Sunan Bonang: Pemuka Agama Islam dan Legenda Kabupaten Tuban

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos.

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah Sunan Bonang merupakan salah satu wali songo (sembilan wali) yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Pengaruhnya begitu besar baik di kalangan internal para wali, maupun di lingkungan sosial kemasyarakatan pada saat itu. Ajarannya tersebar luas di hampir seluruh pelosok tanah Jawa, khususnya di Kabupaten Tuban, tempatnya mendirikan pondok pesantren yang menjadi pusat dakwah Sunan Bonang. Beliau

mendakwahkan Islam bersamaan dengan pengembaraannya di tanah Jawa, sampai hatinya tertambat pada Kabupaten Tuban yang kelak menjadi tempat peristirahatan terakhir beliau. Semasa hidupnya, Sunan Bonang menjadi panutan bagi masyarakat dan para wali lain dalam bertindak maupun berdakwah, karena keimanan dan kesalehannya yang dinilai tinggi. Pengaruh ajarannya tersebut bertambah melekat di hati rakyat dengan adanya murid Sunan Bonang yang cukup legendaris, yaitu Sunan Kalijaga yang memperkenalkan metode dakwah Islam melalui

percampuran dengan tradisi lokal masyarakat Jawa. Perkembangan Islam di Tuban cukup pesat dengan adanya kedua wali ini, bahkan Tuban sempat menjadi daerah Islam yang cukup diperhitungkan di era Kesultanan Demak. Pengaruh Sunan Bonang masih terasa hingga sekarang, ajaran serta makamnya masih banyak diminati oleh umat

1

Folklore

muslim dari seluruh penjuru pulau Jawa. Peziarah makam Sunan Bonang datang dengan berbagai macam tujuan dari yang bersifat sakral maupun profan. Semua datang berduyun-dutun untuk meminta berkah di makam Sunan bonang, sembari berharap keinginannya dapat dikabulkan oleh Allah SWT melalui Sunan Bonang. Banyaknya peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang tidak hanya menjadikan makam Sunan Bonang sebagai lahan basah bagi pemerintah daerah, namun juga oleh masyarakat sekitar yang mampu melihat kesempatan mengais rezeki dari banyaknya peziarah makam Sunan Bonang. Berbagai macam persepsi muncul dari masyarakat lokal terhadap peziarah makam Sunan Bonang. Penelitian penulis kali ini, berusaha memunculkan beberapa persepsi masyarakat lokal mengenai ribuan peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang. Pada penelitian antropologis ini akan nampak, bagaimana masyarakat menaggapi fakta tentang banyaknya peziarah yang datang ke makam dengan berbagai macam tujuan. penilaian masyarakat lokal ini tentu berkaitan dengan pengetahuan tentang tujuan para peziarah dan tersebar melalui gosip di kalangan masyarakat lokal Tuban. Ilmu gosip inilah yang harus diperhatikan perkembangnnya, karena gosip adalah bagian dari komunikasi dan komunikasi merupakan unsur dari budaya.

2

Folklore

I.2 Rumusan Masalah Persepsi apa sajakah yang muncul di kalangan masyarakat lokal Tuban tentang para peziarah yang datang untuk mengunjungi makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban? Karena persepsi lokal nantinya akan berpengaruh pada penerimaan masyarakat Tuban terhadap para peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang

I.3 Tujuan Penelitian Penelitian penulis kali ini bertujuan untuk menelaah persepsi apa sajakah yang muncul di kalangan masyarakat lokal Tuban tentang para peziarah yang datang untuk mengunjungi makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban.

I.4 Kerangka Teori 1.4.1 Folklore Sebagai Ilmu Gosip Persepsi penduduk merupakan hasil pengamatan terhadap tingkah laku atau kebendaan dan diolah dalam sistem kognisi mereka sehingga menhasilkan penjelasan dari pandangan mereka sendiri. Persepsi ini muncul dan menyebar dari mulut ke mulut sebagai gosip. Persepsi masyarakat lokal yang diturunkan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi lain mempunyai ciri yang bisa dimasukkan ke dalam kategori folklore seperti yang diungkap oleh Danandjaja (1994:3), bahwa salah

3

Folklore

satu ciri folklore adalah penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai gerak isyarat dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi lainnya. Definisi folklore sendiri menurut Danandjaja (1994:2), adalah:
sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun temurun diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertau dengan gerakan isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device)

Menurut Danandjaja (1994:21-22), Folklore dibagi menjadi tiga bagian penting yaitu folklore lisan (verbal folklore) yaitu folklore yang bentuknya murni lisan seperti misalnya bahasa rakyat seperti logat dan dialek. Kedua, folklore sebagian lisan (partly verbal lisan) yaitu campuran antar unsur lisan dan unsur non lisan, semisal kepercayaan rakyat, pesta rakyat, adat istiadat. Ketiga adalah folklore bukan lisan (non verbal lisan), yaitu folklore yang bentuknya bukan lisan atau dalam bentuk cerita seperti misalnya gerak isyarat tradisional, musik rakyat. Kepercayaan rakyat terhadap makam Sunan Bonang juga termasuk dalam kategori folklore sebagian lisan. Kepercayaan ini berkaitan dengan keyakinan masyarakat jawa bahwa roh orang yang sakti dan taat beragama selalu dekat dengan sang Maha Pencipta, maka apabila manusia berdoa dan meminta sesuatu lewat perantara roh tersebut, permintaan tersebut mudah dikabulkan.

4

Folklore

1.4.2 Pandangan hidup Jawa Istilah “ Pandangan Hidup Jawa “ di sini mempergunakan pengertian yang longgar, jadi istilah ini dapat saja diganti dengan istilah-istilah lain yang mempunyai arti yang kurang lebih sama, seperti “ Filsafat Jawa “ ( Abdulah Ciptoprawiro ) “ Filsafah Kejawen “ atau istilah lain lagi. Tetapi pandangan hidup Jawa, ini tidaklah identik dengan “ Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa “ atau “ Islam Abangan “ atau “ Mistik Jawa “ dan lebih-lebih dengan “ ilmu-ilmu klenik “. Sementara itu beberapa istilah lain seperti “ Agama Jawa “atau “ Agama Jawi “ ( Koentjaraningrat ) “ the religion of jawa “ ( Clifford Geertz ) dan lain-lain, itu tidak identik dengan “ Pandangan Hidup Jawa “ sekalipun terlihat adanya beberapa segi persamaan. C. Geertz dalam bukunya the religion of java (1960),1 suatu

deskripsi mengenai agama, orang jawa harus membedakan dua meanifestasi dari agama islam jawa yang cukup banyak berbeda, yaitu agama jawi dan agama islam santri. Pandangan hidup Jawa bukanlah suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta ciptaanNYA beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada.
Buku C. Geertz mengenai agama orang jawa itu mengandung deskripsi pertama yang pernah dibuat oleh seorang ahli mengenai kedua varian agama islam di Jawa.
1

5

Folklore

Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan hidup Jawa bukanlah sinkretisme tetapi suatu semangat yang saya beri nama tantularisme. Saya namakan demikian karena semangat ini bertumpu pada atau memancar dari ajaran Empu Tantular lewat kalimat kakawin Sutasoma :
….Budaya Jawa dan pandangan hidup Jawa memang telah dan akan selalu mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan perkembangan jaman. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan itu selama tidak sampai mencabut pandangan hidup Jawa dari akar dan sumber kekuatannya, yaitu tantularisme, yang adalah juga merupakan kristalisai dari proses sejarah yang amat panjang. Disinilah letak kekuatan budaya Jawa yang harus tetap dipertahankan dengan sadar. Semangat tantularisme yang merupakan sumber kekuatan Jawa itu sebenarnya bukan hanya cocok untuk orang Jawa. Ia bersifat universal. Oleh karena itu tantularisme juga merupakan sumbangan yang sebenarnya amat diperlukan oleh umat manusia sekarang ini….

