STRATEGI PENGEMBANGAN SOP SAUDARA

DAN COTO MAKASSAR

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional
“Makanan Sehat untuk Kecantikan dan Kebugaran”
dan Festival Makanan Tradisional
di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

Oleh:

SYAMSIDAH
Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan
Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar
2012

[160]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

STRATEGI PENGEMBANGAN SOP SAUDARA DAN COTO MAKASSAR
Syamsidah
Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar
Abstrak
Sop Saudara dan Coto Makassar merupakan makanan khas masyarakat Sulawesi
Selatan, punya cita rasa yang khas, tidak hanya digemari oleh orang Bugis dan Makassar,
tetapi juga orang luar, baik yang berasal dari pulau lain yang ada di Indonesia, maupun dari
manca negara. Setiap kali berkunjung ke Sulawesi Selatan, kesan dan pesan yang sering
muncul “ Jangan lupa Sop Saudara dan Coto Makassar”. Pesan ini bahkan sudah menjadi
ikon untuk menyebut makanan khas Sulawesi Selatan.Sop Saudara dan Coto Makassar,
dilihat dari aspek ekonomi merupakan asset dan potensi daerah yang luar biasa, disamping
karena dikelola oleh wirausaha (entrerpreniur) yang handal, dari kalangan menengah ke
bawah, dengan tingkat pendidikan yang relatif sederhana, juga menjadi pundi-pundi
pendapatan daerah, Disamping itu usaha ini telah membuka lapangan kerja besar dan
menjadi pilar serta penyangga ekonomi daerah jika krisisis ekonomi melanda. Pemerintah
dan masyarakat pemerhati diharapkan senantiasa membina dan mengembangkan usaha ini
sebab kenyataan menunjukkan bahwa Sop Saudara, Coto Makassar sebagai suatu usaha
belum menjadi tuan dinegerinya sendiri, dan masih berpotensi untuk dikembangkan. Dalam
realitasnya usaha ini masih berputar disekitar jalan-jalan, trotoar, bahkan seringkali
digolongkan pada usaha sektor informal. Masih kurang menyentuh tempat-tempat yang
tergolong berkelas seperti di Mall, pusat-pusat perbelanjaan , atau menu utama hotel di
Sulawesi Selatan.
Kata Kunci : Pengembangan, Sop saudara, coto Makassar.
Abstract
Sop Saudara and Coto Makassar is the typical food of South Sulawesi, have a
distinctive taste, not only favored by the Bugis and Makassar, but also outsiders, whether
from other islands in Indonesia, as well as from foreign countries. Every time a visit to
South Sulawesi, and the impression that the message often appears "Do not forget sop
saudara and Coto Makassar". This message has become an icon even to mention the typical
food South Sulawesi Sop Saudara and Coto Makassar, viewed from the economic aspect of
the asset and the tremendous potential of the area, as well as managed by the entrepreneur a
reliable, from the middle to lower, with educational level is relatively simple, well into the
coffers of local revenues, In addition, this business has opened up a big job and become a
pillar and support the local economy if economic crisis . Government and observers are
expected to continue to foster community and to develop this business because the reality
shows that Sop Saudara, Coto Makassar as host of a business own country, and still has the
potential to be developed. In reality this business still revolves around the streets, sidewalks,
and often classified in the informal sector enterprises. Still not reach the places that are
categorized as classy as the Mall, shopping centers, or main menu hotel in South Sulawesi.
Keywords: Development, Sop Saudara, coto Makassar.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[161]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

A. Pendahuluan
Sop Saudara dan Coto Makassar
merupakan makanan khas masyarakat
Sulawesi Selatan, punya cita rasa yang khas,
tetapi universal, itu sebabnya masyarakat
pendatang , baik yang berasal dari pulau lain
yang ada di Indonesia, maupun dari manca
negara ikut gemar dengan makanan khas ini.
Setiap kali berkunjung ke Sulawesi Selatan,
kesan dan pesan yang sering muncul “
Jangan lupa Sop Saudara dan Coto
Makassar”. Pesan ini bahkan sudah menjadi
ikon untuk menyebut makanan khas
Sulawesi Selatan.
Kalau dilihat dari kandungan dan
unsur-unsur sebagai bahan dasar pembuatan
Sop Saudara dan Coto Makassar, maka nilai
gizi tidak kalah dengan makanan khas
daerah lain, termasuk Soto Betawi, Soto
Banjar, Ayam Goreng KFC, MC. Donal,
Ayam Goreng Wong Solo dan sebagainya.
Sebagaimana diketahui bahwa Sop Saudara
dan Coto Makassar bahan dasarnya adalah
daging yang mengandung protein, lemak
vitramin dan sangat dibutuhkan oleh tubuh,
disamping itu kuah dan bumbuh dari
berbagai rempah juga mengandung berbagai
protein, vitamin dan mineral (Fadiati ,2000).
Yang menarik dari Sop Saudara dan
Coto Makassar bukan saja cita rasa dan
kandungan gizinya, akan tetapi juga harga
(price) yang terjangkau. Meski demikian
bukan berarti makanan khas ini hanya
diminati oleh kalangan menengah ke bawah,
akan tetapi juga kalangan menengah ke atas.
Kalau ditelusuri jalan-jalan dimana banyak
penjual Sop Saudara dan Coto Makassar
berada, maka nampaklah disana terparkir
kendaraan roda dua dan empat, mulai dari
kendaraan biasa sampai kepada kendaraan
bermerek. Ini memberi indikasi bahwa Sop
Saudara dan Coto Makassar adalah rumah

makan dengan market positioning yang
baik.
Sop Saudara dan Coto Makassar,
dilihat dari aspek ekonomi merupakan asset
dan potensi daerah yang luar biasa,
disamping karena dikelola oleh wirausaha
(entrerpreniur) yang handal, dari kalangan
menengah ke bawah, dengan tingkat
pendidikan yang relatif sederhana, juga
menjadi pundi-pundi pendapatan daerah,
hasil dari pajak dan retribusi daerah yang
dibebankan kepadanya. Disamping itu usaha
ini telah membuka lapangan kerja besar,
terutama dari keluarga kurang modal,
kurang pendidikan, bahkan menjadi pilar
dan penyangga ekonomi daerah jika krisisis
ekonomi melanda (Suharyadi, Dkk. 2008).
Sop Saudara dan Coto Makassar telah
diterima oleh banyak kalangan dan menjadi
makanan khas Sulawesi Selatan, maka
seorang Entrerpreniur seperti penjual Sop
saudara dan Coto Makassar sebenranya
masuk kelompok sebagai pelestrai budaya.
(Muhlis Paeni, 2000).
Uraian di atas menuntut kepada
semua pihak, terutama kepada Pemerintah
untuk
senantiasa
membina
dan
mengembangkan usaha ini sebab kenyataan
menununjukkan bahwa Sop Saudara, Coto
Makassar sebagai suatu usaha belum
menjadi tuan di negerinya sendiri, dan masih
berpotensi untuk dikembangkan. Dalam
realitasnya usaha ini masih berputar
disekitar jalan-jalan, trotoar, bahkan
seringkali digolongkan pada usaha sektor
informal, belum menyentuh tempat-tempat
yang tergolong berkelas seperti di Mall,
Pusat-pusat perbelanjaan , atau menu utama
hotel di Sulawesi Selatan.
Fakta di atas adalah sebuah realitas
dan tulisan ini akan mengkaji bagaimana
Sejarah Sop Saudara dan Coto Makassar,
dan bagaimana upaya pengembangannya

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[162]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

strategi yang mencakup produc, price, place,
dan promotion, mengembangkan usaha
kuliner ini menjadi usaha yang sukses
disebabkan
oleh
produknya
yang
berkualitas, harganya yang terjangkau,
tempatnya yang strategis, dan promosinya
yang tepat.
B. Sekilas tentang Sop Saudara dan Coto
Makassar
Dalam catatan sejarah, diketahui
bahwa Sop Saudara dan Coto Makassar
sudah lama menjadi makanan khas
masyarakat Sulawesi Selatan, diperkenalkan
pertamakali oleh wirausaha asal Pangkep
untuk Sop Saudara, dan dikembangkan oleh
orang-orang di belahan Utara Sulawesi
Selatan untuk Coto Makassar.
Untuk Sop Saudara, mungkin belum
ada dugaan-dugaan kapan waktu pertama
kali diperkenalkan, tetapi untuk Coto
Makassar diduga sudah ada sejak Somba
Opu (pusat Kerajaan Gowa) berjaya sekitar
tahun 1538. Sajian Coto Makassar diduga
terpengaruh pula oleh makanan Cina yang
telah datang di abad 16, ini terlihat dari
sambal yang digunakan yakni sambal tao-co
merupakan bagian dari ketata bogaan Cina
yang mempengaruhi budaya ketata bogaan
Makassar (Sudaryanto,2008).
Satu lagi yang menarik dari Coto
Makassar, makanan khas ini seringkali
disebut sebagai makanan sarapan pagi, kata
orang awam pengganjal perut, itu sebabnya
warung coto sejak pagi buta sudah dibuka
dan pengunjung pun sudah mangkal di
tempat itu. Memang hidangan Coto
Makassar ini, dalam aliran modern
digolongkan sebagai hidangan sup. Bila
dalam tradisi sejarah masyarakat Eropa yang
muncul pada era sebelum revolusi industri
di Inggris, sup disandingkan dengan roti
sebagai pengganjal perut di malam hari.

Maka Coto Makassar juga telah menjadi
makanan bagi para pengawal kerajaan untuk
mengisi perut di subuh hari sebelum
bertugas dipagi harinya. (Sri Haryanti Dkk,
1999).
Berbeda halnya dengan Coto
Makassar, Sop Saudara juga tergolong
hidangan Sup, akan tetapi dianggap sebagai
makanan pokok disiang hari, karena itulah
sangat jarang ditemukan warung Sop
Saudara buka di pagi buta sebagaimana
Coto Makassar. Dalam perkembangannya
ternyata Sop Saudara dan Coto Makassar
tidak pernah lenyap ditelan masa, meskipun
berbagai menu makanan dari daerah lain
bahkan dari mancanegara. Yang menarik
karena pengembangan kedua jenis usaha ini
dilakukan oleh wirausaha dari kalangan
biasa,
baik
status
sosial
maupun
ekonominya.
mereka
mengembangkan
usaha kuliner bukan karena pendididkan
yang dirancang untuk itu, dia tumbuh secara
alamiah sebagaimana tuntutan dan dinamika
hidup yang dialminya, karena itulah produk
yang dihasilkan, harga yang ditentukan,
tempat yang menjadi usaha dan bentukbentuk promosi yang dilakukan semuanya
serba alamiah, belum tersentuh dengan
rancangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang tepat dan terukur. itu sebabnya
meskipun sesama jenis Sop Saudara dan
Coto Makassar kemungkinan khasiatnya
berbeda, dan mempunyai ciri dan daya pikat
masing-masing. (Baso, Rahmat, 2008).
Seorang wirausaha yang baik
memang layaknya tumbuh dari bawah,
tetapi sentuhan ilmu pengetahuan dan
teknolgi harus menjadi bahagian yang tidak
bias dipisahkan bila ingin eksis dan bersaing
dengan usaha dibidang jasa boga lainnya.
(Buchari, Alma, 2003)

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[163]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

C. Strategi Pengembangan
1. Strategi Pengembangan Produk
Produk didefinisikan oleh Lamb,
Kair, dan Mc.Daniel (2001) sebagai segala
sesuatu yang diciptakan baik yang nampak
(tengible) maupun yang tidak nampak
(intengible), dengan begitu sebuah produk
dapat berupa benda yang nampak, dan dapat
pula berupa ide, jasa, citra. Pelayanan yang
baik, petugas yang ramah, dan luwes, adalah
beberapa contoh dari produk yang
intengible.
Produk merupakan titik berangkat
keberhasilan suatu usaha, betapapun harga
yang ditawarkan, termasuk memberi diskon
atau potongan harga, kalau produknya tidak
memenuhi kebutuhan dan keinginan
pembeli, pasti penjualan tidak akan
meningkat. Demikian juga masalah tempat,
betapapun usaha itu menempati tempat yang
strategis,
mudah
dijangkau,
murah
transportasi, aman dan nyaman serta
begengsi, jika produknya tidak memenuhi
selera pembeli, pasti pengunjung akan
berpaling mencari tempat lain untuk
memenuhi seleranya.
Demikian
juga,
walaupun
perencanaan dan pelaksanaan program
periklanan diserahkan kepada perusahaan
iklan terkemuka, iklan tidak akan merubah
produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan
pembeli menjadi produk yang diminati.
Konsumen yang mendapat pengalaman
tidak memuaskan dari barang atau jasa yang
pernah dibelinya, sulit dibujuk dengan iklan
untuk membelinya kembali. (Kasali, 2000)
2. Strategi Penetapan Harga.
Strategi harga merupakan elemen
pokok the marketing mix yang penting. Hal
itu disebabkan karena strategi harga produk
mempunyai pengaruh terhadap jumlah
penjualan yang dapat diterima. Apabila
harga jual produk ditentukan terlalu tinggi,

ada kemungkinan pelanggang berpindah ke
produk lain. Perpindahan pelanggang ke
saingan akan mengakibatkan penurunan
penjualan. Padahal setiap jangka waktu
tertentu usaha harus memperoleh penjualan
di atas break even point, dengan perkataan
lain harga yang ditentukan harus dapat
menjamin hasil penjualan produk setiap
masa tertentu lebih besar jumlahnya dari
hasil penjualan break even.
Banyak
pakar
manajemen
mengatakan adanya perbedaan pengaruh
strategi harga terhadap operasi bisnis
perusahaan dibandingkan dengan elemen the
marketing mix yang lain (strategi produk,
distribusi dan promosi penjualan), beliaubeliau itu mengutarakan strategi harga
mempunyai pengaruh langsung terhadap
jumlah permintaan produk di pasar dan hasil
penjualan yang akan diterima perusahaan ,
sedangkan strategi elemen pokok marketing
mix yang lain hanya mempunyai pengaruh
terhadap biaya atau pengeluaran yang akan
ditanggung perusahaan
Harga
mempunyai
pengaruh
langsung terhadap permintaan produk pasar,
hal itu disebabkan karena pada dasarnya
harga merupakan sesuatu yang ditawarkan
perusahaan kepada pembeli., apakah harga
tadi dapat diterima pembeli atau pasarlah
yang memutuskan, bilamana pasar dapat
menerima harga yang ditawarkan , produk
yang bersangkutan laku. Sebaliknya apabila
pasar menolaknya, perusahaan yang
bersangkutan wajib meninjau kembali
produk mereka di pasar.Akan tetapi
menetapkan harga jual produk tidak dapat
dilakukan secara coba-coba
(trial and
error) karena banyak sekali kepentingan
perusahaan yang terkait di dalamnya.
Harga
jual
produk
juga
mempengaruhi kemampuan perusahaan
menembus segmen pasar yang mereka

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[164]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

belum garap sebelumnya. Harga juga
mempunyai
kaitan
dengan
upaya
pengembangan produk. Perusahaan bersedia
meningfkatkan atribut bilamana mereka
mempunyai keyakinan harga jual produk
yang dikembangkan mampu menutup
tambahan biaya produksi yang timbul
karena peningkatan atribut produk.
Bagi para sales executives harga jual
produk mempunyai semangat kerja mereka.
Kebanyak distributor segang memperdagangkan yang harganya tidak kompetitif,
lebih-lebih bila produk tersebut produk baru.
Oleh karena itu harga jual produk yang lebih
tinggi dibanding dengan produk harga
saingan yang setingkat, merupakan beban
bagi sales executive yang menjajakannya.
Harga jual juga berpengaruh
terhadap efektifitas pelaksanaan program
promosi penjualan. Kegiatan promosi
penjualan , disamping mahal biayanya juga
harus dilaksanakan secara berkesinambungan dalam jangka menengah atau panjang.
Iklan yang hanya dipasang atau dua kali
tidak efektif karena tidak akan mampu
membangunkan minat calon pembeli
terhadap produk .Oleh karena promosi
penjualan perlu dilakukan dalam jangka
panjang dan menengah dengan biaya mahal
perusahaan yang bersangkutan wajib
menghitung apakah marjin harga produk
yang dipromosikan itu cukup besar untuk
menutup anggaran promosi penjualan.
3. Strategi Memilih Tempat
Tempat (place) juga merupakan
salah satu unsur pokok yang menentukakan
sukses tidaknya usaha kuliner, termasuk Sop
Sauadara dan Coto Makassar. Ini penting
sebab betapapun produk berkualitas, harga
murah, dan promosi yang intensif, tetapi
kalau tempatnya tidak disenangi pembeli,
maka penjualan juga tidak akan meningkat,

Oleh sebab itu tempat sangat ditentukan
oleh pembeli.
Tempat yang baik adalah tempat
yang strategis dilihat dari kebutuhan dan
keinginan pembeli misalnya murah, dan
mudah dijangkau, baik dengan kendaraan
roda dua maupun roda empat. Disamping itu
ada kesan yang secara psikologis memberi
kepuasan batin, sehingga disamping makan
juga sekaligus menjadi tempat refresing,
bisa bersama teman, keluarga atau sejawat
lainnya.
Tempat juga menentukan stratifikasi
sosial (social stratications), karena itulah
diusahan kalau memilih tempat usaha agar
memilih tempat kira-kira orang merasa tidak
turun harga dirinya, malah kalau makan di
tempat itu mereka merasa gengsinya tinggi.
Kalau ini dilakukan yakin bahwa ketika
orang berkunjung satu kali pasti akan datang
berikutnya, dan membawa serta teman,
keluarga atau sejawatnya.
Memang seperti dikemukkan oleh
Baker, Michael J. (2000) bahwa tempat
memberi kontribusi positif pada faktor
psikografis, misalnya golongan sosial, gaya
hidup dan pola konsumsi. Semakin maju
suatu negara semakin banyak pengelompkan
golangan sosial penduduknya.
Kebijakan Pemerintah, khusnya dalam
menata perkotaan, juga harus menjadi
pertimbangan, jangan sampai usaha sudah
berkembang, tiba-tiba karena daerah
terlarang akhirnya digusur oleh satpol kota,
maka hancurlah usaha yang telah dirintis
sejak lama, menghabiskan waktu dan
tenaga.
Oleh
sebab
itu,
kalau
memungkinkan, pililah tempat yang aman,
nyaman, indah, dan memeberi kontribusi
pada masyarakat, dan pemerintah, bukan
sebaliknya justru mengganggu keindahan
dan ketertiban masyarakat, dan menggangu
arus lalu lintas.

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[165]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

4. Strategi Promosi
Mempromosikan produk adalah
elemen pokok keempat the marketing mix,
Kegiatan pemasaran yang satu ini dilakukan
untuk memberitahu pembeli tentang
keberadaan produk di pasaran, disamping itu
untuk mengingatkan, dan meyakinkan
pembeli
tentang
berbagai
macam
manfaat.produk tersebut. (Jefkins, Frank,
1996)
Mencermati profil wirausaha yang
bergerak dibidang kuliner seperti Sop
Saudara dan Coto Makassar, seperti status
sosial yang kebanyakan dari kalangan
menengah ke bawah, pendidikan yang pasapasan, modal dan maagemen yang kurang.
Semua ini memberi indikasi betapa sulitnya
mereka menjalankan promosi, baik dalam
bentuk iklan
(advertising), promosi
penjualan (sales promotion), publikasi
(publicity) dan pemasaran sales executives
perusahaan mendekati calon pembeli.
(personbal selling).
Promosi, apapun bentuknya memang
pentng, sebab dengan promosi, misalnya
dalam bentuk iklan yang dimuat produk
dimedia akan dikenal dan dikenang oleh
masyarakat. Persoalannya adalah biaya
untuk itu yang tidak ada, jangankan biaya
promosi, modal kerja saja susah diperoleh.
Berdasar pada masalah itulah maka
promosi bagi usaha kuliner perlu dilakukan
melalui strategi promosi primer, yaitu
bentuk
promosi
usaha
dengan
mengandalkan kemampuan yang melekat
pada diri atau usaha itu sendiri , seperti
kemampuan produk, price, dan palace . Jadi
produk yang berkualitas misalnya cita rasa ,
pelayanan yang baik adalah bagian dari
promosi, demikian juga harga yang
terjangkau, dan bersaing adalah bagian dari
promosi, terakhir tempat yang bersih, asri,

nyaman, mudah dan murah dikunjungi
adalah bagian dari promosi. (Efendi, 2005)
Bentuk promosi sekunder sebagai
bagian dari promosi pada umumnya yang
memang memerlukan biaya,
perlu
dilakukan melalui kerjasama kemitraan,
seperti dilakukan oleh Usaha Teh Botol
dengan Coto Paraikatte di Jl. Pettarani di
Harian Fajar, demikian juga upaya
pemerintah
Kota
Makassar
yang
bekerjasama dengan Maskapei Penerbangan
Garuda yang menjadikan Coto Makassar
sebagai salah satu menu utama pesat Garuda
yang beroperasi di Kota Makassar.
D. Kesimpulan
1. Sop Saudara dan Coto Makassar
merupakan makanan khas dan menjadi
ikon budaya kuliner masyarakat Sulawesi
Selatan, disamping punya cita rasa yang
khas, juga bahan dasarrnya mengandung
gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh,
dan dilihat dari aspek ekonomi Sop
Saudara dan Coto Makassar menjadi
pundi-pundi pendapatan daerah, serta
membantu
pemerintah
membuka
lapangan kerja.
2. Sebagai suatu usaha Sop Saudara dan
Coto Makassar belum menjadi tuan di
negerinya sendiri, usaha ini masih
digolongan usaha kuliner di sektor
informal, berputar disekitar jalan-jalan,
trotoar, belum maksimal menyentuh
tempat-tempat yang tergolong berkelas
seperti di Mall, Pusat-pusat perbelanjaan,
atau menu utama hotel di Sulawesi
Selatan.
3. Upaya pengembangan Sop Saudara dan
Coto Makassar dimungkinkan melalui
Pemerintah, swasta dan pihak-pihak
pemerhati lainnya, dan upaya tersebut
bisa dilakukan melalui pendidikan dan
pelatihan strategi yang mencakup

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[166]

Disampaikan pada Seminar dan Workshop Nasional “Makanan Sehat untuk Kecantikan dan
Kebugaran” dan Festival Makanan Tradisional di Trans Studio Makassar, 5 Mei 2012

product, price, place, dan promotion,
diupayakan agar usaha kuliner ini
menjadi usaha yang sukses disebabkan
oleh produknya yang berkualitas,
harganya yang terjangkau, tempatnya
yang strategis, dan promosinya yang
tepat.
E. Daftar Pustaka
Baker, Michael J. 2000. Marketing Strategy
And management. Mc. Milan Press
Ltd, London
Buchari, Alma, 2003.
Albeta, Bandung.

Kewirausahaan,

Baso, Rahmat, 2008. Peta Lengkap Wisata
Kuliner
di
Makassar,Ekspresi
Jogyakarta
Efendi,

Onong Uchjana, 2005. Ilmu
Komunikasi Teori dan Praktek.
Remaja Rosda Karya, Bandung.

Jefkins, Frank, 1996. Periklanan (Edisi
Ketiga). Erlangga, Jakarta.

Kotler, Philip and Amstrong, Gery, 1993.
Marketing An Introduction, :
Prentice-Hall Canada Inc. Toronto
Kasali,

Rhenald, 1995. Managemen
Periklanan, Konsep dan Aplikasinya
di Indonesia, PT, Pustaka Utama
Grafiti, Jakarta

Lamb, Hair, Mc.Daniel, 2001. Pemasaran
(Buku I), Salemba Empat, Jakarta
Sri Haryanti Dkk, 1999. Tata Boga, Ganeca
Exact
Suhardjo Dkk, 2000. Pangan, Gizi dan
Pertanian, Universitas Indonesia,
Jakarta
Sudaryanto,
2008.
Makanan
Khas
Makassar. Diakses
26 Oktober
2009.http//wordpress.com
Suharyadi, Dkk. 2008. Kewirausahaan,
Membangun Usaha Sukses Sejak
Usia Muda, Salemba Empat, Jakarta

Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan
Lembaga Penelitian
Universitas Negeri Makassar

[167]