You are on page 1of 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Usia lanjut adalah tahap akhir dari siklus hidup manusia dan merupakan proses dari
kehidupan yang akan dialami setiap individu. Indonesia adalah salah satu negara
berkembang dengan persentase kenaikan jumlah penduduk yang tinggi setiap tahunnya.
Saat ini, Indonesia telah menempati posisi ke-4 dalam hal jumlah penduduk tertinggi di
dunia. BPS (2008) menyatakan bahwa sebanyak 60% lansia di Indonesia tergolong miskin,
dan merupakan 27% dari total peduduk miskin. Hal ini dikarenakan oleh rata-rata
penduduk lansia hanya memiliki jenjang pendidikan Sekolah Dasar tanpa memiliki
pekerjaan tetap, sedangkan pada tahun 2012 jumlah warga lanjut usia terbanyak yaitu
sekitar 20 juta jiwa, sekitar 2,8 juta diantaranya terlantar atau miskin (Depkes RI, 2012).
Indikator garis kemiskinan menurut BPS Jawa Tengah pada September 2012 adalah jika
pendapatan ≤ Rp. 233.622.
Pendapatan merupakan salah satu faktor ekonomi yang mempengaruhi pola konsumsi
pangan. Pendapatan yang tinggi akan meningkatkan kemampuan membeli beragam bahan
pangan dalam jumlah yang cukup dan berkualitas (Suhardjo 1989). Martianto dan Ariani
(2004) mengungkapkan bahwa tingkat pendapatan seseorang akan berpengaruh terhadap
jenis dan jumlah bahan pangan yang dikonsumsinya. Sesuai dengan hukum Bennet,
semakin tinggi pendapatan, maka kualitas bahan pangan yang dikonsumsi pun semakin
baik yang tercermin dari perubahan pembelian bahan pangan yang harganya murah menjadi
bahan pangan yang harganya ahal namun dengan kualitas yang lebih baik.Sebaliknya,
rendahnya pendapatan yang dimiliki oleh seseorang akan mengakibatkan terjadinya
perubahan kebiasaan makan yang tercermin dari pengurangan frekuensi makan dari 3 kali
menjadi 2 kali dalam sehari. Keuangan sangat menentukan alternative penyesuain hidup
bagi lansia. Para lansia mempunyai kesempatan yang sangat terbatas untuk meningkatkan
status ekonomi serta memperbaiki pola asupan makanan untuk meningkatkan gizinya.
Kebanyakan lansia bergantung pada sumber ekonomi dari anggota keluarganya.
Dalam hal pembangunan, Indonesia sedang berada dalam arah peningkatan taraf

ekonomi, sosial, dan kesehatan. Kemajuan dan pembangunan bidang ekonomi akan
meningkatkan taraf hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. Salah satu indikator
keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk.
Hal ini juga diiringi dengan usia harapan hidup (life expectancy) dan

taraf hidup

penduduk. Peningkatan usia harapan hidup tentu saja akan meningkatkan jumlah
populasi lansia. Diperkirakan mulai tahun 2007 rata-rata usia harapan hidup mencapai 70,4
tahun. Angka harapan hidup perempuan (72,4 tahun) lebih tinggi dibandingkan laki-laki
(68,4 tahun) (Depkes RI 2007).
Sedangkan menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 1998 dalam
Media Pangan dan Gizi tahun 2004, usia harapan hidup orang Indonesia meningkat dari 65
tahun menjadi 73 tahun p ada tahun 2025. Menurut Bapenas (2008) jumlah lansia pada
tahun 2025 diproyeksikan akan mencapai angka 62.4 juta jiwa. Saat ini, Indonesia sedang
berada dalam transisi demografi. Proyeksi Biro Pusat Statistik (BPS) di tahun
2010, jumlah usia lanjut mencapai 19 juta (8,5%) dari jumlah seluruh
penduduk sedangkan tahun 2025 mencapai 14,4% (Depkes RI, 2010). Jumlah
yang demikian besar ini sebenarnya tidak menjadi permasalahan jika dii kuti
dengan kondisi lansia yang sehat . Dan jumlah yang cukup tinggi ini menjadikan
lansia sebagai kelompok penduduk yang memerlukan perhatian lebih dalam hal sosial,
ekonomi, terutama kesehatan. Peningkatan masalah kesehatan merupakan salah satu
dampak dari peningkatan jumlah lansia (Depkes RI, 2010).
Penambahan usia menimbulkan beberapa perubahan baik secara fisik, fisiologis,
maupun psikologisnya.

Penurunan aspek tersebut sebagai dampak dari penuaan yang

terjadi secara alami dan menyebabkan penurunan fungsi metabolisme dan alat gerak,
sehingga akan mempengaruhi kesehatan lansia (Wirakusumah 2002). Secara fisik lansia
akan mengalami kemunduran dalam aktivitas, kemunduran organ dan berbagai
kelemahan fisik. Secara biologis lansia mengalami kemunduran dalam proses
pertumbuhan organ. Secara mental lansia mengalami kemunduran perkembangan
mental seperti penurunan daya ingat, kecerdasan, dan kemampuan berpikir. Secara
sosial ekonomi lansia mengalami kemunduran pendapatan dari hasil kerja karena tidak
mampu melaksanakan pekerjaan seperti ketika masih muda dulu (Depkes RI, 2007). Hal
ini menyebabkan kesehatan lansia perlu diperhatikan karena lansia adalah kelompok umur

yang sangat rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan. Pertambahan usia selain
dapat mempengaruhi aspek fisik juga dapat mempengaruhi kebiasaan dan pola konsumsi
lansia, yang terkait dengan penurunan nafsu makan yang terjadi dengan menurunnya fungsi
indra pengecapan. Hal tersebut juga dapat berdampak pada status gizi dan status
kesehatannya.
Masalah gizi yang terjadi pada lanjut usia adalah kurang energi protein (KEP)
yang ditandai oleh indeks masa tubuh (IMT) < 18,5. Pada lansia kurang energi protein
merupakan interaksi adanya penyakit kronik, kemiskinan, malabsorpsi, maupun
faktor-faktor psikososial yang dapat mempunyai dampak buruk antara lain anemia,
penurunan imunitas, gangguan penyembuhan luka, dan mudah terjatuh (PDGKI,
2008).

Menurut

Sukandar

(2007),

parameter

status

ekonomi

penduduk

dapat

mempengaruhi berbagai aspek kehidupan karena dengan semakin besar pendapatan
yang dimiliki, semakin besar juga kemungkinan seseorang dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Hal ini menyebabkan status ekonomi
lansia juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi pola konsumsi makan yang akan
mempengaruhi keadaan kesehatannya.
Lansia miskin ini sangat bergantung kepada keluarganya dalam masalah ekonomi.
Hal ini disebabkan oleh rendahnya pendapatan yang diterima (uang pensiunan) atau tidak
mempunyai pendapatan sama sekali. Rendahnya pendapatan yang disertai dengan
penurunan fungsi tubuh pada lansia akan meningkatkan ketidaktahanan pangan. Oleh
karena itu, lansia miskin cenderung mengalami malnutrisi. Untuk membuktikannya, perlu
dilakukan survey mengenai pola asupan dan status gizi pada lansia miskin, misalnya pada
lansia di Desa Rejosari Semarang Utara.

1.2. Tujuan
Tujuan diadakannya survey adalah untuk menggambarkan pola asupan dan status gizi
pada lansia miskin di Kelurahan Rejosari Semarang Utara.

1.3. Manfaat
Manfaat dilakukannya survey adalah untuk mengetahui pola asupan dan status gizi
pada lansia miskin di Kelurahan Rejosari Semarang Utara.

Pralansia. memberikan batasan lansia sebagai berikut: a. Sedangkan Maryam. Virilitas atau prasenium. yaitu masa persiapan lansia yang menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun). yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.42 Tahun 2004 lansia adalah setiap warga Negara Indonesia. baik pria atau wanita yang telah berumur 60 tahun ke atas. b. Lansia dini atau senescen. usia pertengahan (middle age): usia 45-59 tahun b. dik (2008) membagi lansia ke dalam lima klasifikasi: a. Pengertian Menurut UU RI No. c. Lansia beresiko tinggi. lansia ialah mereka yang telah berusia di atas 56 tahun.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) diacu dalam Komnas Lansia (2008) menggolongkan lansia berdasarkan aspek kronologis (batasan usia) menjadi: a. Jika mengacu pada usia pensiun. c. usia lanjut (elderly): 60-74 tahun c. usia sangat tua (very old): diatas 90 tahun Dahlan diacu dalam Arisman (2004) menyatakan bahwa di Indonesia orang dikatakan lansia jika telah berumur di atas 60 tahun. Lansia. yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. . yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih. Lansia beresiko tinggi. yaitu lansia untuk memiliki resiko tinggi menderita berbagai penyakit regeneratif (usia diatas 65 tahun). yaitu kelompok yang mulai memasuki masa lansia dini (usia 60-64 tahun). Menurut Depkes RI (2006). b. usia tua (old): 75-90 tahun d.

kehilangan massa otot yang berkaitan dengan usia. Sarkopenia. Sedangkan lansia biologis adalah lansia yang berpatokan pada keadaan jaringan tubuh. Lansia tidak potensial. tingkat katabolisme atau perubahan degeneratif menjadi lebih besar daripada regenerasi anabolik (Harris 2004). peraba. berkontribusi terhadap penurunan kekuatan otot. Penuaan. 2010).d. Selama masa pertumbuhan. proses anabolik melebihi perubahan katabolik. dan meningkatnya risiko penyakit kronis. Seseorang yang secara umur kronologis belum memasuki masa lansia akan tetapi secara jaringan tubuh telah menunjukkan tanda-tanda jaringan tubuh lansia. Selain itu pengertian lansia dapat dibedakan menjadi dua macam. maka individu tersebut dapat dikatakan sebagai lansia secara biologis. kehilangan fungsi fisik. Saat tubuh sampai pada masa kedewasaan. Hasil akhir berkurangnya sel dapat membawa pada penurunan efisiensi dan gangguan fungsional pada berbagai tingkat. sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. adalah proses yang melibatkan seluruh tubuh. Lansia potensial. pendengaran. laju katabolik atau perubahan degeneratif mungkin lebih tinggi dibanding laju anabolik. yaitu lansia kronologis (kalender) dan lansia biologis. proses anabolisme lebih banyak terjadi daripada proses katabolisme. . (Harris 2004). Selama periode pertumbuhan.2. Perubahan fungsi fisiologis yang terjadi pada lansia pada dasarnya meliputi penurunan kemampuan sistem syaraf. yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah. Ketika tubuh mencapai kedewasaan fisiologis. Kemampuan fisiologis seseorang akan mengalami penurunan secara bertahap dengan bertambahnya umur. Proses penuaan ditandai dengan kehilangan massa otot tubuh sekitar 2–3% perdekade. periode hidup setelah usia 30 tahun. Lansia kronologis dilihat berdasarkan umur kalender umur kalender sehingga lebih mudah diketahui dan dihitung. (Fatmah. Secara alami fungsi fisiologis dalam tubuh lansia menurun seiring pertambahan usianya. Proses Penuaan Penuaan merupakan proses yang terjadi dari awal kelahiran hingga kematian. yaitu pada indera penglihatan. perubahan pada gaya berjalan dan keseimbangan. e. 2. yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.

defisiensi imunologis 6. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa penyakit pada usia lanjut bersifat multi patologis atau mengenai multi organ atau sistem. berkontribusi terhadap penurunan kekuatan otot. pembauan. degeneratif dan saling terkait. sehingga kemampuan melawan infeksi berkurang dan meningkatnya kejadian penyakit infeksi pada lansia. kemunduran proses penyembuhan. Selama proses penuaan. sistem syaraf. Proses penuaan ditandai dengan kehilangan massa otot tubuh sekitar 2 – 3% perdekade. sistem pernapasan. Fungsi imunitas juga mengalami penurunan pada lansia. dan meningkatnya resiko penyakit kronis. Peningkatan resistensi pembuluh darah dapat mengganggu aliran darah ke jantung sehingga menyebabkan penyakit kardiovaskuler (Harris 2004).perasa. komunikasi. isolasi diri (depresi) 4. kemunduran penglihatan. inkontinensia dan impotensia 5. infeksi. dan malnutrisi 7. sistem kardiovaskular hingga penurunan kemampuan muskuloskeletal (Fatmah 2010). pengecapan. Stieglietz (1954) dalam Darmojo dan Martono (2006) menerangkan bahwa penyakit pada populasi lansia berbeda perjalanan dan penampilannya dengan yang terdapat pada populasi lain. pergerakan dan kelemahan lansia 2. . sistem endokrin. pendengaran. dan penciuman. pembuluh darah menjadi kurang elastis dan meningkatnya resistensi periferal sehingga meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. konstipasi. Menurut Arisman (2004) terjadi beberapa kemunduran dan kelemahan yang bisa diderita oleh lansia yaitu: 1. kehilangan fungsi fisik. Selanjutnya perubahan ini juga mengakibatkan penurunan sistem pencernaan. (Harris 2004). kronis dan cenderung menyebabkan kecacatan lama sebelum terjadinya kematian. Sarkopenia. dan biasanya juga mengandung psikologis dan sosial. latrogenesis dan insomnia 8. intelektual terganggu (demensia) 3. dan integritas kulit 9. perubahan pada gaya berjalan dan keseimbangan. kehilangan massa otot yang berkaitan dengan usia.

Angka kematian yang berhubungan dengan underweight adalah sama dengan angka kematian yang berhubungan dengan obesitas. meningkatkan kebutuhan untuk pelayanan yang dengan tingkat ketergantungan perawat yang lebih tinggi. dapat menciptakan dua kemungkinan. Konsumsi Pangan dan Zat Gizi Konsumsi pangan adalah jumlah pangan (tunggal atau beragam) yang dimakan seseorang atau sekelompok orang tertentu dengan jumlah tertentu. Penurunan berat badan sebagai akibat kekurangan gizi merupakan masalah utama yang seringkali dijumpai pada usia lanjut yang dirawat (Setiati 2006).Susunan makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi tubuh. umur para lanjut usia. Kejadian salah gizi pada seorang pasien mempunyai efek negatif untuk mental maupun fisik pasien. dan faktor endokrin. secara metabolik. Keadaan ini sering pula menimbulkan gangguan dalam tubuh secara mekanis. Masalah gizi merupakan masalah paling penting dalam perawatan pasien usia lanjut. mengatur proses dalam tubuh. Keadaan obesitas ini banyak dipengaruhi oleh kegiatan yang berlebihan dari kelenjar hipotalamus. terutama pada lanjut usia (Harris 2004). meningkatkan terjadinya komplikasi dari penyakit yang diderita pasien dan tentunya akan meningkatkan angka kematian baik karena penyakitnya atau komplikasi dari penyakitnya (Daldiyono & Syam 2002). yaitu keadaan gizi kurang dan keadaan gizi lebih (kegemukan/ obesitas). Salah gizi adalah keadaan gizi kurang atau gizi lebih karena asupan zat gizi di bawah atau di atas kisaran yang dianjurkan dalam waktu yang lama (Sandjaja et al. faktor keturunan. Salah gizi pada seorang pasien merupakan faktor yang memperpanjang masa rawat pasien. maupun gangguan kardiovaskular. butuh perawatan intensif yang lebih tinggi. . faktor psikologis. pada gilirannya zat gizi tersebut berfungsi untuk menyediakan tenaga bagi tubuh. traumata/ kecelakaan. Jenis dan jumlah pangan merupakan hal yang penting dalam menghitung jumlah zat gizi yang dikonsumsi (Hardinsyah & Briawan 1994). 2. Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi. aktivitas jasmani yang kurang.3. banyaknya sel-sel lemak tubuh. Konsumsi pangan erat kaitannya dengan masalah gizi dan kesehatan serta perencanaan produksi pangan. 2009). Angka kejadian kekurangan energi dan protein pada pasien lansia yang dirawat di rumah sakit berkisar antara 30% sampai dengan 65% (Setiati 2006).

Kondisi ini merupakan konsekuensi terjadinya penurunan tingkat aktivitas dan metabolisme basal tubuh para lansia. Selain itu. . Akibatnya. menunjang pertumbuhan dan melakukan aktivitas fisik. Kebutuhan Gizi Pada Lansia Kebutuhan gizi pada lansia secara umum sedikit lebih rendah dibandingkan kebutuhan gizi di usia dewasa. energi juga dibutuhkan oleh lansia untuk menjaga sel-sel maupun organ-organ dalam tubuh agar bisa tetap berfungsi dengan baik walaupun fungsinya tidak sebaik seperti saat masih muda (Fatmah 2010).4. Energi Manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan hidup. kekurangan gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan yang lain sehingga diperoleh asupan yang seimbang. Selain itu. konsumsi makanan yang lebih beragam dapat memperbaiki kecukupan akan zat-zat gizi dan menunjukkan perlindungan terhadap serangan berbagai penyakit kronik yang berhubungan dengan proses penuaan (Wirakusumah 2001). Konsumsi makanan haruslah beragam karena tidak ada satu jenis makanan yang mengandung komposisi zat gizi yang lengkap. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (2004) mengelompokkan angka kecukupan yang dianjurkan untuk usia 50-64 tahun dan diatas 65 tahun sebagai berikut: 1.dan pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Energi yang dibutuhkan lansia berbeda dengan energi yang dibutuhkan oleh orang dewasa karena perbedaan aktivitas fisik yang dilakukan. kecukupan gizi tersebut bersifat fleksibel dan tidak mutlak (Wirakusumah 2001). Angka kecukupan gizi yang dianjurkan merupakan patokan bagi lansia yang sehat. Oleh karena itu. 2.

