You are on page 1of 2

Analisis Film Forrest Gump berdasarkan Teori Erich Fromm

Menurut Erich Fromm, salah satu hakikat manusia yang bersifat dualistik adalah kebutuhan
manusia. Kebutuhan manusia dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan akan kebebasan dan
kebutuhan akan keterikatan. Salah satu bagian dari kebutuhan tersebut adalah Keberakaran
(rootedness). Keberakaran menurut Fromm adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan
yang membuatnya merasa nyaman di dunia (merasa seperti di rumahnya). Keberakaran adalah
kebutuhan untuk mengikat diri dengan kehidupan. Setiap saat orang dihadapkan dengan dunia
baru, dimana dia harus tetap aktif dan kreatif mengembangkan perasaaan menjadi bagian yang
integral dari dunia. Dengan demikian, individu akan tetap merasa aman, tidak cemas ketika
berada di tengah-tengah dunia yang penuh dengan ancaman. Pada film Forrest Gump,
ditunjukkan ketika salah satu teman kecilnya yang mau berteman akrab dengan Forrest hingga
akhirnya menjadi kawan dekat, lalu pada akhirnya berubah menjadi cinta. Hal tersebut membuat
mereka menjadi dekat dan terikat sebagai sahabat baik. Teman tersebut adalah Jenny. Dari hal
tersebut dapat dikatakan bahwa meskipun Forrest yang memiliki masa lalu yang rumit
merasakan kenyamanan pada diri Jenny.

Salah satu kondisi eksistensi manusia menurut Erich Fromm adalah Hidup dan Mati. Menurut
Fromm, kesadaran diri dan pikiran manusia telah mengetahui bahwa dia akan mati, tetapi
manusia berusaha mengingkarinya dengan meyakini bahwa adanya kehidupan setelah mati, dan
usaha-usaha yang tidak sesuai dengan fakta bahwa kehidupan akan berakhir dengan kematian.
Hal ini terdapat pada bagian dari film Forrest Gump, yaitu terdapat pada sebuah dialog berkesan
terakhir yang terjadi antara Forrest dan ibunya. Ketika ibu Forrest sekarat karena kanker, ia
mengatakan “Dead is part of life”. Ia mengatakan bahwa kematian adalah bagian dari
kehidupan. Setiap orang akan memiliki takdirnya masing-masing. Dan tidak lama setelah itu,
ibu Forrest pun meninggal dunia. Hal tersebut terkandung bahwa ibu Forrest meyakini jika
kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Ia meyakini bahwa masih ada kehidupan setelah
kematian, dan kematian hanyalah bagian dari kehidupan.

Salah satu bagian dari pendapat Erich Fromm mengenai kebutuhan untuk memahami dan
beraktivitas adalah Kerangka Kesetiaan (Frame of Devotion). Menurut Fromm, kerangka
kesetiaan adalah kebutuhan untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak. Orang membutuhkan
sesuatu yang dapat menerima seluruh pengabdian hidupnya, sesuatu yang membuat hidupnya
menjadi bermakna. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian makna
hidup, menjadi dasar dari nilai-nilai dan titik puncak semua perjuangan. Dalam film Forrest
Gump, kejadian ini ditunjukkan pada saat pernikahan Forrest dan Jenny yang bukan hanya

sebuah kesedihan. Forrest tetap menerima Jenny apa adanya. Tidak ada wanita yang lebih dicintai Forrest selain ibunya dan Jenny . Bagaimana pun masa lalu Jenny. melainkan Forrest sangatlah mencintai Jenny.