You are on page 1of 43

asuhan keperawatan

Menyajikan Informasi Seputar Ilmu Keperawatan dan Asuhan Keperawatan

Selasa, 04 September 2012
Laporan PendahuluanASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
THYPUS ABDOMINALIS
Laporan Pendahuluan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN THYPUS ABDOMINALIS

A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Penyakit infeksi akut pada saluran cerna (usus halus) denagn gejala demam > 1 minggu,
gangguan saluran cera dan gangguan kesadaran.
2. Penyebab
Basil/kuman salmonella Typhosa, Salmonela paratyphosa.
3. Patofisiologi

Infeksi

Usus halus
Pembuluh limfe

Peredaran darah
Zat pirogen

Organ – organ (hati, limpha)

Hypertermia
(panas meningkat)
Berkembang biak

Peredaran darah/bakterimia

Lidah kotor

Ggn pemenuhan nutrisi

Kelenjar limphoid usus halus

Diare

(tukak pd mukosa usus/plak)

Bibir kering
Mual/muntah

Ggn kebutuhan cairan
Bedrest

Perdarahan (perforasi peritonitis)

Ggn ADL
Kelemahan

Sumber: Depkes RI, 1993
4. Tanda dan gejala

a. Minggu I : infeksi akut (demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, mual, diare)
b. Minggu II : Gejala lebih jelas (demam, bradikardia relatif, lidah kotor, nafsu makan
menurun, hepatomegali, ggn kesadaran).
5. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan leukosit
b. Pemeriksaan SGPT/SGOT

c. Biakan darah
d. Widal
6.
a.
b.
c.

Komplikasi
Perdarahan usus
Perforasi usus
Ileus paralitik

7.
a.
b.
c.

Penatalaksanaan
Perawatan  bedrest
Diet (pemberian makanan padat dini dengan lauk pauk rendah selulosa).
Obat/terapi

B.
1.
a.
1)
2)
b.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
c.
1)
2)

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Data Subyektif
Pasien mengeluh mual muntah, kepala pusing, badan lemas, nafsu makan berkurang.
Pasien mengeluh ngilu, nyeri otot.
Data Obyektif
Lidah kotor, BB menurun, porsi makan tidak habis, ggn sensasi pengecapan.
Gelisah, terdapat penurunan kesadaran, delirium.
Immobilisasi.
Pembesaran hepar (hepatomegali).
Diare, kadang disertai konstipasi.
S: hypertermia (> 37,50C), bradikardia relatif.
Pemeriksaan penunjang
Peningaktan titer uji widal 4x selama 2-3 minggu  demam typhoid.
Reaksi widal dengan titer 0  1: 320, reaksi widal dengan titer H  1: 640

2. Diagnosa Keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
b. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehlangan cairan berlebihan melalui
muntah dan diare.
c. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang
tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
d. Gan pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
3. Rencana Tindakan/Rasional
a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.

1.

Intervensi

Mandiri:
1) Observasi suhu, N, TD, RR tiap 2-3
jam

2) Catat intake dan output cairan dlm 24
jam
3) Kaji sejauhmana pengetahuan

Rasional
Sebagai pengawasan terhadap adanya
perubahan keadaan umum pasien sehingga
dapat diakukan penanganan dan perawatan
secara cepat dan tepat.
Mengetahui keseimbangan cairan dalam tubuh
pasien untuk membuat perencanaan kebutuhan
cairan yang masuk.
Mengetahui kebutuhan infomasi dari pasien dan
keluarga mengenai perawatan pasien dengan

keluarga dan pasien tentang
hypertermia
4) Jelaskan upaya – upaya untuk
mengatasi hypertermia dan bantu
klien/keluarga dlm upaya tersebut:
Tirah baring dan kurangi aktifitas
Banyak minum
Beri kompres hangat
Pakaian tipis dan menyerap keringat
Ganti pakaian, seprei bila basah
Lingkungan tenang, sirkulasi cukup.
5) Anjurkan klien/klg untuk melaporkan
bila tubuh terasa panas dan keluhan
lain.

hypertemia.
Upaya – upaya tersebut dapat membantu
menurunkan suhu tubuh pasien serta
meningkatkan kenyamanan pasien.

Kolaborasi:
6) Kolaborasi pengobatan: antipiretik,
cairan dan pemeriksaan kultur darah.

Penanganan perawatan dan pengobatan
yang tepat diperlukan untuk megurangi
keluhan dan gejala penyakit pasien sehingga
kebutuhan pasien akan kenyamanan
terpenuhi.
Antipiretik dan pemberian cairan menurunkan
suhu tubuh pasien serta pemeirksaan kultur
darah membantu penegakan diagnosis
typhoid.

b. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan berlebihan melalui
muntah dan diare.

2.

Intervensi

Mandiri:
1) Awasi masukan dan keluaran,
bandingkan dengan BB harian. Catat
kehilangan melalui usus, contoh
muntah dan diare.
2) Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian
kapiler, turgor kulit dan membran
mukosa.
Kolaborasi:
3) Awasi nilai laboratorium: HB, HT, Na
albumin.
4) Berikan cairan II seperti glukosa dan
Ringer laktat.

Rasional
Memberikan informasi tentang kebutuhan
cairan/elektrolit yang hilang.

Indikator volume sirkulasi/perfusi.

Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi
retensi natrium/kadar protein akibat muntah
dan diare berlebihan.
Memberikan cairan dan penggantian
elektrolit.

c. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang
tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.

3.

Intervensi

Mandiri:
1) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori.
Berikan porsi kecil tapi sering dan

Rasional
Makan banyak sulit untuk mengatur bila
pasien anoreksi, anoreksi juga paling buruk

Berikan lingkungan tenang. bimbingan imajinasi.2) 3) 4) 5) 6) awarkan makan pagi dengan porsi paling besar. Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Ggn pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan. membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari. Aktifitas dan posisi duduk tegak diyakini meurunkan aliran darah ke kaki. vitamin B kompleks. 1) Intervensi Mandiri: Tingkatkan tirah baring/duduk. antiemetik. contoh: relaksasi progresif. Rasional Meningkatkan istirahat dan ketenangan. batasi pengunjung sesuai keperluan. memerlukan istirahat lanjut dan memerlukan penggantian program terapi. Berikan aktifitas hiburan yang tepat contoh: menonton TV. minuman karbonat dan permen sepanjang hari. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat. Antasida bekerja pada asam gaster dapat menurunkan iritasi/resiko perdarahan. immobilisasi. bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif. Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit. Berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan klien. Dorong pemasukan sari jeruk. visualisasi. membaca. Berikan perawatan kulit yang baik. memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping. Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi. Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi pada klien dengan anoreksi. selama siang hari. Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan. . radio. Memungkinkan perode tambahan istirahat tanpa gangguan. Awasi terulangnya anoreksia. Anjurkan makan dlm posisi duduk tegak. Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan. Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Vitamin B kompleks memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan. Kolaborasi: Konsul ahli diet. yang mencegah sirkulasi optimal ke organ pencernaan. 3) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi. Awasi glukosa darah. Menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan. dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien. Berikan perawatan mulut sebelum makan. Antiemetik diberikan ½ jam sebelum makan dapat menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan. 4. Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi. d. 7) Berikan obat sesuai indikasi: antasida. 4) 5) 6) Dorong penggunaan teknik manajemen stres. Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna/ditoleran bila makanan lain tidak. 2) Ubah posisi dengan sering.

Hall ( 1997). Hudak. Arthur C. Hausman ( 1995). B. Jakarta 2. Jakarta . Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis edisi 6. Kathy A. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI (1993). Mary Frances Moorhouse. Gallo (1996). Medical Surgical Nursing: Pocket Companoin For 2 nd Edition. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga Cetakan II. Pedekatan Holistik Volume II. Saunders Company. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lynda Juall Carpenito (2000). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Igatavicius. Jakarta 6. Jakarta 3. Barbara M. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Doengoes. W. Depkes RI. Jakarta 5. Peneribit Buku Kedokteran EGC. Alice C. Marylin E. Carolyn M. Donna D. Philadelphia 4.Daftar Pustaka 1. Guyton and John E. Geissler (2000). Keperawatan Kritis.