Permusuhan dan perang antar etnik; persaingan, kebencian dan kecemburuan antar pemeluk agama yang telah mengorbankan beribu-ribu nyawa manusia yang senantiasa terjadi sampai sekarang ini, semuanya akan dapat diredam oleh semangat tantularisme yang damai, sejuk dan bernafaskan asih ing sasami. Tantularisme memancarkan cinta kasih kepada sesama, yang juga diajarkan oleh semua agama yang dipeluk oleh orang-orang yang membenci itu! Islam, Kristen, Hindu, Budha, Sikh, dan lain-lain, semuanya mengajarkan cinta kasih kepada sesama; ironisnya sementara ini banyak pemeluknya saling membenci dan bermusuhan! Atas nama agama ?

6

Folklore

1.4.2 Sinkretisme Jawa Pakar dan pengamat budaya Jawa berpendapat bahwa ciri karakteristik pandangan Jawa adalah sinkretisme. Namun cukup banyak pula pengamat yang tajam penglihatannya, meragukan kesimpulan semacam itu. Pengamatan yang tajam akan dapat melihat bahwa kecenderungan yang paling menonjol dalam budaya Jawa bukanlah kecenderungan sinkretik yang berupa kecenderungan atau semangat untuk membangun suatu sistem kepercayaan (termasuk agama) baru dengan

menggabungkan unsur-unsur yang berasal dari system - sistem kepercayaan yang telah ada. Para pengamat yang menyangkal sinkretisme sebagai ciri karektistik pandangan Jawa itu, mencoba mencari istilah-istilah lain yang dianggap lebih tepat, seperti istilah mosaik ( Abdulah Ciptoprawiro ), coalition ( Gonda ) atau sekedar “ Percampuran “ atau Vermenging ( Kern ) istilahistilah lain lagi yang juga dipakai oleh sementara pakar sebagai pengganti istilah “ sinkretisme “ adalah amalgamtion, blending, fusi atau fusion ( peleburan ) dan lain-lain. Memang dalam pengamatan sinkretisme bukanlah ciri karaktistik pandangan Jawa, gejala sinkretisme dapat kita temui dimana-mana. Juga dalam berbagai agama yang kita kenal sekarang ini, bahkan dalam A Distionary Of Comparative Religion dinyatakan bahwa hanya sedikit saja agama yang benar-benar bebas dari sinkretisme. Di kalangan

7

Folklore

masyarakata

Jawa,

kecenderungan

sinkretisme

memang

ada

kecenderungan itu cukup besar, tetapi adalah tidak benar kalau disimpulkan bahwa sinkretisme adalah merupakan ciri karaktistik

pandangan hidup Jawa, yang betul-betul merupakan ciri karaktistik menurut penghayatan saya adalah semangat tantularisme itu. Istilah “ tantulisme “ ini masih baru dan tentunya masih asing bagi para pakar budaya Jawa. Sekalipun istilahnya baru, tetapi sebenarnya tuntalisme adalah semangat yang sudah sejak jaman dahulu tumbuh subur dikalangan masyarakat Jawa. Berbagai istilah alternatif terhadap sinkretisme tersebut bisa dipersepsikan semangat yang terdapat di dalam dan merupakan ciri karetistik pandangan Jawa.Istilah-istilah tersebut terkesan hanya menunjuk pada bentuk dan proses yang terjadi, bukan pada semangat. Istililah-istilah tersebut juga tidak mampu menunjuk secara tegas perbedaan yang mendasar dengan sinkretisme Prof. J.H.C Kern telah menuangkan pendapatnya melalui

karangannya “ Over de Vermenging Van Civaisme en Buddhisme op Java, Naar aanleiding van het Oudjavaasch gedicht Sutasoma “ hanya terpukau pada proses percampuran atau vermenging antar dua agama yang menjadi obyek penelitiannya, yaitu Civaisme ( Hindu ) dan Buddhisme. Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional

Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi Pandangan Hidup dan Sikap Hidup orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa, memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi dengan nasehat-nasehat

8

Folklore

nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi jiwa seni dan budaya Jawa. Prinsip pengendalian diri dengan "Mulat Sarisa" suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta " Aja Dumeh " adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang masih mempunyai arti yang sangat luas. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama bahkan memberi warna khusus dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa. Yaitu : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta Optimistik. Berbagai perlambang dan ungkapan Jawa, merupakan cara

penyampaian terselubung yang bermakna " Piwulang " atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati. Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal serta menggabungkan segala bentuk kesenian dari India dan dan

9

Folklore

kesenian asli Jawa serta menjadi sempurna dengan menambahkan ajaran Islami di pulau Jawa. Paham mistik yang berpokok " Manunggaling Kawula Gusti " ( persatuan manusia dengan Tuhan ) dan " Sangkan Paraning Dumadi " ( asal dan tujuan ciptaan ) bersumber pada pengalaman religius. Berawal dari sana, manusia rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber dan muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh agama-agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan Suluk. I.5 Metode Penelitian Metode penelitian ini dipilih dengan mempertimbangkan

kesesuaian antara obyek yang diteliti serta studi ilmu yang bersangkutan. Untuk mendeskripsikan secara mendalam fenomena budaya antropologi industri khususnya mengenai sismbiosis mutualisme karyawan dengan pihak pabrik, maka penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan metode ini diharapkan temuan-temuan empiris dapat dideskripsikan secara lebih rinci, lebih jelas dan lebih akurat, terutama berbagai hal yang berkaitan dengan antropologi industri khususnya mengenai sismbiosis mutualisme karyawan dengan pihak pabrik. Salah satu pendekatan dari metode kualitatif yang tepat digunakan pada penelitian ini adalah etnometodologi yang menghasilkan karya

10

Folklore

etnografi. Pendekatan ini pada awalnya diperkenalkan oleh Harorld Garfinkel (Pendit, 2003:281). Seperti yang disarankan oleh Bogdan dan Biklen (1982:37 dalam Dyson, 2001:117), bahwa etnometodologi tidaklah mengacu kepada suatu model atau teknik pengumpulan data ketika seseorang sedang melakukan suatu penelitian, tetapi lebih memberikan arah mengenai masalah apa yang akan diteliti. Moleong (1988) mendefinisikan sebagai berikut:
“Studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari–hari. Subyek etnometodologi adalah orang–orang dalam pelbagai macam situasi dalam masyarakat kita. Etnometodologi berusaha memahami berbagai orang–orang mulai melihat, menerangkan dan menguraikan keteraturan dunia tempat mereka hidup” (Moleong, 1988:15).

