You are on page 1of 17

Studi Kasus Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Indonesia merupakan suatu negara yang wilayahnya merupakan pertemuan


antara tiga lempeng tektonik. Ketiga lempeng tersebut

adalah lempeng Eurasia,

lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Adanya pertemuan empat lempeng


tersebut mengakibatkan wilayah Indonesia sering mengalami gempa bahkan sampai
terjadi tsunami. Selain itu wilayah Indonesia juga dilewati oleh Ring of Fire, yaitu jajaran
gunung berapi yang aktif di samudra Pasifik. Ring of fire membentang dari Benua
Amerika Selatan ke Amerika Utara, Jepang, Filipina, Indonesia hingga ke Selandia Baru.
Indonesia yang sebagaian besar wilayahnya di lewati jalur Ring of Fire ini berpotensi
mengalami bencana erupsi gunung berapi. Dari ke dua hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana alam karena letaknya
yang diapit empat lempeng dan dilewati oleh Ring of Fire.

Undang-undang No. 24 Tahhun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB)


dalam bab I pasal 1, mengelompokkan bencana menjadi bencana alam, bencana non
alam, dan bencana sosial. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan alam, antara lain gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angina topan, dan tanah longsor. Bencana non alam yaitu
bencana yang disebabkan peristiwa non alam yang antara lain gagal teknologi, gagal
modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang
mengakibatkan peristiwa yang disebabkan oleh manusia seperti konflik sosial antar
kelompok atau antar komunitas dan teror.
Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada tahun 2002
sampai dengan 2005 lebih dari 2000 bencana terjadi di Indonesia. Jumah tersebut terdiri
atas banjir 743, kekeringan 615, longsor 222, dan kebakaran 217. Jumlah korban akibat
bencana disepajang tahun itu ada 165,945 jiwa dari gempa dan tsunami, 2.665.697 jiwa
kehilangan rumah akibat banjir. Berdasarkan Bappenas, dari tahun 2004-2007 Indonesia
paling sedikit dilanda tujuh macam bencana besar yaitu, tsunami Aceh (2004), flu

burung (2004-2005), letusan gunung merapi (2006), gempa Yogyakarta (2006), lumpur
lapindo (2006), tsunami di pantai selatan Jawa (2006), dan banjir Jabodetabek (2007).
Kerugian yang diakibatkan bencana tersebut dalam kurun waktu tiga tahun mencapai Rp
110,4 triliun. BNPB mengidentifikasi jenis ancaman bencana diantaranya gempa bumi,
tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan,
kekeringan, gelombang ekstrem, cuaca ekstrem (angin puting beliung, topan, badai
tropis),

erosi, abrasi, epidemi dan wabah penyakit, kebakaran hutan, pkegagalan

teknologi, dan konflik sosial.


Data kejadian dan dampak bencana menunjukkan ada beberapa ancaman
bencana yang dominan di Indonesia, yaitu gempa bumi dan tsunami, tanah longsor,
letusan gunung api, banjir dan kekeringan. Gempa bumi diakibatkan aktivitas dari
lempeng bumi. Daerah di Indonesia yang rawan gempa bumi adalah pantai barat
Sumatera, pantai selatan Jawa, pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara, Kepulauan
Maluku, Maluku utara, Pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. Daerah
di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit
Barisan di Pulau Sumatera, Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa
Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Pulau
Papua. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar
Sumatera, Cimandiri, Lembang, Baribis, Opak, Busur Belakang Flores, Palu-Koro, Sorong,
Ransiki, sesar aktif di daerah Banten, Bali, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku.
Melihat kondisi tersebut Indonesia sebagai negara yang rawan bencana
membutuhkan suatu tindakan mitigasi untuk menanggulagi bencana dan mencegah
timbulnya banyak korban. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008
Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Empat hal penting dalam mitigasi
bencana adalah tersedianya informasi dan peta kawasan untuk setiap jenis bencana,
sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam
menghadapi bencana, mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari serta
pengetahuan cara penyelamatan jika bencana timbul, penataan kawasan rawan
bencana.
Jenis mitigasi ada dua macam yaitu mitigasi struktural dan non struktural. Mitigasi
struktural adalah upaya mengurangi dampak bencana dengan cara pembangunan

