Makalah Akhir Mata Kuliah Hukum Internasional

Analisa Kritis terhadap Protokol Kyoto : Tantangan dan Solusinya

Disusun oleh : Dian Novikrisna (0706291224) Dyah Ayunico Ramadhani (0706291230) Erika (0706291243) Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2008

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam perkembangan masyarakat internasional dewasa ini yang telah menginjak era globalisasi dimana segala sesuatunya akan memiliki dampak yang global, terdapat berbagai isu-isu baru yang menjadi fokus dari dunia global. Setelah isu peperangan dan kekerasan yang kini mulai surut, isu-isu baru tersebut tengah mengambil perhatian dunia. Salah satu dari isu kontemporer dunia global adalah isu lingkungan. Saat ini isu lingkungan tengah menjadi isu yang marak menjadi perhatian tidak hanya masyarakat internasional tapi juga negara-negara di seluruh dunia. Berbagai upaya tingkat global pun dilakukan dalam skema perlindungan dan pelestarian lingkungan. Upaya tersebut bervariasi dari mulai usaha penanaman pohon yang lebih banyak, usaha daur ulang barang-barang yang sudah terpakai hingga perjuangan-perjuangan NGO. Salah satu upaya nyata dunia internasional dalam melestarikan lingkungan adalah melalui hukum lingkungan internasional. Persoalan lingkungan hidup setelah perang dunia kedua semakin sering masuk dalam perundingan diplomatik dan lama-kelamaan menjadi suatu bentuk yang lebih rigid yaitu hukum lingkungan tersebut. Dampak-dampak kerusakan lingkungan hidup yang kini semakin nyata bagi kehidupan manusia semakin menegaskan pentingnya pembuatan suatu norma atau aturan yang mengatur perilaku masyarakat internasional terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu hukum lingkungan internasional kini tengah mengalami perkembangan yang cukup berarti dalam proses pembuatan serta aplikasinya dalam sistem internasional. Banyak aktor semakin dilibatkan dalam pembuatan hukum lingkungan internasional seperti NGO dan masyarakat umum. Namun sayangnya, hukum lingkungan internasional tidak serta-merta bebas dari segala tantangan dalam pelaksanaan tugasnya untuk membuat kondisi lingkungan hidup global menjadi lebih baik. Itulah mengapa akhirnya makalah ini mencoba untuk menganalisis lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi oleh salah satu contoh hukum lingkungan internasional yaitu Protokol Kyoto dalam pelaksanaannya.

1.2. Perumusan Masalah Pembahasan dalam makalah ini akan menjawab pertanyaan sebagai berikut:

2

 Tantangan

yang dihadapi

Protokol

Kyoto

sebagai

hukum

lingkungan

internasional?  Solusi yang memungkinkan hukum internasional khususnya Protokol Kyoto untuk menghadapi tantangan tersebut?

1.3. Kerangka Konsep 1.3.1.Konsep Lingkungan Hidup Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 menyatakan bahwa definisi lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. 1 Menurut Andreas Pramudianto, lingkungan hidup memiliki definisi yang luas karena bahasan lingkungan hidup tidak hanya dibatasi pada satwa atau tanaman saja akan tetapi juga segala sesuatu yang menyangkut benda hidup (biotik) dan benda mati (abiotik). Sedangkan the Environment Protection Act di tahun 1990 mendefinisikan lingkungan sebagai segala sesuatunya ataupun salah satu dari media ada yaitu udara, air, dan tanah.2 Lingkungan hidup menjadi unsur yang penting dalam kehidupan manusia karena dari sanalah manusia mampu mendapatkan sumber daya untuk hidup dan bertahan.

1.3.2.Konsep Hukum Lingkungan Internasional Tidaklah mudah untuk memberikan definisi yang pasti terhadap hukum lingkungan internasional karena bersumber pada banyak hal yang sangat bervariasi. Bentuknya tidak selalu seperti peraturan ataupun pasal melainkan dapat bersumber pula dari guideance notes, dokumen kebijakan resmi, circulars, code of practices, bahkan pidato dari politisi.3 Hukum internasional lingkungan dapat didefinisikan sekumpulan hukum yang terdiri dari pasal-pasal yang kompleks dan saling mendukung, hukum kebiasaan, perjanjian, konvensi, peraturan, dan kebijakan yang bertujuan untuk melindungi lingkungan hidup yang dapat dirusak dan dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia. 4 Hukum lingkungan internasional dinilai penting kehadirannya karena hukum ini merupakan jawaban bagi masyarakat internasional
1

Andreas Pramudianto,S.H.,M.Si, Diplomasi Lingkungan: Teori dan Fakta, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2008), hal. 18. 2 Stuart Bell & Donald McGillivray, Environmental Law 5th Edition, (London: Blackstone Press Limited, 2000), hal.4. 3 Ibid, hal 5. 4 World Wide Legal Directories, Environmental Law, http://www.hg.org/environ.html diakses tanggal 17 Desember 2008 pukul 19.10 .

3

untuk mengatasi masalah lingkungan yang kian hari kian memburuk. Di situlah hukum internasional hadir untuk memperbaiki berbagai pelanggaran yang merusak lingkungan.

4

BAB II DESKRIPSI KASUS

2.1.

Latar Belakang Protokol Kyoto Pada bulan Juni 1992, sekitar 120 negara-negara di dunia berkumpul di Rio de

Janeiro, Brazil, untuk membicarakan masalah lingkungan global yang semakin parah karena perkembangan industri yang semakin pesat, terutama di negara-negara maju. Pertemuan ini dinamakan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau yang lebih dikenal dengan nama Earth Summit. Namun, pada akhirnya perjanjian yang disepakati dalam Earth Summit ini gagal dilaksanakan oleh beberapa negara yang menandatanganinya. Akhirnya, untuk membuat para pelanggar ini patuh pada perjanjian yang telah disepakati, maka pada bulan Desember 1997, PBB kembali mengadakan suatu konferensi yang dinamakan sebagai United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Kyoto, Jepang. Konferensi ini dihadiri oleh 150 perwakilan negara-negara di dunia untuk menciptakan suatu ukuran kadar emisi minimum yang harus dimiliki, sehingga negara-negara maju mau menurunkan kadar emisi gas karbonnya pada level yang telah ditetapkan.5 Hasil dari konferensi inilah yang menghasilkan suatu perjanjian yang dinamakan dengan Protokol Kyoto. Protokol Kyoto secara khusus berusaha untuk mencapai ―stabilisasi dari konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada level yang akan mencegah pengaruh antropogenik berbahaya dalam sistem iklim.‖6 Protokol Kyoto membuat ikatan hukum yang kuat terhadap komitmen yang telah disepakati oleh negara-negara yang menandatanganinya. Protokol Kyoto pada dasarnya berkomitmen pada pengurangan sejumlah emisi gas-gas rumah kaca seperti karbondioksida, metana, nitrooksida, dan sulfur heksafluorida, dan dua kelompok gas lainnya, yaitu hidrofluorokarbon, dan perfluorokarbon yang dihasilkan oleh negara-negara Annex I (negara-negara industri maju). Dalam Protokol Kyoto disepakati bahwa negara-negara yang telah meratifikasi perjanjian tersebut memiliki standar tertentu dalam hal jumlah emisi gas rumah kaca. Untuk negara-negara Annex I, mereka harus mengurangi lebih banyak jumlah emisi daripada
5 6

Nancy K. Kubasek. Environmental Law, (New Jersey: Pearson Prentice Hall, 2005), hal. 32. ― ‖. The United Nations Framework Convention on Climate Change, Article 2, diakses dari www.unfccc.com pada tanggal 17 Desember 2005 pukul 15.25 WIB

5

negara-negara Annex II atau Annex III. Target pengurangan emisi gas rumah kaca di seluruh dunia ialah 5,2 persen disamakan dengan tahun 1990. batas reduksi masing-masing negara berbeda-beda tergantung dari tingkat emisi yang mereka keluarkan. Misalnya Uni Eropa harus mereduksi 8 persen dari total emisi yang dikeluarkannya, 7 persen untuk Amerika, serta 6 persen untuk Jepang. Protokol Kyoto ditandatangani pada tanggal 11 Desember 1997 dan mulai diterapkan pada tanggal 16 Februari 2005 . Sampai tahun 2008 ini, ada 183 negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto. Ini bearti bahwa negara-negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto tersebut harus mengikuti segala aturan yang tertulis dalam Protokol dan bersedia menerima sanksi jika melanggar.

2.2.

Mekanisme Protokol Kyoto Protokol Kyoto memiliki beberapa yang dikenal sebagai ―mekanisme fleksibel‖

(flexible mechanisms). Adapun ketiga mekanisme tersebut antara lain:  Emissions Trading (Perdagangan Emisi) Emissioins Trading, atau yang lebih dikenal dengan istilah Carbon Trading, merupakan mekanisme yang disetujui oleh negara-negara Annex II dalam Protokol Kyoto yang bertujuan untuk mengurangi emisi. Mekanisme ini terdapat dalam pasal 17 Protokol Kyoto. Dalam Carbon Trading ini, negara-negara yang memiliki kelebihan kuota emisi, dapat ―berbagi‖ dengan negara-negara maju yang telah kehabisan jatah emisi karbon. Negara-negara maju dapat membeli emisi karbon yang tersisa dari negara-negara berkembang sehingga mereka tetap dapat melanjutkan produksi tanpa terkena sanksi dari Komite Kepatuhan Protokol Kyoto. Emissions Trading ini memang lebih dikenal sebagai Carbon Trading karena karbon merupakan gas rumah kaca paling berbahaya dari gas-gas lainnya dan paling banyak penyebarannya. Bahkan sampai ada yang dinamakan sebagai ―pasar karbon‖, dimana jumlah emisi gas dapat diperjualbelikan antar negara.  Clean Development Mechanism (CDM) CDM dapat ditemukan dalam pasal 12 dari Protokol Kyoto. CDM mengizinkan negaranegara yang sudah mencapai ambang batas jumlah emisi (negara-negara Annex II) untuk membantu negara-negara berkembang dalam proyek pengurangan emisi mereka. Proyek tersebut dapat menghasilkan angka Certified Emission Reduction (CER), dimana kesetaraannya sama dengan satu ton CO2 yang dapat diukur dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya.

6

Mekanisme ini dilihat sebagai terobosan baru dalam investasi lingkungan global dan angka kredit dapat dinilai sebagai alat ganti rugi. Aktivitas-aktivitas dari CDM meliputi, misalnya, penggunaan energi surya sebagai bahan bakar atau instalasi listrik yang lebih efisien. Mekanisme ini dimulai pada tahun 2006 dengan lebih dari 1000 proyek yang telah didaftarkan dan dapat menghasilkan CER sebanyak lebih dari 2,7 milyar ton (setara dengan CO2) yang didedikasikan pada periode awal Protokol Kyoto 2008 – 2012.  Joint Implementation Mekanisme ini dapat ditemukan dalam Artikel 6 Protokol Kyoto. Dalam mekanisme ini, Protokol mengizinkan negara-negara dengan reduksi emisi atau komitmen pembatasan di bawah Protokol Kyoto (negara-negara Annex II) untuk menghasilkan unit reduksi emisi (Emission Reduction Units = ERUs) dari sebuah proyek reduksi emisi dari negara-negara Annex II, setiap ERU setara dengan satu ton CO2, yang diukur dalam pertemuanpertemuan selanjutnya. Joint implementation menawarkan kepada negara-negara sebuah cara yang fleksibel dan lebih efisien dalam memenuhi semua target dalam Protokol Kyoto. Mekanisme ini dimulai sejak tahun 2000 namun ERU hanya baru dapat dikeluarkan setelah awal 2008. Ketiga mekanisme di atas dimaksudkan untuk memudahkan negara-negara dalam mematuhi pasal-pasal perjanjian Protokol Kyoto. Dengan demikian, emisi gas rumah kaca dapat dikurangi sehingga lingkungan dapat diselamatkan dengan segera. Memang, ketiga mekanisme di atas akan sangat banyak menguntugkan negara-negara maju. Namun, dengan adanya mekanisme tersebutlah maka negara-negara maju tidak akan merasa terlalu dirugikan. Sampai saat ini, Amerika Serikat, penyumbang terbesar untuk emisi gas rumah kaca, belum mau meratifikasi Protokol Kyoto karena dianggap masih merugikan perekonomian dan perindustrian Amerika Serikat. Oleh karena itu, pelaksanaan Protokol Kyoto ini masih akan menghadapi tantangan yang berat karena negara paling besar dan paling berpengaruh terhadap perusakan lingkungan belum mau berkomitmen terhadap perjanjian tersebut.

7

BAB III ANALISA KASUS

3.1. Tantangan Menyikapi Penolakan Amerika Serikat dan Negara Maju Lain dalam Ratifikasi Kyoto Protocol 3.1.1. Penolakan Amerika Serikat untuk Meratifikasi Protokol Kyoto Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Protokol Kyoto sebagai hukum lingkungan internasional adalah menyikapi ketidakbersediaan berbagai negara besar untuk bergabung dan meratifikasi Protokol Kyoto. Hingga kini, Salah satu negara besar yang paling signifikan pengaruhnya untuk mewujudkan misi Protokol Kyoto dengan mengurangi emisi dunia adalah Amerika Serikat. Amerika Serikat, selaku penyumbang emisi terbesar dunia7, hingga kini belum meratifikasi Protokol Kyoto. Inilah yang merupakan tantangan terbesar dari Protokol Kyoto, membuat negara penyumbang emisi terbesar dunia seperti Amerika Serikat bersedia meratifikasi Protokol Kyoto dan dengan itu mengurangi tingkat polusinya. Sebenarnya, apa alasan Amerika Serikat hingga kini belum meratifikasi Protokol Kyoto tersebut? Salah satu alasan utamanya adalah alasan ekonomi. Bush mengatakan, Kyoto Protokol hanya akan membahayakan kondisi perekonomian dan kondisi perburuhan mereka8. Pemaksaan pengurangan emisi akan menyebabkan produktivitas industri Amerika Serikat menurun, karena emisi merupakan produk sampingan dari hasil produksi industri-industri. Dan pengurangan emisi berarti sama dengan mengurangi kegiatan produksi itu sendiri. Pengurangan kegiatan produksi tentu akan berdampak buruk pada perekonomian mereka, apalagi Protokol Kyoto mewajibkan Amerika Serikat mengurangi sampai 30%-an dari emisinya, jumlah yang sangat besar yang tentu akan mempengaruhi perekonomian Amerika Serikat. Menurunnya kegiatan perekonomian pada akhirnya akan berdampak pada penurunan kehidupan buruh, yang upahnya berasal dari persentase hasil produksi suatu pabrik. Penurunan hasil produksi yang diakibatkan penurunan emisi pabrik kemudian akan berdampak pada penurunan upah buruh, yang lantas berdampak pada buruknya standar kehidupan rakyat Amerika secara keseluruhan. Sehingga dapat disimpulkan alasan pertama Amerika Serikat tidak mau meratifikasi Protokol Kyoto adalah karena Protokol Kyoto dinilai akan menghancurkan kehidupan ekonomi dan kehidupan sosial rakyat Amerika Serikat.
7

8

Steve Corner. Scientists Condemn US as Emissions of Greenhouse Gases Hit Record Level. http://www.independent.co.uk/news/science/scientists-condemn-us-as-emissions-of-greenhouse-gases-hitrecord-level-474742.html, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 22.01. Cabel News Network. Bush Firm Over Kyoto Stance. http://edition.cnn.com/2001/US/03/ 29/schroeder.bush/index.html, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 22.11.

8

Alasan kedua Amerika Serikat dan beberapa negara maju lain tidak mau meratifikasi Protokol Kyoto adalah karena Protokol Kyoto tidak mewajibkan negara berkembang untuk mengurangi emisi, seperti yang diwajibkan Protokol Kyoto pada negara maju. Beberapa negara maju merasa hal itu tidak adil, karena menurut mereka negara berkembang merupakan penyumbang emisi yang cukup besar di dunia. Protokol Kyoto dinilai seakan menutup mata pada emisi dari negara berkembang—termasuk di dalamnya Cina, Rusia, India, dan Brazil—dan cenderung menyalahkan negara maju atas semua kadar emisi dunia. Penegasian terhadap emisi negara berkembang pada akhirnya akan membuat usaha negara maju mengurangi emisi mereka pada akhirnya tidak berguna, karena diperkirakan negara berkembang akan menghasilkan tingkat emisi lebih tinggi dibanding negara-negara industri yang dikenai kewajiban mengurangi emisinya pada 2020 9. Selain itu, jumlah penduduk yang besar dari negara berkembang juga seharusnya mampu mengurangi emisi karbon dunia. Protokol Kyoto juga, menurut Amerika Serikat, memiliki banyak kelemahan dari segi struktur dan substansi. Salah satunya adalah Protokol Kyoto dinilai salah dalam menentukan sasaran yang hanya berfokus pada pengurangan emisi CO2, padahal banyak gas rumah kaca lain yang perlu mendapat perhatian; Protokol Kyoto dinilai cacat tujuan (misobjective) dan Amerika Serikat menyebut Protokol Kyoto sebagai perjanjian yang cacat (flawed agreement) dan karenanya menolak meratifikasinya. Amerika Serikat juga menegasi fakta-fakta yang ditawarkan ilmuwan dan para pemerhati lingkungan bahwa pengurangan emisi akan menyumbangkan usaha signifikan dalam mengatasi kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim. Menurut Amerika Serikat, usaha pengurangan emisi tidak akan memberikan dampak signifikan pada kerusakan akibat perubahan iklim, malah upaya pengurangan emisi ini akan mendatangkan akibat baru, misalnya akibat ekonomi dan sosial yang telah disebutkan sebelumnya. Alasan keempat Amerika Serikat tidak mau meratifikasi Protokol Kyoto adalah karena Protokol Kyoto mempunyai unsur memaksa, Amerika Serikat dipaksa untuk mengurangi kadar emisinya, padahal di satu sisi Amerika Serikat merasa tidak mendapat insentif apa-apa yang dapat menariknya untuk ikut meratifikasi Protokol Kyoto. Unsur pemaksaan di sini merupakan salah satu alasan utama, karena jika mau dibandingkan dengan Protokol Montreal dan kerjasama AP6—dua perjanjian yang sudah diratifikasi Amerika Serikat, padahal keduanya sama-sama bertujuan mengurangi tingkat emisi dunia seperti
9

Charlie E. Coon. Why Presiden Bush is Right to Abandon the Kyoto Protocol. http://www.heritage.org/ Research/EnergyandEnvironment/BG1437.cfm, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 09.11

9

Protokol Kyoto—Protokol Kyoto memiliki unsur pemaksaan di dalamnya, dan ini yang tidak disukai Amerika Serikat. Amerika Serikat ingin agar dirinya diberi kebebasan untuk melakukan caranya sendiri dalam melindungi lingkungan hidup.

3.1.2. Analisa terhadap Penolakan AS dan Negara Maju dalam Ratifikasi Kyoto Protokol Penulis menilai berbagai alasan yang membuat AS dan negara maju menolak peratifikasian Protokol Kyoto tidak valid dan kurang kuat dalam menjelaskan

ketidakbersediaan mereka meratifikasi Protokol Kyoto, karena menurut penulis, semua alasan yang dikemukakan di atas bukanlah alasan sebenarnya. Alasan pertama, saat AS mengatakan peratifikasian Protokol Kyoto akan berdampak buruk pada kehidupan ekonomi dan sosial rakyatnya, penulis menilai hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan meningkatkan usahausaha lain yang tidak menggunakan bahan bakar yang menghasilkan emisi. Amerika Serikat bisa mengantisipasi akibat dari pengurangan emisi itu dengan dua cara. Cara pertama adalah, melakukan berbagai riset teknologi yang memungkinkan industri-industri untuk

menggunakan berbagai bahan bakar yang memang tidak menghasilkan emisi sebanyak bahan bakar yang kini biasa digunakan, misalnya dengan menggunakan bahan bakar biofuel yang akan menghasilkan emisi CO2 yang lebih sedikit dibanding bahan bakar minyak. Cara kedua adalah, AS dapat mengantisipasi pengurangan produktivitas yang lantas berdampak pada menurunnya upah buruh dengan lebih mengembangkan industri kecil dan menengah yang tidak menggunakan mesin-mesin pabrik dan lebih menggunakan keterampilan tangan, sehingga tidak menghasilkan emisi yang berbahaya. Alasan kedua yang menyebabkan Amerika Serikat menolak peratifikasian Protokol Kyoto adalah karena Protokol Kyoto tidak memberi kewajiban bagi negara berkembang untuk mengurangi emisi. Penulis menilai, alasan ini tidak masuk akal karena memang negara berkembang merupakan negara yang perekonomiannya tidak tergantung pada industri dan karenanya negara berkembang memang tidak menghasilkan polutan sebanyak yang dihasilkan negara maju, terutama Amerika Serikat yang kehidupan perekonomiannya memang berfokus pada perindustrian. Sehingga penulis menilai, di sini memang negara berkembang tidak mempunyai kewajiban untuk mengurangi emisi karena memang emisi yang dihasilkan negara berkembang berjumlah sedikit—bahkan bila semua emisi negara berkembang digabung. Alasan ketiga yang penulis lihat paling tidak rasional adalah anggapan bahwa Protokol Kyoto merupakan produk perjanjian yang cacat (flawed agreement) dan bahwa Protokol Kyoto cacat secara tujuan (misobjective) karena dinilai hanya berkonsentrasi pada 10

pengurangan gas CO2 tanpa peduli pada gas rumah kaca lain. Berdasarkan data bahwa 60% dari gas rumah kaca terdiri dari CO210, dapat disimpulkan CO2 merupakan gas rumah kaca utama yang turut menyumbang pada terjadinya pemanasan global, dan karena CO2 memang merupakan gas utama terbanyak penyusun gas rumah kaca, tepatlah kiranya agar usaha pengurangan emisi lebih diarahkan pada upaya pengurangan CO2. Dan lagi, penegasian Amerika Serikat bahwa pengurangan emisi akan tidak memberikan dampak signifikan bagi perbaikan lingkungan akibat perubahan iklim tidaklah benar karena berbagai ilmuwan sudah membuktikan dengan berbagai riset bahwa emisi CO2 yang meningkat jelas memperparah kondisi pemanasan global dunia. Unsur pemaksaan yang disebutkan Amerika Serikat dalam alasan terakhir juga, penulis rasa, hanya merupakan dalih semata karena terbukti, tanpa adanya pemaksaan, Amerika Serikat terbukti tidak melakukan kewajibannya mengurangi tingkat emisi (berdasarkan Protokol Montreal dan AP6 yang disetujuinya). Di sini penulis melihat unsur pemaksaan dalam Protokol Kyoto memanglah unsur yang penting dan harus ada untuk menjamin terlaksananya visi-misi Protokol Kyoto, untuk mengikat anggota yang meratifikasinya.

3.1.3. Solusi terhadap Penolakan Amerika Serikat untuk Meratifikasi Protokol Kyoto Dari semua alasan yang dikemukakan Amerika Serikat, penulis memandang semua alasan tersebut sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat agar mendapat excuse untuk tidak meratifikasi Protokol Kyoto, yang memang akan merugikan Amerika Serikat terutama dari segi ekonomi. Padahal kerugian yang diterima Amerika Serikat dari segi ekonomi itu, penulis rasa, memang kerugian yang menjadi tanggung jawab Amerika Serikat karena telah merusak alam dengan emisi yang dihasilkan dari kegiatan industrinya. Alih-alih bertanggung jawab atas kerusakan alam yang ditimbulkannya, Amerika Serikat malah sibuk membuat alasanalasan untuk membenarkan penolakannya pada Protokol Kyoto. Di sini penulis melihat, Protokol Kyoto sebagai hukum lingkungan internasional dapat melakukan dua macam tindakan untuk mengatasi penolakan Amerika Serikat untuk meratifikasi Protokol Kyoto tersebut. Cara pertama dilakukan dengan memberikan tekanan pada Amerika Serikat dan negara-negara yang belum meratifikasinya. Tekanan tersebut dilakukan dengan

memanfaatkan negara-negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto dan masyarakat internasional untuk bersikap tidak simpatik dan cenderung menekan Amerika Serikat untuk
10

BBC Weather Centre. Climate Change—Carbon Dioxide. http://www.bbc.co.uk/climate/evidence/ carbon_dioxide.shtml, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 19.42.

11

meratifikasi Protokol Kyoto. Namun harus diperhatikan tekanan tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat internasional, bukan hanya oleh satu-dua negara, agar efeknya lebih terasa bagi Amerika Serikat. Solusi kedua yang dapat dilakukan Protokol Kyoto adalah berusaha melobi Amerika Serikat dan menjelaskan kerugian dalam bentuk ekonomi dan sosial yang akan diterima Amerika Serikat di masa mendatang akan jauh lebih besar dibanding kerugian ekonomi yang diterima Amerika Serikat dari peratifikasian Protokol Kyoto sekarang. Usaha melobi ini dilakukan juga dengan bantuan negara-negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto. Dalam melobi, juga perlu ditunjukkan bukti-bukti nyata agar pemerintah Amerika Serikat percaya dan yakin bahwa peratifikasian Protokol Kyoto adalah hal yang perlu dilakukan demi kebaikan dunia internasional bersama.

3.2. Tantangan Dari Substansial Protokol Kyoto 3.2.1. Analisa Tantangan Substansial Protokol Kyoto Dalam kerangka Protokol Kyoto terdapat tiga mekanisme inovatif yaitu joint implementation, the clean development mechanism, dan emissions trading. Ketiga mekanisme tersebut dibuat dengan tujuan membantu negara-negara yang termasuk dalam Annex I untuk mengurangi biaya reduksi emisi sesuai target yang telah ditetapkan. Protokol Kyoto secara umum merupakan sistem 'cap and trade' yang memberikan kuota emisi nasional bagi negara-negara sesuai dengan kelompok tempat ia berada yaitu Annex I atau Non-Annex I. Pada ketiga mekanisme di atas masing-masing negara dapat melakukan perdagangan kuota emisi nasional yang ia jalankan melalui jalan alternatif yang disediakan, sehingga logikanya hal tersebut tidak masalah selama tetap terjadi zero sum emission. Namun sayangnya dalam ketiga mekanisme tersebut terdapat beberapa kelemahan yang perlu diatasi agar mekanisme tersebut dapat mengatasi masalah lingkungan. Kelemahan pertama dari segi substansial ketiga mekanisme tersebut secara implisit memberikan justifikasi untuk dapat terus berpolusi asal mereka memiliki uang untuk membayar kelebihan karbon mereka baik itu dengan membeli cap emisi dari negara Annex I atau dengan memberikan biaya untuk program pemeliharaan lingkungan di negara lain. Inilah suatu bentuk ide yang secara filosofis salah (you can pollute as long as you can pay) dan dapat dimanfaatkan secara berlebihan oleh negara yang mengeluarkan polusi. Oleh karena itu emissions trading sangatlah populer, khususnya diantara ekonom karena trading di sini berarti negara manapun yang masih mempunyai sisa kuota emisinya dapat dapat memberikan kuotanya yang tidak terpakai tersebut (batas emisi yang diperbolehkan dikurangi dengan 12

emisinya yang sebenarnya) kepada negara yang menawarkan kompensasi finansial.11 Negara pembeli tersebut hal kemudian menggunakan kuotanya yang dibeli tersebut untuk meningkatkan kuota emisinya sendirinya. Idenya adalah untuk memperbolehkan untuk dikurangi dimanapun proses pengurangan tersebut paling ekonomis. Pada akhirnya hal ini akan memberikan insentif yang salah kepada mereka yang berpolusi dalam usaha perlindungan lingkungan dimana mereka tidak lagi merasa bahwa proses industrialisasi atau ekspliotasi lingkungan perlu dikurangi demi menjadi eksistensi lingkungan hidup. Lebih lanjut lagi mekanisme pasar seperti carbon trading dapat menjadi jalan bagi negara maju atau industri yang secara histories bertanggung jawab atas terjadinya climate change untuk menghindari tanggung jawab mereka. Dengan mengijinkan mereka dan bisnis mereka untuk membeli kredit karbon di negara berkembang, mereka dapat secara efektif mengalihkan kewajiban mereka untuk mengurangi emisi karbon. Dengan demikian mereka akan semakin mengedepankan kepentingan ekonomi daripada kepentingan lingkungan dan hal ini perlu dihindari karena sangat berbahaya. Kelemahan kedua dari mekanisme ini adalah adalah terbukanya kesempatan bagi negara-negara maju atau industri untuk mengeksploitasi negara-negara berkembang dan kuota emisi mereka. Hal ini terjadi karena dengan adanya clean development mechanism yang membiarkan negara-negara maju untuk mengalokasikan uang kompensasi emisi yang berlebih untuk pembangunan suatu program ramah lingkungan atau uang segar untuk pemerintah negara berkembang tersebut melestarikan lingkungannya sehingga tidak pada akhirnya dapat mengurangi emisi karbon dari negara tersebut. Tujuan awal dari Clean development mechanism adalah agar aktor yang tidak termasuk dalam Annex I dapat dibantu untuk mencapai sebuah sustainable development dan dalam berkontribusi terhadap tujuan utama dari konvensi, serta untuk membantu pihak yang termasuk dalam Annex I untuk mencapai ketaatan pada batas emisi mereka yang telah terkuantifikasi dan komitmen reduksi mereka.12 Namun pada kenyataannya negara maju terkadang mengeksploitasi berlebihan dari hal ini dimana mereka akhirnya memberikan uang segar pada negara berkembang untuk ―menambal‖ kuota emisi karbon mereka yang berlebih. Pemberian uang segar terhadap negara berkembang memiliki dampak nyata yang amat perlu diwaspadai. Dampak pertama adalah kemungkinan terjadinya suatu bentuk dependensi dari negara berkembang terhadap
11

Thomas C. Schelling, What Makes Greenhouse Sense? Time to Rethink the Kyoto Protocol, http://www.jstor.org/stable/20033158, diakses pada tanggal 17 Desember 2008 pukul 02.32. 12 Eric C. Bettelheim and Gilonne d'Origny, Carbon Sinks and Emissions Trading under the Kyoto Protocol: A Legal Analysis, http://www.jstor.org/stable/3066594 diakses 17 Desember 2008 pukul 02.15.

13

aliran dana segar ataupun bantuan pelestarian lingkungan sehingga akan menghilangkan insentif bagi negara berkembang untuk melakukan kebijakan yang membuat negaranya menjadi lebih ramah lingkungan. Negara berkembang, karena pada awalnya saja emisi karbonnya tidak melebihi kuota, kurang memiliki insentif untuk membuat produksi barangnya dan kebijakannya menjadi ramah lingkungan. Dengan adanya bantuan yang seperti ini, besar kemungkinannya negara berkembang menjadi lebih tergantung pada upaya yang diberikan oleh negara maju terhadap teknologi yang ramah lingkungan ataupun upaya lainnya. Di sisi lain terdapat pula dampak lain yaitu dengan mekanisme seperti ini yaitu negara berkembang menjadi sulit untuk tumbuh dan menuju industrialisasi. Hal ini diakibatkan jatah kuota emisi yang ia miliki malah dipergunakan oleh negara maju untuk terus memproduksi barang sedangkan di saat negara berkembang sendiri ingin mengembangkan industrinya yang secara jelas pasti menambah emisi karbonnya jatahnya tersebut telah menipis atau bahkan habis termakan negara maju. Hal ini memberi kesempatan bagi tertutupnya kesempatan bagi negara berkembang untuk menjadi maju dan menjadi lebih senang langsung menerima bantuan dari negara berkembang saja. Dengan begitu pertumbuhan dan perkembangan negara berkembang mungkin dapat terhalang dan gap atau jurang pemisah antara negara maju dan berkembang dapat menjadi lebih besar. Kelemahan-kelemahan yang tertulis di atas merupakan tantangan sendiri yang harus dihadapi oleh Protokol Kyoto. Diperlukan suatu dorongan yang kuat untuk kemudian menutupi loopholes yang mampu disalahgunakan oleh aktor-aktor yang kurang bertanggung jawab. Sebagai hukum lingkungan internasional, protokol kyoto memang membawa suatu kemajuan tersendiri dengan memberikan target nyata berikut mekanisme yang dapat membantu untuk mencapai target penurunan emisi tersebut tapi perlu juga dipikirkan lebih lanjut cara untuk menghadapi tantangan ini agar upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh.

3.2.2. Solusi terhadap Tantangan Substansial Protokol Kyoto Tantangan yang berasal dari isi substansial dari Protokol Kyoto menuntut adanya suatu revisi dari cara kerja atau pelaksanaan yang lebih ketat dari sistem yang ada. Oleh karena itu penulis mengajukan beberapa alternatif solusi dari tantangan yang ada. Pertama dari tantangan di atas terlihat bahwa perlu diberikan suatu bentuk legal punishment yang lebih terhadap mereka yang telah melewati batas emisi karbon mereka. Hal ini diperlukan agar hukum lingkungan internasional dapat memiliki suatu kekuatan hukum yang lebih besar dan menunjukan kekuatannya untuk secara legal mengikat para negara yang telah menyutujui 14

dan meratifikasinya. Hukum lingkungan internasional dalam bentuk kyoto protokol perlu memberikan suatu penekanan yang lebih terhadap perlunya pelestarian dan perlindungan lingkungan dan penekanan tersebut akan lebih terasa jika diberikan suatu disinsentif yang lebih untuk berpolusi. Kedua, berkaitan dengan pemberian penekanan yang lebih bagi pentingnya pelestarian lingkungan, insentif yang lebih bagi negara-negara untuk menurunkan emisi karbonnya dapat berhasil jika mekanisme ―cap and trade‖ diubah. Opsi perubahannya adalah bahwa setiap negara diharuskan untuk membayarkan kompensasi sesuai dengan jumlah besar emisinya. Jadi besar pajak atau kompensasi yang dibayarkan berbanding lurus dengan polusi yang dikeluarkan oleh negara tersebut sehingga terdapat suatu standar jumlah emisi terhadap sejumlah nilai uang. Dengan demikian terdapat suatu beban ekonomi yang jelas ukurannya terhadap seluruh negara sehingga sistemnya akan menjadi lebih adil seperti halnya sistem pajak progresif di dalam suatu negara. Negara-negara maju yang berpolusi besar akan mempunyai beban ekonomi yang lebih besar sedangkan negara-negara kecil dan berkembang seperti beberapa negara di Afrika juga mempunyai beban ekonomi yang lebih kecil dan proporsional. Dengan begitu hukum lingkungan internasional dapat menjalankan salah satu unsur hukum yaitu keadilan dalam proses dan mekanismenya. Solusi ketiga adalah jika sistem cap and trade akan terus dilaksanakan maka perlu diberikan suatu batasan perdagangan emisi. Hal ini bertujuan untuk dapat memastikan bahwa setiap negara benar-benar melaksanakan pengurangan emisi di dalam negaranya sendiri. Di sisi lain batasan ini juga dapat menjaga agar negara berkembang juga dapat memanfaatkan jatah emisinya untuk berkembang menuju negara industri. Konsep zero sum yang menjadi dasar pemikiran sebelumnya sebaiknya tidak perlu dipromosikan lebih lanjut karena mereka mendorong ide bahwa industri tetap dapat memproduksi barang secara besar-besaran di saat mereka ingin menjaga lingkungan. Padahal selama proses produksi mereka tidak ramah lingkungan, proses industri pasti akan bertolakbelakang dengan proses pelestarian lingkungan. Dengan adanya batasan ini target-target emisi karbon tersebut dapat lebih mudah tercapai karena terdapat pembatasan pengeksploitasian jatah kuota emisi dari negara lain. Hukum lingkungan internasional sebaiknya lebih fokus pada upaya untuk melindungi lingkungan daripada memuaskan para pembisnis yang masih menginginkan adanya ruang gerak yang luas bagi mereka untuk terus berpolusi. Satu-satunya cara bagi hal tersebut adalah menegaskan lagi perannya dengan menegaskan pula nilai dan pelaksanaan dari hukum lingkungan itu sendiri.

