You are on page 1of 21

SEMINAR PERPAJAKAN

PELUANG DAN KEUNTUNGAN

E-FAKTUR PAJAK

Kelompok 6:

1.
2.
3.
4.
5.

Dela Farhana
(10)
Indra Ahmad Wijaya (17)
Risca Dessyanty
(24)
Tesalonika Broery A (28)
Wahyu Hidayat
(29)

KELAS X-B
DIPLOMA IV KEUANGAN
SPESIALISASI AKUNTANSI KURIKULUM KHUSUS
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN

DAFTAR ISI
Halaman Judul

..........................................................................................................................

i

Daftar Isi

..........................................................................................................................

ii

PENDAHULUAN ................................................................................................................

1

A.

Latar Belakang ..........................................................................................................

1

B.

Identifikasi Permasalahan ........................................................................................

1

C.

Tujuan Penulisan ......................................................................................................

2

D.

Metodologi ...............................................................................................................

2

LANDASAN TEORI.............................................................................................................

3

A.

Dasar Hukum ............................................................................................................

3

B.

Faktur Pajak PPN dan Perkembangannya ................................................................

3

MEKANISME PENERAPAN E-FAKTUR ...............................................................................

4

A.

Tahapan Implementasi e-Faktur ..............................................................................

5

B.

Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan e-Faktur ........................................................

7

ELECTRONIC TAX INVOICE DI KOREA SELATAN ................................................................

12

A.

Dasar Hukum ............................................................................................................

12

B.

Faktur Pajak (Tax Invoice) ........................................................................................

12

C.

Electronic Tax Invoice ...............................................................................................

12

PELUANG DAN KEUNTUNGAN PENGGUNAAN E-FAKTUR PAJAK ....................................

17

DAFTAR REFERENSI .........................................................................................................................

19

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

Pengusaha Kena Pajak ii

Registrasi Ulang PKP. Program ini sudah berlangsung sejak tahun 2011 dan dituangkan dalam roadmap DJP sampai tahun 2015. Oleh karena itu. Uraian lebih lanjut mengenai e-Faktur akan disampaikan pada bagian Pembahasan dalam paper ini. serta melaporkannya kepada Kantor Pelayanan Pajak. membawa tantangan tersendiri dari segi pengawasan terhadap kepatuhan pemenuhan perpajakan wajib pajak. Faktur Pajak Elektronik dilatarbelakangi oleh 2 (dua) hal utama. Program Reformasi Sistem Administrasi PPN merupakan sebuah “pembenahan” administrasi untuk menangkal ketidakpatuhan PKP dan demi mewujudkan sistem administrasi DJP yang lebih efektif dan efisien. yaitu adanya penyalahgunaan PKP/ Faktur Pajak dan Tingginya beban administrasi Faktur Pajak. maka dibuatlah mekanisme faktur pajak elektronik tersebut. 5) Jenis transaksi yang dibuatkan faktur pajak kini terbatas pada penyerahan BKP dan JKP saja. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 4) PKP yang membuat hanya yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN BAB I PENDAHULUAN A. yaitu Reformasi Sistem Administrasi PPN. dan 6) pelaporan dengan menggunakan aplikasi yang sama dengan pembuatan e-faktur.03/2013 yang dijabarkan lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 16/PJ/2014. Bergantinya sistem pemungutan pajak dari semula official assessment menjadi self assessment. Dinamisnya berbagai perubahan dunia bisnis yang diiringi dengan era globalisasi. E-Faktur Pajak 1 . Perubahannya mencakup : 1) Format Faktur Pajak yang telah ditentukan sistem. membuat Direktorat Jenderal Pajak akhirnya melakukan reformasi lanjutan. menghitung PPN terutang. rupanya belum semua mematuhi kewajibannya. Adapun rencana pembenahan administrasi PPN meliputi Evaluasi Bentuk Pelaporan SPT . melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK. Niat baik dari Direktorat Jenderal Pajak untuk membuat sistem administrasi perpajakan menjadi lebih baik rupanya tidak cukup sampai di situ. serta implementasi Faktur Pajak elektronik (e-faktur). dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPN dan PPnBM). membuat Direktorat Jenderal Pajak harus cukup adaptif menjawab semua tantangan tersebut. Para Pengusaha Kena Pajak yang diberi kepercayaan untuk memungut PPN. Kasus para Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Fiktif sehingga membuat kerugian kepada keuangan negara. Kewajiban Penggunaan e-SPT bagi Wajib Pajak Badan dan PKP individu tertentu. kenaikan batas omzet bagi pengusaha kecil. 3) lembaran faktur pajak yang tidak perlu docetak. LATAR BELAKANG Tonggak Reformasi Perpajakan di Indonesia sudah dimulai sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tergolong sebagai pajak objektif. dipandang sangat terkait erat dengan dunia usaha karena melingkupi “Pengusaha Kena Pajak” yang dijelaskan dalam UndangUndang PPN sebagai pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Evaluasi Sistem Value Added Tax (VAT) dan pertimbangan untuk mengadopsi sistem Pajak Konsumsi (GST-Goods and Sales Tax). 2) bentuk tanda tangan elektronik. salah satunya adalah dengan terus melakukan pembenahan di bidangadministrasi.

penulis mencoba merumuskan permasalahan yang akan ditulis sebagai berikut: 1.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN B. dimana bahan yang diolah dari berbagai sumber baik berupa peraturan perpajakan maupun literaturliteratur perpajakan online. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN Maksud dan tujuan penulisan makalah ini selain dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Seminar Perpajakan. juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis terkait Pengusaha Kena Pajak. D. Bagaimana perkembangan penggunaan E-Faktur Pajak? 2. Bagaimana mekanisme pelaksanaan E-Faktur Pajak? 3. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Berdasarkan latar belakang diatas. E-Faktur Pajak 2 . METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi kapustakaan. Apa peluang dan keuntungan penggunaan E-Faktur? C. Bagaimana perbandingan dengan E-Faktur di Korea Selatan? 4.

Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan. Penulis berpendapat bahwa penyederhanaan definisi ini sudah tepat. Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian. Faktur Pajak PPN dan Perkembangannya Di dalam Undang-Undang PPN Nomor 8 Tahun 1983 sebagaiman telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) c. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) b.03/2013 tentang Tata Cara Pembuatan Dan Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian Faktur Pajak  Peraturan Dirjen Pajak Nomor 16/PJ/2014 tentang Tata Cara Pembuatan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik  Peraturan Dirjen Pajak Nomor 17/PJ/2014 tentang Bentuk. Bukti tagihan atas penyerahan listrik h. Bukti tagihan atas penyerahan jasa telekomunikasi e./2010 tentang Dokumen Tertentu yang Kedudukannya Dipersamakan dengan Faktur Pajak B. karena bukti pungutan pajak karena impor akan dijelaskan dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-27/PJ/2011. Definisi ini menyederhanakan pengertian Faktur Pajak sebelumnya. Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak  Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-27/PJ. definisi Faktur Pajak ada pada Pasal 1 angka 21. Tiket. yang mencakup bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak (BKP) yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Surat Setoran Pajak (SSP) untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP tidak terwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean. atau Delivery Bill f. E-Faktur Pajak 3 . Adapun dokumen yang dipersamakan dengan faktur pajak menurut SE tersebut : a. Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) d. Dasar Hukum  Undang-Undang PPN Nomor 8 Tahun 1983 sebagaiman telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah  Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK. Tata Cara Pengisian Keterangan. Pemberitahuan Ekspor JKP/ BKP Tidak Berwujud i. g. tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill). Nota Penjualan Jasa yang untuk penyerahan jasa kepelabuhanan. Pemberitahuan Impor Barang (PIB) j. sehingga definisi dalam Undang-Undang mengenai Faktur Pajak cukup sampai dengan penyerahan BKP dan atau JKP saja.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN BAB II LANDASAN TEORI A. yakni : “Faktur Pajak adalah buktipungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak”. Ukuran.

hal tersebut sudah mengakomodir definisi Faktur Pajak Sederhana pada ketentuan sebelumnya. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut. dan diatur lebih lanjut pada ayat (7). c. dan g. alamat. merujuk pada perubahan Pasal 13 ayat (5) dan (7). dan potongan harga. Bukti tagihan (Trading Confirmation) atas penyerahan JKP oleh perantara efek. Bukti tagihan atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh perbankan. alamat. dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak. Pada aturan sebelum tahun 2010. yakni  Faktur Pajak Standar dan dokumen tertentu yang dipersamakan dengan faktur pajak standar  Faktur Pajak sederhana  Faktur Pajak Gabungan Semenjak berlakunya Undang-undang Nomor 42 tahun 2009 maka istilah Faktur Pajak Standar dan Faktur Pajak Sederhana dihilangkan. Pengecualian lainnya adalah PKP dapat membuat Faktur Pajak Gabungan. nomor seri. dimana tidak semua syarat ketentuan wajib diisi. d. termasuk penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan sebagaimana tercantum dalam Pasal 16D  Penyerahan JKP  Ekspor BKP tidak berwujud  Ekspor Jasa Saat dibuatnya Faktur Pajak oleh PKP adalah pada saat penyerahan BKP/ JKP. Adapun transaksi yang mewajibkan dibuatnya Faktur Pajak yakni  Penyerahan BKP. yakni akumulasi penyerahan BKP atau JKP selama satu bulan kalender. nama. Keterangan yang harus ada pada Faktur Pajak : a. b. hanya ada istilah Faktur Pajak dan Faktur Pajak Gabungan. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak Memori penjelasan pada pasal 13 ayat (5) menyebutkan bahwa Faktur Pajak yang tidak diisi lengkap sesuai ketentuan akan berimbas pada tidak dapat dikreditkannya Pajak Masukan atas penyerahan tersebut. Hal selanjutnya yang perlu dicermati dari perkembangan Faktur Pajak adalah perubahan jenisnya. Faktur Pajak hanya dapat dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak. baik untuk keseluruhan penyerahan maupun hanya sebagian (termin) maka Faktur Pajak dibuat pada saat pembayaran diterima. e. dan m. Dihilangkannya istilah Faktur Pajak Standar dan Sederhana. dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. hal ini sudah tepat. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut. Sebenarnya. dengan syarat diserahkan kepada pembeli yang sama. mengingat sifat Faktur Pajak sederhana yang juga E-Faktur Pajak 4 . jenis barang atau jasa. dan tanggal pembuatan Faktur Pajak.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN k. kode. Menurut penulis. Namun dalam hal ada pembayaran sebelum dilakukan penyerahan. kita mengenal ada 3 (tiga) bentuk Faktur Pajak. sehingga di dalam ketentuan tersebut. nama. Faktur Pajak ini harus dibuat paling lama pada saat akhir bulan penyerahan. jumlah Harga Jual atau Penggantian. f. Bukti tagihan atas penyerahan BKP dan/ atau JKP Pajak oleh Perusahaan Air Minum: l.

Beban administrasi faktur pajak terus meningkat Ketentuan faktur pajak tercetak seperti yang sebelumnya diterapkan menimbulkan beban administrasi yang cukup signifikan. E-Faktur akan mempermudah proses pengawasan PKP dan menurunkan beban pengawasan. Manfaat eFaktur bagi PKP adalah meningkatkan kenyamanan PKP karena penggunaan tanda tangan elektronik. Faktur Pajak dilaporkan tercetak secara manual ke Kantor Pelayanan Pajak begitu juga sebagian dari SPT masa PPN sehingga menimbulkan beban kerja pegawai dan beban administrasi yang besar. Manfaat lainnya bagi PKP adalah adanya perlindungan dari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab karena dalam pelaksanaannya di butuhkan approval atas e-Faktur dari DJP dan adanya transparansi karena validasi faktur pajak dapat diketahui oleh pihak pembeli. E-Faktur diharapkan mampu menjadi alat pengendalian dan pengawasan yang efektif atas PKP dan faktur pajak itu sendiri karena penyalahgunaan yang terjadi menjadi indikasi penurunan kepatuhan PKP sehingga menyebabkan penerimaan PPN kurang optimal. Penyalahgunaan kewenangan PKP dan faktur pajak Penyalahgunaan atas kewenangan PKP dan faktur pajak banyak sekali terjadi diantaranya adalah wajib pajak yang belum dikukuhkan sebagai PKP menerbitkan faktur pajak. maka istilah Faktur Pajak Standar yang merujuk pada dipenuhinya semua syarat keterangan pada ayat (5) juga dihapuskan. Selain itu. Latar belakang tersebut adalah : 1. Dan untuk melengkapi dihapusnya istilah Faktur Pajak sederhana. administrasi faktur pajak secara manual membuat pengawasan kepatuhan atas PKP menjadi sulit sehingga beban pengawasan PKP menjadi semakin besar seiring semakin meningkatnya jumlah PKP dan penerbitan faktur pajak. tidak hanya melihat kepentingan dari DJP semata. E-Faktur Pajak ditetapkan dengan mempertimbangkan kepentingan wajib pajak khususnya PKP. Terdapat dua hal yang menjadi latar belakang Direktorat Jenderal Pajak menetapkan E-Faktur menjadi bagian dari sistem administrasi PPN di Indonesia. banyak ditemukannya faktur pajak fiktif dan faktur pajak ganda. 2. E-Faktur akan mempermudah pengadministrasian dan secara otomatis mengurangi beban administrasi. Manfaat adanya e-Faktur bagi DJP adalah untuk mempermudah pelayanan dalam percepatan proses pemeriksaan. Manfaat penetapan e-Faktur dapat dirasakan baik oleh DJP maupun PKP. E-Faktur Pajak 5 . faktur pajak atas transaksi tidak diterbitkan. tidak perlu dilaporkan tercetak dan e-Faktur menjadi satu kesatuan dengan SPT Masa PPN. percepatan proses pelaporan dan percepatan pemberian nomor seri faktur pajak serta mempermudah pengawasan atas PKP dan Faktur Pajak karena validasi PK-PM lebih akurat dan data atas faktur pajak menjadi lebih lengkap.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN tidak dapat dikreditkan.

Implementasi e-Faktur kepada Pengusahan Kena Pajak (PKP) tertentu di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar. Sebelumnya. yakni suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan. Penetapan Nomor Seri Faktur Pajak oleh DJP dapat mempermudah pelaksanaan pengawasan atas kepatuhan perpajakan PKP. Tahapan Implementasi e-Faktur Program E-Faktur diimplementasikan secara bertahap dari segi waktu dan wilayah. sesuai dengan aturan yang berlaku. E-Nofa merupakan penentuan mekanisme untuk penomoran Faktur Pajak yang berupa kumpulan angka. Tujuan utama program Registrasi Ulang ini adalah untuk menyaring PKP yang benar-benar memenuhi kriteria Objektif dan Subjektif untuk dikukuhkan sebagai PKP. Registrasi Ulang PKP adalah program utama terkait penertiban PKP yang telah selesai dilaksanakan pada 31 Desember 2012 dan output dari program ini telah dijadikan sumber data untuk pelaksanaan program selanjutnya terkait PKP antara lain E-Nofa (Elektronik nomor faktur) dan E-Faktur (Elektronik Faktur Pajak). Imbasnya. Namun dengan terbitnya peraturan ini maka semua penomoran berasal dari DJP. DJP dapat mudah melakukan pengawasan dengan melacak transaksi terkait PKP dengan melihat penggunaan nomor seri faktur pajak dan juga konfirmasi kebenaran faktur. E-Faktur Pajak 6 . berupa penggunaan aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk pembuatan Faktur Pajak berbentuk elektronik. dan untuk menguji pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif Pengusaha Kena Pajak. dengan dasar pelaksanaannya yaitu Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-24/PJ/2012. terlebih dahulu DJP melakukan pembenahan administrasi di bidang PPN. atau kombinasi angka dan huruf. dimana penomoran ini ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. di antaranya dengan melakukan Program Registrasi Ulang PKP. Kantor Pelayanan Pajak Khusus.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN BAB III MEKANISME PENERAPAN E-FAKTUR A. 1 Juli 2015 E-Faktur Pajak akan diberlakukan untuk seluruh PKP di Kantor Pelayanan Pajak Pulau Jawa dan Bali. dan Kantor Pelayanan Pajak Madya di Jakarta mulai 1 Juli 2014. Tahapan selanjutnya yakni Faktur Pajak Elektronik (e-Faktur) dengan disahkannya peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-17/PJ/2014 yang menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pajak memberikan sertifikat elektronik kepada PKP yang berfungsi sebagai otentifikasi pengguna layanan perpajakan secara elektronik yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Program selanjutnya yang terkait adalah e-Nofa. penertiban administrasi. Sedangkan pemberlakukan e-Faktur Pajak secara nasional akan dimulai pada 1 Juli 2016. Sebelum murni dilaksanakannya e-Faktur. pemberian Nomor Faktur Pajak diserahkan kepada PKP masing-masing. pengawasan. karena data konfirmasi faktur berada pada internal DJP. penerbitan Faktur Pajak juga akan semakin tertib dan dilakukan oleh PKP yang memang berhak. huruf. Sistem ini pun dapat menurunkan tingkat terjadinya faktur pajak fiktif karena nomor seri faktur bersifat unik dan tidak didapatkan dengan mudah serta sulit disalahgunakan oleh Wajib Pajak.

TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN Sumber : Materi sosialisasi E-Faktur (DJP. penunjukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pemungut PPN hingga penomoran faktur pajak secara elektronik (e-Nomor Faktur/ e-NoFa). Aplikasi atau sistem elektronik tersebut dilengkapi dengan petunjuk penggunaan (manual user) yang merupakan satu kesatuan dengan aplikasi atau sistem elektronik tersebut. PKP yang termuat dalam lampiran 1 Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut adalah 45 PKP yang diwajibkan menerapkan e-Faktur sejak 1 Juli 2014. 1. Sebelumnya. Peluncuran e-Faktur diatur dalam Per Dirjen Pajak Nomor PER-16/PJ/2014 tentang Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik. Tahun 2014 pembenahan dilanjutkan dengan peluncuran e-Faktur Pajak bagi wajib pajak tertentu. Pembuatan e-Faktur oleh PKP Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang diwajibkan untuk membuat E-Faktur diatur di dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-136/PJ/2014 tentang Penetapan Pengusaha Kena Pajak Yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik. 2 KEP-136/PJ/2014 dan PKP yang kewajiban pelaksanaan e-faktur nya diatur tersendiri. yang selanjutnya disebut e-Faktur. yang dikukuhkan setelah tanggal 1 Juli 2016 wajib membuat e-Faktur sejak PKP tersebut dikukuhkan. Sedangkan pemberlakuan e-Faktur Pajak secara nasional akan dimulai pada 1 Juli 2016. DJP telah melakukan pembenahan dengan melakukan registrasi ulang PKP. Faktur Pajak berbentuk elektronik. Lampiran kedua Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut menetapkan pemberlakuan untuk seluruh PKP di Kantor Pelayanan Pajak Pulau Jawa dan Bali pada 1 Juli 2015. adalah Faktur Pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh DJP. E-Faktur Pajak 7 . Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan e-Faktur e-Faktur Pajak merupakan kelanjutan pembenahan sistem sejak tahun 2011 untuk memudahkan administrasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). pengembangan aplikasi pengawasan PKP. Bagi PKP selain yang tercantum dalam lampiran 1. batasan pengukuhan PKP. 2014) B.

Ayat 2 memuat pengecualian atas kewajiban pembuatan e-Faktur antara lain atas penyerahan BKP dan/atau JKP: a. dan/atau b. saat penyerahan Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. saat penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 16D Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. dan c. saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak. Penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 16D Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. 2. yang dilakukan oleh pedagang eceran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012. Penyerahan Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c UndangUndang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. Sedangkan waktu pembuatan e-Faktur dimuat dalam pasal 3.Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tersendiri.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN Pasal 2. e-Faktur wajib dibuat oleh PKP dimaksud pada: 1. Ayat 1 memuat kewajiban pembuatan e-Faktur oleh PKP dimaksud untuk setiap: a. yang bukti pungutan Pajak Pertambahan Nilainya berupa dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. E-Faktur Pajak 8 . yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak Toko Retail kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16E Undang. saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan. 3. 5. b. 4.

f.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN 2. dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. E-Faktur Pajak 9 . dan potongan harga. jenis barang atau jasa. kode. Pasal 5 mengatur bahwa e-Faktur dibuat dengan menggunakan mata uang Rupiah dan Untuk penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang menggunakan mata uang selain Rupiah maka harus terlebih dahulu dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan pada saat pembuatan eFaktur. Pasal 8 memuat ayat-ayat sebagai berikut : 1. Permintaan data e-Faktur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terbatas pada data e-Faktur yang telah diunggah (upload) ke Direktorat Jenderal Pajak dan telah memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. Pengusaha Kena Pajak yang membuat e-Faktur harus melakukan pembatalan e-Faktur melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak. alamat. alamat. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. Kriteria e-Faktur yang sah Pasal 4 menyatakan bahwa e-Faktur harus mencantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat: a. nama. jelas dan benar. dan tanggal pembuatan Faktur Pajak. 3. Atas data e-Faktur yang rusak atau hilang. sehingga tidak memuat keterangan yang lengkap. Pengusaha Kena Pajak dapat mengajukan permintaan data e-Faktur ke Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan dengan menyampaikan surat Permintaan data eFaktur sebagaimana diatur dalam Lampiran PER-16/PJ/2014 3. d. E-Faktur dengan kesalahan pengisian. Atas hasil cetak e-Faktur yang rusak atau hilang. rusak atau hilang dan pembatalan transaksi Pasal 6 mengatur tentang e-faktur dengan kesalahan pengisian dan penulisan sedangkan pasal 8 mengatur e-Faktur yang rusak atau hilang. Pasal 7 menyatakan dalam hal terdapat pembatalan transaksi penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang e-Fakturnya telah dibuat. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut. Atas e-Faktur yang salah dalam pengisian atau salah dalam penulisan. 2. c. dan g. penulisan. tandatangan yang digunakan dalam e-Faktur adalah tandatangan elektronik. nomor seri. Pengusaha Kena Pajak yang membuat e-Faktur tersebut dapat membuat e-Faktur pengganti melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan DJP. dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak. Pengusaha Kena Pajak yang membuat eFaktur dapat melakukan cetak ulang melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak. e. nama. jumlah Harga Jual atau Penggantian. b.

e-Faktur tidak diwajibkan untuk dicetak dalam bentuk kertas (hardcopy). 1. e-Faktur wajib dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak ke Direktorat Jenderal Pajak dengan cara diunggah (upload) ke Direktorat Jenderal Pajak dan memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN 4. 2. 4. Direktorat Jenderal Pajak memberikan persetujuan untuk setiap e-Faktur yang telah diunggah (upload) sepanjang Nomor Seri Faktur Pajak yang digunakan untuk penomoran eFaktur tersebut adalah Nomor Seri Faktur Pajak yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak yang membuate-Faktur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 11 memuat tata cara pelaporan e-Faktur oleh PKP yaitu. Pelaporan e-Faktur oleh PKP Bentuk e-Faktur adalah berupa dokumen elektronik Faktur Pajak. yang merupakan hasil keluaran (output) dari aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. 3. e-Faktur yang tidak memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak bukan merupakan Faktur Pajak. Secara umum gambaran proses pembuatan dan pelaporan e-Faktur dapat digambarkan sebagai berikut : E-Faktur Pajak 10 . Pelaporan e-Faktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan aplikasi atau sistem elektronik yang telah ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak.

E-Faktur Pajak 11 . Untuk pelaporan SPT masa PPN atas e-Faktur digunakan aplikasi yang sama sehingga menjadi lebih ringkas dan cepat prosesnya. 2014) Dari tabel perbandingan e-Faktur dan Faktur Pajak Manual dapat kita lihat bahwa e-Faktur memberikan banyak kemudahan bagi PKP. E-Faktur pun secara sistem harus menggunakan e-Nofa dan dilaporkan dengan cara upload ke server DJP kemudian mendapatkan validasi sehingga lebih aman dari penyalahgunaan. Tanda tangan pejabat yang ditunjuk menandatangani FP pun tidak wajib lagi tandatangan basah tetapi cukup tandatangan elektronik. Perbedaan e-Faktur dan Faktur Pajak Manual NO KETERANGAN FAKTUR PAJAK MANUAL e-FAKTUR 1 Format/lay out Bebas tidak ditentukan dan dapat mengikuti contoh di lampiran PER24/PJ/2014 Ditentukan oleh aplikasi/sistem yang ditentukan dan atau disediakan oleh DJP 2 Tanda tangan pegawai/pejabat yg ditunjuk oleh PKP Tanda tangan basah diatas FP kertas Tanda tangan elektronik berbentuk QR code 3 Bentuk dan jumlah lembar Diwajibkan berbentuk kertas dan jumlah lembar diatur Tidak diwajibkan untuk dicetak dalam bentuk kertas 4 PKP yang membuat Seluruh PKP PKP yang ditetapkan oleh DJP (per 1 Juli 2014) 5 Jenis Transaksi seluruh Penyerahan BKP/JKP saja 6 Prosedur Lapor/upload dan persetujuan DJP - e-Faktur dilaporkan ke DJP dengan cara upload dan mendapat persetujuan DJP 7 Pelaporan SPT PPN Menggunakan aplikasi tersendiri Menggunakan aplikasi yang sama dengan aplikasi pembuatan e-Faktur Sumber : Materi sosialisasi E-Faktur (DJP. PKP pun tidak wajib mencetak FP dalam bentuk kertas sehingga beban administrasi atas FP menjadi berkurang.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN 5. Format FP telah tersedia sesuai keluaran dari aplikasi atau sistem sehingga PKP tidak perlu lagi mendesain format FP sendiri.

Dasar Hukum Dasar hukum yang digunakan dalam pengaturan dalam penerbitan dan pengelolaan Electronic Tax Invoice (e-Tax Invoice) di Korea Selatan adalah Value Added Tax (VAT) Act Article 16 yang diterbitkan pada tahun 2008 yang diterbitkan oleh instansi perpajakan Korea Selatan. 3. Bagi pengusaha (baik perusahaan atau pribadi) diwajibkan untuk menerbitkan faktur pajak elektronik (Electronic Tax Invoice)sejak tahun 2010. yang melakukan penyerahan 2. ElectronicTax Invoice e-Tax Invoice system adalah sistem yang mengelola faktur pajak secara online yang memungkinkan penerbitan dan distribusi faktur pajak secara online. ketika seorang pengusaha yang terdaftar sebagai “tax payment obligor” melakukan penyerahan barang atau jasa. dan transmisi data faktur pajak tersebut ke National Tax Service (NTS). Nomor registrasi VAT dan nama “tax payment obligor”. Isi dari Tax Invoice tersebut harus memuat: 1. Faktur Pajak (Tax Invoice) Berdasarkan VAT Act. Nomor registrasi VAT dari pihak yang menerima penyerahan. Sistem ini diharapkan dapat mengurangi biaya E-Faktur Pajak 12 . 4. Informasi lainnya yang ditentukan sesuai peraturan. B. Contoh Faktur Pajak (Tax Invoice) adalah sebagai berikut: C. dia wajib menerbitkan faktur pajak (Tax Invoice) kemudian menyerahkannya kepada pelanggan. Tanggal penerbitanTax Invoice. 5. Nilai penyerahan dan nilai VAT yang terutang.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN BAB IV ELECTRONIC TAX INVOICE DI KOREA SELATAN A. yaitu National Tax Service (NTS).

hal ini sama dengan penerbitan faktur pajak kertas. kemudian mengisi data di aplikasi tersebut.kr menggunakan Sertifikat Terakreditasi (Accredited Certificate). Secara garis besar proses penerbitan e-Tax Invoice adalah sebagai berikut: Dari gambar di atas dapat terlihat bahwa. Data transaksi dan e-Tax Invoice yang diterbitkan harus ditransmisikan kepada NTS secara online. atau mengunjungi Kantor Pelayanan Pajak untuk menerbitkan faktur pajak tersebut. user harus memberikan faktur tersebut melalui e-mail ke pelanggannya. Setelah membuat faktur pajak.  ERP Sebuah perusahaan besar dengan ERP system sendiri dapat menggunakan sistem tersebut untuk menerbitkan dan mengirimkan faktur pajak.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN kepatuhan wajib pajak (compliance cost).  Telepon atauTax Office Bagi pengusaha yang tidak memiliki akses ke internet dapat menggunakan layanan AVRS untuk mengeluarkan e-Tax Invoice. Layanan eSero tersedia secara gratis. b.  ASP (Application Service Provide) Pengusaha juga dapat menggunakan ASP selain eSero untuk mengeluarkan dan mengirimkan faktur pajak.go. sementara pengusaha individu dapat memilih faktur pajak kertas (ordinary Tax Invoice) atau e-Tax Invoice. pengguna (user) harus melakukan login ke www. Badan usaha diwajibkan untuk menggunakan e-Tax Invoice. Penjual harus melakukan log in dahulu kepada issuance system yang ada (menggunakan eSero atau ASP/ERP). a. setelah itu maka e-Tax Invoice diterbitkan dan harus dikirimkan kepada pembeli melalui email. Penerbitan dan Distribuse-Tax Invoice Sebuah faktur pajak elektronik diterbitkan pada saat barang atau jasa diberikan kepada pelanggan. E-Faktur Pajak 13 .esero. Aplikasi Faktur Pajak Elektronik (e-Tax Invoice) Aplikasi atau media yang dapat dilakukan untuk menerbitkan dan mendistribusikan faktur pajak elektronik adalah sebagai berikut:  eSero Pada saat penerbitan dan distribusi faktur pajak.

Penerbitan faktur pajak selesai ketika file faktur pajak elektronik dikirim ke e-mail pembeli. penerbitan faktur pajak dianggap selesai ketika data dimasukan dan dikirim ke eSero. pengusaha menerima kredit pajak sebesar 100 KRW per penerbitan (sampai satu juta KRW dapat dikreditkan per tahun). pengusaha dapat mengirimkan e-Tax Invoice ke NTS paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya. User membutuhkan Sertifikat Terakreditasi (Accredited Certificate) untuk menggunakan sistem e-Tax Invoice System. Namun. E-Faktur Pajak 14 . Sanksi Wajib pajak badan diwajibkan untuk menggunakan e-Tax Invoice sejak tahun 2010. Apabila menggunakan ASP. Setelah penerbitan dan distribusi e-Tax Invoice. maka prosesnya dapat terlihat sebagai berikut: (contoh menggunakan ASP Nongshim Data System dengan aplikasi bernama Speed Bill) Secara garis besar prosesnya sama dengan yang sebelumnya. maka dia akan dikenakan denda sebesar 1% dari nilai penyerahan. d. Faktur pajak harus dikirimkan ke NTS segera setelah faktur pajak didistribusikan. Jika pembeli tidak memiliki akun e-mail. Jika pengusaha menerbitkan e-Tax Invoice tetapi belum/tidak mengirimkannya ke NTS pada tanggal 10 bulan berikutnya. hanya gambar di atas menggambarkan proses menggunakan aplikasi Speed Bill yang disediakan oleh NDS.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN Pembeli juga dapat melihat atau melakukan pengecekan terhadap e-Tax Invoice yang diterimanya apakah benar-benar faktur pajak yang diterbitkan penjual dan sudah terdata di NTS dengan mengecek langsung ke issuance system yang ada (menggunakan eSero atau ESP/ERP). c. User diperlukan untuk mendapatkan rekening bisnis e-mail dari pembeli untuk mendistribusikan faktur pajak. bukan melalui eSero yang disediakan oleh NTS. faktur tersebut hanya dapat direvisi dalam kasus-kasus tertentu. Manfaat Faktur e-tax Dengan menggunakan e-Faktur Pajak. Setelah dikirim ke NTS. Wajib pajak badan dikenakan denda sebesar 2% dari nilai penyerahan jika mereka tidak menggunakan sistem e-Tax Invoice.

E-Faktur Pajak 15 . Sistem ini secara konstan memantau transaksi “before” (yaitu. pengusaha dapat mengakses "Third Party Checking” pada eSero. Dari 63. Pada Oktober 2012. dan 75% mengatakan perlu untuk membuat e-Tax Invoice menjadi wajib untuk semua pengusaha individu. Namun. "Pre-filing Early Warning System”) dan “after” (yaitu. dan mengenakan denda kepada 288 wajib pajak karena melakukan kesalahan. pemilik usaha dapat mulai mengeluarkan e-Tax Invoice dengan ponsel. “Post-filing Early Verification System”) VAT filling. Pre-filing Early Warning System memantau e-Tax Invoice segera setelah diterbitkan dan ditransmisikan sehingga dapat mendeteksi penipuan terhadap faktur pajak secara realtime. Perbaikan terbaru untuk Sistem Faktur e-tax  e-Tax Invoice Early Warning System & Early Verification System Dalam rangka meningkatkan transparansi dalam transaksi. e. Hal ini memungkinkan pengusaha individu untuk mengeluarkan e-Tax Invoice dengan mudah. mulai Januari 2013.03 triliun Won transaksi yang melanggar peraturan VAT. NTS telah diaudit 374 pengusaha. dapat mengumpulkan 373.6 Miliar Won dalam bentuk pajak yang belum dibayar. Dalam kasus pihak ketiga seperti organisasi pemerintah atau lembaga keuangan meminta pengecekan tentang penerbitan faktur pajak. telah dilakukan survei di situs e-Tax Invoice. 74% dari responden berpikir Sistem e-Tax Invoice nyaman. Pada bulan April 2012. yang "e-Tax Invoice Early Warning System" diadopsi pada bulan Oktober 2010. Post-filing Early Verification System melacak orang-orang yang melakukan pengkreditan pajak masukan palsu dengan menganalisis berbagai data (misalnya.  PenerbitanFaktur e-tax via Ponsel e-Tax Invoice sebelumnya dikeluarkan melalui PC dengan akses internet atau layanan telepon AVRS.000 orang yang disurvei. Pengusaha tidak perlu membuat daftar faktur pajak yang diterbitkan dan diterima. dan dapat mendeteksi sekitar 5.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN pengusaha tidak perlu untuk mencetak atau menyimpan e-Tax Invoice tersebut. catatan pembelian dan penjualan) segera setelahVAT Return diajukan.

TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN Pengusaha individu tersebut harus login ke sistem eSero menggunakan Sertifikat Terakreditasi (Accredited Certificate) atau Security Card untuk mengeluarkan e-Tax Invoice. E-Faktur Pajak 16 .

huruf.Dengan adanya e-faktur client aplication dapat melakukan permintaan nomor seri faktur pajak secara online. 3. Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan. Dengan sistem paperless ini maka dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh perusahan untuk pengadaan kertas dan pencetakan. Memudahkan pelaporan SPT Masa PPN Kedepannya aplikasi e-faktur pajak akan disinergikan dengan e-SPT. Selain itu penggunaan aplikasi untuk menerbitkan faktur juga dapat mengurangi cost tenaga kerja verifikasi. 2. Meningkatnya validitas faktur pajak Yang sering menjadi permasalahan baik bagi pengusaha kena pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak adalah penggunaan faktur pajak fiktif dan atau faktur pajak tidak standar. Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak terjadi perubahan mekanisme penomoran faktur pajak.Dalam peraturan tersebut Nomor Seri Faktur Pajak didefinisikan sebagai nomor seri yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak dengan mekanisme tertentu untuk penomoran Faktur Pajak yang berupa kumpulan angka. atau kombinasi angka dan huruf yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Tata Cara Pengisian Keterangan. Dengan disinergikannya aplikasi e-faktur pajak dan e-SPT maka akan memudahkan pengusaha kena pajak dalam melaporkan PPN terkait kegiatan usahanya. dan mengurangi pegawai yang dipekerjakan untuk menangani PPN. E-Faktur Pajak 17 . Ukuran. akan memberi manfaat baik terhadap pengusaha kena pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak. Mengurangi cost compliance Dengan tidak diwajibkannya tanda tangan basah (penggunaan tanda tangan elektronik) maka e-Faktur Pajak tidak diwajibkan untuk dicetak dalam lembaran kertas. Sedangkan format faktur akan lebih terstandar karena merupakan hasil dari aplikasi yang sama.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN BAB V PELUANG DAN KEUNTUNGAN PENGGUNAAN E-FAKTUR PAJAK Dengan penggunaan e-faktur pajak. 4. Manfaat bagi pengusaha kena pajak diantaranya adalah : 1. Dengan berlakunya peraturan ini maka pengusaha kena pajak tidak diperkenankan memberi nomor sendiri dan harus datang ke Kantor Pelayanan Pajak dalam rangka permintaan nomor faktur pajak. Permintaan nomor faktur pajak secara online Setelah terbit PER-24/PJ/2012 Tentang Bentuk. Dengan penggunaan Aplikasi e-faktur dari Direktorat Jenderal Pajak maka validitas akan lebih terjaga karena perlu ada persetujuan/ approval dari Direktorat Jenderal Pajak ketika pengusaha kena pajak akan menerbitkan faktur pajak.Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian. pengkodean.

TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN 5. Dengan menggunakan aplikasi e-faktur dan melaporkannya ke Kantor Pelayanan Pajak secara tidak langsung pengusaha kena pajak juga melakukan penyimpanan pada Server Direktorat Jenderal Pajak. Selain memberikan manfaat bagi pengusaha kena pajak. Jika sewaktu-waktu terjadi kerusakan atau data yang dimiliki oleh pengusaha kena pajak hilang maka dapat mengajukan permintaan data kepada Direktorat Jenderal Pajak. Meningkatkan keamanan data Data merupakan hal yang penting bagi sebuah perusahaan. penggunaan e-faktur pajak juga memberi manfaat baik kepada Direktorat Jenderal Pajak diantaranya adalah : 1. Banyak hal yang berpengaruh pada keamanan data. Jika proses penyimpanan data pada sebuah perusahan tidak memadai maka dapat dimungkinkan data tersebut hilang atau rusak. Memudahkan pelayanan terhadap pengusaha kena pajak Penggunaan e-faktur akan mempersingkat waktu karena proses perekaman SPT tidak dilakukan. Hal ini akan memudahkan Direktorat Jenderal Pajak mendeteksi faktur pajak palsu sehingga diharapkan akan berimbas pada penerimaan pajak secara nasional 2. Hal ini juga dapat mempersingkat proses pemeriksaan dalam hal dilakukan pemeriksaan terhadap pengusaha kena pajak tersebut E-Faktur Pajak 18 . Dengan proses yang lebih cepat maka Account Representative dapat segera memproses data SPT untuk kemudian meneliti potensi yang mungkin ada. Kelengkapan dan validitas data faktur pajak Dengan adanya proses approval dari Direktorat Jenderal Pajak maka validitas faktur pajak akan terjaga. Keamanan yang dimaksud di sini terkait dengan proses penyimpanan data.

Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian.do (diakses pada tanggal 9 November 2014) National Tax Service. Pengembalian. Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan. Tata Cara Pengisian Keterangan.TUGAS MAKALAH SEMINAR PERPAJAKAN DAFTAR REFERENSI Undang-Undang PPN Nomor 8 Tahun 1983 sebagaiman telah diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK. e-Tax Invoice.03/2013 tentang Tata Cara Pembuatan Dan Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian Faktur Pajak Peraturan Dirjen Pajak Nomor 16/PJ/2014 tentang Tata Cara Pembuatan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik Peraturan Dirjen Pajak Nomor 17/PJ/2014 tentang Bentuk. Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-27/PJ.kdi. Permintaan Aktivasi Akun Pengusaha Kena Pajak Dan Sertifikat Elektronik. http://nds. Serta Permintaan. Ukuran. Jakarta Value Added Tax Act for Korea Nongshin Data System./2010 tentang Dokumen Tertentu yang Kedudukannya Dipersamakan dengan Faktur Pajak KEP-136/PJ/2014 tentang Penetapan Pengusaha Kena Pajak Yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik SE-20/PJ/2014 tentang Tata Cara Permohonan Kode Aktivasi Dan Password.jsp?no=3662&page=315&rowcnt=10 (diakses tanggal 9 November 2014) E-Faktur Pajak 19 .kr/eng/solu/speePage.re. Materi Sosialisasi Faktur Pajak Elektronik . Direktur Jenderal Pajak – Kemenkeu.kr/kdi_eng/highlights/govern_ view.nongshim. Speed Bill.2014. http://www. Dan Pengawasan Nomor Seri Faktur Pajak SE-21/PJ/2014 Tentang Tata Cara Permintaan Data Faktur Pajak Berbentuk Elektronik Direktur Jenderal Pajak.co.