.yaitu jika elektron yang digunakan bersama hanya satu pasang.O . Na+ + Cl- NaCl Ikatan Kovalen Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi akibat pemakaian pasangan elektron secara bersama. Gambar 2. sehingga kedua atom tersebut bergabung membentuk NaCl. dan atom Cl menjadi ion ClNa+ : 2 8 + 1e Cl - 8 : 2 8 Antara Na+ dan Cl. 1H memiliki elektron valensi 1 (butuh 1 elektron untuk duplet) 8O memiliki elektron valensi 6 (butuh 2 elektron untuk oktet) Maka: Gambar 2.2.3 menunjukkan senyawa Cl2 yang berikatan kovalen menggunakan bersama satu pasang elektron. Jadi atom Na memberikan satu elektron pada Cl akibatnya atom Na berubah menjadi ion Na+. dan atom Cl harus menangkap 1 elektron. .

Pada senyawa tersebut terdapat ikatan koordinasi yaitu yang ditunjukkan nomor 4 pada gambar 2.3 Struktur Lewis Cl2 b. Gambar 2. Gambar 2. Gambar 2.5 Struktur Lewis N2 d. Gambar 2. tetapi pasangan elektron yang dipakai bersama tersebut berasal dari salah satu atom atau gugus yang berikatan sedangkan atom atau gugus yang lain tidak memberikan elektron. yaitu jika elektron yang digunakan bersama berjumlah dua pasang.6 menunjukkan ikatan-ikatan yang terjadi pada senyawa NH3BF3. yaitu jika elektron yang digunakan bersama berjumlah tiga pasang. Gambar 2. yaitu Ikatan yang dibentuk dari pemakaian pasangan elektron secara bersama.4 menunjukkan senyawa N2 yang berikatan kovalen menggunakan bersama tiga pasang elektron.19 Gambar 2.4 menunjukkan senyawa O2 yang berikatan kovalen menggunakan bersama dua pasang elektron. Ikatan Kovalen Koordinasi.4 Struktur Lewis O2 c. Ikatan nomor 4 tersebut menjadi .6 dimana untuk stabil Boron yang sudah mempunyai 6 elektron akibat berikatan dengan Fluorin membutuhkan 2 elektron lagi dan 2 elektron tersebut didapatkan dari Nitrogen. Ikatan kovalen rangkap dua. Ikatan Kovalen rangkap tiga.

Ikatan Kovalen Non Polar.20 ikatan koordinasi karena hanya Nitrogen yang menyumbang sepasang elekron untuk berikatan dengan Boron. N2. Cl H 2. Gambar 2. F2. CH4. Cl2. H2. N2 memiliki perbedaan keelektronegatifan = 0. Ikatan kovalen koordinasi hanya pada nomor empat. Pasangan elektron yang dipakai bersama akan megutup kearah atom Cl perhatikan gambar berikut. Molekul seperti O2 . yaitu H=2. F2. Cl2. yaitu jika pasangan elektron yang dipakai bersama memihak atau mengutub kesalah satu atom atau gugus atom. yaitu ikatan yang terbentuk dari unsur non logam yang mempunyai keelektronegatifan kecil atau nol. Hal ini sesuai dengan defenisi yaitu pemakaian bersama elektron hanya dari satu atom saja yaitu elektron hanya berasal dari atom N.6 Struktur Lewis NH3BF3 Pada gambar terlihat ada nomor satu sampai dengan lima. CCl4 dan sebagainya.contoh : senyawa yang berikatan kovalen polar adalah molekul HCl. H2.0. Ikatan Kovalen Polar.1 dan Cl=3. Polarisasi Ikatan Kovalen 1. dimana antara atom H dan Cl memiliki perbedaan keelektronegativitas yang besar. Molekul seperti CH4 dan CCl4 bersifat non polar karena bentuk molekulnya yang simetris. O O O2 Pengecualian Kaidah Oktet . Contohnya seperti O2 .

Contoh : Pembentukan senyawa BH3 . Ikatan kimia antara atom-atom penyusun logam bukanlah ikatan ion ataupun ikatan kovalen. Demikian pula dengan ikatan kovalen. Elektron valensi inilah yang membawa dan . pada kulit luar atom logam terdapat banyak orbital kosong.21 Beberapa senyawa stabil. Dalam model ini. Suatu logam terdiri atas ion-ion positif yang diselimuti awan elektron. ikatan logam adalah gaya tarikmenarik antara ion-ion positif dengan elektron-elektron pada kulit valensi dari suatu atom unsur logam. Salah satu teori sederhana yang menjelaskan tentang ikatan ini ialah teori lautan elektron. Jadi. Hal ini menyebabkan elektron valensi unsur logam dapat bergerak bebas dan dapat berpindah dari satu orbital ke orbital lain dalam satu atom atau antar atom. Menurut teori ini. misalnya BH3. Ikatan ion tidak memungkinkan karena semua atom logam cenderung ingin melepas elektron. Atom logam mempunyai jumlah elektron valensi yang terlal sedikit sehingga sulit membentuk ikatan kovalen. 5B = 2 3 1H =1 H H H B Dapat ditulis H B H H Atom B hanya menggunakan 6 elektron (tidak sesuai aturan Oktet) Ikatan Logam Telah kita ketahui bahwa unsur logam memiliki sedikit elektron valensi. setiap elektron valensi mampu bergerak bebas di dalam tumpukan bangun logam atau bahkan meninggalkannya sehingga menghasilkan ion positif. Berarti. Atomatom logam dikelilingi oleh elektron valensi yang membaur membentuk awan elektron yang meliputi semua atom. atom logam harus berikatan dengan atom-atom logam yang lain untuk mencapai konfigurasi elektron gas mulia. BCl3 dan PCl5 tidak mengikuti kaidah oktet karena elektron terluarnya bukan 8 atau 2 elektron. Unsur logam merupakan penghantar listrik dan panas yang baik. Terdapat satu jenis ikatan yang dapat mengikat atomatom logam yaitu ikatan logam.

Gerakan elektron valensi ini jugalah yang dapat memindahkan panas dalam logam. sehingga molekul-molekul tersebut dapat bergerak relatif bebas. Umumnya tidak larut dalam air.Diperlukan suhu yang tinggi agar ion-ion memperoleh energi kinetik yang cukup untuk mengatasi gaya elektrostatik. Mempunyai titik leleh dan titik didih yang rendah d. Berupa gas. Bersifat lunak dan tidak rapuh c. Bersifat rapuh dikarenakan lapisan-lapisan dapat bergeser jika dikenakan gaya luar. Sifat fisis senyawa kovalen Beberapa sifat fisis senyawa kovalen antara lain: a. atau padatan lunak pada suhu ruang Dalam senyawa kovalen molekul-molekulnya terikat oleh gaya antarmolekul yang lemah. Pada umumnya tidak menghantarkan listrik Hal ini disebabkan senyawa kovalen tidak memiliki ion atau elektron yang dapat bergerak bebas untuk . b.22 menyampaikan arus listrik. tetapi menghantarkan listrik dalam fasa cair. ion sejenis dapat berada satu di atas yang lainnya sehingga timbul tolak-menolak yang sangat kuat yang menyebabkan terjadinya pemisahan. Tidak menghantarkan listrik dalam fasa padat. tetapi umumnya tidak larut dalam pelarut organic e. Sifat fisis senyawa ion a. Zat dikatakan dapat menghantarkan listrik apabila terdapat ion-ion yang dapat bergerak bebas membawa muatan listrik. Larut dalam pelarut air. c. cairan. tetapi larut dalam pelarut organic e. b. Memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi Ion positif dan negatif dalam kristal senyawa ion tidak bebas bergerak karena terikat oleh gaya elektrostatik yang kuat. Keras tetapi rapuh Bersifat keras karena ion-ion positif dan negatif terikat kuat ke segala arah oleh gaya elektrostatik. Berupa padatan pada suhu ruang d.

Sifat fisis logam Beberapa sifat fisis logam antara lain: a. Hal itu menyebabkan atom-atom tidak memiliki kebebasan untuk bergerak. Berupa padatan pada suhu ruang Atom-atom logam bergabung karena adanya ikatan logam yang sangat kuat membentuk struktur kristal yang rapat. b. kecuali raksa (Hg) berwujud cair. 2. Jika energi yang datang berasal dari berkas cahaya maka disebut efek foto listrik. Bersifat keras tetapi lentur/tidak mudah patah jika ditempa Adanya elektronelektron bebas menyebabkan logam bersifat lentur. Beberapa senyawa kovalen polar yang larut dalam air. tetapi jika dari pemanasan maka disebut efek termionik. ada yang dapat menghantarkan arus listrik karena dapat terhidrolisis membentuk ion-ion. c. d. Hal ini dikarenakan elektron-elektron bebas akan berpindah mengikuti ion-ion positif yang bergeser sewaktu dikenakan gaya luar. Penghantar listrik yang baik Hal ini disebabkan terdapat elektron-elektron bebas yang dapat membawa muatan listrik jika diberi suatu beda potensial.23 membawa muatan listrik. Agar terjadi belajar yang bermakna maka konsep baru atau . Kerangka Konseptual Pada umumnya konsep dasar yang dimiliki siswa mempengaruhi hasil belajar siswa tersebut. Mempunyai permukaan yang mengkilap f. e. Memberi efek foto listrik dan efek termioni Apabila elektron bebas pada ikatan logam memperoleh energi yang cukup dari luar. Mempunyai titik leleh dan titik didih yang tinggi Diperlukan energi dalam jumlah besar untuk memutuskan ikatan logam yang sangat kuat pada atom-atom logam. maka akan dapat menyebabkan terlepasnya elektron pada permukaan logam tersebut.2. Pada umumnya logam pada suhu kamar berwujud padat.

Hipotesis Verbal Ho : Hasil belajar kimia siswa setelah diberikan perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray diintegrasikan dengan media berbasis komputer lebih rendah atau . Siswa tidak akan berhasil mempelajari kimia jika belajar dengan cara menghafal. Banyak faktor yang mempengaruhi pemahaman siswa terhadap pelajaran kimia. dengar. perumusan masalah dan tujuan penelitian maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah : 2. pengetahuannya tidak akan berkembang. catat. 2. Pembelajaran ini adalah pembelajaran dengan model pembelajaran Two Stay Two Stray. siswa harus lebih banyak berperan dalam pembelajaran. Siswa juga dapat berbagi ilmu pengetahuan tanpa rasa canggung karena berada pada lingkungan sebayanya tidak seperti pembelajaran yang berpusat pada guru yang memungkinkan terjadinya rasa canggung antara siswa dengan guru. salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan guru. diam.24 pengetahuan baru harus dikaitkan dengan konsep yang telah diketahui siswa.3. Siswa dituntut untuk bekerja sama dengan kelompoknya mendiskusikan masalah yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran Two Stay Two Stray. Siswa secara aktif dituntun untuk membangun pengetahuannya bersama-sama dengan temannya yang lain. Maka siswa perlu dituntun untuk aktif.1. Dengan kondisi proses pembelajaran seperti di atas maka diharapkan akan memudahkan siswa dalam proses pembelajaran atau melewati ujian sehingga nilai yang dicapai akan maksimal dan pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar kimia siswa. diperkenalkan suatu model pembelajaran yaitu model pembelajaran Two Stay Two Stray. Siswa yang hanya datang ke sekolah untuk duduk.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah. hafal dan kerjakan. Mempelajari kimia lebih membutuhkan pemahaman daripada penghafalan. Jika konsep baru tidak dikaitkan dengan konsep yang telah diketahui siswa maka akan terjadi belajar hafalan. Untuk itu.

3.25 sama dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan media berbasis komputer. Ha : Hasil belajar kimia siswa setelah diberikan perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray diintegrasikan dengan media berbasis komputer lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan media berbasis komputer. .2. µ2: Rata-rata hasil belajar kimia siswa yang diberikan pengajaran dengan media berbasis komputer. Hipotesis Statistik Ho = µ1 ≤ µ2 Ha = µ1 > µ2 Keterangan: µ1: Rata-rata hasil belajar kimia siswa yang diberikan pengajaran menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray diintegrasikan dengan media berbasis komputer. 2.

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA Swasta Muhammadiyah 8 Kisaran. 3.1 Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Swasta Muhammadiyah 8 Kisaran yang terdiri dari 7 kelas berjumlah 254 orang pada Tahun Ajaran 2012/2013.26 BAB III METODE PENELITIAN 3.3 Variabel Penelitian 3.2 Sampel Penelitian Sampel penelitian yang diambil sebanyak 2 kelas yang masing-masing kelas terdiri dari 36 orang siswa.3.Nopember 2012.1 Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengajaran dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray. pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling). 3. 3. Tahun Ajaran 2012/2013 kelas X pada semester ganjil. Kelas pertama sebagai kelas eksperimen 1 yang diberi pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray yang diintegrasikan dengan media berbasis komputer dan kelas kedua sebagai kelas eksperimen 2 yang diberi pembelajaran dengan media berbasis komputer.2. Waktu penelitian dilakukan pada bulan September .2 Populasi dan Sampel Penelitian 3.2 Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa setelah diberikan perlakuan pada pokok bahasan ikatan kimia.2. .3.

27 3. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek didik yaitu siswa. Rancangan penelitian ini sebagai berikut: .4 Rancangan Penelitian 3.  Buku ajar yang digunakan pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sama. 3.2 Desain Penelitian Penelitian ini melibatkan dua kelas yang diberi perlakuan yang berbeda.3 Variabel Kontrol Variabel kontrol dalan penelitian ini adalah :  Materi ajar yang digunakan pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sama. 3.  Alokasi waktu pengajaran yang digunakan pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sama.  Guru yang mengajar pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sama. Dengan memberi perlakuan pada kelompok sampel penelitian yang dilakukan melalui model pembelajaran Two Stay Two Stray.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen.4.4.3. Untuk mengetahui hasil belajar kimia siswa dilakukan dengan memberikan tes pada kedua kelas sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.  Media yang digunakan pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sama.  Instrumen test yang digunakan pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sama.

4. Melakukan pre-test pada kedua kelas yang bertujuan mengetahui kemampuan awal siswa.1 menunjukkan ada dua kelas yang akan diteliti yaitu kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. . Memberikan pengajaran menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray diintegrasikan dengan media berbasis komputer pada kelas eksperimen 1 dan pengajaran berbasis komputer pada kelas eksperimen 2.28 Tabel 3. 3. Kelas eksperimen 1 mendapatkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray diintegrasikan dengan media berbasis komputer sedangkan kelas eksperimen 2 mendapat pembelajaran dengan media berbasis komputer. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X. Masing-masing kelas mendapatkan tes awal yang sama. 4. 3. Pada akhirnya kedua kelas tersebut mendapat tes akhir untuk melihat keberhasilan pembelajaran yang dilakukan. Sampel dalam penelitian diambil secara acak sebanyak dua kelas. Perlakuan yang didapat dibuat berbeda.1 Rancangan Penelitian Kelompok Tes Awal Perlakuan Tes Akhir Eksperimen 1 T1 X1 T2 Eksperimen 2 T1 X2 T2 Keterangan: T1 = Tes awal (pre-test) T2 = Tes akhir (post-test) X1 = Pembelajaran menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray dengan media berbasis komputer X2 = Pembelajaran dengan media berbasis komputer Tabel 3. 2.3 Prosedur Penelitian Adapun prosedur penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

. Melakukan post-test pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah perlakuan yang diberikan. kemudian hasil (nilai) tersebut dianalisis sehingga diperoleh kesimpulan. 6. Dari post-test didapatkan hasil (nilai).29 5.

Desain Penelitian Yang Dilaksanakan .30 Desain atau langkah-langkah penelitian ditunjukkan pada gambar 3.1.1: Populasi Sampel (2 Kelas) Kelas Eksperimen 2 Kelas Eksperimen 1 Pre-test Pre-test Uji Homogenitas KBM dengan model pembelajaran KBM menggunakan two stay two stray dengan media pembelajaran dengan media berbasis komputer berbasis komputer Aktivitas belajar siswa Post-test Data Analisis data Kesimpulan Gambar 3.

reliabilitas.20) yaitu sebagai berikut: . dan e). d. Bentuk tes untuk evaluasi pre-test dan post-test adalah bentuk objektif pilihan berganda. untuk kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2.31 3. Untuk menguji reliabilitas tes tersebut digunakan rumus Kuder dan Richardson 20 (K-R.5. tingkat kesukaran dan daya pembedanya. 3. Validitas Tes Untuk menguji validitas tes digunakan rumus korelasi product moment menurut Suharsimi Arikunto (2009) sebagai berikut: rxy  N  XY   X  Y  N  X    X N  Y    Y 2 2 2 2  Dimana: rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan Y N = jumlah siswa X = skor item Y = skor total (Arikunto.2.1.5 Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah evaluasi hasil belajar berupa pre-test dan post-test. Sebelum tes digunakan. b. maka harga tersebut dikonsultasikan ke table harga teknik product moment dengan α= 0. Pengambilan data dilakukan diawal (pre-test) dan diakhir pembelajaran (post-test).5. Jumlah soal yang digunakan sebanyak 20 soal dengan pilihan jawaban 5 option (a. jika r hitung > r tabel. maka soal dikatakan valid. c. dimana soal yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. 3. 2009) Untuk menafsirkan keberartian harga validitas untuk setiap soal. Dengan hasil yang tak jauh berbeda. terlebih dahulu diuji validitas. Reliabilitas Tes Reliabilitas tes yaitu ukuran yang menyatakan suatu tes terandal atau dapat digunakan dalam waktu tertentu.05 dengan kriteria. Soal pre-test dan post-test yang diberikan pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah sama.

3. dengan kriteria rhitung>rtabel untuk taraf nyata   0.00-0.90 = reliabilitas tinggi  0. Untuk mengartikan angka reliabilitas digunakan acuan sebagai berikut:  0.00 : soal mudah (Arikunto.31-0.41 – 0.00 = reliabilitas sangat tinggi Untuk menafsirkan keberhasilan harga reliabilitas setiap soal maka harga tersebut dikonsultasikan ke tabel harga kritik r product moment.30 : soal sukar 0. Taraf Kesukaran Soal Untuk menentukan taraf kesukaran masing-masing item soal digunakan rumus : P= Dimana: B P B Js = Indeks kesukaran = Banyak siswa yang menjawab soal itu dengan benar Js = Jumlah seluruh siswa peserta tes Dengan ketentuan : 0.70 = reliabilitas sedang  0.00 – 0.32 2  n  S   pq    r11 =   S2  n  1   Dimana: r11 : Koefisien reliabilitas instrumentasi n : Jumlah butir instrumen p : Proporsi subjek yang menjawab benar q : Proporsi subjek yang menjawab salah S : standar deviasi ∑PQ : jumlah perkalian antara P dan Q.71 – 0. 2009).05 . 3. maka tes dinyatakan reliabel ( Arikunto. 2009) .91 – 1.71-1.70 : soal sedang 0.40 = reliabilitas rendah  0.5.

Untuk menentukan daya beda masing-masing item dapat menggunakan rumus: D= Dimana : BA BB  JA JB JA = Banyaknya peserta kelompok atas JB = Banyaknya peserta kelompok bawah BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar D = Daya pembeda tes Dengan ketentuan : 0.33 3.21 – 0.40 = Cukup 0.6.6.70 = Baik 0.1.00 = Sangat baik (Arikunto. maka langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 3.41 – 0.71 – 1.20 = Buruk 0.5. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah dari kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah data dari kelas ini diperoleh. Uji Normalitas Uji ini dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya populasi penelitian tiap variabel penelitian. 2009) 3. Daya Pembeda Daya beda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang pandai atau yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemapuan rendah.00 – 0. Untuk pengujian normalitas dengan uji Chi Kuadrat ditempuh prosedur sebagai berikut : .4.

34 1. Menentukan kriteria pengujian. 1992) .05 dan db = 5. maka H 0 diterima (homogen). Membandingkan Fhitung dengan Ftabel F < Ftabel maka kedua sampel mamiliki varians yang sama F > Ftabel maka kedua sampel tidak memiliki varians yang sama 3. Jika harga Chi Kuadrat hitung (  2 ) ≤ harga Chi Kuadrat tebel maka data tersebut berdistribusi normal. Menghitung Ftabel dengan rumus: Ftabel = F1/2α (dk varians terbesar -1. Uji Hipotesis Hipotesis diuji dengan uji t pihak kanan dengan rumus sebagai berikut : x1  x 2 t S Dengan S2  1 1  n1 n2 (n1  1)S12  (n2  1)S 22 n1  n2  2 (Sudjana. e.6. Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk melakukan pengujian mengenai kesamaan dua varians dengan langkah-langkah sebagai berikut: VariansTerbesar VariansTerkecil a. Menyusun data dalam tabel penolong untuk menentukan harga Chi Kuadrat hitung (  2 ). Membandingkan harga Chi Kuadrat Hitung (  2 ) dengan harga Chi Kuadrat tabel pada   0. 2. 4. dk varians terkecil -1) d. jika Fhitung ≤ Ftabel.2. 3.3.05 c. 3. Menetapkan taraf signifikansi () yaitu 0. Mencari Fhitung dengan rumus: F  b. Menentukan jumlah kelas interval yaitu 6 kelas. yaitu dengan PK  rumus Dataterbesar  Dataterkecil dengan db = n – 1 (n = jumlah 6 kolom).6. Menentukan panjang kelas interval (PK).

7 Hasil belajar sedang g >0.3 Hasil belajar rendah 0.Terima Ho jika thitung < t(1-1/2á)(n1+n2-2) dan tolak Ha .7 Hasil belajar tinggi .3≤ g ≤ 0.4.35 Keterangan : X1 = Rata-rata pada kelas eksperimen1 X2 = Rata-rata pada kelas eksperimen 2 n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen 1 n2 = Jumlah siswa kelas eksperimen 2 S12= Varians kelas eksperimen 1 S22= Varians kelas eksperimen 2 Yang dapat dilihat dari kriteria pengujian dibawah ini sebagai berikut : .6. Rumus g faktor digunakan untuk mengetahui perolehan hasil belajar siswa. Rumus g faktor yang digunakan adalah sebagai berikut: %g skor post tes  pre tes x 100 skor maksimum  pre tes Harga peningkatan (g) dari masing-masing siswa kemudian dirata-ratakan dan dikolerasikan dengan rentangan: g <0. Persentase peningkatan hasil belajar dapat dihitung langsung dicari rata-rata nilai seluruh siswa untuk masing-masing kelas.Tolak Ho jika thitung > t(1-1/2á)(n1+n2-2) dan terima Ha 3. Persen (%) Peningkatan Hasil Belajar Persen peningkatan hasil belajar dapat dihitung dengan rumus g faktor (gain score ternormalisasi).