You are on page 1of 10

TUGAS MAKALAH ANTROPOLOGI BUDAYA

PERBANDINGAN PRINSIP ILMU KAWRUH KALANG – KAWRUH GRIYA DAN
FENG SHUI PADA ARSITEKTUR

OLEH :
TRI HESTI MILANINGRUM
14/372838/PTK/9890

PROGRAM STUDI S2 TEKNIK ARSITEKTUR
PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

Indonesia memiliki 724 suku bangsa dan masih bisa bertambah lagi. Adat istiadat. antara lain agama. kepercayaan. Nyata berupa ruang dan bentuk. Salah satu wujud kebudayaan adalah arsitektur. dan tidak nyata berupa makna atau filosofi dari konsep bentuk arsitektur. Wujud arsitektur dapat berupa nyata dan tidak nyata. kesenian. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan ragam budaya. dan lainnya. Kitab Kawruh Kalang (ilmu tentang ruang) berhuruf Jawa. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. bahasa. Budaya dihasilkan oleh sekelompok manusia yang saling berinteraksi. kepercayaan pun bisa berbeda antara satu suku dengan lainnya. manusia melakukan proses adaptasi. Dengan adanya banyaknya jumlah suku bangsa. itu berarti banyak pula kebudayaan yang ada. Sedangkan Kawruh Griya sebagai naskah yang merupakan perkanalan akan 1 . Filosofi arsitektur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kitab ini menguraikan tentang kerangka bangunan. Arsitektur Jawa memiliki ilmu yang dijadikan pedoman dalam pembangunan bangunan terutama rumah.BAB I PENDAHULUAN A. Konsep arsitektur dapat terbentuk berlandaskan kepercayaan. Salah satu arsitektur di Indonesia yang memiliki filosofi dari berbagai faktor tersebut adalah Arsitektur Jawa. lingkungan. salah satu nya adalah suku bangsa. prinsip – prinsip ukurannya. ditulis oleh pihak nDalem Kepatihan Solo (1882) pada zaman pemerintahan Susuhunan Paku Buwono IX (1861 – 1893). Ilmu itu disebut Kawruh Kalang dan Kawruh Griya. Dari proses itu munculah beberapa teori atau ilmu dalam arsitektur. Dapat disimpulkan bahwa konsep arsitektur pun beragam. Kelompok manusia. Indonesia memiliki banyak kebudayaan. hingga bahan yang seharusnya digunakan untuk rumah rakyat hingga rumah raja. lingkungan dan alam. Dari beberapa faktor tersebut. Kitab ini terkesan sebagai “buku pegangan teknis” praktisi arsitektur zaman itu.

khususnya dalam aturan-aturan pembangunan rumah. B.“lingkungan binaan” Jawa. Salah satu nya adalah adanya ilmu Feng Shui dalam arsitektur. Selain konsep arsitektur yang muncul dari masyarakat lokal. Dasar keilmuan arsitektur Feng Shui awalnya dilandasi oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos dan menyejajarkan aturan-aturan yang menentukan terjaganya harmoni-harmoni kosmis itu. 2005). Ilmu ini terus berkembang ke dalam aplikasi arsitektur modern seiring perkembangan budaya Tionghoa di Indonesia. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas. yaitu merupakan pedoman masyarakat dalam ber – arsitektur agar menciptakan ruang yang seimbang dan harmonis dengan lingkungannya. Sifat kebudayaan yang dinamis. maka didapatkan permasalahan sebagai berikut : - Bagaimana Kawruh Kalang – Kawruh Griya digunakan dalam arsitektur? - Bagaimana Feng Shui digunakan dalam arsitektur? - Apakah ada kesamaan prinsip pada Kawruh Kalang – Kawruh Griya dengan Feng Shui? C. 2 . Tujuan Untuk mengetahui persamaan dan perbedan ilmu Kawruh Kalang – Kawruh Griya dengan Feng Shui yang mempengaruhi arsitektur. Dengan penjelasan tersebut. arsitektur juga dipengaruhi dari luar. mengakibatkan adanya konsep arsitektur yang baru yang kemudian juga dijadikan pedoman oleh masyarakat Indonesia. Feng Shui merupakan ilmu pengetahuan arsitektur yang berasal dari budaya Cina purba dan dikembangkan sejak 4700 tahun yang lalu (Dian. selalu berubah dan terus bergerak mengikuti dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat. antara Kawruh Kalang – Kawruh Griya dan Feng Shui memiliki kesamaan. sedangkan bagi para undhagi merupakan pengkayaan pengetahuan.

Sehingga arsitektur sesungguhnya adalah bangunan gedung yang ditingkatkan kualitasnya. Katerarahan estetik ini menurut Vitruvius dapat diwujudkan dengan 3 syarat. 2003). atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki. nilai dan makna arsitektural sebagai kekuatan utamanya (Yoseph. dan dengan demikian menampilkan dan mengkomunikasikan kualitas. dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya (Peursen.BAB 2 PEMBAHASAN A. dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Kalau hal ini dilakukan maka bangunan yang dihasilkan merupakan seonggok bahan 3 . Makna dari sebuah konsep tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Suatu karya arsitektur yang utuh adalah disamping nilai estetika dan kekuatan dalam struktur dituntut pula suatu nilai atau makna yang tidak dapat diwujudkan dalam bentuk dan wujud yang kasat mata yaitu suatu karya yang mempunyai nilai filosofi yang tinggi (Pratikto. sains.P. segala jenis naungan yang memberi keleluasaan kepada manusia untuk bergerak bebas di dalamnya adalah sebuah bangunan gedung. dan Venustas. 2003). hal:7-11). Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. 2008. Arsitektur tidak akan pernah lepas dari karya arsitektur itu sendiri. yaitu Firmitas. Karya arsitektur berbeda dengan bangunan gedung. menemukan. Utilitas. Suatu makna diwujudkan dengan melihat konsep dari sebuah arsitektur. Menurut Nicolaus Pavsner. Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Karya Rancangan Arsitektur adalah usulan gubahan tingkungan binaan sebagai karya arsitektur. sedangkan karya arsitektur adalah bangunan gedung sebuahkarya yang dibuat dengan keterarahan estetik. Pengertian Ilmu Arsitektur Ilmu. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya.

Masyarakat Jawa mendesain sebuah bangunan sebagai representasi dari makrokosmos dan mikrokosmos. 2003). dan mah yang bersifat keibuan. Ideologi Orang Jawa terhadap Arsitektur Orang Jawa menyebut rumah tinggalnya sebagai omah. 1996. Orang Jawa mengibaratkan rumah sebagai pohon. om yang diartikan sebagai angkasa dan bersifat kebapakan. Rumah dan bangunan yang dirancang oleh masyarakat jawa dimaknai sebagai simbolisasi dari jagad manusia yang terdiri dari Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi (Pitana. dan mikrokosmos adalah jasad manusia (Suseno. Yang artinya bahwa orang yang masuk kerumah diumpamakan dengan sedang berteduh di bawah pohon/kayu yang besar/ rindang.) (Prijotomo. hal:34).. 1981).bangunan yang didukung oleh rangka struktur yang kelihatan mati seolah-olah tanpa mempunyai "roh" kehidupan yang ada dalam bangunan tersebut (Pratikto. dimana makrokosmos dalam dunia Jawa adalah alam lahirnya. Pada gambar menunjukkan bahwa dalam wujud arsitektur orang Jawa menunjukkan pemahaman kedalaman makna akan jagad.. 2011: hal 319). 1999. h:114-118). B. tempat manusia 4 . Gambar : Skema Konsep Persatuan Ibu Bumi dan Bapa Langit (Tjahjono..”. “dados tiyang sumusuk ing griya punika diumpamaken ngeyup ing sakngandhaping kajeng ageng..

Bentuk rumah Panggang – Pe merupakan bentuk paling dasar sehingga secara struktur masih sederhana. dan dinding di sisi – sisinya sebagai penahan hawa sekitar. Rah Panggang Pe biasanya digunakan untuk tempat beristirahat petani di sawah. Hal ini menunjukkan representasi orang Jawa mengenai kecintaan nya terhadap jagad. Oleh karena itu. Rumah Kampung memiliki struktur lebih kompleks dari Panggang – Pe. Saka guru diikat dengan blandar tumpangsari yang bersusun semakin ke atas semakin melebar. Rumah Joglo memiliki ukuran terbesar diantara rumah lainnya. dan Joglo. Memiliki denah bujur sangkar dengan 4 tiang utama yang disebut saka guru. dan Tajug. Namun yang dijadikan rumah tinggal hanya Kampung. Joglo. 5 . segala yang berhubungan dengan rumah tinggal orang Jawa harus dirancang dengan pedoman yang menunjukkan makna dari pandangan hidup. Sunduk kili terletak di ujung atas saka guru dan dibawah blandar. C. Umumnya denah berbentuk empat persegi panjang dengan saka 6 atau 8 dan seterusnya. Rumah Limasan merupakan perkembangan dari bentuk – bentuk rumah sebelumnya. Bagian kerangka atap disebut sunduk kili yang berfungsi sebagai penguat bangunan. Rumah Kampung pada zaman dulu kebanyakan digunakan oleh masyarakat golongan bawah. Limasan. Perubahan Limasan biasanya karena adanya penambahan pada sisi – sisinya yang disebut empyak emper atau atap emper. Kampung. Memiliki saka (tiang) sebanyak 4 atau 6 buah. Arsitektur Jawa Pada dasarnya Arsitektur Jawa memiliki 5 bentuk rumah yaitu Panggang Pe. Denah berbentuk empat persegi panjang dan dua buah atap. Limasan.berteduh. atap kejen atau cocor (berbentuk segitiga sama kaki) dan brunjung (berbentuk jajaran genjang sama kaki). Dan Rumah Tajug biasanya digunakan untuk masjid.

hal: 86). 2005). Pringgitan berbentuk seperti serambi. Letaknya dibelakang pendapa dan di depan dalem ageng. Dalem ageng merupakan pusat dari rumah Jawa. Senthong digunakan sebagai tempat 6 . dan senthong tengen. Pendapa berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan bersifat terbuka. Sebuah rumah tinggal Jawa terdiri dari rumah induk dan rumah tambahan (Frick.Gambar : Bentuk Dasar Arsitektur Jawa (Kartono. Tempat ini biasanya untuk mengadakan pertunjukkan wayang. kuncungan. pringgitan. dan pada dalem ageng terdapat senthong kiwa. senthong tengah. Fungsi utama sebagai ruang keluarga dan bersifat pribadi. 1997. Rumah induk terdiri dari pendapa.

Menurut orang Jawa. Selain rumah induk. Gambar : Skema Denah Rumah Tinggal Arsitektur Jawa (Kartono. gadri. rumah Jawa memiliki rumah tambahan. Sedangkan senthong tengah digunakan untuk pemujaan Dewi Sri agar keluarga selalu sejahtera.penyimpanan. 2005). gandhok kulon (barat) untuk kamar tidur anak perempuan. yang semua berarti rumah. dan dalem. Filosofi Konsep Ruang Arsitektur Jawa Omah memiliki kata lain yaitu griya. pekiwan diletakkan di pojok belakang sebelah kiri karena dianggap area kotor. Senthong kiwa dan tengen sebagai ruang tidur dan menyimpan harta benda untuk keperluan wanita. pawon. Menurut Koentjaraningrat (1984) dan Santosa (2000) kata omah-omah 7 . Gandhok wetan (timur) digunakan untuk kamar tidur anak laki – laki. Seringkali digunakan juga untuk menyimpan benda pusaka. Di sebelah kiri karena kiri dianggap kurang baik (kotor – kurang baik). yaitu gandhok. Pawon berfungsi sebagai dapur. Biasanya ruangan ini dihias dan diberi bantal guling tapi tidak digunakan untuk tidur. dan pekiwan. Gadri merupakan ruang makan yang terletak di belakang senthong. Gandhok terletak di samping kanan dan kiri dalem ageng. Pekiwan berfungsi sebagai kamar mandi.

kemakmuran. Dan lain hal dengan griya yang merujuk pada pengertian rumah sebagai suatu “bangunan” secara fisik (Prijotomo. dan ruang-ruang di dalam rumah serta situasi di sekeliling rumah. yang dikaitkan dengan status pemiliknya. Di samping itu. ngomahake membuat kerasan atau menjinakkan. dan kepercayaannya ikut berperanan. Sementara itu. Sedangkan pendapa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan sesama manusianya (Priyotomo. 2011. ngomah-ngomahake menikahkan.1984). Pendapa adalah elemen yang sangat penting bagi bangunan Jawa. cetak pintu utama rumah.) (Widayat. latar belakang sosial. letak.” (Bila orang memiiliki griya tanpa pendhapa. letak pintu pekarangan. kerangka rumah. Dengan kata lain dalem (saya) sama dengan dalem (rumah) menunjuk dengan langsung dan tegas tentang sosok manusia. Kawruh Kalang – Kawruh Griya “Di dalam bangunan rumah adat Jawa tersebut ditentukan ukuran. pomahan pekarangan rumah.berarti berumah tangga. Jadi tidak bisa berdiri tegak. Agar memperoleh ketentraman. “Umpami tiyang gogriyan tan pandhapa kaupamakaken kekajengan tanpa uwit dados boten jumeneng aranipuna. kata dalem memiliki arti “saya”.1984). kerangka. Senthong tengah yang terletak dibagian omah merupakan tempat bagi pemilik rumah untuk berhubungan dan menyatu dengan Illahi. sehingga membuahkan pandangan. Pada rumah induk (omah) istilah dalem dapat diartikan sebagai keakuan orang Jawa karena kata dalem adalah kata ganti orang pertama (aku) dalam bahasa Jawa halus. 2006. kesejahteraan. hal:259) D. arah. diumpamakan pohon tanpa batang. pomah penghuni rumah betah menempati rumahnya. rumah adalah saya – dan saya adalah rumah. Ke-aku-an dalam pandangan dunia Jawa terletak pada kesatuan dengan Illahi yang diupayakan sepanjang hidupnya dalam mencari sangkan paraning dumadi dengan selalu memperdalam rasa yaitu suatu pengertian tentang asal dan tujuan sebagai mahluk (Magnis Suseno. kondisi perawatan rumah. maka sebelum membuat rumah di’petang’ (diperhitungkan) dahulu tentang waktu. ukuran dan 8 . h: 250-251).

dan sebagainya. hingga bahan yang seharusnya digunakan untuk rumah rakyat hingga rumah raja. Kitab ini terkesan sebagai “ buku pegangan teknis” praktisi arsitektur jaman itu. Pigeaud memerintahkan untuk melatinkan kitab ini dengan ketikan. Sedangkan Kawruh Griya merupakan salah satu judul dari Kitab Kawruh Kalang yang selengkapnya berbunyi “Kawruh Griyanipun Tiyang Djawi” (Pengetahuan `Griya' Orang Jawa). Kitab Kawruh Kalang (ilmu tentang ruang) ditulis dengan bahasa dan huruf Jawa. Contoh nya pada Masyarakat Jawa yang memiliki ilmu Kawruh Kalang – Kawruh Griya. Pada masyarakat Indonesia makna dari sebuah konsep arsitektur sangat melekat dan mendarah daging. danghyang desa. setiap akan membuat rumah baru. sedangkan yang kedua adalah yang menyajikan petunjuk perancangan bangunan. Di dalam suasana kehidupan kepercayaan masyarakat Jawa. Tanaya. Kitab ini menguraikan tentang kerangka bangunan. h: 66-78). Kedua hal ini dapat mempresentasikan bagaimana Arsitektur Jawa memiliki makna filosofi yang mendalam. Kemudian pada awal tahun 1970-an mulai dilakukan penerjemahan dalam Bahasa Indonesia. Th. Pada tahun 1930-an. ditulis tangan oleh pihak nDalem Kepatihan Solo (1882) pada zaman pemerintahan Susuhunan Paku Buwono IX (1861-1893). agar dalam usaha pembangunan rumah baru tersebut memperoleh keselamatan” (R. tidak dilupakan adanya sesajen. prinsip – prinsip ukuran. 1984. Naskah Kawruh Griya memiliki dua kelompok besar naskah-naskah yang pertama.bangunan rumah yang akan dibuat. kumulan desa dan sebagainya. naskah yang menyajikan seluk beluk bagian bangunan beserta pengukuran dan pengkonstruksiannya. 9 . yaitu benda-benda tertentu yang disajikan untuk badan halus.