You are on page 1of 15

IMUNOLOGI

HIPERSENSITIVITAS TIPE I: ALERGI
RHINITIS

Oleh :
Nathanael Charles (1130011) KP : I No Absen: 3

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SURABAYA
2014/2015

Penyebab reaksi hipersensitivitas pada umumnya adalah respon autoimunitas. . Hipersensitivitas tipe I atau reaksi anafilaksis 2. Reaksi hipersensitif sendiri dibagi atau diklasifikasikan menjadi 6 tipe dan masing-masing memiliki mekanisme serta dampak yang berbeda-beda yaitu: 1. Reaksi ini sering dipicu dengan adanya produksi antibodi IgE untuk melawan antigen. Hipersensitivitas tipe IV atau respon seluler lambat 5. makanan dan minuman. Respon autoimunitas merupakan reaksi terhadap mikroba dan respon terhadap antigen termasuk polutan lingkungan. Hipersensitivitas tipe II atau reaksi ADCC (Antibody – Dependent Cytotoxic) 3. merupakan sebuah respon dari sistem imun berlebihan yang berakibat pada kerusakan jaringan yang dipicu karena adanya rilis mediator dari sel mast. Hipersensitivitas tipe V atau hipersensitivitas stimulatory 6. Hipersensitivitas tipe III atau hipersensitivitas kompleks 4. dan obat-obatan. Hipersensitivitas tipe VI atau hipersensitivitas bawaan Hay fever atau Rhinitis alergic merupakan hipersensitivitas tipe I atau reaksi anafilaksis yang reaksinya berlangsung dengan cepat yaitu dalam beberapa detik hingga beberapa menit.Hipersensitivitas atau lebih dikenal dengan alergi atropik.

Protease) 2. dan basofil. Histamin mempunyai peranan penting pada reaksi fase awal setelah kontak dengan alergen (terutama . dan bila pelepasan histamin terjadi sistemik maka aktivitas polos usus dapat meningkat menyebabkan diare dan hipermotilitas. Selanjutnya histamin meninggikan permeabilitas kapiler dan venula pasca kapiler. dan bila terjadi sel sistemik dapat menimbulkan hipotensi. Penyebab terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe I ini antara lain : 1. PAF Histamin Histamin dibentuk dari asam amino histidin dengan perantaraan enzim histidin dekarboksilase. Bulu binatang II. Mediator Primer (Histamin. dan angioedema. Prostaglandin. sedangkan reseptor H2 terdapat pada sel parietal gaster. Dalam tubuh kita sel yang mengandung histamin dalam jumlah besar adalah sel gaster. Histamin dapat menyebabkan kontraksi otot polos bronkus yang menyebabkan bronkokonstriksi. Pada sel mast dan basofil. sel mast. Mediator Sekunder (Leukotrien. trombosit. Pada sistem vaskular menyebabkan dilatasi venula kecil. Brakidin. Sitokin) 3. Serotonin. NCF-A. Reseptor histamin terdapat pada beberapa limfosit (terutama Ts) dan basofil. Mediator 1. Kadar histamin yang meniggi dalam plasma dapat menimbulkan anafilaksis. Histamin bereaksi pada banyak organ target melalui reseptor H1 dan H2. Reseptor H1 terdapat terutama pada sel otot polos bronkioli dan vaskular. histamin disimpan dalam lisosom dan dilepas melalui degranulasi. urtikaria. sel dangkan pada pembuluh darah yang lebih besar menyebabkan konstriksi karena kontraksi otot polos. Perubahan vaskular ini menyebabkan respons wheal-flare (triple respons dari Lewis). Polen atau serbuk sari dari tanaman jenis rumput-rumputan 2. Pada traktus gastrointestinalis histamin meninggikan sekresi mukosa lambung.Sebagai mediator dominan pada reaksi hipersensitivitas tipe I ini adalah antibodi IgE dan sel mastosit. ECF-A. Pengaruh fisiologik histamin pada manusia dapat dilihat pada berbagai organ. Beberapa tipe antihistamin menyukai reseptor H1 (misalnya klorfeniramin) dan antistamin lain menyukai reseptor H2 (misalnya simetidin). Debu rumah yang umumnya mengandung kutu 3.

Serotonin ditemukan pada sel mast binatang tetapi tidak pada sel mast manusia. Epinefrin dapat menghalangi dan mengembalikan kontraksi yang disebabkan oleh SRS-A. NCF-A NCF (neutrophyl chemotactic factor) dapat ditemukan pada supernatan fragmen paru manusia setelah provokasi dengan alergen tertentu. Mediator lain yang juga bersifat kemotaktik untuk eosinofil ialah leukotrien LTB4 yang terdapat dalam beberapa hari. serotonin merupakan mediator sekunder yang dilepaskan oleh trombosit . SRS-A Berbeda dengan histamin. ECF-A merupakan tetrapeptida yang sudah terbentuk dan tersedia dalam granulasi sel mast dan akan segera dibebaskan pada waktu degranulasi (pada basofil segera dibentuk setelah kontak dengan alergen). Pengaruh SRS-A tidak dijalankan melalui reseptor histamin dan tidak dihambat oleh histamin. heparin dan ECF-A. dan kulit). SRS-A tidak ditemukan sebelumnya dalam granula sel mast. Pada reakse fase lambat.pada mata. ECF-A Mediator ini mempunyai efek mengumpulkan dan menahan eosinofil di tempat reaksi radang yang diperan oleh IgE (alergi). Keadaan ini terjadi dalam beberapa menit dalam sirkulasi penderita asma setelah provokasi inhalasi dengan alergen atau setelah timbulnya urtikaria fisik (dingin. Walaupun eosinofilia merupakan hal yang khas pada penyakit alergi. Leukotrien LTB4 juga bersifat kemotaktik terhadap neutrofil. Dalam reaksi alergi pada manusia. histamin membantu timbulnya reaksi inflamasi dengan cara memudahkan migrasi imunoglobulin dan sel peradangan ke jaringan. Rangsangan degranulasi sel mast memulai sintesis SRS-A. Serotonin Sekitar 90% serotonin tubuh (5-hidroksi triptamin) terdapat di mukosa saluran cerna. yang kemudian muncul dalam lisosom sel mast dan selanjutnya dalam cairan paru sehingga terjadi kontraksi otot bronkioli yang hebat dan lama. Mediator tersebut mungkin pula berperan pada reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat yang akan menyebabkan banyaknya neutrofil di tempat reaksi. panas atau sinar matahari). hidung. tetapi tidak selalu patognomonik untuk keterlibatan sel mast atau basofil karena ECFA dapat juga dibebaskan dari sel yang tidak mengikat IgE. Oleh karena mediator ini terbentuk dengan cepat maka diduga ia merupakan mediator primer.

serta merangsang serabut saraf dan menyebabkan rasa nyeri. lama dan hebat. individu yang atopik akan memproduksi IgE dalam jumlah besar sebagai respons terhadap antigen yang tidak akan menimbulkan respons IgE pada sebagian besar orang. Selain itu bradikinin juga merangsang peningkatan produksi mukus dalam traktus respiratorius dan lambung. Kecenderungan ini mempunyai dasar genetika yang kuat dengan banyak gen yang berperan. Bradikinin menjalankan pengaruhnya melalui reseptor pada sel yang berbeda dengan reseptor histamin atau SRS-A Sitokinin Mediator sitokin merekrut dan mengaktifkan sel inflamasi. IL-3. Serotonin dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Protease Enzim yang mampu menghancurkan sel disekitarnya dan dapat mengaktivasi sistem komplemen sehingga akan terjadi rilis mediator inflamasi lebih lanjut. Sel inflamasi yang direkrut juga melepaskan sitokin. IL-6). mediator ini meliputi tumor necrosis factor (TNF-α). akan menstimulasi limfosit B yang spesifik terhadap antigen asing untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma yang kemudian memproduksi IgE. dan sel epitel yang diaktifkan oleh TNF-α mensekresikan kemokin yang merekrut eosinofil. dan kemokin (protein kemoatraktan). Eosinofil menyebabkan kerusakan jaringan dengan melepaskan protein basa yang utama dan protein kationik eosinofil.melalui aktivasi produk sel mast yaitu PAF dan TxA2. Bradikinin Bradikinin tidak ditemukan dalam sel mast manusia. Serotonin juga menyebabkan kontraksi otot bronkus tetapi pengaruhnya hanya sebentar. TNF-α secara khusus merupakan sitokin proinflamasi yang kuat dan bekerja merekrut serta mengaktifkan banyak sel inflamasi tambahan. IL-4. Bradikinin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan venula pasca kapiler yang menyebabkan timbulnya edema jaringan. Oleh sebab itu. yaitu sebagian dari sitokin yang disekresi oleh sel Th2. aktivitasnya dapat menyebabkan kontraksi otot bronkus dan vaskular sel lambat. IL-5. Interleukin (IL)-4 dan IL-13. berbagai interleukin (IL-1. .

dapat menginduksi pembebebasan histamin dari sel mast baik dengan atau tanpa melalui stimulasi antigen Pada reaksi alergi fase lambat. Zat ini merangsang dan mengaktivasi sel limfosit T yang kemudian memproduksi IL-2 yang merangsang sel T4 untuk memproduksi interleukin lainnya. Interleukin-4 ini pertama kali disebut faktor stimulasi sel B (BSF = B cell stimulating factor). IL-3 dan GM-CSF tidak hanya menarik dan mengaktivasi eosinofil tetapi juga basofil dan efek kemotaktik sitokin ini lebih nyata dibandingkan dengan komplemen C5a. TGFβ. IFNγ. eosinofil. Interleukin-4 tampaknya merupakan stimulus utama dalam aktivasi sintesis IgE oleh sel limfosit B. TNF. LTB4 dan PAF. GM-CSF. IL-5. IL-3. IL-3. proliferasi. dan IL-I0 Dalam reaksi alergi fase cepat. IL-5. Sitokin lain yang mempunyai aktivitas sama pada sel mast ialah MCAF (monocyte chemotactic and activating factor) dan RANTES (regulated upon activation normal T expressed and presumably secreted). Pada saat aktivasi. Ternyata sitokin yang sama juga diproduksi oleh sel mast sehingga dapat diduga bahwa sel mast juga mempunyai peran sentral yang sama dalam reaksi alergi. IL-6.alergen pada sel basofil manusia. IFN. makrofag atau monosit. Alergen diproses oleh makrofag (APC) yang mensintesis IL-1. Limfosit ini memproduksi IL-3. IL-l. dan TNFα. basofil. Mekanisme lain sitokin berperan pula dalam menunjang terjadinya reaksi peradangan pada alergi. Aktivasi oleh IL4 ini diperkuat oleh IL-5. IL-2. Produksi interleukin diperkirakan dapat langsung dari sel mast atau dari sel lain akibat stimulasi oleh mediator sel mast. sel-sel ini . tetapi dihambat oleh IFNα. TNF dan INF terbukti dapat menginduksi atau meningkatkan pelepasan histamin melalui interaksi IgE. NGF (nerve growth factor) serta SCF berperan dalam pertumbuhan. Pada saat yang sama IL-4 meningkatkan ekspresi reseptor Fcε (FcRII) pada sel limfosit B. IL-4. IL-6.Reaksi peradangan alergi telah diketahui dikoordinasi oleh subset limfosit T4 yaitu Th2. Demikian juga SCF (stem cell factor) yaitu suatu sitokin yang melekat pada reseptor di sel mast yang disebut C-kit. pertahanan hidup dan diferensiasi limfosit. serta GM-CSF tetapi tidak memproduksi IL-2 atau INF (diproduksi oleh sel Th1). GM-CSF. TNFα. PGE2. sel mast. IL-4. IL-5.

Keadaan ini lebih terlihat pada biakan eosinofil manusia dengan GM-CSF bersama fibroblast. IL-5. penarikan eosinofil . degradasi jaringan Mediator Sekunder : Leukotrien Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan kontraksi otot polos Prostaglandin Vasodilatasi pembuluh darah. Sel mast dan basofil melepas berbagai sitokin seperti :  IL-4 dan IL-3 (meningkatkan produksi IgE oleh sel B)  IL-5 (pengerahan dan aktivasi eosinofil)  TNF-α dengan kadar tinggi (renjatan anafilaksis) Mediator Primer : Histamin Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan kontraksi otot polos Serotonin Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan kontraksi otot polos ECF-A Kemotaksis eosinofil NCF-A Kemotaksis eosinofil Protease Sekresi mukus. kontraksi otot polos Bradikinin Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan kontraksi otot polos Sitokin Aktivasi sel endothelium. aktivasi platelet. GM-CSF. dan EAF (eosinophil activating factor). Pada percobaan ini eosinofil menjadi hipodens dan dapat membebaskan lebih banyak LTC4 bila diaktivasi oleh stimulus seperti fMLP (formil metionil leukosil fenilalanin).ditarik ke arah jaringan yang mengalami peradangan dalam reaksi antigen-antibodi yang ditingkatkan oleh IL-2.

eosinofil. sitokinin. heparin. Kontak dengan antigen akan menstimulasi produksi antibodi dalam tubuh khususnya IgE. IgE yang terbentuk akan berikatan di reseptor Fc yang terdapat di permukaan membran sel matosit. Beberapa mediator dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskuler dan kontraksi otot polos. Sehingga terjadi :  Rilis mediator (histamin. yang kemudian terjadi rilis mediator-mediator.Mekanisme hipersensitivitas-1 Diawali dengan aktivasi sel Th2. dll) yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi inflmasi  Stimulasi enzim dimana akan meningkatkan produksi metabolit asam arakhidonat yang berperan sebagai komponen pro-inflamasi . Jika terjadi kontak antara antigen dengan antibodi IgE akan membentuk kompleks antigenantibodi dimana akan menyebabkan peningkatan kadar Ca2+ sitosol sehingga membran dari sel matosit menjadi tidak stabil yang kemudian terjadi degranulasi mastosit.

Granul eosinofil mengandung mediator inflamasi dan memproduksi leukotrien dalam jumlah banyak. Alergi rhinitis Alergi rhinitis merupakan reaksi terhadap antigen yang masuk ke dalam saluran pernafasan. sel leukosit yang terlibat adalah basofil dan eosinofil. Eosinofil juga mengandung granul sitoplasma. Alergen penyebabnya spesifik. sehingga terjadi akumulasi eosinofil dalam darah. sama halnya dengan basofil dan mastosit. yaitu polen(serbuk sari) dan spora jamur. Musiman / seasonal Terjadi pada negara dengan 4 musim (biasanya terjadi pada musim semi). alergi rhinitis dibedakan menjadi : 1. Granul pada eosinofil berfungsi untuk menghancurkan parasit cacing. 2. dimana dapat meningkatkan permiablitas vaskuler dan menstimulasi kontraksi otot polos.Selain mastosit. Berdasarkan waktu berlangsungnya. Ketika terjadi degranulasi mastosit. Basofil sendiri mengandung granul sitoplasma. Sepanjang tahun / perennial . terjadi rilis peptida yang menstimulasi rilis eosinofil dari sumsum tulang. sehingga keduanya terdegranulasi bersamaan. yang merupakan jumlah sel leukosit yang paling sedikit di dalam darah. Begitu berada di darah. eosinofil akan melekat pada sisi degranulasi mastosit.

terdapat satu gejala atau tanda yang dapat terlihat dengan jelas dan pasti. kemudian antigen tersebut akan di pecah menjadi peptida-peptida sepesifik.Sering ditemukan komplikasinya karena terjadi terus menerus. yang biasa disebut dengan allergic shiners. Rhinitis kronis Peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang terjadi terus menerus. seperti debu. 2. makrofag aka berperan sebagai APC dimana tempat menempelnya alergen yang tertempel di permukaan mukosa hidung. Rhinitis akut Peradangan membran mukosa hidung yang disebabkan virus atau bakteri. mata. bulu binatang peliharaan. ketika alergen kontak untuk yang pertama kali. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya kongesti darah vena di dalam sinus maksilaris. Gejala-gejala awal alergi rhinitis :  Gatal pada hidung. mulut. Menurut sifatnya. kulit  Gangguan penciuman  Hipersekresi mukus  Bersin-bersin  Mata kemerahan dan mengeluarkan air mata Gejala lebih lanjut berupa :  Hidung tersumbat  Batuk  Penurunan indra penciuman  Sakit kepala Pada kedua tipe hay fever tersebut. tenggorokan. Penyakit ini sering menyerang ketika pergantian musim panas ke musim hujan (negara dengan 2 musim) atau menyerang pada musim dingin (negara dengan 4 negara). Berat tanda dan gejala dapat bervariasi pada tiap-tiap musim dan tiap-tiap tahun. yaitu : 1. dan lain-lain. kemudian di . Diakibatkan karena kontak dengan alergen yang sering berada di rumah. rhinitis dibedakan menjadi dua. yaitu adanya lingkaran berwarna gelap di bawah mata pasien.

pada waktu yang bersamaan. dan sekresi sitokin. sel mast yang terdapat di mukosa pernafasan akan teraktivasi yang kemudian sel mast tersebut akan merilis mediator. sel mast akan teraktivasi bila terdapat 2 atau lebih alergen yang terikat. maka akan teraktivasi. sel mast akan dibungkus oleh IgE spesifik unutk mengikat antigen tertentu sehingga meningkatkan sensitivitas sel mast. dimana akan menstimulasi sel B untuk memproduksi antibodi berupa IgE yang spesifik untuk antigen asing. ketika terpapar antigen. .representasikan oleh MHC II untuk membentuk sebuah kompleks yang kemudian dipresentasikan penuh oleh sel Th 0. Th2 akan merilis IL-4 dan IL-13. kemudian rilislah IL-1 yang menyebabkan berproliferasinya sel Th0 menjadi Th1 dan Th2. impuls tersebut dapat menyebabkan degranulasi sel mast. apabila terdapat antigen yang menempel. terjadi cross link antara IgE dan reseptor FC sehingga terjadi perpindahan impuls. sintesis lipid mediator.

dan nyeri pada gigi bagian rahang ketika mengunyah makanan. Penyakit ini disebabkan karena adanya pembengkakan pada saluran nasal.Komplikasi Hay fever 1. Infeksi Sinus atau biasa dikenal dengan sinusitis. Infeksi Telinga tegah atau biasa disebut Otitis media. Penyakit ini disebabkan adanya obstruksi saluran eustachius karena penumpukan mukus. Adanya sinusitis menyebabkan pasien merasakan rasa sakit ketika menggerakan kepala. Penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak dibandingkan orang dewasa karena saluran eustachius pada anak-anak lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Pengobatan . 3. 2. Polip nasal. Penyakit ini disebabkan terjadinya inflamasi pada sinus.

Adanya paparan alergen Obat preventing aksi histamin (Kortikosteroid) Stimulasi antibodi IgE Degranulasi sel mast Obat penstabil sel mast ( Na-cromoglicate) Rilis mediator : Histamin Leukotrien Prostaglandin Bradikinin Obat-obat anti-histamin Sekresi mukus Inflamasi .

4. yaitu alergi rhinitis musiman/seasonal dan lergi rhinitis sepanjang tahun/perennial. alergi rhinitis dibagi menjadi dua. Alergi rhinitis disebabkan oleh serbuk bunga (pollens). Berdasarkan waktu berlangsungnya. yaitu rhinitis akut dan rhinitis kronis 5. 2. debu.Kesimpulan 1. alergi rhinitis dibagi menjadi dua. Alergi rhinitis atau biasa dikenal dengan Hay fever merupakan respon imun terhadap alergen yang masuk ke dalam tubuh khusunya pada saluran respirasi. stabilisator sel mast. dan nasal polyp 7. Alergi rhinitis dapat menyebabkan komplikasi seperti sinusitis. dan bulu hewan. . Berdasarkan sifatnya. Pengobatan alergi rhinitis dengan anti-histamin. 3. dan golongan kortikosteroid. Alergi rhinitis merupakan reaksi hipersensitivitas tipe 1 atau biasa disebut dengan reaksi anafilaksis. otitis media. Terjadinya inflamasi disebabkan oleh degranulasi sel mastosit yang terikat pada antibodi IgE 6.

London.Daftar Putaka E. Blackwell Publishing: USA UK Australia Abbas. Basic Immunology: Functions and Disorders of the Immune System. et al. Gavin. Imunitas: Sarana Organ Beraktivitas. Ivan. 2012. . 2013.2006. UK: Oxford University Press. M. New York Roitt. et al. Philadelphia: Elsevier Saunders. Abdul. 2014. Abbas Abul K and Andrew HL.W. 2013.Cellular and Molecular Immunology 5th. Surabaya: Sandira Surabaya Spickett. Roitt’s Essential Immunology 12th ed. Oxford Handbook of Clinical Immunology and Allergy 3rd ed. Philadelphia: Sauders. K. Lucia.