You are on page 1of 4

Pemanfaatan Kaolin Sebagai Bahan Baku Pembuatan ...

Jalaluddin, Toni Jamaluddin

PEMANFAATAN KAOLIN SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN


ALUMINIMUM SULFAT DENGAN METODE ADSORPS
Jalaluddin, Toni Jamaluddin
Abstrak: Kaolin adalah salah satu jenis tanah lempung yang tersusun dari mineral-mineral. Kaolin dapat
digunakan pada industri kertas, yang dapat mengisi pulp. Reaksi antara kaolin dengan larutan asam sulfat akan
menghasilkan larutan aluminium sulfat. Koalinit yang baik untuk pembuatan aluminium sulfat adalah koalinit
yang telah diaktivasi terlebih dahulu. Waktu dan temperature pengontakan sangat mempengaruhi daya
adsorbsinya. Hal ini dapat kita lihat pada temperature aktifasi 5000 C, ukuran partikel 80 -100 mesh dan waktu
kontak 5 jam yaitu sebesar 89,01 %. Namun waktu kontak melebihi 5 jam daya penyerapannya akan berkurang.
Ini disebabkan akan terbentuknya jelli jika pemanasan atau waktu kontak melebihi 5 jam.
Kata Kunci : Koalin, Asam Sulfat,Adsorpsi.
1.

PENDAHULUAN
Tawas atau alum adalah suatu senyawa
aluminium sulfat dengan rumus kimia Al2(SO4).18
H2O. pembuatan tawas dapat dilaksanakan dengan
melarutkan material yang mengandung Al2O3 dalam
larutan asam sulfat. Salah satu sumber Al2O3 di alam
terdapat dalam tanah kaolin. Reaksi antara kaolin
dengan larutan asam sulfat akan menghasilkan
larutan aluminium sulfat. Tawas padat diperoleh dari
proses kristalisasi larutan jenuh aluminium sulfat.
Kaolinit adalah salah satu jenis tanah liat /
lempung dimana komponen dominannya adalah
kaolin. Sudah sejak lama tanah kaolin digunakan
pada industri seperti industri kertas, keramik cat
karet, tinta , kulit dan minyak kelapa sawit. Bahkan
beeberapa tahun teakhr ini kaolin telah banyak
digunakan pada insektisida, pupuk, dan plastic.
Tawas atau alum adalah suatu senyawa
aluminium sulfat dengan rumus kimia Al2(SO4).18
H2O. Pembuatan tawas dapat dilaksanakan dengan
melarutkan meterial yang mengandung Al2O3 di alam
terdapat dalam tanah kaolin. Reaksi antara kaolin
dengan larutan asam sulfat akan menghasilkan
larutan aluminium sulfat. Tawas padat diperoleh dari
proses kristalisasi larutan jenuh aluminium sulfat.
Proses pembuatan tawas dari kaolin akan
menghasilkan produk samping yang berupa padatan
(residu) dalam jumlah yang cukup besar, yaitu 60 %
lebih dari jumlah kaolin yang dilarutkan dalam asam
sulfat. Hal ini terjadi karena kadar alumina dalam
kaolin relative rendah, kurang dari 40 %.Oleh karena
itu perlu diupayakan pemanfaatan produk samping
(residu) tersebut, diantaranya sebagai bahan penyerap
warna minyak sawit mentah.
II. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai adalah :
1.
untuk melihat pengaruh daya aktivasi tanah
koalonit.

2.

untuk melihat pengaruh daya adsorpsi


asamsulfat terhadap alumina menjadi Alum
sulfat (Tawas)

III. TINJAUAN PUSTAKA


Mengingat banyaknya manfaat yang terdapat
pada daerah tersebut dan memungkinkan sumbersumbernya yang ada di daerah maka perlu dikaji
sebagai studi awal dalam pemprosesan kaolinit
sehingga menjadi bahan yang bermanfaat dan
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan dapat
dipergunakan di industri-industri. Seperti bahan
tambang lainnya, tentu saja kaolinit yang ada
didaerah yang satu tidak persisi sama sifat-sifat atau
karekteristiknya dengan yang ada didaerah lainnya.
Untuk itu perlu kajian yang mendalam terhadap
kaolinit yang ada di daerah ini sebelum digunakan
industri-industri.
3.1 Kaolinit
Kaolin adalah bahan tambang alam yang
merupakan salah satu jenis tanah lempung (clay)
dimana tersusun dari mineral utamanya adalah
kaolin. Tanah lempung jenis ini berwarna putih
keabu-abuan. Di alam kaolinit ini berasal dari
dekomposisi feldspar. Sebagai bahan tambang kaolin
bercampur dengan oksida-oksida lainnya seperti
kalsium oksida, magnesium oksida, kalium oksida,
natrium oksida, besi oksida, dan lain-lain (Othmer,
1993)
Kaolin banyak digunakan pada industri kertas.
Pada industri kertas ini kaolin berfungsi sebagai
bahan pengisi pulp dimana dengan adanya kaolin
pada kertas akan menambah berat, lebih putih, tidak
transparan dan tidak mudah koyak. Pada kertas
Koran mengadung kira-kira 2% kaolin sedangkan
pada kertas yang lebih baik bisa mengandung kaolin
sampai 30 %.

71

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 5 November 2005

Tabel 5.2 Daya adsorbsi Al2O3 oleh H2SO4


Ukuran Partikel
(Mesh)

80-100

Waktu Kontak
(jam)
4,0
4,5
5,0
5,5

Al2O3 yang teradsorbsi (%)


300 C
500 0C
49,72
53,33
67,34
75,82
81,75
89,01
57,36
65,13

Aktifasi kaolinit dengan ukuran partikel 80 -100


mesh temperature 300 0C menunjukkan bahwa %
pembentukan Alum Sulfat (tawas) berkisar antara
16,78 % hingga 27, 59 % sedangkan daya kelarutan
Alumina berkisar antara 49,72% hingga 81,75%.
Aktifasi kaolinit dengan ukuran partikel yang sama
pada temperature 500 0C menunjukkan bahwa %
pembentukan Alum Sulfat antara 18,00 % hingga
30,04 % sedangkan daya kelarutan Alumina berkisar
antara 49,72 % hingga 89,01%. Terlihat dari gambar
5.1 dan gambar 5.2 bahwa bila dibandingkan antara
temperature aktifasi 300 0C dan 500 0C dengan
ukuran partikel dan waktu kontak yang sama terlihat
bahwa aktifasi dengan temperature 500 0C lebih
besar % pembentukan Alum Sulfat maupun daya
kelarutan Aluminanya. Hal ini
disebabkan pada
kaolinit yang diaktifasi pada temperature 500 0C
mempunyai permukaan dan pori-pori yang lebih luas
sehingga kemungkinan terjadinya adsorbsi lebih
banyak terjadi.
Pada aktifasi koalinit dengan ukuran partikel 80 100 mesh temperature 700 0C menunjukan bahwa %
pembentukan Alum Sulfat antara 16,96 % hingga
29,09% sedangkan daya kelarutan Alumina berkisar
antara 50,25% hingga 86,19%. Terlihat dari gambar
4.1 dan gambar 4.2 bahwa bila dibandingkan antara
temperaturaktifasi 500 0C dengan ukuran partikel dan
waktu kontak yang sama terlihat bahwa aktifasi
dengan temperature 700 0C lebih kecil kelarutan
Aluminanya, sedangkan bila dibandingkan dengan
aktifasi temperature 300 0C lebih besar daya
kelarutan Aluminanya pada aktifasi
temperature
700 0C.

5.1.3 Waktu Kontak


Waktu kontak adalah lamanya waktu interaksi
antara kaolinit dan Asam Sulfat yang memungkinkan
terjadinya proses adsorbsi. Pada penelitian ini
pengkontakkan antara Asam Sulfat daan kaolinit
dengan berbagai ukuran partikel dan temperature
aktifasi, selama 4,0 4,5 5,0 dan 5,5 jam.
Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa
pada ukuran partikel temperature aktifasi yang sama
dengan memvariasikan waktu kontak seperti tersebut
diatas maka semakin lama pengontakan semakin
besar pembentukan Alumsulfat atau semakin besar
daya kelarutan Alumina. Hal ini menunjukan
semakin lama waktu kontak semakin besar daya
kelarutan Alumina. Dapat juga dilihat pada Tabel 5.2
untuk partikel kaolonit yang diaktifasi pada 300 0C
74

700 0C
50,25
69,75
86,19
65,51

dan ukuran partikel 80-100 mesh. Daya kelarutan


Alumina untuk waktu kontak 4,0
jam adlah
49,72 %; waktu kontak 4,5 jam 67,34 %; waktu
kontak 5,0 jam adalah 81,75 %.Hal ini menunjukkan
semakin lama waktu kontak semakin besar daya
kelarutannya. Akan tetapi jika waktu kontak melebihi
5,0 jam partikel-partikel kaolin akan membentuk jelli
sehingga pembentukan Alum Sulfat dan kelarutan
Alumina akan menurun. Hal ini juga berlaku pada
temperature 500 0C dan 700 0C .

VI. KESIMPULAN
1. Untuk mendapatkan kaolinit yang baik sebagai
bahan baku pembuatan Alum Sulfat,terlebih
dahulu diaktifasi.
2. Dari penelitain ini aktifasi fisis dengan
pemanasan 500 0C menunjukkan daya
penyerapan yang paling besar dibandingkan
dengan pemanasan pada 300 0C maupun 700 0C.
3. Daya adsorbsi terbesar terjadi pada temperature
aktifasi 500 0C, ukuran partikal 80-100 mesh dan
waktu kontak 5 jam yaitu sebesar 89,01 %.
4. Waktu kontak sangat mempengaruhi daya
penyerapannaya. Hal tersebut terjadi karena
semakin lama waktu kontak semakin besar
kemungkinan terjadi proses adsorbsi. Namun
waktu kontak melebihi 5 jam daya
penyerapannya akan berkurang. Ini disebabkan,
akan terbentuknya jelli jika pemanasan atau
waktu kontak melebihi 5 jam.
DAFTAR PUSTAKA
Sabariman, ITB,1976 Kemunngkinan Pembuatan
Twas dari Kaolinkadar Rendah dengan
Menggunakan Pelarut Asam Sulfat, Tugas
Sarjana Jurusan Pertambangan.
Kirk Orthemer; (1983); Encyclopedia of Chemical
Tehcnology; Edisi III, McGraw Hill
International Book Company; Singapore.
Retno Wijayanti, 1991, Percobaan Pemanfaatan
Residu Hasil Pembuatan Tawas Dari Kaolin
Sebagai Penyerap Warna Minyak Sawit.
Lawrence H.Van Vlack, Sriati Djapirie; (1992);Ilmu
dan Teknologi Bahan; University of Michigan;
USA.
Warren L. McCabe, Julian C. Smith, Peter Harriot, E.
Jasjfi (1999); Operasi Teknik Kimia Jilid 2;
Edisi Keempat ; Penerbit Erlangga Jakarta.

Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 5 November 2005

Sifat-Sifat Kaolinit
Sifat kaolinit yang membedakannya dengan jenis
lempung lain adalah warna yang putih keabu-abuan
atau putih susu, plastisitasnya tinggi bila basah,
mengeras bila kering dan membantu bila dipanaskan,
kapasitas pertukaran ion 5 15 meq/100 gram dan
mempunyai daya hantar panas yang rendah. Sifatsifat fisik dari kaolin diantaranya berwarna putih
hingga abu-abu dan kekuning-kuningan, kekerasan 22,5 skala Mohs, berat jenis 2,6-2,63 gram/cc. industri
pemakai kaolin terbesar adalah industri kertas, yaitu
sebagai bahan pengisi (Filler), dan bahan pelapis
(Coating) dengan jumlah sektar 5 sampai 35 % dari
bahan baku kertas.
Salah satu bahan kimia yang dibuat dari kaolin
dan sudah cukup lama dikenal,adalah aluminium
sulfat atau tawas. Pembuatan tawas dari kaolin
dilakukan dengan cara mereaksikan kaolin dengan
asam sulfat, kemudian disaring dan dipisahkan
filtratnya sebagai aluminium sulfat cair. Tawas padat
diperoleh dengan cara mengupaskan tawas cair
sampai pada kekentalan tertentu dan kemudian
didinginkan pada suhu kamar, sehingga membentuk
kristal. Selain kaolin, tawas dapat dibuat dari bauksit
yang
mengadung
aluminium
lebih
tinggi
dibandingkan dengan kaolin.
Struktur Kaolinit
Struktur unsur dasar kaolinit adalah gabungan
dari bentuk tetrahedral dan oktahedral. Pada masingmasing sudut dari tetrahedron terdapat 4 atom
oksigen yang mempunyai 2 kutub negatif dan
dibagian tengah terdapat atom silikon yang
mempuyai 4 kutup positif, sedangkan pada bentuk
oktahedron, dimasing-masing sudutnya terdapat 6
gugus hidroksil yang mempunyai 1 kutub negative
dan di tengahnya terdapat kation bervalensi 3 atau
kadang-kadang bervalensi 2. (Ralph W.G. Wyckoff,
1968)
Pada bentuk tetrahedron mempunyai 4 kutub
negatif tak jenuh sedangkan pada bentuk oktahedron
mempunyai 3 kutup negative tak jenuh (bila kation
bervarensi 3) atau 4 kutup negative tak jenuh (bila
kation bervalensi 2). Kedua bentuk tersebut berikatan
membentuk suatu lapisan dimana atom oksigen
yang berada pada bentuk tetrahedron mensubsitusi
gugus hidroskil pada oktahedron. Karena ikatanikatan tersebut maka kaolinit bersifat netral. Ikatan
pada jaringan struktur kaolinit adalah ikatan yang
lemah yang terdiri atas ikatana hydrogen dan ikatan
van der waals. (Ralph W.G. Wyckoff, 1986)
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
Dalam penelitian ini dilakukan pengolahan
terhadap tanah kaolinit sehingga dapat digunakan
sebagai bahan dasar pembuatan
Al2(SO4)3.
Pengolahan tanah kaolinit ini adalah sebagai berikut :
1.
Tanah kaolinit dikeringkan dengan sinar
matahari untuk menghilangkan kelembaban dan

72

2.

3.
4.

5.

6.

digiling menggunakan lempung martil,


kemudian diayak menggunakan saringan
ukuran 60 mesh.
Tanah kaolin yang
telah di ayak kemudian
dimasukkan dalam oven pada temperature
105 0C selama 1 jam, lalu timbang dan hitung
berat yang hilang sebagai % kadar air.
Digiling menggunakan lumpung martil dan
diayak dengan ukuran 80-100 mesh, 170-200
mesh dan 270 -325 mesh.
Panaskan masing-masing sebanyak 200 gram
kaolin ukuran butir 80-100 mesh, dan 270 -325
mesh dalam furnace dengan temperature 300
0C, 500 0C dan 700 0C selama 1 jam lalu
didinginkan dalam desicator.
Setelah didinginkan,kaolinit diayak kembali
dengan ukuran 80-100 mesh, 170-200 mesh dan
270 -325 mesh, selanjutnya kaolinit siap untuk
digunakan sebagai bahan adsorbsi.
Timbang 20 gram dari kaolin yang sudah
dipanasksn tersebut kemudian masukkan ke
dalam erlemeyer.
a. Tuangkan larutan asam sulfat 1:5 sesuai
dengan kebutuhan.
b. Letakkan di atas hot plate dan pasang
pendingin refluk
c. Jalankan pengaduk magnet dan panaskan
pada suhu 110 0C .
d. Percobaan dilakukan dengan variasi waktu
4 sampai 5.5 jam.
e. Matikan hot plate, angkat Erlemeyer,
kemudian saring untuk memisahkan.
f. Filtrat dan residunya dengan menggunakan
pompa vakum.
g. Ambil filtrat dan periksa kandungan Alum
Sulfat.

4.1 Prosedur Analisa


a.
Timbang contoh dalam beaker glass.
b.
Panaskan hingga memdidih sambil diaduk
dengan batang pengaduk.
c.
Tambahkan 10ml NH4Cl 10 % lalu diteteskan
3 -4 tetes NH3 sampai terbentuk endapan (jeli)
d.
Disaring dengan kertas saring (akan terbentuk
jelli putih atau lender.
e.
Masukkan kertas saring ke dalam cawan
porselin lalu dikeringkan di dalam oven selama
1 jam.
f.
Kertas saring yang telah kering didalam cawan
porselin kemudian di baker di dalam furnace
pada temperature 700 0C selama 2 jam.
g.
Cawan porselin yang akan dipakai ditimbang
kosong terlebih dahulu.

Pemanfaatan Kaolin Sebagai Bahan Baku Pembuatan ...


Jalaluddin, Toni Jamaluddin

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Hasil dan Perhitungan
5.1.1 Hasil Analisa Bahan Baku
A. Hasil Analisa Kaolinit
Table 5.1 Komposisi Kimia Kaolinit
Komposisi
SiO2
Al2O3
Fe2O3
MGO
CaO
LOI

Satuan
% berat
% berat
% berat
% berat
% berat
% berat

Hasil
57,81
33,75
1,38
0,17
0,33
5,79

5.1.2 Temperatur Aktidasi


Aktifasi dengan pemanasan dimaksudkan untuk memperluas permukaan partikel kaolinit karena dengan
pemanasan akan terbentuk pori-pori dalam partikel akibat ditinggikan oleh atom-atom senyawa yang menguap
atau berubah strukturnya. Dengan adanya pori-pori ini maka permukaan kontak semakin luas sehingga
memperbesar daya adsobrsi kaolinit.

Gambar 5.1 Kurva % pembentukan Alum Sulfat dari partikel kaolinit berukuran

Gambar 5.2 Kurva % kelarutan Alumina dari partikel kaolinit berukuran 80 100 mesh

73