You are on page 1of 3

PENGOLAHAN LIMBAH GAS INDUSTRI PANGAN

Latar belakang dan pengertian Polusi Udara


Dewasa ini, industry terus berkembang pesat termasuk industry pangan. Dengan adanya
perkembangan industry maka bertambah pula polusi udara atau limbah gas yang dihasilkan.
Saat ini masalah polusi udara telah menjadi sorotan nasional dan internasional dan tak dapat
dibantah bahwa polusi udara mempengaruhi masalah kesehatan yang kini sedang marak.
Polusi udara adalah kontaminasi senyawa yang ada dalam udara yang secara langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan kesehatan manusia.
Sebagian besar polutan disebabkan oleh aktivitas manusia itu sendiri. Secara umum polutan
disebabkan oleh adanya pembakaran, termasuk di dalamnya senyawa karbon monoksida,
sulfur dan nitrogen oksida serta hidrokarbon. Polutan tersebut menyebabkan terjadinya global
warming, hujan asam dan penipisan ozon. Undang-undang yang mengatur mengenai polusi
udara pertama kali adalah Air Clean Act (1970). Di dalam UU tersebut juga terdapat aturan
mengenai regulasi polusi udara dengan operasional food service yang berdampak secara
langsung pada produksi dan penggunaan CFCs dan HCFCs. CFCs dan HCFCs merupakan
gas yang dihasilkan dengan penggunaan refrigerator, air conditioner, freezer dan
dehumidifier. Gas tersebut ikut berperan dalam global warming. Meskipun peran food service
dalam global warming termasuk kecil, polusi udara dari food service juga turut menyebabkan
penipisan ozon dari tahun ke tahun.
Limbah Gas/Polusi Udara Industri Pangan
Ada berbagai macam polutan yang dihasilkan oleh industry, masing-masing tergantung pada
jenis industrinya. Untuk industry pangan, pada umumnya jenis limbah yang dihasilkan adalah
berupa: Hidrokarbon, bau, partikulat, CO, H2S dan uap asam. Sedangkan jenis gas yang
bersifat racun antara lain adalah SO2, CO, NO, timah hitam, amoniak, asam sulfide dan
hidrokarbon.
Pengolahan Limbah Gas Industri Pangan
Pengolahan secara Biologis
Cara yang paling efektif untuk pengolahan limbah gas industry pangan adalah pengolahan
secara biologis, karena komponen penyebab bau umumnya dalam, konsentrasi sangat rendah.
Pengolahan limbah gas secara biologis didasarkan pada kemampuan mikroorganisme untuk
mengoksidasi senyawa organik maupun anorganik dalam limbah gas penvebab bau. misainva
amonia, amina, fenol, formaldefild, fildrogen sulfida, ketone, asam-asam lemak. Dalam hal
ini, polutan tersebut berfungsi sebagai makanan (substrat) bagi mikroorganisme, dan diubah
menjadi produk-produk yang tidak menimbulkan masalah, seperti air, karbon dioksida,
biomassa, garam-garaman, dll.
Prinsip pengolahan limbah gas secara biologis tersebut dapat diaplikasikan untuk merombak
polutan yang bersifat toksik, korosif, dan odor intensif, misalnya amonia, amina, fenol,
formaldehid, hidrogen sulfida, ketone, dan asam-asam lemak. Limbah gas dapat berasal dari
berbagai jenis industri misalnya industri penyamakan kulit, industri tapioka, industri karet,
peternakan, dll.
Metode pengolahan limbah gas secara biologi dapat dibedakan menjadi 3, yaitu bioscrubber,
trickling filters dan biofilter:
1. bioscrubber

Proses penghilangan gas dengan bioscrubber dibagi menjadi dua bagian penting :
a. Penyerapan gas yang masuk tangki penyemprotan
Senyawa gas yang mudah larut dalam air dialirkan dan masuk ke dalam tangki lalu
disemprot dengan cairan. Pada kondisi setimbang laju penghilangan komponen gas
yang mudah diuraikan secara biologis (biodegradable) sebanding dengan laju pindah
massa. Konsentrasi gas dalam fase cair sebaiknya sekecil mungkin karena laju
kelarutan gas sebanding dengan tekanan dan jumlah gas yang larut
b. Regenerasi lumpur aktif dan sirkulasinya
Gas yang terlarut akan dioksidasi dan diuraikan oleh mikroba dalam lumpur aktif.
Konsentrasi Lumpur aktif biasanya 5-8 g/L untuk mempertahankan jumlah mikroba
dan sirkulasinya. Bila terlalu kental, lumpur aktif harus dikelurkan atau diencerkan
dengan air.
2. trickling filters
Suatu trickling filter terdiri dari kolom yang berisi bahan pengepak (ukuran 5-10 cm)
yang tersusun cukup rapat dan memiliki luas permukaan kontak yang kecil. Air yang
mengandung senyawa penting yang dibutuhkan oleh mikroba disemprotkan dari atas
kolom pengepakan dan akan menyebar melalui permukaan butiran bahan pengepak.
Cairan mengalir ke bawah melalui lapisan tipis yang menutupi butiran bahan
pengepak dan membasahi lapisan tersebut. Limbah gas dialirkan dari lubang bawah
menuju kolom pengepakan dan bertemu dengan air sehingga meningkat kelarutannya.
Selanjutnya komponen limbah gas yang terlarut dalam air akan masuk ke dalam
biofilm untuk dioksidasi dan diuraikan oleh mikroba.
3. biofilter
Suatu biofilter mengandung bahan penyaring berupa kompos, peat (gambut), kulit
kayu, tanah, arang aktif dsb dimana mikroba terjerat / terimobilisasi di dalamnya
dengan membentuk lapisan tipis (biofilm/biolayer). Gas-gas dilewatkan melalui
biofilter, komponen gas target akan larut dan terserap ke dalam lapisan biolayer,
selanjutnya dioksidasi dan diuraikan oleh mikroba. Pada umumnya, bahan penyaring
alami mengandung sejumlah nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba
sehingga penambahan nutrisi dan mineral tidak diperlukan. Namun demikian,
pemakaian biofilter dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan memerlukan penambahan
sejumlah nutrisi untuk mempertahankan kelangsungan hidup mikroba.
Pengolahan secara fisik-kimia
* Metode pemurnian gas buangan secara fisik-kimia dilakukan berdasarkan pada perubahan
fase atau penyerapan pada suatu adsorban, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :
1. Metode fase gas, yaitu untuk menyamarkan bau busuk yang tidak disukai dengan
memberikan bau enak. Metode ini sebenarnya bukan untuk menghilangkan gas/bau.
2. Metode fase cair, yaitu penyerapan gas yang memiliki kelarutan yang tinggi dalam
zat cair. Gas buangan dialirkan lalu dikontakkan dengan senyawa penyerap gas
(adsorban) yang pada umumnya menggunakan air. Selanjutnya, adsoban dimurnikan
kembali jika memungkinkan, dimanfaatkan untuk penggunaan lainnya atau dibuang.
3. Metode fase padat, yaitu penyerapan gas oleh senyawa penyerap (adsorban) dalam
bentuk padat. Pada proses ini, gas dialirkan dan dikontakkan dengan adsorban padat.
Molekul gas akan terserap dan terkondensasi di permukaan adsorban secara fisik
maupun kimia. Salah satu adsorban yang banyak digunakan adalah arang aktif.
Arang aktif dalam bentuk granular (granular activated carbon, GAC) telah banyak
digunakan sebagai penyerap bau dan warna. Arang aktif dalam bentuk serat
(activated carbon fibre, ACF) memiliki daya serap yang lebih besar daripada GAC.
Daya serap ACF tipe FN-300GF-15 terhadap gas ammonia adalah 0,72 g ammonia/kg
berat kering ACF. Daya serap ACF-1300 terhadap senyawa organik yang mudah

menguap (seperti aseton, alcohol, tetrahidrofuran) adalah 0,44 g/kg berat kering ACF.
Daya serap secara fisik-kimia ini hanya berlangsung 2-3 hari saja sebelum mencapai
titik jenuh. ACF atau GAC yang telah jenuh perlu dipanaskan pada suhu diatas 100 oC
untuk melepaskan gas-gas yang telah terserap (regenerasi) sehingga dapat digunakan
kembali.
4. Metode pembakaran, yaitu dengan cara membakar langsung gas senyawa organik
pada tingkat suhu yang cukup sehingga menghasilkan karbondioksida dan air.
Metode ini banyak dihindari karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
Sumber:
Puckett, Ruby Parker. 2013. Food Service Manual for Health Care Institutions 4 th edition.
USA.
Arief, Latar Muhammad. 2014. Pengolahan Limbah Gas. Universitas Esa Unggul: Jakarta.
Hidayat, Nur. 2013. Manajemen Lingkungan Industri: Teknologi Pengolahan Limbah Gas.
Universitas Brawijaya: Malang.