You are on page 1of 16

TUGAS KIMIA ORGANIK

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI KELAPA SAWIT

OLEH :
EVI NURUL TRIANDARI

03111403030

MANAT PL HUTAJULU

03111403051

MUHAMMAD HARISUL ISLAM

03111403045

PIPIT ADITIA LISTIYANI

03111403020

SURYANDI PERDANA

03111403042

TEGUH RASPATI

03111403046

FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011
PALEMBANG

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Perkembangan bisnis dan investasi kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir
mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Permintaan atas minyak nabati dan
penyediaan biofuel telah mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang
bersumber dari crude palm oil (CPO) yang berasal dari kelapa sawit. Hal ini disebabkan
tanaman kelapa sawit memiliki potensi menghasilkan minyak sekitar 7 ton/hektar lebih
tinggi dibandingkan dengan kedelai yang hanya 3 ton/hektar. Indonesia memiliki
potensi yang sangat besar dalam pengembangan perkebunan dan industri kelapa sawit
karena memiliki potensi cadangan lahan yang cukup luas, ketersediaan tenaga kerja, dan
kesesuaian agroklimat. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2007 sekitar 6,8 juta
hektar. Dari luas tersebut sekitar 60 % diusahakan oleh perkebunan besar dan sisanya
diusahakan oleh perkebunan rakyat.
Pengembangan perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif dan dampak
negatif. Dampak positif yang ditimbulkan antara lain adalah meningkatkan pendapatan
masyarakat, meningkatkan penerimaan devisa negara, memperluas lapangan pekerjaan,
meningkatkan produktivitas, dan daya saing, serta memenuhi kebutuhan konsumsi dan
bahan baku industri dalam negeri. Selain dampak positif ternyata juga memberikan
dampak negatif. Secara ekologis sistem monokultur pada perkebunan kelapa sawit telah
merubah ekosistem hutan, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan
tropis, serta plsama nutfah, sejumlah spesies tumbuhan dan hewan. Selain itu juga
mengakibatkan hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan,
peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam.
Secara sosial juga sering menimbulkan terjadinya konflik antara perusahaan dengan
masyarakat sekitar baik yang disebabkan oleh konflik kepemilikan lahan atau karena
limbah yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit. Limbah yang dihasilkan oleh industri
kelapa sawit merupakan salah satu bencana yang mengintip, jika pengelolaan limbah
tidak dilakukan secara baik dan profesional, mengingat industri kelapa sawit merupakan
industri yang sarat dengan residu hasil pengolahan.

1.2 Pengolahan Kelapa Sawit
Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) pada umumnya mengolah bahan baku
berupa Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit CPO (Crude Palm Oil)
dan inti sawit (Kernel). Proses pengolahan kelapa kelapa sawit sampai menjadi minyak
sawit (CPO) terdiri dari beberapa tahapan yaitu seperti diagram berikut :

2. Pembahasan
2.1 Limbah Pabrik Minyak Kelapa Sawit
Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab
pencemaran yang terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi
masyarakat (Agustina, dkk, 2009). Dalam pengelolaan industri kelapa sawit juga
dihasilkan limbah baik yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit maupun yang
dihasilkan oleh industri pengolahan kelapa sawit. Untuk menghindari masalah
lingkungan yang diakibatkan oleh limbah industri kelapa sawit, maka diperlukan konsep
pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini didukung oleh sikap untuk menciptakan
produk yang harus berorientasi lingkungan dan harus dibuat dengan proses yang ramah
lingkungan (green consumerism) dan menempatkan lingkungan sebagai non tariff
barrier. Oleh karena itu pendekatan yang banyak diterapkan adalah konsep produk
bersih (cleaner production). Konsep ini dilakukan dengan strategi pengelolaan
lingkungan yang bersifat preventif, terpadu, dan diterapkan secara terus menerus pada
setiap kegiatan mulai dari hulu hingga hilir yang terkait dengan proses produksi,
produk, dan jasa untuk meningkatkan efesiensi pemakaian sumberdaya alam, mencegah
terjadinya pencemaran lingkungan dan dan mengurangi terbentuknya limbah pada
sumbernya, sehingga dapat meminimalisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan
manusia serta kerusakan lingkungan. Kata kunci yang diperlukan dalam pengelolaan
adalah menimalkan limbah, analisis daur hidup, teknologi ramah lingkungan.
Pola pendekatan untuk meciptakan produk bersih adalah pencegahan dan
meminimalisasi limbah yang menggunakan hirarki pengelolaan melalui 1E 4R yaitu
Elimination (pencegahan), Reduce (pengurangan), Reuse (penggunaan kembali),
Recycle (daur ulang), Recovery/Reclaim (pungut ulang) (Panca Wardhanu, 2009).
Jenis-jenis limbah dari Pabrik Minyak Kelapa sawit

2.2 Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit
Secara garis besar, limbah yang dihasilakan dari suatu pabrik minyak kelapa sawit dapat
di olah berdasarkan bagan berikut :

2.2.1 TKKS untuk pupuk organik
Tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik
yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan
kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit
tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi
ekonomi.
Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Pupuk Kompos Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami
proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh micro-organisme. Pada
prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung
dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati
nibah C / N tanah akan mudah diserap oleh tanaman.

b. Pupuk Kalium Tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah padat dapat dibakar dan
akan menghasilkan abu tandan. Abu tandan tersebut ternyata memiliki kandungan
30-40%, K2O, 7%P2O5, 9%CaO, dan 3%MgO. Selain itu juga mengandung unsur
hara mikro yaitu 1.200ppmFe, 1.00 ppm Mn, 400 ppmZn, dan 100 ppmCu. Sebagai
gambaran umum bahwa pabrik yang mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200
ton TBS/ hari akan menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8
ton KCL; 2,2 ton kiersit; dan 0,7ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada
abu tandan dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 – 9.
c. Bahan Serat Tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan serat kuat yang dapat
digunakan untuk berbagai hal, diantaranya serat berkaret sebagai bahan pengisi jok
mobil dan matras, polipot (pot kecil, papan ukuran kecil dan bahan pengepak
industri.
2.2.2 Tempurung buah sawit untuk arang aktif
Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak
kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif
juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet, gula,
dan farmasi.
2.2.3 Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas
Kebutuhan pulp kertas di Indonesia sampai saat ini masih dipenuhi dari impor.
Padahal potensi untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu
alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong kelapa sawit
untuk digunakan bahan pulp kertas dan papan serat.
2.2.4 Batang kelapa sawit untuk perabot dan papan artikel
Batang kelapa sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan
menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat sebagai
bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture,atau sebagai papan partikel. Dari
setiapbatang kelapa sawit dapat diperoleh kayu sebanyak 0.34 m3.

2.2.5 Batang dan pelepah sawit untuk pakan ternak
Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya
terdapat tiga cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu
pertama pengolahan menjadi silase, kedua dengan perlakuan NaOH dan yang ketiga
adalah pengolahan dengan menggunakan uap.
2.3 Pengolahan Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit
2.3.1 Karakteristik Limbah Cair Parik Minyak Kelapa Sawit
Limbah cair yang dihasilkan oleh PMKS berasal dari air kondensat pada proses
sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air hydrocyclone (claybath), dan air pencucian
pabrik. Jumlah air buangan tergantung pada sistem pengolahan, kapasitas olah pabrik,
dan keadaan peralatan klarifikasi. Limbah cair PMKS mengandung bahan organik yang
relatif tinggi dan tidak bersifat toksik karena tidak menggunakan bahan kimia dalam
proses ekstraksi minyak. Komposisi kimia limbah cair PMKS dan komposisi asam
amino limbah cair segar disajikan pada tabel berikut:
Tabel 1. Komposisi Kimia Limbah Cair PMKS
Komponen
Ekstrak dengan ether
Protein (N x 6,25)
Serat
Ekstrak tanpa N
Abu
P
K
Ca
Mg
Na
Energi (kkal / 100 gr)

% Berat Kering
31.60
8.20
11.90
34.20
14.10
0.24
0.99
0.97
0.30
0.08
454.00

Tabel 2. Komposisi Asam Amino Limbah Cair Segar PMKS
Asam Amino
Lisine
Histidine
Arginine
Aspartot asam
Threoine
Serine
Glutamit asam
Piroline
Glycine
Alanine
Valine
Methionine
Isoleusine
Leusine
Tyrosine
Phanylalarine
Limbah

cair

%
0.98
2.02
0.74
8.37
3.37
8.19
13.19
3.80
1.96
5.67
4.05
0.14
3.10
8.79
2.06
3.48
PMKS

umumnya

bersuhu

tinggi,

berwarna

kecoklatan,

mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid dan residu minyak dengan
kandungan biological oxygen demand (BOD) yang tinggi. Bila larutan tersebut
langsung dibuang ke perairan sangat berpotensi mencemari lingkungan, sehingga harus
dioleh terlebih dahulu sebelum dibuang.
Parameter yang menggambarkan karakteristik limbah terdiri dari sifat fisik,
kimia, dan biologi. Karakteristik limbah berdasarkan sifat fisik meliputi suhu,
kekeruhan, bau, dan rasa, berdasarkan sifak kimia meliputi kandungan bahan organik,
protein, BOD, chemical oxygen demand (COD), sedangkan berdasarkan sifat biologi
meliputi kandungan bakteri patogen dalam air limbah. Berdasarkan Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup ada 6 (enam) parameter utama yang dijadikan acuan baku
mutu limbah meliputi :
a. Tingkat keasaman (pH), ditetapkannya parameter pH bertujuan agar
mikroorganisme dan biota yang terdapat pada penerima tidak terganggu, bahkan
diharapkan dengan pH yang alkalis dapat menaikkan pH badan penerima.
b.

BOD, kebutuhan oksigen hayati yang diperlukan untuk merombak bahan
organik. Semakin tinggi nilai BOD air limbah, maka daya saingnya dengan

mikroorganisme atau biota yang terdapat pada badan penerima akan semakin
tinggi.
c. COD, kelarutan oksigen kimiawi adalah oksigen yang diperlukan untuk
merombak bahan organik dan anorganik, oleh sebab itu nilai COD lebih besar
dari BOD.
d. Total suspended solid (TSS), menggambarkan padatan melayang dalam cairan
limbah. Pengaruh TSS lebih nyata pada kehidupan biota dibandingkan dengan
total solid. Semakin tinggi TSS, maka bahan organik membutuhkan oksigen
untuk perombakan yang lebih tinggi.
e. Kandungan total nitrogen, semakin tinggi kandungan total nitrogen dalam cairan
limbah, maka akan menyebabkan keracunan pada biota.
f.

Kandungan oil and grease, dapat mempengaruhi aktifitas mikroba dan
merupakan pelapis permukaan cairan limbah sehingga menghambat proses
oksidasi pada saat kondisi aerobik.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup secara khusus telah menerbitkan 2 (dua)

Keputusan Menteri yang menyangkut pemanfaatan air limbah PMKS yaitu Kepmen LH
Nomor 28 Tahun 2003 tentang Pedoman Teknis Pengkajian dan Pemanfaatan Air
Limbah Industri Minyak Kelapa Sawit pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit dan
Kepmen LH Nomor 29 Tahun 2003 tentang Tata Cara Perizinan Pemanfaatan Air
Limbah Industri Minyak Kelapa Sawit pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.
Karakteristik limbah yang dihasilkan PMKS dan baku mutu limbah disajikan pada table
di bawah ini.

Tabel 3. Karaktersitik Limbah PMKS dan Baku Mutu Limbah
Parameter
pH
BOD (g/L)
COD (g/L)
TSS (g/L)
Kandungan Nitrogen Total (g/L)
Oil and grease (g/L)

Limbah PMKS
4,10
212,80
347,20
211,70
41
31

Baku Mutu Limbah
6–9
110
250
100
20
30

Berdasarkan data di atas, ternyata semua parameter limbah cair PMKS berada
diatas ambang batas baku mutu limbah. Jika tida dilakukan pencegahan dan pengolahan
limbah, maka akan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti pencemaran air yang
mengganggu bahkan meracuni bota perairan, menimbulkan bau, dan menghasilkan gas
methan dan CO2 yang merupakan emisi gas penyebab efek rumah kaca yang berbahaya
bagi lingkungan.
2.3.2 Produksi Biogas Melalui Proses Digester Anaerob Limbah Cair PMKS
Metode pengolahan limbah dapat dilakukan secara fisika, kimia, dan biologi.
Pengolahan limbah secara kimia dilakukan dengan proses koagulasi, flokulasi,
sedimentasi, dan flotasi. Proses kimia sering kurang efektif karena pembelian bahan
kimianya yang cukup tinggi dan menghasilkan sludge dengan volume yang cukup besar.
Sedangkan pengolahan limbah secara biologis dapat dilakukan dengan proses aerob dan
anaerob.
Secara konvensional pengolahan limbah cair PMKS dilakukan secara biologis
dengan menggunakan kolam, yaitu limbah cair diproses dalam kolam aerobik dan
anerobik dengan memanfaatkan mikrobia sebagai perombak BOD dan menetralisir
keasaman cairan limbah.
Pengolahan limbah cair PMKS secara konvesional banyak dilakukan oleh pabrik
karena teknik tersebut cukup sederhana dan biayanya lebih murah. Namun pengolahan
dengan cara tersebut membutuhkan lahan yang luas untuk pengolahan limbah. Dengan
kapasitas 30 ton TBS/jam, maka dibutuhkan sekitar 7 hektar lahan untuk pengolahan
limbah. Selain itu efisiensi perombakan limbah cair PMKS hanya 60-70 % dengan
waktu retensi yang cukup lama yaitu 120-140 hari. Kolam-kolam limbah konvensional

akan mengeluarkan gas methan (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang membahayakan
karena merupakan emisi penyebab efek rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan.
Disamping itu kolam-kolam pengolahan limbah sering mengalami pendangkalan,
sehingga baku mutu limbah tidak tercapai.
Pengolahan limbah cair PMKS dengan menggunakan digester anaerob
dilakukan dengan mensubtitusi proses yang terjadi di kolam anaerobik pada sistem
konvensional kedalam tangki digester. Tangki digester berfungsi menggantikan kolam
anaerobik yang dibantu dengan pemakaian bakteri mesophilic dan thermophilic. Kedua
bakteri ini termasuk bakteri methanogen yang merubah substrat dan menghasilkan gas
methan.
Fermentasi anaerobik dalam proses perombakan bahan organik yang dilakukan
oleh sekelompok mikrobia anaerobik fakultatif maupun obligat dalam satu tangki
digester (reaktor tertutup) pada suhu 35-55 0C. Metabolisme anaerobik selulose
melibatkan banyak reaksi kompleks dan prosesnya lebih sulit daripada reaksi-reaksi
anaerobik bahan-bahan organik lain seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Bidegradasi
tersebut melalui beberapa tahapan yaitu proses hidrolisis, proses asidogenesis, proses
asetogenesis, dan proses methanogenesis. Proses hidrolisis berupa proses dekomposisi
biomassa kompleks menjadi gkukosa sederhana memakia enzim yang dihasilkan oleh
mikroorganisme sebagai katalis. Hasilnya biomassa menjadi dapat larut dalam air dan
mempunyai bentuk yang lebih sederhana. Proses asidogenesis merupakan proses
perombakan monomer dan oligomer menjadi asam asetat, CO 2, dan asam lemak rantai
pendek, serta alkohol. Proses asidogenesis atau fase non methanogenesis menghasilkan
asam asetat, CO2, dan H2. Sementara proses methanogensesis merupakan perubahan
senyawa-senyawa menjadi gas methan yang dilakukan oleh bakteri methanogenik.
Salah satu bakteri methanogeneik yang populer dalam Methanobachillus omelianskii.
Proses biokonversi methanogenik merupakan proses biologis yang sangat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. Faktor
biotik meliputi mikroba dan jasad aktif. Faktor jenis dan konsentrasi inokulum sangat
berperan

dalam

proses

perombakan

dan

produksi

biogas.

Hasil

penelitian

mengungkapkan inokulum LKLM II-20% (b/v) dengan substrat 15 L, diperoleh
produksi biogas paling baik dibandingkan konsentrasi lainnya dimana produksi
biogasnya mencapai 121 liter.

Sedangkan faktor abiotik meliputi pengadukan (agitasi), suhu, tingkat keasaman
(pH), kadar substrat, kadar air, rasio C/N, dan kadar P dalam substrat, serta kehadiran
bahan toksik. Diantara faktor abiotik di atas, faktor pengendali utama produksi biogas
adalah suhu, pH, dan senyawa beracun.
Kehidupan mikroba dalam cairan memerlukan kedaaan lingkungan yang cocok
antara lain pH, suhu, dan nutrisi. Derajat keasaman pada mikroba yaitu antara pH 5-9.
Oleh karena itu limbah cair PMKS yang bersifat asam (pH 4-5) merupakan media yang
tidak cocok untuk pertumbuhan bakteri, maka untuk mengaktifkan bakteri cairan limbah
PMKS tersebut harus dinetralisasi. Penambahan bahan penetral pH dapat meningkatkan
produksi biogas. Namun keasamannya dibatasi agar tidak melebihi pH 9, karena pada
pH 5 dan pH 9 dapat menyebabkan terganggunya enzim bakteri (enzim teridir dari
protein yang dapat mengkoagulasi pada pH tertentu). Peningkatan pH optimum akan
memacu proses pembusukan sehingga meningkatkan efektifitas bakteri methanogenik
dan dapat meningkatkan produksi biogas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH
substrat awal 7 memberikan peningkatan laju produksi biogas lebih baik dibandingkan
dengan perlakuan pH yang lain
Peningkatan suhu juga dapat meningkatkan laju produksi biogas. Mikroba
menghendaki suhu cairan sesuai dengan jenis mikroba yang dikembangkan.
Berdasarkan sifat adaptasi bakteri terhadap suhu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga)
bagian yaitu :
a. Phsycrophill, yaitu bakteri yang dapat hidup aktif pada suhu rendah yaitu 10 0C,
bakteri ini ditemukan pada daerah-daerah sub tropis.
b. Mesophill, yaitu bakteri yang hidup pada suhu 10-50 0C dan merupakan jenis
bakteri yang paling banyak dijumpai pada daerah tropis.
c. Thermophill, yaitu bakteri yang tahan panas pada suhu 50-80 0C. bakteri ini
banyak dijumpai pada tambang minyakyang berasal dari perut bumi.
Perombakan limbah dapat berjalan lebih cepat pada penggunaan bakteri
thermophill. Suhu yang tinggi dapat memacu perombakan secara kimiawi, perombakan
yang cepat akan dimanfaatkan oleh bakteri metahonogenik untuk menghasilkan gas

methan, sehingga dapat produksi biogas. Peningkatan suhu sebesar 40 0C dapat
menghasilkan 68,5 liter biogas.
Limbah cair mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan mineral yang
dibutuhkan oleh mikroba. Komposisi limbah perlu diperbaiki dengan penambahan
nutrisi seperti untur P dan N yang diberkan dalam bentuk pupuk TSP dan urea. Jumlah
kandungan bahan makanan dalam limbah harus dipertahankan agar bakteri tetap
berkembang dengan baik. Jumlah lemak yang terdapat dalam limbah akan
mempengaruhi aktifitas perombak limbah karbohidrat dan protein. Selain kontinuitas
makanan juga kontak antara makanan dan bakteri perlu berlangsung dengan baik yang
dapat dicapai dengan melakukan agitasi (pengadukan). Agitasi juga berpengaruh
terhadap produksi biogas. Pemberian agitasi berpengaruh lebih baik dibandingkan tanpa
agitasi dalam peningkatan laju produksi gas. Dengan agitasi substrat akan menjadi
homogen, inokulum kontak langsung dengan substrat dan merata, sehingga proses
perombakan akan lebih efektif. Agitasi dimaksudkan agar kontak antara limbah cair
PMKS dan bakteri perombak lebih baik dan menghindari padatan terbang atau
mengendap. Agitasi pada 100 rpm dapat meningkatkan produksi biogas.
Reaksi perombakan anaerobik tidak menginginkan kehadiran oksigen, karena
oksigen akan menonaktifkan bakteri. Kehadiran oksigen pada limbah cair dapat berupa
kontak limbah dengan udara. Kedalaman reaktor akan mempengaruhi reaksi
perombakan. Semakin dalam reaktor akan semakin baik hasil perombakan.
Kehadiran bahan toksik juga menghambat proses produksi biogas. Kehadiran
bahan toksik ini akan menghambat aktifitas mikroorganisme untuk melakukan
perombakan. Maka untuk memperoleh produksi biogas yang baik, kehadiran bahan
toksik harus dicegah.
Hasil produksi biogas juga ditentukan oleh faktor waktu fermentasi. Hal ini
disebabkan untuk melakukan perombakan anaerob terdiri atas 4 (empat) tahapan. Untuk
itu setiap proses membutuhkan waktu yang cukup. Pengaruh waktu fermentasi
memberikan hasil yang berbeda pada produksi biogas. Semakin lama proses fermentasi,
maka akan semakin tinggi produksi biogas.

Hasil penelitian menyatakan parameter kinetik merupakan dasar penting dalam
desain bioreaktor terutama konstanta laju pertumbuhan mikroba maksimum dan
menetukan waktu tinggal biomassa minimum. Parameter kinetik biodegradasi anerob
limbah cair PMKS optimum diperoleh pada konstanta setengah jenuh (Ks) 1,06 g/L,
laju pertumbuhan spesifik maksimum (µm) 0,187 / hari, perolan biomassa (Y) 0,395
gVSS/gCOD, konstanta laju kematian mikroorganisme (Kd) 0,027 / hari, dan konstanta
pemanfaatan substat maksimum (k) 0,474 / hari.
Potensi biogas yang dihasilkan dari 600-700 kg limbah cair PMKS dapat
diproduksi sekitar 20 m3 biogas dan setiap m3 gas methan dapat diubah menjadi energi
sebesar 4.700 – 6.000 kkal atau 20-24 MJ. Sebuah PMKS dengan kapasitas 30 ton
TBS/jam dapat menghasilkan tenaga biogas untuk energi setara 237 KwH.
Selain menghasilkan biogas, pengolahan limbah cair dengan proses digester
anaerobik dapat dilakukan pada lahan yang sempit dan memberi keuntungan berupa
penurunan jumlah padatan organik, jumlah mikroba pembusuk yang tidak diinginkan,
serta kandungan racun dalam limbah. Disamping itu juga membantu peningkatan
kualitas pupuk dari sludge yang dihasilkan, karena sludge yang dihasilkan berbeda dari
sludge limbah cair PMKS biasa yang dilakukan melalui proses konvesional. Kelebihan
tersebut adalah :
a. Penurunan kadar BOD bisa mencapai 80-90 %.
b. Baunya berkurang sehingga tidak disukai lalat.
c. Berwarna coklat kehitam-hitaman.
d. Kualitas sludge sebagai pupuk lebih baik, yaitu 1). Memperbaiki struktur fisik
tanah, 2). Meningkatkan aerasi, peresapan, retensi, dan kelembaban, 3).
Meningkatkan perkembangbiakan dan perkembangan akar, 4). Meningkatkan
kandungan organik tanah, pH, dan kapasitas tukar kation tanah, dan 5).
Meningkatkan populasi mkroflora dan mkrofauna tanah maupun aktivitasnya.

3. Penutup

Jadi secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa, perkembangan perkebunan
kelapa sawit di Indonesia mengalami mengingkatan yang sangat signifikan. Hal ini
disebabkan tingginya permintaan atas Crude Palm Oil (CPO) sebagai sumber minyak
nabati dan penyediaan untuk biofuel. Namun industri pengolahan kelapa sawit
merupakan industri yang yang sarat dengan residu hasil pengolahan. Jika tidak
dilakukan pengolahan secara baik dan profesional, maka limbah industri merupakan
sebuah potensi bencana bagi manusia maupun lingkungan. Konsep pengelolaan limbah
sawit dilakukan dengan strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif,
terpadu, dan diterapkan secara terus menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu
hingga hilir yang terkait dengan proses produksi, produk, dan jasa untuk meningkatkan
efesiensi pemakaian sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan
dan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya. Limbah indsutri kelapa
sawit terdiri dari limbah cair, padat, dan gas. Limbah cair dimanfaatkan untuk produksi
biogas, pakan ternak, bahan pembuat sabun, serta pembuatan biodiesel, dan air sisanya
dapat digunakan untuk pengairan bila telah memenuhi standar baku mutu lingkungan.
Sementara limbah padat dapat dimanfaatkan untuk produksi kompos, bahan pulp untuk
pembuatan kertas, pembuatan sabun dan media budidaya jamur, sumber energi,
pembuatan berikat arang aktif, bahan campuran pembuatan keramik, serta pakan ternak.
Dalam pengelolaan industri kelapa sawit agar terwujud produk bersih perlu
menerapkan prinsip 1E 4R (Elimination, Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery).
Limbah cair PMKS berpotensi besar untuk menghasilkan energi biogas yang
dapat diperbaharui. Penggunaan sistem digester anaerob dapat memproduksi biogas
dengan lebih maksimal.
Produksi biogas dipengaruhi oleh faktor biotik meliputi mikroba dan jasad aktif
dan faktor abiotik meliputi pengadukan (agitasi), suhu, tingkat keasaman (pH), kadar
substrat, kadar air, rasio C/N, dan kadar P dalam substrat, serta kehadiran bahan toksik.

Daftar Pustaka
Naibaho, Ponten M., 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Medan: Pusat
Penelitian Kelapa Sawit.
Hariyadi. 2009. Dampak Ekologi Pengembangan Kelapa Sawit untuk Bioenergi.
http://energi.infogue.com/dampak_ekologi_pengembangan_kelapa_sawit_untuk
_bioenergi. Tanggal 05Desember 2011.
Amaru,haristya.2008.LimbahIndustriKelapaSawit. www.geocities.com/kharistya_amaru
/blog/limbah-sawit.html. Tanggal 05 Desember 2011
Agustina, Siti, dkk. 2009. Penggunaan Teknologi Membran pada Pengelolaan Air
Limbah Industri Kelapa Sawit. http://uwityangyono.wordpress.com/2009/10/
10/117/#more-117. Diakses tanggal 7 Mei 2010.