You are on page 1of 15

1

I.

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain
sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus
bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya
jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering
dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas
disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 1997; 229).
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6
bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun
pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada
laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita
didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki. (ME.
Sumijati, 2000;72-73)
Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab./SMF Ilmu Kesehatan
Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden
kejang demam. Pada tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83
orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %). Pada tahun 2000 ditemukan
pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %).
Dari data di atas menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar
37%.
Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan
kerusakan sel-sel otak kurang menyenangkan di kemudian hari, terutama adanya
cacat baik secara fisik, mental atau sosial yang mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan anak. (Iskandar Wahidiyah, 1985 : 858) .
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan
pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat
diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan
bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut
untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu
memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi

1

meningkatkan harga diri yang positif. 2 . 262). Prioritas asuhan keperawatan pada kejang demam adalah : Mencegah/mengendalikan aktivitas kejang. Soetomo Surabaya”. preventif. 1999. mempertahankan jalan napas. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit. penulis tertarik membuat karya tulis dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Anak “A” dengan Kejang Demam di Ruang Anak RSUD Dr. prognosis dan kebutuhan penanganannya.2 aspek promotif. kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual. melindungi pasien dari trauma. (I Made Kariasa.

TINJAUAN TEORI I. Pengertian Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot. adanya benda asing dalam luka yang menyembuh . dan cairies gigi. otitis media. Toksin ini menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun mnyeluruh. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh : Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme. maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani II.3 TETANUS A. Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na + rendah. Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. kimiawi atau aliran 3 . kecuali ion klorida (Cl-). Bila toksin banyak. selain otot bergaris. otot polos dan saraf otak juga terpengaruh. tanpa disertai gangguan kesadaran. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K +) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya. menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Etiologi Sering kali tempat masuk kuman sukar dikteahui teteapi suasana anaerob seperti pada luka tusuk. III. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Patofisiologi Bentuk spora dalam suasana anaerob dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel. sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya. lukakotor.

Diikuti gejala risus sardonikus. Pada orang dewasa sirkulasi otak mencapai 15 % dari seluruh tubuh. meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia. mulai terjadi kejang spontan yang semakin sering. sedang . Kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea. 4 . Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan terjadi kejang. ekstensi pada telapak kaki) - Pada keadaan berat. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. hiperhidrosis.kelainan irama jantung dan akhirnya hipoksia yan gberat - Bila periode”periode of onset” pendek penyakit dengan cepat akan berkembang menjadi berat Untuk mudahnya tingkat berat penyakit dibagi : 1. IV. Manifestasi Klinik - Keluhan dimulai dengan kaku otot. Prognosa Bila periode”periode of onset” pendek penyakit dengan cepat akan berkembang menjadi berat V. disusul dengan kesukaran untuk membuka mulut (trismus) .4 listrik dari sekitarnya Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. trismus yang tampak nyata. hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat. asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik. hiperkapnia. opistotonus dankekauan otot yang menyeluruh.kekauan otot dinding perut dan ekstremitas (fleksi pada lengan bawah. gangguan saraf otonom seperti hiperpireksia. dapat terjadi kejang spontan yang makin lam makin seinrg dan lama. ringan . hamya trismus dan kejang lokal 2.

000 KI c. dilanjutkan dengan dosis rumatan.bila perlu .000-100.beri nutrisi tinggi kalori. nutrisi dan cairan .pemberian xat asam tambahan .bila sounde naso gastrik telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang) pemberian makanan peroral hendaknya segera dilaksanakan. hiperpireksia dan sebagainya. antibiotika penisilna prokain 50. lakukan trakeostomi (tetanus berat) 3. caires gigi. menjaga agar nafas tetap efisien .pemberian cairan IV sesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita.pemebrsihan jalan nafas dari lendir . minimal 10 hari.antikonvulsan diberikan secara tetrasi. membuang benda asing. 2. 1-2 hari. merawat luka/infeksi. netralisasi toksin toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan. . debridement untuk menghilangkan suasana anaerob. .000 ju/kg/hari IM. eliminasi kuman 1.5 VI. 2. mengurangi kekakuan dan mengatasi kejang . pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi yaitu mulai lagi dengan pemberian bolus. seperti sering kejang. disesuaikan dengan kebutuhan dan respon klinis. bil a perlu dengan nutrisi parenteral . penatalaksanaan tetanus bertujuan : a. membersihkan liang telinga/otitis media. Pengobatan rumat Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari 5 . dengan cara membuang jaringan yang rusak.pada penderita yang cepat memburuk (serangan makin sering dan makin lama). Penatalaksanaan Medik Pada dasarnya . perawatan suporatif perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional : 1. b. Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul. Dapat diberikan ATS 5000-100.

auskultasi. wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan). masalah dan surat kabar). harus dilakukan pelumpuhan obat secara totoal dan dibantu denga pernafasan maknaik (ventilator) 4.bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi . Sumber data didapatkan dari pasien. palpasi. B. Biodata/Identitas Biodata klien mencakup nama. alamat. Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen . penghasilan. suku/bangsa. catatan (berupa catatan klinik. pekerjaan. Pengumpulan data pada kasus tetenus ini meliputi : a. umur. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik. keluarga. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TETANUS I. (Santosa. Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah : 1. literatur (mencakup semua materi. Data subyektif 1. kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari berikutnya . 6 . team kesehatan lain. Semua pakaian ketat dibuka 2. pendidikan. umur. Biodata dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama. jenis kelamin. psikososial dan lingkungan pasien. analisa dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. buku-buku. perkusi). Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi. 154) Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data. 1989. agama. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung 3. sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.6 pertama. NI. catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. teman. Usahakan agar jalan napas bebasu ntuk menjamin kebutuhan oksigen 4. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa. dokumen yang baru maupun yang lama).

gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi). diare. muntah. kesadaran menurun. gagal ginjal. tonik. Keluhan utama kejang 3.. 7 . dan berapa frekuensi kejang per tahun. Keadaan sebelum. dan sebagainya ? Riwayat penyakit sekarang yang menyertai Apakah muntah. Riwayat Penyakit (Darto Suharso. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam. kelainan jantung. Dimana kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah penderita segera sadar. Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul. umur berapa kejang terjadi untuk pertama kali. tertidur. sakit kepala dan lain-lain. seperti pada spasme infantile ? Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum. misalnya lapar. truma kepala. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa dan pengobatan. ada paralise. 2000) Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan : Apakah disertai demam ? Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang. OMA. Lama serangan Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. klonik ? Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti epilepsi mioklonik ? Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik ? Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara tangan naik sepanjang kepala.7 2. selama dan sesudah serangan Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah rangsangan tertentu yang dapat menimbulkan kejang. DHF. Morbili dan lain-lain. maka diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. ISPA. Pola serangan Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan apakah bersifat umum. fokal. Frekuensi serangan Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya. lelah.

8 4. secara makroskopis ditanyakan bagaimana warna. Pola nutrisi Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi Ditanyakan bagaimana kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh klien ? Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan anak ? Berapa kali minum. pelayanan kesehatan yang diberikan. otitis media. 5. pengetahuan tentang kesehatan. Riwayat sosial Hubungan interaksi dengan keluarga dan pekrjaannya 7. Kebiasaan perawatan luka dengan menggunakan bahan yang kurang aseptik. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ? Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi : Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan. adanya benda asing dalam luka yang menyembuh . bau. luka tusuk. umur berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali ? Apakah ada riwayat trauma kepala. Riwayat kesehatan keluarga. 6. teratur atau tidak ? Bagaimana konsistensinya lunak. pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis ? Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita.cair atau berlendir ? Pola aktivitas dan latihan Pola tidur/istirahat Berapa jam sehari tidur ? Berangkat tidur jam berapa ? Bangun tidur jam berapa ? Kebiasaan sebelum tidur. jumlahnya.keras. dan cairies gigi. tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit. bagaimana dengan tidur siang ? 8 . dan apakah terdapat darah ? Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat kencing. jenis dan jumlahnya per hari ? Pola Eliminasi : BAK : ditanyakan frekuensinya. BAB : ditanyakan kapan waktu BAB. Riwayat Penyakit Dahulu Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita pernah mengalami kejang sebelumnya. menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin. lukakotor. penggunaan obat-obatan pertolongan pertama.

Hidung Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas ? Apakah keluar sekret. kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga. untuk itu periksa pupil dan ketajaman penglihatan. 2000 hal : 36) Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran. opistotonus. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi. distribusi serta karakteristik lain rambut. 2. nadi. cairan eksudat ? Leher Adakah tanda-tanda kaku kuduk. bagaimana konsistensinya. trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ? Mata Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil. tekanan darah. keluar cairan dari telinga. Pemeriksaan Umum (Corry S. Data Obyektif 1. jumlahnya ? Mulut Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi ? Tenggorokan Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring. kelebatan. respirasi dan suhu. konjungtiva ? Telinga Periksa fungsi telinga. Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang. berkurangnya pendengaran. kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien. Adakah tanda rhisus sardonicus.9 b. pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena jugulans ? 9 . Pemeriksaan Fisik Kepala Rambut Dimulai warna. Muka/ Wajah. Apakah keadaan sklera.

Darah Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl) BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat. Elektrolit : K. pemeriksaannya meliputi : 1. frekwensinya. irama. atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral ? Genetalia Adakah kelainan bentuk oedema.10 Thorax Pada infeksi. kedalaman. bagaimana gerak pernapasan. amati bentuk dada klien. EEG : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak 10 . Skull Ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi 3. tanda-tanda infeksi ? c. adakah retraksi Intercostale ? Pada auskultasi. hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ? Ekstremitas Apakah terdapat oedema. Pemeriksaan Penunjang Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat. adakah suara napas tambahan ? Jantung Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ? Abdomen Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ? Kulit Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema.80 – 5.00 meq/dl ) Natrium ( N 135 – 144 meq/dl ) 2. Na Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang Kalium ( N 3.

11 . menginterpretasi dan akhirnya membuat kesimpulan. Analisa dan Sintesa Data Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi. Klien tidak ada cedera akibat serangan kejang 2. melihat pola data. kapan itu dilakukan. membandingakan dengan standar. 2. singkat. klien tidur dengan tempat tidur pengaman 3.11 melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang. Diagnosa keperawatan yang muncul adalah : 1. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya berhubungan dengan keterbatasan informasi yang ditandai 5. menyeleksi. NI. Tidak terjadi serangan kejang ulang. 1989. (Santosa. Diagnosa Keperawatan : Risiko terjadinya cedera fisik berhubungan dengan kejang berulang Tujuan : Klien tidak mengalami cedera selama perawatan Kriteria hasil : 1. Risiko terjadinya ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan sekunder dari depresi pernafasan 3.160) a. Perencanaan Perencanaan merupakan keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan. Risiko terjadinya cedera fisik berhubungan dengan serangan kejang berulang. dan pasti tentang masalah pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan keperawatan. mengelompokkan. 4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi eksotoksin II. bagaimana. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi sekret yang berlebihan pad ajalan nafas atas. mengaitkan data. dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut. hasil biasanya normal. menentukan kesenjangan informasi. Rencana keperawatan yang memberikan arah pada kegiatan keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas. Hasil analisa data adalah pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa keperawatan. d.

tempatkan klien pada tempat tidurtetanus. deviasi dari mata dan gejala-hgejala lainnya yang6. penaganan berikutnya. adanya sianosis dan inkontinesia. mencegah lidah jatuh ke belakng5. apabila klien kejang lidah jatung dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas. pencetus RASIONAL Penemuan faktor pencetus memutuskan rantai penyebaran untuk toksin 2. dan gangguan irama jantung 10. observasi adanya depresi pernafasanstatus umum klien. Identifikasi dan hindari faktor1. tindakan untuk mengurangi - longgarakn pakaian mencegah terjadinya cedera fisik. 7. Respirasi 16-20 x/menit 5. Tempat yang nyaman dan tenang dapat yang tenang dan nyaman mengurangi stimuli atau rangsangan yang 3. efektivitas energi yang dibutuhkan untuk untukmetabolisme. efek samping dan efektifnya obat 12 . lakukan pemeriksaan neurologis setelah kejang 8. sediakan tongue dapat menimbulkan kejang disamping spatel tempat dan gudel tidur4. tanda-tanda vital indikator terhadap keefektifan obat perkembangan penyakitnya dan gambaran 9. Kesadaran composmentis Rencana Tindakan : INTERVENSI 1. observasi efek samping dan7.5 º C . - posisi miring ke satu sisi - jauhkan klien dari alat yang dapat atau melukainya - kencangkan pengaman tempat tidur - lakukan suction bila banyak sekret 6. dokumentasi untuk pedoman dalam timbul. proses berapa lama. anjurkan klien istirahat 4. sesudah kejang observasi TTV setiap 15-30 menit dan obseervasi keadaan klien sampai benar-benar pulih dari kejang 8. yang memakai pengaman di ruang2. catat penyebab mulainya kejang. Suhu 36 – 37. Nadi 60-80x/menit (bayi). 5.12 4. lindungi klien pada saat kejang dengan : 5.

kerja sama yang baik akanmembantu kejang dalam proses penyembuhannnya 4. b. untuk mengantisipasi kejang. jelaskan pentingnya mempertahankan status kesehatan yang optimal dengan diit. Kriteria Hasil : 1. klien dapat diajak kerja sama dalam program terapi 3. tinggi - 9 dan 10 kompliksi kejang dapat terjadi pemeberian antikonvulsan (valium.depresi pernafasan dan kelainan irama dilantin. tidak memanipulasi klien sehingga ada aktivitas sesuai dengan kemampuannya. Hindari proteksi yang berlebihandewasa. - pemberian oksigen tambahan - pemberian cairan parenteral 11. dan aktivitas yang dapatdamapak pertahanan tubuh baik sehingga menimbulkan kelelahan. ajarkan pada klein dan keluarga tentang peraawatan yang harus dilakukan sema3. phenobarbital) jantung. Tujuan : Pengetahuan klien dan keluarga tentang penanganan penyakitnya dapat meningkat. kerja sama dengan tim : - diperlukan motitoring untuk tindakan pemberian obat antikonvulsan dosislanjut. proses kemandirian yang terbatas. syringe pump. terhadap klien . 5. jelasakan tentang efek samping obat 13 .13 11. Diagnosa Keperawatan : Kurang pengetahuan klien dan keluarga tentang penanganan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. status kesehatan yang baik membawa istirahat. Identifikasi tingkat pengetahuan klien1. 3. tidak timbul penyakit penyerta/penyulit. Klien dan keluarga dapat mengerti proses penyakit dan penanganannya 2.4. biarkan klien melakukan2. kejang - pembuatan CT scan berulang dengan menggunakan obat antikonvulsan baik berupa bolus. klien dan keluarga dapat menyatakan melaksanakan penejlasan dna pendidikan kesehatan yang diberikan. Tingkat pengetahuan penting untuk dan keluarga modifikasi proses pembelajaran orang 2. INTERVENSI RASIONAL 1.

vomiting. 1989. nausea. NI.162 ) 2. jaga kebersihan mulut dan gigi secara6. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya ( Santosa. efek samping yang ditemukan secara kemerahan pada kulit.162). 1989.3. 14 . 2. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif.14 (gangguan penglihatan. synkope dandini lebih aman dalam penaganannya.4 Pelaksanaan Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.5. konvusion) 6. Kebersihan mulut dan gigi yang baik teratur merupakan dasar salah satu pencegahan terjadinya infeksi berulang. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa.3.NI.5 Evaluasi Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum.

15 DAFTAR PUSTAKA Lynda Juall C. F. Rencana Asuhan Keperawatan. Penerjemah Kariasa I Made. Surabaya. EGC. Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan). Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. EGC. Jakarta. 15 . Universitas Airlangga. Penerjemah Monica Ester. 1999. Doenges. Pedoman Diagnosis dan Terapi. 1989. Jakarta Marilyn E. Jakarta Santosa NI. Suharso Darto. 1999. 1994. Depkes RI.K.