APLIKSI MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI ALAT PENGHITUNG DENGAN TAMPILAN SEVEN SEGMENT PADA SISTEM PARKIR DI KOMPLEK KAMPUS

DIII FT.UNDIP Makalah ini disusun sebagai tugas matakuliah Sistem Kendali Diskrit

Nama : Okta Ervianto Nim : L0F007053 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2009 PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK ELEKTRO

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat, karunia dan hidayahNya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dengan baik. Dalam penyusunan Makalah ini, penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, Makalah ini tentunya tidak dapat terselesaikan dengan baik. Untuk itu dalam kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : Bp.. yang telah memberikan bimbingan selama ini kepada kami. 1. Kepada seluruh pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung kepada penulis sampai selesainya pembuatan Makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih banyak kekurangannya sehingga kami mengharapkan saran maupun kritik demi sempurnanya Makalah ini.

Semarang, Desember 2009

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Dewasa ini kebutuhan manusia dalam bidang keamanan meningkat tajam, kebutuhan akan tenaga dan sistem konvensional dalam bidang keamanan telah mulai di tinggalkan karena sistem konvensional dirasakan lebih lambat dan tidak presisi. Menanggapi situasi kebutuhan manusia dewasa ini, perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang elektronika memegang peranan yang sangat penting untuk meringankan beban pekerjaan manusia dan juga untuk mengurangi resiko kesalahan-kesalahan yang kemungkinan dapat timbul oleh tenaga manusia. Sehingga sistem yang semula menggunakan sistem manual, berangsur- angsur berganti dengan sistem otomatisasi digital. Berdasarkan beberapa alasan tersebut diatas, maka penyusun mencoba merancang sebuah perangkat untuk menghitung jumlah kendaraan pada suatu sistem parkir, yang bermanfaat bagi manusia dan bekerja secara semi otomatis untuk di kerjakan dalam bidang keamanan yaitu Sistem Parkir. Dalam pembuata perangkat penghitung kendaraan ini digunakan suatu mikrokontroler sebagai pusat control dalam sistem ini. Mikrokontroler adalah suatu sistem komputer yang dirancang untuk keperluan pengontrolan sistem.Mikrokontroler dilengkapi dengan CPU (Unit Pemrosesan Pusat) , memori dan perangkat perantara lainnya sehingga sering disebut mikrokomputer serpih tunggal. Tidak seperti sistem komputer, yang mampu menangani berbagai macam program aplikasi ( misalnya pengolah kata, pengolah angka dan lain sebagainya ), mikrokontroler hanya bisa digunakan untuk suatu aplikasi tertentu saja (hanya satu program saja yang bisa disimpan). IC AT89S51 adalah mikrokontroler dengan daya rendah, CMOS 8-bit daya kerja tinggi dengan 4K byte In System Programmable Flash Memory. AT89S51 dibuat mengguanakan nonvolatile teknologi memori kepadatan tinggi milik Atmel dan dapat digabungkan dengan set instruksi dan pin out standar pabrik 80C51. Flash di dalam chip melewatkan program memori untuk dapat diprogram ulang di dalam sistem atau oleh suatu pemrograman memori nonvolatile konvensional. Pada AT89S51 tersedia beberapa kelengkapan standar yaitu : flash 4 Kbyte, RAM 128 byte, 32 jalur I/O, 2 pewaktu/ penghitung 16 bit, 5 penyelaan (baris arsitektur interupsi) 2 tingkat, pintu serial 2 arah, oscillator satu serpih, dan rangkaian detak. AT89S51 juga didesain dengan logika statistik untuk operasi turun ke frekuensi nol dan mendukung dua software dengan model daya yang dapat dipilih. Model Idlle (daya kerja rendah), menghentikan CPU saat melewatkan RAM, pewaktu/ couter, serial port, dan sistem interupsi kepada pemfungsian

kendali. Model daya menurun menyimpan kadar RAM tetapi mendinginkan oscillator, menonaktifkan fungsi chip yang lain sampai interupsi hardware. Dengan aplikasi mikrokontroler tersebut maka alat penghitung kendaraan dapat dijalankan. Kemudian proses penghitungan akan ditampilkan melalui Seven segment dan print out. Seven segment kami pilih sebagai tamilan dengan alasan barang tersebut cukup elegan dan bisa dilihat oleh pengguna parkir lainnya. Selain menggunkan seven segment kami juga memakai print out sebagai tampilan, dengan pertimbangan print out sebagai tampilan, dengan pertimbangan print out merupakan suatu bukti tertulis (nyata) dalam suatu penghitungan pada sistem ini. eksternal selanjutanya atau reset

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Mikrokontroler AT89S51

Mikrokontroler adalah suatu mikoprsesor yang sudah dilengkapi dengan perangkat masukan/keluaran (I/O) dan periferal lainnya yang terintegrasi di dalam sebuah singgle chip yang di rancang untuk keperluan pengendalian sebuah sistem.Teknologi yang sekaranga sedang berkembang menyebabkan mikrokontroler mwmpunyai jenis yang beragam. Salah satu diantaranya adalah mikrokontroler keluarga MCS 51, terdiri dari AT89C51, AT89C52, AT89C55, AT89S51, AT89S53, AT89S8252, AT89C1051, AT89C2051, dan sebagainya. AT89S51 adalah mikrokontroler CMOS 8 dengan 4 Kbyte ROM yang bertipe flash yang dapat di program dan dihapus dihapus dengan cepat dengan tegangan rendah tanpa dibutuhkan sinar ultraviolet untuk menghapusnya. Kombinasi CPU 8 bit dan memori flash membuat AT89S51 dapat dioperasikan secara serpih tunggal (singgel chip) ataupun dengan perluasan 4 buah jalur masukan / keluaran 8 bit. Mirokontroler Atmel seri AT89S51 ini merupakan generasi terbaru dari produk terbaru dari produk sebelumnya yaitu AT898C51, yang mengalami penyempurnaan untuk mempermudah dalam meolakukan pengisian program ke dalam mikrokontroler. Dengan menggunakan system ISP (In- System Programing), maka pengisian program dapat dilakukan secara On The Fly yaitu pengisian program secara langsung pada mikrokontroler yang sedang terpasang pada rangkaian aplikasi. 2.1.1 Fasilitas Mikrokontroler AT89S51 Beberapa fasilitas yang dimiliki mikrokontroler AT89S51 adalah sebagai berikut : 1. Memiliki memori system terprogram (ISP) 4 KByete berjenis flash 2. Terdapat memori flash yang terintegrasi dalam system 3. Jangkauan operasi tegangan antara 4.0 Volt sampai 5.5 Volt

4.Beroperasi statis penuh pada frekuensi 0 sampai 33 MHz
5. Terdapat tiga kunci Memori program 6. Terdapat 128 x 8 bit RAM internal 7. Terdapat 32 Penyemat masukan /keluaran (I/O) yang dapat di program 8. Memiliki dua boleh pewaktu 16 bit timer/conter dan 6 buah sumber penyelaan (interupsi) 9. Daya rendah saat mode menganggur (idle) dan pengaman dari tegangan jatuh ( power Down Mode). 2.1..2 Konfigurasi Mikrokontroler Konfigurasi penyemat mikrokontroler AT89S51 dapat diperlihatkan pada gambar 2-2 :

Fungsi masing-masing penyemat secara rinci adalah sebagai berikut:

1.Penyemat 1-8 (port 1) merupakan port dua arah masukan/ keluaran 8 bit dengan pullup dalam. Tiap penyemat pada port 1 dapat mengendalikan 4 masukan TTL. Bila logika 1 dikirim ke penyemat port 1, maka dapat digunakan sebagai masukan dengan tahapan pull-up dalam. Pada mode program port 1 digunakan sebagai alamjat byte rendah . 2. Penyemat 9 (reset) merupakan masukan reset aktif tinggi. Pulsa transisi dari rendah ketinggi akan mereset mikrokontroler. 3. Penyemat 10-17 (penyemat 3) merupakan penyemat paralel 8 bit untuk keperluan masukan/ keluaran namun mempunyai beberapa fungsi pengganti. Fungsi-fungsi pengganti tersebut diuraikan dalam Table 2-1

Tabel 2-1 Fungsi Khusus Pada port 3. Penyemat Port P3.0 P3.1 P3.2 P3.3 P3.4 P3.5 P3.6 P3.7 Fungsi Pengganti RXD (Receiver Data): Penyemat penerima data seri TXD ( Transmit Data): Penyemat pengirim data seri INTO (Interupt 0): Penyelaan luar no.0 INTI (Interupt 1): Penyelaan luar no 1 T0 ( Timer 0): Masukan luar waktu 0 T1 (Timer 1): Masukan luar pewaktu 1 WR (Write): Tulis memori data luar RD (Read): Baca memori data luar

4. Penyemat 18 (XTAL2) merupakan penyemat keluaran dari amplifier osilator internal dengan reverensi frekwensi dari Kristal. 5. Penyemat 19 (XTALI) merupakan masuakan ke amplifier osilator internal atau dapat dipakai untuk sumber osilator dari luar 6. Penyemat 20 (GND) merupakan hubungan untuk jalur 0 atau pentanahan. 7. Penyemat 21-28 (port 2) merupakan penyemat paralel 8 bit dua arah penyemat ini juga menyalurkan byte alamat tinggi pada saat melakuakan akses memori luar. 8. Penyemat 29 (PSEN = Program Store Enable) merupakan sinyal pengendali yang memperbolehkan program memori luar masuk ke dalam jalur data selama pemberian atau pemberian instruksi. 9. Penyemat 29 (Penyemat 29 (PSEN = Program Store Enable) merupakan sinyal pengendali yang memperbolehkan program meori masuk ke dalam jalur data selama pemberian atau pemberian instruksi. 10. Penyemat 30 (ALE/PROG = Address Latch Enable) berfungsi untuk menahan alamat memori alamat selama pelaksanaan instruksi. Penyemat ALE juga dipakai untuk pulsa program selama selama proses pemrograman memori flash

11.Penyemat

31 (EA/Vpp = External Acces Enable) digunakan untuk memilih

pelaksanaan program. Bila penyemat ini diberi logika rendah mikrokontroller akan melaksanakan seluruh instruksi dari memori program luar, sebalikanya jika diberi logika tinggi maka mikrokontroller akan melaksanakan program pada memori dalam. 12. Penyemat 32-39 (Penyemat 0) merupakan penyemat paralel 8 bit dua arah dengan drain terbuka. Jika melakukan pembacaan atau penulisan memori luar maka akan memulti pleks byte rendah alamat memorid dengan data. 13. Penyemat 40 (Vcc) merupakan jalur catu daya mikrokontroler sebesar 5 Volt. 2.1.3. Organisasi Memori Mikrokontroler AT89S51 memiliki ruang alamat memori program dan data yang terpisah. Pemisahan memori program dan memori data memungkinkan memori data dapat dijangkau dengan menggunakan alamat 8 bit dimana akan lebih cepat disimpan dan dimanipulasi dengan CPU 8 bit. Meskipun demikian pengalamatan memori data 8 bit dapat dijangkau dengan DPRT.

Memori program hanya dapat dibaca dan dapat mencapai 64 Kbyte yang dapat dialamati secara langsung.Sinyal pembaca untuk pembacaan memori program luar yaitu menggunakan Program Store Enable (PSEN). Untuk memori data menempati ruang alamat yang terpisah dari memori program dengan kapasitas mencapai 64 Kbyte. Untuk menjangkau memori data luar CPU membangkitkan sinyal baca (RD) dan tulis (WR) selama berhubungan dengan memori data luar. Memori program luar dan memori data luar dapat digabungkan dengan memberikan sinyal (RD) dan (WR) ke masukan AND dan keluarannya digunakan sebagai sinyal strobe pembacaan memori program/data luar.

Memori program dalam hanya dapat dibaca dan dapat mencapai 4 Kbyte dengan jenis flash ISP (In-Sistem Programing) yang dapat diprogram. Kapasitas memori bagian dalam AT89S51 sebanyak 128 byte, terdiri dari memori (RAM) dan register fungsi khusus (Special Fungtion Register/SFR). 2.1.4. Memori Program AT89S51 memiliki memori program dalam 4 Kbyte dengan alamat 0000H s/d FFFFH yang dapat di aktifkan jika EA dihubungkan ke Vcc, alamat selebihnya secara otomatis di baca dari luar, bagian terendah memori program dipakai untuk vektor penyelesaian seperti Gambar 2.4.

Batas ruang yang diberikan dari masing-masing arah penyelaan sebesar 8 byte. Untuk mengakses memori program luar dipakai PSEN sedangkan pada pengaksesan memori dalam tidak digunakan. 16 buah I/0(P0 an P2) dipakai sebagai bus selama berhubungan dengan memori program luar. P0 untuk bus data/alamat byte rendah secara bergantian (multipleks), awalnya mengeluarkan byte rendah dari program counter sebagai alamat kemudian menjadi ambang sambil menunggu byte kode dari memori program. Saat byte rendah sudah siap di PO sinyal ALE akan memindahkan kode byte ke penahan alamat (address latch). Pada saat yang sama P2 mengeluarkan Program Counter byte

tinggi, kemudian PSEN mengirim sinyal sehingga mikro membaca kode byte. Alamat program memori yang dikeluarkan selalu 16 byte meskipun jumlah memori program yang digunakan kurang dari 64Kbyte.

2.1.5. Memori Data Memori data mikrokontroler AT89S51 memungkinkan memori data untuk diakses alamat 8 bit. Sekalipun demikian, alamat data memori 16 bit dapat dihasilkan melalui register DPTR (Data Pointer Register). Memori data terbagimenjadi dua, yaitu memori data dalam dan memori data luar. 2.1.6. Timer/ Couter Mikrokontroler penghitung. Apabila timer/conter diaktifkan pada frekuensi keja 12 MHz, timer/counter akan melakukan penghitungan waktu sekali setiap 1 µ-detik secara independen. Satu sirklus penghitung berpadanan dengan satu sirklus pelaksanaan instruksi. Misal suatu urutan instruksi telah selesai dalam waktu 5µ-detik. Jika periode waktu tertentu telah dilampaui, timer/counter segera mengginterupsi mikrokontroler untuk memberitahukan bahwa penghitungan periode waktu telah selesai dilaksanakan. 2.1.7. Pewaktu/ Kristal Fasilitas on-chip oscilator yang dimiliki AT89S51 digunakan sebagai sumber detak bagi CPU. Untuk menggunkan on-chip oscilator, sebuah quarst kristal atau resonator keramik dihubungkan ke pin XTAL1 dan XTAL2, serta menghubungkan kapasitor ke ground seperti terlihat pada gambar 2-6a. Jika dikehendaki menggunakan esternal oscilator maka pin XTAL2 dibiarkan terbuka (NC = no conection) dan sumber external osclator dihubungkan ke pin XTAL1. AT89S51 memiliki dua buah timer/counter 16-bit, yaitu Timer/Counter 0 dan Timer/counter 1 yang dapat dioperasikan sebagai waktu atau

2.1.8 Metode Pemrograman

Mikrokontroler AT89S51 mampu deprogram pada mode hight voltage (12 V) melalui mode parallel programing, adapun mode low voltage (5V) melalui mode serial programing. Pemrograman Flash mode serial dapat di program menggunakan antar muka ISP serial dengan menghubungkan RST ke Vcc. Antarmuka ini terdiri dari SCK, MOSI sebagai masukan dan MISO sebagai keluaran. Setelah RST di set tinggi, interupt pengaktifan pemrograman perlu untuk dieksekusi sebelum operasi lain dapat dieksekusi. Frekuensi serial SCK maksimum kurang dari1/16 dari frekuensi kristal. Apabila dekat osilator 33MHz frekuensi SCK maksimum adalah 2 MHz. Pemrograman mode serial dapat di lihat pada gambar 2.7.

2.2. Bahasa Assembly Bahasa assembler adalah bahasa komputer yang kedudukannya di antara bahasa mesin dan bahasa level tinggi misalnya bahasa C atau Pascal. Bahasa asembler merupakan perangkat lunak yang mendjadi bagian dari sistem yang berupa program yang mengatur kerja dari mikrokontroler AT89S51 dan keseluruhan perangkat keras yang dihubungkan dengan mikrokontroler AT89S51. 2.2.1 Format Bahasa Assembly Program sumber dalam bahasa assembly menganut prinsip 1 baris untuk satu perintah, setia baris perintah tersebut bisa terdiri atas beberapa bagian (field), yakni label, bagian instruksi, bagian operand yang bisa lebih dari satu dan terakhir bagian komentar. 2.2.2. Ekspresin Assembler Keluarga mikrokontroler MCC51 memiliki banyak sekali instruksi yang dapat dikelompokkan menjadi bebrpa bagian yang meliputi instruksi 1 byte sampai 4 byte. 1. Instruksi Transfer Data 2. Instruksi Aritmatika 3. Instruksi Logika dan Manipulasi Bit 4. Instruksi Percabangan 5. Instruksi stack, I/0, dan control 2.2.3 Assembly Directive Asembler Directive merupakan perintah-perintah yang hanya dikenali oleh program pengasdembly (assembler). Asembler directive berfungsi untuk memudahkan pengembangan program dalam bahasa assembly, sehingga proses assembl lebih mudah dan lebih cepat. Beberapa assembler directive antara lain: 1. EQU(Equate)

2. ORG(Origine) 3. DB(Define Byte) 4. DW (Define Word) 5. END 2.2.4. Mode Pengalamatan Data atau operasi bisa berada di tempat yang berbeda sehingga ada beberapa cara untu mengakses data atau operasi tersebut. Proses mengakses data/operan tersebut dinamakan mode pengalamatan (addressing mode), yang dibedakan menjadi lima mode, yaitu: 1. Mode pengalamatan segera (immediate addressing mode) 2. Mode pengalamatan langsung (direct addressing mode) 3. Mode pengalamatan tidak langsung (indirect addressing mode)

4.Mode pengalamatan register (register addressing mode)
5. Mode pengalamatan kode tidak langsung (code indirect addressing mode) 2.3. Seven Segment Pada dasarnya seven segmen adalah tujuh buah LED yang disusun sehingga dapat menampilkan suatu bentuk karakter tertentu misalnya suatu huruf atau angka. Untuk mempermudah penggunaan seven segmen, maka ketujuh ruas dari peraga tersebut diberi label a sampai g sehingga dapat dibedakan antara posisi ruas yang satu dengan ruas yang lain. Identifikasi ruas-ruas pada seven segmen ditunjukkan pada gambar 2.8 sebagai berkut. Masing-masing ruas atau segmen (a sampai g ) pada seven segmen berisi satu buah LED yang akan memancarkan cahaya jika diberi tegangan. Menurut jenisnya seven segmen dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu seven segmen common anoda dan seven segmen common katoda.

2.3.1. Seven Segmen Common Anoda Seven Segmen Common Anoda adalah peraga seven segmen dimana semua anoda digabungkan satu sama lainnya dan dikeluarkan sebagai hubungan tunggal (common). Masukan pada sebelah kiri menjadi ruas-ruas dari penapil. Gambar 2.9 merupakan gambar rangkaian peraga seven segmen common anoda.

Tabel 2.3 Masukkan Seven Segmen Common Anoda. Tampilan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 a 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 b 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 c 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 d 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 e 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 f 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 g 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0

2.3.2. Seven Segmen Common Katoda Semua katoda pada seven segmen common katoda digabungkan satu sama lain dan keluaran pada sisi kanan sebagai hubungan tunggal (pemakaian bersama). Masukan sisi kiri sebagai ruas-ruas dari penampilan dan kanan sebagai katoda.

Tabel 2.4 Masukan Seven Segmen Common Katoda. Tampilan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 a 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 c 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 d 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 e 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 f 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 g 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1

2.4. Transistor Pada prinsipnya transistor merupakan sambungan dari dua buah dioda, dioda yang satu disebut dengan dioda kolektor dan dioda yang lainnya disebut dioda emitor. Berdasarkan sambungan dari dua buah dioda tersebut, maka transistor dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu jenis PNP dan jenis NPN. Transistor PNP dan NPN mempunyai sifat yang saling berkebalikan walaupun sebenarnya prinsip kerja kedua jenis transistor tersebut adalah sama.Untuk transistor PNP diperlukan arus dan tegangan yang berlwanan dengan transistor NPN. Jika pada transistor NPN kolektornya lebih positif daripada emitor, maka transistor PNP emitornya lebih positif dari pada kaki kolektornya. Gambar 2.11 merupakan simbol dan konfigurasi sambungan(junction) dari transistor jenis NPN dan PNP.

2.5. Transformator Transformator merupaka komponen yang dapat digunakan untuk memindah daya yang diikuti oleh perubahan arus dan tegangan. Transformator terdiri dari dua buah lilitan yaitu lilitan primer (N1) dan lilitan sekunder(N2) yang dililitkan pada suatu inti yang saling terisolasi atau terpisah antara satu sama lain. Besarnya tegangan pada lilitan sekunder dan lilitan primer ini di tentukan oleh jumlah lilitan yang terdapat pada bagian primer maupun sekundernya. Simbol dari transformator dapat dlihat pada gambar 2.12.

2.6 Catu Daya DC Untuk dapat menggerakkan atau mengaktifkan suatu rangkaian DC diperlukan suatu sumber daya yang dapat merubah tegangan AC menjadi DC, yaitu catu daya DC. Prinsip kerja utama dari suatu catu daya terlihat pada gambar 2.13 dibawah ini.

Komponen utama dari rangkaian catu dya adalah transformator penurun tegangan (step down), dioda penyearah, kapasitor penapis (filter), dan peregulasi tegangan (regulator).

2.6.1. Penyearah Penyearah dibagi dua yaitu penyearah setengah gelombang dan penyearah gelombang penuh yaitu: 1.6.1.1. Penyeara Setengah Gelombang Penyearah setengah gelombang merupaankan suatu rangkaian yang mengubah tegangan AC menjadi DC berdenyut. Pada setengah sirklus positif tegangan jala-jala, dioda di bias forward. Ada setengah sirklus negatif, dibias reverse. Inilah sebabnya mengapa tegangan pada RL merupakan sinyal setengah gelombang.

2.6.1.2. Penyearah Gelombang Penuh Penyearah gelombang penuh ini, selama positif tegangan sekunder, dianoda sebelah atas di bias forward dan dioda sebelum bawah di bias reserve. Oleh sebab itu, arus melalui dioda sebelah atas, rensistor beban setengah lilitan atas. Sedangkan selama setengah sirklus negatif, arus melalui dioda bawah, rensistor beban dan setengah lilitan bawah. Inilah sebabnya mengapa tegangan pada RL merupakan sinyal gelombang penuh.

Tegangan bolak balik yang telah di turunkn oleh transformator kemudian dilewatkan pada rangkaian penyearah. Fungsi penyearah adalah mengubah tegangan bolak-balik menjadi tegangan searah. 2.6.2. Regulasi Tegangan Rangkaian terpadu (Intergrated Circuit) jenis IC78XX adalah rangkaian terpadu regulator yang menghasilkan tegangan konstan sebesar XX Volt. Tegangan yang akan dimasukkan pada peregulasi melalui terminal masukan. Rangkaian dalam dari peregulasi tegangan diperlihatkan dalam gambar 2.16

Rangkaian terpadu peregulasi seri 78XX adalah peregulasi dengan tiga terminal. Setiap rangkaian terpadu peregulasi memiliki batas tegangan maksimal dan minimal pada tegangan masukan untuk menghasilkan keluaran yang sesuai dengan seri peregulasi tersebut. Sebagai contoh, jenis rangkaian terpadu peregulasi 7812 menghasilkan tegangan keluaran sebesar 12 Volt, dengan tegangan masukan di luar batas tegangan maksimal dan minimal atau di luar range tegangan masukkan, rangkaian peregulasi tidak akan bekerja. Berikut ini adalah tabel batas tegangan maksimal dan minimal (range) rangkaian terpadu peregulasi seri 78XX. Tabel 2.5 Batas Tegangan Maksimal dan Minimal (range) Rangkaian Terpadu Peregulasi Seri 78XX. Tipe 7805 7806 7808 7810 7812 7815 7818 7824 V Out 5 6 8 10 12 15 18 24 78XXC 1 1 1 1 1 1 1 1 I Out 78LXX 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 V in 78MXX 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 Min 7,5 8,6 10,6 12,7 14,8 18 21 27,3 Max 20 21 23 25 27 30 33 38 I in 1 1 1 1 1 1 1 1

BAB III PERANCANGAN APLIKASI MIKROKONTROLER AT89S51 SEBAGAI ALAT PENGHITUNG DENGAN TAMPILAN SEVEN SEGMEN 3.1 Diagarm Blok Perancangan Sistem

Gambar 3.1 Diagram blok sistem menggunakan mikrokontoler AT89S51. 3.2. Cara Kerja Rangkaian Penghitung Ketika tombol sw up ditekan maka inputan mikrokontroler pada port P#.1 mendapat logic high kemudian akan di cacah atau dihitung dengan pada sistem mirokontroler. Setelah di Proses oleh mikrokontroler AT89S51 kemudian mikrokontroer tersebut mengeluarkan out put pada port 1. Output darimikrokontroler ini dibagi menjadi dua, sebuah out put akan disalurkan ke ic decoder 74248 dan sebuah output lagi akan disalurkan ke driver seven segment. Rangkaian sistem penghitung dapat di lihat pada gambar 3.2 sebagai berikut :

Gambar 3.2 Rangkaian sistem penghitung. Output mikrokontroler yang akan di hubungkan ke IC dekoder 74248 berupa data biner. Sedangkan untuk inputan yang dibutuhkan oleh seven segment adalah berupa data desimal. Sehingga output mikrokontroler yang berupa data biner perlu di konvert menjadi dat desimal supaya seven segmen dapat membaca data input. Dengan demikian fungsi dari IC 74248 adalah sebagai BCD to seven segmen decoder atau dapat dijelaskan lagi untuk mengubah data biner menjadi data desimal. Sedangkan output yang di hubungkan ke driver seven segmen berupa logic 1 atau logic 0. Untuk mengatasi kesalahan pembacaan data oleh transistor driver, maka sebelum data dihubungkan ke driver seven segmen terlebih dahulu masuk ke ULN 2803 untuk menguatkan logic keluaran dari mikrokontroler, karena transistor yang digunakan untuk driver seven

