PEMANFAATAN BLONDO DALAM PEMBUATAN

ROTI KERING BERGIZI UNTUK IBU HAMIL

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

HAERANI
Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[69]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

PEMANFAATAN BLONDO DALAM PEMBUATAN ROTI KERING
BERGIZI UNTUK IBU HAMIL
HAERANI

Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan produk roti kering dengan penambahan
blondo sebagai makanan tambahan bagi ibu hamil yang murah dan kaya dengan nilai gizi.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang : (a) formulasi roti
kering dengan pemberian bahan tambah blondo, (b) profil kandungan gizi roti kering dengan
pemberian bahan tambah blondo khusus bagi kandungan gizi secara makro, (c) keterterimaan
oleh konsumen (ibu hamil) terhadap roti kering dengan bahan tambah blondo.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : (a) pengambil kebijakan (Dinas
kesehatan masyrakat), sebagai bahan informasi, masukan, dan bahan perbandingan dan
pengambilan kebijakan tentang gizi dan kesehatan masyarakat, khususnya para ibu hamil, (b)
bagi masyarakat secara umum dan para ibu hamil khususnya, sebagai bahan informasi,
pengetahuan, dan perbandingan dalam menetukan bahan-bahan makanan yang memiliki nilai
gizi tinggi, (c) bagi pengembangan ilmu, sebagai bahan bacaan, referensi bagi penelitianpenelitian serupa serta langkah-langkah penelitian berikutnya dengan variabel yang lebih
lengkap dan hasil penelitian ini dapa disimpulkan : penambahan bahan blondo pada roti
kering tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan bagi masyarakat (ibu hamil),
namun secara umum terdapat peningkatan nilai gizi dan penambahan blondo tersebut. Dari
hasil kesimpulan penelitian ini, disarankan kiranya selalu dilakukan eksperimen dari berbagai
bahan tambah termasuk blondo untuk menghasilkan produk makanan atau roti yang bernilai
gizi tinggi.
Kata kunci : Blondo, roti kering, gizi.
Abstract
The aim of study is to obtain products with the addition of dry bread with additional blondo
for pregnant women that cheap and rich in nutritional value. Firs focus is to find the
formulation of dry bread with added ingredients giving blondo, second analyze its nutritional
profile, third knowing acceptance level of pregnant women to its product. The expectation of
this research is to provide benefits for: (a) policy makers (the community health office), for
information, input, and a comparison and decision-making on nutrition and public health,
especially pregnant women, (b) for the community in general and pregnant women in
particular, for information, knowledge, and determine the ratio of ingredients in foods that
have high nutritional value, (c) for the development of science, as reading material, reference
to similar studies and subsequent research steps with variable a more complete. The results
show the addition blondo to dry bread did not significantly affect the revenue for the
community (pregnant women), but in general there is an increase in nutritional value and the
addition of these blondo. This study suggests further experiments to produce bread that have
high nutritional value.
Key words: Blondo, dry bread, nutrition.
Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[70]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

A. PENDAHULUAN
Pada kekurangan asupan mineral
seng (zinc) dalam kehamilan dapat berakibat
gangguan signifikan pertumbuhan tulang.
Pemberian asam folat tidak saja berguna
untuk perkembangan otak sejak janin
berwujud embrio, tetapi menjadi kunci
penting pertumbuhan fungsi otak yang sehat
selama kehamilan. Kasus-kasus gangguan
penutupan jaringan saraf tulang belakang
(anencephaly) dsapat dikurangi hingga 50%
dan 80% jika ibu hamil mendapat asupan
cukup asam folat sebelum dia hamil. Ibu
hamil harus mendapatkan asupan vitamin
yang cukup sebelum terjadinya kehamilan
karena pembentukan otak janin dimulai pada
minggu-minggu pertama kehamilan, justru
pada saat Sang ibu belum menyadari dirinya
telah hamil.
Status gizi ibu sebelum dan selama
hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan
janin yang sedang dikandung. Bila status
gizi ibu hamil normal pada masa sebelum
dan selama hamil kemungkinan besar akan
melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan
dengan berat badan normal. Dengan kata
lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat
bergantung pada keadaan gizi ibu sebelum
dan selama hamil .
Status gizi ibu hamil sangat penting
dalam pertumbuhan dan perkembangan
janin. Jumlah dan variasi makanan yang
dikonsumsi ibu hamil sangat penting
terhadap pertumbuhan dan perkembangan
janin dalam kandungan. Pada saat hamil,
kebutuhan dari hampir semua zat gizi
meningkat.
Hasil
beberapa
penelitian
menunjukkan bahwa asupan zat gizi oleh
ibu hamil di Indonesia lebih rendah
dibanding
jumlah
yang
dianjurkan.
Beberapa data dari penelitian yang
dilakukan di wilayah Indonesia Timur

memperlihatkan asupan gizi ibu hamil
sangat rendah. Dengan rata-rata asupan
energi ibu hamil hany sekitar 50-60% dari
yang dianjurkan. Selain itu, sebagian besar
vitamin dan mineral (utamanya besi, vitamin
A, dan zinc) hanya dikonsumsi sekitar 1040% dari jumlah yang dianjurkan.
Tambahan sebesar 10-16 gr protein
per hari pada ibu hamil dianjurkan untuk
menutupi kebutuhan pembentukan jaringan
pada bayi dan ibunya. Disamping itu,
kebutuhan akan vitamin dan mineral juga
meninggi. Asam folat yang dibutuhkan
dalam pembentukan sel darah merah pada
ibu hamil dibutuhkan 2 kali dibanding ibu
yang tidak hamil. Demikianlah pula zat besi
yang juga dibutuhkan hampir 2 kali lipat
pada ibu hamil.
Pada
keluarga
miskin
selain
ketersediaan yang cenderung terbatas dan
tingkat pengetahuan yang rendah, terdapat
juga beberapa kebiasaan yang menyebabkan
asupan lebih rendah, ketakutan mempunyai
perut yang besar sehingga mereka
mengurangi porsi makanan dari biasanya.
Disamping itu, ada juga alasan karena takut
melahirkan bayi yang besar di mana
dipersepsiakan sulit melahirkan. Jenis
makanan tertentu yang masih dipercayai
sebagai bahan makanan yang tidak boleh
dimakan bagi ibu hamil. Semua ini
menyebabkan ibu hamil melakukan
pantangan makanan yang pada akhirnya
menyebabkan ketidakcukupan gizi pada
janinnya.
Kesehatan
ibu
hamil
juga
dipengaruhi kondisi janin dalam kandungan.
Ibu yang menderita penyakit infeksi seperti
malaria dan pneumonia akan menyebabkan
energi yang bisa diberikan kepada janin
berkurang. Kebiasaan buruk seorang ibu,
seperti merokok, mengkonsumsi obat

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[71]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

terlarang, atau lainnya juga menggangu
kondisi janin
Berbagai strategi yang di gunakan
dalam penanggulangan status gizi kurang
pada ibu hamil, melalui pendidikan gizi dan
penganekaragaman makanan menawakan
solusi jangka panjang, tetapi dalam jangka
waktu tertentu dapat dirasakan efeknya.
Suplememtasi merupakan solusi jangka
pendek untuk mengatasi gizi ibu hamil,
sedangkan fortifikasi makanan menawarkan
solusi keduanya, yakni jangka pendek dan
jangka panjang. Fortifikasi dapat ditujukan
pada populasi secara umum atau ditargetkan
pada segmen yang spesifik dari populasi.
Hal demikian untuk menemukan sarana atau
media fortifikasi agar tujuan dari fortifikasi
dapat menjadi efektif
Berdasarkan hal tersebut, maka
diperlukan kemampuan untuk menggali
potensi bahan makanan yang memiliki
kandungan protein dengan harga yang
murah dan berlimpah seperti limbah VCO
atau disebut Blondo

B. METODE
Bayam adalah sayuran berdaun hijau
Penelitian ini dilakukan selama bulan juni
sampai juli 2011 dilaboratorium Tata Boga
Universitas Negeri Makassar dengan
menggunakan metode eksperimen dengan
analisa laboratorium, satu perlakuan lima
taraf dan dua kali pengulangan. Penelitian
dilakukan dalam dua tahap, yaitu : Tahap
pertama meliputi pemilihan blondo, tahap
kedua, adalah dilakukan pembuatan formula
roti kering.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.

Uji kesukaan Roti Kering Berdasarkan Formula Roti Kering Dengan
Pembahasan Blondo

a.

Formula Roti kering menggunakan 0%
Blondo dan 100% Margarin.
Dari 31 panelis tentang uji kesukaan
terhadap : Rupa, rasa, warna, tekstur, dan
bau dapat dilihat pada tabel 7, tabel 8,
gambar 4.

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Kesukaan Formula Roti Kering dengan 0% Blondo dan 100%
Margarin.
Nilai
Indikator

1

2

3

4

5

Juml

Tidak

Kurang

Cukup

Suka

Sangat

ah

suka

suka

suka

suka

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Rupa

0

0

0

0

9

29

8

25,8

14

45.2

31

100

Rasa

0

0

5

16,1

7

22,6

16

51,6

3

9,7

31

100

Warna

0

0

0

0

12

38,7

10

32,3

9

29

31

100

Tekstur

0

0

0

0

6

19,4

12

38,7

13

41,9

31

100

Bau

0

0

8

25,8

10

32,3

6

19,4

7

22,6

31

100

Sumber : Data primer, 2011

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[72]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 8. Nilai Rata-Rata Roti Kering Menggunakan 0% Blondo dan 100% Margarin Yang
Paling Disukai
Indikator

Nilai

N

Rata-rata

Rupa

129

31

4,16

Rasa

110

31

3,55

Warna

121

31

3,90

Tekstur

131

31

4,23

Bau

105

31

3,39

Total

536

155

3,46

Sumber : Data Primer, 2011

b.

Formula roti kering menggunakan 25% Blondo dan 75% Margarin.
Dari 31 panelis tentang uji kesukaan terhadap : Rupa, rasa, warna, tekstur, dan bau dapat
dilihat pada tabel 9, tabel 10, gambar 5.

Tabel 9. Distribusi Frekuensi Kesukaan Formula Roti Kering dengan 25% Blondo dan 75%
Margarin.
Nilai
1
Tidak
suka
F

%

2
Kurang
suka
F

%

3
Cukup
suka
F

%

F

Rupa

0

0

0

0

6

19,4

Rasa

0

0

1

3,2

13

Warna

0

0

1

3,2

Tekstur

0

0

0

Bau

0

0

0

Indikator

4
Suka
%

5
Sangat
suka
F

Jumlah
%

F

%

22

71

3

9,7

31

100

41,9

16

51,6

1

3,2

31

100

16

51,6

11

35,6

3

9,7

31

100

0

7

22,6

18

58,1

6

19,4

31

100

0

0

0

22

71

9

29

31

100

Sumber : Data primer, 2011
Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[73]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 10. Nilai Rata-Rata Roti Kering Menggunakan 25% Blondo dan 75% Margarin Yang
Paling Disukai
Indikator
Nilai
Rupa
121
Rasa
110
Warna
109
Tekstur
123
Bau
102
Total
565
Sumber : Data Primer, 2011

c.

N
31
31
31
31
31
155

Rata-rata
3,90
3,55
3,52
3,97
3,29
3,65

Formula roti kering menggunakan 50% blondo dan 50% Margarin
Dari 31 panelis tentang uji kesukaan terhadap : Rupa, rasa, warna, tekstur, dan bau dapat
dilihat pada tabel 11, tabel 12, gambar 6.

Tabel 11. Distribusi Frekuensi Kesukaan Formula Roti Kering dengan 50% Blondo dan 50%
Margarin.
Nilai

Indikator

1

2

3

4

5

Jum

Tidak

Kura

Cukup

Suka

Sangat

lah

suka

ng

suka

suka

suka
F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Rupa

2

6,5

2

0

12

38,7

14

45,2

1

3,2

31

100

Rasa

0

0

2

3,2

17

54,8

12

38,7

0

0

31

100

Warna

0

0

9

3,2

11

35,5

9

29

2

6,5

31

100

Tekstur

0

0

0

0

2

6,5

16

51,6

13

41,9

31

100

Bau

0

0

0

0

0

0

24

77,4

7

22,6

31

100

Sumber : Data primer, 2011

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[74]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 12. Nilai Rata-Rata Roti Kering Menggunakan 50% Blondo dan 50% Margarin Yang
Paling Disukai
Indikator
Nilai
Rupa
103
Rasa
103
Warna
97
Tekstur
135
Bau
100
Total
538
Sumber : Data Primer, 2011

d.

N
31
31
31
31
31
155

Rata-rata
3,32
3,32
3,13
4,35
3,23
3,47

Formula roti kering menggunakan 75% blondo dan 25% Margarin
Dari 31 panelis tentang uji kesukaan terhadap : Rupa, rasa, warna, tekstur, dan bau dapat
dilihat pada tabel 13, tabel 14, gambar 7.

Tabel 13. Distribusi Frekuensi Kesukaan Formula Roti Kering dengan 75% Blondo dan 25%
Margarin.
Nilai

F

%

2
Kura
ng
suka
F

Rupa

0

0

0

0

12

38,7

17

54,8

2

6,5

31

100

Rasa

0

0

3

9,7

16

51,6

12

38,7

0

0

31

100

Warna

0

0

4

12,9

13

41,9

9

29

5

16,1

31

100

Tekstur

0

0

1

3,2

9

29

17

54,8

4

12,9

31

100

Bau

0

0

6

19,4

17

54,8

8

25,8

0

0

31

100

Indikator

1
Tidak
suka

3
Cukup
suka

4
Suka

5
Sangat
suka

Jumlah

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Sumber : Data primer, 2011

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[75]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 14. Nilai Rata-Rata Roti Kering Menggunakan 75% Blondo dan 25% Margarin Yang
Paling Disukai
Indikator
Nilai
Rupa
114
Rasa
102
Warna
108
Tekstur
117
Bau
95
Total
536
Sumber : Data Primer, 2011

e.

N
31
31
31
31
31
155

Rata-rata
3,68
3,29
3,48
3,77
3,06
3,46

Formula roti kering menggunakan 100% blondo dan 0% Margarin
Dari 31 panelis tentang uji kesukaan terhadap : Rupa, rasa, warna, tekstur, dan bau dapat
dilihat pada tabel 15, tabel 16, gambar 8.

Tabel 15.Distribusi Frekuensi Kesukaan Formula Roti Kering dengan 100% Blondo dan 0%
Margarin.
Nilai

F

%

2
Kura
ng
suka
F

Rupa

0

0

0

0

6

19,4

21

67,7

4

12,9

31

100

Rasa

0

0

1

3,2

14

45,2

15

48,4

1

3,2

31

100

Warna

0

0

0

0

11

35,5

16

51,6

4

12,9

31

100

Tekstur

0

0

0

0

4

12,9

17

54,8

10

32,3

31

100

Bau

0

0

0

0

3

14

16

51,6

1

3,2

31

100

Indikator

1
Tidak
suka

3
Cukup
suka

4
Suka

5
Sangat
suka

Jumla
h

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Sumber : Data primer, 2011

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[76]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 16. Nilai Rata-Rata Roti Kering Menggunakan 100% Blondo dan 0% Margarin Yang
Paling Disukai
Indikator

Nilai

N

Rata-rata

Rupa

122

31

3,94

Rasa

109

31

3,52

Warna

117

31

3,77

Tekstur

130

31

4,19

Bau

111

31

3,58

Total

589

155

3,80

Sumber : Data Primer, 2011

PEMBAHASAN
1. Pengaruh subtitusi blondo terhadap
kandungan gizi makro roti kering.
Berdasarkan
hasil
analisa
laboratorium terhadap kandungan gizi
makro kelima tipe roti kerring yang
disubtitusi blondo, diperoleh kadar protein,
kadar lemak kasar, kadar air, abu, serat, dan
karbohidrat.
Kadar
air
merupakan
banyaknya air yang terkandung dalam bahan
yang dinyatakan dalam persen. Kadar air
juga salah satu karakteristik yang sangat
penting pada bahan pangan, karena air dapat
mempengaruhi penampakan, tekstur, dan
citarasa pada bahan pangan. Kadar air dalam
bahan pangan ikut menentukan kesegaran
dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar

air yang tinggi mengakibatkan mudahnya
bakteri, kapang, dan khamir untuk
berkembang biak, sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan pangarf .
Hasil analisis menunjukkan ada
perbedaan secara signifikan kadar air pada
setiap perlakuan. terjadi pengarui oleh
proses pemanggangan roti kering dalam
oven . Formula roti kering mengandung
kadar air antara 2,08% hingga 8, 46 %.
Formula roti kering subtitusi blondo
mengandung kadar protein kasar 14,55%
hingga 15,66 %. Berdasarkan hasil analisis
menunjukan tidak ada perbedaan yang
signifikan kadar protein pada setiap
perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[77]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

penggunaan bahan yang tidak jauh beda,
sehingga kandungan protein hampir sama.
Proses pembuatan biskuit juga
memungkinkan
kehilangan
perotein,
Aquilere dan Rojas (1996) menerangkan
bahwa denaturasi protein terjadi pada suhu
sekitar 60°C - 80°C, dimana perlakuan
panas pada proses pembuatan biskuit terjadi
pada saat pemanggangan yaitu pada suhu
125°C sekitar ± 15 menit.
Pada proses baking, panas yang
digunakan adalah panas kering, sehingga
mempercepat kehilangan kelembaban dan
kemungkinan tingkatan panas yang cepat
dapat merusak protein-protein penting.
Kehilangan kadar protein pada proses
baking secara khusus ditandai dengan terjadi
pengerasan pada lapisan luar.selain itu
terdapatnya gula dapat juga berpengaruh
terhadap kerusakan kandungan protein
terutama lysine yaitu sekitar 10% sampai
20% (Clark et a/, 1959 dalam Bonga, 2006).
Kandungan lemak formula roti
kering tipe A, B, C, D dan E adalah 4,22%,
4,10%, 3,05%, 0,87 %, dan 5,67%. Subtitusi
blondo pada roti kering menunjukkan bahwa
semakin banyak penggunaan blondo maka
semakin berkurang kadar lemak yang
terkandung dalam roti kering. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh jumlah lemak
nabati yang digunakan penggunaan blondo
maka semakin kurang kadar lemak pada
setiap formula roti kering.
Berdasarkan hasil analisis kadar
serat roti kering yang diperoleh, roti kering
mengandung serat antara 0,38 % sampai 0,
89 %%. Kadar serat ini termasuk cukup
rendah Akibat faktor pengolahan atau
perlakuan terhadap bahan pangan sangat
berpengaruh terhadap kandungan seratnya.
Pengaruh subtitusi blondo terhadap kadar
serat kasar formula roti kering tidak berbeda
secara signifikan. Hal ini disebabkan karena

penggunaan bahan-bahan dalam pembuatan
roti kering cenderung sama antara formula
yang satu dengan yang lain kecuali
penggunaan lemak.
Untuk kandungan karbohidrat juga
tidak terdapat pengaruh signifikan dan tidak
berbeda secara nyata antara setiap formula
roti kering. Kadar karbohidrat merupakan
kadar gizi makro yang tertinggi pada roti
kering, hal ini disebabkan karena
penggunaan tepung terigu dalam jumlah
banyak. Jenis bahan ini merupakan
penyumbang karbohidrat terbesar pada
formula roti kering.
Abu adalah zat anorganik sisa hasil
pembakaran suatu bahan organik. Penentuan
kadar abu berhubungan erat dengan
kandungan mineral yang terdapat dalam
suatu bahan, kemurnian serta kebersihan
suatu bahan yang dihasilkan. Kadar abu dari
formula roti kering yang dihasilkan berkisar
antara 1,87 sampai 2,17 %, dimana kadar
abu untuk setiap formula tidak telaalu beda.
Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang
digunakan dalam pembuatan formula biskuit
sama antara formula satu dengan yang
lainnya kecuali jenis dan konsentrasi lemak
yang digunakan, sehingga kadar abu yang
dimiliki kelima tipe roti kering tersebut
cenderung sama.
2. Formula
Roti
Kering
Penambahan Blondo

Dengan

Penerimaan
masyarakat
akan
formula roti kering dengan penambahan
blondo dilihat dari nilai tertingginya adalah
roti kering dengan penambahan blondo
100% dan margarin 0% dengan nilai ratarata 3,80, merupakan produk roti kering
dengan tingkat kesukaan paling tinggi. Hal
ini terlihat dalam kandungan gizi makronya
yang meliputi air 6,7, protein kasar, 15,66,
lemak kasar 0,87, serat kasar 0,38 dan
karbohidrat 81,01.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[78]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Produk roti kering dengan tingkat
kesukaan tertinggi kedua adalah roti kering
dengan penambahan blondo 25% dan
margarin 75% dengan nilai rata-rata 3,65.
Hal ini terlihat dalam kandungan gizi
makronya yang meliputi air 2,08, protein
kasar 14,55, lemak kasar 4,22, serat kasar
0,89 dan karbohidrat 78,47.
Produk roti kering dengan tingkat
kesukaan tertinggi ketga adalah roti kering
dengan penambahan blondo 50% dan
margarin 50% dengan nilai rata-rata 3,47.
Hal ini terlihat dalam kandungan gizi
makronya yang meliputi air 4,95, protein
kasar 15,12, lemak kasar 4,10, serat kasar
0,71 dan karbohidrat 77,91.
Sedangkan produk roti kering
dengan tingkat kesukaan terendah adalah
roti kering dengan penambahan blondo 0%
dan margarin 100% dan blondo 75% dan
margarin 25% dengan nilai rata-rata masingmasing 3,46. Hal ini terlihat dalam
kandungan gizi makro formula blondo 0%
dan margarin 100% yang meliputi air 4,99,
protein kasar 14,80, lemak kasar 5,76, serat
kasar 0,45 dan karbohidrat 76,99 dan
formula blondo 75% dan margarin 25%
yang meliputi air 8,46, protein kasar 15,50,
lemak kasar 3,05, serat kasar 0,68 dan
karbohidrat 78,76.
D. Kesimpulan
1. Penambahan blondo tidak memberi
pengaruh yang bermakna terhadap
kesukaan masyarakat (p = 0,406). Kelima
tipe roti kering dengan penambahan
blondo dapat diterima oleh panelis sama
halnya dengan roti kering tanpa
penambahan blondo.
2. Kelima tipe roti kering dapat diterima
oleh panelis sama halnya dengan roti
kering tanpa penambahan blondo. Akan
tetapi berdasarkan nilai rata-rata skor
kesukaan (panelis terlatih dan tidak

terlatih), yang tertinggi adalah formula
100% blondo dan 0% margarin (3,80).
E. Daftar Pustaka
Alfisalam Virgin Coconut Oil.
Prosedur
VCO
yang
Makassar.\

2006.
Baik.

Anonim. 2003. Pengolahan Limbah VCO
dengan Digester Antara Biogasdan
Digester,
http://qreenaalur.com/.
Diakses 23 Nopember V 2008.
Depkes Rl.
Direktorat
Pembinaan
Kesehatan Masyarakat.
1996.
Pedoman
Penanggulangan
Ibu
Hamil Kekurangan Enargi Kronis.
Jakarta.
Hardinsyah.
Tin Herawati. Euis Sunarti
dan Dodik Briawan. 1999. Pengaruh
Biskuit Multi Gizi Hamil terhadap
Perkembangan Motorik Bayi pada
Usia Enam Bulan. Departemen Gizi
Masyarakat
dan
Sumberdaya
Keluarga dan Pusat Studi Kebijakan
Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
(Widya Karya Nasional Pangan dan
Gizi VIII. 17 - 19 Mei 2004.
Jakarta).
Herlina, Y., Sutomo, B. 2006. Menu Sehat
VCO. Jakarta. Puspa Swara.
Jumirah, dkk. 1999. Anemia Ibu Hamil dan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Serta Dampaknya pada Berat Bayi
Lahir
di
Kecamatan
Medan
Tuntungan
Kotamadya
Medan.
Laporan Penelitian. Medan.
Nasution, A., Hidayat Syarief, Husaini,
Rimbawan,
1999.
Pengaruh
Formula Biskuit Multigizi pada Ibu
Hamil Terhadap Kualitas Air Susu
Ibu dengan Pokok Bahasan Mineral
Seng (Zn) IPB. Bogor.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[79]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Rampengan V. J. Pontoh, D.T Sembel.
1985. Dasar-dasar Pengawasan
Mutu Pangan. Badan Kerjasama
Perguruan Tinggi Negeri Indonesia
Bag/an Timur. Ujung Pandang.
Saraswati, E. 1998. Resiko Ibu Hamil
Kurang Energi Kronis (KEK) dan
Anemia untuk melahirkan Bayi
dengan Berat Badan Lahir •/
Rendah (BBLR). Penelitian Gizi dan
Makanan jilid 21. *

Sodarmo, P. & Sediaoetama, D. 1997. llmu
Gizi. Jakarta. Penebar Swadaya.
Widodo. 2007. Pemanfaatan Limbah Virgin
Coconut Oil (Blondo) Dalam
,Pembuatan
MP-ASI
(Biskuit
Bergizi). FKM UNHAS, Tesis.
Winiati pudji Rahayu. 1998. Penuntun
Praktikum Penilaian Organoleptik.
Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi
Fakultas
Teknologi
Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[80]