You are on page 1of 2

PRIVATISASI PERBANKAN DAN PERTAMBANGAN

PALING MUDAH DILAKUKAN

Jakarta, Sinar Harapan
Pemerintah mengupayakan penerimaaan negara dari privatisasi BUMN dalam APBN
2005 berasal dari sektor perbankan dan pertambangan dengan pertimbangan paling
mudah dilakukan untuk saat ini. Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan hal
tersebut di sela Raker Gabungan antara Pemerintah dengan Komisi IV, VI, VII, dan XI di
Jakarta, Senin (13/6).
Menurut Sugiharto, Panja Panitia Anggaran DPR sudah menyepakati perusahaan mana
saja yang disiapkan untuk diprivatisasi dalam rangka menutup target penerimaan sebesar
Rp 3,5 triliun.
Dalam APBN Perubahan 2005, penerimaan negara dari BUMN ditargetkan Rp13 triliun
terdiri dari Rp 3,5 triliun hasil privatisasi dan Rp 9,5 triliun dari setoran deviden
perusahaan. Namun, Sugiharto menjelaskan privatisasi tersebut sangat tergantung kepada
waktu, harga, dan ukuran berapa besar saham pemerintah yang akan dilepas di BUMN.
“Waktu yang tidak tepat bisa menyebabkan tekanan harga pada saham yang akan dijual
sehingga mempengaruhi target APBN. Jadi kita harus benar-benar cerdas, mencari waktu
yang tepat untuk privatisasi,” katanya.
Menteri menegaskan, sesuai UU APBN dirinya berusaha menjalankan program
privatisasi dan menggenjot deviden secara bersamaan. Namun, Sugiharto tidak bersedia
menjelaskan saham bank apa saja yang akan dijual, demikian juga dengan saham
pertambangan.
Informasi yang berkembang, pemerintah akan melepas sebagian kepemilikan saham di
PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan sejumlah saham di Bank BUMN. ”Karena ini
menyangkut UU Pasar Modal, informasi mengenai perusahaan apa saja yang akan direlisting belum bisa disebutkan karena akan menimbulalkan spekulasi harga saham,”
katanya.
Menyangkut rencana penjualan sebagian saham PT PGN, Sugiharto mengungkapkan
DPR sebelumnya sudah menyetujui. Dalam enam bulan ke depan strategi dasar

.pemerintah terus mendorong BUMN menaikkan pendapatan dan melakukan efisiensi sehingga deviden yang akan dibayarkan pemerintah bisa lebih besar.