segmen mempunyai tegangan kerja yaitu 5 volt. Setelah dikuatkan oleh uln 2803 maka akan jelas mana inputan yang berlogic 1 atau 0, sehingga transistor TIP 31 akan bekerja bila mendapatkan logic 1. Prinsip kerja transistor ini adalah jika inputan atau pada kaki basis diberi logic 1 maka seolah-olah menswicth kolektor untuk terhubung dengan emitor. Dalam keadaan normal kaki eitor sudah di hubungkan dengan ground, dengan demikian jika kolektor dialiri ground yang kemudian dihubungkan dengan kutub katoda seven segmen. Dengan demikian seven segmen dapat menyala dan printer dapat mengeluarkan print out. Demikian juga jia tombol swicth down ditekan maka proses kerjanya sama dengan proses kerja pada saat tombol swicth up ditekan. Tetapi yang dibedakan adalah jika tombol swicth up di tekan, maka peghitungan akan bertambah dan menyimpan data pada memori mikrokontroler yang kemudian untuk proses print total dari pencacah yang dilakukan. Namun jika tombol swicth down maka pengitungan akan berkurang dan tidak menyimpan data pada memori mikrokontroler Sistem penghitung kendaraan bermotor ini dibuat meliputi rangkaian catu daya, rangkaian mikrokontroler, rangkaian bcd to 7 segmen decoder dan driver seven segment. Rangkaian mikrokontroler digunakan sebagai pengendali rangkaian driver seven segment. Sedangkan rangkaian bcd to 7 segment decoder dan driver seven segment digunakan untuk menampilkan hasil penghitungan kendaraan bermotor yang akan ditampilkan pada seven segment. Gambar 3.1 merupakan gambar diagram blok dari sistem penghitung yang masingmasing mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Catu daya 5 volt, digunakan untuk suplai tegangan pada rangkaian mikrokontroler dan rangkaian driver seven segment. 2. Rangkaian mikrokontroler digunakan untuk proses pencacah atau penghitung kemudian mengeluarkan output yang akan digunakan sebagai input decoder.

3.BCD To Segment Decoder 74248 digunakan untuk mentransfer dan menkoverter data
dari mikrokontroler supaya dapat ditam pilkan pada seven segment. 4. Driver Seven Segment yang terdiri dari rangkaian multipleksing dan rangkaian driver, digunakan untuk menampilkan angka hasil dari pencacah atau penghitung yang telah dikendalikan oleh mikrokontroler. 3.3 Rangkaian Catu Daya

Catu daya yang digunakan dalam proyek akhir ini mempunyai tegangan keluaran + 5 volt dan 0 volt (Ground). Rangkaian catu daya ini mendapatkan tegangan masukan tegangan bolak-balik sebesar 220 Volt dari jala-jala PLN. Transformator yang digunakan adalah transformator step down yang digunakan untuk mentransfer daya, sehingga setelah melewati transformator, tegangan jala-jala akan diturunkan. Tegangan yang masih berupa tegangan bolak balik tersebut diserahkan oleh rangkaian penyearah yang menggunakan dua buah dioda. Dari hasil penyearah masih terdapat tegangan bolak-baliknya (tegangan riak). Untuk mengurangi tegangan riak hasil dari penyearahan digunakan rangkaian penapis yaitu kapasitor. Semakin besar nilai kapasitor, semakin kecil tegangan riaknya. Untuk mendapatkan output yang diinginkan, digunakan IC regulator tegangan LM 7805 untuk tegangan 5 Volt pada keluaran dan IC tersebut dipasang transistor penguat arus TIP 3055 yang digunakan untuk memperkuat arus keluaran. Dioda pada laki-laki IC nomor 2 dihubungkan dengan ground untuk memberkan kompensasi sebesar 0,7 Volt. Gambar 3.3 adalah rangkaian catu daya yang digunakan salam pembuatan tugas akhir ini.

Gamabar 3.3 Rangkaian catu daya yang digunakan pada sistem penghitung. 3.4. Rangakaian Mikrokontroler Rangkaian mikrokontroler yang dipakai pada sistem penghitung ini terdiri dari sebuah sistem minimum mikrokontroler AT89S51. Sistem minimum mikrokontroler AT89S51 terdiri atas sebuah kristal 11,059 MHz dan dua buah kondensator 33pF untuk mendukung rangkaian oscilator internal. Sistem minimum ini juga dilengkapi rangkaian power on reset supaya terjadi reset terdiri atas satu buah rensistor 10kΩ dan sebuah kondensator elektrolit 10µF/16V. Gambar 3.4 merupakan rangkaian mikrokontroler. Port 3 dalam mikrokontroler AT89S51 ini berfungsi sebagai input rangkaian mikrokontroler, dalam rangkaian ini inputan berupa tombol tekan. Tombol sw up untuk menambah dan sw down untuk mengurang. Sedangkan Port 1 pada rangkaian ini sebagai keluaran mikrokontroler yang akan dihubungkan dengan rangkaian bcd to 7 segment ecoder 74248 dan driver seven segment.

Gambar 3.4 Rangkaian mikrokontroler 3.5. BCD TO 7 SEGMENT DECODER 74248 Dalam sistem pengitung semi otomatis ini menggunakan sebuah modul penampilan seven segment, untuk menampilkan angka hasil penghitungan yang dilakukan oleh mikrokontroler. Setiap penampilan seven segment memerlukan tujuh bit untuk dapat menampilkan sebuah karakter angka dan satu bit untuk tanda titik. Untuk dapat menampilakan data biner dari mikrokontroler ke sebuah penampilan seven segment, diperlukan sebuah IC BCD (Binary Coded Decimal Converter) yaitu sebuah decoder yang mengubah data biner menjadi kode desimal 0 hingga 9 dan heksadesimal A hingga F. Contoh dari IC BCD adalah tipe TTL 7448 atau 74248 yang keduanya memiliki konstruksi open analog sehingga hanya digunkan untuk seven segmen common katoda. Konfigurasi kaki-kaki dari decoder 74248 dapat dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5 Konfigurasi pin IC BCD Dekoder 74248

Gambar 3.6 Rangkaian BCD Dekoder 74248 Jika dilihat dari gambar 3.6 rangkaian bcd dekoder, komponen-komponen penting pada rangkaian ini adalah driver display IC 74LS48 (BCD to 7 segment) pencacah lain, seperti 4 bit binary counter yang bisa mencacah sampai 16, tetapi disini yang digunakan adalah pencacah 10 (modulus 10) karena yang hendak dibuat adalah alat pencacah bilangan desimal.

Agar mudah dimengerti kode biner ini diubah untuk men-dirve LED 7-segment dengan menggunakan komponen IC 74LS48. Dengan demikian, rangkaian ini dapat menampilkan angka desimal yang sesuai. Pada rangkaiana ini dipakai LED 7-segment Common katoda, dimana sebuah kutub katoda dari masing-masing LED segment-nya terhubng menjadi satu dan dihubungkan dengan ground. Sedangkan masing-masing kutub anoda dihubungkan dengan out put 74248 sesuai dengan fungsi masing-masing pin. 3.6 Driver seven segment Tampilan satu buah seven segment dengan dekoder BCD memerlukan 4 bit untuk menyalakan satu buah karakter, jika menggunkan tiga buah seven segmen maka diperlukan 12 bit. Hal tersebut dapat diatasi dengan metode multipleksing. Karena penampilan seven segment akan menyala secara bergantian sesuai dengan pengalaman yang dilakukan. Pengalaman dilakukan dengan cepat sehingga seolah-oleh menyala bersamaan. Kecepatan kedip harus di atas frame mata manusia (22Hz). Rangkaian multipleksing seven segment ditunjukkan pada gambar 3.7.

Gambar 3.7 rangkaian multipleksing penampilan seven segment Sebelum masuk ke driver seven segment, input logic yang dikirim oleh mikrokontroler terlebih dahulu masuk ke IC ULN 2803. Dimana fungsi dari ULN 2803 adalah menguatkan logicndari mikrokontroler menuju TR driver. Transistor TIP 31 yang bertipe NPN, jika pada basis diberi logika high maka transistor akan on dan mengakibatkan seven segment menyala. BAB IV PEMBUATAN BENDA KERJA Proses pembuatan benda kerja pada Tugas akhir ini lebih dulu dmulai dengan merinci alat dan bahan yang dibutuhkan, serta merinci proses kerja. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam proses pembuatan alat dan untuk meminimalisasi apabila ada kendalakendala yang timbul dalam pembuatan Tugas akhir ini, sehingga apabila terjadi kesalahan dapat diketahui dengan cepat. Proses pembuatan untuk Tugas akhir ini terdiri atas beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut adalah: 1. Pembuatan bagian elektronik 2. Pembuatan bagian mekanik

3. Pembuatan program Masing-masing bagian mempunyai tujuan yang sama yaitu agar ketiga bagian yang merupakan satu kesatuan sistem yang akan dibuat dapat saling merupakan satu kesatuan sistem yang akan dibuat dapat saling melengkapi satu sama lain, sehingga tercipta suatu sistem yang handal. 1.1 Pembuatan Bagian Elektronika 4.1.1. Alat dan Bahan Dalam Pembuatan Bagian Elektronika Pada proses pembuatan benda kerja dibutuhkan bahan-bahan dan alat kerja sebagai berikut : 4.1.1.1. Daftar Alat Dalam Pembuatan Bagian Elektronika Pada proses pembuatan benda kerja bagian elektronik dibutuhkan peralatan dan bahan-bahan untuk mendukung proses tersebut. Berikut ini daftar alat yang dibutuhkan dalam proses pembuatan benda kerja bagian elektronik. Tabel 4.1 Daftar alat dalam Pembuatan Bagian Elektronika No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Peralatan Alat tulis (Kertas milimeter, spidol, penggaris, penghapus, pensil) Bak Plastik Cutter (pisau pemotong) Kikir Instrumen Mata Bor Mesin Bor PCB Multimeter Digital Obeng (+,-) Penyedot Timah Paku (Penitik PCB) Palu Besi Solder Tang Jepit Lem Tembak Spesifikasi Kenko A-300 Pipih dan bulat Ø0,8 mm danØ1 mm Kitani Mini Drill Heles Ux-838-TR 0,5 cm Goot GS100 ½ kg Goot,30W,220V Mini Glue Gun GM-160 Tabel di bawah ini menunjukakan bahan-bahan yang dipergunaka dalam proses pembuatan bagian elektronika. Tabel 4.2 Daftar Bahan Pembuatan Bagian Elektronik No 1 2 3 Bahan Papan Tembaga (PCB) Polos Larutan FeCl3 Tinner Spesifikasi Kupu-kupu Jumlah/Ukuran 40 cm X35 cm 100 gr 100 ml Jumlah 1set 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

4 5 6 7

Timah Solder Mur dan Baut Seven Segmen Komponen-komponen

Well smart Common Katoda -

2 rol 20 Buah 3 Buah Sesuai Kebutuhan

Setelah alat-alat dan bahan-bahan dalm pembuatan rangkaian elektronik telah disiapkan, maka langkah selanjutnya adalah pembuatan bagian elektronika yang tahaptahapnya adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan Rangkaian 2. Percobaan Sementara 3. Pembuatab PCB (Printed Circuit Broad) 4. Pemasangan Komponen 4.1.2. Perencanaan Rangkaian Perancangan rangkaian dilakukan untuk mendapatkan rangkaian yang sesuai dengan kebutuhan rancangan. Hal ini dilakukan dengan mencari data-data dan prinsip dasar serta karakteristik dari tiap-tiap komponen. Setelah itu komponen-komponen tersebut dibuat skema terlebih dahulu, setelah itu diimpllementasikan dalam sebuah rangkaian.

Gambar 4.1. Perencanaan rangkaian 4.1.3. Percobaan Sementara Dalam Tugas Akhir ini akan dibuat sebuah sistem yang tentunya membutuhkan rangkaian yang benar sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Untuk itu akan dilakukan percobaan dan penelitian agar didapatkan rangkaian sesuai yang diharapkan. Setelah skema dari rangkaian dibuat maka akan dilakukan percobaan terhadap rangkaian untuk mengetahui apakah rangkaian sudah bekerja sesuai yang diharapkan. Setelah skema dari rangkaian dibuat maka akan dilakukan percobaan terhadap rangkaian untuk mengetahui apakah rangkaian sudah bekerja sesuai dengan yang kita harapkan. Pembuatan dilakukan dengan menggunakan papan percobaan (protoboard) terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan tujuan apabila terjadi kesalahan dalam rangkaian tidak bekerja sesuai yang diharapkan, maka komponen akan mudah diganti. Setelah rangkaian bekerja sesuai dengan kebutuhan rangkaian, maka akan dilanjutkan dengan pembuatan pola PCB.

4.1.4. Pembuatan PCB (Printed Circuit Broad) Dalam proses pembuatan PCB dilakukan beberapa langkah. Langkah-langkah pembuatan PCB adalah sebagai berikut : 1. Proses Pembuatan Jalur PCB 2. Proses Pelarutan PCB 3. Proses Pengeboran PCB 4.1.4.1 Proses Pembuatan Jalur PCB Dalam pembuatan Jalur PCB ada beberapa langkah yaitu : a. Merancang jalur rangkaian menggunakan program Protel 98 . Pola hasil rancangan kemudian dicetak di kertas transparan dengan skala 1:1 Berikut gambar tampilan program Protel 98.

Gambar 4.2 Tampilan Pembuatan Jalur PCB power suplly

Gambar 4.3. Tampilan Pembuatan Jalur PCB mikrokontroler

Gambar 4.4 Tampilan Pembuatan Jalur PCB driver seven segment

Gambar 4.5. Tampilan Pembuatan Jalur PCB Relay Driver Dengan Transistor

Gambar 4.6 Tampilan Pembuatan Jalur PCB SSR

b. Memotong papan PCB sesuai dengan kebutuhan rancangan jalur PCB dan membersihkan permukaan dari lemak dan kotoran. c. Memindahkan jalur PCB yang telah dicetak pada kertas transparan ke permukaan PCB dengan menggunakan teknik sablon. 4.1..4.2. Proses Pelarutan PCB Tahap yang harus dilakukan dalam proses pelarutan adalah sebagai berikut: a. Melarutkan papan PCB yang telah disablon dengan larutan feeri-cloridha (FeCl3). Pelarutan ini dilakukan untuk menghilangkan lapisan tembaga yang tidak diperlukan dengan cara menggoyang-goyangkan papan PCB yang sedang dilarutkan serta terkena sinar matahari langsung. Untuk mempercepat proses pelarutan maka digunakan air hangat dalam proses pelarutan dengan menggunakan larutan ferri-cloride (FeCl3) yang mempunyai konsentrasi yang pekat. b. Setelah lapisan tembaga yang tidak diperlukan terlarut, maka langkah selanjutnya adalah menghilangkan sablon dari rangkaian dengan menggunakan tinner. Kemudian mencucinya dengan air sabun dan dikeringkan. Setelah ini, PCB telah jadi dan siap untu digunakan. 4.1.4.3. Proses Pengorbanan PCB Titik-titik untuk lubang kaki komponen pada PCB ditandai dengan menggunakan penitik PCB agar dalam pengeboran akan lebih mudah. Untuk pengeboran dengan diameter 0,8 mm. Untuk lobang kaki komponen yang lebih besar menggunakan mata bor dengan diameter 1 mm atau meyesuaikan dengan besarnya kaki komponen. Sedangkan untuk obang tepi dudukan (spacer) menggunakan mata bor dengan diameter 3 mm. 4.1.4.4. Pemasangan Komponen Pada PCB Sebelum komponen dipasang pada papan PCB, maka terlebih dahulu perlu dilakukan pembersihan terhadap kaki-kaki komponen agar tidak ada kotoran yang menempel. Kotoran yang menempel dapat menunggu proses penyolderan. Jika yang bersih dan mengkilap. Adapun urutan proses penyolderan adalah sebagai berikut: a. Memeriksa hubungan antara jalur PCB untuk memastikan bahwa semua jalur terhubung dengan baik, tidak ada jalur yang terputus ataupun terhubung singkat. b. Memasang dan menyolder komponen pasif, dimulai dengan komponen yang lebih tahan panas seperti tahanan. Pemasangan komponen harus sesuai dengan posisinya masing-masing.

c. Memasang dan menyolder komponen-komponen aktif, dimulai dengan komponen
yang lebih tahan panas seperti dioda, kemudian komponen yang kurang tahan panas

seperti transistor dan IC. Perlu diperhatikan dalam proses pemasangan komponen kaki-kakinya tidak boleh tertukar atau salah posisi. d. Memasang dan menyolder soket untuk komponen-komponen yang memerlukannya, seperti rangkaian terpadu (IC). e. Memasang terminal pada input atau output komponen yang memrlukannya sehingga akan memudahkan dalam penyambungan kabel antar rangkaian. f. Memotong panjangn laki-laki komponen yang tersisa dan membersihkan sisa lemak solder dengan tiner untuk mengurangi proses korosi pada jalur PCB.

Gambar 4.7. Contoh pemasangan komponen dan hasil penyolderan 1.1. Pembuatan Bagian Mekanik Bendan kerja mekanik adalah berupa dudukan alat penggerak pintu portal, yang terdiri dari motor dan reducer, serta dua buah box atau otak rangkaian yaitu satu kotak yang digunakan untuk menempatkan rangkaian power suply, mikrokontroler, driver relay serata rangkaian driver motor dan satu kotak lagi yang digunakan untuk tempat driver 7 segment dan tiga buah sevent segment. Penempatan dari keseluruhannya mempertimbangkan segi kemudhan pemakaian, keamanan serta keindahan. Dalam pembuatan benda mekanik ini membutuhkan beberapa bahan dan peralatan untuk mendukung prosses pembuatan. Berikut ini daftar alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan benda kerja adalah Tabel 4.3 Daftar Alat Pembuatan Benda Mekanik No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Peralatan Alat tulis (Pensil, Penghapus, Spidol) Palu Kunci Pas Tang Jepit Gergaji Mesn Las Amplas Mesin Bor Mata Bor Obeng (+/-) Spesifikasi STAEDLER Silver Swallow Hitachi Ø 8 mm dan Ø 10mm 0,5 cm Jumlah/Ukuran 1 Set 1 Buah 1 Set 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 2 Buah

Tabel 4.4 Daftar Bahan Pembuatan Bagian Mekanik

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Nama Bahan Kotak Radio FM Mur/Baut Triplek Cat Pylox Besi siku Plat besi 1mm Motor 1 phase, ¾ hP Reducer 1:60 POLLY 8” dan 3” Fillow block 20 mm As Baja 20 mm Gear 3 ” dan 12” Rantai Vanbelt Klem Besi Cat Besi Tinner

Spesifikasi RJ London JY 2B-4 WPA 50 (RS 60) RS 60 Mitsubhisi Avian Kupu-kupu

Jumlah/Ukuran 1 buah 8 buah 25 cm X 60 cm 1 buah 5m 70 cm X 50 cm 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 96 cm 12 buah 1 kaleng 1 kaleng

4.2.1. Perencanaan Benda Kerja Mekanik Pembuatan benda kerja mekani ini Terdiri dari 3 bagian, perencanaan dudukan Motor dan Reducer, perencanaan kotak rangkaian yang digunakan untuk menempatkan keseluruh rangkaian dan perencanaan seven segment yang digunakan untuk menempatkan driver segment dan tiga buah seven segment. 4.2.1.1. Perencanaan Dudukan Motor dan Reducer Perencanaan dudukan Motor dan Reducer dilakukan dengan memperhatikan kemudahan dalam mengoperasiannya. Perencanaan dilakukan

Gambar 4.8 Desain Dudukan Motor dan Reducer 4.2.1.2. Perencanaan Kotak Rangkaian Perencanaan kotak rangkaian disini adalah sebuah kotak yang digunakan untuk menempatkan beberapa rangkaian kecil, yaitu rangkaian power suply, mikrokontroler, driver relay serta rangkaian driver motor. Untuk memudahkan dalam pembuatan, maka dalam pembuatan kotak rangkaian ini, menggunakan kotak Radio FM yang telah di modifikasi sedemikian rupa dengan menambahkan beberapa variasi.

Gambar 4.9. Desain tampilan box rangkaian tampak depan Gambar 4.10 Desain tampilan box rangkaian tampak belakang 4.2.1.3. Kotak Seven Segment Perencanaan kotak seven segmen yang digunakan untuk mendapatkan driver seven segment, ini dilakukan dengan memperhatikan kemudahan serta kenyamanan dalam pemasangan dilapangan. Oleh karena itu sangat diperhatikan penempatan dari setiap rangkaian, dengan tentu saja tidak melupakan keindahan rancangan baik ddari dalam maupun dari luar, sehingga kemasan tugas akhir ini menjadi lebih menarik.

Gambar 4.11 Desain box seven segment 1.1.2. Pembuatan Benda Kerja Mekanik 1.1.2.1. Pembuatan Dudukan Motor dan Reducer Setelah merancang dudukan motor dan reducer yang akan dibuat, langkah selanjutnya adlah sebagai berikut:

1.Memotong besi siku sebagai penyangga dan memotong plat besi sebagai
penutup dalam instalasi motor dan reducer sesuai dengan ukuran dan keperluan. 2. Menempatkan motor dan Reducer, dengan posisi sedemikian rupa karena mempertimbangkan faktor keindahan dan alokasi ruang yang dibutuhkan, agar tidak banyak memakan tempat. 3. Menentukan bagian yang akan dilakukan pengeboran dan pengelasan, kemudian dilakukan pengeboran dan pengelasan. 4. Merakit atau memasang perangkat mekanik sesuai fungsi masing-masing.

Gambar 4.12. Tampilan Dudukan Motor dan Reducer 4.2.2.2. Pembuatan Kotak Rangkaian 1. Menyiapkan kotak atau box radio FM yang akan digunakan sebagai kotak rangkaian. 2. Setelah dilakukan perancangan dan telah menentukan tata letak PCB rangkaian kemudian mengebor atau melubangi box untuk dudukan PCB dan untuk panel kontrol. Proses pembuatan lubang dilakukan dengan menggunakan mata bor.

3.Menghitung trafo dan PCB rangkaian tersebut, kemudian menyekrup bagian tepi
dari PCB tersebut. Pada saat pemasangan rangkaian, posisi PCB diatur sedemikian rupa sehingga PCB rangkaian yang terpasang tidak mengganggu komponen yang lain. Disamping itu kabel penghubung dan komponen pelngkap lainnya diatur sedemikian rupa agar segi keindahan dan kerapiannya tetap terjaga. Gambar berikut memperlihatkan bentuk kotak rangkaian :

Gambar 4.13. Tampilan Kotak Rangkaian 1.2.2.2. Pembuatan Kotak Seven Segment 1. Memotong papan kayu atau tripek sebagai bodi kotak atau box sesuai dengan bentuk dan ukuran masing-masing. 2. Menggabungkan papan sesuai dengan perencanaan, dengan cara memaku atau dengan memberi mur lancip dikotak bagian belakang supaya dapat dibongkar-pasang. 3. Membuat dudukan di dalam box untuk tempat rangkaian driver seven segment dan tiga buah seve segment. 4. Mengecat box, sebelum dilakukan pengecatan, bok dihaluskan terlebih dahulu dengan mengamplas supaya box tampak rapi dan cat dapat merekat sempurna. Pengectan dilakukan dua kali untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Gambar 4.14. Tampilan Kotak Seven Segment

4.2.3. Perakitan Alat Rangkaian-rangkaian yang telah dibuat secara terpisah, kemudian akan dirakit secara keseluruhan pada box rangkaian. Selanjutnya yang dilakukan adalah memasang kabel penghubung pada bagian belakang panel meja kerja, juga kabel-kabel lain yang digunakan untuk menghubungkan tiap-tiap bagian, yaitu bagian dudukan motor reducer, bagian kotak seven segment dan bagian kotak rangkaian. Kabel-kabel tersebut diatur sedemikian rupa agar kerapian serta keindahan terjaga. Berikut ini adalah hubungan antara tiap-tiap bagian :

Gambar 4.15. Hubungan dalam satu sistem 4.2.4. Pemberian Label Fungsi Pemberian label fungsi dilakukan agar lebih memudahkan pengoperasian sistem. Adapun langgkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. 2. Menempelkan label fungsi dan petunjuk pada bagian panel depan kotak rangkaian utama mengunakan huruf gosok/rogos. Melapisi bagian permukaan kotak yang telah diberi label fungsi dengan menggunakan isolasi transparan agar label atau tulisan tidak mudah terlepas. 3. Menempelkan petunjuk teknis penggunnaan alat box atau kotak utama yang berguna untuk menginformaasikan cara penggunaan alat dengan baik dan benar, sehingga tidak terjadi kerusakan alat karena kesalahan dalam prosedur pemakaian. 1.2. Pembuatan Program Dalam pwmbuatan Tugas akhir ini penggunaan perangkat lunak sangat penting. Mengingat perangkat lunak digunakan untuk pengaturan dari keselururuhan kerja sistem baik perangkat keras maupun perangkat lunak itu sendiri. Langkah-langkah pembuatan program tersebut adalah sebagai berikut: 1. Membuat diagram alir (flow chart) dari program yang dibuat

2.Membuat program menggunakan program assembler dengan referensi
diagram alir. 3. Mengkomplikasi program yang telah dibuat sampai tidak terjadi kesalahan. 4. Pengisian program. 4.3.1. Pembuatan Diagram Alir Dalam penyususnan diagram alir diusahakan dapat membagi proses yang komplek menjadi sub program yang lebih kecil, sehingga pencarian kesalahan akan lbih mudah. Selain itu akan akan memudahkan orang lain dalam membaca alir program yang dibuat. 4.3.2. Pembuatan Program Penulisan program dilaksanakan setelah diagram alir selesai dirancang. Pemilihan editor teks disesuaikan dengan kebiasaan dan kesenangan. Penulisan ini dilakukan menggunakan software Editor Teks. 1.2.3. Asembling dan Debuging Asembling dan debuging merupakan proses penulisan kode mesin dari hasil asembling (berupa file berformat HEX) kedalam memori program flash mikrokontrole. Proses ini dilakukan menggunakan perangkat programmer (hardware) beserta software programernya, yaitu menggunakan antarmuka ISP beserta software ISPnya. Perangkat yang dibutuhkan dalam pengisian Flash AT89S51, adalah: 1. Catu daya 5 volt 2. Rangkaian ISP (in system programming). 3. Rangkaian mikrokontroler AT89S51 4. PC dengan sistem operasi MS Windows 5. Perangkat lunak pemrograman 6. Kabel ISP dengan konektor DB-9 untuk komunikasi PC dengan ISP. Urutan cara pengisian program kedalam program flash AT89S51 adalah sebagai berikut: 1. Pasang IC AT89S51 rangkaian sistem minimum. 2. Pastikan kabel ISP telah terhubung dengan PC 3. Hubungan pin-pin yang diperlukan sesuai dengan keperluan outputan dengan rangkaian AT89S51 4. Berikan catu daya 5 volt pakai masing-masing rangkaian.

5. Siapkan program yang telah dibuat. 6. Jalankan perangkat lunak pemrograman. Program yang dimasukan adalah: ALL PROGRAM Dttimer strobe ack busy portData dirmtr upjummtr dwnjummtr upportal dwnportal printdt pwrmtr mtrdir hitmsec Dly IdxBfrdisp maxbfrd temp jummtr1 jummtr2 dlytmbl revdt strsnd keyp onrun mtrup mtrdwn Isdwn Isup jummtr equ bit bit bit equ bit bit bit bit bit bit bit bit equ equ equ equ equ equ equ equ bit bit bit bit bit bit bit bit equ 1000 P2.0 p2.1 P2.2 P0 p0.0 p3.0 p3.1 p3.2 p3.3 p3.4 p3.6 p3.7 0bh 0ch 0dh 0eh 0fh 10h 11h 12h 20h.0 20h.1 20h.2 20h.3 20h.4 20h.5 p2.7 p2.6 08h

Ttlmtr IdxScan jmp org jmp org Start: mov mov mov mov setb Main:

equ equ Main 0bh Tmr0Int 30h ttlmtr,#0 jummtr,#0

09h 0h

th0,#highndttimer th0,#low dttimer tr0 jb Call setb jmp upjummtr,cetmbl2 IncjumMtr onrun main dwnjummtr,cetmbl3 DecJumMtr keyp onrun main unportal,cetmbl4 mtrdwn mtrdir pwrmtr onrun main dwnportal,cetmbl5 mtrdwn mtrdir pwrmtr onrun Printdt,cetmbl6 onrun PrtTtlStruk ;cetak total print ;jika tombol print total ditekan ;jika tombol print total ditekan ;gerak turunkan motor ;jika tombol portal ditekan ;gerak turun motor ;jika tombol portal up ditekan ;kurangi dng 1 var jum motor ;timer u scaning 7 seg dan cek Limit Sw ;jika tombol up motor ditekan ;naikkan dng 1 variabel jum motor

cetmbl2:

jb Call clr setb jmp

cetmbl3:

jb setb setb setb setb jmp

cetmbl4:

jb setb clr setb setb

jump main cetmbl5: jb setb Call

Cetmbl6: D7seg: mov ;jz anl push mov anl pop orl mov mov call dec inc cjne mov mov endscan: ret

jmp main a,@r0 endscan a,#0fh acc a,idxscan a,#0fh b a,b p2,a R5,#06 delay idxscan r0 r0,#034h,D7seg r0,#031h idxscan,#0 ;idxscan idxscaning seg ;ambil data bcd di mem r0

;---------------Scanning 7 segment -----------------------------------

swap a

;-------------------------------------------------------Tmr0Int: mov Mov djnz mov jnb clr clr jmp nowtlsup: jnb jb clr clr th0,#high dttimer tl0,#low dttimer dlytmbl,wtdlytmbl dlytmbl,wtdlytmbl mtrup,nowtlsup pwrmtr mtrup wtdlytmbl mtrdwn,nowtlsdwn Isdwn,nowtlsdwn pwrmtr mtrdwn ;jika motor tdk gerakturun ;jika mtr gerak keatas cek posisi Isup ;jika Isup tertekan matikan motor

jmp keypressd: wtdlytmbl: setb djnz clr ;setb Mov Call cjne mov mov norstdis: setb ;setb reti

wtdlytmbl keyp hitmsec,norstdis tr0 strsnd hitmsec,#02 D7Seg a,maxbfrd,norstdis idxscan,#04h idxbfrdisp,#032h tr0 strsnd ;tampilkan 7 segment ;sampe 3digit

;======================================================= IncjumMtr: mov clr add da mov jnc mov clr add da mov jc mov clr add da mov extdwn1: Call ret ;=================================================== a.jummtr1 c a,#01 a jummtr1,a extup1 a,jummtr2 c a,#099h a jummtr1,a extdwn1 a,jummtr2 c a,#099h a jummtr2,a SvBfrDisp

SvBfrDisp

mov anl mov mov mov mov ret ;

a,jummtr1 a,#0fh 34h,a 33h,a a,#0fh 32h,a

;=================================================== Printchar: setb mov setb jb mov setb nop nop nop nop nop nop nop clr nop nop nop nop nop nop nop Setb nop nop nop nop strobe strobe strobe portData,a busy busy,$ portData,a strobe

nop nop nop setb jb nop nop jb jnb mov call ret ;-------------------------------------PrnStr move jz call inc jmp endprnstr; PrnStruk: ret mov ov call mov mov call mov swap anl Call mov anl Call mov mov call dptr,#dprn1 a,#0 Prnstrm dptr,#dprn2 a,#0 Prnstr a,jummtr a a,#0fh PrintChar a,jummtr a,#0fh PrintChar dptr,#dprn4 a,#0 Prnstr a,@a+dptr endprnstr PrintChar dptr prnstr ack,$ ack,$ r5,#0200 delay busy busy

mov mov call mov mov call mov mov call mov mov call ret dprn1 : db dprn2 : db dprn3 : db dprn4 : db dprn5 : db dprn6 : db dprn7 : db dprn8 : db

dptr,#dprn5 a,#0 Prnstr dptr,#dprn6 a,#0 Prnstr dptr,#dprn7 a,#0 Prnstr dptr,#dprn8 a,#0 Prnstr

‘*Selamat Datang*’,0 ‘Parking Area’,0 ‘No:’,0 ‘Struk ini sebagai tanda bukti parkir. Tunjukan struk ini pada saat anda ‘Terima Kasih....’,0 ‘_________________________________________’,0 ‘PSD III .FAKULTAS TEKNIK UNDIP SEMARANG’,0 ‘Jl.Prof.Sudarto,Tembalang’,0 dptr,#dprn1 a,#0 Prnstr dptr,#dprn2 a,#0 Prnstr dptr,#dprn9 a,#0 Prnstr a,Ttlmtr a a,#0fh

meninggalkan area parkir. Mohon di perhatikan.’,0

;--------------------------------------------PrnTtlStruk: mov mov call mov mov call mov mov call mov swap anl

Call mov anl Call mov mov call mov mov call mov mov call mov mov call mov mov call ret dprn9: db ‘Total:’,0

PrintChar a,Ttlmtr a,#0 PrintChar dptr,#dprn10 a,# Prnstr dptr,#dprn11 a,# Prnstr dptr,#dprn6 a,#0 Prnstr dptr,#dprn7 a,#0 Prnstr dptr,#dprn8 a,#0 Prnstr

dprn10: db ‘Struk ini sebagai tanda bukti parkir. Total jumlah pengguna area parkir dalam hari ini.’,0 dprn11: db ‘Terima Kasih....’,0 ;--------delay Delay: wait: mov djnz r6,$ djnz r5,wait ret ;--------delay DlyR7: WDlyR7: djnz djnz mov mov r5,#0ffh r6,#0ffh dinz r6,$ r5,WDlyR7 r7,DlyR7 r6,#0ffh ;

ret end

;

BAB V PENGUJIAN DAN PENGUKURAN

Pengujian pada Tugas Akhir ini membahas tentang tujuan, alat dan bahan yang digunakan, proses pengujian dan pengukuran pada rangkaian sistem. 1.1 Tujuan Pengujian alat/benda kerja bertujuan untuk mendapatkan data-data spesifikasi dari alat yang dibuat. Sehingga pada saat terjadi kesalahan atau kerusakan dapat ditanggulangi dengan cepat dan murah. Selain tujuan tersebut,pengujian juga dilakukan untuk : 1. Memastikan bahwa alat tersebut dapat bekerja sebagaimana mestinya 2. Mengetahui apakah komponen – komponen bekerja sesuai dengan fungsinya 3. Dapat menarik kesimpulan dari pengujian dan pengukuran yang dilakukan

1.1Alat dan Bahan yang Digunakan

Peralatan dan bahan digunakan untuk memudahkan proses pengujian guna mendapatkan data-data spesifikasi alat. Alat dan bahan tersebut adalah sebagai berikut

1.Multimeter analog 2.Multimeter digital 3.Kabel penghubung

:1 buah :1 buah :2 meter(5x@0,5)

1.1. Proses Pengujian dan Pengukuran
1.1.1 Pengujian Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah sistem pembuka pintu portal dan sistem penghitung dapat bekerja dengan baik dan sebagaimana mestinya. Pengujian ini dilakukan dengan memasang pada rangkaian mikro controller dan memberi tegangan 5 volt dan melihat apakah rangkaian dapat bekerja lalu di lakukan pencatatan. 1.2.1 Pengukuran

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisa rangkaian adalah sebagai berikut: 1. Mempersiapkan rangkaian catu daya, mikrokontroler, driver motor, driver seven segment.

2.Mempersiapkan semua peralatan yang digunakan dan memastikan berada
dalam kondisi normal.

3.Melakukan pengujian masing masing fungsi tombol .
4. Mengukur tegangan pada titik-titik tertentu. 5. Mencatat hasil yang diperoleh dari hasil pengukuran.

Pengujian dan pengukuran dilakukan secara urut dan bertahap pada semua bagian dengan memulainya dari yang palig sederhana dengan tujuan menghindari kesalahan sejak awal.

5.3.3Rangkaian Pengujian dan Pengukuran
1 Rangkaian Catu Daya

Gambar 5.1 Titik pengujian pada bagian CATU DAYA Data hasil pengukuran yan diperoleh: Tabel 5.1 Hasil Pengukuran Catu daya Dengan Multimeter No. 1 2 3 4 5 6 7 Titik Pengukuran Tp 1 Tp 2 Tp 3 Tp 4 Tp 5 Tp 6 Tp 7 Tegangan 214 8.25 13.26 5.06 5.05 5.04 13.06

1.Rangkaian Mikrokontroler Dan Driver Seven Segment

Gambar 5.2 Titik pengujian pada Rangkaian Mikrokontroler Dan Driver Seven Segment Pada rangkaian ini dilakukan pengujian pada saat seven segment menunjukan angka 158. Data hasil pengukuran pada mikrokontroler adalah sebagai berikut: Tabel 5.2 Hasil Pengukuran mikrokontroler AT 89S51 Dengan Multimeter No. 1 Port AT 89S51 P1.0 Pin AT 89S51 1 Tegangan 3.36 No. 21 Port AT 89S51 P2.0 Pin AT 89S51 21 Tegangan 5

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

P1.1 P1.2 P1.3 P1.4 P1.5 P1.6 P1.7 Reset P3.0 P3.1 P3.2 P3.3 P3.4 P3.5 P3.6 P3.7 XTAL2 XTAL1 Gnd

2 0.04 22 P2.1 22 3 1.69 23 P2.2 23 4 1.71 24 P2.3 24 5 1.25 25 P2.4 25 6 1.24 26 P2.5 26 7 1.25 27 P2.6 27 8 0.18 28 P2.7 28 9 0.01 29 PSEN 29 10 5.03 30 ALE 30 11 5.03 31 EA/VPP 31 12 5.03 32 P0.7 32 13 5.03 33 P.6 33 14 5.03 34 P.5 34 15 5.03 35 P.4 35 16 0.02 36 P.3 36 17 0.44 37 P.2 37 18 2.28 38 P.1 38 19 2.10 39 P0.0 39 20 0.01 40 VCC 40 Tabel 5.3 Hasil Pengukuran TIP 31 Dengan Multimeter TR 1 TR2 E 13.4 B 13.01 (Volt) C 7.52 E 13. B 13.08 TR3 (Volt) C 7.4 (Volt) C 7.6

5.03 5.03 5.03 5.03 5.03 5.03 5.03 5.05 1.68 5.05 5.05 5.05 5.04 5.04 5.04 5.04 5.04 5.04 5.04

Teg

B 15.9

E 13.51

Tabel 5.4 Hasil Pengukuran ULN 2803 Dengan Multimeter Pin ULN 2803 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Tegangan (volt) 0.18 1.24 1.24 1.25 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 12.8 1 1 1 1.1 9.2 9.2 9.2 1.4

Tabel 5.5 Hasil Pengukran driver 74248 Dengan Multimeter

Input Teg. A 7 3.37 B 1 0.04 C 2 1.70 D 6 1.70 a 13 1.88 b 12 1.83

Out Put c d e 11 10 9 0.20 1.91 3.55

f 15 1.88

g 14 1.91

2.Ragkaian Mikrokontroler Dan Driver Motor

Gambar 5.3 Titik pengujian pada Rangkaian Mikrokontroler Dan Driver Motor Tabel 5.6 Hasil Pengukuran pada Rangkaian Mikrokontroler Dan Driver Motor Daerah pengujian 1 (pin moc 3041) 1 1.15 1.15 2 0.04 0.04 (Volt) 4 5.4 5.5 6 7.2 VAC 7. VAC5 Port Pada AT 89S51 25 H L (Volt) 26 H H

Arah putaran motor

Titik pengujian (Volt) TP2 0.44 0.0 TP3 13.7 0.0

TP1 KANAN 0.44 KIRI 0.44 Keterangan motor:

Pada saat tombol up portal ditekan maka tegangan motor adalah : 203 V, dan saat portal menyentuh limit switch maka tegangan motor menjadi 0V. Demikian juga bila tombol down portal ditekan maka tegangan motor adalah : 203 V, dan sat portal menyentuh limit switch maka tegangan motor menjadi 0V. Perhitungan kecepatan motor Putaran motor = 1420 r.p.m Output motor dipasang pulley 3” dan pada input gear box di pasang pulley 8”, sehingga dapat di peroleh perbandingan 3:8, maka putaran untuk input gear box menjadi 1420 X 3/8 = 532,5 rpm. Input putaran pada gear box kemudian diperlambat dengan perbandingan 1:60, maka output putaran dari gear box menjadi 532.5 X 1/60 = 8,875 rpm. Pada output gear box dipasang sebuah gear 3”(12 gerigi) yang akan dihubungkan dengan gear 12” (53 gerigi) yang terpasang pada titik tumpul pada portal,sehingga terdapat sebuah perbandingan lagi yaitu perlambatan dari gear 3” ke gear 12” dengan perbandingan 12:53, sehingga putaran pada gear 12” menjadi 8,875 X 12/53 = 2,009 rpm. Maka dapat dibulatkan menjadi 2 putaran permenit,

jika ingin mengatur agar gerakan pintu portal hanya 60 drajjat maka dapat dihitung sebagai berikut :

Gambar 5.4 skema lebar sudut bukaan pintu portal 5.4. Spesifikasi Benda Kerja Spesifikasi alat dari tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1. 2. 3.

Nama alat

: Pembuka pintu portal semi otomatis dilengkapi dengan sistem penghitung kendaraan bermotor dengan tampilan seven segment dan print out.

Motor AC Seven segment

: Tipe JY2B-4 singg=le phase ¾ HP, 1420 rpm : Tipe katoda (ukuran 8x5 cm)

BAB VI PENUTUP 1.1.Kesimpulan Dengan rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, penyusunan telah menyelesaikan penyusunan laporan tugas ini. Dari tugas akhir yang berjudul “APLIKASI MIKROKONTROLER AT 89S51 SEBAGAI ALAT PENGHITUNG DENGAN TAMPILAN SEVEN SEGMENT PADA SISTEM PARKIR DI

KOMPLEK KAMPUS D III FT.UNDIP” ini dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut 1. Sistem penghitungan pada tugas akhir ini menggunakan Mikrokontroler AT89S51 sebagai pusat pencacah atau penghitung data, yang bekerja secara semi otomatis. Dimana diperlukan seorang operator untu memasukkan data dalam hal ini data berupa kendaraan bermotor. Operator hanya bertugas menekan tombol sw up jika ada kendaraan yang masuk dan menekan sw down jika ada kendaraan yang keluar, kemudian inputan dari tombol tersebut akan di respon oleh mikrokontroler yang bertugas sebagai pencacah atau penghitung yang kemudian hasil pencacah akan ditampilkan melalui seven segment. 2. Dengan menggunakan Mikrokontroler AT89S51 memudahkan untuk merubah progam ataupun menambahkan progam bilaingin memodifikasi sistem penghitung sesuai dengan kebutuhan yang kita inginkan. 1.2 Saran Untuk melengkapi kesempurnaan alat ini maka penyusun menyarankan :

1.Sebelum menghubunkan Mikrokontroler AT 89S51 dengan inputan dan
outputnya, sebaiknya dilihat dulu spesifikasi dari Mikrokontroler AT89S51 tersebut dangan mempelajari data sheetnya. Sehingga tidak terjadi kesalahankesalahan yang tidak diinginkan yang akan berakibat fatal. 2. Sebaiknya diberi tambahan berupa print out sebagai bukti pencacahan kendaraan, sehingga dapat dipertanggung jawabkan. 3. Jika terjadi kerusakan atau kegagalan program pada Mikrokontroler AT89S51 akan mudah terdeteksi dengan bantuan adapter sebagai interface progam pada komputer. 4. Sebelum mengoperasikan alat sebaiknya dilakukan pengecekan terlebih dahulu, untuk menghindari kegagalan dalam proses pencetakan.

Dalam penyusunan tugas akhir ini masih kurang dari sempurna, untuk itu diharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca. Jika ada kekurangan ataupun kesalahan ataupun kesalahan dalam penyusunan tugas akhir ini penyusunan mohon maaf sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budioko totok.2005. Belajar dengan mudah dan cepat pemrograman bahasa C dengan SDCC (small device C compiler) pada mikrokonroler AT89X051/ AT89S51/52 teori simulasi dan aplikasi. Yogyakarta: gava media Eko Putra, agfianto.2002.Belajar mikrokontroler AT89S51/52/55 (teori dan aplikasi). Yogyakarta: gava media Malvino, Albert Paus. 1979.Prinsip-Prinsip Elektronika. Jakarta: Erlangga Setiawan,sulham.2006. Mudah dan menyenangkan belajar mikrokontroler.Yogyakata :ANDI Suryono.2005. mikrokontroler oleh ISP MCS-51 generasi terbaru in-system programable tanpa menggunakan down-loader AT89S51/52/53 dan AT89S8252. Semarang: UNDIP Wasito.1998. Vandemekum Elektronika. Jakarta: Elek Media Komputindo Yudiono,K S. 1984. Bahasa Indonesia Untuk Penulisan Ilmiah.Semarang: UNDIP http://www.data_sheet.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful