PENGGUNAAN BAHAN PENGAWET DALAM

MAKANAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF
HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

Dra. St. Kasmawati, M.Si

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan
Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[135]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

PENGGUNAAN BAHAN PENGAWET DALAM MAKANAN DITINJAU DARI
PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM
Dra. St. Kasmawati, M.Si

Abstrak
Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia, selain sandang dan papan yang
diperlukan guna melangsungkan kehidupan, seiring perkembangan perekonomian di bidang
perindustrian dan perdagangan, telah menghasilkan berbagai macam barang yang dapat
dikonsumsi. Pemenuhan makanan cepat saji dan tahan lama saat ini dapat dihasilkan
dengan mudah dengan menggunakan bahan tambahan makanan yang berbahaya tanpa
memperhatiakn kualitas dan dampak kesehatan bagi manusia. Maka perlunya perutaran
perundang-undangan yang mengatur tentang bahan tambahan makanan, karena menurut
ajaran Islam mengkonsumsi yang halal lagi baik merupakan perintah agama yang
hukumnya wajib.
Peraturan perlindungan konsumen dari produk makanan yang menggunakan bahan
tambahan pangan (pengawet) berbahaya dengan pemberian jaminan kesehatan pada produk
makanan yaitu adanya pemberian standart makanan sehat dengan pencantuman komposisi
setiap bahan yang dipakai pada produk makanan dalam peraturan perundang-undangan
diantaranya undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, undang-undang
nomor 7 tahun 1996 tentang pangan nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
dan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999 Tentang
Bahan Tambahan Pangan yang dilarang. Dalam Islam hal yang mendasari kriteria produk
pangan sebaiknya halal dan baik (halalan thoyiban) yang diatur secara jelas dalam Q.S Al
Baqarah: 168, Al Maidah: 88, An Nahl: 114 serta dipertegas dalam hadist Nabi Muhammad
SAW sehingga penulis menganggap bahwa Allah SWT jelas telah menyuruh kita hanya
memakan makanan yang halal dan baik saja. Akan tetapi penerapan ajaran Islam dalam
peraturan perundang-undangan tentang bahan tambahan pangan (pengawet) pada produk
makanan ini terdapat permasalahan yang muncul dalam pengaturan tentang bahan tambahan
pangan (pengawet) yang digunakan pada makanan. Hal ini disebabkan oleh faktor
kurangnya sosialisasi, pengawasan dan kurang ketatnya BPOM mengawasi beredarnya
makanan.
Kita sebagai konsumen harus memperhatikan makanan yang halal dan baik artinya
makanan harus aman, bermutu, dan bergizi untuk dikonsumsi, jadi bagi kita harus berhatihatilah dalam memilih makanan, baca terlebih dahulu komposisi makanan pada kemasan
yang beredar saat ini dengan melihat keterangan bahan tambahan pangan (BMP) yang
digunakan sebuah produk makanan.
Kata Kunci: Bahan pengawet makanan, hukum positif, hukum Islam

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[136]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

A. LATAR BELAKANG
Bahan pangan merupakan materi
yang mudah rusak (perishable). Dengan
sifat yang mudah rusak, maka bahan pangan
mempunyai masa simpan yang terbatas.
Bermacam-macam teknik pengawetan dan
pengolahan bahan pangan dilakukan untuk
memperpanjang marketable life komoditas
hasil pertanian di antaranya pengeringan,
pembekuan, penggunaan bahan kimia dan
iradiasi.
Tujuan pengawetan pangan adalah
untuk
menghambat
atau
mencegah
terjadinya
kerusakan
pangan,
mempertahankan
kualitas
bahan,
menghindarkan terjadinya keracunan dan
mempermudah
penanganan
serta
penyimpanan. Bahan pangan yang awet
mempunyai nilai yang lebih tinggi karena
terjadinya kerusakan dapat diperkecil.
Namun demikian metode pengawetan tidak
selalu dapat mempertahankan kualitas asal
bahan pangan atau kandungan gizi dari
komoditas yang diawetkan.
Penggunaan bahan aditif yang
melebihi batas ambang pemakaian, dapat
mengakibatkan penyakit
karsinogenik
(tumor, kanker). Hasil survey terakhir FAO,
penyebab kematian pertama di dunia adalah
diakibatkan oleh penyakit tumor dan kanker.
Pembangunan di bidang teknologi pangan
dan kesehatan, diantaranya menjadikan
penduduk Indonesia sebagai konsumen yang
sadar kesehatan dengan pola makan ”sadar
gizi”, bukan ”sadar rasa”. Karena sadar gizi
mengarah untuk memilih/membeli makanan
yang menyehatkan, bergizi seimbang sesuai
kebutuhan
tubuh,
tidak
sekedar
mengenyangkan perut apalagi hanya
mengutamakan cita rasa saja.
Penyalahgunaan pemakaian zat
pewarna untuk bahan pangan; misalnya zat

pewarna tekstil yang mestinya digunakan
untuk benang, kain dan kulit malah dipakai
untuk mewarnai bahan makanan. Hal ini
sangat berbahaya bagi kesehatan karena
adanya residu logam berat dari zat warna
tersebut. Munculnya penyalahgunaan bahan
tambahan/aditif pangan tersebut disebabkan
oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai zat
pewarna untuk makanan, para produsen
makanan belum memahami akan bahaya
bahan aditif buatan yang digunakan tersebut
atau disebabkan karena tidak adanya
penjelasan dalam label yang melarang
penggunaan senyawa tersebut untuk bahan
pangan.
Jika penggunaan bahan aditif buatan
tidak diwaspadai bersama, maka secara
perlahan kondisi kesehatan masyarakat akan
menurun (mengakibatkan berkembangnya
penyakit
tumor,
kanker,
gangguan
pernapasan, kulit dan lain-lain) karena
mengonsumsi berlebihan, secara terus
menerus dan tanpa pemantauan secara baik.
Disinilah masyarakat kampus atau peneliti
dituntut peran aktifnya dalam mencari solusi
guna membantu mengatasi permasalahan
yang berkembang di masyarakat kita.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.

Mengenal Zat Tambahan pada
Makanan

Zat aditif adalah bahan tambahan
makanan yang berguna sebagai pelengkap
pada produk makanan dan minuman. Bahan
ini umumnya diperlukan untuk menambah
rasa, memberi warna, melembutkan tekstur
dan mengawetkan makanan.
Jaman
dulu
orang
masih
menggunakan zat tambahan alami dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan. Contohnya,
untuk memberi rasa manis digunakan gula
tebu dan madu, sedangkan daun suji, kunyit,
gula merah dan daun jati ditambahkan untuk

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[137]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

memberi warna pada makanan atau
minuman.
Mengganti zat tambahan natural
tersebut dengan zat tambahan sintetis yang
sifatnya lebih berbahaya bagi kesehatan
manusia apabila dikonsumsi secara terus
menerus dan berlebihan. Menurut Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),
ada dua macam kategori zat aditif pada
makanan. Pertama, zat aditif yang diizinkan
untuk digunakan dengan jumlah penggunaan
maksimum. Kedua, zat aditif yang dilarang
untuk digunakan pada pangan karena
memang bersifat membahayakan kesehatan.
 Jenis zat tambahan yang boleh
digunakan untuk makanan, yakni :
-

agen emulsi yang berbahan lemak
dan air, contohnya lecitin.
- agen penstabil dan pemekat,
contohnya alginat dan gliserin.
- agen peningkatan nutrisi, contohnya
berbagai macam ekstrak vitamin.
- agen
pengawet
makananan,
contohnya garam nitrat dan nitrit.
- agen pengembang untuk roti dan
bolu.
- agen penyedap rasa, contohnya
monosodium glutamat (MSG).
- agen pemberi warna.
2. Jenis- Jenis Bahan Pengawet
a. Formalin, bahan yang biasa digunakan
dalam industri plastik, kertas, tekstil, cat
dan pengawet mayat. Saat ini formalin
sering digunakan pada ayam, tahu dan
mie untuk menambah kekenyalan dan
memperpanjang masa simpan produksi
b. Boraks, bahan campuran pada detergen
yang juga sering dicampurkan pada
bakso dan kerupuk untuk memperbaiki
warna, tekstur dan rasa.

c. Pewarna rhodamin B , biasa dipakai
dalam industri tekstil sekarang juga
banyak digunakan untuk memberi warna
pada makanan dan kosmetik.
d. Penggunaan zat aditif secara berlebihan
dan terus menerus dapat membahayakan
kesehatan. Sebabnya karena bahan
tersebut ada kemungkinan bersifat
mutagenik / karsinogenik yang dapat
menimbulkan kelainan genetik, kanker,
penuaan sel dan kerusakan organ yang
lain.
Berikut beberapa dampak negatif zat
aditif ke tubuh manusia :
a. Penyedap rasa, seperti MSG, dapat
membuat kerusakan otak, kelainan hati,
hipertensi, stres, demam tinggi, penuaan
dini, alergi kulit, mual, muntah, migren,
asma, ketidakmampuan belajar, dan
depresi.
b. Pemanis buatan, seperti sakarin dan
aspartan, dapat menyebabkan kanker
kantong kemih dan gangguan saraf dan
tumor otak.
c. Pewarna sintetis, banyak dijumpai pada
sirup dan kue, dapat menimbulkan alergi
dan kanker hati.
d. Formalin, dapat menyebabkan kanker
dan dapat merusak sistem saraf.
e. Boraks, dapat menimbulkan rasa mual,
muntah, diare, sakit perut, penyakit kulit
dan kerusakan ginjal.
f. Pewarna rhodamin B dapat menyebabkan
kanker dan menimbulkan keracunan pada
paru-paru, maa, tenggorokan, hidung dan
usus.
Khusus untuk formalin, kita dapat
mengetesnya terlebih dahulu pada makanan
dengan mencelupkan kertas indikator pada
air rendaman makanan tersebut. Apabila
berubah warna maka bisa dipastikan
makanan tersebut menggunakan formalin.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[138]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Sekarang, kertas indikator tersebut bisa
diperoleh di apotik dan toko obat.
3. Pengertian
Islam

Halal-Haram

Menurut

Semua bahan kebutuhan primer
hakekatnya di sediakan Allah SWT,
manusia hanya disuruh untuk mencermati
dan mengikuti petunjuk agar tidak memiliki
kemudaratan, karena pengertian orang yang
berperilaku merusak dekategorikan syaitan.
Untuk itu semua anugerah Allah
SWT pada diri manusia termasuk kebutuhan
makanan dan minuman pemanfaatannya
dengan baik dan benar merupakan pahala
dan berkorelasi positif mendatangkan
kemaslahatan.Islam menuntut umatnya
melaksanakan perintah Allah SWT atas
dasar patuh dan taat kepada Allah sematamata. Keikhlasan dalam mematuhi dan
mentaatiNya menghasilkan jiwa yang
tunduk
kepada
Allah
dan
mengagungkanNya.
Thoyyiban lebih kepada unsur
kesehatan termasuk kesehatan tidak
tercemari oleh zat pengawet. Orang yang
sengaja berperilaku/ bertindak dengan
Halal dan Thoyyib adalah perbuatan
merugikan dari orang lain dan menjadikan
kehidupannya semakin gelisah, resah, dan
susah.
Dalam proses pengilangan makanan
yang menepati kehendak syarak, syaratsyarat seperti berikut mesti dipatuhi iaitu :
a. Tidak
mengandungi
mana-mana
bahagian atau produk daripada haiwan
yang tidak halal mengikut syarak atau
produk daripada haiwan yang tidak
disembelih mengikut hukum syarak.
b. Tidak
mengandungi
bahan
yang
dikategorikan sebagai najis oleh hukum
syarak.

c. Tidak disediakan, diproses atau dikilang
menggunakan peralatan yang telah
dicemari
bahan-bahan
yang
dikategorikan sebagai najis oleh hukum
syarak.
d. Semasa
penyediaan,
pemprosesan,
pembungkusan,
penyimpanan
atau
pemindahannya, makanan tersebut perlu
diasingkan dari makanan yang tidak
menepati keperluan a, b atau c di atas
atau
bahan-bahan
yang
telah
dimaktubkan sebagai najis oleh hukum
syarak.
Sekian lama, 80-90 peratus produk
consumer dunia dikilangkan oleh mereka
yang bukan beragama Islam. Mereka yang
tidak berpengetahuan dari sudut syariah
telah menyediakan keperluan untuk
kegunaan umat Islam seluruh dunia. Adalah
dikhuatiri makanan atau barangan lain yang
dikilangkan oleh mereka bercampur dengan
bahan-bahan yang diharamkan oleh Allah.
Oleh itu, IMP diwujudkan sebagai satu garis
panduan tatacara pengilangan moden yang
mengambil syariat dan ruh Islam sebagai
dasar. Ianya tidak dapat dilaksanakan oleh
orang- orang bukan Islam kerana jiwa yang
patuh dan taat kepada Allah tidak wujud
dalam diri mereka. Oleh itu antara elemen
penting yang terdapat dalam piwaian IMP
itu sendiri adalah Pengusaha dan pekerjanya
mestilah beragama Islam dan berilmu.
Produk-produk yang dihasilkan
dengan nama Allah (Bismillah) dan
mengikut syariat Islam, pastinya dapat
memberi bekas kepada pengguna-pengguna
khususnya yang beragama Islam dari
konteks kerohanian. Ianya juga dengan izin
Allah dapat merubah peribadi seseorang
kepada menjadi lebih tunduk dan patuh pada
perintah Allah, mudah menerima dan
memahami ilmu-ilmu Allah dan seterusnya

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[139]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

mendekatkan dirinya kepada yang Maha
Berkuasa.
Q.S Al-Maidah : 88
        
    
Terjemahan : Dan makanlah makanan yang
halal lagi baik dari apa yang Allah Telah
rezekikan kepadamu, dan bertakwalah
kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya.
Q.S An-Nahl : 114
      
      
Terjemahan : Maka makanlah yang halal
lagi baik dari rezki yang Telah diberikan
Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat
Allah, jika kamu Hanya kepada-Nya saja
menyembah.
Q.S Al-Baqarah : 108
       
        
  
Terjemahan: Apakah kamu menghendaki
untuk meminta kepada Rasul kamu seperti
Bani Israil meminta kepada Musa pada
jaman dahulu? dan barangsiapa yang
menukar iman dengan kekafiran, Maka
sungguh orang itu Telah sesat dari jalan
yang lurus.

Pengertian makanan halal dan
minuman halal :
1. Halal secara zatnya
2. Halal cara memprosesnya
3. Halal cara penyembelihannya
4. Minuman yang tidak diharamkan
5. Halal cara memperolehnya
Makanan yang berasal dari bahan Hewani
yang dinyatakan tidak halal / haram adalah:
a. Bangkai
b. Darah
c. Babi
d. Hewan yang tidak disembelih sesuai
dengan tuntunan Islam.
e. Hewan
yang
disembelih
untuk
dipersembahkan kepada selain Allah.
f. Untuk minuman: khamr (beralkohol)
Teknik Penyembelihan Hewan yang
Halal
a. Penyembelihnya harus seorang Muslim.
b. Didahului
mengucapkan
“Bismillahirrohmannirrohim”.
c. Menggunakan pisau yang tajam.
d. Tidak boleh diulang-ulang.
e. Darah hewan harus tuntas, maka urat
nadi kanan kiri leher, saluran nafas dan
saluran makanan harus putus.
f. Bila menggunakan pemingsanan harus
terukur, tidak boleh mati sebelum
disembelih.
g. Tidak boleh diproses lebih lanjut sebelum
benar-benar mati.
Teknik Pengolahan Makanan Halal
a. Harus dicermati asal-usul bahan, jangan
sampai ada yang berasal dari bahan non
halal
b. Jangan sampai ada cemaran bahan non
halal pada:
c. Dapur tempat pengolahan.
d. Bahan baku, bumbu dan bahan penolong
yang digunakan.
e. Bahan mentah sebelum diolah.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[140]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

f.
g.
h.
i.
j.

Bahan jadi setelah diolah.
Alat-alat dan wadah yang digunakan.
Tempat pencucian alat-alat dan wadah.
Petugas/karyawan pada bagian produksi.
Bila perusahaan mengolah produksi halal
dan juga mengolah produk non halal,
maka tersebut di atas harus terpisah.

Teknik Pengolahan Pada Catering atau
Rumah MakanSama dengan cara
pengolahan produk halal tersebut di atas
ditambah:
a. Bila rumah makan atau catering
mengolah dan menyajikan makanan non
halal, maka dapur dan tempat penyajian
harus terpisah.
b. Tidak dibenarkan menyajikan minuman
beralkohol.
4. Peraturan Menteri
a. Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik Indonesia Tentang Bahan
Tambahan Makanan.
Pasal 1 :Bahan tambahan makanan
adalah bahan yang biasanya tidak digunakan
sebagai makanan dan biasanya bukan
merupakan ingredien khas makanan,
mempuyai atau tidak mempunyai nilai gizi,
yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam
makanan untuk maksud teknologi (termasuk
organoleptik) pada pembuatan, pengolahan,
penyediaan,
perlakuan,
pewadahan,
pembungkusan,
penyimpanan
atau
pengangkutan makanan untuk menghasilkan
atau diharapkan menghasilkan (langsung
atau tidak langsung) suatu komponan yang
mempengaruhi sifat khas makanan.
b. Undang-undang Perlindungan
Konsumen
1. Perlindungan konsumen adalah segala
upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan
kepada konsumen

2. Konsumen adalah setiap orang pemakai
barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain maupun
makhluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Semua bahan kebutuhan primer
hakekatnya di sediakan Allah SWT,
manusia hanya disuruh untuk mencermati
dan mengikuti petunjuk agar tidak memiliki
kemudaratan, karena pengertian orang yang
berperilaku merusak dekategorikan syaitan.
Untuk itu senmua anugerah Allah SWT
pada diri manusia termasuk kebutuhan
makanan dan minuman pemanfaatannya
dengan baik dan benar merupakan pahala
dan berkorelasi positif mendatangkan
kemaslahatan.
Di setiap agama ada ketentuan yang
harus dipatuhi oleh pemeluknya. alam Islam
ada ketentuan yang harus dipatuhi dalam hal
makanan
dan
minuman.
Hampir semua yang dapat dikonsumsi
adalah halal dan hanya sedikit yang
diharamkan.
2. Saran
Islam
menuntut
umatnya
melaksanakan perintah Allah SWT atas
dasar patuh dan taat kepada Allah sematamata. Keikhlasan dalam mematuhi dan
mentaatiNya menghasilkan jiwa yang
tunduk
kepada
Allah
dan
mengagungkanNya.
Thoyyiban lebih kepada unsur
kesehatan termasuk kesehatan tidak
tercemari oleh zat pengawet. Orang yang
sengaja berperilaku/ bertindak dengan
Halal dan Thoyyib adalah perbuatan
merugikan dari orang lain dan menjadikan

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[141]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

kehidupannya semakin gelisah, resah, dan
susah.

Tanaman dan Penanganan Pascapanen. PT
Raja Grafindo, Jakarta.

D. DAFTAR PUSTAKA

Hermana. 1991. Iradiasi Pangan. Cara
Mengawetkan dan Meningkatkan
Keamanan Pangan. Penerbit ITB
Bandung.

Anonimous. 2003. Keamanan
Badan POM. Jakarta.

Pangan.

Anonimous. 2003. Peraturan di Bidang
Pangan. Badan POM. Jakarta.
Anonimous.
2003.
Perencanaan,
Pengendalian dan Peningkatan Mutu.
Badan POM. Jakarta.
Apriantono, A. 1985. Panduan Praktikum
Pembuatan Manisan Buah-buahan.
Diklat Penyuluhan Spesialis Industri
Kecil
Pengolahan
Pangan.
Departemen Pertanian dan Fateta
IPB.
Brennan, J.G., 1981.
Food Freezing
Operation.
Applied Science
Publisher, Ltd.
Buckle, K.A., R. A. Edwards, G.H. Fleet
and M. Woolton., 1987. Ilmu
Pangan.
Penerbit
Universitas
Indonesia. Jakarta.
Desrosier,
N.W.,
1988.
Teknologi
Pengawetan Pangan; Penerjemah
Muchji. Paris. Food. 2 Co. Inc. New
York.
Frazier, W.C. and P.C. Westhoff, 1977.
Food Microbiology. Mc. Graw Hill
Book
Gautara, S.W. 1985. Dasar Pengolahan Gula
II. Agroindustri Press. Fateta IPB.
Bogor
Glubrecht. 1987. Basic Effect of Radiation
on Matter Food Preservation by
Irradiation. Vol. 1. IAEA Vienna.
Heddy, S, Wahono Budi Santosa dan Metty
Kurniawati.
1994.
Pengantar
Produksi.

Holdworth, S.D., 1968. Current aspects of
Preseruation by Freezing.
Food
Manuf, 43(7):38
Jay,

J.M.
1996.
Modern Food
Microbiology. Chapman & Hall,
International Thomson Publishing,
New York.

King, C.J., 1971. Freeze Drying of Food
CRC. The Chemical Rubber Co.,
Cleveland- Ohio.
Lembaga Refrigerasi Internasional,1971.
Internasional
Institute
Of
Refrigeration, Recommendations for
The Processing and Handling for
Frozen nd London. Maha, M. 1981.
Prospek Penggunaan Teknik Nuklir
dalam Bidang Teknologi Pangan.
PAIR-BATAN , Jakarta.
Maha, M. 1985. Pengawetan Pangan
dengan Radiasi.
Pusat Aplikasi
Isotop dan Radiasi. PAIR-BATAN,
Jakarta.
Muljohadjo, Penerbit Universitas Indonesia,
Jakarta.
Norman W Desrosier. 1988. Teknologi
Pengawetan Pangan. UI Press.
Jakarta.
Purnomo. 1987. Ilmu Pangan. UI Press.
Jakarta.
Purwanto, Z.I. dan M. Maha.
Aplikasi Iradiasi dalam
Pengawetan Makanan.
BATAN, Jakarta.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

1993.
Teknik
PAIR-

[142]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Rasyaf, M. 1996. Memasarkan Hasil
Peternakan. PT Penebar Swadaya.
Jakarta.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi
Daging. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.

Retno Widyani. 2001. Pengantan Ilmu
Pangan. Diktat Kuliah. Program
Pascasarjana Universitas Swadaya
Gunung Jati. Cirebon.

Sofyan, R. 1984. Efek Kimia Radiasi Pada
Komponen Utama Bahan Makanan.
PAIR-BATAN, Jakarta.

Retno Widyani. 2001. Prinsip Pengawetan
Pangan. Diktat Kuliah. Program
Pascasarjana Universitas Swadaya
Gunung Jati. Cirebon.

Sudarmadji. 1982. Bahan-bahan Pemanis.
Agritech. Yogyakarta.Taib E. 1987.
Operasi
Pengeringan
Pada
Pengolahan Hasil Pertanian. Penerbit
Melton Putra. Jakarta.

Simatupang, P.S.M.
1993.
Pengaturan
Makanan
Risalah

Aspek
Iradiasi.

Winiati Pudji Rahayu, Halim Nababan,
Slamet Budijanto dan Dahrul Syah.
2003.

Seminar Nasional Pengawetan Makanan
dengan Irradiasi. 6-8 Juni 1993.
PAIR-BATAN, Jakarta.

Sistem Jaminan Mutu Pangan. Badan POM.
Jakarta.

Slamet Budijanto, Dahrul Syah, Winiati
Pudji Rahayu dan Halim Nababan.
2003. Good Practices Dalam Rantai
Pangan. Badan POM. Jakarta.

Winiati
Pudji
Rahayu,
Halim
Nababan,Slamet
Budijanto dan
Dahrul
Syah. 2003. Bahan
Tambahan Pangan. Badan POM.
Jakarta.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[143]