You are on page 1of 3

Respon imun terhadap patogen atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh dibagi

menjadi imunitas alamiah dan imunitas didapat. Imunitas alamiah tidak spesifik dan bereaksi
cepat terhadap benda asing yang meliputi fagositosis makrofag dan stimulasi produksi sitokin
proinflamasi. Sitokin dan kemokin yang dihasilkan menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah, peningkatan aliran darah, panas, pembengkakan jaringan,
ekspresi dari molekul adhesi dan perekrutan neutrofil pada tempat yang mengalami inflamasi.
Benda asing yang tidak mampu diatasi oleh imunitas alamiah akan mencetuskan timbulnya
imunitas didapat Sel dendritik, neutrofil dan makrofag yang mampu memfagositois benda asing
dan kemudian mempresentasikan antigennya kepada sel T yang bersirkulasi disebut dengan
Antigen Presenting Cells (APC). Proses ini yang pertama kali muncul pada proses terbentuknya
imunitas didapat. Presentasi antigen oleh APC akan mengaktivasi sel T menjadi sel T efektor
selanjutnya juga sel B menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Imunitas didapat jauh
lebih spesifik, memiliki memori dan lebih kuat. Sel T efektor ada dalam dua bentuk yaitu sel T
CD4 dan sel T CD8, dimana sel T CD4 dikelompokan lagi menjadi sel Th1 dan sel Th2.
Aktivitas sel T efektor diperantari oleh sitokin yang diproduksinya. Sitokin adalah protein
dengan berat molekul kecil 8-40 kDa yang meregulasi respon penjamu terhadap infeksi,
inflamasi, trauma dan benda asing. Sitokin yang utama dalam respon imun antara lain IL-1, IL-6
dan TNF-α yang dihasilkan makrofag, IFN-γ yang dihasilkan Th1 dan TGF-β yang dihasilkan
Th2. Sel Th1 memproduksi sitokin IFN-γ, membantu makrofag dalam menghancurkan benda
asing sedangkan sel Th2 memproduksi IL-4, IL-5 dan TGF-β yang membantu sel plasma dalam
memproduksi antibodi. Dalam hal pembentukan jaringan fibrosis pada paru, IFN-γ memiliki
peran sentral. Jaringan fibrosis diakibatkan oleh aktivitas proliferasi fibroblast dan
pembentukan kolagen serta matriks jaringan ikat. Sitokin Th1 IFN-γ bersifat menghambat
pembentukan kolagen sedangkan sitokin Th2 bersifat merangsang pembentukan kolagen dan
jaringan fibrosis (Maatta dkk., 2006).
Ada beberapa mekanisme bagaimana IFN-γ dapat meningkatkan fungsi makrofag.
Pertama, IFN-γ dapat berikatan dengan Myeloid differentiation factor 88 (MyD88) kemudian
mengaktivasi IFN-γ regulatory factor-1 (IRF-1) yang selanjutnya meningkatkan pinositosis,
fagositosis dan penghancuran partikel benda asing. Kedua, IRF-1 mampu meningkatkan ekspresi
iNOS dan enzim NADPH yang diperlukan dalam fagositosis oksidasi. Ketiga, IRF-1 bisa
mengaktivasi TNF-α via faktor nukleus kappa beta. Sinergi antara sitokin TNF-α dan IFN-γ
sangat diperlukan dalam aktivasi makrofag. Terakhir, IFN-γ mampu menginduksi ekspresi dari
IL-12 oleh makrofag dan monosit sehingga menimbulkan umpan balik positif ke arah respon
Th1. Dalam kenyataannya mekanisme IFN-γ dalam meningkatkan aktivitasi makrofag
memerlukan kombinasi beberapa mekanisme di atas secara simultan (Reljic, 2007)
Efek Pajanan Debu Kayu terhadap Kadar Interferon Gama
Pajanan debu kayu secara terus menerus menyebabkan cedera epitel alveoli yang
kontinyu, aktivasi fibroblast dengan penumpukan matriks protein yang berlebihan, serta
terbentuknya jaringan parut dan fibrosis (Brody dkk., 1993). Patogenesis dari fibrosis paru

Peran inflamasi dominan pada fase awal fibrosis dan dikatakan kurang begitu penting dalam terjadinya fibrosis paru. mikrovaskuler akan rusak sehingga komposisi plasma seperti fibronektin dan komponen koagulasi lain akan berusaha untuk menyediakan matriks ekstraseluler demi keberlangsungan perbaikan jaringan. IFN-γ adalah interferon tipe 2 dan sitokin Th1 yang memiliki efek menghambat produksi growth factor profibrotic. sintesis dan deposisi kolagen serta ekspresi dari sitokin pro-fibrotik. 2008). tetapi faktor lingkungan seperti debu kayu telah dibuktikan pengaruhnya terhadap timbulnya fibrosis paru pada suatu studi meta-analisis dengan risiko relatif 1. Berdasarkan atas pentingnya peran fibroblas atau miofibroblas dalam deposisi matriks yang berlebihan.. 2004. Sharma dkk. gangguan arsitektur paru dan gangguan pertukaran gas. Barnes. Sehingga progresivitas penyakit fibrosis paru nantinya dapat dihambat. Pada prinsipnya terdapat ketidakseimbangan antara sitokin Th1 interferon gama dan sitokin Th2 pada patogenesis terjadinya fibrosis paru. Cedera sel ini akan mengaktivasi reaksi inflamasi. Inhalasi debu kayu dalam jangka waktu tertentu dan berulangulang akan menyebabkan cedera sel epitel alveoli.9 kali (Taskar & Coultas. 2003. respon abnormal perbaikan jaringan yang rusak dan remodeling jaringan interstisial alveoli.. Respon inflamasi alamiah meliputi aktivasi sitokin pro-inflamasi dan aktivasi sel limfosit T.. Aktivasi limfosit T akan berakibat diferensiasi ke arah Th1 dengan produksi sitokin IFN-γ dan ke arah Th2 dengan produksi sitokin TGF-β (King dkk. Nathan dkk. Ketika terjadi cedera epitel. maka diperlukan agen seperti IFN-γ yang dapat memodulasi fungsi fibroblas dan menghambat deposisi matriks tersebut. 2006). Taskar & Coultas. 1999.. Respon imunologi yang terjadi pada fibrosis paru lebih cenderung kepada sitokin Th2 seperti IL-4 dan IL-13. 2004 ) Peran Interferon Gama dalam Fibrosis Paru Saat ini banyak perhatian ditujukan pada penggunaan IFN-γ sebagai terapi penyakit fibrosis paru. Pajanan debu kayu akan menyebabkan penurunan kadar IFN-γ sehingga mempermudah terjadinya fibrosis paru. 2003). Dasar pemikirannya adalah properti IFN-γ dalam menghambat proliferasi fibroblast.belum diketahui secara pasti. eosinofil dan sel mast. 2000 . Sitokin ini memegang peranan yang penting juga dalam pembentukan granuloma dan telah disetujui untuk terapi osteopetrosis dan penyakit granuloma kronik (Zhou dkk. Fruchter. Gambaran ini sesuai dengan hipotesis proses cedera berulang yang berakhir dengan . Fibrosis paru diakibatkan oleh produksi kolagen oleh sel fibroblas yang teraktivasi. Tetapi adanya ketidakseimbangan antara proses koagulasi dan fibrinolisis akan menghambat reepitelisasi luka dan perbaikan arsitektur paru. Secara histologis penyakit fibrosis paru ditandai oleh spektrum dari paru yang normal sampai honey-combing tahap lanjut. Proses fibrosis ini dirangsang oleh sitokin Th2 akan tetapi ditekan oleh sitokin IFN-γ. Studi pada tikus menunjukkan fibrosis paru terjadi bila sitokin Th1 menurun (Meyer. 2006. Hal ini dibuktikan dengan studi binatang yang menunjukkan adanya gangguan fibrinolisis pada gangguan penyembuhan cedera (Fernandez. ekspresi gen kolagen. 2006).

Penyakit fibrosis paru merupakan penyakit paru interstitial yang memiliki angka kematian yang tinggi. demam. Memang masih terdapat kontroversi mengenai efektivitas penggunaan IFN-γ sebagai terapi fibrosis paru. . Tetapi saat ini telah banyak bukti yang mendukung efek anti-inflamasi IFN-γ melalui rangsangannya terhadap Interleukin 1 receptor antagonist (IL1Ra) atau IL-18 binding protein (IL-18BP). Sejumlah studi pada binatang jelas menunjukkan efek positif dari pemberian IFN-γ pada fibrosis paru. menghambat kolagenase dan menghambat TGF-β. 2004). anti proliferasi. berikatan dengan reseptor spesifik dan mengaktivasi jalur sinyal transduksi untuk menimbulkan respon seluler. IFN-γ berefek langsung terhadap sintesis kolagen.. Terapi dengan IFN-γ ditoleransi dengan baik.. Proliferasi fibroblas yang terjadi diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara sitokin Th1 dan Th2 (Nathan dkk. Terapi fibrosis paru selama ini dengan kortikosteroid dan imunosupresan tidak banyak membawa perubahan dalam hal progresivitas penyakit. Segel dkk. IFN-γ merupakan protein yang sangat pleiotrofik sehingga dosis. imunomodulasi dan antifibrotik. Efek hambatan IFN-γ bersifat tergantung dosis dan tidak hanya pada sintesis kolagen tetapi juga sitokin fibrogenik TGF-β (Cayon dkk. 2003). mialgia. 2004). IFN-γ adalah sitokin utama yang diproduksi oleh sel T dan sel NK yang memiliki efek antiviral. Studi uji klinik terandomisasi yang melibatkan 18 pasien dengan fibrosis paru menunjukkan adanya perbaikan parameter fisiologis yang lebih baik pada pasien yang mendapatkan IFN-γ1b dan prednisolon dibandingkan dengan prednisolon dan plasebo. 1993. Justru. IFN-γ memiliki efek yang modulasi respon inflamasi dan anti fibrotik. sehingga terapi dengan anti inflamasi seringkali tidak memberikan respon yang baik (Borg & Isenberg. 2004. 2010).. Untuk dapat aktif. 2005). jalur dan waktu pemberiannya harus didesain dengan cermat untuk menghindari efek samping bahkan toksisitas (Reljic. Separuh jumlahpasien akan meninggal dalam 4-5 tahun dan hanya sekitar 20% yang bertahan setelah 10 tahun. Mekanisme fibrosis paru yang diinduksi oleh partikel debu disebabkan oleh interaksi makrofag dengan fibroblas. Studi lain dengan jumlah sampel yang lebih besar ternyata gagal menunjukkan efek yang lebih baik dari terapi IFN-γ1b. Efek samping yang mungkin muncul antara lain flu -like syndrome. cara. 2007. IFN-γ yang dihasilkan oleh sel T menghambat PDGF ini (Brody dkk.fibrosis.. 2009).. penurunan berat badan. Studi binatang menunjukkan bahwa makrofag memproduksi platelet-derived growth factor (PDGF) yang merangsang proliferasi dan kemotaksis fibroblast. peningkatan SGPT dan nyeri di tempat suntikan (Dauber dkk. Bouros & Tzouvelekis.. O’Connor. Selama bertahun-tahun IFN-γ telah lama dikenal sebagai sitokin proinflamasi. Terjadinya fibrosis paru tidak selalu melalui inflamasi. 2007). terdapat efek yang berpotensi merugikan. IFN-γ harus mencapai sel target. IFN-γ juga memiliki peran perbaikan jaringan dan remodeling. kadang dikaitkan dengan patogenesis inflamasi dan autoimun. Suatu metaanalisis membuktikan bahwa terapi fibrosis paru dengan IFN-γ1b menurunkan angka kematian (Bajwa dkk.