Identitas Nama : Tn. penurunan BB (-). Edy Santoso Tgl MRS : 13-1-2002 Umur : 51 tahun Register : 660906 Jenis kelamin : Laki . akhirnya klien dirujuk ke IRD RSUD Dr. Nyeri kepala dirasakan juga oleh klien apabila badan panas sehingga klien mengalami kesulitan istirahat.laki Diagnose :Thyphoid Abdominalis Suku Bangsa : Jawa Agama : Kristen Pekerjaan : Sopir Pendidikan : SLTP Alamat : Semolowaru. RSUD DR. Soetomo Surabaya. Surabaya Alasan di rawat : Panas badan sejak 10 hari yll. Sebelum dibawa ke RSUD Dr. sering haus (-).ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN: TYPHOID ABDOMINALIS DI RUANG TROPIK LAKI. Soetomo pada tanggal 13 januari 2002 atas permintaan klien. Edy Santoso dan keluarga. klien sempat periksa di RS Adi Husada dan dinyatakan positif mengidap Typhoid dan disarankan untuk opname.00 WIB terhadap klien Tn. BAK taa normal. Keluhan utama : Panas badan sejak 10 hari yll disertai mual muntah dan nyeri kepala. Sejak 5 hari terakhir. Riwayat keluar Jawa dalam 6 tahun terakhir (-). feces merongkol padat berwarna cokelat. . Sebelumnya : Klien mengeluh badan panas sejak 10 hari yang lalu. BAB dirasakan sulit. 1. SOETOMO SURABAYA TANGGAL 14 – 17 JANUARI 2002 A. PENGKAJIAN Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2002 pukul 09. Sering kencing (-). nafsu makan menurun. disertai mual dan muntah lebih kurang 50 cc setiap kali muntah.

4 Keadaan kesehatan lingkungan: Menurut keluarga. RR: 20 x/mnt. 2. mual muntah (-). 2. 2. Edy santoso 2. Observasi dan Pemeriksaan Fisik 1. panas badan mulai menurun. DM (-). Tanda vital : T: 110/70 mmHg. Therapi/operasi yang pernah dilakukan : -II Riwayat Keperawatan 2.1 Pernafasan Hidung : taa Trachea : taa Dada : . S: 38 C. lingkungan rumah dalam keadaan bersih dan istri Tn Edy Santoso adalah ibu rumah tangga. N: 88 x/mnt.1 Riwayat penyakit sebelumnya: Typhoid (-). Keadaan umum : Kesadaran Compos mentis.5 Riwayat kesehatan lainnya : Keluarga riwayat HT (-).Bentuk : simetris . Batuk : taa Sputum : taa Cyanosis : taa .2 Riwayat penyakit sekarang : Sejak kemarin (13 – 1 – 2002). nyeri kepala (+). nafsu makan membaik.3 Riwayat kesehatan keluarga : Di dalam keluarga belum ada yang menderita penyakit typhoid sebelumnya. DM (-). HT (-).6 Alat bantu yang dipakai Gigi palsu : taa Kaca mata : taa Pendengaran : taa Lain-lain : taa III.Gerakan : simetris Suara nafas dan lokasi : teratur. Body System 3.Upaya yang telah dilakukan : Periksa kesehatan sekaligus periksa laboratorium di RS Adi Husada Surabaya pada tanggal 13 Januari 2002. 0 2. Genogram: Keterangan: = laki-laki = perempuan = tinggal satu rumah = meninggal = klien Tn. 2. sehingga punya waktu cukup untuk menjaga kebersihan rumah. 3. E4 V5 M6. suara nafas tambahan (-) Jenis nafas : nafas hidung.

Kram kaki : taa Sakit kepala : taa Palpitasi : taa Clubing finger : taa Suara jantung : SR.2 Kardiovaskuler Nyeri dada :taa Pusing :(+).Warna kulit : putih kekuningan .Atas : terpasang infus.Eliminasi Alvi Mulut : lidah putih kotor. nyeri tekan(-). bila berdiri terasa sempoyongan.Frekwensi nafas : 20 x/mnt 3. sulit menelan (-) Tenggorokan : taa Abdomen : taa. peristaltik usus baik Obat pencahar : taa Lavement :taa Lain-lain :taa 3.3 Persarafan Kesadaran : CM GCS : E4 V5 M6 Kepala dan wajah : Mata : taa Sklera : putih Konjunctiva : merah muda Pupil : isokor Leher : taa Reflek fisiologis : normal Reflek patologis : taa Pendengaran : normal Penciuman : normal Pengecapan : normal.Turgor : baik 5 .Tulang belakang: taa Kulit: .4 Perkemihan –Eliminasi Urine Produksi urine : lk 600-88 cc/hari ( 7-8 x/hari) Warna urine : kuning jernih Gangguan saat kencing : taa Lainnya : taa 3.Bawah : taa . teratur Edema : taa Kapilari refill : dbn ( 2 dtk) Lainnya :taa 3. mal muntah (-) Rectum : taa Bab : mulas (-). .Akral : hangat . pergerakan normal.5 Pencernaan . perubahan sensasi pengecapan (-) Penglihatan : taa Perabaan : taa Lainnya : taa 3.6 Tulang – Otot – Integumen Kemampuan pergerakan sendi: normal 5 5 5 Extremitas : .

supaya pelanggan tetap lancar. Dukungan kelompok/teman/masyarakat: aktif Reaksi saat interaksi: kooperatif. pusing bila berdiri hipotensi) (postural 3.11 Spiritual: Konsep tentang penguasa kehidupan: Allah Sumber kekuatan/harapan saat sakit: Allah Ritual agama yg berarti/diharapkan saat ini: Membaca kitab suci.3.0 Psikososial Konsep diri: Citra diri: Tanggapan tentang tubuh: biasa saja Bagian tubuh yang disukai: tidak ada Bagian tubuh yang tidak disukai: tidak ada. = Posisi (dlm pekerjaan): taa. sebutkan:taa Peran: tanggapan klien thd perannya: senang Kemampuan/kesanggupan klien melaksanakan perannya: sanggup Kepuasan klien melaksanakan perannya: puas Ideal diri/harapan: harapan klien thd: = Tubuh: cepat sembuh sehingga dapat cepat bekerja seperti semula. = Status dlm keluarga: taa = Tugas/pekerjaan: taa Harapan klien thd lingkungan: taa Harapan klien thd penyakit yg diderita: ingin cepat sembuh dan segera pulang ke rumah. Lainnya.7 Sistem Endokrin Terapi hormon : (-) Karakteristik seks sekunder: normal Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik: merasa lemah. Harga diri: Tanggapan klien thd harga dirinya: tinggi.9 Reproduksi Laki – laki: normal Perempuan: -- - 4. sebutkan: taa Sosial/interaksi: Hubungan dengan klien: masyarakat cukup kenal dengan klien. sebutkan: taa Identitas: Status klien dalam keluarga: kepala rumah tangga Kepuasan klien thd status dan posisi dlm keluarga: puas Kepuasan klie thd jenis kelamin: puas Lainnya. Konflik yang terjadi terhadap: taa - 3. semua sama Persepsi thd kehilangan bagian tubuh: taa Lainnya. Dukungan keluarga: aktif.8 Sistem Hematopoietik Diagnosis penyakit hematopoietik yang lalu: taa Type darah: O 3. - - .

0 O: S: 38 C. titer H: 1/640. Pemeriksaan penunjang: tanggal 13 Januari 2002: DL. Kelemahan fisik dan immobilisasi. S: Klien banyak bertanya tentang pengobatan dan perawatan penyakitnya. berpakaian klien dibantu oleh keluarga dan petugas. makan minum.- Sarana/peralatan/orang yg diperlukan dlm melaksanakan ritual agama yg diharapkan saat ini: Lewat ibadah. pusing  gangguan pemenuhan ADL. lidah putih kotor. O: Klien bertanya kepada mahasiswa dan petugas. 9 Hasil: Leukosit : 11. sedimen urine. titer O: 1/640.4 x 10 /L n: 4-11 9 Trombo: 385 x 10 /L n: 150-350 S thypi O: 1/640 S thypi H: 1/640 Eritrosit: 0-1/ 1 Lp. Kurang informasi  klien kurang dapat mengenal penyakit dan perawatannya  defisit knowledge  kurang kooperatif dalam mengikuti regimen terapeutik dan perawatan  menghambat proses penyembuhan. TD: 110/70 mmHg. O: klien bedrest. bedrest. Kurang informasi tentang regimen teraupetik. Metoclopramid inj (PRN: b/p). Kelemahan fisik/immobilisasi  penurunan permeabilitas pembuluh darah  sirkulasi darah ke otak menurun  lemah. eliminasi. Patofisiologi Masalah . S. N: 88 x/mnt. Peningkatan suhu tubuh (hypertermi). serologi/imunokimia. S: 38 C. Klien mengatakan belum mengetahui bagaimana proses penularan penyakitnya. Upaya kesehatan yang bertentangan dgn keyakinan agama: taa Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dlm menghadapi situasi sakit saat ini: ya Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan: ya Persepsi thd penyebab penyakit: karena makan tidak teratur dan terlalu lelah. perawatan dan poses penyakit. Analisa data: Data Etiologi S: Klien mengeluh pusing. Thypi. titer H: 1/640. pusing saat berdiri. diet rendah serat. Chlorampenicol 4x500 mg. Thypi  melepas endotoksin  ikut peredaran darah sistemik  merangsang termoregulator  peningkatan suhu tubuh. N: 88 x/mnt. TD: 110/70 0 mmHg. kebutuhan mandi. Proses infeksi S. Paracetamol 3x500 mg. sulit istirahat. Px lab: titer O: 1/640. Gangguan pemenuhan ADL. badan terasa panas. Defisit knowledge. sel epitel: (+). 5. leukosit: 1-3/1 Lp. Terapi: IVFD D5%: RL: 1:1. S: Klien mengeluh badan terasa lemah.

immobilisasi. 0 Tujuan jangka panjang: Suhu tubuh normal. 0 O: S: 38 C. Kolaborasi: 7) Kolaborasi pengobatan: antipiretik Penanganan perawatan dan pengobatan yang tepat diperlukan untuk megurangi keluhan dan gejala penyakit pasien sehingga kebutuhan pasien akan kenyamanan terpenuhi. dlm 24 jam Mengetahui keseimbangan cairan dalam tubuh pasien untuk membuat perencanaan kebutuhan cairan yang masuk. 36 – 37 C. O: Klien bertanya kepada mahasiswa dan petugas. 6) Anjurkan klien/klg untuk melaporkan bila tubuh terasa panas dan keluhan lain. N: 88 x/mnt. Thypi dapat berhenti. Peningkatan suhu tubuh b/d proses infeksi S. Thypi. sirkulasi cukup. titer H: 1/640. klien nyaman. klien/keluarga dlm upaya tersebut: Tirah baring dan kurangi aktifitas Banyak minum Beri kompres hangat Pakaian tipis dan menyerap keringat Ganti pakaian. TD: 110/70 mmHg. TD: 110/70 mmHg. TD: 110/70 mmHg. lidah putih kotor. kebutuhan mandi. 0 O: klien bedrest. banyak minum (2-3 lt/hr) apabila klien panas. titer H: 1/640. 2. RR tiap 4 Sebagai pengawasan terhadap adanya perubahan jam keadaan umum pasien sehingga dapat diakukan 2) Catat intake dan output cairan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat. makan minum. N: 88 x/mnt. setelah diberikan asuhan keperawatan selama 7 hari maka proses infeksi S. eliminasi. Data penunjang: S: Klien mengeluh pusing. Data penunjang: S: Klien mengeluh badan terasa lemah. 0 O: S: 38 C. keluarga dan pasien tentang Upaya – upaya tersebut dapat membantu hypertermia menurunkan suhu tubuh pasien serta meningkatkan 4) Jelaskan upaya – upaya untuk mengatasi hypertermia dan bantu kenyamanan pasien. istirahat tidur tercukupi 6-8 jam/hari. badan terasa panas. 0 Kriteria hasil: S: 36-37 C. Intervensi Rasional Mandiri: 1) Observasi suhu. 3. Px lab: titer O: 1/640. N: 88 x/mnt. seprei bila basah Lingkungan tenang. Gangguan pemenuhan ADL b/d kelemahan fisik. Klien mengatakan belum mengetahui bagaimana proses penularan penyakitnya. Tujuan jangka pendek: Klien dapat mengontrol suhu tubuh secara mandiri. sulit istirahat. Peningkatan suhu tubuh b/d proses infeksi S. pusing saat berdiri. lidah putih kotor. Data penunjang: S: Klien mengeluh pusing. Px lab: titer O: 1/640. titer H: 1/640. Rencana Tindakan Keperawatan: 1. Mempercepat penurunan suhu tubuh. Thypi.Diagnosa Keperawatan Berdasarkan prioritas: 1. Mengetahui kebutuhan infomasi dari pasien dan keluarga 3) Kaji sejauhmana pengetahuan mengenai perawatan pasien dengan hypertemia. Defisit knowledge b/d kurang informasi tentang regimen teraupetik. badan terasa panas. sulit istirahat. TD. titer O: 1/640. perawatan dan poses penyakit. S: 38 C. N. berpakaian klien dibantu oleh keluarga dan petugas. N: 60-70 x/mnt. Data penunjang: S: Klien banyak bertanya tentang pengobatan dan perawatan penyakitnya. 5) Beri kompres hangat. .

mobilisasi aktif. Data penunjang: S: Klien mengeluh badan terasa lemah. memerlukan penggantian program terapi. Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan. TD: 110/70 mmHg. contoh: relaksasi progresif. makan minum. Berikan lingkungan tenang. Intervensi Rasional Mandiri: 1) Bantu pemenuhan kebutuhan Membantu memenuhi kebutuhan ADL klien sehingga ADL klien seperti makan. perawatan dan poses penyakit. manajemen stres. diyakini meurunkan aliran darah ke kaki. Klien mengatakan belum mengetahui bagaimana proses penularan penyakitnya. Berikan aktifitas hiburan yang tepat contoh: menonton tv. 2) Tingkatkan tirah baring/duduk. bantu melakukan mengganggu periode istirahat. visualisasi. 5) Tingkatkan aktifitas sesuai Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang toleransi. titer O: 1/640. bimbingan imajinasi. Tujuan jangka pendek: Kebutuhan ADL klien terpenuhi. radio. titer H: 1/640. Kriteria hasil: lemah (-). Meningkatkan istirahat dan ketenangan.(paracetamol 3x500 mg). . kebutuhan mandi. baik. 3. N: 60-70 x/mnt. TD: 120/80 mmHg. batasi Menyediakan energi yang digunakan untuk pengunjung sesuai keperluan. S: 38 C. cairan (Dextrose 5% dan Ringer Laktat maintenance 20 tts/mnt) dan pemeriksaan kultur darah (gaal darah). 0 O: klien bedrest. terpenuhi. klien merasa nyaman dan kebutuhan perawatannya berpakaian. gangguan. eliminasi. yang Berikan perawatan kulit yang mencegah sirkulasi optimal ke organ pencernaan. Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi. membaca. Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. latihan rentang gerak sendi pasif/aktif. 4) Lakukan tugas dengan cepat Memungkinkan perode tambahan istirahat tanpa dan sesuai toleransi. eliminasi. immobilisasi. pusing saat berdiri. mandi. pusing (-). Gangguan pemenuhan ADL b/d kelemahan fisik. ADL terpenuhi secara mandiri. memerlukan istirahat lanjut dan 7) Awasi terulangnya anoreksia. penyembuhan. Tujuan jangka penjang: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 7 hari. 2. berpakaian klien dibantu oleh keluarga dan petugas. Aktifitas dan posisi duduk tegak 3) Ubah posisi dengan sering. Data penunjang: S: Klien banyak bertanya tentang pengobatan dan perawatan penyakitnya. Defisit knowledge b/d kurang informasi tentang regimen teraupetik. Antipiretik dan pemberian cairan menurunkan suhu tubuh pasien serta pemeirksaan kultur darah membantu penegakan diagnosis typhoid. N: 88 x/mnt. memusatkan kembali perhatian dan dapat 6) Dorong penggunaan teknik meningkatkan koping. Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit. klien dapat memenuhi kebutuhan ADL secara mandiri.

kooperatif dalam perawatan dan pengobatan yang Immobilisasi. jawaban yang tepat. Intervensi Rasional Mandiri: 1) kaji tingkat pengetahuan klien dan Mengetahui tingkat pengetahuan kleind an keluarga keluarga tentang: adalah masukan bagi petugas dalam menentukan Proses penyakit. td: 110/70 mmhg. . 2) Diskusikan dengan klien dan Klien dan keluarga harus mengetahui perawatan keluarga tentang: serta pengobatan penyakit klien sehingga klien Diet yang harus ditepati.  Mengukur vital sign. perawatan klien dan beri kesempatan keluarga untuk Meningkatkan harga diri dan rasa mandiri klein dan melakukan perawatan secara keluarga salah satunya adalah dengan cara mandiri. melibatkan klien dan kelaurga secara aktif dalam 5) Berikan pujian atas tindakan dan perawatan dan pengobatan kepada klien. Tujuan jangka pendek: Kebutuhan klien akan pengetahuan tentang penyakitnya terpenuhi.O: Klien bertanya kepada mahasiswa dan petugas. mahasiswa. diberikan.  S: 380c.00 dan keluarga. Kebutuhan cairan yang harus dipenuhi.  Mengatur tetesan infus. 35 tts/mnt. 08. pengobatan dan Memberikan kesempatan klien dan kleuarga perawatan yang diberikan. Membantu meningkatkan harga diri klien dan keluarga serta menumbuhkan rasa percaya pada petugas. kebutuhan informasi yang diperlukan oleh klien dan Pengobatan keluarga. kepada mahasiswa. rr: 20 x/mnt. 3) Beri kesempatan klien dan keluarga bertanya mengenai penyakit. klien memahami proses penyakit serta regimen terapeutik. Tujuan jangka panjang: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x15 menit. Perawatan Typhoid. Keteraturan minum obat.30 1  Infus netes lancar. Pentingnya mengontrol jumlah cairan yang masuk dan keluar.  Klien kooperatif. n: 88 x/mnt. 1 08. klien mau mengikuti petunjuk yang diberikan.45 1 1  Memberi kompres hangat  Mengganti pakaian klien dengan Klien dan keluarga tampak tertarik dan banyak bertanya pakaian yang lebih tipis. 08. pengobatan dan perawatan terhadap penyakitnya sehingga klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri. Implementasi Keperawatan: Implementasi keperawatan terhadap intervensi yang dibuat dilaksanakan mulai tanggal 14 – 16 Januari 2002. menanyakan hal – hal yang belum dipahami dalam 4) Libatkan keluarga dalam diskusi yang terbuka dengan petugas.  Klien dan keluarga mau kehadiran  Mengadakan kontrak kerja dengan menerima klien dan keluarga. Kriteria hasil: Klien tenang.  Klien merasa nyaman. kooperatif. Tanggal/jam No Dx.Kep Implementasi Evaluasi 14-1-2002  Memperkenalkan diri kepada klien Klien dan keluarga kooperatif.

muntah (-).2 12. rr: 20 x/mnt.  Memberikan bahan bacaan kepada  klien (koran). 08. Klien tenang. diet yang teratur.30 1 15-1-2002 08.00 1  Mengukur vital sign. jika berdiri terasa sempoyongan. Memberikan penjelasan tentang: Pentingnya mobilisasi aktif di tt. 6 jam).  Memberikan obat oral: .  .  Cm: 700 cc.30 1. Memberikan obat oral: mual muntah (-).   Mendampingi klien makan siang.11.30 1.30 1 13. mual (-). Membatasi pengunjung. Mencatat intake dan output. ck: 400 cc.Chlorampenicol 2 caps. Mefenamic acid 1tab. mual (-).00 2 13. n: 76 x/mnt. .  Klien istirahat. dan pemeriksaan gaal cultur. Cm: 600 cc.00 12. Perawatan yang harus dilakukan oleh klien.2. Perlunya minum banyak.  - Makan habis 1 porsi.2. klien mengeluh kepala terasa pusing.00 1.  Obat oral sudah diminum.  Menyiapkan makan siang klien.3 1 1  Memberikan penjelasan tentang: Proses penyakit dan penularannya.Paracetamol 1 tab. Pentingnya immobilisasi.00 1. td: 110/80 mmhg. Obat oral sudah diminum. Kolaborasi dokter:  Dokter acc pemberian analgetik Pemberian analgetik.  Klien menagtakan paham dengan penjelasan yang diberikan dan berjanji akan melaksanakan.2  10.  Makan siang habis 1 porsi.  Mencatat intake dan output klien. 12. muntah (-).00 1 1      S: 370c. minum 200 cc. Mendampingi klien makan siang.  Klien mengatakan dapat istirahat dengan baik (lk. cm: 400 cc. Chlorampenicol 2 caps. pusing (+). minum obat secara teratur. Perlunya minum banyak. Mengkaji istirahat klien.3   - 10. Pemeriksaan gaal cultur.

2 16-1-2002 07. Resume keperawatan. .00 3 -   Ruangan klien bersih. Diet serta kebutuhan cairan yang ajuran yang diberikan oleh mahasiswa.  Obat oral sudah diminum.  Mempersiapkan klien pulang: Administrasi pulang.  Administrasi dan resume  Memberikan advis kepada klien keperawatan lengkap.  Mendampingi klien makan pagi.00 2 12.2 10. pusing  Mengkaji pemahaman klien berkurang.  Klien mengatakan dapat istirahat lk.00 1 10. - 11.  Klien berjanji akan menepati Keteraturan minum obat. memadai. rr: 16 x/mnt.2.Mefenamic acid 1 tab. yang telah dijelaskan.30 1 09. mual muntah (-). S: 36.30 08.00 1 1 08.3  Membersihkan ruangan klien  Mengukur vital sign. Pembatasan aktifitas sementara.40c.  Makan pagi habis 1 porsi.00 1. td: 120/80 mmhg.  Memberikan obat oral: . 7 jam.13. tentang: Keteraturan kontrol.30 1. n: 76 x/mnt.00 13. .Chlorampenicol 2 caps.  Mengkaji keadaan istirahat klien. Perawatan yang harus dilakukan di rumah.  Klien mengatakan paham tentang: penjelasan yang Proses penyakit dan penularan dengan diberikan.00 1.

s: 36. klien dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri (makan. Defisit knowledge b/d kurang S: klien mengatakan mengerti dengan penjelasan petugas dan informasi tentang regimen mahasiswa.40c. Gangguan pemenuhan ADL b/d kelemahan fisik. N: 88 x/mnt. Px lab: titer O: 1/640. Diposkan oleh haeril anwar di 11. pusing saat berdiri. A: masalah teratasi. Data penunjang: S: Klien mengeluh pusing. Klien mengatakan belum mengetahui bagaimana proses penularan penyakitnya. rr: 16 x/mnt. 10. pengobatan dan perawatan P: -- penyakitnya. titer H: 1/640. lidah tidak kotor. banyak bertanya tentang A: masalah teratasi. klien berjanji akan mentaati semua petunjuk yang teraupetik. lidah putih kotor.00 WIB. O: klien tenang. TD: 0 110/70 mmHg. rr: 16 x/mnt.08. sulit istirahat. Thypi. O: klien bedrest. pusing (-). immobilisasi. Data penunjang: S: Klien mengeluh badan terasa lemah. Evaluasi S: klien mengatakan badan terasa nyaman (+).00 WIB.10. 16 Januari 2002. pk. N: 88 x/mnt. penyakit. 1. A: masalah teratasi. perawatan dan poses diberikan di rumah. 7 jam). klien mau mentaati petunjuk yang Data penunjang: S: Klien diberikan. P: -- S: klien mengatakan badan terasa nyaman. badan terasa panas. nafsu makan baik.Evaluasi Keperawatan: Diagnosa Keperawatan Tgl.40c. kooperatif. n: 76 x/mnt. pucat (). pk. pusing (-).15 Januari 2002. O: s: 36. td: 120/80 mmhg. mual (-). 2. O: Klien bertanya kepada mahasiswa dan petugas. 0 O: S: 38 C. titer H: 1/640. 16 Januari 2002. istirahat bisa (lk. O: klien sudah dapat berjalan ke kamar mandi sendiri tanpa bantuan. TD: 110/70 mmHg. P: -- Tgl. eliminasi tanpa dibantu). muntah (-). n: 76 x/mnt. td: 120/80 mmhg. lemah (-).00 WIB 3. Tgl. S: 38 C. titer O: 1/640. pk.18 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) susiss!! Arsip Blog . Peningkatan suhu tubuh b/d proses infeksi S. mandi.

 PERENCANAAN KALA I PERSALINAN FISIOLOGIS  LAPORAN PERSALINAN PERSALINAN FISIOLOGIS  ASUHAN KEPERAWATAN PADA DENGAN PERSALINAN FISIOLOG..  ASKEP IBU DENGAN LETAK SUNGSANG  LAPORAN PENDAHULUANASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN.  LAPORAN PENDAHULUANASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN LI...  ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KB SUNTIK DI POLI K  ASKEP ANAK DENGAN BRONCHOPNEUMONI / laporan pendah......  LAPORAN PENDAHULUANASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN..  contoh kasus bayi baru lahir  asuhan keperawatan bayi baru lahir / neonatus  asuhan keperawatan bayi baru lahir o ► Agustus (226) ..  ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KB SUNTIK DI POLI KB. ▼ 2012 (262) o ▼ September (36)  Laporan PendahuluanASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DE.  asuhan keperawatan trauma abdomen  asuhan keperawatan bayi baru lahir / neonatus  ASUHAN KEPERAWATAN PADAKLIEN DENGAN HYPERALDOSTERO...  ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST NATAL  ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST NATAL  asuhan keperawatan natal care  PENGKAJIAN ANTE NATAL  LAPORAN PARTUS  LAPORAN PARTUS  LAPORAN PARTUS  pengkajian intranatal  pengkajian antenatal  PENATALAKSANAAN KEPERAWATANDIAGNOSA & INTERVENSI ......  ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST NATAL  ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KB SUNTIK DI POLI KB......  Laporan Pendahuluan Kista Ovarium  Laporan PendahuluanKista Ovarium  asuhan keperawatan Perilaku kekerasan  LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN I..  PERENCANAAN KALA II PERSALINAN FISIOLOGIS  ANALISA DATA KALA II PERSALINAN FISIOLOGIS  IMPLEMENTASI KEPERAWATAN KALA I PERSALINAN FISI..

Gangguan pencernaan yang terjadi adalah bibir kering. lidah kotor. dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% . Salmonella typhi • Batang gram negative yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu: . ada perut kembung nyeri tekan. pada usia 30 . gangguan kesadaran. Salmonella paratypi A . ( Kapita selekta kedokteran edisi 3 ) Typus abdominalis adalah Penyakit infeksi akut usus halus yang di sebabkanoleh Salmonella Typosa O. B. gangguan pada saluran cerna. gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (ngartiyah. Salmonella H. Pada umumnya diare. kesadaran menurun ringan sampai berat umumnya apatis penurunan kesadaran Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu. Penyakit typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut dengan gejala demam lebih dari 1 minggu. 1955).80% ). selaput putih. Diberdayakan oleh Blogger. Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari.40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). dan salmonella paratypi B(Soeparman 1997).Mengenai Saya haeril anwar tunggu tgl mainx Lihat profil lengkapku Template Ethereal.ETIOLOGI 1.

antigen V1 dan protein membrane hialin. Kadang pasien disertai epitaksis . perut agak kembung e. kesadaran menurun ringan sampai berat . Paratypus adalah jenis typus yang lebih ringan . dan kondisi fisik tampak lemah . bagian tepinya merah terang. Salmonella parathypi B 4. Salmonella parathypi A 3. KLASIFIKASI 1. MANIFESTASI KLINIS A TANDA TANDA . Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari. tidak menggigil dan tidak berkeringat.antigen H(flagella) . bibir kering c. splenomegali disertai nyeri pada perabaan g. halitosis b.buang air. kemudian menjadi obstipasi . D. 2. pada minggu ke 3 suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal. mungkin sesekali penderita mengalami buang .Gangguan kesadaran a.. Jika diamati. Jika sudah lanjut . terdiri darizat komplekliopolisakarida) . serta nyata tampak sakit. lidah kotor berselaput putih dan pinggirannya hiperemesis d. gangguan pada saluran cerna . lidah tampak berselaput putih susu. Salmonella parathypi C 5. Feses.Demam Pada minggu pertama demam berangsur naik berlangsung pada 3 minggu pertama . gangguan kesadaran 2. Demam tidak hilangdengan pemberian antiseptic. urin dan muntahan penderita C.Gangguan pada saluran pencernaan a. Bibir kering .antigen O (somatic.sebab pada tipus oragan limfa dan hati bias membengkak seperti gejala hepatitis. pada permulaan umumnya terjadi diare h. mual f. mungkin muncul gejala kunin.

tindakannya adalah: menghentikan makan dan minum. umumnya tiap kenaikan 1celcius di ikuti penambahan denyut nadi 10-15 kali permenit B. umumnya apatis c. Pengobatan a.tekanan darah menurun . paisen tidakboleh di miringkan .pasien terlihat pucat kulit terasa lembap . Perforasi usus dapat terjadi pada minggu ke 4dimana suhu sudah turun.rasa tidak enak di perut .nyeri seluruh tubuh .Penderita mulai cepat lelah . GEJALANYA . dapat juga keringat dingin nadi kecil dan pasien menjadi scohk jika di jumpai gejala demikian tindakannya adalah : segera hubungi dokter siap foto roentgen biasanya di kunsul ke bagian bedah E. walau suhu sudah normal istirahat masih di teruskan 2 minggu dengan gejala: pasien mengeluh sakit perut hebat dan akan nyeri lagi apabila di tekan perut terlihat tegang dan kembung anak menjadi pucat.b. bradikardi relative d. Kotrimoksasol . segera pasang infuse jika sebelumnya tidak di pasang segera hubungi dokter selain pemberian pengobatan untuk menghentikan pendarahan dapat di lakukan eskap gantung untuk mengganti alat tenun harus 2 -3 orang. Kloramfenikol b.nadi meningkat cepat dan kecil .PENATALAKSANAAN 1.malaise .Perdarahan usus dapat terjadi pada saat demam masih tinggi di tandai dengan: .suhu mendadak turun . Jika ini terjadi.hal tersebut dirasakan antara 10-14 hari a. karena darah dalam faeces hanya bisa di buktikan dengan tes benzidin.kesadaran makin menurun Jika pendarahan ringan mungkin gejalanya tidak terlihat jelas.sakit kepala . pengawasan observasi TTV lebih sering b.

Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus. splenomegali. nyeri kepala. nafsu makan berkurang (terutama selama masa inkubasi). leuukositosis relatif pada fase akut. Hidung : kadang terjadi epistaksis Abdomen: perut kembung (meteorismus). Pengkajian a. 3. Keluhan utama Perasaan tidak enak badan. Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain kloramfenikkol. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus. nafas bau tidak sedap. diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus. Identitas b. leukopenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi. nyeri tekan. b. F. bibir kering dan pecah-pecah. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium:  SGOT SGPT meningkat.PENGKAJIANKEPERAWATAN 1. diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis. Perawatan a. lesu dan kurang bersemangat. . Sirkulasi: bradikardi. Pada klien dengan kesadaran menurun. ujung dan tepi kemerahan). Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi. Diet a. dan pengobatan. b. lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien. gangguan kesadaran Kulit d. pusing. : bintik-bintik kemerahan pada punggung dan ekstremitas. 2. c. observasi. mungkin terdapat anemia dan trombositopenia. hepatomegali. Data Fokus Mata : konjungtiva anemis Mulut : lidah khas (selaput putih kotor.c.

d proses inflamasi Tujuan: Suhu tubuh klien kembali normalKlien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan Intervensi:  Identifikasi penyebab atau faktor yang dapat menimbulkan hipertermi  Observasi cairan masuk dan keluar. pemeriksaan penunjang=hasil laboratorium KriteriaHasil  Suhu tubuh klien kembali normal  Frekuensi pernafasan kembali normal  Kulit klien tidak teraba panas  Klien dapat beraktivitas b.  Intervensi: Kaji pola makan klien  Observasi mual dan muntah  Identifikasi faktor pencetus mual. pemberian antibiotik. feses. empedu) G. catat masukan makanan. Peningkatan nafsu makan klien. Kriteriahasil: *Klien mengatakan sudah tidak mual dan muntah . Uji serologis asidal (titer O. urin. dan nyeri abdomen  Kaji makanan yang disukai dan tidak disukai klien  Sajikaan makanan dalam kedaan hangat dan menarik  Beri posisi semi fowler saat makan  Bantu klien untuk makan. Hipertermi b. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI a. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b. H)  Biakan kuman (darah. muntah. hitung keseimbangan cairan  Beri cairan sesuai kebutuhan bila tidak ada kontraindikasi  Beri kompres air hangat  Anjurkan klien untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan saat suhu tubuh naik  Kolaborasi: pemberian antipiretik.d intake yang tidak adekuat Tujuan: Asupan nutrisi klien tercukupi.

d agen cidera biologis Tujuan: Nyeri klien berkurang Klien merasa nyaman Intervensi: *Kaji karakteristik nyeri dan skala nyeri *Kaji faktor yang dapat menurunkan/menaikkan nyeri *Ajarkan dan bantu klien melakukan relaksasi dan distraksi *Beri posisi yang nyaman *Ciptakan lingkungan yang tenang Kriteriahasil *Klien mengatakan nyeri abdomen berkurang *Klien mengatakan sudah merasa nyaman .*Nafsu makan meningkat c. Nyeri akut b.

id  http://www. motil dan tidak menghasilkan spora.google. . ditandai gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (T. Yogyakarta. Smeltzer.com. 1995).1 Definisi Demam tifoid atau thypoid fever atau thypus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhii. Penularan penyakit ini hampir selalu terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.H.co.id/kesehatan/news/0602/08/095423.  www. Rampengan dan I.R.htm  Suzzane C. Nuha Medika. 18 September 2012 THYPUS ABDOMINALIS BENEDIKTA ABI MELSIANSI MARIANA SOARES THYPUS ABDOMINALIS 2. hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C dan antiseptik.Akhsin. Brenda ASKEP Selasa.PARASITOLOGI .mediastore.2010. Agus Waluyo. 2.2 Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman Samonella Thypiia/Eberthela Thypii yang merupakan kuman negatif.H.infokesehatan.DAFTAR PUSTAKA  Drs. Thypus Abdominalis tanggal 17 November 2006  http://www. Laurentz.co. Zulkoni.

2. yaitu antigen O (Ohne Hauch) merupakan somatik antigen (tidak menyebar) ada dalam dinding sel kuman. antigen H (Hauch. limpa. depresi sumsum tulang dan panas. Bila sembuh tanpa adanya pembentukan jaringan parut. instabilitas vaskuler. setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Ketiga jenis antigen ini di manusia akan menimbulkan tiga macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.3 Patofisiologi Kuman Salmonella masuk bersama makanan atau minuman yang terkontaminasi. kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus. Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi (minggu I). . kuman. limfosist sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoid sel. hati. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa. menyebar) terdapat pada flagella dan bersifat termolabil dan antigen V1 (kapsul) merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis. nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus. Infiltrasi jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit.Salmonella mempunyai tiga macam antigen. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam. jaringan limfe mesemterium. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. Pada dinding ileum terjadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi intestinal. Endotoksin ini merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. sumsum tulang dan organ yang terinfeksi. Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit retikuloendotelial sistem (RES) dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin.

pada kulit dada atau perut terjadi pada akhir minggu pertama atau awal minggu kedua. jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun . Pada kebanyakan kasus demam typhoid. mual. Dalam minggu pertama : demam. inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60 hari (T. diare.4 Manifestasi Klinis Masa inkubasi 7-20 hari. anoreksia. gangguan saluran pencernaan dan gnagguan kesadaran. Rampengan dan I. dibagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Pemeriksaan leukosit Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typ hoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. muntah. Rata-rata masa inkubasi 14 hari dengan gejala klinis sangat bervariasi dan tidak spesifik (Pedoman Diagnosis dan Terapi. Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr.R. dilapisi selaput tebal. perut kembung dan nyeri tekan pada perut kanan bawah dan mungkin disertai gangguan kesadaran dari ringan sampai berat seperti delirium. lidah tifoid dengan tanda antara lain nampak kering. Soetomo Surabaya. nyeri kepala. konstipasi dan suhu badan meningkat (39-410C). Walaupun gejala bervariasi secara garis besar gejala yang timbul dapat dikelompokan dalam : demam satu minggu atau lebih. Setelah minggu kedua gejala makin jelas berupa demam remiten. yang terdiri dari : 1. Pembesaran hati dan limpa. Laurentz. Roseola (rose spot). 2. 1995).2. 1994).H. Merupakan emboli kuman dimana di dalamnya mengandung kuman salmonella. dibagian belakang tampak lebih pucat.5 Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium.

Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien. Aglutinin Vi. tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Aglutinin H. kecuali komplikasi pada intestinal. Obat-obat : a. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung. 3. Pemeriksaan SGOT dan SGPT SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid. Antigen yang digunakan pada uji widal 3adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.6 1. hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Antimikroba : . antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.Kloramfenikol 4 X 500 mg sehari/iv . Akibat infeksi oleh salmonella thypi. yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).2. 3. 2. Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman). Pengobatan dengan obat anti mikroba Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.Tiamfenikol 4 X 500 mg sehari oral . Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid. Diit lunak atau diit padat rendah selulosa (pantang sayur dan buahan). 2. makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.     4. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman) Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa. klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu : Aglutinin O. Uji Widal Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (a glutinin). Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali. Penatalaksanaan Tirah baring atau bed rest. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor : Teknik pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain. Biakan darah Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid.

1 Pengkajian 3.1 Anamnesa a. bronkitis. N : 90 x/menit. Vitamin B kompleks dan vitamin C 4. 3. Antipiretik seperlunya c. pielonefritis. T (6 tahun) BB : 30 kg. kolesistisis. mual muntah. 2.- Kotrimoksazol 2 X 2 tablet sehari oral (1 tablet = sulfametoksazol 400 mg + trimetoprim 80 mg) atau dosis yang sama iv. RR : 23 x/menit. Identitas Nama : Tn. pasien tampak lemah. ileus paralitik. meningitis. T Tempat tanggal lahir :- Jenis kelamin : Laki-laki Umur : 6 tahun Pendidikan : SD Pekerjaan : Status : Agama : Alamat : . Mobilisasi bertahap setelah 7 hari bebas demam. b. dibagi dalam 3 atau 4 dosis. perforasi intestinal. Antimikroba diberikan selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas demam. CASE STUDY Kasus : Tn. pagi turun sore malam naik lagi. turgor kulit jelek. ensefalopati. miokarditis. setelah dilakukan pemeriksaan oleh perawat didapatkan data mukosa bibir kering. pneumonia. . karir kronik. renjatan septik.1. dilarutkan dalam 250 ml cairan infus. Lidah kotor.7 Komplikasi Perdarahan intestinal. peritonitis. Pasien didiagnosa demam thypoid. T : 40oC.Ampisilin atau amoksisilin 100 mg/kg BB sehari oral/iv. keluaran urin sedikit hanya 500 cc /jam. di bawa ke UGD RS Gambiran karena demam tidak turun. Pasien tampak berkeringat.

Nadi : 90 x/menit. Kesadaran pasien perlu di kaji dari sadar – tidak sadar (composmentis – coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis penyakit pasien Suhu : 40oc  Nadi : 90 x/menit  RR : 23 x/menit b. Tanda-tanda vital dan pemeriksaan persistem Suhu : 40oc. Panas berkurang setelah minum obat parasetamol. badan panas.2 Pemeriksaan Fisik a.Tanggal MRS : No. RM : Diagnosa Medis : Demam Thypoid b. 3. Keadaan umum  Mengkaji kesadaran dan keadaan umum pasien. tapi hanya sebentar kemudian panas lagi. mual dan ada muntah. Bentuk dada : simetris Pola nafas : teratur Suara nafas : tidak ada bunyi nafas tambahan Sesak nafas : tidak ada sesak nafas Retraksi otot bantu nafas : tidak ada Alat bantu pernafasan : tidak ada alat bantu pernafasan B2 (Blood)  Irama jantung : teratur  Nyeri dada : tidak ada  Bunyi jantung : tidak ada bunyi jantung tambahan . B1 (breath)       2. RR : 23 x/menit 1. dan sembuh setelah minum obat biasa yang dijual di pasaran. disertai dengan sakit kepala. Riwayat kesehatan  Riwayat penyakit sekarang Sejak kapan pasien sudah merasa tidak enak badan dan kurang nafsu makan.  Riwayat penyakit keluarga Menanyakan apakah ada dalam keluarga pasien yang pernah sakit seperti pasien. pilek dan batuk.1. Keluhan utama : Demam c.  Riwayat penyakit dahulu Menanyakan apakah sebelumnya pasien pernah mengalami penyakit seperti sekarang ini. apakah pasien pernah dirawat di RS. atau pernah sakit biasa seperti flu.

3. dapat bergerak dengan bebas.  Pendengaran (telinga) : Bentuk D/S simetris. B4 (Bladder)     Kebersiahan : bersih Bentuk alat kelamin : normal Uretra : normal Produksi urin : tidak normal (sedikit) 500 cc/jam. mukosa hidung merah muda. sekret tidak ada. Demam (panas naik turun) 2. akral hangat. mukosa lubang hidung me rah muda. lidah tampak kotor (keputihan). rata-rata 4-6x sehari. N : 90 x/m 8. T : 40oc 7. 4. akral hangat. B3 (Brain)  Penglihatan (mata) : Gerakan bola mata dan kelopak mata simetris.  Kesadaran : kompos mentis 4. B6 (Bone)  Kemampuan pergerakan sendi : normal  Kondisi tubuh : kelelahan. tidak pernah ada keluhan batu atau nyeri. 5. . konjungtiva tampak anemis. sklera putih. B5 (Bowel)  Nafsu makan : anoreksia  Porsi makan : ¼ porsi  Mulut : Mukosa bibir kering. tidak ada peradangan sendi dan oedem.2 Analisa Data Analisa Data Data Subjektif 1. Akral : Tangan bentuk simetris. tidak ada pembengkakan gusi. produksi air mata (+). Kaki bentuk simetris. tidak ada pembatasan gerak dan oedem. gigi lengkap. Muntah Data Objektif Mukosa bibir kering Turgor kulit jelek Pasien tampak lemah Lidah tampak kotor Keluaran urin 500 cc/24 jam 6. lemah 3. 5. tidak menggunakan alat bantu penglihatan. dapat merespon setiap pertanyaan yang diajukan dengan tepat. Mual 3. tidak ada cairan dan serumen. 3. tangan kanan terpasang infus. 2. malaise. Etiologi Kuman Salmonella typhii masuk ke saluran cerna Sebagian dimusnahkan Asam lambung Peningkatan asam lambung Masalah Keperawatan Kekurangan volume cairan Diagnosa Keperawatan Berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. tidak menggunakan alat bantu. RR : 23x/m 1. tidak teerlihat pembesaran tonsil  Mukosa: pucat 6. buang air kecil tidak menentu. tidak ada terlihat pembesaran mukosa atau polip. pupil bereaksi terhadap cahaya.  Penciuman (hidung) : Penciuman dapat membedakan bau -bauan.

3 Diagnosa 1.9. Data Objektif Mukosa bibir kering Turgor kulit jelek Pasien tampak lemah Lidah tampak kotor T : 40oc N : 90 x/m Berkeringat Kuman Salmonella typhii masuk ke saluran cerna Hipertermi Berhubungan dengan proses infeksi Sebagian masuk Ke usus halus Ileun terminalis Sebagian menembus lamina propia Masuk aliran limfe Menembus dan masuk aliran darah Hipothalamus Demam Peningkatan Suhu tubuh MK = Hipertermi 3.4 Prioritas Masalah 1. 5. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh 2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 3. 2. 4. Berkeringat Mual. 6.5 Planning No. 3. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh. Demam (panas naik turun) 1. Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional . 3. Muntah MK = Kekurangan Volume Cairan Data Subjektif 1. 7.

Monitor tanda-tanda infeksi. Berikan cairan iv sesuai order atau anjurkan intake cairan yang adekuat. menyebabkan peningkatan Tujuan : mempertahankan suhu 2. 7. kering 4. Monitor tanda-tanda vital tiap 2 tubuh dalam barts normal pada jam. Memfasilitasi kehiliangan panas lewat konveksi dan konduksi. urine. Febril dan enselopati bisa terjadi bila suhu tubuh yang meningkat. Ukur semua intake cairan. . Kaji tanda-tanda dehidrasi. Mengatur keseimbangan antara intake dan output dalam 24 jam. Hipertermi berhubungan dengan 1. Monitor komplikasi neurologis akibat demam. Berikan minum per oral sesuai cairan yang tidak adekuat. Aspirin bersiko terjadi perdarahanGI yang menetap. berhubungan dengan asupan 2. Berikan suhu lingkungan yang nyaman bagi pasien. Kompres dingin pada daerah yang tinggi aliran darahnya.  Kulit dingin dan bebas dari Kehilangan panas tubuh keringat yang berlebih. .Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang toleransi. Ukur semua cairan output (muntah. Kenakan melalui konveksi dan evaporasi pakaian tipis pada pasien. 3.Menampilkan hidrasi yang baik misalnya membran mukosa yang lembab. Atur pemberian cairan infus sesuai order. 2.  Pakaian dan tempat tidur pasien 3. diare). Berikan antipiretik.  Kriteria Hasil: pola yang dihubungkan  Suhu antara 36o-37o c dengan patogen tertentu. Menggantikan cairan yang hilang lewat keringat. jangka waktu 1x24 jam suhu tubuh Deteksi resiko peningkatan suhu tubuh yang ekstrem. . 6.1. 5.  RR dan nadi dalam batas normal menurun dihubungkan  Membran mukosa lembab dengan resolusi infeksi. Tujuan : asupan cairan adekuat dalam jangka waktu 1 x 24 jam Kriteria Hasil: . Intervensi lebih dini Mempertahankan intake yang adekuat Melakukan rehidrasi 4. jangan berikan aspirin. Kekurangan volume cairan 1. Infeksi pada umumnya proses infeksi.Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat.

Mengkompres dingin pada daerah yang tinggi aliran darahnya. dan mengukur semua intake.7 Evaluasi Diagnosa 1: S : Pasien menunjukkan hidrasi yang baik O : TTV normal. diare). Paraf Mengkaji tanda-tanda dehidrasi. Mengatur pemberian cairan infus sesuai order. pakaian dan tempat tidur pasien kering. 2. 5. Memonitor komplikasi neurologis. 3.00 WIB 1. kulit dingin dan bebas dari keringan yang berlebih. 3. Memberikan cairan iv sesuai order atau memnganjurkan intake cairan yang adekuat. 28 November 2011 Jam 10. membran mukosa lembab. 6. . intake dan output cairan seimbang. 3. Senin. Memonitor tanda-tanda vital setiap 2 jam. Memberikan suhu lingkungan yang nyaman pada pasien serta memakaikan pakaian tipis. 2. A : Masalah teratasi P : Pasien pulang Diagnosa 2: S O : Pasien mengatakan tidak demam lagi : TTV normal.urine.6 Implementasi No Hari / Tanggal Waktu Implementasi 1.3. 28 November 2011 Jam 11. Memberikan minum per oral sesuai toleransi. 2.00 WIB 1. Mengukur semua cairan output (muntah. Senin. Memonitor tanda-tanda infeksi. 4. 4. 7. Memberikan antipiretik.

Diberdayakan oleh Blogger.files. Jakarta. Judith.13 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Tidak ada komentar: Poskan Komentar Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Mengenai Saya Arsip Blog  ▼ 2012 (1) o ▼ September (1)  THYPUS ABDOMINALIS Benedikta Abi Lihat profil lengkapku Template Awesome Inc.pdf (diakses pada tanggal 18 November 2011. http://cnennisa.com/2007/08/ demam-thypoid.. 2007.wordpress. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7. 2006. Demam Thypoid. Diagnosis Keperawatan. EGC.00 WIB) Diposkan oleh Benedikta Abi di 23. Wilkinson M. 2010. Jam 09.A : Masalah teratasi P : Pasien pulang DAFTAR PUSTAKA Herdman T. Heather. Jakarta : EGC Anonim. . 1995. cetakan kedua. Jakarta : EGC Rampengan dan Laurentz.

2. 1. Tujuan Penulisan - Tujuan umum 1. tetapi berhubungan erat dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Dapat melaksanakan implementasi asuhan keperawatan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat pada anak dengan Typhus abdominalis. Memperoleh pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhankeperawatan pada anak dengan Typhus abdominalis. Dapat melaksanakan evaluasi hasil asuhan keperawatan yang telahdilaksanakan pada anak dengan Typhus abdominalis. Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung dan komprehensif meliputi aspek bio-psikologi dengan pendekatan proseskeperawatan sesuai tumbuh kembang anak.Penyakit ini termasuk ke dalam penyakit tropik dan menular yang tersebar diseluruh dunia serta penyebarannya tidak bergantung pada keadaan iklim.1985 : 594). Sebagian besar penderita yang dirawat (80%) berumur di atas 5 tahun(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. 5. Latar Belakang Typhus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus. Dapat melakukan pengkajian terhadap masalah-masalah keperawatan pada anak dengan Typhus abdominalis. - Tujuan khusus 1. 4. Dapat membuat rencana asuhan keperawatan terhadap masalah-masalahyang timbul sesuai dengan prioritas masalah. Dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan pada anak denganTyphus abdominalis TINJAUAN TEORITIS .Penyakit Typhus abdominalis banyak dijumpai di negaranegara yangsedang berkembang di daerah tropis termasuk di Indonesia dengan insidentertinggi pada daerah endemik terjadi pada anak-anak yang berumur di atas 1tahun. 2.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DGN TYPUS ABDOMINALIS 1.

tidak nafsu makan. meteorismus. mual. Etiologi   Salmonella typhosa. Pada minggu pertama sakit. limpa dan organ-organ lainnnya. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. terutama limpa. Definisi Tifus Abdomenalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran 1. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks peyer. smnolen) Bibtik-bintik kemerahan pada kulit (roseola) akibat emboli basil dalam kapiler kulit . Ulkus dapat menyebabkan perdarahan. sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus (terutama di ileum bagian distal). Selain itu hepar. lidah ditutupi salaput putih kotor. lemas. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh. dan mencapai sel-sel retikula endotelial. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus.1. bibir kering dan pecah-pecah. yang disertai nyeri pada perabaan Gangguan kesadaran: penurunan kesadaran (apatis. Patofisiologi Kuman masuk melalui mulut. splenomegali. Manifestasi Klinik      Nyeri kepala. kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus 1. basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar dan tidak berspora Masa inkubasi 10-20 hari 1. ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke peredarahan darah (bakterimia primer). lesu Demm yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung selama 3 minggu Gangguan pada saluran cerna: halitosis. usus dan kandung empedu. bahkan sampai perforasi usus. hepatomegali. Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikula endotelial melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. terjadi hyperplasia plaks player. hati.

makanan pedas dan mengandung soda harus dihindari agar saluran cerna yang sedang luka bisa diistirahatkan. Tanda dan Gejala  Demam lebih dari seminggu Siang hari biasanya terlihat segar namun malamnya demam tinggi. seringkali tak sadarkan diri/pingsan. terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Jika kondisinya semakin parah. Penatalaksanaan - Penatalaksanaan Medis . 1. dan sakit perut Terkesan acuh tak acuh bahkan bengong Ini terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas. otomatis makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.  Lidah kotor Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Tapi pada sejumlah kasus. penderita malah sulit buang air besar. Suhu tubuh naik-turun. Selain itu.  Muntah Karena rasa mual. Akibatnya. pusing.   Lemas. Karena itu harus makan makanan yang lunak agar mudah dicerna.  Tidur pasif Penderita merasa lebih nyaman jika berbaring atau tidur. akan pasif (tak banyak gerak) dengan wajah pucat. juga di kelenjar getah bening. Epistaksis 1. Saat tidur.  Mual Berat Bakteri Salmonella typhi berkumpul di hati. saluran cerna.  Mencret Bakteri Salmonella typhi juga menyerang saluran cerna karena itu saluran cerna terganggu.

sedangkan sistem eritropoesis. azithromisin dan fluoroquinolon. selama 14 hari. terbagi dalam 3-4 kali pemberian. azithromisin dan fluorokuinolon.Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol. Oleh karena itu pemeriksaan yang positif dari contoh darah digunakan untuk menegakan diagnosis. Pada kasus berat. Pada kasus yang diduga mengalami MDR. vitamin & protein. 2. Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem. oral. dapat diberi seftriakson dengan dosis 50 mg/kg BB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg BB/hari. 4. sedangkan pemeriksaan negatif dari contoh urin dan feses 2 kali berturt-turut . kalori. granulopoesis dan trombopoesis berkurang. intravena saat belum dapat minum obat. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. 3. Makanan yang cukup cairan. terbagi dalam 3-4 kali. limfositosis relatif dan aneosinofilia. Biakan empedu : basil salmonella typhii dapat ditemukan dalam darah penderita biasnya dalam minggu pertama sakit. sekali sehari. Pemeriksaan darah tepi:terdapat gambar leukoperia. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas. selama 5-7 hari. 1. Pemberian. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol . Pemeriksaan sumsum tulang :Teradapat gambaran sumsum tulang berupa hiperaktif RES dengan adanya sel makrofag. selama 21 hari. atau amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari. Diet harus mengandung 1. terbagi dalam 3-4 kali. ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. 3. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urin dan feses dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama. Makanan lunak diberikan selama istirahat. Pemberian. Tidak mengandung banyak serat. 2. intravena. dilaksanakan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Obat pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. diberi ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari. Pemeriksaan Diagnostik 1. (Darmowandowo. 2006) - Penatalaksanaan Keperawatan Tirah baring. maka pilihan antibiotika adalah meropenem. oral/intravena selama 21 hari kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian. oral atau intravena. selama 14 hari.

Diagnosa Keperawatan 1. dkk 2001). ASHAN KEPERAWATAN TYPUS ABDOMINALIS 1. nyeri kepala. 1. lidah kotor. abdomen. pengkajian fisik dan tes diagnostik untuk mengidentifikasi dan mengatasi diagnosa keperawatan dan medis klien. Pemeriksaan widal Didapatkan titer terhadap antigen 0 adalah 1/200 atau lebih sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menengakkan diagnosis karena titer H dapat tetap tinggi setelah dilakukan imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh. 2001). rektum dan anus pasien.digunakan untuk memnentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan tidak menjadi pembawakman (karier). Tujuan tindakan ini untuk mengumpulkan riwayat. Pengkajian Pengkajian sistem gastrointestinal meliputi riwayat kesehatan serta pemeriksaan fisik komprehensif dimulai dari rongga mulut. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d arbsorpsi nutrisi 2. Risiko kurangnya volume cairan b/d intake cairan. epistaksis. 1. dan peningkatan suhu tubuh 3. Pada pengkajian penderita dengan kasus typhus abdominalis yang perlu dikaji: - Riwayat keperawatan Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari. Perubahan persepsi sensoti b/d penurunan kesadaran 4. (Monica Ester. Kurangnya perawatan diri b/d istirahat total 5. tidak nafsu makan. penurunan kesadaran (Suriadi. Hiperterma b/d proses infeksi .

Anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tingkat kembang anak 5.1. dan dengan skala yang sama - Mempertahankan kebersihan mulut anak - Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit 1. Mempertahankan fungsi persepsi sensori - Kaji status neurulogis - Istirahatkan anak hingga suhu dan tanda-tanda vital stabil . Intervensi 1. Mencegah kurangnya volume cairan - Mengobservasi tannda-tnda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap 4 jam - Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan Mengobservasi dan mencatat intake dan output dan mempertahankan intake dan output yang adekuat Memonitor dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama - Memberikan antibiotik sesuai program 1. Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhi kebutuhan cairan 3. Anak dapat menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal 1. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan - Menilai status nutrisi anak - Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualits intake nutrisi Menganjurkan kepada orangtua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama. Anak menunjukkan tanda-tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi 2. Anak menunjukkan tanda-tanda penurunan kesadaran yang lebih lanjut 4. Implementasi 1.

Kebutuha parawatan dirii terpenuhi Mengkaji aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan tugas perkembangan anak Menjelaskan kepada anak dan keluarga aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan hingga demam berangsur-angsur turun - Membantu kebutuhan dasar anak - Melibatkan peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar anak 1. 5. Anak akan menunjukkan tanda – tanda vital dalam batas normal.- Hindari aktivitas yang berlebihan - Pantau tanda-tanda vital 1. tekanan darah. 4. Anak dapat melakukan aktifitas sesuai dengan kondisi fisik dan tingkat perkembangan anak. Anak menunjukkan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan. Mempertahankan suhu dalam batas normal - Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipetermia - Observasi suhu. Anak tidak menunjukkan tanda – tanda penurunan kesadaran yang lebih lanjut. . nadi. 1. pernapasan - Beri minum yang cukup - Berikan kompres air biasa - Lakukan tepid sponge - Pakaikan baju yang tipis dan menyerap keringat - Pemberian obat antipireksia - Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat 1. Evaluasi Hasil yang diharapkan pada tahap evaluasi adalah : Anak menunjukkan tanda – tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi. 3. 2.

.PENUTUP 1. Kesimpulan Tifus Abdomenalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran.