You are on page 1of 8

Industrial Electronic Seminar 2013

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

Performansi BeaconEnabled IEEE 802.15.4 Wireless Sensor Network:


Topologi Star vs Cluster
M. Udin Harun Al Rasyid, Ferry Astika Saputra, Alfian Fahmi
EEPIS Wireless Sensor Networks (EWSN) Research Group
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
Email:udinharun@eepis-its.edu, ferryas@eepis-its.edu, alfafahmi@student.eepis-its.edu
otomasi rumah dengan jarak operasi yang pendek.
IEEE 802.15.4 merupakan standar untuk WPAN
yang berfokus terhadap dua layer protokol bawah,
yaitu physical dan medium access control (MAC)
layer. Lapisan MAC ini didefinisikan oleh standar
IEEE 802.15.4 mempunyai tugas untuk pengaksesan
saluran yang memiliki dua mekanisme untuk
mengakses saluran yaitu beacon enabled dan nonbeacon enabled [1-4].
Saat ini, telah banyak penelitian yang
mengulas tentang kinerja standar IEEE 802.15.4
dengan topologi yang berbeda dan menggunakan
berbagai
macam
teknik.
Namun
untuk
membandingkan kinerja antara dua topologi dengan
tujuan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam
penggunaannya masih jarang dilakukan.
Pada makalah [5], penulis melakukan analisa
kinerja jaringan WPAN pada topologi mesh
menggunakan routing protokol AODV dan DSR
dengan parameter throughput, delay, dan packet
loss. Dan hasil akhir dari analisa tersebut adalah
throughput AODV selalu lebih besar dibandingkan
nilai throughput DSR, packet loss routing AODV
selalu lebih besar dibandingkan dengan routing
DSR, delay untuk routing AODV lebih besar dari
DSR.
Pada makalah [6], penulis menganalisa kinerja
routing FSR pada jaringan WPAN dengan
menggunakan beberapa jumlah node dan jarak ratarata area masing-masing node adalah 10 meter.
Parameter dari analisa tersebut adalah throughput,
data delay, dan packets delivery ratio (PDR).
Pada makalah [7], penulis melakukan
pengembangan simulator NS-2 untuk IEEE 802.15.4
dan melakukan beberapa set eksperimen untuk
mempelajari berbagai fitur. Dalam eksperimen
tersebut penulis membandingkan standar baru IEEE
802.15.4 dengan IEEE 802.11 dan didapatkan hasil
bahwa IEEE 802.15.4 lebih efisien dalam hal biaya
overhead dan konsumsi sumber daya.

Abstrak
IEEE mendefinisikan standar 802.15.4
untuk aplikasi komunikasi jaringan wireless sensor
network (WSN) dengan karakteristik laju data rendah
(low rate), konsumsi daya rendah (low power), dan
biaya rendah (low cost). Standar IEEE 802.15.4 dapat
beroperasi menggunakan topologi star, peer-to-peer,
dan cluster sesuai kebutuhan aplikasi. Penelitian ini
melakukan perbandingan kinerja beacon enabled
pada topologi star dan cluster menggunakan standar
IEEE 802.15.4 dengan parameter throughput, delay,
dan konsumsi energi sebagai parameternya dengan
tujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal
dalam mengaplikasikan model topologi yang sesuai
dengan kebutuhan. Kami melakukan analisis pada
setiap model topologi untuk mengevaluasi hasil
throughput, delay, konsumsi energi, dan probabilitas
paket sukses dari topologi Star dan Cluster
berdasarkan jumlah node. Jumlah node yang kami
gunakan mulai dari 10 node sampai 100 node.
Setelah analisis yang cermat dari CSMA/CA MAC
yang digunakan dalam standar, kami mendapatkan
hasil dari kinerja setiap topologi memiliki kelebihan
dan kekurangan yang menjadi bahan pertimbangan.
Dari hasil simulasi dengan jumlah iterasi 10 kali tiap
bentuk topologi, topologi cluster lebih unggul
daripada topologi star dalam hal throughput,
probabilitas paket sukses, dan konsumsi energi.
Tetapi delay pada topologi cluster lebih besar
daripada delay pada topologi star.
Kata kunci: Wireless sensor network, beaconenabled, topology, star, cluster.
1. Pendahuluan
Zigbee adalah spesifikasi untuk jaringan
protokol
komunikasi
tingkat
tinggi
yang
menggunakan radio digital berukuran kecil dengan
daya rendah. Teknologi yang memenuhi spesifikasi
dari zigbee adalah perangkat dengan pengoperasian
yang mudah, sederhana, menggunakan daya sangat
rendah serta biaya yang relatif murah jika
dibandingkan wireless personal area network
(WPAN). Arsitektur jaringan pada WPAN didesain
untuk konsep jaringan yang sederhana seperti sistem

118

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

Dalam makalah [8], penulis melakukan


analisa throughput yang diasumsikan bahwa setiap
sensor memiliki packet backlog tak terbatas dan
sistem throughput yang dicari. Penulis memvalidasi
modelnya dengan simulasi NS2 dan ditemukan
bahwa dengan parameter backoff standar saturasi
throughput menurun dengan tajam dengan
peningkatan jumlah node.
Pada makalah [9], penulis menyajikan sebuah
model dari IEEE 802.15.4 protokol MAC untuk
cluster sensor node. Mereka memfokuskan pada
skenario khusus dimana semua node melakukan
transmisi secara bersamaan, yang merupakan kasus
yang paling berbahaya bagi protokol CSMA/CA.
Penulis memodelkan algoritma CSMA/CA pada
IEEE 802.15.4 dan melakukan analisa nonstasioner
untuk percobaan sinkronisasi transmisi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sangat sulit untuk
menentukan ukuran cluster paling hemat energi dari
probabilitas keberhasilan dan konsumsi energi.
Pada makalah [10], penulis menganalisa
mekanisme batas kinerja slotted CSMA/CA untuk
IEEE 802.15.4 dalam mode beacon enabled untuk
transmisi broadcast di WSN. Motivasi penulis untuk
melakukan evaluasi mode beacon enabled karena
fleksibilitas untuk aplikasi WSN dibandingkan
dengan mode non-beacon enabled. Kinerja slot
CSMA/CA di evaluasi dan di analisa untuk
pengaturan jaringan yang berbeda untuk memahami
dampak dari atribut protokol (urutan superframe,
sinyal dan backoff eksponen) terhadap kinerja
jaringan yaitu dalam hal throughput, rata-rata delay
dan probabilitas keberhasilan.
Penulis [11] membuat model simulasi
algoritma CSMA/CA untuk IEEE 802.15.4
menggunakan OPNET Modeler yang telah
dikembangkan dan efek throughput terhadap kinerja
WSN. Mereka menemukan bahwa penundaan paket
ke superframe baru sangat mempengaruhi
throughput, probabilitas keberhasilan dan rata-rata
keterlambatan WSN untuk superframe yang singkat,
tetapi tidak berpengaruh pada kinerja WSN untuk
superframe dengan durasi yang panjang. Hasil
simulasi menunjukkan throughput yang sedikit
berdampak pada panjang durasi superframe,
sementara untuk durasi frame pendek menetapkan
periode
backoff
pada
awal
superframe
meningkatkan kinerja algoritma CSMA/CA serta
menunjukkan perbaikan dalam hal throughput dan

probabilitas keberhasilan. Rata-rata delay untuk


pengiriman paket telah meningkat karena lebih
banyak waktu yang dihabiskan dalam periode
backoff namun secara keseluruhan itu meningkatkan
kemungkinan keberhasilan pengiriman paket.
Untuk menganalisa performansi WSN dengan
topologi yang berbeda, penelitian ini membuat
simulasi jaringan WSN dengan menggunakan NS2
dan membandingkan kinerja dari topologi star dan
cluster dengan parameter throughput, rata-rata
delay, konsumsi energi dan probabilitas paket
sukses.
2. Perencanaan dan Pembuatan Sistem
Dalam pembuatan sistem, langkah pertama
yang kami lakukan adalah membuat perancangan
sistem yang sesuai dengan permasalahan yang akan
dianalisa.
2.1. Desain Sistem
Desain sistem untuk perbandingan kinerja
topologi star dan cluster tree ditunjukkan pada
gambar 2.1.

Gambar 2.1 Desain sistem secara umum


perbandingan kinerja WSN
Dari gambar 2.1 dapat diketahui bahwa
desain sistem secara umum digambarkan dengan
perbandingan performansi beacon enabled IEEE
802.15.4 WSN menggunakan topologi star dan
cluster tree melalui dua proses yaitu proses
compile dan filtering yang menghasilkan data
output kinerja antara topologi star dan cluster tree.
2.2. Perancangan Sistem
Dalam perancangan sistem terdapat proses
yang lebih terperinci yang ditunjukkan pada
gambar 2.2.

119

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

throughput.txt,
delay.txt,
dan
energy
consumption.txt.
5. Output Filter
Output filter merupakan hasil dari proses
filtering menggunakan pemrograman AWK.
File tersebut berupa throughput.txt, delay.txt,
dan energy_consumption.txt.
6. Analisa
Analisa merupakan tahap terakhir dalam
penelitian ini dan memuat hasil akhir dari
penelitian yang telah dilakukan yaitu
membandingkan kinerja dari kedua topologi
dengan
parameter
throughput,
delay,
konsumsi energi, dan probabilitas paket
sukses.

Gambar 2.2 Desain proses skenario pada topologi


star dan cluster

1. NS2
NS2 merupakan media simulasi jaringan yang
bersifat open source. NS2 banyak digunakan
untuk mempelajari struktur dinamik dari
jaringan komunikasi. Beberapa keuntungan
menggunakan NS adalah NS dilengkapi
dengan tool validasi, pembuatan simulasi
menggunakan NS jauh lebih mudah
disbanding menggunakan software develover
seperti Delphi atau C++. NS dapat digunakan
pada sistem operasi windows dan sistem
operasi linux [12].
2. NAM: Network Animator
Network animator merupakan salah satu dari
hasil output NS2 yang menampilkan simulasi
dengan tampilan animasi. Tampilan NAM
dapat dilihat seperti pada gambar 2.3.

2.3. Pembuatan Skenario


Pada program simulasi WPAN terdapat
parameter yang dapat mempengaruhi hasil
simulasi. Parameter yang digunakan dalam
simulasi digolongkan menjadi 2 bagian yaitu
parameter yang telah didefinisikan oleh NS2
dan parameter yang didefinisikan sendiri oleh
perancang. Tabel 1 menunjukkan parameter
WPAN yang digunakan.
Table 1. Parameter simulasi jaringan WPAN
yang didefinisikan oleh perancang
Parameter
Tipe antarmuka antrian
Model antena
Dimensi topografi
Jumlah node maksimal
Waktu simulasi

Nilai
Drop Tail
Omni antenna
50 x 50 poin
100 node
2500 second

Dalam tahapan ini terdapat beberapa proses


seperti berikut ini:
3.3.1. Model Topologi
Topologi yang akan kami bandingkan
adalah topologi star dan cluster dengan
jumlah node maksimal 100 node untuk
masing-masing topologi. Contoh model
topologi untuk star dan cluster tree dapat
dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.3 Contoh tampilan NAM


3. File Trace
File trace atau file .tr berisi data hasil simulasi
mulai dari waktu awal sampai waktu akhir
yang nantinya akan digunakan untuk analisa
numerik.
4. Filtering
Proses filtering dapat menggunakan beberapa
macam pemrograman seperti python, perl, dan
AWK. Dalam proses filtering ini file .tr akan
diproses yang hasil outputnya merupakan

120

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

3.1. Analisa hasil simulasi pada topologi star.


Berikut ini adalah grafik dan tabel nilai
hasil simulasi topologi star dari segi throughput,
delay, konsumsi energi, dan probabilitas paket
sukses.
Gambar 2.4 Model simulasi topologi star dan
cluster
Pada topologi star, node berbentuk
lingkaran sempurna dengan besar sudut yang
sama sesuai jumlah node dan jarak antara
PAN koordinator dengan end device sejauh
20 poin.
Untuk topologi cluster tree penempatan
node bebas dan jarak antara PAN
koordinator, koordinator, dan end divice
sejauh 8 poin.
3.3.2. Pembuatan Skenario
Langkah pertama dalam pembuatan
skenario adalah menentukan jumlah node,
jumlah panjang antrian, waktu simulasi, dan
range area simulasi. Setelah melakukan
setting tersebut, device sudah dapat
diaktifkan dan scenario sudah dapat
dijalankan, tetapi belum ada traffic antar
node. Dalam WSN terdapat beberapa macam
model traffic, salah satunya adalah poison
traffic. Poison traffic menghasilkan traffic
berdasarkan distribusi eksponensial On/Off.
Program simulasi jaringan WPAN ini
dibuat dalam 6 skenario seperti terlihat dalam
table 2.
Table 2. Tabel skenario dalam simulasi
Skenario Jumlah Node
1
10
2
20
3
40
4
60
5
80
6
100

3.

.
Gambar 3.1. Throughput topologi star

Dari grafik gambar 3.1 kita dapat


mengetahui bahwa apabila jumlah node antara
10 sampai 20 node untuk topologi star, hasil
throughput antara 1250 bps. Pada jumlah 40
node hasil throughput semakin besar tetapi tidak
dapat diartikan semakin banyak jumlah node
semakin besar throughputnya. Pada uji coba
selanjutnya pada jumlah node 60 sampai jumlah
node 100 nilai throughputnya menurun. Hasil
tersebut dikarenakan semakin banyak node
semakin sering terjadinya tabrakan (collision)
saat pengiriman paket.

Gambar 3.2. Grafik rata-rata delay topologi star


Untuk nilai delay pada topologi star seperti
ditunjukkan pada gambar 3.2., rata-rata setiap
uji coba berdasarkan jumlah node memiliki
delay yang sama dikarenakan jalur pengiriman
paket data dilakukan secara langsung dari end
device ke PAN Koordinator. Sehingga nilai
delay yang dihasilkan sama antara uji coba 10
node sampai 100 node dengan nilai rata-rata
delay 0.004512 second.

Uji coba dan Analisa


Pengujian terhadap simulasi WPAN
dilakukan dengan tujuan agar simulasi yang
telah dibuat berjalan sesuai dengan yang
diinginkan atau belum.

121

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

rendah, untuk rata-rata delay dari jumlah node


terkecil sampai terbanyak nilainya sama
sedangkan untuk konsumsi energi pada topologi
star pada table menunjukkan bahwa jika jumlah
node sedikit maka konsumsi energi yang
dibutuhkan sedikit dan semakin banyak jumlah
node maka konsumsi energinya semakin besar.
Gambar 3.3 Konsumsi energi topologi star
Untuk konsumsi energi yang dibutuhkan
topologi star dalam pengiriman data cukup
besar, dikarenakan pada waktu setiap node pada
topologi star melakukan pengiriman data ke
PAN
koordinator,
masing-masing
node
membutuhkan energi untuk proses transmisi.
Dilihat dari data yang didapat, bahwa semakin
banyak jumlah node semakin besar konsumsi
energi yang dibutuhkan
Seperti yang
ditunjukkan pada gambar 3.3.

3.2. Analisa hasil simulasi pada topologi cluster


tree.
Berikut ini adalah grafik dan tabe; nilai
hasil simulasi topologi star dari segi throughput,
delay, konsumsi energi, dan probabilitas paket
sukses.

Gambar 3.5 Throughput topologi cluster tree


Gambar 3.5 menunjukkan hasil throughput
dari jumlah node terendah semakin tinggi
sampai jumlah node 60 yaitu mencapai 5450
bps. Pada uji coba selanjutnya pada jumlah node
80 sampai jumlah node 100 nilai throughputnya
menurun. Hasil tersebut dikarenakan semakin
banyak node semakin sering terjadinya collision
saat pengiriman paket.

Gambar 3.4 Probabilitas paket sukses topologi


star
Untuk konsumsi energi yang dibutuhkan
topologi star dalam pengiriman data cukup
besar, dikarenakan pada waktu setiap node pada
topologi star melakukan pengiriman data ke
PAN
koordinator,
masing-masing
node
membutuhkan energi untuk proses transmisi.
Dilihat dari data yang didapat, bahwa semakin
banyak jumlah node semakin besar konsumsi
energi yang dibutuhkan seperti ditunjukkan pada
gambar 3.4.

Gambar 3.6 Delay topologi cluster tree


Gambar 3.6 menunjukkan delay untuk
topologi cluster tree hasilnya yang tidak
beraturan dikarenakan pada setiap pengiriman
data ke PAN koordinator dari end device masih
harus mencari jalur untuk sampai ke PAN
koordinator melalui koordinator masing-masing
end device. Dan juga model topologi cluster tree
terdiri dari beberapa lapisan yang berbeda-beda
antara uji coba 10 node sampai 100 node.

Tabel 3. Nilai hasil simulasi topologi star

Dilihat dari table 3, semakin banyak jumlah


node pada topologi star maka nilai throughput
dan probabilitas paket sukses akan semakin

122

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

Tabel 4. Nilai hasil simulasi topologi cluster tree

Tabel 4 menunjukkan bahwa semakin


banyak jumlah node pada topologi cluster tree
maka nilai throughput akan semakin tinggi
demikian juga dengan konsumsi energinya yang
dibutuhkan akan semakin besar. Untuk rata-rata
delay nilainya berbeda-beda untuk setiap
tingkatan simulasi. Untuk probabilitas paket
sukses pada tabel nilai simulasi menunjukkan
bahwa semakin sedikit jumlah node maka
peluang paket sukses terkirim lebih besar
sedangkan untuk jumlah node banyak maka
peluang untuk paket sukses terkirim akan
semakin rendah.

Gambar 3.7 Konsumsi energi topologi cluster


tree
Dalam hal konsumsi energi untuk topologi
cluster tree tidak jauh berbeda dengan topologi
star seperti ditunjukkan pada gambar 3.7. Lebih
sedikit node yang mengirimkan data maka
konsumsi energi yang dibutuhkan lebih sedikit
dan sebaliknya lebih banyak jumlah node yang
mengirimkan data maka konsumsi energinya
akan semakin besar. Tetapi selisih dari konsumsi
energi pada topologi cluster tree tidak terlalu
banyak, misalkan dari jumlah node 10 dan 20
node hanya terpaut +/- 2 joule, tidak seperti pada
topologi star yang selisih konsumsi energinya
terpaut jauh dari 10 node, 20 node, 40 node, 60
node, 80 node, dan 100 node.

3.3. Analisa perbandingan performansi topologi


star dan cluster tree.
Berikut ini adalah grafik perbandingan
hasil simulasi antara topologi star dan topologi
cluster tree dari segi throughput, delay,
konsumsi energi, dan probabilitas paket sukses.

Gambar 3.8 Probabilitas paket sukses topologi


cluster tree
Pada probabilitas paket sukses untuk
topologi cluster tree juga bergantung pada
jumlah node yang melakukan pengiriman data.
Semakin banyak end device yang mengirim data
maka semakin kecil peluang pengiriman paket
sukses yang diterima oleh PAN koordinator
disebabkan oleh banyaknya collision pada saat
pengiriman data tersebut. Berbanding terbalik
dengan jumlah node yang sedikit maka peluang
probabilitas paket sukses terkirim akan semakin
besar.

Gambar 3.9 Perbandingan throughput antara


topologi star dan cluster
Dari gambar 3.9, kita dapat melihat bahwa
throughput dari topologi cluster dominan lebih
besar dari pada topologi star. Dikarenakan
ketika proses pengiriman data pada topologi star
terpusat langsung ke PAN koordinator, tetapi
untuk topologi cluster setiap end device yang
akan mengirimkan data ke PAN koordinator
masih harus melalui koordinator terlebih dahulu
yang selanjutnya koordinatorlah yang mengatur
pengiriman data tersebut ke PAN koordinator.

123

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

Gambar 3.10 Perbandingan rata-rata delay antara


topologi star dan cluster
Untuk perbandingan delay, rata-rata delay
pada topologi clustser tidak sama dan tidak
beraturan, karena topologi cluster tergantung
pada berapa banyak node dan berapa lapis kita
membagi node yang kita buat. Karena model
yang kami buat terdiri dari beberapa lapis
sehingga delay pada saat pengiriman paket data
pun tidak sama. Berbeda dengan topologi star
yang hanya memiliki lapisan tunggal mulai dari
jumlah device 10 node sampai 100 node dengan
ukuran jarak antara PAN koordinator dengan
end device berkisar sekitar 20 poin. Sehingga
rata-rata delay saat pengiriman data pada
topologi star memiliki waktu delay yang sama.

Gambar 3.12 Perbandingan paket sukses antara


topologi star dan cluster
Gambar 3.12 menunjukkan perbandingan
paket sukses antara topologi star dan cluster.
Nilai throughput topologi cluster dominan lebih
besar dari pada topologi star.
Pada perbandingan konsumsi energi pada
kedua topologi didapatkan hasil bahwa topologi
star membutuhkan konsumsi energi lebih besar
dibandingkan
dengan
topologi
cluster.
Sedangkan untuk perbandingan paket data
sukses menunjukkan bahwa lebih banyak
peluang pengiriman paket data yang sukses
terkirim dari end device ke PAN koordinator
menggunakan topologi cluster tree dibandingkan
dengan pengiriman data pada topologi star.
4.

Kesimpulan

Throughput dari topologi cluster tree lebih


besar di banding throughput pada topologi star.
Dikarenakan proses pengiriman data pada
topologi star terpusat langsung pada PAN
koordinator, sedangkan pada cluster setiap end
device yang akan mengirimkan data ke PAN
koordinator harus melalui koordinator terlebih
dahulu dan akan dilanjutkan ke PAN koordinator.
Rata-rata delay pada cluster tidak sama dan tidak
beraturan, karena topologi cluster bergantung
pada berapa banyak node dan berapa lapis kita
membagi node untuk menjadi end device dan
koordinatornya. Berbeda dengan topologi star
yang hanya memiliki lapisan tunggal mulai dari
10 node sampai 100 node. Sehingga rata-rata
delay saat pengiriman data hanya terpaut sedikit.
Pada perbandingan konsumsi energi, kebutuhan
akan konsumsi energi pada topologi star lebih
besar dibanding kebutuhan konsumsi energi pada
topoogi cluster. Peluang data yang sukses terkirim
pada topologi cluster tree lebih besar dari pada
topologi star.
Pada penelitian yang dilakukan kali ini hanya
melakukan perbandingan antara dua topologi
dengan parameter throughput, delay, konsumsi
energi dan probabilitas paket sukses. Pada
kenyataannya masih banyak yang mempengaruhi

Gambar 3.11 perbandinngan konsumsi energi


antara topologi star dan cluster
Dari gambar 3.11, kita dapat melihat bahwa
untuk konsumsi energi pada topologi star lebih
besar daripada topologi cluster, dikarenakan jika
setiap node yang ada pada topologi star sedang
melakukan pengiriman data, maka setiap node
yang mengirimkan data akan mengkonsumsi
energi untuk proses transmisi. Berbeda dengan
topologi cluster yang konsumsi energinya lebih
sedikit dan lebih stabil pada tiap tingkatan uji
coba. Karena pada topologi cluster tidak semua
node melakukan pengiriman data. Hanya node
yang merupakan end device saja yang
melakukan pengiriman data ke koordinator.
Selanjutnya node yang berperan sebagai
koordinatorlah yang mengatur jalur pengiriman
data dari end device ke PAN koordinator.

124

Industrial Electronic Seminar 2013


Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

ISBN 978-602-9494-87-7

[8].

hasil dari keempat parameter tersebut yang


diabaikan misalnya dengan adanya perubahan
radius model routing, model traffic, dan
perubahan Beacon Order (BO) dan Superframe
Order (SO). Kedepannya dapat ditambahkan
parameter tersebut sehingga dapat menunjang dan
mendukung ataupun mempengaruhi hasil dari
penelitian sebelumnya. Seperti perubahan posisi
node, jarak radius dan posisi node acak.
Diharapkan dengan adanya tambahan parameter
tambahan tersebut pada penelitian selanjutnya
maka nantinya akan didapatkan hasil yang lebih
nyata.

Chandramani

Kishore

Singh,

Anurag

Kumar and P. M. Ameer, Performance


Evaluation of An IEEE 802.15.4 Sensor
Network With A Star Topology, Jurnal
Wireless

Network,

Kluwer

Academic

Publishers Hingham, MA, USA, 2008.


[9].

Kenji Leibnitz, Naoki Wakamiya, and


Masayuki Murata, Modeling of IEEE
802.15.4 in a Cluster of Synchronized
Sensor, 19th International Teletraffic
Congress, Beijing, 2005.

Daftar Pustaka

[10]. Anis KOUBAA, Mario ALVES, Eduardo


[1].

IEEE

std.

medium

802.15.4,

access

2011,

control

wireless

(MAC)

TOV,

and

802.15.4

low-rate wireless personal area networks

Swain,

Technical Report,

[12]. The Network Simulator NS2 , [online]


http://www.isi.edu/nsnam/ns/.

IPP-HURRAY
HURRAY-TR-

050702, Jul. 2005.


Dwi Nofianti, Simulasi Kinerja WPAN
(Zigbee)

Dengan

Algoritma

Routing AODV dan DSR, Repository


Universitas Diponegoro, Semarang, 2011.
[6].

Sabri Alimi, Kinerja Routing Fisheye


State Routing (FSR) Pada Jaringan WPAN
802.15.4

(Zigbee)

Topologi

Mesh,

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,


Universitas Diponegoro, Semarang, 2013.
[7].

Analysis

Region 10 Conference, Fukuoka, 2010.

802.15.4 for Wireless Sensor Networks: A


Overview,

Performance

of

Network, TENCON 2010 - 2010 IEEE

A. Kouba, M. Alves, E. Tovar, IEEE

802.15.4

Networks,

CSMA/CA Algorithm for Wireless Sensor

v1.0, [Online] http://www.zigbee.org.

[5].

Sensor

[11]. Saeed Ur Rehman, Stevan Berber, Akshya

ZigBee Alliance, Zigbee specification

Technical

Wireless

Italy, 2006.

ZigBee, [online]
http://en.wikipedia.org/wiki/ZigBee.

[4].

Simulation

Factory Communication Systems, Torino,

(WPANs), IEEE Computer Society.

[3].

Comprehensive

Study of Slotted CSMA-CA for IEEE

physical layer (PHY) specifications for

[2].

J. Zheng and M. J. Lee, A comprehensive


performance study of IEEE
802.15.4, Sensor Network Operations,
IEEE Press, Wiley Interscience, ISBN 0471-71976-5, Chapter 4, pp. 218-237,
2006.

125