PERANAN MAKANAN BERGIZI TERHADAP

KEBUGARAN TUBUH MANUSIA

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

Prof. Dr. H. Abdul Hadis, M. Pd. 1)
Prof. Dr. Hj. Nurhayati B, M. Pd. 2)
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNM
Dosen Pendidikan Biologi FMIPA UNM

1)
2)

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[13]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Peranan Makanan Bergizi Terhadap Kebugaran Tubuh Manusia
Prof. Dr. H. Abdul Hadis, M. Pd. 1)
Prof. Dr. Hj. Nurhayati B, M. Pd. 2)
1)

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNM
Dosen Pendidikan Biologi FMIPA UNM

2)

Abstract
Malnutrition problem for Indonesian people are still for concern, so that it is needed
for concern, because it takes effort to overcome nutritional health which includes effort
of personal nutrition health and community. There is a connection between nutritious food
with health or work performance On the other hand there is a relationship between
nutrition with physical growth, there is a relationship between nutrition and work
performance, and there is a relationship between nutrition with intelligence. The roles
of nutritional health efforts against the human body include the levels of nutrient consume,
nutritional health levels, and nutritional diseases.
Keywords: malnutrition, nutritional health, nutritious food, work performance, physical
growth, intelligence, nutrient consume, and nutritional diseases.
A. Pendahuluan
Masalah gizi di Indonesia masih
merupakan masalah yang cukup berat.
Pada hakekatnya masalah gizi ini
berpangkal pada keadaan ekonomi yang
kurang dan kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang nilai gizi dari
makanan-makanan
yang
ada
di
masyarakat.
Faktor
inilah
yang
menyebabkan
sebagian
masyarakat
Indonesia mengalami kekurangan gizi
yang mempengaruhi keadaan kebugaran
dan kesehatan tubuhnya sebagai manusia.
Penyakit-penyakit
karena
kekurangan gizi di Indonesia terutama
adalah defisiensi protein kalori, defisiensi
vitamin A, dan defisiensi yodium yang
menyebabkan
penyakit
gondok
dan
cretinisme (suatu kondisi tubuh yang
mengalami kekerdilan). Untuk mengatasi
masalah gizi
di Indonesia. maka
pemerintah menjalankan beberapa usaha,
yaitu penelitian dan survei tentang gizi,

perbaikan gizi dan proyek gizi melalui
usaha perbaikan gizi keluarga yang
disingkat dengan UPGK, dan usaha
penyuluhan gizi dan training. Usaha
perbaikan gizi keluarga yang dikenal
dengan istilah Applied Nutrition program
adalah
usaha
pendidikan
yang
terkoordinasi antara pertanian, kesehatan,
pendidikan, dan dinas-dinas lainnya yang
bersangkutan dengan tujuan atau sasaran
yaitu untuk meningkatkan keadaan gizi
masyarakat, terutama ibu-ibu dan anakanak di pedesaan (Entjang, 2000: 131).
Dalam upaya untuk mengatasi
masalah penyakit karena kekurangan gizi
di Indonesia, maka diperlukan usaha
kesehatan gizi yang dibedakan antara
usaha kesehatan gizi perorangan dan
usaha kesehatan gizi masyarakat yang
sifatnya berbeda-beda. Usaha kesehatan
gizi perorangan mengarah ke cabang
Ilmu Gizi Klinik, sedangkan yang
lainnya ke cabang Ilmu Gizi Masyarakat

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[14]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

(Kesehatan Masyarakat). Pada kesehatan
gizi perorangan, problema gizi lebih
banyak di bidang terapi dan sedikit
prevensi maupun promosi. Sebaliknya
pada kesehatan gizi masyarakat, sebagian
besar problema gizi terletak dalam
bidang prevensi dan promosi, dan sedikit
di bidang terapi (Sediaoetama, 1991: 14)
Problema
kesehatan
gizi
perorangan
maupun
kesehatan
gizi
masyarakat mempunyai sifat-sifat khusus
sendiri-sendiri.
Faktor-faktor
yang
bersangkutan dengan
problema gizi
perorangan pada umumnya terletak dalam
jangkauan profesi kedokteran, sehingga
dapat ditanggulangi lebih tuntas oleh
profesi medik, sedangkan faktor-faktor
yang bersangkutan dengan problema
kesehatan
gizi
masyarakat
tidak
seluruhnya terdapat dalam jangkauan
profesi
dokter,
sehingga
penanggulangannya harus lintas sektoral,
bekerjasama secara terkoordinasi dengan
bidang-bidang profesi lain di luar profesi
kedokteran (Sediaoetama, 1991:14).
Beberapa penyakit defisiensi gizi
pada seseorang sudah dapat ditangani
secara tuntas, sehingga penderita penyakit
tersebut
dapat
disembuhkan
secara
memuaskan, tetapi penyakit yang sama
yang terdapat di suatu kelompok
masyarakat
sulit
sekali
untuk
ditanggulangi
secara
tuntas
dan
memuaskan. Program penanggulangannya
tidak saja cukup dengan upaya-upaya
terapi dan pengobatan para penderita,
karena setelah disembuhkan dan kembali
ke masyarakatnya, mereka akan kembali
datang berobat untuk penyakitnya yang
kambuh. Hal demikian ini akan terus
berulang-ulang
sebelum
kondisi
masyarakat yang menjadi dasar timbulnya
defisiensi
gizi
tersebut
diperbaiki.

Perbaikan
ini
merupakan
perbaikan
kondisi masyarakat yang menyeluruh,
bukan hanya mencakup faktor kesehatan,
tetapi sering meliputi pula faktor-faktor
di luar profesi kedokteran tersebut,
misalnya
problema
ekonomi
dan
kesejahteraan,
problema
kebudayaan,
kepercayaan,
dan
sebagainya
(Sediaoetama, 1991:14).
Penyakit gizi KKP, defisiensi
vitamin A, defisiensi yodium dan zat
besi dapat disembuhkan secara tuntas
pada seseorang, tetapi sebagai penyakit
gizi masyarakat Indonesia, masih belum
dianggap
telah
ditanggulangi
dan
diberantas
secara
tuntas.
Upaya
penanggulangan penyakit-penyakit gizi
masyarakat ini harus dilakukan secara
lintas sektoral dengan multidisipliner. Ini
memerlukan kerjasama antara berbagai
keahlian yang harus dikoordinasikan dan
dilaksanakan secara sinkron, dan semua
ini harus dilakukan dari tingkat nasional
sampai ke tingkat lokal di daerah-daerah
di Indonesia
B. Hubungan antara Makanan Bergizi
dengan Kesehatan-Kebugaran Kerja
[

Berbagai
fakta
menunjukkan
bahwa
seseorang
yang
mendapat
makanan yang cukup gizinya akan
memiliki daya kerja yang tinggi, daya
tahan tubuh yang kuat, dan gairah hidup
dan gairah kerja yang lebih besar. Selain
itu,
seseorang
yang
menkonsumsi
makanan
yang
bergizi
cenderung
menunjukkan kondisi kesehatan dan
kebugaran yang prima, baik pada aspek
jasmani maupun pada aspek rohani.
Makanan yang cukup gizinya artinya
telah dipenuhi jumlah dan kualitas
makanan
yang
diperlukan
untuk
kebutuhan
hidup seseorang. Dengan
singkat dapat dikatakan bahwa makanan

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[15]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

yang bergizi ialah makanan yang
mengandung protein, lemak, hidrat arang,
vitamin
dan mineral dalam keadan
seimbang.
Hipocrates yang dikenal sebagai
bapak Ilmu Kedokteran pada tahun 400
sebelum
masehi
telah
menekankan
pentingnya
makanan
bergizi
bagi
kesehatan. Pada tahun 460 sebelum
masehi, Hipocrates lebih lanjut bahkan
telah dapat memberikan pengobatan
kepada pasien rabun senja dengan
memberikan makanan tambahan, yaitu
hati hewan. Ratusan tahun kemudian
barulah diketemukan bahwa rabun senja
adalah penyakit yang timbul akibat dari
kekurangan vitamin A. Penyelidikan
selanjutnya membuktikan bahawa hati
hewan merupakan makanan bergizi yang
banyak
mengandung
vitamin
A.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Teknologi,
dan Seni (IPTEKS), khususnya ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang
kedokteran, membuka sejarah baru yang
sangat berarti bagi perkembangan ilmu
gizi dewasa ini. Berbagai pengamatan
dan penelitian diadakan dalam menggali
dan mencermati hubungan yang jelas
antara gizi dan aspek-aspek kesehatan
dan kebugaran manusia (Saripah dan
Sudaryati, 1989:6).
Jadi dapat disimpulkan ba hwa ada
hubungan yang erat antara makanan
bergizi dengan kesehatan manusia yang
telah lama diakui. Sejak tahun 1970 para
pembuat kebijaksanaan pembangunan di
dunia menyadari bahwa arti makanan
lebih luas dari sekadar untuk memelihara
dan
meningkatkan
kesehatan
saja.
Kecukupan gizi dan pangan merupakan
salah satu faktor terpenting dalam
mengembangkan
kualitas
sumberdaya
manusia, hal mana merupakan faktor

kunci dalam keberhasilan pembangunan
suatu bangsa. Dalam hal ini gizi ternyata
sangat berpengaruh terhadap kecerdasan,
kinerja, dan produktivitas kerja manusia
C. Hubungan
antara Gizi
Pertumbuhan Jasmani

dengan

McGarrison
telah
menyelidiki
hubungan antara makanan yang bergizi
dengan keadaan fisik atau pertumbuhan
jasmani orang-orang di daerah India
Selatan
dan
Utara.
McGarrison
menemukan bahwa suku di India Utara
yang makanannya cukup gizi untuk
memenuhi kebutuhan tubuh memiliki
perawakan yang tinggi dan kekar,
bersemangat
dan
berusia
rata-rata
panjang. Sebaliknya suku di India
Selatan yang tidak mendapatkan makanan
bergizi
untuk
memenuhi
kebutuhan
tubuhnya memiliki tubuh yang kecil,
kurang produktif, kinerjanya rendah, dan
rata-rata berusia pendek.
D. Hubungan
antara Gizi
dengan
Kinerja dan Produktivitas Kerja
Seseorang yang kurang makan dan
orang yang makanannya kurang bergizi
tentu tidak akan dapat bekerja dengan
bersemangat
atau
bergairah
yang
mempengaruhi kinerja dan produktivitas
kerja orang tersebut, yaitu orang-orang
yang tergolong kepada manusia yang
berkinerja rendah yang pada akhirnya
mempengaruhi rendahnya produktivitas
kerja orang tersebut. Orang-orang tersebut
yang
kekurangan
makanan
bergizi
cenderung
bekerja
dengan
lamban,
bahkan cenderung jadi pemalas.
Menurut
hasil
penelitian,
karyawan-karyawan
pabrik
yang
mendapatkan makanan tambahan yang
cukup bergizi selama
jam
kerja
menunjukkan
hasil produksi
yang

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[16]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

meningkat dan kecelakaan di pabrik
menurun. Oleh karena itu, dewasa ini
banyak pabrik atau perusahaan yang
memberikan makanan tambahan yang
bergizi
kepada
karyawannya
guna
menjaga dan meningkatkan kinerja dan
produktivitas para karyawan yang pada
akhirnya dapat meningkatkan kinerja dan
produktivitas perusahaan dalam mengolah
bahan mentah menjadi bahan jadi yang
siap dikonsumsi oleh konsumen.
Jadi dapat disimpulkan bahwa
makanan yang bergizi berkontribusi besar
dalam
meningkatkan
kinerja
dan
produktivitas
individu
dan kelompok
dalam bekerja. Hal ini ditandai oleh
tingginya gairah dan semangat kerja serta
daya tahan kerja pada diri individu dan
kelompok individu yang bekerja tersebut.

yang tinggi pula. Manusia atau anak
yang cerdas, kreatif, dan produktif sangat
dibutuhkan oleh suatu bangsa sebagai
pemikir dan pelaku pembangunan di
berbagai bidang kehidupan.
Oleh karena itu sangat diharapkan
kepada para orangtua untuk selalu
memperhatikan kebutuhan gizi anaknya
agar mengalami
perkembangan dan
pertumbuhan otak yang optimal dan
maksimal.
Jika
otak
anak
telah
mengalami
pertumbuhan
dan
perkembangan
yang
maksimal
dan
optimal, maka akan lahir anak yang
cerdas yang mampu berpikir kreatif,
inovatif, dan produktif sehingga dapat
menjadi manusia yang mampu menjadi
motor penggerak pembangunan dalam
berbagai bidang kehidupan.

E. Hubungan
antara
Kecerdasan Otak

F. Peranan
terhadap
Manusia

Gizi

dengan

Anak-anak
yang
tidak
mendapatkan makanan bergizi yang
cukup, pada umumnya mereka mengalami
perkembangan otak yang lamban sehingga
anak-anak
tersebut
menderita
perkembangan otak yang lamban dan
tingkat kecerdasan anak anak tersebut
pada umumnya rendah. Telah diketahui
bahwa pada anak-anak yang memiliki zat
pembangun yang cukup adalah sangat
berpengaruh terhadap perkembangan dan
pertumbuhan otaknya. Kekurangan zat ini
pada diri anak akan menyebabkan anak
menjadi lamban dalam belajar, anak
menjadi tidak kreatif, tidak berinisiatif
dan bahkan anak cenderung pasif dalam
belajar. Sebaliknya kebutuhan gizi yang
cukup yang berasal dari makanan yang
bergizi
akan
menyebabkan
anak
mengalami
pertumbuhan
dan
perkembangan otak yang baik yang
menyebabkan anak memiliki kecerdasan

Usaha Kesehatan Gizi
Kebugaran
Tubuh

1. Tingkat-tingkat Konsumsi Gizi
Keadaan kesehatan gizi tergantung
dari tingkat konsumsi gizi. Tingkat
konsumsi gizi ditentukan oleh kualitas
dan kuantitas hidangan. Kualitas hidangan
menunjukkan adanya semua zat gizi yang
diperlukan tubuh di dalam susunan
hidangan dan perbandingannya yang satu
terhadap
yang
lain.
Kuantitas
menunjukkan kwantum masing-masing zat
gizi terhadap kebutuhan tubuh. Kalau
susunan hidangan memenuhi kebutuhan
tubuh, baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya, maka tubuh akan mendapat
kondisi kesehatan gizi yang sebaikbaiknya. Konsumsi yang menghasilkan
kesehatan
gizi
yang
sebaik-baiknya
disebut
konsumsi
adekwat.
Kalau
konsumsi baik kualitasnya dan dalam
jumlah
melebihi
kebutuhan
tubuh
dinamakan konsumsi berlebih, maka akan

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[17]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

terjadi
suatu
keadaan
gizi
lebih.
Sebaliknya konsumsi yang kurang baik
kualitasnya
maupun
kurang
baik
kuantitasnya akan memberikan kondisi
kesehatan gizi kurang atau kondisi
defisiensi gizi (Sediaoetama, 1991:25).
Jika seseorang mengalami kondisi
defisiensi gizi, maka orang tersebut akan
kelihatan kurang bersemangat, letih, lesu,
kurang bergairah, dan lamban dalam
belajar dan bekerja. Dengan kata lain
pemenuhan tingkat gizi yang kurang
pada diri seseorang akan menyebabkan
orang tersebut kelihatan kurang sehat
atau tidak mengalami kebugaran tubuh.
Oleh karena itu sangat diharapkan
kepada pihak orangtua, keluarga, sekolah,
dan masyarakat, serta semua pihak yang
peduli
terhadap
pertumbuhan
dan
perkembangan anak bangsa agar kiranya
memperhatikan dan menjaga pemenuhan
kebutuhan tingkat konsumsi gizi yang
cukup dan seimbang kepada anak-anak
bangsa agar mereka dapat tumbuh dan
berkembang menjadi generasi muda
bangsa yang memiliki kesehatan dan
kebugaran tubuh yang prima agar para
anak bangsa tersebut dapat melaksanakan
pembangunan bangsa dalam berbagai
sektor
kehidupan
berbangsa
dan
bernegara.
2. Tingkat-tingkat Kesehatan Gizi
Tingkat kesehatan gizi sesuai
dengan
tingkat
konsumsi
yang
menyebabkan
tercapainya
kesehatan
tersebut. Tingkat kesehatan gizi terbaik
ialah kesehatan gizi optimum. Dalam
kondisi ini jaringan jenuh oleh semua zat
gizi tersebut. Tubuh terbebas dari
penyakit dan mempunyai daya kerja dan
efisiensi yang sebaik-baiknya serta tubuh
juga mempunyai daya tahan yang
setinggi-tingginya jika tingkat kesehatan

gizi mencukup sesuai dengan tingkat
kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh
tubuh.
Tingkat kesehatan gizi sebagai
hasil konsumsi berlebih adalah kesehatan
gizi
lebih.
Ternyata
kondisi
ini
mempunyai tingkat kesehatan yang lebih
rendah, meskipun berat badan lebih
tinggi jika dibandingkan dengan berat
badan ideal. Tubuh yang kelebihan berat
badan disebut overweight. Kelebihan
berat badan ini, oleh orang awam
menyebutnya kegemukan dengan berat
badan sampai 10-15 % di atas berat
badan ideal adalah belum dikategorikan
sebagai penyakit gemuk atau obesitas.
Bila kelebihan berat badan di atas berat
badan ideal yang sudah melebihi 20 %,
maka sudah termasuk seseorang tersebut
mengalami
penyakit
obesitas
atau
kegemukan. Dalam keadaan demikian ini
timbul penyakit-penyakit tertentu yang
sering dijumpai pada orang yang
mengalami kegemukan. Penyakit-penyakit
tersebut misalnya penyakit kardiovaskular
yang menyerang jantung dan sistem
pembuluh darah, timbulnya penyakit
hipertensi dan penyakit diabetes mellitus
(Sediaoetama, 1991:26).
Orang yang mengalami berat
badan lebih, kapasitas dan efisiensi kerja
menurun dan juga daya tahan tubuh
menurun yang tampak pada morbiditas
dan mortalitas yang meningkat. Orang
yang menderita berat badan lebih
mengalami gejala cepat lelah dan lebih
mudah
mendapat
kecelakaan
dan
membuat kesalahan dalam mengerjakan
pekerjaannya. Lama hidup orang yang
menderita kegemukan juga lebih pendek
jika dibandingkan dengan lama hidup
orang yang mempunyai berat badan
ideal. Selain itu, orang yang mengalami

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[18]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

kegemukan akan lebih cepat merasa
kepanasan
badannya
dan
cepat
berkeringat.
Pada
orang
yang
menderita
obesitas,
tempat-tempat
penimbunan
cadangan zat gizi sudah penuh, tak dapat
lagi menampung simpanan dan kelebihan
zat gizi yang masih tersisah di simpan
di tempat lain yang tidak biasa. Terjadi
penimbunan lemak di sekitar organ-organ
dalam yang vital seperti jantung, ginjal,
dan hati. Keadaan ini akan menghambat
fungsi dari organ-organ penting tersebut.
Tingkat kesehatan gizi sebagai
hasil konsumsi defisien juga dialami oleh
orang yang sehat. Terjadi gejala-gejala
penyakit defisiensi gizi. Berat badan akan
lebih rendah dari berat badan ideal dan
penyediaan zat-zat gizi bagi jaringan
tidak
mencukupi,
sehingga
akan
menghambat fungsi jaringan tersebut.
Tempat penimbunan zat gizi menjadi
kosong. Bila berat badan lebih rendah
dari 85 % berat badan ideal, maka dapat
dikatakan sebagai berat badan yang
kurang. Reaksi-reaksi metabolik menjadi
terhambat dan mengalami perubahan
abnormal,
sehingga
terjadi
pula
perubahan dalam susunan biokimiawi
jaringan (Sediaoetama, 1991:26).
3. Penyakit-penyakit Gizi
Menurut Sediaoetama (1991:26-27)
bahwa
penyakit-penyakit
yang
berhubungan dengan gizi, dapat dibagi ke
dalam empat golongan, yaitu (1) penyakit
gizi lebih, (2) penyakit gizi kurang, (3)
penyakit metabolik bawaan, dan (4)
penyakit keracunan makanan. Penyakit
gizi lebih berkaitan dengan kelebihan
enersi
di
dalam
hidangan
yang
dikonsumsi. Ada tiga zat makanan
penghasil enersi utama, yaitu karbohidrat,
lemak, dan protein. Kelebihan enersi di

dalam tubuh manusia diubah menjadi
lemak dan ditimbun pada tempat-tempat
tertentu. Jaringan lemak ini merupakan
jaringan yang relatif inaktif yang tidak
langsung berperan serta dalam kegiatan
kerja tubuh. Orang yang kelebihan berat
badan
biasanya
disebabkan
karena
kelebihan jaringan lemak yang tidak aktif
tersebut. Kegemukan yang dialami oleh
seseorang akan meningkatkan beban kerja
organ-organ tubuh terutama kerja jantung.
Penyakit gizi kurang dan gizi
lebih merupakan dua penyakit yang
sering dijadikan satu kelompok dan
disebut penyakit gizi salah (malnutrition).
Pada penyakit gizi salah ini, kesalahan
pangan
terutama
terletak
pada
ketidakseimbangan komposisi hidangan.
Pada penyakit gizi lebih susunan
hidangan
mungkin
seimbang
tetapi
kwantum
yang
dikonsumsi
secara
keseluruhan melebihi apa yang diperlukan
oleh tubuh. Sebaliknya pada penyakit
gizi kurang, susunan hidangan yang
dikonsumsi juga masih seimbang tapi
hanya kwantum keseluruhannya tidak
mencukupi
kebutuhan
tubuh
(Sediaoetama, 1991:27).
Penyakit gizi salah di Indonesia
yang terbanyak termasuk gizi kurang
yang mencakup susunan hidangan yang
tidak
seimbang
maupun
konsumsi
keseluruhannya yang tidak mencukupi
kebutuhan badan. Gejala subjektif yang
diderita oleh seseorang ialah perasaan
lapar, sehingga gizi salah di sini disebut
juga keadaan gizi lapar. Penyakit gizi
salah ini terutama diderita oleh anakanak yang sedang tumbuh sangat pesat
yang juga disebut kelompok anak Balita
(anak yang berusia di bawah lima
tahun). Gejala kekurangan pada kondisi
ini ialah kurang kalori dan kurang

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[19]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

protein, sehingga disebut penyakit kurang
kalori
dan
protein
(Sediaoetama,
1991:27).
Selanjutnya jenis penyakit gizi
lainnya
ialah
penyakit
metabolisma
bawaan yang mana kelompok penyakit
ini diturunkan dari orangtua kepada
anaknya
secara
genetik
dan
bermanifestasi sebagai kelainan dalam
proses metabolisme zat gizi tertentu.
Metabolisme zat gizi diatur oleh sistem
enzim dan enzim ini termasuk kelompok
protein yang disintesa di dalam tubuh
(sel tubuh). Mekanisme untuk sintesa
protein dikuasai oleh genes yang
mengandung kodon bagi jenis protein
enzim yang akan disintesanya. Kadangkadang terjadi gangguan pada aparat
sintesa protein ini, sehingga terbentuk
enzim yang berlainan dengan yang biasa.
Akibatnya terjadi proses metabolisme
yang berbeda pada zat gizi tertentu.
Perubahan metabolisme ini menyebabkan
gejala-gejala biokimiawi maupun klinis
(Sediaoetama, 1991:28).
Penyakit-penyakit
yang
telah
dikenal tergolong dalam jenis ini ialah
cicle cell anemia, lactose intolerance, dan
sebagainya. Meskipun telah dikenal dasar
pathogenesis dari berbagai penyakit ini,
tidak
selalu
dapat
diusahakan
pengobatannya yang memuaskan karena
pengobatan tidak kausal memperbaiki
kesalahan yang terdapat pada gene
tersebut.
Tetapi
untuk
beberapa
diantaranya
pendekatan
pengobatan
dietetik sudah memberikan hasil yang
memuaskan,

G. Kesimpulan
Masalah kekurangan gizi bagi
masyarak
di
Indonesia
masih
memprihatinkan,
karena
itu
untuk
mengatasinya diperlukan usaha kesehatan
gizi yang mencakup usaha kesehatan gizi
perorangan dan usaha kesehatan gizi
masyarakat. Terdapat hubungan antara
makanan bergizi dengan kesehatan atau
kebugaran kerja, Selain itu terdapat
hubungan
antara
gizi
dengan
pertumbuhan jasmani, terdapat hubungan
antara
gizi
dengan kinerja
dan
produktivitas kerja, terdapat hubungan
antara gizi dengan kecerdasan otak.
Peranan usaha kesehatan gizi terhadap
kebugaran tubuh manusia mencakup
tingkat-tingkat konsumsi gizi, tingkattingkat kesehatan gizi, dan penyakitpenyakit gizi.
H. Daftar Pustaka
Entjang, I. 2000. Ilmu
Masyarakat. Bandung:
Aditya Bakti.

Kesehatan
PT. Citra

Nurhayati B, dkk., 2010. Analisis Gizi
Makanan Tradisional Suku Bugis di
Sulawesi Selatan.
Makassar:
Lemlit Universitas Negeri Makassar
(UNM).
Saripah, L dan Sudaryati, 1989. Ilmu
Gizi. Jakarta: Depdikbud.
Sediaoetama, A.D. 1991. Ilmu Gizi untuk
Mahasiswa dan Profesi di Indonesia.
Jakarta: Dian Rakyat

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[20]