STRATEGI PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR

:
KOMPARASI RUMAH TANGGA
MIGRAN - NON MIGRAN DI KOTA MAKASSAR

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

Rika Riwayani

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[109]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

STRATEGI PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR :
KOMPARASI RUMAH TANGGA MIGRAN - NON MIGRAN DI KOTA
MAKASSAR
Rika Riwayani
Abstract
The aims of the study are to (1) Identify the strategy implemented by women in
migrant and non migrant family to fulfill their basic family needs, (2) Analyze the
comparisons of basic need fulfillment strategy between migrant and non migrant family.
This study was conducted in Makassar with 30 families of respondents taken from the project
study of Rural Urban Migration Indonesia and China (RUMICI) conducted by Gajah Mada
University (UGM) in Indonesia in the third-year from April to Mei 2010 in Makassar City,
The respondents were divided into migrant and non migrant. The samples of the study were
drawn with purposive sampling from the population of all respondents of RUMICI study
The result of this study indicated that the strategy of fulfilling the need of clothing is to
manage the amount ofspending, palace and time to buy clothes. Whereas the spending of
migrant family as a whole has smaller percentage because they bought their clothes in
traditional market compared to non migrant family whith higher percentage because they
bought their clothes in malls. Strategy of fulfilling food need is to manage the amount of
spending on food especiall on side dish’s. It was indicated that non migrant family suppress
the cost of spending on food compared to migrant family, because migrant family prioritized
food more than clothes. The home nees fulfillment strategy has differennt nature i.e migrant
family have more percentage on buying as a property right needs by renting and being
paying guest.
Key words: Fullfilling Life Basic, Migrant – Non Migrant household
A. PENDAHULUAN
Salah satu gejala umum yang
ditemui dibanyak negara berkembang
dewasa ini adalah pesatnya pertumbuhan
populasi di kota-kota besar. Pertumbuhan
populasi yang pesat ini disebabkan oleh
adanya pertumbuhan alami (natural
increase) yaitu masih tingginya angka
kelahiran di kota. Juga disebabkan oleh
adanya migrasi masuk (in migration) yang
akhir-akhir ini banyak melanda kota-kota
besar di negara-negara berkembang.
Indonesia
sebagai
Negara
berkembang pembangunan nasionalnya
mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang dimbangi oleh ketahanan
mental dan spiritual yang tinggi. Namun

secara umum masih banyak perempuan
menghadapi kendala dalam memanfaatkan
peluang kerja yang tersedia, juga dalam
melaksanakan perannya sebagai ibu dan
pendidik anak-anaknya. Tanpa penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang
cukup, sukar diharapkan perempuan akan
dapat memahami kebutuhan hidup mereka.
Pada aspek tingkat kesejahteraan
rumah tangga sebagai komponen strategi
pemenuhan
kebutuhan
dasar
hidup,
misalnya yang umum dilakukan adalah
strategi
pengurangan
pengeluaran.
Termasuk jumlah remittance (uang dan
barang yang dikirim para migran ke daerah
asal) untuk bertahan hidup. Hal ini
dilakukan sebagai upaya penghematan agar

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[110]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

usaha para migran tetap berjalan, pekerjaan
tetap ada, sehingga bisa bertahan dalam
suasana krisis.
Sriyati (2003) juga menjelaskan
“Etnik Jawa dalam mendapatkan pekerjaan
awal cenderung menggantungkan dirinya
pada
migran
terdahulu.
Karena
berkepentingan dengan rasa aman baik
dalam lingkungan pemukiman atau di
tempat usaha".
Teori Maslow tentang kebutuhan
dasar ada lima yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis contohnya :
pakaian, makanan, dan rumah.
2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan
contoh seperti : bebas dari penjajahan
3. Kebutuhan sosial misalnya : memiliki
teman dan keluarga
4. Kebutuhan penghargaan contoh : pujian,
piagam, tanda jasa, dan hadiah
5. Kebutuhan aktualisasi diri adalah
keinginan bertindak sesuka hati sesuai
bakat dan minatnya.
Ini berarti kebutuhan pertama berupa
kebutuhan fisiologis yang didalamnya
mencakup pakaian (sandang), makanan
(pangan) dan rumah (papan) adalah hal yang
paling mendasar untuk dipenuhi. Asumsi ini
didukung Max-Neef dkk yang mengacu
pada Skala Pembangunan Manusia, dan
dapat disimpulkan jika manusia tidak dapat
memenuhi kebutuhan yang paling mendasar
maka mereka berada dalam kemiskinan.
Salah satu strategi yang dapat
dilakukan yaitu mengurangi pengeluaran.
Hal ini terungkap dari hasil penelitian
menurut Sriyati (2003), “Etnik Bugis hanya
mengurangi pengeluaran. Ini berarti dalam
suasana krisis etnik Bugis tetap berusaha
memenuhi kebutuhan pokoknya. Etnik
Bugis memiliki pola konsumtif yang tinggi
sehingga penghasilan yang diperoleh dari

bekerja
banyak
kebutuhan pokok"

dibelanjakan

untuk

B. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi
strategi
upaya
pemenuhan kebutuhan dasar rumah
tangga migran dan rumah tangga non
migran di kota Makassar.
2. Menganalisis
perbandingan
strategi
pemenuhan kebutuhan dasar antara
rumah tangga migran dengan rumah
tangga non migran.
C. METODE PENELITIAN
Berangkat dari tujuan yang hendak
dicapai, terdapat tiga pertimbangan dasar
mengapa kota Makassar ditetapkan sebagai
tempat yang tepat untuk dilakukannya studi
migrasi seperti ini. Pertama, berdasarkan
temuan
BPS
(BPS,
1996)
yang
mengungkapkan bahwa pada tahun 1995,
Makassar telah menjadi satu dari lima kota
tujuan migrasi desa-kota terbesar di
Indonesia. Kedua, posisi sebagai salah satu
kota tujuan migrasi yang paling diminati di
Indonesia masih bertahan sepuluh tahun
kemudian sesuai laporan SUPAS1 2005
(BPS, 2006). Ketiga, ada sebuah studi yang
dilakukan tentang kehidupan para migran
desa kota secara longitudinal menemukan
lagi tiga alasan utama, pertama, kota ini
relatif lebih aman (tidak ada konflik
bernuansa
SARA),kedua
mudahnya
mendapatkan pekerjaan terutama sektor
informal dan akses transportasi untuk
sampai di Makassar relatif lebih mudah
11

SUPAS (Survai Penduduk Antar Sensus ) adalah
survai yang dilakukan pada pertengahan waktu antar
satu sensus dengan sensus yang berikutnya. Sensus
di Indonesia dilakukan setiap sepuluh tahun sekali
secara teratur mulai tahun 1970, 1980, 1990, 2000,
dan 2010. Supas terakhir silakukan pada tahun 2005.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[111]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

dijangkau. Ketiga, tersedianya fasilitas
pendidikan yang cukup.
Populasi dalam kajian ini adalah
seluruh responden yang digunakan pada
riset Rural Urban Migrationtahun ke tiga
April-Mei 2010 di kota Makassar.
Karakteristik utama dari populasi ini adalah
semua reseponden telah dan akan menjadi
satuan analisis dalam kajian RUMICI
selama 4 tahun (2008-2011). Yang
kemudian
dikategorikan
dalam
tiga
kelompok yakni (1) rumah tangga non
migran (NM) yakni kepala rumah tangga
yang lahir dan menghabiskan setidaknya
lima tahun sebelum berumur 12 tahun di
kota termasuk kota Makassar, (2) Lifetime
Migran (LM) kepala rumah tangga yang
lahir sampai umur 12 tahun dan lima tahun
berturut-turut tinggal di desa, (3) Recent
Migran (RM) adalah kepala rumah tangga
yang baru saja datang dan menetap di kota
tidak lebih dari lima tahun pada tahun 2008.
RUMICI dalam tahun ketiga di kota
Makassar berhasil mewawancarai 430
(rumah tangga) responden yang terdiri dari
Non Migran sebanyak 147 rumah tangga,
Lifetime Migran = 145 rumah tangga, dan
Recent Migran sebanyak 138 rumah tangga.
Dalam perkembangan selanjutnya diketahui
bahwa rumah tangga recent migran adalah
mahasiswa dan hidup sendiri (belum
berumah tangga) sehingga dalam kajian ini
mereka tidak dimasukkan sebagai rumah
tangga.
Penentuan responden dalam kajian
ini
berasal
dari
populasi
yang
berkarakteristik sama
yakni mereka
semuanya merupakan responden dalam
kajian migrasi oleh RUMICI tahun 2010.
Secara faktual, populasi dalam kajian ini
terdiri atas: Rumah tangga non migran
sebanyak 147 rumah tangga dan rumah
tangga migran sebanyak 145 rumah tangga.

Berangkat dari dasar kajian ini yang mana
dilakukan wawancara mendalam, maka
dibutuhkan sampel sebanyak 10 persen dari
populasi yang dikenal sebagai unit analisis.
Hasilnya adalah :
Non migran =
10% x 147 = 15
rumah tangga.
Migran
=
10% x 145 = 15
rumah tangga.
Total
= 30 rumah tangga (migran
dan non migran)
Sample pada kajian ini berasal dari
populasi semua respondon pada studi
terdahulu. Pengambilan sampel dilakukan
secara purposive sampling yaitu sampel
diambil dari variasi yang berkembang dalam
objek kajian, bukan untuk mengungkap
masalah mendasar melainkan mengungkap
variasi-variasi besar yang berkembang dari
masalah itu sendiri.
Terhadap cara penarikan sampel
seperti ini ada hal yang perlu dijelaskan
untuk menyamakan persepsi tentang double
sampling yang sering terjadi dalam sebuah
riset. Penjelasan ini sekaligus hendak
mengatakan bahwa kajian ini sama sekali
tidak menggunakan double sampling saat
pengambilan sample.
Pada dasarnya double sampling
terjadi karena cara penarikan sample yang
dilakukan dua atau tiga kali dalam satu
sample frame. Seperti yang dijelaskan oleh
Black and Champion (1976 ; 321-322)
bahwa double sampling terjadi dalam
mekanisme penarikan sample sebanyak dua
kali untuk satu populasi
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Strategi Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Hidup Masyarakat di KotaMakassar
Strategi pemenuhan kebutuhan dasar
hidup masyarakat perkotaan pada dasarnya
terdiri atas strategi pemenuhan kebutuhan

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[112]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

makanan sehari-hari berupa pakaian
(sandang), makanan (pangan) dan rumah
(papan). Setiap pembahasan akan selalu
dikaitkan dengan status migrasi rumah
tangga agar dapat dilihat apakah terdapat
perbedaan stratgei antara rumah tangga
migran dan non migran di kota Makassar
dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup
mereka.
1. Kebutuhan Pakaian (Sandang)
a. Status Ekonomi Rumah Tangga
Secara teoretik, pendapatan dan
pengeluaran masyarakat merupakan dua
komponen penting untuk menentukan status
ekonomi mereka dalam masyarat. Namun
dalam prakteknya, mengetahui pengeluaran
akan jauh lebih mudah dari mengetahui

pendapatan masyarakat terutama pada
kelompok masyarakat yang tidak memiliki
penghasilan tetap. Jalan keluar yang
ditempuh adalah mengetahui situasi
ekonomi rumah tangga dari pengeluaran
mereka.
Cara ini juga dilakukan oleh Bank
Dunia dalam menentukan ambang batas
kemiskinan dan juga status ekonomi
penduduk suatu Negara. Untuk mengetahui
status ekonomi masyarakat (rumah tangga
dan
juga
individu),
Bank
Dunia
menggunakan standar pengeluaran 1 dan 2
dollar perkapita perhari. Jika pengeluaran
tersebut berada di bawah 1 dollar perkapita
perhari, maka orang tersebut dikelompokkan
dalam
masyarakat
yang
miskin.

Tabel 1. Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga menurut Status Ekonomi dan Status Migrasi
(Rp/000/kapita/bulan)
Status Ekonomi
Rumah Tangga

Status Migran
Migran
Non Migran
Jlh
(%)
Jlh
(%)
5
33,3
7
46,6

Rendah (40 %)
Rp 283,0
Sedang (40 %)
7
46,6
5
Rp 635,4
Tinggi
(20 %)
3
20,0
3
Rp 1.129,9
Rata-Rata Rp 593,7
15
100
15
N
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Terlihat pada Tabel 1 status ekonomi
rendah, mereka yang berasal dari rumah
tangga
non
migran
lebih
banyak
dibandingkan rumah tangga migran. Situasi
ini agak berubah pada status ekonomi
sedang, tampaknya rumah tangga migran
lebih banyak dari rumah tangga migran.
b. Strategi Pemenuhan dan Pengaturan
Pakaian (Sandang) Rumah Tangga.
Salah
satu
mencukupi kebutuhan

strategi
sandang

untuk
adalah

33,3
20,0
100

dengan mengatur jumlah pengeluaran
membeli dan tempat membeli pakaian.
Para ibu rumah tangga yang
diwawancarai
dalam
studi
ini
mengemukakan berbagai alasan mereka
membeli di pasar tradisional karena
penjualnya mereka kenal dan harganya lebih
murah dibandingkan dengan mall. Beberapa
ibu rumah tangga memberi perbandingan
jenis pakaian yang dibeli sebagai berikut
“dulu kami suka berbelanja cakar (pakaian
bekas) karena bagus-bagus, murah dan kuat.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[113]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Sekarang pakaian “cakar” kurang bagus.
Kalau beli di pasar Pannampu atau sentral
kita bisa dapat baju baru dengan harga
murah, asal pintar menawar2”. Jawaban para
perempuan ini memperlihatkan cara mereka
melakukan strategi pemenuhan kebutuhan
sandang untuk keluarga mereka.
Tabel 2. Pembelian Baju Lebaran
Pembelian
Persentase (%)
BajuLebaran
83
Beli

173
Tidak
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Pada Tabel 3 terlihat bahwa perempuan
migran lebih banyak yang membeli pakaian
untuk lebaran di pasar tradisional (64
persen) sedangkan perempuan non migran
tidak sebanyak itu (54 persen).
Tabel 3. Tempat Pembelian Baju berdasarkan Status Migrasi
Tempat
Status Migran
Pembelian
Migran
Non Migran
(%)
(%)
Pasar
64,0
54,0
Tradisional
Mall
36,0
46,0
Total
100
100
N
15
15
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011
Para perempuan ini senantiasa
mendahulukan pakaian untuk anak-anak dan
suami mereka. “Jika ada uang lebih, baru
saya beli juga untuk saya 4”, jelas seorang
responden dari rumah tangga migran di kota
Makassar. Ada kesamaan pola antara rumah
tangga migran dan non migran, bahwa yang
2

Penjelasan responden nomor 23.
Responden yang tidak membeli pakaian lebaran
tahun lalu disebabkan oleh Kebakaran (7 persen),
dibelikan anak yang telah berkeluarga (7 persen),
dan sama sekali tidak memiliki uang (3 persen).
4
Jawaban responden nomor 21.
3

diutamakan adalah anak-anak, suami dan
terakhir perempuan.
Tabel 4a. Besaran Pembelian Baju Berdasarkan Status Migrasi
Besaran
Pembelian
Baju (Rp
000)
150 – 500
501 – 1.000
+ 1.000
Total
N

Status Migran
Migran
(%)
50,0
35,7
14,3
100
15

Non Migran
(%)
36,4
45,5
18,1
100
15

Jika dilakukan analisis dengan
melibatkan variabel status migrasi rumah
tangga, maka terlihat dengan jelas
perbedaan besaran pengeluaran rumah
tangga untuk membeli pakaian (Tabel 4a).
Dalam artikulasi lain Tabel 3 dan Tabel 4a
dapat dibaca sebagai penjelasan bahwa
mereka yang membelanjakan uangnya
paling sedikit adalah kelompok yang
terbanyak berbelanja di pasar tradisional.
Ada kemungkinan, berdasarkan kecenderungan Tabel 2 dan Tabel 3, jika kondisi
keuangan rumah tangga semakin baik maka
perempuan di rumah tangga migran ketika
membeli keperluan sandang mereka akan
beralih dari pasar tradisional ke pasar
modern seperti mall.
Pada rumah tangga dalam status
ekonomi rendah, terlihat bahwa perempuan
rumah tangga migran tidak ada yang
mengeluarkan uang untuk membeli baju
dalam kisaran harga di atas satu juta rupiah.
Hal ini berbeda dengan perempuan rumah
tangga non migran status ekonomi rendah
justru masih mau membelanjakan baju
lebaran/natal dalam kisaran harga di atas
satu juta rupiah (33,3 persen). Artinya
secara proporsional, perempuan dari rumah

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[114]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

tangga migran masih mampu menahan diri
untuk menjaga pengeluarannya dibandingan

dengan perempuan rumah tangga non
migran.

Tabel 4b. Persantase Rumah Tangga yang Melakukan Pembelian Baju Menurut Status
Ekonomi dan Status MigrasiRumah Tangga
Besaran Pembelian Baju (000)/Status Migrasi
150 - 500
501 – 1.000
+ 1.000
Status
Migran Non-Migran Migran Non-Migran Migran Non-Migran
Ekonomi
(%)
(%)
(%)
(%)
(%)
(%)
Rendah
37,5
60,0
40,0
42,9
-33,3
Sedang
37,5
40,0
60,0
42,9
50,0
-Tinggi
25,0
--14,2
50,0
66,7
Total N
8
5
5
7
2
3
Persentase
100
100
100
100
100
100
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011
2. Kebutuhan Makanan (Pangan)
Tabel 5. Besaran Pengeluaran untuk Lauk Pauk berdasarkan Status Migrasi
Pengeluaran Lauk
Status Migran
Pauk (Rp 000)
Migran (%)
Non Migran (%)
150 – 500
40,0
66,7
501 – 1.000
40,0
33,3
+ 1.000
20,0
0,0
Total
100
100
N
15
15
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Tabel 6. Alasan Mengonsumsi Ikan Tiap Hari berdasarkan Status Migrasi
Alasan Konsumsi Ikan

Status Migran
Migran (%)
Non Migran (%)
Selera Suami dan Anak
75,0
33,3
Kebiasaan Sejak Lama
25,0
66,7
Total
100
100
N
4
3
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Meskipun hanya sedikit yakni
sekitar
23
persen5
yang
selalu
mengonsumsi ikan tiap hari, terdapat hal
menarik yang berkaitan dengan strategi
5

Proporsi rumah tangga yang tidak mengonsumsi
ikan tiap hari sebesar 77 persen (n = 23) dan yang
mengonsumsi ikan tiap hari hanya 23 persen ( n =
7).

perempuan
dalam
hal
mengatur
pembelanjaan rumah tangga mereka. Ada
dua alasan harus menyajikan ikan tiap hari.
Alasan pertama adalah suami dan anak
tidak makan kalau tidak ada ikan (57
persen) dan sisanya menjawab sudah
terbiasa konsumsi ikan sehingga tidak bisa
beralih sebanyak 43 persen

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[115]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Terlihat dengan jelas pada Tabel 7
bahwa perempuan dari rumah tangga
migran lebih banyak yang menyajikan
sayur dibandingkan dengan non migran
untuk keluarga mereka.Seorang responden
mengatakan bahwa meskipun pakaian
mereka sederhana, yang penting ada sayur
tiap hari untuk keluarga. Jawaban yang
diberikan salah seorang responden yang
berkaitan dengan pandangannya tentang
sayur untuk keluarga; “Sayur itu banyak
gizinya, bagaimana anak bisa sehat dan
pintar kalau tidak ada gizi6”.
Tabel 7. Penyajian Sayur Tiap Hari berdasarkan Status Migrasi
Penyajian Sayur
Status Migran
Tiap Hari
Migran
Non
(%)
Migran
(%)
Tetap ada
66,7
26,7
Kadang-Kadang
33,3
73,3
Total
100
100
N
15
15
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Tabel 8 menginformasikan bahwa
terdapat tiga alternatif yang akan dipilih
oleh perempuan baik pada rumah tangga
migran maupun non migran yakni tidak ada
pengganti sayur, mie instan, dan mie bakso.
Tabel 8. Alternatif Tidak Menyiapkan
Sayur Tiap Hari berdasarkan
Status Migrasi
Alternatif
yang
Ditempuh
Tidak Ada
Pengganti
Mie Instan
Mie –
Bakso
Total
N
6

Status Migran
Migran
Non
(%)
Migran
(%)
20
45,5
60
20

45,5
9,0

100
5

100
11

Jawaban responden nomor 11 saat wawancara
berlangsung.

Hampir semua perempuan migran
migran akan menyajikan pengganti sayur
untuk anggota keluarganya yang terdiri atas
mie instan dan mie-bakso. Hanya sedikit
sekali yang tidak menyajikan apa-apa (20
persen). Situasi ini sedikit berbeda dengan
rumah tangga non migran dari para
perempuannya memilih tidak menyajikan
apa-apa saat sayur tidak tersedia (45
persen). Hal menarik lagi ternyata tak
satupun perempuan rumah tangga non
migran yang berasal dari status ekonomi
sedang dan tinggi mau membelanjakan
lauk-pauk diatas satu juta rupiah perbulan
untuk anggota rumah tangga mereka. Hal
ini berbalik sekali dengan apa yang
ditampakkan oleh perempuan pada rumah
tangga migran yang justru secara
proporsional lebih banyak membelanjakan
lauk pauk di atas satu juta rupiah.
Kenyataan
ini
memberikan
pemahaman baru bahwa tidak selamanya
status ekonomi yang tinggi akan
berdampak pada pemenuhan kebutuhan
makanan yang tinggi pula. Pernyataan ini
tentu saja masih premature jika dilakukan
generalisasi, tetapi untuk kepentingan studi
ini,
tampaknya
telah
menemukan
justifikasi. Kajian ini menyadari bahwa
dengan adanya temuan ini, sekaligus
membuka peluang untuk dilakukan studi
yang lebih konprehensif dengan melibatkan
beragam faktor penentu lainnya.
3. Kebutuhan Rumah (Papan)
Bagaimana gambaran kepemilikan
rumah jika dikaitkan dengan status migrasi
kepala rumah tangga tersebut? Jika
diasumsikan bahwa penduduk migran
adalah pendatang dan dengan demikian
kesempatan memiliki rumah pribadi lebih
besar berada pada penduduk non migran,
tampaknya asumsi tersebut perlu dilihat
ulang. Wawancara mendalam yang

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[116]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Tabel 9. Persantase Rumah Tangga menurut Besaran pembelian Lauk-Pauk, Status Ekonomi
dan Status Migrasi Rumah Tangga
Status
Ekonomi

Besaran Pembelian Lauk-Pauk (000)/Status Migrasi
150 - 500
501 – 1.000
+ 1.000
Migran Non-Migran Migran Non-Migran Migra Non- Migran
(%)
(%)
(%)
(%)
n (%)
(%)
Rendah
50,0
50,0
33,3
40,0
-Sedang
33,3
40,0
50,0
20,0
66,7
-Tinggi
16,7
10,0
16,7
40,0
33,3
-Total N
6
10
6
5
3
-Persentase
100
100
100
100
100
100
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Tabel 10. Kepemilikan Rumah Berdasarkan Status Migrasi
Status
Status Migran
Kepemilikan
Migran (%)
Non Migran (%)
Rumah
Sewa
13,3
20,0
Milik Sendiri
73,4
66,6
Numpang
0,0
6,7
Hak Pakai
13,3
6,7
Total
100
100
N
15
15
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
Tabel 11. Penentu Lokasi Rumah Berdasarkan Status Migrasi
Penentu Lokasi
Status Migran
Rumah
Migran (%)
Non Migran (%)
Suami
60,0
54,5
Istri
20,0
36,4
Bersama
20,0
9,1
Total
100
100
N
15
15
Sumber : Diolah dari data lapangan 2011.
dilakukan menunjukkan kenyataan bahwa
penduduk yang berstatus migran persentase
kepemilikan
rumahnya
lebih
besar
dibandingkan dengan mereka yang
berstatus non migran7. Dari wawancara
mendalam diketahui pula bahwa alasan
penduduk migran sangat peduli dengan
rumah tinggal adalah karena mereka tidak
7

Informasi secara terperinci dapat dilihat pada
Tabel 10.

memiliki banyak keluarga di kota sehingga
jika terjadi apa-apa mereka tidak memiliki
banyak keluarga lain yang bisa di mintai
tolong. Hal lain yang terungkap adalah
rumah bagi mereka bukan sekedar tempat
tinggal semata, tetapi juga dapat dijual jika
mereka mengalami kesulitan hidup di kota8
Kajian ini menemukan adanya
keengganan menjadikan rumah sebagai
modal (menjual rumah) pada rumah tangga

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[117]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

non migran karena rumah tersebut
diperoleh bukan dari hasil usaha sendiri
melainkan dari warisan. “kami tidak bisa
menjual rumah ini meski hidup kami susah,
karena betul rumah ini milik kami tetapi
juga merupakan warisan dari orang tua.
Jadi tidak mungkin dijadikan modal usaha.
Kami justru harus menjaganya, bukan
menjualnya”8, demikian jawaban yang
diberikan oleh salah satu responden ketika
ditanyakan alasan tidak menjadikan rumah
miliknya sebagai modal jika kesulitan
hidup menghampiri.
Kajian ini menemukan hal
menarik tentang pemilihan lokasi rumah
responden. Sebagian besar penentuan
lokasi rumah tinggal diatur oleh suami
sebagai kepala rumah tangga. Tetapi ada
fenomena yang unik, ternyata istri dari
rumah tangga non migran lebih banyak
yang juga menentukan lokasi rumah
dibandingkan dengan para istri dari rumah
tangga migran.
Jika peran penentu lokasi rumah
merupakan salah satu indikasi adanya
posisi yang hampir sama antara laki-laki
dan perempuan dalam rumah tangga dapat
dipakai, maka temuan dalam kajian ini
dapat dibaca sebagai legitimasi posisi
perempuan non migran jauh lebih baik dari
posisi perempuan migran dalam rumah
tangga
mereka.
Tampaknya
ketika
perempuan memiliki kuasa menentukan
lokasi
rumah,
mereka
akan
mempertimbangkan lingkungan sekitar
yang dapat menjaga anak-anak mereka saat
para perempuan tersebut bekerja sebagai
penjual jamu. Jika alasan ini ditilik lebih
jauh, terlihat gambaran nyata dual role
perempuan, di ranah publik dan domestik

E. KESIMPULAN
Realitas bahwa secara presentase
untuk kondisi ekonomi rumah tangga di
kota Makassar, mereka yang berasal dari
rumah tangga migran memiliki kemampuan
ekonomi yang lebih baik dibandingkan
dengan rumah tangga non migran.
Salah satu strategi untuk mencukupi
kebutuhan pakaian (sandang) adalah
dengan mengatur jumlah pengeluaran dan
tempat membeli pakaian tersebut. Ada
kesamaan pola antara rumah tangga migran
dan non migran, bahwa yang diutamakan
adalah anak-anak, suami dan terakhir
perempuan.Secara proporsional, perempuan
dari rumah tangga migran masih mampu
menahan
diri
untuk
menjaga
pengeluarannya
dibandingan
dengan
perempuan rumah tangga non migran.
Berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan makanan (pangan )kajian ini
menemukan hal menarik ternyata tak
satupun perempuan rumah tangga non
migran mau membelanjakan lauk-pauk
diatas satu juta rupiah perbulan. Hal ini
berbanding terbalik perempuan pada rumah
tangga migrant, justru secara proporsional
lebih banyak membelanjakan lauk pauk di
atas satu juta rupiah. Kenyataan ini
memberikan pemahaman baru bahwa tidak
selamanya status ekonomi yang tinggi akan
berdampak pada pemenuhan kebutuhan
makanan yang tinggi pula. Pernyataan ini
tentu saja masih premature jika dilakukan
generalisasi, tetapi untuk kepentingan studi
ini,
tampaknya
telah
menemukan
justifikasi. Kajian ini menyadari bahwa
dengan adanya temuan ini, sekaligus
membuka peluang untuk dilakukan studi
yang lebih konprehensif dengan melibatkan
beragam faktor penentu lainnya.

8

Jawaban responden no. 9.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[118]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Jika diasumsikan bahwa penduduk
migran adalah pendatang dan dengan
demikian kesempatan memiliki rumah
pribadi lebih besar berada pada penduduk
non migran, pada kenyataan bahwa
penduduk yang berstatus migran persentase
kepemilikan rumahnya lebih besar.
Dengan alasan penduduk migran
sangat peduli dengan rumah tinggal karena
mereka tidak memiliki banyak keluarga di
kota sehingga jika terjadi apa-apa mereka
tidak memiliki banyak keluarga lain yang
bisa di mintai tolong. Hal lain yang
terungkap adalah rumah bagi mereka bukan
sekedar tempat tinggal semata, tetapi juga
dapat dijual jika mereka mengalami
kesulitan hidup.
Jika peran penentu lokasi rumah
merupakan salah satu indikasi adanya
posisi yang hampir sama antara laki-laki
dan perempuan dalam rumah tangga dapat
dipakai, maka temuan dalam kajian ini
dapat dibaca sebagai legitimasi posisi
perempuan non migran jauh lebih baik
ketika
perempuan
memiliki
kuasa
menentukan lokasi rumah, mereka akan
mempertimbangkan lingkungan sekitar
yang dapat menjaga anak-anak mereka saat
para perempuan tersebut bekerja sebagai
penjual jamu, terlihat gambaran nyata dual
role perempuan, di ranah publik dan
domestik
F. SARAN
Pengembangan Ilmu. Melakukan
penelitian serupa yang lebih konprehensif
dengan melibatkan beragam faktor penentu
lainnya.
Pengambilan Kebijakan. Hendaknya
selalu memperhatikan kebutuhan dasar baik
untuk rumah tangga migran dan non
migran, juga kebutuhan pengembangan
sumber
daya
perempuan
sehingga

perempuan dapat mengembangkan potensi
yang dimiliki.
G. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 1999. Krisis Ekonomi,
Daya Tahan Penduduk, dan Social
Security: Kasus Jatinom di Jawa
Tengah, Buletin Populasi Volume
10 Nomor 1 Tahun 1999, UGMYogyakarta.
Ahmad, Arjana, 1997. Permasalahan
Pekerja
Migran;
Perspektif
Pekerjaan Sosial di Jawa, Buletin
Populasi Volume 5 Nomor 3 Tahun
1997, UGM-Yogyakarta.
Davis, Mike. 2006. Planet of Slums, Verso,
London.
Heyzer, Noeleen, 2002, “Trafficking,
Migrasi, dan Globalisasi”, dalam
Radio Nederland Wereldomroep,
edisi 6 Desember
Jacobson. 1991. Ethnometodology : A
Critical Review, dalam Annual
Review of Sociology No. 5, p11.
Geertz, H. 2006. Indonesian Cultures and
Communities,
Antropologi
Indonesia Vol. 21 No. 2, 2006, Fisip
Universitas Indonesia.
Graeme, Hugo, Pengungsi-Indonesia’s
Internally
Displaced
Persons,
Revised Paper for the Asian and
Pacific Migration Journal June
2002.
Koentjaraningrat,
1997.
Metodologi
Penelitian
Kualitatif,
Penerbit
Universitas Terbuka, Jakarta.
Lee, Everett, 2000. Teori Migrasi. Pusat
Penelitian Kependudukan UGM,
Yogyakarta.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[119]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Malik, Sriyati. Bugis (Semut Merah), Jawa
(Semut
Hitam).
(http://www.kelangsunganhidup.1.html). 2 Juni 2009.
Manfred A. Max-Neef. 1991. Human Scale
Development, The Apex Press, New
York and London.
Mantra, Ida Bagoes, 2000. Demografi
Umum. Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Mantra, Ida Bagoes, 1999. Mobilitas
Penduduk Sirkuler:Dari Desa Ke
Kota Di Indonesia. Pusat Penelitian
Kependudukan UGM, Yogyakarta.
Parwadi, Redatin, 2005. Peranan Istri
dalam
Pemenuhan
Kebutuhan
Rumah
Tangga
Nelayan
di
Kalimantan Barat, Buletin Populasi
Volume 16 Nomor 2 Tahun 2005,
UGM-Yogyakarta.
Rozy Munir dan Budiharto, Drs. 2007.
Teori Kependudukan, Bina Aksara,
Jakarta.
Rahmat, Dyah. 1995. Peranan Wanita
dalam
Pemenuhan
Kebutuhan

Rumah Tangga di Aceh, Buletin
Populasi Volume 3 Nomor 1 Tahun
1995, UGM-Yogyakarta.
Saleh, Faisal. 1992. Metodologi Penelitian
Sosial.
Pusat
Penelitian
Kependudukan UGM, Yogyakarta.
Shiva,

Vandana. 1997. Bebas dari
Pembangunan;
Perempuan,
Ekologi, dan Perjuangan Hidup di
India. Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta.

Vrendenbergt. 1997.The Research Act,
dalam Jurnal of Official Statistic
No. 5, p 88-89.
Zaid, Abdullah. 2003. Teori dan Metode
Penelitian Sosial, Antropologi
Indonesia Vol. 14 No. 1, 2003, Fisip
Universitas Indonesia.
........... 2006. Teori Hierarki Kebutuhan
Maslow / Abraham Maslow – Ilmu
Ekonomi,
(Online),
http://organisasi.org/teori_hierarki_kebutuh
an_maslow_abraham_maslow_ilmu_ekono
mi, diakses Oktober 2012

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[120]