You are on page 1of 94

1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dengue Shock Syndrom merupakan sindroma syok yang terjadi pada
penderita Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ) atau Demam Berdarah Dengue.
Dengue Syock Syndrome bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan
yang menyebar luas dan tiba-tiba, tetapi juga merupakan suatu permasalahan
klinis, karena 30-50 % berdasarkan buku tentang penyakit infeksi tropik pada
anak oleh Rampengan, penderita Demam Berdarah Dengue akan mengalami
renjatan dan berakhir dengan suatu kematian terutama bila tidak ditangani secara
dini dan adekuat.
Suatu penelitian di Jakarta oleh Sumarmo (1973-1978) mendapatkan
bahwa penderita DSS terutama pada golongan umur 1-4 tahun (46,5%),
sedangkan wong (1973) dari singapir melaporkan pada umur 5-10 tahun dan
dimanado terutama di jumpai pada umur 6-8 tahun kemudian pada tahun 1983
didapatkan terbanyak pada umur 4-6 tahun. Tidak terdapat perbedaan antara jenis
kelamin tetapi kematian lebih banyak di temukan pada anak perempuan dari pada
anak laki-laki. Jumlah penderita DBD/DHF yang mengalami renjatan berkisar
antara 25-65%, di mana Sumarmo dkk. (1985) mendapatkan 63%, Kho dkk.
(1979) melaporkan 50%. Rampengan (1986) melaporkan 59,4% sedangkan WHO

2

(1973) melaporkan 65,45% dari seluruh penderita demam berdarah dengue yang
di rawat.
Di sinilah peran tim medis, terutama perawat yang berhadapan langsung
dengan pasien sangat di perlukan untuk mengatasi hal di atas.
Mengingat masalah tersebut

di atas, maka penulis tertarik untuk

mengangkat kasus DSS ini ke dalam satu bentuk laporan kasus “ Asuhan
Keperawatan pada Anak E dengan Gangguan Sistem Hematologi : Dengue Syok
Syndrom di Unit Santo Yohanes RSSA Pontianak dengan maksud dan tujuan
penulis dapat berinteraksi dengan pendekatan

proses keperawatan langsung

kepada pasien DSS / DHF.

B. Ruang Lingkup
Dalam laporan kasus ini penulis hanya memfokuskan Asuhan
Keperawatan pada An.E dengan Gangguan System Hematologi : Dengue Shock
Syndrom ( DSS ) di Unit Santo Yohanes Bed 249/3. Pemberian ASKEP ini
berlangsung selama 3 hari dari mulai tanggal 17-19 Juli 2006, yang meliputi :
pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi serta
evaluasi.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah :

3

1. Mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan asuhan
keperawatan pada An. E dengan Gangguan Sistem Hematologi :
Dengue Shock Syndrom ( DSS ).
2. Membandingkan antara landasan teori dan fakta lapangan sehingga
mampu menghasilkan respon yang positif sesuai dengan prinsip
keperawatan.
3. Meningkatkan kemampuan perawat dalam menciptakan hubungan
terapeutik dilingkungan rumah sakit dan masyarakat pada umumnya.
4. Meningkatkan pengetahuan penulis secara teoritis mengenai penyakit
Dengue Syock Syndrome.

D. Metode Penulisan
 Study kepustakaan dengan berbagai sumber buku yang mengambarkan
bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan Dengue Shock Syndrom
( DSS ).
 Study kasus dengan melakukan pengkajian langsung kepada pasien yang
mengalami penyakit Dengue Shock Syndrom ( DSS ), dengan melakukan
pemeriksaan fisik yang meliputi : inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi
 Pengamatan dan perawatan langsung pada pasien yang bekerjasama
dengan tim medis lainnya.

implementasi serta evaluasi BAB IV Pembahasan Kasus Pembahasan kasus ini menguraikan tentang pembahasan mengenai perbandingan antara teori dan kasus langsung dilapangan . Tujuan Penulisan C. Metode Penulisan D. diagnosa keperawatan. analisa data. Konsep Dasar Medik yang terdiri dari : definisi. penatalaksanaan medis. Sistematika Penulisan BAB II Landasan Teoritis A. Sistematika Penulisan Laporan kasus ini di susun secara sistematika sebagai berikut : BAB I Pendahuluan A. Konsep Dasar Kepeawatan yang terdiri dari : pengkajian. BAB V Penutup A. diagnosa keperawatan. tanda dan gejala. laboratorium.4 E. Latar Belakang Masalah B. diagnosis. prognosa B. Patoflow BAB III Pengamatan Kasus Pada bab ini menguraikan tentang pengkajian keperawatan. anatomi dan fisiologi. rencana keperawatan C. rencana keperawatan. Kesimpulan . patofisiologi.

5 B. Saran Lampiran-lampiran Daftar Pustaka Daftar Riwayat Hidup .

H Rampengan. DSA. protein dalam darah misalnya albumin. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Konsep Dasar Medis 1.6 BAB II LANDASAN TEORITIS A. Plasma darah Plasma darah terdiri dari : Albumin fungsinya adalah: . kolestrol. 2. asam amino lemak. DSAK dan dr. sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit) plasma terdiri dari 900 air dan 100 berupa elektrolit gas terlarut berbagai produk sisa metabolisme dan zat gizi misalnya gula. Definisi Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah sindromo syok yang terjadi pada penderita dengue hemorrhagic fever (DHF) atau demam berdarah dengue ( dr. Elemen-elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit). T.R Laurentz. 1993 ). Anatomi dan Fisiologi Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dari plasma dalam jumlah setara. I.

yang mencegah cairan plasma merembes keluar dari kapiler untuk memasuki ruang interstitial. Globulin Merupakan fraksi yang tersusun atas mukoprotein. Alfa globulin 2. Menghasilkan tekanan osmaotik pada membran kapiler.7 1. Sebagai penyangga darah . Mengangkut protein 3. Globulin terbagi atas: 1. Mengikat hormon dan enzim dalam darah. Untuk pertukaran cairan 2. logam dan gama globulin. Mempertahankan stabilitas suspensi darah. Beta globulin 3. Mengikat zat lain 2. Protein plasma Fungsinya: 1. Gama globulin Fungsinya adalah: 1. 3. 2. Memegang peranan penting dalam proteksi tubuh terhadap infeksi dan toksisitas. Sebagai zat yang bereaksi dengan zat yang lain 4. Menghasilkan tekanan osmotik darah 3.

Granulosit atau polimorfonular. yang berisi sebuah nukleus yang berbelah banyak dan protoplasmanya berbutir 2. Sel neutrofil. Sel eusinofil. Sel basofil. 75 % dari seluruh sel darah putih. Sel darah putih dibentuk dalam sumsum tulang. Jumlah sel darah merah 5.000.000 sel darah setiap mm 3. HB Adalah protein yang kaya akan zat besi. Sel darah Sel darah terdiri dari: 1. Eritrosit 2. tampak berwarna ungu 3.8 4. sel darah merah diproduksi di sum-sum tulang tulang pendek. Sel darah putih/leukosit 1. Karena adanya oksigen ia mampu membentuk axihemoglobin di dalam sel darah merah. Alat pengangkut. umur eritrosit rata-rata 115 hari. Trombosit Sel darah merah Struktur terdiri dari asam amino yang merupakan senyawa protein. Leukosit 3. tampak berwarna merah 4. Cadangan protein tubuh 5. berwarna biru . memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen.

Fungsi lymphosit diperkirakan sebagai pembentuk antibodi. Terdapat 300. Peranannya penting dalam proses pembekuan darah. mempunyai sifat fagosit. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat gambar penampang darah berikut ini : . Lymphosit 6. Trombosit Trombosit adalah sel kecil kira-kira 1/3 ukuran sel darah merah. Monosit.9 5. Fungsi utama leukosit Granulosit dan monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan terhadap mikro organisme.000 trombosit dalam setiap mm3 darah.

VII. sehingga menyebabkan hipotensi.10 3. termaksuk faktor II.  Gangguan fungsitrombosit  Lelainan sistem koaguiasi. masa protrombin memanjang sedangkan sebagian besar penderita didapatkan masa trombin normal. hipopeoteinemia dan efusi cairan ke rongga serosa. V. IX. X dan fibrinogen  Pembekuan intravaskuler yang meluas ( disseminated intravasculer coagulation =DIC ) 4. Beberapa faktor pembekuan menurun. Pada penderita dengan renjatan berat maka volume plasma dapat berkurang sampai kurang lebih 30% dapat berlangsung selama 24-28 jam. hemokonsentrasi. asidosis metabolik sehingga terjadi pergeseran ion kalium intraselulrer ke ekstraseluler. Patofisiologis Patofisiologi yang terutama pada dengue shock syndrome ialah terjadinya peninggian permeabilitas dinding pembuluh darah yang mendadak dengan akibat terjadinya perembasan plasma dan elektroit melalui endotel dinding pembuluh darah dan masuk kedalam ruang interstial. Mekanisme ini di ikuti pula dengan penurunan kontraksi otot jantung dan venous . dimana trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Renjatan hipovolemi ini bila tidak segera di atasi maka dapat mengakibatkan anoksia jaringan. masa tromboplastin partial. Etiologi  Trombositopenia hebat.

Menurut Wong : renjatan terjadi pada hari ke-5 adalah 39%. Merupakan demam berdarah dengue derajat III dan IV atau demam berdarah dengue dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai tingkat renjatan.2 %dan pada ke-4 adalah 25 %. dan ke-7 bahkan renjatan dapat terjadi pada hari ke-10. 5. reaksi imunologis ( The Immunological . Renjatan yang terjadi pada saat demam mulai turun dapat diterangkan dengan hipotese meningkatnya Enhancedment Hypothesis). Renjatan dan DIC akan saling mempengaruhi sehingga akan terjadi renjatan yang ireversibal di sertai pendarahan hebat pada organ-organ vital dan berakhir dengan kematian. 2). maka renjatan akan mempercepat dic sehingga peranannya menonjol. Menurut Surmarmo : renjatan terjadi pada hari ke-5 adalah 39. Terjadinya renjatan pada DBD biasanya terjadinya pada saat atau setelah demam memurun diantaranya hari ke-3. Pada masa dini DBD. 4).5%). hari ke-4 (23. Sebab lain kematian penderita DSS ialah pendarahan hebat saluran pencernaan yang biasa timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak diatasi adekuat. Tanda dan Gejala 1). Namun apa bila penyakit memburuk sehingga terjadi renjatan dan metabolik asidosis.11 pooling sehingga lebih lanjut akan memperberat renjatan. 3). peranan dic tidak menonjol dibandingkan perembasan plasma.

dingin.65 %. dan lembab terutama pada ujung jari kaki. Panas mempunyai nilai prognostik pada penderita DSS. sopor dan koma.80C. bila renjatan terjadi pada suhu tubuh yang lebih dari 390C.20C dan tertimggi 40. maka tingkat prognose akan menjadi lebih jelek. 8) Hepatomegali : di Indonesia ( Jakarta ) dilaporkan 89 %. b. Ternyata penderita DSS banyak di jumpai pada suhu sekitar 370C adalah 45. Semarang 65.12 Manifestasi klinik renjatan pada anak terdiri atas: 1) Kulit pucat.laun kesadarannya menurun menjadi apti. Menurut Sumarmo : suhu pada penderita DSS terendah adalah 36. cengeng.9 % dan di Cuba 62 %. 2) Anak semula rewel. a. 3) Perubahan nadi baik frekuensi maupun amplitudonya 4) Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang 5) Tekanan sistolik menurun menjadi 80 mmHg atau kurang 6) Oliguria sampai anuria 7) Panas : 100 % peneliti melaporkan penderita DSS didahului oleh adanya panas. Menurut Rampengan dari hasil evaluasi penderita DSS yang dirawat ternyata terbanyak pada suhu 38-390C. Terdapat korelasi antara persentase hepatomegali dengan derajat berat penyakit tetapi pembesaran hati tidak sejajar dengan . tangan dan hidung. dan gelisah lambat.

10) Nyeri perut : keluhan yang timbul sebeklum renjatan. apalagi jika berat. 11) Anorexia : menurut Partana dkk ( 1981 ). muka dan axilla. sehingga banyak para ahali menganjurkan untuk waspada akan adanya gejala nyeri perut ini. 12) Muntah-muntah 13) Diare / obstipasi 14) Kejang-kejang 15) Pleural efusion : kurang lebih ¾ kasus DSS ditemukan adanya bendungan pembuluh darah paru ( pulmonari vascular congestion ) dengan efusi pleura terutama pada paru sebelah kanan. Ekimosis. saluran pencernaan berupa hematemesis atau melena. 9) Perdarahan : bervariasi yang paling ringat adalah uji torniquet positif maupun perdarahan spontan yangb berupa petekia dengan lokalisasi biasanya tersebar ke seluruh tubuh.13 beratnya penyakit. epistaxis. dengan kata lain pembesaran hati pada penderita DBD derajat IV tidak selalu lebih besar dari penderita DBD derajat II. perdarahan gusi. karena sering kali mendahului terjadinya perdarahan dalam saluran pencernaan. Nyeri perut ini terjadi didaerah epigastrium. kembalinya napsu makan dapat dipakai sebagai tanda bahwa penderita sudah sembuh. 16) Asxites 17) Cefalgia 18) Gambaran EKG yang abnormal . yang paling sering adalah anggota gerak bawah.

c) Syock berat / tingkat 3 ( profound shock ) yaitu tekanan darah yang tidak terukur / nol. disertai dengan menurunnya tekanan sistolik menjadi < 80 mmHg. maka sebagian para ahli membagi renjatan diatas ke dalam : a) Renjatan berat ( profound shock ) ialah renjatan yang ditandai oleh tekanan darah yang tidak dapat diukur dan nadi tidak dapat diraba. c) Renjatan ringan ialah tekanan sistolik mulai menurun. b) Renjatan sedang ialah tekanan nadi menurun 20 mmHg atau lebih dan atau tekanan darah sistolik kurang atau sama dengan 80 mmHg. 6. Sedangkan Munir dan Rampengan ( 1984 ) membagi renjatan menjadi : a) Syock ringan / tingkat 1 ( impending shock ) yaitu gejala dan tanda-tanda shock yang disertai menyempitnya tekanan nadi menjadi 20 mmHg. Laboratorium . tetapi belum sampai nol. dimanan tekanan diastolic tetap normal atau sedikit rendah.14 Berdasarkan gangguan sirkulasi di atas. b) Syock sedang / tingkat 2 ( moderate shock ) yaitu = tingkat 1 ditambah dengan tekanan nadi menjadi < 20 mmHg. tetapi belum sampai nol. tetapi belum ada sianosis / asidosis. d) Syock sangat berat / tingkat 4 ( moribund shock ) yaitu tekanan darah yang tidak terukur lagi disertai dengan sianosis dan asidosis.

Hemokonsentrasi selalu mendahului perubahan tekanan darah dan nadi. terdapat fragmentosit yang menandakan terjadinya hemolisis 4) Sumsum tulang. Selain itu deplesi garam akibat metabolisme yang meningkat selama demam dan eksresi urin yang berkurang . Menurut Varavithnya dkk ( 1973 ) 75 % penderita DSS terdapat hiponatremia. yaitu kebocoran plasma. Meningginya hematokrit sangat berhubungan dengan beratnya renjatan. anorexia. muntah dan intake yang kurang. batasan yang diambil ialah bila terjadi penurunan trmbosit di bawah dari 100. penurunan trombosit berkorelasi dengan beratnya penyakit dengan beratnya perdarahan. keluarnya keringat. terdapat hipoplasi system eritropoitik yang disertai hiperplasi system RE dan terdapatnya makrofag dengan fagositosis daripada bermacam-macam jenis sel. yaitu terjadi peninggian nilai hematokrit > 20 %. oleh karena itu pemeriksaan hematokrit secara berkala dapat menentukan saat yang tepat untuk mengurangi atau menghentikan pemberian cairan parenteral atau saat pemberian darah. Terjadi karena beberapa factor. 2) Trombositopenia. Kelainan elektrolit : Hiponatremia : kadar natrium dalam darah 135 mEq/l. 3) Sediaan hapus darah tepi.15 Hasil Pemeriksaan : 1) Hemokonsentrasi.000 / mm3.

seperti akral dingin. sedangkan derajat III dan IV disebut DHF / DBD dengan renjatan atau DSS.16 Hiperkalemia Hipoloremia ringan Asidosis metabolic ringan dengan alkalosis kompensatoar Osmolalitas plasma sangat menurun 5) Tekanan colloid oncotic menurun 6) Protein plasma sangat menurun 7) Serum transaminase sedikit meninggi 7. Tanda-tanda hipovolemia. tekanan darah menurun 3. seperti yang telah diuraikan diatas. Clouding of sensorium 2. Derajat I dan II disebut DHF / DBD tanpa renjatan. Wong dkk ( 1973 ) juga mengemukakan beberapa tanda dan gejala yang perlu diperhatikan dalam diagnosis klinik penderita dengue shock syndrome. Nyeri perut . yaitu: 1. Diagnosis Hingga kini diagnosis DBD / DSS masih berdasarkan atas patokan yang telah dirumuskan oleh WHO pada tahun 1975 yang terdiri dari 4 kriteria klinik dan 2 kriteria laboratorik dengan syarat bila kriteria laboratorik terpenuhi ditambah minimal 2 kriteria klinik ( satu diantaranya ialah panas ).

 Koreksi keseimbangan asam basa  Beri darah segar bila bila ada pendarahan hebat. sebagai akibat dari kerusakan dinding kapiler yang menimbulkan peninggian permeabilitas sehingga mengakibatkan plasma leakage. dan hemoptisis. Prinsip pengobatan dengue shock syndrome :  Atasi segera hipovolemianya  Lanjutkan penggantian cairan yang masih terus keluar dari pembuluh darah selama 12-24 jam.17 4. hematuri. hematemesis. dalam hal ini seperti epistaksis. . Tanda-tanda miokarditis pada EKG 8. malena. oleh karena angka kematian akan meninggi bila renjatan tidak ditanggulangi secara dini dan adekuat. 5. Adanya pleural efusion pada toraks foto 7. Dasar penanggulangan renjatan pada DBD ialah volume replacement atau penggantian cairan intravasculer yang hilang. Tombositopenia berat 6. Tanda -tanda pendarahan di luar kulit. atau paling lama 48 jam. Penatalaksanaan Medis Penanganan renjatan pada penderita DBD merupakan suatu masalah yang sangat penting diperhatikan.

bb.  Dosis yang diberikan 10-20 ml/kg.5 cc cairan RL kemudian ditambahkan D40% sebanyak 62.  NaCL 0.9%  RL – D5 .9%: D10.  Setelah pemberian cairan a. nilai hematokrit masih tinggi dan hitung trombosit masih rendah.18 Mengatasi Renjatan ( Volume Replacement ) a. diberikan sebagai pengganti cairan a.5% sebanyak 2 cc/ kg.1. .5 cc. Plasma / Plasma ekspander  Diperlukan pada penderita renjatan berat. atau pada penderita yang tidak segera mengalami perbaikan dengan cairan kristaloit diatas.  Bila dapat cepat disiapkan. Jenis cairan Sebaiknya diberikan cairan kristaloid yang isotonis atau sedikit hipertenis.1. aa ditambahkan Natrium Bikarbonat 7. Jenis cairan yang dapat dipakai ialah :  Ringers Lactat  Glukose 5% dalam half strength NaCL 0. dapat dibuat dengan jalan mengeluarkan 62. bb dalam waktu 1-2 jam. setelah itu cairan pertama dilanjutkan lagi.

bb/jam dan dapat diulangi hingga dua kali. maka dalam hal ini diberikan dengan semprit secara cepat sebanyak 100-200 ml. Dosis / kecepatan pemberian cairan : Dosis yang biasanya di berikan ialah 20-40 ml/kg. bahkan bila venakolops dimana kecepatan pemberian yang diharapkan tidak dapat dicapai. maka dilakukan pengukuran central venuos pressure (CVP/ JVP) dengan pemasangan kateter vena centralis biasanya pada vena basilica lengan kiri atau kanan . apa bila CVP/ JVP kurang dari 5 cm maka cairan di berikan dengan tetesan cepat/ . dapat ditambahkan plasma 10 ml/ kg. Untuk renjatan yang tidak berat. diberikan secepat mungkin dalam waktu 1-2 jam. bb. cairan diberikan dengan kecepatan 20ml/kg. bb setiap jam sampai total 40 ml/kg. bb. Plasma ekspander yang dapat digunakan ialah:  Plasbumin (human albumin 25%)  Plasmanate (plasma protein fraction 5%)  Plasmafuchsin  Dextran L 40 b.19  Apabila nadi/tekanan darah masih jelek atau hematokrit masih tinggi. Untuk menentukan guyur tidaknya pemberian cairan.

Jenis cairan :  D5/ 10 : NaCL 0.  D5/ 10 + KCI 10 mEg/botol. untuk anak besar dan untuk bayi 4:1. Transfusi Darah  Sebaiknya darah segar . vitamin b kompleks dan vitamin c secukupnya.9 : D10 aa. bila kadar natrium dan kloriada dalam serum tinggi.9 = 3:1.  D5 dalam NaCL 0.bb/hari sesuai dengan berat badan.20 diguyur.  NaCL 0.  2/3 cairan kristaloid + 1/3 cairan plasma ekspander. hal ini disebabkan oleh cairan yang ada diruangan ekstravaskuler mulai direapsorbsi keadaan vaskuler. maka pemberian cairan hendaknya dilakukan secara hati-hati oleh karna dapat terjadi hipovolemia. Cairan maintenance 1. kemudian CVP dipertahankan antara 5-8 cm H2O. Pemberian ini dilanjutkan sampai CVP 5 cm. Dosis / kecepatan cairan maintenance: Setelah renjatan telah teratasi dan penderita mulai masuk kedalam stadium penyembuhan.225. 2. kedalaman cairan ini ditambahkan KCI10 mEq. Dosis yang sering digunakan ialah 100-150 ml/kg.

 profilaksis Dapat digunakan : Ampisilin 400-800 mg/kg.  Hematokrik rendah ( < 35-40%) tetapi anak masih syok. .  adanya infeksi sekunder.  Dosis 10-20 ml/kg. Antibiotik Di berikan bila :  prolonged shock.  24-28 jam setelah pengobatan syok anak jatuh dalam syok lagi.bb/hari selama 8 hari. iv. Pemberian obat-obatan . Mungkinkah obat ini bermanfat pada stadium dini.bb/hari.21  Pendarahan hebat baik hematemesis/melena atau epistaksis yang memerlukan tamponade. Pemberian obat ini masih terdapat banyak controversial. Dosis : 4x50mg/kg. Antivirus Seperti isoprinosis.bb/hari iv. dapat ditambahkan bila pendarahan berlangsung terus. walaupun belum terlihat perdarahan. Gentamisin 2x5 mg/kg. bb.

Dipyridamol dan asetosal Maksud pemberian ini ialah :  Untuk mencegah adhesi dan agregasi trombosit dalam kapiler.000/mm3 dan fibrinogen < 100 mg% ).  Sumarmo (1983) tidak menganjurkan pemakaian asetosal pada penderitaan dengan kecendrungan pendarahan. dosis yang diberikan 0. iv setiap 4-6 sedang menurut pengalamam sumarmo (1981) ternyata pemakaian heparin kurang mengesankan.22 Heparin Kho dkk (1979) memberikan heparin pada penderita prolonged shock.bb.5 mg/kg. Kortikosteroid Masih belum ada kata sepakat.  Memiliki aktivitas plasma ekspander. Cara kerja obat ini :  Menekan peninggian permeabilitas pembuluh darah. . Carbazochrom sodium sulfonat (ACI7) Beberapa peneliti menggunakan obat ini pada penderita DSS yang disertai dengan pendarahan saluran pencernaan yang hebat. dimana diduga DIC sebagai penyebab terjadinya pendarahan ( penurunan trombosit < 75.  Mencegah permulaan terjadinya DIC.

kemudian infus secara kontinyu dengan dosis 300 mg/hari dalam larutan RL selama 24 jam.23  Mempersingkat waktu pendarahan. Hari III : Infus dengan dosis 3x50 mg/hari. Hari IV : Pemberian obat dihentikan. sugianto dkk. Dopamin Dipertimbangkan pemakaiannya pada penderita DSS dengan renjatan yang belum dapat teratasi. Hari II : Infus AC 17 dengan dosis 3x100 mg/hari. Funahara dkk. Dosis yang diberikan : 5-10 mcg/kg. Sedangkan Sachro dkk (1987) di Semarang tidak mendapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Ternyata efektifitas pengobatan cukup memuaskan dalam menekan kebocoran plasma dan mengurangi pendarahan. (1986). walaupun telah diberikan cairan yang adekuat.bb/menit iv setiap 4-6 jam . (1987) memberikan preparat ini dengan cara sebagai berikut : Hari I : Suntikan 25 mg iv.

03 mg/kg.5 – 50 mg/kg.bb.bb. nadi. iv Klorhidrat : 12. Dapat diberikan dosis : Diazepam : dosis 0. 3 kali sehari.bb/dosis. bila ada tanda/gejala overhidrasi. Dosis yang diberikan : 0. oral atau rektal hanya satu kali ( dosis maksimal 1 gram ) Antasida Dipertimbangkan pemberiannya pada penderita DSS dengan muntahmuntah hebat dan nyeri epigastrium yang tidak jelas dan bukan disebabkan oleh pembesaran hepar yang progresif.24 Sedativa – Antikonvulsan Diberikan kepada penderita DSS yang sangat gelisah atau kejang. Diuretika Furosemida diberikan dengan dosis 1 mg/kg. Observasi penderita Perlu dilakukan pengawasan yang baik terhadap penderita yang dirawat seperti : keadaan umum.bb untuk hari I.3 – 0.5 mg/kg. tekanan darah. pernapasan dan suhu badan setiap 15-30 menit atau bila perlu lebih sering sampai renjatan sudah . Digitalisasi Digitalisasi cepat dapat diberikan kepada penderita dengan gejala/tanda kegagalan jantung.

metode. waktu. frekuensi dan output urine. feses serta muntah.25 teratasi. Penyulit-penyulit Perdarahan masif Kegagalan pernapasan akibat udema paru atau kolaps paru Ensefalopati Dengue Kegagalan jantung 9. Prognosa Tergantung dari factor :  Sangat erat kaitannya dengan lama dan beratnya renjatan. selain itu perlu dicatat jumlah cairan yang telah diberikan. adekuatnya penanganan  Ada tidaknya rekuren syok yang terutama terjadi dalam 6 jam pertama pemberian infus dimulai  Panas selama renjatan  Tanda-tanda serebral .

Konsep Dasar Keperawatan I. Keadaan umum pasien. umur. hilang timbul 2-7 hari - adanya perut kembung - nyeri abdomen - adanya melena - riwayat penyakit yang pernah dialami pasien - adanya alergi - kapan berobat terakhir kali - apakah imunisasi lengkap - adnya keluhan mual dan muntah - riwayat penyakit keluarga 3. Informasi Medik - adanya demam tinggi. sedang. tampak sakit ringan. berat badan tinggi badan.26 B. orang tua. Pengkajian 1. 2. Keadaan Umum a. agama. berat - Data dari hasil pengamatan/inspeksi:  Pasien ampak lemah  Rewel/gelisah  Adanya pethice. Identitas Pasien - nama pasien. purpura .

27  Adanya epitaksis b. Selama sakit:  Apakah ada keluhan mual dan muntah  Berapa banyak jumlah nutrisi yang masuk. nadi. rasa nyeri epigastrium) 4. Tanda-tanda vital (suhu yang meningkat. compos mentis. melena. Tingkat kesadaran. frekuensi  Apakah pasien masih disusui oleh ibu. tekanan darah) d. frekuensi makan 6. Eliminasi - Sebelum sakit:  - Apakah BAB dan BAK setiap hari lancar ? Selama sakit:  Apakah ada konstipasi. Tidur dan istirahat - Sebelum sakit: . berapa banyak. Nutrisi - - Sebelum sakit:  Bagaimana pola makan pasien . Abdomen (adanya kembung. Tumbang - Dikaji secara umum menurut umur si anak 5. c. coma. mencret  Sudah berapa lama pasien tidak BAB 7.

3. 4. .28 -  Bagaimana kebiasaan tidur pasien  Berapa jumlah jam tidur dan istirahat pasien Selama sakit:  Adakah defisit jam tidur pasien 8. marah. Hypertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.. Nyeri yang berhubungan dengan mekanisme patologis. 5. Risiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan berpindahnya cairan dari intravaskular ke ekstravaskular. Psikososial - Respon anak terhadap sakit (gelisah. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan secara teori yang muncul pada gangguan sistem Hematologi . cengeng) - Respon keluarga - Pengertian kelurga tentang penyakit - Pengaruh dirawat terhadap keluarga II. Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan hebat. DSS adalah : 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tak adekuat. 2.

9oC – 41oC menunjukkan proses penyakit infeksi akut 2. 2-2. 4. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian antipiretik dan antibiotik . R / : Untuk mencegah terjadinya dehidrasi.5 L/hari. R / : Istirahat untuk mengurangi metabolisme tubuh sehingga mencegah peningkatan suhu tubuh. Rencana Keperawatan DP I. Anjurkan pasien untuk bedrest total dan kurangi aktivitas. Berikan pasien minum yang banyak. Berikan kompres hangat R / : Dapat membantu mengurangi panas 3.29 III. Observasi suhu setiap 4 jam R / : Suhu 38. 5. Tujuan : Suhu tubuh kembali normal Sasaran : – Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh – TTV dalam batas normal ( suhu 36-370 C ) – Tampak tidak gelisah – Badan teraba tidak panas Intervensi : 1. Hypertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.

trombosit tiap hari. ekimosis.30 R / : Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. epitaksis. 3. – Keadaan umum baik. . melena. 4. Monitor keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien setiap 2-4 jam. hematuri. R / : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah. dan Ht. keasadaran compos mentis. Cek dan monitor Hb. R / : Perdarahan yang cepat diketahui dapat segera diatasi sehingga pasien tidak sampai ke tahap syok. Beri O2 dan cairan intra vena sesuai program medik dan kebutuhan. peningkatan pernapasan menunjukkan hipoxia jairngan. Intervensi : 1. Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi. 2. 5. R / : Penurunan tekanan darah dan nadi dapat menunjukkan hipovolumia. Segera puasakan jika pasien mengalami perdarahan saluran cerna. R / : Membantu mengistirahatkan saluran cerna selama perdarahan. hematemesis. Sasaran : – Tanda-tanda vital dalam batas nomal. Monitor tanda-tanda perdarahan (pethekie. Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan hebat. DP II.

7. Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian tranfusi darah. R / : Membantu mengatasi perdarahan DP III. Sasaran : .Pasien tampak rileks. R / : Untuk mengganti volume darah yang hilang. Nyeri yang berhubungan dengan mekanisme patologis. usahakan situasi ruangan yang tenang. Kolaborasi dalam pemberian terapi anti perdarahan. Tujuan : nyeri berkurang sampai dengan teratasi setelah dilakukan tindakan. R / : Perubahan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri.TTV dalam batas normal Intervensi : 1. Kaji keluhan nyeri meliputi.Keluhan nyeri berkurang. . R / : Posisi yg nyaman dan ruangan tenang dpt mengurangi nyeri pasien. tidak rewel . R / : Berat ringannya nyeri dapat diidentifikasi sehinga memudahkan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam. 3. 6. Berikan posisi yang nyaman. .31 R / : Membantu oksigenisasi jaringan dan mengatasi kehilangan cairan tubuh. intensitas (skala 0-10) frekuensi dan lokasi nyeri. 2.

Pasien dapat menghabiskan sesuai dengan porsi yang diberikan. 2.32 4. R / : Analgetik dapat menurunkan ambang nyeri.Pasien tampak segar. dan anoreksia. . Kaji adanya keluhan mual. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik. R / : Untuk mengetahui status gizi pasien. Intervensi : 1. muntah. 5. Sasaran : . DP IV. . R / : Napas dlm dpt merelaksasi otot-otot sehingga dpt mengurangi nyeri.Pasien dapat mempertahankan berat badan ideal atau meningkatkan berat badan. . Ajarkan dan anjurkan keluarga dan pasien untuk melakukan tehnik relaksasi tarik nafas dalam. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang kurang. R / : Membantu menentukan tindakan selanjutnya yang tepat. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah dilakukan tindakan.Keluhan mual dan muntah serta anoreksia berkurang . Timbang berat badan 5x/minggu bila memungkinkan dan catat porsi makanan yang dihabiskan.

tim. DP V. – Intake dan output dalam batas normal.mukosa mulut dan kulit lembab. antiemetik untuk mengatasi mual. R / : Terapi parenteral sangat baik jika nutrisi peroral sangat kurang. 6. – Tidak ada keluhan mual dan muntah . TTV dalam batas normal). dan hidangkan dalam keadaan hangat. Berikan makanan yang mudah ditelan. R / : Meningkatkan pengetahuan pasien sehingga meningkatkan motivasi pasien untuk makan. 4.33 3. Tujuan : Kekurangan volume cairan tidak terjadi setelah dilakukan tindakan. seperti bubur. R / : Mengurangi beban kerja lambung dan meningkatkan asupan. 5. Kolaborasi dalam pemberian nutrisi parenteral dan pemberian terapi anti emetik dan antasida. R / : Makanan porsi kecil dan sering menguragi mual. Jelaskan kepada pasien dan orang tua mengenai manfaat makanan terutama pada saat sakit. Sasaran : – Tidak tampak tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit elastis. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan berpindahnya cairan dari intravaskular ke ekstravaskular. dan muntah. Libatkan orang tua dalam pemberian makanan pada porsi kecil tapi sering.

.5 L/hari.34 Intervensi : 1. Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena. Anjurkan pasien dan orang tua untuk minum air putih 2-2. mukosa mulut yang kering.5 L/hari. R / : Untuk mengatasi kekurangan cairan tubuh. dan rasa haus. 2. 3. Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam. Kaji daerah kulit. R / : Membantu menambah cairan tubuh. 4. serta rasa haus menunjukkan adanya dehidrasi. R / : Untuk mengganti cairan tubuh yang keluar melalui keringat. R / : Turgor kulit yang buruk. Berikan pasien banyak minum 2-2. 5. R / : Tachikardi dan hipotensi menunjukkan adanya hipovolumia. turgor kulit. membran mukosa.

E Nama ibu : Ny.35 BAB III PENGAMATAN KASUS Nama : An. Sulastri Umur : 12 Tahun Jenis kelamin : Laki-laki Agama : Islam Diagnosa medik : DSS ( Dengue Shock Syndrome ) Dokter yang merawat : dr. Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Tn.5 Kg serta tinggi bdan 154 cm adalah seorang pelajar yang duduk di kelas 1 SLTP. A dan Ny. Ajuar Tanggal masuk : 15 Juli 2006 An. dengan berat badan 31.E yang berusia 12 tahun. S yang bertempat tinggal di Kompleks Bali Agung I Nomor 16 A Pontianak .

mual. kesadaran compos mentis. tidak nafsu makan. Ibu pasien mengatakan “ anak saya sudah sakit 3 hari. . demam hilang timbul. karena tidak ada perubahan maka pasien di bawa oleh orang tuanya untuk mendapatkan pengobatan. Pada saat melakukan pengkajian padsa tanggal 17 Juli 2006 pasien tampak sakit berat. kalau makan mual dan tadi pagi saat makan muntah. ekstremitas dingin.15 wiba.3o C. anorexsia. badan lemah. TD = 110/70 mmHg dan HR =100 x/mnt. Nadi = 68 x/mnt. tangan dan kakinya dingin. Kemudian pada tanggal 15 Juli 2006 pukul 15. pasien tampak tenang. Dengan keluhan: sakit sudah 3 hari. pasien tampak terbaring lemah di tempat tidur. Pernapasan = 20 x/mnt. muntah.36 Pasien datang pertama kali di UGD RSSA Pontianak pada tanggal 15 Juli 2006 pukul 11. jalur pertama kolf 5 dan jalur kedua kolf 3 10 tets/menit mengalir lancar .00 Wib pasien dirawat inap di unit Santo Yohanes Bed 249/3 RSSA Pontianak. demamnya hilang timbul. Adapun hasil pengkajian secara lengkap tercantum pada format pengkajian keperawatan anak dan keluarga. Observasi TTV : Suhu = 36. badannya lemah. 2005. terpasang infuse RL 2 jalur.

Ayub Agama : Islam Ibu : Ny.37 PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK DAN KELUARGA I.16 A Jenis kelamin : Laki-laki Bahasa yang digunakan : Indonesia Data diperoleh dari Berat Badan : 31. IDENTITAS PASIEN Nama Anak : Elza Samzumar Tgl. Ayub .5 Kg [√]Anak : sebagian Tinggi Badan : 154 cm [√]Orang tua Nama : Tn. Pengkajian: 17 Juli 2006 Nama panggilan : Elza Nama orang tua Tanggal lahir/Umur : 10/ 07/ 1994 /12 Thn Ayah : Tn. Sulastri Pendidikan : 1 SLTP Alamat : Kompleks Bali Agung I No.

Waktu dan tempat pengobatan terakhir Puskesmas Purnama 5. Imunisasi Lengkap [√] BCG [√] Mantoux / PPD . Keluhan utama Batuk 2.. Alergi [–] Ya Reaksi Alergi [–] obat ……………. Obat yang terakhir di dapat Orang tua pasien mengatakan sudah lupa 6. serta haus 3.. [–] makanan ……………. badan terasa lemah 4. 8. Adakah obat-obat yang rutin diberikan selama ini [√] Tidak 7. INFORMASI MEDIK 1.. [–] lain-lain ……………. [–] plester ……………. Keluhan yang menyertai Lemah.38 II.. Riwayat penyakit sekarang Pasien sakit  3 hari yang lalu dengan keluhan : demam. nyeri dada dan nyeri epigastrium jika akan batuk.

umur - [–] Pertusis. III. Pernah operasi [√] Tidak [–] Ya 13. IV [√] MMR 9. umur - [–] Morbili. II. Pernah dirawat [√] Tidak [-] Ya 12. umur - [–] Malaria. KEADAAN UMUM 1. umur - [–] Typhoid. Penyakit yang pernah diderita : [–] Cacar air. umur 7 thn [–] DHF. II [√] DPT I. umur - [-] GED. umur - [–] TBC. umur - [–] Lain-lain - Umur : - 10. Pemeriksaan penunjang Medis --------11. II.39 [√] Hb Vacc [√] Boster I. umur - [–] Polio. umur - [–] Febris convulsi. Kadaan umum pasien tampak : [–] Tidak sakit [-] Sakit sedang [–] Sakit ringan [√] Sakit berat . - [–] Tetanus. III [√] Boster I. Riwayat penyakit keluarga : Orang tua pasien mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan.II [√] Polio I. umur - [–] Difteri. III.

pasien tampak batuk. jalur 1 Kolf V dan jalur 2 Kolf III 10 tts/mnt mengalir lancar. Tingkat kesadaran kuantitatif : Respon motorik : 6 Respon verbal : 5 Respon membuka mata : 4+ Jumlah skor : 15 Kesimpulan : Pasien dalam keadaan sadar penuh 13. 11. Tanda-tanda vital S: 36. terpasang infus RL 2 jalur. Tingkat kesadaran kualitatif : [√] Compos mentis [–] Somnolen [–] Soporo coma [–] Apatis [–] Soporos [–] Coma 12.3o C N : 68 x/mnt TD : 110/70 mmHg [–] Oral [√] Teratur [-] Lengan kanan [√] Axilla [–] Tidak teratur [√] Lengan kiri [–] Rectal [√] Kuat [–] Berbaring [–] lemah [–] Duduk [–] Berdiri P : 20 x/mnt HR : 100 x/mnt .40 Data obyektif dari hasil pengamatan atau inspeksi : Keadaan umum : Pasien tampak lemah.

Kepala : Rambut : Ubun-ubun : [–] Kusam [–] Kemerahan [√] Tebal [-] Tipis [–] Menutup [–] Tidak menutup [–] Cekung 6.41 [√] Normal [√] Teratur [–] Cheynestoke [–] Tidak teratur [–] Biot [–] Kusmaul [–] Hiper ventilasi 14. Hidung : [√] Bersih [–] Gerakan cuping [–] Cyanosis [–] Pucat [–] Kering 8. Mata : Pupil [√] Bercahaya [–] Cembung [√] Datar Kanan : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kiri :123456789 Reflek Cahaya Kanan Kiri : positif / negatif : positif / negatif Sclera : [–] Icteric [√] Tidak icteric Conjungtiva : [–] Anemic [√] Tidak anemic Lensa : [–] Keruh [√] Jernih Kelopak mata : [–] Edema [√] Tidak edema 7. Mulut : Bibir : [√] Merah muda .

Pernapasan : Jenis [–] Perut [–] Dada [√] Perut dan dada Retraksi [√] Tidak ada [–] Intercostal [–] Supersternal Suara ucapan [√] Vesikuler [–] Bronchial [–] Broncho-vesikuler Suara tambahan [–] Rales [–] Ronchi Batuk [–] Tidak [–] Kuat [–] Wheezing [–] Produktif [√] Kering 11. Abdomen [–] Lembab - [√] Ptechie [–] Rash [–] Echymosis [–] Spider nevi [–] Lesi [√] Datar [–] Cekung [-] Kembung . Leher : [–] Pecah-pecah [–] Celah / Schizis [–] Basah [√] Bersih [–] Hyperemic [–] Kotor [–] Kaku kuduk [–] Parotitis [–] Tonsilitis 10.42 Lidah : 9. Kulit : Warna [–] Pucat [√] Kemerahan [–] Ikterik [–] Cyanosis : [–] Sekitar mulut [–] Saat minum [–] Saat menangis [–] Saat beraktifitas Turgor [√] Elastis [–] Dehidrasi Edema [–] Ya [√] Tidak Lokasi Kelainan 12.

lokasi [–] Supel - 13. Alasan : - Keluhan [√] Tidak ada [–] Ya : - Vaksinasi [√] Ya [–] Tidak. alasan - Kelahiran : [√] Cukup bulan [–] Tidak : [√] Spontan [–] Bantuan : - BBL : 4200 gr PBL : 49 cm - . TUMBUH KEMBANG Riwayat kehamilan : Pemeriksaan [√] Rutin. Genetalia Pria Testis Wanita : Vagina [√] Ada [–] Phymosis [–] Hypospadia [–] Hernia [–] Hydrocel [–] Bersih [–] Kotor [–] Lain-lain : Anus [–] Tidak - : Lubang [√] Ada [–] Tidak [–] Kemerahan [–] Lecet / Laserasi IV.43 [–] Membuncit [–] Tegang [–] Nyeri tekan. Tempat : Puskesmas Purnama [–] Tidak.

NUTRISI 1.44 Lahir langsung menangis Tengkurap …………4 bulan Gigi Pertama ………7 bulan Duduk ……………. Alasan : - .9 bulan Berjalan ………… 15 bulan Bicara : Mengoceh : 8 bulan Kata-kata sederhana : 14 [√] Ya [–] Tidak bulan V.menit Kesulitan dalam pemberian ASI [–] Puting susu tenggelam [–] Tidak ada puting susu [–] Tidak ada ASI [–] Puting susu terlalu besar [–] Bayi malas menghisap [–] Kelainan pada bayi : [–] Lain-lain : Usia penyapihan : 2. Susu Formula Bln / Thn.. Air Susu Ibu Frekwensi menyusui sehari : kapan anaknya mau minum x / hari Berapa banyak sekali pemberian : tergantung dari anaknya Cara pemberian ASI : [√] Langsung [–] Menggunakan alat bantu Lamanya setiap menyusui : .

Makanan padat Usia pemberian makanan padat : 9 bulan Jenis makanan : bubur + lauk-pauk dan sayuran Makan : [–] Tergantung [√] Dibantu sebagian [-] Mandiri Alat makan : [–] Mangkok [√] Piring Alat makan kesukaan : Piring Makanan yang tidak disukai : tidak ada Masalah pemberian makanan :tidak ada [–] Muntah [–] Tidak selera [–] Sariawan [–] Stomatitis [–] Lain-lain : Minum obat : [√] Mudah Cara pemberian : Per oral [–] Sukar . Makanan halus Usia pemberian makanan halus : 4 Bln Jenis makanan halus : Bubur halus Makan : [√] Tergantung [–] Dibantu sebagian [–] Mandiri b.45 Nama susu formula : tidak mengkonsumsi susu Jumlah yang diminum : cc / 24 jam Jumlah dan takaran sekali minum : cc Alat yang dipergunakan : [–] Botol [-] Gelas [–] Sendok a.

46 Pemberian vitamin : [√] Tidak Nama [–] Ya - Dosis pemberian - VI. TIDUR DAN ISTIRAHAT Tidur : Sendiri / ditemani oleh. ELIMINASI a. Buang air kecil : [–] Tergantung [–] Dibantu sebagian [√] Mandiri Mulai di latih teratur sejak : VII.Buang air besar :[–] Tergantung [–] Dibantu sebagian [√] Mandiri Mulai di latih teratur sejak : umur 2 tahun Frekwensi : 1-2 x/sehari Konsistensi : lembek b. Kebiasaan sebelum tidur : tidak ada Masalah sehubungan dengan tidur : [–] Mimpi buruk [–] Ngompol [–] Jalan sambil tidur [–] Mengigau [–] Lain-lain : - Cara mengatasinya : - . kadang sendiri dan kadang masih ditemani oleh ibunya.

Respon anak terhadap sakit [√] Kooperatif [–] Dapat dipercaya [–] Bingung [–] Sangat ingin tahu [–] Pemalu [√] Butuh pertolongan [√] Gelisah [–] Hypoaktif [–] Lambat bereaksi [–] Hyperaktif [–] Marah [–] Depresi [–] Lain-lain b. PSIKOSOSIAL a. Pengertian keluarga tentang penyakit dan alasan dirawat Orang tua pasien mengatakan mengerti anaknya dirawat d.47 VIII. Pengaruh dirawat terhadap keluarga Orang tua pasien menjadi repot dan berharap anaknya cepat sembuh Penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang : [√] Bel tempat tidur [–] Kotak saran [–] Koran / majalah [√] Pispot / urinal [–] Jumlah penunggu / penjaga [√] WC / kamar mandi [–] Perlengkapan yang perlu dibawa [–] Bel kamar mandi . Respon keluarga terhadap sakit Orang tua pasien tampak khawatir dan cemas c.

DATA TAMBAHAN Pada pasien dan keluarga tidak pernah menderita penyakit yang mengenai sistem darah seperti Talasemia dan juga penyakit keturunan seerti Diabetes Melitus.48 [–] TV [√] Jam makan [-] Telpon / wartel [√] Konsultasi dokter [√] Pengatur tempat tidur [√] Barang berharga pasien [√] Pengaman tempat tidur [–] Tamu : jam dan jumlah IX. Tanda Tangan Perawat .

DS : Data .Pasien mengeluh haus Proses Etiologi Masalah pemulihan Resiko kekurangan volume cairan volume cairan . Yohanes 249/3 Diagnosa Medik : DSS Dokter yg merawat : Dr. Sp.49 ( Yofita Pauna ) A. E / 12 Thn Ruang / Kamar : St.A No 1. ANALISA DATA Nama / Umur : An. Ajuar.

jalur 2 Kolf ke II 10 tts/mnt mengalir lancar – 2. P : 20 x/mnt – Terpasang infus RL 2 jalur.50 . N : 68 x /mnt.Pasien mengeluh badan terasa lemah terjadinya .3oC.Pasien mengeluh gelisah hipovolemik DO: - Keadaan umum : pasien tampak sakit berat.Pada saat pengkajian pasien ada tubuh napsu makan DO : – Pasien tampak lemah – Observasi TTV= S : 36. Hasil Lab : PLT = 11 L DS: Perdarahan Risiko . kesadaran compos mentis - Terdapat bintik-bintik merah ( petechiae ) di kedua lengan dan kaki tinggi syok . jalur 1 Kolf ke V.

DS : Proses infeksi virus Hypertermi .3oC.Pasien mengeluh batuk refleks batuk jalan napas .3oC.51 - Capillary refill normal – 2 detik - Observasi TTV= S : 36. HCT= 42. P : 20 x/mnt - Hasil Lab : HGB= 14.Pasien mengeluh nyeri dada dan nyeri epigastrium jika akan batuk DO : – Pasien tampak lemah – Pasien tampak batuk – Inspeksi paru : suara batuk kering – Auskultasi paru normal : vesikular – Observasi TTV= S : 36.1 dan PLT= 11 L 3. N : 68 x /mnt. N : 68 x/mnt. P : 20 x/mnt 4.4 gr/dl. DS : Adanya rangsangan Ketidakefektifan .

Badan pasien teraba hangat .Bibir pasien tampak merah .52 .2 L .7º C .Orang tua pasien mengatakan aktivitas sehari-hari pasien dibantu DO : .00 Wib DO : .Hasil Lab : PLT= 10.Pasien mengeluh badan terasa lemah .Pasien tampak haus 5. DS : .Pasien tampak berbaring lemah di tempat tidur .Kulit pasien tampak kemerahan .Observasi TTV: S= 37.Aktivitas harian pasien dibantu oleh perawat dan keluarga Kelemahan fisik Intoleransi aktivitas .Orang tua pasien mengatakan badan dengue anaknya teraba panas pada tanggal 18-07-06 pada pukul 12.

53 B. Ajuar.A Tgl / waktu Diagnosa Keperawatan 17/07/06 Resiko kekurangan volume cairan 13. E / 12 thn Ruang / Kamar : St. : Dr. Sp. Yohanes / 249-3 Diagnosa Medik : DSS Dokter yg merawat No 1.00 Nama tubuh yang berhubungan dengan Yofita Pauna proses pemulihan volume cairan Teratasi Teratasi sebagian . DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama / Umur : An.

18/07/06 13.00 Risiko tinggi hipovolemik terjadinya yang syok berhubungan Yofita Pauna Belum teratasi dengan perdarahan 3.00 Intoleransi berhubungan fisik aktivitas dengan yang kelemahan Yofita Pauna Teratasi sebagian . 17/07/06 13. 17/07/06 13. 17/07/06 13.54 2.00 Ketidakefektifan jalan napas yang Belum berhubungan dengan adanya refleks Yofita Pauna teratasi batuk 4.00 Hypertermi / peningkatan suhu tubuh yang berhubungan dengan Yofita Pauna proses infeksi virus dengue Sudah teratasi pada tanggal 19/07/06 5.

55 .

56 .

57 .

58 .

59 .

60 .

61 .

62 .

63

64

65

66 .

PELAKSANAAN KEPERAWATAN Nama / Umur : An.67 D. Ajuar.A No Tanggal Jam Pelaksanaan Paraf DP Nama I.III 17/07/06 07.elza / 12 thn Ruang / Kamar : St.00 Mengkaji keadaan umum : pasien tampak sakit berat. mengkaji Yofita . tingkat kesadaran compos mentis. Yohanes / 249-3 Diagnosa Medik : DSS Dokter yg merawat : Dr. Sp.

pasien merasa nyaman. konsistensi lembek. terpasang infuse RL 2 jalur. therapy lain . imboost 3x1 tablet. antara lain instruksinya: cek paket setiap 8 jam. jalur 1 Kolf ke V dan jalur 2 Kolf ke III 10 tetes/menit mengalir lancar di kedua lengan--------I. injeksi cedantron di stop. tetapi minum air putih anaknya kurang. kadang habis 1 porsi kadang juga ½ porsi.II. 07. panas badan anaknya turun naik. menit. infuse tetap 2 jalur. hasil terlampir ke dalam format pengkajian anak dan keluarga----------------- II 09. tekanan darah : 110/70 mmHg.30 Mengobservasi TTV.3˚ C. suhu : 36. nadi : 68 x/ III.--------------------------------. sejak sakit napsu makan anaknya seperti biasa.00 Wib.00 Kolaborasi dengan dokter.68 keluhan : orang tua pasien mengatakan : anaknya sakit sudah 3 hari yang lalu. nyeri dada dan nyeri epigastrium jika akan batuk. defekasi ada 1 kali dengan konsistensi lembek pada pukul 05. melakukan Yofita IV anamnese dan pengkajian.00 Memberikan posisi tidur datar kepada pasien.Yofita II 10. pasien mengeluh batuk. therapy Yofita tambahan syrup comtusi 3x1 cth.

auskultasi paru : bunyi napas normal : veskular.69 dilanjutkan. IV. pasien langsung minum obatnya yaitu: syirup comtusi 3x1 cth dan imboost 3x1 tablet----------------------------------------------------- III.-----------------------------------------------I. makanan dan minum pasien mau. kesadaran compos mentis. therapy oral Yofita siang dibagikan. .20 Infus RL 2 jalur II kolf III habis.12 Mengkaji keadaan umum : pasien tampak sakit berat. keluhan : batuk Yofita masih ada muntah tidak ada defektasi 1x dengan konsistensi lembek. pasien tampak gelisah. 12.45 Mengkaji pola makan: pasien menghabiskan 1/3 porsi makanan dari yang dihidangkan. mengajarkan kepada pasien Yofita teknik relaksasi menarik napas dalam dan batuk efektif. observasi suhu ekstra .III IV 10. memberikan posisi tidur semi fowler kepada pasien. pasien minum kurang lebih 400 cc. inspeksi : pari bunyi I batuk kering----------------------------------- 11. dilanjutkan kembali infuse RL jalur II kolf IV 10 tts/menit Yofita infuse berjalan lancar----------------------------------- I 11. pasien merasa nyaman.45 Memberikan pasien minum air putih.

kedua lengan dan dan kaki tampak bintik-bintik merah. infus mengalir Yofita lancar------------------------------------------- I.30 infus RL kolf ke V jalur I habis dilanjutkan kembali infuse RL kolf ke VI jalur I.30 Mengobservasi TTV : S= 37o C.70 36.3oC----------------------------------------------------I 13. Yofita pasien merasa nyaman.15 Memandikan pasien dalam posisi berbaring.II. P= 19 x/mnt. alat tenun tampak sudah rapi-------------I. terpasang infus RL satu jalur Kolf ke VII 20 tetes/mnt mengalir lancar------------------------------07. pasien tidak mengeluh apaapa. melakukan Yofita evaluasi kepada pasien setelah dilakukan tindakan mengobservasi TTV. melakukan fisiotherapi pada punggung pasien. III 18/7/06 07. TD= 120/70 mmHg. N= 72 x/mnt. alat tenun diganti dan dirapikan.00 Mengkaji keadaan umum : pasien tampak sakit sedang. mengkaji keluhan : pasien mengeluh batuk Yofita dan gatal-gatal pada kedua lengan dan kaki. melakukan pendokumentasian dicatatan keperawatan---------------------------------------------- .III 09.

00 Membagikan therapy oral siang : syrup Comtusi 3x1 cth. infus diuff----------------- I 11. obat oral Imboost diturunkan menjadi 2x1 tablet------------------------- I 10. : memberikan injeksi Antrain 350 mg iv via infus. keluhan batuk Yofita berkurang. pasien langsung meminum obat tersebut IV 12. instruksi antara lain : infus satu jalur bila habis boleh diuff.II 10. observasi suhu extra 37. bila trombosit naik 50 cek Lab 1x/hari. kesadaran compos mentis.IV 13. therapy lain dilanjutkan. pasien merasa lebih tenang---------------------------I.71 I 09.55 Infus RL satu jalur habis.20 Mengkaji pola makan : pasien menghabiskan ½ porsi makanan dari yang dihidangkan---------------- I Yofita Yofita 12. cek Lab pagi Yofita dan sore. mengatakan anaknya mengobservasi suhu tiba-tiba : 39oC.15 Kolaborasi dengan dokter.40 Melakukan perkusi : perut pasien tampak kembung.10 Mengkaji keadaan umum : pasien tampak sakit sedang. pasien tidak ada mengeluh apa-apa pada saat bab dan bak------------------------------------------ I.30 Ibu pasien menggigil. Yofita .7oC. bab ada 1x dengan konsistensi lembek dan bak Yofita sudah 2x.

III 07. TD= 110/60 mmHg-------------------------09. kesadaran compos mentis.00 Memberikan injeksi Acran 3x1 Ampul iv via infus. memakaikan pasien selimut yang tebal. orang tua pasien mengatakan badan anaknya tidak panas lagi. P= 18 x/mnt.II 19/07/06 07. ujung-ujung jari kaki dan tangan dioles dengan minyak telon. mengalirkan kembali infus RL 20 Yofita tetes/mnt. pasien tidak mengeluh apa-apa saat diberikan injeksi Acran. infus mengalir lancar melakukan .10 Mengkaji keadaan umum : pasien tampak sakit IV sedang.5oC. pasien tampak lebih baik dan mulai tertidur---------I. keluhan batuk sudah berkurang--------------- I. pasien tampak lebih baik-----I. memberikan kompres air hangat pada dahi dan axilla. Nadi teraba jelas.35 Mengobservasi TTV : S= 36. tampak bintik-bintik merah dikedua lengan dan kaki. terpasang infus RL 20 tetes/mnt mengalir lancar. infus RL dicepatkan. N= 72 x/mnt. Yofita memberikan extra Cortidex 1 Ampul iv via infus.40 Ibu pasien mengatakan anaknya masih menggigil.IV 13.72 memberikan pasien minum air putih hangat-hangat kuku.

00 Mengkaji pola menghabiskan ½ makan porsi : pasien makanan dari makan yang dihidangkan---------------------------------------------I 12.II 12. sedang. keluhan batuk . terpasang infus Yofita IV. pasien langsung meminum obat tersebut. syrup Comtusi 3x1 cth. melakukan pendokumentasian pada catatan Yofita keperawatan---------------------------------------------I.05 Membagikan therapy oral siang. kesadaran compos mentis. mengalirkan infus RL 30 tetes/mnt mengalir lancar------------------------------------------------------ I 12.10 Infus 3 hari lamanya. atas instruksi dokter maka Yofita infus diuff untuk dipasang kembali------------------- I 11.15 Memasang kembali infus ditangan sebelah kiri. hasil Lab dokter sudah tahu---------------------------------------- I 11. antara lain instruksinya : therapy dilanjutkan.30 Mengkaji keadaan umum : pasien tampak sakit III. cek Lab/hari. RL 30 tetes/mnt mengalir lancar.00 Kolaborasi dengan dokter. infus RL 30 tetes/mnt (A).73 pendokumentasian dicatatan keperawatan-----------II 10. injeksi Acran distop. infus berhasil dipasang dan tidak ada tanda plebitis.

tampak bintik-bintik merah pada kedua lengan dan kaki. mengobservasi Suhu: 36.4oC. pasien tampak tenang. menganjurkan kepada pasien untuk beristirahat kembali. pasien menganggukkan kepala--------------------------------- Yofita Yofita Yofita .74 V sudah berkurang.

75 Yofita Yofita Yofita .

Ajuar. E / 12 thn Ruang / Kamar : St. EVALUASI KEPERAWATAN Nama / Umur : An. Yohanes / 249-3 Diagnosa Medik : DSS Dokter yg merawat No.A S O AP Paraf . DP Tanggal Jam : Dr.76 E. Sp.

jalur l kolf V.Turgar kulit baik : elastis .Bibir tampak merah A: Masalah resiko kekurangan volume cairan tubuh belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan II 13.Pasien minum kurang lebih 2 gelas sehari .00 S: .Terpasang infuse RL 2 jalur.Pasien mengeluh haus .Terdapat bintik-bintik merah dikedua lengan dan kaki ( petechiae ) Yofita . O: .Pasien mengeluh lemah .Pasien tampak gelisah O: .Pada saat pengkajian pasien ada nafsu makan. jalur 2 kolf III 10 tetes/mnt mengalir lancar .Pasien tampak lemah .77 I 17/07/06 13.Hasil Lab : PLT = 11 L .00 Yofita S: .

3oC.Observasi TTV : S= 36.Pasien mengeluh batuk .Hasil Lab: HBG = 14.Pasien mengeluh nyeri dada dan sakit epigastrium saat akan batuk O: .1. HCT= 42.00 S: Yofita .Inspeksi paru : suara batuk kering . TD= 110/70 mmHg A: Masalah resiko terjadinya syock hipovolemi belum Teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan III 13.Pasien tampak batuk . N= 68x/menit. kesadaran compos mentis .Observasi TTV: S= 36. PLT= 11L .Auskultasi pola nafas normal: vesicular . TD= 110/ 70 mmHg A: Masalah ketidakefektifan jalan nafas belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan .KU: tampak sakit berat.3oC. N= 68 x menit.Capilary refil normal kurang dari 2 detik .78 .4 g/dl. P= 20 x/ mnt.

Pasien minum kurang lebih 30 cc .Napsu makan pasien tetap ada O: .00 S: .00 S: .Pasien tampak lemah .Pasien mengeluh haus masih ada .Terpasang infus RL 20 tetes/mnt mengalir lancar A: Masalah keperawatan resiko kekurangan volume cairan tubuh mulai teratasi sebagian Yofita .Aktivitas harian dibantu oleh perawat dan keluarga A: Masalah intoleransi aktivitas belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan I 18/07/06 13.Pasien tampak berbaring lemah di tempat tidur .Pasien mengeluh badan terasa lemah Yofita O: .79 V 13.

HCT= 39.00 S: . N= 72 x/mnt.Pasien tampak lemah .6.Pasien masih mengeluh gelisah Yofita O: . P= 18 x/mnt TD: 120/70 mmHg A: Masalah resiko terjadinya syock hipovolemik belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan III 13.Hasil Lab: HGB= 13.Pasien mengeluh lemah .KU: tampak sakit sedang.80 P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan II 13.7 g/dl. kesadaran compos mentis .Pasien mengeluh batuk masih ada Yofita . P= 18 x/ .Terdapat bintik-bintik merah pada kedua lengan dan kaki ( petechiae ) .7oC. N= 80 x/mnt.Nyeri dada dan nyeri epigastrium masih dirasakan O: .Observasi TTV: S= 37oC.00 S: . PLT= 22 L .Observasi TTV: S= 37.

Pasien mengeluh badan masih lemah O: Yofita .Hasil Lab= PLT: 10.pasien mengeluh badan terasa panas O: .Kulit pasien tampak kemerahan .81 mnt.Observasi TTV : S = 37.Bibir pasien tampak merah A: Masalah hipertermi belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan V 13.7oC . TD= 110/70 mmHg .Inspeksi paru : suara batuk kering A: Masalah ketidakefektifan jalan napas belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan S: IV 13.00 .Orangtua pasien mengalakan badan anaknya teraba Yofita panas pada tanggal 18/07/06 pukul 12.Badan pasien terasa hangat .2 L .00 S: .00 Wib .

Keluhan haus sudah tidak dirasakan oleh pasien .Pasien makan dan minum mau .Aktivitas harian dibantu oleh perawat dan orang tua A: Masalah intoleransi aktivitas belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan I 19/07/06 13.00 S: .Pasien tampak berbaring lemah di tempat tidur .Terpasang infus RL 30 tetes/mnt mengalir lancar A: Masalah resiko kekurangan volume cairan tubuh mulai teratasi sebagian P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan Yofita .82 .Pasien tampak segar .Napsu makan pasien tetap ada O: .

Pasien mengeluh badan masih lemah Yofita .Pasien masih tampak terkadang batuk .00 S: .Observasi TTV: S= 36.4oC. PLT= 60 L A: Masalah resiko terjadinya syock hipovolemi belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan III 13.Pasien mengeluh batuk masih dirasakan . kesadaran compos mentis .KU: pasien tampak sakit sedang.Pasien mengeluh terkadang masih gelisah O: .Nyeri dada dan nyeri epigastrium terkadang masih dirasakan O: .4 g/dl.9. HCT= 38.Bintik-bintik merah pada kedua lengan dan kaki masih tampak .Hasil Lab: HGB= 13.00 S: . N= 72 x/mnt.83 II 13. P= 18 x/ Yofita .

Pasien mengeluh badan sudah mulai segar .00 S: . TD= 110/60 mmHg A: Masalah ketidakefektifan jalan napas belum teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan IV 13.Gelisah masih kadang-kadang dirasakan O: .Pasien masih tampak berbaring lemah di tempat .Observasi TTV: S= 36.Badan pasien tidak teraba panas .4oC .00 S: Yofita .Pasien tidak mengeluh batuk .Hasil Lab: PLT= 60 L A: Masalah hipertermi teratasi P: Rencana tindakan keperawatan di STOP V 13.84 mnt.Orang tua pasien mengatakan badan anaknya sudah Yofita tidak panas lagi O: .

Adapun ruang lingkup pembahasan kasus ini berdasarkan landasan teoritis dan asuhan yang nyata dengan pendekatan proses keperawatan.Aktivitas sehari-hari seperti makan sudah mandiri A: Masalah intoleransi aktivitas mulai teratasi P: Rencana tindakan keperawatan dilanjutkan BAB IV PEMBAHASAN KASUS Dalam bab ini penulis akan membahas mengenai permasalahan yang ditemukan dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak E dengan gangguan sistem hematologi : DSS. dirawat di unit St. . Yohanes bed 249/3 RSSA Pontianak selama 3 hari (17-19 Juli 2006).85 tidur .

86

A.

Pengkajian
Pada tahap ini semua data / informasi tentang pasien yang dibutuhkan
dikumpulkan dan dianalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan yang
dilakukan melalui tiga tahap yaitu : pengumpulan, pengelompokan atau
pengorganisasian serta menganalisa dan merumuskan diagnosa keperawatan.
Dalam melaksanakan pengkajian untuk memperoleh data, penulis
melakukan sengan wawancara dengan orang tua pasien, observasi, dan
pemeriksaan fisik langsung terhadap pasien, juga didiskusikan dengan perawat
ruangan dan dokter yang merawat serta klarifikasi terhadap data yang ada distatus
/ catatan medis pasien.
Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, tetapi ada sebagian kecil
yang menyimpang, hal ini disesuaikan dengan kondisi pasien saat dikaji. Dalam
pengkajian data yang khas yang behubungan dengan penyakit pasien adalah
pasien mengeluh gelisah, pasien tampak lemah, hasil laboratorium terutama: HGB
yang tinggi, HCT yang tinggi serta PLT yang rendah.

B.

Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang ditemukan penulis pada saat pengkajian
adalah :

87

1. Resiko kekurangan volume cairan tubuh yang berhubungan dengan proses
pemulihan cairan tubuh, hal ini disebabkan pasien jaramg minum air putih
serta sering mengeluh haus, tetapi napsu makan pasien tetap ada
2. Risiko terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan,
hal ini disebabkan adanya keluhan lemah dan gelisah, terdapat petechie pada
kedua lengan dan kaki pasien serta pada hasil Laboratorium menunjukkan :
HGB= 14,4 gr/dl, HCT= 42,1 dan PLT= 11 L
3. Ketidakefektifan jalan napas yang berhubungan dengan adanya rangsangan
refleks batuk , disebabkan adanya keluhan batuk dan nyeri dada serta neri
epigastrium saat akan batuk, pada saat melakukan inspeksi : suara betauk
kering, sedangkan saat melakukan auskultasi paru : suara napas normal yakini
vesikuler
4. Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue, disebabkan
adanya pengulangan dari virus dengue sebelumnya.

C.

Perencanaan
Perencanaan disusun berdasarkan prioritas masalah yang ada sesuai
dengan kondisi pasien. Tujuan ditetapkan dengan mengacu pada masalah yang
akan dihilangkan / diminimalkan dan akan menjadi alat ukur tercapainya tujuan
adalah bagian akhir dari perencanaan, dimana perawat memutuskan strategi dan
intervensi keperawatan yang akan dilakukan. Strategi dan tindakan yang akan

88

dilakukan diarahkan langsung pada etiologi atau faktor pendukung dari diagnosa
keperawatan.
Pada pasien anak E dengan DSS perencanaan yang dibuat penulis
umtuk menghilangkan keluhan yang ada pada pasien saat itu, dan pada setiap
diagnosa mulai dari diagnosa pertama sampai diagnosa kelima, pembuatan
perencanaan tidak terdapat hambatan. Hal tersebut dikarenakan tercapainya
sebagian dari perencanaan yang dibuat dan didukung oleh keadaan pasien yang
sudah mulai membaik.

D.

Implementasi
Pada tahap ini penulis melakukan kegiatan berupa implementasi
terhadap diagnosa sebagai berikut :
a. DP1 Resiko kekurangan volume cairan tubuh yang berhubungan
dengan proses pemulihan volume cairan dari kelima implementasi
tersebut dapat dilaksanakan yaitu
1. Mengkaji tanda-tanda vital
2. Monitor tetesan infuse
3. Catat intake dan out put cairan
4. Berikan pasien minum air putih
5. Kolaborasi dengan dalam pemberian cairan intravena
b. DP2 Resiko terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan dengan
perdarahan, ada enam implementasi yang dilakukan yaitu :

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy antipiretik . Kaji tanda-tanda petechie 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy ekspektoran d. ada 5 implementasi yang dilakukan yaitu : 1. Ajarkan tehnik relaksasi 6. Kaji adanya tanda-tanda perdarahan 3. Kaji tanda-tanda vital 2. Melakukan inspeksi paru dan auskultasi paru 3. Berikan pasien banyak minum air putih 5. DP3 Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya rangsangan refleks batuk. berikan kompres air hangat jika badan panas 3. Anjurkan pada pasien untuk banyak minum iar putih 5. Monitor hasil Lab 5. Berikan posisi tidur datar 6. Berikan posisi tidur semi fowler 4. Kaji tanda-tanda vital 2. Kaji tanda-tanda vital 2. Ciptakan lingkungan yang tenang dan sirkulasi udara yang baik 4. DP4 Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.89 1. ada enam implentasi yaitu : 1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy c.

Anjurkan pada pasien untuk mobilisasi secara bertahap 3. Resiko kekurangan volume cairan tubuh ( mulai teratasi sebagian ) Pasien sudah tidak mengeluh haus. Kaji tingkat ketidakmampuan pasien dalm beraktivitas 2. E. Bantu pasien dalam memenuhi aktivitas sehari-hari 4. Risiko terjadinya syock hipovolemik ( belum teratasi ) . ada 7 implementasi yang dilakukan yaitu : 1. Kemudian tindakan keperawatan tersebut beserta respon pasien didokumentasikan pada catatan keperawatan atau pada lembar pelaksanaan keperawatan.90 e. Ubah posisi pasien untuk menghindari penekanan pada daerah yang lemah 7. Berikan perawatan kulit. Evaluasi Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan pada setiap diagnosa : 1. Kolaborasi dengan ahli fisiotherapi Dalam pelaksanaan kegiatan keperawatan ini penulis bekerja sama dengan perawat ruangan. hasil Lab terutama PLT masih rendah 2. DP5 Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik. massase dengan minyak 6. Dekatkan barang-barang pasien didekatnya 5. keluarga pasien serta team kesehatan lainya.

Kesimpulan Setelah melaksanakan proses keperawatan pada pasien dengan penyakit Dengue shock syndrome ( DSS ).4oC 5.91 Dari hasil pengkajian terakhir didapatkan keadaan umun pasien yang baik . Hipertermi ( teratasi pada tanggal 19/07/06 ) Dari observasi yang dilakukan suhu pasien normal yaitu 36. PCT = 60 L 3.tingkat kesadaran compos mentis. Ketidakefektifan jalan napas ( belum teratasi ) Keluhan batuk masih terkadang pasien rasakan 4. Intoleransi aktivitas ( teratasi sebagian ) Aktivitas harian seperti makan sudah pasien lakukan sendiri BAB V PENUTUP A. maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :. .

Risiko terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan. bias menjadi literature tambahan yang berguna bagi pembaca . tanda-tanda perdarahan dapat diatasi serta pemberian therapy oabat-obatan yang benar 3. Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue 5. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik B. Untuk Rumah Sakit. pemberian cairan sangat penting dalam hal ini di dukung dengan pemberian therapy yang adekuat 2. Resiko kekurangan volume cairan tubuh yang berhubungan dengan proses pemulihan cairan tubuh. Ketidakefektifan jalan napas yang berhubungan dengan adanya rangsangan refleks batuk 4. dapat menambah pengetahuan baru serta dapat menerapkan ke dalam praktek 3.92 Diagnosa keperawatan yang ada ada pasien 1. agar kerjasama diantara perawat tetap dipertahankan dan menberikan pendidikan secara berkala pada setiap perawtan yang dilakukan 2. Saran 1. Untuk perpustakaan. Untuk pendidikan. respon pasien baik waktu dilakukan implementasi.

syok hipovolemik.93 4. DAFTAR PUSTAKA . serta kematian. Untuk pendidikan kesehatan. jika tidak akan terjadi perdarahan. pasien dengan DSS harus segera ditangani.

All. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Doengoes. Carpenito.all. Buku Saku Keperawatan Pediatri. et. Pearce (2000). Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Lynda Juall. Hardjasaputra. Edisi II. Gramedia Pustaka Utama.94 Beitz. ME. Jakarta : PT.L. (2002) Data Obat Di Indonesia. Evelyn C. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. . Ecily L. (2002). (1999). et. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Rencana Asuhan Keperawatan. S. edisi 10 jakarta : Grafidian Medipress.P. Edisi 3. (1999).