15

BAB IV KESIMPULAN

Sejak awal kehadirannya, Protokol Kyoto telah mengundang banyak kontroversi dan perdebatan di kalangan dunia internasional. Ide awal dari Protokol Kyoto sebenarnya sangat baik karena bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dunia, tujuan yang akhirnya berbuntut pada usaha pemeliharaan lingkungan global sebagai respon pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi dewasa ini. Protokol Kyoto pada masa kelahirannya seakan memberi angin segar bagi perkembangan hukum lingkungan internasional. Tetapi selanjutnya, Protokol Kyoto mendapat dua tantangan besar yang lantas mempertanyakan efektifitas dari Protokol Kyoto itu sendiri. Tantangan pertama adalah ketidaksetujuan Amerika Serikat sebagai negara polutan terbesar dunia untuk meratifikasi Protokol Kyoto, sedang tantangan kedua berfokus pada substansi dari Protokol Kyoto tersebut yang disangsikan

efektifitasannya dalam mengurangi kadar emisi karbon dunia. Kedua tantangan tersebut, penulis rasa, tidak patut dijadikan sebuah halangan yang membatasi kerja Protokol Kyoto sebagai hukum lingkungan internasional melainkan selayaknya dijadikan bahan refleksi demi perkembangan hukum lingkungan internasional ke arah yang lebih baik. Kembali lagi penulis menekankan sisi dinamis dari sebuah hukum kembali berperan. Begitu juga dengan hukum lingkungan internasional. Sejak awal kelahiran hingga perkembangannya, hukum lingkungan internasional termasuk Protokol Kyoto bukanlah sesuatu yang statis dan kaku, melainkan sesuatu yang dinamis, sanggup mengikuti perkembangan jaman, sambil dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat internasional. Masyarakat internasional juga diharapkan senantiasa bersikap kritis pada hukum yang ada, karena perkembangan dari hukum itu sendiri membutuhkan aspirasi dan keikutsertaan masyarakat karena hukum internasional, termasuk di dalamnya hukum lingkungan internasional, dibentuk demi kelangsungan masyarakat internasional juga. Berbagai solusi telah penulis tawarkan untuk menjawab kedua tantangan besar bagi Protokol Kyoto tersebut. Solusi-solusi tersebut hendaknya ditindaklanjuti sebagai alternatif jalan menuju terciptanya hukum lingkungan internasional yang semakin baik. Di sini penulis menilai, Protokol Kyoto sebagai hukum lingkungan internasional sebenarnya sudah menjalankan perannya dengan baik, untuk menggalang kerja sama dan perhatian dunia internasional untuk lebih peduli pada masalah lingkungan internasional, dan lebih lanjut untuk berusaha dan bertindak langsung dalam menyikapi masalah perubahan iklim dan 16

pemanasan global tersebut dengan mengurangi kadar emisi dunia. Penulis juga melihat, adanya unsur legally binding dalam Protokol Kyoto membuat hukum lingkungan internasional semakin bergerak ke arah yang lebih baik karena untuk memberikan perlindungan lingkungan secara menyeluruh, memang diperlukan suatu enforcement—baik secara halus maupun secara tegas—pada para anggotanya. Di sisi lain, di sini penulis kembali menekankan bahwa sama seperti hukum internasional, agar Protokol Kyoto dapat terlaksana, ia memerlukan itikad baik (good will) dari para anggotanya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup di sini memainkan peran yang krusial sehingga harus dibangun sebaik mungkin demi tercapainya sustainable environment, demi kebaikan kita bersama.

17

DAFTAR PUSTAKA

Referensi dari buku : Bell, Stuart dan Donald McGillivray. 2000. Environmental Law 5th Edition. London: Blackstone Press Limited. Kubasek, Nancy K. dan Gary S. Silverman. 2005. Environmental Law. New Jersey: Pearson Prentice Hall. Pramudianto, Andreas. 2008. Diplomasi Lingkungan: Teori dan Fakta. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Referensi dari jurnal online: Bettelheim, Eric C. dan Gilonne d'Origny. Carbon Sinks and Emissions Trading under the Kyoto Protocol: A Legal Analysis, http://www.jstor.org/stable/3066594 diakses pada 17 Desember 2008, pukul 02.15. Schelling, Thomas C. What Makes Greenhouse Sense? Time to Rethink the Kyoto Protocol, http://www.jstor.org/stable/20033158, diakses pada tanggal 17 Desember 2008, pukul 02.32. Referensi dari internet : BBC Weather Centre. Climate Change—Carbon Dioxide. http://www.bbc.co.uk/climate/evidence/ carbon_dioxide.shtml, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 19.42. Cabel News Network. Bush Firm Over Kyoto Stance. http://edition.cnn.com/2001/US/03/ 29/schroeder.bush/index.html, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 22.11. Coon, Charlie E. Why Presiden Bush is Right to Abandon the Kyoto Protocol. http://www.heritage.org/ Research/EnergyandEnvironment/BG1437.cfm, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 09.11 Corner, Steve. Scientists Condemn US as Emissions of Greenhouse Gases Hit Record Level. http://www.independent.co.uk/news/science/scientists-condemn-us-as-emissions-ofgreenhouse-gases-hit-record-level-474742.html, diakses pada 17 Desember 2008, pukul 22.01. World Wide Legal Directories, Environmental Law, http://www.hg.org/environ.html, diakses pada tanggal 17 Desember 2008, pukul 19.10. ― ‖. The United Nations Framework Convention on Climate Change, Article 2, www.unfccc.com, diakses pada tanggal 17 Desember 2005, pukul 15.25.

18

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful