You are on page 1of 16

MAKALAH

KONSEP DAKWAH DALAM ISLAM


Diajukan untuk memenuhi sebagian dari tugas mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam
Dosen Pembimbing:
Hilman Taufiq Abdillah, S. Ag.

Disusun oleh:
(Kelompok 14)
Eka Nugraha (1104351)
Gia M Ramdhan (1106632)

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK ELEKTRO


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 1


KATA PENGANTAR ................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .............................................................................................................. 4
C. Tujuan ................................................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................ 5
A. Pengertian Konsep Dakwah .............................................................................................. 5
B. Alasan harus berdakwah .................................................................................................... 6
C. Fungsi dan Tujuan Dakwah ............................................................................................... 7
D. Metode Dakwah yang Baik dalam Islam ........................................................................... 9
E. Urgensi Dakwah .............................................................................................................. 10
F. Media Dakwah ................................................................................................................. 11
G. Efek Dakwah.................................................................................................................... 12
BAB III PENUTUP .................................................................................................................. 13
A. Kesimpulan ...................................................................................................................... 13
B. Saran ................................................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 15

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. karena berkat rahmat dan hidayahNya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul Konsep Dakwah dalam Islam.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada para para nabi, para rasul, dan pengikut
mereka hingga hari akhir. Shalawat dan salam paling sempurna semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw., yang tak kenal lelah menyampaikan risalah,
amanat, dan nasihat kepada seluruh manusia. Semoga Allah Swt. memberinya kebaikan,
wasilah, keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan yang terpuji. Sesungguhnya Allah tidak
pernah mengingkari janji-Nya.
Penyebaran suatu keyakinan tidak lepas dari banyaknya pengikut dan penyebar agama
tersebut. Penyebaran ajaran keyakinan tersebut membutuhkan suatu metode dan pendekatan
yang baik dan tepat agar ajaran yang disampaikan dapat mengena di hati yang menerima
ajaran tersebut dan dapat mengikuti ajaran tersebut dengan keyakinan yang sepenuh hati dan
tidak ada keraguan lagi. Dalam Islam penyebaran keyakinan ini biasa disebut dengan
dakwah.
Dakwah merupakan sesuatu yang sangat berpengaruh dalam islam. Maka dari itu
peran dakwah tidak dapat dianggap remeh, karena kemajuan ataupun kesejahteraan umat
muslim dapat dinilai dengan melihat perkembangan dan tersebarnya suatu dakwah. Selain itu,
kebenaran suatu dakwah tidak boleh ada penyelewengan sedikit pun, karena hal itu akan
berdampak sangat buruk kedepannya bagi Islam dan umatnya sendiri.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak
kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu,
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah
ini. Akhirnya semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca.
Amin

Bandung, 16 Mei 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah sebagai usaha terwujudnya ajaran Islam pada semua segi kehidupan
manusia, merupakan kewajiban bagi setiap muslim (Abu Zahrah, t.th: 129; Mulyana, 1999:
54). Dakwah yang dilakukan oleh setiap muslim harus berkesinambungan, yang bertujuan
mengubah perilaku manusia berdasarkan pengetahuan dan sikap yang benar, yakni untuk
membawa manusia mengabdi kepada Allah secara total.
Perjalanan dakwah sangat panjang, bahkan lebih panjang dari umur dai. Perjalanan
itu dimulai jauh sebelum kita lahir ke dunia, yakni saat Allah swt. mengutus Adam as.
pembawa risalah Allah yang mendakwahkan dan menegakkan kalimat tauhid (QS. 21: 25).
Ciri khas dakwah, pada hakekatnya, adalah bertujuan

meningkatkan keimanan dan

ketaqwaan terhadap Allah swt.


Islam adalah agama dakwah. Islam tidak memusuhi, tidak menindas unsur-unsur
fitrah. Islam mengakui adanya hak dan wujud jasad, nafsu, akal dan rasa dengan fungsinya
masing-masing. Dakwah dalam pengertian amar maruf nahi munkar adalah syarat mutlak
bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ini merupakan kewajiban fitrah
manusia sebagai makhluk sosial (makhluk ijtimai) (Natsir, 1977: 26). Untuk mencapai
tujuan ini, perlu direnungkan betapa pentingnya dakwah dalam kehidupan seorang muslim.
Oleh karena itu, tidak tepat jika ada asumsi bahwa dakwah ditujukan hanya kepada orang
non muslim, sedangkan orang muslim sejak lahir hidup dalam keluarga muslim, tidak lagi
membutuhkan dakwah.
Yang perlu dipahami bahwa dakwah harus dimulai dari diri sendiri sebelum
berdakwah kepada orang lain. Oleh karena itu, berdakwah secara berkesinambungan, bukan
pekerjaan yang mudah. Berdakwah tidak cukup hanya dilakukan dengan lidah, tetapi juga
harus praktekkan dalam bentuk perbuatan. Berdakwah merupakan sesuatu yang sangat
penting demi tercapainya tujuan dakwah Islam. Dalam hubungan ini, seorang dai harus
benar-benar memiliki akhlak yang terpuji sehingga dapat menjadi panutan bagi orang-orang
yang didakwahinya.

Agar dakwah berhasil, diperlukan berbagai elemen yang terkait dengan unsur-unsur
dakwah yang merupakan satu kesatuan konsep yang utuh.
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan
bagaimana konsep dakwah dalam Islam serta unsur-unsur yang terkait di dalamnya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis merumuskan beberapa
rumusan masalah yang diharapkan bisa memudahkan dalam pemahaman dan penganalisian
materi yang dibahas. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan konsep dakwah ?
2. Mengapa kita harus berdakwah ?
3. Apa fungsi dan tujuan dakwah ?
4. Bagaimana metode dakwah yang baik dalam islam ?
5. Bagaimana urgensi dakwah dalam islam ?
6. Media apa saja yang bisa digunakan untuk berdakwah ?
7. Bagaimana dampak/efek yang timbul ketika berdakwah ?
C. Tujuan
Adapun mengenai tujuan dari penulisan makalah ini, penulis memiliki tujuan sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui konsep dakwah
2. Untuk mengetahui alasan kita harus berdakwah
3. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan dari dakwah
4. Untuk mengetahui metode dakwah yang baik dalam islam
5. Untuk mengetahui urgensi dakwah
6. Untuk mengetahui media yang bisa dimanfaatkan dalam berdakwah
7. Untuk mengetahui dampak dari dakwah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konsep Dakwah
Konsep dakwah terdiri dari dua suku kata yaitu konsep dan dakwah. Konsep secara
etimologi berarti rancangan, ide, atau apapun yang digunakan akal budi untuk memahami
sesuatu (P3B, 1989: 456). Sejalan dengan itu Muin Salim mendefenisikan konsep sebagian
ide pokok yang mendasari satu gagasan atau ide umum (Salim, 1990: 17). Dengan demikian
konsep adalah suatu hal yang sangat mendasar yang dijadikan patokan dalam melaksanakan
sesuatu.
Secara etimologi dakwah berasal dari Bahasa Arab dawah yang asal katanya adalah

- -

yang berarti seruan, ajakan, atau panggilan (Depag RI, QS. 10: 25; 12:

23; 2: 221; Umar 1987: 52). Selanjutnya M. Natsir lebih cenderung mengartikan dakwah
adalah amar nahi mungkar Luth, 1999: 67). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
dakwah merupakan suatu usaha menyampaikan ajaran Islam yang dilakukan secara sadar dan
terencana dengan menggunakan cara-cara tertentu untuk mempengaruhi orang lain agar dapat
mengikuti apa yang menjadi tujuan dakwah tersebut tanpa ada paksaan.
Dakwah dalam konteks demikian mempunyai pemahaman yang mendalam, yaitu
bahwa dakwah amar maruf, tidak sekedar asal menyampaikan saja, melainkan memerlukan
beberapa syarat yaitu mencari materi yang cocok, mengetahui keadaan subjek dakwah secara
tepat, memilih metode yang representatif, dan menggunakan bahasa yang bijaksana.
Pemakaian kata dakwah dalam masyarakat Islam, terutama di Indonesia merupakan
suatu yang tidak asing. Arti dari kata dakwah yang dimaksudkan adalah seruan dan ajakan.
Kalau kata dakwah diberi arti seruan, maka yang dimaksudkan adalah seruan kepada Islam
atau seruan Islam. Demikian juga halnya kalau diberi arti ajakan, maka yang dimaksud
adalah ajakan kepada Islam atau ajakan Islam. Karenanya, Islam disebut sebagai agama
dakwah, maksudnya agama yang disebarluaskan melalui dakwah.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dakwah
merupakan himbauan untuk melakukan perubahan dari kedhaliman menuju keadilan, dari
kebodohan kepada kemajuan, menuju keselamatan dunia dan akhirat.

B. Alasan kita harus berdakwah


Pijakan dasar pelaksanaan kenapa kita harus berdakwah adalah Al-Quran dan Hadist.
Dua landasan normatif tersebut memberikan dalil naqli yang ditafsirkan sebagai bentuk
perintah untuk berdakwah yang di dalamnya juga memuat tata cara dan pelaksanaan kegiatan
dakwah.
Perintah untuk berdakwah pertama kali ditujukan kepada para utusan Allah, kemudian
kepada umatnya baik secara umum, berkelompok atau berorganisasi. Ada pula yang
ditujukan kepada individu maupun keluarga dan sanak famili. Dasar hukum pelaksanaan
dakwah tersebut adalah:
Pertama, perintah dakwah yang ditujukan kepada para utusan Allah tercantum pada
Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 67:

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika
tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan
amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. al-Maidah: 67)
Kedua, perintah dakwah yang ditunjukkan kepada umat Islam secara umum tercantum
dalam Al-Quran Surat Nahl ayat 125 :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan berbantahlah kepada mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah
yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al-Nahl: 125)

Ketiga, perintah dakwah yang ditunjukkan kepada muslim yang sudah berupa panduan
praktis tercantum dalam hadits yang artinya:


Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah
dengan tangannya, apabila tidak mampu (mencegah denagn tangan) maka hendaklah
ia merubah dengan lisannya, dan apabila (dengan lisan) tidak mampu maka hendaklah
ia merubah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman. (H.R. Muslim).
Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa dasar hukum pelaksanaan dakwah
sangat kuat, yaitu al-Quran dan hadits. Selain ayat-ayat dan hadits di atas, masih banyak pula
ayat atau hadits lain.
C. Fungsi dan Tujuan Dakwah
Sejak Rasulullah secara resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul, maka sejak itulah
timbul dakwah, kemudian bergeraklah juru-juru dakwah menyebarkan ajaran Islam ke
penjuru dunia. Nabi sendiri tidak ingin dinamika dakwah berhenti sepeninggalnya. Sebelum
ia meninggal di hadapan umat ia menyerahkan estafet dakwah kepada umatnya.
Islam sendiri menghendaki tatanan masyarakat yang ideal baik akidahnya, ibadah,
maupun akhlaknya. Namun dalam sejarah kemanusiaan, masyarakat demikian belum pernah
terwujud secara utuh. Karenanya, dakwah selalu diperlakukan untuk meningkatkan kualitas
spiritual manusia secara perorangan maupun masyarakat.
Penyebaran dakwah sendiri setidaknya memiliki tiga fungsi sebagai berikut:
1.

Dakwah berfungsi untuk menyebarkan Islam kepada manusia sebagai individu dan
masyarakat sehingga mereka merasakan rahmat Islam sebagai rahmat bagi seluruh
alam.

2.

Dakwah berfungsi melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi ke generasi kaum


muslimin berikutnya sehingga kelangsungan ajaran Islam beserta pemeluknya dari
generasi ke generasi berikutnya tidak putus.

3.

Dakwah berfungsi korektif, artinya meluruskan akhlak yang bengkok, mencegah


kemungkaran dan mengeluarkan manusia dari kegelapan rohani (M. Ali Aziz, 2004:
59-60)..
7

Sedangkan mengenai tujuan dakwah adalah sebagaimana diturunkannya Islam bagi


umat manusia sendiri, yaitu untuk membuat manusia memiliki kualitas akidah, ibadah serta
akhlak yang tinggi (M. Ali Aziz, 2004: 61).
Menurut Bisri Afandi (1984: 3) bahwa yang diharapkan oleh dakwah adalah
terjadinya perubahan dalam diri manusia, baik kelakuan adil maupun aktual, baik pribadi
maupun keluarga masyarakat, cara berpikirnya berubah, cara hidupnya berubah menjadi lebih
baik ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitas. Yang dimaksud adalah nilai-nilai agama
sedangkan kualitas adalah bahwa kebaikan yang bernilai agama itu semakin dimiliki banyak
orang dalam segala situasi dan kondisi.
Dakwah merupakan element vital bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam. Oleh
sebab itu, dakwah sebagaimana dikemukakan oleh Moh. Ali Aziz memiliki tujuan sebagai
berikut:
1.

Mengajak orang-orang bukan Islam untuk memeluk agama Islam (mengislamkan


non muslim).

2.

Mengislamkan orang Islam artinya meningkatkan kualitas iman, Islam, dan ihsan
kaum muslim sehingga mereka menjadi orang-orang yang mengamalkan Islam
secara keseluruhan (kaffah).

3.

Menyebarkan kebaikan dan mencegah timbul dan tersebarnya bentukbentuk


kemaksiatan yang akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan individu dan
masyarakat sehingga menjadi masyarakat yang tentram dengan penuh keridhaan
Allah.

4.

Membentuk individu dan masyarakat agar menjadikan Islam sebagai pegangan dan
pandangan hidup dalam segala segi kehidupan baik politik, ekonomi, sosial dan
budaya (M. Ali Aziz, 2004: 68-69)..
Dari keterangan di atas dapat ditegaskan bahwa fungsi dakwah adalah untuk

menyebarkan Islam dan melestarikannya, dan juga melakukan koreksi terhadap


penyimpangan akhlak. Adapun mengenai tujuan dakwah ialah sebagaimana diturunkannya
Islam yaitu untuk membuat manusia memiliki akidah, ibadah dan akhlak.
8

D. Metode Dakwah
Metode dakwah merupakan jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk
menyampaikan ajaran atau materi dakwah Islam. Pemilihan metode yang tepat sangat penting
peranannya dalam menyampaikan pesan dakwah. Sebab, suatu pesan walaupun baik, tetapi
disampaikan lewat metode yang tidak benar, pesan itu bisa saja ditolak oleh si penerima
pesan. Karenanya, kejelian dan kebijakan juru dakwah dalam memilih metode penyampaian
dakwah sangat mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan dakwah.
Menurutnya M. Yunan Yusuf (2003: vii), bahwa persoalan prinsip yang harus
diperhatikan dalam berdakwah, yaitu pilihan metode yang digunakan. Penggunaan metode ini
dapat dianalogikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata
memberikan sesuatu lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri. Semangkuk teh
pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang
dibuat-buat, akan lebih terasa enak disantap ketimbang seporsi makanan lezat, mewah dan
mahal harganya, tetapi disajikan dengan cara kurang ajar dan tidak sopan. Analogi ini
mensiratkan bahwa tata cara atau metode lebih penting dari materi yang dalam bahasa Arab
dikenal alThariqah ahammu min al-maddah. Ungkapan ini sangat relevan dengan kegiatan
dakwah, sehingga dapat memilih metode dakwah yang efektif, simpatik dan empatik.
Pada umumnya, para ulama dalam membahas metode dakwah merujuk pada alQuran surat al-Nahl ayat 12:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. al-Nahl: 125).
Ayat di atas menyebutkan bahwa metode dakwah ada tiga, yaitu; dengan hikmah
(bijaksana), dengan mauidzah hasanah (nasihat yang baik) dan dengan mujadalah (diskusi).
Pertama, metode hikmah. Hikmah sendiri menurut pengertian seharihari adalah
bijaksana. Metode hikmah yaitu berdakwah dengan memperhatikan memperhatikan situasi
dan kondisi sasaran dakwah dengan menitikberatkan pada kemampuan mereka, sehingga di
9

dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam, tidak merasa terpaksa atau keberatan. Sukses
dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad ialah karena merupakan manusia sempurna dalam
bidang hikmah ini, artinya orang sangat bijaksana.
Kedua, metode mauidhah hasanah, yaitu berdakwah dengan cara memberikan
nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan rasa kasih sayang kepada
masyarakat luas sehingga bisa menyentuh. Mauidhah hasanah dapat dikembangkan
pelaksanaannya dalam lembagalembaga formal seperti lembaga pendidikan dan sebagaimana
dengan mengajarkan al-Quran dengan arti yang luas.
Ketiga, metode mujadalah, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan
membantah dengan cara yang sebaik-baiknya dengan tidak memberikan tekanan-tekanan dan
tidak pula dengan menjalankan yang menjadi sasaran dakwah.

Di antara manusia ada

golongan yang tidak mudah menerima panggilan dan keterangan hikmah, ilmiah, juga tidak
mudah dipanggil dengan seruan mauidhah hasanah. Mereka ini harus dihadapi dengan
mujadalah atau diskusi dan bertukar pikiran. Kepadanya harus ditunjukkan argumentasi yang
meyakinkan. Pintu kalbunya harus dibuka dengan cara yang bijaksana untuk menerima nilainilai baru sebagai suatu kebenaran yang harus ia yakini dan diamalkan. Karenanya, setiap
pembawa risalah harus menggunakan ilmu dan diskusi (M. Ali Aziz, 2004: 135-136).
Ketiga metode di atas merupakan metode pokok dalam berdakwah yang dapat dapat
dikembangkan dan dirinci menjadi metode-metode lain yang lebih luas dan disesuaikan
dengan perkembangan lingkungan.
E. Urgensi Dakwah dalam Islam
Betapapun baiknya suatu ide, jika tidak dikembangkan, ide tersebut akan tetap tinggal
sebagai ide. Oleh karena itu, Ide yang baik perlu selalu dipublikasikan agar dikenal oleh
masyarakat luas.
Semua manusia yang normal, membutuhkan petunjuk Allah swt., karena hanya
dengan petunjuk-Nya-lah seseorang dapat mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat.
Sejarah perkembangan agama tauhid, menunjukkan bahwa kebenaran yang diturunkan Allah
swt. terus-menerus dapat dikembangkan dengan baik, disebarluaskan melalui dakwah oleh
para Nabi, ulama dan muballigh.

10

Dakwah Islam menentukan tegak atau runtuhnya suatu masyarakat. Islam tidak bisa
berdiri tegak tanpa jamaah dan tidak bisa membangun masyarakat tanpa dakwah. Oleh
karena itu, dakwah adalah kewajiban bagi umat Islam (Zaidan, 1979: 98).
Seiring dengan itu M. Natsir mengatakan bahwa posisi dakwah dalam Islam, sangat
penting. Disebut demikian, karena dakwah Islam menurut beliau akan ikut menentukan jatuh
bangunnya suatu masyarakat dalam suatu bangsa.
Di dalam Alquran dan sunah ditemukan bahwa dakwah Islam menduduki tempat dan
posisi yang utama dan strategis. Keindahan dan kesesuaian Islam dengan perkembangan
zaman baik dalam sejarah maupun prakteknya, sangat ditentukan oleh kegiatan dakwah yang
dilakukan umat Islam.
F. Media Dakwah
Media dakwah merupakan peralatan yang digunakan untuk

menyampaikan

materi dakwah, seperti televisi, radio, surat kabar dan film. Media dakwah merupakan salah
satu unsur penting yang harus diperhatikan dalam aktivitas dakwah. Sebab sebaik apapun
metode, materi, dan kapasitas seorang dai jika tidak menggunakan media yang tepat
seringkali hasilnya kurang maksimal. Media itu sendiri memiliki relativitas yang sangat
bergantung dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
Media merupakan alat obyektif yang menghubungkan ide dengan audien, atau dengan
kata lain suatu elemen yang menghubungkan urat nadi dalam totaliter (Hamzah Yakub,
1998: 47-48). Berdasarkan hal itu, media dakwah dapat diklasifikasikan sebagai berikut;
1) Dakwah melalui saluran lisan, yaitu dakwah secara langsung di mana dai
menyampaikan ajakan dakwahnya kepada madu.
2) Dakwah melalui saluran tertulis, yaitu kegiatan dakwah yang dilakukan melalui
tulisan-tulisan.
3) Dakwah melalui alat visual, yaitu kegiatan dakwah yang dilakukan dengan melalui
alat-alat yang dapat dilihat dan dinikmati oleh mata manusia.
4) Dakwah melalui alat audio, yaitu alat yang dapat dinikmati melalui perantaraan
pendengaran.
5) Dakwah melalui alat audio visual, yaitu alat yang dipakai untuk menyampaikan
pesan dakwah yang dapat dinikmati dengan mendengar dan melihat.
11

6) Dakwah melalui keteladanan, yaitu bentuk penyampaian pesan dakwah melalui


bentuk percontohan atau keteladanan dari dai (Aminudin Sanwar, 1986: 77-78).
Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa media dakwah merupakan peralatan
yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah. Peralatan dalam penyampaian dakwah
sendiri bermacam-macam jumlahnya, dan peralatan dakwah ini merupakan unsur penting
yang harus diperhatikan dalam dakwah.
G. Efek Dakwah
Mengenai efek dakwah, bahwa setiap aksi dakwah akan menimbulkan reaksi.
Demikian jika dakwah telah dilakukan oleh seorang dai dengan materi dakwah, wasilah,
thariqah tertentu, maka akan timbul respons dan efek (atsar) pada madu (mitra atau
penerima dakwah).
Atsar sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab yang berarti bekasan, sisa, atau
tanda. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk menunjukkan suatu ucapan atau perbuatan
yang berasal dari sahabat atau tabiin yang pada perkembangan selanjutnya dianggap sebagai
hadits, karena memiliki ciri-ciri sebagai hadits (Abuddin Nata, 1998:363).
Atsar (efek) sering disebut dengan feed back (umpan balik) dari proses dakwah ini
sering dilupakan atau tidak banyak menjadi perhatian para dai. Kebanyakan mereka
menganggap bahwa setelah dakwah disampaikan, maka selesailah dakwah. Padahal, efek
sangat besar artinya dalam penentuan langkah-langkah dakwah berikutnya. Tanpa
menganalisis efek dakwah maka kemungkinan kesalahan strategi yang sangat merugikan
pencapaian tujuan dakwah akan terulang kembali. Sebaliknya, dengan menganalisis efek
dakwah secara cermat dan tepat maka kesalahan strategis dakwah akan segera diketahui
untuk diadakan penyempurnaan pada langkah-langkah berikutnya (correctiveaction)
demikian juga strategi dakwah termasuk di dalam penentu unsur-unsur dakwah yang
dianggap baik dapat ditingkatkan (M. Ali Aziz, 2004: 138-139).
Dari keterangan di atas, efek (atsar) dakwah merupakan akibat dari pelaksanaan
proses dakwah yang terjadi pada obyek dakwah. Efek tersebut bisa berupa efek positif bisa
pula negatif. Efek negatif ataupun positif dari proses dakwah berkaitan dengan unsur-unsur
dakwah lainnya. Efek dakwah menjadi ukuran berhasil atau tidaknya sebuah proses dakwah.

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah:
1.

Konsep dakwah pada hakikatnya merupakan suatu usaha menyampaikan ajaran


Islam yang dilakukan secara sadar dan terencana dengan menggunakan cara-cara
tertentu untuk mempengaruhi orang lain agar dapat mengikuti apa yang menjadi
tujuan dakwah tersebut tanpa ada paksaan.

2. Perintah untuk berdakwah terdapat dalam Al-Quran dan Hadist yang di dalamnya
juga memuat tata cara dan pelaksanaan kegiatan dakwah. Perintah untuk
berdakwah pertama kali ditujukan kepada para utusan Allah, kemudian kepada
umatnya baik secara umum, berkelompok atau berorganisasi. Ada pula yang
ditujukan kepada individu maupun keluarga dan sanak famili.
3. Dakwah berfungsi untuk menyebarkan agama islam kepada manusia, untuk
melestarikan nilai-nilai islam dari generasi ke generasi, dan berfungsi korektif.
Sedangkan mengenai tujuan dakwah adalah sebagaimana diturunkannya islam,
yaitu untuk membuat manusia memiliki kualitas akidah, ibadah serta ahlak yang
tinggi.
4. Metode dakwah merujuk pada Al-Quran surat An-Nahl ayat 125 ; terdapat tiga
metode, yaitu; dengan hikmah (bijaksana), dengan mauidzah hasanah (nasihat
yang baik) dan dengan mujadalah (diskusi).
5. Dakwah Islam menentukan tegak atau runtuhnya suatu masyarakat. Islam tidak
bisa berdiri tegak tanpa jamaah dan tidak bisa membangun masyarakat tanpa
dakwah. Oleh karena itu, dakwah adalah kewajiban bagi umat Islam
6. Media dakwah merupakan salah satu unsur penting yang harus diperhatikan dalam
aktivitas dakwah. Sebab sebaik apapun metode, materi, dan kapasitas seorang dai
jika tidak menggunakan media yang tepat seringkali hasilnya kurang maksimal.
7. Efek (atsar) dakwah merupakan akibat dari pelaksanaan proses dakwah yang
terjadi pada obyek dakwah. Efek tersebut bisa berupa efek positif bisa pula
negatif. Efek negatif ataupun positif dari proses dakwah berkaitan dengan unsurunsur dakwah lainnya. Efek dakwah menjadi ukuran berhasil atau tidaknya sebuah
proses dakwah.
13

B. Saran
Penulis merasa makalah yang telah dibuat ini jauh dari kata sempurna dan terdapat
banyak kekurangan. Kepada para pembaca yang tertarik membahas mengenai konsep dakwah
dalam Islam, diharapkan memiliki literatur yang lebih banyak lagi dan terjamin validitasnya,
serta dapat langsung mengamalkannnya. Dalam konsep dakwah tidak harus menunggu
banyak ilmu yang kita dapat, tapi yang penting bagaimana kita bisa mengamalkannya
(Samapaikanlah walau satu ayat). Akhir kata, semoga penulis dapat mendapatkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca. Amiin.
Sesungguhnya yang mengetahui kebenaran hanya Allah Swt. semata. Wallahu Alam.

14

DAFTAR PUSTAKA
Abu Zahra, Muhammad. t. th. Al-Dakwah ila al-Islam. Dar al-Fiqry al-Araby, dan juga,
Deddy Mulyana, Nuansa-Nuansa Komunikasi Masyarakat Kontemporer. Cet. I:
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1999.
Eksiklopedi Islam. 1993. Cet. I. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Arifin, H. M. 1992. Psikologi Dakwah dan Suatu Studi. Cet. IV. Bandung: CV. Diponegoro.
Natsir, M. 1977. Fighud Dakwah. Jakarta: Dewan Dakwah Islamiah Indonesia.
Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Salim, Muin. 1990. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Al-Quran. Ujung Pandang: Lembaga
Studi Kebudayaan Islam.
Sasono, Adi. 1987. Solusi Islam atas Problematika Umat. Cet. I. Jakarta: Gema Insani Press.
Thohir Luth, 1999. M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya. Cet. I. Jakarta: Gema Insani Press.
Umar Barmawi. 1987. Asas-asas Ilmu Dakwah. Cet. II. Solo: CV. Ramadani.
Yaqub H. Hamzah. 1992. Publistik Islam Tekhnik Dakwah dan Leadership. Cet. IV.
Bandung: CV. Diponegoro.
Omar, Yahya Toha. 1985. Ilmu Dakwah. Cet. IV. Jakarta: Widjaya.

15