Dengan menggunakan pendekatan ini, lebih banyak dipelajari suatu fenomena dengan pendukung kebudayaan tersebut, sehingga peneliti dapat memahami dan mendeskripsikannya. Salah satu antropolog kenamaan Clifford Geertz yang mendorong para ilmuwan sosial (khususnya para antropolog) agar mementingkan sisi pandang yang diteliti. Itu sebabnya antropologi memerlukan pendekatan yang mampu menghasilkan thick description, yaitu gambaran yang sangat kental atau padat dan terinci. Dalam hal ini maka dalam sebuah laporan penelitian etnografi dapat dikatakan sebuah “fiksi antropologis” (meminjam istilah Pendit, 2003) yang berupaya keras mengungkapkan sebuah obyek penelitian dari sisi pandang peneliti. Dalam hal ini dapat dikategorikan pula sebagai penelitian eksplorasi yang bersifat emik. Jadi bukan menurut konsep dan tafsir kami.

11

Folklore

Salah satu kritik terhadap etnometodologi (yang ditulis kembali oleh Pendit 2003:284-285) adalah pada keengganan kami menggunakan banyak analisis teori dengan alasan ingin mengungkapkan sisi pandang obyek penelitian sebagaimana adanya. Dengan kata lain etnometodologi lebih mengutamakan bukti-bukti empiris daripada teori. Perdebatan tentang hal ini sampai menimbulkan tuduhan bahwa karya etnografi adalah empirisme gaya baru saja dan memicu perdebatan baru tentang hubungan atau pertentangan antara pengetahuan berdasarkan teori dan pengalaman. Terlepas dari kritik-kritik di atas, etnometodologi telah berkembang dan diterima sebagai salah satu upaya untuk mengurangi “pengaruh ilmu eksak” terhadap ilmu sosial. Sebagai sebuah pendekatan dalam metode penelitian ilmiah, etnometodologi dianggap sudah dapat membantu para ilmuwan sosial-budaya dalam memahami fenomena di masyarakat, khususnya dalam hal ini fenomena antropologi industri khususnya mengenai sismbiosis mutualisme karyawan dengan pihak pabrik

I.5.1 Lokasi penelitian Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive atau sengaja. Karena secara langsung penelitian ini berlokasi di suatu tempat yaitu di lokasi pabrik Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

12

Folklore

I.5.2 Teknik penentuan informan Untuk memperolah kedalaman materi yang disajikan serta validitas data yang diperoleh, maka pemilihan informan menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat dari merekalah awal mula data diperoleh dan dikembangkan dalam proses selanjutnya. Informan adalah orang-orang yang pengetahuannya luas dan mendalam mengenai masalah antropologi industri khususnya mengenai persepsi masyarakat lokal tergadap peziarah makam Sunan Bonang, sehingga ikut memberikan informasi yang bermanfaat (Bungin, 2001:208). Informan dipilih berdasarkan beberapa kriteria tertentu, dan pemilihan ini juga dilakukan secara purposive (sengaja) berdasarkan informasi awal yang kami peroleh. Sedangkan kriteria pemilihan informan sebagaimana dikemukakan oleh Spreadley (1995:61-70) adalah sebagai berikut:

1. Enkulturasi penuh Enkulturasi merupakan proses yang ada dan pasti dalam setiap studi tentang suatu budaya tertentu. Informan yang baik adalah bagaimana ia mengetahui dengan jelas baik secara perilaku maupun kognisi budaya mereka tanpa harus memikirkannya. Kriteria ini merujuk pada para informan yang (pernah) melihat langsung atau ikut bekerja di lahan persawahan. Sehingga informan tersebut bersedia memberikan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan peran dan eksistensi fenomena yang sedang diselidiki.

13

Folklore

2. Keterlibatan langsung Keterlibatan langsung serta aktif seseorang informan dalam setiap perkembangan budaya juga merupakan hal yang cukup penting. Untuk hal ini kami merujuk pada perorangan yang terlibat bekerja di sekitar makam sunan Bonang dan juga masyarakat lokal Tuban pada umumnya.

3. Suasana budaya yang tidak dikenal Dalam kondisi ini jika seorang peneliti mempelajari suatu budaya tertentu, dimana budaya tersebut tidak dikenalnya, maka seorang peneliti diharuskan menciptakan sebuah hubungan yang sinergis dan produktif dengan informan. Sementra itu seorang peneliti juga diharuskan mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap kemampuan membaca fenomena sosial yang sedang ia amati.

4. Cukup waktu Dalam pemilihan seorang informan, maka hal – hal yang harus mendapat perhatian khusus adalah informan – informan yang mempunyai cukup waktu luang dan bersedia meluangkan waktunya untuk penelitian ini. Kemudian dalam melakukan wawancara dengan informan, idealnya waktu-waktu yang dipilih adalah siang dan sore hari atau waktu-waktu lain yang telah disepakati antara peneliti dengan informan.

14

Folklore

5. Non analitik Informan yang bagus adalah ketika ia dapat memberikan sebuah respon yang cukup positif terhadap setiap pertanyaan–pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, tanpa ia harus memberikan sebuah analisa yang rumit terhadap pertanyaan tersebut. Sehingga informasi yang didapat bersifat polos apa adanya. Dan akhirnya informan – informan yang dipilih adalah informan yang memenuhi kriteria – kriteria di atas.

I.5.3 Strategi pengumpulan data Agar memperoleh informasi yang akurat mengenai pola

penggarapan sawah, penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan wawancara yang disertai dengan catatan lapangan. Dimana dengan teknik tersebut dapat menghasilkan data ilmiah yang autentik dan validitasnya dapat dipertanggung jawabkan.

 Pengamatan langsung (observasi) Dalam penelitian ini digunakan pengamatan langsung (observasi) dan terlibat terhadap fenomena yang terjadi pada wilayah observasi, baik berupa budaya fisik, situasi, kondisi maupun perilaku. Sehingga dapat diatikan bahwa pengamatan langsung dan terlibat adalah suatu

pengamatan yang dibarengi interaksi antara peneliti dengan informan. Sudikan (2001:59) menyarankan dalam pengamatan langsung diperlukan pendekatan antropologi visual, yaitu berupa penggunaan alat

15

Folklore

bantu seperti alat pemotret (kamera) untuk mengambil foto atau gambar hidup (sebagai dokumentasi) pada obyek-obyek yang relevan dengan tema yang hendak diteliti, serta berhubungan dengan latar belakang etnografisnya.  Wawancara mendalam Dalam penelitian kualitatif, untuk mendapatkan sebuah gambaran yang jelas mengenai pola budaya dalam suatu komunitas tertentu, Sevilla (1992:71) menuliskan bahwa salah satu ciri penting dalam penelitian adalah komunikasi langsung antara peneliti dengan informan yang telah ditentukan. Bentuk komunikasi langsung tersebut berupa wawancara terbuka (open interview) dan mendalam (indepth interview). Maksud dari wawancara ini adalah untuk mengumpulkan seluruh keterangan tentang antropologi industri khususnya mengenai sismbiosis mutualisme karyawan dengan pihak pabrik. Pelaksanaan wawancara tidak hanya sekali atau dua kali, melainkan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Sudikan (2001:64) menambahkan, untuk memfokuskan wawancara, diperlukan catatan daftar pokok-pokok pertanyaan yang disebut pedoman wawancara (interview guide). Dengan pedoman wawancara yang digunakan sebagai penuntun, kondisi ini memungkinkan proses wawancara berlangsung dangan santai dan tekesan akrab. Sehingga ketika proses wawancara telah menciptakan kondisi yang intens, maka informasi yang dihasilkan akan lebih detail.

16

Folklore

I.6. Analisis data Penelitian masyarakat lokal tentang folklore khususnya makam mengenai Sunan persepsi ini

tergadap

peziarah

Bonang

menggunakan strategi analisis kualitatif. Strategi ini dimaksudkan bahwa analisis bertolak dari data dan bermuara pada simpulan-simpulan umum. Di dalam penelitian ini, kesimpulan umum itu bisa berupa kategorisasi maupun proposisi. Untuk membangun proposisi atau teori dapat dilakukan dengan analisis induktif. Maka dalam penelitian ini, akan digunakan analisis induktif melalui beberapa tahap. Setidaknya Taylor dan Bogdan (1984:127 dalam Bungin, 2001:209) adalah sebagai berikut: (a) membuat definisi umum atau kategorisasi yang bersifat sementara tentang folklore khususnya persepsi masyarakat lokal tergadap peziarah makam Sunan Bonang (b)

merumuskan suatu hipotesis untuk menguji kategorisasi tersebut secara triangulasi, hal mana didasarkan pada hasil wawancara mendalam, pengamatan terlibat dan dokumentasi dari berbagai sumber (informan, waktu dan tempat) yang berbeda, (c) mempelajari satu kasus untuk melihat kecocokan antara kategorisasi dan hipotesis, (d) bila ditemui kasus negatif, diformulasikan kembali hipotesis atau didefinisikan kategorisasi. Dari rumusan tersebut di atas, dapatlah kita menarik garis, bahwa analisis data pada penelitian kualitatif berfungsi untuk mengorganisasikan

17

Folklore

data. Data yang tekumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, foto dokumentasi, biografi, artikel dan sebagainya. Strategi analisis data dalam hal ini ialah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan mengkategorikannya. Dalam analisis, data tersebut dikaitkan dengan acuan teoritik yang relevan dan sesuai dengan masalah yang dibahas dan sesuai dengan perkembangan di lapangan. Yaitu dengan menggambarkan, menjelaskan dan menguraikan secara detail atau mendalam dan sistematis tentang keadaan yang sebenarnya, yang kemudian akan ditarik suatu kesimpulan sehingga diperoleh suatu penyelesaian masalah penelitian yang

memuaskan. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan analisis data, maka peneliti menggunakan tahap-tahap analisis induktif tersebut di atas dengan cara silang (Bungin, 2001:210). Maksudnya data yang diperoleh dari responden, disilang dengan teori-teori folklore. Akhirnya perlu dikemukakan bahwa analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif, yaitu sesudah meninggalkan lokasi penelitian.

18

Folklore

BAB II SUNAN BONANG DAN PERANAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA

II.1 Jatidiri Sunan Bonang Di kalangan ulama tertentu mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. Tetapi apabila kita mencermati manuskrip-manuskrip Jawa lama peninggalan zaman Islam yang terdapat di Museum Leiden dan Museum Batavia (sekarang dipindah ke Perpustakaan Nasional), justru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik. Putra Raden Rahmad alias Sunan Ampel, dan cucu Maulana Malik Ibrahim, yang nenek moyangnya berasal dari Samarqand (sebuah kota di Uzbekistan sekarang) ini, masih bersaudara dengan Sunan Giri, wali yang paling berpengaruh di Jawa Timur. Kedua bersaudara ini diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M, diduga lahir pada tahun 1465 (Wikipedia, 2005), pada saat Kerajaan Majapahit sedang di ambang keruntuhan. Sunan Bonang (nama sebenarnya Makhdum Ibrahim bergelar Khalifah Asmara) wafat sekitar tahun 1525 M di Tuban, tempat kegiatannya terakhir dan paling lama, pada masa jayanya Kerajaan Demak Darussalam. Kedua wali itu dikenal sebagai pendakwah Islam yang gigih. Keduanya sama-sama belajar di Malaka dan Pasai, baru kemudian

19

Folklore

menunaikan ibadah haji di Mekah. Bedanya, jika Sunan Giri lebih condong pada ilmu fiqih, syariah, teologi, dan politik; Sunan Bonang –tanpa mengabaikan ilmu-ilmu Islam yang lain– lebih condong pada tasawuf dan kesusastraan. Sumber-sumber sejarah Jawa, termasuk suluk-suluknya sendiri menyatakan bahwa ia sangat aktif dalam kegiatan sastra, mistik, seni lakon, dan seni kriya. Dakwah melalui seni dan aktivitas budaya merupakan senjatanya yang ampuh untuk menarik penduduk Jawa memeluk agama Islam. Sebagai musikus dan komponis terkemuka, konon Sunan Bonang menciptakan beberapa komposisi (gending), di antaranya Gending Dharma. Gending ini dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang memandang alunan bunyi musik tertentu dapat dijadikan sarana kenaikan menuju alam kerohanian. Gending Darma, konon, apabila didengar orang dapat menghanyutkan jiwa dan membawanya ke alam meditasi (tafakkur). Penabuhan gending ini pernah menggagalkan rencana perampokan gerombolan bandit di Surabaya. Manakala gending ini ditabuh oleh Sunan Bonang, para perampok itu terhanyut ke alam meditasi dan lupa akan rencananya melakukan perampokan. Keesokannya pemimpin bandit dan anak buahnya menghadap Sunan Bonang, dan menyatakan diri memeluk Islam. Sunan Bonang bersama Sunan Kalijaga dan lain-lain, jelas bertanggung jawab bagi perubahan arah estetika Gamelan. Musik yang semula bercorak Hindu dan ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi.

20

Folklore

Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif, berbeda dengan gamelan Bali yang merupakan warisan musik Hindu. Warna sufistik gamelan Jawa ini lalu berpengaruh pada gamelan Sunda dan Madura. Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru pada gamelan. Yaitu bonang (diambil dari gelarnya sebagai wali yang membuka pesantren pertama di Desa Bonang). Bonang adalah alat musik dari Campa, yang dibawa dari Campa sebagai hadiah perkawinan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa, yang juga saudara sepupu Sunan Bonang. Instrumen lain yang ditambahkan pada gamelan ialah rebab, alat musik Arab yang memberi suasana syahdu dan harus apabila dibunyikan. Rebab, yang tidak ada pada gamelan Bali, sangat dominan dalam gamelan Jawa, bahkan didudukkan sebagai raja instrumen. Sebagai Imam pertama Masjid Demak, Sunan Bonang bersama wali lain, terutama murid dan sahabat karibnya Sunan Kalijaga, sibuk memberi warna lokal pada upacara-upacara keagamaan Islam seperti Idul Fitri, perayaan Maulid Nabi, peringatan Tahun Baru Islam (1 Muharram atau 1 Asyura) dan lain-lain. Dengan memberi warna lokal maka upacaraupacara itu tidak asing dan akrab bagi masyarakat Jawa. Syair Islam pun akan mulus dan ajaran Islam mudah diresapi.Toh, menurut Sunan Bonang, kebudayaan Islam tidak mesti kearab-araban. Menutupi aurat tidak mesti memakai baju Arab, tetapi cukup dengan memakai kebaya dan kerudung.

21

Folklore

Di antara upacara keagamaan yang diberi bungkus budaya Jawa, yang sampai kini masih diselenggarakan ialah upacara Sekaten dan Grebeg Maulid. Beberapa lakon carangan pewayangan yang bernapas Islam juga digubah oleh Sunan Bonang bersama-sama Sunan Kalijaga. Di antaranya Petruk Jadi Raja dan Layang Kalimasada. Setelah berselisih paham dengan Sultan Demak I, yaitu Raden Patah, Sunan Bonang mengundurkan diri sebagai Imam Masjid Kerajaan. Ia pindah ke desa Bonang, dekat Lasem, sebuah desa yang kering kerontang dan miskin. Di sini ia mendirikan pesantren kecil, mendidik murid-muridnya dalam berbagai keterampilan di samping pengetahuan agama. Di sini pula Sunan Bonang banyak mendidik para mualaf menjadi pemeluk Islam yang teguh. Suluk-suluknya seperti Suluk Wujil,

menyebutkan bahwa ia bukan saja mengajarkan ilmu fikih dan syariat serta teologi, melainkan juga kesenian, sastra, seni kriya, dan ilmu tasawuf. Tasawuf diajarkan kepada siswa-siswanya yang pandai, jadi tidak diajarkan kepada sembarangan murid. Keahliannya di bidang geologi dipraktekkan dengan menggali banyak sumber air dan sumur untuk perbekalan air penduduk dan untuk irigasi pertanian lahan kering. Sunan Bonang juga mengajarkan cara membuat terasi, karena di Bonang banyak terdapat udang kecil untuk pembuatan terasi. Sampai kini terasi Bonang sangat terkenal, dan merupakan sumber penghasilan penduduk desa yang cukup penting.

22

Folklore

II.2 Karya dan Ajaran Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969). Sedangkan Suluk Wujil ditranskripsi Purbatjaraka dengan

pembahasan ringkas dalam tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938). Melalui karyakaryanya itu kita dapat memetik beberapa ajarannya yang penting dan relevan. Seluruh ajaran Tasawuf Sunan Bonang, sebagai ajaran Sufi yang lain, berkenaan dengan metode intuitif atau jalan cinta (isyq) pemahaman terhadap ajaran Tauhid; arti mengenal diri yang berkenaan dengan ikhtiar pengendalian diri, jadi bertalian dengan masalah kecerdasan emosi; masalah kemauan murni dan lain-lain. Cinta menurut pandangan Sunan Bonang ialah kecenderungan yang kuat kepada Yang Satu, yaitu Yang Mahaindah. Dalam pengertian ini

23

Folklore

seseorang yang mencintai tidak memberi tempat pada yang selain Dia. Ini terkandung dalam kalimah syahadah La ilaha illa Llah. Laba dari cinta seperti itu ialah pengenalan yang mendalam (makrifat) tentang Yang Satu dan perasaan haqqul yaqin (pasti) tentang kebenaran dan keberadaannya. Apabila sudah demikian, maka kita dengan segala gerak-gerik hati dan perbuatan kita, akan senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh-Nya. Kita menjadi ingat (eling) dan waspada. Cinta merupakan, baik keadaan rohani (hal) maupun peringkat rohani (maqam). Sebagai keadaan rohani ia diperoleh tanpa upaya, karena Yang Satu sendiri yang menariknya ke hadirat-Nya dengan memberikan antusiasme ketuhanan ke dalam hati si penerima keadaan rohani itu. Sedangkan sebagai maqam atau peringkat rohani, cinta dicapai melalui ikhtiar terus-menerus, antara lain dengan memperbanyak ibadah dan melakukan mujahadah, yaitu perjuangan batin melawan

kecenderungan buruk dalam diri disebabkan ulah hawa nafsu. Ibadah yang sungguh-sungguh dan latihan kerohanian dapat membawa seseorang mengenal kehadiran rahasia Yang Satu dalam setiap aspek kehidupan. Kemauan murni, yaitu kemauan yang tidak dicemari sikap egosentris atau mengutamakan kepentingan hawa nafsu, timbul dari tindakan ibadah. Kita harus menjadikan diri kita masjid yaitu, tempat bersujud dan menghadap kiblat-Nya, dan segala perbuatan kita pun harus dilakukan sebagai ibadah. Kemauan mempengaruhi amal

24

Folklore

perbuatan dan perilaku kita. Kemauan baik datang dari ingatan (zikir) dan pikiran (pikir) yang baik dan jernih tentang-Nya. Dalam Suluk Wujil (Pambudi, 2000), yang memuat ajaran Sunan Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:
Jangan terlalu jauh mencari keindahan Keindahan ada dalam diri Malah jagat raya terbentang dalam diri Jadikan dirimu Cinta Supaya dapat kau melihat dunia (dengan jernih) Pusatkan pikiran, heningkan cipta Siang malam, waspadalah! Segala yang terjadi di sekitarmu Adalah akibat perbuatanmu juga Kerusakan dunia ini timbul, Wujil! Karena perbuatanmu Kau harus mengenal yang tidak dapat binasa Melalui pengetahuan tentang Yang Sempurna Yang langgeng tidak lapuk Pengetahuan ini akan membawamu menuju keluasan Sehingga pada akhirnya mencapai TuhanSebab itu, Wujil! Kenali dirimu Hawa nafsumu akan terlena Apabila kau menyangkalnya Mereka yang mengenal diri Nafsunya terkendali Kelemahan dirinya akan tampak Dan dapat memperbaikinya

Dengan menyatakan `jagat terbentang dalam diri` Sunan Bonang ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi kerohaniannya. Adalah yang spiritual yang menentukan yang material, bukan sebaliknya. Tetapi karena pikiran manusia kacau, ia menyangka yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. Karena potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi.

25

Folklore

Dalam Suluk Kaderesan (Pambudi, 2000), Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri Berlindunglah kepada-Nya Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh Jangan bertanya Jangan memuja para nabi dan wali-wali Jangan kau mengaku Tuhan.

Dalam Suluk Ing Aewuh (Pambusi, 2000), ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul Kau adalah pancaran kebenaran ilahi Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.

II.3 Relevansi dan Pengaruh Jelas sekali bahwa Sunan Bonang mengajarkan tasawuf positif dengan menekankan pentingnya ikhtiar dan kemauan (kehendak) dalam mencapai cita-cita. Pengaruh ajaran ini juga terasa pula pada pandangan hidup dan budaya masyarakat muslim pesisir, khususnya di Jawa Timur dan Madura. Penduduk muslim Jawa Timur dan Madura sejak lama ialah pengikut madzab Syafii yang patuh dengan kecenderungan tasawuf yang kuat. Namun mereka juga memiliki etos kerja keras dan akrab dengan budayadagang. Tasawuf yang diresapi dan dipahami ternyata bukan tasawuf yang eskapis dan pasif. Sebaliknya yang dihayati ialah tasawuf yang aktif dan militan; aktif dan militan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik, dan juga dalam

26

Folklore

kehidupan agama dan kebudayaan.Pengaruh penting lain ajaran Sunan Bonang ialah pada pemikiran kebudayaan termasuk dalam seni atau wawasan estetik. Sunan Bonang berpendapat bahwa agama apa pun, termasuk Islam, dapat tersebar cepat dan mudah diresapi oleh masyarakat, apabila unsur-unsur penting budaya masyarakat setempat dapat diserap dan diintegrasikan ke dalam sistem nilai dan pandangan hidup agama bersangkutan.

II.4 Kontroversi Letak Makam Sunan Bonang Menurut Setyorini (1998:15), Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang dan akhirnys mereka memperebutkannya.

27

Folklore

BAB III PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI SUKMO KAWEKAS SUNAN BONANG

Makam Sunan Bonang merupakan magnet bagi kaum muslim di Indonesia karena cerita ketokohannya yang mengakar dari generasi ke genarasi melalui folklore maupun melalui buku-buku cerita wali songo yang banyak beredar di masyarakat. Menurut Imam (1998:13), cerita yang paling terkenal dari sejarah hidup Sunan Bonang adalah saat beliau meyakinkan Raden Said (Sunan Kalijaga muda) yang saat itu menjadi perampok, tentang ketuhanan Allah SWT dengan mengubah segerombol buah enau menjadi emas di depan mata dan kepala raden Said. Kesaktian Sunan Bonang yang melegenda tersebut tersebar ke seluruh penjuru tanah Jawa dan menjadikannya seorang penyebar Islam yang sangat disegani baik tutur kata maupun tindakannya. Stratifikasi bukan hanya ada di kalangan masyarakat umum saja seperti misalkan kaum petani, buruh, pedagang, tentara dan lainnya. Stratifikasi juga muncul dalam bidang spesifik dalam sistem sosial budaya masyarakat, yaitu agama. Dalam agama kita kenal beberapa strata fungsional seperti nabi, rasul, tokoh-tokoh spesialis pembawa agama seperti Sunan, missionaris, pemimpin-pemimpin agama, disamping ada pula yang berstatus sebagai umat pengikut karena pada umumnya awam dalam pengetahuan keagamaan mereka.

28

Folklore

Agus (2006:228), menuliskan bahwa pembagian antara pemimpin dan pengikut agama didasari oleh prinsip division of labor atau pembagian menurut tugas yang diembannya dalam masyarakat. Pembagian antara pemimpin agama dan pengikut beragama ini biasa ditemukan di seluruh kalangan umat beragama dunia. Sebagaimana masyarakat secara keseluruhan membutuhkan seorang pemimpin dan para spesialis, umat beragama juga membutuhkan kaum agama yang dinamakan religious specialist. Para pengikut agama memerlukan kaum spesialis agama untuk menjelaskan agama dan membimbing mereka dalam pelaksaan ibadat. Tidak jarang tugas yang diemban oleh para spesialis agama ini bertumpuk-tumpuk. Biasanya diawali dari pioneer dalam penyebaran suatu agama, lalu menjadi pemimpin dari agama tersebut pada golongan yang menjadi objek penyebaran agamanya. Selain itu para pemimpin agama biasanya merangkap sebagai pemimpin daerah yang ditempati oleh agama tersebut. Dalam sejarah Kabupaten Tuban, Sunan Bonang beserta para muridnya yang salah satunya adalah Sunan Kalijaga membuka lahan baru untuk pemukiman warga dan menjadikan semua warganya beragama Islam. Sunan Bonang adalah sosok yang sakti mandraguna dan mempunyai kharisma sebagai pemimpin kelompok. Sunan Bonang saat itu memiliki posisi rangkap, yaitu sebagai : 1. Pembuka lahan baru di hutan Tuban

29

Folklore

2. Penyebar agama Islam di Kabupaten Tuban 3. Pemimpin kelompok keluarga yang tinggal di lahan baru 4. Pemimpin umat Islam Dengan ”jabatan” rangkapnya inilah, masyarakat setempat sangat menghargai eksistensi dari Sunan Bonang yang dianggap telah berjasa banyak bagi berdirinya Kabupaten Tuban, bahkan sampai sekarangpun roh Sunan Bonang masih dianggap melindungi wilayah Kabupaten Tuban. Hal tersebut tidak lepas karena kesaktian Sunan Bonang semasa hidupnya yang telah makam menolong tempat banyak orang. Setelah beliau masih

meninggalpun,

jenazahnya

dikuburkan

dikeramatkan dan dijaga betul kesuciannya. Makam Sunan Bonang dijadikan tempat untuk ritual nyadran dan berdoa agar keinginan bisa terkabul atau hanya sekedar ritual nyadranan bersih desa dengan menghormati makam leluhur desa tanpa ada maksud permohonan pribadi apapun dibaliknya. Pengakuan masyarakat

Kabupaten Tuban terhadap eksistensi makam serta tokoh Sunan Bonang nampak dari nyadranan yang sering dilakukan masyarakat sekitar maupn darimluar Kabupaten. Bila ada hajat atau keperluan yang nampak mustahil dikerjakan, maka masyarakat berdoa serta memberikan sesajen di makam Sunan Bonang. Pengakuan dari umat Islam tersebut membuat makam Sunan Bonang menjadi simbol kuatnya pengaruh Islam di tanah Jawa khususnya Kabupaten Tuban. Sedekah bumi Kabupaten Tuban juga sering dilakukan

30

Folklore

di makam Sunan Bonang, dimana semua penduduk desa turut bergabung tanpa memandang golongan Kristen atau Islam. Mereka berdoa bersama demi kelanjutan hidup masyarakat Kabupaten Tubandengan memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa melalui makam Sunan Bonang. Diluar ritual sedekah bumi yang dilaksanakan setahun sekali di Kabupaten Tuban, makam Sunan Bonang juga sering dijadikan tempat orang-orang yang punya hajat agar cepat dikabulkan. Menurut informan kami, Nawawi (42), sebagain besar orang yang mempunyai hajat dan memohon di makam Sunan Bonang adalah masyarakat Kabupaten Tuban sendiri, sisanya adalah masyarakat dari Kabupaten sekitar Tuban. Hal tersebut menunjukkan bahwa Sunan Bonang dianggap sebagai pemimpin yang baik dan mempunyai kesaktian tinggi oleh masyarakat Kabupaten Tuban. Makamnya juga dianggap keramat dan memiliki daya magis dalam mengabulkan semua permintaan Kabupaten Tuban. Sebenarnya berdoa pada makam atau nyadran di makam bukanlah kegiatan yang dianjurkan, bahkan dilarang oleh agama Islam. Hal tersebut merupakan pengaruh dari kepercayaan Jawa kuno mengenai hal-hal mistik yang mampu mengabulkan permintaan mereka. Masyarakat Jawa tradisional masih menganggap bahwa berdoa pada makam-makam tokoh yang dikenal memiliki kesaktian akan mempercepat terkabulnya hajat yang mereka inginkan. Menurut informan penulis, Tadji (36), salah seorang pengurus makam Sunan Bonang:

31

Folklore

” nek sak ngertos kulo nggih katahe tiyang mriki kagem ngalap berkah mawon, sing bener-bener pengen ziarah kubur ndongo kagem tenange sukmonipun kanjeng Sunan mung sakipret mawon mas. Lha wong tiyang tebih-tebih saking Rembang, Semarang, Kudus, Pati sampe Jakarta nopo kok mas. Nggih mesti wonten karepe nggih to mas?”
” kalau setahu saya kebanyakan orang (peziarah) yang datang kesini untuk meminta berkah (memohon suatu permintaan) saja, yang benarbenar ingin ziarah kubur berdoa demi tenangnya roh yang mulia Sunan Bonang Cuma sedikit mas. Orang-orang datang dari jauh seperti dari rembang, Semarang, Kudus, pati sampai Jakarta. Pasti mereka punya kemauan tersendiri ya khan mas?”

Masyarakat seakan ingin menggabungkan antara dua bentuk keyakinan yang berbeda, mereka ingin membuktikan bahwa ketiga bentuk tersebut bisa bersanding dan menghasilkan sebuah harmoni inter-religi yang sekarang ini banyak disorot oleh publik. Kesaktian Sunan Bonang yang sangat tinggi membuat makamnya dianggap keramat hingga sekarang. Makam yang di nisannya berbentuk salib tersebut banyak tersebar bunga-bunga turi dan mawar segar, berarti hal tersebut mengindikasikan makam tersebut benar-benar dikeramatkan oleh warga setempat dan masih sering dikunjungi.Warga seakan tidak mempedulikan apakah Sunan Bonang merupakan penyebar agama Kristen yang ada di Mojowarno atau justru penyebar agama Islam. Dengan adanya beberapa testimoni mengenai doa-doa mereka yang terkabul setelah berdoa di makam Sunan Bonang dan menyebar di kalangan masyarakat luas melalui pembicaraan serta gosip, maka semakin banyak orang yang datang ke makam Sunan Bonag bukan hanya untuk ziarah kubur melainkan untuk ngalap berkah atau yang biasa disebut dengan meminta agar permohonannya dikabulkan lewat makam.

32

Folklore

Dalam masyarakat Jawa tradisional terdapat satu konsep religi yang sangat populer yaitu konsep Sukmo Kawekas. Konsep tersebut menjelaskan bahwa roh seorang tokoh sakti mandraguna pada masa hidupnya dapat dengan mudah menyampaikan keinginan-keinginan atau doa pada Tuhan bila ada manusia di dunia yang memohon pada rohnya dan menghargai segala peninggalannya. Seperti yang dituturkan informan penulis, Sukman (53):
”tiyang-tiyang niku nganggepe nek ndongo ting makame kanjeng Sunan Bonang niku gampang keturutane mas, biasane niku kajat-kajat ingkang ageng utawi kajat kados ketrimo mboten ting gaweane. Soale sukmone kanjeng Sunan niku kawekas kalian gusti Allah lan saget nyampeaken dongane tiyang kathah ingkang nyuwun ting makame kanjeng Sunan” ”orang-orang itu (peziarah) menganggap kalau berdoa di makamnya Sunan Bonang mudah untuk terkabul mas, biasanya itu hajat-hajat (kemauan) yang besar atau hajat seperti keterima atau tidaknya seseorang dalam suatu pekerjaan. Karena rohnya yang mulia Sunan Bonang itu dekat dengan Allah dan bisa menyampaikan doa orang banyak yang memohon di makamnya yang mulia Sunan Bonang”

Konsep tersebut akhirnya banyak diaplikasikan oleh masyarakat dengan memohon dan berdoa pada roh-roh orang yang dulunya dianggap sakti mandraguna dan mempunyai kharisma luar biasa. Mereka beranggapan bahwa doa dan keinginan mereka cepat tersampai bila disampaikan pada roh tokoh tersebut dan menyampaikannya pada Tuhan. Roh tokoh sakti dianggap bisa menjadi mediator dalam penyampaian doa dan keinginan kepada Tuhan. Sunan Bonang dianggap masyarakat sebagai seorang tokoh sakti mandraguna dan menjadi pemimpin berkharisma selama hidupnya di Kabupaten Tuban, rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan keinginan bagi siapapun yang memohon dan menghargai peniggalannya.

33

Folklore

Faktor kedua adalah Sunan Bonang tetap diakui dan dihargai karena jasajasanya membuka lahan baru bagi masyarakat dan menyebarkan agama Islam di Kabupaten Tuban. Sunan Bonang tidak hanya menyebarkan Islam saja, namun juga ikut menata, memimpin serta menjaga desanya dari gangguan pihak asing. Testimoni-testimoni mengenai keberhasilan doa-doa penduduk dalam memohon hajat menyebar ke seluruh penjuru pulau Jawa dan terdengar hingga ke pelosok, sehingga membuat orang datang berduyunduyun untuk membuktikan keberhasilan doa. Penyebaran berita lewat bahasa lisan masyarakat merupakan bagian dari kajian folklore yang memang harus dipelajari lebih dalam. Jadi, faktor diatas yang secara langsung maupun tidak langsung membuat makam Sunan Bonang masih tetap eksis, dihargai dan dihormati bahkan menjadi populer sebagai tempat untuk mencari berkah.

34

Folklore

BAB IV PERSEPSI EKONOMIS DARI BANYAKNYA PEZIARAH YANG DATANG
Persepsi ekonomis datangnya dari masyarakat lokal yang tinggal di sekitar makam Sunan Bonang dan mempunyai jiwa oportunis dengan memanfaatkannya untuk berdagang barang-barang religius atau

berdagang makanan dan minuman bagi para peziarah yang datang. Pedagang-pedagang ini tentunya menaikkan harga-harga barang

dagangannya karena berada pada lokasi wisata dimana para peziarah membutuhkan sesuatu yang urgent atau butuh buah tangan untuk dibawa pulang. Menurut data yayasan Sunan Bonang (2005), jumlah pedagan resmi yang memiliki kios di sekitar makam Sunan Bonang dan berada di bawah binaan yayasan tersebut berjumlah 45 kios. Dari penjual barangbarang keislaman sampai penjual buah tangan khas Tuban. Karena para pedagang tahu bahwa para peziarah tidak akan mau jauh pergi lagi untuk membeli buah tangan atau makanan, maka diciptakan khusus sentra pedagang di sekitar makam Sunan Bonang dengan harga yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan harga pada umumnya di Kabupaten Tuban. Seperti misalnya saat penulis

mengadakan penelitian di warung-warung kecil sekitar makam Sunan Bonang, penulis menemukan beberapa makanan ringan yang harganya jauh diatas pemikiran penulis seperti misalnya rempeyek udang dengan harga Rp.5000,- (lima ribu rupiah), harga tersebut bahkan lebih mahal dari

35

Folklore

harga seporsi nasi pecel yang mereka tawarkan dengan harga Rp. 3000,(Tiga ribu rupiah). Bagi mereka (para pedagang di sekitar makam Sunan Bonang), kedatangan para peziarah ke makam Sunan Bonang memberikan mereka keuntungan yang berlimpah dan menjadikan hal tersebut sebagai ladang penghasilan mereka. persepsi mereka terhadap para peziarah yang datang adalah sebagai kantong uang yang siap untuk mengeluarkan uang mereka demi barang-barang unik yang ada di sekitar makam Sunan Bonang. Seperti yang dituturkan oleh Abid (32), salah sorang pedagang barang-barang Islam di sekitar makam Sunan Bonang:
”nek aku yo tambah seneng yen akeh sing teko makam Sunan Bonang, tambah akeh sing tuku. Ne pas rame asile sak dino iso sigawe mangan seminggu, nek pas sepi koyok ngene iki paling yo iso digawe mangan cuman dino iki thok. Ra peduli karepe teko iku apane ngalap berkah utowo bener-bener ndungo” ”kalau saya tambah senang bila yang berziarah ke makam banyak, jadi banyak yang membeli barang saya. Kalau lagi musim ramai, hasil berdagang sehari bisa untuk makan seminggu, tapi kalau sedang sepi, mungkin Cuma bisa untuk makan satu hari ini saja. Saya tidak peduli dengan niat para peziarah yang datang, sekedar mau memohon permintaan atau berdoa”

Para pedagang bisa saja menaikkan harga dagangan mereka 200% saat musim ramai seperti pada saat haul Sunan Bonang atau pada saat malam satu suro saat sedekah bumi berlangsung. Seperti misal harga untuk sebotol air mineral kemasan 1,5% yang harga biasanya berkisar antara Rp. 1500 - Rp 2000 menjadi Rp. 5000,-. Jadi pada intinya sudut pandang masyarakat lokal yang diwakili oleh para pedagang di sekitar makam Sunan Bonang menganggap bahwa para peziarah merupakan sumber pendapatan bagi mereka karena sebagian dari

36

Folklore

mereka murni menggantungkan hidupnya dari berjualan di sekita area Sunan Bonang. Mereka tidak peduli apa motif atau maksud kedatangan para peziarah datang ke makam Sunan Bonang, bagi mereka yang pasti adalah kedatangan para peziarah salalu menjadi yang terbaik demi kelancara penghidupan mereka. Persepsi ekonomis juga datang dari masyarakat non-pedagang yang berpendapat bahwa semakin banyak peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang, maka semakin bertambah pula PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Tuban. Seperti kita ketahui bersama bahwa PAD juga digunakan untuk pembangunan masyarakat dan lingkungan. Keterangan ini, penulis peroleh dari salah seorang informan, Sukasto (47):
”lha nek katah ingkang dateng ting makam Sunan Bonang, mestine pendapatan daerah lak bertambah toh mas, nek ngoten lak pembangunan tambah rejo, rakyate makmur” ”kalau banyak yang datang ke makam Sunan Bonang, pastinya pendapatan daerah bertambah banyak khan mas, kalau begitu pembangunan tambah maju, rakyat juga tambah makmur”.

Para penduduk tidak merasa terganggu dengan kedatangan para peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang, namun terkadang lalu lintas di sekitar makam Sunan Bonang (yang kebetulan adalah tepat di jantung kota) kacau karena banyak pengemudi becak yang melanggar aturan dan banyak peziarah yang memenuhi jalan raya.

37

Folklore

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Penelitian penulis kali ini berhasil menelaah beberapa persepsi masyarakat lokal mengenai peziarah makam Sunan Bonang yang datang setiap hari. Kebanyakan dari informan yang penulis wawancarai memang berpendapat bahwa sebagian besar peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang mempunyai hajat tertentu yang ingin dikabulkan. Makam Sunan Bonang memang banyak dijadikan sebagai media meminta permohonan untuk dikabulkan, hal ini berkiatan dengan konsep religi masyarakat jawa pada umumnya seperti yang penulis ketahui pada saat melakukan wawancara dengan salah seorang informan. Konsep tersebut mereka kenal dengan nama sukmo kawekas, konsep tersebut menjelaskan bahwa Konsep tersebut akhirnya banyak diaplikasikan oleh masyarakat dengan memohon dan berdoa pada roh-roh orang yang dulunya dianggap sakti mandraguna dan mempunyai kharisma luar biasa. Mereka beranggapan bahwa doa dan keinginan mereka cepat tersampai bila disampaikan pada roh tokoh tersebut dan menyampaikannya pada Tuhan. Roh tokoh sakti dianggap bisa menjadi mediator dalam penyampaian doa dan keinginan kepada Tuhan. Sunan Bonang dianggap masyarakat sebagai seorang tokoh sakti mandraguna dan menjadi pemimpin berkharisma selama hidupnya di

38

Folklore

Kabupaten Tuban, rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan keinginan bagi siapapun yang memohon dan menghargai peniggalannya. Faktor kedua adalah Sunan Bonang tetap diakui dan dihargai karena jasajasanya membuka lahan baru bagi masyarakat dan menyebarkan agama Islam di Kabupaten Tuban. Sunan Bonang tidak hanya menyebarkan Islam saja, namun juga ikut menata, memimpin serta menjaga desanya dari gangguan pihak asing. Persepsi lain datang dari masyarakat lokal yang Cenderung memilki jiwa oportunistik, dalam persepsi mereka para peziarah adalah pohon uang yang siap dipetik buahnya. Mereka memanfaatkan lokasi makam Sunan Bonang untuk berdagang macam-macam barang antara lain buah tangan khas Tuban, barang-barang keislaman, makanan dan minuman.

V.2 Saran Dari pengamatan penulis di lapangan, makam Sunan bonang semakin kotor dari tahun ke tahun (karena penulis merupakan warga asli Kabupaten Tuban). Penulis berharap agar pemerintah daerah Kabupaten Tuban peka terhadap permasalahan lingkungan di sekitar makam Sunan Bonang, karena makam Sunan Bonang adalah salah satu ikon Kabupaten Tuban dan dikunjungi oleh para peziarah yang banyak datang dari luar kota.

39

Folklore

Selain permasalahan tersebut, terdapat juga permasalahan lain yang datang dari bidang politik. Pada tahun 2005, permasalahan datang dari perseteruan antara yayasan Sunan Bonang yang selama ini mengelola lokasi makam Sunan Bonang dengan Pemerintah Kabupaten Tuban, tentang hak pengelolaan makam. Sampai sekarang masalah ini masih menggantung da belim ditemukan solusinya. Penulis berharap bahwa diantara kedua belah pihak mampu menemukan win-win solution yang berdampak pada kalangsungan wisata religi makam Sunan Bonang ini.

40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful