DIET MAKANAN BAGI PENYANDANG AUTISTIK

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

Dwiyatmi Sulasminah
PLB FIP UNM

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[46]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

DIET MAKANAN BAGI PENYANDANG AUTISTIK
Dwiyatmi Sulasminah
PLB FIP UNM
Abstrak
Autistik merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat kompleks
atau berat dalam kehidupan yang panjang, yang meliputi gangguan aspek interaksi sosial,
komunikasi dan bahasa, sensomotorik, persepsi, emosi dan perilaku. Gejala-gejala ini
biasanya sudah tampak sejak anak berusia 3 tahun. Prevalensi anak autis dari tahun ketahun
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurut seorang dokter di Jakarta
berdasarkan pengalaman prakteknya, “bahwa sebelum tahun 1990 an jumlah anak yang
didiagnosis sebagai anak dengan gangguan autistik dalam setahun hanya sekitar 5 orang dan
sekarang dalam setahun bisa mendiagnosis 3 orang dalam sehari” (Yuwono, 2009: xii).
Mencermati apa yang dikemukakan pengalaman seorang dokter, kita bisa merenungkan
betapa banyaknya anak-anak yang mengalami gangguan autistik tersebut dan berbagai faktor
penyebab belum diketahui dengan pasti. Autisme ditemukan pertama kali oleh seorang Ahli
Kesehatan jiwa bernama Leo Kanner ( 1943 ). Kanner menjabarkan tentang 11 pasien
kecilnya yang berprilaku ‘aneh’ yaitu asik dengan dirinya sendiri, seolah – oleh hidup dalam
dunianya sendiri dan menolak berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Kanner
menggunakan istilah ‘autisme’ yang artinya hidup dalam dunianya sendiri.
Jenis Autisme
1. Autisme Infantile ; Autisme yang sudah terjadi sejak lahir
2. Autisme Regresif ; Autisme yang baru terjadi setelah anak berusia 1,5 – 2 tahun. Sampai
umur 18 bulan ( 1,5 tahun ) pertumbuhan dan perkembangan anak normal, tapi setelah itu
terjadi kemunduran perkembangan.
Makanan yang berpotensi menghasilkan zat-zat pemicu autisme antara lain makanan yang
mengandung gluten dan kasein. Gluten merupakan protein yang terdapat dalam tepung terigu,
oat/gandum, dan barley. Sedangkan kasein terkandung dalam susu dan berbagai hasil
olahannya yaitu keju dan yoghurt. Gluten dan kasein dapat dihindari dengan memberikan
nasi, tepung singkong, susu kedelai, buah-buahan, serta sayuran. Selain itu zat penyedap dan
pewarna makanan juga perlu dihindari dalam penyajian makanan.
Kata Kunci: Anak Autistik, Diet Makanan
A. Pendahuluan
Autisme ditemukan pertama kali
oleh seorang Ahli Kesehatan jiwa bernama
Leo Kanner ( 1943 ). Kanner menjabarkan
tentang 11 pasien kecilnya yang berprilaku
‘aneh’ yaitu asik dengan dirinya sendiri,
seolah – oleh hidup dalam dunianya sendiri
dan menolak berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya. Kanner menggunakan istilah
‘autisme’ yang artinya hidup dalam
dunianya sendiri.

Di Indonesia, isue munculnya anak dengan
gangguan autistik sekitar tahun 1990 an, dan
mulai dikenal luas sekitar tahun 2000 an.
Bahkan di Sulawesi Selatan, khususnya di
kota Makassar sekitar tahun 2000 an
tersebut mulai muncul pusat-pusat terapi di
mana-mana.
Dengan
melomjaknya
prevalensi anak autis ini membutuhkan
berbagai aspek yang berkait dengan sistem
pelayanan dan penanganan anak tersebut
seperti layanan pendidikan, layanan terapi,

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[47]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

layanan konsultasi bagi keluarga anak autis,
serta kebijakan yang memberi kontribusi
penting bagi layanan anak autis sehingga
pemberian diagnosis dan layanan anak autis
antara profesional yang satu dengan yang
lainnya tidak begitu berbeda.
Terkadang di masyarakat awam
setiap anak yang suka menyendiri, anak
yang belum dapat bicara pada usia 2 tahun,
bagus dalam ingatan, pintar dalam
matematika, sangat pintar, pada anak-anak
yang sudah sekolah dan tidak mau diam di
kelas, dan mereka yang memiliki hambatan
dalam aspek intelegensi dikatakan sebagai
anak autis, padahal mereka adalah bukan
anak autis. Ini bisa dimaklumi karena
ketidaktahuan
masyarakat
tersebut.
“Autistik
merupakan
gangguan
perkembangan pervasive” (Sujarwanto,
2005:167) yaitu gangguan berat dan meluas
dalam area perkembangan, ditandai dengan
abnormalitas kualitatif dalam interaksi
sosial, perkembangan bahasa dan perilaku,
manifestasinya pada usia dini sebelum usia
3 tahun dan pada umumnya mempengaruhi
perkembangan lainnya.
Perkembangan
anak
autis
menunjukkan pola perkembangan yang
membingungkan,
karena
anak
autis
menunjukkan cara tertentu yang dimilikinya.
Mereka sebagai individu adalah individu
dalam norma sosial yang berbeda.
Keragaman variabel karakteristik anak
autistik sebagai individu berbeda karena
adanya perbedaan kepribadian, keluarga,
pengalaman hidupnya dan cara mereka
ditata
dan
bagaimana
lingkungan
mempengaruhi individu autistik itu sendiri.
Makanan yang berpotensi menghasilkan zatzat pemicu autisme antara lain makanan
yang mengandung gluten dan kasein. Gluten
merupakan protein yang terdapat dalam
tepung terigu, oat/gandum, dan barley.

Sedangkan kasein terkandung dalam susu
dan berbagai hasil olahannya yaitu keju dan
yoghurt. Gluten dan kasein dapat dihindari
dengan memberikan nasi, tepung singkong,
susu kedelai, buah-buahan, serta sayuran.
Selain itu zat penyedap dan pewarna
makanan juga perlu dihindari dalam
penyajian makanan.
Pengaturan makan pada anak perlu
dilakukan antara lain dengan memberikan
makanan yang mengandung gizi seimbang
kepada anak seperti sayuran dan buah
dengan tujuan untuk memperbaiki sel-sel
yang rusak. Apabila memasak pilihlah
minyak yang sehat seperti minyak sayur,
minyak jagung, minyak biji bunga matahari,
maupun minyak kedelai. Selain itu juga
perlu menghindari beberapa makanan
seperti (junk food) dan gula terutama pada
anak yang hiperaktif dan menderita infeksi
jamur. Gula dapat diganti dengan fruktosa
(semisal madu) karena penyerapannya lebih
lambat dari gula.
Di sisi lain, penelitian menunjukkan,
80% anak autis di Indonesia mengalami
keracunan logam berat, seperti Timbal ( Pb
), Merkuri ( Hg ), Cadmium ( Cd ), Stibium
( Sb ). Kontaminasi logam berat ini bisa
berasal dari polusi udara ( asap knalpot
mengandung Timbal ), tambalan gigi
amalgam, vaksin yang menggunakan
merkuri sebagai pengawet, serta jika
mengkonsumsi ikan di perairan yang
tercemar. Logam berat yang masuk ke
dalam tubuh bersifat destruktif. Merkuri
terutama merusak myelin ( selaput
pelindung saraf – saraf otak ). Akibatnya sel
– sel darah otak ibarat kabel listrik yang
terbuka dan rusak, tidak bisa berfungsi
dengan baik.
Selain merusak enzim pencernaan,
merkuri juga menimbulkan turunnya daya
kekebalan tubuh. Celakanya, jika sakit, anak

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[48]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

akan mendapatkan antibiotika. Padahal
antibiotik tidak hanya membunuh kuman –
kuman penyakit, tetapi juga bakteri – bakteri
baik dalam perut seperti lactobacillus.
Dengan
terbunuhnya
lactobacillus,
keseimbangan yang ada di dalam tubuh
menjadi
berubah.
Jamur
yang
pertumbuhannya selama ini dikontrol oleh
lactobacillus, bisa berkembang bebas di
usus. Jamur berkembang biak dan
menempelkan diri ke dinding usus dan
mengeluarkan enzim pencernaannya sendiri.
Akibatnya dinding mukosa usus menjadi
berlubang – lubang kecil. Lubang – lubang
ini meningkatkan permeabilitas usus, yaitu
kemampuan usus untuk menyerap partikel –
partikel makanan.
Proses penyerapan protein pada anak
autis juga terganggu. Protein terdiri dari
rangkaian panjang asam amino. Bila
pencernaan baik, maka rantai tersebut putus
semua menjadi satuan asam amino. Namun
jika pencernaan kurang sempurna, maka
rantai tidak putus secara total, tapi masih
ada rantai pendek yang terdiri dari 2-3 asam
amino. Rantai pendek ini disebut Peptide.
Pengertian Anak Autistik
Autistik
merupakan
gangguan
perkembangan
yang
mempengaruhi
beberapa aspek bagi anak dalam melihat
dunia dan belajar dari pengalamannya.
Biasanya anak-anak ini kurang dalam
melakukan kontak sosial dan tidak adanya
kontak mata. Selain iyu, anak autistik
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi
dan terlambat dalam perkembangan
bicaranya. Ciri lainnya nampak pada
perilaku stereotipe seperti mengepakkan
tangan secara berulang-ulang, mondarmandir tidak bertujuan, menyusun benda
berderet dan terpukau terhadap benda yang
berputar seperti kipas angin/baling-baling,

putaran roda. Setiap anak autis memiliki
karateristiknya sendiri.
Monks dkk (1988) menuliskan
bahwa autistik berasal dari kata “autos”
yang berarti “aku”. Berk (2003) menuliskan
autistik dengan istilah “absorbed in the
self”, yaitu asyik dengan dirinya sendiri.
Wall (2004) menyebut anak autistik ini
sebagai “aloof atau withdrawan” dimana
anak-anak dengan gangguan autistik ini
tidak tertarik dengan dunia sekitarnya.
Bahkan Tilton (2004) menyatakan bahwa
pemberian istilah autistik ini karena pada
diri mereka tampak “keasyikan yang
berlebihan” dalam dirinya sendiri (Yuwono,
2009:24).
Prevalensi anak Autistik pada 10 –
20 tahun yang lalu terjadi pada 2- 5 dari
setiap 10.000 kelahiran, di tahun 2000 an
jumlah ini meningkat menjadi 15 – 20 anak
atau 1 per 500 anak bahkan di Amerika
Serikat 1/200 kelahiran dimana jumlah
penyandang
laki-laki
lebih
besar
dibandingkan penderita wanita , tetapi jika
autistik ini terjadi pada anak perempuan
akan menunjukkan gejala yang lebih parah
dibanding anak laki-laki (Maulana,2007).
Hal senada juga dipaparkan Endang Warsiki
(2010) berdasarkan hasil observasi di ruang
Day Care Jiwa RSU Dr. Soetomo nampak
bahwa penderita autistik ini lebih
didominasi
anak
laki-laki
dengan
perbandingan 9:1 Gejala-gejala autistik ini
mulai tampak sejak masa paling awal pada
kehidupan mereka. Gejala tersebut mulai
tampak ketika bayi menolak sentuhan
orangtuanya, tidak merespon kehadiran
orangtuanya, dan melakukan kebiasaankebiasaan yang tidak dilakukan bayi pada
umumnya.
Endang Warsiki (2010) memberikan
batasan gangguan spektrum autisme (ASD)
diartikan dengan onset dini (usia kurang dari

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[49]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

3 tahun) dari kesulitan interaksi sosial secara
timbal balik, gangguan komunikasi dan
tingkah laku terbatas dan berulang-ulang
disertai keterbatasan minat, aktivitas, dan
imajinasi.
Ritvo dan Freeman (1978) dan The
Autism Society of America (2004)
mendefinisikan autistik sebagai “gangguan
perkembangan yang kompleks dan muncul
selama tiga tahun pertama kehidupan
sebagai akibat gangguan neurologis yang
mempengaruhi
fungsi
otak”(Yuwono,
2009:26).
Ketika memasuki umur dimana
mereka seharusnya mulai mengucapkan
beberapa kata, misanya makan, bapak, ibu,
kakak, minum, dan seterusnya, balita ini
tidak mampu melakukannya. Selain itu
mereka pun mengalami keterlambatan
perkembangan kemampuan yang lainnya.
Tahap inilah, sebenarnya bagi orangtua
mulai menyadari adanya kelainan pada diri
anak mereka. Penyandang autistik ini pun
dapat ditemukan dalam keluarga dari semua
kelas sosial. Kejadian autistik ini tidak
pandang bulu apakah hanya milik keluarga
kurang mampu saja, tetapi dapat terjadi pada
semua strata sosial apakah keluarga kaya,
miskin, berpendidikan, ataupun dari
keluarga kurang berpendidikan.
Di
masyarakat
awam,
jika
menemukan anak/penderita autistik ini
sering beranggapa sebagai anak-anak
dengan gangguan kejiwaaan. Anggapan
seperti ini tidak salah, apalagi jika dilihat
dari perilaku anak yang senang menyendiri,
dengan gerakan-gerakan stereotipe dan
berulang-ulang, tertarik pada satu hal dan
sifatnya terus-menerus, bahkan ada diantara
penyandang autistik ini yang sangat peka
terhadap sentuhan sehingga jika mereka
disentuh akan mengamuk. Berdasarkan
karakteristik yang muncul pada penderita

autistik ini, tahun 1950 an para clinician
beranggapan bahwa “autistik merupakan
bentuk yang paling awal dari Schizoprenia”
(Yuwono, 2009:11).
Karakteristik Anak Autistik
Jordan
menuliskan
ada
tiga
gangguan yang sering dialami anak autistik
yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan
bahasa dan komunikasi, dan gangguan
pikiran dan perilaku. Sedangkan Wall
menuliskan interaksi sosial, komunikasi, dan
imajinasi (Yuwono, 2009). Jika anak
mengalami masalah dalam perilaku maka
aspek komunikasi dan bahasa serta interaksi
sosial anak akan mengalami kesulitan.
Begitu pun jika komunikasi dan bahasa anak
tidak berkembang anak sulit menjalin
hubungan sosial dengan lingkungannya serta
kesulitan perilaku yang bermakna. Demikian
pula jika anak mengalami kesulitan dalam
interaksi
sosial.
Selanjutnya
untuk
mempermudah
memahami
keterkaitan
antara ketiga jenis gangguan yang dialami
anak
autistik,
Yuwono
(2009)
menggambarkan
keterkaitan
ketiga
gangguan yaitu interaksi sosial, komunikasi
dan bahasa, serta perilaku anak autis sebagai
berikut:
Berdasarkan ketiga jenis gangguan
tersebut di atas maka karakteristik yang
nampak pada anak autistik adalah:
1) Perilaku
 Cuek terhadap lingkungannya.
 Perilaku tak terarah, mondar-mandir,
berlarian kesana kemari, memanjat,
berputar-putar, melompat-lompat.
 Kelekatan terhadap benda tertentu
 Perilaku tak terarah
 Rigid routine
 Tantrum.
 Obsesive-compulsive behavior

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[50]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

 Terpukau pada benda yang berputar atau
bergerak.
2)


Interaksi sosial
Tidak mau menatap mata
Dipanggil tidak menoleh
Tidak mau bermain dengan teman
sebayanya
 Asyik/bermain dengan dirinya sendiri.
 Tidak ada empati dalam lingkungan
sosial

3) Bahasa dan komunikasi
 Terlambat bicara
 Tak ada usaha untuk berkomunikasi
secara non verbal dengan bahasa tubuh
 Meracau dengan bahasa yang tak
dipahami
 Membeo (echolalia)
 Tak memahami pembicaraan orang lain
(Yuwono, 2009:28-29)

perilaku

interaksi
sosial

komunikasi
dan bahasa

Gambar keterkaitan tiga gangguan pada Anak Autistik
Faktor Penyebab Anak Autistik
Secara spesifik, faktor penyebab
terjadinya autistik belum diketahui secara
pasti, namun demikian ada beragam tingkat
penyebabnya. Secara garis besar penyebab
autistik dapat ditinjau dari faktor sebelum
anak dilahirkan dan setelah anak itu lahir.
Endang Warsiki dalam makalah pada
seminar tentang “Gangguan Mental pada
Anak Autisme, ADHD, dan Keterlambatan
Bicara” memaparkan ada 3 faktor penyebab
gangguan autistik pada anak, yaitu:
1. Faktor Psikologis
2. Faktor
Neurobiologis
yang
akan
menyebabkan kelainan perkembangan
selsel otak selama dalam kandungan atau
susudah anak lahir.
Penyebab
gangguan
neurobiologis
adalah: infeksi virus (herpes simplex,

rubella, retrovirus dsb), keracunan logam
berat dari makanan atau udara seperti
(Pb, Hg, Cd, As, Al, Ni ), taxoplasmosis,
jamur, parasit, trauma kelahiran (anoxia,
pendarahan), bahan kimia beracun
(pestisida, pupuk). Gangguan-gangguan
tersebut
dapat
menyebabkan
pertumbuhan sel-sel otak tidak sempurna.
3. Faktor Genetik
Studi yang dilakukan Red P. Warren
mendapatkan kecenderungan autisme
lebih sering pada anak kembar dan
prevalensi autistik pada anak laki-laki
empat kali lebih besar dari pada anak
perempuan.
Tipe anak Autistik
Menurut Dr. Andrius Plorplys ada
tiga tipe dasar gangguan autistik, yaitu

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[51]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

1. Autisme sejak lahir/autisme klasik
(congenital autism) dikenal dengan nama
sindroma Kanner
2. Autisme regresif, biasanya muncul pada
usia 12-24 bulan setelah periode
perkembangan dan tingkah laku normal
3. Autisme sekunder. Gejala autistik akibat
sekunder dari beberapa keadaan seperti:
- Phenylketonuria (PKU)
- Abnormalitas
sistem
endokrin,
kromosom, dll (Warsiki, 2010)
Perilaku Anak Autistik
Bentuk perilaku anak autistik
menunjukkan perbedaan yang mencolok jika
dibandingkan dengan anak normal lainnya.
Adanya perbedaan perilaku pada anak
autistik ini sering menimbulkan masalah
dalam kehidupan anak dan lingkungannya.
Aktivitas keseharian anak kadang tidak
sesuai dengan yang diharapkan teman dan
lingkungan sekitarnya.
Manifestasi perilaku yang sering
ditunjukkan anak autistik ini bervariasi,
bahkan antara autis yang satu dengan anak
autis lainnya tidak persis sama.
Agresif
Meskipun tidak semua anak autistik
menunjukkan perilaku agresif seperti marah
yang meledak-ledak dan seketika dan tidak
diketahui penyebabnya, tapi ini merupakan
gejala yang sangat umum. Bentuk perilaku
yang sering ditunjukkan
anak seperti
menjungkirbalikkan benda-benda yang ada
di sekitarnya, menjambak, memukul,
menendang, melempar, dan menggigit orang
lain.
Self Injury
Self injury merupakan manifestasi
perilaku anak autistik dalam bentuk
menyakiti diri sendiri. Jordan dan Powell
menyatakan “manifestasi self injury ini akan
muncul dan meningkat dikarenakan

beberapa masalah seperti rasa jemu,
stimulus yang kurang atau sebaliknya
(Yuwono, 2009:46). Perilaku menyakiti diri
yang sering ditunjukkan anak seperti
menjambak rambut, menggigit, memukul
dan membenturkan kepala di lantai atau
tembok ketika mereka merasa tidak nyaman,
tertekan, atau kebutuhannya tidak terpenuhi.
Rigid Routines
Yaitu perilaku anak autistik yang
cebderung mengikuti pola dan urutan
tertentu. Perubahan tersebut. Hal-hal yang
sederhana kadang menjadi masalah bagi
anak karena adanya perubahan yang tidak
sesuai dengan biasanya. Misalkan anak
sudah terbiasa belajar dengan satu guru,
maka jika guru tersebut diganti maka anak
akan bereaksi seperti marah, menolak,
bahkan tidak mau belajar.
Self Stimulation
Leaf
and
McEachin
(1999)
menuliskan
bahwa
“perilaku
self
stimulation merupakan salah satu ciri utama
yang terdapat dalam mendiagnosis anak
autistik” (Yuwono, 2009:50). Perilaku yang
sering ditunjukkan self stimulation adalah
perilaku stereotype, yaitu perilaku yang
tertuju penuh pada suatu objek. Ada tiga
kategori perilaku self stimulation. Pertama,
gerak tubuh dan visual self stimulation
seperti
beraun-ayun,
menepuk-nepuk
tangan, memutar badan sendiri, dan
memperhatikan sesuatu secara berlebihan.
Kedua, menggunakan objek bertujuan untuk
mencari input sensori seperti flapping
menggunakan kertas, daun, melilitkan tali
pada jari, memutar objek, memutar roda
mobil, mengayak pasir, memercik air dan
menjemput-jumput kain. Ketiga, ritual and
obsessions. Yaitu perilaku menyusun objek
dalam satu deret, memegang/kelekatan

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[52]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

benda, emakai pakaian yang sama,
mengulang-ulang kata/kalimat tertentu.
Fixation
Fixation yaitu minat dan kesenangan secara
berlebihan terhadap objek atau aktivitas
tertentu seperti angka, alfabet, membaca
buku, nama-nama tempat bersejarah,
peristiwa.
Kesulitan
Autistik

Makan

pada

Penyandang

Tumbuh kembang anak secara
optimal tergantungdari beberapa hal,
diantaranya pemberian makanan dengan
kuantitas dan kualitas yang seimbang sesuai
dengan kebutuhan. Pada masa tumbuh
kembang pemberian makanan pada anak
tidak selalu dapat dilaksanakan dengan
sempurna karena faktor kesulitan makan
pada anak terutama anak autistik. Jika hal
ini dibiarkan berlarut-larut maka akan
menimbulkan masalah, terutama pemberian
makanan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan anak.
Gejala kesulitan makan pada anak
diantaranya (1) kesulitan mengunyah,
menghisap, menelan makanan, atau hanya
bisa makan makanan lunak atau cair, (2)
memuntahkan atau menyembur-nyemburkan
makanan yang sudah masuk di mulut, (3)
makan berlama-lama atau memainkan
makanan, (4) sama sekali tidak mau
memasukkan makanan ke dalam mulut atau
menutup mulut rapat, (5) memuntahkan atau
menumpahkan makanan, menepis suapan
dari orangtua, (6) tidak menyukai banyak
variasi makanan, (7) kebiasaan makan yang
aneh dan ganjil.
Gejala-gejala
sebagaimana
disebutkan di atas tidak hanya terjadi pada
anak autistik saja, melainkan dapat dan
sering terjadi pada anak-anak normal.
Sebagai orang tua tentunya kesulitan makan
yang terjadi pada anak tidak dibiarkan

begitu fungsi organ tubuh, penyakit yang
diderita anak ataupun karena faktor
psikologis.
Gangguan Proses Makan
Proses makan terjadi mulai dari
memasukkan
makanan
ke
mulut,
mengunyah, dan menelan. Keterampilan dan
kemampuan koordinasi motorik kasar
seperti menggigit, mengunyah, dan menelan
dilakukan oleh otot rahang atas, rahang
bawah, bibir, lidah, otot disekitar mulut.
Gangguan proses makan biasanya berupa
ketidakmampuan dalam proses mengunyah
makanan, sehingga jika anak memuntahkan
makanannya terlihat makanan yang keluar
masih utuh. Hal ini menunjukkan bahwa
proses
mengunyah
makanan
belum
sempurna. Kadang juga pada anak-anak
dengan gangguan autistik ini mengalami
hambatan dalam koordinasi motorik mulut
sehingga pada saat mengunyah makanan
sering tergigit sendiri bagian bibir atau lidah
secara tidak sengaja.
Gangguan koordinasi otot-otot mulut
pada proses makan ini pun selanjutnya akan
mengakibatkan
gangguan
dalam
kemampuan komunikasi terutama bahasa
oral. Anak akan mengalami keterlambatan
bicara dan gangguan bicara. Jika anak bicara
kata-kata yang keluar tidak jelas didengar
dan sulit dimengerti seperti cedal, gagap,
lambat, ataupun bicara terlalu cepat.
Selain akibat dari adanya gangguan
koordinasi
motorik
otot-otot
mulut,
kesulitan makan juga bisa diakibatkan
adanya masalah di saluran pencernaan, dan
sebagai faktor penyebab terpenting didalam
proses makan. Bahkan teori “Gut Brain
Axis” menyatakan bahwa jika terdapat
gangguan saluran cerna, maka akan
mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat
atau otak seperti gangguan neuroanatomis
dan neurofungsional (Maulana, 2007).

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[53]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Akibatnya anak tidak bisa diam, banyak
gerak, sulit berkonsentrasi, mudah marah,
dan terburu-buru.
Terapi Makan pada Anak Autistik
Salah satu pemicu munculnya
gangguan-ganguan komunikasi, interaksi
sosial, maupun perilaku pada anak autistik
adalah makanan. Tidak sama dengan anak
normal yang dapat mengkonsumsi semua
jenis makanan tanpa menimbulkan efek
pada anak. Oleh sebab itu pada anak autistik
menjaga keseimbangan makanan dan
menjauhi makanan pencetus autistik perlu
dilakukan. Selain terapi dari luar seperti
terapi okupasi, terapi wicara, terapi perilaku
diperlukan pula terapi dari dalam tubuh anak
seperti terapi biomedis dan terapi
medikamentosa.
a. Terapi Biomedis
Terapi ini dikembangkan oleh
seorang ahli farmasi dan Guru Besar di
Sunderland di Inggris yang terkenal sebagai
pakar Autis. Di Indonesia terapi ini
diperkenalkan oleh DR. Melly Budiman, Sp.
KJ. Terapi ini dilakukan untuk mngurangi
gejala autistik dengan cara memperbaiki
metabolisme tubuh anak melalui langkahlangkah yang disebut protokol Sunderland.
Sebelum mengikuti terapi ini anak autis
harus melalui pemeriksaan feses, urine,
darah, dan rambut untuk mengetahui
kandungan zat-zat yang ada di dalam tubuh
anak.
 Pemeriksaan
feses
bertujuan
mengungkap adanya jamur, bakteri
aerobik dan unaerobik, parasit dalam
usus, gangguan pencernaan serta keadaan
dinding ususnya.
 Pemeriksaan urine bertujuan mengukur
banyaknya peptida di dalam urine.
Peptida ini berasal dari casein (protein
susu sapi atau domba) dan gluten (protein
gandum)

 Pemeriksaan darah yaitu kiniawi darah,
fungsi hati, ginjal, alergi makanan, sistem
kekebalan tubuh, kadar vitamin dan juga
logam berat sebagai indikator adanya
keracunan didalam tubuh.
 Pemeriksaan
rambut
bertujuan
mengetahui berbagai macam mineral dan
logam berat dalam tubuh, seperti
alumunium, arsenik, kadmium, air raksa,
timbal (Peeters, 2004:162).
Shattock membagi terapi biomedis
ke dalam empat tahapan, dalam rangka
melawan autis:
1. Tahap gencatan senjata.
Atas dasar teori kelebihan opioid
pada penyandang autisme, para ahli sepakat
bahwa
penyandang
autisme
harus
menghilangkan sumber peptida, yaitu
Glutein dan Casein. Anak autis harus
menjalankan diet yang disebut Diet GF-CF
(Gluten-free dan Casein-free). Selain
diyakini dapat memperbaiki gangguan
pencernaan, juga bisa mengurangi gejala
atau tingkah laku autisme anak.
Gluten adalah protein yang berasal
dari keluarga gandum-ganduman. Hasil
olahan yang mengandung gluten adalah
semua yang berasal dari tepung terigu
seperti makaroni, spagetti, mie, ragi, juga
bahan pengembang kue dan roti. Selain itu,
sereal atau snack-crackes juga umumnya
terbuat dari gandum-ganduman.
Sedangkan casein adalah protein
yang berasal dari susu sapi. Produk olahan
yang mengandung casein selain susu sapi
segar maupun susu bubuk adalah mentega,
keju, yoghurt, cokelat dan es krim.
Diet GF (gluten free)-CF(casein free)
memang sangat disarankan. Tapi dengan
catatan, asupan glutein dan casein jangan
dihentikan sama sekali. Sebab ibarat
pecandu narkoba, jika mendadak dihentikan
bisa mengalami sakaw/ketagihan. Pada anak

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[54]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

autis, jika glutein-casein tiba-tiba dihentikan
justru bisa memperburuk kondisi anak.
2. Tahap Problem dan Mencari Persamaan
Tahap
ini
dilakukan
dengan
membuat catatan harian tentang makanan
yang dikonsumsi anak serta perilaku dan
kemampuan yang dicapai anak. Dengan
membuat buku harian tentang makanan anak
akan dapat diketahui makanan apa yang
dapat mengakibatkan efek buruk pada
perilaku, pola tidur, dan keterampilan anak.
Jika ada makanan yang dicurigai dapat
mengakibatkan
efek
buruk
tersebut
sebaiknya bukan berarti enghindari makanan
yang penting bagi tubuh. Setelah melakukan
diet makanan tersebut kemudian dilakukan
uji laboratorium untuk melihat tubuh telah
bebas dari casein dan gluten sehingga
vitamin dan mineral dapat terserap lebih
baik.
3. Membangun Kembali Secara Aktif
Tujuan akhir terapi biomedis ini
adalah agar anak dapat mengkonsumsi
makanan senormal mungkin. Jika kadar
peptida yang merusak bisa dikurangi di
dalam usus maka daya rembes dinding usus
dan sawar otak dapat diperbaiki. Pada tahap
ketiga
ini
ahli
medis
akan
merekomendasikan pemberian suplemen
berdasarkan hasil uji laboratorium.
4. Tahap Intervensi Tambahan
Yaitu tahap pemberian hormon dan
vitamin tambahan seperti vitamin B6 dan
magnesium, diet bebas salisilat, diet bebas
fenol (pigmen), penambahan hormon
sekretin, dan sebagainya
b. Terapi Medikamentosa
Sebelum
penyebab
gangguan
autisme diketahui, penanganan dilakukan
melalui obat-obatan. Obat-obatan yang
diberikan
lebih
ditujukan
untuk
memperbaiki komunikasi, memberi respon
pada lingkungan, dan menghilangkan

perilaku yang aneh dan diulang-ulang.
Karena obat-obatan ini akan memberikan
pengaruh di otak, maka perlu kehati-hatian
dari orang tua. Olehnya itu pemberian obatobatan pada anak autistik harus didasarkan
pada:
 Diagnosis yang tepat
 Indikasi yang kuat
 Pemakaian obat yang seperlunya
 Pemantauan ketat gejala efek samping
 Dosis obat terus menerus disesuaikan
kebutuhan
 Penggunaan obat (Peeters, 2004:172)
Kesimpulan
Autistik
sebagai
“gangguan
perkembangan yang kompleks dan muncul
selama tiga tahun pertama kehidupan
sebagai akibat gangguan neurologis yang
mempengaruhi fungsi otak. Karakteristik
yang ditujnjukkan anak autistik yaitu adanya
gangguan dalam perilaku, gangguan
komunikasi baik verbal maupun non verbal,
dan gangguan interaksi sosial. Munculnya
gejala autis pada anak diakibatkan
keracunan zat-zat tertentu dalam tubuh anak
yang didapat dari makanan yang dikonsumsi
seperti casein yang besasal dari susu hewani
dan gluten dari gandum-ganduman. Untuk
mencegah munculnya autis pada anak maka
perlu dilakukan diet bebas casein dan gluten
melalui terapi makanan. Sebenarnya, gluten
dan casein ini diperlukan tubuh dalam
proses tumbuh kembang. Gluten adalah
protein yang secara alami terdapat dalam
keluarga wheat seperti tepung terigu, oat,
barley. Sedangkan kasein merupakan protein
yang terdapat dalam susu dan olahannya,
seperti keju, dan yoghurt. Kedua bahan itu
pada anak autisme dapat memicu masalah.
Gluten adalah protein yang secara alami
terdapat dalam keluarga wheat seperti
tepung terigu, oat, barley. Sedangkan kasein

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[55]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

merupakan protein yang terdapat dalam susu
dan olahannya, seperti keju, dan yoghurt.
Kedua bahan itu pada anak autisme dapat
memicu masalah.
Di Indonesia, makanan tradisional
menjadi solusi bagi anak autistik dalam
melakukan diet bebas gluten dan casein.
Orang tua dapat mengganti olahan gandum
dengan olahan khas Indonesia seperti beras,
sagu, kentang, singkong, tepung jagung,
pisang serta beraneka jenis buah dan
sayuran segar yang mudah didapat dan
murah harganya.
Daftar Pustaka
Exkorn; Karen Siff. 2005. The Autism
Sourcebook: Everything You Need to
Know About Diagnosis, Treatment,
Coping, And Healing. USA: An
Imprint of Harper Collins Publishers
Maulana; Mirza. 2007. Anak Autis:
Mendidik Anak Autis dan Gangguan
Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan
Sehat. Jogjakarta:Katahati

Peeter; Theo. 2004. Autisme: Hubungan
Pengetahuan Teoretis dan Intervensi
Pendidikan bagi Penyandang Autis.
Jakarta: Pusat Pelatihan Profesional
Penyandang Autis, Antwerb.
Sujarwanto. 2005. Terapi Okupasi Untuk
Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Pendidikan
Tenaga
Kependidikan-Direktorat
Jenderal
Pendidikan
Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional
Yuwono; Joko. 2009. Memahami Anak
Autistik: Kajian Teoretik dan Empirik.
Bandung: Alfabeta
Warsiki; Endang. 2010. Gangguan Mental
Pada Anak: Autisme, ADHD, dan
Keterlambatan
Bicara.
Makalah
Seminar
Diselenggarakan
Oleh
Yayasan Al Kindy tanggal 27 Februari
2010. Makassar: Hotel Horison.

.
.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[56]