sirup) dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks. Sumber energi berkonsentrasi tinggi adalah bahan makanan sumber lemak seperti lemak dan minyak. Manula tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial).25g/kg berat badan secara umum aman untuk lansia. karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak. Sumber serat yang baik bagi manula adalah sayuran. Hal ini disebabkan dalam ususnya tidak terkandung enzim pencerna (laktosa). Selain itu bahan makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian. 3. misalnya yoghurt dan keju tidak dapat menimbulkan diare. Disamping sebagai . Protein Protein adalah suatu substansi kimia dalam makanan yang terbentuk dari serangkaian atau rantai-rantai asam amino. buah-buahan segar dan buji-bijian utuh. lemak dan protein suatu bahan makanan menentukan nilai energinya. yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh. beberapa studi menunjukkan bahwa asupan protein 1g/kg berat badan dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen tubuh. 2. enzim. Rekomendasi asupan protein pada lansia tidak berubah. dan protein yang ada di dalam makanan. umbi-umbian. Karbohidrat Salah satu masalah yang banyak diderita para manula adalah sembelit atau konstipasi (susah buang air besar) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Dianjurkan agar para manula mengurangi konsumsi gula-gula sederhana (gula pasir. juga sebagai sumber serat. Serat makanan telah terbukti dapat menyembukan kesulitan tersebut. dan gula murni (Almatsier 2004). Karbohidrat yang berasal dari bijibijian dan kacang-kacangan utuh selain berfungsi sebagai sumber energi. dan sel darah merah (Fatmah 2010). tulang.Energi diperoleh dari karbohidrat. Kandungan karbohidrat. Protein dalam makanan di dalam tubuh akan berubah menjadi asam amino yang sangat berguna bagi tubuh yaitu untuk membangun dan memelihara sel. Akan tetapi konsumsi protein 1-1. sehingga laktosa dicerna oleh mikroba usus besar dan menimbulkan diare. Produk-produk susu yang sudah difermentasi. lemak. Banyak manula yang mengalami diare jika mengkonsumsi susu. seperti sel otot. karena sebagian besar laktosanya telah digunakan mikroba dalam proses fermentasi. Kebutuhan akan protein akan meningkat sejalan dengan adanya penyakit akut dan kronis (Harris 2004). kacang-kacangan dan biji-bijian.

yaitu 1. isolator. berada di tulang dan gigi bersama fosfor membetuk kalsium fosfat. 4. kacangkacangan dan hasil kacang-kacangan. Sebagian besar (99%) lemak tubuh adalah trigliserida. 2010. E dan K (Boyle and Roth. lemak terutama trigliserida. S. 2000) 5. tahu dan tempe. 2011. Lebih dari 99 persen. 2008). zat keras yang memberikan kekakuan pada tubuh. berperan dalam kontraksi dan relaksasi otot. Mineral Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh. terutama penyerapan karoteniod. vitamin dan mineral. LK dan EscottStump. karena kandungan asam lemak esensial berkurang.5-2% dari berat badan orang dewasa atau sekitar 1 kg. RDA untuk asam lemak esensial minimal sebanyak 2-3%. dan sayuran hijau merupakan . menjaga tekanan darah agar tetap normal serta sistem imunitas tubuh (Fatmah 2010). Sumber kalsium utama adalah susu dan hasil susu. Pembatasan lemak kurang dari 20% akan mempengaruhi mutu makanan. sementara sisanya diupayakan dari karbohidrat. Brown. Secara umum. Trigliserida terdiri dari gliserol dan asam-asam lemak. vitamin A. Selain itu juga berfungsi penting dalam metabolisme zat gizi. fungsi saraf. Ikan dimakan dengan tulang.sumber karbohidrat (laktosa) susu juga sangat penting sebagai sumber protein. berfungsi menyediakan cadangan energi tubuh. pelindung organ dan menyediakan asam-asam lemak esensial (Mahan. Lemak (lipid) merupakan komponen struktural dari semua sel-sel tubuh. proses penggumpalan darah. mineral dan serat. Lemak terdiri dari trigliserida. fungsi kalsium bagi lansia adalah sebagai komponen utama tulang dan gigi. yang dibutuhkan oleh ratusan bahkan ribuan fungsi fisiologis tubuh (McGuire and Beerman. Kebutuhan vitamin dan meneral bagi manula menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Serealia. 2011). Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin. Kalsium juga hadir dalam serum darah dalam jumlah kecil namun memegang peranan penting (Latham 1997). termasuk ikan kering merupakan sumber kalsium yang baik. D. seperti keju. Hamazaki & Okuyama. fosfolipid dan sterol yang masing-masing mempunyai fungsi khusus bagi kesehatan manusia. Disamping mensuplai energi. Lemak Asupan lemak dibatasi sampai sebesar 30% (banyak literatur menganjurkan batas maksimal 20-25%) dari total energi.

terutama sayuran berdaun hijau dan buah berwarna kuning-jingga mengandung karotenoid provitamin A (Gibson 2005). Fosfor merupakan mineral kedua yang paling banyak di dalam tubuh dan jumlahnya 6. pertumbuhan dan perkembangan. Sekitar 85% fosfor berada dalam tulang bersama kalsium (Latham 1997). pencegahan kanker dan penyakit jantung. melndungi dari serangan kanker. gandaria. yaitu sayur dan buah terutama yang asam seperti. Air . sebagai koenzim atau kofaktor. Vitamin C juga terdapat di dalam sayuran daun-daunan dan jenis kol (Almatsier 2004). Terdapat beberapa jenis vitamin yang bermanfaat bagi sistem imunitas tubuh dan mencegah timbulnya radikal bebas pada lansia. rambutan. kuning telur sebagai sumber utama. dan oksalat (Almatsier 2004).sumber kalsium yang baik juga. misalnya vitamin A dan vitamin C (Fatmah 2010). Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh. Vitamin A berperan dalam berbagai fungsi tubuh seperti penglihatan. Fungsinya antara lain meningkatkan kekebalan tubuh. fitata. vitamin C bermanfaat menghambat berbagai penyakit. minyak hati ikan. 6. memperbaiki kualitas sperma. meremajakan dan memproduksi sel darah putih. mencegah katarak. bagian dari ikatan tubuh esensial. absorpsi dan transportasi zat gizi. melindungi arteri. pepaya. Vitamin C pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati. dan lain-lain (Almatsier 2004). reproduksi. Pada lansia. nenas. dan tomat. Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Fosfor mempunyai berbagai fungsi dalam tubuh seperti klasifikasi tulang dan gigi. diferensiasi sel. Vitamin Vitamin merupakan senyawa kimia yang sangat esensial bagi tubuh walau ketersediaannya dalam tubuh dalam jumlah sedemikian kecil dan diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh yang normal. jeruk.5-11 g/kg berat badan dewasa. Vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. fungsi kekebalan. Sumber vitamin A yang sudah terbentuk (performed) hanya terdapat pada pangan hewani seperti hati. tetapi bahan makanan ini mengandung zat yang menghambat penyerapan kalsium seperti serat. 7. dan mencegah penyakit gusi (Fatmah 2010). mengatur pengalihan energi. Sayuran. dan pengaturan keseimbangan asam-basa.

5.1. 2. al. Seringkali lansia menderita berbagai penyakit yang umumnya terjadi akibat penurunan fungsi organ tubuh (McKenzie et. cacat dan kelemahan. Secara umum. diabetes mellitus dan penyakit degeneratif lainnya. Seringkali lansia menderita berbagai penyakit yang umumnya terjadi akibat penurunan fungsi organ tubuh (McKenzie et. misalnya kanker. kebiasaan makan. konsumsi makanan. Misalnya perubahan pada sistem gasrointestinal yang menyebabkan penurunan. Secara umum. mental (rohani) dan sosial dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit.8 gelas per hari). mental/status kognitif. 2. Dua pertiga dari macam penyakit pada lansia berhubungan erat dengan gizi. Ketentuan ini berlaku pula pada manula (minum lebih dari 6 . Masalah Gizi Pada Lansia Adanya berbagai konsekuensi dari peningkatan jumlah penduduk lanjut usia menyangkut masalah kesehatan. status kesehatan pada lansia tidak sebaik saat usia muda. faktor genetik.5. sehingga akan mengakibatkan permasalahan gizi yang khas (Sayogo. ekonomi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan gizi lansia yaitu status kesehatan. membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). 2008). pendidikan dan pengetahuan. Status Kesehatan World Health Organization (WHO) pada tahun 1947 mendefinisikan kesehatan adalah keadaan (status) sehat utuh secara fisik. . penyakit metabolik.efektivitas utilisasi zat-zat gizi. Orang dewasa dianjurkan minum sebanyak 2 sampai 2. tingkat hormonal dan . 2008).Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringt dan urine). Terjadi perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat adanya proses degeneratif pada lanjut usia. pendapatan. seperti penyakit degeneratif. serta sosial budaya yang cukup dari pola penyakit sehubungan dengan proses penuaan. al. 1998). umur dan jenis kelamin. gigi geligi.5 liter per hari. status kesehatan pada lansia tidak sebaik saat usia muda. kardiovaskuler. dan gangguan psiko-sosial. Para ahli gerontologi-geriatri mengemukakan bahwa 30-50% faktor gizi berperan penting bagi kesehatan yang optimal pada lansia.

dan kebiasaan merokok. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Gizi kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. apalagi pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik.penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit. dan mudah terjatuh. Pada lansia kurang energi protein merupakan interaksi adanya penyakit kronik. stress. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi a. kencing manis. penurunan imunitas. kemiskinan. misalnya : penyakit jantung. kemungkinan akan mudah terkena infeksi. Faktor External yang mempengaruhi status gizi antara lain: 1. Pendapatan . dan darah tinggi. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih. aktivitas fisik. Dan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan indeks massa tubuh. sedangkan pada wanita berlanjut sampai umur 65 tahun. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki. menyatakan prevalensi kegemukan pada pria dengan IMT > 30 akan meningkat terus sampai berumur 50 tahun. akibatnya rambut rontok. gaya hidup. Gizi berlebih Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. gangguan penyembuhan luka. selanjutnya dari beberapa penelitian juga dilaporkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan prevalensi gizi lebih. daya tahan terhadap penyakit menurun. Masalah gizi lainnya pada lansia yaitu kejadian gizi lebih karena persentase lemak tubuh biasanya meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. Studi yang dilakukan. b. Akibat Kekurangan dan Kelebihan Nutrisi a.5. malabsorpsi maupun faktor-faktor psikososial yang dapat mempunyai dampak buruk antara lain anemia gizi. Masalah gizi yang terjadi pada lanjut usia adalah kurang energi protein (KEP) yang ditandai oleh indeks massa tubuh (IMT) < 18.

Kondisi Fisik Mereka yang sakit. yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia. Infeksi Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan. b. 2. 3. akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan. Pekerjaan Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya.5. 2. sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik. Pendidikan Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan. karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat. Budaya Budaya adalah suatu ciri khas. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk. 2. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. 4. yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut. Penyakit Pada Lansia . adalah sangat rawan.Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga. Usia Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita. semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Faktor Internal Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain : 1. 3.2.

elastisitas secara alami. . penyakit pembuluh jantung.Penyakit adalah kegagalan tubuh dalam beradaptasi. infeksi kulit (Rahardjo et al. gangguan keseimbangan. cacar air. sehingga menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melaluinya. Paru–paru dan sistem pernafasan jumlah kantung udara (alveoli) pada lanjut usia akan berkurang dibanding pada saat usia dewasa. Akan tetapi ada juga yang membagi penyakit menjadi penyakit infeksi dan penyakit kronis. gangguan penglihatan. dll. Timbunan lemak yang mengeras mungkin terbentuk di dinding arteri (atherosclerosis). Penyakit atau gangguan kesehatan pada orang usia lanjut umumnya berupa penyakitpenyakit kronik-menahun dan degeneratif. gangguan pengunyahan dan sebagainya. diare. Penyakit yang sering di derita oleh lanjut usia secara umum adalah: 1. bekerja dengan lebih keras untuk memompa darah dalam jumlah yang sama ke tubuh. diabetes mellitus. Selain itu. Sebagai contoh malaria. Pembuluh darah menjadi kurang elastis. Angina dan serangan jantung. sehingga jalur untuk mengantarkan darah menjadi lebih sempit. penyakit kronis adalah non-communicable (tidak menular) sedangkan penyakit infeksi adalah communicable (menular). membuat arteri menjadi lebih kaku. gangguan jantung. pada usia lanjut di Indonesia penyakit-penyakit infeksi akut juga masih sering terjadi. tbc). Penyakit-penyakit kronis adalah penyakit-penyakit degeneratif yang berkembang selama kurun waktu yang lama seperti jantung. influenza) atau infeksi saluran pernapas bawah (pneumonia. infeksi saluran kemih. gangguan pernapasan. Penyakit Jantung Otot jantung menjadi kurang efektif dalam memompa. penyakit jantung koroner. kanker dan stroke. demensia. Masalah kesehatan yang mungkin timbul: Atherosclerosis. kombinasi dengan atherosclerosis. Hipertensi. gangguan pencernaan. yaitu ada kelainan dan penyimpangan yang mengakibatkan kerusakan dan bahaya pada organ/ tubuh sehingga bisa mengancam kehidupan. influenza. misalnya infeksi saluran pernapasan atas (radang tenggorokan. Secara jelas penyakit adalah terganggu atau tidak berlangsungnya fungsi-fungsi psikis dan fisik. tipus. seperti penyakit hipertensi. Penyakit-penyakit infeksi adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri atau virus di dalam tubuh. 2009). osteoporosis. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Umumnya.

Gout. seperti obesitas. Sistem Pencernaan Sistem pencernaan menelan dan gerakan peristaltik otomatis yang memindahkan makanan yang dicerna ke saluran usus akan makin lambat. Hal ini umumnya tidak mempengaruhi kesehatan & proses pencernaan. Incontinence dapat disebabkan oleh beragam masalah kesehatan. Dengan bertambahnya usia. sehingga tinggi badan menjadi lebih pendek. Kepadatan tulang juga berkurang. sehingga tinggi badan menjadi lebih pendek. Wanita yang telah mengalami menopause mungkin mengalaminya karena otot sfingter kehilangan kekuatannya dan refleks kandung kemih juga berubah. dan beberapa pengobatan dapat merusak ginjal. Kondisi kronik. . Jumlah luas permukaan dalam usus akan berkurang. Wanita lebih banyak yang mengalami incontinence dari pada pria. secara sedikitsedikit membuat tulang lebih rentan terhadap patah tulang. Tulang akan menyusut. Tetapi Anda mungkin akan lebih sering mengalami konstipasi.kelenturan atau fleksibilitas seiring dengan bertambahnya usia. seperti diabetes atau tekanan darah tinggi. tendon dan sendi umumnya kehilangan kekuatan. jadi Anda mungkin tidak menyadarinya. konstipasi dan batuk kronik. Tulang. Kepadatan tulang juga berkurang. tendon dan sendi umumnya kehilangan kekuatan. ginjal akan kurang efisien dalam memindahkan kotoran dari saluran darah.kelenturan atau fleksibilitas seiring dengan bertambahnya usia. Otot dan Persendian Tulang akan menyusut. Otot. secara sedikit-sedikit membuat tulang lebih rentan terhadap patah tulang. Pada pria yang telah tua. jaringan pada saluran kemih menjadi lebih tipis. Otot pelvic lebih lemah. Laju sekresi enzim-enzim dari lambung.2. Hal ini menyebabkan sukar untuk mengosongkan kandung kemih dan menyebabkan sedikit urin yang keluar. pankreas serta usus halus akan berkurang. Sekitar 30% dari orang usia 65 tahun atau lebih mengalami kelemahan dalam kontrol kandung kemih (urinary incontinence ).Masalah kesehatan yang mungkin timbul: Osteoporosis. hati. incontinence disebabkan karena perbesaran prostat. sehingga mengurangi kontrol pada kandung kemih. Dengan menurunnya produksi estrogen. Osteoartritis. 3. yang kemudian memblokir uretra. Otot.

seperti obesitas. retina akan semakin tipis dan lensa mata akan berangsur berubah menjadi kuning sehingga pandangan menjadi pudar.2. memfokuskan mata pada suatu obyek yang dekat menjadi lebih sulit.Menelan dan gerakan peristaltik otomatis yang memindahkan makanan yang dicerna ke saluran usus akan makin lambat. Wanita yang telah mengalami menopause mungkin mengalaminya karena otot sfingter kehilangan kekuatannya dan refleks kandung kemih juga berubah. Perubahan lainnya adalah pada lensa mata menjadi terlalu sensitif terhadap sorotan cahaya. jaringan pada saluran kemih menjadi lebih tipis. sehingga mengurangi kontrol pada kandung kemih. penyakit prostate. Masalah kesehatan yang mungkin timbul: Katarak. Urinary Incontinence. Glaukoma dan Degenerasi Makular (kehilangan pandangan tengah). Hal ini menyebabkan sukar untuk mengosongkan kandung kemih dan menyebabkan sedikit urin yang keluar. Masalah kesehatan yang mungkin timbul: penurunan fungsi ginjal. sehingga pupil menjadi kurang responsif. yang kemudian memblokir uretra. yang dapat menyebabkan masalah bila menyetir pada malam hari. Hal ini umumnya tidak mempengaruhi kesehatan & proses pencernaan. Pada usia 40 tahunan. pankreas serta usus halus akan berkurang. Jumlah luas permukaan dalam usus akan berkurang. jadi Anda mungkin tidak menyadarinya. Mata Pada lanjut usia atau lansia produksi air mata akan berkurang. konstipasi dan batuk kronik. hati. Status Gizi Status gizi merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk ke . Tetapi Anda mungkin akan lebih sering mengalami konstipasi. Iris akan menjadi lebih kaku. Otot pelvic lebih lemah. hal ini dapat menyebabkan mata menjadi kurang dapat beradaptasi dengan perubahan cahaya. Sekitar 30% dari orang usia 65 tahun atau lebih mengalami kelemahan dalam kontrol kandung kemih (urinary incontinence ). 4. Pada pria yang telah tua.5. 2. Dengan menurunnya produksi estrogen. Laju sekresi enzim-enzim dari lambung. Incontinence dapat disebabkan oleh beragam masalah kesehatan. Wanita lebih banyak yang mengalami incontinence dari pada pria. incontinence disebabkan karena perbesaran prostat.

Mini Nutritional Assessment (MNA) Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan salah satu alat ukur yang digunakan untuk menskrining status gizi pada lansia. . tingkat penggunaan (utilization).Kuesioner MNA terdiri terbagi dalam empat komponen: penilaian . Darmojo (2010) dalam studinya mengemukakan bahwa Mini Nutritional Assessment (MNA) ini meliputi wawancara dan pengamatan mengenai berat badan dan perubahan berat badan 6 bulan atau 2 minggu terakhir. tingkat pertumbuhan. Gibson (1999). seperti tingkat metabolisme basal. komposisi tubuh serta penurunan fungsi organ-organ tubuh. Penilaian Status Gizi Menilai status gizi pada lansia memerlukan metode pengukuran yang sesuai dengan perubahan yang terjadi pada struktur tubuh.dalam tubuh (nutrient input) dengan kebutuhan tubuh (nutrient output) akan zat gizi tersebut. Selain dengan menggunakan MNA. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah seorang lansia mempunyai resiko mengalami malnutrisi akibat penyakit yang diderita dan atau perawatan di rumah sakit. ada tidaknya muscle wasting dan edema. ada tidaknya gangguan fungsional. Metode yang bisa dilakukan pada pengukuran status gizi pada lansia adalah dengan menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA). Banyak penelitian-penelitian yang telah dilakukan menggunakan MNA sebagai alat ukur untuk menilai status gizi lansia. dan biokimia juga dapat dilakukan untuk pengukuran status gizi. Mini Nutritional Asessment (MNA) didesain dan telah dibuktikan bagus sebagai alat kajian tunggal dan cepat untuk menilai status gizi pada lansia. perbedaan daya serap (absorption). status metabolik dari penyakit. aktivitas fisik dan faktor yang bersifat relatif yaitu gangguan pencernaan (ingestion). 2001). ada tidaknya gangguan gastrointestinal. Kebutuhan akan zat gizi ditentukan oleh banyak faktor. 1. dan perbedaan pengeluaran dan penghancuran (excretion and destruction) dari zat gizi tersebut dalam tubuh (Supariasa et al. pengukuran antropometri menjadi poin yang diukur. MNA ini merupakan kuesioner dalam bahasa Indonesia dan sudah diuji validasnya untuk menskrining status gizi lansia. Pada pengukuran dengan menggunakan MNA ini. pemeriksaan klinis.

. kurang. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang. Alatnya murah. Kesimpulan pemeriksaan Mini Nutritional Assesment (MNA) adalah menggolongkan pasien atau lansia dalam keadaan status gizi baik. dan tahan lama d. 2010). pengukuran antropometri menjadi salah satu yang diukur untuk menilai status gizi lansia. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli. Skor MNA bersifat reliabel dan dapat diandalkan untuk mendeteksi risiko terjadinya malnutrisi yang kemudian dihubungkan ke dalam penilaian kualitas hidup dari lansia (Agustiana.antropometri. otot dan jumlah air dalam tubuh (Depkes. jadi antropometri diartikan sebagai ukuran tubuh. seperti lemak. aman. beresiko malnutrisi. Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu. dimana penjumlahan semua skor akan menentukan seorang lansia pada status gizi baik. dan gizi buruk. Prosedurnya sederhana. mudah dibawa. 2007) Supariasa (2001) mengemukakan beberapa keunggulan antropometri gizi sebagai berikut : a. 2007). penilaian asupan makanan. Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan e. Pengukuran Antropometri Antropometri berasal dari bahasa Yunani yiaitu antropos (tubuh) dan metros (ukuran). dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar b. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau f. penilaian secara umum mengenai gaya hidup dan penilaian secara subjektif. Antropometri ini sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. atau beresiko underweight (Darmojo. MNA mempunyai dua bagian besar yaitu screening dan assessment. beresiko malnutrisi ataukah malnutrisi berat. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih c. g. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh. Dalam pengukuran MNA ini.

Arisman (2004) mengemukakan beberapa pertimbangan mengapa berat badan paling sering digunakan sebagai indikator penialian status gizi. diantaranya : 1) Parameter yang paling baik. 1995).h. Pengukuran berat badan ini paling sering digunakan untuk berbagai kelompok usia karena pengukuran berat badan ini juga dapat digunakan sebagai indikator status gizi pada saat skrining gizi dilakukan. b. 4) Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur. Indeks Massa Tubuh (IMT) Indeks Massa Tubuh (IMT) atau biasa dikenal dengan Body Mass Index merupakan alat ukur yang sering digunakan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan berat badan seseorang. sehingga penurunan atau kenaikan berat badan ini berkaitan erat dengan komposisi tubuh (Jus’at. 2) Memberikan gambaran status gizi sekarang 3) Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas di Indonesia sehingga tidak merupakan hal baru yang memerlukan penjelasan secara meluas. Hal ini disebabkan karena berat badan sangat sensitif terhadap berbagai perubahan komposisi tubuh. mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan. c. hal ini dikemukan oleh Humlea dalam Natipulu (2002). Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi. yang diukur dengan menggunakan metode antropometri adalah sebagai berikut : a. Berat Badan Berat badan merupakan gambaran massa jaringan termasuk cairan tubuh. Khusus pada penilaian status gizi lansia berdasarkan Mini Nutritional Assessment. Tinggi Badan Tinggi badan merupakan hasil pertumbuhan kumulatif sejak lahir sehingga parameter ini dapat memberikan gambaran mengenai riwayat status gizi masa lalu. . Tinggi badan ini diukur dengan menggunakan alat ukur dengan menggunakan alat pengukuran seperti microtoise dengan ketepatan 1 cm tetapi bisa juga dengan alat pengukuran non elastik ataupun metal.

IMT < 18.0 = normal IMT > 25. maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. 2004). Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat diketuhi nilainya dengan menggunakan rumus : IMT = Berat badan (kg) Tinggi badan (m)2 Klasifikasi IMT untuk Indonesia merujuk kepada ketentuan WHO tahun 1985 dimana klasifikasi ini dimodifikasi berdasarkan pengalaman klinis serta hasil penelitian di Negara berkembang yang kemudian diklasifikasikan ke dalam Mini Nutritional Assessment. Lingkar Lengan Atas (LLA) Selain beberapa hal yang diukur di atas untuk mengidentifikasi status gizi pada seseorang. Bistrian dzn Blackburn (dalam Murray. Klasifikasi nilai Lingkar Lengan Atas (LLA) sebagai berikut : 1) LLA < 21 = buruk 2) LLA 21 sampai ≤ 22 = sedang . Dimana IMT ini merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Di Indonesia istilah ini diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT).0 = gemuk d. Clinical Method in antropometri : Dinamic of Nutrition support Assessment Implementation) yang kemudian dikutip oleh Indriaty (2010) dalam bukunya mengenai Antropometri.5 = kurus IMT 18.Laporan FAO/WHO/UNU dalam Arisman (2004) menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI). Lingkar Lengan Atas (LLA) juga digunakan untuk menetapkan dan mengidentifikasi status gizi .25. 1986. klasifikasinya merupakan sebagai berikut : Klasifikasi Indeks Massa Tubuh Status gizi berdasarkan IMT dikategorikan sebagai berikut (Almatsier.5 .

3) LLA > 22 = baik/normal e. Lingkar Betis Lingkar betis ini merupakan salah satu bagian yang diukur pada penilaian antropometri khusus untuk melihat gambaran status gizi pada lansia. penurunan tekanan darah. khususnya dehidrasi. 2. misalnya. Fungsi kognitif dan psikologis juga menentukan status gizi lansia. sedangkan lansia yang menderita stroke. penyembuhan luka yang lambat karena defisiensi seng dan vitamin C. tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah. Manifestasi klinis lain yang sering dijumpai pada lansia adalah gangguan keseimbangan cairan. mual. Pemeriksaan fisik Berbagai kelaianan akibat kurang gizi dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik antara lain kehilangan lemak subkutan. tidak dapat bergerak bebas untuk menyiapkan makanan sesuai seleranya sehingga hanya bergantung kepada orang lain untuk makan.kadar protein dan kolesterol juga bisa dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui . diantaranya adalah : a. Sebagian besar kehiilangan berat badan pada lansia disebabkan karena depresi. Pemeriksaan Fungsional Menurut Darmojo (2010) gangguan fungsi pada kemampuan untuk menyiapkan makanan dan makan secara mandiri dapat menganggu asupan makan seorang lansia. edema akibat kekurangan protein. urine. Pemeriksaan Klinis Pada pemeriksaan ini terdapat dua jenis kategori untuk mengetahui status gizi pada lansia. Selain itu. ulkus dekubitus karena kekuurangan protein dan enrgi. Seorang lansia yang dapat bergerak bebas di dalam rumah akan banyak menyiapkan makanan sesuai dengan yang diinginkannya. 3. dan gagal ginjal akut (Darmojo. muntah. penurunan volume urin. 2010). Dehidrasi pada lansia dapat berupa peningkatan suhu tubuh. Biokimia Pemeriksaan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. b.

trransferin dan total iron binding (TIBC) sering dipakai untuk mengukur status gizi lansia. b. 2010). d. injuri. atau penyakit yang mempengaruhi kerja dari hepar. Penilaian Diet Kuantitatif . Seseorang beresiko mengalami malnutrisi protein terjadi jika nilai keseimbangan nitrogen yang negatif terjadi secara terus menerus. Kadar hemoglobin dapat mencerminkan status protein pada malnutrisi berat. Pada pengukuran hematokrit menggunakan satuan persen (%) dan untuk hemoglobin menggunakan satuan gram/dl. Sementara serum kolesterol yang rendah pada lansia juga merupakan indikator status gizi yang kurang pada lansia (Darmojo. Keseimbangan Nitrogen Pemeriksaan keseimbangan nitrogen digunakan untuk menentukan kadar pemecahan protein di dalam tubuh. Dikatakan keseimbangan nitrogen dalam tubuh negative jika katabolisme protein melebihi pemasukan protein melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari (Nurachmah.status gizi pada lansia. Dalam keadaan normal. ginjal. Transferin Nilai serum transferin adalah parameter lain yang digunakan dalam mengkaji protein visceral. 2004). Hemoglobin dan Hematokrit Pengukuran hemoglobin (Hb) dan kematokrit (Ht) merupakan pengukuran yang mengindikasikan defisiensi sebagai bahan nutrisi. Pengukuran simpanan protein tubuh seperti albumin. dan saluran pencernaan. Serum transferin ini dihitung status dengan menggunakan kapasitas total iron binding capacity (TIBC).43 c. Serum Albumin Indikator yang tak kalah pentingnya dalam menilai status nutrisi dan sintesa protein adalah nilai dari serum albumin. tubuh memperoleh nitrogen melalui makanan dan kemudian dikeluarkan melalui urin. a. 2001). dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Blackburn dalam Arisman. Transferin serum = ( 8 x TIBC ) . Kadar albumin rendah sering terjadi pada keadaan infeksi.

biaya yang rendah. 3. biasanya dilakukan oleh ahli nutrisi selama wawancara pribadi. perkiraan yang lebih atau kurang dari asupan. kesalahan-kesalahan dalam perkiraan ukuran porsi. tingkat kepatuhan yang tinggi. Keuntungan-keuntungan dari riwayat diet meliputi kemampuannya untuk memberikan informasi mengenai asupan diet yang menjadi kebiasaan dan beban bagi pasien yang relatif rendah. tidak memerlukan banyak tindakan tambahan dari pasien).Penilaian diet kuantitatif dapat diselesaikan lewat rekam makanan melalui metode mengingat kembali 24-jam (24-h) atau 3-hari. unsur kejutan (yaitu. beban bagi pasien yang rendah. dan biaya yang rendah. (ii) kuesioner mengenai frekuensi dari konsumsi jenis-jenis makanan spesifik. Kerugian-kerugian dari metode ini meliputi ketergantungan pada memori/ingatan. dan (iii) rekam makanan 3-hari menggunakan ukuran-ukuran rumah tangga. oleh karena itu. kecepatan. Kerugian-kerugian dari metode ini meliputi ketergantungan pada ingatan dan kemampuan untuk memperkirakan ukuran porsi.2. mingguan. Keuntungan-keuntungan metode ini meliputi tingkat respons yang tinggi. Mengingat kembali 24-h diselesaikan melalui wawancara. Riwayat diet adalah ulasan retrospektif dari asupan makanan yang lazim dan pola-pola makan dari pasien selama periode waktu yang bervariasi. seperti harian. dan pada pasien dengan pola-pola . yang membuatnya tidak sesuai untuk pasien anak kecil dan lansia. riwayat diet menjadi tidak dapat dipercaya pada anak-anak lebih muda dari 14 tahun. dan kesesuaian untuk pasien-pasien buta huruf. Penilaian Diet Kualitatif Penilaian diet kualitatif dapat diselesaikan menggunaan kuesioner frekuensi makanan semikuantitatif atau dengan mengisi riwayat diet. Keuntungan-keuntungan dari metode mengingat kembali 24-h meliputi beban responden yang rendah (yaitu. memiliki tiga bagian: (i) mengingat kembali 24-h dari asupan aktual. bulanan. dan pengecualian terhadap makanan-makanan yang tidak sering dikonsumsi. kemudahan dan kecepatan dalam penggunaan. pada pasien lansia. Metode ini mengkaji frekuensi dimana kelompok atau jenis makanan tertentu dikonsumsi selama periode waktu yang ditentukan. Riwayat diet. Kuesioner frekuensi makanan didesain untuk memperoleh informasi deskriptif kualitatif atau semikuantitatif mengenai pola-pola lazim konsumsi makanan. Kuesioner dapat kemudian dikelola baik oleh nonprofesional atau dikelola sendiri. atau tahunan.2. wawancara yang terstandardisasi. responden jarang memodifikasi kebiasaan-kebiasaan makan mereka).

.makan yang tidak teratur.

BAB III METODE KEGIATAN 3. 11. Lokasi dan waktu kegiatan Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Dewi Kunthi. Pengukur Tinggi Lutut .1. atau karakteristik tertentu.- 3.4. Kelurahan Rejosari Rw. yang berumur ≥ 55 tahun yang datang ke posyandu lansia Dewi Kunthi. Kecamatan Semarang Timur. wilayah kerja Puskesmas Halmahera. dimana indikator garis kemiskinan adalah dengan pendapatan ≤ Rp. Formulir 24 hours food recall Digunakan untuk mencatat makanan yang dikonsumsi oleh lansia selama 24 jam. Pengukur Tinggi Badan (Microtoise). Sampel Yang menjadi subjek dalam sampel kegiatan ini adalah 5 orang lansia miskin atau lansia yang ikut anak yang tergolong dalam rumah tangga miskin.622. Pengukur Tinggi Lutut dan Food Model. 233. 3. Kota Semarang. 3. yaitu berdasarkan ciri-ciri.3. Indikator miskin yang digunakan adalah menurut BPS Jateng September 2012. 5.2. Instrumen kegiatan Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Formulir 24 hours food recall. Formulir MNA (Mini Nutritional Assessment) Digunakan untuk skrining malnutrisi pada lansia 2. Pengukur Tinggi Badan (Microtoise) Digunakan untuk mengukur tinggi badan lansia. 3. Timbangan berat badan (Weighing Scale). Timbangan berat badan (Weighing Scale) Digunakan untuk mengukur tinggi badan lansia 4. 1. Cara Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Waktu pengumpulan data dilakukan pada saat kegiatan Posyandu tanggal 26 November 2013.

.83 x tinggi lutut dalam cm) 6. Hasil pengukuran tinggi lutut nantinya akan dikonversi ke tinggi badan dengan rumus konversi sebagai berikut : TB Pria = 64. Pengukuran BB dan TB. Food Model Digunakan sebagai media peraga atau model makanan pada saat melakukan food recall. sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Puskesmas. 2.Digunakan untuk mengukur tinggi lutut lansia. Data karakteristik lansia dan juga asupan konsumsinya diperoleh melalui wawancara food recall 1x24 jam. Wawancara food recall 1x24 jam yang menjadi sampel yang memenuhi kriteria miskin menurut Badan Pusat Statistik Jateng 2012. Cara pengumpulan data 1. Jenis dan cara pengumpulan data Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.88 – (0. Data status gizi diperoleh melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan. Lansia datang ke posyandu Dewi Kunti Kelurahan Rejosari pada saat kegiatan posyandu berlangsung.19 – (0. 2.24 x umur) + (1.6. Prosedur kegiatan Prosedur kegiatan yang dilakukan adalah: 1.02 x tinggi lutut dalam cm) TB Wanita = 84. dimana punggung lansia sudah membungkuk.7.5. 3.04 x umur) + (2. tinggi badan. 3. IMT. Data primer meliputi: a) Informasi mengenai karakteristik lansia b) Informasi mengenai pemeriksaan fisik berupa berat badan. 3. 3. c) Informasi asupan dari lansia dengan Food Recall 1x24 jam Sedangkan data sekunder diperoleh dari rekam medis posyandu Dewi Kunti wilayah kerja Puskesmas Halmahera.

elderly (60-74 tahun). Kota Semarang.2.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Karakteristik Responden Menurut Usia Istilah lansia (lanjut usia) dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian. sedangkan usia maksimum adalah 85 tahun. Karakteristik Responden 3. Karakteristik Responden Menurut Jenis kelamin Secara keseluruhan (100%). Karakteristik Responden Menurut Usia No Menurut WHO Interval Usia Frekuensi Persentase (%) 1. Menurut WHO.2. Puskesmas Halmahera kelurahan Rejosari Rw. Usia minimum responden lansia adalah 62 tahun.2. 3. Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Frekuensi 5 5 28 Persentase (%) 100 100 . Berikut tabel penjelasannya : Tabel 1.2. Very old 90 tahun - - 5 100 Jumlah 3. Elderly 60 .1. pengelompokan lansia dibagi menjadi middle aged (25-59 tahun).74 tahun 4 80 3. responden lansia berjenis kelamin perempuan.1.90 tahun 1 20 4. old (75-90 tahun) dan very old (di atas 90 tahun). 11. diketahui bahwa mayoritas responden lansia (80%) berada pada kategori elderly (60-74 tahun). Responden dalam survey ini berjumlah 5 orang lansia miskin. Gambaran Umum Survey Survey mengenai pola makan lansia dengan status ekonomi miskin dilaksanakan di posyandu Dewi Kunthi. Middle aged 25 – 59 tahun - - 2. Berikut tabel penjelasannya : Tabel 2. sisanya yaitu 20% termasuk kategori old (75-90 tahun). Kecamatan Semarang Timur. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan. Old 75 .

Sebanyak 60 % lainnya berstatus tidak bekerja.5 18.4. Karakteristik Responden Menurut Status Gizi IMT <18. Status Gizi Berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubuh) Untuk mengetahui status gizi responden lansia. Status Gizi Berdasarkan MNA . diperoleh berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang kemudian dihitung dalam bentuk IMT.2.4.2.3. dengan rincian 20 % responden berjualan permen di depan SD dan 20 % lainnya berjualan jajanan. Karakteristik Responden Menurut Status Gizi 3.29 3. dengan rincian 40 % responden bergantung pada anak (20% bergantung pada anak yang bekerja sebagai kuli bangunan dan 20 % bergantung pada anak yang bekerja sebagai buruh konveksi). Karakteristik Responden Menurut Status Ekonomi Lansia yang menjadi responden secara keseluruhan memiliki status ekonomi rendah. berikut tabel penjelasannya : Tabel 3. diketahui bahwa 40 % responden lansia bekerja sebagai pedagang.2. sedangkan 20 % lainnya bergantung pada suami yang bekerja serabutan.masing 40 % memiliki status gizi normal dan lebih. 3.4. Berikut tabel perinciannya : Tabel 4.25 >25 Status Gizi Kurang Normal Frekuensi 1 2 Persentase (%) 20 40 Lebih 2 40 Total 5 100 Berdasarkan tabel di atas.2.1. Karakteristik Responden Menurut Jenis Pekerjaan Jenis Pekerjaan Pedagang Tidak bekerja Total Frekuensi 2 3 5 Persentase (%) 40 60 100 Berdasarkan tabel di atas. diketahui bahwa hanya 20 % responden lansia yang memiliki status gizi kurang.2.5 . Sisanya yaitu masing . Hal ini dapat dilihat dari jenis pekerjaannya. 3.

normal 7-12 dan malnutrisi <7.3. adanya riwayat penyakit. pertumbuhan.1. Angka Kecukupan Energi (AKE) Responden Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang (IOM. status gizi dikategorikan menjadi 3. Berdasarkan hasil recall. dapat disimpulkan bahwa rata-rata responden memiliki Angka Kecukupan Energi (AKE) yang masih jauh di bawah standar nilai AKG. terdapat 4 lansia normal dan tidak membutuhkan pengkajian lebih lanjut sedangkan1 lansia memiliki status nutrisi malnutrisi dan membutuhkan pengkajian lebih lanjut. Status MNA Responden I II III IV V MNA 13 7 Status MNA Normal Malnutrisi 12 Normal 13 Normal 13 Normal Berdasarkan tabel diatas dari 5 lansia miskin. pengaturan suhu dan kegiatan fisik. pengukuran antropometri menjadi poin yang diukur.30 Selain berdasarkan IMT. 3. protein dan lemak.3. Berikut adalah hasil dan distribusi responden berdasarkan keseluruhan MNA: Tabel 5. Energi berfungsi sebagai zat tenaga untuk metabolisme. Dari 5 lansia . Hasil pengkajian MNA. 2002). Nutrisi baik jika nilai keseluruhan MNA adalah ≥12. status gizi pada lansia dapat ditentukan dengan metode MNA. Angka Kecukupan Gizi (AKG) Responden 3. Metode yang bisa dilakukan pada pengukuran status gizi pada lansia adalah dengan menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA). Pada pengukuran dengan menggunakan MNA ini. Adanya lansia yang berada dalam malnutrisi disebabkan karena faktor ekonomi yang menyebabkan kurangnya asupan makan dan pola makan yang tidak bervariasi dan adanya faktor risiko yang mempengaruhi status gizi lansia seperti faktor psikologi. Pengkategorian ini berdasarkan total nilai keseluruhan MNA yang diperoleh. . dalam risiko malnutrisi dan malnutrisi. Berikut tabel penjelasannya. lansia dalam risiko malnutrisi yaitu 1 lansia. yaitu nutrisi baik.

34 37. Sumber karbohidrat adalah padi-padian atau serealia.1 41.3. 3.7 64. umbi-umbian. sirup juga merupakan pangan sumber karbohidrat (Almatsier 2004). Berdasarkan hasil recall. roti. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 Kal. menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki Angka Kecukupan Energi (AKE) sebesar 761. jenis sumber karbohidrat yang dikonsumsi seharihari oleh para responden lansia adalah nasi.2.34 105.31 Tabel 6.56 26. maka rata-rata AKE responden hanya sebesar 46. tetapi mereka masih tetap mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat pokok. selai. Hasil olahan seperti bihun.6 72. Angka Kecukupan Karbohidrat Responden Responden I II III IV V Karbohidrat (Kkal) 98. Meskipun para responden berada pada status ekonomi rendah.12 1119. Angka Kecukupan Karbohidrat Responden Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi penduduk di dunia karena banyak di dapat dari alam dan harganya relatif murah.24% dari nilai AKG.8 Hasil Perbadingan AKG (%) 37.23 746.27 761.4 530. kacang-kacang kering dan gula.1 Hasil Perbadingan AKG (%) 34. mie.24 III IV V Rata-rata Pada tabel di atas. Penjelasan mengenai angka kecukupan karbohidrat para responden.5 61.08 Kkal.25 699.4 45. dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 7.08 46. tepung-tepungan. Apabila dibandingkan dengan AKG.7 41.94 161.09 .2 39. Angka Kecukupan Energi (AKE) Responden Responden I II Energi (Kkal) 709.17 117.

Mereka lebih sering mengkonsumsi protein nabati daripada protein hewani karena secara ekonomis lebih murah protein nabati daripada protein hewani. ada responden yang mengaku bahwa responden tersebut pada saat recall mengkonsumsi protein hewani berupa telur puyuh hasil dari acara hajatan tetangga.3 65.62 Dari tabel di atas. Apabila dibandingkan dengan AKG.82 41. unggas. Angka Kecukupan Protein Responden Protein merupakan salah satu zat gizi makro yang penting dalam makanan sebagai sumber asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis protein tubuh dan senyawa lain yang mengandung protein (Gibson 2005).2 40. seperti telur. Angka Kecukupan Protein Responden Dari tabel di Responden I II III IV V Rata-rata Protein (gr) 23. ratarata konsumsi karbohidrat responden masih cukup rendah. susu. Bahkan. daging. Protein menurut sumbernya dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu protein hewani (berasal dari hewan) dan protein nabati (berasal dari tumbuhan). Penjelasan mengenai angka kecukupan protein para responden.3 40. hanya sebesar 41. dalam jumlah maupun mutu.8 8.82 Kkal. diketahui bahwa rata-rata konsumsi karbohidrat para responden adalah sebesar 108.88 23.32 Rata-rata 108. dan kerang (Almatsier 2004). Berdasarkan hasil recall. 3. jenis sumber protein yang paling sering dikonsumsi sehari-hari oleh para responden lansia adalah protein nabati seperti tahu dan tempe.96 .50 15. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik.9 40.7 Hasil Perbadingan AKG (%) 42. dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 8.44 23.3.3.62 % dari AKG.82 22. ikan.18 37.

2 28.4 45. masih jauh dari standar AKG.52 gr.9 41. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran.6 56.32 26. gambaran konsumsi lemak para responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 9.4. 3.47 %.rata konsumsi lemak para responden lansia adalah sebesar 26.31 21. . Menurut hasil recall.08 36. ratarata konsumsi lemak para responden hanya sebesar 49. rata-rata asupan protein para responden hanya sebesar 40.52 49.5 33. Angka Kecukupan Lemak Responden Responden I II III IV V Rata-rata Lemak (gr) Hasil Perbadingan AKG (%) 24. 3.5. buah-buahan segar dan biji-bijian utuh. yaitu rata-rata sebesar 23. 2011).33 atas. diketahui bahwa asupan protein para responden masih sangat rendah. diketahui bahwa rata .96% dari AKG. yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat. yang dibutuhkan oleh ratusan bahkan ribuan fungsi fisiologis tubuh (McGuire and Beerman. 2005).47 Berdasarkan tabel di atas. Lansia tidak dianjurkan mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial). Apabila dibandingkan dengan AKG. karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak.3.00 21.66 71. yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh. Apabila dibandingkan dengan AKG. Angka Kecukupan Serat Responden Serat pangan fungsional adalah karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan mempunyai efek manfaat fisiologis bagi manusia.2 gr.3. Angka Kecukupan Lemak Responden Lemak (lipid) merupakan komponen struktural dari semua sel-sel tubuh. Lansia dianjurkan untuk mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks. Serat pangan adalah karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan lignin yang terdapat dalam tanaman (IOM.

36 3. ada respon yang menu makannya hanya dengan nasi kecap dan tahu goreng. 3. selain itu ada juga responden yang memiliki pohonnya sendiri. diketahui bahwa rata-rata angka kecukupan vitamin dan mineral para responden masih kurang dari nilai AKG. hasil recall menunjukkan bahwa rata-rata asupan serat dari responden masih sangat kurang. Angka Kecukupan Serat Responden Responden I Serat (gr) Hasil Perbadingan AKG (%) 2. Berikut tabel penjelasannya : Tabel 10. Bahkan.35 II III IV V Rata-rata Berdasarkan tabel di atas.34 Namun pada kenyataannya.46 14. gudangan.5 2. Hal ini dikarenakan para responden lansia miskin secara keseluruhan kurang dalam mengkonsumsi sayur-sayuran.00 3 13. sawi. Apabila dibandingkan dengan AKG lansia. Angka Kecukupan Vitamin dan Mineral Responden Berdasarkan hasil recall.3. Belum tentu dalam setiap hari para responden pasti mengkonsumsi sayuran. jenis sayuran yang paling sering dikonsumsi adalah daun singkong.7 16. . rata-rata asupan seratnya hanya sebesar 14.4 8. maka buah-buahan yang sering dikonsumsi adalah pepaya dan mangga.7 20. Berdasarkan hasil recall dan wawancara. Rendahnya asupan vitamin dan mineral para responden disebabkan karena masih rendahnya asupan responden terhadap buah-buahan.93 12.46 gr.35 % dari AKG. hanya terkadang saja. diketahui bahwa rata-rata asupan serat responden adalah 3. Apabila mereka mengkonsumsi buah-buahan. sayur sop (kentang dan wortel) serta sayur bening yang mudah didapat dan murah. Pepaya dan mangga merupakan buah yang relatif murah dan mudah didapat. Hal itupun tidak dilakukan rutin setiap hari.82 5. hanya dua dari kelima responden (40 %) yang mengkonsumsi buah-buahan. Kalaupun responden mengkonsumsi sayuran.6.64 3.

00 30.00 50.17 19.60 178.27 44. dan 41.15 % dari nilai AKG.18 11. 83 % dari nilai AKG.12 % dan 65.86 18.93 77. 3.87 Besi (% AKG) 21.18 27.3.50 166. hanya asupan vitamin A dan vitamin C yang lebih dari 50 % AKG.67 18.23 63.37 72.33 54.00 37.00 0.29 25.8 33.1 Angka Kecukupan Vitamin Responden Berdasarkan hasil recall.6.37 %.93 65. Angka Kecukupan Mineral Responden Serupa dengan asupan vitamin.11 22.50 56.67 27.57 36. 42 %.86 219.67 0.94 15. fosfor.01 41.6.22 66.15 Tabel di atas menunjukkan bahwa dari beberapa jenis vitamin.24 25.32 86.50 28.84 44.92 26.025 28.94 Fosfor (% AKG) 40. jenis rata-rata asupan mineral responden seperti kalsium. B1 Vit.83 12. Angka Kecukupan Vitamin Responden (hasil perbadingan dengan AKG dalam bentuk persen) Responden Vit.125 5. Berikut tabel penjelasannya : Tabel 11.50 .3. yaitu masing-masing 88. dan besi masing-masing sebesar 41. masih jauh dari nilai AKG.17 77.67 1.50 37. Untuk asupan vitamin lainnya.3 21. A Vit.00 12.58 56. B3 Folat Vit.B12 Vit. dapat disimpulkan bahwa rata-rata responden memiliki asupan vitamin yang masih rendah dibandingkan dengan nilai AKG.00 40.2.35 Mengenai angka kebutuhan vitamin dan mineral para responden.00 27. C I II III IV V Rata-rata 52.19 31.00 12.56 21.67 55. 3. Berikut tabel penjelasannya : Tabel 12. fosfor.95 23.12 20.10 88. B2 Vit.60 54.00 14. Angka Kecukupan Mineral Responden (hasil perbadingan dengan AKG dalam bentuk persen) Responden I II III IV V Ca (% AKG) 28. Asupan rata-rata responden lansia miskin untuk kalsium. secara spesifik akan dibahas pada sub bahasan berikut ini. dan besi juga masih kurang dari nilai AKG.

maka diadakan pelatihan secara periodik.36 Rata-rata 41. kecuali vitamin A dan C. protein. Asupan rata-rata energi. 2. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan kepada keluarga lansia tentang perubahan psikologis dan fisiologis pada lansia dan hubungannya dengan asupan . sedangkan menurut MNA status gizinya rata-rata normal. 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan. Masih kurangnya asupan zat gizi responden lansia miskin tersebut dipengaruhi oleh status ekonominya yang rendah. dan untuk asupan mineral pada lansia miskin di kelurahan Rejosari juga masih di bawah 50% nilai AKG. 3. Agar pengetahuan dan keterampilan para kader posyandu lansia dapat lebih baik lagi. Membuat kunjungan rumah bagi para lansia yang tidak mampu datang ke posyandu lansia karena sakit.83 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4. karbohidrat.2. Status gizi pada responden lansia miskin menurut hasil IMT adalah bervariasi. hasil recall menunjukkan bahwa asupan makannya masih kurang baik. maka dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. 4. 4. Namun.37 42 41.1. Saran 1. Asupan vitamin rata-rata masih di bawah 50% nilai AKG. dan lemak pada lansia miskin di kelurahan Rejosari masih di bawah 50% nilai AKG 3.

Palupi Widyastuti. Pedoman Umum Gizi Lansia.37 zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. 2003. 2010. Rose Ann PhD. Hubungan skor mini nutritional assessment (mna) dengan albumin serum pasien usia lanjut di bangsal geriatri rumah sakit dr kariadi Semarang Arisman. Wahyuni M. Rencana pembangunan jangka panjang bidang kesehatan 2005-2025. Editor. Jakarta Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan lanjut usia). FAO/WHO/UNU. Rome: FAO/WHO/UNU. Pedoman Tata Laksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Daftar pustaka Agustina. 55:83-93 Badan Pusat Statistik. (2004). 2007. Gizi dan Kesehatan Manula. 2012. Human Energi Requirement. B. Departemen Kesehatan RI. Gibson RS. Jakarta: Badan Pusat statistik Badan Pusat Statistik. Press Fatmah. FK UI : Jakarta. RN. 2002. Penerbit Erlangga New York: Oxford University . Laporan nasional riset kesehatan dasar (riskesdas). Palembang : Universitas Sriwijaya Press Astawan M. 2001. L (2007). Arisman. Principle of Nutrition Asessment. Gizi dalam Daur Kehidupan. Statistik Penduduk Usia Lanjut 2008. Palembang: Universitas Sriwijaya Press. 2005. Jakarta Barat Dalam Angka 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik Darmojo. The Canadian Journal of Diagnosis. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat Dirjen Binkesmas Depkes RI DiMaria-Ghalili. 2010. Gizi dalam daur kegidupan. Gizi Usia Lanjut. (2009). (2010). 2009. 2009. 2008. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat Dirjen Binkesmas Depkes RI Departemen Kesehatan RI. 1988. Nutrition in the Elderly. Azad N. How to try this the mini nutritional assessment. Riset kesehatan dasar (pedoman pengukuran antropometri) Depkes. EGC:Jakarta.

Nutrition and Diet Therapy. 2002. Ke-11. Gizi Pada Usia Lanjut. Jakarta: PDGKI Rahardjo BW et al. Briawan D. Di dalam: Matrono H. Kesehatan Masyarakat: Suatu Pengantar Edisi 4. ID. Penilaian status gizi. 1994. 2003. 2004. Principle nutritional assessment. Notoatmojo. Jakarta: Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI). 2004.S. New York: Oxford University Press Hardini. dik. Krause’s: Food. 2008. McKenzie. Sukandar D. Nutrisi dalam keperawatan. S. (1995). RA Sri (2005) Hubungan status gizi (mini nutritional assessment) dengan outcome hasil perawatan penderita di divisi geriatri rumah sakit dokter kariadi Semarang. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. E. Jakarta: Balai Penerbit FK UI hlm. EGC : Jakarta Sri Setiati. 2007. Gizi. Sagung seto : Jakarta. Studi Sosial Ekonomi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta Nurachmah. 2009. Buku Ajar Geriatri: Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. (2001). Ketahanan Pangan dan Gizi di Era . I. dalam Pelatihan coordinator tenaga gizi RI : Jakarta. Wirakusumah ES. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Menu Sehat untul Lanjut Usia. 2006. Penilaian dan Perencanaan Konsumsi Pangan. Institut Pertanian Bogor Harris NG. dan Sanitasi: Departemen Gizi Masyarakat. H & Boedhi-Darmojo R. Aspek Pangan. Gibson RS. (1999). 2005. H (2002). Teknik pengukuran antropometri pada pasien dewasa. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Panduan Menuju Lanjut Usia Sehat. IPB Supariasa. Fakultas Pertanian. (2001). Ed. Nutrition in Aging. Fakultas Ekologi Manusia. editor. Jakarta: Puspa Swara Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lanjut usia (lansia). Di dalam: Mhan LK. Hardinsyah. editor. 2007. USA: Else Jus’at. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia). Pedoman Tatalaksana Gizi klinik. Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia. Stump. Oxford University Press : New York. James R. Muis. R. Principle of Nutrition Asessment. 2006. 539-547 Natipulu.38 Gibson.

. Wulandari.39 Otonomi Daerah dan Globalisasi. (2004). WD. Jakarta: LIPI. (2010) Risiko Malnutrisi Berdasarkan Mini Nutritional Assessment Terkait dengan Kadar Hemoglobin Pasien Lansia. Penentuan validitas WHOQOL-100 dalam menilai kualitas hidup hidup pasien rawat jalan di RSCM (versi Indonesia). R. Wulandari.