You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia di zaman modern ini, melihat sepintas saja sudah

terlintas

permasalahan permasalahan gizi di Indonesia yang cukup rumit . penyakit akibat
atau yang berhubungan dengan gizi saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat
perkotaan. Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan
modernisasi.

Perilaku dan gaya hidup

yang tidak sehat didukung dengan

pengetahuan yang tidak memadai apalagi masyarakat yang berada di kalangan
ekonomi menengah kebawah.
Negara kita pada saat ini mengalami 4 masalah gizi yang cukup bahkan
sangat serius diantaranya adalah gizi darurat dan penanggulangan nya lalu
masalah Gizi buruk yang lebih ataupun kurang gizi, kemudian angka kecukupan
gizi dan terakhir adalah gizi daur hidup. Pada era modern ini mulai banyak
bermunculan beraneka ragam jenis pangan atau bahan makanan

dari yang

tradisional sampai yang instant. Hal inilah yang membuat kita kurang berhati hati
pada masa ini.konsumsi makanan yang tak seimbang tanpa kita sadari telah
memunculkam permasalahan gizi yang serius salah satunya adalah KEP atau
kekurangan energi Protein.

Pada dasar nya

penyakit ini disebabkan karena

kurang nya energi dan protein lalu disertai dengan menu makanan sehari hari
yang tidak seimbang atau jauh dari bergizi.
Pada umumnya penyakit ini diderita oleh ibu hamil dan anak balita
walaupun bisa juga menyerang orang dewasa. Dalam kep ini sendiri yang dirasa
adalah seperti merasa kelaparan dalam jangka waktu yang lama. Pada anak anak
penyakit ini gambaran klinis defisiensi energy dan protein. Defisiensi energy
yang menonjol disebut dengan Marasmus namun gejala klinis yang dominan
disebut dengan Kwashiorkor.

1

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Kurang Energi Protein?
2. Apa Penyebab Kurang Energi Protein ?
3. Apa saja Gejala dari Kurang Energi Protein?
4. Bagaimana Pencegahan dari Kurang Energi Protein?
5. Seberapa serius masalah KEP di Indonesia?
6. Apa akibat KEP ?

1.3 Tujuan
Adapun tujaun dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Sebagai sumber informasi untuk mahasiswa.
2. Agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman khusunya bagi
mahasiswa Kesehatan Masyarakat mengenai Kurang Energi Protein.
3. Untuk memenuhi tugas Gizi Kesehatan Masyarakat.

2

Kekurangan energi protein biasa nya di dominasi oleh sekelompok masyarakat yang ekonomi nya tergolong rendah.BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Definisi KEP Kurang energi protein (KEP) atau bisa disebut dengan PCM Protein Energi Malnutrition atau PEM (Protein Energi malnutrition) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan seharihari sehingga tidak memenuhi angka kebutuhan gizi (AKG). Sindroma gabungan diantara kedua penyakit inilah yang disebut dengan EPM (Energy Protein Malnutrition) atau biasa kita sebut KEP (Kurang Energi Protein) bisa juga disebut KKP (Kurang kalori protein). Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan Kwashiorkor pada anak Balita. Kekurangan protein sering ditemukan bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan MARASMUS.2 Penyebab KEP Akibat yang ditimbulkan karena kekurangan energi protein ini pada anak anak ada 2 macam yaitu Kwashiorkor dan Marasmus.. Istilah Tersebut pertama kali di temukan di GHANA Afrika oleh seorang dokter bernama Dr. Dalam bahasa aslinya penyakit ini di artikan sebagai penyakit yang di peroleh anak pertama jika anak kedua sedang di nanti kelahirannya. 3 . 2. Telah jelas Nampak bahwa ini adalah salah satu masalah gizi yang serius di Indonesia.Cecily Williams tahun 1993. Untuk lebih memahami maka akan dibahas satu persatu mengenai ke dua akibat yang biasanya terjadi pada anak balita kebanyakan.

Arti dari kata ini adalah sindroma perkembangan anak dimana anak tersbut disapih tidak diberikan asi sesudah satu tahun karena menanti kelahiran bayi berikutnya. Tanda yang khas adalah adanya edema (bengkak) pada seluruh tubuh sehingga tampak gemuk.1 Kwashiorkor kwashiorkor sendiri berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan kasih sayang ibu". budaya merupakan kombinasi factor ini yang kerap menyebabkan KEP.2.subtropical dimana ekonomi. tidak bernafsu makan atau kurang.2. social. rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan 4 . wajah anak membulat dan sembab (moon face) terutama pada bagian wajah. KEP ini biasa nya terjadi pada anak yang disapih umur 1-4 tahun. bengkak terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang. Lalu anak yang bertempat tinggal di daerah tropical. timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. terutama protein. otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran Lingkar Lengan Atas LILA-nya kurang dari 14 cm. Dan terakhir bisa terserang pada anak yang sedang dirawat inap karena pembedahan atau hipermetabolik. Dan biasanya makanan atau yang dikonsumsi sebagai pengganti asi adalah makanan yang kualitas nya tidak baik sehingga menyebabkan kurang protein. Sebenarnya kondisi ini banyak dialami pada anak berusia 2 atau 3 tahun yang disebabkan karena terlambat Menyapih sehingga yang terjadi pada si anak adalah komposisi gizi makanan tidak seimbang.

anemia dan diare.2 Marasmus Lalu memasuki pembahasan marasmus.Selanjutnya juga karena metabolism protein. Pada umumnya penyakit ini dialami oleh bayi {12 bulan pertama} yang terlambat di berikan makanan tambahan. sering disertai infeksi.2. kecepatan pertumbuhan melambat dan tidak ad dermatitis atau depigmentasi.mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit. gangguan fungsi hormon. 2. factor ekonomi rendah. Pada KEP terjadi karena perubahan metabolism karena kekurangan protein adalah kekuranagan pengaruh gangguan cairan dan elektrolit dimana total cairan tubuh meningkat bertandanya dengan reduksi total kalium tubuh dan retensi natrium. Penyapihan yang mendadak dan pemberian susu formula yang terlalu encer juga tidak higenis.selain itu karena masalah social yang kurang menguntungkan. dan ditandai dengan terjadinya hipoalbuminemia. anak menjadi rewel dan apatis perut yang membesar juga sering ditemukan akibat dari timbunan cairan pada rongga perut salah salah gejala kemungkinan menderita "busung lapar" Lalu memasuki pembahasan berikutnya yaitu Gejala yang ditimbulkan. lemak. Penyakit ini berpengaruh jangka panjang 5 . sering juga berbentuk makrositik) 5) Menderita kekurangan vitamin A. vitamin dan mineral. dihasilkan karena ketidakcukupan sintesis plasma protein pengikat retinol sehingga sering kali timbul gejala kebutaan yang tetap atau permanen. arti kata dari nama penyakit ini dalam bahasa yunani adalah wasting atau merusak. depresi fungsi sel enzim dan sirkulasi gagal. 1) Pertumbuhan dan mental mundur 2) Otot menyusut 3) Depigmentasi rambut dan kulit 4) Anemia moderat (selalu bentuk normokhormik.

Marasmus banyak diderita di Negara yang sedang berkembang. infeksi saluran pernapasan. Lalu metabolism lemak pada marasmus absorpsi lemaknya diperlihatkan dengan absorpsi vitamin A dan umumnya tidak sejalan sebagaimana kwashiorkor. Untuk melihat Gejalanya secara umum adalah : 1) lemak dibawah kulit berkurang atau atropi ( mengecil) 2) juga otot yang berkurang dan melemah 3) tidak ada edem 4) anak apatis. anak sering terlihat waspada dan lapar. Deteriosasi fungsi tubuh terjadi perlahan dan menghasilkan penyusutan otot. meskipun kadar protein serum terganggu tetapi kejadian nya lebih tinggi dari kwashiorkor. semua makanan dan fisik serta emosional mengalami mundur pada orang lansia yang miskin karena sering kali tidak ada makanan yang bermutu atau mempunyai masalah emosional dan mental. Umumnya kerusakan terjadi karena tidak ada otot dan asam amino eksogenous yang digunakan sebagai sumber protein sehingga dalam tubuh terjadi pengosongan protein dengan penderita tingkat akut. cacingan dan lainnya. Diet yang kurang kilokalori dan protein dalam jangka waktu lama (kronis) ini yang menyebabkan marasmus. pengasuhan yang penuh kasih sayang juga seimbang pemberiannya. Penghambatan menjadi lebih sempurna. Penyakit yang terjadi akibat metabolisme yang abnormal . tuberkolosis. Pencegahan penyakit ini bisa dimulai dengan koreksi keseimbangan elektrolit.terhadap mental dan fisik yang sukar diperbaiki. program pemberian makanan dan terakhir pemecahan masalah social ekonomi. 6 .