berbagai prasarana fisik dan menggunakan teknologi. Mitigasi non struktural adalah
upaya mengurangi dampak bencana melalui pembuatan suatu kebijakan seperti
undang-undang penanggulangan bencana, tata ruang kota dan building capacity.
Kegiatan dari mitigasi bencana diantaranya:
1. Pengenalan dan pemantauan resiko bencana
2. Perencanaan partisipatif penanggulangan bencana
3. Pengembangan budaya sadar bencana
4. Penerapan upaya fisik, non fisik, dan pengaturan penanggulangan bencana,
5. Identifikasi dan pengenalan terhadap sumber daya alam
6. Pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi
7. Pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
8. Kegiatan mitigasi lainnya.
RAN-PRB (Rencana Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana) 2010-2012
menyebutkan kesadaran akan upaya pengurangan resiko bencana telah dimulai sejak
tahun 1990-1999 yang terkenal dengan Dekade Pengurangan Resiko Bencana
Internasional. Sedangkan pada tingkat Nasional diterbitkan Undang-undang Nomor 24
Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana merupakan landasan dari Pengurangan
Resiko Bencana. Tahun 2006-2009 Indonesia telah menetapkan Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Resiko Bencana. RAN-PRB 2006-2009 disusun sebagai tindak lanjut dari
kesepakatan Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-2015 (HFA 2005-2015). RAN-PRB disusun
dengan melibatkan dari berbagai pihak, pemerintah, masyarakat dan swasta, di tingkat
pusat dan daerah. RAN-PRB disusun sesuai dengan perubahan paradigma penanganan
bencana di Indonesia, yaitu:
1. Penanganan bencana tidak hanya menekankan pada tanggap darurat, melainkan
pada keseluruhan manajemen resiko.
2. Perlindungan masyarakat oleh pemerintah dari ancaman bencana yang merupakan
wujud hak asasi rakyat bukan semata-mata karena kewajiban pemerintah.
3. Penanganan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga
menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat.
RAN-PRB merupakan penjabaran dari Rencana Penanggulangan Bencana (RPB).
Dalam RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) dan RPJMN (Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional) kedudukan RPB dan RAN-PRB adalah
penjabaran dari Rencana Pembangunan Nasional. RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah

Nasional)

menjadi

acuan

dalam

penyusunan RAN-PRB terutama untuk


daerah rawan bencana.
Dalam
RAN-PRB

kerangka

terkait

perencanaan

dengan

beberapa

kerangka kerja yang relevan (other


relevant action frame) baik tingkat
internasional

maupun

regional,

di

antaranya adalah aspek (1). tata ruang;


(2). Lingkungan; (3). perubahan iklim;
dan

(4).

pengurangan

kemiskinan.

Keempat aspek tersebut telah memiliki


konsep Rencana Aksi Nasional dan saling berkaitan.

MITIGASI BENCANA MELALUI TATA RUANG


Mitigasi bencana melalui penataan ruang merupakan upaya peningkatan
keselamatan dan kenyamanan kehidupan dan penghidupan masyarakat Indonesia.
Penataan ruang harus dilakukan dengan komprehensif, holistic, terkoordinasi, terpadu,
efektif, dan efisien, dengan memperhatikan faktor ekonomi, sosial, budaya, pertahanan,
keamanan, dan kelestarsian lingkungan hidup. Strategi Implementasi penyelenggaraan
penataan ruang yang bertujuan untuk pengurangan resiko bencana menurut undangundang Nomer 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diantaranya:
1. Penerapan peraturan zonasi secara konsisten yang merupakan kelengkapan dari
rencana detail tata ruang;
2. Penekanan pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan secara sistemik melalui
penetapan peraturan zonasi, perijinan, pemberian insentif dan disinsentif serta
pengenaan sanksi;
3. Penegakan hukum yang ketat dan konsisten untuk mewujudkan tertib tata ruang.
Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 mengamanatkan bahwa dalam
menghadapi ancaman bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan upaya
mitigasi bencana yaitu upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik secara struktur
atau fisik melalui pembangunan fisik alami dan/atau buatan maupun nonstruktur atau
nonfisik. Pasal 56 sampai dengan Pasal 59 secara jelas mengatur bahwa upaya
pengurangan risiko bencana harus diintegrasikan dalam rencana pengelolaan dan
pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilakukan dengan melibatkan
tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Dalam RTRW setempat perlu ditambahkan aspek ketahanan bencana dalam
rencana tata ruang agar bahaya alam tidak menyebabkan bencana lagi. Informasi
mengenai bahaya alam dan bahaya hasi perbuatan manusia perlu dipetakan agar
masyarakat awan memahaminya. Pemetaan kawasan rawan bencana dilakukan pada
kawasan yang sudah terbangun maupun yang sedang direncanakan. Pada kawasan
terbangun peta bahaya bencana dibuat untuk menunjukkan wilayah yang struktur
bangunan dan prasarana yang diperkuat untuk tahan terhadap bencana. Kawasan yang
akan dibangun harus memperhatikan kemungkinan terjadinya bencana untuk
menentukan lokasi permukiman, perdagangan, pendidikan, pariwisata dan sebagainya.

GEMPA DAN TSUNAMI


Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan
bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang
seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi)
atau diakibatkan aktivitas zona penunjaman yang terdapat di laut dan sesar aktif yang
terdapat di darat maupun di laut. Tsunami adalah perpindahan badan air yang
disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan
permukaan laut tersebut bisa disebabkan olehgempa bumi yang berpusat di bawah laut,
letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di
laut.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia berpotensi mengalami gempa bumi dengan


intensitas bervariasi. Gempa berintensitas tinggi berpotensi terjadi di kawasan
sepanjang daratan pantai barat Sumatera dan kawasan selatan Jawa, seluruh Nusa
Tenggara, sebagian Pulau Papua bagian tengah sampai utara, kepulauan Maluku, serta
Sulawesi bagian tengah sampai utara. Sedangkan potensi gempa dengan intensitas
sedang diperkirakan terjadi di kawasan Pulau Sumatera sepanjang bagian tengah ke arah
timur, Pulau Jawa bagian tengah ke arah utara, Papua bagian tengah ke arah Selatan,
dan Sulawesi Tengah ke arah selatan. Potensi gempa dengan intensitas rendah
diperkirakan hanya di Provinsi Riau, Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian utara, Papua
bagian selatan dan Pulau Kalimantan.
Gempa yang dangkal dan besar di bawah laut dapat menimbulkan tsunami. Selain
gempa tsunami juga dapat ditimbulkan oleh fenomena geofisi seperti gunung berapi,
longsor di bawah laut, dan dampak dari meteor. Sejak tahun 1928 sampai 2005 telah
terjadi bencana tsunami sebanyak 1963 kali. Di Indonesia dari 110 bencana tsunami

yang terjadi antara tahun 1960-1998 100 kejadian diakibatkan oleh gempa bumi, 9
disebabkan letusan gunung berapi dan 1 kejadian disebabkan oleh tanah longsor
dibawah laut.
STUDI KASUS
Tsunami terbesar yang yang pernah terjadi di Indonesia adala tsunami selat sunda
yang terjadi karena meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883 dan tsunami di
Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004 lalu. Tsunami
Selat Sunda menelan korban hingga 36.000 jiwa dengan ketinggian gelombang 36 meter.
Tsunami Aceh menelan korban meninggal lebih dari 250.000 jiwa.
Tsunami Aceh diakibatkan gempa bumi dengan kekuatan 8,9 Skala Richter yang
terjadi di Samudera Hindia barat laut pulau Sumatera. Gempa dan tsunami Aceh
menghancurkan sebagian besar wilayah Aceh dan Nias di Indonesia, sebagian wilayah
Thailand, Sri Lanka, Maladewa, Bangladesh, Burma, dan Somalia. Di Indonesia bencana
ini telah menghancurkan banyak infrastruktur, pemukiman, sarana sosial dan menelan
korban jiwa yang sangat banyak. Berdasarkan perhitungan nilai kerusakan di Aceh dan
Nias mencapai Rp 41,4 triliun dengan sebagian besar merupakan aset non-publik
(masyarakat).
Upaya tanggap darurat segera dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan
cara merehabilitasi semua sendi kehidupan masyarakat Aceh dan Nias. Kemudian
dilakukan rekonstruksi dan pembangunan kembali wilayah terdampak tsunami agar
kembali seperti sedia kala. Semua upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias
didasarkan pada Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang dibuat berdasarkan
pada berbagai filosofi, norma, peraturan perundang-undangan dan aspirasi masyarakat.
Pelaksaanan tanggap darurat dan pemulihan kondisi masyarakat dan wilayah Aceh dan
Nias merupakan upaya penanggulangan dampak bencana. Upaya tersebut dilakukan
dengan pendekatan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi yang dalam
pelaksanaannya berjalan bersamaan.
1. Tahap tanggap darurat (Januari 2005-Maret 2005)
Tahap ini bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat yang masih hidup dan mampu
bertahan. Sasaran utama dari tahap ini adalah penyelamatan dan pertolongan
kemanusiaan.

2. Tahap rehabilitasi (April 2005-Desember 2006)


Tahap ini bertujuan untuk mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan
infrastruktur yang mendesak dilakukan. Sasaran utaman dari tahap ini adalah
memperbaiki pelayanan publik hingga pada tingkat yang memadai.
3. Tahap rekonstruksi (Juli 2006-Desember 2009)
Bertujuan untuk membangun kembali kawasan kota, desam dan aglomerasi kawasan
dengan melibatkan semua masyarakat korban bencana, pakar, perwakilan lembaga
swadaya masyarakat, dan dunia usaha. Sasaran utama dari tahap ini adalah
terbangunnya kembali kawasan dan masyarakat di daerah dampak bencana langsung
maupun tidak langsung.

Pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi diawali dengan penyusunan rencana


induk yang disusun oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Rencana Induk yang disusun oleh
pemerintah menjadi landasan bagi badan pelaksana R2WANS (Rehabilitasi dan
Rekostruksi Masyarakat Aceh dan Sumatera Utara) serta bagi pemerintah NAD dan
Kabupaten Nias dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi wilayah Aceh dan Nias dalam 3 sampai 5 tahun kedepan.

Penataan ruang Aceh dan Nias pasca tsunami bertujuan untuk membangun
kembali wilayah, kota, kawasan, dan lingkungan pemukiman yang rusak akibat bencana
gempa dan tsunami. Penerapan pembangunan di Aceh dan Nias akan menerapkan
prinsip pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan keseimbangan ekonomi,
sosial, dan lingkungan. Pembangunan juga mempertimbangkan aspek pendukung
seperti teknologi terkini, tepat guna, ramah lingkungan, dan aspek kemungkinan
bencana akan datang kembali.
Kebijakan dan Strategi dalam
penataan kembali wilayah terdampak
tsunami Aceh dan Nias yang disebutkan
dalam R2WANS diantaranya:
1. Mewujudkan kondisi wilayah yang
aman

dari

bencana

dan

penghidupan lebih baik.


2. Memberikan pilihan kepada warga
untuk bermukim.
3. Melibatkan

masyarakat

dan

menggunakan pranata sosial dalam


menghadapi bencana dan kegiatan
pembangunan.
4. Menonjolkan karakteristik budaya dan agama.

5. Pendekatan penataan ruang partisipatif.


6. Mengantisipasi bencana dan memitigasi kawasan bencana.
7. Proses penataan ruang sebagai perpaduan proses pendekatan dari atas dan bawah.
8. Mengembalikan peran pemerintah daerah.
9. Perlindungan terhadap hak perdata warga.
10.Mempercepat proses administrasi pertanahan.
11.Pemberian kompensasi dang anti rugi yang adil dan terjangkau.
12.Melakukan revitalisasi kegiatan perekonomian masyarakat yang berbasis sumber
daya alam.
13.Memulihkan kembali daya dukung lingkungan dan antisipasi ancaman bencana alam.
14.Pemulihan kembali sistem kelembagaan SDA dan LH di tingkat pemerintah.
15.Mengembalikan dan merehabilitasi struktur dan pola tata ruang wilayah provonsi
NAD.
16.Membangun kembali kota-kota yang terkena bencana dilakikan dengan merajut
kembal tatanan kota lama.
Kebijakan penataan ruang wilayah provinsi NAD pasca gempa dan tsunami
sebagai upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang berupa struktur pemanfaatan ruang
dalam R2WANS adalah sebagai berikut:
1. Pusat pemukiman/kota di Pantai Barat tetap dipertahankan untuk menjaga
keseimbangan pertumbuhan antar wilayah dan wilayah tengah yang didukung
pusat pertumbuhan skala kecil adalah Sigli, Bireuen, Singkil, Tapak Tuan,
Blangpidie, Calang di wilayah pesisir; dan Blangkejeren dan Jantho di wilayah
pedalaman.
2. Kota-kota tepi air dikembangkan dengan memperhatikan juga aspek-aspek lokal
terutama keterkaitannya dengan rawan Gempa dan Tsunami dengan kawasan
konservasi dan penyangga yang berfungsi lindung.
3. Jaringan jalan direhabilitasi untuk menjaga keterkaitan antar kota-kota di Pantai
Barat, Pantai Timur, atau keterkaitan kedua wilayah, serta mendorong
perkembangan dan pemerataan wilayah: Meulaboh-Calang-Lamno-Banda Aceh
Jantho-Sigli-Bireun hingga Lhokseumawe dan Rehabilitasi dan pembangunan
jalan baru (dalam kaitan pembangunan jalan rusuk/pengumpan) yang
menghubungkan daerah terisolir Aceh Barat/Meulaboh dan Aceh Jaya antara
lain: Lhok Kruet-Calang-Teunom-Woyla-Meulaboh dengan memanfaatkan jalan

perkebunan Sawit dan peningkatan jalan desa; membuka kembali ruas jalan
Jantho-Lamno; Beureunun-Geumpang-Tutut-Meulaboh, jalan Ladia Galaska
Simpang Peut-Jeuram-Beutong Ateuh-Takengon, ruas jalan lintas Barat
Meulaboh-Tapaktuan-Bakongan;

Jantho-Lamno;

Calang-Tangse-Beureunun;

Teunom-Sarah Raya-Geumpang; Teunom-Sarah Raya-Woyla; dan CalangGeumpang.


4. Penyeberangan ke pulau-pulau kecil (a.l.: pulau Weh, Sabang, dan Simeuleu)
difungsikan kembali untuk mobilisasi penduduk dan perkembangan ekonomi
wilayah.
5. Fungsionalisasi dan peningkatan Bandar Udara: Bandar Udara Sultan Iskandar
Muda, Cut Nyak Dien, Lasikin, Maimun Saleh, Malikussaleh, dan Teuku Cut Ali.
Pelabuhan udara di pantai barat-selatan dapat didarati hercules untuk evakuasi
dan supply logistic.
6. Fungsionalisasi dan peningkatan pelabuhan laut: Sabang, Malahayati, Calang,
Meulaboh, Kuala Langsa, Singkil, dan Lhokseumawe. Lokasi pelabuhan
penyeberangan pengganti Uleu-lhee ditentukan setelah melakukan studi
kelayakan teknis terlebih dahulu.
7. Rehabilitasi sistem jaringan listrik terinterkoneksi untuk Banda Aceh-Sigli-BireunLhokseumawe dan Meulaboh-Calang-Takengon.
8. Perbaikan kawasan budidaya industri di Lhoknga, Lhokseumawe, dan
Malahayati; perdagangan, pertanian pangan dan perkebunan, dan pesisir
kelautan.
9. Rehabilitasi jaringan sumberdaya air (al: saluran irigasi, alur sungai, dan pantai)
mendukung ketersediaan air baku dan air minum
10. Rehabilitasi dan rekonstruksi untuk fungsionalisasi kawasan berfungsi Lindung
konservasi (bagian Tengah) antara lain kawasan ekosistem leuser, hutan lindung,
dan lindung binaan (buffer zone dan hutan kota) di sepanjang pantai mellaui
penyiapan area penyangga (buffer zona) pantai baik berupa vegetasi atau
bangunan.
11. Kawasan permukiman diupayakan tidak berada di kawasan lindung, seperti
wilayah kehidupan gajah yang semakin langka populasinya, antara lain di Desa
Pucok, Alue Raya, Blang Dalam & Lhok Kuala, Lamje, Kr. Batee Mirah, Kr. Alue

Ceuroloup, Kr. Buerieng, Can. Kaking Ungoh Batee, perbatasan Tutut, Kawasan
Uteun Cut, Panga,Panga-Teunom, dan Lageun.

Rencana
ruang

pola

provinsi

penataan

NAD

pasca

tsunami yang terdapat dalam


R2WANS diatas memperlihatkan
bahwa penataan ruang di Aceh
pasca

tsunami

menerapkan

kebijakan dan strategi mitigasi


bencana gempa dan tsunami. Hal
tersebut dapat dilihat pada pemanfaatan sistem kota
yang mengembangkan jalan eksisting dan menambah
jalan baru untuk jalur evakuasi dan meningkatkan
aksesibilitas kota dari arah laut maupun udara untuk
evakuasi, distribusi logistik dan rehabilitasi kota. Dalam
struktus ruang kota juga nampak adanya konsep mitigasi
bencana yaitu dengan membangun kota/kawasan yang
tanggap bencana. Kawasan lindung juga berperan
penting dalam mitigasi bencana hal tersebut diterapkan
pada tindakan mengkonservasi dan melindungi kawasan

hutan lindung mangrove sebagai proteksi tsunami, pemanfaatan escape hill dan sabuk
hijau untuk ruang terbuka hijau, juga mengembangkan dan menambah kawasan sabuk
hijau sebagai fungsi pertahanan. Pada kawasan sungai dan pesisir pantai diterapkan
mitigasi bencana. Pembangunan kawasan pemukiman dilengkapi

dengan fasilitas

mitigasi bencana, pengembangan bangunan penyelamatan/rumah vertikal pada


kawasan dengan kepadatan tinggi. Bagi kawasan bersejarah tindakan mitigasi dilakukan
dengan mengkonservasi dan merevitalisasi kawasan tersebut.
Hutan Mangrove berfungsi sebagai
green belt antara wilayah daratan dan
laut. Peran dari green belt dalam
mereduksi

tsunami

seperti

yang

disebutkan Tanaka dan Shuto adalah


sebagai perangkap untuk menghentikan
kayu yang hanyut, peredam energi
tsunami yaitu efek mengurangi kecepatan, tekanan, dan kedalaman air, sebagai
pegangan untuk menyelamatkan diri, sarana melarikan diri dengan memanjat pohon,
sebagai pembentuk gumuk pasir yang bertindak sebagai penghalang gelombang alami.
Hal yang penting dalam tindakan konservasi green belt adalah peran masyarakat di
pesisir dan pulau-pulau dalam menjaga lingkungan.

Buffer zone (green belt)

Buffer zone (green


belt)

Buffer zone (green


belt)

Penerapan

buffer

Buffer zone (green


belt)

zone

berupa green belt diterapkan di


sepanjang pantai di Aceh. Green
belt tidak hanya berupa tanaman
mangrove saja tapi bisa juga
menggunakan pohon kelapa, cemara, ketapang, waru laut dan sebagainya. Dengan
konfigurasi, kerapatan dan ketebalan tertentu green belt dapat bermanfaat bagi
lingkungan dam masyarakat.
Selain green belt penataan ruang berbasis mitigasi bencana juga dilakukan pada
peletakkan pola pemukiman penduduk. Pertumbuhan penduduk di sekitar pantai
dibatasi dan hanya penduduk berprofesi sebagai nelayan saja yang boleh tinggal di
daerah pantai. Zona yang hanya boleh ditempati nelayan ini disebut dengan zona
permukiman terbatas. Bangunan yang ada pada zona ini harus memperhatikan
konstruksi bangunan yang tahan gempa dan tsunami. Daerah pemukiman baru
dikembangkan di belakang zona permukiman terbatas. Pada zona ini dikembangkan
pusat-pusat pemukiman baru sebagai perluasan pengembangan pemukiman di Zona
permukiman terbatas.

Pengembangan

pembangunan

sebagai

langkah mitigasi bencana harus memperhatikan tata


guna lahan yang telah ditetapkan pemerintah.
Tindakan

tersebut

dapat

dilakukan

dengan

menghindari daerah rawan bencana, bantaran


sungai, dan tepi pantai, tidak menggunakan daerah
retensi banjir untuk pemukiman dan hal lain diluar
peruntukkan, tidak membangun jembatan atau
bangunan yang menghalangi atau mempersempit
aliran sungai. Pemukiman yang ditata dengan baik
dan sejajar dengan garis pantai lebih aman. Selain
itu mitigasi juga dapat diterapkan pada konstruksi
bangunan yang kuat dan tanggap terhadap bencana.

Daftar Pustaka

Pemerintah Republik Indonesia. 2005. Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi


Wilayah Aceh dan Nias, Sumatera Utara. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Diposantono, S. 2011. Mitigasi Bencana Tsunami. Buletin Tata Ruang SeptemberOktober 2011. Jakarta: Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
Kusumayudha, SB. 2011. Mempertimbangkan Faktor-Faktor Geologi dalam Penyusunan
Rencana Tata Wilayah. Buletin Tata Ruang September-Oktober 2011. Jakarta:
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
Redaksi Butaru. 2011. Menata Aceh. Buletin Tata Ruang September-Oktober 2011.
Jakarta: Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
Sukawi. 2008. Menuju Kota Tanggap Bencana (Penataan Lingkungan Permukiman untuk
Mengurangi Resiko Bencana). Seminar Nasional Eco Urban Desain.
http://id.Wikipedia.org/wiki/Persiapan_Bencana (diakses 5 November 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi (diakses 5 November 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami (diakses 5 November 2014)
http://geospasial.bnpb.go.id/ (diakses 5 November 2014)