You are on page 1of 13

Pengendalian Hama dan Penyakit

Tanaman Kelapa Sawit


SENIN, 14 JANUARI 2013

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) saat ini merupakan salah satu jenis tanaman
perkebunan yang menduduki posisi penting disektor pertanian umumnya, dan sektor perkebunan
khususnya, hal ini disebabkan karena dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak
atau lemak, kelapa sawit yang menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektarnya di dunia
(Balai Informasi Pertanian, 1990). Melihat pentingnya tanaman kelapa sawit di masa ini dan
masa yang akan datang, seiring dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minyak
sawit, maka perlu dipikirkan usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kelapasawit
secara tepat agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai. Salah satu diantaranya adalah
pengendalian hama dan penyakit. (Balai Informasi Pertanian,1990).
Tanaman kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat menjadi andalan
dimasa depan karena berbagai kegunaannya bagi kebutuhan manusia. Kelapa sawit memiliki arti
penting bagi pembangunan nasional Indonesia. Selain menciptakan kesempatan kerja yang
mengarah pada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumberdevisa negara. Penyebaran
perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini sudah berkembang di 22 daerah propinsi. Luas
perkebunan kelapa sawit pada tahun 1968 seluas 105.808 hadengan produksi 167.669 ton, pada
tahun 2007 telah meningkat menjadi 6.6 juta ha dengan produksi sekitar 17.3 juta ton CPO
(Ditjenbun, 2008).
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan primadona Indonesia. Di tengah
krisis global yang melanda dunia saat ini, industri sawit tetap bertahan dan memberi sumbangan
besar terhadap perekonomian negara. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas,
industri sawit menjadi salah satu sumber devisa terbesar bagi Indonesia. Data dari Direktorat
Jendral Perkebunan (2008) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas areal perkebunan
kelapa sawit di Indonesia, dari 4 713 435 ha pada tahun 2001 menjadi 7.363.847 ha pada tahun
2008 dan luas areal perkebunan kelapa sawit ini terus mengalami peningkatan. Peningkatan luas
areal tersebut juga diimbangi dengan peningkatan produktifitas. Produktivitas kelapa
sawit adalah 1.78 ton/ha pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 2.17 ton/ha pada tahun 2005.
Hal ini merupakan kecenderungan yang positif dan harus dipertahankan. Untuk mempertahankan

produktifitas tanaman tetap tinggi diperlukan pemeliharaan yang tepat dan salah satu unsur
pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) adalah pengendalian hama dan penyakit.
Sektor perkebunan merupakan salah satu potensi dari subsektor pertanian yang berpeluang
besar untuk meningkatkan perekonomian rakyat dalam pembangunan perekonomian Indonesia.
Pada saat ini, sektor perkebunan dapat menjadi penggerak pembangunan nasional karena dengan
adanya dukungan sumber daya yang besar, orientasi pada ekspor, dan komponen impor yang
kecil akan dapat menghasilkan devisa non migas dalam jumlah yang besar.
Produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang diterapkan.
Pemeliharaan tanaman merupakan salah satu kegiatan budidaya yang sangat penting dan
menentukan masa produktif tanaman. Salah satu aspek pemeliharaan tanaman yang perlu
diperhatikan dalam kegiatan budidaya kelapa sawit adalah pengendalian hama dan penyakit.
Pengendalian hama dan penyakit yang baik dapat meningkatkan produksi dan produktivitas
tanaman.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang dalam pembutan makalah ini, adapun rumusan masalah
dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1. Apa definisi Hama dan Penyakit tanaman kelapa sawit ?
2. Apa saja jenis Hama dan Penyakit pada tanaman kelapa sawit ?
3. Apa kerugian akibat serangan Hama dan Penyakit pada tanaman kelapa sawit ?
4. Bagaimana cara penanggulangan Hama dan Penyakit tanaman kelapa sawit ?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Pembaca mengetahui definisi Hama dan Penyakit tanaman kelapa sawit.
2. Pembaca mengetahui apa saja jenis Hama dan Penyakit pada tanaman kelapa sawit.
3. Pembaca mengetahui apa kerugian akibat serangan Hama dan Penyakit pada tanaman kelapa
sawit.
4. Pembaca mengetahui bagaimana cara penanggulangan Hama dan Penyakit tanaman kelapa
sawit.

