You are on page 1of 49

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang dikenal kaya akan sumber daya alam,

dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, khususnya hutan. Indonesia


memiliki hamparan hutan yang luas sekitar 99,6 juta hektar atau 52,5 % luas
wilayah Indonesia (Badan Pusat Statistik). Hutan sebagai paru-paru dunia
merupakan asset berharga yang perlu dijaga kelestariannya demi generasi yang
akan datang. Hutan di Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati dengan
berbagai macam flora dan fauna didalamnya. Hutan menjadi habitat berbagai flora
dan fauna endemik, sehingga keberadaan hutan dapat menjadi pelindung flora dan
fauna yang ada. Pengelolaan hutan menjadi mutlak diperlukan, karena rusaknya
hutan dapat mengancam musnahnya ribuan spesies flora dan fauna. Disamping itu,
pengelolaan hutan yang baik juga dapat menjadi sumber kehidupan bagi
masyarakat sekitar.
Kelestarian hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja,
tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai khalifah di muka bumi ini
untuk senantiasa menjaga alam semesta beserta isinya demi kemaslahatan seluruh
umat manusia. Disinilah peranan penting perum perhutani dalam mengadakan
usaha pengelolaan, pengurusan dan perlindungan hutan yang digunakan untuk
kemanfaatan umum tanpa mengabaikan perolehan laba.

Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah merupakan Badan Usaha


Milik Negara dibawah naungan Departemen Kehutanan dan Kementerian BUMN
yang menyelenggarakan usaha dibidang pengelolaan dan pemanfaatan hutan untuk
pemenuhan hajat hidup orang banyak dan bertujuan untuk mensejahterakan
masyarakat. Meskipun Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah merupakan
Badan Usaha Milik Negara, namun tidak bisa terlepas dari pajak. Pajak memiliki
peranan penting dalam upaya mendorong pembangunan ekonomi. Sektor pajak
merupakan salah satu penyumbang penerimaan terbesar bagi pemerintah disamping
sektor migas. Beban pengeluaran negara yang besar, baik untuk pembangunan
maupun pembiyaan pengeluaran rutin tidak mungkin ditanggung sendiri oleh
pemerintah. Oleh karena itu, pengelolaan terhadap sumber-sumber penerimaan
negara harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Pajak merupakan iuran wajib yang disetorkan kepada pemerintah sebagai kas
negara yang dikenakan terhadap setiap wajib pajak atas obyek pajak yang
dimilikinya guna membiayai pengeluaran negara. Jenis pajak yang diberlakukan di
Indonesia diantaranya adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB), Pajak hiburan, Pajak Reklame, Pajak Hadiah, dll. Pajak penghasilan (PPh)
merupakan pajak yang dikenakan terhadap obyek pajak berkenaan dengan
penghasilan yang diperoleh. Undang-Undang yang mengatur tentang pajak
penghasilan baik meliputi besarnya tarif pajak, tata cara pembayaran, pelaporan,dll
adalah UU No 36 Tahun 2008 yang merupakan perubahan keempat atas UU Nomor
7 Tahun 1983. Dalam Undang-Undang tersebut memuat beberapa pasal, salah
satunya adalah pasal 21 yang mengatur pajak penghasilan (PPh) bagi

pegawai/karyawan. Berdasarkan Undang-undang pajak penghasilan, sistem


pemungutan pajak penghasilan di Indonesia dilakukan menganut With Holding Tax
System, dimana pihak ketiga (pemberi penghasilan) diberikan wewenang oleh pihak
fiskus untuk melakukan pemungutan, dan atau pemotongan pajak kepada pihak
yang menerima penghasilan. Dengan sistem ini diharapkan akan mampu
mengurangi beban pemerintah dalam menanggung biaya pemungutan pajak karena
telah ditangani oleh perusahaan tempat karyawan bekerja, sehingga

pemerintah

menjadi lebih mudah dalam melakukan pemungutan pajak. Berdasarkan uraian


diatas, penulis tertarik untuk meneliti mengenai bagaimana perusahaan menentukan
besarnya pajak penghasilan pegawai atau karyawan yang harus disetor kepada
pemerintah. Oleh karena itu, penulis mengambil judul laporan praktek kerja
lapangan (PKL) dengan judul :
MEKANISME PENGHITUNGAN, PEMOTONGAN, PENYETORAN
DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) PASAL 21 ATAS GAJI
PEGAWAI TETAP PADA PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL JAWA
TENGAH.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemilihan judul yang telah penulis paparkan maka
penulis merumuskan permasalahan :
a. Bagaimana mekanisme penghitungan dan pemotongan pajak penghasilan (PPh)
pasal 21 atas gaji pegawai tetap pada Perum Perhutani Divisi Regional Jawa
Tengah ?

b. Bagaimana mekanisme pembukuan atas penghitungan dan pemotongan pajak


penghasilan (PPh) 21 atas gaji pegawai tetap dalam sistem ERP Perum Perhutani
Divisi Regional Jawa Tengah ?
c. Bagaimana mekanisme pembayaran dan atau penyetoran pajak penghasilan
(PPh) 21 atas gaji pegawai tetap pada Perum Perhutani Divisi Regional Jawa
Tengah ?
d. Bagaimana mekanisme pelaporan pajak penghasilan (PPh) 21 atas gaji pegawai
tetap pada Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah ?

1.3

Tujuan dan Manfaat Laporan

1.3.1 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan laporan kerja praktek lapangan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi S1
Manajemen Universitas Negeri Semarang.
2. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme penghitungan dan pemotongan, pajak
penghasilan pasal 21 atas gaji pegawai tetap pada Perum Perhutani Divisi
Regional Jawa Tengah.
3. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pembukuan PPh 21 dalam sistem ERP
Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.
4. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pembayaran dan atau penyetoran PPh
21 atas gaji pegawai tetap pada Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.
5. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pelaporan PPh 21 atas gaji pegawai
tetap pada Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.

1.3.2 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan laporan praktek kerja lapangan ini adalah :
1. Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang penerapan
prosedur

penghitungan,

pemotongan,

penyetoran

dan

pelaporan

pajak

penghasilan (PPh) pasal 21 yang telah diperoleh selama penyusunan laporan ini.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai bahan pertimbangan atau masukan bagi pihak perusahaan terkait dalam
pembuatan kebijakan pajak yang lebih efektif dalam rangka kemajuan
perusahaan.
3. Bagi civitas akademis
Untuk memberikan sumbangan konseptual bagi perkembangan kajian ilmu
khususnya mengenai pajak penghasilan (PPh) pasal 21.

1.4

Tempat dan Waktu Praktek Kerja Lapangan


Kegiatan praktek kerja lapangan penulis dilaksanakan di Perum Perhutani

Divisi Regional Jawa Tengah, yang beralamat di Jalan Pahlawan No. 15-17
Semarang terhitung dari tanggal 4 Agustus 29 Agustus 2014. Dalam praktek kerja
lapangan ini penulis di tempatkan pada bagian Biro Keuangan.

1.5

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang dilakukan meliputi :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan langsung kepada suatu obyek yang akan diteliti
(Gorys Keraf, 1993:162). Dalam metode observasi ini diperoleh data mengenai
cara penghitungan dan pemotongan pajak penghasilan (Pph) pasal 21.
2. Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu cara mengumpulkan data dengan
mengajukan pertanyaan langsung kepada informan atau seorang autoritas
(seorang

ahli

atau

yang

berwenang

dalam

suatu

masalah)

(Gorys

Keraf,1993:161).
Dalam hal ini, data dikumpulkan dengan mengajukan pertanyaan kepada
karyawan Biro Keuangan Staff Perpajakan mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan prosedur penghitungan, pemotongan, penyetoran dan pelaporan pajak
penghasilan (Pph) pasal 21. Adapun data yang diperoleh adalah penjelasan
mengenai tata cara penghitungan, pemotongan, penyetoran dan pelaporan Pph
pasal 21 serta berkas-berkas yang diperlukan.
3. Studi Pustaka
Studi Pustaka merupakan metode pengumpulan data dengan cara membaca atau
memanfaatkan buku untuk memperoleh kesimpulan-kesimpulan atau pendapat
para ahli dengan menempatkan pendapat tersebut sebagai metode tersendiri
(Gorys Keraf, 1993:165). Dalam studi pustaka ini dikumpulkan data dengan cara
membaca buku-buku atau literatur yang ada hubungannya dengan pajak
penghasilan (Pph) Pasal 21.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Pajak Penghasilan


Menurut Siti Resmi (2009) pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan

terhadap subjek pajak atau penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam satu
tahun pajak.
Pajak penghasilan sebagaimana telah diubah beberapa kali dan terakhir
dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008. Dalam pasal 4 ayat satu Undangundang Nomor 36 tahun 2008 disebutkan Penghasilan adalah setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima wajib pajak yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai konsumsi atau untuk menambah
kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Dapat disimpulkan bahwa Pajak penghasilan adalah Kontribusi wajib kepada
Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan atas setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima wajib pajak dalam negeri atau luar negeri
yang dapat dipakai konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak dengan nama
dan bentuk apapun dengan merujuk pada Undang-undang pajak penghasilan
sebagaimana telah diubah beberapa kali dan terakhir dengan Undang-undang
Nomor 36 tahun 2008.

2.2

Pengertian Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Menurut Siti Resmi (2009), Pajak Penghasilan Pasal 21 merupakan pajak atas

penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan
nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa,
dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.
Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 31/PJ/2009, pajak
penghasilan pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang
pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa,
dan kegiatan.
Dapat disimpulkan bahwa pajak penghasilan pasal 21 adalah pajak atas
penghasilan karyawan yang jumlah pajaknya langsung dipotong oleh pemberi kerja.

2.3

Dasar Hukum Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Setiap pemungutan atau pemotongan yang dilakukan oleh negara tentunya

harus mempunyai dasar hukum. Begitu juga dengan pemungutan pajak, yang dasar
hukumnya termuat dalam pasal 23 ayat 2 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang
menyatakan bahwa Segala pajak untuk keperluan negara haruslah berdasarkan
Undang-undang. Demikian juga halnya dengan pemotongan pajak penghasilan
pasal

21.

Dalam

melaksanakan

pemotongan

pemotongan/pemungutan dilakukan berdasarkan:

tersebut

di

PPh

1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata


Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang
No. 28 Tahun 2007.
2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun
2008.
3. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 541/KMK.04/2000
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan
Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyeroran Pajak, Penentuan Tempat
Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan
Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak.
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-254/PMK.03/2008 tentang
Penetapan Bagian Penghasilan Sehubungan Dengan Pekerjaan dari Pegawai
Harian dan Mingguan serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak
Dikenakan Pemotongan Pajak Penghasilan.
5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-57/PJ/2009
tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan
Pajak Penghasilan Pasal 21/26.
2.4

Subyek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Penerima penghasilan atau yang disebut juga subyek pajak yang dipotong

PPh Pasal 21 antara lain :

10

1. Pegawai tetap, termasuk Komisaris atau Dewan Pengawas yang merangkap


sebagai pegawai tetap.
2. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari
tua, atau jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya;
3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain meliputi:
a. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas yang terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris;
b. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang
sinetron,

bintang

iklan,

sutradara,

kru

film,

foto

model,

peragawan/peragawati,pemain drama, penari, pemahat, pelukis dan


seniman lainnya;
c. olahragawan;
d. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator,
e. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
f. pemberi jasa dalam segala bidang, termasuk teknik, computer dan system
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi dan sosial,
serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
g. agen iklan;
h. pengawas atau pengelola proyek;
i. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi
perantara;
j. petugas penjaja barang dagangan;

11

k. petugas dinas luar asuransi;


l. distributor

multilevel

marketing

atau

direct

selling;dan

kegiatan

sejenisnya.
4. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan
dengan keikutsertaanya dalam suatu kegiatan, antara lain meliputi :
a. peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain perlombaan olah raga,
seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;
b. peserta rapat, konferensi, siding, pertemuan, atau kunjungan kerja;
c. peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara
kegiatan tertentu;
d. peserta pendidikan, pelatihan, dan magang;
e. peserta kegiatan lainnya.
Sedangkan, yang tidak termasuk pengertian penerima penghasilan yang dipotong
PPh 21 dan atau 26 antara lain :
1. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara
asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada
dan bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat :
a. bukan Warga Negara Indonesia; dan
b. di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar
jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara yang bersangkutan
memberikan perlakuan timbal balik;
2. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh Keputusan
Menteri Keuangan sepanjang bukan Warga Negara Indonesia dan tidak

12

menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh


penghasilan di Indonesia.

2.5

Obyek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Penghasilan yang dikenakan pemotongan atas Pajak Penghasilan (PPh0 Pasal

21 antara lain :
1. penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa
penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
2. penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur
berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
3. penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan
sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang
pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua,
dan pembayaran lain sejenis;
4. penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian,
upah mingguan, upah satuan, upah borongan, atau upah yang dibayarkan
secara bulanan;
5. imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee,
dan imbalan sejenis dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan;
6. imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang
representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama
dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.

13

2.6

Tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Berdasarkan tarif pasal 17 Undang-undang pajak penghasilan No.36 Tahun

2008 menjelaskan besarnya tarif pajak penghasilan ditetapkan atas Penghasilan


Kena Pajak (PKP) bagi wajib pajak adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3a Tarif Pajak Orang Pribadi
Lapisan Penghasilan Kena Pajak

Tarif

Sampai dengan Rp 50.000.000

5%

Diatas Rp 50.000.000 s.d Rp 250.000.000

15%

Diatas Rp 250.000.000 s.d Rp 500.000.000

25%

Diatas Rp 500.000.000

30%

Sedangkan, untuk Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi tarifnya adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3b Tarif Penghasilan Tidak Kena Pajak Bagi Orang Probadi
Katerangan

Tarif Setahun

Untuk diri Wajib Pajak Orang Pribadi

Rp 24.300.000

Tambahan untuk Wajib Pajak kawin

Rp

Tambahan untuk penghasilan istri yang digabung


dengan penghasilan suami

Rp 24.300.000

Tambahan untuk setiap anggota keturunan sedarah


semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat yang diatnggung sepenuhnya , maksimal 3
orang untuk setiap keluarga

Rp

2.025.000

2.025.000

14

BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1

Sejarah Berdiri dan Perkembangan Perusahaan


Perum Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara yang didirikan pada

tahun 1972 berdasarkan PP No.15 tahun 1972 yang telah diubah menjadi PP No.36
Tahun 1936. Perum Perhutani mengalami 4 masa perkembangan yaitu Masa Feodal
(sebelumnya tahun 1604), Masa Kolonial Belanda (Tahun 1604-1942), Masa
Pendudukan Jepang (Tahun 1942-1945), dan Masa Kemerdekaan (Tahun 1945
sekarang). Sejalan dengan perubahan yang terjadi, maka sejarah hutan dan
kehutanan di Jawa dan Madura juga mengalami keadaan pasang surut, dengan
adanya perubahaan yang disebabkan karena kondisi Indonesia yang mengalami
masa perkembangan. Adapun kronologis perkembangan pendirian Perum Perhutani
adalah sebagai berikut :
1. Masa Feodal (Sebelum Tahun 1604)
Pada masa faeodal, semua hutan yang ada di kawasan Jawa dan Madura
masih berada dibawah kekuasaan para raja. Hutan-hutan masih sangat luas dan
belum ada pengurusan hutan secara teratur.
2. Masa Kolonial Belanda (Tahun 1602-1942)
Pada masa kolonial Belanda, secara bertahap hutan diambil alih dari tangan
raja, walaupun pada masa itu dikeluarkan landasan hukum di bidang pengurusan
hutan berisi peraturan, instruksi, perjanjian, dan usaha untuk pengurusan hutan.
Pada tahun 1808 dibawah kepemimpinan Daendels, dibentuk Badan Pelaksana

15

Khusus (BPK) yang terdiri dari Inspektur Jendral Lembaga Administrasi Hutan,
kemudian diadakan usaha untuk merintis kegunaan dan pengurusan hutan yang
lebih baik berdasarkan ilmu pengetahuan modern yang dipelopori oleh 2 orang ahli
kehutanan dari Jerman yaitu Muller dan Jordes pada tahun 1845. Pada tahun ini
juga dibentuk Denist Van Bosc Wezen yang merupakan kesatuan tugas untuk
menguasi wilayah dari kehutanan setempat dan diteruskan dengan berlakunya
Undang-undang Kehutanan Np.1 Tahun 1879. Setelah diadakan pembaharuan
diberbagai bidang, maka dibuatlah perundang-undangan Kehutanan yang dikenal
dengan nama Bosc Reglement (Peraturan Kehutanan). Pada tahun 1879, hutan jati
mulai dijaga secara intensif dan disesuaikan denga perkembangan ekonomi
kehutanan modern staf di Eropa untuk meningkatkan hasil hutan secara komersial.
Dalam usaha tersebut, maka pada tahun 1929 dibentuk Jati Bedrisf (Perusahaan
Jati) tetapi mengalami kegagalan. Kemudian tahun 1936 struktur organisasi
berubah menjadi jawatan da ini berlaku sampai masa kolonial Belanda.
3. Masa Pendudukan Jepang (Tahun 1942 1945)
Pada masa pendudukan Jepang (1942) Denist Van Bosc Wezen diganti
dengan nama Ringo Tyud Zumuzjo. Badan ini pada awalnya ditempatkan berada
dibawah Departemen Kehakiman (1942) yang dimaksudkan untuk melindungi para
tenaga kerja. Kemudian pada tahun 1943 berada dibawah Departemen Perkapalan
karena hasil hutan mulai dipasarkan keluar pulau Jawa. Selama masa pendudukan
Jepang, hutan di pulau Jawa mengalami kerusakan fisik dan kegiatan produksi
sering terhambat. Hal ini disebabkan karena pihak Jepang terus menerus
mengadakan penebangan hutan yang jauh melampaui. Pada akhir masa

16

pemerintahan Jepang, Ringo Tyud Zumuzjo ditempatkan dibawah Departemen


Kehutanan.
4. Masa Kemerdekaan (Tahun 1945 Sekarang)
Setelah Indonesia merdeka, Ringo Tyud Zumuzjo diambil alih pemerintah
Republik Indonesia dan dijadikan Jawatan Kehutanan yang sifatnya imperialisme
dan berada dibawah Kementerian Kemakmuran yang akhirnya menjadi
Kementerian Pertanian.

Kemerdekaan Indonesia menyebabkan adanya usaha

pemerintah kearah pemberian otonomi dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah


yang diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 1957. Peraturan ini juga
membawa pengaruh perubahan struktur kehutanan, dari Jawatan menjadi dinas
kehutanan yang berada dibawah kekuasaan Pemerintah Daerah (PEMDA) sebagai
perencana tetap yang diatur oleh pusat. Dinas Kehutanan kemudian mengalami
perubahan dan diubah menjadi Perusahaan Negara berdasarkan atas Peraturan
Pemerintah No. 17 Tahun 1961 dengan nama Badan Umum Kehutanan Negara.
Kemudian pemerintah mengeluarkan Undang Undang No. 5 Tahun 1967 atas
dasar Pasal 23 UUD 1945, tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan yang
didalamnya menetapkan, mengatur perencanaan, peruntukan, penyediaan, dan
penggunaan hutan sesuai dengan fungsinya dalam memberikan manfaat bagi rakyat
dan negara. Beradasarkan Peraturan Pemerintah No.17 Tahun 1967 inilah yang
mendasari keluarnya Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1972, yang mengubah
status dari Perusahaan Kehutanan Negara Jawa Timur Menjadi Perum Perhutani
Divisi Regional Jawa Tengah yang berkedudukan di Semarang dan Perum
Perhutani Divisi RegionalI Jawa Timur yang berkedudukan di Surabaya.

17

Sedangkan Direksi Perum Perhutani berkedudukan di Jakarta. Dalam perjalanan


usahanya, pemerintah mengeluarkan peraturan baru, yaitu Peraturan Pemerintah
No. 2 Tahun 1978 tentang penambahan Unit Produksi Perum Perhutani, sehingga
Perum Perhutani bertambah 1 unit lagi yaitu Perum Perhutani Divisi RegionalII
Jawa Barat yang berkedudukan di Bandung.

2.1

Lokasi Perusahaan
Sebelum tahun 1994 lokasi Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah

awalnya berada di gedung Bank Harapan Sentosa yang berlokasi di Jalan


Pandanaran Semarang. Kemudian pada awal 1994, kantor Perum Perhutani Divisi
Regional Jawa Tengah pindah di Jalan Pahlawan No. 15-17 Semarang. Lokasi
tersebut dipilih karena letaknya yang strategis karena lokasinya yang berada
dipinggir jalan raya sehingga memudahkan akses transportasi khususnya bagi
karyawaan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.

3.2

Visi dan Misi Perusahaan

3.2.1 Visi
Menjadi pengelola hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
3.2.2 Misi
1. Mengelola sumberdaya hutan dengan prinsip pengelolaan lestari
berdasarkan karakteristik wilayah dan daya dukung Daerah Aliran Sungai,
meningkatkan manfaat hasil hutan kayu dan bukan kayu, ekowisata, jasa

18

lingkungan, agroforestry serta potensi usaha berbasis kehutanan lainnya


guna menghasilkan keuntungan untuk menjamin pertumbuhan perusahaan
berkelanjutan.
2. Membangun

dan

mengembangkan

perusahaan,

organisasi

serta

sumberdaya manusia perusahaan yang modern, profesional dan handal,


memberdayakan masyarakat desa hutan melalui pengembangan lembaga
perekonomian koperasi masyarakat desa hutan atau koperasi petani hutan.
3. Mendukung dan turut berperan serta dalam pembangunan wilayah secara
regional, serta memberikan kontribusi secara aktif dalam penyelesaian
masalah lingkungan regional, nasional dan internasional.

3.3

Wilayah Kerja dan Bidang Usaha Perusahaan

3.3.1 Wilayah Kerja


Wilayah kerja Perum Perhutani meliputi kawasan hutan negara yang terdapat
di wilayah Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur serta Provinsi Jawa Barat
dan Banten, serta daerah lain yang telah ditetapkan kecuali kawasan yang berfungsi
sebagai kawasan suaka alam, dan Hutan Wisata. Total wilayah hutan yang dikelola
oleh Perum Perhutani sebesar 2.446.907,27 Ha. Wilayah kerja Perum Perhutani
dibagi kedalam unit - unit, yaitu :
3 Wilayah kerja kawasan hutan negara Provinsi Jawa Tengah, yang disebut Divisi
Regional Jawa Tengah.
4 Wilayah kerja kawasan hutan negara Provinsi Jawa Timur, yang disebut Divisi
RegionalI Jawa Timur.

19

5 Wilayah kerja kawasan hutan negara Provinsi Jawa Barat dan Banten, yang
disebut Divisi RegionalII Jawa Barat dan Banten.
Kantor Unit berperan dalam memberikan layanan manajemen kapada satuan
organisasi dibawahnya yakni Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) dan Kesatuan
Bisnis Mandiri (KBM) berupa :
a. Pengendalian strategi sebagian Direksi
b. Pengarahan dan pembinaan
c. Pengendalian manajemen
Berikut ini adalah daftar Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) dan Kesatuan
Bisnis Mandiri (KBM) yang berada dibawah naungan Kantor Perum Perhutani
Divisi Regional Jawa Tengah :
Tabel 2.4a Unit Kerja Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

KPH
Blora
Purwodadi
Cepu
Randublatung
Gundih
Mantingan
Kebonharjo
Pemalang
Banyumas Timur
Banyumas Barat
Telawa
Semarang
Pekalongan Barat
Pekalongan Timur
Pati
Surakarta
Balapulang
Kedu Utara
Kedu Selatan
Kendal

KBM
IK Brimbung
IK Cepu
Sar 1 Tegal
Sar 2 Cepu
Agroforestry
Induustri Non Kayu
Jasa Lingkungan dan Produksi lain

20

3.3.2 Bidang Usaha Perusahaan


Perum Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengemban
tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan di Pulau Jawa bagi
pemanfaatan umum sekaligus menumpuk keuntungan, serta menyelenggarakan
usaha bidang kehutanan untuk menunjang pelaksanaan program pemerintah di
bidang ekonomi dan pembagunan. Dalam mengemban tugas dan tanggungjawab
tersebut, Perum Perhutani berupaya menjaga keseimbangan fungsi sumber daya
hutan baik ekologis, sosial, dan ekonomi. Penjelasan mendetail mengenai bidang
usaha yang dikelola oleh Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah adalah
sebagai berikut :
1. Perencanaan Hutan
Pengelolaan hutan diawali dengan kegiatan perencanaan hutan, yang meliputi :
a. Rencana Umum Perusahaan (RUP)
Rencana Umum Perusahaan (RUP) merupakan rencana jangka panjang
besifat menyeluruh yang memuat kebijakan dan strategi optimalisasi sumber
daya guna mencapai tujuan perusahaan.
b. Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH)
Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH) merupakan rencana untuk
mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari untuk masing-masing kelas
perusahaan sebagai acuan penyusunan rencana guuna terjaminnya kelestarian
hutan. Guna penyusunan RKPH perlu dilakukan penataan hutan, meliputi tata
batas, pembagian hutan, risalah (inventaris) hutan, pembuatan/perbaikan
alur,pengukuran dan perpetaan.

21

c. Rencana Lima Tahun Perusahaan (RLTP)


Rencana Lima Tahun Perusahaan (RLTP) merupakan rencaa yang memuat
kebijakan operasional dan pelaksanaan upaya-upaya mencapai sasaran
perusahaan dalam 5 tahun.
d. Rencana Kerja Tahunan Perusahaan (RKTP)
Rencana Kerja Tahunan Perusahaan (RKTP) merupakan rencana kegiatan
secara rinci dalam satu tahun sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja
Anggaran Perusahaan (RKAP)
e. Rencana Teknik Tahunan (RTT)
Rencana Teknik Tahunan (RTT) adalah rencana tahunan yang disusun
mengacu pada RPKH.
2. Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan
Reboisasi dan rehabilitasi hutan dilakukan di lokasi bekas tebangan maupun
kawasan yang masih tidak produktif. Pelaksanaan reboisasi melibatkan
partisipasi aktif masyarakat dengan Sistem Pengelolaan Hutan Bersama
Masyarakat (SPHBM) baik dengan tanam tumpang sari, penetapan pola tanam,
optimalisasi ruang, maupun pengembangan usaha produktif lainnya. Sejak tahun
1985, pekerjaan reboisasi selain bersifat rutin juga dilaksanakan pembangunan
Hutan Tanaman Industri (HTI) serta penanaman dalam rangka pemulihan pohon
jati yang telah dilakukan di Cepu dan Padangan.
4. Pemeliharaan Hutan
Pemeliharaan hutan bertujuan untuk membuat tegaknya hutan berpotensi
tinggi pada saat masa tebang serta menjaga kesuburan tanah dan kelestarian

22

lingkungan. Kegiatan pemeliharaan hutan meliputi pemagkasan tanaman sela,


penyiangan,

pembersihan

tunas

air,

pemangkasan

cabang

(pruning),

penjarangan, pencegahan terhadap hama dan penyakit, pencegahan gangguan


penggembalan dan perlindungan hutan lainnya.
5. Perlindungan Hutan
Perlindungan hutan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah
kerusakan dari gangguan keamanan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan
meliputi pencurian pohon, okupasi lahan/bibrikan, penggembalan liar, kebakaran
hutan dan bencana alam.
6. Pemungutan Hasil Hutan
Dalam pemungutan hasil hutan, Perum Perhutani menerapkan sistem padat
karya untuk memberikan kesempatan kerja kepada penduduk sekitar.
Pemungutan hasil hutan dapat berupa pemungutan hasil hutan kayu dan hasil
hutan non kayu. Kegiatan pemungutan hasil hutan kayu meliputi kegiatan
penebangan, pembagian barang, pengangkutan dan pemupukan di tempat
pengumpulan kayu (TPK). Sementara jenis kayu yang dihasilkan terdiri atas
jenis kayu jati, pinus, mahoni, damar, mangium, sengon dan rimba lainnya.
Sedangkan, untuk pemungutan hasil hutan non kayu berupa getah pinus, gatah
damar, minyak kayu putih, madu, seedlak dan murbei untuk pakan ulat sutera,
kopi, minyak atsiri, penagkaran buaya dan sebagainya.
7. Industri Hasil Hutan
Perum Perhutani memiliki Industri hasil hutan yakni Industri Pengolahan
Kayu di Cepu, Brumbung, Gresik, dan 12 Unit Penggergajian dengan produk

23

antara lain Garden Furniture (GF), Housing Component, Veener Sayat, TOP,
Paket Block, Flooring.
Selain itu juga, Perum Perhutani memiliki 8 pabrik pengolahan gondorukem
dan terpentin, 12 pabrik minyak kayu putih, Pabrik seedlak, dan pabrik
pemintalan benang sutera.
8. Pemasaran Hasil Hutan
Sasaran pasar produk Perum Perhutani untuk pasar dalam negeri umumnya
berupa kayu bulat, sedangkan untuk pasar luar negeri berupa kayu gergajian,
produk jadi, gondorukem dan terpentin. Mekanisme pemasaran berupa kontrak,
penjualan lagsung dan lelang. Perum Perhutani juga bekerjasama dengan World
Wide Fund (WWF)

dan Tropical Forest Trust (TFT) untuk mendapatkan

sertifikasi Sustainable Forest Management (SFM) dan Chain of Custody (CoC)


yang merupakan standar pengelolaan hutan, industri perkayuan dan perdagangan
kayu yang disyaratkan para para pembeli dari Eropa dan Amerika.

3.4

Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah gambaran sistematis yang menjelaskan mengenai

hubungan tugas, tanggungjawab dan wewenang antar tiap-tiap bagian dalam suatu
organisasi atau perusahaan dalam menjalankan aktivitas

perusahaan. Dengan

adanya struktur organisasi akan memudahkan dalam pembagian tugas, wewenang


dan tanggungjawab yang jelas, sehingga masing-masing elemen yang ada dalam
orgaisasi dapat dikoordinasikan dengan baik sesuai dengan tugas, tanggungjawab
dan wewenang yang diberikan, sehingga tidak akan terjadi benturan tugas.

24

Berdasarkan

SK

Direksi

Nomor

554/Kpts/Dir/2005

yang

telah

disempurnakan dengan SK Nomor 489/Kpts/Dir/2006 tentang struktur organisasi


Perum Perhutani, ditegaskan pemisahan kelola Kesatuan Pemangku Hutan (KPH)
dan Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM). Wilayah kerja Perum Perhutani dibagi
menjadi 3 unit dan masing-masing unit dipimpin oleh Kepala Unit dibantu oleh
Wakil Kepala Unit dengan dibantu oleh Kapala Biro (Karo). Masing-masing unit
membawahi beberapa Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) yang dipimpin oleh
seorang Administratur dan Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) dipimpin oleh General
Manager, dengan rincian sebagai berikut :
Divisi Regional Jawa Tengah : 20 KPH dan 6 KBM
Divisi RegionalI Jawa Timur : 24 KPH dan 6 KBM
Divisi RegionalII Jawa Barat dan Banten : 13 KPH dan 3 KBM
Struktur Organisasi Perum Perhutani secara garis besar merupakan struktur
organisasi garis yaitu suatu organisasi dimana hubungan antara pegawai-pegawai
dalam perusahaan tertentu merupakan suatu garis lurus dari para atasan hingga para
bawahan dan memegang tugas sendiri-sendiri, sehingga kekuasaan dan tanggung
jawab dari tingkat tertinggi sampai yang teendah terpisah secara jelas dan tegas.
Adapun struktur organisasi yang diterapkan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa
Tengah

berdasarkan

Surat

Keputusan

Direksi

Perum

Perhutani

Nomor

019/Kpts/Dir/2009 yang mulai berlaku pada tanggal 19 Januari 2009 dapat dilihat
pada gambar 1.
Struktur organisasi Perum Perhutani dipimpin oleh Direktur Utama yang
berada dibawah menteri Kehutanan Dirjen Pembinaan Hutan. Direktur utama

25

membawahi empat direksi, yaitu Direktur Produksi, Pemasaran, Keuangan, dan


Umum. Selain keempat Direksi tersebut terdapat 3 unit produksi Perum Perhutani
yang bertanggung jawab terhadap Direktur Utama, yakni Kepala Divisi Regional
Jawa Tengah, Divisi RegionalI Jawa Timur dan Divisi RegionalII Jawa Barat.
Untuk lebih mempermudah dalam mengimplementasikan kebijakan perusahaan dan
pengelolaan hutan, maka setiap unit diberi tugas dan wewenang untuk
menyelenggarakan perencanaan, pengelolaan, dan perlindungan hutan di wilayah
kerjanya masing-masing.
Adapun penjelasan tugas dan wewenang masing-masing bagian dalam
struktur organisasi Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah adalah sebagi
berikut :
1. Kepala Unit
a. Tugas Pokoknya adalah :
- Melaksanakan semua rencana dan kebijakan dari Direksi.
- Memimpin dan mengurus Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.
b. Kepala Unit mempunyai wewenang yaitu menetapkan cara-cara pelaksanaan
kebijaksanaan Direksi dan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.
c. Kepala Unit bertanggungjawab kepada Direksi atas tugas yang telah
dilaksanakannya.
2. Wakil Kepala Unit
a. Tugas Pokonya adalah :
- Membantu Kepala Unit melaksanakan tugas-tugas pimpinan.
- Melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Unit.

26

b. Wewenang :
Mengkoordinasi,

membina dan mengawasi bidang produksi, industri,

keamanan dan agraria.


c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
3. Kepala Biro Perencanaan
a.

Tugas pokok : Membantu Kepala Unit dalam hal perencanaan prasarana


hutan dan perencanaan pembangunan hutan berdasarkan asas kelestarian.

b.

Wewenang : Membuat perencanaan prasarana hutan dan perencanaan


pembangunan hutan.

c.

Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.

Biro Perencanaan membawahi empat Kepala Seksi (Kasi), yaitu :


1. Kepala Seksi Perencanaan Umum
2. Kepala Seksi Pengukuran dan Perpetaan
3. Kepala Seksi Perencanaan Prasarana Hutan
4. Kepala Seksi Peerencanaan Hutan (I,II,II,IV)
a) Seksi Perencanaan Hutan Daerah I berkedudukan di Pekalongan meliputi
Kesatuan Pemangku Hutan Pekalongan Barat, Pekalongan Timur,
Balapulang, Kendal, Pemalang.
b) Seksi Perencanaan Hutan Daerah II berkedudukan di Yogyakarta meliputi
Kesatuan Pemangku Hutan Banyumas Timur, Banyumas Barat, Kedu
Selatan dan Surakarta.

27

c) Seksi Perencanaan Hutan Daerah II berkedudukan di Salatiga meliputi


Kesatuan Pemangku Hutan Semarang, Purwodadi, Randublatung, Telawa,
Gundih.
d) Seksi Perencanaan Hutan Daerah IV berkedudukan di Rembang meliputi
Kesatuan Pemangku Hutan Pati, Kebonharjo, Blora, Mantingan, Cepu.
4. Kepala Biro Pembinaan Hutan
a. Tugas Pokok : Memberikan saran-saran dan pertimbangan kepada Kepala
Unit dalam mengatur dan mengkoordinasi bidang pembinaan hutan.
b. Wewenang :
- Mengatur dan membimbing petunjuk kerja pembinaan hutan serta
melaksanakan pengawasan di Biro Pembinaan Hutan.
- Memimpin dan mengendalikan kegiatan Biro Pembinaan Hutan.
c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
Biro Pembinaan Hutan membawahi tiga Kepala Seksi yaitu ;
1. Kepala Seksi Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan
2. Kepala Seksi Pemeliharaan
3. Kepala Seksi Pembinaan Lingkungan
5. Kepala Biro Produksi
a. Tugas pokok : Memberikan saran-saran dan pertimbangan kepada Kepala
Unit dalam mengatur dan mengkoordinasi bidang produksi.
b. Wewenang :
- Mengatur dan memberi petunjuk kerja serta melakukan pengawasan
terhadap Biro Produksi.

28

- Melakukan pembinaan eksploitsi hutan dan pembangunan lingkungan.


c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
Biro Produksi membawahi tiga Kepala Seksi yaitu :
1. Kepala Seksi Eksploitasi Kayu
2. Kepala Seksi Eksploitasi Non Kayu
3. Kepala Seksi Usaha Lain
6. Kepala Biro Industri
a. Tugas Pokoknya adalah :
- Memberi saran dan pertimbangan kepada Kepala Unit dalam mengatur dan
mengkoordinasi bidang industri.
- Membantu Kepala Unit dalam bidang pemikiran, pengembangan dan
pengolahan hasil hutan.
b. Wewenang : Mengatur, membimbing dan mengawasi di Biro Industri.
c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
Biro Produksi mempunyai tiga Kepala Seksi yaitu :
1.

Kapala Seksi Industri Kayu

2.

Kepala Seksi Industri Non Kayu

3.

Kepala Seksi Industri Industri

7. Kepala Biro Keamanan, Agraria dan Humas


a. Tugas : Memberikan saran dan pertimbangan kepada Kepala Unit dalam
mengatur dan mengkoordinasi bidang keamanan agraria.
b. Wewenang : Mengatur, membimbing dan mengawasi di Biro Keamanan,
Agraria dan Humas.

29

c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.


Biro Keamanan, Agraria dan Humas memiliki tiga Kepala Seksi yaitu :
1. Kepala Seksi Hukum dan Agraria
2. Kepala Seksi Keamanan
3. Kepala Seksi Humas
9. Kepala Biro Pemasaran
a. Tugas pokoknya adalah :
- Memberi saran dan pertimbangan kepada Kepala Unit dalam mengatur dan
mengkoordinasi Bidang Pemasaran
- Membantu Kepala Unit dalam Bidang Pemasaran, penjualan hasil hutan,
pengujian hasil hutan dan analisa pasar.
b. Wewenang : Mengatur, membimbing dan mengawasi di Biro Pemasaran
c. Bertanggunngjawab kepada Kepala Unit
Biro Pemasaran mempunyai tiga Kepala Seksi yaitu :
1. Kepala Seksi Penjualan
2. Kepala Seksi Analisa Pasar
3. Kepala Seksi Pengujian
10. Kepala Biro Teknik dan Perlengkapan
a. Tugas pokoknya adalah :
- Memberikan saran dan pertimbangan kepada Kepala Unit dalam mengatur
dan menkoordinasikan bidang teknik dan perlengkapan

30

- Melaksanakan pengawasan kepada administratur dibawahnya dalam


pelaksanaan

pengadan

barang,

penyimpanan,

pemeliharaan

dan

penghapusan barang-barang.
b. Wewenang : Mengatur, membimbing dan mengawasi dalam Biro Teknik dan
perlengkapan.
c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit
Biro Teknik mempunyai tiga Kepala Seksi yaitu :
1. Kepala Seksi Pembangunan
2. Kepala Seksi Analisa Perlengkapan
3. Kepala Seksi Instalasi
11. Kepala Biro Keuangan
a. Tugas pokoknya : Memberi saran dan pertimbangan kepada Kepala Unit
dalam mengatur dan mengkoordinasi Bidang Keuangan.
b. Wewenang :
- Mengatur, membimbing dan mengawasi Biro Keuangan
- Menyusun anggaran dan pendapatan perusahaan, administrasi keuangan
dan pembangunan serta pemeriksaan keuangan.
c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
Biro Keuanagn mempunyai tiga Kepala Seksi yaitu :
1. Kepala Seksi Anggaran dan Pembelanjaan
2. Kepala Seksi Akuntansi dan Perpajakan
3. Kepala Seksi Verifikasi
12. Kepala Biro Umum

31

a. Tugas pokoknya adalah memberi saran dan pertimbangan kepada Kepala Unit
dalam mengatur dan mengkoordinasi bidang tata laksana dan administrasi
umum.
b. Wewenang : Mengatur, membimbing dan mengawasi Biro Umum.
c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
Biro Umum mempunyai dua Kepala Seksi yaitu :
- Kepala Seksi Umum dan Perkantoran
- Kepala Seksi Personalia
13. Kepala Biro Pengawasan
a. Tugas pokoknya adalah membantu Kepala Unit dalam tugas pengawasan
terhadap semua pelaksanaan kegiatan di seluruh wilayah unitnya.
b. Wewenang : mengawasi semua pelaksanaan kegiatan di seluruh wilayah unit.
c. Bertanggungjawab kepada Kepala Unit.
Biro Pengawasan memiliki dua Kepala Seksi yaitu :
- Kepala Seksi Pengawasan Wilayah I
- Kepala Seksi Pengawasan Wilayah II

32

GAMBAR 1
STRUKTUR ORGANISASI PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL
JAWA TENGAH

33

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1

Deskripsi Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan


Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan kegiatan yang wajib

diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Non Pendidikan Universitas Negeri Semarang
(UNNES) khususnya bagi mahasiswa Jurusan Manajemen S1 sebagai salah satu
syarat menyelesaikan studi prodi Manajemen S1 serta sebagai sarana mahasiswa
untuk mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama dibangku kuliah sebagai
bekal mahasiswa ketika terjun dalam dunia kerja nantinya.
Obyek kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di Perum
Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah yang beralamat di Jalan Pahlawan No.1517 Semarang. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan selama kurang lebih
4 minggu, mulai dari tanggal 4 Agustus sampai dengan 29 Agustus 2014. Dimana
Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan setiap hari Senin s/d Jumat, jam kerja mulai
pukul 07.00 15.00 WIB. Selama Praktek Kerja Lapangan (PKL)

penulis

ditempatkan di Biro Keuangan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.


Untuk pakaian yang digunakan penulis pada saat melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan menggunakan atasan kemeja (warna bebas), celana kain (tidak
diperbolehkan memakai jeans), sepatu hitam dan jas almamater. Sedangkan setiap
hari jumat pagi sebelum melaksanakan Praktek Kerja Lapangan diadakan kegiatan
senam pagi pukul 07.00 dengan memakai pakaian olahraga.

34

4.2

Uraian Kegiatan Praktek Kerja Lapangan


Dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan mahasiswa mengerjakan tugas-

tugas yang diberikan oleh pembimbing lapangan sesuai dengan pengetahuan yang
dimiliki. Adapun uraian spesifik kegiatan yang dilakukan penulis selama praktek
kerja lapangan di Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah adalah sebagai
berikut :
Tabel 4.2 Spsesifik kegiatan praktek kerja lapangan 4 -29 Agustus 2014
Minggu ke-1, Tanggal 4 Agustus - 8 Agustus 2014
No

Hari

Tanggal

Kegiatan PKL

Menginput data transaksi pembayaran kas


tanggal 25 Juli 2014
Menginput data transaksi pembayaran Bank
2
Selasa
05/08/2014
tanggal 16-17 Juli
Mengapprove transaksi pembayaran dan
3
Rabu
06/08/2014
penerimaan Bank tanggal 22 -25 Juli 2014
Rekonsiliasi data saldo Bank bulan Juli 2014
4
Kamis
07/08/2014
dengan saldo Bank pada program ERP Juli 2014
Melanjutkan rekonsiliasi data saldo Bank dengan
5
Jum'at
08/08/2014
saldo Bank pada program ERP bulan Juli 2014
Minggu ke-2, Tanggal 11 Agustus - 15 Agustus 2014
1

Senin

04/08/2014

No

Hari

Tanggal

Senin

11/08/2014

Selasa

12/08/2014

Rabu

13/08/2014

Kamis

14/08/2014

Jum'at

15/08/2014

Kegiatan PKL
Menginput data transaksi pembayaran dan
penerimaan kas tanggal 08 Agustus 2014
Menginput data transaksi penerimaan kas tanggal
11 Agustus 2014 serta mengiput data kekurangan
pembayaran gaji
Menginput data transaksi pembayaran kas
tanggal 11 Agustus serta mengapprove
penerimaan dan pembayaran kas tanggal 11
Agustus 2014
Menginput data transaksi pembayaran kas
tanggal 12 Agustus 2014
Menginput data transaksi penerimaan dan
pembayaran kas tanggal 14 Agustus 2014

35

Minggu ke-3, Tanggal 18 Agustus 22 Agustus 2014

Senin

18/08/2014

Input bukti pemotongan PPh Pasal 21 atas gaji


pegawai Perum Perhutani Divisi Jawa Tengah

Selasa

19/08/2014

Input data konfirmasi faktur pajak dan Surat Setoran


Pajak (SSP) tahun 2012 Perum Perhutani Divre
Jateng dan KPH Kedu Utara

Rabu

20/08/2014

Input Jurnal Memorial atas transaksi tanggal 20


Agustus 2014

Kamis

21/08/2014

Mengumpulkan bukti kas masuk dan biaya untuk


pemeriksaan tim verifikasi dari direksi dari bulan
Januari s/d Juni 2014

Jum'at

22/08/2014

Input bukti Pemotongan PPh Pasal 21 dan atau


Pasal 26 serta bukti pemotongan PPh pasal 23

Minggu ke-4, Tanggal 25 Agustus s/d 29 Agustus 2014


Hari

Tanggal

Kegiatan PKL

Senin

25/08/2014

Input pembayaran apresiasi kinerja Triwulan II tahun


2014 untuk pegawai dan pejabat Perum Perhutani
Divre Jateng

Selasa

26/08/2014

Entri gaji karyawan melalui sistem ERP untuk bulan


Agustus lewat Bank

Rabu

27/08/2014

Input penerimaan dan pembayaran kas tanggal 26


Agustus 2014

Kamis

28/08/2014

Input penerimaan dan pembayaran kas tanggal 27


Agustus 2014

Jum'at

29/08/2014

Input penerimaan dan pemngeluaran kas tanggal 28


Agustus 2014

36

4.3

Analisis Pembahasan

4.3.1 Mekanisme Pengitungan dan Pemotongan PPh Pasal 21 atas Gaji


Pegawai Tetap
Sistem perpajakan yang digunakan untuk pemotongan Pph Pasal 21 adalah
menggunakan Witholding Tax System. Withholding Tax System adalah suatu
sistem perpajakan dimana pihak ketiga diberikan wewenang untuk melakukan
pemungutan dan atau pemotongan pajak terutang pihak yang menerima
penghasilan. Sesuai dengan sistem tersebut maka dalam hal ini, Perum Perhutani
Divisi Regional Jawa Tengah bertindak sebagai pihak ketiga yang berwenang untuk
melakukan pemungutan dan pemotongan atas pajak penghasilan seluruh
pegawainya.
Adapun jenis penghasilan yang dikenakaan pemungutan dan atau
pemotongan atas pajak penghasilan (PPh) pasal 21 oleh Perum Perhutani Divisi
Regional Jawa Tengah anatara lain : Gaji, Upah, Honorarium, Tunajangan, serta
pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan atau kegiatan
yang dilakukan oleh pihak penerima penghasilan. Dalam hal ini akan dibahas
mengenai penghitungan pajak penghasilan atas gaji pegawai tetap.
Pengenaan tarif PPh pasal 21 atas gaji pegawai tetap pada Perum Perhutani
Divisi Regional Jawa Tengah adalah sebesar 5 % dari penghasilan bruto bagi
pegawai yang memiliki NPWP. Sedangkan, pegawai yang tidak memiliki NPWP
dikenakan tarif PPh 21 sebesar 6 %. Kriteria pegawi yang harus memiliki NPWP
adalah semua pegawai yang memiliki penghasilan diatas PTKP (Penghasilan Tidak
Kena Pajak)

37

Adapun mekanisme penghitungan dan pemotongan Pajak Penghasilan (PPh)


Pasal 21 atas gaji pegawai tetap adalah sebagai berikut :
1. Untuk menghitung PPh Pasal 21 atas gaji pegawai tetap, terlebih dahulu perlu
diketahui penghasilan netto sebulan. Penghasilan netto sebulan diperoleh dengan
cara menjumlahkan gaji pokok dengan tunjangan-tunjangan serta pendapatan
lain-lain yang diterima pegawai. Kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya
jabatan 5 % dari penghasilan bruto (Maksimal Rp 1.296.000,- per tahun atau Rp
108.000,- per bulan) serta Iuran-iuran yang terkait dengan penghasilan tetap.
2. Penghasilan netto tersebut dikurangi dengan PTKP 1 tahun sesuai dengan
tanggungan pihak yang menerima penghasilan. Selisih yang diperoleh dari
pengurangan penghasilan netto dengan PTKP 1 tahun itulah yang akan menjadi
Penghasilan Kena Pajak (PKP). Karena di Perum Perhutani Divisi Regional
Jawa Tengah penghasilan yang diperoleh pegawai tetap tidak lebih dari
50.000.000 perbulan maka tarif PPh yang dikenakan adalah 5 % dari
penghasilan kena pajak (PKP) bagi pegawai yang memiliki NPWP , sedangkan
bagi pegawai yang belum memiliki NPWP tarif PPh 21 yang dikenakan adalah
sebesar 6% dari PKP.
3. PPh pasal 21 setahun dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak yang berlaku
dengan Penghasilan Kena Pajak (PKP).
4. Pajak penghasilan (PPh) dalam setahun

kemudian dibagi dengan 12 bulan

sehingga diketahui pajak penghasilan (Pph) 21 dalam sebulan.

38

4.3.2 Mekanisme Pencatatan Transaksi atas PPh Pasal 21 dalam Sistem ERP
di Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah :
Setelah dilakukan penghitungan dan atau pemotongan pajak penghasilan
pasal 21 atas gaji pegawai tetap, selanjutnya staf perpajakan di Biro Keuangan
membuat bukti pemotongan PPh Pasal 21 serta berkas-berkas lain yang diperlukan.
Berkas-berkas tersebut kemudian diserahkan kepada korektor untuk dikoreksi.
Selanjutnya di serahkan kepada KSS perpajakan untuk dikoreksi lagi dan
divalidasi. Dari KSS perpajakan kemudian diserahkan kepada Kasi akuntansi dan
perpajakan untuk mendapat persetujuan. Setelah mendapat persetuuan dari KSS
Akuntansi dan Perpajakan selanjutnya diserahkan kepada Kasir untuk mencairkan
uang pajak . Dari kasir kemudian diserahkan kepada

operator yang bertugas

mengentri data untuk dibukukan dalam sistem ERP dengan menginputkannya di


penerimaan kas dengan nomor rekening 2111. Slip bukti penerimaan kas tersebut
nantinya akan disimpan sebagai arsip di gudang.
Adapun tahap-tahap pencatatan atau pembukuan transaksi atas PPh 21 dalam
sistem ERP adalah sebagai berikut :
1.

Untuk masuk ke sistem ERP terlebih dahulu harus login sesuai dengan
username dan password yang ada. Berikut ini tampilan login ERP pada
Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah :

39

Gambar 2 : Tampilan Login Sistem ERP Perum Perhutani


Sumber : Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah

2.

Kemudian pada halaman awal akan muncul beberapa menu utama,


diantaranya Home, Master, Transaksi, Posting, Laporan 1, Tabel, Grafik,
Laporan 2. Masing-masing menu utama tersebut memiliki sub-sub menu.
Karena transaksi PPh 21 menyebabkan kas masuk bagi Perum Perhutani
maka pencatatan transaksi atas pajak penghasilan (PPh) 21 masuk dalam sub
menu penerimaan Kas. Sehingga pada halaman awal kita memilih menu
Transaksi kemudian sub menu Penerimaan Kas. Untuk lebih jelasnya
tampilan yang muncul adalah sebagai berikut :

40

Gambar 3 : Halaman Awal Sistem ERP Perum Perhutani


Sumber : Perum Perhutani

41

3.

Selanjutnya akan muncul tampilan bukti penerimaan kas sebagai berikut :

Gambar 4 : Bukti Pemerimaan Kas


Sumber : Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah

Setiap kali akan menambahkan pencatatan transaksi baru, terlebih dahulu


harus membuat header dengan mengklik icon Add yang ada dipojok kanan atas,
sehingga akan muncul tampilan :

42

Gambar : Header Penerimaan Kas


Sumber : Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah
Adapun cara pengisiannya adalah sebagai berikut ;
1. Nomor Penerimaan Kas

: diisi sesuai dengan urutan yang ada.

2. Diterima dari

: diisi dengan nama wajib pajak yang


dikenakan pemotongan PPh 21

3. Alamat

: diisi sesuai dengan alamat perusahaan,


yakni dalam hal ini Perum Perhutani
Divre Jateng beralamat di Jalan Pahlawan
No.15-17 Semarang.

4. Deskripsi

: diisi Bukti pemotongan PPh Pasal 21 dan


atau 26

5. No Akun

: diisi Kas unit/divisi

6. Tanggal Penerimaan Kas

: diisi sesuai tanggal saat transaksi terjadi

7. Aliran Kas

: diisi 114 untuk Pembayaran Pajak dan


PnBP

4.

Setelah header dibuat, maka tahap selanjutnya adalah membuat detail dari isi
header tersebut. Sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :

43

Gambar 6 : Detail Penerimaan Kas


Sumber

: Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah

Adapun cara pengisiannya adalah sebagai berikut :


1. No Akun

: diisi sesuai dengan nomor rekening yang ada. Dalam hal ini
untuk pajak penghasilan pasal 21 nomor rekeningnya adalah
211119

2. Produk

: Hanya diisi untuk rekening kepala 5, selain rekening kepala


5 kode produk tidak perlu diisi.

3. Lokasi/bagian: diisi sesuai seksi wajib pajak.


4. Kuantitas

: kolom pertama diisi angka satu, sedangkan kolom kedua


diisi sesuai dengan jumlah pajak yang dibayarkan.

5. Rupiah

: diisi jumlah uang pajak yang dibayarkan dalam rupiah

6. Terbilang

: diisi jumlah uang pajak yang dibayarkan dalam bilangan.

44

7. Deskripsi

: diisi uraian tujuan kegiatan. Dalam hal ini adalah Bukti


pemotongan pajak penghasilan (PPh) pasal 21. Perlu
diperhatikan penulisan uraian ini hanya cukup untuk dua
baris kalimat, sehingga penulisannya harus secara singkat
agar dapat terbaca oleh sistem.

4.4.3 Mekanisme Penyetoran PPh Pasal 21 atas Gaji Pegawai Tetap Perum
Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah :
1. Setelah PPh 21 dipungut dan atau dipotong setiap bulanannya oleh staf
pajak di Biro Keuangan, kemudian staf pajak tersebut berkewajiban untuk
menyetorkan uang pajak beserta berkas-berkas yang diperlukan ke Bank
Persepsi.

Bank Persepsi adalah Bank yang ditunjuk oleh Menteri

Keuangan untuk menerima pembayaran pajak, diantaranya Bank BNI,


Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BTN, dll. Seandainya Bank Persepsi tidak
bisa maka uang pajak dapat disetorkan melalui Kantor Pos.
2. Batas waktu pembayaran atau penyetoran PPh Pasal 21 yang telah
dipungut oleh Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah adalah :
a. Pembayaran atau penyetoran Masa PPh Pasal 21 maksimal tanggal 10
bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir. Apabila tanggal 10 jatuh
pada hari libur maka penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya.
b. Apabila pada akhir tahun ternyata diketahui terjadi kekurangan
pembayaran, maka pembayaran kekurangan pajak yang terutang

45

berdasarkan SPT (Surat Pemeritahuan) Tahunan PPh Pasal 21 maksimal


disetor tanggal 25 bulan berikutnya sebelum SPT tersebut disampaikan.
3. Keterlambatan pembayaran dan atau penyetoran dikenakan sanksi berupa
denda administratif sebesar 2 % perbulan dari jumlah pajak terutang yang
harus dibayar, dihitung dari jatuh tempo pembayaran.
4. Berkas-berkas yang diperlukan dalam penyetoran PPh pasal 21 anatara lain
SPT Masa (Surat Pemberitahuan Masa Pajak), Bukti potong PPh Pasal 21/26,
SSP (Surat Setor Pajak). Untuk SSP harus dibuat rangkap 5 dan diisi sesuai
dengan jumlah seluruh PPh pasal 21 yang terutang atau yang akan dibayar.
Penggunaan SSP adalah sebagai berikut :
a. Lembar ke-1 untuk arsip Wajib Pajak, yakni dalam hal ini pegawai Perum
Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.
b. Lembar ke-2 untuk Kantor Pelayanan Pajak Negara (KPPN)
c. Lembar ke-3 untuk dilaporkan Wajib Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak
(KPP)
d. Lembar ke-4 untuk Bank Persepsi atau Kantor Pos dan giro yang
menerima pembayaran uang pajak.
e. Lembar ke-5 untuk arsip Waib Pungut atau pihak lain.

4.4.4 Mekanisme Pelaporan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 atas Gaji


Pegawai Tetap Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah
Setelah dilakukan penghitungan, pemotongan, dan penyetoran PPh Pasal 21
maka selanjutnya Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah harus melaporkan

46

penghitungan dan pembayaran PPh Pasal 21 yang terutang tersebut menurut


peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Adapun tata cara yang harus dilakukan oleh Perum Perhutani Divisi Regional
Jawa Tengah dalam melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak penghasilan
(PPh) Pasal 21 adalah sebagai berikut :
1. Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah dalam melakukan pelaporan
pajaknya menggunakan SPT (Surat Pemberitahuan) yang harus diambil
sendiri di Kantor Pelayanan Pajak setempat, dalam hal ini Perum Perhutani
Divisi Regional Jawa Tengah terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Semarang tengah, yang berada di Jalan Pemuda No. 2 Semarang.
2. Dalam hal ini Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah menggunakan 2
jenis SPT dalam melaporkan Pajak Penghasilan (PPh) 21 yakni :
a. SPT Masa PPh Pasal 21, adalah Surat pemberitahuan yang digunakan
untuk melakukan pelaporan atas penghitungan dan atau pembayaran pajak
terutang dalam suatu masa pajak bulanan.
b. SPT Tahunan PPh Pasal 21, adalah Surat pemberitahuan yang digunakan
untuk melakukan pelaporan atas penghitungan dan atau pembayaran pajak
terutang dalam suatu tahun pajak.
3. Batas waktu penyampaian pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21 oleh Perum
Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah maksimal dilaporkan tanggal 20
bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir. Sedangkan untuk SPT Tahunan
PPh Pasal 21 maksimal dilaporkan pada akhir bulan ketiga setelah

47

berakhirnya tahun pajak ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang


Tengah.
4. Keterlambatan penyampaian SPT Masa dan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
akan dikenakan sanksi berupa denda administratif sebesar Rp 100.000
(seratus ribu rupiah). Sedangkan, untuk keterlambatan penyampaian SPT
Tahunan PPh Badan dikenakan denda Rp 1.000.000 perbulan.

48

BAB V
PENUTUP
4.1

Simpulan
Berdasarkan uraian pembahasan yang telah di telah dijelaskan pada bab

sebelumnya mengenai mekanisme penghitungan, pemotongan, penyetoran dan


pelaporan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 pada Perum Perhutani maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Perum Perhutani selaku pemberi kerja bertindak sebagai pihak ketiga yang
memiliki wewenang untuk melakukan pemungutan dan pemotongan pajak
penghasilan (PPh) pasal 21 atas gaji pegawai tetap. Selain gaji pegawai tetap,
Perum Perhutani juga memungut dan memotong penghasilan lain berupa
Honorarium, Pesangon dan Tunjangan lain
2. Pegawai yang memiliki penghasilan diatas PTKP wajib memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP). Bagi pegawai yang memiliki NPWP tarif PPh Pasal 21
adalah sebesar 5 % dari penghasilan kena pajak (PKP). Sedangkan, bagi pegawai
yang tidak memiliki NPWP tarif PPh 21 adalah sebesar 6% dari PKP.
3. Batas waktu pembayaran dan atau penyetoran pajak penghasilan (PPh) 21
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
Apabila terjadi keterlambatan pembayaran dan atau penyetoran maka akan
dikenakan denda administratif sebesar 2 % perbulan dari jumlah pajak terutang
yang harus dibayar.
4. Dalam hal pelaporan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, Perum Perhutani Divisi
Regional Jawa Tengah menggunakan 2 jenis Surat Pemberitahuan (SPT) yakni

49

SPT Masa PPh dan SPT Tahunan PPh. Batas waktu penyampaian SPT Masa
maksimal tanggal 20 bulan berikutnya, sedangkan SPT Tahunan maksimal akhir
bulan ketiga setelah berakhirnya tahun pajak.

4.2

Saran
Berdasarkan simpulan diatas dan kegiatan serta observasi yang telah penulis

lakukan selama melaksanakan program Praktek Kerja Lapangan pada Perum


Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, maka penulis dapat menyampaikan
beberapa saran, antara lain :
1.

Sebagai wajib pajak yang baik diharapkan Perum Perhutani Divisi Regional
Jawa Tengah melakukan pemotongan,

penyetoran serta pelaporan pajak

khususnya pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 sebelum jatuh tempo, mengingat


pajak memiliki peranan yang penting bagi terlaksananya pembangunan
nasional. Sehingga keterlambatan pembayaran dan atau pelaporan pajak juga
akan berimbas bagi tersendatnya pembangunan nasional.
2.

Pihak fiskus diharapkan lebih aktif lagi dalam memberikan sosialisasi


mengenai pajak penghasilan pasal 21 kepada Wajib Pajak khususnya yang
bertindak

sebagai

pemotong

atau

pemungut

sehingga

akan

dapat

meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi dalam penghitungan,


pemotongan, penyetoran dan pelaporan pajak penghasilan pasal 21 yang
dilakukan oleh Wajib Pajak serta harus lebih tegas lagi dalam menindak
Wajib Pajak yang kurang taat dalam penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21.