MODIFIKASI BAHAN MAKANAN TRADISIONAL

” TEMPA-TEMPA”
(Suatu Kajian Dalam Upaya Melestarikan Ma’TempaTempa Pada Acara Pesta Pernikahan Suku Bugis)

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

Nurhayati B 1), Andi Hudiah2) dan Sitti Saenab3)
1), 3)

Dosen Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar

2)Dosen

PKK Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[102]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

MODIFIKASI BAHAN MAKANAN TRADISIONAL ” TEMPA-TEMPA”
(A Study in Preservation Efforts Ma'tempa-tempa Tradition at Bugis Wedding Ceremony)*
Nurhayati B.1), Andi Hudiah2) dan Sitti Saenab3)

1), 3)

Dosen Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar
Dosen PKK Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

2)

Email- nurhayatibiologi@yahoo.com
Abstrak

Tradisi ma’tempa-tempa sudah tidak lagi dilaksanakan oleh sebagian besar suku
Bugis di kabupaten Soppeng, tidak sedikit tempa-tempa hanya dihidangkan saja tanpa ada
rangkaian acara ma’tempa-tempa pada saat acara pernikahan berlangsung. Acara ma’tempatempa hampir tinggal nama, walaupun tidak sepenuhya tradisi tersebut hilang. Memodifikasi
bahan makanan tradisional tempa-tempa merupakan salah satu upaya dalam pelestrian tradisi
ma’tempa-tempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui modifikasi bahan baku makanan
tradisional tempa-tempa sebagai upaya pelestarian tradisi ma’tempa-tempa dan untuk
mengetahui respons masyarakat mengenai modifikasi bahan baku makanan tradisional
tempa-tempa. Berdasarkan hasil uji organoleptik, respons masyarakat terhadap tempa-tempa
modifikasi cukup baik yang terlihat dengan persentase tingkat kesukaan panelis dari berbagai
kategori. Dengan kategori cita rasa sebanyak 80 % menyatakan sangat suka, 50%
menyatakan sangat suka dengan kategori bentuk, 65% menyatakan sangat suka dengan
kategori ukuran, 55% menyatakan sangat suka dengan kategori tekstur dan 50% menyakan
suka dengan kategori warna. selanjutnya diharapkan ada perbaikan terhadap warna dari
tempa-tempa agar tampilannya lebih menarik dan perlu keterlibatan berbagai pihak yang
terkait misalnya pemerintah kabupaten soppeng khususnya dinas pariwisata dan budaya guna
pelestarian tradisi makanan tradisional tempa-tempa.
Kata kunci: Modifikasi, tempa-tempa’, tradisi ma’tempa-tempa
Abstract
Ma’tempa-tempa tradition was no longer held by most Buginess in Soppeng regency,
it was only served without some ma'tempa-tempa series of events during the wedding
ceremony took place. Ma’tempa-tempa event almost just name, although not whole of it
tradition was lost. Modifying the traditional food materials of tempa-tempa was one of efforts
to preservation ma'tempa-tempa tradition. This study aims to determine modification of the
traditional food materials tempa-tempa as the preservation of tradition ma'tempa-tempa and
to determine response of people on the modification of traditional food materials tempatempa. Based on the results of organoleptic tests, the public response to the tempa-tempa
modifications that looks quite good with the percentage of panelists favorite level of the
various categories. With the taste category as much as 80% said very like it, 50% said very
happy with the shape category, 65% said very happy with the size category, 55% said very
happy with the texture category and 50% said like the color category. We expect further
improvements to the color of the tempa-tempa so it looks more attractive and necessary
involvement of various stakeholders such as local governments of Soppeng regency specially
tourism and culture department for the preservation of tradition food tempa-tempa.
Key words: Modifiying, tempa-tempa’, Ma’tempa-tempa Tradition
Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[103]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

A. PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia adalah bangsa
yang kaya akan warisan budaya, kaya
dengan keanekaragaman budaya lokal yang
harus tetap dilestarikan. Pelestarian tidak
akan dapat bertahan dan berkembang jika
tidak didukung oleh masyarakat luas dan
tidak menjadi bagian nyata dari kehidupan
kita. Pelestarian harus hidup dan
berkembang di masyarakat. Pelestarian
harus diperjuangkan oleh masyarakat luas
(Hadiwinoto, 2002).
Masyarakat
Sulawesi
Selatan
(Sulsel) khususnya suku Bugis-Makassar
sudah sejak dulu memiliki berbagai macam
tradisi yang merupakan budaya lokal dan
hingga kini masih dipertahankan, termasuk
warisan budaya yang berwujud kuliner, akan
tetapi dalam pelaksanaannya sudah banyak
mengalami pergeseran, rangkaian kegiatan
dalam tradisi tersebut terkadang hanyalah
simbol semata sehingga tidak sedikit tradisi
yang dimaksud hanyalah tinggal nama,
rangkaian
kegiatannya
tidak
lagi
dilaksanakan. Jika hal ini terjadi terusmenerus tidak menutup kemungkinan tradisi
tersebut akan punah dikemudian hari.
Seperti halnya tradisi ma’tempa-tempa di
Kabupaten Soppeng, sudah sejak dulu
tradisi ini ada.
Tradisi ma’tempa-tempa (membuat
tempa-tempa) merupakan tradisi yang
dilaksanakan ketika ada acara pernikahan,
tempa-tempa sendiri adalah sejenis lauk
berbentuk segitiga yang terbuat dari
campuran kelapa dengan bumbu dasar
seperti bawang merah dan bawang putih,
merica, jahe, kunyit, garam secukupnya dan
sedikit penambahan tepung sebagai perekat.
Tempa-tempa dihidangkan sehari sebelum
hari akad pernikahan. Dalam tradisi
ma’tempa-tempa, semua kerabat dekat dan
warga setempat berdatangan sambil

melakukan persiapan acara pernikahan esok
hari. Ma’tempa-tempa dapat dikatakan
sebagai acara hiburan bagi mereka, setelah
tempa-tempa dibuat kemudian dihidangkan
dan ditata dalam sebuah wadah dan
dinikmati bersama-sama di depan pelaminan
yang seyognyanya dipersiapkan untuk esok
hari.
Di desa Mariorilau Kecamatan
Marioriwawo tradisi ma’tempa-tempa sudah
tidak lagi dilaksanakan oleh sebagian besar
masyarakat, tidak sedikit tempa-tempa
hanya dihidangkan saja tanpa ada rangkaian
acara ma’tempa-tempa. Acara ma’tempatempa hampir tinggal nama, walaupun tidak
sepenuhya tradisi tersebut hilang. Sadar
dengan kondisi tersebut penulis terpanggil
dan punya tanggungjawab moral dalam
melestarikan tradisi tersebut apalagi tradisi
tersebut merupakan budaya lokal yang
punya filosofi tersendiri dan sangat
disayangkan jika harus punah di tengah
kondisi bangsa kita saat ini yang krisis nilai
kekeluargaan,
dimana
filosofi
dari
ma’tempa-tempa sendiri adalah bersatu.
Salah satu upaya untuk melestarikan tradisi
tersebut adalah dengan melakukan variasi
terhadap bahan yang digunakan maupun
bentuk dengan kata lain ada modifikasi
dalam pembuatan tempa-tempa.
Sejak dahulu masyarakat Desa
Mariorilau membuat tempa-tempa dari
campuran kelapa dengan bumbu dasar
seperti bawang merah dan bawang putih,
merica, jahe, kunyit, garam secukupnya dan
sedikit penambahan tepung sebagai perekat.
Dengan penambahan ikan dan berbagai
macam tampilan yang baru tentunya akan
memberikan nilai tambah tanpa mengurangi
makna dari m’atempa-tempa sendiri, selain
melakukan diversifikasi terhadap olahan
ikan, juga menambah nilai gizi dari tempatempa. Memang pembuatan tempa-tempa

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[104]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

atau untuk daerah lain disebut tumpi-tumpi,
penambahan ikan bukanlah hal yang baru,
hal tersebut sudah pernah dilakukan tetapi di
desa Mariorilau tempa-tempa yang biasa
dihidangkan dalam acara pernikahan sejauh
ini belum ada modifikasi sama sekali baik
dari penambahan bahan ikan maupun variasi
bentuk. Apatahlagi mengingat data Badan
Pusat Statistika 2010, produksi ikan tahun
2007 seperti budidaya ikan laut sebesar
1,509,528 juta ton, sedangkan untuk
budidaya tambak sebesar 933,832. Potensi
ini seyogyanya dapat diimbangi dengan
teknologi untuk pengolahannya. Salah satu
cara yang bisa dikembangkan untuk
memanfaatkan potensi hasil perikanan
adalah dengan diversifikasi pengolahan,
sebagai salah satu upaya penganekaragaman
pangan
dan
memasyarakatkan
hasil
perikanan yang selama ini umumnya diolah
secara langsung, salahsatu wujud yang nyata
dalam usaha diversifikasi tersebut adalah
dengan menjadikannya sebagai salah satu
bahan dasar pembuatan tempa-tempa .
Diharapakan dengan adanya modifikasi
tersebut budaya tempa-tempa tetap lestari.

modifikasi makanan tradisional tempatempa didefenisikan sebagai suatu cara
dalam memberikan variasi pada tempatempa dari segi bahan yaitu dengan
penambahan ikan sebagai bahan dasar dan
variasi dari segi bentuk yaitu bentuk bulat,
bentuk bunga, dan daun.

B. METODE

a. Sosialisasi
Mensosialisasikan ke masyarakat
mengenai modifikasi bahan baku tempatempa dengan mengumpulkan beberapa
anggota KK di kantor desa.

1. Jenis dan Lokasi Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian eksperimen mengenai bagaimana
cara modifikasi makanan tradisional tempatempa sebagai upaya pelestarian tradisi
ma’tempa-tempa di Desa Mariorilau
Kecamatan Mariowawo Kabupaten Soppeng
Sulawesi
Selatan.
Penelitian
ini
dilaksanakan di Desa Mariorilau Kecamatan
Mariowawo Kabupaten Soppeng Sulawesi
Selatan.
2. Definisi Operasional
Untuk menghindari munculnya
bermacam-macam
interpretasi,
maka
definisi operasional penelitian ini adalah

3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh masyarakat. di desa Mariorilau
Kecamatan Mariowawo Kabupaten Soppeng
Sulawesi Selatan. sedangkan sampel dari
penelitian ini adalah beberapa KK yang
diperoleh secara acak.
4. Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan adalah pisau dapur,
parut, dan talenan.
b. Bahan : Daun pisang, Ikan bandeng,
kelapa parut, bumbu dasar seperti
bawang merah , bawang putih, merica,
jahe, garam secukupnya dan sedikit
penambahan tepung
sebagai perekat
(bisa diganti dengan singkong).
5. Prosedur kerja

b. Pembuatan tempa-tempa
Cara pembuatan tempa-tempa
1) Menyiapkan
semua
bahan
yang
dibutuhkan antara lain ikan, kelapa parut
bumbu dasar seperti bawang merah dan
bawang putih, merica, jahe, garam
secukupnya dan tepung secukupnya.
2) Ikan terlebih dahulu dimasak hingga
matang dan menyisihkan durinya
(tulang).

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[105]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

3) Ikan yang telah dibersihkan dari tulang
dicampur dengan parutan kelapa,bawang
merah, bawang putih, merica, dan sedikit
jahe dan dicincang(cacah) sampai halus
dan sudah dapat dibentuk (cetak)
4) Memberikan tepung secukupnya sebelum
adonan tersebut dicetak, hal ini bertujuan
agar adonan mudah dibentuk karena
adanya tepung yang berfugsi sebagai
perekat, adonan kemudian dicetak
dengan menggunakan daun pisang dan
dibentuk sesuai dengan selera.
5) Setelah dicetak tempa-tempa siap
digoreng
dengan
terlebih
dahulu
melumurinya dengan telur.
6. Teknik dan Prosedur Pengumpulan
Data
Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi yaitu teknik yang dilakukan
dengan cara pengamatan ke lokasi
penelitian dengan menggunakan catatan
observasi (daftar check list). Hal ini
dilakukan untuk memperoleh data dan
gambaran yang lebih jelas mengenai
modifikasi makanan tradisional tempatempa sebagai upaya pelestarian tradisi
ma’tempa-tempa
b. Wawancara yaitu teknik yang dilakukan
dengan mengisi daftar pertanyaan yang
telah disediakan oleh peneliti kepada
responden (masyarakat dalam hal ini
kepala keluarga) yang berada diwilayah
penelitian
dengan
tujuan
untuk
memperoleh data dan gambaran tentang
respons masyarakat dengan adanya
modifikasi makanan tradisional tempatempa sebagai upaya pelestarian tradisi
ma’tempa-tempa di desa Mariorilau
Kecamatan Mariowawo Kabupaten
Soppeng Sulawesi Selatan. Respons
masyarakat
dilihat
dari
tingkat

penerimaan pada saat diadakan uji
organoleptik.
c. Dokumentasi
yaitu teknik yang
dilakukan dengan menelaah berbagai
dokumen dengan daya pendukung,
seperti hasil penelitian modifikasi
makanan
tradisional
tempa-tempa
sebagai upaya pelestarian tradisi
ma’tempa-tempa di Desa Mariorilau
Kecamatan Mariowawo Kabupaten
Soppeng Sulawesi Selatan.
7. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan cara
deskriptif mengenai modifikasi makanan
tradisional tempa-tempa sebagai upaya
pelestarian tradisi ma’tempa-tempa di desa
Mariorilau
Kecamatan
Mariowawo
Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan.
Dalam penelitian ini uji fisik diakukan
secara organoleptik dengan 20 orang
panelis. Pemberian skor dihitung dengan
menggunakan rumus berikut:
Jumlah Kategori
x 100 %
Jumlah panelis
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Tempa-tempa original
Tempa-tempa ini dibuat tanpa
modifikasi, bahan dan bentuk tetap
dipertahankan. Bahan terdiri dari kelapa
yang telah diparut, bawang merah, bawang
putih, garam, penyedap, kunyit, telur, dan
tepung sebagai perekat. Bentuk dari tempatempa original adalah segitiga. Tempatempa original dibuat untuk keperluan
perbandingan
dengan
tempa-tempa
modifikasi pada saat uji organoleptik, agar
panelis lebih obyektif pada saat memberikan
penilaian terhadap tempa-tempa yang telah
dicicipi.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[106]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

2. Tempa-tempa modifikasi
Tempa-tempa modifikasi merupakan
tempa-tempa yang sudah mengalami
modifikasi baik dari segi bahan maupun
bentuk. Bahan dari tempa-tempa ini terdiri
dari kelapa parut, ikan, bawang merah,
bawang putih, garam, bumbu penyedap,
merica, sereh, dan lengkuas, telur, singkong
yang telah diparut sebagai perekatnya. Dari
segi bentuk tempa-tempa modifikasi
bervariasi terdiri dari bentuk segitiga yang
merupakan bentuk asli dari tempa-tempa,
bentuk bulat, bentuk daun dan bentuk
bunga.
3. Uji Organoleptik
Hasil pengamatan secara fisik
dengan uji organoleptik (cita rasa, bentuk,
ukuran, tekstur, dan rasa) pada tempatempa oroginal dan tempa-tempa modifikasi
disajikan pada gambar berikut:
Berdasarkan hasil penerimaan panelis
dengan berbagai kategori dapat dilihat pada
penjelasan berikut:

b. Bentuk
Dari segi bentuk penilaian panelis
50% menyatakan sangat suka dan 50%

a. Cita rasa
Persentase penerimaan dari seluruh
panelis terhadap tempa-tempa modifikasi
terlihat sangat signifikan yaitu sebanyak
80% menyatakan sangat menyukai tempatempa
modifikasi
selebihnya
20%
menyatakan suka. Hal ini karena bahan baku
dari tempa-tempa modifikasi lebih banyak
dari ikan, dalam penelitian ini menggunakan
ikan bandeng serta adanya penambahan
sereh, lengkuas dan merica yang menambah
khas cita rasanya, Pemilihan ikan bandeng
sebagai salah satu bahan dasar karena ikan
bandeng mempunya rasa yang khas, banyak
diminati masyarakat dan ketersediaanya
cukup banyak di kabupaten soppeng.
Sedangkan pada tempa-tempa original
penilaiannya beragam dari kategori kurang
suka hingga sangat suka. Kategori kurang
suka sebanyak 15%, suka 65% dan sangat
suka 15%

menyatakan suka dengan tempa-tempa
modifikasi. Tempa-tempa modifikasi dalam
penelitian ini terdiri dari empat macam

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[107]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

bentuk yaitu segitiga, bulat, daun, dan
bunga, dari keempat bentuk tersebut bentuk
bunga merupakan bentuk yang mempunyai
persentase tertinggi yang disukai oleh
panelis. Bentuk tempa-tempa original tetap
dipertahankan yaitu bentuk segitiga,
penerimaan panelis terhadap tempa-tempa
tersebut adalah sebanyak 15% menyatakan
tidak suka, 70 % suka, dan 15% menyatakan
sangat suka.
c. Ukuran
Penerimaan panelis dengan kategori
ukuran 15% menyatakan kurang suka, 20 %
suka dan 65% menyatakan sangat suka, dari
data tersebut terlihat bahwa ukuran yang
tampilkan peneliti masih diminati oleh
panelis sedangkan penerimaan panelis
dengan tempa-tempa original
10%
menyatakan kurang suka, 55% meyatakan
suka dan 35% menyatakan sangat suka.
Dari data tersebut ukuran dari empa-tempa
original yang dijadikan pembanding dengan
tempa-tempa modifikasi juga masih diminati
oleh panelis meskipun kecenderungan tetap
pada ukuran tempa-tempa modifikasi.
d. Tekstur
Dari segi tekstur penerimaan panelis
terhadap tempa-tempa modifikasi adalah
45%
menyatakan
suka, dan 55%
menyatakan sangat suka, ini terlihat bahwa
dengn kategori tekstur pun penerimaan
panelis cukup bagus, panelis lebih menyukai
tekstur tempa-tempa yang halus dan antara
bahan yang satu dengan yang lainnya
menyatu tanpa harus dengan tekstur yang
keras, menurut panelis tempa-tempa
modifikasi mempunyai tekstur yang sedang
tidak kasar dan tidak halus, akan tetapi
terasa lembut. Untuk tekstur tempa-tempa
original 30% menyatakan kurang suka 35%
menyatakkan suka, dan 35% menyatakan

sangat suka, tingkat kesukaan panelis
terhadap tempa-tempa original hampir rata.
e. Warna
Penerimaan panelis terhadap tempatempa modifikasi hampir merata pada
tingkat kesukaan, sebanyak 5% menyatakan
tidak suka, 45% menyatakan kurang suka,
50% meyatakan suka . terihat bahwa
sebagian panelis kurang menyukai warna
tempa- tempa modifikasi yang diunjukkan
dengan tidak adanya panelis yang memilih
kriteria sangat suka. Warna dari tempatempa modifikasi yang ditampilakan oleh
peneliti adalah warna coklat, menurut
panelis warna ini kurang menarik berbeda
halnya dengan tempa-tempa original yang
agak berwarna kuning dengan penerimaan
panelis 40% suka dan 30 % sangat suka
karena adanya penambahan kunyit pada saat
pembuatan. Warna cooklat pada tempatempa
modifikasi
mungkin
karena
banyaknya bahan dasar ikan pada tempatempa tersebut yang tentunya apabila setelah
digoreng akan memberikan warna yang
lebih coklat apa bila dibandingkan dengan
tempa-tempa original yang hanya memiliki
sedikit atau bahkan tidak sama sekali bahan
dari ikan (Sitti Saenab dan Nurhayati. B.
2011)
D. SIMPULAN
1. Tempa-tempa
modifikasi
memiliki
perbedaan dengan tempa-tempa original
baik dari segi bahan dasar maupun dari
segi bentuk. Penambahan bahan dasar
yaitu adanya penambahan ikan dengan
porsi yang lebih banyak, sereh, merica,
dan lengkuas sedangkan modifikasi dari
segi bentuk adanya pemambahan bentuk
yaitu bulat, daun dan bunga.
2. Respons masyarakat terhadap tempatempa modifikasi cukup baik yang
terlihat dengan persentase tingkat

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[108]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

kesukaan panelis dari berbagai kategori.
Dengan kategori cita rasa sebanyak 80 %
menyatakan
sangat
suka,
50%
menyatakan sangat suka dengan kategori
bentuk, 65% menyatakan sangat suka
dengan
kategori
ukuran,
55%
menyatakan sangat suka dengan kategori
tekstur dan 50% menyakan suka dengan
kategori warna.
E. DAFTAR PUSTAKA
BPS.2004. Data Kabupaten Soppeng. BPS.
Sulawesi Selatan.
Hadiwinoto, S. 2002. “Beberapa Aspek
Pelestarian
Warisan
Budaya”.
Makalah disampaikan pada Seminar
Pelestarian
dan
Pengembangan
Masjid Agung Demak, di Demak, 17
Januari 2002.

Mattulada. 1995. Bugis historical. Diakses
di internet tanggal 1 maret 2011.
Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng.
2010 . Diakses diinternet tanggal 27
feb 2011 di http://www.soppeng
kab.go.id/
Sitti Saenab dan Nurhayati. B. 2011 ”
Modifikasi Bahan Baku Makanan
Tradisional Tempa-Tempa Sebagai
Upaya
Pelestarian
Tradisi
Ma’tempa-Tempa
Di
Desa
Mariorilau Kecamatan Marioriwawo
Kabupaten
Soppeng
Sulawesi
Selatan”. Laporan Penelitian. Lemlit
UNM. Makassar.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[109]