1.4 Dasar Pandangan


Tanaman Kelapa sawit adalah tanaman berakar serabut yang terdiri atas akar primer,
skunder, tertier dan kuartier. Akar-akar primer pada umumnya tumbuh ke bawah, sedangkan
akar skunder, tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah.Akar kuartier
berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Akar-akar kelapa sawit banyak
berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman sekitar 1 meter dan semakin ke bawah
semakin sedikit (Risza, 2008).
Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Pada pertumbuhan awal setelah fase muda
(seedling) terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh
batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun. Di batang terdapat pangkal pelepahpelepah daun yang melekat kukuh (Sunarko, 2008).

Daun kelapa sawit dibentuk di dekat titik tumbuh. Setiap bulan, biasanya akan tumbuh dua
lembar daun. Pertumbuhan awal daun berikutnya akan membentuk sudut 1350. Daun pupus
yang tumbuh keluar masih melekat dengan daun lainnya. Arah pertumbuhan daun pupus tegak
lurus ke atas dan berwarna kuning. Anak daun (leaf let) pada daun normal berjumlah 80-120
lembar (Sastrosayono, 2005).
Tanaman kelapa sawit berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga
jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina
agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan bersilang (cross
pollination), artinya bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon
yang lainnya dengan perantaan angin dan atau serangga penyerbuk (Sunarko, 2008). Tandan
buah tumbuh di ketiak daun.
Semakin tua umur kelapa sawit, pertumbuhan daunnya semakin sedikit, sehingga buah terbentuk semakin menurun,
hal ini disebabkan semakin tua umur tanaman, ukuran buah kelapa sawit akan semakin besar. Kadar minyak yang
dihasilkannya pun akan semakin tinggi. Berat tandan buah kelapa sawit bervariasi, dari beberapa ons hingga 30 kg
(Sastrosayono, 2005).

Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah antara
120 Lintang Utara 120 Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang dikehendaki antara 2.0002.500 mm per tahun dengan pembagian yang merata sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari
yang optimum antara 5-7 jam per hari dan suhu optimum berkisar 240-380C. Ketinggian di atas
permukaan laut yang optimum berkisar 0-500 meter (Risza, 2008).
Di daerah-daerah yang musim kemaraunya tegas dan panjang, pertumbuhan vegetatif kelapa
sawit dapat terhambat, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada produksi buah. Suhu
berpengaruh pada produksi melalui pengaruhnya terhadap laju reaksi biokimia dan metabolisme
dalam tubuh tanaman. Sampai batas tertentu, suhu yang lebih tinggi menyebabkan meningkatnya
produksi buah. Suhu 200C disebut sebagai batas minimum bagi pertumbuhan vegetatif dan
suhu rata-rata tahunan sebesar 22-230C diperlukan untuk berlangsungnya produksi
buah (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).
Kelapa sawit dapat tumbuh baik pada sejumlah besar jenis tanah di wilayah tropika.
Persyaratan mengenai jenis tanah tidak terlalu spesifik seperti persyaratan faktor iklim. Hal yang

perlu ditekankan adalah pentingnya jenis tanah untuk menjamin ketersediaan air dan
ketersediaan bahan organik dalam jumlah besar yang berkaitan dengan jaminan ketersediaan air.
Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai tanaman kelapa sawit
karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek bisa menghambat
kelancaran penyerapan unsur hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan
kekurangan unsur nitrogen (N).Karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan
kelapa sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang (Sunarko,
2008).
1.5 Metode Penulisan
Metode penulisan dalam pembutan makalah ini adalah secara kuantitatif yang artinya hanya
berdasarkan sumber-sumber yang ada. Dalam pembutan makalah ini penulis tidak langsung
melakukan percobaan ke lapangan hal ini di karekan keterbatasan waktu, sehingga penulis hanya
mengambil data-data dari sumber/buku tentang ilmu pertanian.

BAB II
ISI
2.1 Definisi Hama dan Penyakit Tanaman
A. Hama dan Penyakit Tanaman
Yang dimaksud dengan hama ialah semua binatang yang mengganggu dan merugikan
tanaman

yang

diusahakan

manusia

(Pracaya,

2003:

5).

Hama

tanaman

sering

disebut serangga hama (pest) atau dalam dunia pertanian dikenal sebagai musuh petani
(Rukmana, 2002:14). Para ahli pertanian membuat beberapa versi pengertian (definisi) hama
tanaman, diantaranya sebagai berikut:
1. Organisme jahat yang mempunyai kemampuan untuk merusak, mengganggu, atau merugikan
organisme lainnya (inang);
2. Organisme yang memusuhi (merugikan) kesejahteraan manusia;
3. Setiap spesies organisme yang dalam jumlah besar tidak kita kehendaki kehadirannya;
4. Organisme yang merugikan dari segi andangan manusia;
5. Organisme hidup yang merupakan saingan kita dalam memenuhi kebutuhan pangan dan
pakaian, ata menyerang kita secara langsung.
Berdasarkan pernyataan (pendapat) di atas, hama tanaman dalam arti luas adalah semua
organisme atau binatang yang

karena aktivitas hidupnya merusak tanaman sehingga

menimbulkan kesugian ekonimi bagi manusia.

Ada beberapa golongan hama yang biasanya menyerang tanaman budidaya yaitu:
golongan Serangga, golongan Mamalia, golongan Binatang Lunak, dan golongan Aves (Burung).
Serangga adalah binatang kecil yang memiliki kaki beruas-ruas, bernafas dengan pembuluh
nafas, tubuh, dan kepalanya berkulit keras. Contoh serangga yang sering menyerang tanaman
budidaya adalah belalang, wereng, kutu, ulat, kumbang, lalat, dan lain-lain. Mamalia adalah
mahluk hidup yang memiliki tulang belakang yang tubuhnya tertutup oleh rambut. Mamalia
adalah binatang menyusui, yang betina memiliki kelenjar mammae (air susu) yang tumbuh baik.
Binatang dari golongan mamalia yang merusak tanaman antara lain: kelelawar, tupai,
musang, tikus, kera, gajah, babi, kijang, beruang, dan lain-lain. Golongan binatang lunak yang

potensial menjadi hama tanaman adalah mollusca dan nematode. Mollusca atau siput adalah
golongan hewan bertubuh lunak dan tidak beruas. Binatang ini suka mengeluarkan lender, dan
aktif makan pada malam hari. Pada siang hari biasanya bersembungi di tempat teduh dan
lembab. Nematode adalah jenis cacing berukuran kecil dan umumnya berbentuk silindris.
Golongan nematoda ini sering ditemukan pada tempat-tempat atau habitat yang basah,
misalnya dalam air, tanah, tanaman, binatang, dan manusia. Nematode dapat hidup sebagai
parasit dalam tubuh mahluk hidup. Binatang yang termasuk ke dalam golongan aves tubuhnya
ditutupi kulit dan berbulu, mempunyai paruh, serta kakinya bersisik. Anggota bagian depan
berupa sayap yang digunakan untuk terbang. Meski demikian terdapat pula golongan aves yang
tidak dapat terbang, seperti: kasuari, kiwi, dan burung unta (Rukmana, 2002).
Seluruh ataupun sebagian tanaman yang terserang hama dapat mengalami penurunan
fungsi atau bahkan tidak berfungsi sama sekali proses metabolisme (fisiologis) pada tubuh
tanaman tersebut, sehingga pertumbuhannya tidak normal dan bahkan berakhir dengan kematian
tanaman. Beberapa contoh akibat serangan hama pada tanaman adalah sebagai berikut
(Rukmana, 2002):
1. Serangan hama pada bagian akar tanaman menyebabkan proses penyerapan unsur hara, air, dan
lain-lain terganggu.
2. Serangan hama pada bagian batang atau cabang dan rangitng menyebabkan pengangkutan
(transportasi) zat makanan terganggu atau terhenti sama sekali sehingga tanaman menjadi layu
atau mati.
3. Serangan hama pada bagian daun dapat menyebabkan proses fotosintesis terganggu (terhambat).
4. Serangan hama pada bagian buah atau biji dapat menyebabkan buah rusak ataupun
bijinya hampa.
B. Pengertian Penyakit Tanaman
Tanaman dikatakan sakit bila ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang
menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologis sehari-hari. Secara singkat penyakit tanaman
adalah penyimpangan dari keadaan normal (Pracaya, 2003: 320). Suatu tanaman dapat
dikatakan sehat atau normal jika tanaman tersebut dapat menjalankan fungsi-fungsi fisiologis

dengan baik, sepertipembelahan dan perkembangan sel, pengisapan air dan zat hara, fotosintesis
dan lain-lain. Gangguan pada proses fisiologis atau fungsi-fungsi tanaman dapat menimbulkan
penyakit.

Rahmat Rukmana dan Sugandi Saputra (2005: 11) menyatakan,


Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal, cukup jelas menimbulkan gejala yang
dapat dilihat, menurunkan kualitas atau nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama. Tanaman
sakit adalah suatu keaadaan proses hidup tanaman yang menyimpang dari keadaan normal dan menimbulkan
kerusakan. Makna kerusakan tanaman adalah setiap perubahan pada tanaman yang menyebabkan menurunya
kuantitas dan kualitas hasil.

Penyakit pada tanaman budidaya biasanya disebabkan oleh Cendawan, Bakteri, Virus dan
faktor lingkungan (iklim, tanah, dan lain-lain). Cendawan dapat juga disebut jamur. Cendawan
adalah suatu kelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena mempunyai
dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora, tetapi tidak mempunya klorofil.
Cendawan tidak mempunyai batang, daun, akar, dan sistem pembuluh seperti pada tumbuhan
tingkat tinggi.
Bakteri adalah salah satu jenis mahluk kecil (organisme) yang sebagian besar termasuk
saprofit

(numpang

hidup

di

dalam

tubuh

mahluk

lain,

tidak

merugikan

dan

menguntungkan mahluk lain tersebut). Virus adalah pathogen obligat (hanya hidup dan
berkembang biak dalam organisme hidup). Ukuran virus amat kecil (submikroskopik) dan terdiri
atas komposisi kimia, yaitu protein dan nucleic acid.
Virus bersifat parasitic dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada semua
bentuk organisme hidup. Penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan biasanya diakibatkan
oleh ketidaksesuaian kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh dengan kondisi lingkungan
yang menjadi habitat asli tanaman, sehingga tanaman tumbuh tidak sehat atau tidak normal.
Gejala penyakit akibat faktor lingkungan biasanya mirip dengan gejala penyakit akibat dari
mahluk hidup, perbedaannya adalah penyakit akibat faktor lingkungan tidak menular
(Rukmana, 2005).

Penyakit tanaman yang merupakan suatu penyimpangan atau abnormalitas tanaman amat
beragam bentuknya, misalnya keriput daun, kuning pucat, bercak-bercak coklat dan busuk.

Akibatnya, tanaman tidak mampu melakukan proses fotosintesis secara maksimal. Gangguan
tersebut menyebabkan gangguan ekonomis, berupa penurunan kuantitas dan kualitas hasil.
Semua bagian tanaman berpotensi diserang penyakit sehingga tanaman tersebut sakit.
Tangkai bunga atau buah berubah warna dari hijau menjadi kuning, bahkan diikuti dengan
terjadinya gugur bunga atau buah. Akar tanaman kubis-kubisan (Cruciferae) yang membengkak
dan berbintil-bintil mirip gada sehingga tidak mampu menghisal air dan unsure hara
merupakan pertanda diserang penyakit akar bengkak.
Setiap parasit tanaman berkembang dalam siklus kejadian-kejadian yang berurutan dengan
teratur, yakni sebagai berikut (Rukmana, 2005):
1. Parasit harus menghasilkan inokulum yang dapat menularkan penyakit ke tanaman yang sehat.
Misalnya, inokulum virus adalah virion, bakteri berupa sel-sel bakteri, cendawan dengan spora,
dan nematode dalam bentuk telur atau larva instar kedua.
2. Inokulum disebarkan ke jaringan-jaringan yang peka (rentan). Proses ini disebut inokulasi.
Agen inokulasi dapat berupa serangga (untuk virus, bakteri, mycoplasma, dan cendawan) atau air
dan angin (untuk cendawan).
3. Parasit harus masuk ke dalam tanaman melalui luka, bukaan alami (stomata, hidatoda, lentisel),
atau menginfeksi langsung pada tanaman.
4. Parasit mulai memparasit dalam tanaman inangnya. Proses ini disebut infeksi.
Siklus kejadian di atas berulang dengan cepat atau lambat, tergantung pada kelahiran (natality)
parasit. Oleh karena itu bila tidak dilakukan usaha pengendalian, akan terjadi penyebaran dan
ledakan hebat suatu penyakit (epidemi).
2.2 Jenis-jenis Hama dan Penyakit yang Menyerang Tanaman Kelapa Sawit
A. Hama yang menyerang tanaman kelapa sawit
1. Hama Tungau
Penyebab : Tungau merah ( Oligonychus )
Tungau ini berukuran 0,5 mm, hidup disepanjang tulang anak daun sambil mengisap cairan
daun sehingga warna daun berubah menjadi mengkilat berwarna bronz. Hama ini berkembang pesat
dan membahayakan dalam keadaan cuaca kering pada musim kemarau.Gangguan tungau pada
pesemaian
dapat
mengakibatkan
rusaknya
bibit.

Pengendalian : penyemprotan dengan akarisida Tetradifon (Tedion) 0,1 0,2 %. Racun ini
dapat digunakan dengan baik karena tidak membunuh musuh alaminya.
2. Hama serangga.
Penyebab: Hama ulat setora (Setora nitens)
Kupu-kupu Setora meletakkan telurnya di bawah permukaan daun dekat pada ujungnya. Ulat
Setora memakan daun dari bawah, sehingga kadang-kadang yang tersisa hanya lidinya saja.
Pengendalian : Ulat ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan racun kontak, misalnya
Hostation 25 ULV, Sevin 85 ES, Dursban 20 EC dengan konsentrasi 0,2 0,3%
3. Kumbang oryctes
Penyebab: Oryctes rhinoceros
Gejala serangan : Kumbang dewasa masuk ke dalam daerah titik tumbuh dan memakan
bagian yang lunak.bila serangan mengenai titik tumbuh, tanaman akan mati, tetapi bila makan bakal
daun hanya menyebabkan daun dewasa rusak seperti terpotong gunting.
Pengendalian : untuk mencegah berkembangnya hama ini, kebersihan di sekitar tanaman
harus dijaga baik. Sampah-sampah atau pohon yang mati dibakar agar larva hama ini mati.
Pemberantasan secara biologis dengan menggunakan cendawan Metharrizium anisopliae dan virus
Baculovirus oryctes.
4. The oil palm bunch moth
Penyebab : Ngengat Tirathaba mundella
Gejala serangan : Telur-telur Tirathaba diletakkan pada tandan buah terutama pada buah-buah
yang telah masak atau busuk. Setelah menetas, ulat atau larva melubangi buah-buah muda atau
memakan permukaan buah yang matang.
Pengendalian : Ulat Tirathaba dapat dikendalikan dengan Dipterex atau Thiodan. Caranya :
0,55 kg Dipterex atau Thiodan dilarutkan dalam air sebanyak 370 liter (dosis per hektar) dan diaduk
sampai merata, selanjutnya disemprotkan pada kelapa sawit yang terserang ulat Tirathaba tersebut.
5. Mamalia
Hama yang termasuk mamalia (binatang menyusui) adalah babi hutan dan kera. Hama ini
sangat merusak tanaman kelapa sawit. Di beberapa daerah tertentu di Sumatera, gajah sering
menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman kelapa sawit muda. Selain itu juga tikus
(rodentia) merupakan hama yang merusak (memakan) buah kelapa sawit yang sudah tua.
Pengendalianya : dengan cara biologi yaitu dengan cara memeliraha hewan peredator yg
memangsa hewan tersebut. Salah satu contohnya adalah memelihara burung hantu atau ular yang
bisa(racun) sudah di hilangkan sehingga tidak membahayakan bagi para pekerjayang
tujuannya untuk membasmi hama tikus.

B. Penyakit yang paling sering menyerang tanaman kelapa sawit


1. Penyakit akar Blast disease
Penyebab : cendawan Rhyzoctonia lamellifera dan Phytium sp.
Gejala serangan :
A. Bila menyerang pesemaian dapat menyebabkan kematian bibit secara mendadak.
B. Bila menyerang tanaman dewasa akan menyebabkan daun menjadi layu, kemudian tanaman mati.
C. Kalau perakaran tanaman dilihat, tampak adanya pembusukan pada akar.
Pengendalian :
Pembuatan pesemaian yang baik agar pertumbuhan bibit sehat dan kuat.
B. Pemberian air irigasi pada musim kemarau dapat mencegah terjadinya gangguan penyakit ini.
2. Penyakit garis kuning pada daun
Penyebab : cendawan Fusarium oxysporum
Gejala serangan :
A.

Infeksi penyakit sudah terjadi pada saat daun belum membuka.


B. Setelah daun membuka akan tampak adanya bulatan-bulatan oval berwarna kuning pucat
mengelilingi warna coklat tempat konidiofora.
C. Bagian-bagian tersebut kemudian mengering.
Pengendalian : Menanam bibit yang bebas dari infeksi penyakit ini.
A.

3. Penyakit batang dry basal rot.


Penyebab : cendawan Ceratocyctis paradoxa.
Gejala serangan :
A. Tandan buah yang sedang berbunga mengalami pembusukan.
B. Pelepahnya mudah patah, tetapi daun tetap berwarna hijau untuk beberapa saat, meskipun pada
akhirnya akan membusuk dan mongering.
C. Semua gejala tersebut sesungguhnya disebabkan karena terjadinya pembusukan (busuk kering) pada
pangkal batang.
Pengendalian : Menanam bibit yang bebas dari infeksi penyakit ini.
4. Penyakit busuk tandan (bunch rot)
Penyebab : cendawan Marasmius palmivorus sharples.
Gejala serangan :
A. Penyakit ini menyerang tanaman berumur 3 10 tahun.
B. Menyerang buah yang matang dan dapat menembus daging buah, sehingga menurunkan kualitas
minyak sawit.
Pengendalian :

Tindakan pencegahan dilakukan dengan melakukan penyerbukan buatan dan sanitasi kebun terutama
pada musim hujan.
B. Membuang semua bunga dan buah yang membusuk dan membakar tandan buah yang terserang.
C. Dapat disemprot dengan menggunakan Difolatan atau Actidone dengan konsentrasi
0,2 % atau sebanyak 0,7 liter/ha dengan interval waktu 2 minggu sekali.
A.

BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, antara lain :
1. Produktifitas dan hasil produksi tanaman turut dipengaruhi oleh serangan hama dan penyakit.
2. Masing-masing hama dan penyakit memberikan serangan dan gejala yang berbeda-beda pada
tiap bagian tanaman kelapa sawit.
3. Hama yang paling sering dijumpai pada tanaman kelapa sawit adalah ulat api, dan tikus sebagai
hama mamalia yang paling banyak dijumpai.
4. Untuk penyakit yang meyerang tanaman ini, bagian yang paling sering diserang yaitu bagian
daun tanaman.
5. Pengendalian penyakit pada tanaman ini dapat dikendalikan dengan pemberian herbisida
atapunu pestisida, sedangkan untuk pengendalian hama yang menyerang, dapat dikendaliakan
dengan pelepasan predator dari hama itu sendiri, untk menghindari ledakan hama penyerang
tanaman ini.

3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah sebaiknya dalam penggunaan herbisida maupun
pestisida dalam pengendalian hama dan penyakit ini digunakan sesuai dengan dosis anjuran yang
benar agar tidak terjadi resistensi pada hama dan penyakit itu sendiri serta menghindari
terjadinya ledakan hama.

Diposkan oleh bloggerperkebunan di 21.57 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Beranda
Langganan: Entri (Atom)
ARSIP BLOG
2013 (1)

o Januari (1)
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawi...
MENGENAI SAYA

bloggerperkebunan
lihat ajja photo profil
Lihat profil lengkapku
Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.