3 Klasifikasi berdasarkan Kesehatan Masyarakat Klinis `Pem atau Kep dengan tingkat kwashiorkor dan marasmus secara kualitatif dibedakan menjadi dua yaitu gejala subklinik PEM pada komunitas masyarakat (kesehatan masyarakat) dan juga berdasarkan berat serta tinggi badan.Di Indonesia. xerophthalmia (defisiensi vitamin A). Cu. 29-31 Mei 1975. dll. klasifikasi.2. asam folat). stomatitis (vitamin B. KEP sedang bila berat badan menurut umur (BB/U) = 70-60% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) = 80-70% baku median WHO-NCHS 3. KEP ringan bila berat badan menurut umur (BB/U) = < 60% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < 70% baku median WHO-NCHS 7 . KEP ringan bila berat badan menurut umur (BB/U) = 80-70% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) = 90-80% baku median WHO-NCHS 2. klasifikasi dan istilah yang digunakan sesuai dengan hasil Lokakarya Antropometri Gizi. C). vitamin B12. Pada setiap penderita KEP berat. 1. anemia (defisiensi Fe. selalu periksa adanya gejala defisiensi nutrien mikro yang sering menyertai seperti kelainan kulit. 2.Berbagai istilah.2.3 KEP berat tipe marasmik-kwashiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. dan diagnostik telah digunakan serta berubahubah dari masa ke masa. dengan BB/U < 60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok.kelainan rambut.

8 . yang hanya didasarkan atas deficit berat badan saja. dan berat .4 Klasifikasi menurut derajat beratnya KEP Jika tujuannya untuk melakukan prevalensi KEP di suatu daerah. 1954 ). sedang. hingga dapat ditentukan persentasi gizi – kurang dan berat di daerah tersebut. Penderita KEP dengan endema tanpa melihat deficit berat badannya digolongkan oleh bengoa dalam derajat 3. Sebagai baku patokan dipakai persentil 50 baku Harvard ( stuard dan Stevenson. Penderita kwashiorkor berat badannya jarang menurun hingga kurang dari 60 % disebabkan oleh adanya endema. maka yang diperlukan klasifikasi menurut derajat beratnmya KEP. sedangkan lemak tubuh dan otot – ototnya tidak mengurang sebanyak sedperti pada keadaan maramus. Dengan demikian pemerintah dapat menentukan prioritas tindakan yang harus diambilnya untuk menurunkan insidensi KEP. Klasifikasi demikian yang sering dipakai adalah sebagai berikut 2.1 klasifikasi menurut Gomez (1956) Klasifikasi tersebut didasarkan atas berat badan individu dibandingkan dengan berat badan yang diharapkan pada anak sehat seumur. table dibawah memperlihatkan cara yang dilakukan oleh Gomez.ringan . Padahal kwashiorkor merupakan penyakit yang serius dengan angka kematian tinggi. Gomes mengelompokkan KEP dalam KEP. Derajat KEP Berat badan % dari baku * 0 = normal = / > 90% 1 = ringan 89 – 75 % 2 = sedang 74 – 60 % 3 = berat < 60 % *Baku = persentil 50 Harvard  Modifikasi bengua atas klesifikasi Gomez Bengoa pada tahun 1970 mengadakan modifikasi pada klasifikasi Gomez.2.4.

maka lokakarya antropometri gizi departemen kesehatan RI. jika dirawat selama 1 minggu akan kehilangan edemannya dan beratnya dapat menurun dibawah 60 % walaupun gejala klinisnya masih ada. kelainan rambut. maka ada kalannya dapat dibuat diagnose yang salah. Untuk survey lapangan guna menentukan prevalensi tipe – tipe KEP. dan dapat dilakukan oleh tenaga para medis setelah diberi latihan seperlunya. Akan tetapi jika cara welcome trust diterapkan pada penderita yang sudah beberapa hari di rawat dan dapat pengobatan diet. Modifikasi yang dilalkukan oleh departemen Kesehatan R.1971) Cara welcome trust dapat dipraktekkan dengan mudah. Table Di bawah ini memperlihatkan batas – batasnya Derajat KEP Berat badan % dari baku * 0 = normal = / > 80% 1 = gizi kurang 69 – 79 % 2 = gizi buruk < 60 % *Baku = persentil 50 Harvard 2. lokakarya mengklasifikasikan status gizi dalam gizi lebih. dan perubahan – perubahan lain yang khas bagi kwashiorkor dengan berat badan lebih dari 60 %. tidak di perlukan penentuan gejala klinis maupun laboratories.comm. 9 .I Demi keseragaman dalam membuat rencana dan mengevaluasi program – program pangan dan gizi serta kesehatan di Indonesia. Seorang penderita dengan edema. Yang diadakan pada tahun 1975 membuat keputusan yang merupakan modifikasi klasifikasi Gomez..4.2 Klasifikasi kulaitatif menurut welcome Trust (FAO/WHO Exp. gizi kurang dan gizi buruk. kelainan kulit .

klasifikasi kualitatif KEP menurut welcome trust Berat badan % dari baku * Endema Tidak ada Ada <60 % Gizi kurang Kwashiorkor < 60 marasmus Kwashiorkor marasmik *baku = persentil 50 harvard 10 . penderita tersebut dengan klasifikasi welcome trust didiagnosa sebagai penderita marasmus. Table dibawah menunjukkan klasifikasi kualitatif menurut welcome trust.Dengan berat dibawah 60% dan tidak terdapat endema .

2 1978 : SUVITA 1986 dan 1987 : SUSENAS 11 .1 % . sedangkan 3 % atau 0. Tarwotjo dkk ( 1978 ) memperkirakan bahwa 30 % atau 9 juta diantara anak – anak balita menderita gizi kurang .1 Prevalensi KEP Istilah prevalensi sering dipakai untuk menandakan adanya penyakit.9 juta anak – anak balita menderita gizi buruk. 1986 .2 1.9%.BAB III PEMBAHASAN 3. Pengertian prevalensi dan insidensi mengenai suatu penyakit sering dicampur – adukkan. Laporan yang lebih baru yang tercantum dalam “ rekapitulasi data dasar desa baru UPGK 1982/1983” menunjukkan bahwa prevalensi penderita KEP di Indonesia belum menurun. Penyakit KEP merupakan bentuk malnutrisi yang terdapat terutama pada anak – anak dibawah umur lima tahun dan kebanyakan di Negara – Negara yang sedang berkembang.4 Perkotaan 1.463 anak balita yang di ukur terdapat status gizi baik 57. Maka prevalensi akan dapat ditentukan jika melakukan studi lapangan untuk mengetahui jumlah penderita suatu penyakit diantara penduduk setempat pada waktu tertentu.9% dan gizi buruk 5.4 2.8 Perdesaan + perkotaan 2. gizi kurang 35.7 1. sedangkan prevalence rate jumlah kasus yang terdapat pada waktu tertentu. Hasil pengukuran secara antropometri pada anak – anak balita dari 642 desa menunjukkan angka – angka sebagai berikut: diantara 119. Dengan incidence rate diartikan jumlah kasus yang terjadi pada periode tertentu. prevalensi KEP – Berat pada anak balita di perkotaan dan perdesaan ( 1978 . Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh Indonesia.8 0.0 1. 1987 ) Daerah 1978 1986 1987 Perdesaan 2.9 0.

3 8.5 0 Desa Kota 1978 Desa + Kota 1986 1987 Prevalensi Gizi – Buruk Di Indonesia Pada Tahun 1978.prevalensi KEP. 1986.9 11.1 Perdesaan + perkotaan 14.9 Perkotaan 12. 1987.0 1978 : SUVITA 1986 dan 1987 : SUSENAS % gizi buruk 3 2.5 1 0.5 2 1.6 8.4 12. 1986 .2 11.sedang dan KEP.Berat pada anak balita di kota dan desa ( 1978 . (Asmira Sukaton . 1987 ) Daerah 1978 1986 1987 Perdesaan 15 14. 1989 ) 12 .

(Asmira Sukaton . 1989 ) 3. kepadatan penduduk. yang juga menggambarkan situasi lingkungan merupakan faktor penentu KEP. Pada tingkat makro. Demikian juga kesalahan memberikan makanan pada bayi mempunyai pengaruh kuat terjadinya KEP pada awal kehidupan balita.. factor social . diet yang mengandung cukup energi tetapi kurang protein akan menyebabkan anak menjadi penderita kwashiorkor. kemiskinan.% gizi kurang dan buruk 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Desa Kota 1978 Desa + Kota 1986 1987 Prevalensi Gizi-kurang dan Buruk Di Indonesia Pada Tahun 1978. sedangkan diet kurang energi walaupun zat – zat gizi esensialnya seimbang akan menyebabkan anak menjadi penderita marasmus. tingkat kesehatan. antara lain factor diet. penyakit infeksi.2. infeksi . 3.1 Peranan diet Menurut konsep klasik. Anggota rumahtangga dari kelompok rawan ekonomi yang memberikan gambaran ketersediaan pangan dan rentang biologis beresiko KEP. besar dan luasnya masalah KEP sangat erat kaitannya dengan keadaan ekonomi secara keseluruhan. Pada tingkat mikro (rumahtangga/individu). 1987.2 Faktor faktor penyebab KEP Penyakit KEP merupakan penyakit lingkungan. 1986. Oleh karena itu ada beberapa factor yang bersama – sama menjadi penyebab timbulnya penyakit tersebut. 13 .

seperti berat badan yang kurang dibandingkan dengan anak yang sehat.3.3 Gejala Klinis KEP Gejala klinis KEP berbeda – beda tergantung dari derajat dan lamanya deplesi protein dan energi . terutama pada anak – anak yang tidak cukup mendapatkan ASI. maka dengan pendidikan gizi yang baik dan dilakukan terus menerus hal tersebut dapat diatasi 3. Tetapi jika pantangan tersebut berlangsung karena kebiasaan . 14 . maka akan sulit diubah.2. McLaren ( 1982 ) memperkirakan bahwa maramus terdapat dalam jumlah yang banyak jika suatu daerah terlalu padat pendudukanya dengan keadaan hygiene yang buruk. tetapi ada pula yang merupakan tradisi yang turun – menurun. sedangkan kwashiorkor akan terdapat dalam jumlah yang banyak di desa – desa dengan penduduk yang mempunyai kebiasaan untuk member makanan tambahan berupa tepung.2. 1957 ). sebagian besar penderita KEP yang di rawat di bagian ilmu kesehqatan anak menunjukkan gejala kwashiorkor dan kwashiorkor marasmik ( Poey. Adakalannya pantangan tersebut didasarkan pada keagamaan . kepadatan penduduk. Keadaan KEP yang berat memberi gejala yang kadang – kadang berlainan . Pada tahun lima puluhan .2 Peranan factor social Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turun menurun dapat mempengaruhi terjadinya penyakit KEP. keadaan sanitasi.3 Dalam Peranan kepadatan penduduk World Food Conference di roma pada tahun 1974 telah dikemukakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. misalnya di kota – kota dengan kemungkinan pertambahan penduduk yang sangat cepat . di Apa yang dikemukakan McLaren di temukan di Jakarta. tergantung dari dietnya . modifikasi disebabkan oleh adanya kekurangan vitamin dan mineral menyertainnya. umur penderita . fluktuasi musim. 3. Pada KEP – ringan yang ditemukan hanya pertumbuhan yang kurang. Jika pantangan itu didasarkan pada keagamaan. dan sebagainya.

Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari : 1.2 Gejala Klinis Kwashiorkor  Penampilan Penampilannua seperti anak yang gemuk ( suger baby ) bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping kekurangan protein . terhenti dan adakalannya beratnya bahkan menurun 3.1 Gejala Klinis KEP ringan Penyakit KEP ringan sering ditemukan pada anak – anak dari 9 bulan sampai 2 tahun. Maturasi tulang terhambat 5. akan tetapi adakalannya dijumpainya 3. akan tetapi dapat dijumpai pula pada anak – anak yang lebih besar. 15 . maka baik berat maupun tinggi akan terpengaruhi. sedangkan jika kekurangan ini sudah berlanjut lama. asam folik dan vitamin – vitamin lain juga 8. terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi  Gangguan pertunbuhan Pertumbuhan terganggu. walaupun dibagian tubuh lainnya. Kenaikan berat badan berkurang . Pada keadaan akut didapati rasio berat terhadap tinggi yang menurun . begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah berlangsung lama. Pertumbuhan liner mengurang atau terhenti 2. aktivitas dan perhatian mereka berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat 9. Tebal lipat kulit normal atau mengurang Dalam prakteknya indeks yang paling berguna adalah berat dan tinggi badan lebih – lebih jika umurnya diketahui. diet yang mengakibatkan KEP sering – sering tidak mengandung cukup zat besi . hingga rasio berat terhadap tinggi tidak atau hanya sedikit mengalami perubahan 7. berat badan dibawah 80 % dari buku Harvard persentil 50 walaupun terdapat edema.3. Ukuran linkaran lengan atas menurun 4.3.3. anemia ringan . Rasio berat terhadap tinggi normal dan menurun 6. kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan pada KEP ringan .

mikrositik hipokrom. walaupun sebelum menderita penyakit demikian sudah dapat berjalan – jalan . terutama ankylostomiasis. sekitar vulva dan sebagainya. Pada anoreksia yang berat penderita menolak segala macam makanan .  Anemia Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita demikian. Jenis anemia pada kwashiorkor bermacam – macam seperti normositik normokrom . Misalnya tarikan ringan didaerah temporal menghasilkan tercabutnya seberkas rambut tanpa reaksi si penderita.  System gastro – intestinum Gejala saluran pencernaan merupakan gejala penting. pantat. maka dapat dijumpai anemia yang berat.  Perubahan rambut Perubahan rambut sering dijumpai baik mengenai bangunnya maupun warnannya. Hati yang membesar dengan mudah dapat dirabah dan terasa kenyal pada rabahan dengan permukaan yang licin dan pinggir yang tajam. maka terdapat bagian – bagian yang merah dikelilingi oleh batas – batas yang masih hitam.  Pembesaran hati Hati yang membesar merupakan gejala yang sering ditemukan. dan sebagainya. Sangat khas bagi penderita kwashiorkor ialah rambut yang mudah dicabut. makrositik hiperkom. Atrofi otot Atrofi otot selalu ada hingga penderita tampak lemah dan berbaring terus menerus . berpadu menjadi bercak yang lambat – laun menghitam. 16 . seperti di punggung . dan yang terus menerus mendapat tekanan merupakan predeleksi crazy pavement dermatosis. Setelah bercak hitam mengelupas . Bilamana kwashiorkor disertai oleh penyakit lain. Bagian tubuh yang sering membasah dikarenakan keringat atau air kencing. Kadang – kadang batas hati terdapat setinggi pusar. hingga adakalannya makanan hanya dapat diberikan melalui sonde lambung.  Perubahan kulit Kelainan kulit ini dimulai dengan titik – titik merah mempunyai petehia.

bahwa pada penyakit kwashiorkor tubuh tidak dapat beradaptasi terhadap keadaan baru yang disebabkan oleh kekurangan protein maupun energi.  Perubahan mental Anak menangis juga setelah mendapat makan oleh sebab i=masih merasa lapar . kesadaran yang menurun ( apati ) terdapat pada penderita marasmus berat . kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung .3 Marasmus Marasmus dapat terjadi pada segala umur . Edema di beberapa bagian tubuh  Kelainan biokimiawi darah Ada hipotesis yang mengatakan . Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain.  Kelainan pada rambut kepala. penyakit ginjal menahun.dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit serta otot – ototnya.dingin. dan juga pada gangguan saraf pusat. tipis dan mudah rontok.  Penampilan Muka seseorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. seperti infeksi.3.  Kelainan pada kulit tubuh Kulit biasanya kering. 17 . malabsorpsi . Anak terlihat sangat kurus ( vel over been ) karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot – ototnya. adakalannya tampak rambut yang kering. gangguan metabolic. akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan pengganti atau sering diserang diare. 3. Walaupun tidak sering seperti pada penderita kwashiorkor .  Lemak dibawah kulit Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang.

6 Patologi Pada penyakit KEP terdapat perubahan nyata daripada komposisi tumbuhnya. terutama kecerdasan mereka.3.4 Dampak Jangka Panjang KEP Mortalitas KEP-Berat dimana – mana dilaporkan tinggi. kelainan kulit.5 Dampak Penyakit KEP terhadap perkembangan mental Penyelidikan dalam bidang pertubumhan dan fungsi otak pada penderita yang sembuh dari penyakit KEP banyak dilakukan .3. dan protein. 35% diantara mereka meninggal dalam perawatan minggu pertama . 3. Factor lain adalah dampak terhadap tinggi badan akhir bekas penderita penyakit KEP. Makanan sehari – harinya tidak cukup mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. lemak . Factor yang tidak kalah pentingnya untuk diketahui ada tidaknya perubahan – perubahan organic yang permanen seperti pada jantung.3. hati. dan 20% sesudahnya. sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula. 3. Hasil penyelidikan yang dilakukan pada tahun 1955/1956 menunjukkan angka kematian sebanyak 55% . Adakah dampak jangka panjang pada penderita penyakit KEP-Ringan dan sedang ini hingga dapat mengurangi potensi terutama kecerdasan mereka dikemudian hari ? dampak jangka panjang sangat penting untuk diketahui karena penyakit KEP yang diderita pada umur muda mempengaruhi system saraf pusat. seperti endema.. kelainan rambut. 3. dengan akibat jumlah sel otak yang kurang walaupun besarnya 18 . Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan dibawah 60% dari normal memperlihatkan tanda – tanda kwashiorkor . pancreas. winick dan rosso ( 1975 ) berpendapat bahwa KEP yang diderita pada masa dini perkembangan otak akan mengurangi sintesis protein DNA. mineral. terutama protein otot.5 Kwashiorkor Marasmik Penyakit kwashiorkor marasmik memperlihatkan gejala campuran antara penyakit marasmus dan kwashiorkor. Mortalitas yang tinggi didapati pula pada penderita penyakit KEP dinegara – Negara lain. dan sebagainya yang dapat memperpendek umurnya. seperti jumlah dan distribusi cairan .

2.Perbaikan status gizi jangka panjang bergantung kepada pemberian makanan sehari – hari pada anak – anak. Tindakan pencegahan KEP harus dilaksanakan secara nasional dan hal ini memerlukan analisis. Akan tetapi tujuan yang lebih luas dalam pencegahan KEP ialah memperbaiki perutumbuhan fisik dan perkembangan mental anak – anak Indonesia sehingga dapat menghasilkan manusia Indonesia yang dapat bekerja baik dan memiliki kecerdasan yang cukup. pertanian. yaitu : 1. 3. Persediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan tinggi energi untuk anak. bahwa nilai IQ anak – anak yang pernah menderita KEP pada umur muda lebih rendah secara bermakna. Usaha disebut tadi mungkin dapat ditanggulangi oleh petugas kesehatan tanpa menunggu perbaikan status social dan ekonomi golongan yang berkepentingan. Dari studi tersebut ia mengambil kesimpulan bahwa KEP dapat mempengaruhi kecerdasan melalui kerusakan otak.otak itu normal. dan sebagainya. masing – masing untuk mengatasi satu atau lebih dari satu factor dasar penyebab KEP ( Austin 1981) . Perencanaan program intervensi sendiri merupakan prosedur yang kompleks dan memerlukan kerja sama para ahli berbagai disiplin ilmu seperti ahli – ahli dari departemen kesehatan. 3. perhubungan. perencanaan yang luas dan sistematis. Pemeriksaan ulang setelah 10 tahun memberi hasil demikian . supaya persediaan bahan makanan menjadi lebih banyak. yang sekaligus merupakan tambahan penghasilan rakyat. Health Promotion 19 . pendidikan. yang harus mengandung cukup energi maupun zat – zat gizi esensial. Pada tahun 1975 karyadi melaporkan hasil studinya terdapat terhadap 90 anak yang pernah menderita penyakit KEP.anak yang disapih. Ada berbagai macam cara intervensi gizi. perdaganyan.6 Pencegahan KEP Tindakan pencegahan penyakit KEP bertujuan untuk mengurangi insidensi KEP dan menurunkan angka kematian sebagai akibatnya. Studi lanjutan yang dilakukan 5 tahun kemudian menunjukkan deficit pada IQ mereka. Memperbaiki infrastruktur pemasaran. Meningkatkan hasil produksi pertanian.

50106. Akan tetapi tahun 2007 dan 2008 cenderung meningkat yaitu 41290 dan 56941. terdapat empat provinsi yaitu Jawa Tengah. dan 39080.4%. menduduki posisi teratas sedangkan tahun 2006 dan 2009 masing-masing ditempati Jawa Tengah dan Jawa Timur.6%.0%. Prevalensi status gizi balita < -2 SD berdasarkan indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) di Provinsi Bali sebesar 11. Menurut hasil pemantauan Direktorat Bina Gizi Masyarakat. sedangkan DIY sebesar 10. Peningkatan kesejahteraan rakyat c. Tahun 2005-2007 jumlah kasus cenderung menurun dari 76178.7 Seberapa serius Masalah KEP di Indonesia KEP merupakan permasalahan yang cukup bahkan sangat serius bagi beberapa wilayah di Indonesia yaitu di Yogyakarta dan Bali. di Bali ditemukan 49 kasus dan di Yogyakarta 27 kasus. selama tahun 2005 sampai dengan 2009. Yang menarik. Kementerian Kesehatan. Pendidikan gizi Health education 7. 2007 dan 2008. dan angka tertinggi di Provinsi NTT sebesar 33. Provinsi NTT pada tahun 2005. Pemberian makanan koplementer 6. jumlah temuan kasus balita gizi buruk amat berfluktuasi. yang mempunyai angka prevalensi masalah gizi balita terendah (Riskesdas 2007). Tahun 2009.4. Pemerataan pendapatan yang lebih baik. Peningkatan kapasitas kerja manusia b. Jawa Timur. Bandingkan dengan angka Nasional sebesar 18. Subsidi harga bahan makanan. Intervensi Gizi tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan : a. 5. Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo yang selalu hadir berturut-turut dari 2005-2009. 20 .4%. Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan Intervensi gizi yang berhasil dapat mengurangi jumlah penderita malnutrisi sehingga merupakan sumbangan yang positif dalam proses perkembangan Negara. 3.

2011). Kondisi ini sebaiknya menjadi bahan pertimbangan untuk menempatkan keempat provinsi tersebut sebagai prioritas utama upaya penanggulangan gizi buruk.go. 21 .7% (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Data dasar kegiatan TGP (Tenaga Gizi Pendamping) tahun 2006 menunjukkan bahwa balita yang menderita gizi kurang sebanyak 18. Hasil Survei Gizi Mikro tingkat Sulawesi Selatan Tahun 2011 menunjukkan balita yang menderita gizi kurang 24.5% dan gizi kurang 22. yaitu gizi buruk 12. Jumlah balita yang menderita KEP di Kecamatan Mangarabombang Takalar tahun 2006 mencapai 33.4% dan gizi buruk 9. 2006.8% dan gizi buruk 9.6% (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. 1 Masalah KEP di Sulawesi Selatan masih menjadi masalah gizi utama yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius.7%.2 1 Gizi.Depkes.Keempat provinsi tersebut selama 5 tahun berturut-turut (2005-2009) masuk ke dalam kategori 10 provinsi dengan kasus tertinggi.id 2 Dinas kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.2% . Berikut gambaran perkembangan jumlah kasus di empat provinsi. 2006).

Tanda-tanda anak yang mengalami Kwashiorkor adalah badan gemuk berisi cairan. KEP umumnya diderita oleh balita dengan gejala hepatomegali (hati membesar). Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein. Menurut perkiraan Reutlinger dan Hydn. KEP disebabkan karena defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). dan Marasmic Kwashiorkor.5 milyar orang kekurangan protein sehingga tidak dapat melakukan aktivitas minimal dan pada anak-anak tidak dapat menunjang terjadinya proses pertumbuhan badan secara normal.1 Kesimpulan KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient. Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan Kwashiorkor. Pada orang dewasa. Tanda-tanda anak yang mengalami Marasmus adalah badan kurus kering. saat ini terdapat ± 1 milyar penduduk dunia yang kekurangan energi sehingga tidak mampu melakukan aktivitas fisik dengan baik. 22 . Disamping itu masih ada ± 0.BAB IV Penutup 4. KEP timbul pada anggota keluarga rumahtangga miskin olek karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk berat dari KEP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau HO (Honger Oedeem). namun beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP. rambut rontok dan flek hitam pada kulit. Marasmus disebabkan karena kurang energi dan Manismic Kwashiorkor disebabkan karena kurang energi dan protein. Marasmus. Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. depigmentasi kulit. rambut jagung dan muka bulan (moon face).

23 . masalah social. budaya. 2.agar terhindar dari penyakit Kekurangan Energi Protein. 4.2 Saran 1. Usia yang rentan adalah usia 6-17 bulan dan 6-23 bulan . Akar permasalahan terjadinya gizi kurang adalah kemiskinan. Bagi Mahasiswa Sangat disarankan untuk mempelajari menegnai permasalahan gizi ini sebagai generasi penerus yang akan membantu menuntaskan berbagai masalah. sehingga upaya mengatasi masalah gizi kurang tidak terlepas dari upaya pengentasan kemiskinan sehingga aspek peningkatan pendapatan memberi respon yang baik terhadap perubahan konsumsi pangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kecukupan. ekonomi.Dari data yang ada yang dibahas sebelumnya jelas terlihat bahwa masalah gizi mempunyai dimensi yang luas karena menyangkut hal multidisiplin yang berhubungan dan saling mempengaruhi seperti masalah kesehatan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami apa itu gizi dan kebutuhanya bagi tubuh .

Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Santoso.online Medicalwiki Encyclopedia 24 . 2009 ) Internet Https:// Gizi.Daftar Pusataka Buku Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas kesehatan Masayarakat Universitas Indonesia.Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Prinsip dasar Ilmu Gizi.. 1999) Almatsier.Dr.(Jakarta : PT.2008) Pudjiadi. Dr. (Jakarta: Balai penerbit FKUI 2003).go.edu/5351518/Masalah Http://library.usu. Prof. Depkes.Id Http://wikimed.blogbeken.com/kurang-energi-protein Https://www.ac.Soegeng. Solihin.Raja Grafindo Persada. Kesehatan Dan Gizi. (Jakarta : PT Rineka Cipta. ( Jakarta :PT Gramedia Pustaka Utama.id Http://www.academia. Sunita.

LAMPIRAN 25 .