You are on page 1of 16

MAKALAH ETIKA BISNIS

PELANGGARAN ETIKA PEMASARAN
DI INDONESIA

Oleh :
Kelompok 2 Kelas G / Manajemen Pembangunan
1. El Azhar Nur Ramadhan

( 24.0965 )

2. Kadek Wikanesa Natagalung

( 24.1273 )

3. Sarah Feby Kartika Sembiring

( 24.0449 )

4. Silvia Oktaviani

( 24.0736 )

5. Siti Anisah

( 24.0624 )

6. Sukmawaty Sidampoy

( 24.1765 )

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI
TAHUN AJARAN 2014/2015

pengetahuan dan memperluas ilmu yang dimiliki pembaca. Penyusun menyadari bahwa proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang telah membimbing. Jatinangor.KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas berkat dan rahmatnya. Penulis mohon untuk saran dan kritiknya. mohon maaf apabila makalah ini memiliki kekurangan. penyusun bisa menyelesaikan makalah Etika Bisnis tentang “Pelanggaran Etika Pemasaran di Indonesia”. 17 September 2014 Penyusun . memotivikasi dan memberikan bantuannya baik secara moril maupun materil. Makalah ini disusun agar pembaca dapat menambah keingintahuan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Ucapan terima kasih yang tidak terhingga kami haturkan kepada dosen dan pembimbing yang telah memberikan bantuan sehingga memotivikasi penyusun tetap berkaya dan selalu mengembangkan diri.

......2......16 3...................................................................................................................................................1.................................................................................................6 2............................................................................................................................................................................................................................................................................................ Pengertian Iklan...........................................16 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................6 2......................................................................................7 2..............................................2.....1........3........... Latar Belakang..........................................................4 BAB II PEMBAHASAN............4 1..........................................................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN..................17 . Contoh Kasus Pelanggaran Etika Pemasaran.................... Pemahanan Konsep............................... Kesimpulan....16 3..DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.....................................1......................................................................................................................2 DAFTAR ISI...............................................................................................12 BAB III PENUTUP..................... Saran.....................................

institusi. maka maknanya adalah: 1. larangan beroperasi dan lain sebagainya. Untuk itu kita dituntut bukan saja mempercanggih teknik pemasaran kita tetapi juga memperhatikan tanggung jawab terhadap konsumen dan masyarakat. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan. Penghindaran terhadap penciptaan citra buruk perusahaan. Misalnya diskriminsi dalam sistem jenjang karier. terutama apabila perusahaaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis. kemudian pasar merasa puas. tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat sehingga akan kontra produktif. Sebab pasar merupakan mitra sasaran dan sumber penghasilan yang dapat menghidupi dan mendukung pertubuhan perusahaan. Munculnya kasus-kasus yang melahirkan . Bisnis biasanya memperhatikan tiga hal tersebut jika sudah mengalami kerugian dan reputasi perusahaan mulai menurun. Latar Belakang Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha termasuk dalam berinterkasi dengan pemangku kepentingan. 2. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan. Sebagaimana kita mengetahui bahwa orientasi ilmu pemasaran adalah pasar. pada umumnya termasuk perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula. Penghindaran terhadap perlawanan hukum sipil yang dilakukan perusahaan. misalnya melalui gerakan pemboikotan. Ketika para pebisnis membicarakan mengenai etika bisnis. Penghindaran terhadap pelanggaran hukum kriminal dalam aktivitas kerja seseorang. dan perilaku bisnis. Etika bisnis adalah studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. 3. maka hal ini membuat pasar tetap loyal terhadap produk perusahaan dalam jangka waktu yang panjang. Dan jika pasar dilayani oleh perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai etika bisnis. Oleh karena itu segala upaya dalam bidang pemasaran selalu berorientasi pada kepuasan pasar.1.BAB I PENDAHULUAN 1. Tidak dipungkiri. larangan beredar.

problematik etika bisnis bisa beragam sifatnya. hadirnya tekanan persaingan dalam meraih keuntungan yang melahirkan konflik perusahaan dengan pesaingnya. munculnya pertentangan antara tujuan perusahaan dengan nilai-nilai pribadi yang melahirkan pertentangan antara kepentingan atasan dan bawahannya. . seperti adanya kepentingan pribadi yang berlawanan dengan kepentingan orang lain.

terlebih lagi pada masa depan. Informasi kegunaan dan kualifikasi barang. ternyata satu konsumen bisa cerita kemana-mana melalui blog. Ada tiga kata kunci yang kuat dari konsep Kotler dan Amstrong mengenai pemasaran: 1. dan 3. Etika pemasaran dalam konteks promosi : a. c. Sarana daya tarik barang terhadap konsumen. Pemahanan Konsep Kotler dan Amtsrong mendefinisikan pemasaran (marketing) sebagai proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan. Namun di zaman informasi saat ini. Dalam hal ini. Dulu kita memahami kata bijak ini: satu konsumen yang tidak puas akan bercerita pada sembilan orang lainnya. Informasi fakta yang ditopang kejujuran. b. facebook ataupun media lainnya sehingga diperlukan adanya suatu pembentukan kesan yang baik dari konsumen terhadap produsen. akan peduli terhadap kualitas dan mulai memperhatikan sisi moralitas dan tanggung jawab sosial perusahaan. maka setiap kebijakan dan keputusan haruslah didasarkan pada kode etik yang berlaku dan ditetapkan oleh perusahaan maupun asosiasi profesional. Menciptakan hubungan yang kuat dengan pelanggannya. Masyarakat dan konsumen saat sekarang. Dalam situasi dimana persaingan menjadi lebih ketat dan reputasi perusahaan menjadi modal penting. promosi berbentuk iklan. Akhirnya mendapatkan imbalan dari pelanggan sebagai gantinya. Dalam kenyataannya tidak pernah ada hubungan yang langgeng dari pelanggan terhadap pemasar kalau pembeli tidak diuntungkan sehingga kemungkinan besar merugikan pemasar juga. Salah satu kasus yang kita angkat ini mengenai pelanggaran etika pemasaran dalam konteks promosi. Sarana memperkenalkan barang.BAB II PEMBAHASAN 2. d.1. Pemasar harus memahami dan memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen 2. . dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya.

Iklan dapat berfungsi menginformasikan kepada konsumen atas keberadaan suatu produk/jasa dan apa saja keunggulan produk tersebut (tidak akan disebutkan apa kelemahannya. . 3. dan bertanggungjawab. 2.2.2. dan golongan. “nomor satu”. Pengertian Iklan Menurut Etika Pariwara Indonesia (EPI) iklan adalah pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan melalui sesuatu media. Jujur. Siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa. Bersaing secara sehat. budaya. Akibatnya. b. tetapi iklan tidak akan efektif bila ia tidak mempunyai unsur persuasif. atau kata-kata berawalan “ter“. tidak merendahkan agama. Bahasa a. Iklan umumnya singkat dan padat karena mahalnya biaya pemasangannya di media massa. maka hal itu harus dipahami dengan batasan/koridor di atas. Hal-hal yang diatur mengenai pariwara di Indonesia berdasarkan EPI (Etika Pariwara Indonesia) antara lain: 1. dan tidak menggunakan persandian (enkripsi) yang dapat menimbulkan penafsiran selain dari yang dimaksudkan oleh perancang pesan iklan tersebut. Bila iklan “harus mendidik”. kecuali untuk beberapa jenis produk tertentu yang diatur secara khusus oleh pemerintah – seperti rokok dan obat-obatan). Tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti “paling”. dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. Iklan yang beretika adalah iklan yang menyatakan kebenaran dan kejujuran. negara. Iklan harus disajikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh khalayak sasarannya. dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. ”top”. benar. Dalam kitab Etika Pariwara Indonesia. serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Melindungi dan menghargai khalayak. barang. disebutkan 3 asas utama periklanan yaitu: Iklan dan pelaku periklanan harus: 1. (Pasal 1 ayat (15) Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran). tidak akan ada iklan yang akan menceritakan the whole truth dalam pesan iklannya. Unsur persuasif dalam iklan harus dikemas sedemikian rupa sehingga langsung dapat dimengerti oleh pemirsanya dalam waktu yang sesingkatsingkatnya.

Pemakaian Kata "Gratis" Kata “gratis” atau kata lain yang bermakna sama tidak boleh dicantumkan dalam iklan bila ternyata konsumen harus membayar biaya lain. maka dasar-dasar jaminannya harus dapat dipertanggung. ”murni”.jawabkan.c. 7. Penggunaan kata ”halal” dalam iklan hanya dapat dilakukan oleh produk-produk yang sudah memperoleh sertifikat resmi dari Majelis Ulama Indonesia. menyesatkan. Pengiklan wajib mengembalikan uang konsumen sesuai janji yang telah diiklankannya. Penggunaan Kata ”Satu-satunya” Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata “satu-satunya” atau yang bermakna sama. Kekerasan Iklan tidak boleh secara langsung maupun tidak langsung menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan. Biaya pengiriman yang dikenakan kepada konsumen juga harus dicantumkan dengan jelas. . Garansi Jika suatu iklan mencantumkan garansi atau jaminan atas mutu suatu produk. b. 4. kecuali untuk tujuan positif. 5. ”asli” untuk menyatakan sesuatu kandungan harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik. sehingga konsumen mengetahui apa yang akan diperolehnya dengan harga tersebut 6. tanpa secara khas menyebutkan dalam hal apa produk tersebut menjadi yang satusatunya dan hal tersebut harus dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan. maka ia harus ditampakkan dengan jelas. Pencantum Harga Jika harga sesuatu produk dicantumkan dalam iklan. atau lembaga yang berwenang. dan jangka waktu berlakunya pengembalian uang. ataupun tentang ketidaktersediaan sesuatu produk. maupun memanfaatkan kepercayaan orang terhadap takhayul. antara lain jenis kerusakan atau kekurangan yang dijamin. Syarat-syarat pengembalian uang tersebut harus dinyatakan secara jelas dan lengkap. kinerja. Janji Pengembalian Uang (warranty) a. membingungkan atau membohongi khalayak tentang kualitas. atau harga sebenarnya dari produk yang diiklankan. d. Rasa Takut dan Takhayul Iklan tidak boleh menimbulkan atau mempermainkan rasa takut. Penggunaan kata ”100%”. Tanda asteris hanya boleh digunakan untuk memberi penjelasan lebih rinci atau sumber dari sesuatu pernyataan yang bertanda tersebut. 8. 9. 2. 3. Tanda Asteris (*) Tanda asteris tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan.

atau masyarakat luas. Penampilan dan perlakuan terhadap uang dalam iklan haruslah sesuai dengan norma-norma kepatutan. Kesaksian konsumen harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditanda tangani oleh konsumen tersebut. tanpa maksud untuk melebih-lebihkannya. berwarna ataupun hitam-putih. Iklan pada media cetak tidak boleh menampilkan uang dalam format frontal dan skala 1:1. c. bukan mewakili lembaga. dalam pengertian tidak mengesankan pemujaan ataupun pelecehan yang berlebihan. kecuali dalam penampilan yang bersifat massal. Hiperbolisasi Boleh dilakukan sepanjang ia semata-mata dimaksudkan sebagai penarik perhatian atau humor yang secara sangat jelas berlebihan atau tidak masuk akal. kelompok. Anjuran (endorsement) . utamanya jika ia tidak berkaitan dengan produk yang diiklankan. Kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami. harus jelas mengungkapkan memadainya rentang waktu tersebut. pemborosan. Pemberian kesaksian hanya dapat dilakukan atas nama perorangan. sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dari khalayak yang disasarnya. harus dapat diberikan secara lengkap. b. Penampilan Uang a. b. atau perlakuan yang tidak pantas lain terhadap makanan atau minuman. sepanjang penampilan tersebut tidak merugikan yang bersangkutan. Keselamatan Iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengabaikan segi-segi keselamatan. Penampilan Pangan Iklan tidak boleh menampilkan penyia-nyiaan. c. 16. 17. Penampilan uang pada media visual harus disertai dengan tanda “specimen” yang dapat terlihat Jelas. 11. 13. 15. Iklan tidak boleh menampilkan uang sedemikian rupa sehingga merangsang orang untuk memperolehnya dengan cara-cara yang tidak sah. d. 14. Perlindungan Hak-hak Pribadi Iklan tidak boleh menampilkan atau melibatkan seseorang tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari yang bersangkutan.10. d. golongan. atau sekadar sebagai latar. Kesaksian Konsumen (testimony) a. Waktu Tenggang (elapse time) Iklan yang menampilkan adegan hasil atau efek dari penggunaan produk dalam jangka waktu tertentu. 12. Identitas dan alamat pemberi kesaksian jika diminta oleh lembaga penegak etika. Pemberi kesaksian pun harus dapat dihubungi pada hari dan jam kantor biasa.

b. Peniruan a. Peniruan tersebut meliputi baik ide dasar. slogan. 22. dan dengan kriteria yang tepat sama. c. komposisi huruf dan gambar. klaim atau janji yang diberikan harus terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh penganjur. 21. kemasan. namun hanya terhadap aspek-aspek teknis produk. Dalam pengertian eksekusi termasuk model. Iklan tidak boleh meniru ikon atau atribut khas yang telah lebih dulu digunakan oleh sesuatu iklan produk pesaing dan masih digunakan hingga kurun dua tahun terakhir. sumber dan waktu penelitiannya harus diungkapkan secara jelas. Iklan tidak boleh dengan sengaja meniru iklan produk pesaing sedemikian rupa sehingga dapat merendahkan produk pesaing. Ketaktersediaan Hadiah Iklan tidak boleh menyatakan “selama persediaan masih ada” atau kata-kata lain yang bermakna sama. tidak diperbolehkan mewakili lembaga. 20. bentuk merek. Pernyataan. Pemberian anjuran hanya dapat dilakukan oleh individu. komposisi musik baik melodi maupun lirik. Perbandingan Harga Hanya dapat dilakukan terhadap efisiensi dan kemanfaatan penggunaan produk. 23. logo. maka metodologi. dan properti. Ketiadaan Produk Iklan hanya boleh dimediakan jika telah ada kepastian tentang tersedianya produk yang diiklankan tersebut. Perbandingan Produk a. atau masyarakat luas. 18. Perbandingan langsung dapat dilakukan. judul atau subjudul. atau menciptakan kesan yang berlebihan. 19. Pornografi dan Pornoaksi . 24. Istilah Ilmiah dan Statistik Iklan tidak boleh menyalahgunakan istilah-istilah ilmiah dan statistik untuk menyesatkan khalayak. komposisi musik maupun eksekusi. dan harus diserta dengan penjelasan atau penalaran yang memadai. Merendahkan Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung. konsep atau alur cerita. 25. Jika perbandingan langsung menampilkan data riset. ikon atau atribut khas lain. kelompok. Pengggunaan data riset tersebut harus sudah memperoleh persetujuan atau verifikasi dari organisasi penyelenggara riset tersebut. Perbandingan tak langsung harus didasarkan pada kriteria yang tidak menyesatkan khalayak.a. b. golongan. ataupun menyesatkan atau membingungkan khalayak. setting. b.

(tentang Kesaksian Konsumen) yang berbunyi: “Kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami.2. Iklan tersebut berpotensi melanggar Etika Pariwara Indonesia.10. Contoh Kasus Pelanggaran Etika Pemasaran 2. poliklinik.3. 26. 2. Pelanggaran Etika Pariwara Klinik Tong Fang Pada iklan Klinik Tong Fang ditampilkan pemberian diskon (30%) bagi pembelian obat serta ditampilkan pula beberapa kesaksian konsumen mereka yang sangat tendensius melebih-lebihkan kemampuan klinik tersebut serta bersifat sangat provokatif yang cenderung menjatuhkan kredibilitas pengobatan konvensional. aktivitas seksual.A. atau tampil pada segmen waktu siaran khalayak anak-anak dan menampilkan adegan kekerasan. bahasa yang tidak pantas.1. 1.17. tanpa maksud untuk melebih-lebihkannya”. atau rumah sakit tidak boleh mengiklankan promosi penjualan dalam bentuk apa pun” dan Bab III.3. kekurangpengalaman. Menurut KPI.3. No. Banyak iklan yang mempromosikan produk mereka dengan cara membandingkan nya dengan produk saingannya.3.Iklan tidak boleh mengeksploitasi erotisme atau seksualitas dengan cara apa pun.2. Iklan yang ditujukan kepada khalayak anak-anak tidak boleh menampilkan halhal yang dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka.1.A. (tentang Klinik. No. dan atau dialog yang sulit wajib mencantumkan kata-kata “Bimbingan Orangtua” atau simbol yang bermakna sama. dan untuk tujuan atau alasan apa pun. Khalayak Anak-anak a. Poliklinik dan Rumah Sakit) yang berbunyi: “Klinik. Iklan yang ditujukan kepada. atau kepolosan mereka. b. . iklan tersebut tidak etis karena menampilkan promosi dan testimoni yang berisi jaminan kesembuhan dari pasien.2. 8 TAHUN 1999 tentang perlindungan konsumen Pasal 9 ayat 8 yang berbunyi “secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan atau jasa lain”). khususnya terkait dengan Bab III. Pelanggaran Etika Pariwara operator seluler XL dan AS Permasalahan yang terjadi: (pelanggaran terhadap UU RI NO. 2. memanfaatkan kemudahpercayaan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah melayangkan surat teguran kepada stasiun televisi yang menampilkan iklan Klinik Tong Fang.

Pasal 10. Ada beberapa iklan yang dianggap mengejek produk lain yang sejenis dengan produk mereka dengan cara menyindir (berupa kata-kata). hanya membuat perumpamaan yang menggunakan warna AS dalam iklan versi sulap. iklan kini tidak lagi memperhatikan etikanya dalam hal promosi yang sebenarnya. Awalnya XL membuat iklan Sule diwawancarai Baim. Kronologinya seperti ini: 1. Setelah iklan Sule As ramai dibicarakan. Sebagai contoh: Sebelumnya.000. dalam iklan ini tidak ada unsur menjelekkan kartu AS. Pasal 15. 4.000. Hingga saat ini aksi saling sindir dalam iklan dengan produk sejenispun masih kerap terjadi. Pasal 17 ayat (1) huruf a. iklan kedua operator tesebut semakin menarik perhatian akibat aksi saling sindir yang berlebihan dan melanggar etika yang seharusnya. ayat (2). As menyindir XL dengan kata-kata: Sule : “Saya kapok dibohongin ama anak kecil”.00 (dua miliar Rupiah). merendahkan iklan produk saingannya (dangan cara mengutip kata-kata dari iklan produk tersebut). Dengan kata lain ia menyindir iklan XL sewaktu Baim mewawancarainya. Iklan tersebut berlomba-lomba menunjukkan kebaikan produk dari perusaahan sendiri dan menjelekkan produk dari perusahaan lain. Hal ini dikarenakan. 2. Menyindir dengan warna kerap digunakan operator untuk menyerang satu sama lain. Persaingan tidak sehatpun terjadi. Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. iklan-iklan antara XL dan AS tidak terlalu menarik perhatian pemirsa. XL pun mengeluarkan iklan lagi tetapi tidak menyindir As secara frontal. 2. Karena persaingan antar perusahaan untuk menarik dan meningkatkan penjualan sebanyak-banyaknya. Beberapa bulan kemudian muncul iklan dari kartu As dengan bintang Sule yang sebelumnya kita tahu ada di iklan kartu XL. menampilkan gambar produk lain (dengan sedikit disamarkan). 3. iklan hanya berisi informasi-informasi mengenai layanan-layanan yang ditawarkan kedua operator tersebut. Pasal 9. Setelah iklan XL versi sulap keluar.000. dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. Iklan yang seharusnya informatif dan kreatif.2. Dalam iklan ini. huruf b. Pasal 13 ayat (2). akhirnya AS mengeluarkan beberapa iklan sebagai pembalas sindiran iklan XL. Namun akhir-akhir ini. huruf e. menjadi tidak lagi demikian karena . huruf c.

Pelanggaran Etika Pariwara pada produk HIT Produk HIT dianggap merupakan anti nyamuk yang efektif dan murah untuk menjauhkan nyamuk dari kita. Akibat . Megasari Makmur sudah melanggar beberapa pasal. Hal itu membuat kita dapat melihat dengan jelas bahwa pemerintah tidak sungguh-sungguh berusaha melindungi masyarakat umum sebagai konsumen. meskipun masih ada iklan yang tetap mempertahankan etika yang seharusnya. gangguan pernapasan. Departemen Pertanian juga telah mengeluarkan larangan penggunaan Diklorvos untuk pestisida dalam rumah tangga sejak awal 2004 (sumber : Republika Online). gangguan terhadap sel pada tubuh. ternyata murahnya harga tersebut juga membawa dampak negatif bagi konsumen HIT. 2.hanya mementingkan keuntungan perusahaan dengan cara yang frontal.3. 2 zat ini berakibat buruk bagi manusia. PT. yaitu: 1) Pasal 4.1 A (jenis semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Produsen masih dapat menciptakan produk baru yang berbahaya bagi konsumen tanpa inspeksi pemerintah. Keamanan. dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang/jasa” Ayat 3 : “hak atas informasi yang benar. hak konsumen Ayat 1: “hak atas kenyamanan. Pelanggaran ini termasuk dalam ammoral management dalam etika bisnis karena pihak – pihak yang terlibat seharusnya sangat mengerti dengan prosedur dan kodeetik perikalanan. jelas. Tetapi. kanker hati dan kanker lambung. dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa” PT. yaitu Propoxur dan Diklorvos. antara lain keracunan terhadap darah. Jika dilihat menurut UUD . Padahal hal ini dapat menimbulkan kebingungan publik dan pandangan negatif terhadap produsen dalam iklan produk tersebut. Megasari Makmur tidak pernah memberi peringatan kepada konsumen tentang adanya zat-zat berbahaya di dalam produk mereka. Telah ditemukan zat kimia berbahaya di dalam kandungan kimia HIT yang dapat membahayakan kesehatan konsumennya. gangguan syaraf. akan tetapi mereka dengan sengaja melanggar salah satu dari kode etik tersebut.3. Obat anti-nyamuk HIT yang dinyatakan berbahaya yaitu jenis HIT 2.

2) Pasal 7. perbaikan dan pemeliharaan” PT. 3) Pasal 8 Ayat 1 : “pelaku usaha dilarang memproduksi / memperdagangkan barang/jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan” PT. jelas. produk HIT tersebut sudah ditarik dari peredaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Megasari Makmur tetap meluncurkan produk mereka walaupun produk HIT tersebut tidak memenuhi standard an ketentuan yang berlaku bagi barang tersebut. dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa serta memberi penjelasan penggunaan. dimana seharusnya apabila sebuah kamar disemprot dengan pertisida. pencemaran.nya kesehatan konsumen dibahayakan dengan alas an mengurangi biaya produksi HIT. Megasari Makmur tidak pernah menberi indikasi penggunaan pada produk mereka. atau perawatan kesehatan dan pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku” Ayat 3 : “pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 hari setelah tanggal transaksi” Menurut pasal tersebut PT. harus dibiarkan selama setengah jam sebelum boleh dimasuki lagi. . 4) Pasal 19 Ayat 1 : “pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan. tetapi mereka tetap menjual walaupun sudah ada korban dari produknya. Megasari Makmur harus memberikan ganti rugi kepada konsumen karena telah merugikan para konsumen. Seharusnya. dan kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang/jasa yang dihasilkan atau di perdagangkan” Ayat 2 : “ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang/jasa yang sejenis atau setara nilainya. kewajiban pelaku usaha Ayat 2 : “memberikan informasi yang benar.

2. 3. Kesimpulan a. d. Diberikan Penghargaan kepada iklan-iklan kreatif tanpa menjatuhkan ikklan lainnya.1. Hal ini melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh EPI (Etika Pariwara Indonesia).Akhir ini sangat marak iklan iklan yang saling menjatuhkan dan merendahkan antara sesama produk sejenis. hal ini agar dapat memotifasi insan periklanan agar lebib baik lagi kedepannya. Pelanggaran etika bisnis itu dapat melemahkan daya saing hasil industry di pasar internasional. Pengabdian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat masyarakat. b. c. tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Sejauh ini belum ada pihak yang menuntut ke pihak yang berwajib. Sebaiknya perusahaan/orang yang akan membuat iklan dapat memikirkan ide yang lebih kreatif untuk mempromosikan produk/jasa mereka tanpa harus menjatuhkan produk/jasa saingannya. Ini bias terjadi sikap para pengusaha kita. . Disadari atau tidak. e. Lebih extreme bila pengusaha Indonesia menganggap remeh etika bisnis yang berlaku secara umum dan tidak mengikat itu. para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan Negara. Kencendrungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat ke prihatinan banyak pihak. b.BAB III PENUTUP 3. Saran a. Akhir . Dinyatakan bahwa pelanggaran etika periklanan adalah pelanggaran.

Etika Bisnis Pendekatan Substantif dan Fungsional. . Graha Ilmu. Band. 1991. Gramedia Pustaka Utama. 1998. 2003. Membangun Kepuasan Pelanggan. CV. 2004. Oliver. Jakarta. Yogyakarta. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya. Cetakan ke-6. Sony A. Manajemen penelitian.DAFTAR PUSTAKA Alma. Arikunto. Yogyakarta. Alfabeta. Keraf. Kanisius. Bandung. Suharsimi. Edisi Baru. Muslich. Edisi Pertama. Jakarta. Buchari. Rineka Cipta. 1998.