You are on page 1of 43

OPERASI DASAR

PENGOLAHAN CITRA
Nurfarida Ilmianah

Operasi Dasar

Citra digital direpresentasikan dengan matriks


sehingga operasi pada citra digital pada
dasarnya memanipulasi elemen-elemen
matriks.
Operasi Dasar pengolahan citra antara lain :
1 operasi titik,
2.
3
4.
5.

operasi global,
operasi berbasis bingkai (frame),
operasi geometri,
operasi bertetangga

Operasi Titik

Titik pada citra memiliki 2 karakteristik yaitu :


koordinat yang menunjukkan lokasi dari titik
tersebut dalam citra
nilai yg menunjukan tingkat keabuan/warna dari
titik
tersebut

Operasi titik dilakukan dengan memodifikasi


nilai skala keabuan dari titik (piksel) yang
ditinjau berdasarkan fungsi tertentu.

Operasi Titik

Fungsi yang digunakan adalah fungsi transformasi skala


keabuan (gray scale transformation/GST)
GST function = fungsi yang memetakan tingkat keabuan
input (Ki) ke citra keabuan citra output (Ko) Ko = f (Ki)
Untuk citra true color fungsi ini diterapkan pada ketiga
elemen warna :
Ro = fR (Ri)
Go = fG (Gi)
Bo = fB (Bi)

Beberapa operasi pengolahan citra, terkait operasi titik :


1. Modifikasi kecemerlangan (brightness modification)
2. Peningkatan Kontras (contrast enhancement)
3. Negasi (negation)
4. Pengambangan (thresholding)

Modifikasi Kecermalangan
Pada dasarnya merubah nilai keabuan/warna dari gelap
menuju terang atau sebaliknya merubah citra yang
terlalu cemerlang/pucat menjadi gelap.
Dengan pertolongan GST fungsi, dapat ditarik formula
linier :
Ko = Ki + C atau f(x,y) = f(x,y) + C
Dimana C adalah suatu konstanta yang bernilai positif
untuk meningkatkan kecemerlangan citra, bernilai
negatif untuk mengurangi kecemerlangan citra.
Untuk citra true color :
Ro = Ri + CR
Go = Gi + CG
Bo = Bi + CB

Modifikasi Kecermelangan

PENINGKATAN KONTRAS
(CONTRAST ENHANCEMENT)

Jika sebuah citra yang mempunyai nilai keabuan yang


tidak terlalu berbeda untuk semua titik, dimana titik
tergelap dalam citra tidak mencapai hitam pekat dan
titik paling terang dalam citra tidak berwarna putih
cemerlang
Dengan peningkatan kontras maka titik yang
cenderung gelap menjadi lebih gelap dan yang
cenderung terang menjadi lebih cemerlang.
Peningkatan kontras dapat dilakukan dengan
bermacam rumus, salah satunya adalah : Ko = G (Ki
P) + P
G = Koefisien penguatan kontras
P = Nilai skala keabuan yang dipakai sebagai pusat
pengontrasan

PENINGKATAN KONTRAS
(CONTRAST ENHANCEMENT)

NEGASI
Operasi untuk mendapatkan citra negatif (negative
image)
Meniru film negatif pada fotografi, yaitu titik yang
berwarna putih pada citra mempunyai warna
hitam pada film negatifnya, demikian juga
sebaliknya.
Dilakukan dengan cara mengurangi nilai intensitas
piksel dari nilai keabuan maksimum.
Ko = Kmax Ki
Misal pada citra dengan 256 derajat keabuan (8
bit)
Kmax = 255 maka

Ko = 255 Ki atau f(x,y) =255 f(x,y)

NEGASI

KONVERSI CITRA TRUE COLOR MENJADI


CITRA KEABUAN (GRAYSCALE)

Operasi konversi citra true color ke keabuan dengan rumus :


Ri + Gi + Bi
Ko = -------------------3
Bisa juga dengan memberi bobot (w) pada RGB karena mata
manusia lebih sensitif pada warna hijau, kemudian merah,
terakhir biru.
Ko = wr Ri + wg Gi + wb Bi
Berdasarkan NTSC (National Television System Committee),
dimana :
wr = 0.299
wg = 0.587
wb = 0.144

PENGAMBANGAN
(THRESHOLDING)
Operasi pengambangan digunakan untuk mengubah citra
dengan format skala keabuan, yang mempunyai
kemungkinan nilai lebih dari 2 ke citra biner yang memiliki 2
buah nilai (yaitu 0 dan 1).
Pengambangan Tunggal
Memiliki sebuah nilai batas ambang
Fungsi GST-nya
0, K, jika Ki < ambang (0 = hitam)
Ko=
1, jika Ki ambang (1 = putih)
atau

0, jika Ki ambang
Ko =
1, jika Ki < ambang

PENGAMBANGAN
(THRESHOLDING)

Pengambangan Ganda
Pengambangan Ganda Memiliki ambang bawah dan
ambang atas. Dilakukan untuk menampilkan titiktitik yang mempunyai rentang nilai skala keabuan
tertentu
0, jika ambang bawah Ki ambang atas
Ko =
1, lainnya.
atau

1, jika ambang bawah Ki ambang atas


Ko =
0, lainnya.

Pengambangan Ganda

Operasi Geometri

Operasi Geometri pada pengolahan citra


ditujukan untuk memodifikasi koordinat piksel
dalam suatu citra dengan pendekatan tertentu,
tetapi dalam perkembangannya dimungkinkan
juga memodifikasi nilai skala keabuan.
Operasi Geometri berhubungan dengan
perubahan bentuk geometri citra, antara lain :
Pencerminan (flipping)
Rotasi/pemutaran (Rotating)
Penskalaan (Scaling/Zooming)

Operasi Pencerminan (Flipping)


Operasi pencerminan merupakan salah satu operasi geometri
yang paling sederhana.
Efek pencerminan
horisontal : pencerminan pada sumbu Y
vertikal : pencerminan pada sumbu X
kombinasi : pencerminan pada sumbu Y dan X
Formula/rumus yang digunakan untuk pencerminan horisontal.
x = x
karena koordinat asal (x) bernilai nol atau positif, maka
koordinat hasil (x) yang diperoleh dari rumus akan selalu
bernilai nol atau negatif.

Operasi Pencerminan (Flipping)


Padahal koordinat piksel citra tidak ada (tidak boleh)
negatif.
Maka rumus dimodifikasi menjadi :
x xc = (x xc) , dengan xc nilai koordinat garis
tengah citra.
x xc = x + xc
x = 2xc x
w = lebar citra
w1
xc = (w1)/2

Operasi Geometri
Karena xc = (w1)/2
Maka :
x = 2 ((w1)/2) x
x = w 1 x
Untuk pencerminan vertikal, tinggal mengganti rumus,
menjadi :
y = y
y = h 1 y
Untuk pencerminan kombinasi, rumus keduanya
digabungkan.
Kesimpulan :

Operasi Geometri
Pencerminan Horisontal : x = w 1 x
y = y (nilai koordinat y tetap)
Pencerminan Vertical
y = h 1 y
x = x (nilai koordinat x tetap)
Pencerminan Kombinasi x = w 1 x
y = h 1 y

Cont Flipping

pencerminan
horizontal

pencerminan vertical

pencerminan
kombinasi

ROTASI (ROTATING)

Operasi rotasi dengan memutar koordinat yang akan


dibahas adalah rotasi putaran (900) dan putaran
(1800).
Rotasi putaran (900) searah jarum jam (CW/clock
wise)
w = h dan h = w pertukaran ukuran lebar & tinggi
citra
x = w 1 y
y = x
Rotasi putaran (1800) searah jarum jam (CW/clock wise)

x = w 1 x
y = h 1 y

Rotasi (2)
Rotasi Bebas Dengan asumsi berlawanan arah
jarum jam (CCW/counter clock wise)
x = x cos() + y sin()
x = (x1-(w-1)/2) cos() (y1-(h-1/2)) sin()
+x0
y =( x1-(w-1)/2) sin() + (y1-(h-1/2)) y cos()
+y0
y = -x sin() + y cos()
w = |w cos()| + |h sin()|
h = |w sin()| + |h cos()|

Cont Rotasi

putaran

putaran (250 CCW)

(1800 CW)
1/4 putaran (900 CW)

PENSKALAAN (SCALING)
Operasi penskalaan (scaling) dimaksudkan
untuk memperbesar (zoom-in) atau
memperkecil (zoom-out) citra.
> 1 , memperbesar citra asli
Nilai skala
< 1 , memperkecil citra asli
Rumus yg dipakai :
x = Sh x
y = Sv y

PENSKALAAN (SCALING)
Keterangan :
Sh = faktor skala horisontal
Sv = faktor skala vertikal
Ukuran citra juga berubah menjadi :
w = Sh w
h = Sv h
Operasi zoom in dengan faktor 2 (Sh=Sv=2)
menyalin setiap piksel sebanyak 4 kali, jadi citra 2 x
2 piksel menjadi 4 x 4 piksel

PENSKALAAN (SCALING)

Citra Asli

Sh = 1 Sv = 2

OPERASI BERBASIS BINGKAI (FRAME) = OPERASI


MULTI IMAGE

Operasi multi image adalah operasi pengolahan


terhadap lebih dari satu obyek citra dan menghasilkan
sebuah citra keluaran yang merupakan hasil operasi
matematis
Operasi ini dilakukan titik per titik dengan lokasi yang
bersesuaian pada citra-citra masukan

Secara umum misal akan dioperasikan citra A dan citra


B sehingga menghasilkan citra C, maka dapat
diformulasikan sbb :
C(x,y) = A(x,y) operator B(x,y)
Jika melibatkan lebih dari 2 citra, maka :
C(x,y) = A1(x,y) operator A2(x,y) operator
A3(x,y)

OPERASI BERBASIS BINGKAI (FRAME) =


OPERASI MULTI IMAGE

Dalam operasi yang melibatkan dua buah citra atau


lebih, biasanya akan diterapkan operasi aritmatika,
sebagai contoh :
Penjumlahan C(x,y) = A(x,y) + B(x,y)
Pengurangan C(x,y) = A(x,y) B(x,y)
Perkalian C(x,y) = A(x,y) * B(x,y)
Pembagian C(x,y) = A(x,y) / B(x,y)
Beberapa pengolahan citra yang berkaitan dengan
operasi ini adalah :
1. Penggabungan citra (image blending)
2. Deteksi gerakan (motion detection)
3. Operasi Logika (logic Operation)

PENGGABUNGAN CITRA (IMAGE


BLENDING)
Penggabungan citra dilakukan dengan cara
menimpakan sebuah citra pada citra yang lain
Dengan kata lain dilakukan operasi
penjumlahan terhadap citra yang ada dengan
pemberian bobot pada masing-masing citra
C(x,y) = wa * A(x,y) + wb * B(x,y)
wa dan wb adalah bobot untuk citra A dan B,
dan nilai jumlah total dari bobot adalah 1
wa + wb = 1

Cont image Blending

DETEKSI GERAKAN
Deteksi gerakan secara sederhana dapat dilakukan dengan
mencari beda antara 2 citra yang berurutan pada hasil
pencitraan menggunakan kamera video digital
Operator yang digunakan adalah pengurangan
Dengan operasi pengurangan ini :
- bagian yang tidak bergerak akan menghasilkan nilai = 0
- bagian yang bergerak menghasilkan nilai 0
C(x,y) = A(x,y) B(x,y)
Dengan mengevaluasi nilai selisih tersebut, dapat diketahui
apakah pada citra terdapat objek yang bergerak
Bisa juga digunakan rumus pada operasi blending dengan
memberi bobot
wa = 1 dan wb = 1

Cont Deteksi Gerakan

citra hasil mendeteksi gerakan :


objek paku hitam menunjukkan posisi
objek
mengalami perpindahan
objek paku putih menunjukkan posisi
akhir dari objek tersebut

OPERASI LOGIKA
Beberapa

operasi logika dapat diterapkan pada


2 atau lebih citra, yaitu :
C(x,y) = A(x,y) AND B(x,y)
C(x,y) = A(x,y) OR B(x,y)
C(x,y) = A(x,y) XOR B(x,y)
C(x,y) = A(x,y) SUB B(x,y)
C(x,y) = NOT A(x,y)
Operasi SUB mirip dengan operasi
pengurangan, tetapi jika hasilnya negatif
maka hasilnya diganti dengan 0
A B jika A B
A SUB B =
0 jika A < B

AND OR
XOR

00
01

0
0

0
1

0
1

10
11

0
1

1
1

1
0

Cont Operasi Logika

OPERASI GLOBAL
Proses yang dilakukan bergantung pada
karakteristik global dari citra yang hendak
dimodifikasi
Karakteristik tersebut biasanya berupa sifat
statistik dari citra itu sendiri yang
direpresentasikan dengan histogram tingkat
keabuan = mempertimbangkan keseluruhan
titik pada citra tersebut.
Salah satu operasi global adalah Ekualisasi
Histogram (Histogram Equalization)

EKUALISASI HISTOGRAM (Histogram


Equalization)
adalah suatu proses perataan histogram, dimana distribusi nilai derajat
keabuan pada suatu citra dibuat rata.
Proses ekualisasi histogram secara ideal :

Pada gambar diatas, histogram citra hasil yang ideal memiliki jumlah
titik yang sama untuk setiap tingkat keabuan, jadi distribusi titik
dalam citra asli harus disebarkan secara lebih merata ke seluruh
nilai keabuan.
Rumus yang digunakan untuk citra dengan skala keabuan k bit, misal
8 bit :

EKUALISASI HISTOGRAM (Histogram


Equalization)
Ci = cacah/distribusi kumulatif nilai skala keabuan ke i dari
citra asli
round = fungsi pembulatan ke bilangan terdekat, misal : 35,4
menjadi 35
Ko = nilai keabuan hasil histogram equalization
w = lebar citra
h = tinggi citra
Contoh :
Misal diketahui beberapa nilai piksel/nilai skala keabuan
sebagai berikut :
243136431032
Maka histogram dari data diatas adalah :

CONTOH EKUALISASI HISTOGRAM (Histogram


Equalization)

CONTOH EKUALISASI HISTOGRAM


(Histogram Equalization)

CONTOH EKUALISASI HISTOGRAM


(Histogram Equalization)

CONTOH EKUALISASI HISTOGRAM


(Histogram Equalization)