POTENSI PEMBERIAN KAPSUL AnadaraMAN

DALAM MEMPERBAIKI KUALITAS
SPERMATOZOA MANUSIA

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

Eddyman W. Ferial
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[56]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

POTENSI PEMBERIAN KAPSUL AnadaraMAN DALAM MEMPERBAIKI
KUALITAS SPERMATOZOA MANUSIA*
Eddyman W. Ferial**
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin
HP. 08114100491 Email: eddy_ferial@yahoo.com
Abstrak
Penelitian berlangsung bulan September 2009-Maret 2010. Sedangkan pengambilan
sampel dilakukan pada pasien terindikasi gangguan infertilitas berusia 16–40 tahun di Pulau
Pannikiang Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan kualitas Spermatozoa manusia pada 36 pasien infertil sebelum dan
sesudah mengonsumsi kapsul gizi AnadaraMAN 800 mg dengan dosis 1 x 1 dan dosis 2 x 1.
Desain penelitian dilakukan dengan uji klinik arah terkontrol. Metode analisis uji t
dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan kualitas volume, Iikuiaksi, viskositas, pH,
konsentrasi, motilitas, jumlah dan viabilitas Spermatozoa dan uji Wilcoxon untuk mengetahui
perbedaan kualitas aglutinasi Spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Gizi
kapsul AnadaraMAN 1 X 1 mampu memberikan perbaikan yang signifikan positif terhadap
volume, likuefaksi, viskositas, pH, konsentrasi, motilitas, jumlah dan viabilitas, dan
aglutinasi Spermatozoa (p < 0,05). 2) Gizi kapsul AnadaraMAN 2 X 1 juga mampu
memberikan perbaikan yang signifikan positif terhadap volume, likuefaksi, viskositas, pH,
konsentrasi, motilitas, jumlah dan viabilitas, dan aglutinasi sepermatozoid (p < 0,05).
Pemberian gizi kapsul AnadaraMAN dosis 2 x 1 Iebih efektif dari pada dosis 1 x 1
ditunjukkan dengan selisih rerata kualitas Spermatozoa.
Kata Kunci : Gizi, AnadaraMAN, Spermatozoa
Abstract
The study was conducted in September 2009 to March 2010. While sampling was taken from
patients aged 16-40 years that have infertility disorders in Island Pannikiang District Tanete,
Barru. Its objectives was to determine the difference in the quality of human spermatozoa in
36 infertile patients before and after consuming 800 mg nutritional capsules AnadaraMAN
with a dose of 1 x 1 and dose 2 x 1. Design studies were clinical trials with direction of
controlled. T test analysis methods intended to determine differences in the quality of
volume, Iikuiaksi, viscosity, pH, concentration, motility, sperm number and viability. In
addition the Wilcoxon test was conduct to determine differences agglutination quality of
sperm. The results showed that: 1) Nutritional capsule AnadaraMAN 1 X 1 is able to provide
a positive significant improvement of the volume, likuefaksi, viscosity, pH, concentration,
motility, number and viability, and agglutination of spermatozoa (p <0.05). 2) Nutrition
AnadaraMAN capsules 2 X 1 is also able to provide a positive significant improvement to the
volume, likuefaksi, viscosity, pH, concentration, motility, number and viability, and
agglutination spermatozoa (p <0.05). AnadaraMAN nutritional capsule dose of 2 x 1 more
effective than a dose of 1 x 1 that shown by the difference in the average quality of
spermatozoa.
Keywords: Nutrition, AnadaraMAN, Spermatozoa
Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[57]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

A. PENDAHULUAN

B. BAHAN DAN METODE

Tendean (2009), menyatakan ada
beberapa hal penyebab infertilitas antara
lain: 1) disebabkan oleh penurunan motilitas
sperma sebagai konsekuensi dari disfungsi
mitokondria sehingga tidak tersedianya
produksi energi yang cukup; 2) atau
disebabkan oleh aksenom yang tidak
memberikan respon flagelasi terhadap ATP
eksogen; 3) disfungsi dari reseptor
progresteron non-genomik.
Penelitian tentang kekerangan dari
berbagai aspek telah banyak dilakukan oleh
para ahli baik di luar Indonesia maupun di
Indonesia sendiri.
Di Bogor, Eddy
Soekendarsi telah meneliti upaya pemijahan
keong mata lembu Turbo argyrostoma L.,
selanjutnya Lestari dan Edward meneliti
kandungan logam pada kerang di Teluk
Jakarta (Lestari dan Edward, 2004). Nani
Heru Suprapti juga meneliti tentang
kandungan
mineral
pada
perairan,
sedimentasi dan kerang darah A. granosa L.
di wilayah Kabupaten Demak, Jawa Tengah
(Suprapti, 2008).
Rasidi, Iswani dan
Rusmaedi
meneliti
Aspek
Biologi,
distribusi, pengelolaan sumber daya Kerang
darah A. granosa L. (Rasidi, dkk., 2005),
selain itu studi tentang reproduksi kerang
darah telah dilakukan di Thailand (Watters
dan Scott, 1998).
Penelitian tentang spermatologi
dalam masalah infertilitas pasangan suami
isteri dan dalam bidang andrologi klinik
juga telah banyak dilakukan, namun
penelitian mengenai hubungan kualitas
Spermatozoa manusia dengan pemberian
nutrisi kerang dalam bentuk sediaan kapsul
belum pernah dilaporkan. Maka perlu
dilakukan penelitian terhadap kualitas
Spermatozoa manusia dengan pemberian
kapsul AnadaraMAN.

1. Desain Penelitian
Kerang Anadara diperoleh dari
Pulau Pannikiang Kecamatan Tanete Rilau
Kabupaten Barru. Pembuatan kapsul kerang
dilakukan di Laboratorium Pengembangan
Produk, Pusat Penelitian Pangan, Gizi dan
Kesehatan, Pusat Kegiatan penelitian Unhas.
Sementara itu sampel Spermatozoa diambil
dari pasien infertilitas dan diuji di
Laboratorium Prodia Makassar, sedangkan
pemotretan Spermatozoa di Pusat Rujukan
Nasional (PRN).
Rancangan/disain penelitian ini
bersifat studi true-experimental (studi
eksperimental sesungguhnya) dengan cara
pre–post-test control group design yaitu
melakukan satu kali pengukuran di depan
(pre-test) sebelum adanya perlakuan
(treatment) dan setelah itu dilakukan
pengukuran lagi (post-test) (Ahmad, 1986).
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah mereka
yang memiliki gangguan infertilitas
sebanyak 36 orang. Mereka adalah hasil dari
pemeriksaan 150 relawan yang berusia 16 40 tahun. Subjek dibagi ke dalam 3
kelompok masing-masing 12 orang. Analisis
semen pada tiap individu kedua kelompok
dilakukan sebelum dan setelah pemberian
nutrisi kapsul AnadaraMAN.
3. Pengumpulan Data
Spermatozoa diambil dari pasien
infertilitas yang berpuasa seks selama 3 - 4
hari di laboratorium.
4. Pemeriksaan Lab
Analisis semen secara klinis atau
laboratorium dilakukan berdasarkan standar
WHO (1999), terdiri dari pemeriksaan
makroskopik (volume, pH, dan viskositas
semen) dan pemeriksaan mikroskopik

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[58]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

(konsentrasi, motilitas,
Spermatozoa).

dan

nilai p untuk masing-masing kualitas
tersebut di bawah 0,05.
Hasil uji t pada Tabel 1.
memperlihatkan ada perbaikan yang
signifikan terhadap volume, pH, viskositas
dan
likuifaksi
Spermatozoa
dengan
pemberian kapsul AnadaraMAN dengan
dosis 2 x 1 kapsul/hari yang ditandai dengan
nilai p untuk masing-masing kualitas adalah
di bawah 0,05.

morfologi

C. HASIL PENELITIAN
1. Pemeriksaan Makroskopik
Volume,
pH,
viskositas
dan
likuifaksi Spermatozoa dari kelompok kasus
dengan pemberian gizi AnadaraMAN dosis
1 x 1 kapsul/hari. memberikan hasil yang
signifikan, hal ini ditandai dengan semua

Tabel 1. Perkembangan Kualitas Spermatozoa
AnadaraMAN 1 x 1 Kapsul/hari
Volume

pH

AnadaraMAN 2 x 1 Kapsul/hari

Viskositas

Likuefaksi

Volume

(cm)

(menit)

(ml)

(ml)

pH

Viskositas

Likuefaksi

(cm)

(menit)

PRE-TEST

1,47

8,167

1,30

57,66

1,43

8,30

1,39

62,50

POST-TEST

1,91

7,73

0,83

52,00

2,22

7,55

1,09

55,83

0,45

-0,4

-0,47

-5,66

0,79

-0,75

-0,30

-6,67

p

0,0

0,0

0,01

0,01

0,00

0,00

0,05

0,00

RUJUKAN

≥2

7,2-7,8

≤2

≤ 60

≥2

7,2-7,8

≤2

≤ 60

Tabel 2. Perbandingan Hasil Uji Wilcoxon terhadap Konsentrasi, Motilitas dan
Viabilitas Spermatozoa berdasarkan Pemeriksaan Mikroskopik pada
Kelompok Kontrol (Plasebo dosis 1 x 1 kapsul/hari), Kelompok Perlakuan 1
(Gizi AnadaraMAN dosis 1 x 1 kapsul/hari) dan Perlakuan 2 (Gizi
AnadaraMAN dosis 2 x 1 kapsul/hari).
AnadaraMAN 1x1 kapsul/hari
Konsentrasi

Motilitas Viabilitas

AnadaraMAN 2x1 kapsul/hari
Konsentrasi

Motilitas

Viabilitas

(juta/ml)

(%)

(%)

(juta/ml)

(%)

(%)

PRE-TEST

57,26

3,08

31,67

56,97

5,41

40,83

POST-TEST

59,8

22

68,75

60,49

22,25

79,58

2,54

18,92

37,08

3,52

16,84

38,75

P

0,02

0,00

0,00

0,01

0,00

0,00

RUJUKAN

≥ 20

≥ 25

≥75

≥ 20

≥ 25

≥75

PRE-TEST

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[59]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 3. Perbandingan Hasil Uji Wilcoxon terhadap Jumlah dan Viabilitas
Spermatozoa berdasarkan Pemeriksaan Mikroskopik Lanjutan pada
Kelompok Kontrol (Plasebo dosis 1 x 1 kapsul/hari), Kelompok Perlakuan 1
(Gizi Kerang Darah dosis 1 x 1 kapsul/hari) dan Perlakuan 2 (Gizi Kerang
Darah dosis 2 x 1 kapsul/hari)
Perkembangan

Jumlah Spermatozoa
(juta/ejakulat)
Viabilitas / vitalitas (%)

AnadaraMAN 1 x 1
kapsul/hari
Perlakuan Rerata
p
Pre-test

91.67

Post-test

106,67

Pre-test

31,67

Post-test

68,75

0,00
0,00

AnadaraMAN 2 x 1 kapsul/hari
Perlakuan Rerata
Pre-test

85.00

Post-test

128.33

Pre-test

40.83

Post-test

79.58

p
0,00
0,00

Perkembangan Kualitas Spermatozoa
Sebelum dan Sesudah Pemberian Gizi
AnadaraMAN 1 x 1 kapsul/hari dan Gizi
AnadaraMAN 2 x 1 kapsul/hari pada
Kelompok
Perlakuan
berdasarkan
Pemeriksaan Mikroskopik

Perkembangan Kualitas Spermatozoa
Sebelum dan Sesudah Pemberian Gizi
AnadaraMAN 1 x 1 kapsul/hari dan Gizi
AnadaraMAN 2 x 1 Kapsul/Hari pada
Kelompok
Perlakuan
berdasarkan
Pemeriksaan Mikroskopik Lanjut

Secara statistik hasil uji t pada Tabel
2. menunjukkan perkembangan yang
signifikan terhadap konsentrasi Spermatozoa
dari kelompok kasus dengan pemberian
kapsul AnadaraMAN dengan dosis 1 x 1
kapsul/hari. Hal ini ditandai dengan semua
nilai p untuk konsentrasi dan motilitas
Spermatozoa menunjukkan nilai di bawah
0,05.
Pada Tabel 2. juga menunjukkan
adanya perbaikan konsentrasi dan motilitas
Spermatozoa pada kelompok kasus setelah
pemberian gizi kapsul AnadaraMAN dengan
dosis 2 x 1 kapsul/hari, hal ini ditandai
dengan nilai p yang lebih kecil dari 0,05.
Serta setelah dilakukan uji statistik dengan
menggunakan uji Wilxocon didapatkan
nilai p = 0,008 yang artinya bahwa ada
perbedaan aglutinasi Spermatozoa antara
sebelum dan sesudah mengkonsumsi kapsul
AnadaraMAN dengan dosis
2 x
1kapsul/hari.

Hasil uji t pada Tabel 3.
memperlihatkan ada perbaikan yang
signifikan terhadap jumlah Spermatozoa
dengan pemberian gizi kerang darah dosis 1
x 1 kapsul/hari yang ditandai dengan nilai p
= 0,000. Begitu pula dengan hasil uji t
terhadap
viabilitas
Spermatozoa
memperlihatkan ada perbaikan yang
signifikan
dengan
pemberian
gizi
AnadaraMAN dosis 1 x 1 kapsul/hari yang
ditandai dengan nilai p = 0,000.
D. PEMBAHASAN
Pemeriksaan Makroskopik
Pemeriksaan
viskositas
pada
Spermatozoa,
dikerjakan
dengan
menggunakan jarum khusus atau pipet
Eliasson. Dikatakan normal apabila yang
keluar dari jarum berupa tetesan, abnormal
jika berupa benang dengan panjang > 2cm.
Selain itu, dihitung pula waktu jatuhnya
tetesan pertama, waktu normal 2 detik. Dari
Tabel 1. hasil pemeriksaan Spermatozoa

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[60]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

kelompok perlakuan mengalami perbaikan.
Menurut Hermanto (2000), Semen yang
terlalu encer maupun terlalu kental kurang
baik bagi sperma. Pada semen yang
mempunyai viskositas tinggi, kecepatan
gerak Spermatozoa akan terhambat. Dengan
demikian, akan mengurangi kesuburan pria
tersebut. Sebaliknya, semen yang terlalu
encer biasanya mengandung jumlah
Spermatozoa
yang
rendah
sehingga
kesuburan juga berkurang.
Pengukuran pH juga menjadi
pengukuran yang penting. pH harus
diperiksa dalam waktu 1 jam setelah semen
dikeluarkan. Nilai normal: > 7,2 (WHO
1992 : 7,2 – 8,0) (WHO 1987 : 7,2 – 7,8).
pH lebih tinggi dari 8,0 patut dicurigai
adanya infeksi sedangkan lebih rendah dari
7,0
dengan
azoospermia,
maka
kemungkinan terjadi disgensi dari vas
deferens, vesika seminalis, atau epididimis.
Hasil pemeriksaan pH Spermatozoa pada
Tabel 1. kelompok perlakuan dengan
pemberian dosis 1 x 1 kapsul/hari dan
kelompok perlakuan dengan pemberian
dosis 2 x 1 kapsul/hari menunjukkan adanya
perbaikan kualitas Spermatozoa.
Pada Tabel 1. juga dapat dilihat
bahwa Spermatozoa pada kelompok
perlakuan mengalami perbaikan. Menurut
Hermanto (2000), dalam keadaan normal
semen mencair (liquefaction) dalam 60
menit pada suhu kamar. Dalam beberapa
perlakuan pencairan tidak terjadi secara
sempurna dalam 60 menit. Hal ini
menunjukkan adanya gangguan pada fungsi
kelenjar prostat. Untuk itu, semen segera
diperiksa setelah pencairan atau dalam
waktu satu jam setelah ejakulasi.
Dari hasil pemeriksaan makroskopik
di atas, dapat dikatakan bahwa konsumsi
kerang darah pada kelompok perlakuan
dengan dosis 1 x 1 kapsul/hari dan 2 x 1

kapsul/hari memberikan perbaikan terhadap
kualitas Spermatozoa.
Pemeriksaan Mikroskopik
Pada pemeriksaan mikroskopis,
pengukuran konsentrasi secara kasar dapat
dihitung
dengan
memperkirakan/
menghitung jumlah rerata Spermatozoa pada
beberapa lapang pandang (400x) ketika
pengamatan. Berdasarkan pemeriksaan
konsentrasi, Spermatozoa pada kelompok
perlakuan mengalami perbaikan kualitas
Spermatozoa.
Pemeriksaan motilitas dilakukan
dengan melihat pergerakan Spermatozoa.
Gerak Spermatozoa dapat diklasifikasikan
dalam 4 golongan yaitu (Wibisono, 2010):
a) Gerak Spermatozoa maju ke depan, cepat,
dan lurus; b) Gerak Spermatozoa maju,
lambat, dan berkelok; c) tidak ada gerak
maju ke depan, bergetar di tempat, gerak
melingkar; d) tidak bergerak sama sekali.
Dalam penelitian ini, hasil pemeriksaan
motilitas Spermatozoa pada kelompok
perlakuan (Tabel 3.) mengalami perbaikan
kualitas.
E. PENUTUP
Kesimpulan
1.

2.

Pemberian gizi kapsul AnadaraMAN
dosis 1 X 1 kapsul/hari mampu
memberikan efek atau perbaikan yang
signifikan terhadap
volume, pH,
viabilitas/vitalitias Spermatozoa pada
kelompok perlakuan I.
Pemberian gizi kapsul AnadaraMAN
dosis 2 X 1 kapsul/hari juga mampu
memberikan efek atau perbaikan yang
signifikan terhadap volume, pH,
viabilitas/vitalitias sepermatozoid pada
kelompok perlakuan II. Pemberian gizi
kapsul AnadaraMAN dosis 2 X 1
kapsul/hari memiliki efektivitas yang

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[61]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Perikanan (Studi Kasus Kematian
Massal Ikan-ikan di Teluk Jakarta).
Lembaga
Ilmu
Pengetahuan
Indonesia. Jakarta.

lebih baik daripada dosis 1 x 1
kapsul/hari dalam memperbaiki kualitas
Spermatozoa.
Saran
Lebih baik menggunakan kapsul
AnadaraMAN untuk pencegahan dan
pemeliharaan kualitas spermatozoa dengan
dosis 1 x 1 kapsul sehari, sedangkan untuk
terapi pengobatan disarankan mengkonsumsi 2 x 1 kapsul sehari.
F. DAFTAR PUSTAKA

Muhadjir. Noeng, 1996. Metodologi
Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin,
Yogyakarta.
Mukti. B. 2006. Desain dan Ukuran Sampel
Un-tuk Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif Di Bi-dang Kesehatan,
Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Antikorupsi. 2009. Jamkesmas Dinilai Tidak
Op-timal.
(Online),
(http://antikorupsi.org/indo /cont-ent/
]view/ 14200/1/), Diakses, 10 Juni
2009.

Razak. A, 2008. Kesehatan Gratis Sebagai
Ko-moditi Politik: Suatu Tinjauan
Prospektif Pembia-yaan Kesehatan,
Hasanuddin
University
Press,
Makassar.

Departemen
Kesehatan
RI.
2008.
Kepmenkes
No.
125/Menkes/SK/II/2008
tentang
Pendoman Pelaksanaan Jaminan
Kesehatan
Masyarakat
(JAMKESMAS) 2008, Depkes RI, Jakarta.

Rowe P.J., Frank H.C., Timothy B.H., dan
Ahmed M.A.M.2000. WHO Manual
for the standardized Investigation,
Diagnosis and Management of the
Infertile Male, Cambridge University
Press. UK.

Johnson, J.V. 2003. Infertility, dalam Scott
JR, Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF
(editor), Danforth’s Obstetrics and
Gynecology, edisi ke-9, Lippincott
Williams and Wilkins. USA.

Setyono, D.E.D. 2006. Karakteristik Biologi
dan Produk Kekerangan Laut.
Oseana Volume XXXI,Nomor I:
Hal. 5.

Kompas. 2009. Jamkesmas Diakui Masih
Ber-masalah.
(Online),
(http://
kesehatan.kompas.com/read/xml/200
9/03/06/19230252/jamkesmas.diakui
.masih.bermasalah), diakses 25 Mei
2009.
Kompas. 2009. Jamkesmas Diakui Masih
Ber-masalah.
(Online),
(http://kesehatan.kompas.com/read/x
ml/-2009/03/06/1923
0252/jamkesmas.diakui.mash.bermasalah), diakses 25
Mei 2009.
Lestari dan Edward.
2004. Dampak
Pencemaran Logam Berat Terhadap
Kualitas Air Laut dan Sumber Daya

Soekendarsi, E., 2004. Biologi Reproduksi
dan Upaya Pemijahan Keong Mata
Lembu Turbo argyrostoma Linnaeus.
1758. Disertasi. Institut Pertanian
Bogor.
Sugiyono.
2008.
Metode
Penelitian
Administrasi, Alfabeto, Bandung.
Suprapti, N. H. 2008. Kandungan
Chromium
pada
Perairan,
Sedimendan Kerang Darah Anadara
granosa L. di Wilayah Pantai sekitar
Muara Sayung, Desa Morosari
Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Diponegoro.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[62]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Syafei.

C, 2009. Jamkesmas dan
Permasalahan di Sumut. (Online)
(http:// waspada.co.id Menggu-nakan
Joomla! Generated: 22 May,
2009,21:22, Diakses 25 Mei 2009.

Tendean, O. S. 2009. Fertilisasi Sperma.
Fakultas Kedokteran Universitas
Sam Ratulangi, Manado.

Watters, T.G. dan Scott, H.O. 1998.
Metamorphosis
of
Freshwater
Mussel Bivalvia. The American
Midland Naturalist. Vol.1: 49-57.
World Health Organization. 1999. WHO
Laboratory
Manual
for
the
Examination of Human Semen and
semen – Cervical Mucus Interaction,
4th ed.Cambridge University Press,
UK.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[63]