LAPORAN KASUS

HEMOPTOE et causa TB PARU

Pembimbing :
Dr.Suharsono, Sp.P

Disusun oleh :
Adeline Yustin Pangloro
(07700205)

SMF BAGIAN PENYAKIT DALAM
RST. TK.II DR. SOEPRAOEN MALANG
FK UWKS SURABAYA
2014

Saat batuk. Nafsu makan menurun. darah bercampur dengan dahak yang berwarna kuning dan putih kental. BB turun sebanyak 5kg dalam 1 bulan ini.N Umur : 33 tahun Alamat : Tenggulunan RT. RPK : Tidak ada keluarga pasien yang menderita sakit seperti pasien. . Px sering berkeringat di malam hari. Px juga demam sejak 1 bulan ini. Demam tidak terlalu tinggi. hanya dapat makan 3-4 sendok makan. RPD : Px tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya. RPO : Px sudah berobat ke dokter umum dan diberi obat : * Adona 3x1 * Pyrex 3x1 * Capsul berwarna merah muda (?) R. Riwayat tekanan darah tinggi dan kencing manis disangkal. Makan 2x sehari. bersamaan dengan batuk px.9/03. kopi (-). px juga mengeluh sulit untuk mengeluarkan dahaknya dan terasa agak sesak. Saat batuk.Identitas Nama : Ny. Tidak ada mual maupun muntah. teh (+) Anamnesa Status Gizi : Selama sakit nafsu makan pasien menurun. naik menjelang sore namun jarang.Sos : Jamu (-). Darah berwarna merah segar. Wagir Suku : Jawa Agama : Islam Status Marital : Menikah Tgl MRS: 29-12-2013 Anamnesa        Keluhan utama : batuk darah RPS : Px MRS di RST Soepraoen dengan keluhan batuk darah sebanyak 2x sejak 2 minggu ini. BAK & BAB : dbn.

isokor  Telinga : Bersih.Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos Mentis GCS : 4/5/6 TD : 120/70 mmHg N : 109x/menit. masa (-). tidak ada sumbatan  Mulut dan Faring : tidak ditemukan kelainan  Leher : Deviasi Trakea (-). axillar Status Gizi : BB : 45 TB : 155 BMI : 18. reflek pupil (+). penglihatan jelas.4°C. reguler. ikterik(-).75  Kepala : bulat  Mata : Anemis (-). pendengaran normal  Hidung : Bersih. kuat angkat RR : 26 x/menit t : 37. JVP Normal 5+2 cm H20 Thorak: Paru : Inspeksi :  Gerak napas : simetris  Penonjolan : (-)  Retraksi : (-)  Penyempitan ICS : (-) .

Palpasi :  Gerak napas : simetris  Stem fremitus : ↓ (dextra) Perkusi :  Suara perkusi : redup (lobus dextra superior)  Batas paru-hati : ICS V MCL Dextra Auskultasi :  Suara nafas : suara dasar : bronkovesikuler  Suara tambahan : Anterior Dextra Posterior Sinistra Dextra Sinistra  Rh (+)  Rh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Rh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Wh (-)  Wh (-) Jantung : Inspeksi .Ictus Cordis : Tidak tampak .voussore cardiacque : Palpasi .Ictus Cordis : Tidak teraba .

vena colateral (+). A1<A2.Batas Kanan : ICS V PSL dextra . Undulasi (-) Ekstremitas : Akral hangat : negatif pada keempat sisi ekstremitas superior & inferior Oedem : tidak ditemukan adanya oedem. P1<P2 Abdomen : Inspeksi Bentuk datar . T1>T2. pembesaran organ (-) Perkusi Meteorismus (-). Shifting Dullness (-) . umbilikus cekung. caput medusae (-) Auskultasi Bising usus (+) normal Palpasi Dinding perut supel.Batas Kiri : ICS VI MCL sinistra . nyeri tekan (-). .Perkusi .Pinggang jantung : ICS V PSL sinistra Auskultasi Irama Jantung : Reguler Murmur : tidak terdengar Gallop : Tidak terdengar Suara Jantung : M1>M2. penonjolan (-).

Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium Darah Lengkap Hb 13.7-1.000 (150-450ribu) PCV 41. .4mg/dl) Faal Hati SGOT 17 (<33U/L) SGPT 22 (<42U/L)  Foto thorak Didapatkan gambaran kavitas pada paru dextra et sinistra lobus superior serta didapatkan gambaran infiltrat pada paru dextra et sinistra lobus superior.74 (0.5 Leu 13.1 (40-50%) Diabetes GDS 144 (<125/neg mg/dl) Faal Ginjal Ureum 24 (15-45mg/dl) Kreatinin 0.600 (4-10ribu/cmm) LED 20 (12-17mg/dl) (4-20mm/1jam) Trombo 494.

Diagnosa Hemoptoe et causa Tuberkulosis Paru Terapi o o o o Injeksi ceftriaxone 2x1 Codein 3x20mg Injeksi kalnex 3x1 Drip adona 1x1 Monitoring  Keadaan Umum  Tanda-tanda vital  Perdarahan (hemoptoe) .

tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain (Dep Kes. mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA) • Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif. Sebagian besar kuman menyerang Paru.Landasan Teori  TB PARU  TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). • Tuberkulosis non aktif • Tuberkulosis Aktivitas quiesent • Tuberculosis Primer • Tuberculosis Post primer • TB Paru BTA Positif • TB Paru BTA Negatif Secara patologis Pemeriksaan Dahak • Tuberculosis Minimal • Moderateli advanced tuberculosis • For advanced tuberculosis • Kategori O • Kategori I • Kategori II • Kategori III • Kategori I • Kategori II • Kategori III • Kategori IV Secara Radiologis Berdasarkan aspek kes masy Berdasarkan Terapi WHO Radiologi .  Etiologi : Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). 2003). Kuman ini berbentuk batang.

 Pemeriksaan dahak mikroskopis : Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. Tidak dibenarkan mendiagnosis tuberkulosis hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Pemeriksaan lain seperti radiologi. 1. Pada program tuberkulosis nasional. radiologi. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. dan patologi klinik. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pada pagi hari kedua. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek tuberkulosis datang berkunjung pertama kali. . Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Pada saat pulang. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). sehingga sering terjadi overdiagnosis. mikrobiologi.Gejala Respiratorik Gejala Sistemik Batuk Demam Batuk darah Anorexia Sesak nafas Keringat malam Nyeri dada Penurunan BB  Diagnosa Tuberkulosis : Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan melalui pemeriksaan gejala klinis.

Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan . sikloserin. Pemakaian obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. kapreomisin dan para aminosalisilat.2. 3. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas. Pada tahap intensif atau awal pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Mikobakteri merupakan kuman tahan asam yang sifatnya berbeda dengan kuman lain karena tumbuhnya sangat lambat dan cepat sekali timbul resistensi bila terpajan dengan satu obat. Penggunaan OAT tunggal (monoterapi) harus dihindari. Pengawasan langsung atau directly observed treatment (DOT) oleh seorang pengawas menelan obat (PMO) harus dilakukan untuk menjamin kepatuhan pasien. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. mencegah kekambuhan.  Pengobatan tuberkulosis : Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan pasien. saat menyerahkan dahak pagi.  Obat yang digunakan untuk tuberkulosis digolongkan atas dua kelompok yaitu kelompok pertama dan kelompok kedua. P (pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. levofloksasin). isoniazid. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. yaitu tahap intensif dan lanjutan. etambutol dan streptomisin. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. ofloksasin. etionamid. Kelompok obat ini memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan toksisitas yang dapat diterima. mencegah kematian. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada hari kedua.  Prinsip pengobatan tuberkulosis : OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat.  Penggunaan OAT kelompok kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT kelompok pertama juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT kelompok kedua. pirazinamid. Sifat lambat membelah yang dimiliki mikobakteri merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perkembangan penemuan obat antimikobakteri baru jauh lebih sulit dan lambat dibandingkan antibakteri lain.  Umumnya antibiotika bekerja lebih aktif terhadap kuman yang cepat membelah dibandingkan dengan kuman yang lambat membelah. segera setelah bangun tidur.  Antituberkulosis kelompok kedua yaitu antibiotik golongan fluorokuinolon (siprofloksasin. kanamisisn. Kelompok obat pertama yaitu rifampisin.

secara tepat. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan. .