You are on page 1of 26

KWASHIORKOR DAN MARASMUS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Dalam Mata Kuliah Gizi dan Terapi Diet

DISUSUN OLEH:
ADE RIANI
NIM : 111220032

STIKes WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG
Jl.Surya kencana No.1 Pamulang Tang-Sel Banten
2013

1. Carilah masalah utama dari artikel tersebut!
Jawaban :
Faktor penyebab munculnya kasus busung lapar di berbagai daerah
tidak tunggal yang kemudian bermuara pada sistem tidak kondusif.
Busung lapar tidak terkait dengan masalah kemiskinan semata, Di
beberapa kalangan masyarakat memang ayah lebih diutamakan dalam
hal makanan. Pola makan semacam ini amat merugikan karena istri dan
anak makan seadanya. Malahan banyak anak hanya diberi air tajin.
Dalam kasus busung lapar di NTB dan NTT, ledakan jumlah penduduk
akibat kurang berjalannya program keluarga berencana selama lima
tahun terakhir juga ikut andil. Karena anaknya banyak, orangtua sulit
memenuhi kebutuhan gizinya.
Persoalan makin bertambah karena pemerintah pusat dan daerah
saling melempar tanggung jawab penanganan kesehatan sejak otonomi
daerah. Sedangkan Depkes juga tidak boleh lepas tangan dan
meningkatkan surveilans.
2. Buatlah inventarisir dan berikan solusi yang dapat dilakukan oleh
tenaga medis dalam kasus marasmus dan kwashiorkor!
Jawab :

A. Memberikan Perawatan gizi buruk melalui Puskesmas perawatan
dan Rumah Sakit

LSM dan masyarakat. hygen pribadi dalam kasus marasmus dan kwarsiorkor!  Terapi Diet A. F. Melakukan operasi sadar gizi yang mencakup deteksi dini penemuan C. Teruskan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun B. Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan sering kepada anak sesuai dengan kebutuhan. Perkumpulan Keagamaan dan kelompok potensial lainnya. 2. E. kesling. Tingkat Rumah Tangga 1. Tingkat Posyandu /PPG 1. Tokoh Agama (Tuan Guru). Kasus melalui operasi timbang dengan mengukur balita di seluruh propinsi NTB. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta. Cari sumber ilmiah dari 3buku untuk mengobati lewat terapi diet. D. Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan Puskesmas dan diRumah Sakit Negri geratis. 3. Memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan melalui Posyandu. membuat mapping gizi buruk.B. Anjurkan ibu memberikan makanan kepada anak di rumah .

kacang-kacangan. tepung susu. Contoh paket bahan makanan tambahan pemulihan (PMTP) yang dibawa pulang Contoh bahan makanan yang dibawa pulang : Alternative I Kebutuhan Paket Bahan Makanan/Anak/Hari Beras 60 g Telur 1 butir atau kacang. Selain butir 1.gula 15 g kacangan 25 g II Beras 70 g Ikan 30 g - . Kudapan (makanan kecil) yang dibuat dari bahan makanan setempat/lokal. gula minyak.15 g 3. jenis makanan yang diberikan mengikuti anjuran makanan (lampiran 5) 2. b. telur dan lauk pauk lainnya c. sayuran. yaitu : Energi Protein 350 – 400 kalori 10 . Bentuk makanan PMT-P Makanan yang diberikan berupa : a.atau tepung lainnya. bahan makanan mentah berupa tepung beras. maka dalam rangka pemulihan kesehatan anak.sesuai usia anak. perlu mendapat makanan tambahan pemulihan (PMT-P) dengan komposisi gizi mencukupi minimal 1/3 dari kebutuhan 1 hari.

Seminggu sekali kader melakukan demonstrasi pembuatan makanan pendamping ASI/makanan anak. dan cukup vitamin mineral secara bertahap.III Ubi/singkong 150 g Kacang-kacangan 40 g gula 20 g V Tepung ubi 40 g Kacang-kacangan 40 g gula 20 g 4. Ada 4 (empat) kegiatan penting dalam tata laksana diet. C. selanjutnya kader membagikan paket bahan makanan mentah untuk kebutuhan 6 hari. tinggi protein. dan membagikan makanan tersebut kepada anak balita KEP. I. dan evaluasi. Tingkat Puskesmas Tata laksana diet pada balita KEP berat/gizi buruk ditujukan untuk memberikan makanan tinggi energi. Makanan kudapan diberikan setiap hari di Pusat Pemulihan Gizi (PPG). b. Pemberian diet balita KEP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat sebagai berikut : . penyuluhan gizi. Cara penyelenggaraan a. Lama PMT-P Pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT-P) diberikan setiap hari kepada anak selama 3 bulan (90 hari) 5. pemantauan. yaitu : pemberian diet. guna mencapai status gizi optimal. serta tindak lanjut.

Jumlah pemberian peroral atau lewat pipa nasogastrik g. rendah laktosa. bila tidak tersedia diberikan bahan makanan sumber mineral tertentu (lihat hal 12) e. Makanan padat diberikan pada fase rehabilitasi dan berdasarkan berat badan. yaitu : bb < 7 kg diberikan kembali makanan bayi dan bb > 7 Kg dapat langsung diberikan makanan anak secara bertahap .a. dan rendah serat i. Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar. Kebutuhan energi mulai 100-200 kal/Kgbb/hari c. Jumlah cairan 130-200 ml/kgbb/hari. fase transisi. Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering h. bila ada edema dikurangi menjadi 100 ml/Kg bb/hari f. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral khusus. Kebutuhan protein mulai 1-6 g/Kgbb/hari d. Melalui 3 fase yaitu : fase stabilisasi. Terus memberikan ASI j. dan fase rehabilitasi b.

Tabel 1 : KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN MAKAN FASE ZAT GIZI STABILISASI Energi 100 TRANSISI 150 Kkal/kgbb/hr Kkal/kgbb/hr REHABILITASI 150-200 Kkal/kgbb/hr Protein 1-1.5 g/kgbb/hr 2-3 g/kgbb/hr 4-6 g/kgbb/hr Vitamin A Lihat langkah 8 Lihat langkah 8 Lihat langkah 8 Asam Folat Idem Idem Idem Zink Idem Idem Idem Cuprum Idem Idem Idem Fe Idem Idem Idem Cairan 130 ml/Kgbb/hr 150 ml/Kgbb/hr atau 100 ml/kgbb/hr bila ada edema 150-200 ml/Kgbb/hr .

F100/modifi 4 x (dg ASI ) 3 kasi/Modiso 6 x ( tanpa 90 I Atau II ASI) Rehabilita Minggu 3.F135/modifi 3x ( dg/tanpa 90 Si 6 ASI ) kasi/Modiso III. DAN JUMLAH MAKANAN YANG DIBERIKAN Fase Waktu Jenis Frekuensi Pemberian Makanan Jumlah Cairan (ml) Setiap Minum Menurut BB Anak 4 kg Stabilisasi Hari 1-2 6kg 8kg 10kg F75/modifika 12 x (dg ASI ) 45 65 - - si/Modisco ½ 12x(tanpa 45 65 95 110 F75/modifika 8 x ( dg ASI) 65 100 - - si/Modisco½ 8x(tanpa ASI) 65 100 130 160 F75/Modifik 6 x (dg ASI) 90 130 - - asi/Modisco 6x(Tanpa 90 130 176 220 ½ ASI) 130 195 - - 130 175 220 100 150 175 - - - ASI) Hari 3-4 Hari 5-7 Transisi Minggu 2.Tabel 2 JADWAL. JENIS. ditambah Makanan BB < 7 Kg lumat/makan Lembik sari 3 x 1 porsi - 1 .

BB >7 Kg buah 1x 100 100 100 100 Makanan 3 x 1 porsi - - - - 1 –2 x 1 buah - - - - lunak/makan An biasa Buah *) 200 ml = 1 gelas Contoh : Kebutuhan anak dengan berat badan 6 Kg pada fase rehabilitasi diperlukan: Energi : 1200 Kkal 400 kalori dipenuhi dari 3 kali 100 cc F 135 ditambah 800 kalori dari 3 kali makanan lumat/makanan lembik dan 1 kali 100 cc sari buah Tabel 3 FORMULA WHO Bahan Per 100 ml F 100 F 75 F 135 FORMULA WHO Susu skim bubuk G 25 85 90 Gula pasir G 100 50 65 Minyak sayur G 30 60 75 .

5 2.5 3.4 % energi protein - 5 12 10 % energi lemak - 36 53 57 Osmolality Mosm/l 413 419 508 NILAI GIZI Tabel 4 MODIFIKASI FORMULA WHO FASE STABILISASI REHABILI TRANSISI TASI Bahan Makanan Susu skim bubuk (g) F75 F75 F75 I II III 25 - - M½ F100 M1 MII F135 MIII 100 100 100 - - - .3 8 Seng Mg 20 23 30 Copper Mg 2.3 7.Larutan elektrolit Ml 20 20 27 Tambahan air s/d Ml 1000 1000 1000 Energi Kalori 750 1000 1350 Protein G 9 29 33 Lactosa G 13 42 48 Potasium Mmol 36 59 63 Sodium Mmol 6 19 22 Magnesium Mmol 4.

Elektrolit (ml) 20 20 20 - 20 - - 27 - Tambahan air (L) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 *) M : Modisco Keterangan : 1. terutama yang mengalami diare. Fase transisi diberikan Formula WHO 75 sampai Formula WHO 100 atau modifikasi 3. Dengan demikian pada kasus diare lebih baik digunakan modifikasi Formula WHO 75 yang menggunakan tepung 2. Fase stabilisasi diberikan Formula WHO 75 atau modifikasi.Susu full cream (g) - 35 - - 110 - - 25 120 Susu sapi segar (ml) - - 300 - - - - - - Gula pasir (g) 70 70 70 50 50 50 50 75 75 Tepung beras (g) 35 35 35 - - - - 50 - Tempe (g) - - - - - - - 150 - Minyak sayur (g) 27 17 17 25 30 50 - 60 - Margarine (g) - - - - - - 50 - 50 Lar. Fase rehabilitasi diberikan secara bertahap dimulai dari pemberian Formula WHO 135 sampai makanan biasa . Larutan Formula WHO 75 ini mempunyai osmolaritas tinggi sehingga kemungkinan tidak dapat diterima oleh semua anak.

Tambahkan air sampai 1000 ml. Larutan Formula WHO75 Campurkan susu skim. tepung beras. gula. minyak. gula. dengan ditambah air). Tambahkan air sehingga mencapai 1 L (liter) dan didihkan hingga 5-7 menit. terdiri atas : KCL 224 g . diencerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. minyak. gula. Larutan ini bisa langsung diminum Larutan modifikasi : Campurkan susu skim/full cream/susu segar. Larutan Formula WHO 100 dan modifikasi Formula WHO 100 Cara seperti membuat larutan Formula WHO 75 Larutan modifikasi : Tempe dikukus hingga matang kemudian dihaluskan dengan ulekan (blender.CARA MEMBUAT 1. dan larutan elektrolit. 3. Larutan elektrolit Bahan untuk membuat 2500 ml larutan elektrolit mineral. Selanjutnya tempe yang sudah halus disaring dengan air secukupnya. masak hingga mendidih selama 5-7 menit. 2. Tambahkan susu. tepung. minyak sayur. dan larutan elektrolit.

atau Formula WHO 135.5 L) Ambil 20 ml larutan elektrolit. Evaluasi Dan Pemantauan Pemberian Diet 1.muntah) menunjukkan bahwa formula tidak sesuai dengan kondisi anak. 1000 mg Kalium yang terkandung dalam 20 ml larutan elektrolit tersebut bisa didapat dari 2 gr KCL atau sumber buah-buahan antara lain sari buah tomat (400 cc)/jeruk (500cc)/pisang (250g)/alpukat (175g)/melon (400g). Formula WHO 100. infeksi. kembung. Kejadian hipoglikemia : beri minum air gula atau makan setiap 2 jam .2 g Cu SO4. defisiensi zat gizi.6H2O 76 g Zn asetat 2H2O 8. 4.Tripotassium Citrat 81 g MgCL2.5H2O 1. untuk membuat 1000 ml Formula WHO 75. bila tidak naik kaji penyebabnya (asupan gizi tidak adequat. 2. Bila bahan-bahan tersebut tidak tersedia. Bila ada gangguan saluran cerna (diare. modifikasi diet sesuai selera. maka gunakan formula rendah atau bebas lactosa dan hipoosmolar. 3. Bila asupan zat gizi kurang.4 g Air sampai larutan menjadi 2500 ml (2. misal: susu rendah laktosa. masalah psikologis). Timbang berat badan sekali seminggu. formula tempe yang ditambah tepung-tepungan.

tempat membuang air besar (WC). Menganjurkan kelarga Berencana. Memperbaiki hygiene lingkungan dengan menyediakan air minum. misalnya di BKIA. memakai sepatu atau sandal untuk menghindarkan investasi cacing dan parasit lain. f. Menganjurkan rakyat untuk mengunjungi puskesmas secepatnya jika kesehatannya terganggu. d. Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan: a. membersihkan badan pada waktu-waktu tertentu. e. Kesehatan Lingkungan (Kesling) A. c. Posyandu. membersihkan rumah serta isinya dan memasang jendela-jendela untuk mendapatkan hawa segar. Puskesmas. b. Melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya tinggi. Petros-Barnazian (1970) berpendapat bahwa child spacing merupakan factor yang sangat penting untuk status gizi ibu maupun anaknya. . Mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat-tempat tertentu atau di tempat yang sudah disediakan. Pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu. Dampak kumulatif kehamilan yang berturut-turut dan dimulai pada umur muda dalam kehidupan seorang ibu dapat mengkibatkan deplesi zat-zat gizi orang tersebut. memasak air minum.

penyimpanan. pertolongan persalinan. pemeriksaan kehamilan. struktural. Adapun Cara lain untuk mengatasi penyakit kwashiorkor ini adalah dengan cara memberikan sosialisasi mengenai fungsi protein bagi tubuh dan dampaknya terhadap perkembangan balita. Karena ternyata fungsi protein itu sangat kompleks. rumah sakit dan persediaan air bersih. Puskesmas. Seperti yang dialami balita penderita kwashiorkor. Selain menderita busung lapar atau kekurangan gizi. mekanik. (Depkes RI. praktek bidan atau dokter. penyuluhan kesehatan dan gizi serta sarana kesehatan yang baik seperti Posyandu. Fungsi protein antaralain untuk katalitik. mereka juga bisa mengalami penyakit anemia. . penimbangan anak. pengatur. edema dan dermatitis. pengangkut.Pelayanan kesehatan adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap upaya pencegahan panyakit dan pemeliharaan keluarga seperti imunisasi.Pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan Adalah tersedianya air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan. Masyarakat kecil biasanya kurang memahami pentingnya pola dalam mengkonsumsi makanan. Jika tidak dipenuhi maka akan timbul penyakit yang lain. Dengan diadakan sosialisasi ini masyarakat kecil tentu dapat sedikit memahami pentingya konsumsi protein dan dampaknya jika tidak mengkonsumsi protein. 1994).

dan tentunya tidak ada penyakit protein yang kita alami. Berikan 5 kebijakan pemerintah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah KEP! Jawab : 1. Penjaringan Kasus Balita KEP  Tujuan : Untuk mengetahui kejadian dan jumlah balita KEP  Ruang Lingkup : Wilayah kerja puskesmas  Uraian umum : Pelacakan adalah menemukan kasus balita KEP melalui pengukuran BB dan melihat tanda-tanda klinis  Langkah-langkah kegiatan : 1) Mendatangi Posyandu atau rumah balita yang diduga menderita KEP 2) Menyiapkan atau menggantungkan dacin pada tempat yang aman . kesemua fungsi protein akan maksimal. Makan buah dan sayur setiap hari 4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 2. Jika kebutuhan protein tubuh terpenuhi. Tidak merokok di dalam rumah 4. Melakukan aktivitas fisik setiap hari 5. Menggunakan jamban sehat 3.  Hygen Pribadi 1.perlindungan dan toksik.

Pelayanan Balita KEP Puskesmas  Tujuan : Memberikan pelayanan balita KEP di puskesmas dengan Baik  Ruang lingkup : Puskesmas  Uraian umum : Balita KEP adalah anak yang berumur 0-5 tahun yang BB/Unya & ndash. 3 SD standart WHO-NCHS dan mempunyai tanda-tanda klinis ( marasmus.3) Menanyakan tanggal / kelahiran anak 4) Menimbang balita 5) Mencatat hasil penimbangan 6) Menilai status gizi balita dengan indeks BB/U standart WHONCHS 7) Mencatat nama balita menderita KEP 8) Membuat laporan KLB ke DKK 2. kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor )  Langkah-langkah kegiatan : 1) Identifikasi balita KEP 2) Pengukuran antropometri dan pemeriksaan klinis 3) Mengatasi hipoglikemi 4) Mengatasi dehidrasi 5) Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit .

Pelacakan Balita KEP Dengan Cara Investigasi  Tujuan : Untuk mengetahui faktor –faktor yang berkaitan dengan kejadian balita KEP melalui wawancara dan pengamatan  Ruang Lingkup : Wilayah kerja Puskesmas  Uraian Umum : Investigasi adalah mencari faktor-faktor yang berkaitan dengan kejadian KEP melalui wawancara dan pengamatan. 6) Menjelaskan kondisi kesehatan dan akibat yang mungkin terjadi 7) Memberikan motivasi pada keluarga ( orangtua ) agar balita mau dirujuk ( ke Puskesmas ) 8) Melakukan dokumentasi .6) Mengobati infeksi 7) Pemberian makan 8) Pengamatan tumbuh kejar kembang 9) Tindak lanjut setelah sembuh 10) Pelacakan balita KEP dengan cara investigasi 3.  Langkah-langkah kegiatan : 1) Mendatangi rumah balita KEP 2) Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kunjungan 3) Melakukan wawancara dan pengamatan sesuai kuesioner 4) Melakukan pengukuran ulang ( bila diperlukan ) 5) Mengamati tanda klinis dengan fokus marasmus / kwashiorkor.

4. Pelayanan Balita KEP Di Rumah Tangga  Tujuan : Untuk meningkatkan status gizi balita KEP  Ruang Lingkup : rumah tangga  Uraian Umum : Pelayanan gizi adalah pelayanan yang difokuskan pada PMT Pemulihan dan KEP adalah keadaan gizi berdasarkan hasil penimbangan BB pada KMS berada di Bawah Garis Merah (BGM )atau BB/ U –3 SD standart WHO-NCHS  Langkah-langkah kegiatan : 1) Menghitung kebutuhan zat gizi berdasarkan BB 2) Menentukan jenis PMT-Pemulihan berdasar BB 3) Mendemonstrasikan cara menyiapkan PMT-P pada ibu-ibu 4) Menjelaskan cara pemberian ( frekuensi dan lama pemberian ) PMT-P 5) Menganjurkan untuk tetap memberi ASI sampai umur 2 tahun 6) Menganjurkan pemberian MP-ASI sesuai usia balita 7) Menganjurkan makanan seimbang sesuai umur dan kondisi kesehatan 8) Menganjurkan anak ditimbang secara teratur setiap bulan 9) Memberikan PMT-Pemulihan 5. Koordinasi Lintas Sektoral Dalam Upaya Penanggulangan Balita KEP  Tujuan : Melaksanakan penanggulangan balita KEP kerjasama lintas sektor dalam .

Intervensi di bidang pertanian. Camat  Langkah-langkah kegiatan : 1) Menyiapkan bahan rapat koordinasi 2) Membuat surat undangan 3) Mengedarkan surat undangan 4) Menyiapkan sarana dan prasarana 5) Menyampaikan masalah KEP 6) Membuat kesepakatan tindak lanjut / rencana kerja penanggulangan 7) Membuat notulen 8) Melaporkan hasil rapat 9) Umpan balik Adapun program penaggulangan KEP lainya meliputi : 1. pendidikan tentang gizi dan . Ruang Lingkup : Koordinasi Lintas Sektor tingkat Kabupaten dan Kecamatan  Uraian Umum : Dukungan sektor terkait dalam penanggulangan balita KEP dan Lintas Sektor terdiri dari Pertanian BKKBN. penyediaan air minum yang aman dan sanitasi yang baik. intervensi antara lain penyuluhan individual dan konseling. PKK. Intervensi yang dilakukan pada saat skreening kasus. mikronutrien. Depag. 2. pengetahuan tentang pola asuh keluarga dan PMT.

6. maka pendekatan ini mengharuskan program gizi dikaitkan dengan kegiatan program lain diluar program pangan secara konvergen seperti dengan program air bersih dan kesehatan lingkungan. Memperbaiki pola pertumbuhan anak dan status gizi anak dari tidak normal menjadi normal atau lebih baik. Pengobatan infeksi . 3. biaya rujukan sementara di dapat dari biaya APBN 4. Pada kasus . pendidikan gizi. Pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan dan bila keadaan status gizi anak belum mengalami perbaikan maka diteruskan dengan pemberian makanan tambahan pemeliharaan. Peningkatan pendapatan. memberikan perhatin khusus kepada kelompok yang rentan serta pengadaan pelayanan kesehatan yang berkualitas. fokus harus diarahan pada kondisi spesifik yang ada. imunisasi.program yang bersifat terintegrasi seperti itu. program gizi akan rasional untuk menjadi bagian dari pembangunan nasional secara keseluruhan.makanan. KEP yang umumnya terjadi di daerah dengan kondisi miskin. serta tindakan lain yang berefek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.kasus kronis yang memerlukan rawatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) maka kasus di rawat inapkan bahkan bila memerlukan rawatan lanjutan dapat di rujuk ke RSUD. suplementasi makanan hingga subsidi bahan pangan. penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan. Oleh karena pola pertumbuhan dan status gizi anak tidak hanya disebabkan oleh makanan. 5.

buah-buahan berwarna kuning dan orange. Pengantar Kesehatan Lingkungan. peningkatan kondisi air bersih dan kebersihan lingkungan. Penyuluhan gizi sebaiknya diberikan pada tingkat rumah tangga untuk meningkatkan produksi sayur-sayuran berdaun hijau tua. unggas. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Meningkatkan variasi jenis makanan terutama yang berasal dari kebun dan ternak sendiri juga sangat efektif. 2007. telur. Jakarta : EGC Chandra. 8. 2005. Oleh karena itu hal yang sangat mungkin namun sulit diwujudkan adalah mengaktifkan kembali posyandu-posyandu terutama yang sudah tidak berjalan pada tingkat dusun. ikan dan susu. Penanganan diare yang saling terkait dan seperti membentuk lingkaran setan dengan KEP juga memerlukan perhatian khusus.Jakarta: EGC .Gizi Kesehatan Masyarakat. 2005. Budiman. monitoring pertumbuhan anak melalui sarana pelayanan kesehatan telah terbukti sangat efektif.Jakarta: EGC.cacing 3 kali setahun misalnya akan sangat bermanfaat dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sumber : Arisman. 7. Penyuluhan mengenai pentingnya ASI. MB. Program penyuluhan gizi mengenai keberadaan produk pangan yang kaya protein dan mikronutrien di daerah setempat akan sangat efektif dan bekesinambungan. Gibney. Michael J dkk.

berbangsa dan bernegara. mensejahterakan rakyat. baru pihak-pihak terkait sibuk melakukan penanganan yang intensif. bahkan mereka tidak segan-segan pada saat kampanye. 2005. tambah diperburuk dengan tingkat kepedulian masyarakat sesama warga dalam menanggulangan persoalanpersoalan kewargaan yang semangkin berkurang. Jakarta : EGC 5. telah terjadi tingkat kritis pada pasien. siapa lu dan siapa gue menjadi kehidupan yang lumrah. Ilmu Gizi Klinis pada Anak Edisi ke-14. menjadikan kasus persoalan kehidupan yang dihadapi masyarakat sebagai konsumsi politik untuk mencari dukungan politik dan simpatik masyarakat dalam memilih . sekiranya terpilih menjadi pemimpin negeri ini.2001. pola kehidupan konsumtif semangkin menonjol ditengah kehidupan masyarakat.jakarta : FKUI. negeri ini mengalami degradasi ketauladan pemimpin dan figur pionir dalam melakukan suatu tindakan. Para pemimpin negeri Indonesia yang kita cintai ini terlalu cepat melupakan janji-janji yang pernah diucapkan pada saat kampanye mencalonkan diri menjadi kontestan pemilihan pemimpin. Perawatan Anak Sakit . kasus ini seakan-akan kurang mendapatkan perhatian Serius dari pemerintah.Pudjiadi S. Ngastiyah. kepedulian sosial sudah mulai menipis dari kehidupan pribadi kita. Tulis atau cari 5 fakta yang bertolak belakang dari kondisi nyata dari pelayanan kasus KEP! Selama ini penangangan kasus KEP selalu kecolongan.

kesehatan dan pendidikan. Kemiskinan mengakibatkan rendahnya tingkat pendidikan orang tua. Jika semua pemimpin terpilih dapat menempatkan posisinya masing. berbagai literatur menyatakan bahwa akibat kekurangan asupan makanan yang bergizi pada bayi dan anak balita adalah bagian dari lingkaran setan kemiskinan dan penyakit infeksi. Keberadaan orang lapar apalagi bayi dan anak balita gizi buruk merupakan pengujian utama terhadap adil dan efektifnya sistem sosial dan ekonomi di sebuah daerah bahkan suatu negara. tentu berbagai kasus yang dialami masyarakat akan bisa dieliminir sedemikian rupa.masing. . Juga keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar lain dan pelayanan sosial termasuk pangan. program tinggal program. janji tinggal janji. serta menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pengendali sistem sosial dan ekonomi yang baik. kasus terus bergulir sejalan dengan perjalanan waktu.dirinya. sehingga melalui sistem pangan masyarakat (produksi – distribusi – konsumsi) dapat dipakai sebagai jendela untuk memahami sebuah masyarakat. buruknya lingkungan perumahan dan tidak adanya akses terhadap air minum dan sanitasi. dengan berbagai program-program kerja yang sistematis untuk melakukan pemberantasan kasus kemaslatan umat sampai tuntas. Demikian mendasar fungsinya. namum setelah terpilih penyakit lupa mereka kambuh kembali.

dari negara Banglades dengan proyek Bank-nya. masyarakat berhak mendapatkan pendidikan yang layak. NTT. Meninggalkan penderita gizi buruk merupakan bagian intropeksi bagi daerah-daerah lain untuk terhindari dari persoalan ini. pertumbuhan ekonomi harus terjadi semua level kehidupan masyarakat. birokrasi dunia perbankan harus dibuat sederhana mungkin. Dikotomi pendidikan harus dihindari. Papua dan Gorontalo. bisa berakibat fatal terhadap .Yunus. sehingga membuka peluang bagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan harta untuk menikmati pinjaman uang untuk menambah modal usaha mereka dalam meningkat pendapatkan ekonomi. sudah saatnya pemerintah dan stekolder yang ada benar-benar memperhatikan variabel-variabel yang berkoreklasi terhadap kasus gizi buruk. kasus ini hendaknya akhir dari penderitaan yang dialami oleh anak-anak.Kelaparan yang diderita bayi dan anak balita di Indonesia jelas menunjukkan tidak adil dan efektifnya sistem sosial dan ekonomi negara republik Indonesia yang kita cintai ini. inovasi-inovasi seperti itu harus dilakukan perbankan negeri ini. penyimpangan dana Bos tersebut. negeri ini harus dapat memunculkan M. miminjaman uang kepada masyarakat kecil untuk mengembangkan usahanya tanpa perlu memikirkan bunganya. untuk wilayah NTB. penyaluran dana BOS harus benarbenar sesuai dengan visi dan misi dari tujuan dana Bos itu sendiri. seorang peraih Nobel dalam bidang ekonomi. daerah dituntut untuk memperhatikan kasus ini lebih serius.

namum tidak mampu dari sisi keuangan terputus pendidikannya karena masalah pendanaan. selalu memberikan motivasi kepada masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Kasihan anak-anak yang memiliki kemampuan akademis. hak mereka dirampas. didalam memberikan servis kepada warga untuk dapat mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. dapat bekerjasama dengan masyarakat. tetapi harus menyeluruh sebagai bagian dari penyelamatan hak hidup. semua aktivitas kesehatan yang berhubungan dengan masyarakat hendaknya berjalan dengan baik. .kelangsungan dunia pendidikan. karena napsu sebagian kita dalam memperkaya diri sendiri. Fasilitas kesehatan harus menjadi perioritas pemerintah. kesehatan tidak boleh berpihak kepada kemampuan seseorang saja.